RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 01 November 2016

Kumpulan Puisi HR RoS - SANG PEDANG MALAM


SANG PEDANG MALAM
Karya Romy Sastra


Al fatih sang penakluk
derap langkah kudanya di medan tempur
terdengar rasulullah sebelum dia ada
pemuda nan gagah strategi perang
dengan sebilah pedang tauhid
di ujung-ujung malam bertahajud

Mehmed sang pembebas Konstantinopel
imperium Byzantium
sebaik-baiknya panglima di medan laga
Ia adalah sang suhud dengan jihad
mengekang kemewahan nafsu dunia
tak sekalipun alpa meninggalkan ibadah
tak sekalipun lalai mengasah cinta
dari pedang malam dengan doa
kepada maha raja penguasa semesta

Al fatih, dimana engkau kini
umat rindu kelahiran Al fatih berikutnya
sebagai sosok pembebas
pembawa kedamaian umat di dunia
Al-mahdi raja yang adil
Al-masih panglima yang dinanti
menumpas dajjal-dajjal yang bertahta di jalanan ....
HR RoS
Jakarta , 26102016





HIMNE RINDU
Oleh Romy Sastra


desah desau zikir mengalun syahdu
rentak napas membuncah kalbu
bibir diam perigi merindu
jatuh kecupan ke telaga kasih
yang di rindu serasa jauh
mencari maha kekasih yang bersemayam
tenggelam dalam hayalan
sesungguhnya Ia ada bersama diri

seperti kepiluan Adam mencari Hawa
terpisah karena dosa
siang malam merintih dan berdoa
di mana engkau kini
lara sudah jiwa ini berkawan sepi
bertahun-tahun mencarimu
namun dikau tak jua kutemui
aku rindu serindu-rindunya wahai kekasih

telah kulafaz doa berjuta kali
tak mengenal siang dan malam
pendakian kian tinggi
perjalanan semakin tandus
haus sudah rasa ini akan rindu
anggur yang kau tuang dulu memabukkanku
sampai kini aku dahaga rasa cinta
surga mengutukku alam pun bisu

berlari tak terpijak bumi
mendaki pendakian tak bergurun
menurun ke jurang terjal tak ada jalan
semua arah datar
yang dicari telah diberi
sayangnya diri tak menyadari
mahanya pemberian Illahi
dalam hidup ini

HR RoS
Jakarta 25102016





#Puisi
ABU-ABU NEGERIKU
Karya Romy Sastra


kabut bersama pelita
hanya terangi bilik saja
tak menerangi mayapada
di desa, lumbung sumber daya alam
telah teruk tak ada harga
nyaris mereka bunuh diri
mati bersama se-isi kebunnya

kabut bersama mentari
terik tertutup gedung tinggi
di tengah perkotaan
para penghuni, borjou bersuka cita
masa bodo derita di sana

abu-abu negeriku
para pemimpin berlomba pencitraan
di sisi lain korupsi kian merajalela
genderang perang di tabuh
lawan penistaan bangsa
ironis, aset bangsa di jual murah

dulu anak desa
hidup dengan getah karet dan sawit
kini anak desa
hidup dengan derita kian menjerit
berteriak, ooooiiiii ....
kapan harga karet dinaikkan
sudah tulikah di sana?
sedangkan ban sepeda harganya melangit

bedebah, abu-abu negeriku
jeritan rakyatnya,
bak lolongan serigala di malam buta
jangan salahkan penghuni rimba merajalela di jalanan suatu masa

abu-abu negeriku
mana manusia setengah dewa itu
yang mampu merubah nasib rakyatnya
dengan kesaktian janji manis

"aahh lelah .... figur seribu janji,
negeri ini kaya
di mangsa maling-maling berdasi ....

HR RoS
Jakarta, 24102016






#prosa
DI SURAU TUA LENTERA BERMULA
Karya Romy Sastra


Jantung negeri dalam lentera zaman
gubuk tua di seberang sungai di kaki bukit nan permai
indang-indang tari indang
berdendang sianak malang.

Terlahir ke dunia, tak berbaju dungu, dititah bunda berjalan segera berlari mengejar pesona dunia. Sayangnya tak bertongkat, tak berpedoman. Kala remaja mencari pencerahan iman di surau tua, peninggalan leluhur adat dari tuanku imam dan katik ranah bunda, semoga menjadi pencetak pemikir bangsa kepada regenerasi bangsa selanjutnya.
Di sini, di surau ini bibit-bibit bermunculan
bekal penerang jalan ke negeri seribu taman
ya, dunia kehidupan.
Menuju alam sejuta taman
ya, surgawi alam keabadian.

"Wahai ... sahabatku yang pertama, Iman"
dikau berpeganglah ke pundak tubuhku, jagalah goda dan rayu yang akan menghempaskan rasa malu
mari bersama memandu bahtera hidup menuju belantara diri
berjalan lebih hati-hati di dunia ini.
Aku tak sanggup siksa derita suatu ketika nanti, roh dan jasad berpisah pergi menuju asal muasalnya kembali. Ahhh, Iman diri" semoga kau tak meninggalkanku sekedip mata,
sehela tarikan napas keluar masuk
memandu rahasia rasa dan jangan lengah sejengkal tanah, serasa tiba-tiba menyesatkanku ke lembah nista.

"Wahai ... sahabatku yang kedua, Tauhid"
bawalah daku pada kasta-kasta Iman di tingkat makam.
Ajari langkah hati ini, meniti jembatan keyakinan dalam pedoman hakiki.

"Tauhid ...., sahabat religiku?"
di mana letak pusara anbiya berada?
di mana letak makam waliyullah bersinggasana?
di mana laju keluar masuk rasul
menitip firman Tuhan pada kesadaran hidup yang jujur tak berkamuflase kepura-puraan sang utusan antara hak dan bathil berkompetisi di setiap helaan napas.

Iman dan Tauhid sahabat religi
memandu hak mengawasi bathil
mengintai di dalam diri sehari-hari.

****
Ya, di surau tua lentera bermula.
Dunia ini sudah tua kawan,
jangan berleha-leha dengan dunia ini.
Sabda dalil, akhir zaman ini" manusia akan terkotak-kotak dalam kelompok kultusan kebenaran masing-masing, itu terbukti titah sabda Nabi, umat yang merasa punya panji kenabian merasa benar sendiri.
Ironis, bak air yang mengalir dari hulu menuju hilir sampai ke muara, merasa suci.
Padahal terkontaminasi sudah dengan kepentingan dunia.
Seribu satu lebih kelompok panji-panji berdiri para pencari kebenaran di akhir zaman, berhati-hatilah wahai kau sahabat religiku Iman dan Tauhid mengiringi roh dan jasad ini bernapas terhenti di muara kehidupan.

Bawalah daku kembali ke hulu
ya, sahabatku?!"
Di mana awalnya ke-imanan mengalir.
Ia dari lentera surau tua bermula
dalam asuhan kearifan budi, lestari dari negeri-negeri yang beradab, surau-surau peninggalan yang hampir lapuk di makan zaman.
Di sana kedamaian terlengahkan, ia sunyi terpusarakan pada kitab lusuh bersama dongeng-dongeng seribu satu malam oleh tuan kaji
di negeri yang telah terlupakan
oleh candu-candu seremonial dunia.

Surau tua itu sudah rapuh
bangun kembali fisik dan ajaran tuan kaji, biar peradaban dan akidah tak lekang dengan panas tak lapuk bersama hujan.

Semoga umur dunia ini kian panjang
dengan alunan firman dan adzan
berkumandang di setiap waktu
di jantung negeri para regenerasi itu ....

HR RoS
Jakarta, 23102016






SEPERTI BISU BERMIMPI
By Romy Sastra


lamunan diri dibisikan tutur bisu
dengan aksara yang tak meng-eja
berbisik seperti dalam mimpi
melekat tutur ke daun telinga
tak jua tahu makna rasa

mengartikan sendiri dengan teliti
semakin tak mengerti yang di-eja
makna aksara bisu terpana dungu
kerdip kening semakin tak menentu

berlalu tinggalkan sepi
mengayuh biduk jauh melaju
menuju samudera biru
bercerita bersama ombak
dinyanyikan sejuta bahasa riak
tak terasa pendayung patah
telah rapuh digilas waktu
kemana arah kan dituju, bingung sudah

pasrah pada takdir
berharap pelayaran kembali ke darat
akhirnya takdir menentukan keselamatan
sesampai di tepian
telah kembali ke pantai
jejaki pasir mengitari bibir pantai
gemulai langkah bercampur aduk
dengan galian ambai-ambai
jejak langkah tergerus riak malangnya nasib tak terurai

"Aahh ... berharap,
jejak kaki kokoh melukis tarian diri
berkicaunya sriti dan camar menari bernyanyi menghalau sepi
tak jua mampu mengusir sedih

"uuuhhh ...
ombak pantai kian melabuh gemuruh
jiwa yang telah resah semakin rusuh
berteriak sejadi-jadinya
sang kicauan akhirnya terbang menjauh
berlalu jauh dan jauuuhh
ke pulau yang tak berpenunggu

menggenggam setitik riak laut
kukecup
berharap dahagaku lebur
asin itu terasa madu

mencoba menanam bunga di jambangan
disiram rintik gerimis malam
pagi kulirik
bunga di jambangan hati
layu sebelum berkembang

"aahhh ... bunga di taman hati
tanah tandus gersang bermain hari
berguru kepada tegarnya ilalang
hidup di bumi kering terbakar api
ilalang tak tersiram embun
tetap siklus tunas muda berpucuk silih berganti

aku sang pemerhati mimpi
mencoba menterjemahkan arti
akankah mawar beduri
mampu mengikrar noktah
berkawan merpati merengkuh janji
pada larik puisi ini mengetuk rasa cinta
pada sesiapa yang merasa tak bisu ....

HR RoS
Jakarta, 23-10-2015, 09,02






☆☆
___ NUSANTARA
BERISTANA HANTU ___☆☆
Karya: Romy Sastra


"Kemaren bumi cerah,
tiba-tiba berwajah murung
suram,
sang surya seakan malu
menampakkan terik di tanah ini
menyinari alam mayapada
nusantara berkabut di dinding hari
berkoloni misteri, seakan kiamat hampir tiba.

"Kabut ... kau kini napasku,
kau ajarkan ilalang melihat mentari
pada wajah resah gelapannya pertiwi
apakah kiasan itu?
pertanda makna yang tersirat
mata hati insani telah buta,
memandang cahaya Illahi,
pada gelapnya kearifan budi
yang menghias religi dan nurani.

"Uuhh ... entahlah, aku juga tertanya?"
Yang jelas kini,
nusantara tertutup kabut
dari bisnis yang serakah,
di negeri khatulistiwa.

Kutengadahkan tatapan ke ruang angkasa
di sini,
ladang sawah kami terhampar
jauh mata memandang
melirik ke dinding bukit
melayang pandang ke samudera biru
gelap sudah.

Di sana,
perkantoran menjulang tinggi
asri dan mewah wajah metropolitan.

Birokrasi di meja penguasa tumpang tindih bersama pengusaha
saling tuduh menuduh siapa? mengapa hutan pertiwi terbakar?
semuanya pengkhianat bungkam tertutup oleh penjilat ....

"RUANG ITU TELAH GELAP"

Potret khatulistiwa
bak peninggalan negeri Inca tak berpenghuni
nusantara berkabut misteri
seperti beristana hantu di setiap hari.

Nusantara ini kaya
tapi penghuninya lara ozon parah berkabut
di cipta oleh tangan-tangan serakah.

Kekuasaan di beli,
segelintir oknum dan perwira
seperti bermain petak umpet
bangsat sialan persetan,
sumpah serapah anak bangsa
dan negeri sebelah
tak lagi di dengar oleh pengusaha.

"Di sini ..., ditanah ini.
Mereka merintih santun,
aku ini lara!"
tak jua di dengar oleh para penguasa yang bertopeng Dewa
seperti terlelap sudah di istana Alenka.

Wahai para punggawa bangsa
kau berserakkan di mana-mana
perisai pertiwi dari Sabang sampai Merauke
bangkitlah!!"

"Uuuuuuuhhhhhhh ....
Ketika pesta seremonial
berbaris sesaat
komando sigap
punggawa loreng di lepas
dari barak berkendaraan tank baja berpuluh ribu di keramaian kota.

Bila nasib nusantara berpesta derita
terjajah oleh keserakahan segelintir pengusaha
sipunggawa loreng bersembunyi dimana??"

Wacana intrik komando bela negara
santer di dengungkan
mau di bawa kemana potensi intrik itu?
lihat di depanmata,
musuh nyata telah menyesakan dada
tak kau gubris.

"Hai loreng ..."
kau perisai negeri,
ketika ibu pertiwi terbakar
air mata anak bangsa menitis
kau seakan buta dan tuli
hanya di lepas seratus lebih saja
beralasan tunggu komando dari raja.

Mmmm ....
para ahli peneliti belajar sebagai eksperimen
tak jua menuntun jalan terangi kegelapan
hanya solusi ke-ilmuan basa-basi saja.

"Di mana tanggung jawabmu kini?
Wahai ... (......)
Yang duduk di kursi empuk
di dalam istana-istana megah
kinerjamu, seakan menatap bisu
ke dinding putih
terpukau indahnya lentera mewah
tak sadar diri,
figura potret wayang itu
mengintip mencibir yang berdasi
nan duduk santun telah dungu
seakan tak bermaruah.

Mana janjimu tuan?
amanah di pundakmu tak dilaksanakan"
janji kemakmuran dalam orasi pemilu
dulu kau dengung-dengungkan
mmmmm,
kini jabatan itu telah kau sandang
kinerja seakan berwibawa pontang-panting
bergeleriya hanya intrik sesaat saja.

Olalaaa ....

Aku cerobong tinta dalam seni
penyambung lidah derita rakyatnya.

Berorasi,
mengetuk nurani yang telah dungu
bangkitlah kau putra-putri pertiwi
yang berkompetisi dengan ikrar nurani
jerat saja para bedebah negeri ini ....

HR RoS
Jakarta, 23-10-2015, 15, 02





DERITA BORNEO,
DAN SWARNADWIPA
Karya Romy Sastra


Swarnadwipa lara
Borneo pun tersiksa
duh,
rupa bumi itu kini
gersang,
bak Hiroshima dan Nagasaki.

Negeri Swarnadwipa tanah emas
borneo kayu wangi hutannya napas dunia
nasibmu kini telah tandus,
terjajah oleh kolonialis
pengusaha monster duniawi yang serakah.

Nusantara ini
seperti negeri di atas angin
diapit belahan benua dan samudera
tanah Syurgawi yang menjelma.

Polusi negeri ini telah miris
co2nya menyesakkan dada
duh, tanah pertiwi itu.
Daratan Sabah
Semenanjung Malaysia
Brunei dan Singapura
berkenduri atmosfir kumuh.

Atmosfir berkabut buruk
kenduri asap teruk bak azab menghantui,
jauh tatapan kelangit biru
mata seakan tertutup debu
jerebu menjadi nasib napas itu.

Ini negeri di atas angin
telah termisteri seperti penunggu makhluk jadi-jadian
ketika halilintar menggelegar
kilatan menyambar tak berhujan
bak Rahwana turun dari khayangan
menerkam mayapada.

Atmosfir bersiklus sadis
tanah Syailendra dan Kutai kartanegara
terjajah
oleh keserakahan si kaya
yang tak bermaruah ....

HR RoS
Jakarta, 01-11-2015
Nusantara dalam derita asap setiap tahun





ISTISQO TADAH HUJAN ITU
Karya Romy Sastra


Pagi ini sekejap berubah dari biasanya
gersang halaman rumah telah berlalu
lamunan pagiku,
berharap basahi alam kehidupan ini.

"Oooo ... daku duduk bersama malam, diam.
Mataku terpejam,
terlelap dalam angan yang merisaukan
miris, gerimis hari tak menitis lagi.

Dikala malam sunyi
sang malam bernyanyi sedih
tetiba awan berkoloni
bayu berbisik lirih
malam bernapas dalam kelam
butir-butir perlahan mengalir deras
dari dahaga panjang yang menjerit.

Jarum jam dunia berputar
takdir siklus azali mengucur rahmat illahi
dari kinanti istisqo doa-doa hati.

Berlalulah kau kabut
terbang menjauh ke atmosfir tinggi
mendunglah kau hari seketika
hujankan bumi ini.

Isi bumi swarnadwipa kini lara
rumput pun telah mati
tangkai-tangkai nan berputik layu
daun-daun berguguran jatuh ke bumi
urat-urat kehidupan tak lagi menjalar
tak kuat mencakar gersang.

Aku tadahkan doa ini pada-Mu ya Rabbi
turunkan rahmat-Mu kembali
hujankan alam ini sore nanti
semoga dedaunan riang bersama embun
biarkan hamba dan tumbuhan itu
hidup seribu tahun lagi.

Doa-doa yang terungkap
dalam iman
gersang mayapada ditingkah gelombang zaman
dari perubahan iklim yang merisaukan ....

HR RoS
Jakarta, 311016





#prosais
Di telapak kaki bunda kubersujud
Oleh Romy Sastra


Bunda,
tergurat di wajahmu rona renta
membulir sedih berhias rela
ananda menatap dari kejauhan
di balik dinding jiwa
kau mewujud resah
karena tanggung jawab cinta
cinta untuk buah hatimu
darah dagingmu.

Bunda,
kita sudah terpisah jauh
dari tanah tumpah darah itu
daku berkelana
ke ranah yang belum terjumpa
semasa balitaku dulu
dikau mengajarkan tentang arti hidup
mencari jati diri
meski sampai ke ujung dunia.

Kini takdir itu,
aku telah ternoktah pada jodoh pilihanku
darah-darah tiranimu telah lahir ke dunia
pelanjut helaan napasmu mengisi kasih
dia kini telah belia
sudah tumbuh dewasa.

Bunda,
engkaulah segalanya bagiku
di telapak kakimu aku bersujud
kembang kantil itu telah mekar
minyak kesturi mewangi
sumur tua di belakang rumah masih ada
serasa misteri menyapaku dalam lamunan
mengajakku kembali
ke tengah rumah kecil kita.

Bunda,
bila masanya kita bersua
akan aku timba sumur tua itu
membasuh noda menghapus dosa
dalam pengabdian sebagai anak berbakti
bersujud mendekapmu
ucapkan terima kasih,
akan baktimu selama ini.

Dari relamu aku terfitrah
karena ma'unahmu syurga itu ada
aku perjalankan hajat ini
dengan kembang setaman
ketika dikau tiada terjumpa lagi
disamping nisan di atas tanah merah
kutaburkan doa-doa kyusuk
menyauk embun kusirami dalam goa sempit
yang mengekang jasad itu.

Bunda,
dalam mihrab doa aku bertanya
melipat lidah ke langit rasa
menutup rapat-rapat di keheningan cipta
berdoa,
ampunilah dosa-dosa orang tuaku ya allah?"
sayangilah ia,
sebagaimana ia menyayangiku dari kecil.

Bunda,
tinta emas ini memadah melukis hiba
berharap malam berpurnama ketika tiada lenteranya
cahaya ibadahku menerangi sujud itu.

Umurmu bunda, sudah mendekati senja
anakmu kini di terik pijar sang surya
mengirim bait-bait doa di malam buta
belajar dari nasehat yang pernah kau tuah
pendidikan yang dituntun dulu
jadilah anak yang berbakti
penerang jejak kelam di kemudian hari
itulah pesanmu dulu
kuingat selalu.

Bunda,
dalam aksara puisi doa ini
pengabdianku
ananda realisasikan dari kejauhan
di setiap helaan napas doa kasih
semoga dikau berbahagia sehat selalu

Oh bundaku ....

HR RoS
Jakarta, 30102016,





MERETAS RINDU SENJA
Karya Romy Sastra


Menyulam bayangan senja
dengan tinta maya
pupuh syair kasih
kidungkan nada-nada syahdu.

Merajut rona pijar
melukis malam
berlalunya sang fajar
menyambut gemintang nan terang.

Berputiknya lentera malam
di taman kerinduan
tarian kunang-kunang berkeliaran
pelita menggantung di tiang jalanan
sinari kelam
dari temaran rindu tak berkesudahan.

Mencoba melarung rindu
diambang senja yang telah berlalu
meretas rindu malam
menuai lorong-lorong mimpi
yang singgah di hati.

"Aahh,
mengembara melacak mencari jejak
mengusir resah dalam kisah
memupuk kedewasaan dalam kearifan diri
setumpuk hayal
memandu kesetiaan hati.

Budi selalu mencabari minda resah
padahal,
setia itu tak pernah lelah.

Sentuhlah rasaku
kau kan kubingkai dalam figura indah
yang menghiasi kisah di dinding hati
sepanjang hari.

Senja telah berlalu
kugores tinta puisi ini ke pos maya
menyapa kasih dalam peraduan malam
biarkan siang ini jadi sinopsis hari.

Aku yang merindu di sudut senja
menghias malam yang kian kelam
semoga rindu ini
kunikmati dalam diam
yang kurindu bayang-bayang nan berlalu
meski yang dirindukan tak lagi berkenyataan.

HR RoS
Jakarta, 29-10-2015, 19,25





Tangisan lapar di pagi hari
Karya: Romy Sastra

Susu tak terbeli
rengek tangis bocah mengiris hati
bunda berduka hiba
dari jeratan hidup menjerit setiap hari
air jiwanya tandus sudah terbiasa ditingkah lara
dari kelaparan sikecil tumbuh remaja.

Bayi menangis tak karuan
seakan tak tahu apa yang diperbuat
air matanya kering dalam tangisan
bak lolongan sang kidung malam
yang tak kenampakan.

Siklus,
hujan pagi tak jua reda
dari curah semalam yang mencekam
bumi ini tak lagi gersang
tapi kenapa tanahnya tandus tak lagi menyuburkan
tanaman ubi di pelataran taman
yang dinanti telah mati digerogoti kegersangan nasib
tak mau bangkit lagi.

"Ooohhh,
sikecil lapar di kepagian hari
terlelap kembali dalam buaian
bunda,
menatap tungku perapian
air telah mendidih
yang di masak tetap sayuran angan.

"Duh,
nasib sibayi digendong kedukaan,
lelaplah nak!
Tunggulah ayahmu pulang membawa bingkisan
ayah dalam perjalanan malam di pelayaran.

Tangisanmu memancing rasa hiba ibu
tak mau jauh dari ayahmu
meski nasib ini takkan pernah berlalu
ibu kan selalu menunggu ayahmu pulang
membawa setitik harapan
demi menghalau perut yang menjerit kemiskinan ....

HR RoS
Jakarta, 29-10-2015, 07,53





#SONIAN
PEMUDA-PEMUDI
Oleh Romy Sastra


I
wahai generasi itu
dipundakmulah
masa depan
bangsa
II
singsingkan lengan
berkarya
hadapi
dunia
III
matahari pagi
selalu terbit
pancarkan
cahaya
IV
isi kemerdekaan
bangsamu
dengan
cinta
V
hidup bersahaja
di negeri ini
berdamai
selalu
VI
demi kejayaan
cita-cita
leluhur
kita

HR RoS
Jakarta 28 Oktober 2016





TINTA RELIGI SENJA
Karya Romy Sastra


tarian tinta senja menulis syair
duduk tafakur mengeja pikir
siklus laju napas dalam zikir
hening menyulam aksara tak ber-huruf
duduk diam sukma terbang tinggi
bak kupu-kupu meninggalkan kepompong
terbang mencari setangkai bunga
mengisap madu

tarian madah memandu rasa rindu
sedu-sedan sebait doa mengubur pilu
menanti malam berpelita rembulan
cermin cinta yang selalu terlupakan
bukan sebatas hayal, yang dipikirkan

senja itu,
kaki langit menghias kabut
buliran warna lembayung seakan malu
kelam kian kelam merona banyu
para gembala senja memelas domba
seruling syahdu menuai rindu
diri yang telah jauh termangu
duduk di ujung senja kala itu
pasrah dalam doa
mengetuk suratan berbuah manis
dengan doa alur ilir tercurahkan kedamaian

wahai para pencinta surga
bangkitlah dari lamunanmu
kembalilah ke pondok kiyai penjara suci
songsong pelita obor memandu santri
berlari kecil ke surau mengejar pelita illahi
biar resah itu
perlahan menjauh pergi

HR RoS
Jakarta 28102016



NYANYIAN MALAM NAN BISU
Oleh Romy Sastra


kala malam
membuncah
kerinduan

nyanyian kasih
lirih sedih
dalam angan

dinginnya malam
bersama hembusan

biola sang bunian
sunyi tak bernada

mencekam
menakutkanku

gesekkan dedaunan
perlahan luruh
berjatuhan

nyanyian malam
nan bisu
semakin bisu

kisah yang hampir padam
tenggelam ke dalam
sipnosis satu malam

HR RoS
Jakarta, 02112016





RINDU-RINDU MIMPI
Karya Romy Sastra


Merintih berjalan tertatih sedih
kuterpaku di tengah padang yang sunyi
lirih menatap bianglala senja
nan merona indah.

Bertanya sendiri,
adakah purnama malan ini berpelita indah
tak merupa seperti yang di rasa.
"Aahh, sedih,
kabut rindu berkoloni dalam mimpi.

Menengadah menatap cakrawala jingga
berharap senja ini menitiskan rinai
biar luka yang tak berdarah ini terobati
damai bersama kisi-kisi yang tersisih.

"Duhh ... isak tangis ini, berhentilah!"
bulir-bulir yang menitis di pipi
redalah ....

Berdiri bersama bayangan diri
terdampar lara di senja yang merona
mencoba bertanya,
kepada sang surya yang mulai redup
adakah goresan sang malam melodikan nada-nada alam nan menghibur
biar nyanyian sang bunian tak memandu.

"Oohh .... rindu,
telah aku titipkan selimut kasih
kugenggam kini
dan aku persembahkan pada noktah cinta
menyemai kemesraan di taman memori
manakala rindu ini suatu masa kunyatakan
bergandeng seiring jalan dalam genggaman.

Sayangnya,
cabaran minda mengiringi laranya hati
hingga kerinduan yang disulam dikebiri
padahal,
pelita senja itu selalu kunyalakan
meski hidupmu berkilauan bertabur bintang
yang dikau pantas tuk disayangi.

Seiring tanya dalam bait-bait doa
aku hantarkan ibadah nan rela dalam cinta
lewat sajadah mendekap bayanganmu.

Cinta,
di mana kau kini berada
aku mencarimu di ujung lamunan
tak pernah kujumpa sebuah realita
padahal rupamu membayang
seakan menitip rindu ke angin lalu
rasa ini selalu kudekap
ilusi berbisik lirih
yang kurindu tak kan pernah kumiliki.

Lamunan senja
semakin jauh tinggalkan hayal diri
apakah paranoid rindu
telah menjadi bayanganku
pada rindu sinopsis malam
dalam bayangan sebuah mimpi ....

HR RoS
Jakarta, 02112016




DOA PUISIKU
By Romy Sastra


"Ya ... Rabb,
panggilan suara adzan itu
menggetarkan jiwaku
iramanya merdu
mengguncangkan kalbu.

Engkau ciptakan langit dan bumi
beserta kedua se-isinya
semuanya bertasbih memuji-Mu
semuanya sholat ke hadirat-Mu.

"Uuuhhhh ...
kenapa keningku ini
enggan sujud ke sajadah lusuh itu
Ya Rabb,
jangan ambil nyawa ini
sebelum hamba menemui-Mu.

Dosa ini sudah berceceran
Seakan tiada tempat lagi di badan
tertumpah membuih bak riak di lautan.

Ya Rabb,
hamba yakin
ampunanmu jauh lebih besar
dari samudera membentang
bahkan dari arsy sekalipun
maka,
ampunilah dosa-dosa hamba ya Allah.

Telah jauh kaki ini melangkah
meninggalkan arah
hamba takut murka-Mu Tuhan.

Saat ini,
izinkan rasa syukurku
menghiba pilu
teringat semua pemberian-Mu
tiada kurang sedikitpun rahmat itu
terimalah doa puisiku
genggamlah jiwa ini selalu.

Dalam helaan napas-napas tasbih
yang tersisa ini,
tak kusadari, helaan itu memuji-Mu
tasbih yang tiada henti
ia adalah sholat jatiku.

Kudatangi Engkau di setiap tarikh napas
rentak sopan beraturan jejak iman
bermusafir dari pagi hingga petang
ke senja, hingga malam tiba
sampai bertamu fajar dan sang surya
terimalah pertemuan helaan napas itu ya Rabb.

Itulah modal sujud hamba
sebagai bakti pada-Mu
meski kening ini lalai tersungkur
terimalah persembahan syair doaku.
"Ya Allah ... Ya Mujibbu ....

HR RoS
Jakarta, 06112016





ELEGI SENJA
By Romy Sastra


Belajar memahami diam
diam memendam rasa percuma
terlalu jauh garis pantai petang
jurang-jurang terjal membayangi langkah
langkah terhenti
di balik batu karang berpasir putih.

Sendiri dalam diam
memandangi kesunyian
Siluet nan hampir tenggelam
kirimkan kabar lewat pelangi
semoga kedamaian alam ini
bersahaja di beranda jiwa insani
memahami derap langkah kehidupan
nan kian gersang.

Dalam diksi senja menyendiri
menyalakan pelita dunia lewat tinta
sinari hati nan resah menghalau mimpi
kicauan camar hadirlah menghibur sepi.

Surya menerangi alam nan mendung
biar kehidupan dunia bersahaja dalam cinta
meski dalam diam
sang biola malam menuai rasa kecewa
tak senada gesekkan dengan nyanyian.

"Yaaaa ... pada suatu masa
siklus pelangi berganti lembayung
menari pada riak
bernyanyi sang nahkoda di dermaga senja.

Dermaga masih tetap berdiri di sana
menyambut gita hari
mengiringi simponi hati dalam doa
meskipun gelombang memandu jauh
jauh ke samudera biru
menyisakan buih di pantai nan sepi.

Tatapan harap terperap menatap pekat
yang selalu berarak linglungkan bayangan
cabaran itu tetaplah didekap
membuktikan kesejatian
merengkuh keinginan ....

HR RoS
Jakarta, 06112016





POTRET TOPENG
By Romy Sastra


Bukan aku dan realitaku yang sebenarnya.
Ia isyarat,
guratan potret dalam aspek kehidupan
sisi hari manusia tanpa disadari
apa adanya.

Sebelah mata memandang
terkesan hina
itulah kehidupan dalam kasta.

Bahkan kesombongan diri
tidak siap sama sekali
mengakuinya
syukurlah dikau selalu merasa sempurna ....

HR RoS
Jakarta, 05112016





BUNGA BERANDA SENJA
Oleh Romy Sastra


Sang gita dari balik jendela
menghantarkan syair-syair cinta
Juwita menyapa rindu
mencium kelopak bunga senja.

Kupu-kupu petang,
menari riang bersama bianglala
kumbang-kumbang jantan
mengiringi tarian dalam rayuan
pesonakan nyanyian asmaradana
pada tenggelamnya masa senja hampir tiba.

Sang Juwita masih berpeluh resah
menjajakan niaga di depan rumah
butir-butir peluh asa bercucuran
di sekujur badan
menyulam impian
dikau Juwita paras nan cantik
di balik tudung berwajah Humairah.

Sepasang mata bola melirik dari Jakarta
dengan sapaan manja
menggenggam senja sebait doa
teruntuk sang Juwita berjubah Srikandi
menyemai masa depan dengan senyuman
menanti figur sang iman
memandu jalan surgawi.

Lambaian bunga kertas di beranda rumah
indah bermekaran
menghias tatapan sianak dara
kabus-kabus menyeruak di seantero taman
ditingkah siklus jerebu rindu
rindu di balik jendela itu.

"Duhhhh ... di beranda pada suatu senja,
kusapa cinta lewat madah
menatap Juwita malam dengan asmara.

Sang gita berharap,
meminta senyuman mesra
dalam ayat-ayat cinta
setia dalam satu hati hingga ke ujung nyawa.

Kala malam tiba,
mimpi-mimpi bersanding dalam tidur
meski rasa itu dalam impian semu
berharap nikmatnya kecupan kekasih
walau itu hanya sebuah ilusi
ia sesuatu yang dinanti dari larik-larik puisi ...
.
HR RoS
Jakarta, 05-11-2015, 16,54





DARI HATI MENGINTIP NURANI
Karya Romy Sastra


Duduk bersila
menghitung jalan rotasi jari
ketika riyaddoh menggenggam tasbih
hening berkawan lafaz
tenggelam kedalam sunyi
dari hati mengintip nurani.

Duduk tafakur
langit-langit pat kulipat
merapat mengekang syahwat.

Cahaya-cahaya pengoda menyapa cinta
religi cinta Illahi
cabarin kemilau semu
semu dari nafsu-nafsu itu.

Laju napas bergulir santun
keluar masuk mencipta hikmah
hikmah penawar resah.

Asyik fana dalam diri
laju kalam memandu perjalanan
menyimak aksara rasa ke dinding mihrab hati
hentakkan dalam diam,
bak kuda sembrani
terbang membumbung tinggi.

Dalam perjalanan hati mencapai makam
makam alam diri.

Dari hati mengintip nurani
nurani diri berjubah budi
anugerah insani rahman rahim kekasih
bak kemilau lembayung teduh
bening indah memukau silau
sejuk tak tersentuh menyatu.

Dalam diri
asyik khusyuk membulir rindu
rindu kepada sang kekasih itu ....

HR RoS
Jakarta, 04,11,2015, 18,43





#ProsaisRenungan
RENUNGAN DIRI
Karya Romy Sastra


Rimah-rimah yang bertaburan
jatuh dari tangan tak dianggap
di setiap suap menitipkan pesan
kenapa yang tersisih diabaikan begitu saja
padahal kehidupan itu layak dihargai.

Beriman pada azali,
bahwa kehidupan ini sebelumnya
telah hidup bersemayam dengan suratan.
Berguru pada kedewasaan diri
tertitip dari takdir tirani semula
dididik oleh tuntunan yang cantik
kepada generasi ke regenerasi
jadilah pejuang tangguh yang berbudi
mengisi masa depan dengan bermartabat.

Jiwa ksatria di tengah padang nan gersang
berpacu menantang matahari
kulit lebam dengan cita-cita
di setiap arah mana yang dilalui
demi mendapatkan yang diinginkan
sebuah kemewahan
ada secara instan ada dengan otot kekar
ada dengan pendidikan.

"Aaahh ... hingga kini, takdir hidup itu,"
sudah banyak yang berubah.
Sayangnya,
kenapa kebodohan menguasai ego.

Di sana, bertahun-tahun sudah
pesta panen dirayakan dalam kehidupan
selalu merasa kurang terhidangkan
tapi kenapa rasa syukur tak jua dipanjatkan
hanya menikmati tak pernah kenyang
berbagi nihil sama sekali.

Padahal,
langit tak pernah bosan curahkan hujan
dengan siklus musim datang dan pergi
tak mengecewakan
alam selalu menyediakan kesuburan
mentari selalu menyinari bumi
kala malam bintang-bintang bertaburan
bulan nan cantik,
memperindah glamournya malam.

Angin nan berhembus selalu lenakan jiwa
para peraduan hati memadu kasih
dengan tembang kasih sayang
nikmatnya kehidupan yang dimaknakan.

Pada corong religi di tengah negeri
mengalun merdu syahdu menusuk kalbu
menyampaikan pesan firman-Nya
di setiap rasa para sanubari
tak peka jua dengan bimbingan.

Rasa diri, kadang terlena dengan kepalsuan
asyik memintali payet-payet kebohongan
menyulam jubah kemewahan yang disandang
demi sebuah penampilan masa depan
ia hanya seremonial perjalanan saja.

Seyogyanya, kenalilah isyarat Tuhan
pada alam menitipkan pesan
bahwa umur dunia ini kan panjang
dengan rasa syukur yang ditunaikan
kasih-Nya adalah keniscayaan hidup
tak berkurang sedikitpun.

Sadarilah, nasi yang di makan
seperti hidangan surgawi
air yang diminum serasa madu
bak telaga zam-zam tak pernah kering
sungguh ia adalah pemberian rasa terbaik.

Tidur lelap,
seakan tak ingin waktu berlalu
sayang seribu sayang,
rasa syukur selalu lalai ditunaikan
terlena dalam ayunan dunia
pengabdian diri pada-Nya
hanya pepesan kosong saja
bahkan tak sama sekali dihargai.

"Duuhh... lorong kematian menganga
mengintai menakutkan sekujur badan
ketika ia bertamu tiba-tiba
misteri itu hadir di sudut mata
seperti mata elang berjubah hitam
menerkam mangsa.

Ironisnya, seakan kematian itu
tak pernah disadari ia akan bertamu
bahwa jiwa ini terancam oleh azab
dari dosa-dosa yang diperbuat.

Bodohnya prediket insani
seakan tak lagi mengenal jalan pulang
seperti rimah-rimah yang tak dianggap
selalu berjatuhan dibiarkan begitu saja
memang tak tersentuh oleh sanubari sedikitpun juga.

Malangnya nasib si rimah
tak dipahami
bahwa ia adalah ruh dewi sri
yang menyantuni tubuh dan kodrat ini ....

HR RoS
Jakarta, 03112016




:::Jeng, Jeni tertipu cassing handphone:::
karya Romy Sastra


Jeng memanggil si Jeni,
"Jeni ... sini kau!"

Iya Jeng, ada apa kau memanggilku?"
lihat ini Jeni, aku beli handphone baru ni.

Jeni menjawab,

handphone kamu yang lama di jual ya Jeng?

"Tidak ... ada kok.

"Loh ... mana handphonemu tu?"

Jeni semakin penasaran bertanya lagi?"
Jeng, bukankah handphone kamu yang lama warna hitam?

Iya, emang.

Apa ada kamu bawa sekarang kata si Jeni?"

Iya, aku bawa ni Jeni.

"Lo ... berarti hanphone kamu dua ya?
mana yang satu lagi?"

Si Jeng menjawab dengan santai,
ini dia yang aku pegang ini.

Sialan lu jeng," celoteh si Jeni,
handphone kamu di sulap jadi warna pink
cassingnya yang di ganti ya jeng?

hahahahahaaa, gelak si Jeng.

Iya Jeni,
spontan saja hati Jeni jengkel dibuatnya.

Emang warna handphoneku jadi dua
kalau aku bosan dengan warna pink ini,
aku ganti warna hitam lagi, hehe ....

Lirih jahilnya,
padahal aku tak punya duit
beli handphone baru
biar dinilai si Jeni itu,
aku banyak duit.
"Hehem ... belagunya aku.

Ah, aku tertipu ni,
gumam si Jeni.

Awas lu Jeng,"
gumam si Jeni dalam hati,
nanti aku kerjain juga kamu ....

HR RoS,
Jakarta , 08112016





RINTIHAN ZAMAN
Karya Romy Sastra


Goresan tinta senja
guratkan aksara rasa
melukis pigura jiwa

Siklus gersang
berganti musim hujan
roda kehidupan selalu dijalankan
namun nasib badan tetap saja menyedihkan

Tuhan,
aku sujudkan jiwa raga ini
kembali kepada-Mu
bukan aku meminta materi
melainkan semata-mata hanya mengabdi

Di sana,
lolongan kepedihan anak bangsa
tak lagi bersuara
seakan terbiasa dengan derita

Berjalannya peradaban rotasi kehidupan
kehidupan itu
dihantui kemiskinan yang tak berkesudahan

Raja dan punggawa serta abdi negara
figurnya seperti setengah Dewa
bersafari mewah berkuasa dalam tahta
tak lagi bisa di percaya

Sandiwara dunia semakin menggila
politik bak bom waktu
akan memicu perang saudara tiba-tiba

Akankah itu sebuah pertanda
ramalan Jayabaya menyapa nusantara
entahlah ....

Bertanya pada diri, tegarlah wahai hati
kehidupan ini kan terus berlanjut
ada masanya terhenti
ibarat jam dinding berputar mengiringi waktu

Dalam rintihan zaman anak negeri
di bawah bayang-bayang penguasa dan pengusaha

Di Desa,
nasib kehidupan para petualang alam
menyemai bibit berbuah tak berharga
ah, semakin kecewa saja ....

HR RoS
Jakarta, 08112016





#Prosais
RINDU NAN BISU
Oleh Romy Sastra


Merindu, bak tunggul lapuk
mengharapkan hujan
tunaskan dahan kembali
di sini, masih menyulam sepi
berkawan bayangan
dendangkan nada seruling siul
terpana menatap kejauhan
adakah nyanyian rindu tak bisu
menghibur pilu.

"Kekasih ... dulu, kau didamba,"
tak lagi kini kujumpa
rinduku telah bisu tak bermakna lagi
ternyata kau benar-benar menghilang dari pandangan.

Akankah kisah telah tertutup rapat
menjadi kenangan usang?

"Uuhh... entahlah?"

Setapak demi setapak melangkah
kaki meraih jejak impian
pada jejak-jejak hati
yang tak lagi menampakkan diri.

Aku ceritakan kisah pada madah senja
berpegang tongkat tinta
berkelana tuliskan aksara yang tersisa
meski rasa ini lelah menyapa cinta
memanglah,
aku telah bosan dengan cinta.

"Duuhh ... kenapalah?"
Siulan camar di pantai itu
tak lagi bersuara.
Apakah parungnya terpasung bisu
ataukah lupa irama kisah yang pernah tercinta.

Keadaan kita seperti eja di balik tanya
seakan noktah rindu masih kau rasa.

Kenapa kau biarkan rindu ini bisu
sepi berkawan hari
sepertinya,
kau memanglah telah berlalu pergi.

Ketika kau semakin jauh
jauh, jauuhh dan jaauuuhhh
kau tinggalkan kisah ini
tintaku tetap bermadah rindu
meski luahku
tersekat terpenjara lara.

Bila noktah hatimu
tak lagi bermuara kasih
ajarkan aku untuk biasa tentang rasa
yang tak lagi mengenal cinta.

Biarlah ku rajut rindu-rindu ini
bersama bayangan semu
kan kujadikan itu
sebagai pemanis hidupku
dan setia menyendiri tak lagi bercinta
apalagi mencari memori baru
sebagai pengganti dirimu yang telah pergi.

HR RoS
Jakarta, 07113016





#SONIAN_ASMARA


1
dendang rasa rindu
mengalun merdu
pada cinta
terlena
2
pesona asmara
kecup menyentuh
bibir kita
nikmatnya

3
dikau kekasihku
kurindu surga
kenikmatan
cintamu

HR RoS
Jakarta13112016





MERPATI YANG TELAH PERGI
INGIN KEMBALI
Karya Romy Sastra


Kau bagaikan jinak-jinak merpati
susah kutangkap
kuberlari dan terus berlari
mengejar jejak-jejak terbangmu
terbang tinggi jauh di awan

Kau terbang tinggi bernyanyi berdua
mesra di tangga hati yang lain
meliuk lambaikan sayapmu
di lingkaran pelangi indah itu

Kucoba mengukir pigura wajah cinta
dalam syair-syair yang menggoda
bercakap selalu
menyapa mesra
"haaiiii ... salam kenal cinta,
merpatimu terbang rendah

Jiwa nan tangguh luluh,
melirik seuntai senyum menyapa
ada apa dengan merpati yang telah pergi
akankah terbangmu kembali lagi
terbang ke sarangmu dulu
janganlah ....

Pada suatu ketika
tanya intrik senyum berbasa basi
bingkisan hati itu akhirnya menghampiri
aku menitip bait-bait memori
dalam coretan puisi
kau tersenyum kecut

Ketika telapak rela lambaikan pesona
terantuk sendu berikan tanda,
bahwa merpati itu
rela menjatuhkan sayapnya
penghias tari gemulaikan hatimu kembali

"Aahh .... aku pungut juga,
kuselipkan warna tinta di ujung sayapnya.
Bermadah,
kugubah syair menggelitik jiwa
untukmu kuberikan kidung rasa
tentang cinta bersemi kedua kali

Ketika genggaman
tak lagi lepas dari tangan
kau selalu menghadiahkan senyuman
dekapan bermanja mesra mempesona
aku terlena.

Merpati itu
telah hinggap di istana rasa, menggoda,
kau bersemilah cinta ....

HR RoS
Jakarta 13112016





"""""" TONGKAT TUA
TELAH RAPUH """"""
Karya Romy Sastra


"Ayahh ..."
perjalanan panjang telah kau lalui
berhentilah melangkah
duduk manislah di rumah
getir pahit manisnya kehidupan
jalan berliku menanjak menurun
terjal tandus berbatu kau tempuh

Kaki pecah melangkah di bawah terik mentari
demi memenuhi asa pelita tirani
nasi yang kami makan
dari peluh darahmu kami di besarkan

Ayahku,
impian tinggi menggebu
untuk buah hatimu
tegar berdiri dipaksa melangkah
tetap kau pintali benang merah hidup ini
berkaca diri berantai dengan masa lalu
bersama tiang-tiang lapuk terkubur sudah
meringis sedih di setiap letih
masa lalu yang telah bias
berlalu jauh meninggalkanmu
hilang ditelan masa, gagal dirundung duka

Kini,
putik-putik berbunga telah berbuah
kau masih saja tertatih payah dan lelah

Miris,
dikala senja menyapa
dada kau penuh menyeruak sebak
duduk di sudut rumah beranda tua
berpangku tongkat rapuh
diolok-olok cucu yang lugu

"Ah ... sedih,
nasi putih tak lagi berkuah
seduhan pagi tak lagi kau rasa
hanya asap putih mainan sepimu
kau linting dari jari jemarimu yang keriput

Ayaaahhh ...

Kau kini tak lagi tersenyum dengan dunia
bila malam tiba
air mata bercucuran
berbisik lirih menghiba
ya Allah,
sejahterakan jugalah anakku dimanapun ia berada
doamu masih tersisa

Getar-getar doamu
membangunkan sang penjaga malam
mengintip rintihan bunian lagi menyepi
kau menitipkan doa ke dalam misteri
memanggil anak yang tak pernah pulang
samudera mana yang ia arungi
batu dilempar arus tak beriak sampai kini gelombang tak jua menepi

Uuuhh,
seorang anak merantau
tinggalkan tumpah darah
tak pernah kembali lagi
usia senja telah meratap dalam cinta
meski ia kecewa
ayah, kau tetap sabar dalam doa

Duhaiii, mahkotaku yang telah hilang
entah kemana perginya
tak tahu kini di mana rimbanya
pulanglah nak!"
ayah menantimu di beranda senja ini
haruskah tanah merah kan kau temui nanti
wahai anakku ....

HR RoS
Jakarta, 13,11,2015, 08,42





DUALISME RINDU
Karya Romy Sastra


senja menyapa
garis batas samudera menepi
nun yang jauh di sana
melingkar tak berujung
sepi di pantai ini

bola mata dunia perlahan meredup
bulir-bulir lembayung hiasi pantai
senja kian berlalu

berdiri menatap pelangi
telah samar dari tatapan sunyi
menyusun jari jemari melingkari ubun
hening terpaku menuai rindu dunia
rindu nan kian membisu

berdiri
bertanya pada bayangan diri
sosok yang samar berbisik lewat hati
jawabannya lirih bak bisik misteri

wahai yang bodoh ini
harungi samudera jiwamu
kan kau dapatkan sejatinya rindu cahaya tenggelam itu kisi-kisi
siluet diri istananing hati

masuklah ke dalam goa rasa
hingga rindu-rindu semu sirna
tatapah rona cinta-Nya mewajah indah
disanalah rindu yang sempurna bermegah
dalam kesejatian cinta Illahiah ....

HR RoS
Jakarta,12-11-2015, 13,17





Puisi, pahlawan untuk Tan Malaka.
Perisai yang terlupakanN
Karya Romy Sastra


Suliki Pandan Gadang
tumpah darah itu
cikal bakal sejarah sang putra
untuk sebuah kemerdekaan bangsa
dari penjajahan dunia

Suratan mengiringi perjuangan pemuda dalam sejarah,
jauh berkelana dari tanah bunda
antara asia dan eropa.

Tan malaka,
bergelirya tanpa kenal lelah
sang diplomasi strategi
dari kegelapan menuju terang
dari kebodohan zaman
pelitakan generasi dalam pendidikan alam

Perisai yang terhujat
dilupakan,
tertuduh terbang pada sayap kiri,
padahal kau berenang bak ikan
di tengah muara
mencari titik bening pada keruhnya suasana
kau saksi dibelakang sang orator
ketika dikumandangkan proklamasi

Tiang-tiang pendiri kemerdekaan
tokoh sejarah sang pengelana,
diintimidasi dari organisasi
dicari-cari kolonialis
dicaci maki oleh penguasa
tertuduh hipokrit politik

Di negeri sendiri dilupakan
dihormati di setiap langkah kakinya

Tan malaka
aset bangsa yang telah tiada
kiprah yang sejajar
dengan perjuangan tokoh-tokoh dunia

Polemik gugur di kaki gunung Wilis
bangkai yang telah berdebu
di makam itu
masih misteri akan dirimu

Sayangnya,
tanah misteri sang tokoh dikebiri
dimarjinalkan dari sejarah
tunggul nisan tua tak bernama
sendu hiba di pusara sunyi
sunyi dari keramaian zaman
dahaga dari penghormatan bangsa
Tan Malaka saksi sejarah pahlawanku ....

HR RoS
Jakarta, 12112016




#Puisi,
Mengenang 10 November hari pahlawan.
TERIMA KASIH PAHLAWANKU
Karya Romy Sastra


Padamu wahai pahlawan
kibarkan panji-panji di ujung bambu
bersuara lantang
MERDEKALAH NEGERIKU.

Mantera-mantera sakti dirafalkan
sebagai perisai diri
bertelanjang dada angkat senjata
orasi takbir penyemangat jihad
maju ke medan tempur
dengan otot kawat bertulang besi.

Dari negeri bernama nusantara
ketika itu sang punggawa
tetua tanah Jawa menitipkan pesan
negeri ini jangan sampai lengah
kelak tahta Juliana melebarkan sayapnya ke Nusantara
pertahankan sejengkal tanah ini
dari penjajahan Belanda.

Padamu wahai pahlawan,
benteng-benteng kemerdekaan
ceceran darahmu telah mengering
kering menjadi debu
debu-debu itu
pupuk organik tanah airku.

"Kini... jasa-jasamu, wahai pahlawan.
Tinggalkan kenangan
pusaramu di taman-makam itu
merintih sedih tak bersuara
revolusi dari segala sisi belum usai
justru tergadai.

Nisan-nisan berjejeran
disirami kembang setaman
bak arca merana
bermenung di dalam kesedihan.

Pahlawanku,
bukankah negeri ini telah merdeka
tapi kenapa masih terjajah?
oleh para bedebah itu.

Padamu wahai pahlawan
kutitip salam
setulus doa dikeharibaan Tuhan
semoga kau damai pahlawanku
sebagai jihad.

Putera-puteri terbaik perisai bangsa
baru kemaren rasanya kau tiada
masih terkenang sepasang mata bola
mengintai para penjajah
Veteran yang tersisa memikul derita
bersamamu negeri ini ada

Kau pahlawanku,
kan tetap kukenang selalu
menitipkan lembaran-lembaran berdarah
untuk pelajaran sejarah anak cucu
terima kasih jasamu wahai pahlawanku ....

HR RoS
Jakarta, 09-11-2015, 17,22




DAUN-DAUN MUDA BERGUGURAN
Karya Romy Sastra


Tanah tandus tergerus siklus zaman
pohon tua bertunas
kembang berputik jadi idaman hati

Ketika budi dan religi dikebiri
make up cantik penghias diri
jajakan cinta di balik tirai malam

Wajah-wajah ayu berlenggok
bak bidadari dari kayangan
rela terhempas
jadi penghibur wanita malam

Segelas anggur
di tangan serigala-serigala rakus
bermata elang
di balik rerimbunan lampu eksotic
melirik mangsa kemayu jadikan teman mainan

Jelantik berkicau berbisik kecil
bermanja lirih
sangkar-sangkar kerlip
menambah suasana riang

House musik riuh menggugah syahwat
pasangan berlalu satu persatu memandu kasih
hilang dari kerumunan mencari tempat persembunyian

Malam-malam panjang
dalam keramaian di pinggir jalanan
dugem di awal malam
menambah asyiknya pesta konco-koncoan

Malam kian panjang
berhias lampu jalanan
beraroma mistik mewangi dari dukun langganan

Malam bertaburan bintang
daun-daun muda berguguran
jadi prostitusi jalanan

Pesta usai
cinta satu malam melenakan
daun-daun muda terdampar di tengah jalan
kembang muda berputik
tinggalkan kenangan
layu sebelum berkembang.

HR RoS
Jakarta, 11-11-2015, 11,51





#Prosais_Surat_terakhir,
== Akhir sebuah cintA==
Karya Romy Sastra


Kugoreskan tinta merah ini
dengan linangan air mata
menumpahkan kekecewaan perihnya kisah
lewat tinta terakhir ini
kuhantarkan ke persada maya
semoga surat ini dibaca dan dicerna

Meski kutahu
tak mungkin kertas membungkus api
pada cemburu tak pernah sudah
kau dulu pernah menjanjikan ikrar setia
setia hingga ke ujung nyawa
aku terlena dibuai belai manjamu
kini kau campakkan rinduku ke sudut duka

Jauh sudah cinta ini direnggut
kau rampas dalam keterlenaanku
setelah puas kini kau berlalu ....

Pernah kau bersandiwara
mencari titik kesalahan
kau temukan setitik noda dari candaku
ketidaktahuanku tentangmu
berakhirnya penghakiman tuduhan
yang tak beralasan
hingga kau tikam kembali berulangkali belati ke wajahku

Muka tipis terkoyak malu
kutahan seperti tak pernah terjadi
problem antara kau dan aku perih.

Bak nila setitik, rusak gulai sebelanga
Pedihnya luka kau torehkan ke dadaku
masih bisa kutahan
bahkan kau coreng arang di keningku
masih mampu malu kupejam.

Kini,
kau berlalu dengan kekasihmu yang baru
rela mendoakanmu semoga kau berbahagialah bersamanya.

Surat terakhir ini,
adalah akhir sebuah cinta
kuhantarkan kepadamu
tutuplah rapat-rapat kenangan indah kita,
biarkan ia berlalu
seteguk rindu yang pernah kau rampas dulu
adalah kebodohanku.

Jangan pernah kau datang lagi ke dalam hidupku
kalau itu hanya persinggahan sementara
tuk menghibur sisa-sisa hidup ini
biarlah kututup rapat-rapat kenangan itu
dan kuabadikan kisah kita ke dalam history

Aku berjanji
tak ingin cari penggantimu lagi
setia ini
kugenggam sampai mati
hidup bersama bayanganmu
karena cinta setengah hati telah kau bagi

Satu pintaku
pahamilah setia ini
meski aku tak sempurna
menghadiahkan cinta
aku tak mampu membuatmu bahagia
hanya hidanganku bertaburan derita
dan rasa kecewa yang tak pernah sudah

"Aaahh ... pilihlah jalan hidupmu!"
doaku menyertaimu.
Mimpiku usai sampai di sini,
lupakanlah rasa yang pernah terkisah
biarkan sedih ini penghias masa senjaku
selamat jalan kekasih
selamat tinggal kenangan ....

HR RoS
Jakarta, 10-11-2015, 08,53





TERSISIH IA SETIA
Karya Romy Sastra


Tak pandai menari lantai berjungkit
ketika gemulai tarian
tak selaras dengan nyanyian
jemari dan songket
terlilit selendang ungu
kan terjatuh malu

Kidung rindu mengalun merdu
merindu dibuai angin lalu
kidung tak lagi bernada cinta
nada bisu membungkam kalbu

Aksara cinta berbalut tinta
gelisah terluah di kertas madah
langkah kaki terhenti
bak musyafir kehilangan arah
dahaga di tengah samudera
tak tahu arah mana kan ditempuh lagi

"Aahh... rasa, tercabar di minda tanya
padahal musyafir cinta
masih setia dalam perjalanannya

Tinta jiwa ini
melukis misteri berbalut resah rasa
terlukis di bingkai setengah jadi
buruk sudah bayangan di depan mata

Wajah-wajah rindu
seperti berkaca di cermin retak
merupa tak membentuk indah
tertutup butir-butir kaca berserak
seakan rindu-rindu tak lagi tampak

Bertanya dalam diam
jawabannya bungkam
hanya makna yang bisa ku-eja
di setiap rindu yang kutunggu

Rindu telah ranum merona
menghela di sela napas-napas cinta
resah sudah

Dalam tanya resah menjawab sendiri
rindu ini masih seperti yang dulu
menunggumu sampai akhir hayatku
aku tak memelihara kembang lain
di taman hati
setiaku selalu
menggenggam noktah kasih
dalam bingkai setia
bersama dirimu setia sampai mati ....

HR RoS
Jakarta, 11112016




#Haiku_Bebas
Kumpulan Haiku Romy Sastra


Haiku 1
musim berganti
langit mendung kelabu
rembulan sedih

Haiku 2
biola malam
tangisan kelaparan
nyanyian lara

Haiku 3
melaju sukma
sajadah doa malam
bertasbih asyik

Haiku 4
kembang setaman
sedih di batu nisan
mati kemaren

Haiku 5
keras kepala
tiada gading tak retak
hidup sabarlah

HR RoS
Jakarta 15112016




#sonian
MAHABBAH KEKASIH


#I
tawakal padaNya
atas perintah
zikir hati
selalu

#II
siang malam tasbih
tak pernah putus
demi cinta
nan agung

#III
temuilah IaNya
di lubuk hati
kala malam
merindu

#IV
pada kekasihmu
dan kekasihku
surga itu
bertamu

#V
ya mahabbah itu
kasih sayangNya
pada hamba
pilihan

HR RoS
Jakarta 14112016





#SONIAN_RINDU_REMBULAN


#I
senja ujung aspal
menanti dikau
kabar malam
rembulan

#II
bertanya tentangmu
wajah nan ayu
kembalilah
kurindu

#III
jangan biarkan bisu
hasratku ranum
memelukmu
hadirlah

#IV
selamanya dikau
kan kumiliki
kekasihku
rinduku

#V
kisah senja resah
di ujung aspal
menantimu
rembulan

HR RoS
Jakarta, 14112016





Perjalanan Religi Wujudkan Realiti
Karya Romy Sastra


Berlari di dalam sunyi
yang dikejar bayang-bayang diri
ketika bayangan menyapa
susah dimengerti maknanya rasa

Bingung bertongkat dungu
onak gelisah membuncah pikir
dinding-dinding hati
tertutup tirai pelangi

Berjalan ke sebuah tujuan
bertanya di dalam kelam
meraba hati rasa berbicara
jawabannya ia, kenalilah diri.

Tuah khalifah bermadah isyarat
untuk menempuh ujung jalan
semestinya,
harus melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat
adalah tetap diri sendiri.

Tertatih di lorong kenyataan
jalan itu tetap membingungkan
karena jubah keimanan
tercabik oleh ke munafikan

Ketika janjian berlabuh mencari kesungguhan,
roda kehidupan tetap berputar
ke sebuah haluan
haluan ke-tidak-berdayaan
kejayaan yang dicari adalah takdir pada suratan azali
tunggulah berikhtiar saja

Gelisah menari, jalan ini masih panjang
kehidupan ini,
seakan tersisa hanya satu malam
sedihnya,
ketika terjaga nanti
hidup ini sudah berlambang batu nisan

Jalan abadi yang di tempuh
adalah kesetiaan iman
bersatunya diri bersama Tuhan.

HR RoS
Jakarta, 14-11-2015, 16,20





MOTIVASI
TEGAR
BERDIRI
Karya Romy Sastra


Kenapa hiba yang kupelihara
sedangkan duka tak menyapa
meghapus rasa sedih
selagi masih bisa tersenyum

Pada suatu iklim
menitip embun ke dalam hujan
embun yang menyejukan
menyatu bersama dingin
sulit mencari perbedaan
telah tergerus banjir menghadang

Berpesta bersama penonton meriah
nyanyian sumbang tetap saja wah,
bersorak ria
ritme tak bersimponi nyanyian bak orasi
seakan kidung telah megah
bernyanyi indah,
padahal nada seperti bercerita saja

Lama sudah perjalanan ini dilalui
sedangkan nan di tempuh
ada di lubuk hati
berteriak sekeras-kerasnya
tetap saja suara itu bisu
berbicara tentang kepalsuan
tetap saja tak kan tahu keaslian

Mencoba merapikan larik tinta
ke dalam madah diksi pujangga
kiasan jiwa tetap termakna berbeda
aaahhh ....

Bertanya kepada diri,
diam bermenung dungu,
suara lirih berbisik tak tersentuh
eja dicerna semakin tak tahu jawabannya,
berjalan dengan satu tongkat
memandu ke arah martabat
jawabannya damai bersama haribaan
disanalah kedamaian bertahta tanpa bertingkah

Ketika bimbingan menuntun ke sebuah jalan
jalan terarah ke dalam maruah kehidupan
terima kasih bimbingan kesetian
optimis berharap
memandu ke dalam genggaman

Burung-burung terbang tinggi
melintasi cakrawala
jauh melaju di bawah langit biru
ketika lelah mengharungi angkasa
tetap saja sang burung pulang ke sarang
pertanda kodrat jiwa yang setia

Terima kasih kepada Tuhan, ucapkan alhamdulillah
terima kasih kepada ilham rasa,
tergores madah yang bermakna
menambah kekuatan tuk tegar berdiri
meski langkah tertatih ....

HR RoS
Jakarta, 14-11-2015, 09,45




#CERPEN
DIK, MASIHKAH KAU MENCINTAIKU
Karya Romy Sastra


Sinopsis cinta terjalin, berlabuh di depan penghulu, rindu kebahagian adalah impian setiap insan yang mendambakannya.
Dua tahun sudah membingkai noktah, serasa sakit bak menelan pil pahit, hidup segan mati tak mau.

Laraswati nama sang istri dari suami bernama Firman.

Awal perkenalan Laras dengan Firman, terjadi di sebuah kota Jakarta.
Laraswati wanita Jawa asal Jogjakarta
Firman lelaki berdarah Menado,
mereka sama-sama merantau.
Singkat cerita, cinta mereka terjalin, madu asmara tak terbendung tumpah bersama derai air mata,

Laras cantik yang baru beranjak dewasa, sudah tergoda dengan glamournya kota, tergerus pada godaan rayuan lelaki Firman.
Firman adalah lelaki sudah cukup usia untuk menikah, dia agak sedikit menunda niat tuk menikah pada usia muda, alasannya memang masuk akal, belum mapan berumah tangga.
Padahal Firman adalah lelaki gagal dengan doktrin kematangan hidup, sehari-harinya ia penjudi, suka wanita-wanita malam.
Kala malam tiba, Firman berfantasi asyik dengan segelas wisky di night club ke night club yang lain pada malam yang lainnya bersama kawan-kawan. Pekerjaan tak menentu, asal dapat duit buat dugem ia sudah senang.
****

Cinta mereka tak terbendung,
Laras tiba-tiba sakit, sering mengeluh sakit perut dan muntah-muntah kecil, membuat Firman hiba.

"Dik laras... sahut Firman, kita periksa kesehatanmu yuk?!" ke dokter.
Dengan rasa malas, Laras menyanggupi ajakkan Firman kekasihnya.

"Ayoolah bang... rasanya badanku lemas banget ni, kepalaku pusing, pemandanganku gelap.

Laras akhirnya dibawa ke klinik terdekat berobat, hasil konsultasi dengan dokter jaga, laras dinyatakan hamil dua bulan oleh dokter. Laras terkejut, a..a..apa dok, aku hamil...? Iya dik, jawab dokter.
Firman pun tak kalah kagetnya, dengan tepuk jidat, alamak....

Lepas dari klinik, mereka pulang ke kost Laras, Laras dengan tatapan meyakinkan pada Firman
bertanya?
"Abang... gimana ini, kelanjutannya?"
Firman tak lantas menjawab pertanyaan Laras kekasihnya itu.
Firman hanya diam tertunduk di sudut ruang dengan seribu onak di kepalanya.

Laras spontan menangis pilu, memikul tanya karena ia sudah berbadan dua.

Tiba-tiba Firman bangkit memeluk Laras dengan belaian kasih sayang.

"Dik... sabar ya, kita menikah segera di Jakarta ini.
abang cari duit lebih dulu, dan setelah itu, kita menikah ke pak ustadz kenalan abang, sewaktu dulu, abang pernah hantarkan kawan menikah sama pak ustadz itu.

"Abang... laras bertanya ni?"
aku sendiri di Jakarta ini bang, yang ada hanya abang seorang yang kuharapkan, orang tuaku jauh di Jogjakarta, apa tak sebaiknya kita kasih tahu orang tuaku dulu? Gak usah dik" jawab Firman, ini mendadak. Lagian abang gak punya duit dengan banyaknya keluarga ikut campur tentang pernikahan kita nanti.
****

Tiba masanya, jadilah mereka menikah dibawah tangan dengan pak ustadz.
Singkat cerita, Laras melahirkan anak pertamanya seorang bayi yang cantik.

Hari berlalu, bulan dan tahun berganti. Firman sang suami yang dulu mencintai sangat sama Laras.
Ia kini Firman, berubah sikapnya menjadi kasar, suka main tangan dan pemabuk, serta pemalas.
Membuat Laras semakin terhimpit lara dan derita, hingga perkawinannya dengan Firman tak sanggup ia jalani lagi. Anak mereka sudah berusia satu tahun, baru bisa berdiri jatuh bangun
Firman sangat menyayangi putri cantiknya.
Pada suatu ketika, terjadi pertengkaran hebat di antara mereka berdua. Muka dan mata Laras membiru kena hantaman Firman, KDRT sudah seringkali dilakukan Firman terhadap Laras istrinya.
****

Laras dengan penuh penyesalan bertanya dalam hati, ya Allah" kenapa derita ini menimpaku?
Akhirnya Laras memutuskan untuk kabur dari kostnya, kebetulan siang itu suaminya tak ada di rumah. Laras membungkus pakaian ia dan putri cantiknya, membawa duit seadanya, menuju stasiun kereta api Senen menuju kota kelahirannya Jogjakarta.
Laras pesan tiket ke kasir jaga,
dapat tiket kereta ke Jogja jam 16,30, tiba Jam 5,00 wib pagi di kota Jogjakarta yang tertera di tiket itu.

Tidak menunggu berapa lama kereta malam pun tiba di stasiun Senen, Laras berdua dengan putri kecil nan cantik, menjinjing tas kecil naik ke kereta api malam dengan deraian air mata meninggalkan kota Jakarta. Kota yang menyimpan seribu satu kenangan manis dan pahit selama ia merantau di kota ini. Menempuh malam, dalam lara bersama anak dipangkuan terpisah dari ayahnya. Hingga waktunya pagi menyapa sampailah kereta ke destinasi di stasiun Jogjakarta.

Kembali cerita pada Firman,
Firman yang telah kehilangan anak istri kalang kabut, bertanya pada tetangga, semua tetangga menjawab tak tahu.
Hari-hari sepi di kamar dilalui Firman dengan setumpuk penyesalan. Ingin kembali ke kota asalnya Manado jauh, uang tak punya, kawan malam dan night club telah ia tinggalkan semua.

Ia kini berubah, dalam sepi, tetiba hidayah masuk ke sanubarinya.
Firman yang penuh penyesalan dengan segala perbuatannya, selama ini yang ia perbuat kepada istri tersayangnya Laraswati.

Berbulan sudah Firman dilanda rindu akan anak dan istri,
pada suatu malam tiba-tiba, suara handphone berdering di samping tidurnya Firman. Dengan suara perlahan, serasa sayup-sayup jauh suara itu memanggil assalamualaikum abang Firman...?
apakah ini abang Firman ya?"
Spontan saja Firman kaget dadanya berdebar-debar serasa ia kenal dengan suara itu.
Ii...ii..i..iiyaa, aku Firman, siapa ini ya?
Aku Laras abang, aku sekarang ada di kampung Jogjakarta.
"Ooo... Laras, Laras sayang, gimana keadaan putri kita? Apa iya sehat-sehat saja kan?
Alhamdulillah abang, kami sehat saja di kampung Laras ini. Laras wanita yang santun dan cantik, pandai menyesuaikan suasana dengan percakapan lewat udara, seakan tak pernah terjadi apa-apa dalam hidupnya bersama Firman, suaminya selama ini ia tinggalkan, hingga ia kabur dari Jakarta ke kota kelahirannya Jogjakarta.

(Laras dengan penuh keyakinan mengatakan niatnya ingin jadi TKW)

"Abang... Laras mau jadi TKW ke Hongkong,
putri kita, kutitip sama mbahnya di rumah. Laras mungkin bulan depan sudah berada di Hongkong abang.

"Larass... dengarkan abang,
izinkan abang berbicara dulu sekejap.
Ya, apa abang" berbicaralah!"

Kenapa kau tinggalkan abang dik?"
abang sepi di kamar ini, di Jakarta ini.
Loh, bukannkah abang sudah puas dengan pergaulanmu dan kurang puaskah abang mendzalimiku hingga wajahku membiru, sampai kini masih ada bekasnya abang?!"
Bekas luka di hatiku masih sakit.

"Dik Laras... maafkan abang dik"
dalam suasana suara handphone tengah malam di daun telinga. Perdebatan emosi, dendam, rindu bercampur menjadi satu.

Cukup sudah abang!"
sandiwara gombalmu merayuku.
Aku tak banyak waktu menelponmu abang, hari sudah larut malam putri tidur nanti dia terbangun.
Laras hanya mohon pamit sama abang, dalam jedah lima tahun ke depan, Laras jadi TKW ke Hongkong.

Jangan Laras... jangan!!!"
dengan suara serak-serak basah menyimpan duka dan kecewa dalam konflik mahligai rumah tangga. Spontan saja, mengalir air mata mereka masing-masing.

"Laras... dengarkan suara abang ini!"
Abang sudah berubah dik, abang kini sudah insaf, abang ingin hidup bersamamu dan hidup bersama anak kita.
Coba pikirkan dik, abang di Jakarta pun sebatang kara, mau pulang ke Menado tak mungkin.
Abang ingin ke Jogja hidup damai bersamamu Laras.

Jangan abang, aku sudah memesan tiket pesawat tuk berangkat bersama bu-deku bulan depan, pasport pun sudah ada.
Carilah penggantiku abang!!

Tidak dik Laras!"
aku akan ke Jogja esok pagi, menemuimu dan anak kita.

"Jangan abang... jangan abang ke Jogja.

Dik Larasku sayang..."
Abang bertanya pada hati kecilmu dik? Masihkah kau mencintaiku?
sekiranya masih ada rasa cintamu untukku,
urungkan niatmu pergi ke Hongkong.

Dengan linangan air mata mereka berdua, bercakap-cakap
dalam kesunyian malam,
hati Laras akhirnya luluh
menerima Firman kembali.
Dengan nada suara sesungukkan Laras dan Firman saling maaf memaafkan,
Akhirnya Firman esok pagi langsung berangkat ke Jogjakarta menemui anak dan istri tercinta.
Laras pun mengurungkan niatnya jadi TKW ke Hongkong, dia batalkan semua rencana tuk merubah nasib dalam perantauan lima tahun ke depan.

Firman kini hidup bahagia bersama Laras dan keluarga kecilnya di kota Jogjakarta.
Jogjakarta kota budaya, ramah dan kota pendidikan.

Tamat

HR RoS
Jakarta, 16112016





BERLALULAH STRES
Karya Romy Sastra


Tak terpikirkan sesuatu kan terjadi
kekwatiran yang ditakutkan
perlahan-lahan menghampiri

Meski kaki tegar berdiri
bak ilalang di padang gersang
tetap saja bila di sulut api
dia akan membakari

Terik panas hujan menghadang
mahkotaku hanya berpayung angan
ketika terik membakar diri
tudungku seketika rasanya dihanguskan
bermandi peluh, pikiran kian rusuh

Kala guyuran menitis
payungku perlahan menipis
seketia itu juga habis
yang tersisa sedih

Pelita pagi, bersinarlah kau hari
biarkan kegelapan dunia berlalu pergi
hati yang gelisah ini
tenanglah kau kini
kan kusibak onak duri
menyeruak otak
semoga berlalulah kau stres!!

Menyingkirkan duri-duri itu
dengan puasa sunah hari ini
berharap jati diri kembali....

Puasa yuuukkk?"

HR RoS
Jakarta, 16-11-2015, 09,17




MALAM INI BISU
By Romy Sastra


Sendiri merengkuh sepi
damai bersama bayangan malam
dalam kelam, jauh di sudut hati
meluah rasa, melukis sunyi
sunyi dari kekasih.

Duuhh, malam ini
terasa sepi tanpa kau disisiku
aku gumam rindu
bersama dinginnya bayu
kau yang kurindu
jauh memandu angan.

Anganku menitip kidung resah
lewat diksi malam yang kian temaram
adakah kidung ini kau rasa.
Aaahh, entahlah....

Kucoba lelapkan diri
tuk menghalau bayangan semu
mata ini susah sekali terkatup
angan melayang tinggi
jauh beradu ke ruang bisu

Uuhhhh....

Tatapan ini semakin diam
memandang gumpalan malam
di dada langit
cakrawala menyibak awan
seakan gerimiskan hujan

Hujan,
kau titipkan kedinginan
yang tak berkesudahan di malam ini

Bertanya pada jam dinding yang berputar
tetap saja tak menemukan jawaban
yang tertinggal memori malam nan bisu
yang tersisa mimpi-mimpi semu
yang pergi tak kan kembali lagi....

HR RoS
Jakarta, 16-11-2015, 22,42




SEBATANG LINTING
Oleh Romy Sastra


Sebatang linting yang kuhirup
asyik mengusik kabut
di ruang yang berdebu

Jikalau aku mati
bukan karena asapmu
tapi karena ajalku

Lamunan terbang tinggi
hayalan berkoloni dalam memori
kurangkai diksi
jadikan berbagai syair-syair puisi

Asap, kau mainan dari penikmat
sahabat akrab
ketika lamunan berkawan angan
yang mengerti sepi ....

HR RoS.
Jkt 16112016




#RENUNGAN
PENGABDIAN ABADI
Oleh Romy Sastra


Kausalis takdir tercipta dari suratan azali dalam kitab lahulmahfuz.
Ia menguasai segala ruang dan mengatur segala tingkah kehidupan. Engkau Tuhan, pengabdian termegah terbaik terindah tersukses dan ter-segala-galanya.

Engkau mengabdi pada rahmat ciptaan-Mu, terhenti Engkau mengabdi, sekejap selesai yang ada menjadi tiada,
Engkau memuji Engkau Tuhan,
dalam bentuk keindahaan kesempurnaan ciptaan itu.

"Ya... Rabbi, sadar diri hamba ini.
Tak sadar diri pun hamba ini, Engkau tetap pengasih dan penyayang.
Engkau pun tetap mengabdi juga pada ciptaan-Mu sendiri.

"Ya Rabbi... ironis, kebodohan apa yang diambil bagi insan yang tak membuka hati nurani dan akal pikirannya, ataukah Setan apa yang menguasai jiwanya.
Hingga ia tak mengerti untuk apa ia diciptakan dan dihidupkan,
kalau ia tak membalas juga pengabdian-Mu
wahai hamba yang lalai.

Telah sempurnanya prediket insan kamil dititip-ciptakan dalam hidup manusia, tiada yang tersia-sia sedikitpun juga.
Ketika titah disampaikan kepada Malaikat-Nya, tutup segala amal di dunia ini, apabila El-maut menghampiri. Betapa penyesalan tak terukur hiba dan gelisah membuncah di ujung usia. Bekal apa kan dibawa dalam pengadilan abadi nantinya, aku pun juga terpana, tertanya. Adalah melainkan pengabdian amal ibadah untuk diri masing-masing kita, bukan untuk-Nya, akan tetapi untuk kita juga.

Sesungguhnya IA, tak butuh dari hasil pengabdian hamba-Nya, yang IA butuhkan adalah Aku ingin agar Aku itu dikenal, maka kenalilah Aku.

Pengabdian hamba-Nya itu adalah amal untuk hamba itu sendiri ....

Wallahu'alam, Wassalam.

HR RoS
Jakarta, 15112016




#Senryu
Kumpulan Senryu Romy Sastra


1
musim berganti
langit mendung kelabu
rembulan sedih

2
biola malam
tangisan kelaparan
nyanyian lara

3
melaju sukma
sajadah doa malam
bertasbih asyik

4
kembang setaman
sedih di batu nisan
mati kemaren

5
keras kepala
tiada gading tak retak
hidup sabarlah

6
Melompat batu
Budaya dari nias
Terjatuh sakit

7
Supermoon malam
pungguk resah merindu
fajar menyingsing

8
Jurnalis bungkam
Warta terpasung bisu
Kodok bernyanyi

HR RoS
Jakarta 15112016



MENGEJAR ASA YANG TERSISA
Karya Romy Sastra


Pada suatu langkah
terhenti dalam tanya
jalan mana kan kutempuh
arah itu,
semua membingungkan

Tertunduk merenungi diri
merengkuh pilar-pilar akal
mengadu jauh ke lubuk hati
bukakanlah ya Illahi
belenggu keputusasaan ini

Bertanya pada pasir berbisik
di sela langkah kaki
jejak yang menapak
jadikan perjalanan diri
sejarah yang berarti
menghalau bayang-bayang nan menghantui
dari sebuah kegagalan obsesi

Kini,
hari-hariku berkawan hina
dibalut tinta memadah luah
dimamah rasa semakin tersiksa

Uuuhh,
kucoba mengenali diri
dengan situasi yang berbeda
skenariokan tawa
memaksa untuk senyum mesra
terhadap sebuah asa yang tersisa

Asa yang berlalu
telah bias jauh meninggalkan jejakku
seringkali duduk berkawan hening
hening itu menemaniku di bilik duka

Kutitip luah rasa
berbait setengah puisi dan sajak lara
kepada pembaca yang terkisah
dimanapun berada
adakah nasib kita sama?"
entahlahh ....

Selamat petang merengkuh senja
berharap malam berpurnama
semoga cerita tintaku tersampaikan
di lingkaran setia sahabat maya
meski malam tak berpurnama ....

HR RoS
Jakarta,15112016




#sonian
MIMOSA PUDICA


#i
Putri malu ayu
Bunga idaman
Cantik molek
Pujaan

#ii
Mimosa pudica
Tumbuh alami
Mekar sore
Di taman

#iii
Ketika tersentuh
Tersipu malu
Ia tegar
Tak layu

#HR_RoS
Jakarta,17112016




DEBU-DEBU NIRMALA
Karya Romy Sastra


Bunga-bunga indah
bermekaran di kala senja
pada bintang malam
yang bertangkai di ranting cemara
dedaunan berbisik
melirik manik di lembayung yang mengintip.

Warna-warna jingga
kemilaunya pelangi itu
mengharu biru
kepada megahnya nirmala
Sunset merona ditingkah fajar

Nirmala suci tak bernoda
bak salju menumpang rindu
di atas bunga-bunga mekar dikala subuh

Nirmala debu beterbangan
melekat di setiap tempat
debu yang bermusyafir di setiap waktu
kau debu nirmala suci
menyentuhmu kusauk fitrah itu
bertayamum jejaki sajadah religi menumpang ke jalan realiti
di dalam jiwa ini

Bercinta merengkuh maha kekasih
rela berpeluh sendu
melingkari kasta-kasta hati nan bersih

Nirmala debu itu
berkoloni di singgasana hari
kala malam berotasi pagi
pagi berotasi senja
menengadah doa ke dalam Sukma

Berguru pada story kisah
setianya janji sang kekasih
mengikrar kasih seperti Romeo and Juliet
hidup dan mati bersama
berkawan setia dalam keniscayaan cinta.

HR RoS
Jkt,19112016




TERJAUH IA TERDEKAT
Oleh Romy Sastra


Duduk melipat lidah menyentuh langit
merenda rasa ke dalam jiwa
doa-doa bertarung di angkasa
berputar bermain bersama nebula
destinasi Tuhan perjalanan terjauh
padahal ia dekat sekali

Terbuka sembilan jendela rumah
nafsu-nafsu lepas mencari kesenangan
yang dicari tak jua menemukan jawaban
meski berkelana ke ujung dunia
yang ditemukan tetap kepalsuan

Menutup sembilan pintu diri
pada jejak-jejak wali
berpeluh mendaki makam keimanan
butiran zam-zam mengalir di segala pori
hidangan kalam jamuan asyik
menuju titik destinasi terjauh
yang dituju telah bertamu tak disadari

Kematian terindah senyum menatap cinta
meski El-maut datang menakutkan
tak gentar rubuhnya gunung thursina menimpa
tak ciut nyali meski gelap tertutup terik
sadar pada hayat sejati akan dijelang
rindu kematian adalah kwalitas iman

Sesungguhnya di dunia adalah tertidur
ketika terjaga nanti baru tahu destinasi

HR RoS
Jkt,18112016




DUKA PARIS SE UJUNG KUKU
Karya Romy Sastra



Pada satu keyakinan
setiap yang punya jiwa
ber-Tuhan
dalam satu tubuh anak Adam
memandu nafsu nafsu Syetan
hawa suci di kebiri
dari otak-otak hewan duniawi

Paris di guncang petasan, hanya petasan
satu dunia berempati berkoar
ketika Timur Tengah dijajah biadab
bom setiap hari menguncang kehidupan
ratusan ribu telah begelimpangan
seakan satu dunia tuli dan bisu.

"Uuhhhhh...
di mana keadilan itu??
adakah ini pertanda
risalah makna management
Illahi berbicara....
Ketika yang lemah dihancurkan
nan megah tak bersalah digulingkan
sang tokoh dunia kafir
berpesta seremonial
ia orasi tertawa kemenangan.

Duh,
kausalis alam berbicara dalam zaman
dalam setiap peradaban
sampai kehidupan selesai.

Lambang akidah bertumpu ke dada Ibrahim
para utusan risalah Tuhan
menyelaraskan akidah Illahi untuk alam
dari zaman ke zaman
sampai akhir zaman
yang beriman al mukminin bil ikhwan

Apalah yang kau inginkan
wahai kesombongan??
dunia dan hidup bak sebatang rokok
seketika akan padam.

Panji-panji aliran mengkultus doktrin
padahal doktrin kebenaran kalian
adalah kenistaan
seakan bertopeng paradigma kesucian.

Wahai penghuni bumi
kembalilah ke fitrah nurani
sucikan hati raihlah tuntunan Illahi.

Dalil-dalil sang utusan
janganlah di perdebatkan
berpeganglah ke dalam setiap bimbingan
para utusan-utusan itu
mengamanahkan
tentang ajaran kearifan alam dan budi
untuk sendi-sendi kehidupan.

Lawan Dajjal-Dajjal diri
pada nafsu yang bergayut
berkoloni dalam doktrin sesat
sesat menyesatkan.

Paris,
kau simpati itu
tragismu se ujung kuku
kau di cemooh dari negeri yang dihanguskan
dihancurkan oleh sekutu kemunafikan dunia
mereka mati satu tumbuh seribu
Turki berdarah, Syiria, Irak genosida, Ronghiya tak kalah parahnya
Afrika tertutup mata dari hiba
Palestina tertindas dari dulunya
seakan dunia masa bodo
ironisnya, negaraku tenang-tenang saja.

HR RoS
Jakarta, 18-11-2015, 11,20




Nahkoda Berlayar malaM
Oleh Romy Sastra


Koloni awan melaju
berarak ke arah pelayaran itu
siklus badai tiba menghadang
mendung mengusik hujan
hujankan samudera biru

Lentera menara sayup redup
samar di tengah samudera
kerlip suluh jauh nun di sana
lampu-lampu pijar malam
di balik layar phinisi
menambah indahnya malam di samudera
sagara tak ber ujung di hempas
gelombang tinggi

Anak sekoci tersusun rapi
perisai awak phinisi
ketika badai menenggelamkan pelayaran
sekoci perisai diri tumpuan keselamatan

Angan memandang jauh ke negeri tak bertuan
malam panjang menyeruak kelam
nahkoda bermadah diksi dalam angan
menyusun aksara sukma
bak penyair di mabuk panggung
dalam seremonial pesta

Nahkoda menulis mantera untuk sang kekasih
menuju perjalanan malam
ke negeri impian
meninggalkan tanah kelahiran
menuju pantai Semenanjung harapan

Dalam lintasan laut jiran
mengharungi rasa persahabatan
gita mesra bersatu dalam genggaman
harapan berharap menjadi pujaan
pujaan jadi kekasih

Sang phinisi berlabuh di dermaga sepi
nahkoda bertanya kepada sekoci
di manakah tali noktah itu kan kutemui?
sampai saat ini,
alamat itu belum terjumpa jua
pelayaran itu tertuang di kertas madah saja.

HR RoS
Jakarta, 18-11-2015, 00,17




Asa yang kian reduP
By Romy Sastra


pesona senja
perlahan redup
redup menikam kelam

pelita diri
kian temaram

asa berangsur pergi
perlahan padam
dihempas cabaran kehidupan

untaian hati
serasa telah mengurung mimpi
senyap bersama angan

oh, Tuhan
pintaku kali ini
jangan ambil nyawaku
sebelum tobat kulakukan

izinkan hamba merengkuh cinta
di malam indah bersama diri
beradu cumbu lena berselimut kekasih

Engkaulah kekasih itu ya Illahi....

HR RoS
Jkt, 23112016





MENCERNA AKSARA BISU
Karya Romy Sastra


ketika bisu berbicara dalam diam
berkomat kamit seakan bermantera
eja mengundang tanya
bisakah aksaranya itu dimaknai
bercanda ria tanpa melukai

seperti beo pandai mengolok kata
berkicau,
bertanya kepada tuan nan bijak
adakah doa-doa penjara emas ini untukku
biar aku lepas terbang ke alam luas

siburung merak berkotek ayam
terbang menikung ke semak belukar
mencari kedamaian dalam keterasingan
takdir kekinian dan nanti
adalah azali hak azasi Tuhan

berbelok arah dari pengembaraan
berjuang tuk sebuah tujuan
seakan bergelirya,
mencari sebuah keutuhan yang sempurna

sibisu diam seribu kata
mencerna hidup dengan pasrah
belajar berjuta aksara bersama alam
meski lelah tertatih tersisih dari bising
hidup mengalah sikapnya bijaksana
seakan filsafat hidup sudah di cerna

memanglah, berfikir itu
lebih baik daripada beribadah berpuluh-puluh tahun lamanya

HR RoS
Jkt, 23112016





BIAS-BIAS KISAH
Oleh Romy Sastra


Kukirim kabar pada angin malam
membawa pesan lembayung senja
tentang sebuah kisah stanza cinta
yang kurindu tak lagi menyapa
sepi sudah

Malam,
Sibakkan awan itu
biarkan sipungguk rindukan rembulan

Sunyi,
jangan menyulam mimpi
meski kerlip tak menari di dada langit

Resah,
semoga berlalu pergi
usah tingkah menjadi duri dalam kisah

Kuhantarkan kabar tentang rindu
pada sulaman kasih berpayet indah
yang terkasih tak terkisah dalam noktah
ia diam saja, gagal sudah....

HR RoS
Jkt, 22/11/2016





--- PIGURA RINDU SENJA ---
Oleh Romy Sastra


Relief-relief tinta melukis megah
sastra senja memadah rasa
teruntuk yang merindu pada seribu kisah
berpacu umur kian melaju kan merapuh
membuncah irama kasih
dalam kidung seruling bambu

Senja kian menepi senandungkan warna
menatap pelangi sunset menari
pelangi melingkari iklim reliefkan misteri
di antara mendung dan cahaya

Kearifan stalaktit stalakmit menari diam
istana alami dalam goa merayu bidadari
tersenyumnya lukisan alam
sang permaisuri senja bersolek
menitip kembang setaman
ditingkah gairah mistik perpaduan sandi
Dewa Dewi malam turun ke bumi
bermandi riang di bawah sinar rembulan
Malam nan indah pancarkan kerlip nebula
menggugah jiwa
persembahan kearifan kosmik nan sempurna

Pigura senja berlapis debu nirmala
menyentuhnya kalam kekasih
ber-aroma surgawi dalam nada-nada cinta
rindu nan meranum di atas sajadah senja
para pencinta mencumbui maha cinta....

HR RoS
Jkt, 22/11/2016





BINTANGKU REDUP
KARYANYA ABADI
By Romy Sastra


Di sini di tanah nan berdebu
kuberdiri sekejap
hayalkan memori dua dekade berlalu
kisah,
pada suatu era,
satu kembang berputik mewangi
tetiba dikau gugur
semestinya mekarmu bertahan lama
simpatiku berbuah kagum sekejap malang
kala itu,
daun-daun muda berduka
secepat itu kau kembali keharibaanNya
tragis kecelakaan diperjalanan misteri sulit terjawab
kenapa bunga idola gugur
meninggalkan seribu tanya tak terungkap
hingga namamu tertulis di batu nisan
bersama Honda D 27 AK
Aahh, membuka peti kenangan
sia-sia melukis malam harap berbintang
kenangan tertutup kabut pekat
kau bunga
telah lelap berselimut kain kafan
Ciamis dan Bandung, aku datang ke kotamu
dalam perjalanan malam
memanjatkan doa tuk bunga itu
semoga kau tenang dipangkuanNya

HR RoS
Ciamis, 21/112106, 00:26





#SONIKU 4433
LEMBAYUNG SENJA
Karya Romy Sastra


senja telah tiba
riak menari
di telaga
bayangan

lembayung menggoda
terpana indah
pada tirta
berwudhu

gelap menyapa
di keheningan malam
merindu bulan

siklus berganti
hujan berlalu pergi
musim bersemi

HR RoS
Jkt, 23112016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar