RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Jumat, 03 Oktober 2014

Kumpulan Puisi Ayit Ray - DIBATAS SENJA AKU MENANTIMU


1 OKTOBER 1996

Aku mencintaimu
Namamu masih ada di hati
Bila kau ingat
Masa silam
Coba kau tunjuk bintang
Yang indah hiasi malam
Ada cahaya yang redup
Yang dulu pernah bersinar
Karenamu
Kini, aku masih mendambamu
Jika kau mengerti
Tentang dirimu yang selalu dihati
Takkan pernah bisa aku miliki
_____________
Sugidi Prayitno
12 November 2010





DI BATAS SENJA AKU MENANTIMU

Air mata tumpah membasahi bumi
Saat melihatmu bahagia dengannya
Cincin manis dengan ukiran Ray
Masih terpasang indah

Masihkah ada cinta untukku
Saat kau bahagia dengannya
Masihkah ada rindu kau pendam
Hanya kau yang tau
Cintamu bukan untukku

Aku masih menanti
Di batas senja
Dalam pelabuhan rasa
Untukmu cinta.

______
Sugidi prayitno
23 November 2010




DI SERAMBI DOA
:asrama keramat


Di bawah atap tembok debu
Asap kukus menggenggam rindu
Beralas papan bambu
Tangan mungil meracik candu

Menanti malam, menanti tenang
Cahaya timur, terang di tepi jurang
Kepul rindu wangi surga
Bertemu dalam putih rasa

Saling sapa canda
Cerita kita
Tentang lapar haus dan dahaga
Menjadi santapan tak terlupa

Semoga, di serambi doa kita bertemu
Dalam kepul candu
Meski tak seperti dulu
Ceritamu yang hilang di telan waktu

______________
Sugidi Prayitno
Jakarta 01 Oktober 2014




SAJAK SEMAK

Rihrantakho di batas bilang
Nyanyian geludug
Mahaetha rupuning
Bersajak hening

Ku yang gila!
Kuumbar watak beringas
Tapakku tanpa jejak
Sajakku tak bernafas
Kulihat burung jalak
Terbang mengitari mati

Datang! Dengan cangkul iar
Tanah keras terangkat pasrah
Memendam mati
Yang berteman sunyi
Bersabarlah pada malaikat
Pada gada rantai dan bara

Tersenyumlah! Pada dunia, yang mengurung indah dengan sempurna.

________
Sugidi Prayitno
08 April 2010






TIGA OKTOBER DUA RIBU SEPULUH

Aku melukis wajahmu
Pada dinding kamar
Wajah yang belum aku lupa
Wajahmu tersayang

Agar kau datang
Saat malam di pembaringan
Meski hanya bayang
Setidaknya selalu ada
Untuk menemani jiwa yang terluka

______
Sugidi Prayitno
Kebumen 03 Oktober 2010





SUARA ITU

Tentang malam dan suara yang mengisi kesendirian, tersalip harap kumiliki, saat kunanti ia datang dalam dekap sayang.

Tubuhku tertutup butir asa, akan restu yang semakin tenggelamkanku pada kenyataan, bahwa pintanya, inginkanku bersanding pada jarak langkah.

Seperti angin yang hembusnya kencang menerkam tubuhku akan rapuh cinta yang ada.

Inginkanku, seperti air dalam putaran waktu dan aku di dalamnya.

________
Sugidi prayitno ( Ayit Ray )
Jakarta_28 September 2014






NAMAMU MALAM

Jika kau kembali
Akan ada cahaya untukmu
Cahaya cinta yang hilang
Dari keterasingan

Memelukmu adalah harapan
Meski kecewa, ku dapat
Setidaknya telah aku jaga
Cahaya yang dulu kita bina

Setelah kau bergi
Aku masih ada
Dalam sudut malam
Seperti pintamu

Untukmu
Cahaya yang telah lama hilang
Tiga Oktober Dua Ribu Sepuluh
Namu "Malam"

______
Sugidi prayitno
Kebumen 03 Oktober 2010





SINGGASANA HATI

Kasih;
Kubawah padamu bunga bangkai
Akan kuantar ke singgasana hati
Seharum kasturi para jejaka
Seindah cahaya senja

Kasih;
Bila sehelai wangi kau terlewat
kucipok lentik jidad
Serta pipi tembem
Kutampar dengan Bismillah.

Kasih;
Sebagai rasa sayangku
Apa masih kurang
Kubawah bunga bangkai
Yang tumbuh subur
Di pekarangan rumah bi siom
Kasih;
Seberapa pintamu, padaku
Hanya ini yang bisa kubawah
Sebagai rasa cintaku padamu.

Sugidi prayitno (Ayit Ray)
Jakarta_ 30 Oktober 2014





PENANTIAN

Penantian;
Kursi tepi jalan dan sinoptik
Pedagang dan pembeli;
Di antara mereka, aku
Tanpa bicara
Diam, menatap angka;
Yang berganti
Tak mau berhenti.

Penantian;
Mobil dan motor
Lampau merah, hijau, dan kuning
Berganti menari;
Aku dan sebatang Kawung
Tak lupa secangkir Kahve
Masih setia
Mengamati
Laju mobil dan motor;
Yang berganti
Tak mau berhenti.

Penantian;
Terus berjalan
Pada pagi hingga pagi
Di sini di tengah kota;
Penantian
Semakin panjang
Untuk cintaku korbankan.

Sugidi prayitno (Ayit Ray)
Jakarta 29 Oktober 2014





RUANG SEMPIT

Dalam ruang sempit
Tubuh semakin terjepit
Dalam ruang sempit
Hidup semakin sulit

Dalam ruang sempit
Yang hidup merintih sakit
Mati menjerit
Terkubur sejengkal parit

Kita hidup di ruang sempit
Sebab tanah di rampok kawanan bandit
Nyatanya kita masih mengemis
Pada pertiwi, pada negeri, pada mereka yang merampok NKRI.

Dongeng negeri kaya
Hanya rekayasa, para maling
Yang menjadikan kita boneka
Dan bangga mengatakan, merdeka!

Sugidi prayitno ( Ayit Ray)
Jakarta_ 01 November 2014





KAU, TAK PERLU MENANGIS

Sisi gelap rahim
Masih berselimut kabut
Kau, tak perlu menangis
Meski ibu menikah berulang kali.

Sugidi Prayitno
Jakarta_31Oktober 2014





KASIH SEPI

Selamat datang kasih
Kasih yang tercipta
Dari rasa sepi
Membuang gelisah
Menepi sendiri;

Selamat datang kasih
Setia menemani sujud
Mengantar do'a
Di pergulatan rasa

Tak ada lagi sosok
Yang mengoyak
Kumampu berdiri
Dengan kasih sepi.

Sugidi prayitno (Ayit Ray)
Jakarta_ 01November 2014





KASIH SEPI

Selamat datang kasih
Kasih yang tercipta
Dari rasa sepi
Membuang gelisah
Menepi sendiri;

Selamat datang kasih
Setia menemani sujud
Mengantar do'a
Di pergulatan rasa
Tak ada lagi sosok
Yang mengoyak
Kumampu berdiri
Dengan kasih sepi.

Sugidi prayitno (Ayit Ray)
Jakarta_ 01November 2014




SEMUA TENTANG DIA
:masih luka


Yang nampak, luka sayat
Gores rakus borjuis
Tanpa bumi, tanpa langit
Menenggak air mata embun
Dari mereka, atas nama kita
Hanya fatamorgana

Langkah diam, dalam do'a
Bersaut mengamini
Apa saja tidak lagi berarti
Mimpi sudah terbeli
Dari mereka, atas nama kita

Terampas sudah
Bumi dan langit
Tempat raga merebahkan luka
Tempat jiwa bersemayam nastapa

Apa lagi, yang bisa kau rampas
Sedangkan bumi dan langit
Bukan lagi tempat bermimpi
Untuk kami hanya seupa nasi
Sudah cukup sebagai ganti
Dari mimpi yang sudah kau curi

Sugidi Prayitno ( Ayit Ray)
Kaum kusam_ 08 November 2014




SETELAH HUJAN
:bella


Kau boleh peluk dan kecup bibirku
Setelah hujan, kau boleh menangis
Menggerayang masa silam
Peristiwa yang telah memisahkan
Hitam dan putihnya cinta;

Setelah hujan, kau boleh tatap mataku
Mata yang masih menyimpan namamu

Setelah hujan
Kau tak ada lagi
Pergi tinggalkanku seorang diri.

_____
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Jakarta_05 November 2014





TIGA DAN EMPAT
:bella


Tiga, jalan merayap pulang
Beriringan menerkam hitam
Di lalui tanpa henti
Sepanjang jalan pulang;
Bujang masihku sandang
Lengkap dengan kemenyan
Dupa serta sesaji, di pelataran mimpi
Tubuhmu kudekap sayang
Berteman gerimis dingin dan laju roda

Empat, tembang kenangan
Membayang dalam ingatan
Ini yang sulit kulupa
Tembang-tembang mengiringi

Malam tiada henti, di pembaringan
Kuputar dan kuulang lagu kenangan
Sampai kuterlelap dan pagi menyapa
Tiga dan empat.

____
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Jakarta_05 November 2014




AKU PADAMU

Segenap jiwa
Tak mampu kurebah
Untukmu sayang
Bahasa jiwa
Yang tak pernah sama
Kuutarakan semua rasa
Apa adanya
Dan seperti ini
Kelembutan yang tak sempurna
Biar nampak
Gelora mega
Biar jelas lekuk senja
Aku padamu

___
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Tanah Durna_23 November 2014




GAJI BURUH DIKENTIT
Karya : Ayit Ray


Lihat ditanahku
Gaji buruh sebulan habis
Siang malam pagi
Tak henti bernyanyi
Tak kau syukuri
Nikmat rezeki
Masih saja menuntut lebih

Lihat ditanahku
Gaji cukup membeli terasi
Masih terus mengejar mimpi
Tak mengeluh, meski sakit terikat duri

Disini
Tak ada habis
Menggerogoti
Dinding-dinding pabrik
Sampai lapuk lidah mengkerut
Ditanahku ribuan buruh
Terkekang nasib
Bersikap pasrah namun berontak
Terus berjuang syukuri nikmat
Yang di dapat hingga akhir hayat

______
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Jakarta 10 Desember 2014





Negeri para dewa berselimut do'a
Karya : Ayit Ray


Air mata belum habis
Setelah derita panjang mendera bangsa
Kini saudaraku terperangkap
Dalam bumi yang marah
Pada tanah yang murka
100 nyawa belum tentu berdosa
Harus menanggung derita
Sampai kapan
Rakyat kecil tak tau apa
Menjerit dalam tumpuk tanah
Untukmu saudaraku
Kuantar doa
Dari balik air mata
Semoga Tuhan mengganti tangis
Menjadi intan disetiap tetes ilu.

___
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Jakarta Dua Belas Desember 2014





BURUH PABRIK
Karya : Ayit Ray


Bila ada penguasa marah pada buruh
Protes pada keringat buruh
Nurani marah
Dimana buruh menangis
Dan air mata tak mampu tertampung.
Anak-anaknya menangis
Makan tempe
Seharga motor
Motor seharga mobil
Mobil seharga gunung
Gunung seharga bumi
Rumah hanya kontrakan
Sebidang tanah nyaris terjual.

Bila ada penguasa marah pada buruh
Protes pada keringat buruh
Pabrik-pabrik ditutup
Penguasa, pengusaha
Diam berkemas terbang

Tuhan, dimana rasa syukur
Yang telah hilang,
Demi kepentingan golongan
Tak lagi bisa melihat
Bahwa tangis tak lagi di dengar.

_____
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Jakarta 10 Desember 2014





RUPIAH
Ayit Ray


Sampah saku
Uang saku
Oh..negeriku
Semakin aking
Garing njengking
Terjadi apa
Miris ngenes sumeng meneng
:bagaimana nasib kutang
Tergarang bara
Mengkerut meritut si burung jalan

Lihat birokrasi korupsi masih saja nguntit
Ngintip njimit ah: maling buncit
Sial otak dongkol bau jengkol
Kura-kura sakit bisul

Oh...negeriku
Lihat uangku tak ada lagi arti
Yang kita banggakan
Di saku di dompet di mana-mana
Tapi ini yang terjadi
Jangan biarkan masuk penggilingan

___
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Jakarta 16 Desember '14




DEBU KHAYAL SEPERTI CINTA
Ayit Ray

Aku pulang tengah malam
Pada derap langkah pincangku
Rokok masihku hisap berkawan setia
Tanpa cinta, jalanku teronggah lara

Tak mungkin peduli, ragaku kumal
Kuli jalan tanpa henti kusandang
Debu selimut badan
Wanita cantik bergunjing
Kearah jalan pulang

Keluar nafsu ingin kumuliki
Bersanding dengan dekilnya raga
Bersama khayal kosong
Yang tak mungkin:
Aku miliki.

__
Sugidi Prayitno (Ayit Ray)
Bekasi 17 Desember 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar