RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 13 Desember 2016

Kumpulan Puisi HR.RoS - ISAK DI UJUNG MALAM


ISAK DI UJUNG MALAM
Oleh Romy Sastra


Berkawan sunyi, diam merenungi perjalanan hidup,
perjalanan ini hampir sampai di penghujung jalan
dalam hening menghitung noda, terbuncah pada pundak yang tak pernah amanah,
seribu sujud tundukkan kepala batu,
berharap dosa-dosa berguguran.

Berjuta zikir kulabuhkan pada hitungan jari
mencari dan mencari titik temu penyesalan diri,
di mana telaga suci haribaan,
'tuk kusauk menyirami dekil nan bernoda di sepanjang hari.

Tertatih memetik kembang kerlip
nan tumbuh di sanubari, sebelum jasad berlabuh di dermaga asmara kasih ayah bunda.
Malam ini terasa singkat kulayari, samudera kian jauh membentang,
kerlip malam nan indah di ruang jiwa tak jua menyapa. Adakah itu tanda-tanda umur kian menepi di lingga yoni diri.

Aahh, bercucuran air pancuran di sela pipi, telaga diri basahkan rasa. Sesal membaju malu padamu ya Rabbi, isak tangis di ujung malam
tak mendapat tempat dalam genggaman-Mu Tuhan, fajar mulai menyingsing, embun merayap di dedaunan, ratapan sesal mengikis dosa tak kuakhiri, sebelum Engkau ya Illahi menerima taubatku.

Air mata ini berlinang, hamba yakin. Engkau kekasih tersayang, tersenyum menatap isak penyesalan dosa menutup hati hamba.
Rahmat- ampuanan-Mu nan agung, melebihi besarnya dari dunia dan segala isi serta arasy.

Engkau ya Rabb, labuhan terindah hidup dan matiku, jangan cabut nyawa ini sebelum ampunan Engkau berikan
taubat hamba pada-Mu terimalah
ampunan itu
serahkan....

HR RoS
Jakarta, 7122016





NEGERI DAGELAN
DI PENTAS DEMOKRASI
By Romy Sastra


Orasi janji dagelan mimpi
merasa diri para putera puteri terbaik bangsa
pembawa risalah tirani kejayaan sang tetuah
padahal monster-monster pemakan darah
pengisap sumber daya alam tak bermaruah.

Bak kereta api melaju tanpa hambatan
cerobong asap membubung tinggi jauh ke balik awan
asap lenyap seakan tak berpolusi.

Rel itu lurus
sistem sudah maksimal
tapi kenapa sang masinis kereta seakan dungu di kursi goyang
seperti tak tahu rambu-rambu
kereta bangsa ini kan anjlok
menghantam kelangsungan
kehidupan rakyatnya.

Kehidupan rakyatnya kini
sudah lelah, lapar, gundah
dihantui ketakutan masa depan
lihatlah di sudut-sudut kampung itu
derita telah berurai sebak duka
tak tertengok sedikit jua oleh masinis kereta bangsa
hasil keringatnya tak berharga nilai jual lagi,
mereka bertahan dengan cara alami tak korupsi.

Masa berganti
semusim telah terlewati
periode kantong baju safari
bergelimang materi
dari intrik-intrik hipokrit birokrasi.

Kuda Sembrani berlari kencang
arungi perjalanan malam
mencari padang bulan di tengah kelam
sijoki asyik melirik mendengarkan jangkrik bernyanyi
di keramaian malam
simponi nada luka tak dihiraukan
hingga sijoki tertanya dalam lelah kebingungan,
lembah apa ini?
damai tapi gersang.

Tanah negeri subur
pagi bibit ditanam sore dipetik berbuah ranum, tapi kenapa buah dicicipi hasilnya tak melepaskan dahaga.

Yang bersafari mewah duduk di meja kaca
perutmu telah buncit kekenyangan
bersandar di sofa empuk
tak ingatkah orasi janjimu dulu
kontrak politik kau gadang-gadangkan
demi kemajuan negeri impian
kau buat rakyat terlelap dalam mimpi semalam.
Wahai para bedebah
kini kau berpesta pora
mmmm...
tetap janjimu bak manusia setengah dewa
ternyata bualan saja.

Orasi memukau sukma pendukung
hingga dipercaya saja
kami sokong engkau ke tempat terpuji
nyatanya kami dikibuli, alamak, Jera....

Uuuhhhh...
tetap saja kalau sudah berjaya
manusia yang setengah dewa itu kongkalingkong berebut jatah papa berebut saham, intrik sitikus kian rakus.

Dalam negeri nan berkenduri dagelan
pesta demokrasi semusim telah berjalan
bedebah semakin euoporia dengan jamuan mewah
simiskin tetap saja susah.

Bambu runcing masih berdarah
di tiang-tiang bendera
oleh para pahlawan itu
masih segar dalam sejarah.

Menangis jiwa para pejuang
di nisan tua
mengenang nasib bangsa
ketika terjajah kolonial
kolonial itu,
adalah putera puteri bangsanya sendiri
tanah bunda di tangan para bedebah
semakin menggila....

HR RoS
Jakarta, 7-12-2015. 10,38





RINAI MEMBULIR LARA
Karya Romy Sastra


berselimut malam dalam hujan
sendiri berdiri menatap awan
lorong malam pelita jalanan
redalah,
wahai air mata langit

cukup sudah bulir-bulir menitis
jangan tambah lagi dinginmu

hujan malam,
izinkan kunang-kunang
menyongsong kelam
biar pelita bertaburan

oh, angan
belajar diri menyibak sebak
temukan jejak optimis
kibaskan pesimis
biar fatalis tak menyentuh jerih

brtanya dalam tengadah
ya Allah
kapankah derita ini kan berakhir

telah kupacu potensi diri
'tuk meraih obsesi
demi sebuah impian
tetap impian itu tak terkejar
karena malam kian kelam

satu asa tersisih
tersisa optimis merengkuh fajar
embun menyingsing pagi
malam berlalu

HR RoS
Jakarta, 6





BERCUMBU BERSAMA SENJA
Karya Romy Sastra


pada senja nan gerimis
melukis rintik di balik awan
kulukis syair manis gemulaikan jemari
larik cantik tak bertujuan
hentikan sejenak hayalan kosong
senja kian temaram
kulipat saja kertas memori
menempuh malam kerlip
basuh seraut wajah
kan kudaki jalan-jalan haribaan
memandu iman

bercumbu bersama senja
buka jendela langit
petikkan kembang jiwa
kilauan manik manikam kalbu
terpana sesaat di atas sajadah biru

menatap sagara tak bertepi
bercumbu rindu memeluk sukmaku
berbisik komat-kamit
mencari wajah kekasih
sang kekasih itu
ya Illahi Rabbi

HR RoS
Jkt, 6122016
122016





RINDU YANG TAK KEMBALI
By Romy Sastra


Untukmu kenangan yang terlupakan, senandung rindu merayu kisah yang pernah bersemi, telah padam, lembaran usang berharap jadi bahagia, menggoda rindu kembali. Pernah sesaat berkasih sayang di tengah jalan kisah terkhianati berbuah kecewa. Di peraduan sajak senja merona, kugubah nama sesuatu pernah kunyanyikan di pentas kekasih, singgah di hati sang kekasih yang tersisih.

Di jalan memori kuberdiri, hayal menatap sekelabat bayangan abstrak, tetiba pergi meninggalkan tanya, adakah pertanda rindu masa silam kembali lagi. Aahh, paranoid, kenapa tak pernah hilang? Ilusi kisah yang menyedihkan pada suatu pilihan di persimpangan jalan, meninggalkan kepedihan luka tak berdarah tentang cinta setengah hati terbagi antara harap emas dan suasa.

Risau mendera menatap kisah terkubur dalam peti terkunci mati, rindu di antara rasa menyapa pada lamunan sunyi terasa semu disemai sepoi mamiri, rindu ternyata tak kembali.

Pada kekasih yang dulu terjalin janji tuk menoktah ikrar hati sampai bersemi hingga ke nisan tanah merah, jejak-jejak tinta kususuri tak lagi tampak jalan tuk mencari rupa cinta, karena tertutup kabus pekat di dinding kebisuan. Rindunya pun tak pernah beri kabar lagi, apakah ia telah pulang selama-lamanya menghadap Illahi, ataukah sudah bahagia bersama kehidupan yang diimpikan pada kilauan emas, mencampakkan suasa tak berharga.

"Aahh... biarlah rindu tak kembali
jikalau harap terperap berbuah senap,
sengaja jalan memori kubuka dalam lamunan tiba-tiba.
Bahwa satu hati pernah kecewa, meski pintu maaf selalu diberi
tak jua menjadi penyelesaian konflik-konflik perasaan pernah terjadi.

Testimoni potret kisah nan lara
jadi sinopsis kecewa....

HR RoS
Jkt, 4122016





{{ RINDU BERLALU }}
Oleh Romy Sastra


Menempuh satu kisah perjalanan
dalam dekade rindu dilewati
mengenalmu,
tak seperti jalan biasa
yang pernah dilalui.

Jalan itu kini,
terkikis arus bulir bening
mencair menitis di pipi
sampai saat ini,
tak mengerti makna sebuah rindu.
Kuakui,
persembahanku memang tak sempurna
menjaga maruah langit
langit rasa diri
yang selalu menyesak rongga dada.

Pada setangkai bunga layu
telapak tangan rela membiarkan kepergian kisah
berlalulah!
Jika memang kan berlalu
pusarakanlah rindu-rindu itu
ke dalam senyap
sampai ke ujung waktu.

Doaku spesial untukmu
berbahagialah dikau bersama impian
ku-tersenyum menyulam sunyi tuk melupakanmu
meski kutahu,
kau yang selalu mengintip rindu
di balik jemari kasih.

Rindu-rindu yang terdampar kekinian
dalam lorong-lorong waktu
tak berpenghuni
sepi,
biarlah sepi.

Dalam dekade rindu nan berlalu
memori rindu telah bisu
menghargai pilihan takdir
memanglah,
tak mungkin kertas membungkus api.

HR RoS
Jakarta,4122016





AKU DAN PUISI
Karya Romy Sastra


Kepingan retak pecahan kaca berserak
lirik rupa diri sebatas seni
pigura menarik di bingkai
meski gambar tak cantik.

Langkah tinta tertatih
menyentuh daun usang layu
larik seakan sulit dimengerti
belajar diksi bersolek syair
pada kertas nan lusuh.

Memadah rasa,
bukanlah sebagai penulis ulung
torehan tinta seakan gombalis
eja diri bercerita dalam kaca maya
bukanlah memadah rayu
melainkan,
irama sukma nan mendayu.

Kau objek itu, imaji"
bukanlah bayangan semu
realita suratku,
bertaut dalam bingkai hati
berdirilah!
sebagai penonton yang syahdu.

Kau dan aku
berkoloni,
dalam kearifan cinta seni puisi
ku-ingin,
pahamilah bingkai cerita
semestinya,
berbahagialah kita hendaknya.

Puisiku,
adalah aksara diksi bisu saja
dengan tinta menitip rasa
pada lembaran memori
bak alunan gending mendayu
melenakan kepekaan kalbu,
di beranda muka buku.

Kularung sastra pagi hingga senja
melukis pelangi berdinding hari
selagi kehidupan berselimut di badan
puisi adalah poetic Illahi.

HR RoS
Jakarta, 4122016





AKSI JIHAD NAN DAMAI
Oleh Romy Sastra


Tongkat iman menjulang tinggi
tiang pancang ihsan menuju arasy
doa-doa bertarung di langit
komando di pimpin nurani
menuju medan tempur
memerangi bratayuda
dari nafsu-nafsu angkara murka.

Langit cerah Jibril tersenyum
mencurahkan tetesan telaga surga
bukan rinai kutukkan
tapi rahmat menyejukkan
Jakarta berjihad menitipkan doa
berdamai bersama-sama.

Konsep tauhid
dalam bhinneka tunggal ika
malaikat-malaikat memandu bersayap putih-putih
antara tugu monas
seirama nuansa alam Masjidil haram
megahnya panji-panji akidah
para hipokrit malu menutup muka.

Jakarta berbenah
ukhuwah ikon demokrasi islami
Rasulullah demokrasi sejati
demi semua umat di muka bumi ini.

HR RoS
Jakarta, 3122106
#moment_212





TEGAR DAN PASRAH
Karya Romy Sastra


Gerimis malam
menyisakan embun pagi
basuh wajah lusuh
seuntai syair resah
bertanya?
adakah kasihmu,
masih bernoktah cinta.

Di jendela hati hayal menari
tinta rasa menulis di atas kertas putih
memadah tanya resah pasrah.

Embun pagi nan rela,
bias ditiup bayu
kembang cantik di taman cinta
layu sudah.

Jika bunga tak lagi berputik
tak sanggup melawan virus benalu
yang selalu membunuh
kesuburan pohon rindu
gugurlah!"

Pucuk-pucuk pinus berembus
di lembah jiwa nan rakus
ilalang kaku tak dapat berteduh
gagak tua,
berkoar mencari mangsa
menceracau bak siulan dungu
mengundang hadirnya sesuatu.

Bayu rayu pesona debu
menggoda kepalsuan
dari balik intrik cinta
tanah-tanah tandus
berserakkan ranting yang telah patah.

Daun-daun akhirnya gugur
berjatuhan di bakar terik
dalam kepanasan kehujanan
tetap siburung gagak bertengger mengintai mangsa yang semakin teruk.

Pasrah,
meski bermandi luka
berpegang getir di tali nan rapuh
dalam doa panjatkan secercah asa
selagi pelita tak padam dalam keputus-asaan
tegar meskipun lelah....

HR RoS
Jakarta, 3122106





#prosais
SENANDUNG DI LERENG LAWU
By Romy Sastra


Berdiri di sini
di bumi kelahiran
tumpah darahku
lereng Lawu selatan kuto Ngawi
Lawu menyimpan banyak cerita misteri.

Di padang ilalang gersang
menatap jauh ke samudera biru
langit cerah berkoloni awan putih
menengadah dalam kearibaan doa.

Oohh, ayah bunda
ananda di sini berdiri
menitip rindu.

Tujuh belas tahun di tinggal di desa
di lereng gunung Lawu ini
jarang sekali bermanja bersamamu
oohh,
ayah bundaku.
Ananda ingin dibelai
layaknya remaja yang lain tumbuh dewasa.

Dalam doa menitip cinta
berbahagialah engkau di sana
bersama bunda.

Ayah,
pulanglah raya nanti
kita bercerita lagi di sini
kala senja berdua
bercerita tentang negeri di atas awan
menatap sunset di balik pinus-pinus muda
bianglala tenggelam menyapa malam
di lereng Lawu bersenandung rindu
tentang indahnya dunia ini
dalam nasehat-nasehatmu ayah.

Tutur pitatah patitih menggugah jiwa
tak terasa ceritamu menitiskan air mata
ingin kudekap selimut malam bersama
yang terasa hanya bayangan
gelisahku membuncah
pada langit-langit rumah.

Ayah,
kembalilah ke desa ketika masa tiba
kita berlari di lereng ini kembali
ceritakan tentang kearifan jiwa
mengisi dunia kedewasaan diri
tirani yang berbenah dan berbudi
aku tegar berdiri, meski tanpa hari-harimu
hanya dari didikan itu
aku mengerti makna hidup
bersamamu ayah, tiada duanya.

Ananda menitip cinta dalam puisi
dengan secarik larik menyapa dalam seni.

Prosais bersama ananda,
Iqbal Al Javpad.

HR RoS
Dari Jakarta, 1122106





GETAR-GETAR BERMADAH
Karya Romy Sastra


rasa hiba berduka tiba-tiba
hayalan resah melambung tinggi
tak bisa kupusarakan
tinta sastra ini

rehat tak lena
jiwak gelisah membuncah
bibir bergetar meluah sesuatu
dalam bisu

bercerita sendiri
tentang testimoni memori
akankah
tinta obsesi ini
semakin jauh ketinggalan kereta
entahlah,
kucoba menulis kembali
mengejar mimpi-mimpi ilusi
ilusi nan selalu berbisik
terpanggil jiwa sastra diri
memadah bayangan sukma

kala malam berselimut kelam
malam ini
menitis air mata langit

di balik jendela sastra
membulir hujan kasih
berkoloni purnama

ada apakah gerangan malam ini
dalam hujan berembulan

aahhh, entahlah

HR RoS
Jkt, 1122016





#Satrise
MELUPAKAN SESAAT
Karya Romy Sastra


Lelah mengiringi kepatutan
beban tersulit tetap dijalankan.

"Oohh..., Tuan"
Tunduk menjalankan perintah
meski tubuh tersiksa pedih
terhina dicambuk dicaci maki.

Rehat melupakan resah sesaat
ketika bimbang dan ragu
di ambang keputus-asaan
sikap yang ditempuh adalah mengumpat
berdiam tak ingin melawan.

