RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 04 Agustus 2016

Kumpulan Puisi HR RoS - TENTANG CERITA KITA


RETORIKA PILKADA YANG JELITA DEMI JELATA

Penguasa yang gagah bak arjuna
tebar pesona dibawah bendera
dengan kaca mata hitam dan safari mewah
panggung orasi menjulang tinggi
di progam janji-janji
pohon rindang kau tebang
di biarkan gersang kehausan dan kelaparan.

Orasi janji bak mimpi manis
membangun negeri
retorika berjubah wibawa seni digandeng jelita penari
intrik sesama berpacu dalam bisu
mengejar sesuatu ke dalam saku.

kuda malam berlari kencang tanpa tunggangan
serangan fajar bak halilintar
Bangunkan sijelata yang sedang terkapar
memang lagi haus dan lapar.

kau suguhkan secangkir kopi penghapus peluh
jelata terpedaya
jelita kau buat mempesona
bak selir raja jadi istri kedua.

Ketika asa meraih kasta
retorika itu menjadi fakta
kau hipokrit politik di tanah bundamu
bedebah...
terali besi sumpah rakyat itu.

PILKADA..

Sang pemimpin bualanmu, amanahlah..!!!
bila istana berdandan mewah
jelatamu lupa.

Rintihan lara jelata di seberang istana
tak kau dengar lagi
kau sibuk berintrik bergelimang korupsi
buat kembalikan modal
yang dulu kau bayar.

HR RoS
intrik pemimpin negeri





TENTANG CERITA KITA

Sayang.....
jangan lagi kau datang dalam hidupku
jikalau rindumu kau berikan untuknya,
lupakan semua kisah yang pernah terjadi
diantara kita,
Antara kau dan aku takkan pernah bersatu.
cabaran demi cabaran telah aku lalui,
namun sikapmu tak pernah jua berubah.

Sayang...
ku akui,
cinta ini takkan pernah pudar untukmu
sampai akhir hayatku,
hapuslah cerita cinta tentang kita
jika memang kau tak mampu setia.

HR RoS





*MERENDA RINDU SENJA*


Selamat sore senja
Senja yang akan menepi
di ufuk mentari
senja yang berdandan sunyi
menyambut lembutnya belaian malam.

pelangi sirnalah...
aku tak mau indahmu sesaat saja
biarkan kami berbimbing tangan dipantai ini
tanpa ada warna pelangi semu
yang menenggelamkan rindu-rinduku.

Kabut,
berlalulah.
biarlah deburan gemercik riak
menari di bibir pantai ini
oh burung-burung yang bernyanyi
menyambut malam di senja yang merona
nyanyikanlah seuntai kidung di parungmu yang selalu bercumbu.

Kasih,
Izinkan ku gandeng jemarimu
jabat tangan ini
terbalut sisa sinar mentari pagi
lukiskan true love di pasir putih
walau kanvas itu semu tersapu banyu
Pasir kan berbisik di rentak jejak kekasih
mengiringi jejak-jejak senja hari
antara kau dan aku, di pantai ini.

Aku dekap dikau dengan selimut sayang
dalam temaram rindu menikam malam
yang kian kelam
kemesraan itu bersemayam
dalam pusara indahnya malam ini.
mmmm...

senja dipantai orange
temaram keemasan berkilau
di bimbing tangan di senja yang ranum
syair rindu menyapa dari luahan yang galau.

Jakarta pantai muara.
HR RoS




JEJAK SIBURUNG MERAK


Tujuh tahun sudah
sayap emas siburung merak tiada
bertaburan bahasa jiwa kau madah
sebagai saksi sejarah seniman nusantara.

WS Rendra,
sebuah sejarah kau titipkan pada regenerasi
satu kisah melahirkan seribu tanya
seribu torehan,
berjuta aksara mengandung makna

WS Rendra,
baktimu di ujung tinta
ketika jurnalis di bungkam oleh zaman
sastra berbicara dalam orasi jiwa.

Siburung merak tak mati dalam syair
jasadmu bias pada takdir misteri
nama dan karyamu abadi
sebagai pelopor bagi generasi
untuk mengikuti jejak sayap indah itu
terbang ke cakrawala seni sampai tintaku beku pada usia sepertimu.

walau gita cerita kita tak sama
generasi insan seni tetap bangga pada torehan syair-syairmu yang
membahana di panggung pujangga.

Doaku pada senja ini
menitip secarik diksi di pusara sastra pujangga
aku naik ke langit tinggi
memanjatkan doa pada illahi rabbi
terbang Siburung merak itu
tetap meninggalkan jejak di bumi ini.

HR RoS
Jakarta, 6 agustus 2016, 18:20





CATATAN SENJA.
TEGAR BERSAMA REALITA

Ke, 2

Oohh,
ku sandarkan lelah diri di dinding senja
telah jauh tatapan ku pandu
selintas angan memetik bayangan
pada suatu yang ku rindu
yang tak lagi ku temui.

Dulu,
ranting berdaun subur bersemi
kini,
dedaunan itu jatuh gugur ke bumi.

Oh naluri,
tegarlah bersama realita cinta
paranoid mimpi berlalulah
hembusan bayu kau nafas surga itu
jangan kau pacu nafsu mengejar semu
yang akan mengkoyakkan istana yang ku bina.

Sayap-sayap merpatiku,
telah patah oleh limbubu cemburu
ku hela nafas panjang.
bahwa gita hari
telah menepi pada rona langit
yang menitip embun,
basahi gersangnya nokhta kasih sayang.

Disana,
kasih sayang yang ku bina
bersama malam selama ini,
sunyi sudah sebuah peraduan kasih
biarlah sunyi.

Bahwa bayang-bayang yang ku rindu
benar telah menghilang dari pandangan
tanpa ada pesan yang kau titipkan.

Di akhir kisah,
kepedihan ku balut sendiri,
meski rona-rona senja semakin meninggalkanku malam ini.

biarkanlah malam ku kelam
tanpa ada lagi
lilin-lilin kecil yang kau nyanyikan.
aahhh,
masih ada terik rembulan menyinari selimut malamku
pada sebuah kenyataan suratan takdir
titipan tuhan
di pundak ini.

HR RoS





CATATAN SENJA

Ke, 1

Masih seperti yang dulu
menunggumu sampai akhir hidupku,

masih ku rajut benang kasih
di tepian senja di taman ini..

Adakah kau menyapaku disini
duhai yang disana??

Sesungguhnya realitaku harmonis
pada kedewasaan
yang sama-sama di mengerti
antara kau dia mereka dan cinta.

HR RoS





<>


Dikala senja mulai menepi
pada dedaunan yang akan gugur
aku bertanya pada pelangi.

Pelangi,..??
parasmu indah
wajahmu cantik
tapi sayangnya,
raut pelangimu tergurat rona misteri.

Oh pelangi,
kaukah itu....
yang akan pergi di sulam malam
yang kian kelam.
malammu menari dengan kunang-kunang
yang akan menambah sunyi
aku di landa sepi yang kian sepi.

Bila masa disenja hari
aku mulai bertasbih
dermaga rasa berdoa diatas sajadah
di waktu maghrib menitip doa
aku menyapa dalam ibadah ya allah,
Mahabbahmu turunkanlah...

Dikala malam lena menyapa rasa
di pembaringanmu aku menitip kata cinta
pada suatu kekasih
sakitnya melilit menyayat hati
kau sulam nitis itu sendiri dalam sunyi
kau usap tangis tanpa suami.

Tuhan,
jangan ambil nyawanya.

bila masa-masa sunyi kau terperap
kau selimuti rasa sakit dalam lelap
ambillah penyakitnya tuhan,
izinkan ia sehat wal afiat.

Bangunkan ia di waktu pagi
dengan secerah mentari
biarkan kami hidup seribu tahun lagi
dalam harap tergurat obat
doakku kepada-Mu ya Rab
ampunilah kami.

Tuhan,
Mimpinya belum usai
gita cinta ini belum terurai
beban hidup dan amanah belum tertunai
Awan yang berarak
jikalau rinai membasahi jalan ini kan berlalu pergi..!
gantilah dengan warna pelangi
walau sekejap ia akan berarti untuk senja.

Tuhan,
di kemirisan puisi ini
aku menitip doa religi
sekali lagi, sehatkanlah ia kembali
dari rasa sakit yang selalu setia
menemani tubuhnya.
aku yang mencintai pelangi itu
di hujung negeri,
pada setangkai bunga yang akan gugur
di senja hari.

HR RoS
Jakarta 5-8-2015





%%% Dialoq Kertas PutiH >>>


Dikala sepi, kertas putih temani hari
ilusi menari menyapa tinta
kanvaskan syair memori
pada suatu story.

Berkawan diri bersama bayangan
bercerita tentang angan
luah ternoda dalam tawa
bercanda dengan hiba
aku malu,
rasa itu terkumpul dalam koloni bisu.

Kertas putih,
aku lirik larik tajuk di bibirku
menitip noda dalam lembaranmu
tanganku gemulai membelai majas
lukiskan diksi hati
goresan pena bercerita sendiri
hayalkan jejak-jejak yang berserak
pada kisah yang tak begitu indah.

Memori itu tersimpan dalam jejak kelam
masa silam.
kertas putih menjangkau hati
diantara hayal dan pasti.

uuuhh...
Kertas putih,
lembaranmu bak awan yang tinggi
aku jangkau cerita diri
semakin pesonakan ilusiku.

Sampulmu yang indah,
bersih menyimpan memori
rapi pada rak-rak history.

Secarikmu ku nodai dengan tinta bercerita
kau diam saja
kau seperti bumi yang rela diterpa lara
kututup lembaranmu kau tetap juga membisu.

Aku malu,
ternyata aku telah dungu
berdialoq denganmu
seakan membangunkanku
pada sebuah kisah semu.

HR RoS




Puisi untuk Bung Tomo,
GUGUR DI TIANG BENDERA


Desiran angin asap membubung
meciu menembus dadamu bung
orasi perlawanan menggema
diatas hotel tua darah itu tertumpah.

pekik bung Tomo di tiang bendera
membakar tungku-tungku pemuda
kobarkan perlawanan yang menyala-nyala.

Singsingkan lengan tatapan bermata api
kobarkan semangat juang
yang akan meluluh lantakkan penjajah
di bumi Surabaya.
surabaya bangkit, mengusir kolonial
patriot-patriot berkumandang merdeka.

Ini negeri kami, telah berdebu meciu
kami hapus kotoran itu dengan darah dan airmata,
ujung bambu senjata kami
mempertahankan bangsa ini
dari bumi surabaya.

Kepal tangan, bergelora di dada
mempertahankan negeri ini dari penjajah.
mana dadamu bung kini..???
sadarilah..!!
negeri ini masih terjajah
oleh kapitalis perampas kekayaan alam nusantara.
generasiku tertipu oleh rayuan semu
di balik-balik pintu.

HR RoS
Jakarta, 10-08-2016, 15:15





( __SANG VETERAN__>>


Beranda kisi history dengan untaian puisi
sastra bunga-bunga senja di kabut mentari
bunga yang telah kuncup
berharap mekarkan kembali
semoga berputik di ranting yang tersisih.

Karangan bunga ini
wahai pahlawanku
berhias di makam pejuang negeriku
kembang setaman layu dibatu nisan
sang pahlawan
telah gugur di medan perang
memperjuangkan kemerdekaan ini
santunilah ia dengan tunjangan.

Bunga-bunga senjaku
yang tersisih telah renta
oleh nafas-nafas tua yang kian gelisah
ditaman makam pahlawan
kau sang veteran sebagai saksi zaman.

Kini kau berada dalam kesunyian
ku cucur doa-doa cinta
di kemarau sepi tengah malamku
kembang kuncup layu di rerumputan
mekarlah dalam pusara itu.

Terik membakar hari
oleh generasi yang tak lagi peduli.

Kau tirani bunga yang berputik
isilah kemerdekaan ini dengan prestasi.

Revolusi,
kau zaman-zaman yang berkeliaran
di tengah roda-roda pemerintahan
bersatulah..!!!!
di titip negeri ini pada generasi
oleh pejuangku jagalah.

walau seribu tahun ia bersemayam
Ziarahilah mereka yang dilanda kesepian.

Suara-suara merdeka menggema
menyapa di tiang bendera
kau generasi pelanjut tirani senja
menangislah di nisan tua
duduk bersila
hadiahkanlah doa-doa
berdiri dengan hormat heningkan cipta.

puisi ini menyapa,
bersama karangan bunga indah
dari dunia maya
aku persembahkan untuk pahlawan bangsa
di kala tabur bunga di nisan tua
titipkanlah secercah senyum
untuk mereka
hapuskanlah duka laranya
yang masih tersisa
bunga setaman itu masih basah.

HR RoS
Jakarta 10-8-2015
Ultah 17-8-1945.





CERPEN ANAK-ANAK
LENTERA SENJA ITU PADAM
DI SURAU TUA...........
By, HR RoS / Romy Sastra


Menyimak eja pada iqra'
duduk bersila di hadapan lentera
dalam kebodohan diri,
aku terlantar pintar
karena nakal.
berharap secercah cahaya dari tuan kaji,
sampai kini aku masih bodoh tentang al quran kitabku sendiri.

Nagari / negeri kubang bayang pesisir selatan sumatera barat,
surau baruh,
aku terlantar dalam asuhan santri senja.

Haiii... Doni,!!
pergilah sana kau ngaji!
ini hari sudah senja,.
kau masih main silat-silat juga bak pendekar cengeng saja.
tidak kau lihat, jamaah di mesjid sudah pulang sholat maghrib itu
hardik ibunda.
ya bunda, aku berangkat ini.
hiiiiiaaapp....
bak superman terbang aku berlari
pergi dari jalan itu.

Padahal sedari sore aku sudah gagah dengan sehelai kain sarung, lengkap dengan peci hitam dan buku iqra' di saku
bak pendekar minang di palang pintu nagari... hihihihi...

Aku tak sendiri, ada Darno kawanku yang biasa kalau pergi ngaji berdua dengannya.
dalam perjalanan, aku tersentak kaget oleh sesuatu yang aku raba di saku.

Dar..?!!!
apa Doni, sahut si Darno terhadapku.
uang paket ngaji di sakuku hilang ini"
ada berapa uang kau kantongi tadi Doni..? tanya si Darno,
ada tadi di kasih ibuku Rp 50.
mungkin terjatuh tadi Don, kata Darno. sewaktu kita main silat-silatan sore tadi.
yuukk kita cari uangku di tempat tadi Darno!
ayoo Don,
Ahhh dalam hati, sudah tiga minggu aku tak bayar paket ngaji ini.
yang dua minggu kemaren aku belum bayar paket ngaji ni, lagian aku pakai buat jajan juga.
apes deh.., celaka dua belas aku nanti.
sumpah serapahku dalam hati.

Eh, duit yang di cari-cari yang hilang tadi tak kunjung di dapati lagi.
waktu isya hampir tiba, hari sudah semakin malam.
aku lihat kawan-kawan ngaji yang lain sudah hampir semuanya pulang dari surau.
sebut saja namanya pak bilal guru ngaji aku dulu ditahun 80 an, yang kini telah almarhum. pak bilal kala itu berdua ngajar ngaji anak santri surau dengan ibu Sri.

Sesampainya di surau itu, aku dan Darno di hardik oleh ibu Sri.
ya ampun,,, hardiknya.
haiii... pendekar kecil!!! sudah jama berapa ini kau kesini pergi ngaji,
bocah-bocah nakal....?!!!
padahal hari sudah menunjukkan jam 20,45 menit
sudah malam tau, si bocah nakal.

Aku terdiam dan takut setengah mati
Don, bisik darno.. kabur yuk...!!
aku diam saja.
suasana malu bercampur takut dengan ibu Sri, spontan saja si Darno ambil langkah seribu hilang di kegegelapan malam melihat tatapan mata ibu Sri.
keringat dinginku mengalir deras karena aku takut di marahi,
yang aku dan ibu Sri masih berhadapan di beranda surau.
sedangkan pak bilal sibuk bebenah mematikan lampu untuk segera pulang.
anak-anak murid pengajian sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Ibu Sri memanggilku..
Doni, sini kau!!
i i iya bu Sri. dengan wajahku yang masih menunduk takut.
ibu tak memarahimu kini, aku lelah memarahi anak orang.
masuklah ke surau ini!!! kau ambil lilin di meja dan ada korek api juga ada disana, kau nyalakan ya perintahnya.
aku hanya diam saja, haru bercampur takut, karena surau sudah gelap, adalah sedikit bayangan cahaya lampu rumah tetangga di beranda menembus dari luar jendela surau.
karena lampu petromax sudah di matiin sama pak bilal.

Ya Doni nasibmu, gumamku dalam hati.
ibu Sri menyapaku dalam kegelepan ruang surau itu.
Doni, kau nyalakan lilin itu duduk kau diatas tikar.. kau mengaji sendiri..!! ingat kan bacaan iqra' di malam kemaren..? iya bu. jawabanku dalam keadaan bingung. dari mana aku memulainya bacaan pelajaran iqra' malam kemaren ya, tanyaku dalam hati.

bu Sri....??
dengan suara memelas aku memanggil guru ngaji itu. dari mana aku mulainya membaca ini, aku lupa sudah bu.

dalam temaramnya ruang surau, tak ada sahutan dari ibu Sri itu.

Dalam remangnya pelita cahaya lilin, aku teringat dengan kejadian tadi sore, duit paket ngaji mingguan itu hilang sudah tiga minggu gak bayar.
kalau ibu tahu duitku hilang pasti aku di marahi ibu di rumah nanti.
sedangkan bacaan iqra' ini tak ku mengerti, hanya berkomat-kamit di hadapan remangnya lentera lilin ini.

sebenarnya ibu Sri guru ngajiku itu sudah berada di luar surau berdua dengan ibuku.
karena ibuku kehilangan anaknya sudah malam-malam begini si anak belum juga pulang ke rumah, padahal kawan-kawanku sudah pulang dari tadi semuanya.
lantas ibu menyusul ke surau mencariku, ternyata ibuku dan bu Sri guru ngaji kami itu lagi bercakap-cakap di luar surau.

Ternyata mereka memperhatikanku di luar surau.
mataku terasa mengantuk berat aku takut pulang ke rumah.
hingga aku tertidur di hadapan lentera lilin senja yang hampir padam itu, yang biasa kami pakai kalau lampu petromax tak punya minyak.

Esok pagi aku terjaga dari tidur,
aku berlari keluar surau.
ternyata aku berlari berada di depan rumahku sendiri.
bapak, ibu, adik, kakak dan nenekku tertawa mereka semua, melihat tingkahku ketakutan dalam kesiangan. aku seperti terjaga di dalam surau saja.

Padahal semalam aku di gendong oleh ibuku tertidur di dalam surau sendiri malam tadi.
aku malu, ternyata aku di tertawakan mereka semua.
dalam renungan senja, aku tak pandai ngaji kini.. alamakk.
Tamat.

HR RoS
Jakarta, 09-08-2016, 19:29





DOA RUHI
------------


YA RAB,
MALAM MI'KRAJ
KHAIR DALAM SYAHADATMU
AKU PERGI, DATANG MENEMUI
DAN KEMBALI LAGI.

MENYIBAK KASYAF-KASYAF SUTERA ILLAHIAH
ADALAH CAHAYA YANG SEMPURNA.

AWASNYA,
FANA DALAM RAHASIA JIWA
DI SAFANA SAMUDERA RASA
MENGITARI KOSMIK JAGAD
DIANTARA ADA DAN TIADA.

SESAAT TERJUMPA
ASYIK BERCINTA BERCUMBU MESRA
DI MALAM IBADAH YANG INDAH
MAHABBAHNYA BERKAH MELEBIHI JANNAH.

HR RoS.





CERPEN,
KAU KENANGAN ITU DI RUMAH TUA
by: Romy Sastra / HR RoS


Kenangan adalah masa lalu, yang tak bisa di lupakan begitu saja.
hampir tiga dekade cerita terkubur bak peti mati terkunci dalam memori.
pada kesempatan ini, lamunanku membubung tinggi akan kisah cinta remajaku dulu,
dan setiap insan pastilah memiliki kisah walau ceritanya tak sama.

Sebut saja namanya Ariyati,
aku di perkenalkan oleh Rayendra kepada Ariyati
Rayendra adalah teman baru yang baru saja aku kenal di bangku sekolah MTsN sederajat SMP, sekolah menengah pertama.
pertemananku dengan Rayendra berlangsung akrab. pada suatu ketika, aku diajak nginap di rumahnya.
kebetulan pada hari itu sabtu sore malam minggu, aku menyanggupi tawaran untuk bermalam minggu di kampungnya.
jarak kampungku dengan Rayendra sekitar 5 km
ketika senja menempuh malam, aku di kagetkan oleh sosok si hitam manis dari sebelah rumah kawan itu. dia tersenyum padaku,
aku seakan serba salah membuatku malu.
pada waktu itu, aku tak memahami maksud di balik senyuman itu.

Pada kesempatan minggu kedua aku kembali diajak bermalam minggu di rumah Rayendra.
di malam itu, aku seakan di tampar oleh senyuman pada sebuah hati, aku yang dungu tentang makna senyuman cinta.

Haaaiii...????
sapa seseorang di sebelah rumah sahabatku itu
aku balas juga dengan senyuman.

tapi aku tak menjawab sapanya, sebelumnya aku telah di beritahu oleh Rayendra, bahwa yang di sebelah rumahnya rayen itu adalah sepupunya yang namanya Ariyati yang pernah di perkenalkan kepadaku seminggu yang lalu.

Si hitam manis dengan senyuman yang mendesakku untuk menyapanya. karena tatapannya mengajakku ke sebuah rumah tua, sebenarnya rumah tua itu adalah rumah bibinya juga tepat berhadapan di depan rumahnya Ariyati itu.

Malam itu aku tak sendiri diajak bermalam minggu dengan Rayendra, ada juga teman sekolah satu kampung dan dia saudaraku juga sebut saja namanya Sandra desiska. Rayendra juga punya sepupu yang namanya Amelia, Amelia adalah wanita cantik berperawakan chinese ayu.
spontan Desiska naksir Amelia malam itu.
berlalunya senja menyulam malam aku dan Ariyati serta Desiska dan Amelia bercerita di rumah tua tentang kawan-kawan sekolah masing-masing panjang lebar.. hingga bla-blaa-blaaaaaa.

Rayendra hanya menonton kami saja seakan sepupunya sudah berpacaran dengan kawan-kawannya yang ia bawa bermalam minggu ke rumahnya. hahaha.....
masa kanak-kanak yang belajar remaja, lucu dan lucu juga.

Kebetulan malam itu malam terang bulan. oo ya, telah malam hari kami lalui. spontan kami mencurahkan isi hati masing-masing hingga kami terbuai dengan belaian manjanya malam di bawah sinaran rembulan
bahwa cubitan kasih masa remaja itu berbunga-bunga seperti tak ingin layu hingga esok pagi.

Oh Rayendra, kisah ini aku tulis ke media. tak akan bisa kamu membacanya. cerita kita yang dulu pernah ada berkawan denganmu tahun 90 an yang berlalu.
setahun yang lalu aku masih menemuimu, kau bertamu ke tempat niagaku dengan membawa anak istrimu.
kini kau telah tiada kawan, pergi untuk selama-lamanya. sebulan sudah jasadmu terbujur di dalam tanah telah menjadi bangkai.
kau pergi membawa derita dalam konflik rumah tangga bersama keluarga istrimu.
kami segenap keluargamu berduka akan kematianmu itu. ahhh lukamu kawan''''
al fatihah yang bisa aku persembahkan kehadirat misteri illahi kini.
kaulah pelopor kisahku dengan si hitam manis sepupumu sendiri
kisahku di rumah tua di mulai.

Kisah ini panjang dan berliku untuk di ceritakan, tapi tak apalah..
aku sinopsiskan saja dalam bingkai cerita sederhana masa remajaku dulu.
berlalunya waktu, aku menamatkan studyku di MTsN Talaok Bayang Pesisir Selatan Sumatera Barat.

Sebuah memori kisah kasih masa remaja dalam pertemanan sekolah masa yang begitu indah. kisah itu menambah sedih akan kisah kasih yang tak sampai ke arena takdir hidup aku dengannya.
pada sebuah kenangan manis berbuah pahit, tatkala moment rekreasi di sebuah objek wisata pergunungan bayang sani indah menjadi saksi perpisahan, bahwa aku akan pergi merantau tinggalkan kampung halaman dan si hitam manis yang ku cintai masa itu. Ia menitipkan blues hitam kepadaku sebagai kenang-kenangan bahwa baju itu tanda ia akan selalu bersama dalam derap jejak langkah kehidupankku merantau ketanah jawa, ya tahun 92 yang berlalu.
aku merantau karena gagal study karenaku sakit, Ariyati melanjutkan pendidikannya ke jenjang sekolah menengah atas SMA negeri Bayang.

Tiga tahun berlalu, hingga Ariyati menamatkan pendidikannya.
aku dan Ariyati tak berpisah dalam jalinan hati dan cinta hingga rasaku menilai begitu.
karena memang kami tak ada kabar berita semenjak aku meninggalkannya merantau, entah dimana keberadaannya ketika itu selepas ia tamat sekolah.

Pada suatu ketika aku pernah pulang ke kampung halaman dari perantauan tepatnya dari kota bandung.
ibuku pernah bercerita, nak..?.
bahwa dulu ada seorang wanita kerumah kita bertamu, menanyakan kabarmu yang tak kunjung pulang dari bandung.
ia pernah berdua memasak bantu ibu sambil bercerita banyak hal tentangmu. sampai pekerjaan dapur ibu selesai dia pamit pulang ke rumahnya karena hari sudah sore pada waktu itu.

Aaahhh... aku terdiam dengan seksama tak terasa airmataku menitis di sela pipi mendengar cerita ibuku.. spontan aku palingkan wajahku ke samping ibuku karena aku sedih dan malu.

Ariyati dulu pernah mengirim surat ke alamatku di cileunyi Kabupaten Bandung, sewaktu Ariyati dapat kabar akan alamatku dari ibuku bahwa ia pernah bekerja di department store di kota Medan.
anehnya ketika itu surat yang dikirimkannya kepadaku tak pernah sampai ke kota bandung ke tanganku sendiri, entah kemana menghilangnya?
hingga tertanya sendiri dalam gumpalan rasa yang hiba, ohh Ariyati?? ini isyarat alamat suratmu tak pernah sampai ke tanganku, pertanda kita tak akan mungkin bersatu berjodoh memandu bahtera rumah tangga berdua nantinya, gumamku pilu dalam lamunan, bahwa kisah kasih kita ini tak akan sampai Ariyati
dan itu terbukti berlalu hingga kini.

Pada suatu moment dalam sosial media facebook, aku mengenal di ruang publik pertemanan sosok si hitam manis dengan nama akun facebooknya, wajah si hitam manis dan nama itu sangat aku kenal banget. aku coba mengintai postingan kronologis tentang facebooknya, ternyata memang Ariyati si hitam manis yang dulu pernah aku cintai ada di ranah sosial media facebook.
oohh berkaca-kaca airmataku menatap satu persatu lembaran demi lembaran tentang kehidupannya bahwa ia si hitam manis itu telah bahagia dengannya bersama buah hati tersayangnya.
ahh, aku kulum saja pandanganku dalam doa ini, semoga ia bertambah bahagia dan langgeng menjadi keluarga samara, sakidah mawaddah wa rahmah hingga ke jannah amin ya allah.

Harapanku..

Oohh dalam hati kecilku, aku masih punya rasa kepadanya
tapi aku coba untuk dewasa dan bijak tentang kisah dan rasa ini.
bahwa memang laju hidup kita telah jauh berbeda dan berubah. kau di sengata sana aku di kota jakarta. tak akan mungkin kisah di sambung kembali.
bahwa kita telah memiliki dunia yang berbeda dan telah tunduk kepada takdir jodoh di masing-masing kita ya Ariyati.

Biarlah hasratku kafani ke dalam peti memori terkunci mati.
tak ingin bangkit mengurai kasih yang tercerai berai dalam kasih yang tak sampai.
aku dan realitaku pun telah bahagia dengannya.
doaku sekali lagi,
berbahagialah kau bersamanya.

## Ku petik sebuah memori sederhana.
pahit untuk di kenang, sulit melupakannya. ##
kisah remaja di era tahun 90 an.

HR RoS
Jakarta, 8 agustus 2016, 12:50





CATATAN SENJAKU,
DI BALIK TIRAI MIMPI

Ke, 3

Bunga tidurku siang tadi
membawa diriku hanyut pada ilusi
ilusi seribu bayangan kurcaci mengoda,
mengajakku untuk terjun dari bulan.
ia merupa alien alam mimpi menembus lorong galaxi,
di ruang kosong berkuda ufo
anganku terikat bergantung tak bertali,
pada impian kekasih hati yang tak lagi di mengerti.

Aahh,
aku dungu pada ego diri,
yang telah kosong
dengan suasana lelap pada kunci makrifat cinta yang tak ku pakai lagi.

Pada goresan senja
yang menyapa tinta
di langit biru memadah.

cerahnya sebuah realita di jalan ini
lurus memanjang tak bengkok lagi
meski lembah-lembah terjal membayangi
langkah kaki optimis memandu senja.
walau semak belukar di taman onar,
bak onak duri menikam telapak jejak kehidupan.
aku tetap melangkah meniti senja, bermuara dalam barisan sajadah bersamanya.

Aku yang selalu memetik harap pada doa berjamaah
bersama kekasih menemui maha kekasih.
di haribaan pertapaan samarah
sujud dalam cinta kepada-Nya
bersamanya,
ya kepada-Nya.

HR RoS




SUDAHLAH..


Aku bungkam pada ejaan malam
terik akan redup senja ini
siluet malu di balik awan
sunyi akan memeluk bumi
lilin di altar rumahku,
tak kunyalakan lagi
lentera itu kubiarkan padam.

Aku terdiam sudah,
menatap impian pada sebuah rindu
telah mengecewakanku.

dulu,

Bila malam seruling rindu selalu menyapaku,
aku terpesona dengan magnet cintanya
ternyata hanya bualan saja.

sudahlah,

kini rinduku juga telah bungkam
aku kibaskan saja bayangan semu
mengusik lamunanku.

Telah malam, mendung di balik awan.
rintik berjatuhan menyapaku di ujung dahan
mengenangi telaga mini di taman hati
cintaku malang, layu sebelum berkembang.

HR RoS






Cerpen-SI
SUKA DUKA NIAGA DI BALIK HIDAYAH.


Sebut saja namaku Rahmat,
Rahmat dan kawan-kawanya melangkahkan kaki menuju sebuah kota daerah Sumedang Jawa Barat, pada pagi hari itu.

kami bertiga berada di kota Bandung, aku dan kawan-kawan menunggu bus antar kota menuju ke destinasi hendak niaga keliling antar kampung. masa itu, Rahmat tinggal di salah satu Kecamatan Kabupaten Bandung, tepatnya tak jauh dari terminal Cileunyi.
Pagi sekali Rahmat bertiga dengan kawannya, menunggu bus yang ia nanti medal sekarwangi datang menepi.

tit..tiitt tiiittt....

bunyi klakson bus memanggil penumpang di tepi jalan.
seketika kami bertiga berlari menaiki barang dagangan ke bagasi yang kami bawah ke kota tahu itu, tahu yang terkenal gurihnya.

kawanku sebut saja namanya Alfian dan Aichun,
Alfian, Aichun masih ada hubungan kekeluargaan dengan Rahmat.

Dalam perjalanan di atas bus kami bercakap-cakap arah tujuan tempat kami akan niaga keliling nanti.
Alfian berpesan, sore nanti kita harus pulang ke Bandung ya, jangan sampai kemalaman kita nanti. karena bus ini sore tak ada trayek lagi ke Bandung sahut Alfian.

siap Alifian!!! jawaban Aichun.
aku juga menyanggupi pesan Alfian, oke deeehh.

satu jam perjalanan kami sudah sampai di batas kota tahu itu. hingga kami memutuskan, Alfian memilih turun di kota Sumedang, Aichun melanjutkan ke daerah Wado ujung Sumedang, perbatasan daerah Tasikmalaya.

saya sendiri Rahmat menuju arah barat kota tahu itu.
tepatnya daerah Cimalaka masih pinggiran wilayah kota tahu itu.

Di awal pagi,
aku menjajakan daganganku, alhamdulillah.
pelaris beberapa buah saja daganganku kala itu.
lumayan dah, buat sarapan pagi.
di pagi hingga ke siang hari melangkah demi langkah lelah berpayah, menjajakan dagangan di atas kepala tak kunjung laku lagi.

Uuhhh, lapar sudah mulai menyapa,
aku istirahat di salah satu kedai kopi pesan rebus mie instant,
buat penambah tenaga aku berjalan nanti,
aku kembali berjalan lepas dari
kedai itu.

Ibu-ibu, teteh, mamang beli barang pecah belah ni,
murah-murah lo, sahutku.

moal mang..
jawaban mereka salah seorang,
dengan bahasa Sundanya.

aku tak patah semangat,
terus melangkah dan melangkah.
hingga pada tengah hari aku berhenti di salah satu mushala kecil menunaikan shalat dzuhur
sambil rehat kembali.

Resahku mulai menyapa lelah,
karena daganganku itu tak lagi laku.
ahh, lamunanku tertuju ke kampung halaman.
ingat kala bersama orang tua dulu. semuanya tersedia untuk di makan tak berpayah-payah begini, gumamku.
aku Alfian dan Aichun adalah anak perantau dari Sumatera.
kala remaja pergi merantau karena di kampung masih kecil sudah putus sekolah.

Lamunanku buncah, ingat pesan Alfian pagi tadi di atas bus,
sore hari nanti kami harus pulang ke bandung.
aku gamang sambil berjalan dagangan ini tak laku juga, ahhhh gimana ini ya, lirihku hiba.

Padahal jam sudah menunjukkan jam 16,00 wib. waktunya aku sholat, kebetulan aku mampir di salah satu mushala di daerah Cimalaka itu. daerah yang tak begitu aku kenali.
aku tak sempat sholat berjamaah
kala itu, karena terlambat menunaikan tepat waktu bersama jamah di kampung itu.
aku perlahan memasuki beranda mesjid. menitipkan barang dagangan ke kedai sebelah mushala.

Rahmat adalah anak yang pemalas sebenarnya, melaksanakan sholat lima waktu.
tapi entah kenapa gerakan kakinya kala itu, ringan memasuki tempat ibadah.

aku Rahmat itu, menunaikan kewajiban sholat azhar, selesai shalat salam kanan dan ke kiri Rahmat berdoa sebentar saja.. lalu aku di sapa oleh salah seorang jamaah kebetulan ada di samping saya.
Ia bertanya??
dari mana dik asalmu?
lantas aku menjawab,
aku berasal dari Sumatera pak, tinggalku di Bandung tepatnya di Cileunyi..

Oohh seloroh jamaah bapak tua itu, apakah adik mau pulang ke Bandung sore ini ya..?

padahal sore-sore begini sudah tidak ada lagi bus ke Bandung,

oh ya, betulkah itu pak tanyaku?
iya benar dik, jawab pak tua itu.

kalau begitu, adik istirahat saja semalam di mushala ini menunggu besok pagi.

Oo ya dik, besok pagi ada pasar di samping mushala ini. pagi-pagi sekali adik buka dagangannya ya!
hari sudah sore aku pamit ya dik, ya silahkan pak jawabku.

aku terasa lega dengan ucapan bapak tua itu, persis yang di ingatkan oleh Alfian di dalam bus medal sekarwangi pagi tadi.

Sore itu, aku mandi di mesjid dan kembali ke kedai tempat barang yang aku titipkan tadi.
duit daganganku sisa beberapa saja. ahhh, lumayan buat makan sore ini hanya mie instant rebus lagi,
karena tak ada kedai itu jualan nasi.. ahhh, lemasku hilang seketika.

selesai makan mie instant,
tak beberapa lama, hari sudah menunjukkan waktu maghrib.
aku menunaikan sholat maghrib berjamaah dan hingga ke isya.

Singkat cerita, lepas isya, jamaah sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
tinggal aku sendiri di mushala yang kian sepi.
aku berfikir kenapa ya...? daganganku tak laku-laku siang tadi.
tak seperti biasanya di kota Bandung,
aku kalau berjualan sebentar saja di kota Bandung cepat lakunya.

Mmmm..
kenapa jauh-jauh begini padahal aku tak begitu paham wilayah kota tahu ini.
selepas sholat isya, sebelum rasa kantuk menyapaku,
aku sempatkan wirid kalimat,
La illaha ila anta subhanaka inni kuntumminazzalimin seratus kali.
Hari sudah menunjukkan jam 23,45 wib.
aku merasa kedinginan yang teramat sangat, seluruh tubuhku menggigil, gigiku pun beradu.
seperti menggigit batu-batu kecil di gigi ini.

Aku memutuskan mencari selimut untuk menutup tubuhku yang super dingin.
hingga mataku tertuju kepada sajadah yang berserakkan di lantai mushala.
aku selimuti badanku, kantukku menyapa, hingga mata ini terlelap.

Ketika sadarku hilang masuk ke dalam alam mimpi, aku bermimpi...
jauhhh, dari lorong kosmik rasa mimpi.. dari atas langit ada sebongkah kerlip cahaya turun menghampiriku, bak meteor melaju. seketika cahaya itu menyinari dada ini.
aku lirik ia mendekati satu depa diatas wajahku.
telinga pun berdering seperti lonceng berbunyi.

cahaya itu sangat menyilaukan bola mataku seakan siluetnya menerangi seantero alam mimpi.
aku haru dan tertegun,
bertanya dalam lelap mimpi sendiri dalam hati.
cahaya apa ini ya illahi..?
seketika di tengah cahaya itu, tertulis kalimat MUHAMMAD bertuliskan huruf Arab.
aku membaca dan menatapnya dengan jelas. setelah selesai dengan khusyuk aku membacanya di dalam hati.
perlahan cahaya itu, menghilang dari pandangan mimpiku.

Aku terjaga seketika, melihat jam dinding mushala telah menunjukkan jam 2:23 wib.
bertanya dalam resah, apa yang telah terjadi dalam mimpiku barusan.
ya Allah, pertanda apa ini?

Ahhh, jawaban misteri itu tak mampu
aku pecahkan di sepi begini,
rasa takut menghampiri.
aku lebih baik melanjutkan tidur
hingga aku terbangun waktu subuh, menunaikan sholat berjamaah.
selesai aktifitas sholat subuh kala itu, fikiranku teringat pesan pak tua sore tadi,
untuk berjualan di samping mesjid pagi ini, selesai sholat subuh.
lantas aku pergi membangunkan yang punya kedai itu, mengambil daganganku yang aku titipkan kemaren sore, dan sekaligus pamit ke penunggu kedai tempat barang niaga aku titipkan.
pagi-pagi sekali aku cari tempat untuk membuka dagangan.

Aneh bin ajaib, daganganku belum selesai aku buka semuanya.
tiba-tiba saja, entah dari mana orang-orang belanja mendatangiku, tanpa ada tawar menawar mereka belanja dan langsung pergi.
gak berapa lama daganganku habis terjual.. hari baru menunjukkan jam 7 pagi.
padahal orang-orang di pasar pagi itu terheran-heran menatapku.. pagi sekali barangnya sudah habis terjual.
ocehan orang-orang di pasar terhadapku.
kita-kita ini para pedagang lama baru mau buka dagangan, dagangan anak muda itu sudah habis terjual.
anehnya lagi kata mereka.. yang belanja orang-orang yang gak kita kenal selama ini.
entah dari mana orang- orang itu datangnya??

Tak menunggu berapa lama, aku bersiap-siap menutup peralatan tempat daganganku, karena daganganku sudah habis.
aku memilih cabut dari pasar itu segera.
pergi ke sebuah terminal kecil,
terminal Cimalaka tak berapa jauh dari pasar itu.

Lalu aku melanjutkan perjalanan menaiki bus ke kota Bandung kebetulan bus medal sekarwangi aku tumpangi kemaren pagi sudah ada antri di terminal itu.

Sesampainya aku di sebuah
terminal Cileunyi Kabupaten Bandung,
aku telah di sambut oleh Alfian dan Aichun.
yang dia risau bertanya??
haaiii kau Rahmat..!!??
kenapa kamu gak pulang kemaren sore..?
kami risau menanti semalaman ini.
dan kemana daganganmu Rahmat!!!??
aku sangka kau tersasar di Sumedang itu,
karena kau orang baru di negeri Sunda ini.

Aaahhh...
aku ketawa dan tersenyum kepada mereka.
daganganku sudah habis semua terjual lo tanpa tersisa.

Uuuhh, masa sih.
aneh ya gumam Alfian,

kau baru datang dari kampung bisa sehebat itu berjualan.
hebat kau Rahmat, puji Alfian.

aku saja yang sudah bertahun-tahun,
berniaga tak pernah habis, kamu kok bisa.
aku kira daganganmu itu di curi orang.
sekali lagi aku bangga padamu
benar-benar hebat kau ini rahmat,
aku hanya senyum saja.

Padahal rahasia yang berlaku
denganku apakah dengan hikmah hidayah mimpi yang aku alami itu,
ketika bermimpi bertemu dengan nur Nabiullah Muhammad SAW.
mmm,
tak aku ceritakan kepada mereka yang menungguku di terminal itu.

Hingga sampai kini aku tak lagi bertemu mereka kawan-kawan seperjuanganku dulu.
entah di kota mana ia berada sekarang
entahlah.

HR RoS
Kenangan tahun 1994,
Di kisahkan oleh: HR Romy Sastra
Jakarta, 26-5-2016. 00:22





NOKHTA DI TENGAH BADAI


Berlari rinai dalam buaian kasih
menitis jatuh ke bumi
terlena di ayunan sang bayu
oohh, sang pemimpi..?
di panggung derita.
terpukau dengan nada nyanyian hati
riak awan tak kisah menitis
mendung akan meluluh lantakkan
kenduri di tiang-tiang pengantin.

Kawan...
badai rumah tangga yang di bina
baru saja menikmati cincin perkawinan
seketika,
membawa kehancuran nokhta cinta
yang telah berpayah-payah di jalinnya
antara pencinta bersanding di singgasana arjuna
di pentas pagar ayu rumah tangga istri pertamanya.

Kenduri,
yang bersolek setelah ijab kabul
di depan penghulu.
buyar menikam malu,
nohkta di tengah badai pecah berantakan,
janji tertunai kasih tergantung dengan deraian airmata.

Pesta usai belum pada waktunya
maruah tergadai
dalam kasih yang tak sampai.

HR RoS
#dalamkonflikkenduri.....





JIKA SEMUA MENJADI MASA LALU

Terhenti sejenak,
berfikir.
dalam derap langkah memacu jejak,
bingkisan yang aku bawa ke arena pertunjukan,
seperti kado-kado yang tak beralamat.
pada puing-puing aksara yang bertaburan,
adalah memori yang telah mati, berupaya menghidupkan kembali.

Ada cerita masa lalu,
ada deburan ombak,
ada debu-debu kehidupan,
cerita selintas angan menyapa,
bayangan masa depan mencubit perih.
aku lukis,
dalam kanvas yang tak berwarna,
meriak syair yang tak bermakna
ia adalah seni,
pada madah yang ku luah ini.

Jika semua menjadi masa lalu,
tak di titipkan ke sebuah makalah tinta.
maka cerita hidup membisu,
yang tak bisa di nikmati oleh anak cucu,
seyogyanya
di lestarikan ke dalam diary itu.

Diary itu, ya tulisanku.

Berharap pada budi yang bersahaja
memilah daun-daun yang berguguran
jatuh layu kering menghujani bumi.
ia bukanlah sampah pada noda di perjalanan.
melainkan pupuk-pupuk organik
di rumpun ilalang
dan pokok-pokok yang menjulang tinggi.

Ia adalah tilam permadani jelata
dalam aksara tinta hidup yang bermaruah.
meski kisah tak sama antara daun kering dan ilalang yang tegar berdiri.

Oh, jelaga hidup
masa lalu yang kelam
hadirlah mutiara mimpi menjadi impian
yang berkenyataan.
meski impian itu abstrak
di jejak yang tak pernah nampak.

Aku malu pada kesombongan diri,
yang pernah jadi sampah dan kucoba membuang bayangan hitam menggodaku, dalam ego-ego yang tak perlu.
aku singkapkan rasa ini ke lentera cinta.
pada kearifan hidup,
pelitakan masa depan dalam derap
walau jejak itu tertatih.

HR RoS





#SEBUTIRPASIRYANGTERSISIH#


AKU HANYA SEBUTIR PASIR YANG TERCECER
DI PADANG SAHARA MAYAPADA
Mmmmm....
SASTRAKU BERDURI TAKUT MELUKAI,
BAK KERIKIL DI JALANAN SANG MUSAFIR YANG BERKELANA.

LUAHAN MAYA SEAKAN TEREALITA HAMPA
BAK BUALAN TAK BERMAKNA CERITA.

PASIR BERBISIK,
DI JEJAK SANG KAFILAH CINTA
YANG RELA DI SAHARA MAYA TERJAJAHNYA HARGA DIRI
DI SETIAP LANGKAH DIKSI
DI BAIT-BAIT AKSARA YANG RANCU
AKU MALU.

BIARLAH MUSAFIR ITU ASYIK MEMANDU BISU
KE DALAM JIWANYA YANG SUJUD
KE HAMPARAN ALAM YANG SETIA,
YA MAHABBAH....
JUBAHKANLAH KEDAMAIAN ITU.

HR RoS





DESTINASI

Berkabut sebak, jejak luruh dalam bayangan tak terpijak.
tatapan tajam menatap celah,
memilah garis rasa,
lurus tak tercela,
aku raba doa menyingkap sukma.
mati di dalam hidup
jantung bergerak nadi bergetar
alam sunyi menepi
hening bak lonceng berbunyi dalam bashiran, sami'an ilallah.

Fana.....

Tubuh halus menembus kosmik alam diri
menatap sagara riak berwarna,
menggodaku.
sampai disini keindahan-Nya
godaan itu,
ia adalah nafsuku.
aku berlari meninggalkan jejak abstrak

dalam tarikh nafasku tahan,
tak ingin tergoda dalam kancah warna.
Destinasi imanku melaju
dalam perjalanan fikir akal dan nafsu
meninggalkan rona semu.
akliq nakliq fitrahku,
lebur berbaur ke kolam rasa.
menuju awas tak berujung,
tak bertempat, bening
tak berwarna lagi.

Lingga saliraku kaku dalam yoga zikra
pentauhidan itu melaju menuju tauhid destinasi yang hakiki.
tak berwujud,
kepada maha jiwa
bayanganku sirna, yang ada adalah, IA..." makrifat itu.

HR RoS





‪#‎TERTANYA‬,


Tadi
kau
bertanya
tentang
hatiku,

Aku jawab sudah.
Ketika
aku
bertanya
tentang
hatimu,
kau
diam
membisu...?

Di dermaga ini, aku menatap sagara rindu.
semuanya seakan telah tenggelam
ke dasar lautan yang terdalam.

HR RoS





SURAT MAYA YANG TAK TERBALAS
.........biarlah.....aku ikhlas.........


Duh,
kertas putih ini akhirnya lusuh
seiring waktu yang kian berlalu
bibirku telah terkunci bisu
tanganpun telah kaku menulis rindu.

Sulaman yang kurajut tak lagi di hargai
ingin kupintal saja benang usang ini
merenda perca jadikan tilam peghias diri.

Kembang itu telah kering berguguran menghujani bumi.

Dinding maya telah gulita,
pelitanya padam.
hiasan warna cinta terjajah maruah,
seakan lukisan itu pudar warnanya.

Kini, lara rasaku tak lagi berasa.
koloni sebak di dada,
menyeruak di sela rongga.

Oh, memori...
tinggallah kau memori,
aku akan pergi meninggalkan jalan ini.
dengan secarik kertas kumadah
tentang sebuah luka yang dilukai,
tentang ego yang tak pernah padam,
tentang rasa yang tak pernah sama,
aku rela, apa yang terjadi.
biarlah surat mayaku tak di balas
aahh, tak apa.

Aku akan berkawan sepi
bersemayam dalam ilusi
berselimut bayangan diri.

Selamat tinggal wahai kekasih
berlalulah mimpi-mimpi yang termenari
merajut kisah yang tak pernah manis
oohh mimpi, kau bunga tidur
lelap
kau lenakan aku hanya sesaat saja.

Kasih, izinkan aku pergi berlayar jauh
ke sebuah pulau
pulau relaliti di tengah lautan hati ini
meski yang kutempuh langkah itu misteri....

Dulu kita bertemu bertatap hidung
kini berbalik arah beradu punggung
aku pergi untuk tidak kembali lagi.

Duh, maafku tak pernah diberi.
surat cinta yang aku kirimkan
tak lagi pernah di hargai.
akankah mimpi-mimpi kasih kita telah usai
dari maruah yang tergadai.

Anehnya,
kesabaran ini masih aku semai
rindu-rindu selalu bersemi
bodohnya aku tuhan.

Rintih kasih telah terhenti
majas ini memiliki kebijakan yang rapuh
dari kisah yang selalu pilu.

Aku menitip pesan,
jagalah kesehatanmu.
gapailah sebuah impian masa depan
berbahagialah disana bersamanya...
dalam bingkai kodrat illahiah,
tak apalah suratku tak terbalas.

Akhir cerita dari sebuah kisah
kini aku akan berkelana jauh
menuju dermaga cinta yang nyata
meski langkah ini tertatih
mencari sebuah kearifan diri
menyulam kedamaian hati.

Asa...?
temanilah aku meraih mimpi yang terakhir
walau mimpi-mimpi itu tak sanggup aku beli.

HR RoS
21-8-2015. 22,10





‪#‎KABUTSENJA‬


Berselimut kabut,
memintali tenunan senja
di kaki langit.

Berdiri di atas titian usang,
tertumpang tunggul lapuk.
berlalunya kasih sayang
bersama sang bayu,
yang terus melaju dan melaju
meninggalkan jejak dalam luka,
meski aksara alam itu adalah
bahasa diammu ikut juga membisu.

Bayu, kau menitiskan embun...
berharap aliran banyu meretas
ke sela-sela daun.
kelopak tak lagi mekar,
mentari meredup
senja berkabut
kian menyelimuti sukmaku.

Aahhh, gita...??
simphonimu,
bernada gesekkan biola tua.
membuatku,
gamang bernyanyi memadu rindu.

Yaaa,
aku ikatkan saja cerita yang dulu bersemi
telah bias menjadi semu dan berdebu.

Sinonimkan saja kemesraan kita
yang dulu pernah kita ceritakan
tentang dunia ini indah.

Mimpi, kau kembang taman hayalku
kau menitip misteri pada asa yang terjajah lara,
tertikam di jejak yang basah
jatuh melukai,
tersungkur diri membuat malu.

Diambang senja berkabut
di kaki langit berbisik lirih
di mana dermaga rindu
akan kulabuhkan kini..??

Resah memadah gita puisi
dalam obsesi yang tak kenal lelah
mengejar impian pada senja yang kian merona.

Aku sujudkan sajalah,
rasa cinta suci ke mihrab sajadah senja.
memacu doa pada Illahi rabbi,
disanalah pemberhentian jejak terakhir itu.

HR RoS
Jakarta yang berkabut.





Surat cinta buat maya,
MAAFKAN SEMUA SALAHKU....


Kasih,
dalam linangan airmata
aku menulis sepucuk surat untukmu
tak kupuisikan majas ini dengan rindu
majas ini telah datar
seiring tintaku akan memudar.

Dalam lembaran kertas yang kian lusuh,
tanganku kaku, bibirku kelu.
karena kau telah memberikan tanda-tanda akan mundur dariku.

Kasih,
aku telah terjerat ikrar kesetian yang akan menghantarkanmu ke ujung waktu.
aku tetap setia dengan janji itu
meski perjalanan ini kian tak menentu tuk kutempuh,
karena kau akan berlalu,
pergi jauh meninggalkan cerita
pada hembusan bayu ke ruang bisu,
pertanyaan ini,
masih adakah rasa cinta dihatimu untukku..??

Aku rela terhakimi, jikalau aku benar-benar bersalah terhadapmu dan maafkanlah salahku.

Kasih,
kini kusadar, studymu begitu berarti
dan nasehatmu telah banyak mendewasakan ke kanak-kanakkanku,
aku haru akan studymu itu.

Terimalah surat cinta ini kasih.!
tataplah setiap goresan-goresan tintaku lewat puisi, bahwa aku telah hadir di hadapanmu dan memelukmu, aku yang telah lama menunggumu di ruang rindu,
kau yang kuimpikan selalu di dalam hidupku.

Kasih,
Aku sadar kini, sakitnya sebuah perpisahan yang akan menyapaku, bila takdir itu terjadi aku telah pasrah meski ku tak rela.
Tuhan, aku berterima kasih yang telah mempertemukanku dengan cinta ada dan tiada ini.

Kasihku,
Semoga surat ini kau baca dengan seksama.
dan aku ingin kau membalas sepucuk surat di maya ini..!
pertanda apakah aku masih ada dihatimu..??
ataukah kau telah berlalu sejauh mungkin dariku.
entahlah...

Aku tunggu balasanmu dengan jujur.

Aku yang mencintaimu pada maya,

HR RoS
Sepucuk surat cinta yang galau.... for you.





Renungan senja,
LANGKAH KEHIDUPAN ADALAH NGARAI YANG MENGINTAI


Jejak langkah jalan setapak gontai melaju lunglai, bak daun-daun yang melambai berbisik lirih disela dedahanan.

Diri,
dari tiada ia menitis menjadi ada
konsep illahiah, pada penciptaan yang sempurna.
beradunya koloni kasih sayang diantara sang penikmat rasa cinta dalam desah asmaradana.

Ia tertitip hikmah dari rahmah rahim-Nya,
pada terbentuknya insani yang kamil,
di kolam garbah...,,
tercipta, terlahir fitrah dalam dendang buaian sibuah hati di tingkah nyanyian manis.

Bibit yang mulai tumbuh menari
menjulang di awan-awan,
hembusan bayu menyapa sendu di dedaunan,
putik-putik bermekaran adakala berjatuhan,
di tingkah ayun gelombang zaman
acapkali alpa dibalik warna kehidupan.

Roda berputar pada poros zaman adalah keniscayaan,
akan terhenti pada janji yang dipatri oleh takdir azali.
nyanyi sumbang tak senada dalam gesekan biola, syahdunya alunan bunian air di pancuran,
tak mampu merubah bisingnya deru debu di perjalanan yang gersang.

ahhh..

Kadangkala jejak tak seiring jalan
dengan tuntunan,
Sering berlabuh ke dalam penyesalan.
derap langkah kehidupan,
di bayangi ngarai menganga lebar mengintai.
jerih berpeluh nista tergadai pada
aroma selembut sutera
tergoda oleh rayuan hampa, hina.

Oohh... diri.
bercerminlah kepada kisah yang pernah terjadi,
tuailah kearifan budi dalam nafas-nafas fikir.

Oohh... hati,
bergurulah kepada awas,
akan terbukanya makna rahasia illahi.

Oohh... memori yang menghampiri
petiklah lembaran hikmah pengalaman
jadikan iya tuah yang dimaknakan.

Jalan ini sebentar lagi yang akan sampai di penghujung jalan,
padahal kehidupan terus berlanjut
mengiringi zaman.
damaikanlah zamanmu wahai budi oleh jubah kewibawaan diri yang sememangnya sama-sama di mengerti,
biar tauladan diri berarti.

Jangan memaksakan kehendak berlari,
jikalau jalan ini terjal yang akan terjatuh ke lembah yang tak akan bangkit lagi.
hormatilah fitrah yang di selipkan dalam sanubari,
mengukur bayangan oleh tantangan zaman,
berhati-hati adalah kewaspadaan yang tak ingin tergelincir ke ngarai bibir yang akan melukai.

Remang senja telah menyapa, pada sisa-sisa usia.
sebentar saja pelangi mewarnai senja,
yang akan berlalu tenggelam ke ruang misteri,
senja adalah gambaran wajah alam
renungan menuju jalan Tuhan
raihlah mahabbah kasih-Nya
dalam ibadah yang tak memandang surga lagi.

palingkan murka-Nya pada langkah yang salah arah,
oleh ke egoan diri yang merasa benar sendiri,
dahan telah kering
menunggu ranting jatuh ke bumi.

HR RoS





puisi kemerdekaan,
‪#‎AKUANAKDUSUNMENJERIT‬


Tiupan alunan kidung gembala
menyapa simphoni aroma pagi
secercah terik menuntunku ke jalan aksara.
di desaku, aku belajar tentang cinta.
pada negeri yang makmur nan sentosa
ejaan yang kubaca ketika masa kecil
menatap jendela dunia
negeri ini katanya telah merdeka.??
tapi kenapa hidup di negeriku susah.
padahal bau anyir darah pejuang yang gugur
di tembus peluru,
semerbak mewangi terkubur di tanah pertiwi
mereka menangis datang lewat mimpi
bahwa revolusi ini belum usai.

bayu kau nafas surga itu,
serasa sesak sudah dada ini
di tunggul senja memadah puisi
aku kirimkan seuntai karangan bunga
di nisan pahlawanku.
aku menghela nafas panjang ke dalam sukma
menghirup aroma kemerdekaan
terjerat oleh kelaparan dan kemiskinan
negeriku seakan tersandara oleh kemunafikan
segelintir anak-anak bangsa,
perusak cita-cita jerih payah pahlawanku di ujung bambu.

Katanya negeri ini telah merdeka..?
kok rasanya hidup di negeri sendiri payah.
padahal lautan, gunung-gunung dan sawah
menyimpan kekayaan yang tak terhingga
tak dapat di nikmati dengan layak oleh veteran
dan aroma anyir darah tentaraku.
semestinya,
tirani pahlawanku makmur sudah
dari tetesan darahnya
homo homini society
di kebiri oleh anak bangsa sendiri.

HR RoS




DESTINASI

Berkabut sebak, jejak luruh dalam bayangan tak terpijak.
tatapan tajam menatap celah,
memilah garis rasa,
lurus tak tercela,
aku raba doa menyingkap sukma.
mati di dalam hidup
jantung bergerak nadi bergetar
alam sunyi menepi
hening bak lonceng berbunyi dalam bashiran, sami'an ilallah.

Fana.....

Tubuh halus menembus kosmik alam diri
menatap sagara riak berwarna,
menggodaku.
sampai disini keindahan-Nya
godaan itu,
ia adalah nafsuku.
aku berlari meninggalkan jejak abstrak

dalam tarikh nafasku tahan,
tak ingin tergoda dalam kancah warna.
Destinasi imanku melaju
dalam perjalanan fikir akal dan nafsu
meninggalkan rona semu.
akliq nakliq fitrahku,
lebur berbaur ke kolam rasa.
menuju awas tak berujung,
tak bertempat, bening
tak berwarna lagi.

Lingga saliraku kaku dalam yoga zikra
pentauhidan itu melaju menuju tauhid destinasi yang hakiki.
tak berwujud,
kepada maha jiwa
bayanganku sirna, yang ada adalah, IA..." makrifat itu.

HR RoS





‪#‎TERTANYA‬,

Tadi
kau
bertanya
tentang
hatiku,

Aku jawab sudah.
Ketika
aku
bertanya
tentang
hatimu,
kau
diam
membisu...?

Di dermaga ini, aku menatap sagara rindu.
semuanya seakan telah tenggelam
ke dasar lautan yang terdalam.

HR RoS





SURAT MAYA YANG TAK TERBALAS
.........biarlah.....aku ikhlas.........


Duh,
kertas putih ini akhirnya lusuh
seiring waktu yang kian berlalu
bibirku telah terkunci bisu
tanganpun telah kaku menulis rindu.

Sulaman yang kurajut tak lagi di hargai
ingin kupintal saja benang usang ini
merenda perca jadikan tilam peghias diri.

Kembang itu telah kering berguguran menghujani bumi.

Dinding maya telah gulita,
pelitanya padam.
hiasan warna cinta terjajah maruah,
seakan lukisan itu pudar warnanya.

Kini, lara rasaku tak lagi berasa.
koloni sebak di dada,
menyeruak di sela rongga.

Oh, memori...
tinggallah kau memori,
aku akan pergi meninggalkan jalan ini.
dengan secarik kertas kumadah
tentang sebuah luka yang dilukai,
tentang ego yang tak pernah padam,
tentang rasa yang tak pernah sama,
aku rela, apa yang terjadi.
biarlah surat mayaku tak di balas
aahh, tak apa.

Aku akan berkawan sepi
bersemayam dalam ilusi
berselimut bayangan diri.

Selamat tinggal wahai kekasih
berlalulah mimpi-mimpi yang termenari
merajut kisah yang tak pernah manis
oohh mimpi, kau bunga tidur
lelap
kau lenakan aku hanya sesaat saja.

Kasih, izinkan aku pergi berlayar jauh
ke sebuah pulau
pulau relaliti di tengah lautan hati ini
meski yang kutempuh langkah itu misteri....

Dulu kita bertemu bertatap hidung
kini berbalik arah beradu punggung
aku pergi untuk tidak kembali lagi.

Duh, maafku tak pernah diberi.
surat cinta yang aku kirimkan
tak lagi pernah di hargai.
akankah mimpi-mimpi kasih kita telah usai
dari maruah yang tergadai.

Anehnya,
kesabaran ini masih aku semai
rindu-rindu selalu bersemi
bodohnya aku tuhan.

Rintih kasih telah terhenti
majas ini memiliki kebijakan yang rapuh
dari kisah yang selalu pilu.

Aku menitip pesan,
jagalah kesehatanmu.
gapailah sebuah impian masa depan
berbahagialah disana bersamanya...
dalam bingkai kodrat illahiah,
tak apalah suratku tak terbalas.

Akhir cerita dari sebuah kisah
kini aku akan berkelana jauh
menuju dermaga cinta yang nyata
meski langkah ini tertatih
mencari sebuah kearifan diri
menyulam kedamaian hati.

Asa...?
temanilah aku meraih mimpi yang terakhir
walau mimpi-mimpi itu tak sanggup aku beli.

HR RoS
21-8-2015. 22,10





#‎KABUTSENJA‬

Berselimut kabut,
memintali tenunan senja
di kaki langit.

Berdiri di atas titian usang,
tertumpang tunggul lapuk.
berlalunya kasih sayang
bersama sang bayu,
yang terus melaju dan melaju
meninggalkan jejak dalam luka,
meski aksara alam itu adalah
bahasa diammu ikut juga membisu.

Bayu, kau menitiskan embun...
berharap aliran banyu meretas
ke sela-sela daun.
kelopak tak lagi mekar,
mentari meredup
senja berkabut
kian menyelimuti sukmaku.

Aahhh, gita...??
simphonimu,
bernada gesekkan biola tua.
membuatku,
gamang bernyanyi memadu rindu.

Yaaa,
aku ikatkan saja cerita yang dulu bersemi
telah bias menjadi semu dan berdebu.

Sinonimkan saja kemesraan kita
yang dulu pernah kita ceritakan
tentang dunia ini indah.

Mimpi, kau kembang taman hayalku
kau menitip misteri pada asa yang terjajah lara,
tertikam di jejak yang basah
jatuh melukai,
tersungkur diri membuat malu.

Diambang senja berkabut
di kaki langit berbisik lirih
di mana dermaga rindu
akan kulabuhkan kini..??

Resah memadah gita puisi
dalam obsesi yang tak kenal lelah
mengejar impian pada senja yang kian merona.

Aku sujudkan sajalah,
rasa cinta suci ke mihrab sajadah senja.
memacu doa pada Illahi rabbi,
disanalah pemberhentian jejak terakhir itu.

HR RoS
Jakarta yang berkabut.





Surat cinta buat maya,
MAAFKAN SEMUA SALAHKU....


Kasih,
dalam linangan airmata
aku menulis sepucuk surat untukmu
tak kupuisikan majas ini dengan rindu
majas ini telah datar
seiring tintaku akan memudar.

Dalam lembaran kertas yang kian lusuh,
tanganku kaku, bibirku kelu.
karena kau telah memberikan tanda-tanda akan mundur dariku.

Kasih,
aku telah terjerat ikrar kesetian yang akan menghantarkanmu ke ujung waktu.
aku tetap setia dengan janji itu
meski perjalanan ini kian tak menentu tuk kutempuh,
karena kau akan berlalu,
pergi jauh meninggalkan cerita
pada hembusan bayu ke ruang bisu,
pertanyaan ini,
masih adakah rasa cinta dihatimu untukku..??

Aku rela terhakimi, jikalau aku benar-benar bersalah terhadapmu dan maafkanlah salahku.

Kasih,
kini kusadar, studymu begitu berarti
dan nasehatmu telah banyak mendewasakan ke kanak-kanakkanku,
aku haru akan studymu itu.

Terimalah surat cinta ini kasih.!
tataplah setiap goresan-goresan tintaku lewat puisi, bahwa aku telah hadir di hadapanmu dan memelukmu, aku yang telah lama menunggumu di ruang rindu,
kau yang kuimpikan selalu di dalam hidupku.

Kasih,
Aku sadar kini, sakitnya sebuah perpisahan yang akan menyapaku, bila takdir itu terjadi aku telah pasrah meski ku tak rela.
Tuhan, aku berterima kasih yang telah mempertemukanku dengan cinta ada dan tiada ini.

Kasihku,
Semoga surat ini kau baca dengan seksama.
dan aku ingin kau membalas sepucuk surat di maya ini..!
pertanda apakah aku masih ada dihatimu..??
ataukah kau telah berlalu sejauh mungkin dariku.
entahlah...

Aku tunggu balasanmu dengan jujur.

Aku yang mencintaimu pada maya,

HR RoS
Sepucuk surat cinta yang galau.... for you.





Renungan senja,
LANGKAH KEHIDUPAN ADALAH NGARAI YANG MENGINTAI


Jejak langkah jalan setapak gontai melaju lunglai, bak daun-daun yang melambai berbisik lirih disela dedahanan.

Diri,
dari tiada ia menitis menjadi ada
konsep illahiah, pada penciptaan yang sempurna.
beradunya koloni kasih sayang diantara sang penikmat rasa cinta dalam desah asmaradana.

Ia tertitip hikmah dari rahmah rahim-Nya,
pada terbentuknya insani yang kamil,
di kolam garbah...,,
tercipta, terlahir fitrah dalam dendang buaian sibuah hati di tingkah nyanyian manis.

Bibit yang mulai tumbuh menari
menjulang di awan-awan,
hembusan bayu menyapa sendu di dedaunan,
putik-putik bermekaran adakala berjatuhan,
di tingkah ayun gelombang zaman
acapkali alpa dibalik warna kehidupan.

Roda berputar pada poros zaman adalah keniscayaan,
akan terhenti pada janji yang dipatri oleh takdir azali.
nyanyi sumbang tak senada dalam gesekan biola, syahdunya alunan bunian air di pancuran,
tak mampu merubah bisingnya deru debu di perjalanan yang gersang.

ahhh..

Kadangkala jejak tak seiring jalan
dengan tuntunan,
Sering berlabuh ke dalam penyesalan.
derap langkah kehidupan,
di bayangi ngarai menganga lebar mengintai.
jerih berpeluh nista tergadai pada
aroma selembut sutera
tergoda oleh rayuan hampa, hina.

Oohh... diri.
bercerminlah kepada kisah yang pernah terjadi,
tuailah kearifan budi dalam nafas-nafas fikir.

Oohh... hati,
bergurulah kepada awas,
akan terbukanya makna rahasia illahi.

Oohh... memori yang menghampiri
petiklah lembaran hikmah pengalaman
jadikan iya tuah yang dimaknakan.

Jalan ini sebentar lagi yang akan sampai di penghujung jalan,
padahal kehidupan terus berlanjut
mengiringi zaman.
damaikanlah zamanmu wahai budi oleh jubah kewibawaan diri yang sememangnya sama-sama di mengerti,
biar tauladan diri berarti.

Jangan memaksakan kehendak berlari,
jikalau jalan ini terjal yang akan terjatuh ke lembah yang tak akan bangkit lagi.
hormatilah fitrah yang di selipkan dalam sanubari,
mengukur bayangan oleh tantangan zaman,
berhati-hati adalah kewaspadaan yang tak ingin tergelincir ke ngarai bibir yang akan melukai.

Remang senja telah menyapa, pada sisa-sisa usia.
sebentar saja pelangi mewarnai senja,
yang akan berlalu tenggelam ke ruang misteri,
senja adalah gambaran wajah alam
renungan menuju jalan Tuhan
raihlah mahabbah kasih-Nya
dalam ibadah yang tak memandang surga lagi.

palingkan murka-Nya pada langkah yang salah arah,
oleh ke egoan diri yang merasa benar sendiri,
dahan telah kering
menunggu ranting jatuh ke bumi.

HR RoS





puisi kemerdekaan,
‪#‎AKUANAKDUSUNMENJERIT‬


Tiupan alunan kidung gembala
menyapa simphoni aroma pagi
secercah terik menuntunku ke jalan aksara.
di desaku, aku belajar tentang cinta.
pada negeri yang makmur nan sentosa
ejaan yang kubaca ketika masa kecil
menatap jendela dunia
negeri ini katanya telah merdeka.??
tapi kenapa hidup di negeriku susah.
padahal bau anyir darah pejuang yang gugur
di tembus peluru,
semerbak mewangi terkubur di tanah pertiwi
mereka menangis datang lewat mimpi
bahwa revolusi ini belum usai.

bayu kau nafas surga itu,
serasa sesak sudah dada ini
di tunggul senja memadah puisi
aku kirimkan seuntai karangan bunga
di nisan pahlawanku.
aku menghela nafas panjang ke dalam sukma
menghirup aroma kemerdekaan
terjerat oleh kelaparan dan kemiskinan
negeriku seakan tersandara oleh kemunafikan
segelintir anak-anak bangsa,
perusak cita-cita jerih payah pahlawanku di ujung bambu.

Katanya negeri ini telah merdeka..?
kok rasanya hidup di negeri sendiri payah.
padahal lautan, gunung-gunung dan sawah
menyimpan kekayaan yang tak terhingga
tak dapat di nikmati dengan layak oleh veteran
dan aroma anyir darah tentaraku.
semestinya,
tirani pahlawanku makmur sudah
dari tetesan darahnya
homo homini society
di kebiri oleh anak bangsa sendiri.

HR RoS





THARIKH NAFAS DALAM YA HU
Karya: Romy Sastra


Musafir di sahara jiwa
pasir-pasir berbisik lirih
di jejak sang kekasih
lembah sunyi kuhiasi
dengan desah desau Ya Hu
melipat langit ke dalam rongga.

Aku buka rahasia hati
di malam sepi hening
desiran suci mengalir
bak salju turun menyentuh sekujur tubuh.

Terdampar dalam hamparan indah
di padang gersang mendamaikan sukma
kupetik satu kunci kematian dalam hayat
menuju takbir hadirat ke ka'batullah.

Aku simpulkan sila di atas sajadah
berkomat-kamit bukan mantera
meluah doa dalam aksara rasa tak berasma
mereganglah nadiku
dalam sakaratul maut
mati tapi hidup.

Terbuka labirin cinta
bertirai sutera halus lembut
melebihi halusnya genggaman
jemari bidadari syurga
jiwa bergairah
bertemunya sang musafir
di singgasana cahaya
dalam perjalanan bertongkat
laila ha ilaallah.

HR RoS
Jakarta, 22-08-2016, 20:22




KEMBALILAH ANAKKU
Karya: Romy Sastra


Umi...??" anakku.
Kalau kau pergi merantau ke tanah seberang, sukses tidak suksesnya jangan lupa pesan ibu ya?!
Pesan itu,
jagalah sholat dan kesehatanmu,
pandai-pandailah bergaul baik-baik di negeri orang ya nak.?!
Kelak ibumu sudah tua, hiduplah dikampung. Bawa anak-anak dan suamimu nanti pulang ke rumah kembali,
Ibu akan selalu berdoa untukmu.
Walau kau tak membawa emas berlian dari rantau, kampung halaman tetaplah intan permata, oh anakku.
Dan surga itu, berada dibawah telapak kaki ibumu.

Abi, adalah suami dari umi.
Mereka telah dikaruniai dua orang anak perempuan yang cantik dan satu lagi lelaki yang tampan.

Abi bertanya kepada umi.
Umi? hidup itu tidak sekedar makan mencari kekayaan semata,
tapi di sisi lain akidah memanggil umat untuk menegakkan panji-panji khilaffah yang telah berdiri di irak dan syiria.

Umi terdiam,
perlahan suaranya bangkit menengadah ke wajah sang suami dengan pasti.

Ya Abi....."
ketika panggilan jihad terhadapmu Abi,
Abi akan pergi membela panji ISIS, Umi merelakan Abi mati syahid di tengah pertempuran.
Walaupun aroma darah kematian telah Umi rasakan, dari keringat Abi, bagi Umi itu adalah wangi kesturi surga.
keyakinan sang jihadah yang teguh dari pengaruh.
Mmmm....."

Paham ekstrim itu merasuki jiwa sang syahidah di negeri sendiri.
Seakan tekad baja, keyakinan yang telah terdoktrin pemahaman propaganda itu adalah khilaffah yang benar-benar berada dijalan Allah.

Na'uzubillah minzalik.

Ya Umi, sapa aminah dalam tanya? yang belum sepenuhnya mengerti akan sepak terjang Abinya selama ini.
Aminah adalah anak kedua dari Umi ibu kandungnya sendiri.

Kita dikota ini telah cukup Umi, akan kebutuhan dan harapan masa-depan hidup kita nantinya.
Abi dan Umi berniaga yang lumayan sukses.
Kenapa Abi akan pergi menumpahkan darah yang sia-sia saja,
pertanyan aminah anak kedua mereka yang sangat cerdas itu.

Jauh di sudut rasa, gejolak bak anak singa maju ke hutan belantara berburu rusa demi harga diri sebagai penguasa rimba alam raya tepatnya di gurun padang pasir yang tak dia tahu sesungguhnya medan yang ia tempuh, untuk berjihad di kelompok ISIS sendiri.

Abi pergi meninggalkan keluarga anak dan istri tercinta.

Dengan ucapan takbir, Allahu akbar!!!.

Selang berapa lama, warta mengudara dari timur tengah.
Abi tewas di medan tempur sebagai jihad mati syahid.
Mmmm....."

Semua sanak saudara menangisi kematian Abi,
Umi datang dengan suara perlahan, jangan tangisi suamiku wahai familyku semua.
Abi telah berada di surga, ikhlaskan kematiannya!

Semua keluarga terdiam dengan keteguhan isteri tercinta Abi.

Selang berapa bulan kemudian
Umi menghilang dari kabar,
sanak saudara pada bertanya-tanya.
Kalau Umi telah meninggalkan semua kehidupannya di sebuah kota termasuk perniagaan yang ia rintis dari jerih payahnya selama ini.
Bak ditelan bumi, Umi pergi di kegelapaan malam bergabung ke markas kelompok ISIS.

Testimoni Umi, dalam akun yang kami simak. Mereka berbahagia di sebuah negeri yang diberkahi katanya.

Ironis,

Ibu yang dikampung halamannya sendiri tak lagi dia rindukan,
airmata sang ibu tak berhenti menitis akan keberadaan nasib sang anak.
Badan sudah kurus wajah keriput menua merindukan sianak tak pernah kembali semenjak kabar kematian si Abi suaminya.

Ibumu, berbalut selendang usang yang dia sandang di bahunya, telah lusuh membasuh luka yang tak berdarah, dalam keringat berurai airmata, menatap potret anak tersayang di dinding rumah.
anakku, pelitamu hampir padam
senja telah ditepi ngarai nak.
Pulanglah sayang!!!

Ahh..."
Aku di sini menukilkan hiba pada sanak saudara di sana,
pelajarilah dengan seksama konsep organisasi yang jelas-jelas terhakimi oleh dunia sebagai teroris!! Negara kita dan dunia islamnya bukan thagut dan bodoh.
Dan kelompok islam menskreditkan ISIS adalah bentukan propaganda untuk mengambil kekisruhan antara Suni dan Syiah di Timur-Tengah analisisku.

Aku suluh asap, bukan maksud membakar jerami di ladang singa berdiri.
Tapi hanya sekedar menyampaikan rintihan ibunda Ummi di sini, kalau ibundamu sudah tua tak berhenti-berhenti
menangis pilu akan nasib permata yang diharapkan dari kecil itu.
Kembalilah anakku....?!!

Ibu cemas menantimu bersama ayahmu.
Kami ingin memelukmu kembali meski Abimu telah tiada.
pulanglah nak, bersama cucuku!!
Bahwasanya rumahmu dan telapak kaki ibumu kau mengabdi, adalah surga yang sesungguhnya di dunia ini.
Ingatlah pesan ibundamu dulu, ketika kau akan pergi merantau.
Bukalah nurani yang terbingkai didadamu itu.

Kenapa tanah berpasir kau rindukan, padahal belum tentu jihadmu itu adalah surga yang kau rindu, meski tubuhmu berbalut sunah. Pahamilah nak, dengan akal fikiran serta jiwa dan langkahmu itu, benarkah perjalananmu jihad fisabilillah mati langsung masuk surga.

Aaahhh......"
Anakku Umi,....??"
Lebih baik mati terhormat, bernisan bernama ditanah merah
disamping ibumu nanti.
Daripada mati sia-sia di sana.

Rintihan ibunda sang jihadah
dari Bayang Sani Indah.

HR RoS
Jakarta, 26- Agustus 2016




PUISI CINTA DIALOG SENJA

Soreku menemani senjamu
senyummu kupandang dalam bayangan petang
mekarnya bunga-bunga rindu ditaman hati
kunikmati suara kenari bernyanyi di sana
diujung ranting pohon cemara itu.

Kubingkai namamu
dalam bingkisan hati
kupuisikan pada rona senja
dalam deburan pantai
menyambut akan tenggelamnya mentari
selamat sore duhai kekasih
gelombang jiwa bergelora
dalam dialog-dialog cinta
kugenggam jemarimu di dermaga ini
ucapkan kata mesra
seraya merangkul pundakmu pejamkan mata
kukecup keningmu.

Senja, kau akan pergi berlalu
menggapai malam
temani kami memadu kasih
dalam genggaman fitrah illahi
izinkan kemesraan cinta ini
indah seumur hidupku.

HR RoS
sore Jakarta, 26-8-2015, 17,13





RINDU-RINDU YANG TERKIKIS


Menyirami sekuntum bunga indah
kupandang kau cantiknya sang bunga
aku petik setangkai kucium mesra
mekarlah selalu menghias meja tamuku
janganlah layu.

Aku bawah lilin nyalakan pijar
lenterakan malam ke dalam sastra
menerangi gulita, dalam kabut
cabaran-cabaran cinta.

Aku terjajah maruah ditaman hati
pada gersangnya pohon-pohon akasia di belantara kekasih
aku takut akar-akarnya tak kuat menopang janji
sepoinya mamiri yang selalu menerpa.

Mmmm..."

Ketika bayang-bayang rindu
menghilang dari pandangan,
jangkauanku tak mampu bayangan itu kupegang.

Ombak yang selalu berlari silih berganti
kian menambah indahnya pantai
disenja hari
aku seakan tersisih dengan camar-camar yang bernyanyi
menyapa riak-riak pada pasir putih.

Kasih,..." hatiku miris
pesimis terhias halusinasi,
tak lagi bunga itu indah layu sudah.

Hati,..." kau kokohlah bak mentari pagi
dikala fajar kemilau langit berganti diwaktu senja
sekilas rindu lara diremang-remang asa.

Akankah sebuah kepastian layu diterpa bayu
diantara rindu-rindu yang tak lagi menentu.

HR RoS
Jakarta, 26-8-2015,, 08,35





RINTIHAN KERINDUAN
SISA-SISA USIA SENJA
Karya : Romy Sastra


Tulang rapuh bersama senja,
mencari kerlip dalam desah takbir
ringkih terpijak sajadah lusuh
bekas pemberian kekasih pada noktah
ikrar cinta di depan penghulu
enam puluh sembilan tahun telah berlalu.

Ia, sang pujaan satu dekade telah pergi.
Dulu pernah berpesan,
meninggal sejuta cerita di meja tua
adakah lilin itu menyala nanti??"
di tengah rumah kita.
Ketika diantara kita terpisah jauh
kau di sini sedangkan aku di sana
memeluk tilam sunyi berselimut kain putih, Ooohh......"

Putik-putik telah berbuah
berlayar kepada bahtera dalam takdir tirani
mencari gita pada obsesi
masing-masing berpacu mengejar dunia.

Ketika tulang rapuh teronggok sendu
menatap pelangi di beranda sedih,
kapankah warna senja berhias
di rumah ini,
putik berbuah ranum jatuh ke lembah
hilang tanpa ada kabar berita.
Oh Tuhan,
kembalikan buah hatiku kepangkuan ini
aku ingin ia menatap,
keriputnya wajah renta,
lapuk sudah tulang membesarkannya.

Di mana buah hati itu berada
kau hilang bak ditelan bumi
tak tahu di mana rimbanya
di tengah malam mengadu pilu
dari kebisuan hari-hari
buncah hiba mengiringi doa pada illahi.
Ya Allah,
kembalilah anakku
aku ibunya sudah renta.
Anakku,
kenapa tanah merah kau tangisi nanti
di pusara di batu nisan itu.
Sedangkan ayahmu,
pelitaku sudah lama padam
selagi sisa nafas ini masih ada
peluklah aku kembali...?!"
baju dikala kecilmu
masih tersimpan rapi,
buku-buku di rak kecil itu telah berdebu
semua itu saksi keringatku membesarkanmu
oohh, anakku.
Kembalilah pulang nak....??!!
mentari hampir tenggelam.

HR RoS
Jakarta, 25 Agustus 2016





RENUNGAN
The story in the dream.


Sebuah suara menghampiri dalam mimpi
malam Senen 1 Mei 2000, suara itu:

Ada yang lebih panas dari api
yaitu matahari
dan ada yang lebih tajam dari belati
yaitu mata hati.

Panas dan tajamnya mata hati bisa memandang cahaya illahi.

Air dan angin kekuatan yang paling kuat
tapi ada yang lebih kuat dari itu
yaitu rasa.

Sedangkan rasa bisa mengenal dzat illahi.

Itulah sempurnanya insan kamil yang tahu jati diri
keadaan yang abadi ada di dalam diri
di akhirat nanti maha nyata sekali.

HR RoS
Jakarta.





#Renungan
The story in the dream me.
PUJI NAFAS DAN HATI


15 tahun yang berlalu, di malam senen
dalam tidur yang pasrah
aku bermimpi.

Dalam mimpi itu aku melihat kaki kananku dibelah hingga sampai ke tulang putih
di tulang itu tertulis kalimat Allah.

Sebelah kiri lagi dibelah ke tulang juga, bertuliskan kalimat la illaha ilallah.

Pengertianku, dalam mentafsir makna kejadian mimpi yang lalu itu:

Tulang adalah tiang / soko guru dalam tubuh sebagai penyangga segenap organ tubuh.

Tulang yang putih adalah tongkat pemandu organ bersama hati bergandenglah ia dalam amanah suci.
Sesungguhnya setiap yang berjiwa merasakan tuhan di dalam diri bahkan bersama hari-harinya.
Gerak deru langkah seirama dengan nafas, memuji pada lafadz Allah dan la ilaha ilallah adalah pekerjaan yang instant
pada kesadaran bertuhan. Mengertilah!!!

Berterima kasihlah wahai kau badan diri kepada nyawa nafas dan hati, yang masih ada ini.
Dengan mengikuti irama geraknya memandu laju pada ibadah sholat ning hati,
selagi roh memayungi bangkai.

Ketika laju nafas perlahan menuntun badan menuju tuhan,
skaratul maut hadir bak misteri datang tiba-tiba menakutkan sekali.
Adakah penolong atau perisai yang mampu menunjukkan jalan keabadian itu nanti??
bahwa misteri tak kenal kompromi.
Hanya puji sang pencinta kepada maha cinta yang tak pernah putus menyambut misteri.
Hingga sang pencinta dalam puji jihad yang suci, yang akan disambutnya dalam nampan sutera yang indah kembali kepada Rabbnya
berbahagialah.

Hina dan celakalah...!!
yang lupa akan jihad suci pada perjuangan nyawa di cabut dari raga, bahwa kedatangan misteri itu
PASTI.
celakalah ruh di bawa merad ke jalan sesat oleh laknatullah pedih merintih membangunkan bangkai-bangkai meskipun sudah lama di semai di nisan tua.
dan burung-burung berkicau sedih mendengarkan rintihan pilu dari suara yang tak ia ketahui.

Berlalu dalam proses pujian nafas ke dalam hati
hidup dan jalan kehidupan di dunia ini adalah kehendaknya Allah
dan tiada tuhan selain-Nya.

Makanya dalam tafsir pemahamanku 15 th yg lewat itu,
zikirlah selalu di setiap helaan nafas memandu dalam perjalanan hidup kita ini, dalam sir yang sadar dengan zikir Allah dan la ilaha ilallah.

Karena yang bernyawa yang berjiwa, selagi hayat masih dikandung badan di dalam tubuh yg berdenyut ini, gerak pujinya adalah Allah Allah Allah Allah...
Yang hidup tidak pernah berhenti memuji berzikir ke yang maha hidup.

Kenapa akal dan fikiran tidak seirama dengan perasaan kita ini...??!!
Bahwasanya nyawa di badan, adakalanya dia lelah berhenti
berzikir Allah
lelahnya di skaratul maut nanti.

Kalau tak disadari merugilah!!!
ketika bangkai lapuk berdebu bias dipangku tanah dalam ruang maha gelap dan sunyi.
Ruh bergentayangan menyesali perbuatan hidup di dunia yang berleha-leha, penyesalan yang tak berkesudahan.

Yuuk ikutin lafadz allah dalam hati setiap ingat, karena tarikan nafas kita ini keluar masuk berzikir Allah Allah Allah Allah...
(ya hu).

HR RoS
Jakarta, catatan religi th 2000





MENDUNG
Karya : Romy Sastra


Kapas-kapas senja
menitip rinai kepada mega
daun-daun kerontang tersingkap
dari kubangan debu yang berterbangan
berharap,
mendapatkan seteguk embun
pelepas dahaga.

Mendung itu masih menggantung malu
di cakrawala,
terik masih menyinari di langit tinggi
oh iklim, cepatlah berganti.
Rinaikan tetesan itu segera!
katak-katak kecil bersiul memanggil,
kapankah telaga ini penuh terisi
biarkan kami bermandi riang
menyambut senja,
berbahagia bersama-sama.

Mendung, turunlah...!
kemarau ini telah membakar negeri pertiwi
biarkan kehidupan tanah ini tumbuh subur
hidup seribu tahun lagi
siklus akan berganti
tunas-tunas tumbuh kembali.

HR RoS
Jakarta, 24 Agustus 2016.




#Puisi,
PENARI MALAMKU
Karya: Romy Sastra


Ketika lilin-lilin kecil itu
tak mampu terangi malam panjang

pelitanya hanya menerangi sesaat saja
dalam pentas kehidupan prostitusi.

Kegelisahan pelita yang hampir padam
tak sanggup dengan cabaran malam
lilin kecil bertanya?
mampukah pelitaku menerangi jiwa
penari itu.

Penariku lenggok gemulai
tarian erotis dijamuan wisky
lilin itu kian mengecil
sudahilah pesta ini
bahwa malam dosa bergantilah cahaya.

Gelisah dikau paras yang cantik
terdampar dalam night club diskotik.
Penariku bermimpi,
akankah paras yang berlumpur
menjadi suci dalam debu?

Kau paras yang terjual murah
tergadai maruah dilembah nista
pelita hatinya gelisah sudah.

Berharap,
semoga kau terbangkit dari lembah nista itu
menjadi seorang halimah
yang tercuci dari kekotoran diri
berkah pada keindahan noktah cinta
rumah tanggamu.

HR RoS
Jakarta 28-8-2015, 20, 28






OPTIMISLAH
Karya: Romy Sastra

Terkata tak terucap
angin hembusan desah
sepi berselimut dingin
putus sudah jalinan cinta
kembali di sini,
merajut sulaman menyusun perca
jadikan tilam penghias diri.

Diri telah terbiasa susah
terkoyak dari nasib
yang tak pernah berubah
meski ikhtiar itu,
mendaki gunung yang tinggi
mengharungi lautan terdalam
telah melipat malam menjadi siang
siang pun bermandi berpeluh
tetap gita terkubur dalam lumpur.

Sedih, iya.
Kulum saja takdir bernilai ibadah
pada suatu cinta dan hidup yang
bersahaja
meski harapan hilang dalam genggaman
derita cinta memanglah tak pernah berakhir.

HR RoS
Jakarta, 29 Agustus 2016.





#Puisi,
KEMATIAN 'AINKU TERTUNDA
Karya: Romy Sastra


Khair itu bersuara dalam tidur
dentingan sami'nya,
menggema bak lonceng berbunyi
hanyut dalam lautan mimpi
ketika sila tafakur asyik,
dada tersesak menyeruak
dalam dzikir mutlak
sakaratul 'ain itu menghampiri
isra'ku ditarik ketingkat arasy rasa
terkapar diri, sukma bernyanyi
tak henti-henti dalam puji.

Dalam isra'
aku dibisikan di ranah makam
makam-makam dalam labirin iman
makam bernuansa taman indah tak berujung
taman sagara hijau lautan silau di kalbuku.

Sayap jibril di pundak terasa mengigil menjamah
sabda itu menggema,
di singgasana Sulaiman bertahta.

Suara itu berseru....."

di tingkat makam mulia ini,
Nabi Sulaiman berjaya.
Sayap itu membawa naik ke suatu tingkat lagi
alamnya sutera
taman sagara hijau alamnya rasulullah.
Jibril bersabda,
di makam inilah
semua jiwa yang beriman ikut dalam sunahnya.

Ketika perjalananku di sagara hijau berlalu,
sukmaku mikraj,
membumbung ke kasta illahiah yang tertinggi
sang suara itu, bersabda.
Aku tak kuasa lagi mengiringi tahlilmu
kuhantar saja kau sampai di sini.

Jejakku disayap Jibril terhenti
jiwa ini gemetar,
menatap maha dalam awas yang tak tersentuh
tubuhku linglung,
terkapar sadar dalam kebingungan yang berkesan.

Mmmm...."
jalan yang aku tuju itu terlantar
terbangun dalam fana ke dunia nyata
religiku merugi
kematian 'ain itu akhirnya tertunda.
Terjaga dalam tidur khair
aku berpeluh senyum termenung
imanku payah,
singgasana keratoning-Nya
akhirnya tak kujumpa.

ahhh...?!"
aku hanya asyik dalam asma-Nya saja.

HR RoS
Jakarta 29-8-2015, 23,10.





Puisi untuk sahabat maya, aku persembahkan di hari ulang tahun Kemerdekaan Malaysia.
DAMAILAH NEGARAKU.......
Karya: Romy Sastra


Satu jiwa satu hati dalam cinta
kujelang sahabat siang ini,
dari ufuk timur cahaya surya menyapa.
Selamat siang wahai dunia
berpadu dalam serumpun gita cintaku.

Gemersik dedaunan irama alam
selaras dalam kearifan rahmat Tuhan.

lagu negaraku bersimponi kemerdekaan
dari darah patriot menuju kejayaan.

Masa perih telah berlalu sudah
dari tangan penjajah
bersatu membahu berjuang
buat tanah melayu
paradigma bangsa selalu bersuara
jayalah selalu
isilah kemerdekaan demi kerukunan
menuju kejayaan dan kemakmuran.

Lika liku perjuangan mengukir sejarah
mengiringi kita ke dalam kepastian cinta
lambaian itu telah berkibar di tiang bendera
menjunjung kehormatan raja dan rakyatnya.

Merah darahku, putih tulangku
bersenandung dari pertiwi
bersatu jiwa itu dalam jingga antar Bangsa serumpun.

Hapuskan memori dari doktrin yang terkibiri
getar-getar nada seirama
dalam sapin merindu.

Jalinan ukhuwah rasa serumpun dibumi nusantara
warisan tanah leluhur nenek moyang kita.

Yuk, bergandeng tangan...!!"
Dalam wujud cinta yang bersahaja
di antara dua Bangsa.

HR RoS
Jakarta 28-8-2015, 10,42





PUTERI SANTUBONG SEJINJANG
Karya: Romy Sastra


Darah aristokrat berkelana diantara samudera dan belantara
terjajah dari istana ibunda
sang ayahanda raja mati dalam singgasana.

Bersama saudara melarikan diri ke semenanjung
menyelamatkan nyawa.
Santubong Sejinjang hikayat negeri
bidadari jelita bak Dewi turun dari langit.

Reinkarnasi putri darah nusantara
diantara Majapahit Sriwijaya hingga ke tanah Serambi Mekah
berjaya di bumi sarawak nan indah.

Santubong Sejinjang diantara cerita
Bersua di sarawak malaya
menjadi putri jelita bermahkota ratu
ditanah melayu
dianggap dayang-dayang
turun dari kayangan cantiknya menawan.

Berlalunya waktu, dalam roda kehidupan
Rasa kedengkian sedarah tertumpah
dalam maruah cinta yang terkotomi
begaduh mati,
hikayat terbingkai dalam sejarah
cerita rakyat dari dahulu hingga kini.

Makna si jelita mengandung filosofi diri
berjayalah dalam budi, sejiwa sehati
dalam keharmonisan sesama dan sedarah
iqtibar untuk generasi masa kini dan nanti.

Janganlah silau karena cinta
tergadai maruah sedarah karena kekasih
rusak sudah tatanan yang ada
menangis bumi, terkutuk dari titah langit
para punggawa kehilangan arah
di mana pagar ayu terhormati
noktah cinta tergoda karena cemburu.

Sebuah kearifan alam
dalam peradaban zaman
isyarat peninggalan keindahan bumi melayu.

HR RoS
Jakarta 27-8-2015, 10,02





#SEMUANYATENTANGKU---
KARYA: ROMY SASTRA



AKU TAK BISA BERBUAT BANYAK
MENJADI YANG KAU PINTA
BEGINILAH APA ADANYA DIRIKU

WALAU KASIHKU TAK LAGI
MAU DI MENGERTI
AKU BUKANLAH YANG TERBAIK UNTUKMU
DAN AKU SADAR AKAN HAL ITU

AKU SELALU BERUSAHA
MENJADI YANG TERINDAH
TAPI KENAPA SELALU DIANGGAP SALAH

AKU TAK PERNAH BERHENTI MENGANGGAP
KAU YANG KURINDUKAN ITU

DALAM PEGANGAN YANG RAPUH
KAU TUDUH AKU
SEMUANYA TENTANG SALAHKU

PADAHAL JAUH DILUBUK HATIMU
KAU MASIH MERINDUI
WALAU KINI KAU TELAH BISU

BIARLAH

SEDANGKAN AKU SELALU ADA UNTUKMU
TAPI TAK KAU PAHAMI ITU

JIKA BERLALU YANG KAU MAU
PERGILAH
IZINKAN AKU SELALU SETIA
WALAU KAU TAK ADA LAGI DISISIKU
SETIAKU ABADI SELAMAMYA

LOVE IN SHADOW
BIARLAH BERKAWAN SEPI.

HR RoS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar