RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 04 Oktober 2016

Kumpulan Puisi HR Ros - MAWAR PUTIH INI UNTUKMU


CINTA BERSELIMUT KABUT
Karya Romy Sastra


Hidup dalam bayangan kekasih
bak musyafir mimpi
jejak kaku menyemai realita
asing di tingkah misteri diri
arah mana yang akan dilalui
tak sehaluan riak dan gelombang
padahal ia layaran di tengah samudera
yang mesti direnangi
diri malu menyatakan setia pada janji
tak kokoh dengan cabaran
kalah sudah sebelum berjuang

"Aahh...

Di sini lelah di sana pasrah
tak akan impian menjadi nyata
perjuangan yang tak pernah dihargai
tak dipahami arti sebuah setia
hanya menorehkan luka yang tak berdarah
lebih baik hidup sendiri

Cinta berselimut kabut
tak pernah merasakan bahagia
lebih baik menempuh jalan berpisah
daripada tersiksa selalu tertuduh hipokrit
biarlah laju mengejar yang di tunggu
semoga kabut
tak lagi mendekap mimpi burukku ....

HR RoS
Jakarta, 01102016





MAWAR PUTIH INI UNTUKMU
karya Romy Sastra


Mawar putih mekar kala senja
menambah indahnya taman hati
gugusan embun menyirami pagi
basahi rindu yang gersang setiap hari
kutitip setangkai mawar putih ini
menyapa dalam kerinduan

Pada setangkai mawar menitip ikrar setia
yang kupersembahkan ke persada maya
menulis melukis pigura cinta
merancang noktah ke bumi sabah

Laila cinta menitis kasih membingkai setia
Arjun bermusafir hari berjubah hina
bertongkat diri menatap asa

Kucabar rintang waktu dari kejauhan
melangkah di sahara gersang
meski tak berpayung
mendung di langit biru
menutup pelangi rinaikan hujan

Mawar putih ini untukmu
kupetik dari istana sastraku
merangkai syair hati untuk sang kekasih
terimalah apa adanya

Mawar putih,
ketika jabat tangan tak berpelukan
mawar putih ini terlepas dari hidangan
akankah rasa bahagia yang di nanti
mengakhiri story love Me
entahlah...?

Bila itu terjadi
aku menutup bunga cinta dikala senja
pagari hati menutup lembaran semi
dan kuakhiri kasih ini
berselimut sepi sampai tua nanti

HR RoS
Jakarta, 1-10-2015, 18-55





MALAM INI SETENGAH PURNAMA
Kary Romy Sastra

Malam gelap tiada kerlip sang kejora
langit sebak sunyi cuaca mendung
sunyi di peraduan malam
hayal jauh menggantung di bulan ke-emasan
purnama malu di balik awan

Bidadari-bidadari kayangan
tak turun ke bumi
enggan menampakan diri
yang biasa bersolek riang
di air terjun pemandian
ya pemandian hati air mata ini

Malam kian kelam
cemara berbisik di dahanan
angin rindu tak berkawan angan
berselimut malu dengan cabaran
kurengkuh malam dalam kedukaan
menyapa kasih dalam diam
kenapa tak ada jawaban

Diri,
kenapa kau majenun karena angan
yang selalu kau nyanyikan lagu rindu
lagu memori tempo dulu
iramanya akan membunuh rasamu
suara jangkrik pun bisu
entah malu berkawan dungu
aku tak tahu

Bulan,
purnamakanlah rupamu
biar kutahu
indahnya kesunyian itu
walau sunyi berkawan angan
luah rasa ini tetap bernyanyi tanpa nada
mengiringi malam meski tak bersuara
semogalah purnama itu indah
bertamu dalam lamunan cinta

Aku menanti purnama berseri
bila tak kudapat malam ini
ku tunggu esok satu malam lagi
semoga esok menyinari alam sunyi
biar malam esok aku tak lagi sepi
tak lagi sendiri
bernyanyi bersama kekasih

HR RoS
Jakarta, 01-10-2015, 22,45





JERITAN TAK BERSUARA
Karya Romy Sastra


Terngiang fikir tak berbisik
mencibir lidah tak menjulur
rasa sunyi diri
memekakkan telinga tak bernada
adakah tahta itu lebih ksatria dari patriot?

Penguasa penguasa dan pengusaha
sumber daya alam ini kian kerontang
kehidupan pribumi menjerit tak ketulungan
mengintiplah kau di balik jendela kekuasaanmu!
lihat kami di sini,
bak jamur hidup tak subur

Suara rakyat dimanipulasi
harapan mimpinya dikebiri
istana-istana berjejeran di tepi jalan
seperti rumah hantu tak bertuan

Jeritan tak bersuara bermuram durja
teruk perih merintih
luka tak berdarah tapi bernanah

Inflasi di depan mata
nurani penguasa berpaling muka
mengaku telah bekerja
padahal hanya bermain wacana
bibit masalah negeri
melengkapi sengsaranya bangsa ini

Wahai saudara yang terjajah di nusantara
bersuaralah demi janjinya
jangan biarkan hati ini lara
Sakit hati yang mendera setiap hari

Stroke stres badan akan kian sukses
terkapar di ranjang menunggu waktu

Bahagia anak neger itu...
di sandera oleh maling-maling berdasi
yang beristana di balik tembok rapuh
penguasa dan pengusaha mafia
tak punya maruah sedikit juga
membiarkan yang miskin mati perlahan
akankah negara ini diambang keruntuhan?

Tataplah wajah lara bangsa ini
di seberang istana mewahmu ....

HR RoS
Jakarta, 3-10-2015, 10,35





MONOLOG
JEJAK BAYANG TAK BERBEKAS
Karya Romy Sastra


Bayangan diri mengitari arah hari
dikejar tak terkejar
dinanti dia berhenti
aku tiarap,
bayangan itu bersemayam mendekat.

Kukepal batu lempar ke air
riak bergelombang
berdiam diri memandang gelombang tenang

Dikala api unggun padam
asap mengebul lenyap tak menentu

Rasa menggugah hiba
lara ke hujung sirna
dikala tatapan menyapa
jejak kedipan tak berubah

Bibir mengucap dalam bisu
komat-kamit seperti majenun kaku
nyanyian nuri berkicau menghibur tuan
tuan tersanjung
dengan bahasa yang tak di mengerti.

Oh, angin yang berhembus
datang dan pergi silih berganti
tak meninggalkan jejak
menyepi ke ruang tersembunyi

Ilustrasi bayangan paranoid
menceracau dalam diam
tak berpedoman
di antara takut dan malu tak lagi dipahami

Jejak-jejak bayang tak berbekas itu bias
menyapa antara ada dan tiada

HR RoS
Jakarta, 3-10-2015, 15,38




#puisitipograficintalara
-- P I L U --
By Romy Sastra


orkestra hati
desain imaji
pada sajak cinta
setangkai bunga layu

prosakan kisah
lembaran memori
menjadi indah bermakna

kupuisikan rindu
dalam irama senja
temaram bersemi
menyulam kelam

antara kau dan aku
tentang jalinan nasib
yang tak mungkin bersatu

bahwa
simponi rindu kita
tak lagi senada

terkoyak sudah
oleh perbedaan rasa
pada seni poetry
yang kuluah

ya biarlah asa
jadi figura
tak berwarna
abstrak dalam kisah saja

HR RoS
Jakarta, 30092016





--- PUPUS ---
by Romy Sastra


Denting dawai rindu telah bisu
kuakui,
syair koyak ditingkah malu
pada cinta menghukum pilu
apa salahku pada dirimu
hingga kau campakkan
kado noktah setiaku
bahwa ikrar kasihku hanya untukmu.

"Kini...telah pupus sudah jejak kekasih
pada keputusan cinta yang diakhiri
yang dulu pernah kupersembahkan
lewat janji setia,
sampai ke ujung nyawa sekalipun
aku akan tetap setia selamanya.

Hingga kau tahu ikrarku
bukanlah mainan lidah yang tak bertulang.

"Kini...aku telah menikmati sunyi
tak lagi mau bercinta
janji itu kupenuhi.
Pada suatu masa umurku panjang
sayapku tak mampu terbang mendekapmu suatu saat nanti
maafkanlah ikrarku,
biarlah mimpi-mimpi jawaban terakhirku
bahwa aku telah bernoktah di sudut hatimu
ternyata tak dipahami.

"Aahh...benciilah aku selalu
tikam dengan sembilu tuduhanmu
aku sang hipokrit cinta
kuterima saja... tapi tak rela.

HR RoS
Jakarta,30092016





ANEKDOT

DIALOG TEH DAN KOPI
Oleh Romy Sastra


Teh dan kopi itu pahit,
setelah diseduh dibumbui gula jadi manis.

Teriakkanku,
"horee... sarapanku sudah manis.

Teh dan kopi tersenyum kecut
ya, aku sudah manis,
bisik rasanya.
Bukan hidupmu yang manis.

Tapi sayangnya, sang penyeduh hidangan belum mandi
yang meminta sarapan pagi pun
ternyata belum mandi juga.

"Karena tak bersyukur pada yang ada.

"Ah, ternyata yang pahit itu
pola hidup zaman kini yang kian susah.

Pada pemerintah lupa pada janji
mensejahterahkan rakyatnya
harga komoditi murah
barang jadi industri melangit
delik wacana pelaku calon pemerintah
berjanji,
hanya orasi di pentas politik berdasi
janji manis hanya bualan saja.

Teh dan kopi tetap saja rasanya pahit,
karena gulanya dikebiri oleh janji.

HR RoS
Jakarta, 30092016





KETIKA SEDIH BERKAWAN SEPI
Karya Romy Sastra


Selimut malam resah berkipas kertas
sesak jiwa di lentera mungil
hening ning aning suara nyamuk bernyanyi
kukipas tubuh ringkih di malam sunyi lirih semakin sedih

Kala siang gersang mendayung hidup
selalu diamuk gelombang
jejak langkah tandus di bumi terasa sepi
kulangkahkan kaki tertatih
di bawah mentari yang kian terik

Perjalanan panjang menanti di ujung ajal
kehidupan mimpi dalam lingkaran misteri menakutkan sekali
hidup tak cukup bekal berselimut cahaya
dalam haribaan Illahi berkalang tanah
tersiksa dalam penantian panjang
di akhirat nanti sepanjang masa

Miris sedih dari kelakuan diri
terantuk pilu di gilas waktu
terjajah oleh roda kepalsuan
dari cabaran mimpi-mimpi

Ketika kisi singgah di hati
terhenti sejenak
dalam perjalanan menanam kasih

Kasih di tanam tak subur
berputik layu sebelum bersemi
berharap mimpi jadi realiti
hanya cerita manis di bibir saja

Aahhh,
kubiarkan sajalah ia jadi memori yang berarti
dan singgah lebih lama lagi
bermain riak di pantai indahnya hidup ini
meski kuhidup sendiri ....

HR RoS
Jakarta, 30-9-2015, 09,03




-------YA HU------
karya Romy Sastra


Ya Hu napas itu
kukulum langit kulepas bayu
hilang menyemai rindu
membuka kosmik tertinggi
dalam perjalanan religi
mengabdi di atas sajadah duduk tafakur
memandu jejak wali
dalam keheningan diri

Tuah titah makrifat hati
sabda tuan guru
menuntun jalan-jalan Tuhan
pada rasa nafsu sembilan pintu
kututup saja semua jendela diri
biar nafsuku terkunci
meninggalkan warna pelangi senja
ia selalu menggoda tauhid cintaku
yang akan menutup langit purnama
bertamu di malam-malam rindu
bercumbu mesra bersama maha kekasih

Ya Hu
hembusan hamba surga pada hayat Ilallah
asyik memuji saban hari tak kenal lelah

Ha Hu
puji rasa pada tarikh qodim Ilallah
ya rasulullah

Hu Hu
makrifat itu dalam helaan napas
asholatu daimullah

Fanakan diri dalam sujud seribu satu malam
biar terbuka tirai sukma
bersemayamnya maha kekasih di jiwa ini

HR RoS
Jakarta, 03102016




PERAHU YANG TERKOYAK
Karya Romy Sastra


Mengalir tetesan embun malam
dari siklus gravitasi magnetik kosmik
lembut terasa hanya diulit mimpi
siang terik dahaga melaju resah

Embun duka tertumpah basah
menitis di sela pipi
bermuara ke telaga sunyi
riak menepi bersama gelombang
batu karang menghadang

Haluan hidup dalam bayangan abstrak
jamur-jamur harapan bermunculan
ya, hanya bayangan saja
dari sisa debu berterbangan
tumbuh tersisih di tunggul lapuk
tak tersentuh
rela malu dalam cibiran kasta
asing bergumam bernyanyi lara

Jalan ini masih panjang
terjal berliku langkah kaki berduri
arah merintang sudah menjadi hiasan hari

Menatap samudera tak berujung
jauh jalan pulang untuk kudayung
perahu terkoyak dihantam gelombang
malang sudah nasib sibadan diri
berpegangan bertongkat rapuh

HR RoS
Jakarta, 03102016





ANAKKU SAYANG
Karya Romy Sastra


Lilin kecil terangi sunyi
kerlipnya menari gemulai di meja mungil
kutatap langit kamar ini
diri terantuk di kelam waktu
kumenunduk jauh ke dalam rasa diri
terhempas rindu memeluk sibuah hati

Duhai darah daging yang kurengkuh
lenalah di pangkuan ibu
wangi kesturi
mewakili wangi keringatmu nak

Peluk cium ibu
menambah semangat hari
terik surya pagi menyinari alam
kerlip bianglala rupakan lembayung
konotasi pantulan di antara dua sejoli

Darah daging ini,
tak tersisih dari cabaran sembilu hidup
tak lekang dengan waktu yang merindu
tak terbakar dengan terik
kau kah itu nak

Menitis dari birahi kasih
Keringat bermandi hari
menjadikan kau bermain mimpi
dalam belaian hati

Kutatap bintang malam dalam pangkuan
jadilah kau salah satu bintang yang berkilauan
di antara bintang-bintang bertaburan

Anakku yang kurindu
buaian dendang pagi dan petang
cepatlah besar nak
kejarlah ibu berlari
mengikuti tirani pelangi
yang kian menyapa usia senja

Tari-kanlah lentik jemarimu
dengan kidung indah kau bernyanyi
biar cantik elok gemulai di panggung seni
semoga kau jadi bidadari idaman hati

HR RoS
Jakarta, 4-10-2015, 20,38





DETIK DETIK AJAL ITU
karya Romy Sastra


Unsur tubuh berselimut cahaya
cahaya yang mengikat
di antara Malaikat-Malaikat yang menjaga
enam puluh tiga Malaikat rahasia
rahasia kematian umur Rasulullah

Ketika Israil datang memanggil
cahaya itu ditarik di genggam balik
balik di hantar ke dzat Illahi Rabbi

Tubuh pasrah tiada berdaya
bulan sabit memerah di langit bashirah
gunung Thursina tak lagi megah
daun-daun cinta berguguran
pergulatan iman dipertaruhkan
dahsyatnya proses kematian

Bidadari cantik datang menggoda
mengaku dari surga
membawah secawan madu pelepas dahaga
cabaran iman maha dahsyat
di antara kematian yang baik ataukah tersesat

Detik-detik ajal roh tunggal risau
jiwa mendelik ke ranah tauhid
menunggu datang sang utusan Khalik
sakit menggigau dan galau

Akankah ajal terfitrah
dari kematian ilmu-Nya
terhidayah dengan amal ibadah?
ataukah tersesat tercabut dari akar-akarnya
terhempas lara
tak butuh meganya istana dunia
iman dungu tak tahu jalan pulang
bangkaiku resah
kejadian apa ini purnama tak lagi bercahaya

HR RoS
Jakarta, 04102016




Prosais Sufi
DIALOG KHAIR
Oleh: Romy sastra


"Haii... anak muda?"
tataplah dirimu!"
masuklah kesegala penjuru ghaibmu!
ia memiliki sembilan pintu.
Dengan menutup jendela rumah, kan terbukanya tirai penghalang.
Di sana, kau dapatkan mentari jiwa
yang menyinari alam saghir.

Dalam hening,
mendengarkan bisik yang tak berwujud
di mana gerangan datangnya warta itu?
membuncah pendakianku.
Lirih tanya dalam diam?!"
Khair menyapa lembut dari kejauhan
ia ada dalam jiwa ini
pesan khair pada tongkat tauhid menuntun iman tuk kembali.

****

Wahai yang tertidur, bangunlah!
cuci muka bersihkan tubuh larungkan fikir zikir ke samudera jiwa
kenalilah bara api tak membakar tungku perapian tetapi mendidih menghanguskan yang ada.
Jikalau kau tak tahu cara menjinakkan api terbakar sekujur jiwa, sengsara menyulam neraka.
Kunci alamat surga adalah rela.

Wahai yang keras kepala,
lembutkan hatimu! kan kau lebur baja yang menjerat ego diri.
Tiada penuh tak terisi melainkan keserakahan yang tak pernah puas.

Wahai mulut tajam nan berbisa,
santunkan suaramu!
belati yang menghunus itu mampu kau tumpulkan tanpa dibenturkan mata tikamnya.

Wahai diri yang bermusyafir,
tempuhlah saum di tanah tandus
seteguk dahaga mengalir tanpa mengeluh haus karena cucur telaga kasih-Nya tak pernah kering.

Wahai jiwa yang berenang ke samudera terdalam, mencari mutiara indah pada moleknya dunia.
Di sana tak kau temui manik mahkota karun, melainkan mutu manikam kepalsuan yang menipu.

Renangilah sagara jiwa dalam tafakur diri
bermodalkan kalam-kalam cinta
bernapas rindu memeluk dalam bayangan bisu zauqh.
Tirai-tirai keghaiban diri terbuka sudah
pesona kasih menyelimuti kasta terindah pada setangkai kembang cangkok wijayakusuma
tajaliullah dalam aksara sastrajendrayuningrat
makrifat itu ....

HR RoS
Jakarta, 04102016




KERETA SENJA TELAH BERLALU
Karya Romy Sastra


gugur bunga pahlawanku
tertembus peluru siang tadi
patriot mewangi di tanah pertiwi
meski engkau gugur
namamu tak meninggalkan bakti
pada tanah air ini

kereta senja telah berlalu
walau engkau tak pernah kujumpai
juangmu kuhargai
engkau pergi tak akan kembali lagi
mati satu tumbuh seribu
pengganti regenerasi itu

tunas-tunas tumbuh mewangi
suburlah dikau di taman hati
siklus zaman pengganti
pada gugur bunga pahlawanku

rindu kedamaian tiada lagi pertempuran
meski bangkai terkubur berkalang tanah
pahlawanku tetap ada dalam memori
kupersembahkan satu puisi untukmu
mengenang jasa di atas nisan sunyi
kukirim kembang setaman sebait doa
semoga dikau tak kecewa kepada kami
yang mengambil kesempatan kemerdekaan
dari pengorbanan keringat darah
jiwa dan raga perjuanganmu itu

HR RoS
Jakarta, 05102016





---- K A N D A S ----
Karya Romy Sastra

Lunglai langkah tertatih berjalan lirih
dari setitik harap terperap kasih
menyentuh bayangan tak tergenggam
tersesali tak terpikirkan

Suatu ujung tak bertepi
kandas penantian di awal jalan
aku telah melukis tinta kasih
demi menunai seribu janji
terakhiri kisah pada misteri

"Kini... tertanya dalam hati
akankah sisi hati telah terbagi
antara kau dan aku di sini dan di sana
di persimpangan jalan
kasihku kandas di rerumputan jalanan
kisah bias tak lagi bisa diharapkan