Dunia ini kejam,
tapi lebih kejam hardik Tuan
hahahahaa... nasib Monyet.

HR RoS
Jkt, 30112016





CINDAI NAN ELOK
By Romy Sastra


Burung Jelantik cantik bercicit riang
berenang di atas cawan dalam sangkar Tuan.

Cindai-cindai nan elok
selendang bersulam payet manis
jemari lentik
melenggok tarian sapin Melayu.

Kenduri
bertilam manik benang emas
pelaminan eksotis
di hiasi kembang idaman
beradu tatapan bersama Tuan.

Tudung songket
melingkari panggul-panggul penari
rentak panggung berputar melingkar
berjoget riang berdendang
seakan mabuk kepayang.

Dalam dekapan rindu
kenduri satu malam
bak bidadari memadu kasih
Dalam semusim purnama.

Cindai tarian kenduri budaya lama
storykan kejayaan tatapan sejiran
berjaya dalam seniman
sebuah peradaban yang dibanggakan.

Satu jiwa
satu hati
satu rasa.

Berpadu
dalam kearifan madah-madah cinta.

HR RoS
Jakarta, 30112016





PERGI UNTUK KEMBALI
Oleh Romy Sastra


semusim kau pergi
kembalilah
aku kan setia menanti
tunas-tunas tlah berputik
yang dinanti tak kunjung datang
pasrah sudah kini
jika kepergian tak ingin kembali
lena diri dalam lelah
biarlah

rasa diri,
sunyi bersama malam berkawan angan
diam di kesendirian kelam
menyeru rindu tak lagi bertamu
rembulan telah berlalu
hilang di balik awan

putri malam,
berlalulah sejauh mungkin
jika awan hitam tak mampu kau sibak
tak mungkin tatapan mengejar jejak malammu

bila semusim kau kan pergi
pergilah tuk kembali lagi
aku tetap menunggu di ruang rindu
selamat malam kesunyian
selamat pagi kehidupan
ceria bersama mentari nan cerah
bahagia memetik gita menempuh senja

HR RoS
Jkt, 30112016





#Prosais_Religi
MAHABBAH MAHA KEKASIH
Karya Romy Sastra


Berdiri dengan sendirinya, Qadim puji alal Qadim Tuhan maha pencipta, pengasih dan penyayang. Azali sifat dzat mentitah kalam ciptakan kekasih Muhammad.

Ketika kalam mencipta bersabda pada kosong, Nur Qun Hu Dzullah.
berdiri tirani Dzat bermegah pada sumber Lil alamin, wal awallu wal akhiru.
Cahaya Nurbuwat Muhammad, hikmah kejadian untuk para utusan.

Kemilau pada kosong terang benderang hadir bersamaan, terbuncah indah mendaki ke gunung thursina, asholatu daimullah tajalallah, mautu qoblal antal mautu.

Muhammad menitiskan nuktah, tercipta empat sahabat setia Jibril Mikail Israil Israfil. Alamat berdirinya anasir penguasa bumi angin air api, cikal bakal anazir Adam tercipta sebagai insan kamil.

Diri,
hikmah mahabbah maha kekasih,
tertuang dalam ruang goa garbah bunda, terkisah dalam buah cinta asmaradana. Berkoloni jadi embrio karya maha Rabbani Illahi
bersatu Dzat sifat asma af'al.

Sijabang berselimut di dinding rahim nan lembut melebihi sehalus seribu sutera, meminum tetesan telaga hayat dalam pujian Ya Hu, hidup memuji berdenyut di segala nadi.

Tuhan bermegah pada ciptaan menyentuh di segala ruh memuji keagungan sendiri, bersabda: Akulah Tuhanmu, ya hambaKu.
Kuciptakan engkau, Aku ingin dikenal, maka kenalilah Aku.

HR RoS
Jkt, 29112016





#soniku_sonian_sonet_haiku 4433
EMBUN RINDU


bunga ungu mekar
segar merindu
basah sudah
kukecup

kelopak asmara
menyentuh sukma
terkesima
nikmatnya

pagi gerimis
daun-daun gembira
alhamdulillah

siklus berganti
musim hujan berlalu
bersemi indah

HR RoS
Jakarta, 29112016





SALAM SENJA DARI JAKARTA
By Romy Sastra


merengkuh senja
dalam rindu-rindu yang sendu
tentang kisah yang dulu telah beku

awan hitam berlalu pergi
menutup dada langit
koloni hitam pecah jadi putih
menitip pesan pada hujan
rinduku masih seperti yang dulu

sisa-sisa air mata langit
menyisakan embun di dedaunan
melukis jingga
di kedamaian suasana senja hari

senja kian temaram
membawa rasa
bersatu memandu iman
bersenandung bersama putri malam

ku-intip,

kusapa

cinta

kasih

sayang

rindu

salam senja dari Jakarta
tuk sahabat semua...

dalam bingkai
salam satu hati, satu jiwa
di mana saja berada
kupuisikan rinduku untukmu di sana....

HR RoS
Jkt, 29112016





SETIA BERSEMBUNYI
By Romy Sastra


Deru debu bergemuruh
luruh dihempas bayu
butir-butir pasir berbisik
gemercik di langkah sang musyafir
jejak-jejak itu
bias disapu ambai-ambai pantai
tak meninggalkan benci

Camar,
kenapa dikau
bersembunyi di balik nyiur
beribu tanya memamah rasa
kapankah,
pesta pantai kan berakhir indah
tak menggerus kearifan biota alam
biarkan permai menari sepanjang zaman.

Teduhan nyiur di pantai
sepasang camar membelai kasih
menoktah cinta memandu ikrar setia
sepanjang hidupnya.

Setia riak dan gelombang
sama-sama berbuai menggulung kasih sayang
hingga menyisih ke tepi bibir pantai berbuih
dinanti nyanyian serunai pasir putih
desiran angin saksi kisahkan sunyi
berkoloni setia meski ia tak bermakna.

Berkaca pada Romeo dan Juliet
mati bersama dalam samudera cinta
setianya menjadi simpul
jalinan asmara kawula muda
dalam kicauan riak kasta
pesta dunia nan bermegah....

HR RoS
Jkt, 2811206





BUNGA NAN LAYU
Karya Romy Sastra


Di musim hujan tanah kerontang
daun-daun kering berguguran
berharap kelopak mekar berputik tak jadi
bunga impian jatuh bertaburan

Dahan tegar tak sempat menitip pesan
pada ranting berbuah sayang
genggaman gagal di tengah jalan
layu sebelum berkembang
yang tersisa lembaran usang
masih tergenggam kini

Cita-cita padam bersama angan
kucoba berdamai dengan resah
di dermaga lamunan diri
memahami lika-liku jalan azali
sedari dulu sampai akhir hayat nanti
meski lelah berpayah pada gita
layulah bunga tak tersesali
rela hati menyulam sepi
bias ke dalam mimpi

HR RoS
Jkt, 25/11/2016





ANGANKU BIAS
By Romy Sastra


Menyulam perca jadikan selimut cinta
renda-renda berpayet asmara
kembang tirai menjuntai jatuh ke lantai
angan ingin bias di telan hujan angin
langit bayangan kian teruk
menambah kelamnya harapan.

Pada masa huru hara angin
nan tak bersahabat,
remuk redam untaian kasih menikam malu
bukan tak kokoh berdiri di tebing cabaran,
dari pada gamang,
lebih baik berbalik arah
menatap kehidupan yang pasti
menata realita ke ujung nyawa.

Oohh,
pada ejaan tersurat di lembaran memori,
tak menjadi serat asmaradana kasih
langit berkabut,
bulan malu,
bintang pun enggan,
kerlipkan manik manikam malam.

Oh awan yang berarak,
sampaikan rasa rindu nan bisu pada hujan,
menyirami noktah kasih yang tersisih
noktah hati tak kesampaian
meski tali layang-layang masih kupegang
rindu-rindu masih menari sendu.

Senandung kisah mengalun merdu
dengan gesekkan biola tua,
senja kian menepi ke bibir malam
nyanyian camar iringi gemuruh
riak gelombang menghadang.

Berdiri menatap sunyi
di bibir pantai hayalan,
terlelap menikmati megahnya ciptaan.
Sadar akan takdir kekinian telah di tangan
kusulam saja tirai kenyataan,
meski benang-benangnya tak berwarna
tak berenda megah....

