RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 02 Juni 2016

Kumpulan Puisi HR RoS - ELEGI DIKSI RINDU SENJA


Puisi,
____Tinta terakhir _____

Tinta memerah menoda resah diksi
dalam kertas putih
kanvas-kanvas tua hampir pudar
melukis kasih sebagai tinta terakhir.

Di peraduan mimpiku, aku mencoba,
menoleh lembaran-lembaran memori,
ku tatap jurang-jurang pemisah
diantara nostalgia kisah kasih
tak mungkin ku sulam kembali histori usang
tinta itu semakin mengering tak lagi basah telah bernoda darah.

Tinta terakhirku ini
aku persembahkan ke dalam syair
menilai kearifan kasih
masihkah adakah kamu untukku
untuk memahami relung relung takdir
antara aku kau dia dan mereka.

Tinta terakhir ini kian memudar
ketika kertas putih itu di albumku
akan menutup lembaran demi lembaran hati
tak lagi membimbing masa depan dari cabaran puisi yang kian tersisih.

Aku memang masih di sini
menatap menyiram taman bunga
dengan air tirta maya cinta dalam bisu
yang mengalir dari tetesan air mata rindu
pertanda cinta ini masih ada dan setia untukmu.

Bila kekasih bernokhta cinta sepanjang hari
setumpuk cabaran menjadi pelajaran
tinta ini tak akan ku akhiri
sampai aku meraih obsesi dari sebuah mimpi
meski mimpi itu bias ditelang waktu.

taman hayalan itu selalu melukis kasih
pada pelangi jingga
memerah di peraduan senja
ku sapa dikau cinta
dikala senja hari,
adakah malam berpelita sinar purnama
bila bulan memadu rindu
hadirlah....!!!!
janganlah malam ini menjadi bisu
jadilah sosok juwita malam menari indah
di dada langit
kan menyinari pekatnya kabut buana
yang tak lagi punya ruang tempatku berlari
meski kunang-kunang hati tak cukup mampu menerangi di seantero sukma mayapada
dalam kisah cinta yang tak nyata.

Ketika tinta yang memudar ini masih tersisa
yang akan melukis malam
senyumlah...!!!
pelita kecil itu janganlah sampai padam
yang dikau masih dalam genggaman.
Aku berdiri diawal pagi menatap teriknya mentari siang ini
memandang lembayung di tengah riak
menitip kabar pada pelangi yang akan menepi
ke telaga kasih bisu
kabarku sama seperti yang berlalu
aku masih mencintaimu.

Oh, terik.
laju sinarmu membakar hangat tubuhku
menggapai obsesi hari pada senja nanti
berharap siluet cinta merona
pada keagungan illahi rabbi
mendekap dalam doa senja
menitip sebait asma, berharap cinta hati ini janganlah segera padam.
Aku masih seperti yang dulu
memadah telepati dalam luah telik sandi
meski tergores dalam ayat-ayat tinta terakhirku ini
aku akan terhenti menitip larik-larik puisi
ketika dawat tinta itu
tak lagi kau hantarkan warna ceria
ke arena kanvas rupa rasaku yang mulai pesimis di kertas putih
karena rasaku semakin sepi semenjak di tinggal pergi pada bayangan mimpi kekasih.

aahhhh......
HR RoS
Jakarta 25-4-2016, 09:35





ELEGI DIKSI RINDU SENJA

Sore ini,
berlayar mendayung tinta ke ranah maya,
bertamu ke bibir pantai,
camar terkikis oleh pasang gelombang,
bila petang burung burung itu
pulang kesarang,
bernyanyi riang, memandang
lautan luas yang menghadang.

Ketika kasih merindu jauh diseberang
tangan asaku,
tak sampai merangkul kasih-sayang.
bila cinta terbias oleh bayang bayang
aku terpaku rindu,
rasa yang tak mau berlalu
oh rindu,
bawahlah daku ke samudera lamunannya.

Cinta ini terpenjara diranah maya
tak terealitanya cerita menjadi kisah hampa
kelu, kaku, rindu yang bisu bersatu dalam bayangan pilu.
bila saatnya mimpi terjaga dari tidur ranah maya
akankah kisah ini seindah yang di duga,
entahlah....
.
Cemara merindu purnama
dalam kelamnya malam,
temaramnya keemasan menembus jendela cinta
aku intip megahnya purnama dari
beranda di malam buta,
indahnya ciptaan sang semesta.

Malam ini indah sekali,
rangkailah dalam doa
malam yang berpelita ibadah
berharap labirin doa berpelita kasih
akankah suatu masa pelita cinta itu terealita?
di negeri yang tak pernah ku jumpa.

HR RoS





CERPEN,
SIDUNGU DAN SABDA TUAN GURU ITU.


untuk menempuh ujung jalan

haruslah melalui pangkal jalan

pangkal jalan yang terdekat

adalah diri sendiri.

Di sudut ruang di belakang pintu
santri dungu belajar bodoh.
saking dungunya, menatap sang tuan guru.... malu tertunduk kaku seakan menatap bisu, entah apa yang akan di perbuatnya.
hanya sesekali mengangkat kepala,
melirik sekeliling deretan duduk santri
siapa-siapa saja yang hadir datang memetik hikmah di malam-malam indah di gubuk sepuh yang tak dikenal oleh kalangan santri modern.
seakan sepuh ini, tak kelihatan berdiri di tempat yang terang,
di lengahkan begitu saja.
anehnya, aksara jiwa yang di ejawantahkan sang guru,
sang dungu nyambung dengan bimbingan rasa.

Sang dungu belajar bodoh,
dungu tak mengerti sama sekali
jalan-jalan santri di kitab fikih.

Duduk diam santun menyulam bisu
hening memahami pituduh makna-makna jiwa dan merenungi sejarah kolosal agama
pada jejak-jejak wali di peradaban tanah jawa.
yang di kupas di setiap malam purnama
sang dungu, bersandar di tiang kerlipnya
lampu-lampu menara di ruang sukma.

Dungu adalah aku,
hanyalah patuh pada perintah sabda-sabda cinta, menerangkan tentang kemulian akhlak rasulullah.
dari wejangan sang guru yang paripurna
seakan jiwa ini terbang melayang ke bait-bait baithullah.

Guru memerhati sangat sang dungu, tentang kebodohannya.
tak ada rafalan mantera dan kalimat di titipkannya sebagai perisai diri.
sembilan puluh enam malam purnama
bertapa di gua ketawadu'an santri.
tak pernah sama sekali di perintahkan melafaz kalam
dan membungkus rafal di bawah pulang kepada peraduan hari-harinya.
sidungu tak merasa menadah bingkisan,
melainkan hanya pasrah pada kebodohannya.

Pasrah pada takdir ruh Din
di titipkan sang khalik dari azali berdiri.
hingga pada pemberhentian nafas terhenti.
aku sang dungu, percaya pada keyakinan tutur sang guru.
ketika telepati sang guru memadah sukma
menitip pesan pada telik sandi sang dungu,
diantara jiwa cinta asyik berkomunikasi memaparkan rahsa rahasia.

Sang guru menjabarkan kedudukan si dungu,
ketika kau dungu, kau yang selalu setia memandu perguruan itu.
aku akan menyambangimu selalu meski kau berkelana ke ujung dunia,
dan kau berada di lobang semut sempit sekalipun, aku mengikuti langkahmu kemanapun kau pergi.

Itu terbukti,
ketika sang dungu menanyakan perihal tabir tebal tertutup ghaib silsilah keturunan dari azali hingga peradaban sesudah ia nanti.
bahkan menjabarkan history
seiring konflik zaman di mayapada ini.
ia sang guru,
memaparkan sangat tepat sekali.
dungu semakin bodoh pada linuwih bathin sang guru sepuh.

Santri mengejar bodoh mengikuti jejak sufi
berjubah cinta yang rela.
mewaspadai noda-noda jasroh memandu langkah selama sembilan puluh enam purnama.
bertapa dimalam buta, dengan segelas jamuan kopi penahan kantuk,
hingga fajar menyingsing di balik jendela rumah tua.

Pada masa keniscayaan hari
mengikuti jalan realita kehidupan si dungu telah berbuah prediket bodoh.
di perantara nyata dan ghaib,
tanpa berkomat-kamit.
sidungu di uji dengan sebuah opera kakek sipeminta-minta.
si dungu semakin awas lan waspada akan sebuah opera titik akhir, pengabdian sang murid yang setia akan titah pituduh aksara tutur sang guru, selama sembilan puluh enam purnama menempa jalan-jalan sunah.

Ahhh.... senyum sang dungu semakin merekah pada telik sandi rahasia sepuh.
mata ini semakin mendelik,
rasa semakin halus, budi semakin di pekerti, jiwa semakin cinta,
ruhani semakin di asah,
jeli pada telik sandi rahsa sebagai santri.
yang mengejar prediket bodoh, pada kalimat lahaula walakuata illa billahil aliyil adzim.

Memahami ujian jangan sampai lupa pada kegagalan insan yang sempurna.

Antara tutur tinular aksara sang sabda tuan guru dan murid yang di damba.

HR RoS
Dinukilkan dalam histori,
HR Romy Sastra.
Jakarta, 26-5-2016. 16:56.





Cerpen,
SUKA DUKA NIAGA DIBALIK HIDAYAH.


Sebut saja namaku Rahmat,
Rahmat melangkahkan kakinya menuju sebuah kota sumedang jawa barat. pada pagi hari itu, ia dan kawan-kawannya menunggu bus antar kota menuju ke destinasi hendak niaga keliling antar kampung. masa itu, rahmat tinggal di salah satu kecamatan kabupaten bandung, tepatnya tak jauh dari terminal cileunyi.

Pagi sekali rahmat bertiga dengan kawannya, menunggu bus yang ia nanti medal sekarwangi datang menepi.

tit..tiitt tiiittt....

bunyi klakson bus memanggil penumpang di tepi jalan.
seketika kami bertiga berlari menaiki barang dagangan ke bagasi yang kami bawah ke kota tahu itu, tahu yang terkenal gurihnya.

kawanku sebut saja namanya Afian dan Aichun,
Alfian, Aichun masih ada hubungan kekeluargaan dengan rahmat.
Dalam perjalanan diatas bus kami bercakap-cakap arah tujuan tempat kami akan niaga keliling nanti.
Alfian berpesan, sore nanti kita harus pulang ke bandung, jangan sampai kemalaman ya, nanti bus ini sore tak ada trayek lagi ke bandung sahut Alfian.
satu jam perjalanan kami sudah sampai di batas kota tahu itu. hingga kami memutuskan, Alfian memilih turun di kota sumedang, Aichun melanjutkan ke daerah wado ujung sumedang perbatasan daerah tasikmalaya, saya sendiri rahmat menuju daerah cimalaka masih pinggiran wilayah kota tahu itu.

Di awal pagi,
aku menjajakan daganganku, alhamdulillah.
pelaris beberapa buah saja daganganku itu.
lumayan dah, buat sarapan pagi.
dipagi hingga ke siang hari melangkah demi langkah lelah berpayah, menjajakan dagangan diatas kepala tak kunjung laku lagi.

Uuhhh, lapar sudah mulai menyapa kembali, aku istirahat di salah satu kedai kopi pesan rebus mie instant,
buat penambah tenaga aku berjalan nanti,
aku kembali berjalan lepas dari
kedai itu.

Hingga pada tengah hari aku berhenti di salah satu mushala kecil menunaikan shalat dzuhur
sambil rehat kembali.

Resahku mulai menyapa lelah,
lamunanku tertuju ke kampung halaman ingat kala bersama orang tua, semuanya masih ada untuk di makan tak berpayah-payah begini, gumamku.
aku Alfian dan Aichun adalah anak perantau dari sumatera.
kala remaja pergi merantau karena di kampung masih kecil sudah putus sekolah.

Lamunanku buncah, ingat pesan Alfian pagi tadi diatas bus,
sore hari nanti kami harus berada dirumah pulang ke bandung.
aku gamang sambil berjalan dagangan ini tak laku juga, ahhhh gimana ini ya, lirihku hiba.

Padahal jam sudah menunjukkan jam 16,00 wib. waktunya aku sholat, kebetulan aku mampir disalah satu mesjid di daerah cimalaka itu daerah yang tak begitu belum aku kenali.
aku tak sempat sholat berjamaah
kala itu, karena terlambat menunaikan tepat waktu.
aku perlahan memasuki beranda mesjid itu, menitipkan barang dagangan ke kedai sebelah mesjid.

Rahmat adalah anak yang pemalas sebenarnya, melaksanakan sholat lima waktu.
tapi entah kenapa gerakan kakinya kala itu ringan memasuki tempat ibadah.

aku rahmat itu, menunaikan kewajiban sholat azhar, selesai salam kanan dan ke kiri rahmat berdoa sebentar saja.. lalu disapa oleh salah seorang jamaah kebetulan ada disampingnya.
Ia bertanya, dari mana dik asalmu?
lantas aku menjawab, aku berasal dari sumatera pak, tinggal di bandung tepatnya di celeunyi..
Oohh, apakah adik mau pulang ke bandung sore ini..? padahal sore-sore begini sudah tidak ada lagi bus ke bandung,
oh ya, betulkah itu pak tanyaku?
iya benar dik, jawab pak tua itu.
kalau begitu, adik istirahat saja semalam di mesjid ini menunggu besok pagi.
O ya dik, besok pagi ada pasar di samping mesjid ini. pagi-pagi sekali adik buka dagangannya ya!
hari sudah sore aku pamit ya dik, ya silahkan pak jawabku.

Sore itu, aku mandi di mesjid dan kembali ke kedai tempat barang yang aku titipkan tadi.
duit daganganku sisa beberapa saja. ahhh, lumayan buat makan sore ini hanya mie instant rebus lagi,
karena tak ada kedai itu jualan nasi.. ahhh, lemasku hilang seketika
selesai makan mie instant.
tak beberapa lama, hari sudah menunjukkan waktu maghrib.
aku menunaikan sholat maghrib berjamaah dan hingga ke isya.

Singkat cerita, lepas isya, jamaah sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
tinggal aku sendiri di mesjid yang kian sepi.
aku berfikir kenapa ya...? daganganku tak laku-laku siang tadi.
tak seperti biasanya di kota bandung
aku berjualan.
kenapa jauh-jauh begini padahal aku tak begitu paham wilayah kota tahu ini.
sebelum rasa kantuk menyapaku,
aku sempatkan wirid kalimat,
La illaha ila anta subhanaka inni kuntumminazzalimin seratus kali.
Hari sudah menunjukkan jam 23,45 wib.
aku merasa ke dinginan yang teramat sangat seluruh tubuhku menggigil, gigiku pun beradu.
seperti menggigit batu-batu kecil di gigi ini.

Aku memutuskan mencari selimut untuk menutup tubuhku yang kedinginan.
hingga mataku tertuju kepada sajadah yang berserakkan di lantai mesjid.
aku selimuti badanku, kantukku menyapa, hingga mata ini terlelap.

Ketika sadarku hilang masuk ke dalam mimpi, aku bermimpi...
jauhhh, dari lorong kosmik rasa mimpi.. dari atas langit ada sebongkah kerlip cahaya turun menghampiriku, seketika cahaya itu menyinari dada ini.
aku lirik ia mendekati satu depa diatas wajahku..
cahaya itu sangat menyilaukan bola mataku seakan siluetnya menerangi seantero mimpi..
aku haru dan tertegun,
bertanya dalam mimpi sendiri
cahaya apa ini ya illahi..?
seketika ditengah cahaya itu tertulis kalimat MUHAMMAD
aku membaca dan menatapnya dengan jelas.
perlahan cahaya itu, menghilang dari pandangan mimpiku.

Aku terjaga seketika, melihat jam dinding mesjid menunjukkan jam 2:23 wib.
bertanya dalam resah, apa yang telah terjadi dalam mimpiku barusan.
ya allah pertanda apa ini?

Ahhh, jawaban misteri itu tak mampu
aku pecahkan di sepi begini
rasa takut menghampiri.
aku lebih baik melanjutkan tidur
hingga aku terbangun waktu shubuh, menunaikan sholat berjamaah.
selesai aktifitas sholat shubuh kala itu, fikiranku teringat pesan pak tua sore tadi,
untuk berjualan di samping mesjid pagi ini.
lantas aku pamit ke kedai tempat barang niaga aku titipkan.
pagi-pagi sekali aku cari tempat untuk membuka daganganku.

Aneh bin ajaib, daganganku belum selesai aku buka semuanya.
tiba-tiba saja, entah dari mana orang-orang belanja mendatangiku, tanpa ada tawar menawar mereka belanja dan langsung pergi.
gak berapa lama daganganku habis terjual.. hari baru menunjukkan jam 7 pagi.
padahal orang-orang di pasar pagi itu terheran-heran menatapku.. pagi sekali barangnya sudah habis terjual.
kita-kita ini para pedagang lama baru mau buka dagangan, dagangan anak muda itu sudah habis.
anehnya lagi kata mereka.. yang belanja orang-orang yang gak kita kenal.
entah dari mana orang- orang itu?

Tak menunggu berapa lama, aku bersiap-siap menutup perlatan tempat daganganku, karena daganganku sudah habis.
aku memilih cabut dari pasar itu segera.
pergi ke sebuah terminal kecil
terminal cimalaka tak berapa jauh dari pasar itu.

Lalu aku melanjutkan perjalanan menaiki bus ke kota bandung kebetulan bus medal sekarwangi aku tumpangi kemaren pagi sudah ada antri di terminal itu.

Sesampainya aku di sebuah
terminal cileunyi kabupaten bandung,
aku telah di sambut oleh Alfian dan Aichun.
yang dia risau bertanya kenapa gak pulang kemaren sore..?
dan kemana daganganmu Rahmat?
aku sangka kau tersasar di sumedang itu.
aku ketawa dan tersenyum kepada mereka.
daganganku sudah habis semua terjual tanpa tersisa.

Uuuhh aneh ya gumam Alfian,
kau baru datang dari kampung bisa sehebat itu berjualan.
aku saja yang sudah bertahun-tahun
berniaga tak pernah habis, kamu kok bisa.
aku kira daganganmu itu di curi orang.
hebat kau ini rahmat,
padahal rahasia yang berlaku
dengan hikmah hidayah
yang aku alami,
tak aku ceritakan kepada mereka yang menungguku di terminal itu.

HR RoS
Kenangan tahun 1994,
Dikisahkan oleh HR Romy Sastra
Jakarta, 26-5-2016. 00:22





PARANOID MIMPI SENJA

Ahhhhh...

telah aku campakkan kecewa ini
ke jurang yang terdalam,
semoga terkubur di lembah sunyi.

ah, kenapa resah ini mengikuti jejak hiba yang tak mau berlalu pergi.

aku telah berlari sejauh mungkin
meninggalkan kisah yang tak berarti.

kenapa dimasa senja ini
aku di linangi paranoid hati
pada sebuah impian yang sudah mati.

Padahal,

Telah aku petik bintang-bintang
di malam sunyi,
berharap kerlipkan hidupku yang gersang ini.

pada jejak malam,
aku yang terpesona mimpi bodoh
selimuti malamku yang kian dingin
semenjak di tinggal pergi oleh
kepalsuan mimpi.

entah kenapa tirai kasih yang dulu,
menyapaku kembali dalam lamunan ini.
sudah aku bungkus rapat-rapat
story impian yang ternyata semu
aku yang tak ingin berselimut kepalsuan
ternyata semua cerita itu telah berubah.

HR RoS
‪#‎bingkaiparanoidpotretmimpisenja‬#




SEBATANG ROKOK
YANG HAMPIR PADAM


Diri,
separuh sudah kretek ini melaju
ke filter hirup terakhirmu,
yang telah terbakar sudah menjadi abu
dan berdebu.

Kehidupan itu masih berlanjut
meneruskan sisa-sisa cinta dan
aroma mimpi dari lelap sekejap ini.

Oh......,
damailah asap nafasku melaju memandu
lenyap ke ruang kosong itu,
biar menyatu bersama-Mu oh tuhan.

Sisa-sisa tembakauku tak lagi wangi
aroma yang telah berbau,
tak sedap lagi.
bara panas ketakutan, perlahan-lahan mendekap,
menghampiri raut wajah yang telah memudar.
wajah yang tak bagus lagi
bahkan telah keriput,
sendu dalam bayangan misteri
yang mengintai diri setiap hari.

Lamunanku resah,
aku ingin berdamai ya illahi
dalam perjalanan takdir terakhirku.
yang selama ini lalai dalam aroma kretek murah yang melenakanku..
tapi, ongkos nafas surgamu jauh lebih murah dari sebatang rokok ini.

HR RoS
Jakarta, di penghujung mei
31-5-3016, 11:33





~~ ROHINGYA NASIBMU KINI~~


Deru mesin itu bergemuruh
Deru emosinya membunuh
Deru nurani pilu
Deru sosial sepertinya kaku
sendu.

Nasibmu Rohingya,

Kau terjajah dari tanah sendiri
termarjinal dari mayoritas
terkasta dari tumpah darah
tersisih dari sebuah perbedaan
terhukum karena berbeda keyakinan
terombang ambing di lautan
terlantar di daratan
yang tersisa sebuah penderitaan
bangkai bangkaimu hangus berserakan.

oh, miris sekali,

Dimana nurani itu kini ya budhis..?
sang budhis yang welas asih
kenapa citra Aksobya tak di maknai
kenapa Vairocana di tutupi
kenapa Amitabha tak menerangi
kenapa Amoasidhi tertutup cinta
kenapa Ratna Sambhawa di kotori

uuuuhhhh budhis,

Miyanmar,
kenapa politik itu homo homini lupus
kenapa konflik tak ada solusi
kenapa reinkarnasimu ekstrimis sadis
oh Budhis-budhis.

Kenapa, kenapa dan kenapa....?

Budhis,

Tatkala budhis berjubah suci
nafas ajarannya cinta ke sesama
dan ke semesta,
adakah ini penguasa...
lemahnya sistematis kekuasaan
saudara itu di miyanmar sana..??

Mukmin,

Almukminin bil ihwan
dimana digadaikan rasa sosial itu kini
darah muslim tercecer darahmu juga
dimana ukhuwah itu di pusarakan..?
muslim,
saudaraku.

Sesungguhnya setiap jiwa itu bermusafir
damailah dalam istana fana illahiah ini
tabahlah meski bermandi darah
raihlah kasta rahmat dari sang pencipta
berlomba lombalah mengejarnya.

Rohingya, muslim tidak menebar dengki
tiada asap kalau tiada api
ya rohingya, intropeksilah kini..!!
malam ini masih berpelita,
siang ini dunia masih bercahaya.

Evaluasilah diri.. !!!
jiwa-jiwamu yang sudah terjajah lara,
sabarlah.....
semogalah Rohingya itu
diterima disetiap pengungsiannya
diberbagai bangsa
Amin.... ya Allah.

HR RoS.





""Aurora cinta Maya menyakitkanKu.......""


Sembilan belas purnama terbit
di perjalanan aurora kosmik galaxi malam
menyapa dunia mayapadaku,
perjalanan siluet kasih itu telah bias.
terkikis,
karena malam terakhir ini
purnama tak lagi bangkit
merubah wajah ke bulan sabit
ia adalah lukisan hati yang telah gelisah,
dalam lamunan cinta yang telah pasrah.

Maya,
puing puing dermaga rindu telah rapuh,
pelayaran ke tanah bajau itu,
kehilangan arah
samuderanya telah berkabut.
aku batalkan saja niatku,
menoreh jejak ke puncak kinabalu.

Uuhhh,
pelangi yang dulu pernah menerangi senjamu,
kini mulai menampakkan rupa.
keperaduan cinta yang tak pernah sudah.
dekaplah ia memamah asa senjanya
biar terlerai dendam kasih-sayang
yang selalu ia kidungkan dipantai cerita itu.

Maya, kau satu bunga seribu cerita
pernah pesonakan aku,
hingga aku kilaf pada jati diriku.
hampir saja baju kesayangan yang kupakai
tergantung di dinding kamarmu.

Hingga aku terjaga pada lolongan malam
di dalam kubah jiwaku
haaaii...
janganlah bermain api di puncak kinabalu
yang akan membakar seluruh maruahmu.

Karena aurora cinta di kaki langitnya
misteri.

pergilah ke jalan realiti
kan kau dapatkan kisah yang sejati.

HR RoS
Jakarta, 30-5-2016, 12:06





DALAM PASRAH
AKU MASIH MENCINTAI


Aku gandeng tanganmu erat erat
takut lepas dari genggaman
aku memegang tanganmu kekasih
rasa memeluk bayangan
padahal kau kenyataan
ketika aku membutuhkanmu
kau campakkan aku dalam kepalsuan rindu.

Memang, aku tak punya apa apa yang bisa di banggakan ke arena hidupmu,
hidupku miskin kasih.

Hidup bersamamu
bak menggenggam bara api yang tak kunjung padam,
seringkali air mata ini terkoyak
dalam kolam kolam bening
menitis di kelopak mata sedih.
aduh, kadangkala aku mencoba berkaca menatap wajah dikamar ini
ketika luka masih terasa,
tetap rona cahaya cinta yang setia
masih mampu menerimamu.

Telah aku serahkan segala-galanya untukmu
kini kau campakkan aku
pada masa senja yang telah layu
pahitnya mahligai rindu yang kutuai
dalam pasrahku ini apapun yang terjadi
aku masih mencintaimu kekasih.

HR RoS
Jakarta, 2-5-2016, 16:52





Cerpen,
BERSAMA CINTA MENEMUI MAHA CINTA


Ketika waktu maghrib menyapa, kami selalu sholat berjamaah bersama anak-anak.
betapa indahnya sebuah nilai realita rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah itu.
kala lantunan doa dari sang imam memandu, meski suara itu berbisik pada kalbu dalam hati yang tak terdengar oleh diamnya duduk kami.
tapi, suasana hasrat doa itu, seakan sama pada kesetiaan cinta dan rumah tangga untuk selama-lamanya hingga ke jannah diantara kami, Meski tak terdengar oleh telinga ini.
tapi rasaku mengatakan ia adalah seirama.
buktinya, aku melirik dalam duduknya makmum itu mereka tersenyum menyalami tanganku, dan mengecup jemariku.
spontan mereka menengadah menatap wajahku dan ku kecup juga kening jamaah itu satu persatu. mereka istri dan kedua anak-anakku.

Ia adalah Mimi,
sosok pendamping hari-hariku
dalam suka maupun duka.

Mimi menyapa,
bang...?
ini segelas kopi aku letakkan diatas meja.
aku yang biasanya selepas maghrib mengambil waktu santai di ruang tamu. menyusun larik-larik diksi diatas kertas putih tuliskan sebait puisi sarapan tinta malamku.
ya Mi, silahkan di tarok
nanti abang minum, airnya masih panas.

Selesai satu larik puisi, aku langsung memposting ke sosial media, untuk kumpulan karya-karyaku, kelak karya itu aku bukukan sebagai kenangan masa tua dan anak-anakku sepeninggalku nanti.

Suara beduk isya mulai menyapa dari kejauhan malam yang mulai kelam.
aku selesaikan kewajiban fardhu itu
dan berjamaah kembali.
kali ini, kami berdua saja dirumah sholat berjamaah. karena anak-anakku pergi mengaji ke tempat biasanya ia menimba ilmu iqra'.

Malam-malam mulai menyapa suasana mulai terasa dingin.
Mimi biasanya,
selalu ia membaringkan tubuhnya lebih dulu. berharap kala malam ia bisa bangun kembali untuk menunaikan sholat sunat tahajjud yang biasanya ia lakukan.

Sedangkan aku sang ayah, masih menunggu anak-anak mereka pulang mengaji.
supaya ia bisa belajar sebelum tidur menghapal pelajaran sekolahnya dari tugas guru sekolah.

tok, tok, tok.....
Assalamu'alaikum..?

alhamdulillah mereka anak-anakku sudah pulang.

Wa'alaikumsalam..
jawabku dari dalam rumah.

mana ibuku ayah, tanya si bungsu..?
ibumu sudah tidur nak.
bukalah buku kalian..!
selesaikan tugas sekolah kalian sebelum tidurmu,
biar besok tak di marahin gurumu di sekolah.
selesai mereka belajar, lalu anak-anak itu tidur di biliknya masing-masing.

singkat cerita,
malam telah berselimut kelam
suasana hening memanggil misteri malam, bersuara cit cit cit
auuuuuu... seakan suara itu menyuruhku tidur.
aku masih saja menulis cerpen tentang surat cinta kepada rabb malam,
bahwa hidup ini indah.
aku melirik jam dinding sudah menunjukkan jam, 23:00 wib.
ya mata ini perlu di istirahatkan semoga aku bisa bangun bersama Mimi istriku menunaikan shalat sunah tahajjud nanti di pertigaan malam.

Lelap, lelah dari asa itu memandu hari-hari setiap hari.
pas takdir malam itu di pertigaan malam
istriku membangunkanku.
bang bang bangun..!
yuk shalat tahajjud.
aauuuu... duh ngantuk banget mataku.
aku tak menghiraukan panggilannya,

aku lelap lagi.
Mimi gak sabar di gelitikin perutku
yang ia sangat paham akan kelemahanku kalau ia membangunkan suaminya.

Kami berdua, bergantian ke kamar mandi membasuh muka untuk berwudhu'
lepas berwudhu' sajaddah di baringkan di kamar sholat.
pada indahnya suara lirih doa-doa malam, seakan membangunkan sang maha kekasih di haribaan tuhan.

Aku dan Mimi sama-sama khusyuk tartil dalam tuntunan tahajjud malam itu.
sama- sama menatap jauh kedalam jiwa.
bahwa yang kami bawah adalah cinta
tanpa do'a.
karena biasanya hajat kami
ada masa tak memohon dunia.
akan tetapi hanya melihat diri kami ini masing-masing,
apakah sang maha kekasih masih menghidupkan kami esok hari.

Tahajjud cinta di malam buta,
tak meminta duniaku ada dalam kesenangan semata..
tapi sungguh benar yang kami bawah adalah penyaksian diri ini.

Akhir dari ibadah penjamuan rindu di malam bisu
kami saling menatap,
dan saling bertanya..?

Abang, tanya Mimi..?

adakah abang menyaksikan maha kekasih itu dalam sujud doamu?
ya.., jawabku,

apakah dikau Mimi juga sama melihat kehadiran-Nya..?

ya abang sama, aku masih melihat-Nya.

yaaa, kalau begitu usia jodoh kita masih panjang Mimi..
semoga ya allah.

Satu tatapan dalam pelukan
malam-malam indah bersama kekasih menemui maha kekasih itu.

HR RoS
Jakarta, 28-5-2016, 15:48





»»»~~~SYAIR RASA CINTA INI......

Assallamu'alaikum

Kasih,
di sudut hati yang terdalam, rasa ini mengalir mengukir rindu
membulir titiskan maniac air mata tertumpah
dari rasa yang terluah di senja jingga.
Duh,
raga yang terpisah lara, dalam derita sakit yang tak kunjung reda.
kemana kan mengadu
rasa yang menyatu bergumam rindu
di aliri suasana pilu yang tak menentu.

Oh kasih,
keadaan itu sebuah keniscayaan, terhias dalam kausalitas perjalanan hidup.
Satu pintaku, bersabar, berdoa, berharap,
berbaik sangkalah ke sang pencipta.
kobarkan semangat ceria itu selalu
hadapi warna hidup ini dalam karya kerja cita dan cinta,
demi meraih obsesi masa depan purnama.

Kini resahku menyapamu, mengaliri kebahagian yang tandus
aku menyentuh dunia maya
tak terabanya realita cinta.

benarkah mimpi itu indah.. terbangun jadi hampa. entahlah, ketika terjaga memang mimpi itu sirna.
aku tak akan lelah melangkah ke suatu area yang di damba,
ingin bercengkerama suatu ketika di pusara ayah bundamu,
menata taman kamboja ditanah merah
di nisan tua.
memadu cinta dengan airmata dikala senja di sebuah beranda rumah tua.

Jiwa,
syair rasa ini melelahkan cita
oleh kata kata pujangga yang pandai merangkai kata,
narasinya pelik tuk di cerna.
pujangga yang mencinta di arena jingga
seninya kaku gemulaikan tari tuk merayu
karena masa cerita yang sudah berangsur tua,
telah lelah lena di buai senja.

Aaahh...
setidaknya, cintanya itu mewakili inspirasi kreatifitas hati.
syair ini terlalu sulit tuk dimaknai
karena iramanya fatamorgana oleh suasana cinta yang tak teraba.

Kasih,
aku akan selalu melangkah kehatimu
tuk iringi cita mengakhiri duka dan tanda tanya.
tapi bila cinta bermahabbah setia
haluan takdir membimbing ke istana mahligai.
dunia ini memang sebuah opera,
bukan sebuah kemunafikan dan kebohongan.
tapi bila sudah melangkah dengan jubah cinta yang rela, maka itu ibadah, semoga maha daya cinta merealita.
walau di dunia tak ada yang abadi begitupun juga cinta, kadang suka dan duka selalu datang silih berganti seperti mimpi sang bunga tidur.
dan aromanya, mampu menuntun nafas spirit beraktifitas setelah terjaga.
ikrar cinta itu teramat indah dalam sebuah cerita
membubung relung jauh ke ruang angkasa.

Ketika debar jantung tak seirama dengan senyuman,
taburkan pelita doa berharap mahabbah dari-Nya.
walau kepedihan sakit selalu membuat pilu rasamu,
genggamlah selalu mahkota setia itu,
meskipun rasamu tak berirama bahagia,
dari kisah yang tak pernah nyata.

Kesetian kerinduan itu adalah
modal menghalau duka
yakinlah, disuatu masa bahagia akan menyapa.

Tuhan,
bimbinglah ia ke sebuah istana mahligai
dalam genggaman maha daya cinta-Mu
pada takdirnya ia.

HR RoS



ANDAIKAN INI RAMADHAN TERAKHIRKU.

Ranting-ranting yang telah berjatuhan
tunas-tunas berganti dahan dedaunan
siklus kehidupan, rotasi keniscayaan
akan berguguran
pada zaman-zaman bergilir.

Aku berdiri di bibir rasa
sepanjang jalan kenangan
menatap senja ini,
jiwaku bertanya pada siluet
adakah hilal dibalilk awan bertamu
menyapa ramadhan sore ini...?

Sayup-sayup irama padang pasir
menyentuh kalbu
rasaku hiba,
bertanya diri pada bulan religi
di tiang-tiang menara mesjid
telah menggema menyambut kedatangan kekasih sebentar lagi
adakah ramadhan tahun ini adalah ramadhan terakhirku.
ohh... misteri, entahlah.

Ramadhan,
kaulah kekasih fitrahku
pada bergulirnya raya nanti
di penghujung kepergianmu itu.

Bila tunas-tunas kan tumbuh kembali
izinkan aku ya illahi..?
menatap ramadhan seribu tahun
kudambakan sepanjang jiwa ini
biar kupetik sejarah tinta
bahwa aku bisa menunaikan amanah
menjadi sang khalifah cinta
di tanah mayapada ini.

HR RoS
Jakarta di bibir pantai utara
6-6-2016, 16:26





DI BATAS KOTA PENANTIANKU SIA-SIA.

Di batas kota dalam penantian
rasa yang menjenuhkan.

aku menantimu,
tak kunjung hadir menemaniku.

aku telah berkawan dengan angan
menjalani kisah sedih yang tak bertujuan.

Kisah yang hampir sama
pada gersangnya tintaku menyapa dikau
seakan tak lagi peduli dengan larik-larik yang kian tersisih ini.

Oohh kau yang di sana....
hidupmu berbunga telah berputik dari kisah kasih di taman cintamu.

Aku yang disini masih sepi menyendiri
ya di batas kota ini,
menorehkan cerita dalam sebuah impian
yang tak pernah menjadi kenyataan.

Di batas kota aku gantungkan harapan
demi masa depan engkau dan aku
tak lagi cerita itu indah pada akhirnya
yang tersisa hanya dendam membara.

HR RoS





KEMANA HILANGNYA RINDUKU
MALAM INI.


Aku yang berdiri di ujung jalan
malam ini,
rinai menitis perlahan
pertanda akan turun hujan
kelopak mataku berkaca-kaca
dada ini sebak.....

Jauh di dalam angan bayangan itu
merupa abstrak yang tak nampak
oohh rindu, dimana kau kini..?

aku tanyakan pada cakrawala senja tadi,
malam ini kan kelam.
bertanya resah pada kunang-kunang
cahayanya sekejap dan seketika menghilang.

Oh angin,
sepoikan belaianmu
biar embun malam ini menyirami rinduku
kelopak rindu janganlah menetes
yang akan membasahi jejak langkah
pada lelap tidurku.

Rembulan malam
kau bidadari itu,
wajahmu yang ayu tak merupa sempurna
kenapa malu di balik awan
datanglah malam ini
wahai bidadari rinduku.
izinkan aku mengecup keningmu
walau sekejap saja.
biar terlerai dendam tak sudah
membuncah dalam bingkai tak nyata.

Berharap malam ini rinduku bertamu
hadirlah janganlah cepatlah berlalu
aku yang sepi disini
di ujung jalan itu,
meski lelah di palung rindu
masih setia menantimu.

HR RoS
‪#‎diksirindumalamyangresah‬#





AKU DAN TUAN GURU ITU


Lembah-lembah diri kuselami
hanyut ke dalam mimpi
menurun dan mendaki dengan lafaz illahi
jalan-jalan terjal kutelusuri
memasuki alam diri rongga rimba raya
aku dan nafsu itu,
mengikuti jejak langkah rasa.

Aliran tenang mengalir di telaga kaca rasa
bersabdanya sang penunggu kasta
di tingkat makam yang tinggi
untuk apa engkau datang kemari
yang hanya membawa ilusi saja.

Tuan,
aku datang kemari membawa cinta
izinkan aku bertanya tentang azali berdiri
ya tuan penunggu sagara alam diri...?

Baiklah...!
janganlah kau berdiri di kakimu itu
janganlah kau duduk di tilam permadani
berpijaklah di tempat rasamu bersembunyi
kan kau tahu rasa yang sejati
bersilalah pada embun-embun malam
pada ruang yang teramat sunyi itu.

disana sabda itu di bisikkan...
La illaha illa ana, innani anaallah...
pengakuan IA.
Pasubhannallazi biyadihi.....
akhir kalam ayat itu.

Subhanna rabbika robbil izati.....
ia adalah penutup segala doa untuk-Nya.

Sesungguhnya itulah sabdaku
pintamu akan azali itu
keakuan kesucian-Nya yang segala maha.

Kembalilah turun ke mayapada
pegang nukilan tauhid itu
jangan di lengahkan.

HR RoS
Jakarta, 6-6-2016, 19:56





JALAN-JALAN TERJAL PADA SAUMKU


Terjalnya jalanku siang ini
diawal langkah aku sudah tertatih
mengekang segala nafsu
berjubah sutera dari langit
pada sang kekasih yang kurindui.

Kemaren telah aku nikmati
segala aroma nafsu
sebelum bulan kekasih memanduku
bibirku asyik pada bangkai-bangkai
yang di halalkan,
tak kusadari ia menumpuk di lambungku.

Kini,
dalam doa-doa kemesraan
biarlah lelah berpayah menengadah
meraih cinta sang kekasih
bercumbu elok pada tasbih
mensucikan noda-noda pada istighfar
yang melekat berdebu pada tubuh dan jiwaku
semoga fitrahku raih pada raya nanti.

HR RoS





_____ ASA YANG LARA _____


Dulu,
aku akan melakukan sesuatu untukmu
sama sepertimu,
membiarkan takdir itu mengalir
di jalur yang semestinya.
dan memutuskan suatu kisah
ketika nanti, untuk bersama denganmu.
Apakah kita akan bersama nanti,
atau justru akan berpisah di jalan ini selamanya?

Dan bila ketika masa itu tertakdir tiba
bingkai nohkta kasih masih setia
aku akan genggam erat jemarimu,
berharap kebahagian itu menjadi nyata.

Meskipun jalan hidup yang aku tempuh,
akan berbeda.
untuk memenuhi sebuah rasa kasih sayang dan cinta yang setia.

Sayangnya kini,
kisah yang membaja dulu
akhirnya retak patah dan telah pecah berkeping-keping tak bisa di satukan lagi
hanya karena ego cinta
tak bijak dengan kedewasaan diri.

Hanya kertas-kertas kosong tertinta
dan menjadi cerita sejarah.
Kau dan Aku,
mencipta kisah-kisah semu saja.

HR RoS





JEJAK-JEJAK YANG TAK NAMPAK
____________♡♡♡♡____________


Tubuh ini dalil itu
bertinta rasa pada jejak khalifah
di bawah naungan ka'bahtullah
alam-alam diri berlapis tipis
seperti lembaran-lembaran daun kol
kupetik bergugusan kemilau kerlip
qolam-qolam tasbih bermusyahadah
di bibir cinta.

Aku berlari mencari sesuatu yang tersembunyi
perjalananku diam pada jejak yang temaram
bertanya sendiri,
dimana letaknya hakikat religi sunyi
tentang tauhid diri pada iman memandu yakin
padahal ia berada di tingkat ainul yakin itu.

Aku terkurung dalam pengap
nafasku atur perlahan meniti tujuan
kearah kematian
tubuhku kian gemetar
bukan ku takut akan tersesat jalan
melainkan aku terjerambat pada rantai-rantai nafsu yang membelenggu lingga yoniku bertafakur.

Jalan jejak religiku terbengkalai oleh
was-was godaan mikraj diri
padahal diri ini berjalan bersama sejati yang tak nampak itu.

HR RoS





SORE DI PEREMPATAN GROGOL ITU


Di perempatan jalan
di bawah jembatan tol grogol
di depan kampus trisakti
aku menunggu hujan reda
seketika bedug adzan maghrib berkumandang
menandakan telah datangnya waktu berbuka puasa.

ahhh..
aku disini,
bersama anak jalanan
ia menjajakan Guitar kecil
di petiknya tembang kenangan.

Andaikan engkau datang kembali
jawaban apa yang kan kuberi.....
hayalku tertuju sekejap pada cinta yang tak pernah datang lagi.
luluh, lirih, resah, menatap lajunya memori yang hanya tinggal mimpi.

yaa aku disini,
di sore di perempatan jalan itu
resahnya jiwa ini bermandi hiba
pada kuyupnya aku dan mereka
berbagi segelas air mineral
cukup pelepas dahaga religi.

Seketika history imajiku sirna
dengan sapaan bocah kecil menadahkan tangan..
ya sini dik..!
ku titipkan pesan pada telapak tangannya
dengan uang recehan
bersinarlah engkau kelak wahai tunas marjinal kotaku
sang seniman jalanan itu.

HR RoS
Jakarta, 15-6-2016, 18:00





TEMARAM RINDUKAN PURNAMA


Purnama berkabut koloni awan
di cakrawala malam yang indah
syahdunya tiupan bayu menuai rindu.

Hembusan sejuk menyelimuti
tabir malam yang temaram,
purnama indah bangkitkan gairah cinta.

Oh bulan diranting cemara menambah kerinduanku yang dahaga
lepas senja remang melingkari langit.
kunang-kunang malam menari
mengiringi siluet yang telah pergi
tak terasa rindu ini mulai bangkit.
pada lembaran malam,
membuka hayalku pada memori sunyi.

Di peraduan sunyi malam ini
aku yang berkawan sepi,
menantimu kau disini.
jauh dilubuk hati yang kau pergi tak pernah kembali lagi.
kembalilah hadir sekali lagi
kan kukecup keningmu,
dan bercerita tentang cinta bahwa hidup ini indah
oh kekasihku....

HR RoS





PESIMIS RINDU SENJA


Di ujung jalan senja hari
aku yang disini menyendiri
menatap hayal seraut wajah
yang dulu selalu menyapaku
di tepian senja.

kala hatiku mulai resah,
kau melambaikan jemarimu
pada bayangan diksi rindu
aku terbuai oleh makna cinta.

tapi kini,
jejak-jejak langkahmu padaku
kian membisu
dan semakin bisu.

Ketika nyanyian camar di bibir pantai
yang dulu kau bisikan pada gemulainya
nada riak mendebur sukmaku
aku haru pada nyanyian senja
yang mengalun merdu akan rindu
di balik goresan tinta cinta
di pantai cerita itu.

Ohhh.. senja,
kau hadir akan menguntum lukaku
yang rindu ini akan semakin berdarah
semakin luka,
pada bayangan cinta yang tak nyata.

HR RoS.





RINDU AKAN TAKBIR
DI BERANDA RUMAH BUNDA


Rintihan takbir menggema di seantero jiwa
kala pagi, aku asyik berlari ke sungai
mandi dengan riang gembira.

lara-lara yang bernoda di hari fitri
terbasuh sudah pada sapa dan salam sungkeman ke ayah bunda dan sanak saudara.

Entahlah,

Pada suatu ketika itu terjadi di bibir rasa
seraut wajah hiba kupalingkan
pada awan yang berarak
kemana rindu kugantungkan
untuk ayah bunda
ketika kemesraan tak ada disisinya.

Bunda,
pelitamu tak menerangi beranda rumah itu nanti
secercah senyum ceria dalam kebahagian
berganti hiba dalam pelukan angan
pada janji fitrah di raya tiba
pelita bunda redup di tengah samudera.

Oh angin,
sampaikan salamku pada sepoinya
rasa rindu pada ayah bunda.
Aku disini menghitung hari
langkah-langkah kaki yang masih terikat pada resah menyulam hidup ini.

di satu sisi, tangkaimu telah berputik
pada amanah yang harus di tunai.

di sisi lain, aku ingin kembali
menari bersama kala masa remaja
menghiasi rumah kita.

Ahhh.. rindu tak sudah
kakiku terpenjara di tanah jawa

Bandara minangkabau
aku rindu kerlipnya wajah lampu itu.

HR RoS





Assalamu'alaikum..sahabat Dumay..
<::::::::MONOLOG CINTA ILLAHIAH:::::::::>


Nafas hariku pamit tertumpah YA
YA itu aku masukan kembali dengan HU
aku mencintai illahiah
Dia menyambut dengan rindu.

aku datang dengan berjalan
IA mengejarnya dengan berlari
aku datang dengan sebait doa
IA menghadiahkan kasih se isi bumi.

Tiada yang Aku pinta darimu
selain kenalilah Aku
tiada yang sia sia Aku ciptakan untukmu
melainkan telah Aku sempurnakan semua untukmu.

Apa yang kau persembahkan untukKu?
hanya selain rasa syukurmu.
sadarilah dirimu,,,,
Aku menyelimutimu
maka kenalilah Aku.
tiada Tuhan selain Aku
maka sembahlah Aku.

Duh,
Mengapa ada juga seribu Tuhan dihatimu,
wahai hambaKu.

HR RoS..





~ ____ AKU DIANTARA AKU____~


Azali diri berdiri dari sang kekasih
perpaduan antara cinta
dalam wadah maha cinta
dari tetesan darah hina dan mulia
aku terdiri dari anazir illahi
antara amarah, lawamah, sufiah, mu'mainah
yang menjaga peradaban jiwa di setiap tarikan nafasku berlari
dari kasta anugerah menjadi insani.

Aku diantara aku,
aku yang di awasi oleh diriku
di utus sebagai suci dari yang maha suci
mengelilingi rotasi hati
di dalam religi setiap hari
menghantarkan kepada laisa kamiselihi.

Aku diantara aku,
aku yang selalu di awasi oleh aku
mengiringi ke jalan rasa
bersahabat setia
aku di hina antara amarah, sufiah, lawamah.
mutmainahku, mengawasi ke ruang anugerah.
berharap sang cinta tidak
menutup cahanya ke ranah ibadah.

Aku diantara aku
berdiri kokoh di dalam hati
berpacu berlari merebut tropy untuk sebuah obsesi
diantara ridha ataukah hina.

Aku diantara aku
yang tiada alfa menderu mencari kebenaran dan kesalahan yang akan dipertimbangkan nanti,
tuk raih obsesi syurga dan neraka.

HR RoS






Salam senja dunia maya...


Damainya rasa rindu di hujung hari
Cakrawala menyelimuti koloni awan orange.

Aku yang kian sunyi berselimut senja
berkabut sejuk
lelah diberanda rasa
tertumpah dikaki langit.

Senja...
tinta ini bernotasi rindu
rindu akan sesuatu
yang tak pernah bertemu.

Uuhhh..
dermaga senja mulai menari
dengan syair ini berkawan sepi
berlabuh di hujung waktu
menanti di setiap hari
Yang di rindu
ada dalam bayanganku..

HR RoS




<<< RINDU AZIRAH.............. antara memori dan cinta.


Ketika semilir angin menyapa sepi
rintik gerimis air mata kasih
titiskan rasa rindu
mengalir di pipimu yang indah
meluluh rasa sedih dalam lamunan pilu,
kau yang jauh di peraduan istana tua,
hayalmu tergores perih sembilu rindu di lorong waktu.

Aku tak mampu hadir,
dikala lamunan itu
menyapa di langit bilikmu. Hadirnya bayanganku
hanya penghias hayal semumu saja.

jangan kau cari memori di ruang sunyi
nanti kau akan semakin sepi
ketika potret kenangan lama itu kau temui dan berhias di dinding rumahmu tataplah sekejap, dan senyapkan segera ke ruang pusara nostalgia..!!

Azirah,
ketika memoar itu hadir menyapamu
dia hanya bisu membatu
jangan kau peluk potret itu..!
nanti story love you in shadow jadi paranoid rindu
Kristal itu nanti jatuh, yang akan jadi bulir sembilu rindu membasahi pipimu.
aku tak mau cinta itu akan bersemi kembali berbunga kepalsuan oleh ada dan tiada
berdimensi ke nisan tua
yang akan membuat azirah cinta termerana sepanjang masa.

Luah ini mengusik rasamu tuk hapus jejak jejak memori sunyi dengan masa lalu itu.

azirah, kini bukalah jendela hatimu..!!
Sambutlah mentari pagi ini menyapa
di beranda rumahmu,
tataplah dari kejauhan teriknya hadir dimaya ini dengan senyum mesra sebagai tanda realita cintanya masih berpelita indah.

HR RoS





_____ KOTA TUA _____


Dalam history kuberkaca
derita sang kota tempoe doeloe
kota tua itu.

Hulu ke hilir titah sang prabu
pertahankan sejengkal tanah
dari penjajah.
yang akan mengalirnya kekuasaan
dari negeri tuan negeri kolonialis
di bumi kami.

Pucuk-pucuk bertunas di makan ulat
ranting-ranting berjatuhan ke bumi
silih berganti,
kota tua adalah tetap misteri.

Lorong rahasia dari kota tua ke istana raja
ajang gerilya para punggawa
menjaga negeri ini dari penjajah
darah harta dan jiwa tertumpah
di tanah negeri surawisesa kala itu.

Tapi kini,
wajah kota itu yang elok
kau icon yang tak di lestari
hanya bisa di puji di bibir regenerasi
dulu kau permata dari asia
ratu dari timur.

Sepasang mata bola datang dari jakarta
menatapmu,
masih adakah cerita yang tersisa
untuk generasi nanti?
memaknai sebuah sejarah.

Akankah hanya tinggal kenangan
tempat berpesta clasic
bagi para pelancong seni saja
ya di kota tua itu.

HR RoS
Jakarta, 18-6-2016, 00:18




RINAI PAGI DI HATIKU


Rinai pagi telagakan embun
sebait puisi kubingkai di altar diksi
jendela rumah kubuka
kilauan suci bertebaran menghias pelangi
di taman kecil samping rumahku.

Ku puisikan setangkai daun keladi
ia tegar berdiri
meski di hujani beribu tetesan dari langit
tak merasa kedinginan
tak pernah merasa basah
berguru kepada dedaunannya
meski di hujani beban
ia tak meninggalkan jejak.

Pagi ini anggun,
mencumbui rerumputan jalanan
aroma-aroma kembang menyeruak
mewangi pada megah di dinding hari
merumuskan kebahagian rasa
meski hidup ada dalam parade sunyi
lajunya rintik menitis menghantarkan
suasana hidup ke musim semi.

Hujan itu akhirnya turun juga
membanjiri telaga embun pagiku
aku resah,
lukaku semalam tertumpah pada jejak
yang semakin menganga
aku tertegun melangkah
kembali aku merajut selimut lusuh
yang masih kugenggam di jemari rapuhku.

Lelapkan tubuh ini kembali
tuk melupakan,
asa pagi yang telah bias pada hujan
yang membasahi langkah pada secercah mentari
dalam hidupku.

HR RoS
Jakarta, 18-6-2016, 08:48




•<:: KHALIFAH BERMUSAFIR CINTA ...

Pendakian religi bermikraj ke kasta tertinggi
menatap cahaya illahi bertemu sang kekasih
bermandi air tirtamaya
mencicipi madu nurjannah
menyatu kepangkuan rahimnya
terlena dalam rahmat cinta yang maha nyata.

Tuhan,
kini aku kembali masuk kedalam mimpi
Engkau ajak aku menemui-Mu
Engkau kenali aku dengan sebuah jannah
aku terpesona moleknya jannah dunia
Kau berlalu meninggalkan diriku.

Aku kejar engkau dengan mata hati
ku tinggalkan jannah dunia itu
aku ingin bersama-Mu kembali
seketika pelita kacahaya membungkusku.

Tuhan,
bila kasta khalifah itu ternoda
campakkan aku ke jahanam sana
bila engkau ridho, ampunilah aku.

Dalam ramadhan ini,
aku beribadah bukan mengejar pahala syurga
karena ejawantah tauhid imanku kepada-Mu.

aku tertatih dan terus berlari mengejar fakta cinta
yang semestinya telah Engkau suguhkan
selau di setiap nafas hidupku.

Tuhan,
ampunilah aku bila lalai
mensyukuri nikmat yang Engkau beri
Engkau yang ku cinta dan tercinta.

nafas pagi menjelang senja dari Jakarta.
HR RoS






##
SINOPSIS BUAH HATI BUNDA
##


Bunda,
raya ini anakmu tak pulang
sinopsis hati ku lukis
telah jauh anakmu berlayar
ke negeri seberang
menghadang gelombang.

hidup pada riak,
perahu itu melaju di tengah samudera menuju pulau harapan.

Di tengah samudera aku haus
padahal, diri di kelilingi sagara biru membentang tak berhujung.

aku dahaga dari belaian bunda
menatap jauh ke bibir pantai rasa
sayup-sayup melambai bayangan angan,
seakan berdiri sesosok misteri
rupa bunda memanggil dari kejauhan
untuk menyuruhku menepi.

Bunda, raya ini anakmu tak pulang

dua dekade telah berlalu
lama sudah aku tinggalkan rumah itu.
pergi membawa mimpi
mewujudkan impian hati,
sampai saat ini
impian itu tak jua berkenyataan.
malangnya nasib anak yang terbuang
karena takdir ini
.
Bunda,
telah banyak benang kupintal kurajut,
mencipta permadani merah
kan kupersembahkan di hari tuamu.
duh bundaku sayang,
kenapa sulamanku menjadi tilam derita.
aahh mimpi,
kau resahkan aku pada impian lara.

Bunda, raya ini anakmu tak pulang
kuncup-kuncup kembang jemariku ini dulu indah
kini semakin keriput.
pertanda warta itu
tangan yang pernah menggenggam
kala ku bayi dulu
kan jauh lebih keriput
bak retak seribu kaca
wajahmu yang dulu juga pernah indah
kini layu sudah.

Oh bunda,

seribu cinta telah kau tunaikan
seiring doa-doa malam yang tak pernah putus
berharap raya ini anakmu kembali
tak meminta sulaman permadani merah
selain hanya dekapan mesra kala balita dulu.

Bunda,

Pendayungku patah
maafkan anakmu bunda
asaku tak jua menjadi kenyataan
dalam bingkai sinopsis diksi rindu
hamba titip jasa sebait diksi doa
pada-Mu ya Allah.

semoga beranda rumah tua itu
dapat aroma cinta dari permata hati
dalam puisi hiba ini
di raya nanti..

oh bundaku sayang.

HR RoS
Jakarta, 18-6-2016, 15:18





-----TELAH DINGIN HATIKU-----


Dinginnya malam
tak mungkin selamanya sunyi.

Oh mendung yang berarak hujan
rinaimu telah berlalu
kapankah redanya awan hitam itu
ku tunggu dalam lamunanku.

Liku terjalnya asa yang tak bermentari
siangku masih disini
telah terhapus jejakku
hidup menyulam hayal
yang tak mau pergi...

Pergilah hayalku ke obsesi impian yang berkenyataan.

Aaahhhh...
sayang biarlah terbang tinggi.

HR RoS




RINDUKU BUNDA

Senja ini temaram,
terik pelitanya telah hampir padam
bulan malam ini
seakan enggan menampakkan rupanya
aku masih disini, memintali alam sore
menatap jingga menitip doa pada senja.

Jejak-jejak yang kutapaki semakin letih
tertunduk,
lamunanku buncah
mengundang sebak duka lara
padahal sisa-sisa senja cuacanya cerah
tapi kenapa rinai membasahi pipi ini
menitis tanpa sebab
aahhh tertanya sendiri dalam diam.

Bayang-bayang rinduku pada bunda
pecah di bibir rasa
jauh mata memandang ke sagara
di balik senja,
tak dapat ku gapai sejuta kata mendekapmu disana.

ku puisikan rasa ini
semoga rinduku terlerai

di balik selendang usang
yang melingkari pundakmu
yang sering kau pakai dulu.

HR RoS





<::::: BERSENTUHAN TAK BERPEGANGAN.............>


Kau adalah sosok terindah yang pernah hadir
mengisi perjalanan hidupku
meskipun kau bukan cerita yang pertama tampil dalam kisah kasih
kehadiranmu mampu mengikrarku.

Ungkapan sebuah janji ajal menjeput tubuh,
tertanam ke dalam area pusara kisah
kisah cinta yang pernah ada dan tiada
seperti kisah mimpi yang sempurna
berkelakar dalam cerita
selalu bercumbu mesra berdua.

Bergurau dalam gelapnya malam
jauh di sudut angan
berhembus sejuta kerinduan.
jarak yang begitu jauh,
bercerita dalam maya
mengikat dalam rasa
kontradiksi di angan yang sering menghiasi hari
yang terkadang amarah dan kecewa
selalu menyapa canda
akankah terbiasnya cinta..?
dalam cerita yang selalu tertuduh hipokrit yang ternoda..??
uhhh, entahlah.

Bila janji-janji tak terealiti,
satu ketakutan yang akan kulalui
jubah kebencian menutup hati
aku bersimpuh memohon ampun
semoga kau memahami,
jangan hukum aku
dengan rasa penyesalan itu nanti.

Memang pertemuan antara kau dan aku
telah menyatunya dalam gita ayat-ayat hati
mesra bersentuhan di ujung jari
terkisah story tak memiliki.
hingga ketakutan aku itu nanti,
paranoid rasa menghakimi masa senjamu
yang akan bermandi dendam setiap hari.

Bila di suatu ketika janji teringkari
Lautan kebencianmu menyapa di hujung mimpi,
aku takut, kisah ini berakhir ke dalam airmata
akhirnya cinta terbenci termisteri dalam rasa yang tak berkesudahan nanti.

HR RoS




.. TINTA RASA MENYAPA CINTA..

Di tanah yg berdebu
berjalan di jalan kerikil bebatuan
aku menatap bunga di taman itu,
kering sudah layu sebelum berkembang.

Aku mencari bunga yang jauh
tumbuh indah di tengah jurang
di sela-sela bebatuan karang tandus,
aku tak menatap bunga yang mekar di jalanan
mencoba berjuang selalu
menyiram bunga di jambangan hati,
walau tetesan itu,
tak pernah menyentuh peraduan
tak kukisahkan lelah menyapa rasa.

Wahai angin,
sampaikan nyanyianku malam ini
Kidungkan luka rindu
dalam cabaran malam
yang selalu salah dalam titah rasa yang tergubah.

Aaahhh..
aku menatap malam,
dalam lingkaran galaxi jauh
di sudut negeri,
bintang itu sepi menyendiri
dalam bayangan hati.

Sepi hati tak bermentari
menyapa terik dikala siang hari
malam ini bisu dalam buaian rindu.
ingin kututup kelam,
nyalakan lilin-lilin kecil
biar malam ini berpelita cinta
sepanjang masa.
tuk raih nuansa pagi yang bermentari
lestarikan obsesi mimpi yang sudah terlukis di ruang hati
melajunya kisah cinta sepanjang hidup ini.

HR RoS





MENANTI RINAI RINDU TURUNLAH


Haus dan gersangnya taman ini,
apakah iklim ini sudah kemarau
yang akan berkepanjangan..

Tiada lagi hujan basahi alam,
gerimispun enggan.
titisan embun juga kutunggu
dipintu waktu
dikala fajar datang
dan menghilang,
tak jua cristal suci itu bertamu.

Gerimis turunlah....!
aku ingin membasuh sebuah luka rindu
yang semakin pilu di hujung waktu.

Ramadhan...
kau datang temukan jati diriku
untuk meraih sebuah fitrah cinta
dan ibadah.

HR RoS





#.RINDU MALAM SELINTAS ANGAN.#

Malam,

Jamuan rasa cintaku selalu menyapa
rindu ini hadir menumpang sunyi
koloni cinta yang merekah,
kini tertumpah dimana.???

Duuuhh,

Jiwaku yang telah papah
berselimut malam,
aku diamkan diri dalam kesendirian
bercerita di lintas angan,
tak kutemukan indahnya wajah ini pada rembulan, yang akan menyinari kisi kisi malamku.

Kurebahkan tubuh lelah ini,
lena rasa di peraduan malam
rona berkabut mendung yang berarak.
berharap,
rinai basahi gersangnya taman hayalan.

Semakin jauh malamku berlalu semakin ku merindu,
aku rindu, aku rindu, serindu- rindunya rindu.

oh malam,
tak mampu kugapai pelukanmu
aku coba tuk melupakannya
semakin ku tak mampu melupakanmu,
bayang bayang wajahmu selalu menyapa malamku.

mmmm,
Mengapa kau semakin sunyi malamku.
telah ku coba tuk jauhi darimu, semakin ku merindu.
kenapa kau sembunyikan ukiran rindu
yang semakin terbingkai semu..??
hadirlah.

Semakin jauh ku pergi tinggalkan malam ini semakin terasa rindu ini.
seiring berlalunya waktu, aku melangkah jejaki misteri malam.
apakah mimpi malam ini,
bias dalam rasa yg tergubah,
aku lara tak terealitanya sebuah cerita.

aahhh,

Aku yang merinduimu dari tanah
jawa
yang kau entah dimana rindu itu.

HR RoS
Jakarta 23 juni





JALAN KERIKIL BERDURI
KU LALUI.


Jalan gersang lurus terjal tapi datar
jejaki langkah dari tangga ke tangga
dari bantalan kereta ke bantalan berikutnya.

Aku menatap ke satu arah
terlena,
bahaya menerkam dari belakang rasa.
aku berjalan dengan waspada
Semoga,
jalan asa yang kutempuh
sampai kepada suatu masa.

Aaahhh,

Walau kerikil di hujung kaki selalu menari
menusuk perih tak ku rasakan
kerikil tajam berduri di sela-sela rel kereta api.
aku menatap cinta dari kejauhan
membawa seteguk dahaga
berharap kembang ditaman hati
mekarlah....!

Ketika angin mamiri menyapa sepi
ilusi janganlah terkibiri
kembang di taman hati sabarlah..!
ya sabarlah kau kasih di taman hati.

Untuk menempuh sebuah perjalanan yang abadi
kepada sebuah penantian yang hakiki
setia sampai mati
bersamamu wahai kekasih.

HR Ros





MERENDA JEJAK MIMPI


Aku coba berlari mengejar sebuah impian
Perjalanan itu dimulai dari awal rasa suka
pada diksi-diksi senja menyulam cerita.

Aku mencoba berdiri di dada cinta
selami rasa yang tergubah
disenja yang merekah ini.

Ku titip butir butir syair maya,
ku kirim ke beranda tanya
yang engkau kini dimana saja berada
jabat tangan tinta ini menyapa
aku yang berlari mengejar mimpi itu
membawah senyum mesra untuk cinta dan mereka.

Aku yang merajuk dalam sepi di senja ini
meminta untuk berpeluk mesra
apa khabar kawan semua..??
hulur tanganku mengenggam setia
pada cerita tintaku ini
yang tak lagi dianggap ada.

Aahhh,
aku akhiri sajalah bait-bait puisi yang tak berkaki
dari perjalanan mimpi
yang tak pernah sampai saat ini.

Aku yang mengejar mimpi itu
mengucapkan selamat berbuka puasa
bagi yang menjalankannya.... disana.

wassalam sahabat dan cinta.

HR RoS



Tidak ada komentar:

Posting Komentar