RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Minggu, 04 September 2016

Kumpulan Puisi & Cerpen HR RoS - PERIHNYA NOKTAH


PERIHNYA NOKTAH
Karya Romy Sastra


Suamiku,
telah kau tinggalkan aku
pada noktah yang kau buat rapuh
yang dulu pernah membaja
masa di awal pernikahan kita
ketika tubuhku masih muda.

Kini kau pergi tak pernah kembali lagi
benih cinta yang kau titipkan dirahimku
telah tumbuh dewasa, belia.

Ia menamparku dalam celoteh pilu
Ibu ...?"
kemana ayah tiada lagi bersama kita.''
Aku rindu ayah ibu ....

Aahh, anakku... sapaanmu buah hatiku
desah rasa ini, sebak menikam jantung
kau bangunkan lara ibu yang telah terkurung sunyi, oh, anakku.

Kugumam isak berlari ke kamar kecil meninggalkan
tatapan gadis kecilku,
aku tak ingin engkau tahu anakku.

Tangis pecah tak tertahankan.

Ibu ..., katakan!!" di mana ayah kini berada?
aku rindu ayah ibu ....

Dengan muka yang tertutup malu terhadap buah hati sendiri.

Pada kenyataan aku dan ayahnya
pernah berulangkali terjadi pertengkaran tanpa sebab yang tak habis pikir,
entah apa kekuranganku oh, suamiku.
Lara teramat lara dalam bunga-bunga noktah tak berbuah bahagia bersamamu.

Kuremas-remas dada ini, sakit ..."
sakit begitu sakitnya noktah di nodai.

Aku peluk sigadis kecilku,
kristal-kristal bening berkoloni
dipipi
wahai ...?! suamiku.
Aku ingin kita intropeksi diri
di mana letak runyamnya noktah kita.
Evaluasilah janji dulu lebih baik lagi
jika dikau ingin kembali lagi.

Aku berharap, madah prosa luka ini kau baca!
anakmu menunggu di rumah,
seringkali kala senja ia menghayalkan sesuatu, tatapannya kosong pada cakrawala yang hampir tenggelam,
sambil memegang sebuah buku diberanda rumah,
menulis tentang rindu,
pulanglah ayah! aku rindu ayah.

Kembalilah pulang suamiku!
bangunlah istana yang telah runtuh oleh badai ego di antara kita.
Maafku padamu,
sekiranya silap pernah terjadi dalam proses keutuhan noktah cinta yang pernah terkoyak oleh waktu yang berlalu.

Lupakan kilauan suasa yang menggoda rasa dalam persembunyian sepimu,
yang belum tentu emas kau dulang pada bayangan kasih hinamu.

Aku masih mencintaimu dalam doa
meski tubuhku sudah tua dan layu,
aku masih menanam kilauan permata pada cinta yang setia
tak akan mencari penggantimu lagi.

HR RoS
Jakarta, 04092016





#puisi
K E S U N Y I A N C I N T A
Karya Romy Sastra


Kelembutan pantai kian menari
membelai sunyi dalam rona kabut
sendiri menghela nafas lirih
pilu dalam titisan air mata kekasih

Hati kecil ini bertanya,
akankah gejolak kasih itu telah pergi
berlalu bersama kejora
kegalauan yang mendera kian menderita.

Pergilah kasih ke jalan keinginanmu
jikalau itu yang kau mau.

Kembalilah kasih
kalau jalan ini masih ingin dilalui.

Renangilah kesunyian pantai ini
ke samudera cinta yang setia
halaulah gelombang cabaran yang melanda
biar sunyi itu berlalu pergi.

Hapuslah air mata itu
berbahagialah selalu
biarlah dalam diam resah merindu
meski rasa ini tak lagi menentu.

Dalam kesunyian cinta yang tercabar maruah
mencintai dirimu,
seperti ada dan tiada.

HR RoS
Jakarta, 04092016





JERITAN TANAH KERING NEGERIKU
Karya Romy Sastra


Tanah tadah curah pada iklim kering tergerus lusuh pada debu
rasa sakit menjerit harga diri melangit
negeri di batas garis khatulistiwa
pilu, jiwa-jiwa yang tak lagi peka.

Kabut menutup budaya toleransi
rahwana memuntahkan angkara
membakar kebun mayapada
tersisa tunggul-tunggul lapuk
jamur bermunculan
silih berganti menerkam ketakutan
bibit tak terdidik dari nurani
yang menjual sebidang tanah pada kurcaci
rupa gendut plontos pemakan darah pribumi.

Lihat di sana, tanah hutan gundul
reboisasi tak alami berganti industri
tanah negeriku kering
rakyat menjerit
pola pikir yang sempit dijajah benalu
subur sudah bertengger di daun itu
yang tersisa rasa cemburu
pada kurcaci gendut pemangsa tanah-tanah nenek moyangku.

HR RoS
Jakarta, 392016





#Prosasenjadilerengjamus
Karya Romy Sastra


Kutitipkan cinta pada kabut,
di kaki langit jamus
kabus-kabus rindu senja
menyemai indah di sela dedaunan.
Di sini, di desa yang permai ini.
Imajiku berlari dan terus berlari terbang ke langit tinggi
menghayalkan,
sebuah cerita masa tua nanti
untuk menata hati bersama alam.

Oh, nebula cinta?"
seribu kasih kau titipkan lewat mimpi.
Sayup-sayup nyanyian indah,
dalam seruling kidung
mendamaikan jiwaku
bersahabat bersama alam kala senja
memeluk lembut, dingin, dilingkari seantero pucuk yang siap dipetik
oleh para petani.

Ya aku di sini,
di kaki langit selatan kota Ngawi
merenda cinta bersama kekasih
di tingkah manja sibuah hati.

Bersamamu wahai senja, aku lepaskan pandangan jauh menatap awan.
Bahwa senja, akan pergi berganti malam
terik rembulan memancar indah
di bayangi rona siluet memerah.

Aku kagum pada ciptaan
sesaat menikmati sisa hidupku
bergelut bersama asmara ya di sini
di balik rerimbunan dedaunan.

Objek wisata kebun teh Jamus
Kabupaten Ngawi tempat tinggalku.

HR RoS
292016





#SPIRITDIRI
By Romy Sastra


Aku tak seindah yang kau bayangkan
tak sebaik yang kau pikirkan
bahkan jauh dari perkiraan.

Namun, langkah demi langkah
aku selalu mencoba memulai yang terbaru
demi sebuah perubahan
bukan melupakan yang terlewati.

Aku juga tak sehina yang kau duga
tak semudah yang kau rasa
meskiku tetap berusaha yang terbaik
demi sebuah gita,
dada ini berdebar menyambut opera
dari pelaku aspek dunia kehidupan.

Bahkan rentetan cerita kisah,
selalu menjadi guru yang terindah
untuk memperbaiki episode durasi perjalanan hidup selanjutnya.

Tuhan, perkenankanlah hamba
menjadi aktor yang terbaik
dalam skenario suratan takdir-Mu
dalam mengisi hidupku.

Izinkan aku Tuhan,
mengabdi pada ketentuan
yang akan aku kayuh biduk ini
di tengah samudera cinta yang bersahaja.

HR RoS
Jakarta 01-09-2016





#Puisi
- R O S E R E D -
Karya Romy Sastra


Kuhujani malammu dengan cinta
maka bangkitlah...!!"

Kemarau itu telah berlalu
jangan dikau terkapar di jalan
yang tak bertuan.

Miris... kau tak jua layu.
Walau selimut bisu menerpa hidup
kau tegar selalu.

Rose red, cuaca berubah
hujan telah deras di taman ini
tak akan berhenti,
berlalulah dari jalan itu
berdirilah kembali
taman hidupmu masih bersemi.

Hujan kian deras
bangun, peluklah aku!!"
wahai setangkai rose red
mendekaplah ketubuhku
yang akan menghangatkan gelora jiwa
mencium mesra bibirmu.

Dalam hujan yang panjang
air matamu mengalir
tak kulihat kau seperti lagi menangis
padahal rindumu menjerit menyapa rasaku.

Kau tetap tegar meski tubuhmu
telah gemetar
kristal salju menyatu dengan air mata
kau tetap mekar selalu
aku cinta padamu.

HR RoS
Jakarta 1-9-2016





#Puisi,
SIMISKIN JATUH CINTA
Karya Romy Sastra


Sketsa cinta sudah terbingkai kaca
kupandang ia tak teraba
lorong waktu menikam pilu.

Aksara yang kutinta dalam bayangan
kala sepi,
menghayal tentang masa lalu
melukis seraut wajah
di ujung jalan itu.

Dalam dekade cinta yang kujumpa
ketika kau menatapku
tatapannya menyeruak ke dalam dada
bunga-bunga berputik di taman hati
bahagianya aku.

Tak berapa lama, putik layu
jatuh ke bumi
karena wibawa runtuh
kau dan aku strata yang jauh berbeda
permata istana
dari keluarga berada,
sedangkan aku orang tak punya
semua keluargamu menghinaku.

Mmmm,
sengketa rasa tercabik tak berdarah
bak kolosal kisah bratayuda
mencintaimu,
adalah penghinaan ke dalam kasta itu.

Lara,
berapa lama aku tercabar maruah
wahai tangis hati
kau lukis bulir di pipi
kekasih yang memilih jalan pergi
meninggalkanku.

Selaksa kisi-kisi malam berselimut sepi
menyendiri,
dikawani rembulan
rembulan pun enggan titipkan senyuman
mengintip malu di balik awan.

Aaahhh..." angan.
aku simiskin bermukim di tepi mimpi
tak tahu diri, memikat sebuah hati
dengan bayang-bayang malu mencintaimu.

Ketika malam sadarku bersemayam,
akankah realita terjamah ke sebuah noktah.
Jauh sudah harapan di damba
bahwa simiskin tak sadar diri mencinta.

Wahai seraut mimpi,
yang di sana
jauh sangat kaki melangkah
realita cinta miris terjajah
kemanakah arah jalan kan kutempuh
semuanya jalan itu buntu.

Ya,
aku simiskin orang yang tak punya
modalku hanya ..."
bingkai-bingkai cinta yang rela
tetap itu juga tak berarti.

HR RoS
Jakarta 01-09-2016





#RENUNGANSINGKAT


Kehidupan adalah takdir
tercipta dari suratan Tuhan
hidup sebagai penghambaan
masa lalu sudah ada dalam pemeliharaan
dan ia pengalaman.

Tentang masa depan adalah obsesi
sebagai mana telah direncanakan illahi
jika aku patuh....!!"

HR RoS
Jakarta, 31 Agustus 2016





#Cerita, curahan kisah

IKRAR CINTA PETUALANGAN SANG GOMBALIS TERHENTI DENGAN ROSE RED
Karya: Romy Sastra


Awal tahun yang lalu, aku mengenalmu dan memulai sesuatu yang baru yang sebenarnya aku tak mau dengan hal perkara itu.
Sesuatu yang baru itu ialah dunia maya dunia aspek remaja.
Belajar dari waktu yang sudah setengah umur, menatap keingintahuan dunia baru.
Keingintahuanku semakin menjadi-jadi, hingga kubuka juga lembarannya itu, lembaran maya yang namanya facebook.
Ouw, awal kubuka. Aku terkesima dengan isi dunianya, padahal dunia maya hanya sebuah hiburan saja, akan tetapi sungguh multi efek ada di dalamnya.

Ketika hayal usilku menyapa ke nostalgia masa lalu, masa yang dulu jadi seorang pengombal.
Kuteliti lembaran baru itu satu-persatu
kukenali deretan nama-nama di halaman pertemanan, kucoba intip di balik jendela maya. Wajah-wajah yang dulu pernah mengisi hidupku, Telah aku temui mereka sebagian kecil. Antara sahabat masa kecil dan cinta monyet istilah masa kala remaja, antara sahabat dan mantan cinta yang sudah puluhan tahun tak bersua.
Puluhan tahun telah berlalu,
ya, di facebook inilah kutemui mereka satu-persatu.

Wajah-wajah yang dulu lugu, kini telah menjadi ibu-ibu.
Memang mereka semua telah menjadi ibu, bahkan hampir punya cucu, hehe...."

Seiring waktu, bakat kecilku terasah lagi ke dalam majas cinta yang dulu tak bernoktah. Kini melukis kembali berbagai syair-syair sederhana karena hanya menyalurkan hobiku saja.
Tabiat sang gombalisku selalu melukis dan menulis rindu yang tak bertujuan di facebook maya.
Dengan kisah-kisah nostalgia masa silam.
Syair-syair cinta berlayar bertamu di lembaran-lembaran muka buku yang hanya sebuah sisa-sisa luahan sang gombalis ketika masa study dulu.

Mmmm...." katakanlah sang gombalis itu aku.
Cerita luahan gombalis membuncah nostalgia cinta yang tak pernah sudah, perlahan tertutup dan berubah dengan bimbingan sebuah kesadaran oleh sang waktu yang mendewasakan diriku oleh sesuatu yang kudamba, yaitu rose red.

Aku mengenalnya dalam sapa canda, hingga tak terasa virus gombal itu masih ada. Ya namanya gombal tetap saja gombal, Uuuuuhhh...''

Rose red,
yang dia belum pernah bertemu hingga saat ini.
Yang sesuatu itu dia adalah sang rose red bunga yang santun berpagar duri. Bunganya mekar dalam buaian kehidupan, kerasnya hidup sanga bunga bak srikandi dalam pagar berduri, mengejar mimpi-mimpi hati yang dia idamkan.

Bunga rose red selalu menari di taman pelangi senja, lena dihembusan bayu asmaranya. Padahal hanya hembusan sekedar angin lalu saja.
Taman bunga mekar dalam tuntunan hidup berkarir sebagai seorang pengajar dan terpelajar, dan dia kokoh kekar dalam berjuang memenuhi tuntutan kehidupan yang berpacu dengan waktu.
Aku sang gombalis terpesona dan kagum dengan perjuangan hidupnya yang keras bagaikan batu.
Aku sang gombalis salut,
ketika suatu masa bunga itu kucandai,
haiiiiii....??" kusapa dia dari balik jendela tinta dari jakarta lewat maya.
Padahal sang bunga lagi mesra di genggam oleh irama-irama merayu sang kumbang pecundang-pecundang gombalis semu.

Ketika masa itu, sang bunga sedang layu terhempas oleh rayu-rayu bayu semu.
Sang pelangi jingga menari di ufuk mentari dikala senja hari, menggelitik sapanya yang mesra, panggilan yayang sebuah harapan semu dari duda tulen. Hingga sang bunga terhempas oleh kepalsuan canda-canda cintanya dan mereka.
sakit parah menyapa kesehatan sang bunga, bunga layu dalam gombalan semu.

Padahal sifat sang gombalis tak jauh bedanya dengan pelangi senja itu.

Suatu Ketika, puncak sakit yang sangat kritis dari problem hidup kesehatan dan cinta.
Sang bunga layu di beranda jiwanya.
Kumbang-kumbang yang biasa ramai menyapa, seketika berlalu menjauh seiring lara terhempasnya sang bunga di hospital.
Kumbang-kumbang semu meniupkan bayu rindu yang tak lagi menentu, berlalu mencari bunga baru.

Aku mengintip selalu story love and history life sang bunga.
Hingga song melodi sakitnya tuh di sini digubah lewat guitar di hantar lewat maya, lipshing nyanyian hits cita citata yang ia nyanyikan berulang kali kuputar. Seakan ada nada keluh-kesah dari laranya cinta yang dia rasa selama ini, berbuah kecewa dengan pelangi senja yang warnanya telah temaram malah hampir pelitanya padam.
Seakan lipshing lagu sakitnya tu disini yang dia nyanyikan adalah potret irama hati dan emosi menjadi lipshing realiti yang merdu sekali.

Nyanyi itu menyentuh rasaku tuk menyapa sang bunga yang sedang lara,
kuingin mengobati luka sakitnya tuh di sini, dengan senyuman sastra indah, demi untuk meringankan beban kecewa yang dia petik selama bercinta di maya bersama pelangi senja.
Kerena boring asanya, telah menyapa hidup sang bunga kasih yang tak pernah nyata, aku terharu dan hiba hingga bulir-bulir suka dan cinta menyapa dari Jakarta.
Aku coba menawarkan obat song sakitnya tuh disini dengan kado cinta yang setia sampai saat ini dan selamanya.

Lelah jiwanya kuhias kembali semangati taman yang akan berguguran
kusirami kuhias kembali dengan warna baru.
padahal,....."
dengan sebuah cinta yang payah juga.
Hehem, semakin kompleks sudah derita rose red dalam kubangan rindu yang semu.
Sang gombalis juga tak tahu diri, yang sudah beristana noktah. kenapa juga rasanya masih selalu mengombal..." pada sebuah cerita jingga yang tak pasti, entah sampai kapan janji-janjinya ia penuhi, seperti jauh panggang dari api harapan tungku menanak nasi dengan panci.

Aaahhh...."
ya sudahlah, rehatlah untuk mengombal, uuhh.
Tapi sayang, kaki sang gombalis terikat rantai di balik jeriji sebuah bilik hati yang halal di setiap hari.
Rayuan sang gombalis selalu memuji kecantikan rose red dengan rasa sastra-sastra indah menyapa dari Jakarta.
Hingga terjalin kisah dengannya. Tapi aneh, cintanya tak pernah nyata hingga kini.
Mmmm...."
Aneh memang, kisah ini terjadi dan bersemi walau tak realiti.
Meski cabaran selalu menyapa melukai bunga, maruah sang bunga yang dia rasa setiap begaduh selalu pilu menghadapi rentetan cerita maya tertuduh hipokrit menuduh perit hingga berakhir kecewa.
Tapi, sang bunga selalu berusaha kokoh berdiri teguh, seakan tak mau kalah dan salah. Anehnya lagi ia selalu setia mendewasakan kelabilanku tentang kearifan cinta yang bersahaja.

Tuhan, aku bersyukur menemukan bunga yang mulia ini.
Walau kisah ini selalu pasang surut, dari cabaran pemahaman dua hati yang berbeda berjauhan di benua tak bernama. Aku kian terharu dengan perjalanan kisah yang pasang surut ini. Storynya yang pilu, memiliki kasih yang sering berlalu pada bisu dan kembali menitip rindu-rindu, meski lajunya tak pernah jauh.
Semakin ia hendak berlalu semakin ia merindu, sang gombalis manis-manis merayu supaya bersatu kembali.

Aahh, padahal sang gombalis itu memang juga merindu, tapi rindunya yang payah.
Aku di antara ia dan mereka selalu terhakimi kecemburan yang tak pernah sudah, hingga sang gombalis bertambah kedewasaannya dari nasehat nasehat rose red menuntun cerita bermakna setia. Berjanji sang gombalis tak lagi melukai hatinya.

Ketika aku menemukan hakikat rasanya
dengan sadar aku berikrar"
sebuah keabadian cinta terluah yang tak lagi bermain cinta setelah ini. Dan janji itu aku pegang sampai mati, terkisah walaupun tak terkisah dengan sang bunga, ikrarnya sudah membatu dari sang penulis misterius yang gombalis itu.

Sungguh ikrar itu akhir dari petualangan cintanya.

Hidup di antara dua cinta menghias hari
sang gombalis telah berjanji takkan bercinta lagi selain ia dan realitanya. Semoga sifat gombalis ini terkikis dari kebaikan nasehat-nasehat yang bermakna dari bunga setia, meski yang ia selalu lara.

Semuanya masih misterius
sekilas rasa terluah di malam buta, kulukis cerita tersadur dalam cerpen story my love, dengan madah curahan pendek yang sederhana ini.
Semoga terpahami dengan perjalanan yang kian misteri.

Wassalam, akhir kalam, fajar malam yang akan temaram
esok lusa di sambung dalam bingkai maya yang berbeda, dalam cerita sederhana sang sastra menyapa.

HR RoS
Jakarta 31-8-2015. 00,00





AKU DAN HUJAN RINDU
Karya: Romy Sastra


Awan hitam kabarkan pesan pada angin
bahwa rintik sebentar lagi akan turun hujan
membasahi bumi.

Pucuk tersenyum menatap koloni langit
riang bermekaran,
kembang di taman gersang
lambaian dedaunan menitip kasih pada puisi
kemana aliran hujan rindu akan mengadu
ranting telah patah, menyisakan tunggul
berharap tunas-tunas baru bermunculan
menanam aksara pada syair cinta berikutnya.

Aku di sini,....
menyulam bayangan pada memori
di gubuk tua dibalik jendela
bermenung sepi,
menyaksikan sisa rinai yang akan reda.

Di sini, ya dibalik jendela ini.
Menatap rupa kekasih yang telah pergi
pada bulan kemaren.

Agustus akan berlalu meninggalkanku
September membuka cerita baru
dalam bait-bait yang tetap sama
pada sajak dan puisi.

Kisahku pada hujan rindu,
akan aku kenang selalu.

HR RoS
Jakarta 30 Agustus 2016




AWAS ITU
by Romy Sastra


tak berujung
tak berawal
tak berakhir
tak bertempat
awas itu bias teraba tak tersentuh
bukan angin.

Bening bak siluet embun
tak berwujud
bukan warna.

Ia, awas, menyelimuti seantero ada dan tiada sekalipun.

Suci, teramat suci
Ia adalah awas dzat laisa kamiselihi
maha kesucian itu.

Jakarta, 05092016




OBSESI YANG TERHENTI
by Romy Sastra


Cerahnya mentari pagi
tak secerah hatiku
indahnya bunga-bunga bermekaran di taman
tak seindah tinta yang kumadah ini
jariku lelah menggores puisi tentang cinta

kepada seorang kekasih
kisah cintaku terhenti di sini.

Kupandangi lingga warna di ufuk senja
tak kutemukan pelangi yang biasa bersolek
membujuk rasa pada diksi-diksi tentang jiwa.

Perahu terpasung sudah di bibir pantai
pelayaran ini di amuk badai
aku bisu dungu tak bisa berbuat yang terbaik pada ayunan gemulainya jemari menuntun tentang puisi.

Kulukis syair dengan resah
ilusi majas hati kian buram
langkah ini lelah
tintaku telah memudar di muka buku
pelayaran itu terpaksa kuarungi sendiri
di tengah samudera berkawan sunyi
badai berkoloni kabut
aku tersasar kehilangan arah
pantai mana tempatku kan berlabuh.

Kalut tak menentu
pelayaran ke pulau harapan terbengkalai
pendayungku patah,
hilang di telan gelombang
mimpi itu usai
obsesiku terhenti
di sebuah perjalanan yang tak bertujuan.

Karam bersama sekoci
Hilang di tengah lautan
yang takkan bisa diketemukan lagi.

Jakarta 10-9,2015, 08,13





SEMALAM DI BAITUL MAKMUR
Karya Romy Sastra


Getar-getar tasbih mengelilingi arasy
dalam perjalanan malam
menanjak ke ruang angkasa jiwa
berdiri di samudera biru
menatap bayangan kalbu
di selimuti nafsu-nafsu itu.

Malam-malam indah bersama diriku
dalam kegelapan jalan
rasaku memandu
ya, melaju dengan rasul itu.

Di perjalanan diri pada titik tasbih
bak kilat menerobos pekat
mencari yang tersembunyi
baitul makmur di langit tinggi
terletak pada ubun yang tak terpijak
bermahkota cahaya cinta berpanji tauhid.

Kuucapkan salam,
salamun kaulam mirrabbirrahim.

Baitul makmur masjidil
sang khalifah Illahi
tempat bersandarnya Ibrahim.

Masjidil para wali
di negeri awan yang tinggi
tak jatuh, tak bergeser barang sedikitpun
mihrabnya tertata indah
temboknya bak dinding kaca cahaya
bertaburan bunga-bunga surga.

Aku dapatkan baitul makmur
tersembunyi di dalam diri
bersinggasana di keheningan
jauh di balik awan
tertatap tak kelihatan
teraba tak tersentuh
ia adalah wujud dari derajat religi
peribadatan para sufi-sufi.

Semalam di baitul makmur
bermandi cahaya mahabbah
kenalilah jalan sang utusan
sang para pecinta
utusan risalah Illahiah.

Jalan-jalan misykat kaca tak tersentuh
bersemayam dalam nurullah
ketika siburung merak berkelana ke samudera jiwa
membawa tasbih-tasbih cinta
kau tak akan tersesat jalan
tujuan jalan-jalan Tuhan
dalam perjalanan malam
menuju istana keabadian.

HR RoS
Jakarta, 12-9-2015, 08,56





DUKA MASJIDIL HARAM
Karya Romy Sastra


Butir-butir pasir berbisik
terbang menyisir diiringi kabut
bulir-bulir air mata mengiris
jeritan tangis bertakbir
Tuhan, lindungi perjalanan haji itu.

Allah akbar, Allah akbar, Allah akbar
walillah ilham.

Cahaya tanah haram sejenak temaram
dari fenomena alam
ya Rabb, duka itu hentikan!
Ampuni kami dari dosa lahir dan bathin
dosa yang tampak dan yang tak kelihatan.

Tanah haram
masjid sang khalifah Illahi
terhakimi dari misteri
bertanya jubah diri pada iman
dosa siapakah ini Tuhan.

Ya Rab,
bersihkan hati kami
sucikan tanah ini kembali
dari noda sistem ibadah haji.
Sang kerajaan sudah lengah pada amanah
kearifan alam tak lagi bijaksana
sang maha raja datang menyapa
luluh lantak di bulan idul adha.

Bukalah matamu wahai penguasa dunia
dari permainan berhala-berhalamu
mengapa ada seribu tuhan di hati ini
hingga lupa pada jalan pulang itu.

Maruah akidah terjajah oleh nafsu angkara
kembalilah ke risalah fitrah
tuntunan sunah Illahi dan nabi
semoga di berkahi
wahai para khafillah-khafillah haji.

Wahai debu-debu pasir yang berterbangan
awan hitam bergulung membawa ketakutan
mutmainah itu telah teruk
angkara murka di dunia sudah menjadi budaya
para dajal-dajal yang berpesta pora
porak-porandakan akidah umat manusia.

Ibadah haji tahun ini berfilosofi
filosofi, pada hati yang dikebiri
hingga rahasia-rahasia illahi tak lagi dimaknai.

(#dalamtragediritualhaji2015)
HR RoS
Jakarta, 12-9-2015, 17,17





#sajak
BURUNG PUN BERTASBIH
Karya Romy Sastra


Irama alam berbisik dalam diam
kidungnya sunyi lafazkan tasbih siang dan malam

mendung langit di sore hari
rahmat turun basahi gersangnya hati ini.

Burung-burung bertasbih pagi dan petang
setiap yang berjiwa berkumandang.

Denyut nadi
tak pernah berhenti memuji.

Alam diri memiliki toleransi
pada kearifan jiwa dan raga.

Jikalau berhenti memuji
sudah tentu alamat kiamat mendekat.

Ketika tasbih puji hati tak dicerna
merugi amanah suci
dalam kesaksian diri
jasad jadi bangkai akan tersiksa
karena lalai diri tak mahu-tahu mendengarkan pujinya hati.

Gunung-gunung sebagai pasak
alam dihamparkan untuk berpijak
marilah menunduk ke tanah impian
mengenang tanda tanda kematian.

Jalan pulang itu kian dekat
sambutlah el-maut dengan senyum memikat.

Cabaran terhempas lara
dalam siksa yang tiada tara
duh ya Allah, ampunilah hamba.

Rasa bertasbih di labirin hati
bibir ini bergetar
desahnya memandu hayal
melaju pada ranah Illahi Rabbi
bukanlah sebuah seremonial
ia adalah pekerjaan pasti.

Tataplah kenari bernyanyi riang tiada henti bertasbih pagi dan petang
sambutlah ritual tasbih sepanjang hari
karena-Nya diri ini ada
bersama-Nya diri ini mesra.


HR RoS
Jakarta, 12092016





Cerpen,
BERSAMA CINTA MENEMUI MAHA CINTA
Karya Romy Sastra


Ketika waktu maghrib menyapa, kami selalu sholat berjamaah bersama anak-anak
betapa indahnya sebuah nilai realita rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah.
Kala lantunan doa dari sang imam memandu, meski suara itu berbisik pada kalbu dalam hati yang tak terdengar oleh diamnya duduk kami.
Tapi, suasana hasrat doa itu, seakan sama pada kesetiaan cinta dan rumah tangga untuk selama-lamanya hingga ke jannah,
di antara aku dan jamaah itu, meski tak terdengar oleh telinga ini,
tapi rasaku mengatakan ia adalah seirama.
Buktinya, aku melirik dalam duduknya makmum itu mereka tersenyum menyalami tanganku, dan mengecup jemariku.

Spontan mereka menengadah menatap wajahku dan kukecup juga kening jamaah yang ada di hadapanku satu persatu, mereka adalah istri dan kedua anak-anakku, hasil dari pernikahan pada tahun 1998 silam.

Yang sulung, adalah Iqbal Al Javpad kelahiran 1999
dan yang bungsu Rio Sastra lahir 2004 keduanya anakku itu lelaki.

Ia ibunya Mimi dari anak-anakku,
aku sendiri Romy, suaminya Mimi.

Mimi adalah
sosok pendamping hari-hariku
dalam suka maupun duka.

Selepas dari ritual berjamaah sholat maghrib, kami bangkit dari peraduan persembahaan kepada Tuhan, ya Illahi Rabbi.

**********

Mimi menyapa,

Bang ...?"
Ini segelas kopi aku letakkan di atas meja,
aku yang biasanya selepas maghrib mengambil waktu santai di ruang tamu, menyusun larik-larik diksi di atas kertas putih tuliskan sebait puisi sarapan tinta malamku.
Ya, Mi, silahkan ditarok!
nanti abang minum,
airnya masih panas kok.

Aku pergi dulu ya bang,
rengek Mimi, hendak ke warung beli handbody lotion pengusir nyamuk buat bekal tidur anak-anak nanti.
Ya silahkan ...
jangan lupa,
belikan abang sebungkus rokok ya!

Ya abang, sahut Mimi.

Sambil menulis satu judul cerpen
dan larik-larik demi larik puisi selesai juga puisi kumadah,
aku langsung memposting ke sosial media karyaku itu, untuk kumpulan karya-karya puisi dalam koleksi antologi sastra, yang selalu diekspos setiap minggu dan ada yang satu bulan sekali bersama kawan-kawan group sastra facebook.

Kelak karya itu, aku bukukan sebagai kenangan masa tua untuk anak-anakku, buat cerita sejarah sastra sepeninggal hidup ini nanti.

Suara beduk isya mulai menyapa, dari kejauhan malam yang mulai kelam,
Mimi yang sedari tadi ada di depan layar televisi menyaksikan cerita sinetron yang ia selalu ikuti.

Mimi ....?!
ayo kita selesaikan kewajiban sholat fardhu isya dulu
dan berjamaah kembali.

Kali ini, kami berdua saja di rumah sholat berjamaah, karena anak-anakku pergi mengaji ke tempat biasanya ia menimba ilmu iqra'.

Malam-malam sunyi mulai menyapa
suasana dingin mulai terasa.

Mimi yang biasanya,
selalu ia membaringkan tubuhnya lebih dulu, berharap kala malam ia bisa bangun kembali untuk menunaikan sholat sunat tahajud yang biasanya kami lakukan.

Abang, aku tidur duluan ya?!
aku ngantuk sudah ni,

ya silakan Mimi ...!"
abang belum ngantuk.

yang ia sudah lelah dari kesibukkan sehari-hari sebagai seorang ibu.

Sedangkan aku sang ayah, masih menunggu mereka, anak-anak pulang mengaji.

Supaya ia bisa belajar sebelum tidur, menghapal pelajaran sekolahnya dari tugas guru sekolah.

Tok, tok, tok ..."
Assalamu'alaikum?

Alhamdulillah mereka anak-anakku sudah pulang.

Wa'alaikumsalam ...,,
jawabku dari dalam rumah.

mana ibuku ayah, tanya si bungsu ...?
ibumu sudah tidur nak,
bukalah buku kalian, kerjakan dulu PR sekolahmu ...!
sebelum kau tidur.
Selesaikan tugas sekolah kalian!
baru pergi tidur ya,
biar besok tak di marahin gurumu di sekolah
ya ayah.

Yang sulung, tanpa disuruh ia sudah berada di depan rak bukunya.

Selesai mereka belajar, lalu anak-anak itu tidur dibiliknya masing-masing.

Singkat cerita ....

Malam telah berselimut kelam
suasana hening memanggil misteri malam, bersuara cit cit cit
auuuuuu ....
seakan suara itu menyuruhku tidur.
Aku masih saja menulis cerpen tentang surat cinta kepada Rabb malam,
bahwa hidup ini indah Tuhan ...,
terimalah bakti syukur kami kehadirat-Mu.
Cerpen itu kuluahkan dari imaji dan realiti ke dalam larik-larik,
aku melirik jam dinding sudah menunjukkan jam, 23:00 wib.

Ya, mata ini perlu diistirahatkan.

Dan semoga aku bisa bangun bersama Mimi istriku menunaikan shalat sunah tahajjud nanti di pertigaan malam.

Lelap, lelah dari asa itu,
memandu hari-hari setiap hari.

Pas takdir malam menghampiri religi membangunkan jiwa yang pergi pada kayangan mimpi.

Dipertigaan malam
istri membangunkanku.

Bang, bang, bangun ...!
Yuk kita shalat tahajjud.

Aauuuu ...
duh, ngantuk banget mata ini,
aku tak menghiraukan panggilannya,
mencoba lelap lagi.

Mimi gak sabar, digelitikin perutku
yang ia sangat paham akan kelemahanku, kalau ia membangunkan suaminya.

Sedikit rasa malas dan cemberut
pada kantuk
akhirnya aku bangkit juga dari pembaringan.

Kami berdua bergantian ke kamar mandi
membasuh muka untuk berwudhu'.
Lepas berwudhu',
sajadah di baringkan di bilik sholat.

Di tengah malam sunyi,
dingin teramat dingin,
seakan malam ini,
malam ujian religi kami ....

Suara jangkrik bersahutan
menghibur mimpi-mimpi insan yang terlena di peraduan irama gesekkan biola malam. Bahwa malam itu indah.

Dalam tahajud itu ....

Pada indahnya suara lirih doa-doa malam, seakan membangunkan sang maha kekasih di haribaan-Nya.

Aku dan Mimi sama-sama khusyuk tartil dalam tuntunan tahajud malam,
berdua satu jiwa,
menatap jauh ke dalam fana.
Bahwa yang kami bawa adalah cinta, tanpa do'a.

Karena biasanya hajat do'a kami,
ada masa tak memohon dunia.

Akan tetapi, di antara hajat malam tahajud itu,
kami hanya melihat diri ini masing-masing,
apakah sang maha kekasih masih menghidupkan kami esok hari.

Tahajud cinta di malam buta,
sungguh,
kami tak meminta dunia,
pada kesenangan semata ...
Tapi sungguh benar, yang kami bawa adalah
ibadah penyaksian sang maha cinta
bersemayam di diri ini.

Akhir dari ibadah penjamuan rindu
di malam bisu
kami saling menatap,
dan saling bertanya ...?"

Abang ..." tanya Mimi ?

Adakah abang menyaksikan maha kekasih itu dalam sujud doamu?
ya ..., jawabku.

Apakah dikau Mimi juga sama melihat kehadiran-Nya ...?"

Ya abang sama, aku masih melihat-Nya.

Yaaa, kalau begitu"
isyarat usia dan jodoh kita masih panjang Mimi,
semoga ya Allah.

Satu tatapan dalam pelukan
malam-malam indah bersama kekasih
menemui maha kekasih
di peraduan sujud tahajud malam itu.

HR RoS
Jakarta, 28-5-2016, 15:48






Karya Romy Sastra


Bias-bias terkikis dalam pesimis
gontai langkahku menghalau lelah
optimis pada cinta Illahiah.

Dalam religi,
Aku pamit ....

Pergi menjauh dari pergulatan dunia
yang kutempa kearifan jiwa pada nafsu hina
pergi memamah cinta dalam fana sukma.

Diri, mengejar asa terkadang lupa
bahkan memang alpa
rayuannya dunia fatamorgana.

Bila malamku hadir
kebisingan fana sami' menggema
bak lonceng berbunyi
asyik jauh membubung arasy
lafaz terhenti
hati berbisik
bashir kututupi
lidah kulipat langit merapat.

*******

Alam malam dalam kegelapan
hening menempuh kematian
kematian di dalam kehidupan.

Berjalan bak kilat ke dinding misykat
Kupapah jiwa bersama rasa
menyatu bersama unsurku
larut melebur ke istananing dzat itu.

Tak kubawah mahkota megah
menggendong sebait asma
bergandeng dua ekor peliharaan yang setia
berputar mengelilingi asyik
peliharaan itu aku beri nama iman dan tahuid.

Tak dapat pelita di tungku perapian
tak kutemukan cahaya-Nya di sang surya
tak menerangi lilin di milad ultah
tak pesona ceria di glamournya pesta.

Pesta itu anggun tak berpenonton
Sorotan lampu panggung silau menipu
karena sang opera pertunjukan dungu.

Sesungguhnya,
aku menemukan cinta dalam kematian
mati dalam hayat
lenyap ke dalam fardhu ai'n
berakhir kisah suci pada kifayah
sebuah pertemuan realita cinta yang rela
khair di kasyaf wilayah rahmat ilmu
bersama-Mu, aku bahagia.

HR RoS
Jakarta, 11092016





KA'BAH ITU TERNYATA WAJAHKU
Karya Romy Sastra


Kuhamparkan sajadah
berdiri menyebut nama-Mu
menatap ke dalam fana
khusyu' berjubah takbir
memanggil yang tak tampak
bersembunyi di dalam jiwa ini.

Kukhusyu'kan fikiran, memandu kalbu
menutup nafsu, membuka tirai itu
pasrahkan jiwa raga,
menghantarkan wejangan rindu
pada kifayah, ibadah sholat lima waktu.
Ruku' sujudkan tubuh,
tak jua temukan Engkau cinta.

Telah aku serahkan segalanya
pada sholat fardhu,
berharap Engkau menerimaku,
tetap saja masih membisu.

Kini..."
kututup nafsu,
kubuka pintu kematian,
ka'bah itu ternyata wajahku
baitullah itu tubuhku
batu hitam adalah hatiku.

Dalam fana kematian di dalam hidup,
ternyata telah diselimuti aku dengan cahaya-Mu.
Disanalah aku menemukan baitul makmur menara iman itu.
Inilah sholat yang tak tersia-siakan
datang membawah cinta, berharap kekasih mencintai juga.

Ya Rab ..."

Mahabbahkanlah cintaMu itu.

Dalam kelemahan serta
kebodohan diri
pelitakanlah jubah insani yang di ridhoi
ampunilah segala dosa-dosaku
terimalah kehadiranku ini.

Meski yang datang membawa noda
siramilah dengan madu mahabbah-Mu
aku ingin belajar menjadi pencinta sejati
dalam kelemahan takwa,
semogalah ibadahku di cintai.

HR RoS
Jakarta, 11092016




KEMATIAN ITU KIAN MENDEKAT
Karya Romy Sastra


Tamu itu akan terjadi
menyapa raga dan jiwa
mengakhiri semua cerita
menutup gita

Ketika ruh akan pergi
tubuh terbujur kaku
jangan ada derai air mata
untuk menempuh jalan kematian
di giring sang el-maut
dalam ketakutan yang tak terkira

Duuhh, diri.
Tamu misteri yang tak kenal waktu
Ia bertamu
menghantar ruh ke jalan keabadian
ke telaga siksa ataukah cinta

Jasad terbalut kain kafan
bangkai tertanam dalam lumpur
semua para pengiring keranda kan berlalu
pengap di dinding papan
jasad menunggu bias di telan waktu
nisan-nisan berdebu
padang ilalang kerontang
kamboja pun berguguran jatuh ke bumi

Tiada gelap yang lebih gelap dari gelap
dalam kuburan itu
tiada sunyi yang lebih sunyi dari sunyi
di bawa nisan itu

Pusara kan menjadi saksi
di lintasan dunia lembah mimpi
dari hidup yang berpesta pora
lengah pada kematian abadi

Mmmm ...
bila ruh pergi
Tuhan meridhoi memanggil kematian
kunanti dikau amal rinduku
di telaga cinta
di singgasana jannah.

HR RoS
Jakarta, 5-9-2015,





PELACUR-PELACUR NEGERIKU
Karya Romy Sastra


Kembang kantil bersolek di ujung mantera
kemenyan mengebul di bibir dukun
terurai asap di atas ubun
wangi menyeruak di sekujur tubuh.

Bila malam menyapa mistik
mantra asmaradana menggoda Arjuna
Arjuna liar di kota metropolis
mucikari-mucikari bak selebritis
berdandan cantik berkawan iblis.

Pecandu malam pulang malam
wahai pelacur-pelacur negeriku
kau perusak generasi bangsa ini.

Tubuhmu yang sintal berambut emas
mewangi bak kembang melati
lenggak-lenggok gemulai di trotoar jalanan
senyum menggoda mencari mangsa
memikat si hidung belang di dalam mercy.

Kau pelacur negeriku
negeri ini gersang
bak ilalang di tengah padang
generasi tak lagi punya pegangan.

Dalam diskotik night club kau asyik
malammu berfantasi ekstasi.

Di sorot lampu disco seantero pesta
pesta malam bergoyang riang
kau lunglai menjelang pagi
berkawan whisky tak sadar diri ....

HR RoS
Jakarta 5-9-2015





#prosais
OBSESI IMPIAN SITI
DI KALA SENJA HARI
Karya: Romy Sastra


Siti, itu namamu
kukenal dirimu di sebuah jalan di sore itu
kau seperti orang kebingungan mencari sesuatu,
sesuatu itu seperti susah sangat kau jumpai
berkeliling dengan mobil kesayangan mengelilingi perkampungan di sana, bersama keponakanmu sebut saja namanya Apen.

Ketika itu aku menyapamu, tak kau hiraukan, pantaslah sekiranya karena waktu itu kita belum saling mengenal.
Sore itu siluet akan berlalu menyapa senja, yang kau temukan akhirnya kau jumpai juga, hahaha.
Padahal aku terus mengikutimu di muka buku tapi tak kau sadari, kau bermusik ria di dalam kereta sambil berselfie. Sesekali kau berselancar ke dinding maya menyapa rakan-rakanmu yang jauh di semenanjung sana.

Senja itu kian menepi, yang kau cari itu hanya seekor domba, hahahahaaaa...
Aku tertawa, terbawah arus ceriamu kala itu.
Ya, seekor domba sebagai persembahan kenduri arwah almarhum ayah yang hendak kau potong esok hari.
bukti kau merindukan ayah, walau ia sudah tiada, pertanda kau balas budi ayah dengan doa sebagai anak yang berbakti.

Siti,
lama sudah aku mengenalmu di muka buku, cabaran demi cabaran telah kulalui, hingga pada suatu masa ketika itu, aku menawarkan sebuah pelita hati terangi kisi-kisi hidupmu
serta setangkai bunga indah kutawarkan lewat maya di jalan itu.

Mmmm ..."

Ketika itu tak lantas kau menerimanya pemberianku
kau teliti siapa aku, kau pelajari latar belakangku, hingga akhirnya kau menemukan aku.
Kau sambut pelita itu dan kau genggam dengan mesra.
Bersama setangkai bunga cinta yang kupersembahkan itu.
Kini bungaku telah subur ditamanmu
pelita yang kunyalakan, pun ikut menerangi seantero rasamu ...
setangkai bunga itu kini mekar dihatimu dan telah berputik.

Sayangnya pelita itu goyang kini, di terpa bayu
mengusik beranda hatimu
pelita cinta yang tak mewah kian temaram dalam gelapnya malam
dan sayangnya lagi, setangkai bunga yang berputik itu akan layu dengan bayu jerebu bisu, jerebu dari bara emosi maruah rasa di cabaran maya.

Siti,
kini kutadah embun di pagi hari tuk sirami jerebu emosi ego diri
nyatanya tak mampu juga kupadamkan.
Di jalan kenangan aku menemuimu dan di jalan itu inginku kau nyatakan jugalah kesungguhan cinta serta kesetian yang abadi memamah kisah yang sempurna mungkinkah akan terealiti ....?" ah, akankah terjadi?
mmm,
entahlah.

Dan apakah akan berakhir sudah sebuah kisah cinta tinggalkan memori-memori di jalan ini, entahlah juga.
Jikalau engkau bertanya tentang hatiku,
di mana posisi hatiku berada saat ini?
aku menjawab dengan senyuman...
kau ada di hatiku dan aku ada di hatimu dan itu bersemi dalam benakku.
Apakah akan aku akhiri memori di jalan ini jawabanku tidak ....!!"

Siti,
kau akhir dari sebuah petualangan itu.

Meski hidup kita jauh berbeda
kau di hujung samudera biru di wilayah gunung kinabalu,
sedangkan aku tercecer di antara lorong-lorong waktu di tengah kota Jakarta ini.
Kota yang menjanjikan setumpuk harapan
dan kota ini juga sebuah kegagalan hidupku yang akan menyapa obsesiku di kala nanti.

Duh,
sanggupkah cerita mimpi ini terealiti dalam noktah walau itu tak beralamat ...

Meski kakiku terikat rantai besi
dan rantai itu hanya sekali-kali bisa kubuka.

Siti, kuingin cindera noktah
kan berbuah berputik menjadi pelanjut tirani history mimpi yang terealiti.
Ah, malam yang panjang, kau bunga mimpi tidurku, aku yang selalu larut dalam bayangan kasih sayang,
akankah kisah ini sebuah misteri saja dalam kisah cinta yang akan terhempas lara ...?"
entahlah.

Aku menyapamu dalam madah obsesi mimpi di kala senja umur yang sudah menghampiri.

Kutunggu kau di jalan ini tuk kembali
torehkan sahaja cinta berjubah bijaksana
untuk menghiasi hidupmu sampai tua.

Semoga kearifan rasamu kian terarah
menuju cinta yang tak pernah sudah
setiaku, memandu ke hujung waktu
sampai akhir hayatku. Wasallam.

HR RoS
Jakarta, 7-9-2015, 02,00





SANG NABI
Karya Romy Sastra


Tirani khalifah Illahi
di intimidasi dari kekuasaan sadis
Ibrahim kecil terlantar di lorong pengap
haus dan lapar menjerit pilu.

Air madu surga mencucur di ujung jari
mukjizat pertama itu terjadi
menyusu pada telunjuk sendiri
tanpa ayah bunda, suasana sunyi.

Jalan itu menelusuri padang gersang
tiada celah cahaya pada nurani insan
tertutup api raja Namrud
yang ada kegelapan iman
bertuhan pada patung-patung
ciptaan Azar ayahnya sendiri.

Melipat jejak terjal dengan yakin
memandu tauhid
bermukim di dahan iman
bertanya diri pada kenabian
di mana Engkau bersembunyi Tuhan ...??"

Aku cari Engkau pada terik,
inilah Tuhanku.
Kenapa Tuhan tenggelam ...!"
Aku benci Tuhan yang semu.

Aku cari Engkau,
pada bintang-bintang malam
yang bertaburan,
pada sosok wajah nan ayu rupawan,
Engkau pun berlalu dari tatapan rinduku,
aku benci kepada Tuhan yang tenggelam.

Tuhan maha pencipta,
jangan bersembunyi di balik hatiku
tampakkan wajah-Mu,
suarakan sabda-Mu,
tintakan firman itu,
dalam bait-bait kalbu sebagai petunjukku.

Kalimahtullah bertasbih pada gejolak api
hikmah tauhid tertinggi sang Nabi
mentranspormasi api menjadi cahaya
tak terbakar,
bermandi api menjadi lentera cinta
basah pada embun surga
Ibrahim, engkau bapak segala khalifah.

Dalam panji-panji agamamu,
insan di muka bumi ini mulya
sampai terbenamnya senja
pada maghribi
hingga matahari terbit kembali dari barat jejak terbenam itu nanti
risalahmu tetap abadi
ya, sang Nabi.

HR RoS
Jakarta, 09092016





PERSAHABATAN LINTAS NEGARA
Karya Romy Sastra


Kugenggam jemari maya dalam pelita kaca
kutulis sabda rasa menjalin ukhuwah
sahabat lintas negara, Malaysia Singapura Brunei dan Indonesia.

Sebuah warna bianglala
di antara gita cinta dan cerita
tuk berbagi rasa dan informasi
satu atap dalam bingkai nusantara.

Terikat dalam sejarah melayu
berkoloni satu lagu damailah negeriku.

Cabaran kenduri anak negeri
membawa presepsi dalam irama lagu
kadangkala nada sumbang
dalam filosofi ego diri yang hina
campakkan saja tingkah murah seperti tak pernah terjadi.

Kearifan budi yang bisa memaknai
walau irama kasih terkebiri
kugenggam mesra ke dalam dada bijaksana
untuk sebuah setia dalam maha daya cinta.

Melukis gambar hati
Sehati dan sejiwa.

Berpacu tebar pesona
dalam kompetisi prestasi anak negeri
sama-sama juara
menggapai masa depan nanti
untuk kerukunan anak cucu kita.

Kujalin mahkota seni dalam sastra
bingkai ukhuwah
Sastra lintas negara.

HR RoS
jakarta 9-9-2015,





TASBIH CINTAKU LARA
Karya Romy Sastra


Malam-malam indah bersamamu
dalam mihrab Illahi
bersanding dengan bayangan diri
hakikat wujud nafsuku bertamu.

Dalam gelap aku mencari cinta
dalam terang aku bercumbu mesra
tasbih cinta bergetar
bergetar ke dinding misykat kaca rasa.

Aku tengelam ke telaga cahaya
telaga warna-warni nafsu diri.

Ya Rabbi,
hamba bertamu ke pintu istana-Mu
Engkau tutup
apakah akan di buka pintu itu
hamba gelisah di himpit duka
Ooohh maha cintaku.

Wajah-Mu kau palingkan
aku menunduk malu menghitung dosa
ampunilah hamba ya Tuhan
dari segala dosa yang kulakukan.

Wahai sang pemilik malam ...?"

Malam ini tak kau sambut tasbihku
izinkan umurku ada
mengetuk mihrab-Mu kembali
untuk bertamu di malam-malam
berikutnya
berharap, tampakkan wajah-Mu
wahai kekasih.

HR RoS
Jakarta 9-9-2015, 07,10





GADIS TEMARAM
Karya Romy Sastra


Gadis senja di temaram bianglala
kabut jingga di lereng rindu
kutatap masa depan jauh keperaduan
malam ini tanpa berkawan rembulan.

Aku gadis desa menatap cinta
pada sebuah kisah yang terkubur
kumbang yang terbang menghilang
kau kini entah di mana
kekasih yang lama
meninggalkanku.

Senja sepi berkabut
gersangnya padang ilalang
aku merindu angan sebuah janji
akankah kau akan kembali di sini
di rona senja yang kian menepi
rindu menanti.

Kembalilah ..."
aku kan setia pada kekasih
yang sudah lama pergi
meninggalkanku
kutunggu kau di malam ini
bercerita di bawah sinar rembulan
bercumbu di pangkuanmu
berharap pelitanya hadir
bahwa malam ini indah.

HR RoS
senja Jakarta, 09092015, 18,27






KEMESRAAN YANG TERTUNDA
Karya Romy Sastra


Rasa cinta
membingkai kasih sayang
teteskan rasa madu dari sudut kalbu
kepakkan sayap rindu dari hayalku.

Kupetik setangkai melati
aroma semerbak mewangi ke ruang hati.

Mendekaplah ke dadaku
kan kukecup keningmu
kau basahi bibirmu dengan istighfar takbir,
kau lepas kemesraan cinta seketika
demi sebuah cinta fitrah.

Kau terima cinta hina dalam pelukan
kau kulum permen karet bibirku lengket
hahaha ..." aku kaget.

Waduh,
buaian cinta di antara dua rasa
menebar rasa penyesalan meratap tangis diri yang terlena.

Falsafah cinta di antara dua sejoli
memilih jalan
membimbing spirit suci ke harga diri
menjaga norma-norma susila
yang semestinya.

Cinta mesra di antara dua hati
bercumbu di luar noktah
melenakan nafsu
pada kekasih yang bertutur budi
pada pilihan itu ....

HR RoS
Jakarta,0909216





#sajaklara
MUJAHADDAH CINTA BERKABUT
Karya Romy Sastra


Jalan terjal berliku dan berkabut
tertatih di sahara padang gersang
mengiringi langkahku
kutapaki pasir kerikil berduri terus kulalui
dahaga yang parah
pemberhentian itu tak jua kutemui.

Brrrrr ...
pagi ini dingin sekali
mendung menyapa hari
bianglalaku malu bersembunyi
ronanya berhias sepi
dari petualangan cinta berselimut mimpi.

Penantian janji palsu melupakan memori
memori telah menjadi mimpi-mimpi sunyi.

Bunga bahagia yang di damba-dambakan
layu sudah di kebiri
mawar cinta berguguran,
kupetik saja melati putih
suci mewangi di dalam hati
jadikan aroma iman
pengikat tongkat menuju mihrab Illahi Rabbi.

Aahh ..."
payahnya aku,
bak musafir di savana lara
berbalik arah tak mungkin kulakukan
arah pulang pun tersesat jalan.

Degup jantungku kian meletup
denyut nadi kian terjepit
lara asa cinta semakin terjajah
membuat nyali ciut kehilangan semangat
mujahaddah cinta berkabut
kutinggalkan sajalah.

berlari sekuat mungkin meraih hakiki
jalan itu tak jua kutemui.

HR RoS
Jakarta 08092016





MENGENANG SEJARAH PELACURAN SASTRA


Dalam dunia sastra, atau yang lebih umum seni dan kebudayaan, seringkali ada friksi, pertentangan, perselisihan, konflik. Di sana, caci maki, kritik pedas, cemooh, adalah hal lumrah. Tapi sepanas dan sejauh apapun konflik, belum pernah ada yang membawanya ke ranah hukum. Kerja sastra adalah proses melampaui bahasa. Makian hanya sebagian dari berbagai instrumen yang digunakan di dalamnya. Ia bagian dari ekspresi bahasa. Sedangkan sastrawan telah melampaui batasan formal dari bahasa. Perselisihan antar sastrawan paling jauh diselesaikan dalam sebuah mediasi. Atau konflik itu tetap dipelihara sebagai bagian dari kritik. Tidak ada urusan pribadi di sini.

Tapi tradisi dalam dunia sastra itu dipatahkan oleh sebuah tragedi kebudayaan. Penyair bernama Saut Situmorang diseret ke meja hijau dengan tuntutan pencemaran nama baik oleh Fatin Hamama. Ironisnya, Fatin Hamama ini mengaku sudah jadi penyair 40 tahun lamanya. Ia mencatatkan diri dalam sejarah dengan lelucon konyol, seorang penyair menuntut penyair lain akibat kritik yang dilakukan terhadapnya.

Kasus kusut ini bermula dari sebuah distorsi sejarah sastra. Pada tanggal 3 Januari 2014, sekelompok orang bernama Tim 8 meluncurkan sebuah buku bernama 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, di PDS HB Jassin. Tim 8 itu terdiri dari Jamal D. Rahman (Ketua), Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah. Buku itu terkandung cacat taksonomi di dalamnya, karena menyertakan tokoh politik bernama Denny JA sebagai bagian dari tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia. Ia sejajar dengan ikon penyair besar sekelas Chairil, Rendra, Widji Thukul. Klaim sepihak ini membelokkan sejarah kesusasteraan. Orang yang tak paham sastra justru ditokohkan sebagai begawan.

Denny JA ditokohkan oleh Tim 8 karena dianggap berjasa dengan memulai genre sastra baru bernama Puisi-esai. Banyak sastrawan konon jadi pengikutnya. Beberapa sastrawan senior bahkan memberikan dukungan berupa testimoni yang menggugah. Tapi fakta yang terkuak di belakangnya ternyata berkata lain.

Bagi orang umum, barangkali ini hanya persoalan titip nama. Tapi ini adalah persoalan serius karena menyangkut sejarah dan disiplin ilmu pengetahuan. Lebih jauh, kasus titip nama ini adalah penghinaan bagi dunia sastra. Orang-orang kritis mulai bersuara. Mereka mencurigai Denny JA adalah dalang dari tragedi kebudayaan itu. Orang-orang kritis itu kemudian membentuk kelompok, mereka menyebut diri sebagai Aliansi Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Gelombang protes kian besar. Blokade terhadap protes itu juga tidak main-main. Aparat mulai diturunkan. Uang dan kuasa mulai bicara.

Pada tanggal 23 Januari 2014, Pelukis Hanafi menyatakan bahwa ilustrasi sampul buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” adalah lukisannya yang dipergunakan tanpa izin oleh Tim 8. Buku itu selain cacat taksonominya juga telah menggunakan lukisan orang lain sebagai sampul. Tim 8 menolak bertanggung-jawab. Beberapa ajang pertemuan ilmiah yang digagas Aliansi Anti Pembodohan di beberapa universitas sebagai upaya mediasi juga tidak digubris.

Besarnya gelombang protes itu mulai menghantam Denny JA. Ia terlihat kewalahan. Hal itu tercermin dari komentarnya yang berisi kecaman dan ancaman di media. Ia menyamakan para pemrotes itu fasis, bahkan diserupakan FPI (Front Pembela Islam). Tapi fakta-fakta baru terkuak. Banyak orang yang ternyata dibayar untuk membuat puisi pesanan bernama Puisi-esai itu. Beberapa orang membuat pengakuan dan menyesali perbuatannya. Pada 5 Februari 2014, 4 dari 23 orang yang terlibat dalam proyek penulisan dan penerbitan buku-buku Puisi-esai, yaitu Ahmadun Yosi Herfanda, Sihar Ramses Simatupang, Kurnia Effendi, dan Chavcay Saifullah menyatakan keberatan dan merasa diperalat Denny JA. Mereka meminta naskah mereka ditarik dari penerbitan.

Ahmadun Yosi Herfanda bahkan mengakui telah “melacurkan diri” kepada Denny JA, demi uang 10 juta rupiah. Dia pun akhirnya mengembalikan uang itu. Ia sadar, karyanya hanya akan dijadikan alat legitimasi pengaruh Denny JA, setelah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menjadi polemik.

Tak lama berselang, tanggal 6 Februari 2014, Maman S Mahayana menyatakan Denny JA adalah sponsor penyusunan buku tebal yang memasukkan nama konsultan politik itu ke dalam jajaran 33 sastrawan besar Indonesia. Maman juga menyatakan mundur dari Tim 8, serta meminta Jamal D Rahman sebagai ketua Tim 8 mencabut 5 esai yang sudah ditulisnya. Maman menyatakan akan segera mengembalikan honorarium yang ia terima sebesar 25 juta rupiah.

Dari fakta yang terkuak itulah, nama Fatin Hamama muncul ke permukaan.

Awalnya Fatin mengelak disebut sebagai makelar sastranya Denny JA. Sama seperti pengelakan PDS HB Jassin yang menyatakan tidak tahu-menahu soal buku itu. Tapi pengakuan-pengakuan sastrawan di atas tadi tak mampu ditepis. Fatin adalah penghubung antara para sastrawan itu dengan Denny JA. Fatin juga berperan besar dalam perwujudan buku pencoreng sejarah sastra, yang kemudian diketahui mendapatkan dana dari Denny JA itu. Dari sini konflik personal itu dimulai dan dibelokkan. Kemunafikan Fatin ini membuat kelompok Aliansi Anti Pembodohan berang. Fatin dengan enteng mengeluarkan ancaman hukum. Ia akan memenjarakan anggota Aliansi Anti Pembodohan atas aksi protesnya. Kemunafikan dan ancaman ini yang membuat Saut Situmorang muntab.

Saut adalah salah satu dari anggota Aliansi Anti Pembodohan yang paling kritis. Ia juga salah satu dari penyair Indonesia yang dikenal idealis. Penolakannya terhadap aliran uang asing yang menghidupi para komprador dalam dunia kebudayaan, sudah dikenal sejak lama. Dalam aksi protes buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling berpengaruh itu, Saut adalah ujung tombak. Denny JA dan dosa sejarahnya tak mungkin kuat membendung arus protes yang terus membesar. Maka untuk itulah, caci-maki yang terjadi di media sosial dinaikkan statusnya sebagai pencemaran nama baik. Sasarannya jelas, ujung tombak para pemrotes, yaitu Saut Situmorang.

Kritik terhadap buku itu mengalami distorsi. Fatin dijadikan penangkis serangan kritik. Ia membelokkan persoalan kebudayaan ini menjadi kasus kriminal umum secara personal. Dengan diseretnya Saut ke meja hijau, suara protes terhadap buku itu lenyap. Denny JA yang semula sudah kewalahan menghadapi protes menjadi bebas tak tersentuh. Fatin memainkan play victimnya. Ia mempersoalkan makian sebagai kasus gender. Ia merengek-rengek pada Komnas Perempuan. Dan celakanya, Komnas Perempuan menganggap bahasa memiliki kelamin. Jika laki-laki menggunakan metafora dan metonimi kasar terhadap perempuan dianggap seksis. Sementara perbuatan sebaliknya tidak. Bahasa menjadi berpihak dan tidak menguntungkan satu gender.

Orang-orang umum tidak memahami esensi dari persoalan kebudayaan ini. Fatin mendapatkan simpati karena ia perempuan. Makian Saut akibat ancaman dan kemunafikan Fatin dianggap lebih keji dari dusta sejarah yang dilakukan oleh Fatin Hamama dan Denny JA. Kebenaran sudah tidak diperdulikan lagi. Di hadapan uang dan kekuasaan, kebenaran hanyalah sekumpulan daun kering. Ia bahkan begitu mudah diterbangkan oleh satu pasal UU ITE dengan persoalan nama baik, dari orang yang justru perlu dipertanyakan nama baiknya.
Tragedi kebudayaan ini telah dijadikan ajang kriminalisasi sastrawan. Padahal di luar sana, sastrawan besar saling memaki adalah persoalan yang sangat biasa. Dengan minat baca sangat rendah, di negeri ini sastrawan yang mestinya jadi corong kebenaran justru rentan dikriminalisasikan. Orang-orang hanya melihat secara hitam-putih. Rendra telah mengalami politisasi dan kekerasan di masa Orde Baru. Widji Thukul bahkan lenyap di telan bumi. Dan kali ini, Saut Situmorang juga menghadapi “politik sastra” yang sebenarnya, di masa yang katanya demokratis ini. Orde dan penguasa boleh berganti, tapi ketidak-adilan barangkali akan abadi. Panjang umur perlawanan!

*****
*) keterangan diambil dari berbagai sumber.
Kajitow Elkayeni





JANGAN SESALI YANG PERGI
Karya Romy Sastra


Bingkisan kasih
masih tersimpan rapi dalam rak memori
meski kado yang di bawa ke arena cinta
tak begitu indah
ia cukup berarti untuk kukenang
walau kita telah berpisah.

Oh angin, hembusanmu,
pesonakan angan sekejap saja
biarlah daun-daun di taman berguguran
oleh badai melanda
tak tersesali bunga layu kembang tak jadi.

Mencoba tuk mengerti
pada jalinan yang tak seiring jalan
memanglah,
perjalanan cinta tak harus memiliki
biarlah aku kubur angan pada bayangan
terpisah sudah cinta di persimpangan.

Pada hujan yang menitis membasahi taman hati
berharap suburkan kembali.

Cemburu pada langit
langit pun tak menyesali menghujani bumi
karena tetesannya tak lagi kembali.

Berguru kepada hujan
kristal bening yang menitis
jatuh ke bumi ternoda bersama lumpur
tetap mau dibersihkan lagi.

Kagum pada alam
tergerus dengan linangan hujan
tetap bersahabat tunaskan siklus
patah tumbuh hilang berganti.

Genggamlah takdir dalam rasa yang setia
mendewasakan diri
pada sebuah kearifan cinta
meski cinta itu tak harus memiliki.

Jangan sesali kepergian itu
karena yang pergi tak akan kembali lagi.

HR RoS
Jakarta, 06092016




KENDURI SUFI
karya Romy Sastra


Pertengahan malam
hadir di kenduri istana illahi
berdandan fakir di tengah pesta

Bidadari-bidadari syurga menyapa
menyuguhkan bejana
bidadari itu
amal-amal yang terpelihara

Kenduri di panggung pesta
lampu disc gemerlap tak berpenonton
arena kenduri tiada malam tiada siang

Berkenduri disorot cahaya maha terang
tiada panas tiada hujan
terasa sejuk dan nyaman
haus meneguk segelas tuak Illahi
mabuk meminum asma-asma cinta

Dipertigaan malam larut sampai fajar
tubuh terkapar bersujud di atas tikar
beralas sajadah membawah kado terindah
kado telah dibuka subuh menyapa
kenduri sufi yang tak kenal lelah

Kenduri malam yang diimpikan
sebagai wujud pengabdian
kepada sang maha kekasih
memeluk jiwa kekasih sepanjang hari.

HR RoS
Jakarta, 13-9-2015,





JUBAH-JUBAH SUFI
Karya Romy Sastra


Zauq asyik dimabuk diri
fana dalam tatapan samudera
samudera maha luas sagara dalam jiwa
terbentang tak berhujung tak bertepi
berenang tenggelam mencari mutiara terindah
bersembunyi padahal nyata sekali

Zuhud menjauh dari kemelut
berjubah cinta sederhana pasrah
napas-napas tasbih bergelora sepanjang hari

Hidup terperi dinikmati
kematian-kematian pun dirindui
lelah menjadi energi
haus dan lapar perisai diri

Siang mengabdi jadi budak peluh
rela berpayah tak dihiraukan
ikhtiar pada tuntunan
mengambil bekal sedikit saja
dari dunia

Malam mengabdi pelayan Illahi
senang hati dijalankan
membawa kado-kado cinta
untuk sang kekasih

Selendang-selendang sutera di pundak amanah
jadikan sebuah sunah dalam ibadah

Bersama diri melangkah pergi ke alam sunyi
mencari sebenarnya diri

Nafsu-nafsu dipenjarakan
dalam terali iman
mata hati dibiarkan lepas jauh mengarungi angkasa jiwa
bak kilat menembus galaxi kosmik diri

Jubah-jubah sufi
ketawadu'an terbaik

HR RoS
Jakarta, 13--9-2015,





KEMBANG IRONIS
Karya Romy Sastra


Kau campakkan setangkai kembang
yang pernah kupersembahkan kepadamu
mekar, kau buat layu.

Persimpangan dua hati
memilih yang terbaik
memang jalan hidup kita berbeda.
Kau pergi meninggalkan memori,
pada kisah yang tak sempurna
dari lelaki yang tak pantas untuk di cintai
karena persembahan itu
terhina dari nasib yang berbeda.

Kau diamkan cinta
bahkan kau tinggalkan kasih
tertegun rasa dalam rindu
telah sepi
sepi sudah.

Pucuk-pucuk tak bertunas
daun-daun berguguran
kado apa lagi kan kuberikan
semua tak berarti.

Dengarkan, coba renungkan
jauh di lubuk hati ini
lamunanku masih menyulam rindu
tentangmu.

Meski tertatih langkah
di tanah gersang sendirian
terkapar luka dalam keheningan malam
bahwa kisahku bias,
tak bisa dipertahankan lagi.

Kau dan aku memilih jalan berbeda
aku yang terkoyak oleh mimpi-mimpi
hanya menjadi buah bunga tidur saja
aku hanya sebuah persinggahan
dari musim kemarau
memilih musim semi itu.

HR RoS
Jakarta,12092016.





OBSESI YANG KETINGGALAN KERETA
Karya Romy Sastra


Aku selalu menatap kertas-kertas kosong
belum tergores
halaman yang masih bening
belum ternoda oleh korupsi diksi
pada laju kereta kemaren

Pijar-pijar hati,
menengadah rasa ke ambang senja diri
adakah warna bianglala tak semu senja ini?

Debar-debar cinta menari di ufuk pagi
lentera surya menyinari kisi-kisi pelangi
lembayungkan warna di telaga hati

aku mengejar impian jati diri
dengan madah tinta yang tak formal

Uuuuuhhhh ....

Kereta telah jauh berlalu
melaju bersama orang-orang yang bersahaja
aku termangu di tinggal kereta itu
terdampar bermenung di bantalan relnya saja

Aku melirik asyik ke cerobong atap
koloni asap silih berganti membubung tinggi
jalan yang telah berkabut
menutupi tatapan masa depan di jalan imajiku

Kini,
aku menunggu kereta berikutnya
semoga saja ia melaju kembali
lewati stasiun pemberhentian

Berharap dengan sarat penumpang
mencoba berlari meski tertatih
tinta-tinta indah mereka
telah memiliki tempat
masihkah aku di terima oleh sipir
jadi penumpang yang tak resmi ...?

Kereta yang lalu
telah jauh meninggalkanku

Kereta kedua berkemudi mimpi
tetap kutunggu
walau kedatangannya hanya bayangan
aku setia menanti
meskiku ketinggalan kereta di pagi itu

HR RoS
Jakarta, 20-10-2015, 10,25





KAU GEMBIRA ATAS KEGAGALANKU
karya Romy Sastra


Dulu ..."
begitu mudahnya kau bilang kata suka
di saat nampan hidupku terisi hidangan
menjamu asa bahagia yang di damba
kini pelita itu redup
redup tak menerangi lagi

Kelopakmu harum seperti bunga ros
mahkota indah itu
menjaga diri dengan duri
aku kagum,

Selang berbilang bulan
bunga cintamu gugur,
menjadi sekuntum bunga rahasia
mekar di dalam istana hatinya

Berputik sudah setangkai harum
dipetik pada kumbang jati
berbahagia dalam ayunan dendang asmaranya

Kini kau telah gembira
atas kegagalan hidupku
apa yang kuberikan kepadamu kini
tak akan berarti lagi

Biarlah aku duduk dalam bangku gelisah
bagaikan batu membisu
tak tahu kemana arah tujuanku ....

Mecoba,

Kucari kau di dinding lamunan
kucari kau karena aku sayang
kucari kau menyunting kenangan
tak dapat aku lakukan
meski hati ini bimbang

Yang kucari itu,
sudah menjadi bayang-bayang
aku tertunduk ..." malu.

Ternyata kau sudah bahagia di istana dia
berpagarkan duri cinta kasih
kini biarlah kegagalan itu mengalah

Bahwa realita cinta kita
telah menjawab sebuah kisah
yang tak sempurna

HR RoS
Jakarta,14092016





#monologdiri
AKU DI ANTARA AKU
Karya Romy Sastra

Azali diri berdiri dari sang kekasih
perpaduan cinta
dalam wadah maha cinta
setesan darah hina
mewujud insan kamil
mulia karena rahmat-Nya

Aku di antara aku
terdiri dari anazir Illahi
wadi madi mani maningkem
amarah lawamah sufiah mutma'inah
bersatu dalam garbah
terlahir sempurna

Satu jiwa tentang cinta
tarikan napasku berlari
mengejar kasta iman
anugerah insani terindah

Aku di antara aku
berdamai bersama gita
diutus menjadi khalifah dari penguasa
mengelilingi rotasi hati
dibolak-balik sipemilik
menghantarkan kepada laisa kamiselihi

Aku di antara aku
selalu diawasi oleh diriku
mengiringi derap langkah ke jalan rasa
bersahabat setia
adakala terhina dari amarah sufiah lawamah
mutmainahku, mengawasi ke ruang anugerah
berharap sang cinta tidak
menutup cahayanya ke ranah ibadah

Aku di antara aku
berdiri kokoh bertongkat tauhid
berpacu berlari merebut tropy untuk sebuah obsesi
di antara ridha ataukah hina

Aku di antara aku
yang tiada alpa menderu
bersatu menatap unsurku
tafakur pat kulipat dunia makrifat
apakah ia gelap sudah bersama takdir
bak bulan sabit,
tenggelam menjelang fajar


Berbenah dalam syahadat jati menata kebenaran hakiki ataukah
menyulam kesalahan abadi
yang akan dipertimbangkan
tuk raih obsesi surga
apakah akan terhempas ke neraka lara

HR RoS
Jakarta,13092016




SINOPSIS BUAH HATI BUNDA
Karya Romy Sastra



Bunda,
raya ini anakmu tak pulang
sinopsis hati kulukis
menyulam rindu padamu ibu
telah jauh anakmu berlayar
ke negeri seberang
menghadang gelombang

Hidup pada riak,
perahu melaju ke tengah samudera
menuju pulau harapan
dalam hempasan batu karang
Di tengah samudera aku haus
padahal, diri dikelilingi sagara biru membentang tak berujung

Aku dahaga dari belaian bunda
menatap jauh ke bibir pantai rasa
sayup-sayup melambai bayangan angan,
seakan berdiri sesosok misteri
rupa bunda memanggil dari kejauhan
untuk menyuruhku menepi

Bunda,
raya ini anakmu tak pulang
dua dekade telah berlalu
lama sudah aku tinggalkan rumah itu
pergi membawa mimpi
mewujudkan impian hati,
sampai saat ini
impian itu tak jua berkenyataan

Malangnya nasib anak yang terbuang
karena takdir kemiskinan dari tanah kelahiran

Bunda,
telah banyak benang kupintal
kurajut,
mencipta permadani merah
kan kupersembahkan di hari tuamu
duh bundaku sayang,
kenapa sulamanku menjadi tilam derita
aahh mimpi,
kau resahkan aku pada impian lara

Bunda,
raya ini anakmu tak pulang
pada garis kuncup-kuncup kembang
jemariku ini dulu indah
kini semakin keriput
pertanda warta itu,
tanganmu yang pernah menggenggam
kalaku bayi,
kan jauh lebih keriput lagi tanganmu ibu
bak retak seribu kaca
wajahmu yang dulu juga pernah ayu
kini layu sudah

Oh, bunda ...?!"

Seribu amanah telah kau titipkan
beribu pelukan kau dekap aku
sejuta cinta kau hadiahkan
berjuta rasa sayang kau tuangkan
kasihmu mengiringi ananda sepanjang jalan oh bunda

Seiring doa-doa malam yang tak pernah putus
berharap raya ini anakmu kembali
tak meminta sulaman permadani merah
dalam baktinya padamu
selain hanya dekapan mesra kala balita dulu

Bunda,

Pendayungku patah sudah
maafkan anakmu bunda
asaku tak jua menjadi kenyataan
tergoda,
karena kilauan suasa di seberang sana
kuanggap emas permata
nyatanya loyang bermanik kehitaman

Dalam bingkai sinopsis diksi rindu
hamba titip jasa sebait alunan doa
pada-Mu ya Allah.

Semoga beranda rumah tua itu
dapat aroma cinta dari permata hati
dalam puisi hiba ini
berharap bersamamu di hari raya nanti

Oh, bundaku sayang.

HR RoS
Jakarta, 18-6-2016, 15:18





JALAN INI TETAP KULALUI
karya Romy Sastra


aku masih di sini
di jalan ini
menunggumu kau hadir untukku

meski jalan itu
tak berpelita
aku tetap setia pada rasa yang kupunya

denting dawai
tak lagi bernada
bersiul sajalah pengganti nada cinta

jalan ini tetap kulalui
walau tak biasa
meski melangkah ke arah yang sia-sia

dalam perjalanan kasih
membingkai dua hati
menuju cinta yang bisa dimengerti
dan selalu mengerti

jalan ini
sebuah persimpangan
meskipun begitu
tak kulakukan langkah berpisah
untuk berpaling dari sisimu

dalam gelap kubersiul
lelah sudah
meraba dada ah, sabarlah ....
sebuah perjuangan
mestilah ada pengorbanannya

siang ini
goresanku menemui muka buku
tidur semalam
telah berlalu
masihkah kau ingin bersama cintaku

bersama kembali
nyanyikan nada-nada kasih
kuhadiah dalam bentuk puisi

tinta maya menyapa
selamat siang dunia
kuucapkan dari Jakarta

halaulah koloni kabut
yang menutup hati
dari sisa-sisa pembakaran ego diri
semoga jalan ini
terang kembali

untuk merangkai
indahnya gita-gita asmara
dari dermaga sastra
yang jauh di ujung samudera maya

antara kau dan aku
sama-sama menempuh
menuju jalan penantian itu


HR RoS
Jakarta, 16-9-2015, 09,00





AKU BERSAMA MALAM
karya Romy Sastra


Desahan bayu menambah keheningan
pada alunan seruling rindu
menyentuh sanubari,
membangunkan kisi-kisi malam
kisah yang telah sunyi, bangkitkan kembali.

Hening dalam kesendirian
angan kulukis bias dalam impian
jalan impian
yang tak pernah jadi kenyataan.

Dewi malam ....
temani aku malam ini
jangan dikau malu memeluk sepiku.

Kejora....
taburkan kerlip indahmu
sinari temaram hati ini
biarkan aku bermandi cahaya
bersama galaxi yang mengitari.

Awan ....
guguskan embun malammu
basahilah alam yang gersang ini
sirami jiwaku yang lara
walau setitik tertumpang direrumputan
izinkan aku,
menyauk telaga mini di dedaunan
membasuh raut wajah yang lusuh.

****
Aku bersama malam
bercerita dalam bayangan diri
kaki ini sudah lelah melangkah
menggapai sebuah impian
yang kian jauh di ujung harapan.

Kau yang kuimpikan, kukasihi,
kini telah berlalu pergi
adakah jalan ini kau singgahi kembali
jalan itu telah menjadi sebuah persimpangan
akankah bunga yang mekar tadi sore
layu sebelum berkembang.

Kuakui,
aku dalam keterpurukan
tak seperti yang diharapkan.

Modalku hanya sebuah keyakinan
untuk sinari kasih mimpi di ujung angan
akankah impian malamku
selalu bersanding bersama bayangan
gapai esok ceria berbuah kegagalan
Mungkinkah pelita itu akan padam selamanya.

ENTAHLAH ....

HR RoS
Jakarta, 16-9-2915, 20,00





CINTA BERKABUT
Karya Romy Sastra

senandung angin riuh alam berkabut
pertanda sebentar lagi akan turun hujan
rinai-rinai kecil mulai menitis
awan hitam kabarkan pesan pada sriti
kembalilah ke sarang
hujan lebat akan datang
menyapu sayap-sayapmu

bidadari cantik bersolek di kaki langit
ikut menghantarkan senja
bermahkota berjubah indah

pada pelangi
yang melingkari hiasan warna
garis pemisah batas cinta
antara kau dan aku

hujan petang telah reda
siluet senja sebentar lagi padam
temaram sudah menyapa malam
lilinku tak mampu menerangi hidupmu

pasrahku pada takdir
tanpa mengundang sedih
pada kasih yang tak sampai
meskiku menjerit
kau tak jua kumiliki

HR RoS
Jakarta,15092016, 16:31





SENYUMAN ILALANG PAGI
karya Romy Sastra


Warna pelangi melingkari kabut
pagi berselimut mendung
tersenyum ilalang di kaki langit
setetes embun tertumpang di daun lapuk
pelepas dahaga sebentar saja
kristalnya akan bias kering pada terik
ilalang tetap tersenyum menantang matahari

Tabir pinang berdiri di tepi pantai
lambaian dedaunan menyapa pipit
kemarilah pipit menumpang dahanku
nyanyikan cicitmu di parung rindu
bahwa padi itu sebentar lagi menguning

Ilalang tangguh menyulam kehidupan
kokoh berdiri dalam cabaran zaman
kehidupan daun tetap berlanjut
meski kering ditimpa panas berkepanjangan

Bayang-bayang kaki berdiri
memanjang kabarkan pesan pada jejak hari
berharap tersenyum kembali pada pelangi
petang ditepian senja harap hujani bumi

Berseminya gita cinta
pada kearifan alam
dan sesama
tanpa batas kasta dan harga diri

HR RoS
Jakarta, 15092016





KADO TAK BERALAMAT
Karya Romy Sastra


sudah kubungkus
kado
rindu

setahun yang lalu
kusimpan
dalam angan

aku persembahkan
pada puisi
tentang cinta
yang terpendam

bertanya imajiku,
siapakah
pemilik hati ini

sampai kini
kado itu
belum dibuka

alamat yang dituju
masih
membisu

HR RoS
Jakarta, 15092016





MONOLOG AKU DAN DIRIKU
Karya Romy Sastra


Nafsu yang melingkar di lingga salira
mengintip mengutik atik disebalik diri
berwarna-warni berkawan hari
dari ujung ubun ke ujung kaki

Mutmainah, sufiah, lawamah, dan amarah
unsur diri bernoktah pada kamil berjubah sempurna
Aku dan diriku
bak pandawa lima pendekar ksatria
pendekar yang menghantarkan kejayaan maruah cela

Kusarungkan keris ke warangka
kututup gerak dari cabaran hina
yang melahirkan dosa-dosa

Aku di antara aku membuat diriku malu
penjarakan nafsu dengan terali saum diri
lelah menyepi terbuka lembah sunyi
sang kamil menghadiri
mengusir warna pelangi

Pelangi dan pendekar ksatria
bertempur di baratayuda
sang kamil diri tampil bak Arjuna
memanah jantung sang Kurawa

Pertempuran nafsu angkara melahirkan fitrah
pada jati diri yang dicari
berjubah akhlak di tubuh Dewa
pada kesadaran jiwa-jiwa yang peka

HR RoS
Jakarta, 15-9-2015, 08,39




PROSA SEMALAM DI MALAYSIA
by Romy Sastra


Kata orang mimpi itu bunga tidur, setelah kuhayati gak juga
ternyata mimpi adalah sebuah petunjuk dari yang maha kuasa.
Mimpi bunga tidur terjadi dari pergolakkan keseharian kita ini, ketika tidur jiwa tak berpegang ke kalimah Illahi, maka godaan-godaan datang menghampiri.

Sebut saja nama itu Jejaka,
Jejaka putra Sumatera berkelana ke tanah Jawa semenjak remaja, sang Jejaka mengembara dari lorong kota ke kota lainnya,
hanya berbekal jajakan dagangan kecil dari pintu ke pintu, tawarkan sesuatu yang ia jual.

Kadang dari pasar pagi ke pasar malam mmm, hanya mencari sesuap nasi.
bermimpi, punya obsesi jadi orang berarti, sekurang-kurangnya untuk kelangsungan hidup rumah tangganya nanti.

Berlalunya waktu,
Jejaka menemukan tambatan hati, di salah satu kota Jakarta.

Ya, kota Jakarta bagian barat,
akhirnya menikah Jejaka di tanah kelahiran istrinya di pulau Jawa.
Singkat cerita,
rumah tangga yang telah berbuah cinta melahirkan dua orang putra,
putra Jejaka sekarang sudah remaja.

Dulu jejaka punya cita-cita, ingin sekolah ke university, aral kesehatan menjegal impian
hingga studynya broken oleh keadaan.
Kesehatan yang tak mengizinkannya kala itu,
kini Jejaka punya misi, dan cita-citanya dulu masa pendidikan yang terputus diserahkan ke putera sulung, yang kini masih di bangku SMA.
Impian si Jejaka ingin direalitikan oleh putra sulungnya, menempuh study ke jenjang university yang dulu pernah didambakan oleh ayanya putera.
Semoga kedua puteranya tidak gagal seperti ayahnya. Putera sulung telah jadi siswa teladan di sekolahnya dan bisa meraih prestasi yang dibanggakan.

Kini Jejaka payah, hidupnya susah,
niaga pun berantakan, sekarang jadi pengangguran.
Hidup bak siklus hari, ada hujan ada panas, ibarat roda berputar kadang di atas kadang di bawah.

Sementara,
makan & minum ditanggung oleh istri yang rela.
Sang istri selalu setia dan tabah bermanja melayani kehidupan rumah tangganya.

Hehem ....

Kadangkala dihiasi juga dengan pertengkaran-pertengkaran kecil dalam irama rumah tangga,
dan itu kuanggap saja sebagai seni kehidupan indahnya sebuah noktah, dalam kearifan diri sebagai pemimpin, ya berbesar hati minta maaf dan sama-sama memaafkan, pereda tangis ketika konflik-konflik kecil melanda.

Jejaka cinta ....

kini Jejaka menatap cinta ketiga yang berada jauh di samudera biru, negeri Kinabalu
negeri yang belum pernah kutemui
cinta itu pun juga belum pernah bertemu.

Cinta pertama itu, telah bisu tersusun dalam lemari kenangan
berada di pulauKalimantan.

Cinta keduanya, ada pada noktah yang dijalani hingga kini dan selamanya.

Cinta ketiga itu,
Sebut saja namanya Jelita
si Jelita juga mempunyai kisah dalam perjalanan hidupnya.

Kehidupannya yang penuh misteri, berwatak Srikandi tapi berhati lembut.
Kehidupannya diliputi kemelut dari cabaran hidup, teruk sakit gastrik membuat langkahnya sulit melangkah
masa depan keluarga ada ditangannya,
aku bangga mendengarkan dari cerita-cerita perjalanan hidupnya.

Jelita ....

Aku kini sudah tua,
ingin berlayar melancong ke negeri Sabah
mencoba semalam di Malaysia,
bercerita bertamu ke sebuah negeri impian
negeri perantauan yang menjanjikan bagi kehidupan orang-orang rantau yang tak beruntung di negeri kampung halamannya.

Mmm,
apakah Jejaka juga bermimpi ingin seperti itu
entahlahh ...?"

****
Ketika takdir menentukan langkah hidup apa boleh buat,
berharap sampai di sana bertemu dengan Jelita, bercerita sejenak di sebuah home stay mungil, kutatap wajah Jelita, ada pancaran rona-rona bahagia dan bahagia. Bercerita asa yang selama ini terlukis di maya, telah terwujud sudah.

Malaysia negeri sehati sejiwa
negeri yang ramah orangnya taat beribadah,
aku terpesona kelembutan sikap Jelita perempuan sabah
mimpi dengan Jelita akhirnya bersua.

Kugenggam jemarinya, kuucapkan kata cinta.
I love you, I miss you ... Jelita tersenyum mesra ....

Aku menatap wajah Jelita, ketika ia menatap makna jauh ke ruang angkasa, bersyukur, seakan takdir alam telah mempertemukannya pada cinta dunia maya.
Di kelopak matanya ada tetesan bening mengalir,
Kutanya ...?" dan tangannya yang masih kugenggam, kenapa dikau menangis? dia berucap lirih.

Abaangg? lalu dia diam,
dan setelah itu Jelita menatapku,, dia berucap kembali dengan penuh keyakinan...
Kuusap airmatanya di sela tangis Jelita. Ia mengatakan I love you, I miss you juga abg,
aku terharu ...
Mmmm.
Ketika itu, aku tertawa sejadi-jadinya, hahaahaaaa
hingga aku dicubit manja oleh Jelita, aauuuuwwww
sakit, biarin aja jawabannya.

Kucoba menenangkan diri Jelita dalam pelukanku
dan kuucapkan sebuah kata asmara kisah,
Jelita??
life in opera ini memang indah Jelita
ya abgku jawabnya, dan memang cinta satu malam ini terasa indah abg.
Spontan kupeluk tubuh Jelita lebih erat lagi, dalam dekapan itu, Jelita cinta, kukecup bibirnya dia pasrah ....
Hingga, hehem.

Aahhh, kisah pada hasrat,
terlukis dalam hati yang tersirat.
Kuluahkan story dalam prosa sederhana ini,
hatiku geli,
kenapa story ini terjadi.

Jejaka menemukan cinta ketiga semalam di Malaysia, wasallam ....

HR RoS
Jakarta, 18-9-2015, 16,29





SASTRAKU LARA
by Romy Sastra


Tinta,

dari debar-debar hati kulukis larik
menyulam diksi ke langit-langit rongga
sebak di dada tinta pudar warnanya
sastraku lara, generik alami telah kuracik
menyembuhkan luka
pada kearifan budi yang tergadai.

Kertas ....

lembaran yang pasrah
kucaci-maki imaji dalam goresan
menodai putihmu
mencoba tenggelamkan diam
tak dapat mata terpejam
bahwa sastraku payah, tak indah dirasa.

Kertas berbisik, panahlah aku selalu
dengan tinta itu.
Akan aku ajarkan jemari lentik
tentang tabah dan pasrah
bahwa sastra tak pernah susah
ia penghibur hati pentas-pentas tari.

Kuberlari meninggalkan jejak
langkah tak berbekas bias
masa depan pucuk telah berguguran
layu sebelum berkembang
kemana kutemui lagi pertapaan
paguron diam
asyik menyulut asap membubung ke awan
kereta kencana telah berjaya melaju
ke singgasana raja
tempat duduk sang pelaku para pujangga.

Bertanya diri pada mimpi
mimpi pun telah usai tak terurai.
Cerita,
bahwa sastra yang kudamba
putus tertikam belati
majasku payah tak elok dicerna
karena tak memiliki sudut pandang
asumsi wibawa sastra bodoh dan mentah
tak layak berada di stasiun warta.

Sang pemerhati ....
Berikan tuah bertitah tada yang rela
jangan diam menyulam dungu
seakan tak mau tahu.

Sang penulis haus sudah
menyusun aksara sastra
berpayah-payah karena cinta
memandu goresan yang terbilang
tak indah.

Aaahhhh ....

Sudahilah diri,
kau kecewa pada cerita
yang tak pernah sempurna
jangan bersedih,
sastra adalah bahasa jiwa
mengertilah!

HR RoS
Jakarta,16092016





PROSAIS RAJA YANG TAK BERISTANA
by Romy Sastra


Pusaka tua limpapeh rumah nan gadang
berselendang kasih sayang
menghapit
nan sembilan ruang,
ditingkah ayun tarian indang
semarak ranah minang tempo dulu
dalam tatanan bunda yang tersayang.

Rumah tua itu,
telah lapuk dimakan rayap
telah runtuh di telan zaman.

Seribu raja di negeri kami
hanya memiliki satu istana yaitu janji
tak bersinggasana mewah melainkan amanah
Penghulu bertongkat sakti satu tunjuk,
pada isyarat panji dalam adat
elok budi kaum dalam titah dituruti
adat bersandi alur, alur bersandi patut.

Tuanku nan ulama,
menitipkan suluh pada generasi
selaras alam ranah minang dengan pelita
terangi umat dengan akidah tauhid
adat bersandi sara'
sara' bersandi kitabullah.

Cerdik pandai penata nagari, maju bersama
duduk se-iya sekata
melalui musyawarah mencapai mufakat
bak tiga tungku bergandeng tangan
sejarangan,
memasak tanak dari jerih payah petani
bunda yang bersiul meminta angin
dari pesawahan hingga ke halaman rumah.
Bahwa dewi sri telah menari bersama peri cantik belajar memegang nampan ayunan padi.

Peri yang terpingit di sembilan ruang
bertilam manja diasuh pituah di malam hari
cikal bakal penyimpan selendang lusuh pada limpapeh rumah nan gadang.

Anak kanduang sibiran tulang
pelepas dahaga ayah bunda
jikalau besar nanti
peganglah tuah tiga tungku sejarangan
biar tak binasa generasi dalam globalisasi
pegang erat-erat panji-panji adat
yang dikibarkan, semenjak Datuk Ketemenggungan dan Datuk perpatih nan sebatang berkelana turun dari gunung merapai.

Datang menitipkan pusaka adat
dari babat alas sampai akhirat nanti.

Berdamailah bersama risalah
dalam filosofi ranah di tungku perapian
alamat hidup dalam adat tak bersilang sengketa
jaya bersama kemajuan teknologi
walau cabaran maruah selalu menghampiri datang silih berganti
di negeri seribu raja tak beristana.

HR RoS
Jakarta-18092016





DIRI MENCARI HAKIKAT DIRI
karya Romy Sastra


Martabat alam di tingkat makam
makam diri dalam pendakian
berawalnya titah kejadian
martabat alam tujuh dan sembilan
sempurna ciptaan dari unsur kemuliaan
sang kekasih
bersembunyi dalam kesunyian

Ketika malam mengadu rindu
pertapaan hening bermantera rasa
bertamu di dinding-dinding cahaya
cahaya-cahaya sang pengoda
menyapa sukmaku

Berlalu meninggalkan godaan
fanaku jauh ke dalam diri
berada di titik mata hati
terpesonanya rindu melihat kekasih

Dalam diam kutatap apakah ini Tuhan
dia hadir berwarna warni,
tarian kerlip semu mengkhianati
aku tinggalkan kehadiran itu berlalu pergi.

Kekasih itu,
tak berwujud
Tak berwarna
bukan huruf
bukan cahaya
Dia dzat laisa kamiselihi.

Menyelimuti ....

menembus lorong kosmik jiwa
berlayar di angkasaraya dalam rasa
mencari sesuatu yang di puji
bersama diri mencari hakikat diri
ia bersemayam di mihrab cinta
cinta sang kekasih itu
tak pernah lekang oleh waktu.

HR RoS
Jakarta 17-9-205, 08, 20





RINDUKU YA RABB
karya Romy Sastra


fardhu kujemput di setap waktu
sunah kuhias sebagai tamannya
akhlak kujubahkan dalam keseharian
aku berjalan bak di tali titian

malam ini,
aku berkawan sepi menatap di sekeliling ciptaan
kutengadahkan wajah rindu kelangit jiwa
adakah kau bersamaku ya Allah

bila cinta dunia hanya persinggahan
aku takut tertipu oleh kepalsuan
yang aku abaikan adalah keabadian
ampunilah hamba ya Tuhan

kini ku bertanya
Ya Allah,
adakah rinduku kau terima?

meskiku tahu,
aku adalah hamba pendosa
dan Engkau lebih tahu
di setiap silapku
tampakkanlah wajah-Mu
biar rinduku bertamu

malam-malam gelisah menyapa kasih
maha kasih itu tak lagi kutemukan
apakah kematian kian mendekat

kubasuh wajah murung
duduk bersimpuh dalam peraduan
aku merindu dalam kenistaan
jangan kau palingkan rahim rahim-Mu Tuhan

kuyakin,
ampunan-Mu kau berikan
pasrah dalam doa
kupuisikan syair syair cinta
dan kupersembahkan dari relung jiwa
rindukan-Mu ya Allah

HR RoS
Jakarta, 17-9-2015, 20,43




DIALAH IA___________
Karya Romy Sastra


Pada kekasih menitip salam
salam kutitip mengiringi cinta
cinta yang terhantar ke medan takwa.

Napas napas yang pergi dan kembali
bersemayam mengitari rahsi
rahsi Illahi memandu rahsa sejati.

Melangkah ke savana jiwa
seketika menatap
aku sudah sampai di padang
savana jiwa itu.

Hening tak bersuara, bising tak bernada
Ya sami'an ilaallah.
Puji cinta menyapa, tak ada sahutan
Dia berbisik, La mutakalliman ilaallah.

Aku menatap keindahan kekasih
tak kutemukan surga
yang ada tatapan cinta
La bashiran ilaallah.

Hilang memasuki ruang kehidupan
ternyata tak ada kehidupan
tak ada kematian
yang ada La hayatan ilaallah.

Lalu siapa aku?
La haula wala kuata illa billahil aliyil adzim.

Dialah Ia berkuasa pada yang ada dan tiada.

HR RoS,
Jakarta, 19-9-2015, 1





-RASAKU MURSYIDKU-
Karya Romy Sastra


Kejujuran iman keutamaan
dalam detak jantung berpacu
mengejar langkah waktu
silih berganti datang dan pergi
Denyut nadi mengiringi aliran laju.

Rasa diri di sekujur tubuh
langit-langit rongga terminal rasa
ketika rasa memberi tahu
dialah mursyid itu.

Mursyid sejati dalam diri
rasa terhenti tubuh mati.
Ketika Jibril menyapa
membawah risalah Allah
berhadapan di antara rasa mata hati
siap-siaplah,
suatu saat nanti aku membawamu pergi
menyatukan kembali ke azali itu.

Kusanggupi saja
sabda tuan guru penuntun jalan misteri
dia hadir sebagai sahabat baikku.

Ketika bertamu, sang guru titip pesan
kenalilah dirimu selalu
jangan sampai tersesat jalan
pesan sabda,
kau akan tahu jalan Tuhanmu
di puncak rasa, Ia maha rasa itu
sirri wa ana sirrahu.

HR RoS
Jakarta19092016





MUSYAFIR SUFI
Karya Romy Sastra


Tenggelamkan matahari dunia
membuka pintu diri
gelap mencari terang pada matahari sejati
kerlap-kerlip bintang bertaburan
purnama semu berlalu
kosmik galaksi jiwa bertumpukkan
bak kiamat melebur menjadi secercah maha makna

Langit berlubang
menembus lapis tertinggi
jiwa terbang dengan segumpalan awan bersayap, dihantar asma-asma cinta membuncah arasy
sukma rindu tak menemukan siang maupun malam
yang ada kelembutan abadi
dalam perjalanan terbaik

Ya, perjalanan cinta sang mujahid sufi
menemui kekasih
pada duduk tasbih

Hening,
menyapa dalam bisu
tetesan rindu,
meleleh membanjiri air mata surga
ternyata yang dicari sudah menyelimuti.

HR RoS
Jakarta, 20092016





B U N D A
by Romy Sastra


Dari tetesan darahmu aku ada
dalam kandunganmu aku terfitrah
dan dalam kandunganmu jua
aku mengenal Allah

Dari air ASI itu aku tumbuh
dengan didikanmu aku bijaksana
oleh perhatianmu aku dewasa
dari tatapanmu aku tahu makna

B U N D A,
dari kelembutanmu aku mengerti kasih
dari belaianmu aku tahu arti cinta
dengan tuntunanmu
ananda paham akidah

B U N D A,
kini aku sudah dewasa
telah jauh darimu karena cinta kedua
kini kurindu ingin bersua
belajar dari cinta kasih sayang
yang pernah bunda ajarkan
di tanah tumpah darah lahir ke dunia
betapa berharganya didikan itu
Untuk kutitipkan juga sama cucumu nanti

B U N D A,
tunggulah aku di beranda itu
kembali
dari perantauan seberang pulau

Anakmu dulu,
yang pernah ditimang-timang
pagi dan petang

di beranda rumah itu
bunda lepaskan aku ke sekolah

kini si buah hatiku telah lahir ke dunia
tuk melanjutkan tiranimu bunda
cucumu sudah dewasa
sayangnya tak pernah berjumpa

Sekarang ini,
anakmu tahu makna sebagai nilai orang tua
darimu jua
terima kasih ya ayah bunda

Dalam kerinduan ini
kupersembahkan puisi rinduku
untukmu bunda
tanpa ada tetesan air mata
kucoba 'tuk tegar menghadapi dunia
oh, bundaku

HR RoS
Jakarta, 20-9-2015,





TANGISAN ISMAIL
oleh Romy Sastra


Pergulatan tauhid antara akal dan pikiran
bertongkat risalah amanah iman dari Tuhan
Ibrahim bapak teladan dari segala Nabi
tuntunan semua akidah Illahi Rabbi

Cabaran iman di padang gersang
sang imam berlalu ke Palestine
dalam haus dan lapar tragis halang kepalang
Hajar dan Ismail kecil di tinggal prihatin berduaan

Tangisan Ismail syahdu dan luluh
air mata bayi menitis pilu
di tinggal ayah dan ibu sendirian
mencari setetes air pelepas dahaga teramat dahaga
Ibu berlari antara Safa dan Marwa
yang dicari tak kunjung ada

Cikal bakal negeri Mekkah
mencari telaga di gersangnya Sahara
terik tandus sedih di bumi Allah

Zam zam kecil menitis
dari liang yang tersembunyi
mengalir dari sudut mata ini

Pergulatan si hamba dan Khalik
di tengah terik tandus seorang diri
musyahaddah mata hati melahirkan hikmah
mukyasafah mahabbah dari Tuhannya
menitiskan cinta

Mukjizat Illahi dari hentakkan iman Ismail kecil
firman Tuhan
dialog rahasia mengalir zam-zam alam

Tangisan Ismail membuka peradaban
dari khafillah-khafillah berlalu-lalang
mencari kehidupan di tanah haram

Ismail kecil membuka kearifan alam
antara hamba dengan Tuhan
bertongkat tauhid iman dan keyakinan
sampai akhir zaman

HR RoS
Jakarta, 21-9- 2015, 08,03





SYAIR JIWAKU
Oleh Romy Sastra


Syahdu malam memandu
pada kepekaan rasa menuntun jiwa
jangkrik sami' berbisik dalam irama ning, berkelana jiwa ke medan jiwa, mencari diri yang tersembunyi.
Di penghujung malam dalam peraduan Tuhan.
Aku heningkan cipta menggulung rasa dunia kepada satu titik mata hati.

Tasbih-tasbih berbisik bisu
labirin-labirin kalbu pesonakan rasa itu
aku pertanyakan diriku pada dosa
sampai kapan noda itu berhenti menguliti hati
diri malu sudah pada fitrah Illahi
yang bersemayam membungkus tubuh dan jiwaku.

Tuhan,
betapa Engkau peduli pada ciptaan-Mu
apapun semua yang diminta Engkau beri
bahkan sebelum ia ada,
Engkau sudah menyediakan terlebih dahulu.

Kelam sepi dunia di malam ini
aku tinggalkan seremonial cinta
pergi berlari mengejar cinta yang abadi
kubasuh muka lusuh terhiba karena noda
dosa tercecer kenapa aku pintal saban hari
bodohnya aku ini.

Sejenak bertanya pada doa,
ampunilah dosa-dosa hamba Tuhan
dalam sujud rindu
mengadu dengan asma-asma cinta
Ya Ghaffaar, Ya Rahman, Ya Rahim.
Matikan hamba kembali nanti ke dalam maha hidup yang kekal abadi
bersama-Mu harapan itu.
Bangunkan hamba dari lelap sesaat ini, hidup yang menipu dalam derap langkah fitrah-Mu.

Tumpukan dosa bak buih-buih di bibir samudera
akankah ia sirna menjadi mutiara
surga?
Hamba yakin besarnya ampunan-Mu Tuhan melebihi arasy
Rahmat-Mu adalah jubah kebesaran-Mu
taklah hamba berputus asa akan kasih sayang itu.

Ya Allahu Ya Rabbi

HR RoS
Jakarta tengah malam, 23092016, 03:02





JANJI KURBAN YANG TERKEBIRI
Oleh Romy Sastra


Maafkan anakmu bunda
kusapa dikau dalam rasa
di moment takbir yang lirih ini
rasa mengiris sedih
anakmu dulu pernah berjanji.

Allah akbar, Allah akbar, Allah akbar
walillah ilham.

Bunda,
suaramu tak kudengar lagi
untuk menagih janji
dulu pernah meminta seekor sapi
dan anakmu pernah berjanji 'tuk menepati.

Ampuni ananda bunda
kurban tak terlaksana
kini anakmu payah
kukulum air mata ini ke rongga dada
betapa dikau kecewa,
tak terlaksananya kebahagiaan itu
bukan karena ananda lupa
memang nasib tak berpihak ke badan diri.

Allah akbar, Allah akbar, Allah akbar
walillah... ilham ....

Ah, air mata ini akhirnya tumpah jua
tak mampu menahan hiba
menatap hadirnya bayangan ibuku
yang sudah tua.

Ibu,
kuintip dalam rasa kau kini menghiba
ikhtiar kasihmu tak pernah putus
di atas sajadah kau selalu berdoa
untuk kemulian anakmu bunda.

Janji-janji anakmu dulu kini sudah lupa
takbir idul adha mengingatkan itu semua
adha, takbirmu menggetarkan jiwa
aku terdampar dalam lautan rasa hiba.

Ya Allah, hamba payah.

Oohh bundaku,
satu lagi janji anakmu ini
menjanjikan ibadah religi
naik haji ke tanah suci
itu pun kupungkiri.

Bunda,
ampuni anakmu sekali lagi
bukan aku mengingkari janji
bila hidupku layak nanti sewaktu-waktu
berpihak ke diriku
kan kutunaikan nazar suci itu.

Jika engkau sudah tiada di dunia ini
membawa seribu duka
bundaku, beri maaflah anakmu
pintu surga itu jangan kau tutupi
semoga saja badal itu bisa kupenuhi.

(#rintihandimalamtakbir)
HR RoS
Jakarta 23-9-2015, 21,46





RINDUKU TAKBIR ITU
karya Romy Sastra


ALLAH AKBAR, ALLAH AKBAR, ALLAH AKBAR

Kumandang takbir, tahlil, tahmid, tasbih
Lirih sedih mengiris pilu
teringat masa kecilku
ya Allah pujian indah itu
masih bisa hamba dengar
betapa indahnya alunan takbir
ibadah yang kurindu.

Puji syukur hamba ucapkan ke hadirat-Mu ya Allah
di sana tamu-tamu-Mu
berkumpul di arafah
dalam perjalanan haji akbar di baitullah.

ALLAH AKBAR, ALLAH AKBAR, ALLAH AKBAR
WALILLAH ILHAM.

Raya kurban prediket iman seorang insan
mensedakahkan sebagian hartanya
bukti kepedulian sosial antara sesama
sebagai kualitas ketakwaan kepada Tuhannya.

ALLAH AKBAR, ALLAH AKBAR, ALLAH AKBAR
WALILLAH ILHAM.

Taman-taman amal hiasi jiwa insani
untuk perjalanan ruhani di padang masyar
dikawal cahaya-cahaya berkilauan
semoga perjalanan itu tak ke sasar
pada jalan keabadian.

Ya Allah terimalah kurban-kurban hamba-Mu
semoga terfitrah sebagai derajat takwa
kepada-Mu ya Allah ....

HR RoS
Jakarta, 23-9-2015, 17,00





KETIKA LENTERA REDUP
Oleh Romy Sastra



Dalam deburan malam bergemuruh
sesuatu akan tiba dari luar rumah
rintik-rintik kecil memberi tanda
bahwa malam ini menakutkanku
suasana hening seketika.

Resahku,
atap rumah bersuara riuh
imaji terkoyak, hasrat tercampak
konsentrasi buyar angan tak beraturan.

Angin-angin malam
menghempaskan hujan
aku takut malam ini kan temaram
lentera kecilku akan segera redup
pelita di rumah sedari siang padam.

Kularung malam ini dalam diam
sambil menunggu redalah wahai hujan
tintaku masih basah
ilusi diksi di atas kertas masih mengoda
dalam keterpakuan rindu melukis pilu
dengan syai-syair luluh
tercecer sudah bias bersama resah.

Angan ..." temani aku dalam kelam
aku tetap melukis rindu
dalam redupnya pelita itu
kulukis isyarat dalam dinding qalbu
bayangan yang selalu mengisi ruang hatiku
tentang cerita hidup dan cinta
telah menjadi bingkai-bingkai kenangan.

Kutatap karya lusuh
pada vigura lama terdampar di dinding rumah
cerita sajak cinta yang telah bisu
ya, telah bisu tak lagi menyapa hidupku
pekerjaan harian berserakan di pelataran
aku bergumam, mmmm ...?
Indahnya cabaran hidup kuhayati dalam kelam
walau kutahu,
pelita di hadapanku akan segera padam
aku tetap optimis.

Kunang-kunang malam menyelinap di balik ruang
merinding dengan sosok bayangan kelam
bayangan yang telah lelap di haribaan
ah, malam ...
kau takutkan aku pada kegagalan cinta pertama
tak lagi menyentuh hidupku
lenyap sudah mengiringi sunyi.

Hayalku tetap berdiri di tongkat tinta
lukiskan hayalan merangkai asa
melukis sastra-sastra berdarah
meski malam ini kian gulita
berharap esok pagi alam cerah kembali
pelita redup semalam
berganti terik menerangi hari-hariku
dalam derap langkah yang masih tersisa.

HR RoS
Jakarta, 22-9-2015, 08,29





#monologtanya
SIAPAKAH AKU DI HATIMU
Oleh Romy Sastra


Rindu bertanya pada angin malam
jawabannya diam.

Pungguk bertanya pada rembulan
sang dewi malam bersembunyi di balik awan
yang ada kelam.

sunyi ...
teramat sunyi ....

Berlari diri di tengah jalanan
kutemukan padang ilalang
bertanya sendiri, siapakah aku ini ya ilalang ...?"
Jawabannya,
ilalang pun diam tak tahu
aku tumbuh di tanah yang gersang
tak pernah mendapatkan kebahagian.

Berlari dan terus berlalu
kaki terantuk batu pualam sakit
berdarah dan bernanah lara sudah
berbisik lirih dalam sakit
mmm, tetap jawabannya bisu.

Aku bertanya pada pasir
yang berbisik dalam jejak
ia tersenyum kecut dalam gemersik
pasir yang kudekap berseru
tanyalah ke riak yang mengusikku
di sana ada camar lagi bernyanyi
menari indah pada hiasan bibir samudera.

Riak pun kusapa
jawabannya menyuruh menatap jauh
pandanglah samuderaku ...!!"
samudera mencibir sepanjang mata memandang.

Ah, lara.

Senyum samudera menghempas tawa
mengikat kakiku di pantai
asinnya tak jua memberikan jawaban.

Malu sudah,
tanda tanya bertambah lara
sang camar bersiul merdu pada titah manis
kembalilah ke pusara jiwamu
semoga di sana kau menemukan diri
dan disanalah bersamayamnya cinta.

Cinta yang abadi terlahir dari mata hati
di dermaga hati memilih kasih
pada kesaksian
semoga kau temukan jati dirimu.

Yang sesungguhnya kau bertanya ...
siapakah aku di hatimu ....?
jawaban semua itu
adalah kebodohan yang kelu.

HR Ros
Jakarta, 21-9-2015, 20,00




PASRAHKU MENCINTAIMU
Karya Romy Sastra


Aku gandeng tanganmu erat-erat
takut lepas dari genggaman
aku memegang tanganmu kekasih,
rasa memeluk bayangan mimpi
padahal kau kenyataan
ketika aku membutuhkanmu
kau campakkan rasaku dalam kepalsuan rindu.

Memang, aku tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan ke arena hidupmu,
hidupku miskin kasih ..."
kalau tali yang pertikaikan
memang tak sampai simpul kasta diriku mendekap ke ujung sandi asamu.

Hidup bersamamu,
bak menggenggam bara api yang tak kunjung padam,
seringkali air mata ini terkoyak
dalam kolam-kolam bening
menitis di kelopak mata sedih.
Aduh, kadangkala aku mencoba berkaca menatap wajah di kamar ini,
ketika luka masih terasa,
tetap rona cahaya cinta yang setia
masih mampu menerimamu.

Telah aku serahkan segala-galanya untukmu
kini kau campakkan aku
pada masa senja yang telah layu,
pahitnya mahligai rindu yang kutuai
tak berarti indah dalam tidurmu.

Dalam pasrah ini, apapun yang terjadi
aku masih mencintaimu kekasih.

HR RoS
Jakarta, 23092016





LAMPUNG BARAT
Karya Romy Sastra


Sekala Brak di kaki Pesagi
kejayaan Hinduisme di Bumi Lampung
zaman berubah dari Sekala Brak
menuju cikal bakal kepaksian Umpu
dari Putera Raja Pagaruyung anak Bundo Kanduang
peradaban adat Lampung Barat
dari dulu hingga kini.

Lereng Pesagi punya cerita
sejarah dan budaya
pada kearifan lokal Bumi Andalas
sumber daya alam melimpah
Hortikultura adalah ikon Sang Bumi Ruwa Jurai.

Bunga-bunga kopi mewangi
di lereng Pesagi Lampung Barat
hasil bumi merekah penerang tinta
pada imaji sastra puisiku
penyemangat pagi siang dan malam.

Sastra Lampung Barat berbenah
pada kasta pujangga yang berwibawa
berpacu menyemai bibit ke tangga sejarah penyair Indonesia
berjayalah dalam gita para pujangga
meskipun gerbong kereta kita
telah sampai di penghujung senja
jadikan ia matahari kembali
pada tirani sastra Nusantara
di Lampung Barat Lereng Pesagi
yang asri.

HR RoS
Jakarta, 22092016





SURAT CERAI DARI PESAGI
Karya Romy Sastra


Telah aku nikahkan seuntai sastra
pada bunga-bunga kopi masih muda
bibit kopi lereng Pesagi berbenah
pada warta harga yang meninggi
para pembeli di tingkat Nasional
menyeduh kopi yang harum mewangi.

Kemaren pagi,
aku telah menikah di beranda warta
di muka buku balik jendela
kopi pagi Warta Simalaba.

Sastraku berdarah,
pada keteguhan hati Yunika
gadis elok berparas Srikandi
blasteran darah Jawa dan Sumatera.

Seketika Yunika membenciku
pada goresan yang tercabik di atas daun kopi.

Pergilah kau dari kebun ini
jangan bawa benalu ke kebun kami
tersentak aku malu,
surat cerai dari lereng Pesagi
mengugurkan bunga impian
pernikahan dini selesai.

Aahhh,
untaian kata tak seirama dengan janji
biarlah syair sastra itu kian berdarah
terluka kecewa
demi kebahagian Yunika cinta
di pucuk siklus bunga-bunga kopi
di lereng pesagi itu.

HR RoS
Jakarta, 22092016





#senandungcinta
PASRAHKU MENCINTAIMU
Karya Romy Sastra


Aku gandeng tanganmu erat-erat
takut lepas dari genggaman
aku memegang tanganmu kekasih,
rasa memeluk bayangan mimpi
padahal kau kenyataan
ketika aku membutuhkanmu
kau campakkan rasaku dalam kepalsuan rindu.

Memang, aku tak punya apa-apa yang bisa di banggakan ke arena hidupmu,
hidupku miskin kasih ..."
kalau tali yang pertikaikan
memang tak sampai simpul kasta diriku mendekap ke ujung sandi asamu.

Hidup bersamamu,
bak menggenggam bara api yang tak kunjung padam,
seringkali air mata ini terkoyak
dalam kolam-kolam bening
menitis di kelopak mata sedih.
Aduh, kadangkala aku mencoba berkaca menatap wajah di kamar ini,
ketika luka masih terasa,
tetap rona cahaya cinta yang setia
masih mampu menerimamu.

Telah aku serahkan segala-galanya untukmu
kini kau campakkan aku
pada masa senja yang telah layu,
pahitnya mahligai rindu yang kutuai
tak berarti indah dalam tidurmu.

Dalam pasrah ini, apapun yang terjadi
aku masih mencintaimu kekasih.

HR RoS
Jakarta, 23092016




METAFORA CINTA
Oleh Romy Sastra


bunga dan kumbang
bercumbu di awal pagi
berayun mesra di atas pucuk
kumbang hinggap madu tumpah
tercecer ke tanah
disambut semut-semut berlari
tebar kasih pada kesetiaan sesama

sentuhan rasa buaian sayang
asmara cinta merona
romantis di ujung bibir
lenakan sukma kekasih
berpadunya dua sejoli
dalam dekapan mesra

metafora cinta
siklus
patah tumbuh hilang berganti
bertunas selalu
syahdu rindu tapi tak layu

HR RoS
Jakarta, 26092016





OBSESI YANG TENGGELAM
Oleh Romy Sastra


ADAKALANYA SEBAB MELAHIRKAN AKIBAT
KAUSALIS
KETIKA SAMUDERA TINTA TAK LAGI MEMADAH
ALAMAT SAGARA KERING DI LUBUK HATI
PAYAH

MMM

INGIN MENENGGELAMKAN IMAJI
DARI RANGKAIAN-RANGKAIAN PUISI
MEMBUANG JAUH MEMORI

BERJALAN PADA REAL
DEMI SENANDUNGKAN IRAMA TASBIH
MEMANDU PERJALANAN POETIC ABADI

BIARLAH JEMARI YANG TAK KENAL LELAH
JADI SAKSI NUN YANG JAUH DI PANTAI RINDU

SELAMAT TINGGAL DUNIA DIKSI
RELAKAN KITA BERPISAH
TUK SEMENTARA WAKTU ATAUKAH SELAMANYA
ENTAHLAH

PAMIT BERPISAH DI MUKA BUKA
SELAMAT BERSUA DI SAMUDERA RASA
DI SANALAH OBSESI YANG TERBAIK
UNTUK MEMAHAMI IMPIAN TERINDAH
DI ANTARA KITA

HR RoS





TAK BIASANYA
Karya Romy Sastra


kuncup kembang teruna dalam jambangan
kinasih terkurung di lingkaran hati
kekasih pujaan bersemi dalam cabaran

ketika mentari pagi yang mulai berputik
menyinari alam terangi temaram

semut-semut kecil mengiringi hari berkolaborasi di setiap sapa
yang menguntum mesra

ketika persada rasa tertanya-tanya
adakah sapa pagi
yang lebih indah dari cinta

bila sayang menuai realita
irama rasa tak pernah berpadu
akankah aku terus menyapa
atau mengalah untuk diam saja

kini kau tak seperti biasanya
yang pernah kukenal di jalan ini
selalu senyum mesra menyapa pagi
assalamu'alaikum selamat pagi cinta

salam persembahan dari ranah sapa
menemani hikmah rasa setia
untuk yang terkisah
ia tiada lagi kini
sepi sudah ....

HR RoS
Jakarta, 26-9-2015, 07,59





CINTA DI KALA SENJA
Karya Romy Sastra


Kembang setaman menguntum dalam genggaman
tersimpan dalam nampan lalu dihidangkan
mewangi menyentuh rasa sanubari

Lembayung senja hari
menari menghiasi cakrawala hati

Sang penari-penari ronggeng
bersolek rapi jajakan pesta malam
pesta-pesta malam berkidung di jalanan

Tetua-tetua rasa sang pemuja bunga
selalu melirik bunga yang mekar berputik

Ketika cinta di kala senja menuai asa
asa rasa yang menggoda putik layu
sang senja tua-tua keladi
semakin tua semakin menjadi-jadi

Mahkota maruah tak lagi dikenali
cabaran demi cabaran
dilukis ke dalam senyuman.

Padahal bianglala cinta menghias senja
hanya sekejap saja ....

HR RoS,
Jakarta 25-9-2015, 15,35





INTROPEKSI KEMATIAN
oleh, Romy Sastra


Nanti aku mati, kau juga mati,
semua pasti mati,
si pencabut nyawa pun mati.
Lalu kita berpisah ...

di mana?

Ya, di bumi yang kita pijak ini
sejengkal, sedepa, sehasta
di belahan dunia lain sekalipun
bangkai-bangkai berjejer.

Ruh hidup selalu
dipertanyakan nanti?"
pada kasta-kasta hina dan mulia
dalam genggaman-Nya.

Apa bekalmu?

"Hmm ... aku pun bingung, apa yang kubawa
Berharap pada amal, belum tentu ada," dosa, jelas.

"Lalu ... kita pasrah, ya pasrah saja
Iman dan ikhlas menjawab semua itu ....

HR RoS
Jakarta,24092016




#mynamehistory
NAMA HR RoS ITU
Oleh Romy Sastra


Belasan tahun yang lalu, tahun 2000
perintah dari tuan guru.

Aku sang murid santri jalanan tak formal, diutus ke sebuah mesjid bersejarah,
mesjid agung Karawang yang pertama kali dibangun oleh Bupati Karawang.
Di malam moment raya idul adha
aku sudah ditunggu oleh seorang kakek tua.

Tepatnya jam 00,00
seorang kakek berjubah hitam datang menyapa?
Ayo ke sini kamu anak muda!
aku menghampiri dengan sungkem,
dalam realita serealita-litanya
aku dihajikan dalam sebuah ketentuan tuntunan kakek tua.

Ketika aku dipanggil perintahkan tawaf dengan sebuah petunjuk
mengelilingi ruang mesjid dengan bacaannya yang ia amanahkan,
kututup proses itu dengan sholat sunah,
kutancapkan mata hati ke baitullah.

Ranah dalam penyaksian mata hati
tersaksi jamaah haji wukuf di tanah suci
dalam pendengaran bathin sayup-sayup takbir berkumandang dari kejauhan.

Subhanaallah,
tak bisa kuberkata dalam fana jiwa
megahnya sebuah hikmah
dari sang kakek tua renta.

*******

Masa itu,
aku dititahkan amanah sebuah nama:
HAJI RAHMAT ROMY SASTRA
dengan selembar kertas putih.
Dan ia nama itu kusingkat HR RoS saja
amanah dari sang kakek aku kaget.

Bahwa telah terjadi proses religi di luar akal fikiranku masa itu.
Sang kakek memberikan tiga butir kurma dan selesai proses lahir bathin itu, kami beraktivitas kembali pada takbir sampai waktu subuh.

Berlalunya malam religi tahun itu
sampai proses di sholat idul adha paginya
sang kakek menatap dengan senyum mesra.

Tatkala kami berpisah
dari selesainya ritual sholat idul adha
tujuh langkah dari mesjid sejarah
sang kakek sirna entah kemana.

Aku terpesona dalam derap langkah misteri lenyapnya sang kakek berjubah hitam di taman mesjid agung Karawang Jawa Barat belasan tahun yang berlalu.
Hingga saat ini tertanya-tanya
siapakah engkau wahai sang kakek?
Ia sejarah sebuah kisah di malam raya idul adha
tentang HR RoS,
Haji Rahmat Romy Sastra.

HR RoS
Jakarta, coretan kisah di malam idul adha 24-9-2015, 00,01





Puisitipografi
EMBUN SISA HUJAN
karya Romy Sastra


Tetes kolam mini
tertumpang
di daun keladi

Embun kasih menitis
Menyemai rindu
senja termenung

Rinduku terkulai
layu membisu
malam minggu
kelabu

Embun sisa hujan
senja ini
damaikan
lara resah
pada cinta
yang dingin

Malamku sepi
berselimut sendiri
kotaku tak ceria
di landa hujan rintik


HR RoS
Jakarta, 24092016




KOTAKU
oleh Romy Sastra


Di ujung petang di awal senja
memandu jalan pulang
bak burung-burung pulang ke sarang.

Lambaian kota metropolitan
menjanjikan harapan
pada penumpang memiliki kesempatan
di tengah keramaian bisnis berlalu-lalang.

"Impiku di sini, di jalan yang gersang
tak dapat berteduh, panas dan hujan
pergi pagi demi kasih,
kembali senja demi cinta.

Aahhh ..."

Kugantungkan impian di kota ini demi kau dan sibuah hati.
Di sini ... ya, di kota ini ....

HR RoS
Jakarta, 24092016




KENISCAYAAN IBADAH
Karya Romy Sastra


Rona-rona kabut menguliti lentera
senja telah berlalu meninggalkan terik
membuka ruang hati
satu cinta kujamah
bersetubuh pada kekasih fanaku

Aksara Ya Hu kucerna di balik
kelambu biru
pada asma-asma rindu
beralas sajadah lusuh
bermusyafir dalam desah mencucur telaga zam-zam di liang pori
meski berpayah jejaki padang alam diri
yang kucinta hadir gemerlap
membawa bejana kerlip berlapis
memandu sukma
Ia tak tersentuh malah menyelimutiku
jiwa haru menatap segerombolan manikam
bak berlian terindah tiada bandingnya

Asmara senjaku usai
kututup buka kembali
aku tak puas wejangan pengantin tadi
kutikam belati tauhid iman
tak beranjak memandu malam
membuncah isya pada kepuasan cinta
tak kukenali kewajiban lagi
yang kuraih keniscayaan pada janji
untuk selalu mengabdi
Ya Illahi Rabbi

HS RoS
Jakarta, 27092016





EMBRIO RABBANI CINTA
Karya Romy Sastra


Desah cinta setetes darah hina berkoloni
sukma kasih menyatu dalam garbah
terbentuk bibit insani
bertanya Hu pada Ar-Rabbani
"Kutitip amanahKU... ke dunia kelak,
adakah engkau sanggup memikul titah dunia sepanjang kematian?
sedangkan engkau Rabbani, tercipta dari sabdaKu kehidupan pertama dalam Qolam azali
Kutuntun detail tentang indahnya rahsi.

Azali tergurat misteri
di setiap detik-detik laju cipta
lena seperti melayang dalam nebula
segala serba ada papa senyum mesra
berdialog belajar cinta bernapas Hu
detak-detak memandu berjalan jauh
tetap langkah itu di hadapan-Nya

Hu bersabda pada ruh,
siapa Rabbmu ya Rabbani?
Engkaulah wahai kekasihku.

Lahir ke dunia alam kematian Ar-Rabbani,
tersesat jalan negeri apa ini?
aku tak lagi menemukan kedamaian
yang ada kebisingan
Ar-Rabbani mencoba tenang kembali
pada adzan memandu asma-asma puji
yang di kenal dari rahim
baru saja tertumpah lewat goa garbah
Ar-Rabbani maha bingung
hanya bergantung pada titah suara merdu tapi semu
ayah dan ibu
Ar-Rabbani belajar bermusyafir dalam dunia kematian mencari lembaran azali
untuk bekal jalan pulang ke alam abadi ....

HR RoS
Jakarta, 27092016





DAUN-DAUN DIKSI BERTERBANGAN
Oleh Romy Sastra


Sebuah misteri memaksaku
'tuk selalu menulis obsesi puisi
sudut bisu gemulaikan jari-jemari
yang kian layu
kanvaskan mutiara-mutiara kata yang masih tersembunyi

Ah rasa ini, kenapa tiba-tiba sunyi
seperti ranting cemara di padang gersang
sebagian dedaunnya berterbangan
bertengger angan yang hilang melayang
tak kan pernah kembali lagi ke dahan

Daun fiksi menghilang ke jurang yang terdalam
dahan-dahan sastra yang akan menjadi pusara
akankah separoh jiwa yang tersisa ini
mampu menyuburkan dedaunan imaji

Koloni awan yang berarak
turunkan hujan, sirami alam ini
'tuk kesuburan taman hati
semoga burung-burung kecil itu
bisa bersiul bersama tintaku menyapa pagi

Ranting-ranting yang kering
gugurlah ke bumi
siklus tunas berganti
tunaskan kesuburan dahan menghasilkan dedaunan kembali

Jiwa yang tersisa ini
bertahanlah dengan cabaran
melukis menulis seribu mimpi

Teranglah kau hati
suburlah kau ilusi
mendung di ujung sendu hujanlah
basahi lara hati yang gersang ini

HR RoS
Jakarta, 28-9-2015, 09,59





NUSANTARA BERKABUT
Karya Romy Sastra


Pelangi harapan di lingkaran kabut
pagi resah menutup mentari
duhai alam yang berselimut gelap
berlalulah jauh sejauh mungkin
berlalu jauh ke samudera hampa
bersemilah kau gita jingga menyapa dunia
biarkan kami hidup seribu tahun lagi
tanpa ada sesak napas di rongga dada

Bumi ini telah gersang
tanaman dan pohon-pohon telah mati
para penghuni dihantui bayang ketakutan
seperti hidup di tengah jurang

Wahai pemimpin negeri ini
bertindaklah...!!"
kerahkan potensi bangsa anak negeri

NUSANTARA INI KIAN GELAP

Sang penguasa dikebiri oleh intrik pengusaha
kami yang hidup dalam antar bangsa
LARA
bumi ini gelap dari keserakahan si kaya

NUSANTARA KINI GELAP GULITA

Di masjidil haram berkabut misteri
nusantara berkabut api
ada apakah gerangan alam ini ya Illahi
ampuni kami

Separuh napas yang masih tersisa
ya Allah,
kami tengadahkan tangan di dalam istisqa'

rahmatilah alam ini dengan hujan kembali
ya Illahi Rabbi
biar kabut asap berlalu pergi ....

#puisimasakebakaranhutan2015
HR RoS
Jakarta 28-9-2015, 11,25





RINDU DO'A BUNDA
Karya Romy Sastra

Ketika jiwa ini hampir menyerah
meniti jejak kehidupan
yang selalu lelah di gilas roda waktu
telah kutinggalkan lembaran-lembaran kedukaan, dalam perjalanan harapan
tak jua berlalu pergi
satu soalan yang membuat ananda teringat,
masih ingat terasa hangat pelukkan
masa belia 'tuk semangati rasa ini lagi
betapa kelamnya ruang hidupku kini
ketika putus asa hampir terjadi
panggilan suara lirih di balik telp mungil
menghampiri suara yang kukenal memanggil ananda,
nak, adakah kau sehat-sehat saja di sana nak?"
riuh gulana pecah menjadi rindu
rindukanmu ibu.

Terulang berulangkali nasehat itu
seketika suara itu menyapa kembali
berbahagialah hidupmu di sana wahai anakku
do'aku mengiringi derap impianmu
jangan kau tinggalkan ibadah.

Ah, jatuh juga bulir ini dengan sapaanmu bunda
separoh jiwa ini telah sepi
pada kegagalan yang bertubi-tubi
suara ibu hadir menghalau misteri
tuah doa yang kunanti.

Malam ini,
kutatap rembulan
cahaya yang temaram
menggantung di balik awan
jiwa yang gelap teranglah.

Pada malam ini,
kutulis rangkaian diksi sajak rindu
untukmu bunda.

Ya Illahi,
sampaikan rinduku padanya
aku kini yang sengsara dalam tatapan asa
berharap pelukan terhangat
seperti hangat ketika belia
semogalah jiwa yang gundah ini bersemangat lagi

Bunda,
hidupku dalam bayangan lara
sapaanmu menepis putus asa
keputus-asaan yang tak semestinya
bahwa kehidupan ini terus berlanjut
bersemangatlah kau diri ....

HR RoS
Jakarta, 28-9-2015, 19,54




DAUN-DAUN DIKSI BERTERBANGAN
Oleh Romy Sastra

Sebuah misteri memaksaku
'tuk selalu menulis obsesi puisi
sudut bisu gemulaikan jari-jemari
yang kian layu
kanvaskan mutiara-mutiara kata yang masih tersembunyi

Ah rasa ini, kenapa tiba-tiba sunyi
seperti ranting cemara di padang gersang
sebagian dedaunnya berterbangan
bertengger angan yang hilang melayang
tak kan pernah kembali lagi ke dahan

Daun fiksi menghilang ke jurang yang terdalam
dahan-dahan sastra yang akan menjadi pusara
akankah separoh jiwa yang tersisa ini
mampu menyuburkan dedaunan imaji

Koloni awan yang berarak
turunkan hujan, sirami alam ini
'tuk kesuburan taman hati
semoga burung-burung kecil itu
bisa bersiul bersama tintaku menyapa pagi

Ranting-ranting yang kering
gugurlah ke bumi
siklus tunas berganti
tunaskan kesuburan dahan menghasilkan dedaunan kembali

Jiwa yang tersisa ini
bertahanlah dengan cabaran
melukis menulis seribu mimpi

Teranglah kau hati
suburlah kau ilusi
mendung di ujung sendu hujanlah
basahi lara hati yang gersang ini

HR RoS
Jakarta, 28-9-2015, 09,59





ILUSI CINTA
Karya Romy Sastra


pada cinta
telah aku labuhkan hasratku

pada rindu
telah aku sampaikan lewat lagu
akan syair itu

pada kekasih
telah kubuktikan dekapan mesra mencumbuimu

pada asmara romantis
kukecupkan rasa sayang di keningmu

pada noktah pernikahan hati
bercumbu mesra
denganmu sepanjang hari

kemesraan cinta imaji
lenakan jiwa
hingga terlelap sampai pagi
ia adalah percintaan dalam mimpi

HR RoS
Jakarta, 29092016





#puisirenungan
SIKLUS CERMIN IMAN DIRI
Karya Romy Sastra


Ketika hayal takut skaratul maut
ingin tak hidup dari awal
terciptanya diri ke dunia
betapa dahsyatnya siksaan kematian

Jiwa gersang lupa pada ibadah
bergentayangan mengumbar nafsu
arah laju tak berhujung sesal tiada guna
iman rasakan,
lalai pada perjanjian azali tuk mengabdi
sholat yang dilengahkan sehari-hari

"Ah ...cermin ritual yang dikebiri sendiri.

Imanku tersenyum rindu akan kematian
siklus sadar diri pada janji yang tertunai
nikmatnya pertemuan
bercumbu rindu di atas sajadah cinta
rasa kematian adalah anugerah terindah
melaju pada kehidupan abadi

"Ia ...yang dikenali dengan ilmi

Ia, indahnya religi yang tertunai sehari-hari ....

HR RoS
Jakarta, 29092016





TAHAJUD CINTA TANPA NODA
Karya Romy Sastra


Sajadah tahajud membentang
duduk tafakur
membawa rindu
di bawah lindungan ka'bah
jauh memasuki ke ruang jiwa

Sunyi sepi berkawan hening
kupusarakan warna ke dinding kaca
lenyap tak bercahaya
alam-malam indah bersama diri
menyatu ke rasa Illahi

Misykat misykat kristal
membulir tak tersentuh
terhampar di padang sahara jiwa
khair-khair mahabbah bermusyahadah
lembut halus melebihi seribu sutera

Kacahaya surga menyapa tahajud
terpanah indahnya suasana cinta
bagi hamba yang selalu bersujud
duduk di bawah naungan ka'bah bersimpuh
ada di wajah maujuddullah Ilaallah
dengan tongkat alif menengadah purnama
malam-malam indah bersama-Nya

Tahajud tanpa doa dunia
membawah cinta tuk sang kekasih
dalam pangkuan yang tak mau di tinggal pergi.

HR RoS
Jakarta, 29-9-2015, 13,47l

2 komentar:

  1. Alhamdulillah,
    abg Ahmed el hasby yang telah menyusun karya saya ini dalam antologi tunggal dibawah bendera RPS ruangpekerjaseniclub. Salam sastra abg

    BalasHapus