HR RoS
Jkt, 27112016





#Puisi_Prosais
AKU TAK SEHINA YANG KAU DUGA
Karya Romy Sastra


Ku-akui
kau sangat berarti
yang kutimang-timang dalam hayalan
berbuah sayang
kusadari,
diriku tak pantas kau cintai.

Meski terperap dalam harap
ingin damai bersama kekasih.

Duh, cinta.
Tak seindah yang kubayangkan
cabaranku terkikis oleh keraguanmu
aku sang kelana tinta
sadar,
hanya bermajas-majas duka.

Tintaku adalah sang musyafir syair jiwa
berkongsi ke alam maya sebagai seniman yang ketinggalan kereta.

Goresanku bukan tebar pesona kepada bunga-bunga nan indah
Ia melukis kongsi
dalam bingkai satu dunia satu jiwa
berkoloni dalam ukhuwah manusiawi
membuat peradaban sejarah tinta
dalam hidupku,
meski tak berkesan dan bias di telan mimpi.

Berharap,
setia hati memahami seni
tak melukis kontradiksi
pahamilah sebuah luah sastraku
dalam kearifan budi yang bersahaja.

Presepsi hati,
jiwaku bermartabat walau selalu tersekat
oleh dungunya penjabaran
tak sempurna memahami makraj
aku tak sehina yang kau duga
hidupku bermaruah
genggamanku erat melekat
meski genggamanku,
bak batu karang yang selalu dihadang amuk gelombang
ia juga bisa lebur oleh deburan.

Kasih,
aku memang tak sempurna
memanah noktah cinta pada kesetian janji
berkaca diri dengan rasa
aku bukanlah pemimpi banyak hati.

Aku kan selalu tegar berdiri,
dalam batas-batas jejak langkah
yang akan menggelincirkan realita
tak ingin tergerus oleh badai
tak hancur digulung ombak
selagi langkah kakiku dipahami
seni rasa tintaku dimengerti
setiaku tetap pada maruah janji
walau takdir itu ditelan mimpi.

Meski kupasrah dijajah
tapi aku tak rela kesetiaanku di hina
biarlah sedih.

Hari-hari kosongku bersenandung sastra
untuk mengisi lembaran putih
jadikan memori
meluah obsesi yang telah jauh pergi meninggalkanku.

Kini,
kucoba merajut sepi larut ke dalam mimpi

berkelana dengan rasa

berkawan dengan tinta

hidup dengan realita

berkasih dengan satu hati

bercinta sampai mati
berdua saja dengannya
biaslah impian tak pasti
yang hanya mainan mimpi....

HR RoS
Jakarta, 26-11-2015,





ASEAN IMPOTEN
Oleh Romy Sastra


Forum persatuan perdamaian Asean
tentang rasa kemanusiaan
tuk Rohingya impoten
label organisasi bagai seremonial saja
jika bencong dan banci
masih berjuang tuk hidup bernyanyi
tentang budaya cantik dan eksotic dalam lagu
Asean pengecut tak berkuku, uuhh malu.

Alasan klasik dibuat dalam konfrensi
tak intervensi internal sebuah negeri
seperti tergigit lidah
di mana tanggung jawab sosial dan kemanusian itu,
kau beri label serumpun
dalam wadah kebersamaan solusi bertetangga
demi kemaslahatan umat
berbagai agama dalam suatu bangsa
kau seakan tak berdaya
hak azasi manusia
dikebiri oleh penguasa Iblis.

Pemerintah Myanmar
sahabat Asean tak berbudi
ironis,
diplomasi negara yang bersahaja loyo
nyaris tak ada solusi jitu
seperti gigi ompong tak bertaring
malu-malu kucing penakut
hanya mampu mengintip tikus di lobang semut

Aku tak percaya Asean kini
nyatanya, genosida suatu kaum dibiarkan begitu saja.

Asean tak bertaring impoten sudah
seperti bencong alias banci kaleng
di tengah keramaian kota.

Save Rohingya.

HR RoS
Jakarta, 28112016





#Anekdot
PETANI DAN BURUNG PIPIT
By Romy Sastra


"Pada suatu pagi...
para petani desa, bersenda gurau di kedai kopi.

Selepas sarapan pagi itu, terjadilah dialog aktivitas sehari-hari di antara mereka
tentang kehidupan aspek kampung yang serba pahit dan sulit.

Salah seorang petani mengajak kawannya untuk bangkit dari tempat duduk di kedai itu.

"Ia berseru..."
kita ke sawah yuk?
sahut pak tani, ke kawannya yang di sebelahnya.

"Kawannya itu menjawab...
malas ah, sahutnya.

"Kenapa emangnya...?"
pak tani itu balik bertanya.

Kawannya tadi memberikan alasan yang sangat di plomatis.

"Oohh... pak tani, kalau kita jadi petani.
Sudah pupuk mahal
obat padi harganya selangit,
mirisnya lagi, sering gagal panen.

Ketika panen juga nantinya,
harga padi dan beras di beli murah sama pengusaha tengkulak.
Parahnya lagi, beras juga di impor dari luar negeri menyaingi harga pasaran dari petani.
Kalau tidak di jual padi dan beras itu, nanti tak bisa menutup hutang biaya usaha pertanian. "Uuhh, deliknya sikawan itu.

Pak petani itu balas menjawab;
ya?"
kau banyak teori nampaknya kawan
alasanmu saja kau tak mau berusaha
dasar rakyat pemalas kau ini.
Coba kamu pikir, kalau tak ke sawah kita-kita ini"
tak lagi bertani, mau makan apa kau dan keluargamu nanti?

Kawan itu bergumam lirih,
"Uuhh... dasar kau tak paham program pemerintah selama ini pak tani,
yaa, pak tani.

"Tahu gak kau pak tani...?
Program pak Menteri sekarang ini impor beras dari Thailand.
Beras di beli murah di jual mahal. Beras dalam negeri harganya di politisi. Deliknya, persiapan beras dalam negeri tak mencukupi.
Padahal negeri ini surplus lumbung hasil tani....

***

Sang tengkulak pecundang berkilah dari sudut kedai itu. "Uuhhh..."
debat tingkat rakyat sok pintar.

Hehem,
termasuk si penulis anekdot ini. Alamak, gue juga termakan tulisan sendiri.

Coba pikir baik-baik kata si tengkulak.
Kalau kau tak ke sawah...?!"
paceklik kemiskinan akan semakin pahit, kehidupan ini kian menjerit
pemerintah akan semakin terjepit.

"Ah... kata si petani,
dasar kau tengkulak.
Kau tahu cari untung saja sebagai pedagang. Sebenarnya, kaulah biang kerok semua masalah harga selama ini.

"Uhh, enak saja kau berkata jawab tengkulak.
Aku hanya pembeli dan penjual saja, hanya jembatan antara kau dan pemerintah,
wajarlah aku dapat keuntungan.

Pagi itu sudah beranjak pergi,
tak terasa matahari sudah mulai meninggi.
Debat para petani itu tak kunjung jua selesai.

Pipit, siburung sawah mengintip debat petani di kedai kopi,
dari ranting pohon di kebun yang tak berapa jauh dari kedai itu.
Siburung pipit mencicit lirih, miris, seakan berbisik dalam cicitnya. Berharap sedih mendukung petani,
ke sawahlah pak tani...! harapnya.

Aku si-Pipit ini, sama halnya dengan simungil kalian di rumah yang lagi doyan makan.
Jangan kau hiraukan birokrasi di atas.
Optimislah ke sawah!
tataplah selalu mentari pagi itu
di sanalah kehidupan.

Aku sipipit sawah
sipencuri biji padi yang menguning, menumpang hidup dengan petani. Ia adalah kearifan Tuhan yang disediakan untuk kehidupan, saling menjaga dan melengkapi. Hehem, rayunya si-Pipit kecil.

Aku sama halnya dengan siburung Hantu yang di sana"
dan siburung Hantu itu jauh lebih berbahaya lagi, satu lumbung negara dimangsanya.
parahnya lagi,
bahkan lumbung pun dijualnya....

HR RoS
Jakarta,29-11-2015, 08,05





LENTERA DUNIA
By Romy Sastra


Sabda guru memandu
ejanya menitip aksara pada tunas bangsa
jalan terjal berliku jejaki ruang kosong
bocah bermimpi berlari mencari cahaya
jamur bermenung di tunggul tua
tanpa pupuk ketrampilan hidup
ditingkah kebodohan zaman
lentera dunia hadir menerangi gelap
pahlawan tanpa tanda jasa

Terima kasih guru
pendidikan kau ajarkan
dari taraf eja menjadi sarjana
soko guru perisai kemajuan
di kepalamu lentera dunia menyala
cahaya ilmu nan tak kunjung padam

Ki Hajar Dewantara,
semboyanmu:
tut wuri handayani
ing madya mangun karsa
ing ngarsa sungtulada
( di belakang memberi dorongan,
di tengah mencipta peluang berprakasa,
di depan memberi teladan )

Guru,
dikau kukenang selalu
dari kecilku sampai tutup usia nanti
walau jasadmu berkalang tanah
torehan jasamu kemilau abadi
meski dunia kembali gelap
cahaya ilmu janganlah berakhir

HR RoS
Jkt, 25/11/2016
#mengenanghariguru





TOPENG-TOPENG DEWA
Karya Romy Sastra


Intrik birahi kapitalis
mencengkram dunia
politikus dungu bermain catur
semua merasa jadi raja
pengamat ilmuan pun
seremonial teori saja

Sang penguasa
jadi penonton sayembara
selir-selir punya tahta pengusaha gerilya
asal raja senang, kenyang dapat jatah
kacung-kacung bebas berpesta pora
raja seakan bertopeng dewa
pentas politik semua berkoar benar
padahal hipokrit memalukan

Sang pecundang tak punya tempat
seperti obor pahlawan kesiangan
padahal ia intrik-intrik politik gerilya
berbahaya untuk sebuah bangsa

Barak-barak partai
menyusun konspirasi tingkat tinggi
bak sikecil belajar main petak umpet
mencari titik noda berbuat makar

Nyanyian gita cinta tanah air itu
hanya seni paduan suara saja
seperti pertunjukan opera
pepesan kosong belaka

Bung!!!!
di mana realita janjimu?"
katanya,
amanah itu
di pundak manusia setengah dewa
akan mensejahterahkan rakyatnya

Anak negeri ini lapar bung
hasil tani dan kebun tiada harga lagi
negeri ini kaya
kenapa kolonialis yang berjaya
katanya putera bangsa ini pintar
tapi kenapa bisa di bodohin juga

Uuuhhhh,
emang dasarnya bodoh.

Coba pelajari sejarah
jangan sekali-kali lupa jasmerah itu
sang tokoh silam berjuang untuk bangsanya

Kini,
tuan-tuan telah berjaya
berjuang untuk rumah tanggamu saja
itupun jalan yang salah
kau korupsi di mana-mana

Para tokoh pahlawan kemerdekaan
sedih hiba, berduka di haribaan-Nya
di nisan tua itu....

HR RoS
Jakarta, 25/11/2016





SENJA YANG RANUM
Karya Romy Sastra


kala petang berselimut jingga
kupetik setangkai bunga
aroma semerbak
melekat di hidung tak mancung

tirai-tirai pelangi
menyibak kelopak senja
bunga berputik rindu
jauh bersemayam di lubuk hatiku

kutatap warna kasih lewat pelangi
yang melingkari samudera biru
merona syahdu di senja nan ranum

pada penghujung hari memandu malam
aku menyapa dunia
dari sang penulis senja
salam ukhuwah dalam rasa
bersatu di dunia maya
dimanapun sahabat itu berada

kutitip salam sastra
kepada sahabat setia
wahai para pujangga tinta
lewat beranda senja yang ranum
satu rasa satu hati
dalam sastra tinta berkoloni

ketika usia sudah sampai di ujung jalan
alamat badan berkalang tanah
nama tertoreh di dinding nisan
bila karya bernilai sejarah
nama kan terlukis di alam dunia
berbahagialah menyulam cerita senja
walau lelah menyusun larik-larik aksara jiwa

Salam senja dari Jakarta

HR RoS
25-11-2015, 17,25





#soniku_4433
SUJUD ADAM
Oleh Romy Sastra


berbentuk Muhammad
Adam bersujud
sholat itu
rupanya

ya hu zikir hati
fana bil fana
daimullah
sendiri

butiran diri
kemilau dalam jiwa
bak bintang kerlip

makrifat ilmu
jalan keselamatan
menuju surga

Sonigraph: HR RoS
Jkt, 24/11/2016





YANG
Oleh Romy Sastra


Yang,
kenapa hujan ini,
rintiknya tak kunjung reda
kupu-kupu enggan terbang
burung-burung tak bersiul
hujan semakin panjang

Yang,
hangatkan jiwa kita dekapan sayang
jangan tingkah berbuah lara
menyulam benang kusut semakin teruk
berpayung kita berdua
berlain rasa
serumah berjauhan hati

Yang,
tataplah wajah rindu kita
biar kudekap dikau
ke dada cinta

Tinta langit menggores pilu
basahi luka kian berdarah
semestinya hujan membasuh luka
jalan rindu tak lagi bisa dilalui

Yang,
senja telah berlalu hujan tak jua reda
lembayung rindu kemilauan kalbu
berdampingan kita berdua tak lagi mesra

Mentari pagi bersinar kembali
iklim senja telah berlalu
jangan gundah memamah rasa
menikam bahagia kita

Kutanya dikau di bawah payung hitam ini
masih hangatkan dekapan kita
pada goresan tinta memadah tanya
akankah kita hidup berdua selamanya
dalam suka maupun duka?

Yang,
meonglah!
jangan dikau diam saja....

HR RoS
Jkt, 24112016




DERMAGA MAHA CINTA
Karya Romy Sastra


Rebah sujud lebur totalis
jubah sufisme pasrah syauq
bertongkat alif, taqwa meraih ridha
fakir lapar mencicipi saum zikir
dahaga menyauk tirta cinta
mabuk bercumbu rindu
asyik fana tak tergoda

Menyingkap tirai-tirai hati
membelah maha sagara jiwa
pendayung rasa menyilami titik pesona
aqli dan naqli mentarikh pada rona
melaju seperti riak dihempas debur

Menatap kerlip petala membuncah
teraba tak tersentuh
menyuguhkan segala warna
menyingkirkan swakwasangka
memilih yang bukan cahaya

Sang jiwa menyapa maha jiwa
bermegah,
bersatulah Ia
manunggal ana anta, anta ana
Aku engkau, engkau Aku
bersatu padu
Dialah segala sesuatu itu

HR RoS
Jkt,13122016





KUNCUP MENGATUP
MEKAR KEMBALI
Karya Romy Sastra

Kembang kasih semusim berbunga
iklim tak bersahabat bibit tumbuh sedih
Berharap siklus berganti suburkan kembali.

Tangkai layu berputik gugur
daun-daun jatuh ke tanah
sakwasangka pada bayu
tertuduh tak menentu.

Padahal tiada hujan apalagi terik
embun membias dahaga tiba
teruk hati membuncah gundah
membakar malayahati kasih.

Pigura-pigura tak berkaca
kertas madah lusuh pudar warnanya
apalah daya jemari sang kanvas
karya tercipta tebar pesona
tak dihargai hanya tontonan saja.

Bercumbu rama-rama aroma semerbak
hinggap disambut kelopak malang
kumbang-kumbang berdendang
mengisap madu lalu terbang.

Aahh, bunga sedih layu tak mekar
kuncup-kuncup mengatup harap berbuah
ditingkah kebohongan janji manis
sang lebah.

Rela kembang tak mekar lagi
daripada jadi opera semusim
terputus tirani cantik di taman kekasih
lembaran berganti pada bibit alami
tumbuh liar
siap hidup hadapi cabaran
meski tak lagi dikecup mesra
terlena belaian mematikan.

HR RoS
Jkt, 12122016





TERTANYA RINDU DALAM HIBA
Karya Romy Sastra


Sastra cinta di pelaminan mimpi
desah hasrat melukis pelangi
mimpi-mimpi titipkan cerita buaian imaji
tentang kisah sepucuk surat tak sampai
pada kekasih hati.

Aahh, titik peluh basahi diksi
laju perjalanan kereta senja
anjlok di perbatasan kota
berlari mengejar kupu-kupu rindu
terkejar, ia menari pergi
tinggalkan kenangan pada suatu janji.

Dalam perjalanan hidup
cahaya harapan tak menerangi jalanku.
Gelisah,
seakan berpegang tongkat rapuh.

Sudah lama kaki berjalan
tertatih menyulam kasih raih seribu mimpi.

Debu-debu jalanan berkabut
Melintasi arah muara tinta
memadah talenta sastra
tertanya diri pada dinding bisu
kapankah jendela bahagia terbuka
menghiba pada tanya,
kuas-kuas kanvas merupa pigura tak berwajah.

Melukis tanya di dalam rasa
dikala sedih menimpa tubuh
ramuan rindu,
kenapa bisu?" Ya, dikau bisu.
Tak menyapa sama sekali
Semestinya," berceritalah.

Uuuuhhh...

Camar bermuram durja di pantai sunyi
seruling rindu di pelayaran kisah kasih
labuhkan cerita pada samudera maya
membangunkan lelah
dikeheningan sukma lara.

Duhai, awan yang berarak senja
bawalah daku ke samudera terjauh
biar kuhidup dalam masa senja ini yang tak lagi menoktah rindu.

Aku kini,
mencoba membiasakan hidup
tak lagi bernyanyi di pantai semu dengan camar-camar itu
biasakan sepi menyulam hari
tanpa kicauan camar itu lagi.

Tinta cinta melukis senja pudar warnanya
jika kembang rindu kan layu
layulah....

HR RoS
Jakarta-11122016




SERULING PECAH TAK BERNADA
Karya Romy Sastra

seruling rindu bertanya pada angin
ke mana sepoi berlalu
titipkan pesan di hati nyonya
lentikkan jemari lambaikan tangan
adakah nyanyian rindu pada janji
yang dulu di koar-koarkan
untuk gita sebuah rasa

seruling bambu bertanya pada merdu
hembusan napas gembala senja
titipkan rasa pada semut merah
beriring jalan menyapa mesra
kenapa tahta tuan tak berjaya
satu juta semut meruntuhkan singgasana

seruling malam bertanya pada lagu
kidung mendayu lenakan kalbu
nyanyian malam kian sedih
pungguk merindu bulan berlalu
mengurai cerita kasih yang tak sampai

puisiku untuk si nyonya itu
pesankan pada arjuna nan bertahta
di singgasana mewah di tengah kota
kebahagian masa depan negeriku
semakin diterkam elang-elang serakah
kaki tangan berlenggok tak bertelinga
terpedaya sudah pada benalu tak kenal malu

langit kian rendah
kaki tuan menginjak wibawa sendiri
siang berganti malam
terik padam malam temaram
ibu memanggil pulang
kembang setaman mewangi
berbaktilah,
kenapa torehan jasa dibiarkan ternoda
ketika sejarah dikenang tak berguna

HR RoS
Jkt,15122016





AURORA CINTA MEMUDAR
Karya Romy Sastra


Aurora cinta nan dulu indah
bermegah berkilau di kelopak senja
atmosfir redup tergerus pada iklim
kabus mendung tatapan bingung
cahaya jingga memudar
di rotasi peredaran galaxi langit
menghujani bulir di balik selimut awan

Lilin-lilin kecil ini perlahan padam
pelitanya tak menerangi selimut malam
dikala rindu menepi ke bibir tinta
tak lagi bercerita tentang cinta

Pada suatu hati kecewa
gerhana sudah
tertutup aurora rindu menikam kalbu
kerlip nebula berkabut
mimpi-mimpi usai
tinggalkan kenangan pahit
pada jalinan sumpah benang emas
simpul mengikat atas nama Tuhan
tak lagi bisa dipertahankan

Akankah kisah terkutuk
oleh kicauan merpati mengingkari janji
sayap-sayap asa patah sudah

'Uuhhh, entahlah
termisteri dalam takdir

Pada suatu angan jauh di awan
pernah mencintai sepenuh hati tak memiliki
kisah seperti riak laut pasang surut
irama sagara mendebur pantai
pelayaran Dewa Ruci mengikrar janji
arungi samudera biru
rela hidup dan mati diayun gelombang
karam sudah
bersekoci fatamorgana cinta
bersauh laju di riak nan pasrah

Bertanya diri ke dalam doa
hiduplah seperti batu karang,
kokoh silih berganti dihempas keangkuhan
teguh tak runtuh dengan cabaran

Nyatanya ia juga bisa rapuh
dihempas hujan airmata langit
kepingan batu karang hancur tergerus terkoyak tersusun ke bibir pantai
tenggelam ke samudera terdalam
jadi butiran pasir ditikam gelombang

Dan takkan mungkin bangkit lagi
biarlah semua itu terjadi
terukir pasrah
mengikuti takdir antara kita

HR RoS
Jkt,14122016




Mukyasafah
Di Ujung Perjalanan Itu
Karya Romy Sastra


Yaa... Huu....
satu tarikan rindu
bertamu ke istana cinta
napas bergulung dalam tanjakkan iman
nadi menari seirama gesekkan puji
istana cinta bersemayam dalam diri.

Seketika,
pendakian telah berada di puncak Thursina
berdiri dengan tongkat alif,
memandang teguh tauhid Illahi
pupuh serat kalbu
makrifat itu

Jiwa bergulung seperti embun pagi
misykat bashir menatap suci
irama sami' mengalun nyaring
bak lonceng berbunyi
langit pat kulipat
hening menuju ruang sukma

tak mau tergoda
penjarakan saja nafsu-nafsu
tetap ia memberontak
menggoda perjalanan malam itu
seakan berjubah wibawa arjuna dan srikandi
tak ingin tertipu seribu warna menari.

Bakar saja jubah wibawa goda
ia adalah nafsu
bakar dengan bara tauhid
sirnalah ia di malam itu.

Iman memandu ke sagara biru tenggelam ke dalam kacahaya rasa,
tarikh napasku leburkan diri
ke kasta-kasta mikraj nurrun al nurrin.

Berpijak di suatu makam, tak terpijak
berlalu ke makam berikutnya
semakin terpana
fanaku asyik, syauk menyapa cinta.

Ketika kyasaf tirai terbuka
membentang terang,
kelambunya berkilauan manik bermutu
manik nan megah berpayet indah tak berwarna.

Menyapa kekasih dalam tirai cinta
salamun qaulam mirrabbirrahim
bersatunya sang pencinta
kepada maha cinta.

Memadu perjalanan satu malam
mabuk dalam kenduri sufi
beristana mihrab-mihrab cinta
di alam ahadiyat-Nya
bersemayamnya kacahaya rasa
Ia adalah rasulku
kenalilah jalan Tuhan supaya tak tersesat jalan.

HR RoS
Jakarta, 09-12-2015, 09,20




Two in One
By Romy Sastra


Walau ia terpisah 620 tahun lamanya
tapi ia tetap berkoloni
dalam satu tongkat tauhid... lailahaillah....

Ia adalah Ruhul Qudus,
Isa alayhisalam
dan
Nurullah,
Muhammad salallahu 'alayhiwasalam.

Rindu kami ya rasululllah... Isa alayhisalam, wa Muhammad salallahu 'alayhiwasalam.

Selamat hari kelahiranmu ya rasul.

HR RoS
Jakarta





#cerpen
Tema: PETUALANGAN
Judul: MERANTAU
Penulis: 1. Romy Sastra 2. Siti Rahmaniyah


Bak pepatah Minang, Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum. Merantaulah bujang dahulu, di kampung berguna belum.

Pepatah itu di ranah Minang, seperti magic memacu semangat muda-mudi untuk tinggalkan kampung halaman, demi menatap masa depan dan harapan-harapan.

Sebut saja namanya Rendra. Rendra remaja tanggung, berasal dari daerah Sumatera Barat.

"Mak..., selepas Lebaran nanti, saya hendak merantau ke tanah Jawa mencari pengalaman," ujarnya pada sang Ibu.

"Oya? Lalu, bagaimana dengan sekolahmu Rendra?" tanya Mak sembari mengernyitkan dahinya yang sudah berkerut.

"Mak..., aku tahu sekolah itu penting. Tapi aku kasihan sama Mak, sangat payah membiayai sekolahku," rengek Rendra lagi.

"Tidak Rendra, kau harus sekolah, Mak masih mampu menyekolahkanmu, meski Mak mengambil upah dari sawah orang, setelah ayahmu tiada, Nak...," kenangnya setengah menangis.

Air mata Rendra menitik mendengar kata-kata Maknya, sebab beban orangtuanya terlalu berat dan pahit. Namun, demi si buah hati seorang Ibu, untuk menyekolahkan anaknya seperti anak-anak lain di kampung halaman. Buat seorang Ibu, apa saja ia lakukan demi pendidikan dan masa depan anaknya. Jujur saja, di masa itu kehidupan orangtua Rendra sulit, di bawah garis kemiskinan.

***

Pagi itu, ketika Rendra pamit pada orangtuanya untuk merantau, tinggalkan seribu kenangan di kampung halaman, mencari kehidupan baru di perantauan. "Mak..., sekiranya nanti Rendra berjodoh di rantau, relakan Rendra ya, Mak?"

Maknya hanya terdiam. Tak terasa bulir-bulir bening bergulir di pipi Maknya, tanpa ada sepatah kata pun dari bibirnya. Hanyalah peluk perpisahan di antara mereka. Hening. Hari berlalu, bulan dan tahun berganti. Rendra makin tumbuh dewasa. Satu dekade berjalan, Rendra selalu kirimkan kabar setiap tahun pada Maknya, kalau ia tak sempat pulang kampung pada saat Lebaran.

***

Perkenalan Rendra dengan seorang gadis cantik berdarah Jawa-Yogyakarta, terjadi di kota Metropolitan.

"Hai! Kenalan dong, siapa namamu, Dik?" sapa Rendra.

"Hai juga, Abang, namaku Sarah," jawab gadis tersebut. "Siapa nama Abang ya?" lanjutnya.

"Aku Rendra, Dik!" ‘Nama yang tampan, setampan orangnya. Hmmm...,’ Sarah bergumam sambil senyum-senyum sendiri.

Sarah, adalah seorang gadis berpendidikan dan anak orang berada. Rendra, berkenalan di depan kampus---ia sedang menempuh pendidikan sarjana. Seiring waktu berlalu, Rendra menjalin cinta dengan Sarah, Rendra sangat mencintai Sarah—dan juga sebaliknya. Rendra berkeinginan, Sarah yang dicintainya itu jadi pendamping hidupnya kelak jika berjodoh.

***

Suatu hari Rendra mengutarakan niatnya memperistri Sarah. Dan karena Rendra serius, ia ingin bertemu dengan kedua orangtua Sarah. Ternyata gayung pun bersambut. Usai pendidikannya Sarah sudah siap dipinang oleh Rendra. Hati Sarah berbunga-bunga tentang bahagia yang tak terucapkan. Tibalah hari yang sakral, ketika dua hati dipertemukan lalu cinta bertaut. Rendra sudah mendatangkan orangtuanya untuk melamar Sarah menjadi seorang istri. Ijab kabul dan resepsi pernikahan mereka diadakan di salah satu gedung resepsi di Jakarta. Semua berjalan lancar seperti yang mereka dan keluarga kedua belah pihak harapkan. Rendra pun sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Rendra mengizinkan Sarah jika ingin bekerja. Namun Sarah memilih untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka yang akan lahir kelak. Ya, kini umur pernikahan mereka sudah berjalan tujuh bulan. Beberapa bulan lagi akan lahir anak pertama mereka.

***

Tangis seorang bayi pecah ketika azan subuh berkumandang, pagi ini. Bayi laki-laki mungil dan tampan menjadi pelengkap bahagia mereka.

"Aku namai anak kita Putra Reza Pratama, Sayang," ujar Rendra selesai mengazani bayi mereka.

"Terserah Abang saja, nama yang bagus dan gagah!" kata Sarah berseri-seri meski lelahnya perjuangan melahirkan beberapa jam yang lalu masih terlihat di rona wajah cantiknya.

"Sayang..., aku ingin memintamu seorang anak lagi nanti," pinta Rendra seraya mengerling nakal ke arah istri yang sangat ia cintai.

"Ihhh..., kalau Abang minta sekarang, aku kasih boneka barbie kesayanganku ya!" Sarah menimpali candaan suaminya dengan manja.

Dan, gelak tawa mereka tak terelakkan lagi. Sampai-sampai beberapa perawat jaga merasa iri melihat kemesraan pasangan tersebut.
Sementara Rendra menerima ucapan selamat yang bertubi-tubi dari sanak saudara via telepon genggamnya---Sarah memperhatikan suaminya dengan seksama. Semakin ia menyayangi dan bangga akan suaminya itu.
Perantau, pekerja keras, penyayang, dan sangat menghormati orangtuanya dan orangtua Sarah juga tentunya.

Bahagia itu sederhana. Mencintai, memiliki, dan menjaga cinta tetap tumbuh subur di hati masing-masing, merupakan pengorbanan yang tak ternilai harganya.

***TAMAT***

Jakarta, 12.12.2016
* Karatau: area persawahan/perkebunan
* Madang: sebuah pohon di Minang.





SELAMAT TINGGAL MEMORI
By Romy Sastra


tiga ratus enam puluh lima hari terlewati
suka duka hidangan diri tersenyum pahit
ditelan dinikmati
ya, cerita tahun ini kan berakhir

merajut tahun depan
dengan suasana yang berbeda
meski ia masih misteri

dasawarsa cinta dan hidup menari
pahit manis dirasakan
cabaran demi cabaran tetap dihadapi
kisah kasih mendewasakan diri kita
jadikan makna sebuah kehidupan

mimpi-mimpi indah telah usai
jauh berlalu pergi
terima sajalah walau ia tak kembali lagi
meski sisa-sisa cinta masih ada
pelihara story sepanjang hidup bersahaja
biarkan memori menari bisu
tak kibarkan lagi kesetiaan hati

bingkai saja bayangan semu kita
menari bersama hayal
kisah tak lagi bersemi sudah jadi biasa
ah, tak mengapa
doaku,
berbahagialah bersama realitimu
semoga dikau ceria selalu

pada suatu ketika
purnama kan bersinar kembali
kutunggu kehadiran nyanyian rindu
membangunkan nyenyak tidurku
memetik bintang di balik layar malam
dikala purnama terkembang menemani galaxi
kicauan malam janganlah diam
berdendanglah mengisi sepi
meski kita tak bersama lagi

HR RoS
Jkt, 23-12-16





RINDU KAMI YA RASUL
Karya Romy Sastra


Purnama bersama bintang
mengitari galaxi biru
malam ini kututup mata rapat-apat
syahwat diri kubungkam.

Getarkan alunan shalawat nabi
peluh mencucur di tubuh
kemilau manik kerlip di langit tinggi
indah bak kenduri seribu satu malam
bertempat di arsy jiwa ini.

Hatiku lebur mengejar purnama
Purnama itu pun menatap sukma
sukmaku terpukau
menyaksikan kemilau sang kekasih
hadir di sagara cahaya berjubah hijau
pesona kewibawaan sang utusan.

Jiwa-jiwa nan tenang merindu
mengenang lahirnya figur sang bintang
berjuta gemintang
satu bintang menyinari malam hingga ke siang
dari azali hingga akhir zaman
titah petunjuknya penerang jalan
syafa'at yang dirindukan.

Bibit jagad mayapada lahir ke dunia
utusan penyempurna akhlak manusia
rahmatan lil alamin.

Rindu kami ya rasul,
di malam maulid sang pendosa bertamu
berharap syafa'atmu
kubuka rahasia cinta
bershalawat dengan sunah
di majelismu ya rasulullah.

Rasul itu,
hadir bersemayam dalam rasa
diutus oleh rasa yang sejati
sang maha raja Ar-Rabbani.

Musthafa,
dikau pembaharu akidah
dari zaman jahiliyah
hingga dunia berpurnama agama.

Bermula dari azali sifatnya Illahi
berkiprah sampai ke ujung dunia
hingga akhirat nanti.

Ya rasul, rindu kami akan syafa'at itu
titipkan selendang cinta kasih sayangmu
di neraca amal pelebur dosa
di Padang Masyar nan dahaga
ijinkan kami bersimpuh memanggil namamu
bershalawat,
Allahumma sholli 'alaa Muhammad,
wa'alaa aali Muhammad....

HR RoS
Jakarta, 23,12,16





PROSAIS MAMIRI SENJA
BY Romy Sastra


"Dinda, lama sudah pesanku terkirim, tak ada jawaban darimu. Dinginnya embun pagi, telah kembali pada sepoinya mamiri senja, secercah bintang di langit titipkan temaram kian menyapa malam, sedangkan rerumputan bergoyang riang melipat bayangan kelam.

Di sana, kuncup-kuncup putri malu telah mekar menari, serabut kembangnya mewangi jatuh perlahan, ditingkah kupu-kupu eksotis lambaikan sayap berwarna-warni.

Di ufuk senja, tarian sriti menyilaukan pelangi, yang akan tenggelam pada rintik hujan kan reda.
Siluet di kaki langit berhias memori, dendangkan lagu kenangan tentang kereta senja tak pernah kembali.

"Oohh, kidung asmara kasih nan terkisah semusim purnama, sebentar lagi menyapa.
Rindu pada rona netra di langit kerlip, berharap malam ini bercahaya indah.

Juita, sang bidadari malam, izinkan kukecup bibirmu lewat pesona sajak anganku.
Aku rindu serindu-rindunya,
Juita mimpi pesona rasa, resah kisah yang tak pernah sudah.

