RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Senin, 26 Januari 2015

Kump[ulan Puisi Tok Laut - PAMPLET PUISI



Sebesar itukah salahku dimata kalian
Jika aku terlanjur mengendrai awan menapak langit mimpi
Padahal diluar sepengetahuanmu karna itulah bintang dapat kujemput untukmu
Sajakku memang angin tanpa warna
Yang menyusup keperut bumi membelah petala
Sudahilah memberhalakan keyakinan disudut lingkaran
Sebab takkan dapat kau raba dimana ujung dan pangkalnya
Puisi kita sedang direnda takdir
Menuju jalan yang tiada tara
Namun keyakinanmu adalah tonggak sejarah bagimu tapi tidak untukku
Aku adalah aku

--------------------------------------



Puisiku ujur menapak ujung senja
Gerbang selamat datang telah dipajang
Tak ada kalungan bunga dan bunga rampai
Sendiri berjalan menapak kaki pematang
Pamlet yang pernah dipajang
Dibaca selintas bayang
Sebentar lagi mimpi itu pasti datang
Jika mata terpejam
Bangunan gapura yang kalian bangun diatas keindahan
Takkan mungkin dapat kukunjungi meski lewat impian
Pintaku tolehkanlah pandangmu
Kegenerasi terkecilku
Sebab ialah pelipur laraku semasa melewati takdirku


----------------------------------



Kata demi kata yang kau untai
Hanya agar berharap ia akan menjadi puisi yang kan tuntas membelai sorga
Tetapi kau lupa
Allah mengusir Adam dan Hawa dari sorga juga hanya karena salah menafsirkan makna kata dalam melihat susunannya
Ingat...
Jika rangkaian kata kata yang kau anyam menjadi tikar kemuliaan' tidaklah sulit bagi Allah untuk menggulungnya kembali 'karena sajakmu mungkin terlalu picisan dimata sang malaikat pengintai.
Kata kata yang begitu apik kau susun juga bukan tak mungkin terlontar dari lidah kedengkian yang telah lama dipertapaan.
Bukan menjadi cahaya lagi...tetapi menjadi kobaran api
Jika itu terjadi kata katamu akan hangus dan tak dapat dikenali lagi
Kau akan seperti batang gaharu yang terbakar disenja yang sedang mati suri

TOK LAUT




Hoi Hulubalang

Ketika mimpi rebah dibahumu
Samadimu usai membelai pundakku
Keterjagaanku lengkingkan suara itu kelangit

Hoi Hulubalang ... bangun ...
Diraja sang ratu telah menjenguk kita
Mereka sedang menunggu di kapal besar Humaniora dipelabuhan penuh makna

Hoi Hulubalang ... bangunlah...

Buat : seni pemersatu jiwa
TOK LAUT COMMUNITY


--------------------

Duh ...
Mambang laut tidak lagi berasap dupa
Lautpun kering tak bermantra
Srigala digerhana darah penuh luka
Hembuskan bau amis langit nista
Hanyutkan lancang mayang tapa sugi
Ber' marawal hitam tepak keranda
Digerbang mati surinya tanah paduka
Duh ...
Pangeran diraja
Lama nian tertidur pulas ditikar pandan yg bukan lagi milik kita
Duh ...


-------------------------


Srigala malam digerhana darah
Mengendap senyap dibalik kursi
Melototi satu persatu pejenggot bertongkat
Yang sedang menghela asap cerutu para dewa
Di ruh kelamnya malam yg berendeng gerhana bulan
Adalah hidangan pengantin srigala menyirup darah penuh dahaga
Gendang dan aungan nyanyi kita akan kutabuh untukmu
Suluh bambu keramat akan kusulut untukmu
Selendang karma akan kubentang dialtarmu
Sajen dan dupa akan kubakar bersama menyanmu
Hoi .... srigala malamku ... tunjukkan buasmu ...
Agar elektron proton dan neutron mengaliri gejolak
Menghiasi sisi sejarah dipelantaran tangkahan moyang kita
Jika kau hengkang hai srigala malam
Cakarku akan mengkosek wajahmu
Menerkamlah bersama buasmu
TOK LAUT




Yang sedang membaca tulisan ini adalah pemeran utama dari naskah yg sedang kita gagas bersama.

Saat ini kamu adalah pemeran utama sebagai bunga langka.

Camera
Action
Mulai...

Sang Bunga langka :
Mas...maafkan aku...langitpun kugulung untukmu ,namun hari hariku adalah kesalahan alam menempatkanku disitu...aku mengerti...aku tak sekuat batu karang yg siap menghempang gelombang dari ganasnya hempangan samudera yg terus menuai badai...hari hariku tak seindah yg kau bayangkan...aku berada didua persimpangan...disatu sisi aku tak mampu menahan rasa rinduku padamu....tetapi disisi lain aku tak sanggup menjadikan diriku sebagai orang kedua dikehidupanmu....

Cut...

Ada suara yg mengambang yg mempengaruhi jiwa sang bunga langka

Suara prolog:
Bunga
Biarkan petir menghunjam lubuk hati
Biarkan gemuruh ombak menerpa kepanaan jiwa
Biarkan topan badai menghantam pinggiran pantai telaga cinta
Asalkan rumah tua puisi cinta kita aman dari amukan angka angka

Cut.....

---------------------------------



Dulu kita manjakan hari hari dipajarnya pagi
Dulu selalu kita urai tawa hingga cekikikan kelangit tinggi
Dulu kita sering menjulang cita kemega bintang
Dulu kita jarang menoleh kebelakang
Dulu kita terus bergegas meninggalkan jejak
Dulu kita cukup kokoh bergulat dengan semua lintasan peristiwa
Dulu ego kita melebihi jagad roh bumi tempat kita berdiri
Dulu kita cukup enteng menepis kebimbangan
Dulu kita cukup royal mengumbar waktu
Dulu tak pernah terbayangkan' akan kita temui pamflet nostalgia
Dulu kita kurang teliti menela'ah dusta
Dulu kita kurang cermat memvonis cinta
Dulu tangispun tak terasa menoreh luka
Dulu rindu hanya lintasan seketika
Dulu memang memori masa lalu
Sejarahpun ada karna masa lalu
Dan kita semua berada disitu
Ketika senja menghampiri kita
Lantas kita seakan tersentak dan termagu
Ingin menoleh kebelakang tapi terasa malu
Sebab kita sudah terlalu jauh meninggalkannya dan hanya sekali kali menjenguknya
Menjenguk masa lalu yg dulu
Membutuhkan tensga dan waktu
Dan kita khawatir ruang waktu kita tak cukup pula untuknya
Ah...sendi tulangku sudah mulai terasa sesekali ngilu
Ah...renungan dan khayalkupun selalu merasuki qalbu
Kupandangi potret potret yg ada dibilik hatiku
Memang ada bekas luka namun oretannya seperti garis manis tiada tara
Hm...mungkin kegundahan dan kerinduan yg menutup mata hatiku hingga semua serasa indah menatapnya
Wow....senja kulihat hampir meredup menjelang malam
Aku butuh suluh menerangi jalan
Suluh itu hanya bisa kudapat diseperempat tengah malam
Semua orang antrian dan saling rebutan
Sebab audisi tahajjud cukup berat untuk masuk keseperampat final
Dan banyak orang yang tak dapat ikut mendaftar
Koneksi dan tipu muslihat sulit dilakukan
Sebab juribya tak bisa disogok pakai uang
Dan para pemenangpun hanya memang orang orang pilihan
Anugerah CAHAYA yg menggiurkan adalah ENERGY MAHA ZAT
Aku atau engkaukah yg akan meraih penganugerahan itu
Hm....


--------------------------------


Sahabat adalah sosok yg paling merasakan kebahagiaan hidup, sebab sahabat tidak akan mau masuk terlalu dalam pada wilayah yg dapat membahsyakan hati, prilaku spesifik, dan bisikan jiwa. Sahabat lebih fokus pada prinsip prinsip dasar dan berkutat dalam pencapaian...seperti arus yg detas dalam membentuk gerakan...

---------------------------



Kebahagiaan adalah minyak wangi termahal dan selalu bisa bermamfaat bagi sekitarnya' jika kita mau meng-oles-kannya pada mereka' namun rupanya tidak semua orang yang diberi bunga akan mencium aroma wanginya, tetapi ada satu dua yg lebih fokus melihat durinya.



----------------------------

Seandainya gerhana darah yg pernah menyulut luka dilahar gunung jiwaku bisa menuntaskan dendammu, berikan aku ruang waktu membayarnya untukmu


---------------------------

* Part 2.
SAJAK SAJAK CINTA TOK LAUT
dalam
DERU OMBAK DAN GEMURUH LAUTKU



Di seribu sembilan ratus delapan puluh lima
Pamplet cinta itu kita bai'at jadi puisi dupa
Kita sulut bara bersama menyan para panglima
Kita tabur rampai dialtar kain tiga warna
Mayang bungkus yang disuguhkan para bayan
Kita sambut dengan renjis sisilinjuang
Maka bersimpuhlah puisi kita dilutut sitali arus
Sebagai mantra pamit tuk kenderai lancang
Bersama panglima hitam sibatu karang
Sinandong ela ela dan sibangsi tunggal
Iringi sajak kita sampai kemuara sungai
Tuk melepas kita kelaut lepas
Dialun samudera kita coba menghempang badai
Kita terus memujuk ombak untuk menjadi buih
Kita jelang angin keupuk cakrawala agar terus senyum mesra
Namun kita juga harus ikhlas dihempas gelombang hingga kadang hampir kemulut pusaran
Menjelang malam kadang kita diterpa pucatnya bulan tanpa cahaya bintang
Hujan kadang menjadi selimut malam yg membuat kaku bibir
Hingga doa gemeretak disela lidah yg gemetar
Kadang kita semua harus berlutut dibawah arus irama takdir

Ketika senja mulai bergegas menjelang malam
Anginpun berhembus begitu tenang
Dari ulu kemudi terdengar suara sang nahoda
Buang jangkar' kita rehat sebentar

Seribu sembilan ratus delapan puluh Sembilan

Matahari menikam wajahku
Mataku binar pitam
Terlempar keujung kajang
Jalanku menggawang
Hampiri jendela seribu sembilan ratus delapan puluh Sembilan

Kubuka jendela seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan
Tatapku lelah menrrobos ujung lautan
Kumenoleh kekiri
Kulihat cicirudang jermal hinggap diujung haluan
Kuamati komat kamit dan sungutnya
Kulambai bersama seru yang kupunya
Iapun lalu terbang dan bertengger diatas pundakku
Ia rapatkan celatuknya ketelingaku dan berbisik
" ...elang laut ada diistana jantung hati kita, simerak merajuk diganjang rimba"
.
Hoi ganjang rimba
Hoi api dan laut
Hoi kumala yang berada dilubuk emas

Dimana kau ...
Cicurut
Cicorot
Cicirudang
Sajak kita dipecundang

Katapak
Katipik
Katupuk katampi
Kita terus bersajak dibantal guling dan ludah basi

Tung tung tung
Tung tung tung tung

Tung tung tung
Tung tung tung tung
Tak tau juntung

Nung ning nang
Par pur par par

Nung ning nang
Par pur par par
Nasibmu timbunan kapar

Neng neng pong ...

Disuatu pagi di ujung haluan " alang jermal " bertutur kepada para anak sampan
Neng neng pong
Hilang tali pusat wak ulong
Neng neng pong
Jadi tali pangikat dibuat tekong
Cak cak umpan
Wak ongah masang umpan
Cak cak umpan
Ikan dapat tinggal tulang
Mata pancing yang telanjang tercebur dilautan
Bersama benang merah yang sudah kekuning kuningan
Dihempas ribuan buih dan percik menggelikan
Kepiting batu tertawa cekikikan
Melihat sungut wak ulong dan wak ongah yg sudah mulai idan
Hm.......




Tidak ada komentar:

Posting Komentar