RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 12 Juni 2014

Kumpulan Puisi Dion Syaif Sain - RENUNGAN PICIS



Diatas tanah pekat dia berdiri
Melempar masanya yang kunyit
Berharap burung kedahan dan ranting
Joker ingin meniru suaranya
Berdiri dia dalam gamang
Menghampiri sepasang bat besar tertunda di batas tanah seberang, melihat bayangan seekor elang mencengkram batu. Lalu membawanya pergi. Joker bersedih, tindakan sejoli kekasoh di taman sudut lapang beranah gembur, Pusaka Tuhan.

----------------------------------

RENUNGAN PICIS


Ooo Bunga malam, mewangi seadanya
Dimana subuh menelanjangiku. Kamu dengan siapa beradu tubuh dengan nikmat, sementara disana ada pertemuan Cinta yang sia-sia

Letakkanlah pakaianmu diantara tanda
Tubuh yang bergeming telanjang. Bila jejak-jejak luka dibawa payudaramu, tertutup katung hidup yang pernah dikecup. Punahlah renda renda jendela yang terjahit Ibu,

-------------------------------

Bau apa ini,
Terasa menggelamkan aroma Cinta
Ditepi geming, kucacar sehelai
Gaduh, suaranya berhenti, lalang sebangkai usah dikenang

Penciuman mulai terbiasa pada mekar bunga, sekapur tulisan dipapan
Hanya aku yang sedih! Kemudian pergi
Sandiwara ini teramat busuk kawan
Mencuri mataku sebelah, dan mencoba mencoreti hidungku, aku masih merasakan

Bau apa ini?
Menyembunyikan gelora Asmara

-----------------------

Sesuai selera hidup, kutempatkan hidup ini seusai mereka menegur petaka didahinya, seorang bertanya pada kumpulan syair-syairku, dan jewantah yang bagaimana ingin ditafsirkan?, aku hidup pada nilai, dan dengan caraku sendiri, Tuhan sendiri tak pernah Angkuh melawat jiwaku, bahkan sendawa semesta dikirmkan pandawa yang berwibawa, atau malaikat malam Tuhan, menentramkan malamku pada setiap Mantra. ahh,kau"

----------------------

Jan....kusimpan masih tersisa genangan
Digeladak dekat setapak....
Belum lama jalan basah
Kau terasa bahagia bersama angin

Jan...aku dingin berkeinginan hendak pulas namun atapku telah berlubang
Jatuh diatas keningku

Jan...semilir membasahi jatuh jua
Diatas Ruang semediku
Kertas dan pensil merasakan kegetiranku, ada wajah yang kulukis terdiam dan menatapku"Biasakan Dia berhamburan disini

--------------------------------

Kuajak kau tidur disini
Disisi malam bertenda hujan
Bergerak raih gemilang cahaya remang
Menambah romantisnya
Lalu kita syukuri, sebelum kita berdusta pada Tuhan.

Pukul 03 dini hari, kuajak kau berdekapan, dengan menyentuh rambutmu, melewati lingkar lehermu
Kau memejamkan mata sejenak
Lalu menatapku tanda segeralah malam kita rias dengan berbagi kemesraan, dan kau malah segera membasahi bibirku


--------------------------

Kakak pelukis yah?
Bukan"! Kenapa ada gambar dan sket pensil yang menyatakan itu punya Kakak?
Itu hanya babak tak bermula!
Maksudnya?
Yah... Jangan mudah percaya, mata dan semua dimirp-miripkan,

Ahh' kau, biasanya menjelang magrib sembunyi dibilik bordil dan mengajakku berpetualangan diantara tubuhmu,"
Bukankah pelukis suka hal telanjang?
Hem,diam"!


--------------------------

Joker melihat seorang lelaki diujung tebing memainkan alat musik. Seolah menyatu dengan alam, lelaki itu menandai dengan berusaha tidak mengiraukan sekitarnya. Dia seperti membuat ritual baru disaksikan batu cadas dan ngarai, rerumputan liar, serta rimbunan ilalang dan bunga putih berbingkai segemulai.

Joker tidak mengerti maksud lelaki dengan tubuhnya yang ringan duduk bersepi ditepi bumi. Hendak siapa musik itu?




GERAI DI UJUNG SUNYI


Aku menikmatinya
langit menjelma menjadi pekat
Sulaman gairah istriku merajut sutra
Sampai kutemui diujung alisnya merayuku, meletakkan kemuning cinta
Dari ujung dan dagunya yang manja.
Duhai takdir selama apa ku asuh Cinta dari lengan dan dahinya yang kunyit?
Aku masih mau membuatkannya puisi
Saat mereka lupa tentang Ruang romantis kita di tenggang waktu perawan lembut.




JOKER TERASING DI BUMI TUHAN


Lantaran kusut bajunya yang belum disetrika, dan pijar-pijar lampu dikamarnya masih tetap pekat.

Kanjeng Agung mulai membuat sayembara cerita putri yang terlahir tanpa jari sebelah kirinya. Joker menyimak pada cerita petong dan poteng yang sedari tadi sudah ada disudut beranda depan..

Badai hujan semalam melanda kampung saat kelahiran putri kanjeng Agung di Negeri lintah.


Karya : Dion Syaif Saen




Enam ratus orang lebih!
Mati berceceran darah
Langit kelam berasap ledakan bom dan Rudal. Tragedi tiada penyelesaian

Teriakan kalimat Allah, mengusung jenazah anak-anak, dan perempuan
Dengan kengerian yang mendalam, air mata jatuh pada dagu berbulu tebal seorang lelaki, sambil menandu terisak jenazah anak dan istrinya.
Anak bermata indah beralis tebal tubuhnya bersimbah darah, mencari Ibunya. Duka Gaza

Oleh : Dion Syaif Saen




SUARA KEHENINGAN

Hanya mata menatap
Gerak rambut yang mengelabui
Demi tubuh dan suara
Ada kalanya diam
Dari birahi dunia yang gengsi
Bercerai berai disibak angan
Meletakkan kening berkunci amarah yang dalam, atau simbol
ingin berkasih sayang.

Tiadalah keheningan yang terdalam
Saat kemesraan digantikan kepingan sunyi yang merayap

Oleh : Dion Syaif Saen

--------------------------
Kita adalah dawai dawai
Kita tanpa dasi
Membuat sajak dan lagu
Yang lugu hingga yang terbunuh

Kita adalah jejak zaman
Kau masih punya seribu taman
Aku dengan merias halaman
Yang kujadikan dikau sebagai pedoman

Balada,
Nada
Serta bara jiwa
Yang merana
Hingga mereka yang tertawa
Menjelma jadi jumawah
Petiklah, hingga peradaban ini kita habisi dari Si Ambisi

---------------------------------------------
Pergilah sipulung dengan limpung
Kakinya berdarah
Jari-jarinya gemetar
Matanya picing berkantung duka
Langit merah
Laut tenang
Perjalanan asing
Perjanjian tanpa waktu
Peramalan yang tumpah menjadi kemenyan. Sudah,
setungkup kecemasan,
Pergilah sipulung dengan kain lusuh
Dengan kota tak bernama
Dia terasing.

-------------------------------
Diantara daun yang basah. Semak belukar, angin merambah kesisi celahnya, harum pinus merambah kedasar lembah, tanah merah basah, tanah Tua dipuncak lannying, tanah petuah legenda dan peristiwa, dingin, merebut tubuhku, jemari-jemariku, kabut memosan dekapannya, sesekali merias dengan gerimis, jalan basah bertanah pikat melengkapi perburuan makam lama tak bernama


Oleh : Dion Syaif Saen




Tidak ada komentar:

Posting Komentar