RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 24 Mei 2014

Kumpulan Puisi Tok Laut - SOROT MATA TOK LAUT


SOROT MATA TOK LAUT

Tatkala kegembiraanmu memuncak kelangit
Disaat itu pula aku cukup sedih melihatmu
Kegembiraanmu sebenarnya adalah luka
Yang kau sendiri tak merasakan perihnya
Aku pandangi wajah polos tanpa dosa
Terpuruk dalam liang lobang yang menganga

Kucoba mengulurkan tanganku
Karna uri tambu kita pada lobang yang sama
Emosiku memuncak dalam dada
Amarahku muncrat bak lahar gunung jiwa
Senyumku liris memaksa tawa
Agar kegelisahan dan kegeramanku
Tak dapat kau baca
Kuikuti tarian dan lagu yang kau dendangkan
Meski pikiranku melayang

Kadang aku merasa terhina
Atas apa yang kulihat didepan mataku
Kadang semua itu harus kutepis jauh-jauh
Agar hal itu tidak menggerogoti gula darahku

Hai..Tengku Sang Datuk Tujuh Petala Langit
Kau juga kulihat terdiam kaku
Dan kadang sedikit senyum
Hanya untuk berlindung dimuara kegundahanmu

Ribuan pasang mata
Seolah mempelototi kita
Sesak didada adalah ledakan emosi
Yang tak mungkin kita tahan lagi
Kesederhanaan puisi dan keindahan liris prosa
Akhirnya harus kita tuturkan
Agar cara mereka menangkapnya
Tidak terlihat siapa-siapa

Hai ... Tengku Sang Datuk Tujuh Petala Langit
Wajarkah emosi lautan api ini
Atau hanya sekedar jadi sajak sajak yang mengiang ditelinga
Atau hanya jadi sajak sajak yang berumur seketika
Atau masih tertuliskah dihati kita
Pamlet cinta para moyang moyang kita

Hai...Tengku Sang Datuk Tujuh Petala Langit
Apkah hanya kita patok tiang paduka yang tersisa
Rasa yang tertera pada lontar milik baginda
Yang membuat kita ingin merenda nilai abadi
Dari ujud rasa persaudaraan kita yang hakiki
Atau melebihi agad roh bumi
yang mencintai segala isinya

Hai..Tengku Sang Datuk Tujuh Petala Langit
Kau RAJA HATIKU
RAJA HATI MEREKA
yang menumpahkan rasa sayang tiada tara
mari menjaga TUMPUAN HATI kita
agar menjadi BUNGA LANGKA SORGAWI
yang tumbuh subur pada BUMI PERTIWI
untuk menghias serambi tanah paduka ini
dan menebarkan wangi kesturi
menjadi altar permata pada sila kita
dihari senja........

Hai..Tengku Sang Datuk Tujuh Petala Langit
Ulurkan tanganmu kepadanya
Karna akupun telah mengulurkan tanganku kepada sahabatnya

Hai ... Tengku Sang Datuk Tujuh Petala Langit
Aku melihat kantong koyak
Tak be REMANG PATI
Hai... Tengku Sang Datuk Tujuh Petala Langit
Sudahlah.......
Ayo mengukir sejarah kembali.....

SAHABAT SEDARAH SENADIMU
TOK LAUT

--------------------------

Senja mati suri diremang jiwa
Berdenyut nyeri dalam sum sum nadi
Tergeletak pada dipan hati
Gentayang di tiang langit mimpi
lima tahun jejak langkah ruang pekerja seni
bernapaslah dalam sorga sorganya puisi
yang hidup kembali pada serambi tanah penyair ini
hai bung ahmed el hasby...
teruslah merenda juang kita
yang tak kenal lelah menoreh mega cakrawala kita
angkat salut kami semua
adalah jabat selamat ultah buat sang penyangga tatanan susila
pada uri tambu lahirnya komunitas penyair sajak sajak cinta kita

------------------------------


HAI PUTRA-PUTRA SANG FAJARKU
Karya :TOK LAUT


Melajulah menembus tapal batas jagad negri zamrud khatulistiwa kita
hai putra-putra sang fajarku
gelora arus samudera adalah kenderaanmu menapak kaki langit
jangan ada kata bimbang dihatimu
sebab energy maha zat ada di lathifathul Ruhmu
jangan pernah menoleh kebelakang jika ingin mengukir sejarah
sebab sejarah tidak pernah berjalan mundur
namun ingat sejarah juga moment hebat yang terus mengesankan
dan karena itu sekian dari banyak orang menjadi besar
hak paten kaca mata hatimu sudah kita tempa bersama matahari
tak ada yang mampu bersembunyi dari kerling matamu
dan tak ada yang mampu bersembunyi dibalik bayang-bayangmu
teguh hatimu yang pernah kita bangun bersama adalah batu karang
yang kita jemput dari ganasnya ombak diupuk selat malaka
karna itu darah yang mengalir pada dirimu pahit berbusa garam
langkahmupun kujemput dari kakek buyutmu sang panglima layar
kau lihatkah diatas kepalamu
garuda perkasa terus mengawasi alur pikirmu
jangan sekali kali meneteskan air mata jika tak perlu
kecuali jika pada malam-alam panjangmu kau bercinta dengan SANG KHALIQ-MU
jika akal pikiranmu kisruh bermanjalah kepada-NYA
sebab disana akan kau temui telaga sejuk penawar semua hamba
hai putra-putra sang fajarku
menggeliatlah dengan suka cita
sesungguhnya aku juga tetap merenda doa
tiap detak detik denyut nyawa napas dunia
hai putra – puta sang fajarku
dendangkanlah sajak-sajak cintamu di kamar puisi malioborro
bersama sahabat sedarah sahabat senadi mu disitu dulu
sebelum pintu gerbang istana menantimu





ULTIMATUM SRIGALA MALAM


kami memang rimbunan puisi srigala malam
api kami masih membara ditengah kerumunan gelapnya kelam
kesucian kami tak bisa dinodai sebab potret kami tetap hitam
berjalan dibalik bayang-bayang menyusupi alir darahmu
toleransi masih kami gantung ditiang jeruji
sebelum tokok palu kami gelar di altar




DARI : SAJAK SAJAK CINTA TOK LAUT

Selembut kapas pun..
Masih tetap berbiji
Seindah mawar pun
Masih tetap berduri
Tak terada ramadhan kan tiba
Andai terselip khilap dalam canda
Tergores luka dalam tawa
Tersinggung rasa dalam berbicara
Maafkan lidah yang tak terjaga
Marhaban ya ramadhan
Mohon maaf lahir dan batin
Untuk semua sahabat fbku
Moga ramadhan indah membawa berkah
Untuk kita semua....





TOK LAUT
dalam
SAJAK MELODI GITARKU


Jemari nakalku yang berbau nafsu
membelai pinggul gitar yang mempesona diatas peraduan
dan merebahkannya kelangit tinggi
untuk melengkingkan sajak rindu yang kemarin belum tuntas
nyanyikan syair cinta yang kan kita renda bersama
Art Institute of Empowerment Coastal Community-Tanjungabalai City


Oleh : Syamsul Rizal (Tok Laut)
Tanjungbalai, Sumatera Utara




Tak kujelang jendela bibir senja
Apalagi mengecup bibirmu yang merah merona
Belaian angin yang menggeliat
Adalah jalangnya birahi yang tak bermuara
Merujuk arus tanpa ombak
Menelantarkan gelombang diperaduan
Disenggama laut yang tidak pernah selesai
Duh...ranjang karang yang berbau mimpi
Teruskah gentayang merajuk sukma yang sakit hati



-------------------------


kujelang rindu diujung rambut malam
berlari mengejar sang rembulan dengan seribu sayang
ternyata gerhana bulan yang kudapatkan
aku hanya bisa senyum menyeringai
menahan rimbunan kecewa yang terhentak-kan
kuajak jiwaku menasehatiku
don corleo...sudahlah......

------------------------------------------

Ketika kau pernah merasakan hidup sendiri, aku berkeyakinan bahwa kau tidak akan mau lagi merasakannya untuk kedua kali, karena ketika bersamamu yang kurasakan ada apresiasi hidup yang bermakna, dan hal itu mampu menjadikannya sebuah cermin untukku

Namun senar gitar tidak akan menjadi nada sebelum engkau memetiknya
Dan lagu tidak akan pernah mengikuti nada sebelum engkau menyanyikannya
Begitu juga dengan apresiasi hatimu
Tidak akan bermakna apa-apa bagi taman hatiku
jika kau tidak meletakkannya disana

---------------------------

" kadang kegersangan jiwa itu bisa pupus tatkala mendengar dan merasakan sejuknya nada syairmu, seolah syair yang kau lantunkan seperti ombak yang menggulung peraduan kasih sejati yang sedang menjaring mimpi "

TOK LAUT

--------------------------------

" kesederhanaan puisi yang kita liris adalah keseimbangan jiwa yang harus kita kawal bersama, sebab gejolak bisa bermakna ganda jika sorot mata jiwa salah mengarahkan telunjuknya "

-------------------------

" monumen puisi yang kita bangun adalah rumah besar jiwa tempat kita merenda hari esok yang penuh gelora "
TOK LAUT

-------------------------------------------

kujelang rindu diujung rambut malam
berlari mengejar sang rembulan dengan seribu sayang
ternyata gerhana bulan yang kudapatkan
aku hanya bisa senyum menyeringai
menahan rimbunan kecewa yang terhentak-kan
kuajak jiwaku menasehatiku
don corleo...sudahlah......



Oleh : Syamsul Rizal (Tok Laut)
Tanjungbalai, Sumatera Utara




GUGATAN PUISI PADA BUNGA LANGKA BERDURI

menggantung bayang-bayang tanpa tali
sibak luka ditiang merah merona pada elegi senja
bukanlah sekedar sajak petaka basa basi kita
mendaki pendar di ujung tombak puisi
membentang kertas putih diujur suci
rebah dipangkuan bunga langka berduri
robekkan tangis kita dimanis senyum
hentakkan pilu dimerah bibir
luluh renyah dikunyah takdir
hidup bukanlah sekedar syair

Dari : SAJAK-SAJAK CINTA TOK LAUT

-----------------------------------------------

kuseru kau jadi api yang menjilati bara diujung ubun
menyingkap tabir mimpi yang hilang di ruh ruh para pujangga
menela'ah sajak kita malam ini tanpa lirik liris bernada
mata kita kosong menganga tanpa suara
dialoq batinkah ujud cinta kita
kutulis sajak ini khusus buatmu yang sedang tidur diperaduan mimpi
TOK LAUT




kujelang rindu diujung rambut malam
berlari mengejar sang rembulan dengan seribu sayang
ternyata gerhana bulan yang kudapatkan
aku hanya bisa senyum menyeringai
menahan rimbunan kecewa yang terhentak-kan
kuajak jiwaku menasehatiku
don corleo...sudahlah......


--------------

" monumen puisi yang kita bangun adalah rumah besar jiwa tempat kita merenda hari esok yang penuh gelora "
TOK LAUT

-------------------------

" kesederhanaan puisi yang kita liris adalah keseimbangan jiwa yang harus kita kawal bersama, sebab gejolak bisa bermakna ganda jika sorot mata jiwa salah mengarahkan telunjuknya "
TOK LAUT
---------------------------

" kadang kegersangan jiwa itu bisa pupus tatkala mendengar dan merasakan sejuknya nada syairmu, seolah syair yang kau lantunkan seperti ombak yang menggulung peraduan kasih sejati yang sedang menjaring mimpi "
TOK LAUT

------------------------------

kujelang rindu diujung rambut malam
berlari mengejar sang rembulan dengan seribu sayang
ternyata gerhana bulan yang kudapatkan
aku hanya bisa senyum menyeringai
menahan rimbunan kecewa yang terhentak-kan
kuajak jiwaku menasehatiku
don corleo...sudahlah......

-----------------------


olongan srigala dikesunyian malam
pada gerhana ditengah gema suara kwang kwang
tak mampu redakan gelap gulita dan riuh rentak kecamuk jiwa
jari tangan malam dan sebilah pisau tak dapat lagi kuhadang
akan muncul dari atas langit membelai pundakmu
tuk mengkosek kosek pipi dimalam panjangmu
pada dinihari di jam siang
jika cahaya yang ia sulut jadi redup remang dan gentayang

Dari : SAJAK-SAJAK CINTA TOK LAUT

Lolongan srigala diliang luka gerhana bulan kita

-------------------------------------

kuseru kau jadi api yang menjilati bara diujung ubun
menyingkap tabir mimpi yang hilang di ruh ruh para pujangga
menela'ah sajak kita malam ini tanpa lirik liris bernada
mata kita kosong menganga tanpa suara
dialoq batinkah ujud cinta kita
kutulis sajak ini khusus buatmu yang sedang tidur diperaduan mimpi
TOK LAUT

------------------------


Altar suci milikmu
Yang disuguhi anggur para penyair
Adalah dahaga lepas yang akan tuntas
Dibelai kidung dan napas klasik guitar kita
mari dendangkan nyanyi rindu untuk mengajak rembulan
agar gerhana tak kembali terulang
dan kita jemput untuk mainan bidadari putri mungil milik kita
lalu kita pajang di altar istana hati yang merona
duh....pesona bunga langka
mari menapak jejak langkah mengitari poros bumi
menjelang mentari agar kembali
menyinari jalan kita mengurai mimpi
kan kita jelang taman firdaus
yang dihiasi ranting sajak puisi kita
ditengah telaga danau haru biru
yang pernah tertulis ditakdir kitab casanova

-----------------------

GUGATAN PUISI PADA BUNGA LANGKA BERDURI

menggantung bayang-bayang tanpa tali
sibak luka ditiang merah merona pada elegi senja
bukanlah sekedar sajak petaka basa basi kita
mendaki pendar di ujung tombak puisi
membentang kertas putih diujur suci
rebah dipangkuan bunga langka berduri
robekkan tangis kita dimanis senyum
hentakkan pilu dimerah bibir
luluh renyah dikunyah takdir
hidup bukanlah sekedar syair

Dari : SAJAK-SAJAK CINTA TOK LAUT






PUISI PADA DIMENSI LAIN

Petunjuk membaca puisi :


Anda boleh terus memandangi puisi dibawah ini
dengan kedua belah mata anda
dan visualisasikan ke dalam pikiran anda makna yang dikehendakinya.

Ketika anda mencamkan dalam ingatan,
lalu perhatikan dengan seksama makna yang tersirat dalam puisi ini
rasakan setiap kata kata dipuisi ini mengaliri jiwa anda
hingga membawa anda berada dalam ruh-ruh puisi ini

Kosongkan pikiran semua, relaks,
nikmati rasa keindahan setiap kata pada puisi ini,
biarkan setiap pembuluh darah dan setiap syaraf yang mengendor
seolah ikut membacanya

Sekarang, kirimkan rasa keindahan puisi ini ke seluruh
jiwa anda, mulai dari ujung kepala hingga ke ujung ibu
jari kaki anda puisi itu mengalir mewakili bahasa jiwa anda
.Biarkan setiap pembuluh darah dari syaraf mengendor, melemas dan relaks.
Anda sekarang sedang merasakan indah dan fenomenanya makna bahasa jiwa yang sedang anda baca
Lebih relaks dan lebih dalam lagi ( konsentrasi full )

Sekarang puisi hampir selesai ....
dan begitu anda selesai membacanya
kelopak mata terasa berat, mengantuk dan makin mengantuk.

Anda merasa lebih relaks, jangan ditahan semua rasa yang bergelora
hingga terasa mengantuk .....
lalu tidurlah bersama puisi ini dalam dimensi lain..........

PUISI YANG AKAN DIBACA :

banyak cerita yang ingin kulukiskan
ketika kita memasuki bulan madu setengah hati
pada ranjang yang berbau mimpi
kau kulihat ragu merangkul tanganku
apalagi mencumbui rinduku
tak kuasaku terpaksa kulepas
tatkala aku memintamu
untuk mencium aroma wanginya sayangku
memang kau nampak begitu ikhlas ketika melakukan itu
namun mata batin cinta kita
kuihat memandang dengan tatapan kosong
inspirasiku
apakah keterjagaan naluri cintaku
dapat kau tangkap bersama sakralnya hasratmu
bersama kesucian hatiku untukmu
atau berada pada titik nol kah
kesempurnaan banyak angka dialam pikiranmu
atau tanpa bilangan dan hurup kah
naluri batin tempat singgahku
inspirasiku
apapun sajak yang tertulis diatas takdirku
aku memang sungguh mencintai kesederhanaanmu
karna itu adalah sikap yang agung
yang ditunggu ruang hatiku
bersama kesiapanmu
untuk berlayar kelautan kasih
dan berlabuh dipelabuhan kita yang penuh makna
inspirasiku
jangan takuti gelora dan gelombang rindu
sebab ombakpun telah restu menghantar perahu kita
ke samudera kasih yang abadi
inspirasiku
kemarilah sayangku
genggamlah tangaku
satukan jiwa
kita bersama merenda kasih
diatas sutera biru milik kita
Inspirasiku
aku kan tidur bersama puisi jiwamu




RENUNGAN PENYAIR

Akal pikir merupakan kulit jiwa yg senantiasa mengorbit mengelilingi inti jiwa. Seperti hukum dunia atom, semakin berat elektron, semakin jauh dia dari intinya. Sebaliknya semakin ringan elektron, semakin dekat dia dengan intinya. Demikian pula pikiran, semakin berat pikiran kedunia'an, maka semakin jauh dia dari Tuhan, semakin ringan pikiran kedunia'an, semakin dekat dia dengan Tuhan.

Jadi tidaklah ada jaminan bagi seseorang yang tampil dengan prediketnya' seolah-olah fatwa yang dipaparkannya adalah jaminan bagi jati dirinya, tapi lihatlah gerak dan tindakannya.

Kita merindukan sosok figur yang dapat menyeimbangkan antara pikiran dan hawa nafsu ( atom = jiwa )

TOOK LAUT




Ilustrasi : Rehat Sejenak Bung.....
ANAK TERTUA SIMARDAN


Anak tertua simardan
lama mengembara
dicari diwilayah selatan
akhirnya ditemui sedang duduk diatas kursinya
yang kaki kursinya menembus perut bumi
terasa kokoh jika dipandang
namun roboh tanpa di goncang

Dibebani malu dan ketakutan
bunda surut bertutur perlahan ;

Anakku...anakku jangan berlayar lagi
lihat layar perahumu sudah koyak
dan hulubaangmupun sudah semua pergit
tak mungkin kau pergi berlayar sendiri....
sudahlah.......




RENUNGAN PENYAIR
sajak sajak cinta tok laut
episode :
PENGANTIN PENGANTIN MEMPESONA.
(sajak buat Al Aqso Palestina)


parade pengantin-pengantin
pulang bersama darah yang tumpah
bintang gemintang turun dari langit
sinari rahasia-rahasia keterjagaan dibumi
cahaya jemput aksara tanpa abjad dan angka
ketajaman itu adalah penglihatan yang bermukim diladang cinta

hai.. pengantin pengantin dihiasi senyum
napasmu adalah kesturi yang harum
yang dijemput ribuan banyak kaum

hai... pengantin pengantin
kau sedang diarak rebana jagad bumi
bersama takbir dan air mata yang tumpah dari langit mimpi
telaga bening yang kau teguk hari ini
adalah dahaga bumi menyirup banyak darah yang kita beri

hai... laut merah yang merah merona
hai... negri tua peradaban dunia

sajak dan cinta kita yang tetap bergelora
akan terus mengarak pengantin pengantin mempesona

KITA ADALAH SANG PENGANTIN YG SEDANG MENUNGGU IJAB QABUL ATAS AL AQSO DAN PALESTINA

Allahuakbar..........

TOK LAUT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar