RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 12 Juli 2016

Kumpulan Puisi HR RoS - MENGALIRLAH KE NOKHTA GERSANG ITU


_MENGALIRLAH KE NOKHTA GERSANG ITU_

Ketika musim berganti
gugusan mendung menyibak kabut
koloni awan putih teteskan cristal salju
membasahi bara rindu yang ranum di setiap waktu.

Nyanyian selaksa cinta
gerimiskan harap,
lahirnya cinta sejati di taman hati
teruji pada hebatnya cabaran emosi.
Setangkai bunga rindu bersemi dalam kesendirian
nestapa cintanya selalu menyapa dirundung duka.

Maya,
telah rintik hujan sore ini
basahi istana beranda tua
membanjiri sahara jiwa yang lara
lara dari perjalanan cinta yang tak setia.

Mmmm...
Nokhta wajah duka terpancar dari rasa yang hiba
semogalah hujan yang turun ini mengaliri
menyuburkan taman hati yang resah
dari ramadhan yang gersang ini demi meraih pahala suci.

Dikala asa senja yang kian menyapa
dari perjalanan kisi-kisi hati yang selalu tersakiti
ikrar cinta itu segeralah tiba, merealiti.
ke beranda yang belum pernah terjumpa
entah dimana beranda dermaga itu kini.

HR RoS





LIRIH LAMUNANMU AYAH..


Senja hari,
iringan larik membuncah nada bisu
pada sembah raya di pangkuanmu
Ohhh ayahku.

Aku masih disini merenda senja
menatap kembang telah kuncup
karena musim telah berubah.

Oh ayah...
tatapanmu meluruh pilu
memanggil anakmu yang jauh
untuk pulang ke kampung halaman.
petuah yg tersisa masih tersimpan
di dalam memori tuah
seakan tatapan dan aksara larikmu
menyimpan misteri
jangan kau bangunkan aku
pada panggilan hiba yang akan membuat airmataku tertumpah.

Terbanglah kau burung bangau
terbang sejauh mungkin ke awan biru
namun terbangmu tetap pulang ke sarang jua.
Keratau mehadang di hulu
berbuah berbunga belum
merantaulah kau bujang dahulu
karena di kampung berguna belum.

makna kata budaya bak menghias awan
seperti indahnya siluet senja di kaki langit
aku berjalan tertatih memikul hayal
dalam ilusi seraut wajah yang telah layu
di mamah lelah pada sisa umurmu oh ayah.

ranahku yang disana,
aku masih di lingkari lautan menghadang
riak gelombang, redalah....!
izinkan aku layari sagaramu
menuju ranah tepian kelahiran itu
kepada ranah pesisir selatan
bayang kubang di lingkung sungai dan gunung-gunung.

HR RoS
Jakarta, 2-6-2016, 18:16





<:::::::::::: PASRAHKU RAPUH:::::::::::::::::::::>


Mmmmm.
manik-manik airmataku selalu menetes
mengaliri di sela pipi bermuara dalam derita
aku tercampak, tersisih dari fenomena hati
hingga airmata ini selalu termisteri tiada henti.

Duh, sebak luka berlalulah....
tangan yang ku tadah ini telah papa
telah nyata berdarah dan rela burung kecil itu menghisap tinta duka dan kubiarakan saja.

Duuhhh,
akankah burung kecil itu
membalut lukaku
yang berdarah ini..?
entahlah.

Aku pasrah sudah,
rapuhku di selimut jubah duka
mmm,
derita yang tak mau beranjak pergi
akankah kisah luka hidupku
termenari sepanjang hari..?
kan menjadi seni opera panggung tak berpenonton.

Diatas tapak tangan ini bertinta darah
aku menengadah di sisa-asa yang tersisa
ya rabb,
terimalah pasrahku dalam kerapuhan cinta hidup dan derita.
semoga mahabbahmu ya rabb,
melenyapkan fatalisku yang menggunung.

Tuhan, Pada disisa hidupku ini
aku akan berlalu pergi
terimalah doaku sekali ini tuhan, hantarkan aku ke sebuah tujuan yang tak pernah kutemui...
ialah kekasih sejati itu.

HR RoS





___ Rembulan berlabuh malam ini....>>


Sekeping hati yang rindu,
dalam keheningan hati tak ada gemuruh
berbisik dalam rasa tak bernada
bercanda dalam tawa tak bersuara.

Uuhhhh,
tertulis dalam lembaran cinta
tinta maya ini menyapa,
aku terkurung dalam kepingan luka rindu
yang tak lagi menentu.

Malamku,
Sinarilah aku dengan rembulanmu
temanilah aku bernyanyi,
nyanyikan kisi kisi malahayati tentangmu.

Uuhh, kunang-kunang itu
malam ini membisu mampirlah kemari
temanilah aku dalam lelap hayalan itu berlabu di lautan mimpi
terangi cerita pantai ini
ombak yang mengerus pasir oleh riak yang menepi.

aku bermusafir kesudut rindu
menemui cinta itu
adakah nyanyian nyanyian kecil itu untukku
lagukan syair syair tentang memori
kau dendangkan di beranda hatimu malam ini

sebagai tanda rindu tak bertepuk sebelah tangan darimu
oh kekasih.

Aku Menyapamu malam ini,
selamat malam dunia disudut hati itu.

HR RoS





_ KOTAK KECIL DAN NENEK TUA ITU------>


Kotak kecil yang penuh harap
nenek tua berhiba dalam senyap
terkulai lusuh diantara puing-puing sampah
teronggok di dinding ibadah
dan jalanan kota.

Nenek jalanan yang papah,
tubuhmu yang renta hina
ini nek, sekeping logam kutitipkan kekotak kecilmu itu,
nasib yang kau pikul adakah sesungguhnya..??
apakah kamuflase untuk meraih asa senja sebuah obsesi yang instan saja?

Nenek tua,
bagiku itu tak peduli
karena sebab hidup kau melahirkan akibat terhadap pandangan hina
hina di mata yang berada.

Di trotoar jalanan ditembok ibadah hartawan
kau berharap hiba ke sesama
kotak kecil tak kunjung berisi
tangan layu wajahmu yang rapuh
kau balut tubuhmu dengan tudung lusuh
aku pilu......

Oh nenek tua,
kau telah sebakkan dadaku menatapmu
terik panas peluh kau sapuh
adakah cinta dan hiba dari kita..??
untuk dia... disana.

ataukah kau palingkan wajahmu
ke gedung mewah dan gadis cantik yang berlalu disana
untuk sang peminta-minta,
apakah yang berada sudah tak peka?
entahlah.

Tuhan,
genggamlah jiwa ini
dari kemiskinan hati
campakkanlah asut iri dan dengki
mudahkanlah tangan ini meraih rezeki.

Tuhan,
Ketuklah hati ini tuk berbagi bersedekah dengan rasa cinta pada hati kami ini yang masih tersisa
akan kepekaan sosial untuk mereka disana,
Ya Allah.

HR RoS





DINDA BANGKITLAH....!

Dinda,
tataplah sebuah cinta yg rela
ke dalam rasa ibadah yang suci
menunduklah dalam halimah cinta yang sempurna,
halaulah sebuah kepalsuan luahan
janganlah menengadah ke suatu asa senja
yang tak berpelita..

Dinda,
hiduplah laksana bunga yang tumbuh di tengah jurang,
hidup yang lebih hati-hati yang akan terjerumusnya diri kelembah nista.
Menatap keatas silau terjerambab, melirik kebawah takut terperosok terjalnya dinding cinta
Hargailah sang kumbang yang berjuang dengan susah payah bersayembara demi pengorbanan yang setia.

Aahh dinda,
janganlah tumbuh laksana bunga yang hidup di tengah jalan,
mekar ranum semua ingin mengoda,
dikala kumbang hinggap hanya menghisap madu
setelah sari habis lalu ditinggalkan begitu saja,
yang tersisa hanya sisa sisa sampah,
dan akhirnya terhempas lara dan kecewa.

Senja jakarta nasehat untuk dinda hawa
dimana saja berada.

HR RoS





-,,,,,,,,,,JALANAN INI SAKSI BISU........................

Dik,
Lelaplah di pangkuan ini
nyenyaklah dalam peraduan wajah dukaku
ku tunggu kau bangun dari tidurmu
lelahmu ku tahu, nasibku sama dengan deritamu..

Dik,
Jalan ini gubuk kita
tangga ini tanjakan kasta yang lara
Lara lelah tertitip dari kasta yang hina.

Nasib ini penuh liku dik,
Lorong debu menutupi wajahmu
baju nasib lusuh yang dikau pakai dekil berbau
anak bangsa yang terjajah oleh kejamnya kota mmmm,
entah bagaimana nasib dipelosok daerah
alamak akankah sama tragisnya..???

Tuhan,
Ku usap telapak tangan ini ke dadaku
genggamlah nasibnya ke pelita-Mu.

Mimpi yang diharapkannya kelam
dari hilangnya sebuah perhatian.

Duh, negeri yang berpacu glamouris
bak selebritis berhias dipentas seni.

Ya ramadhan,
hamba hamba yang mulia harta itu
Lara anak jalanan ini kasihanilah.

HR RoS





............LiLiN keCiL iTu tAk Ku nyaLaKaN.

HBD For Me,
Di hari bahagia itu tak satupun yang mengenali hari jadiku
Selain hanya satu kehidupan yang aku bisikan
ketika masa yang lewat memang aku ceritakan
lembaran silam ku sulam dalam nampan yang tak kuhidangkan.
aku nyaris selalu terlupa di hari jadiku
Saat itu aku mengenalimu ku paparkan rahasiaku.
sebenarnya aku menutup rapat rapat
biar seremonial itu tak berpintu
biar tamu tak masuk hadir dalam ultahku.

Lilin kecil itu tak ku nyalakan
aku tak ingin kado ultah kata-kata menyapa
aku sudah terbiasa tak mengingatnya.

Satu jiwa yang pernah bertanya
yang akan menghadiahkan kado sebagai tanda cinta, aku tak ingin membebankannya.
sungguh...
jangan kau lakukan bila akses setangkai bunga indah itu tak mungkin kau titipkan.

Lilin-lilin kecil ini
telah ku genggam ditangan
pelitanya ku biarkan redup dalam diam
tanpa ada nyanyian, mmm aku bergumam...

Akankah sejarah yang belum pernah terjumpa
akan menjadi realita
wah, aku tak rela.
bila masa tak mengizinkan kau akan hadir hantarkan kado istimewa, kau memaksa saat ini juga hatiku hiba.

Mmmm,
biarlah gumam itu kembali aku telan
karena hadiah itu tak sepadan dalam perjalanan.

Biarlah ulang tahunku bisu,
karena nyanyi HBD tak ku tahu
ku rayakan rasanya ku malu dihari senjaku
dan biarlah ku menyanyi sendu dalam kesendirianku.

HBDku,,
tanpa lilin yang menyala di hari jadi ini
biarlah aku pandang bayanganku
hadir menyapa sekelabat di hadapanku.

biarlah ultah itu semu dan akan menjadi sejarah baku dalam kisah perjalan hidupku.
ahhhhhh.. Lilin itu ku simpan kembali.

HR RoS






_ K E S U N Y I A N C I N T A _

Kelembutan pantai kian menari
ku belai sunyinya dalam rona kabut
aku sendiri menghela nafas lirih
pilu dalam titisan kristal itu

titisan yang selalu menitis pilu itu telah mengering
Hati kecil ini bertanya,
akankah gejolak kasih itu telah pergi
berlalu bersama kejora
kegalauan yang mendera kian menderita
biarlah ku rajut sepi di pantai ini.

Pergilah kasih ke jalan ke inginanmu
jikalau itu yang kau mau

Kembalilah kasih
kalau jalan ini masih ingin kau lalui

Renangilah kesunyian pantai ini
kesamudera cinta yang setia

Halaulah gelombang cabaran yang melanda
biar sunyi itu berlalu pergi

hapuslah airmatamu berbahagialah selalu
biarlah dalam diam aku merindu
meski rasa ini tak lagi menentu

Dalam kesunyian cinta yang tercabar maruah..
HR RoS
jakarta, 4-9-2015, 17,12





CERITA UNTUKMU YANG DISANA.....

Ingatkah dirimu di jalan itu,
yang pernah kita lalui berdua.

ketika kita usai bercerita,
untuk meniti arah bersama
kala masa remaja,
aku janjikan sebait irama cinta
kau terlena dalam pangkuanku.

Kini kisah telah jauh berlalu,
cerita itu kian membisu
tinggalkan kenangan dalam tawa mesra,
tawa yang dulu seirama senada.

kau ternoda dalam kecupan mesra
seakan tak menerima kenyataan cinta.
hingga berlalu tinggalkan sepi,
sepi dijalan itu.
jalan itu,, oh,
yang pernah dihiasi rinai-rinai kecil.
kutatap dirimu,
kau berlalu menjauh, jauuhh dan menjauuuuhh.
ketika kau berlalu tinggalkan aku, aku terpaku....
ahhh, setetes maniak-maniak mengalir
menghias di pipimu,
akhirnya tinggalah ku sendiri.

Aku memanggilmu,
perlahan namun pasti
dikau menoleh ke belakang
seakan ingin menggenggam erat kembali kenangan barusan bersamamu, ternyata bayangan itu ada dalam harapan ilusiku.

Serasa kini memori itu kembali lagi bertamu
bayangan yang terlintas tatkala jemariku mengenggam erat jemarimu, kau bisikkkan kata cinta
membuatku terpesona.

Ahhhh...
Ketika itu juga,
aku pernah ucapkan kata berpisah,
selamat tinggal kasih,
suatu masa aku akan pergi jauh
tinggalkanmu sementara waktu.
kau tatap seraut wajah lara
dan kau ucapkan,
kenapa kita berpisah disini
kenapa kisah ini terjadi?
dan kenapa kisah indah ini akan berlalu
akhirnya kemesraan itu memudar jadi memori saja buatku untuk selamanya.

Uuhh.. aku tertunduk diam,
ingin berkata tapi bibir terpaku, aku tahu kala itu
dirimu akan kecewa aku ucapkan kata selamat tinggal kekasih.

Kini, terlintas hadir masa lalu itu masihkah dirimu yang disana menyimpan cerita masa lalu itu....?
dendamkah dirimu dengan kisah itu....?
entahlah.

Kisah....?
bila aku datang kini
dengan sebait cerita yang lusuh
mengingatkan masa lalu kita,
akankah dirimu yang disana masih teringat kisah di jalan itu,
jalan saksi bisu yang pernah bermadu rindu di tetes-tetes gerimis senja yang ranum,
kini kisah itu telah jauh berlalu
tak mungkin di rangkai kembali.

HR RoS






BAYANGAN ITU MENGHANTUIKU.

Aku tertunduk mendekap bayangan diri
bertanya sesuatu hal dalam lamunan
senja telah berlalu petang tadi
malam telah membungkusku pada kelam.

Sesuatu itu telah menamparku
tentang angan yang menghiasi langit
terpesona pada cita
bak kembang bermekaran di daun cemara
aku mendengar kicauan burung yang bertengger
bernyanyi riang pada nada kepalsuan cinta.

Oh lembaran malam,
pelangi tak lagi bersolek pada kelam
siluet telah tertutup awan
mentari bersembunyi di lingkup alam
mayapada kehilangan terik.

Jauuuhh di sudut malam,
rinai menyirami bumi
kerlip kunang-kunang malam hadir menyapa
menitip pelita yang sayup-sayup sampai
di bingkai figura diksi puisiku
malam ini
telah selesai aku madah tentang gambaran cinta fatamorgana.

HR RoS
Ngawi lereng lawu,
10-07-2016, 22:06





DINGIN......


Dinginnya malam ini
dingin ini telah merasuki selimut malamku
kisi-kisi malam telah mengintai di pucuk dedaunan
kerlip sinar rembulan pancarkan pelitanya
jauh di balik awan.

Aku terdiam dalam kelam
bertanya sendiri pada sunyi,
dimana pusara malam berlabuh
tentang rindu di nisan tak bertuan
tanah-tanah misteri telah kering
debu-debu jalanan telah berlalu
meninggalkan makam itu.

Oh angin,
cerita kabus rinduku telah beku
kemana bisik lirih kan mengadu
semuanya telah membisu
pada kekasih yang telah pergi jauh
jauuhhh,
jauuuuhh meninggalkanku.

HR RoS
Ngawi lereng lawu.
10-07-2016, 20:44







Diksi dalam kenangan
>>>............ULTAH ITU BISU-->>


Mendung gelap berkabut
di langit rasa linangan airmata tertumpah
moment ini,
Lilin yang kupegang ditangan,
kusimpan di meja
tak kunyalakan lagi,
kue tar itu tiada diatas nampan cinta
apalagi tamu dan kado tak jua menyapa.

Ultah yang bisu,
ketika ultahku singgah di beranda usia
bertamu dihadapan rumah
aku persilakan masuk lewat jendela
Kepagian sekali dia hadir menatap berandaku,
aku terdiam.
bergumam sendiri dalam hati,, mmmm
mataku berkaca kaca, kado senyuman cintanya hadir lewat jendela.

persetan dengan ultah senja,

Aku ambil selimut dingin kubalut ketubuh
dipembaringan aku menatap hayal ke dentingan detik-detik jam dinding.

Aku malu menampakkan wajah ke beranda
Sesekali menjulurkan kepala lewat jendela
hari apa ini..? hhhhhhhhh
aku tertawa dalam bisik hati,
mmm aku seperti bermimpi, tertanya di bilik sunyi
terlupa sudah miladku sendiri.

Aku mencoba intip taman kecil disamping rumah
satu bunga berputik mekar
mekar ditaman hayalan
ingin rasanya kupetik,
kan kujadikan sebagai lilin-lilin kecil diatas kue tar yang tak bernampan.

Mmmm,, ultahku bisu
kue tar itu tak kuhidangkan
biarlah menjadi angan-angan
diantara tamu maya hadir menyapa
sebagai kado terindahnya walau hanya sebatas salam dan doa.

Hayalku menemani hari jadiku.

HR RoS
Jakarta 9 july 2015





# Jarak antara dua kota dan dua negara *

Perjalanan ini,
Terpisah antara dua samudera
bermil mil jaraknya tak pernah terjumpa
Jauh di pantai sabah,
aku bermusafir menatap dunia dalam rasa
terdinding kabut gulita sahara

Karena aku tak tahu dimana kau berada
dan ku menyapa dalam maya
gulita itu berpelita..

Diantara dua kota Jakarta dan Sabah
aku temukan pusara cinta dalam doa
setia dari cabaran maya yang mengoda
ikrarku petaruhkan walau mati dihujung belati
bagi insan pencinta setia, genggamlah....!

Langkah,
bila suatu masa terpikir kisah terpungkiri
dewasalah,..
biarlah malam itu berakhir tinggalkan sepi sadarilah,...
sambutlah pagi yang bermentari
jangan jadikan,
panggung sejarah opera ini usai
ceritapun janganlah sampai selesai.

ketika perjalan itu sampai ke muara sabah akankah cerita itu berlainan arah..?
tinggalkan jejak jejak syair pilu
seketika sirna dalam tiupan bayu
hembusan rindu yang tak lagi menentu.

HR RoS





SEMESTA BERTASBIH DI RAYA INI

Kosmik jiwaku ungkap
tafakur sejenak menghayati bait-bait kalam
ku lipat lidah ku tutup rongga
nafas-nafasku lirih
menyimak dengan seksama yang menggema.

Allah akbar, allah akbar, allah akbar
walillahilham.

Semesta bertasbih pada kalam berkumandang
iringi puji dalam diam.

Kuamati sagara jiwa,
alam yang membentang
samudera biru dan daratan tenang.
daun-daun tak berguguran
rerumputan tak bergoyang
burung-burung bisu tercengang
gunung-gunung tunduk menghayati alam
sadar sebagai pasak,
mematuhi keangkuhan kodrat
embun pagi mendingin
menawarkan kesejukan pada penempaan
perjalanan yang terjal dan gersang
di langkah sang musyafir di dada iman.

Pada jiwa-jiwa insani yang telah fitrah
berjuang melawan ke angka murkaan nafsu
dari pengembaraan tertatih bersama kekasih.
kekasih yang telah pergi,
meninggalkan nokhta kemenangan
di tiang-tiang surau kami.

Semesta yang bertasbih di hari fitrah
ku lirik rasa, ku intip jiwa
yang ghaib nyata,
yang nyata ada
bersatu berkoloni di dada cinta
pada rahman rahim illah.

Semesta diam,
fana ke dalam la hayatan.

Nafas puji Ya Hu itu terhenti
asyik melirik keajaiban
turunnya hikmah-hikmah tuhan
pada jiwa-jiwa yang telah meraih kemenangan.

Minal aidzin wal faidzin,
mohon maaf lahir dan bathin
segenap kawan-kawan semua
dimana saja berada,
dari lereng lawu menyapa.

HR RoS
Ngawi 06-07-2016. 09:50





MAWAR MERAH

Mawar,...
tumbuhlah ditelapak tangan ini
aku rela berdarah, disela jari kau berdiri.
Setangkai mawar merah berduri mekarlah..
meski cintaku payah, suburlah.

dikau rose red
tetap kugenggam perlahan
Walau cabaran menikam jantung
ketika tangkai itu menyulam darah
tintanya membanjiri garis tanganku
sampai di titik darah penghabisan
aku akan tetap setia
meski kisah itu tidak akan pernah nyata.

HR RoS





< AZIRAH CINTA DI NEGERI SABAH >

Goresan malam menyapa sepi
dalam jingga sang fajar menari di ufuk sunyi
diambang pertengahan malam yang kian larut
di lingkar kemayu suasana malam rindu.

Kau kekasih yang jauh di seberang sana
gelorakan rasa asmara yang membara
Seperti ingin menyelimuti suasana gunung kinabalu di hujung negeri sabah.
hembusan nafas cinta azirah,
teruk terusik gastrik selalu di bilik pembaringan,
termamah sakit dalam rasa yang tak kunjung pergi.

Ahhh Azirah,
di hujung samudera ia lelah
di daratan pantai sabah
menanti asa nokhta cinta di istana tua
dalam malam maya menyapa salam
titip suara cinta yang kian dalam.

Oh angin,
kemayu syahdumu mengiring pilu
diantara bait-bait puisi yang tak lagi menentu,
di persada rindu angan itu berlalu
aku kini seperti majenun yang tak kenal waktu.
dari daratan cinta jakarta
mengiringi doa,
semogalah bahagia
dalam asuhan keluarga kecil disana.

Oh malam,
aku menghantarkan bait-bait malam
menitip mamiri rindu ke lubuk hatinya
di beranda rumah itu.

tinta ini menitip larik diksi
dari pinggir sungai kecil
di kota jakarta.
selamat malam di awal fajar
selamat malam sahabat dan cinta
aku menyapa dikau dimana saja berada.

HR RoS




> >> DETIK DETIK KEPERGIAN KEKASIH>>>


Kasih,
Kedatanganmu menggugah jiwaku
sang pencinta menyambutmu
jamuan alunan takbirmu semarakkan gelisahku,
dari gelisah bathin yang miskin.

Kasih,
Dalam perjalanan itu, aku menelantarkanmu
lorong waktu yang kutempuh terjal berbatu
kedatanganmu menjanjikan syurga untukku
tak pantas rasanya aku di hadiahkan syurgamu
karena persembahanku tak sempurna
biarlah aku ke neraka saja.

Malamku tak bercinta
kubiarkan kamu dingin tak berselimut ibadah
kau ku biarkan seperti tak pernah ada
padahal mahkotamu teramat indah
untuk dipersembahkan kepada sang pencinta.

Kau seperti Kekasih yang tak dianggap,
padahal kedatanganmu itu
menuntunku ke penghulu di hujung waktu
kau traktir kenduri mewah
kenduri ladang ibadah syurga
bulan lebih baik dari seribu bulan
pesta terbesar yang pernah ada dalam sejarah agama bagi sang pencinta syurga.

ketika dihujung waktumu menyapa
seperti aku tak kehilangan cinta
biadabnya aku
mulianya kehadiranmu.

Ya kekasihku ramadhan yang mubarak
kenduri mewah yang agung itu
raya fitri yang sangat semarak.

Dalam detik detik kepergianmu
aku berbisik,
adakah kau akan kembali menyapa nanti
kepada kehadiran rindu berikutnya
mmmmmm,, semoga aja kau bertamu lagi....

Dalam genggamanmu doaku berharap
dalam dekapan cintamu aku bermesra
ramadhan akan berakhir ini
fittrah yang kau janjikan
Semoga kelam itu terang
ampunan itu kau sambut
kemulian itu kau hadiahkan.

Kemenangan itu akan membulir
manik manik airmata ini akan mencair
aku persembahkan ke arena maya
tuk sahabat semua handai tolan dan cinta dimana saja berada, mohon maaf lahir dan bathin
salamun kaulam mirrabirrahim.

Selamat berpisah kasihku
Selamat datang di kenduri rayamu.

HR RoS





BERLALULAH RINTANG LAMUNAN

Telah aku lepaskan hayal itu
menuju bulan
dalam malam berkawan angan
jauh kutatap rerona indah
melukis pada kabut-kabut kosmik
di balik awan.

Ohhh... malam.
lembaran harimu syahdu,
aku petik kedamaian itu
lewat angin yang berarak
daun-daunan menari gemulai di dedahanan
seakan menghibur sang malam
larut dalam lamunan.

Di jalan ini, berlalulah gelisah...
izinkan jejak rasaku
merenda asa yang telah koyak
oleh mimpi-mimpi malam yang tak berkenyataan.

Resah,
izinkan aku bingkai kembali harapan kasih
pada nyanyian sang biduan malam
dalam dendang inai rindu yang di semai
meski malam ini kian membisu
dan pesta akan berakhir
tak berpenonton lagi.

HR RoS






__ Cabaran ego yang tersembunyi.....

Pupuh bait puisi pilu
diksi ini selalu melukis rindu

duh,
Perjalanan kasih ini semakin tak di mengerti
kau anggap kabar burung itu
merusak sendi-sendi maruahmu.

perjalanan cinta di ranah maya
membisikan kata-kata indah
tak kau pahami celoteh nuri
kau hias nyanyiannya dengan emosi.

mmm,
dewasakanlah diri
Jadikanlah teladan tuah yang bisa di mengerti.

Perang pedang cinta
di singgasana hati berdua
terluah menulis melukis melalui tinta
sama-sama menjaga martabat wibawa.

Nyaliku ciut
akhirnya ku dungu,
karena ku malu.

Pupuh diksi menyapa hari
mewarta syair di seantero rasa seni
senandungkan alunan rindu
Study hatiku tak pernah di pedomani
karena kau kaku memahami sesuatu
tentang cinta di langit biru.

Sayembara bergelora
cabaran menari di pentas ego
karena merasa sama menjaga harga diri
terluka sudah, obatilah sendiri.

Aku bertanya kini,
Setiakah cinta menjelma sepanjang masa..?
duh bunga, ditaman mekarlah
benalu prasangka berlalulah
untuk yang terkisah dan buat sahabat semua.

Seringkali terselip salah sangka
luah undur selalu menyapa
aku pasrah tapi tak rela.

Maya,
terimalah burung merpati itu kembali
dalam tatapan jingga,
fahamilah ia...
karena merpati itu
tak pernah ingkar janji.

HR RoS..
Diksi dalam kenangan.
Jakarta 20-8-2015





KISAHKU TAHUN 92 YANG LALU

Penantian itu sia sia........

Dalam masa tunggu yang panjang
di rentan waktu yang berjalan selama ini
tak lagi ada tujuan
sampai kini aku menunggu sebuah jawaban..?

Jawaban dari sebuah pertanyaan kasih
yang pernah aku ajukan ketika dulu
mengingatkanmu,
akan sebuah kisah dijalan itu
jalan yang tak pernah kita lalui lagi
Kisah itu telah menjadi bayangan.

Kini aku sekedar bertanya.....?¿?

masihkah kau teringat
dengan sebuah kisah sederhana
yang pernah kita rangkai dulu,
kisah sebuah baju kaos hitam
yang kau pakai
kau buka di hadapanku
kau titipkan untukku
sebagai kenangan perpisahan
aku akan pergi ke sebuah kota
pergi untuk kembali
demi sebuah masa depan kau dan aku.

Ingatkah dirimu
kala itu kau pernah kucumbui
aku berucap pamit tuk tinggalkanmu
untuk sementara waktu,
di temaram sore
di hiasi rintik-rintik hujan di jalan itu
kukecup keningmu.
kini baju itu telah lusuh berdebu
menjadi lukaku.

Dalam penantian yang panjang
aku hanya menunggu sebuah jawaban.

jawaban sapaan darimu haiii apa kabar memori...???
hanya sapa saja,
itu sudah cukup mewakili hadirmu
kalau kita pernah ada merajut kisah.
.........

Uuuhh, tak terlintas sama sekali darimu,,
perasaanku optimis
kau masih ingat kisah itu semuanya.

Kini kita terpisah waktu yang cukup lama
berada di kota yang berbeda
sama-sama mengais cita-cita
dalam realita hidup merangkai asa
di kehidupan masing-masing kita.

Ahh kisah kasih itu
tak lagi terjumpa sampai saat ini
aku telah lelah dengan penantian
yang bias ini
aku berdoa
berbahagialah dirimu disana bersamanya..

Oh.. yang disana......

HR RoS





SURAT MAYA YANG TAK TERBALAS


.........biarlah.....aku ikhlas.........

Duh,
kertas putih ini akhirnya lusuh
seiring waktu yang kian berlalu
bibirku terkunci telah bisu
tanganku telah kaku menulis rindu.

Sulaman yang kurajut tak lagi di hargai
ingin kupintal benang usang ini
kembang itu telah kering berguguran menghujani bumi.

Dinding maya telah gulita
pelitanya padam
aksara cinta terjajah maruah
seakan lukisan itu pudar warnanya.
kini,
rasaku lara, tak lagi berasa
koloni sebak di dada menyeruak di sela rongga

Oh,
Memori, tinggallah memori
aku akan pergi meninggalkan jalan ini
dengan secarik kertas kumadah
tentang luka
biarlah surat mayaku tak dibalas
aahh tak apa.
aku akan berkawan sepi
Bersemayam dalam ilusi bayangan diri.

Selamat tinggal wahai kekasih
berlalulah mimpi-mimpi yang termenari
merajut kisah yang tak pernah dihargai
oohh mimpi, kau bunga tidur lelapku.

Izinkan aku pergi berlayar jauh
ke sebuah pulau
pulau relalitiku pulau lautan hati
meski yang kutempuh langkah itu misteri....

Dulu kita bertemu bertatap hidung
kini berbalik arah beradu punggung
aku pergi untuk tidak kembali lagi.

duh,
Maafku tak pernah diberi
surat cinta yang aku kirim tak pernah hargai
akankah mimpi-mimpi kasih kita telah usai
dari maruah yang tergadai.

anehnya,
kesabaran ini masih aku semai
rindu-rindu selalu bersemi.

Rintih kasih telah terhenti
majas ini memiliki kebijakan yang rapuh
dari kisah yang selalu pilu.

Aku menitip pesan,
jagalah kesehatanmu
gapailah sebuah impian masa depan
berbahagialah disana bersamanya
dalam bingkai kodrat illahiah
tak apa suratku tak terbalas.

akhir cerita dari sebuah kisah
kini aku akan berkelana jauh
menuju dermaga cinta yang nyata
dengan langkah yang tertatih
mencari sebuah ke arifan diri
menyulam kedamaian hati.
asa..
temanilah aku meraih mimpi
walau mimpi-mimpi itu tak sanggup aku beli.

HR RoS
21-8-2015. 22,10




MENYERAH....


Jujur ku akui
jalan itu tak mampu ku lalui
arah itu buntu sudah
berliku, kelam dan areanya kejam.

Kini aku menyerah pada takdir
biarkan takdirku bicara
hingga pada waktunya akan nyata
pada suatu impian di rumah sendiri.

Mencoba tak bercinta lagi
biarkan sejarah mendewasakanku
menyulam guntingan paco-paco
menjadikan selendang sutera
merenda cinta yang nyata
pada nokhta yang setia.

Ya disini,
disana tak mengerti aku
Walau bagaimanapun
tinta ini selalu memandu pada rindu-rindu yang tak sudah
pada bayangan kekasih
telah menutup jalanku
layar tertutup, pesta itu usai
meski semuanya telah selesai.

Yang tersisa kini,
Ia menjadi memori hidup ini.

HR RoS





PERCUMA


Wahai malam,
siulan burung malamku bungkam
lidahnya selalu terjepit di sela parung
lolongan srigala malam
membangunkan misteri
pada bayangan kesunyian kasih malam ini.

Aku gelisah,
dengan gesekkan biola alam maya
tentang kisah kasih yang sensitif
padahal rindu ini semakin berpagut
menimang bayanganmu seketika berlalu.

Pandanganku kusut
melangkah tak terarah
karena hidup semakin di tikam pilu
selalu tercabar hina.

Ohh malam,
aku kabarkan pada sang bayu
sampaikan rinduku selalu untuknya
meski alamat itu tertutup kabut.

Rona-rona cinta telah melayu
karena ku tak mampu menyirami
dengan gugusan kasih
setiap di sirami tetap saja layu
rinduku terabaikan sudah
kasihku di lupakan
janjiku ternoda.

Cinta kusemai, percuma
tak tertunai, ia layu sudah
hingga menjadi arca cinta
diriku berakhir malu
tertuduh yang tak menentu.

HR RoS






RONA YANG MERANA

Pada dinginnya hembusan angin malam
malam ini, aku kembangkan layar kenangan

kenangan cinta telah tersusun rapi
di peti rahasia hati.

Oohh lentera,
dermaga nebula mimpiku
gelap pada misykat dalam lelap.

lentera,
terangilah tinta ini,
menyusun cerita hatiku
telah padam di ujung kisah kasih
dengan hidangan rasa yang gundah.

Malam ini berkawan dengan secangkir kopi
bersama goresanku,
duduk menyendiri
menata bait-bait diksi
tentang cerita mawar berduri
yang tak terawat sempurna
di meja coretan maya
aku tak membunuh akar kasih
kembang rindu selalu kusirami
ia tetap layu juga.

Kini aku sepi,
ya sepi sekali menyendiri.
aahh pasrahku,
biarlah sepi berlalu
bunga-bunga malam disini
bermekaran rapi di ujung dedahanan
tak kupetik
ohh bunga,
kemilaumu menggoda sukmaku
di taman jalanan itu
tak aku kisahkan.

tapi kenapa bunga cintaku telah gugur
di suatu kasih yang tak sampai.

Padahal taman itu selalu dirapikan
bunga cantikku merasa terpijak tak terinjak
kenapa kau layu menimpa pagar ayuku.

HR RoS





DO'AKU DI NISAN ITU...


Kembang setaman telah lama kering
di pemakaman itu
nisan tua berkawan ilalang
taman makam bak di payung gersang
do'a-do'amu
tak kunjung datang menyapa sunyi.

Oh anakku,
aku merindukan kasihmu
di pembaringan sepi.

Telah aku kabarkan dalam tutur
masa titah kau menjelang dewasa
ketika aku tiada nanti
siramilah nisanku dengan do'amu itu.

Anakku,
aku kini bak debu-debu jalanan
menderu pilu dalam bisu
menggilas waktu
teronggok sunyi bergantung tak bertali.

Anakku,
tataplah kalamullah
bisikkan ayat-ayat-Nya
biarkan semut-semut kecil menitipkan salammu dalam tidurku.

Anakku,
bila aku tiada lagi di tanah gersang itu
koyakkan arasy illahi
membangunkan penghuni ruhi
biar sampai titipan doamu,
akan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dari pesan-pesan doa anak yang shalih itu
di pembaringan sunyi ini.

Al fatihah.

HR RoS
Lereng lawu 13-07-2016, 11:17






SENJA NUN DISANA....


Senja telah berlalu petang tadi
nun yang jauh disana
siluet memerah di kaki langit
akan tertutup awan malam.

Kisi-kisi riak telah menepi ke bibir pantai
dua bidadari menatap khayangan
seakan menyulam kejora
memanggil pada hadirnya purnama.

Mayapada, dalam keagungan cipta yang maha kuasa
indah bertasbih bersama jiwa-jiwa yang hidup
meski diliputi kegamangan riak
dalam gelombang kehidupan
yang tak berkesudahan.

Damailah di pantai itu wahai bidadari yang melambai...
sulamlah impianmu dalam kelamnya malam
semoga di terik mentari
engkau tak silau nanti
di kemudian hari.

HR RoS
Di lereng lawu.





SEMESTA BERTASBIH DI RAYA INI


Kosmik jiwaku ungkap
tafakur sejenak menghayati bait-bait kalam
ku lipat lidah ku tutup rongga
nafas-nafasku lirih
menyimak dengan seksama yang menggema.

Allah akbar, allah akbar, allah akbar
walillahilham.

Semesta bertasbih pada kalam berkumandang
iringi puji dalam diam.

Kuamati sagara jiwa,
alam yang membentang
samudera biru dan daratan tenang.
daun-daun tak berguguran
rerumputan tak bergoyang
burung-burung bisu tercengang
gunung-gunung tunduk menghayati alam
sadar sebagai pasak,
mematuhi keangkuhan kodrat
embun pagi mendingin
menawarkan kesejukan pada penempaan
perjalanan yang terjal dan gersang
di langkah sang musyafir di dada iman.

Pada jiwa-jiwa insani yang telah fitrah
berjuang melawan ke angka murkaan nafsu
dari pengembaraan tertatih bersama kekasih.
kekasih yang telah pergi,
meninggalkan nokhta kemenangan
di tiang-tiang surau kami.

Semesta yang bertasbih di hari fitrah
ku lirik rasa, ku intip jiwa
yang ghaib nyata,
yang nyata ada
bersatu berkoloni di dada cinta
pada rahman rahim illah.

Semesta diam,
fana ke dalam la hayatan.
Nafas puji Ya Hu itu terhenti
asyik melirik keajaiban
turunnya hikmah-hikmah tuhan
pada jiwa-jiwa yang telah meraih kemenangan.

Minal aidzin wal faidzin,
mohon maaf lahir dan bathin
segenap kawan-kawan semua
dimana saja berada,
dari lereng lawu menyapa.

HR RoS
Ngawi 06-07-2016. 09:50





Secangkir kopi untuk negeriku
POLITIK HOMO HOMINI LUPUS


episode 3,

1500 tahun telah berlalu Plautus yang pertama kali mengisyaratkan istilah homo homini lupus pada gejolak nafsu di diri manusia kala itu.

Hingga di abad 15-16 filsuf inggris thomas hobbes mempepulerkan istilah plautus homo homini lupus itu ke dalam konsep pemikirannya dari masa penyiksaan di penjara,
mengecam ke kejaman kolonialis di dunia pada waktu itu.

Mesin potret kehidupan berpolitik di negeriku tak ubahnya seperti zaman kolonial tapi sudah kolonial yang moderat,
kolonialnya adalah anak bangsa itu sendiri.

Ia adalah politik dari ke egoan manusia, pelakunya putera-putera bangsa sendiri terhadap sesamanya.
sejatinya ia tak memahami fitrah insani untuk apa manusia itu di ciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini, fitrah hatinya tertutup dungu.
hingga melanggar tatanan yang ada dalam akidah di dadamu telah menuntun jalan itu pada tuhanmu
mereka kental beriman cerdik pandai tapi kenyataannya fasik dengan dunia.

Bertanya kepada ulama, bagaimana umat kini ya ulama?
seakan kehilangan arah tauhid telah bertauhid pada dunia, karena dengan uang dunia itu indah menurut hatinya.
wahai pemimpin di tahtamu kau terlena,
akan kemana arah politik ini, kami engkau bawa.
doktrinmu semu dan sangat gelap lajunya tak ku mengerti ujung-ujungnya kami di khianati.

Aahhh
Negeri kami di tengah pentas politik demokrasi, vigur-vigur yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, kau bagaikan pahlawan di siang bolong, setelah kau berkuasa hidup kami kau hinakan, dengan berbagai polemik dan delik bangsa kau keluhkan.
wahai pemimpin politik,
doktrinmu yang menjanjikan kemakmuran bangsa.
kau bak ksatria memimpin pertempuran di medan perang
setelah perjuangan itu kau menangkan dengan peluru-peluru kami di bilik demokrasi kau lupa rakyatmu, Ahhh bedebahh..

Politik itu ibarat kuda berlari dengan joki-joki di tengah padang siang dan malam menerobos kabut berpacu mengejar final kemenangan.
politiknya seperti homo homini lupus menerkam kawan dan lawan persahabatanmu tidak ada yang abadi.
kesepakatannya adalah semu
berjubah kamuflase menggenggam jalinan sesama kawan bersatu setujuan.
mengiringi negeri ini mencapai kemakmuran, nyatanya di ujung jalan ia menikam.

Dimana homo homini sociolity fitrah insani itu?
kau kebiri sendiri.
sifat dan karakter berbangsamu semu membingungkan, hipokrit di pertontonkan di pentas publik.

Opera politikmu seperti bermain petak umpet di tengah padang,
rumput-rumput di jalanan kau bawa bergoyang, kau pupuk dengan janji-janji harapan setelah kau bertahta ia di lupakan,
rumput ilalang yang malang itu hingga di tinggal dalam kegersangan.
walau di marjinalkan di tengah jalan ia tetap bertahan hidup di lapangan.

Dunia ini dan negeriku
menunggu bellum omnium contra omnes,
kan kau biarkan perang pecah bak bom waktu di tengah jalan.

Kau libatkan rakyat
untuk berkonfrontasi memusuhi
saudaranya sendiri?
hingga perang saudara akan pecah nanti.
dengan sengaja kau ajak manusia ini membunuh sesamanya,
hingga manusia itu akan berkepala serigala semuanya.

Sederhana bagiku, dengan secangkir kopi pahit pagiku
untuk memadamkan istilah Plautus dan Thomas Hobbes itu.
kembalilah kepada fitrah dan sunah
bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi ini. sebaliknya hidup di dunia ini sementara yang abadi disana, amanahlah wahai penguasa.

Ingat,
bahwa kursi empuk di tahtamu itu adalah ranjau janganlah silau.
buka matamu, buka telingamu, singsingkan lenganmu kepal tanganmu itu..!!
lihatlah kehidupan mereka di pelosok-pelosok negeriku dan negerimu mereka berjuang melawan kelaparan, ketidakadilan harga-harga di pecundang. bagaimana ia mengejar impian kedamaian di beranda senjanya.

Sedih kalau di ceritakan mah
gunakanlah hati nuranimu,
lihatlah mereka disana!

HR RoS
Jakarta, 24-07-2016, 14:14





Puisi dalam kenangan
>>>_______SRIKANDIKU..........>

Rumahku istanaku
aku disini meraih mimpi
tanpa ada pendamping menghias hari
perjuanganku pertaruhkan demi sebuah istana kecil ini
bersama ibunda siputri dan anakku yang lainnya... Yaaaa.

Beranda ini ku hias indah
dalam senyum manis aku berkuas kanvas

Aku meneliti satu persatu warna kemilau menyapa hati
warna itu ingin kujadikan sebuah koloni pelangi
aku menghias hari hariku di hujung senja menanti.

Suamiku,
Aku kini tak bersamamu lagi
aku kini bak srikandi menyongsong kabut
dari hasil tinta study remaja dikota belud
dalam harapan doa orang tuaku telah kuraih kini
aku kibarkan dalam perjuangan pengabdian tanpa tanda jasa ke dalam negara ini.
menciptakan bibit bibit srikandi kecil untuk pelanjut sebuah tirani pelangi negeri.

Aku kini berjuang demi membela harkat dan martabat istana kecilku ini
walau terkadang aku sendiri tertatih lirih
dibalik jeruji beranda rumah dikala sore hari
ketika senja menyapa hati
aku mengingat testimoni memory
Hari demi hari telah kulalui dengan sepenuh hati
tak aku biarkan manik ini menetes sedih sendiri
walau terkadang manik itu tak sanggup kubendung, akhirnya tumpah jua. Ahhh..

Tuhan, aku sadar
Aku di amanahkan sebuah perjuangan cinta dengan panah rasa
demi menanti arjuna kedua
dikala yang pertama telah mihrab ke istana misteri illahiah..

Aku kini berjuang menyulam permadani
menanti arjuna kedua
akankah istana ini bermahkota dewa yang taat beribadah untuk bertahtanya sang cinta disinggasana nokhta yang setia.

Tuhan, istikharahku menyapa-Mu
koloni awan berkabut itu berlalulah....

Duhai srikandiku
dimata sang pengelana cinta
kau berhati hatilah.!!
sapaannya anggun bak jingga keemasan
mempesona menggoda disetiap rasa wanita
gemulai tariannya lembut takjub
mengikat rasamu untuk takluk dalam pelukan.

mmm...
Aku menulis diksi,
melukis kasih dalam safana doa
hembusan nafasku bertolak ke gunung kinabalu.
aku yang selalu menyapamu
dalam kesunyian itu
adakah kau rasakan di bibir tinta ini, aku rindu.
meskiku linglung menanjak gunung itu, tak apa, aku rela.
kau srikandi yang selalu membidik menggendong busur panah mencari sasaran cinta, bersabarlah...

Kau berdiri tegap sebagai benteng bendera sang saka rumah tangga
berjayalah kau srikandiku
meski dalam kesunyian itu kau meraih mimpi
mimpi-mimpi yang realiti.

HR RoS




Secangkir kopi untuk negeriku,
KETIKA MASA PULANG SEKOLAH
AKU DAN IKAN KECIL ITU.


Episode 1.

Nagari Kubang Bayang pesisir selatan
memanggilku pulang, masa lebaran kemaren yang telah berlalu.

Sungai itu,
tetesan sumber berbagai mata air dari gunung, riaknya aliran sungai dari hulu mengalir ke hilir berlabuh ke muara.
catatan harian, masa kecilku dulu
semasa pulang sekolah.
aku terjun ke sungai bersama kawan-kawan setiap hari selalu kami lakukan.
aku berenang di sekitar air tenang di tempat pemandian itu
air batang bayang membelah negeri-negeri kami sampai ke samudera.

Sungai itu saksi sejarah kehidupan dari rahmat yang maha kuasa
menitipkan pesan pada kearifan alam untuk peradaban.
demi lestarinya regenerasi kehidupan negeri-negeri kami
yang terus berlanjut hingga kiamat nanti.

Kenapa aku tulis cerita secangkir kopi
ku kirim ke persada maya?
testimoni cerita masa kecilku untuk membangunkan anak-anak negeriku pada masa kejayaan dulu.
negeri kami di limpahkan anugerah yang banyak dari sang pencipta alam ini.
salah satunya adalah ikan-ikan yang berenang bersamaku ketika aku mandi di siang hari.
segerombolan ikan berbondong-bondong mencubit kulitku, seakan-akan anak ikan itu mengajak bermain petak umpet riang gembira
menitip pesan pada cerianya ia ke rasaku, bagaimana melanjutkan masa depanya nanti biar ia tak punah.

Masa kecil itu
adalah masa terindah yang tak terlupakan hingga kini,
dulu aku berenang di suatu lubuk di sungai itu. ikan-ikan kecil hingga sedang menyambut kedatanganku, aku menyaksikannya dengan kacamata renang yang aku buat sendiri.
ikan-ikan itu seakan berbisik pada aksara mulutnya yang lucu, dengan berbahasa bathin di lorong bebatuan di dalam sungai ia menyapaku, haiii...sastra?
selamat siang ya, sudahkah kau pulang sekolah..?
aku menjawab dengan tatapan mesra,
ooohhh indahnya sayap-sayapmu berenang dan indahnya sirip yang berkilauan di badanmu wahai ikan.
o ya sas, ajari aku tentang makna cinta manusia terhadap kami di sungai ini biar kami tak punah nanti di kemudian hari, padahal aku di ciptakan untuk memenuhi konsumsi hidupmu sastra dan hajat hidup orang banyak. aahhhh,
aku hanya diam beribu bahasa bahwa sang maha jiwa menitipkan pesan pada kelestarian alam di negeri kami.

Seperti biasa ketika hari mulai senja, aku terbiasa memancing di tempat pemandian itu.
menunggu pancingku mulai menyapa,
aku sempatkan menatap kunang-kunang malam menerangiku,
dengan sebuah pancing bermata kail secuil umpan untukku larung ke dalam lubuk-lubuk ikan itu,
berharap ada rezekiku pada senja ini yang akan aku bawa pulang untukku masak di rumah.

Di keremangan malam,
aku duduk di bebatuan beberapa menit sambil menyambut sang rembulan menampakkan wajahnya di balik awan.
tak berapa lama, umpanku di sambar ikan, aku haru harap-harap cemas semoga aku bisa mendapatkan ikan ini.
ternyata ikan itu memang aku dapatkan, ia menggeliatkan tubuhnya seakan ingin melepaskan diri, padahal bisiknya tadi siang, ia telah rela tubuhnya di goreng untuk di makan, memang ia di ciptakan untuk sebuah kehidupan juga.

Dekade demi dekade itu telah berlalu
kemaren sore aku kesana di tempat kenangan masa kecilku dulu bermandian.
kawan-kawan kecilku dulu aku tanya satu persatu, kenapa rona sungai ini tak seindah dulu kawan, dan kemana ikan-ikan kecil sebagai sahabatku itu tak tampak lagi kini?
lantas dia menjawab dengan semangat, bahwa tepian mandi kita dulu ini sudah tergerus banjir bandang berkali-kali dan ikan yang berenang dulu bersamamu punah sudah oleh prilaku segelintir orang kampung menyentrum bahkan meracuninya juga.
dan ironis sekali, mereka adalah saudara-saudaramu juga. Ia adalah Jonal pendra salah satunya.
lantas aku kaget dan tertawa sejadi-jadinya hahahaha... karena geli,
yang aku maki ya saudaraku sendiri.
sayangnya kemaren aku pulang, dia tak sempat aku temui.
ingin aku melarangnya dengan bahasa indah, bahwa membunuh ikan tanpa melindungi anak-anaknya kembali adalah kenistaan yang sempurna.

Bertanya pada goresan maya di lembaran ini, menitip pesan kepada pak wali nagari pada kesan tirani yang tak mau di mengerti akan lestarinya sungai itu.

Dulu masa kejayaan periode kepemimpinan daerah, ada aturan menjaga kelestarian sungai kita secara bersama-sama.
bahkan rekomendasinya hingga ke badan hukum adat tentang konsekwensi prilaku anak negeri itu sendiri.

Kini, dengan secercah harap
tertitip doa dan salam kepada aparat setempat di negeri kubang dan bayang sekitarnya.
bangun kembali sistem perikanan di sungai itu biar icon kehidupan sungai tak habis di telan masa.

Kita semua berharap, kearifan dulu lestari kembali

Siapa,
dan mengapa sebegitu punahnya regenerasi ikan itu di negeri sendiri. Ahhhh.....

HR RoS
Jakarta, 23-07-2016, 19:27





Secangkir kopi untuk negeriku,
MERCUSUAR RUMPUN BAMBU


Episode 2.

Milah, memilah kata tak biasa
bak sembilu melukai
santun bak dewi di puja dewa melahirkan mantera-mantera kewibawaan tiada tara.

Warna warni kehidupan
tumbuh subur merona bak pupuh aksara yang kokoh berdiri di seantero diksi kurangkai syair
menyentuh sanubari bagi yang mampu memahaminya.

Rona itu tumbuh laksana mercusuar di rumpun bambu
sama-sama berdiri berpacu hidup berkompentisi menjulang ke langit tinggi.
melambai seperti nyiur di pantai sayangnya tak bisa berteduh di kala hujan panas menyentuh tubuh.
bambu itu bermiang di bibir, ranting-ranting dan dedaunannya gemerisik
nadanya bersatu, mengalun kokoh di rangkul melukai
ia tumbuh subur di negeriku.

Alam terkembang jadi guru,

berburu ke padang datar
dapat rusa belang kaki
berguru kepalang ajar
bagaikan bunga kembang tak jadi.

pepatah melayu tempo dulu
mengukuhkan akan sesuatu
tentang pelita anak negeri
tak lagi menerangi,
tentang budaya telah di kebiri,
tentang jiwa yang telah terlena oleh sepoinya angin mamiri,
tentang rasa yang telah hambar untuk di nikmati,
tentang budi yang tercabar oleh ego sendiri,
tentang cinta religi telah beralih ke duniawi.
Ohh.... regenerasi itu,
sinarilah langkah-langkah tuan
kaji
di pondok-pondok senja dengan abjad hijaiyah memandu tuah
wahai regenerasi di surau-surau itu.

Generasi diatas kami,
di mana kau simpulkan mercusuar icon negeri
yang dulu tumbuh subur di corong-corong surau dan mesjid
kenapa dikau berkompetisi bak mercusuar tumbuh seperti di rumpun bambu tak menyinari.

Tumbuh tapi gersang menjulang tinggi
tanahnya tandus
seakan tuah tuntunan tuan kaji telah di khianati.

Ohhhh icon,
negeri ini kau titipkan seribu janji
seperti berorasi di pentas demokrasi
satu bendera pejuang kau kibarkan di puncak bukit
bahwa negeri ini telah merdeka maju dari wibawa tuah sang pemimpin
padahal selebrasimu tipu daya sesaat saja
seakan negeri ini tertitip putera yang tak bertalenta
berpacu mencari kehidupan di cela-cela kesempatan tak bermaruah.
oh negeri nasibmu kini,
berada di tangan-tangan penadah mencari kekayaan sesaat saja.

Bendera kemajuan kau koar-koarkan
seakan perlambang negeri ini telah maju melampaui negeri khayangan di bukit-bukit kurcaci.

Oh mercusuar itu
tumbuh di rumpun bambu
hidup melambai berisik tak memayungi
berkoloni bersama bayang-bayang pelangi
benalunya bergerombolan di dahan yang subur
seakan menyimpan onak rahasia malam bergentayangan
yang akan menerkam, menimbulkan ketakutan intimidasi di setiap generasi.

Megahnya bangunan religi
corong jantung negeri
telah kosong melompong
bak istana inca di bangun lalu di tinggalkan oleh peradaban zaman yang tergusur oleh kekuasan baru.

Pos hura-hura di kedai tua muda
ramai di isi sipenat dari kerja sehari-hari.

Mercusuar negeri ini,
seyogyanya ada di tengah jantung kampung yaitu negeri yang beriman bertauhid.
sebagai pengontrol dalam religi
sosial budaya dan akidah
biar tak melenceng jauh dari nilai-nilai sunah.

Damainya sebuah negeri ada di doa-doa para tetua yang hampir punah
di paguron-paguron santri kiyai.

Ingat,
dunia ini berumur panjang
berkat jamaah-jamaah tua muda yang bersujud siang dan malam
pagi dan petang memanjatkan doa pada kearibaan tuhan,
berterima kasihlah kepadanya
karena dia usia dunia ini panjang.

HR RoS
Jakarta, 24-07-2016. 13:44




(SETANGKAI KEMBANG CINTA TELAH SIRNA)


Lukisan aksara cinta tergerus arus
yang dulu kau ikrarkan di pasir ini
ikrar semu,
tertitip pada deburan riak
mengikis habis lambang kesetiaan
akan nostalgia kekasih
sunyi sudah memeluk hampa tak tersisa.

Pada bayangan memori itu
ada catatan hati yang setia
masih tergores figura-figura diksi
di album galery antara kau dan aku
bahwa aku dulu pernah bersamamu.

Oohh riak senja,
kenapa bunga itu di tenggelamkan
kau hanyutkan ke samudera lepas.

oohh senja,
kenapa pelangi cinta tak lagi berwarna?
hingga kabut menyelimuti pantai hati ini
yang tak lagi aku jumpai
di beranda rinduku
aku malu dengan kisah itu
kisah yang ingin ku jamah pada realita cinta untuknya.

Ahhhh... bunga itu sirna sudah
tenggelam ke benua tak bernama.

HR RoS





RINDU RINJANI, KINTAMANI


Mentari di kaki langit rinjani dan kintamani
pancarkan pesona alam yang menarik
sebuah negeri diatas awan yang menawan
anugerah titipan tuhan
alam syurgawi yang perawan.

Aku melirik dari gambar alam yang sensasi
ingin ku raih puncak pelangi
berdiri diatas kisi-kisi mentari
ku rengkuh rembulan dikala malam
ku petik bintang di malam hari
Ku tatap terik surya menjelang pagi.

Aku berdiri jauh di sudut hati
metatap pesona gunung rinjani dan kintamani
walau berada jauh di tengah kota jakarta
rinjani bak misteri yang belum pernah ku jumpa
antara lombok dan pulau bali
pulau yang ku rindui ingin ku jejaki
Malahayati yang asri
izinkan aku terpesona di wajahmu
merengkuh suasana keajaiban itu.

HR Ros





-- RINDU YANG TELAH KARAM—


Aku larung nafas dalam rentak tak terpijak
bergetar nadiku iringi puji tasbih
ku himpun sami' ku kulum kalam
hentikan hayatan nafs
melebur ke ruang sukma
terbuka jendela bashiran
ku matikan nafsu,
aku fana, mati di dalam hidup.

Jauuuhhh rindu ku pacu
berlayar di dalam jiwaku.
Rinduku telah karam
noda-noda cinta berhamburan
yang melekat di kulit ari keraguan iman
berganti dengan nada-nada cinta bertaburan
telah bersemayamnya maha kekasih,
bersentuhan tak teraba asyik berkasihan
rinduku karam pada kematian nafsu
terdampar dalam istananing
mahabbah tuhan.

HR RoS
Jakarta, 30-07-2016, 21:45





!..... AKU RINDUMU IBU......?

Nafas senja mendesah
dihari tuamu kau resah
lelah tergurat di wajah renta
kau lena dan payah,
dari menyongsong asa
terhadap pelita kecilmu dulu,
yang kau lahirkan di nina bobo di pangkuan
kini aku telah dewasa.

Pandangan itu telah sayu ditelan waktu
Pangkuanmu kini berbantal selimut lusuh
mimpi itu telah sunyi
hayal senja tak lagi berpelangi
bintang malam itu telah redup
kerlip mutiara telah jadi suasa.

Bunda,
kini aku mengantikan memelukmu
cabaran duka telah bergelombang
membopong hari-harimu
gantian kini aku yang menggendong.

Ibu,
dulu kau mentitip pesan
di saat pengantar lelapku
cepatlah besar nak,
jadilah kau anak yang berguna
sabda jiwamu bermahkota tahta kasih sayang yang abadi
tahta itu ku sujudkan dalam bakti harta dan doa yang sesungguhnya
memelukmu hanya dalam hati.

Ibu,
dalam lemahmu maafkan anakmu ini
yang tak bisa bahagiakanmu,
tak ku sembunyikan alur alir menitis bulir
yang sedianya mendekapmu
dalam sepi.

Ahhhh,
potret usang itu aku temui di album lusuh
dikala dulu memeluk pundakmu
kini, maafkan anakmu
tak mampu menemuimu
disaat puncak rindumu menyapaku.
HR RoS





*BAYANGAN GENERASIKU GERSANG.....


Desas-desus plamboyan di ujung daun
melambai sunyi bak misteri di kaki tirani
pipit kecil mencicit ciut,
tertumpang di pucuk sang ilalang lirih
kehausan di tengah padang resah
tak berteduh di payung terik
bertahan meski hidup kian menderita.

Sang embun menitip pesan sesaat
kepada mendung,
kapan rinai menyirami tanah ini?

Ohh angin,
jangan turunkan kabut menitis hujan
yang akan menenggelamkan bumiku
sehingga kami dahaga dalam banjir itu.

Kau buaya-buaya yang berdasi
di telaga negeri ini,
kan kau caplok ikan-ikan kecil itu
yang sedang belajar berenang
mencari jati dirinya
buat kehidupanya nanti
hingga ia akan punah dan mati
di negerinya sendiri.

HR RoS





*MENGEJAR IMPIAN*


Terik mentari menghalau pagi
sepenggal awan terkuak

mendung kabut itu berlalulah
tinggalkan jejak-jejak embunmu
izinkan ku sauk tuk basuh rona wajahku
yang kian lusuh oleh sembilu hidup.

Peluhku,
basahilah tubuh ini
biarkan aku bermandi dalam lelah.

Mencoba berlari mengejar impian hati
walau lelah berpayah dalam bayangan waktu
tak terkejarnya impian itu, ahh tak apa
ketika putik berbuah menjadi mahkota cinta
Setia dan relalah
dalam kisah yang tak sempurna ini
meski kita jemu menunggu rindu
di hujung jalan itu.

HR RoS





Puisi,
,......KEMATIAN 'AIN KU TERTUNDA.......,


Khair itu bersuara dalam tidur
seperti hanyut dalam lautan mimpi
ketika tafakur asyik,
dada tersesak menyeruak
dalam dzikir mutlak
sakaratul a'in menghampiriku
aku di tarik ketingkat arasy rasa diri.

Dalam isra'
aku di bisikan di ranah makam
makam-makam dalam labirin iman
makam bernuansa taman tak berhujung
taman sagara hijau lautan silau di wajahku.

Sayap jibril di pundak terasa mengigil menjamahku
sabda itu menggema,
di singgasana sulaiman bertahta.

Suara itu berseru,

di tingkat makam mulia ini
sulaiman berjaya
taman sagara hijau alamnya rasulullah
semua tunduk beriman dalam sunahnya.

Ketika perjalananku di sagara hijau berlalu,
sukmaku mihrab,
membumbung ke kasta illahiah
sang suara itu,
tak kuasa lagi mengiringi tahlilku
jejaknya terhenti
jiwaku gemetar,
aku terkapar sadar dalam kebingungan yang berkesan.

mmmm
jalan yang aku tuju itu terlantar
aku terbangun dalam fana
religiku merugi
kematian a'in itu akhirnya tertunda.

terjaga dalam tidur khair
aku berpeluh senyum termenung
imanku payah,
singgasana keratoning-Nya
akhirnya tak ku jumpa.
ahhh..
aku hanya asyik dalam asma-Nya saja.

HR RoS
jakarta 29-8-2015, 23,10.





《RINDU YANG TELAH USANG...》


Peti hatiku tentang rahasia rindu
tiba-tiba terbuka
padahal ia terkubur jauh ke dalam memori
seketika pagi ini,
imagiku lewat bayangan seseorang
dengan madah-madah rindunya yang tak sudah.
seakan menyapaku
tentang diksi-diksi rindu yang dulu
peti rinduku,
akan kisah kasih yang telah berlalu terbuka tiba-tiba.

Aku lihat sampul-sampulnya
telah usang,
dengan seksama aku baca
larik-lariknya menitipkan goresan cinta
membuncahku.

Aku kecup sebuah puisinya
pada pernyataan tentang cinta untukku selamanya.
aku terdiam, pada pernyataan itu
apa iya ya...?
ahh... aku paranoid sudah tentang rindu
rindu yang telah bisu
pada cinta angin lalu
pertemuanku denganya bias sudah
kisah kasihnya abstrak,
ia melukis kasih di tunggul puisi
yang tak nampak lagi
aku malu.

HR RoS

3 komentar:

  1. Terima kasih abg Ahmed El Hasby
    yang telah menyusun kumpulan Puisi HR Ros / Romy Sastra

    BalasHapus
  2. Terima kasih abg Ahmed El Hasby
    yang telah menyusun kumpulan Puisi HR Ros / Romy Sastra

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke, Bang....salam sastra
      salam Ruang Pekerjsa Seni...

      Hapus