Deru-debu melulur peluh
basahi tubuh
di suatu pagi tempatku berhenti
kau yang selalu kutunggu di halte itu
tak pernah hadir lagi menyapaku
berlalu laju roda jepang beriring jalan
silih berganti
seperti masa di medan perang
bunyi deru mesin mengusik peraduan
yang kutunggu di jalan itu
tak jua ada penampakan

"Mmm...
seharian sudah menyulam hayal
yang di tunggu tak jua hadir memandu rindu
hingga lamunanku dibisikin warta
dari belibis tua
lewat di depanku senja tadi

Ternyata dikau telah berpulang keharibaan-Nya membawa peti mati, dalam takdir yang di buat sendiri
tuk menjauh pergi meninggalkanku
kandas sudah
rasa lemas memelas bergumam bisu
terpaku dalam tatapan duka
yang sangat lara
harus berbuat apa
separuh jiwa ini telah pergi selamanya

Story love me terkikis sedih tak terealiti
oleh kematian hati pada kekasih
yang tak mau di mengerti
dengan cabaran kasih yang teruji baja
padahal ia ada bersembunyi sudah

HR RoS
Jakarta, 5-10-2015, 08,26




MAWAR DI TAMAN HATI
by Romy Sastra


Kau kah itu mawar putih
izinkan kudekap wangimu
ke dalam pangkuan hati
kusiram dengan tinta kesuma
lestarikan kasih di taman maya
melukis ikrar di urat nadi

Mawar di taman hati
aku ingin kau mengenaliku
menyentuhku
memahamiku
rangkullah aku
dengan wewangian kelopak kembangmu

Mawar indah
bukan kutakut dahan berduri
walau semut-semut kecil kian menari
yang akan menggigit rengkuh jemari
tapi yang kusedihkan
bukan karena jurang penghalang
yang tak kuinginkan, melainkan
bunga layu sebelum berkembang

Malang,
kelopak indah dilingkari parit
parit berkawat melilit duri
kutancapkan jejak di padang ilalang
mencari telaga suci
bermandi dengan air kasih sayang
'tuk hadapi cabaran memori
dengan hati yang lapang

Mawar berduri
kembangmu perisai si kumbang jati
bunga itu
akan kugenggam erat
setangkai durinya janganlah melukai
kukecup kuncup pucukmu mekarlah
bersemilah menjaga lentera hati cinta
kunanti kau di senja ini
mekarlah kau mawar berduri
kau yang kurindui
semerbak mewangi di taman hati

HR RoS
Jakarta, 7-10-2015, 17,49





#Monolog_satrisediri
BERTANYA MAKNA DIRI
Oleh Romy Sastra


''Tertegun pada bayangan
rupa diri abstrak
merupa tak nampak
wujud lingga diam
tak bergerak tak bersuara
tetapi ia
melahirkan makna kearifan yang sempurna,,

"Ranting-ranting berjatuhan
karena hikmah takdir alam
pucuk-pucuk kembali bertunas
suburkan dahan tertumpang embun pagi
dahaga meneguk dari tetesan embun
para musafir lalu lega berdiam rindang
berdirilah lambaian pohon menari sepoi
dengan tiupan alam yang menuai kedamaian
siklus sebab akibat kausalis azali tertulis
dalam indahnya sebuah ciptaan Tuhan
demi kelestarian alam
tersirami dari kearifan diri yang dipedomani,,

"Melarung tinta menorehkan aksara kata pada kertas-kertas yang pasrah,
rela tercabik oleh goresan
demi kesucian makna
yang tersimpan rapi
meski ia tercampak tak berharga
dan andaikan berharga sekalipun
ia adalah guru yang terbaik yang pernah ada sebagai jendela dunia,,

"Bertanya pada makna diri...
tak layak tuah maruah dititipkan makna
di mana lagi sobekkan kain
akan berpayet indah,
tersulam pada benang kusut
tak mau diurai
songket punya budaya dalam ajang tarian sianak dara,,

''Oohh diri ...
yang bertanya pada bayangan sendiri?
usah bisu menyulam malu,
biarkan laju kereta memandu
tertuju lurus di rel sendiri
menuju stasiun pemberhentian itu....

HR RoS
Jakarta, 07102016





AKSARA SESAT
Karya Romy Sastra


Melintasi batas-batas jalan
dalam angan tak merupa
di jalan barisan lingkaran syetan
mantera itu tersesat
dalam perjalanan malam

Virus dunia ...
beristana di segitiga bermuda
mempengaruhi jiwa-jiwa manusia
untuk jadi pengikutnya
adakah tongkat pembunuh angkara
dalam nafsu yang bergelora.

"Ia ...
Poros-poros iman dipertahankan
bertongkat tauhid landasan al-qur'an
ketika lintasan kesesatan bertamu
asma suci tak dimaknakan
perisai lebur dalam kegelapan
terjerumus menembus ghaib
ke alam merakayangan

Sunyi dalam tatapan misteri
sidungu menggigau tak karuan
aksara abra kadabra termantera
bak kabut menyulam debu
terjajah perisai hati berjubah dajjal memayungi

Rafalan mantera tersesat tak terejawantah
kidung-kidung magic bersemi dalam ilusi
tak tahu makna
rancu dalam kedunguan

"Wahai ..."
Sang pengelana aksara sesat
kembalilah ke jalan santri
pada pondok-pondok kiyai
di paguron wali berhikmah karomah sakti

Tinggalkan kepalsuan godaan
raihlah khasanah sunah Anbiya
biar tak tersesat jalan
menjauhlah dari mantera perdukunan

Segitiga bermuda
kau memuntahkan laskar-laskar api dari nafsu duniawi
mewujud di hati serigala bermata satu
kau kibar panji-panji kemenangan
di setiap hati insani
mengawasi di setiap langkah-langkah
iman diri
dalam aksara mantera yang tersesat itu ....

HR Ros
Jakarta, 7-10-2015, 19,51




Anekdot,
KURA-KURA DAN BUAYA
Karya Romy Sastra


_ Kura-kura

"Hei buaya...
katanya kau buas dan pemalas
tubuhmu besar taringnya runcing
bangunlah dari tidurmu!!
mari berkompetisi berlari denganku
kejarlah daku kalau kau mampu
aku ini tak jauh darimu di bawah dadamu.

_ Buaya terjaga dari lamunan

"Heeiii...,
siapa itu yang menantangku berlari?
tak kujumpai kau suara yang angkuh
kata kau dekat dariku,
di bawah dadaku ini?
tapi kau tak mau menampakkan wujudmu.

_Kura-kura,

"Ting tong, ting tongg...brrrrrr....
kau yang angkuh buaya,
mentang-mentang badanmu besar
ngomong seenaknya saja
kau kira yang kecil ini tak mampu berlari?
kakiku lebih cekatan dari badanmu
buas tapi tak berarti.

"Buaya semakin kecut lirih, tuit-tuit tuit...
bodo amat siapakah dirimu
melayani si pengecut tak berwujud.

Kura-kura tertawa,
huahahahahahahaaa ....

"haii buaya, aku sikura-kura
setelaga denganmu,
pantaslah kau tak melihatku
aku bersuara di balik batu.

Dari warta yang kudengar kau itu buas,
terkamlah aku...!!
yang taringmu akan aku patahkan nanti.

_Buaya

"Mmm,,
mentang-mentang kau berkulit baja
berlindung di balik batu
berorasi sembunyi-sembunyi.
Kalau kau berani,"
ayo kita bertanding di darat keluarlah...!!

Kita berjemur di darat saja
menantang matahari
siapakah di antara kita yang lebih kuat.

Kura-kura melayani tantangan buaya
berjemur menantang terik...
jadilah ia bersayembara ke angkuhan
sama-sama tak tahu diri
telaga keruh di tinggal begitu saja.

Tak berapa lama sibuaya tertidur
dan sikura-kura kabur.

Perut buaya terasa lapar berjemur
hingga buaya terbangun
dalam benak buaya,
sikura-kura hendak dimangsa saja.

Akhirnya buaya melongoh tertipu
wah, dasar kau sikura-kura pendusta
kau curang pembohong yang payah.
Sibuaya akhirnya tertawa sendiri
di pantai yang sepi
berkoar, akulah pemenang pertandingan.

Kura-kura mengintip di bibir telaga.
"Uuuhh... lirih sikura-kura
kau sipemalas yang rakus
kau kata kau pemenangnya
nanti dulu.
isi perutmu penuh bangkai
yang akan dimuntahkan nanti
kau lahap apa saja yang ada dalam kehidupan telaga, sesamamu kau bertengkar juga bahkan kau korupsi kolusi nepotisme secara sembunyi memperkaya diri,
hingga ladang-ladang usahamu bertebaran di mana-mana.

Ekor sibuaya menjulang panjang
digigit sikura-kura,
sibuaya hidup yang terlena
akhirnya sibuaya tertangkap masuk dalam penjara.

"Aduuhhh...,
ekorku kejepit
sakiiiiiiiiitt ....

Sikura-kura lari terbirit-birit.

Akhirnya sipemenang sayembara itu
pembaca yang setia
penulisnya hanya lelah.
Tanks ....

HR RoS
Jakarta, 8-10-2015, 11,25





PELITA CINTA YANG REDUP
Oleh Romy Sastra


Panggung pesta di sorot lampu disc
opera laju tak bertajuk
nyanyian cinta tak berpenonton
hajatan jadi kelabu
biduan menanggung malu

Pijar-pijar lampu temaram
menari eksotis ke seantero taman
Sepasang kekasih
yang biasa asyik bercumbu mesra
di sudut hati
kini sepi sudah
kuncup diselimuti dinginnya angin malam

Bertanya dinda dari sudut hayal
adakah malam ini berpelangi kanda?
tidaklah dinda,
karena senja telah berganti malam
sedih sudah, sorotan pijar pesta itu redup
kelamnya akan menyapa
menutup cerita cinta kita.

Bila pelita itu padam
dengan tiupan angin malam
akankah cinta ini juga akan tenggelam
dari cabaran tak selarasnya kerinduan

"Mmm,
kekasih hati yang merayu sedih
peluklah dadaku kembali di malam ini
jangan kau lepaskan lagi.
Kasih,
kemesraan malam ini janganlah cepat berlalu
tataplah wajahku,
di sini ada rindu untukmu

Meski pelita itu kan redup
menutupi wajah rindu yang malu
Kuingin kecupan itu menyula mesra
biarkan ia jadi memori
sebagai teman hayalku
menyapa realiti mimpi
bersamamu wahai kekasih....

#storyhati
HR RoS
Jakarta, 8-10-2015, 20,48




#Prosaisbebas
SAYAP PATAH SYAIR LUKA
by: Romy Sastra


Belum lama kepak merpati ini patah,
terjatuh dari pijakkan ranting mati
jatuh terjerumus dalam kubangan rindu yang tak menentu, sayap luruh ke tanah bercampur debu yang berterbangan, kemilau hati merpati tersisih dari kasta hidup dia yang indah, tersakiti oleh rona siluetnya yang merona. Kemana lagi tujuan kelana kan melingkari warna jingga senja ini.
Alam telah temaram,
angkasa menghujani mayapada, berteduh di tunggul kayu mati tak berpayung, tetap tubuh kedinginan tak berlindung pada rimbunnya ilalang menyeruak daun gersang, hingga sayap-sayapnya basah dingin sudah.

Goresan malam syahdu
memandu hening nan bisu
tak bisa bernyanyi kasih
kebencian telah merasuki selimut mimpi yang tak tertunai pada janji.
"Ahhh..., pengorbanan telah terbungkus dalam memori menjadi hiasan emosi dan telah menjadi dendam yang tak kunjung usai sepanjang hidup merpati.

"Oohh duka rasa ...,
Telah kularung paranoid diri ke dalam kembang setaman, bermandi bersama misteri
tak jua layu menyuburkan taman impian.

Merpati itu tak mampu terbang tinggi lagi, hanya terdiam menunggu angin lalu membisikkan syair rindu walau laju tinta tak beralamat ke sesuatu hati.
Aaahh,... bodohnya parung tak lagi mau bersiul, 'tuk nyanyikan kidung asmara walau hati pernah terluka oleh bibirnya yang selalu bernyanyi mesra, pada syair-syair cinta. Karena lidah tak bertulang menghibur rindu ditikam malu dituduh tak menentu.

"Oohh hujan ..., redalah duka harimu!
izinkan merpati itu terbang mengarungi angkasa tinggi.
Nebula, hiburlah selimut mimpiku
biarkan kuhanyut dalam samudera yang tak bertepi, bebas berlayar kemana kumau di dunia ini, tanpa ada jerat-jerat kekasih yang selalu mencemburui buta menikam luka yang tak berdarah tetapi bernanah sudah.

Merpati lara, bebaskan terbangmu ke langit tinggi, terbang tinggi sekali.
hapuskan jejak hati yang pernah mengisi ruang hidupmu
asmara itu telah beku oleh sakit yang teramat sakit
telah meninggalkan goresan luka dan terkapar dalam nebula mimpi.
Semu pada rindu palsu. Ya, kepalsuan rindu dalam gita cinta yang bercabang, dari ranting mati hinggap ke daun yang subur tak lagi berbenalu.

Berpisah di jalan yang licin terjatuh
tak akan mungkin bangkit
dan kembali lagi
menyemai history yang kian basi
memanglah berpisah jalan yang terbaik ....

HR RoS
Jakarta, 08102016




BERMALAM DI BAITULLAH
Karya Romy Sastra


Perjalanan malam mengunjungi Ka'bah
dalam stanza suci berdoa
mengekang birahi,
melebur nafsu dengan asma tasbih
nafsu-nafsu yang mengitari diri
menghimpun di dalam ritual ibadah
pada tahajud cinta menuai ridha-Nya

Pertemuan suci di majelis diri
asyik fana ke dalam diam
kalam rindu menyapa jiwa
maha jiwa hadir bermahkota cahaya

Menziarahi makam-makam suci
terletak pada kasta iman
fana mendaki ke martabat alam diri
bertamu ke Baitullah
dengan kontak tajali
makrifat itu indah mati di dalam hidup
menuju Baitullah bersemayamnya Nurullah

Kerangka mesjid diri bertiang rapuh
hancur disapu bayu dari nafsu-nafsu
Ka'bah kokoh dari bangunan Ibrahim
panji-panji berkibar sebagai lambang suci
tanda kemenangan menanti akhir zaman

Gejolak akidah
berkompetisi pada kebenaran sepihak
sama-sama merasa benar sendiri
mengundang huru hara di tanah suci
mengetuk pintu ghaib dari pertapaan
pertapaan sang imam agung
Imam Mahdi

Imam Mahdi bangkit
menjawab salam orang-orang suci
akhir zaman akan bertamu
kencangkan sabuk pengaman dengan religi
semoga tak tertipu dengan kepalsuan panji

Bermalam di Baitullah
kutemui dalam fenomena mimpi yang misteri ....

HR RoS
Jakarta, 09-10-2015, 09-06




OPTIMIS YANG TERSISA
karya Romy Sastra


Gemulai jemari menyemai memori diksi meluah rasa yang tersisa
teruntuk ke suatu hati
hidangan tertitip dalam dekapan
impian diri pernah menuai sesalan
walau tangisan terakhirku masih tersisa
kutadah sebak membulir beku sudah
terkoyak menikam jantung di dada rindu

Kini, kuberjuang menjadi yang kau mau
meski hidupku
tak seindah purnama
tak secerah mentari
setidaknya aku masih punya cinta
kupersembahkan di masa senjaku
walau napas ini tersengal
demi menyediakan kado sederhana
ke arena hidupmu nanti

Hari berganti bulan,
bulan berganti tahun
jalan rindu masih setia kulalui
walau kelok berliku jurang menanti
kasih ini masih tersimpan
tak akan lepas dari genggaman

"Setialah...!

Biarkan tangisan terakhirku sendu
lara di ujung tanduk
ketika pesta maya ini usai
janji terpatri janganlah selesai
genggamlah setia cinta kita
bermahkota noktah di depan penghulu
kunanti dikau dengan setangkai melati putih
pertanda cinta ini masih bersemi
dalam bingkai setia untukmu
menyapa rindu sepanjang hari
meski aku diam membisu

Kasih,
jikalau tangisan terakhirku tak berhenti
pernah kecewa tak terkira
kini selalu membayangi mimpi
janganlah risau dikau
membungkus pesimis
tataplah dunia pagi
biarkan kelam tak berembulan
sang surya kan selalu menyinari

Berjuang menjadi yang kau pinta
hadapi cabaran yang ada
mengusik kesetiaan janji kekasih
aku masih di sini menulis melukis hati
menatap asa ke arena cita
kusambut mesra dengan tinta
pelita kasih kita pernah padam
pada pertengkaran
genggam eratlah rasa dunia kita
kutitip puisi untuk kekasih
jangan pesimis merobek hati
raihlah tunas-tunas bahagia kembali
berharap suatu ketika cinta bersemi
karena optimis ini masih tersisa
demi kebahagian antara kau dan aku
di sini dihatiku ....

HR RoS
Jakarta, 09102016





PROSA TINTA TERAKHIR
Karya Romy Sastra


Tinta merah menoda resah
pada kertas diksi
goresan kertas putih bercerita luka
figura kanvas tua hampir pudar warnanya
melukis rasa hati sebagai tinta terakhirku
dalam rupa rindu tak berwujud dirimu

Di peraduan mimpi mencoba
menoleh lembaran-lembaran memori,
kutatap jurang-jurang pemisah
di antara nostalgia kisah-kasih
tak mungkin kusulam kembali
histori usang di tiang kenangan
tinta itu semakin mengering
tak lagi basah bernoda darah

Tinta terakhir ini
aku persembahkan ke dalam syair
menilai kearifan rasa kekasih
masih adakah rindu dikau untukku
memahami relung-relung takdir
dalam gita antara aku kau dia dan mereka

Tinta terakhir itu kian memudar
kertas putih di albumku
telah berdebu malu
akan menutup lembaran demi lembaran hati
tak lagi membimbing masa depan dari cabaran puisi
yang kian tersisih dari belaian kekasih

Aku memang masih di sini
menatap menyiram taman bunga
dengan tirta maya cinta meski bisu
yag mengalir dari tetesan air mata rindu
pertanda cinta ini masih ada dan setia untukmu

Jalinan hati bernoktah cinta sepanjang hari
setumpuk cabaran menjadi pelajaran
jika kau mampu tegar berdiri
tinta ini tak akan kuakhiri
sampai aku meraih obsesi dari sebuah mimpi
walau mimpi itu bias ditelan waktu

Taman hayalan itu selalu melukis kasih
pada pelangi jingga memerah
di peraduan senja
kusapa dikau cinta di temaram ini
adakah malam ini berpelita sinar purnama
bila bulan memadu rindu
hadirlah...!
jangan biarkan malam ini bisu
jadilah sosok juwita malam menari indah
di dada langit
kan menyinari pekatnya kabut buana
yang tak lagi punya ruang tempatku berlari
meski kunang-kunang hati tak cukup mampu menerangi seantero sukma
dalam kisah cinta yang tak nyata

Ketika tinta yang memudar ini masih tersisa
yang akan melukis malam kerinduan
senyumlah...!"
pelita kecil itu janganlah sampai padam
yang dikau masih dalam genggaman

Aku yang berdiri di awal pagi
menatap teriknya mentari
memandang lembayung di tengah riak
menitip kabar pada pelangi yang telah menepi
ke telaga kasih bisu
kabarku sama seperti yang berlalu
aku masih mencintaimu.

"Oh ..., terik.
Laju sinarmu membakar hangat tubuhku
menggapai obsesi masa depan
berharap siluet cinta merona
pada keagungan Illahi Rabbi
mendekap dalam doa yang tak pernah putus
menitip sebait asma, berharap cinta hati ini janganlah segera redup

Aku masih seperti yang dulu
memadah telepati dalam luah telik sandi
meski tergores dalam ayat-ayat tinta terakhirku ini
tak menjadi pesimis diri

Biarkan jemariku
terhenti menitip larik-larik puisi
ketika dawat tinta itu
masih kau hantarkan warna ceria
ke arena kanvas rupa rasa
yang mulai pesimis di kertas putih
karena rasaku semakin sepi
semenjak di tinggal pergi
pada bayangan impian kekasih

"Aahhhh..., tinta terakhirku telah resah ....

HR RoS
Jakarta, 09102016,





Karya Romy Sastra


Napas hari memandu lajunya nadi
terbang menghilang mengelilingi diri
bersayap Ya Hu pergi dan kembali
kehidupan terbarukan selalu,
aku mencintai-Mu ya Illahiku
Engkau menyambutnya dengan rindu.

Pujiku datang dengan berjalan
IA menghampirinya dengan berlari
kyusu'ku datang dengan sebait doa
IA membentangkan fana berpayet sutera
aku bertamu membawa segala cumbu
IA menghadiahkan kado untukku pulang
ya, secuil mutiara indah
lebih indah dari se-isi langit dan bumi
yaitu mahabbah cinta-Nya

Tiada yang Aku pinta darimu
selain kenalilah Aku
tiada yang sia-sia Aku ciptakan untukmu
melainkan telah Aku sempurnakan semuanya untukmu.

Apa yang kau persembahkan untukKu?
hanya selain rasa syukurmu
sadarilah itu.
Aku menyelimutimu
maka kenalilah Aku.

Tiada Tuhan selain Aku
maka sembahlah Aku.

"Duh ... mengapa ada juga seribu Tuhan dihatimu,
wahai hambaKu.

HR RoS
Jakarta,14102016





GERIMISLAH WAHAI HARI
karya Romy Sastra


Kapankah koloni awan menitis
membasuh bumi
sudah berapa banyak debu bertebaran
menutup muka berpeluh noda

Sentuhan jemari duka menulis kisah
melukis di tanah yang berdebu
wajah-wajah nan ayu di sketsa tinta
merupa indah tak bernama

Mengenal dunia lewat tinta maya
kabut-kabut kian pekat
di sketsa rindu berdebu madah

Gersangnya beranda hati
taman-taman kasih tergerus sedih

Ranting-ranting dahan berjatuhan
menimpa kembang gersang tak bertunas
gersang dari siklus musim
kapankah
pancaroba iklim berganti
yang suasana kerontang segeralah bersemi

Gumpalan awan
segeralah memecah mendung
titiskan gerimis suci
menyapu debu menyapa rindu
berharap,
titisan menyisakan embun
asrilah taman impian di muka buku

Hujan,
curahkanlah air langit
biar tunas-tunas daun berputik
mengganti kembang daun yang kering
sendu dan layu di alam rasa yang perih
semoga sejuk menyapa dunia cinta hati
di sana dan di sini ....

HR RoS
Jakarta 14-10-2015, 20,00





Prosa
TINTA TERAKHIR
Oleh Romy Sastra


Tinta memerah menoda resah
dalam diksi kertas putih
kanvas-kanvas tua hampir pudar
melukis kasih sebagai tinta terakhir.

Di peraduan mimpi,
kucoba menoleh lembaran-lembaran memori
kutatap jurang-jurang pemisah
di antara nostalgia kisah kasih
yang tak mungkin,
kusulam kembali histori usang
tintaku semakin mengering
tak lagi berwarna telah bernoda darah
dari kecewa yang menggunung
jatuh terhempas ke lembah lara.

Tinta terakhir ini
kupersembahkan ke dalam syair
menilai kearifan kasih
masihkah ada rasa dikau untukku
yang kokoh berdiri pada janji
untuk memahami relung-relung takdir
dari cabaran maruah cinta yang rela
antara aku kau dia dan mereka.

Tinta terakhirku ini kian memudar
ketika kertas putih di albumku
telah terkoyak berdebu cemburu
yang tak bisa lagi melukis wajah rindu
ter-iris tuduhan hipokrit cinta
yang sesungguhnya
bukanlah jubah pribadiku.

Diksi rasa cinta ini akan menutup
lembaran demi lembaran hati
tak lagi membimbing masa depan dari cabaran puisi yang kian tersisih.

Aku memang masih di sini
menatap menyirami taman bunga dengan tirta maya cinta dalam bisu
yang mengalir dari tetesan air mata rindu
pertanda cinta ini masih ada
dan setia untukmu.

Bila suatu masa jalinan kasihmu setia
bernoktah cinta sepanjang hari
dari ikrar di depan penghulu
setumpuk cabaran menjadi pelajaran
tinta ini tak akan kuakhiri
sampai aku meraih obsesi dari sebuah mimpi
meski mimpi-mimpi itu
akan bias ditelan waktu.

"Aahh ... taman hayalanku"
selalu melukis warna hati pada kekasih
seperti indahnya pelangi jingga
yang memerah di peraduan senja
kusapa dikau cinta? dikala senja hari,
adakah malam ini berpelita sinar purnama
ketika bulan memadu rindu
hadirlah!
janganlah malam ini menjadi bisu
jadilah sosok Juwita malam menari indah
di dada langit
kan menyinari pekatnya kabut buana
tak lagi punya ruang tempatku berlari
dan tersenyum menatapmu yang jauh bersender di ranting bulan nan merindu
meski kunang-kunang hatiku
tak cukup mampu menerangi cinta
di seantero sukma indahnya mayapada
dalam kisah cinta yang tak nyata.

Ketika tinta yang memudar ini, masih tersisa"
yang akan melukis malam,
senyumlah!"
pelita kecil itu janganlah sampai padam
yang dikau masih dalam genggaman.

Embun rinduku,
yang selalu mencair di awal pagi
menatap teriknya mentari siang ini
memandang lembayung di tengah riak
menitip kabar pada pelangi yang akan menepi
ke telaga kasih bisu
kabarku sama seperti yang berlalu
aku masih mencintaimu.

"Oh ... terik?"
laju sinarmu membakar langit
hangatkan tubuhku
izinkan aku menggapai obsesi hari
pada senja nanti
berharap siluet cinta merona
pada keagungan Illahi Rabbi
mendekap dalam doa-doa senja
menitip sebait asma,
berharap,"
cinta di hati ini janganlah redup.

Aku masih seperti yang dulu yang kau rindu
biarkan sisa tinta terakhir ini
memadah telepati dalam luah telik sandi
meski tergores ayat-ayat pesimis
tinta terakhirku ini
akan terhenti menitip larik-larik puisi
pada maya dan relung hatimu
ketika goresan tintaku tak lagi dihargai
dan tak lagi kau hantarkan warna ceria
ke arena kanvas rupa rasaku
yang mulai menipis di kertas putih
karena rasaku semakin sepi
semenjak di tinggal pergi
pada bayangan mimpi kekasih.

"Aahh ... mimpi, kau paranoid tidurku ....

HR RoS
Jakarta 25-4-2016, 09:35





SAJAK ALAM MENGGAPAI RINDU
Karya Romy Sastra


Mendung nan tinggi rinaikan air suci
gravitasi langit berkoloni di awan tinggi
betapa hebatnya sebuah kekuatan
terpikirkan dalam lamunan
Engkau Tuhan adalah kerinduan

Rinai itu jatuh ke bumi
menyisakan embun di rerumputan
burung-burung nan bersolek
berkicau riang menyapa pasangan
sayap nan cantik memancing kemesraan
nyanyiannya lembut adalah kedamaian
tertiup angin lena di mabuk asmara
parung berkicau memanggil rindu
mari bersimponi bersamaku wahai kekasih
dengan larik rindu sepoinya angin surga

Aliran air di lembah mengalir ke muara
menyapa segala biota di telaga kering
senang riang gembira
daun-daun muda di gurun menari erotis
gersang telah menghilang
sang banyu menyemai segala rindu
dari rasa cinta kearifan maha cinta
dahaga di tanah kering subur sudah
sajak alam menggapai rindu
pada rinai yang menghapus segala dahaga
biarkan jiwa ini berpaling
dari kepalsuan cinta dunia
menghilang ke dalam ranah maha jiwa
tak ingin menduakan maha kekasih
asyik tak terusik
karam ke samudera cinta tertinggi
yang bertaburan mutiara nan indah
ya, di jiwa ini ....

HR RoS
Jakarta,13102016





RINDU INI
by Romy Sastra


Napas rindu ini
kutitipkan ke dalam rongga
pejamkan mata
melirik kerlip bintang di angkasa jiwa
jemari menari melukis langit biru
kanvaskan ide-ide bisu
merona syahdu di dada rindu.

"Rindu ini ..., kutitip lewat angin!
Memeluk bayangan indah
moleknya rupamu
kupeluk erat,
ucapkan, i miss you ....

Rindu ini setengah mati
kutanam kembang di lembayung hari
berharap tumbuh tegarlah meski tak kusirami.

Kisi-kisi hati meniti dalam diri
ingin kucicipi mesra
menjadi nostalgia untuk sang kekasih.

Rindu di tengah hari berpeluh lesu
tak kudapatkan nirwana cinta di siang ini
tak apalah.

"Aahh ..., biarlah!
Aku coba buka mata ini
dari pejam yang kelam
bayangan sisa kelam nan berbintang
perlahan menjauh pergi.

Akhirnya, rinduku semu dan layu
terdampar di ruang yang telah bisu
aku malu ....

HR RoS
Jakarta 13-10- 2016





#monolog
NEGERI DI UJUNG TANDUK
Oleh Romy Sastra


Hitam dan putih menjadi abu-abu
hitam seperti berjubah suci
putih bernoda tersisih bungkam dikotori
kelabu sudah vigur seakan bertopeng dewa
joki terlena di punggung kuda
seperti raja berlari menuju tahta
penonton sibuk bernyanyi di layar kaca.

"Duuhh...,
sipengkhianat menyulut obor bakar sajalah
hartawan senyum-senyum di istana megah
simiskin kian menjerit terjajah setiap hari
statemen beo ego diri
landasan kebenaran bibir sendiri
lidah memang tak bertulang
bercakap seenaknya saja
seperti dewa yang bertuah
padahal homo homini lupus
ironis negeriku di ujung tanduk.

Caos jalan penyelesaian yang dinanti
sebagai jawaban hitam dan putih
berselimut abu-abu
bukan kami meminta negeri ini hancur lebur
mereka yang membuat skenario
dunia ketiga membuat panggung sandiwara
hingga negeri ini parah terpecah belah
kronis sudah oleh maling-maling berdasi
dari akar rumput hingga pucuk tertinggi.

Berguguran daun-daun tua muda
harga diri jatuh ke bawah
masih membela praduga tak bersalah
hingga tubuh negeri keropos
nadinya seakan terhenti bergerak
oleh benalu kekuasaan di setiap peradaban.

Negeri ini telah di ujung tanduk kawan,
menunggu bom waktu bratayuda
tak bisa dielakkan
lebih cepat lebih baik
prajurit sang patriot tampil memimpin
naik tahta membawa panji kejayaan
di sini dan di sana
akan memandu gejolak tak terduga
siap sudah turun gunung berkompetisi
menunggu perang saudara
waspadalah...
bahaya di depan mata anda....

HR RoS
Jakarta, 12102016





MENGEJAR IMPIAN PALSU
Karya Romy Sastra


Jauh terpisah terasa dekat tak teraba
kugenggam bayangan rupa tak berwajah
malu pada diri tertunduk lesu
menghitung hari terasa lama kunanti
melirik impian terdinding fatamorgana
semakin biasnya yang tak ada

"Aahh...,tertawa sendiri
seolah mengolokkan mimpi
yang wajah selintas kisah tak terjamah
aku coba menerangi diri
dengan pelita hati
bangkitkan semangat meraih angan

Pelita hati,
menatap harap sinari obsesi
kucoba menutup luka yang tak berdarah
bernanah sudah oleh sembilu bibir nan tajam
Mencoba menerangi pekat di antara kelam
kelam dari remang-remangnya masa depan
masa depan tertutup berkoloni awan

Dalam duka
aku berguru pada hujan
yang menyirami arang hitam
tuk menghalau kabut terangi jalan hidup
tunggul kayu arang termenung membisu
menanti siklus tunas jamur berpucuklah

Kini,
dengan sisa-sisa kesabaran siang dan malam
aku berharap,
kuncup-kuncup nan enggan tumbuh mekarlah!
izinkan telapak ini menorehkan harapan
demi melanjutkan gita tirani kehidupan
meski jalan itu sulit kulalui
hidup seperti mengejar mimpi
yang seketika bias berlalu pergi ....

HR RoS
Jakarta, 12-10-2015, 08,37





PADAMU TUHAN
Oleh Romy Sastra


Indahnya ciptaan, lestarinya kedamaian
lukisan sang maha tinta
tak ada merupa sama
antara satu dengan lainnya

Sabda alam lembut bak sutera
pada simponi nada-nada biola hati
menyentuh rasa lenakan jiwa
firman-Nya tersurat dan tersirat
dalam lembaran kehidupan
menata cinta saling cinta mencintai
kasih-Nya suci saling sayang menyayangi
tak melukai tak menyakiti harmonis

Padamu Tuhan
kuserahkan segalanya hidup dan matiku
aku rindu serindu serindunya
bakti kasih kupuisikan kasmaran pada kekasih
yang memeluk tubuh ini siang malam
teraba tak tersentuh
terasa tak berwujud
tak berwarna
bening seperti embun menyentuh kaca

Engkau maha nyata tak disadari
pada dungunya pikir tak terpikirkan
ghaib tak diberi jalan menemuiMu

"Oohh...,Tuhan.
Hapuskan duka lara dan air mataku
langkah ini selalu tersesat jalan mencari-Mu
setelah kubuka jendela hati ini
Engkau menyelimuti kematian dan kehidupan
pada-Mu Tuhan hamba mengabdi
dengan gesekan nada tasbih
memuji kesucian-Mu,
sucikan noda di hati hamba ini
dengan ampunan-Mu ya Illahi Rabbi
terimalah rasa cintaku
izinkan hamba bersatu bersama-MU....

HR RoS
Jakarta, 11102016




DUKA PERNIKAHAN
karya Romy Sastra


pesta tak berpenonton
irama syair sumbang

kenduri pernikahan hati tergerus bisu
dalam janji suci yang memandu pilu

pesta itu akhirnya usai
panggung pengantin berubah sedih

air mata kasih menitis tak terbendung
dengan hadirnya sang mantan kekasih

menyaksikan ijab kabul di depan penghulu
dalam ikrar iringi tangis
yang mengharukan....

sang pengantin akhirnya pingsan
memilih di antara dua hati yang menghampiri

penghulu memandu nikah jadi terharu
berjabat tangan satu persatu
sedih sudah dalam ikrar noktah
pada cinta segitiga berbuah malu

HR RoS
****DRAMAKENDURIDUAHATI####





LAMBAIAN TANGAN MISTERI
karya Romy Sastra

Menatap bayangan diri
sekelabat sunyi menampakkan misteri
dari seberang hati
dihamparan riak telaga biru

Ranting-ranting pinus berbisik
kembang kering berjatuhan
hembusan bayu lenakan rindu
kulirik dari semak belukar
ternyata bukan dikau yang hadir

Telaga sunyi,
menyiratkan mimpi tak berarti
diam menilik ilusi kekasih
kususuri bibir telaga lebih dekat lagi
aku melambaikan tangan, ternyata ...
aku berucap,
ya ampun.

Mataku terbelalak ngeri
yang berdiri itu ternyata peri cantik
rambut terurai kusut
alamaak, aku menjerit
bayangan itu bukan kekasih hati.

Tertanya gugup di suasana sunyi
akankah aku sudah paranoid
berilusi sunyi di telaga sepi
menatap rindu sunyi telah berlalu

Ah,
kuusap mata ini
terbangun dari tidur sesaat
ternyata aku hanya bermimpi

"Mmmm...,
wajahku layu terkulai lusuh
rasa malu diri dengan realiti hati
kucoba berkaca diri
ternyata wajahku lebih seram lagi

Aku sedih sudah
malu dari opera mimpi kekasih
kabur dari kisah adalah jalan
menyelesaikan masalah
tak melukai kenyataan yang ada....

HR RoS
Jakarta,10102016





''"GITA HARI,,,,
oleh Romy Sastra


Indahnya mentari pagi
menambah kemesraan di hati
pucuk bertunas siklus berganti
mekarlah kau bunga
jangan layu jadi kembang misteri

"Ooh, Mentari...?"
selalulah terangi cuaca setiap hari
biar yang kucari menampakan diri.

"Mendung...hadirlah di malam bisu
biar tak kulihat kedukaan di wajah rindu
malam lusa, purnamakan lamunanku
pada goresan malam menitip kasih
Izinkan kusambut kemesraan
dalam diksi di taman maya ini
berlalulah kabut ego menutup gita setia
izinkan embun pagi ini menyiram api
di belantara hati yang berunggun bara,
padamlah!!!
kusapa dikau semua, i love you...
i miss you....

HR RoS
Jakarta,10102015




BIAS-BIAS YANG TERSISA
Karya Romy Sastra

bodohnya aku
yang tak memahami bisu
makna rupa tak lagi mampu kuterka

menatap ke dada langit
jauhnya nirwana cinta
melukis di kertas basah tak bertinta
seni cerita akan menjadi bias
cerita cinta jadi bualan belaka
melaju seperti angin lalu
hilang bersama debu-debu
kuketuk dinding telinga
mendengarkan bisikan jiwa
jiwa telah paranoid
memilah-milah bahasa rasa
lamunan telah berpayah mendaki fikir
berjalan eja dicabaran hati
menghalau onak duri
membebaskan belenggu dungu

"aahh, kenapa kesetiaan itu
tak lagi bermakna rindu
rindu terkurung duka
lelah mati suri ke dalam mimpi
mencari jawaban misteri
selimut malam bermain asmara
bersama sisa-sisa cinta yang kupunya
walau kaki berdiri lunglai
berjalan sudah gontai
kenapa perjalanan ini tak jua usai
oh, nasib badan
aku yang biasa tegar
kini terjatuh tak berbaju malu
terhina dari susunan kata
seakan tak bermaruah
berserakkan tak lagi bermakna

pasrah bertelanjang dada
mati rasa terkubur ke pusara impian
sunyi ke belantara diri

meski mindaku buruk rupa
setia yang kupunya tak pernah sirna
dari sisa-sisa cinta di pusara kenangan
masih kuabadikan selalu
walau berakhir hidup ke ujung nyawa
ikrarku tetap seperti yang dulu
dengan bias-bias yang tersisa
mencintaimu sampai mati
hingga kain mori saksi perpisahan
antara kau dan aku di dunia ini

menyulam optimis di antara pesimis
realita ataukah fatalis ....

HR RoS
Jakarta, 19-10-2015. 18,15





KAUM YANG TAK DIAKUI
Karya Romy Sastra


Ronghiya
engkau juga manusia
bukan hamba yang nista
hewan saja masih disayangi
kenapa dikau selalu disakiti
ditindas, dibunuh, dibakar hidup-hidup
wanitamu diperkosa secara keji
anak-anakmu diculik dibuang tak berprikemanusiaan.

Para penindas tak memiliki welas asih
kau tau, negeri kami berbeda kepercayaan
beribu suku, beribu-ribu bahasa
kami hidup harmonis dengan demokrasi
tak ingin saling menyakiti.

Ronghiya
dibalik derita ada kejayaan
apakah Tuhan mempersiapkan generasimu dengan pembaharuan
belajarlah dengan sejarah
berbimbing tanganlah dengan pemerintah
satu payung berlindung bersama
satu rumah bersosialisasi antar rasa
dalam bingkai kekeluargaan bersahaja

jangan jadikan ego diri membakar persatuan
di Myanmar sana.

Bersatulah wahai umat manusia
di negara yang dulu Burma
dalam panji Budha dan risalah Islam
Islam rahmatan lil alamin
yang berjubah wibawa janganlah dikotori
sesungguhnya kalian bersaudara.

"Wahai ... yang berjubah wali, tak bersorban.

Sanghiyang Adi Budha
memancarkan sinarnya
mencipta Dhiyani Budhis.

Vairochana, sumber cahaya
Amitabha, cahaya tanpa batas
Aksobya, sumber ketenangan
Ratna Sambhawa, permata alam semesta
Amoasidhi, yang tak mengenal kegelapan.

Di mana ajaran suci itu dipusarakan
semestinya dikau penebar kedamaian
berkaca rasa dengan aksara Budha
jangan mau negaramu dihinggapi benalu
hingga hak-hak azasi tak lagi dikenali.

Ironisnya, dunia bungkam
PBB jadi banci, seakan tak berperan
buat apa lembaga itu
tak mengirimkan perdamaian
di mana kedamaian Ronghiya itu kini?
Seakan islam dikotomi
padahal politikmu homo homini lupus
hidup ini homo homini socius
saling membutuhkan berdampingan.
Satu suku di dunia akan dilenyapkan
dari tumpah darah sendiri
kau kaum yang tak diakui
dari para bedebah dalam suatu Bangsa ....

HR RoS
Jakarta, 19102016




#sajaklara
HATI YANG TELAH DINGIN
Karya Romy Sastra


bayu menghembus rindu
selimut malam berjelaga kelam
hawa dingin kian membisu
dingin semakin dingin menusuk tulangku

malam tak berpurnama
taman hati sepi tak berbintang
aku raba embun di dada cinta
bias tak terasa
hampa

rintik gerimis malam
menitis kristal bening
rinaikan hujan membasuh luka
yang tergores dari sembilu maya

sang lelap masih bermain mimpi
aku baru saja memulai kisah
menanam kembang teratai indah
di pelataran telaga hati
teratai tak berbunga gamang dan sedih

teratai putih berurat tak berakar
kembang cantik penghias telaga
suburnya berorganik alami
sayang dipetik harus bermandi luka

pagiku berselimut kabut
bertongkat tinta
menulis sastra
Bermadah-madah syair cinta
membalut luka yang tak berdarah

uuuuhhhhh luka
sembuhlah kau luka
yang tak berdarah ini
terluka tak bermakna sakit diam saja

hati yang telah dingin
tak mampu menatap canda
meraih impian
akankah kisah ini
berakhir di lintasan maya
menutup jalan jadi temaram

"aahh ... entahlah ....

biarlah sebak menghias lara
aku masih di sini
SETIA
sampai pertemuan mimpi
menyambut kasih ke dunia nyata

sipunggung yang bermimpi rembulan
mendekap hayal ke peraduan rindu
yang selalu menyendiri pilu
menyulam waktu dalam kelam nan bisu

air mata bocah ini menjadi saksi
saya rindu awak
awak kat mana ini ....

HR RoS
Jakarta 19-10-2015, 10,07




YA, SUATU KETIKA
Oleh Romy Sastra


ketika
tinta
tak
lagi
berwarna

goresan
kutulis
dengan
rasa

lentera
padam
di
tangan

meski
aksaranya
tak
merupa

ia
lebih
indah
aku
maknakan
dalam
diam

tinta
sunyi
dengan
napas

pergi
bersama
misteri
menuju
kematian

tubuh
lebur
jadi
debu

nama
karya
adalah
sejarah
tertinggal
di
dunia

menjadi
pelanjut
tirani
sesudahnya ....

HR RoS
Jakarta, 18102016





anekdot
KUCING MENATAP SESUAP NASI
Karya Romy Sastra


Menguap dengan langkah terhuyung
kucoba membuka jendela rumah
cuaca pagi mendung di luar sana
bermenung di beranda pintu
bersama kucing-kucing itu
beradu pandang
sama-sama dungu.

Meong,
sapa kucing.

Keong,
jawabku.

Kucing kesayanganku malu
seakan aku melecehkan sapa manjanya.

Hehemm,
dia membuang muka
melirik tupai berlari di atas pohon kelapa.

Meooonggg,
sahut kucing lagi.

Bengong,
jawabku.

Kucing-kucing itu menatapku kembali, sambil tersenyum,
seakan dia membisikan sesuatu
dengan bahasa yang tak kutahu.

Aku tersenyum kecil,
bahasa isyaratnya yang kutangkap.
"Ia menyapa ...
jom sarapan pagi dooonk?!"
aku nanti di bagi ya."

Aku ambil sebatang rokok kunyalakan
sikucing sedih, air matanya menitis
tak lagi meong-meong.

Kucing itu berlalu dari beranda rumah
tinggalkanku
pergi entah kemana
dalam dialog pagi itu, ia merasa kecewa.

"Aku bertanya pada asap yang mengebul,
haii, asap yang menggulung?
hadirmu bias yang berlalu ke alam bisu
nikmatmu tak kudapat
melainkan rasa batuk yang membuatku dadaku sesak.

Asap berseloroh,
bodo amat,
emang gue fikirin.
Tubuhku kau bakar
kau hisap maduku
kau kulum nikmat itu
lenakan dirimu
asapku berlalu entah kemana
hingga di caci sebagai polusi udara
puntungnya kau buang begitu saja.

'Aahhh ... aku semakin bingung,
dengan semua ini.

Kucing yang berlalu sedari pagi
meninggalkanku
tupai pun mengintai di dedahanan
melirik mencibir lamunanku
bahwa kedunguanku semakin bertambah
asap pun menghinaku pagi itu.

Aku sadari sudah,
pagiku belum sarapan tak ada yang kumakan
si meong manis
sebagai kawan tidur
yang biasa temani malam-malamku
kecewa sedih lapar merintih.

Tupai riang membuncah memekik pagi
dari sisa mendung semalam
yang dia bebas mencuri putik pohon
meloncat kesana kemari.

Asap rokokku membisu
kehadirannya hampa berlalu hilang kepada tiada.

Aku dan simeong beradu malu
bersalaman mengosokkan punggung
ke bahuku,
mengucapkan i miss you tuanku,
aku tak bisa jauh darimu.

Sentuhlah aku,
kan kutatap wajah sendumu
kusapa dikau dengan lembutnya suara meongku
usaplah halusnya tubuhku
aku yang setia ingin diraba selalu.

Celoteh kemiskinan
seakan derita hari tak akan berlalu pergi
nasib ini,
sudah bergantung oleh pelaku-pelaku
situkang kibul yang berdasi itu ....

HR RoS
Jakarta 18-10-2015, 08,43




Jeritan perih rakyat merintih
Oleh Romy Sastra


kursi empuk di gedung megah
duduk gagah bersafari mewah
setengah kerja memburu harta
berkuasa dari bimbingan jelata

safari mewahmu dulu
diarak bak arjuna ke medan laga
menitip janji untuk kemakmuran bangsa

waktu berlalu
musim berganti
telah melangkah demi tugas itu
bertugas kamuflase saja
berbisnis memupuk uang saku

jelatamu kini
duduk termangu seperti dungu
tak berdaya
kebutuhan harga dikebiri
dari permainan birokrasi
ketika huru-hara terjadi
beralasan inflasi

birokrasi yang mengada-ada
saling menuduh tumpang tindih
culas membuka celah korupsi
memperkaya diri dari pungli

borjou borjou itu
berpenampilan mewah
seakan dunia miliknya
merasa tak tersentuh hukum
bebas memakai hukum rimba

jelita
masihkah kau dengar terompet orasi
suara-suara vokal membangun negeri
nyatanya kini kerja mereka terbengkalai
rakyat korban merintih kelaparan
oleh intrik penguasa
yang lupa akan janji-janji manis

amanah suci anak negeri terlantar
cabaran nurani tergadai tak dihiraukan
sibuk membesarkan partai

uuhh intrik
di mana tanggung jawabmu kini
kau yang bersafari
seperti lupa janji

lihatlah lorong-lorong negeri ini
rakyat menjerit

orasimu dulu hina
kau kata ekonomi terkini
terjajah inflasi dunia
"ternyata... ternyata, kau'' (.............)
bangsat

HR Ros
Jakarta 18-10-2015, 17,19




AKU BUKANLAH HIPOKRIT CINTA
Karya Romy Sastra


Kasih tersisih sedih
antara benci dan rindu
terpisah jarak mendekam pilu
kuntum-kuntum bunga mawar berguguran
mendiami taman layu sudah.

"Oh ... kembang lara, telah kuncup,
tak lagi berhias kasih"
kecewa rasa tersakiti menyisakan duri
kau pergi tinggal kenangan pahit
memupuk suburkan patah hati
yang tak pernah mau mengerti tentangku.
Setelah kau pergi,
aku terkurung di labuhan sepi
menatap bayangan diri
sedih menghela di ujung napas
ironi,
perpisahan kasih meretas ke ujung tanduk.

Kembang cantik teratai putih
tumbuh indah di telaga senja
ketika kasih tak lagi berputik
akankah berlalunya kisah kasih
menjadi bias-bias cinta di taman hati.

Bila kembang kantil
tak lagi beraroma wangi
gugur daunnya menyisakan ranting
kering biarlah kering
kusenyapkan diri ke dalam mimpi
relakanlah aku berkawan sepi
mengisi sisa-sisa hidup ini.

Mmm,
kasih tertatih perih
maruah tertuduh hipokrit cinta
padahal, budi pekertiku tidak mencipta pesona gombal
melainkan penghibur lara pada bunga-bunga kuncup sebagai kesetiakawanan saja
dalam tuntunan relief religi hati
sebuah makna nilai ibadah
potret jati diri yang kupunya.

Uuhhh,
aku tak sehina yang di duga
dan tak semudah yang di kira.

Aku menitipkan diksi kecewa
pada suatu hati
kuucapkan sekali lagi
aku masih di sini
mencintaimu kekasih ....
HR RoS
Jakarta, 17-10-2015, 17,08





Prosais Persimpangan Dua Hati
Karya Romy Sastra


"Jalan ini ...
persimpangan dua hati."
melangkah,
sama-sama memegang tongkat ego diri
dipendakian mihrab cinta
yang selalu tertatih
menuai kebahagian yang didambakan.

"Aahh ... akankah noktah cinta ini, kandas bersama mimpi?"
entahlah ....

Cabaran cinta melukis minda
jiwa terpasung semakin terluka
titah setia tak lagi dimaknai
sampai kini aku tak mengerti kesalahan diri
kenapa emosi semakin mendominasi.

Bercermin diri di kaca retak
wajah ini nampak buruk berserak
bersolek rupa dengan senyum mesra
tak lagi membingkai indah
selera makan tak lagi terasa nikmat
semua serasa menyakitkan
ego diri sama-sama dipertontonkan
malu tak lagi mampu disembunyikan.

Tangis berurai sebak di dada.
"Akankah ... sejarah kisah ini?"
kan menjadi sampah yang tak bermakna?!"
"Uuhhhh ... luka."

"Bertanya pada mimpi?
jawaban nebula selalu meluruh resah.
Terjaga lelap di malam buta
masihkah warna hatimu berpelangi?

Berharap kala senja tiba,
ingin menuai rasa pada indahnya kedamaian
kenapa setiap mentari menepi,
menelan hari?
tak pernah lagi nada seruling rindu
menyanyikan irama asmara.

Embun yang dinanti
ketika senja kering sudah
bunga nan biasa mekar diambang sore,
selalu layu tiba-tiba
kumbang pun tergerus badai membara.

Akankah asa cinta yang dipandu dulu
lara bak telur di ujung tanduk
jatuh berkeping-keping
sebak di hati, telah mengiris luka yang tak berdarah
aku lelah mengais impian realita
kau biarkan cinta layu bersama janji
rela tercabik, demi keputusan yang terbaik.

Biarlah noktah cinta itu ternoda
memohon pertikaian selesai sudah
sekiranya ego tak mau mengalah
ya, persimpangan dua hati
adalah jalan berpisah sama-sama kita pilih.

"Kasih ...?
Bergurulah kepada semut merah,
yang beriring jalan.
Yang dia bijaksana bergandeng tangan
se-iya sekata dalam suka maupun duka
beban asa dipikulnya bersama.

"Uuhhhh ... asmara?" untuk apa bersatu."
Bila satu atap tak serumah
berlain rasa,
berpayung berdua kehujanan
berlain hati,

Dalam cabaran malam yang kian kelam
malam tak lagi berpurnama indah
rasa yang semakin lirih tak lagi dimaknakan
kasih bak peluh asin kan termuntahkan
bianglala di ufuk senja kian memudar
mengertilah dikau kekasih....

Akankah aku hidup di jalan yang buntu?
bias bersama mimpi-mimpi
tak mampu kumemiliki bara cinta
yang membakar jiwa
ego yang tak pernah padam
kau dan aku terkisah seperti dunia perang bratayuda saja ....

HR RoS
Jakarta, 16-10-2015, 01,18





Aku Masih Bersama Bayanganmu
by Romy Sastra


aku masih di sini mengenang mimpi
menulis catatan memori
menyulam bayanganmu dalam tidurku

sampai saat ini
mimpiku belum usai
aku masih bermain asmara bersama tinta
wanginya kembang indah
berdampingan dalam rindu
sayangnya tak terpisah dalam egomu
hingga kembangmu layu

kadang aku bertanya pada Tuhan
pantaskah aku Tuhan
mengukir mahligai indah bersama senja
hanya Engkaulah penentu takdir
antara kisah hidup dan misteri

jika jalan itu masih bisa kulalui
singkirkan jalan berduri
yang selalu menusuk langkah ini

jika aku masih ada di hatimu
genggam eratlah
pelita yang masih menyala di setiap puisiku
cindera mata yang pernah saling terhantar
jadilah perekat nada-nada rindu
dikala sepi menyapa rasa itu

aku selalu memandang mesra
kenangan bersamamu
meski hanya sebuah kenangan
dan kujadikan sebagai saksi sejarah dalam ibadahku

jika gita cinta itu masih bersemi
walau ia-nya bisu
aku kan tetap meniti jalan setia untukmu
suatu saat nanti
sehingga takdir mempertemukan kita kembali

HR RoS
Jakarta, 21-10-2015, 06, 14





Juwita Malam Pulang Malam
karya Romy Sastra


Dongeng malam bersama kelam
dendangkan kidung rindu
bak sipungguk merindukan bulan
jauh mengintip di balik awan.

Juwita,
kau bersolek di pelataran pesta mewah
iringi lampu disk erotis
nada-nada indah lagu pembuka gairah
bangkitkan birahi sipatah hati
dengan alunan musik biola merdu
sang maniak malam mendekap kasih
indah bak di taman syurgawi.

Juwita,
kau membangkitkan lamunan hasrat mimpi
menyihir kembang memadu rindu
Juwita berbusana payet tanktop
melirik goda nafsu si hidung belang
memandu ke bilik rahasia berkasih sayang.

Langkah Juwita tertatih
dengan segelas whisky
membangkitkan semangat di bilik rahasia
di kelambu mewah.

Juwita menatap mesra
membawah arjuna melambung tinggi
ke nirwana cinta.

Juwita cinta sang penghibur malam
pulang malam,
terdampar ke dalam cinta satu malam.

HR RoS
Jakarta night club, 20-10-2015, 20,23





#Syairlara
Adakah pintu maaf bagiku
by Romy Sastra


"Duh ... masih pantaskah aku merindu?"
luka yang kutorehkan begitu dalam
berulam tikam.
Rindu yang kuhidangkan seperti bercampur debu
senyuman yang kuhantarkan
telah hambar tak lagi dimaknakan
pelangi cinta yang dititipkan pudar warna

"Kini, kesunyian menyapa rindu
bahagia telah tertutup kabut
wajah nan dulu manis tergurat sendu.

Kata-kata perpisahan itu
seringkali bergulir dari bibirmu
dari titik kesalahan yang tak kutahu
"Aahh ... lelah sudah menatap rindu,
secercah senyum mesra di balik layar kaca
tak lagi bisa kutatap rona bahagia
bahkan senyap sudah menutup gita.

Kebahagian dulu indah telah pergi
berlalu membawa luka tak berdarah.

Lepas sudah genggaman jemari ini
kau titipkan aku di jalan berbatu
gersang sepi bisu kumalu
genggaman yang dulu mesra
kini bersimbah air mata sakitnya luka kekasih.

"Oohh ... kasih, maafkanlah aku sekali lagi."
mencoba belajar sabar dan sadar
menghalau yang tak biasa
dari minda yang berbuat lara
semoga maaf itu kau beri.

Kemana sosok yang dulu menginspirasiku
mengisi kedewasaanku
tak lagi kutemui
dikau sungguh berarti
meski belum pernah kutemui.

Dalam syair ini,
setidaknya kau mengertilah
goresan luka lara
meski secercah senyum senja akan pergi
bias menutup jagad menyelimuti malam
tengelam dalam angan yang tak berkawan.

Menyapa dikau dalam sebak
masih adakah pintu maaf itu kau beri.?

HR RoS
Jakarta, 22-10-2015, 15,07





BIBIT PENCINTA NAN AGUNG
Karya Romy Sastra


"Azali cinta,
berjubah kasih mencurah rindu
pada kasta jiwa mengenal budi
antara terhijab dan nyata tetap mendapatkan tempat berpayung rasa
kala hujan basah andai kehausan
panas bergelora kekeringan
rumput-rumput bergoyang
lambaikan kedamaian
tertitip bayu merona syahdu
sempurnanya ciptaan Tuhanku.

Para pencinta nan agung
sampai saat ini masih memuji bertasbih
semenjak sabda tercipta
sedetik pun tak alpa.

Tuhan ciptakan surga nan indah
fitrah maha kekasih 'tuk sang khalifah
anai-anai melubangi urat nadi
menyemai syahwat membuai tangkai
sepoi diayun bayu kebiri
merayu menggoda rasa hina
pucuk-pucuk melambai tebarkan gairah
terpesona sudah dengan payet indah
membuai asmara kasih
asyik memadu rindu
bak kumbang mengisap madu kembang
tak sadarkan diri,
terkutuk sudah dari Illahi
menjerit menyesali tercampak ke mayapada
lara hiba menghunus pedang doa
berlari di malam buta antara safa dan marwa
mengetuk pintu arasy sang Maha bermain dalang.

Doa dipanjatkan,
rabbanaa zolamnaa amfusanaa wailam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunanna minal koosirin.

"Duhai ... cinta,
di manakah kini kau berada?"
kembalilah mengisi sepiku
tandus haus lara lelah mencarimu.

Dikau Tuhan, yang kudambakan,
nan bersemayam dalam angan kedunguanku
bodohnya lena tergerus goda hina

Engkau mencipta nyata
tak terpikirkan Engkau ada di hatiku
kenapa iman diri ini kulengahkan.

Sabda sang utusan uluk salam
kala fajar berseru"
wahai jiwa nan lara, sujudkan ragamu menyapa tanah tandus nan suci cikal bakal terdirinya jasad itu.

Rengkuhlah doa debu-debu malam
bertayamum suci menyapu bulir yang menitis
buang jauh-jauh nebula rayu
dekaplah lafaz-lafaz hiba
biar tercurah kasih sayang-Nya.

Allahu akbar,
salam terucapkan kanan dan kiri
salamun kaulam mirrabirrahim
terbentang kembali keindahan semu
sang kekasih menyapa di antara fajar
kan berlalu pergi berganti pelita dunia.

Sang bibit dunia pencinta nan agung
berbahagia berkasih mesra serasa tak ingin berpisah lagi 'tuk selamanya.

HR RoS
Jakarta, 22102016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar