RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 26 Februari 2015

Kumpulan Puisi Ucok Stiker - AKU


`` AKU ,,
Oleh;ucok stiker.


Aku bukan kau
bukan kamu
bukan kalian semua
aku adalah aku
aku adalah diriku
yang penuh keyakinan
penuh keoptimisan
dan tak perlu kau
aku semuanya bisa
bisa segalanya
bisa berbohong
bisa menipu
bisa membunuh
bisa mengadu domba
bisa menjajah
bisa merampok
bisa mengusai

aku bisa mencintai juga bisa menangis. ha ha ha ha
Aku adalah penjahat
dapat menolong
dapat memberi
dapat mengasihi
dapat melindungi
dapat membela
aku bukanlah kamu
karna aku adalah kesombongan




" TERNYATA ;
Oleh;ucok stiker.


Kusapa tiada bersuara
kupandang tiada mengenal
kugapai tiada tergemgam
kuingat tiada kurasakan

belaiyan bukan kasih sayang
amarah bukan rasa kebencian
tantangan bukan sebuah hambatan
pikiran bukan sesuatu kepanikan

kau bukan segalanya
yang mampu tuk mengobati
hampa bukan suatu perasaan
ternyata dia hadir tuk memberi salam

kau bukan dia
tapi kau adalah yang kurasakan
namun kau hadir tanpa penyadaran
ternyata kau hadir dalam kenyataan.....





"KEMARIN,SEMALAM,HARI INI,BESOK dan LUSA "
Oleh;ucok stiker.


Waktu pada saat
berjalan dengan kesungguhan
dengan detik waktu yang menanti
berlomba seperti hasrat yang berkeinginan

Kemarin waktu yang belum di sangkakan
diingat dalam tak terpikirkan
pada saat yang tak terdugakan
di simpul dalam uraian pertanyaan

Semalam sebuah hati dimulai
hanya kata yang belum terungkapkan
sebuah maksud tersimpan
dalam sanu bari terpendam

Hari ini kan terpandang
sebuah rasa terpancarkan
mungkin tak dapat terbilang
sesungguhnya hati yg di inginkan

Besok pada saat kan terbilang
uraian yang kan dinyatakan
dalam sebuah pernyataan
mungkinkah dapat tersahutkan

Lusa kuyakin besarlah harapan
dapat menimba apa yang terpendam
sesuai tajuk yang direncanakan
dalam sebuah kata buku harian

Sabtu, 14 Februari 2015

Kumpulan Puisi Topan Kejora - MABUK BATU



MABUK BATU


sejauh aku berkelana
dari kedai ke kedai
singgah di perkantoran
sampai ikut antrian
di pusat kesehatan
hingga hiburan
dan pulang lagi
mereka asik
mengulas
mengelus
mengurus
menggilai batu
batu mulia
batu kerikil
batu ginjal
batu mereka
batu kita
ya batu penyair
batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
sejauh aku lempar tanya
lalu jadilah batu berita
disapa tak berbunyi
asal jadi dari bumi
membatu di hati
puas!
Aku tau
jadilah jadi
Asal kau jadi!

-------------------------------
Topan Wahyudi Asri,
160115, Borneo – Indonesia.
Ilustrasi: lintasgambar.com



YA KITALAH

Kitalah musafir,
tatkala bergerak pada celah-celah
langit bumi mencari dan terus mencari
bahagia dunia akhirat dengan sepenuh tatap.
Kita miliki tulang, tulang yang sama
sekeras dan seputih karang.
Tubuh itu tubuhmu,
semerah darah
pun airmata
sama.

Kitalah pandir,
aneka warna ragam bahasa
di tengah keriuhan dan kesunyian
sebentar kemudian nyaring
dan tiada batasnya bukan?
Sebentar, mari tengok
di teduh kolam
hati itu.

-----------------------
Topan Wahyudi Asri,
300115, Borneo – Indonesia.




LANGIT MASIH MEMBATIK


Tik tik tik, tak siangmalam
Rebah air langit-Mu
Sejuklah ubun-ubunku
Asalmuasal kun fayakun
Rintik lebat kutadah
Faedah menapak bumi
Kita miliki
ya kita ya aku ya kau

Tik tik tik, tak siangmalam
sejak dahulu nafasnya sama, dengus kita
yang beda. Bayangkan kalau tak diberi samasekali
mau jadi apa bumi, tak bersemi birahi batang tubuh insani
yang padaku padamu padakita
pasti kering dan mati!

-----------------------------
Topan Wahyudi Asri,
230115 ; Borneo – Indonesia.





AKAR


Hidup – di alas mana kita mengakar, tumbuh. Dahan tubuhmu
rindang, menjulang, atau tua sekedar sekian. Sinar mentari
dan hujan tidak pernah beda, duhai sayang. Tahu engkau hidup
tak ubah tarian alam. Usia mengakar dan busuk. Waktu sekedar
bersandar pada zikir pagi dan petang. Itupun kalau bantal guling
sempat mengakar, menghisap sari-sari malam. Atau malah akar
mimpimu menjuntai di dahan. Hendak mencengkam bulan
kesiangan.

Tanah – mengikat pekat meliputi sifat, ruh. Akar, di mana
engkau menjalar, menghujam? Akar. Di perkantoran
atau rumah tuhan; mewakafkan diri sebab naluri.
Apa bedanya dengan wanita panggilan? Di tanah yang sama,
akar menjelma tak pernah sama. Akar; mau jadi pohon
tapi pohon apa? Atau semak belukar, tak jadi soal.
Semua memilih kemana hendak menuju mata air. Heran?
Kenapa heran, usah perdebatkan sebab itu pilihan kehidupan.
Agar hidup tak sekedar cuma sekian. Tak kira tumbuh hanya,
sekilan.

-------------------------------
Topan Wahyudi Asri,
200215, Borneo – Indonesia.
Ilustrasi gambar: lakonhidup.wordpress.com






KABAR DARI GUNUNG

Lama daku pergi bukan untuk menghilang. Seperti pohon-pohon
menggugurkan bunga, burung-burung berkelana, dan sungai
yang mengalirkan waktu diantara kebisuan batu-batu;
aku masih berjuang.

Aku pun tengah memahami asinnya air mata, sembari merendahkan diri
sebagai lelakimu yang penduka dalam tahajud paling sunyi. Jawaban terungkai, tatkala lilin purna membakar dirinya. Rindu pun menjurai
berbusana lelah dan keriput ibuku. Terjaga, saat bilal subuh
membalut perih di ulu jiwa.

Berita ini, rasanya aku tak tega meneruskannya. Biarlah menggantung
kesedihan kemudian bergulir menjadi embun pagi. Dan yang pasti
daku selalu mengenangmu, melalui pematang permai
yang tertanam di urat tanganku.

------------------------------
Topan Wahyudi Asri,
050315, Borneo – Indonesia.
Ilustrasi gambar dari: m.liputan6.com




SI PEMECAH BATU

Yang aku tahu ia lahir dan dibesarkan alam. Lelaki – perempuan
bekerja dari waktu kewaktu tanpa mantera, tekad baja
dan gemulai irama kesungguhan seperti tik-tak nadimu, atau
detak jam dinding tatkala malam merambat sunyi.

Mau onggokan sebesar gunung, seukuran villa mewah
juga halamannya tak jadi soal. Mereka martil, ketuk, titik
jadi ukuran kepala, serta kepalan tangan atau bahkan
sebesar biji mata indah kekasihmu itu. Meski upah
hanya cukup untuk esok atau paling lama lusa, sebab memang
tiada makna hidup jika tidak menghidupi.

Jika haus, mereka basahi kerongkongan dengan air
yang mengalir dari urat-urat batu. Saat kelaparan, mereka gaulkan
asin keringat di nasi lalu menyantapnya dengan sangat nikmat.
Jarang kulihat mereka senyum atau menangis, sebab parasnya
selalu basah bersimbah, gosong dan kaku.

Yang aku tahu gambaran hidup, hati dan semangat mereka
keras. Melebihi kerasnya batu.

---------------------
Topan Wahyudi Asri,
150315, Borneo – Indonesia.
Ilustrasi gambar: riaberbagicerita.blogspot.com




WUKUFKU

selembar nyawa menghumban dalam tahajud
paling sunyi dan putih, derai merunggai
memercik di sajadah lembut kasih, ihram
membalut risau yang terpilih, tinggi harap
mengakar di ruas jemari tahyat, kemudian
mekar dalam iman dan kepasrahan

aduhai
entah bagaimana lagi hati ditoreh, terkepung
rintih ke setiap sudut mataku ditatih, duh kasih
yang terkasih tiada berjarak, raihlah hatiku
dalam hangatnya cinta. tapi belum lelah
aku bersabar hingga kepahitan menua
menjadi rasa di lidah dan empedu

-------------------------------
Topan Wahyudi Asri,
260315, Borneo – Indonesia.
Ilustrasi gambar: www.flickr.com





KERONTANG


Saat daratan hanya menampung peluh
Sumur pun hanya memantulkan gema keluh
Dan saat belukar berlulur kemilau jingga
Sepanjang sandar perahu tak perlu ditimba

Debu-debu riang beterbangan
Bersubahat dengan gigi angin kerontang
Menggergaji dahan lapuk dan jemari ranting
Menyisakan rimbun hanya sebatas pancang

Sejauh pandangku menukar haru
Pada hutan rimba compang-camping
Pada bukit dan gemunung yang mengaduh
Yang terpancang berselimut racun mengapung
Nelangsa jiwa pada napas anak cucu kelak

-------------------------------
Topan Wahyudi Asri,
250315, Borneo – Indonesia.





PENUMBRA

Malam lindap di samar gerhana bulan
Tatkala semesta pandang terguyur bayangan
Rinduku mulai merayap dalam kenangan

Tapi penyair adalah mahluk yang sopan
Tak pernah tewas dalam kesementaraan
Sekali pun mabuk dalam bayang ciuman

Tak terbatas bernama kita berkawan
Dan memaklumi zaman sepanjang karangan
Hingga tubuh memanjang bersama gerakan bulan

Bulan merah darah berpendaran
Ayat bayangan tak kunjung terkhatamkan
Tapi napas masih mendodoi kasih di rumputan

-----------------------------------
Topan Wahyudi Asri,
010415, Borneo – Indonesia.





PENUMBRA


Malam lindap di samar gerhana bulan
Tatkala semesta pandang terguyur bayangan
Rinduku mulai merayap dalam kenangan

Tapi penyair adalah mahluk yang sopan
Tak pernah tewas dalam kesementaraan
Sekali pun mabuk dalam bayang ciuman

Tak terbatas bernama kita berkawan
Dan memaklumi zaman sepanjang karangan
Hingga tubuh memanjang bersama gerakan bulan

Bulan merah darah berpendaran
Ayat bayangan tak kunjung terkhatamkan
Tapi napas masih mendodoi kasih di rumputan

-----------------------------------
Topan Wahyudi Asri,
010415, Borneo – Indonesia.


Rabu, 11 Februari 2015

Kumpulan Puisi Emmy Metamorfosaa - TEMBOK LUKA



TEMBOK LUKA
Karya : Emmy Metamorfosaa


Tembok ini masih baru
Batu dan semennya masih basah
Ku coba membina walau banyak goresan luka
Kutumpuk dan kutambah supaya kuat dan tegar lagi
Menahan ombak mu menerima topanmu bahkan petirmu
Namun kini tembok baruku ini harus rubuh
Tak mampu,Ku bukan karang di lautan atau pun tebing di pegunungan
Kuhanya tembok perasaan
Hanya ini goresan yang sempat kutorehkan
Selamat tinggal wahai halilintar


TEMBOK LUKA
gORESAN aMATIRAN
07 feb 2015





ORIENTAL
Karya : Emmy Metamorfosaa


Benarkah semua ini?
Mampukah aku,,
Membawamu kesini ke ruangan ku
Sedangkan aku sendiri masih meraba beranda
Oriental
Kalau memang ini semua benar
Bersamaku
Kita sama sama melangkah
Menelusuri bersama, belajar bersama
Oriental
Maafkan aku,aku bukan pelita di kegelapan mu,
Tapi aku teman di perjalanmu akan selalu di sisimu

gORESAN aMATIRAN
kisaran,02 feb 2015





DI BODOHI PAGI
Karya : Emmy Metamorfosaa


Menanti penuh pasti
Menunggu tanpa tau
Menatap yang tiada
Mengapa?untuk apa?entahlah...
Mentari menertawai
Dibodohi pagi ku hari ini

gORESAN aMATIRAN
kisaran 03 feb 15





BAHASA KITA


Dia telah dinodai
Berdalih berkembang seiring zaman
Dia telah dirombak,dipermak
Bak badut badut tak lucu

Kami jadi kita
Aku jadi Q
Sayang hanya sebutan cinta hanya panggilan
Bak cipratan ludah di ujung bibir belaka
Dia nyaris tak bermakna
Warisan para Tetua


-----------------------

Kemarin ku di situ
Taman halaman rumahmu
Menyemai benih mawar harapan
Perlahan ku sadari
Kabut mulai turun
Kian kelam,kian samar bayanganmu
Benih mawar bersemai perdu

Ku serasa sendirian
Kini ku sudah di jalan
Kabut kian pekat

Menunggu panggilmu
Atau ku hilang di telan kabut

MULAI PUDAR
gORESAN aMATIRAN
kisaran,14 feb 15

Kumpulan Puisi Endang Misnawaty - BIARKAN



BIARKAN

Biarkan mentari sembunyi dibalik awan
Meski mega mega tetap menghiasinya
Biasnya redup seredup hatiku
Cahayanya temaram segelap Lembayung Senja Di Awan
Duhai,,,,
Mengapa rindu rindu berkecamuk didada
Sedang hati ini duka nestapa
Gelisah dan gulana
Hati gelisah bagai dipenjara
Duhai
Mengapa rindu rindu tak pernah reda
Meski angin mamiri menumpaskannya
Dan gelombang laut menghempas hingga berkecai
Hancur dan binasa
Lantunan semilirnya angin
Bagai kidung yg memelas hati yg berduka
Duhai
Apakah harus kukubur rindu rindu yang indah
Hingga tak berbekas dgn nisan diatasnya
Bertulis dengan kata indah yg lara
Seorang insan yg berduka karena cinta
Bertabur kembang mawar yg beraneka warna
Dengan harumnya yg mempesona
Duhai
Bayangmu selalu mengiring perjalananku
Kasih sayangmu selalu membahagiakan aku
Cintamu membuat aku bagai melayang
Terbang keangkasa luas
Hingga aku bagai bidadari diantara awan
Yang menghiasi cakrawala
Duhai
Disini aku dengan segala rindu
Menanti bayang bayang semu
Yang membahagiakan aku
Hinggaku terlena dipelukan khayal
Mentariku bersinarlah
Hingga kuhangat dgn cahayamu
"""""""""""""""

By Endang Misnawaty II
Di gubuk tua rumahku
Siantar city 27/1/2014 11:25
Kau yg tersayang
kisaran
larut melipat pagi.....



ASA YANG SIRNA

ketika malam menjelang
Gelap yg temaram hiasi langitku
Tanpa bintang dan rembulan
Kunang kunang berterbangan
Menyinari hatiku yang sedang kelam
Ada rindu yang terpendam
Jauh diujung malam
Rindu rindu yg sirna
Oleh gelapnya malam tanpa bintang
Rembulan bersembunyi dibalik awan hitam
Semua hilang dan temaram
Rindu rindu hilang
Terbang bersama angin yg jalang
Tanpa bekas terbang melayang
Jauh diujung malam
Dimana rindu yang semalam
Mengapa hilang ditengah malam
Aku yang kesepian
Tanpa bintang dan rembulan
Hanya kunang kunang yang berterbangan
Dengan cahaya yang gemerlapan
Disini ada rindu
Terpaku dilubuk hatiku
Dalam dan kelam
Bersemayam diujung malam
Menanti rembulan dan gumintang
Yg bertebaran dilangit kelam
Rindu rindu yang sirna
Telah sirna terbawa angin senja
Duhai,,,,
Hati yang merindu
Jangan biarkan aku tersipu malu
Karna bintangpun telah berlalu
Dan rembulan tersenyum ragu
""""""""""""

By Endang Misnawaty
Di gubuk tua rumahku
Siantar city 3/2/2015 19:37


------------------


Ya rob....
Aku hanya sebutir debu diantara hambamu
Yg selalu bersujud mohon ampunan darimu
Semakin aku melanglang buana dibumimu
Semakin aku merasa kerdil dihadapanmu
Aku terbang melayang diangkasamu
Aku menyusuri lautanmu
Dengan hiasan ombak yg bergulung indah
Namun sangat menakutkanku
Ternyata aku sangat kerdil dihadapanmu
Bagai sebutir jarah yang tak berharga
Kapanpun bisa terhempas dibelahan bumimu
Aku makin merasa sangat kerdil ya rob
Meski kulihat keindahan ciptaanmu
Ada langit diatas langit
Ada awan diatas awan
Meski diatas sangat indah
Bercumbu dengan awan putih bagai bidadari
Namun kita tidak menyadari
Ternyata awan hitam telah menanti
Yang siap mengguncang dan menghempas
Mencabik tubuhku tanpa bekas
Aku menyadari betapa kerdilnya aku kini
Diantara semua ciptaanmu ya Rob
Kau tunjukkan kuasamu utk aku nikmati
Kau beri aku rezeki untuk aku nikmati
Tapi semua itu agar kumenyadari
Betapa kerdilnya aku kini
Yang harus selalu tunduk atas kuasamu
Yg harus selalu memohon pertolonganmu
Karena aku semakin menyadari
Betapa kuasamu sungguh agung

Ada langit diatas langit
Yg menyimpan sejuta misteri utk aku renungkan
Betapa hidup ini sungguh rumit
Tapi mesti dijalani...
Alhamdullillah ya Rob
Kesempatan telah kau beri
Untuk aku nikmati dan syukuri

By Endang Misnawaty II
Di gubuk tua rumahku
Siantar city 14/2/2015 7:01




Ketika kulelah


Ketika kulelah....
Kuingin ada didekatmu
Merajut cerita tentang masa depan yang indah
Bernyanyi dengan burung yang bersenandung merdu
Ketika kulelah,,,,
Kuingin rebah dibidangnya dadamu
Mendengarkan senandung degup jantungmu
Membaui aroma tubuhmu
Ketika kulelah,,,,,
Kuingin dirimu bimbing langkahku yg lemah
Menuruni terjalnya dinding jurang yg curam
Dengan jemari tanganmu yg kokoh
Ketika kulelah,,,,,
Kuingin ada disisimu
Memandang cahaya rembulan yg temaram
Menghitung bintang gumintang yg bercahaya
Ketika kulelah,,,,
Kuingin dengar sapa lembutmu
Menyapa diriku yg lunglai tanpa gairah
Hingga tertidur dipangkuanmu
Ketika kulelah,,,,,
Aku seakan ingin berteriak
Menghalau semua yg kubenci
Enyah dari kehidupanku
Ketika kulelah,,,,,
Aku rindu kamu

Yang selalu menggenggam jemariku
Dan menyabarkan aku dan menyemangati aku
Jika semua masalah kan berlalu
Ketika kulelah.....
Ternyata aku sendiri tidur dan bermimpi
Tanpa kau ada disini
Disepinya malam ini...
""""""""""""
Endang Misnawaty II
di gubuk tua rumahku
Siantar city 22/2/2015 21:03