Kembali menyemai benih menuai semi, akankah diksi ini hanya terhantar lewat madah bualan saja.
Tak mengapa aku berkisah pada dendang rasa yang menyuburkan tinta, berharap lukisan menjadi kenyataan meski aku terkisah dalam bayangan saja.
"Aaahh, tak mengapa....

HR-RoS
Jkt,21-12-16





Dalam rangka ultah mengenang 22 Desember hari ibu
DOA PUISI UNTUK IBU
Karya: Romy Sastra


Satu tangkai kembang rindu
kupersembahkan di akhir tahun
dalam keheningan malam,
aku sujudkan tubuh letih ke hadirat kalbu
memanggil dalam iringi doa
ya Allah... sampaikan rindu ini kepada ibuku.

"Ibu....

Telah jauh kaki melangkah
perih sedih bumi kupijak
namun nasib badan tak jua berubah.

Diri ini telah bermandi peluh
mengais asa berkelana di lorong masa dan waktu
yang tertinggal kini lamunan pilu
menyambut hari jadimu.

Aku tersadar ibu,
jauh lebih perih deritamu
yang pernah kau cabari dulu membesarkan anak-anakmu.

"Oh, Ibu"
kala malam mata berurai sebak
teringat masa pahitnya derita dulu
masa-masa membesarkan buah hati
mencari sesuap nasi untuk kami,
dalam kelam menengadah doa.

Bersujud,
ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku ya Allah.

"Ibu,
Di hari kenangan ini
aku menangis rindu
setumpuk pilu tercucur ke dalam napas
kupandangi raut wajah tiranimu
menitis rintik bening di depan kaca
pipi anakmu juga telah keriput
menyamai raut wajahmu ibu.

Doaku,
berbahagialah engkau selalu
di usia senjamu yang telah ranum itu.
Ananda tahu,
andaikan gunung Merbabu jadi intan berlian
tak kan bisa membalas jasamu ibu.

Satu kesempatan dalam sastra
kutitip larik doa puisi sastra untukmu
air mata hiba berhentilah menitis
bergantilah dengan air mata bahagia
titip salam rindu padamu ibu
maafkan atas semua kekhilafan anakmu.
'Oh, ibuku....

HR RoS
Jakarta 22-12-16





....Hitam Putih
Dendam Abadi....
Karya: Romy Sastra


Azali,
perencanaan Illahi
tatkala sabda ditutur
dua kekasih takjub sujud
dalam keharuan dan pertanyaan.

Malaikat ditanya manut
Idajil protes tak nunut.

Dosa pertama kali terjadi
dalam fakta Illahi ialah pembangkang.

Maha raja mencipta wilayah
insan kamil sebagai khalifahNya
Idajil tak terima, terkutuklah.

Sang khalifah dihinakan
di bisikan nafsu
terjadilah dosa kedua.

Malangnya nasib Adam dan Hawa
tercampak ke dunia
dalam kurun waktu sangat panjang
bertemunya kembali yang merindui dikala fajar
berpelukkan dalam tangis kerinduan yang mengharukan.

Di tanah tandus
dimulailah tirani kehidupan alam
rumah pertama dibangun Baitullah
terlahir bibit kehidupan Habil dan Qabil
iri dengki membuncah dari persaingan jodoh
pembunuhan di antara mereka berdua
tak kenal hiba.
Iri dengki,
dosa ketiga dan dosa pertama di dunia terjadi.
Idajil si dendam abadi skenariokan kebencian.

Berlalunya waktu
hingga di kehidupan Syits
tirani peradaban terkotak antara
Anwar dan Anwas
oleh kelicikan Idajil meminjam benih Syits
berjayanya kisah kayangan dan mayapada
pesta bratayuda membahana luka

Zaman terus berlanjut
di setiap sendi-sendi kehidupan
mengintip kemungkaran berkompetisi
hingga pada suatu zaman ke zaman berikutnya.

Kini,
di ambang penantian sudah dimulai
pertarungan abadi
dendam hitam putih selalu terjadi.

Antara Imam Mahdi dan Dajjal adalah
Idajil itu sendiri kan kembali.

Waspadalah...
ia ada di sekeliling kita
bahkan melaju di dalam peredaraan darah.

Berpeganglah kepada satu tongkat,
La illaha ilallah....
tawakalah kepadaNya!
siapapun anda.

Hingga kemenangan di sana kan diraih
kembalilah ke predikat fitrah insan kamil
hingga jannah menanti memanggil
kesenangan abadi di sana....

Amin.

HR RoS
Jakarta 21-12-16





RASA DINGIN HANGATKAN KEMBALI
By Romy Sastra


Tarik napas lepaskan perlahan
bergulung asap gelombang menguap
pagi serasa dingin
hembusan bayu memeluk rindu
embun syahdu tertutup salju

Dingin,
di mana selimut hati kau simpan
hanya diam membisu seperti batu pualam
aku ingin kehangatan
senyumlah

Semalam rinduku bertamu
berharap bayangan mimpi denganmu
dalam lelap berunggun
tak terasa nyala itu padam
mimpi angan bias
tak kutemui sesosok bayangan kekasih
tersisih pergi tinggalkan kenangan

Reality cerita kita yang dulu
seperti bualan saja
kenapa kisah tak kau cerna
hingga jadi debu tak berarti
berharap history jadi permata

Ketika takdir menyatukan kita lagi
rasa itu janganlah basi
bersemi pada suatu masa
masa kelam tenggelamkan
rindu janganlah layu
kisah kita barukan kembali

Jangan dingin menjadi dendam
kembalilah menebar senyuman
kupetik kembang mekar
persembahkan aroma mewangi
bersama lagi menatap mentari
secercah pelita menerangi hati
senyumlah kekasih
pelangi hati ini masih berwarna-warni
menyapa hari meski duniamu berkabut
ku kan selalu merindui

HR RoS
Jakarta,17122016





#Lipatdus
PAGI


mentari tersenyum indah di langit
embun berkilauan di rerumputan
kabut pagi berlalu
petani gembira
panen

HR-RoS
Jkt,20122016





PERJALANAN KISAH
SEMUSIM BERGUGURAN
By Romy Sastra


Pada suatu siklus menyapa iklim
siklus perjalanan semusim
musim berganti keniscayaan rotasi takdir

Ketika musim semi berhias
pucuk berbunga lalu berputik
berbuah ranum
daun terlepas berguguran
ranting meranggas sepi kedinginan

Dingin,
telah dingin lamunan di balik bukit asmara
kicauan burung pun tak lagi
bernyanyi enggan
enggan bersiul di ranting dahan
sayap kuyup berlumuran hujan
dingin tak tertahankan

Semusim telah berlalu memandu rindu
dalam aksara tinta bermadah cinta
memamah sukma pada kekasih berpadu
rindu-rindunya sudah bisu
kearifan jiwa ternoda
tak dimaknai rasa nan dulu sepenuh hati

Berharap moment lama bermakna
untuk sebuah kedewasaan diri
menyulam masa usia senja
dalam bahtera masa-masa bercinta

Kubingkai sajalah cerita indah ini
menjadi sejarah
tersusun dalam pigura kaca maya
kugenggam sajalah jemariku
tanpa ada gandengan jemarimu lagi
salam sejahtera ini masih tersisa
mengikat certia,
meski rasa tak peluk cium mesra
yang dulu terkenang indah
dendam masih kau simpan
tak mengapa

'Ya, kusimpan sajalah cerita itu
di keindahan madah-madah sastra
dari Jakarta menitipkan rasa puisi cinta
yang pernah kecewa

HR RoS
Jkt, 17122016





DARAH ALEPPO BERCUCURAN
By Romy Sastra


Negeri yang diberkati tak nyaman lagi
haru hiba membuncah di dada
ke mana luka kan diobati
perban putih tak cukup membalut darah
embun pagi berganti debu
angin berubah bunyi meciu
warna langit berkabut
jalan-jalan penuh ranjau
genderang perang kapan kan berakhir
sudahlah

Dunia diam,
doa tak mampu melebur badai berlalu
tangisan kian pilu
genosida semakin gila,
tubuh berbalut jubah diperkosa
bangkai tua muda jadi abu

Tuhan,
langit ini seakan runtuh
runtuhlah!
kiamat sudah terjadi
perang ini lebih dahsyat dari neraka
jeritan akhirat,
masih ada dispensasi amal terselip
jeritan konflik ini pelik, pedih

Bumi Aleppo hangus tak bertuan
penguasa-penguasa bermata satu
menciptakan gaduh
apa yang kau cari wahai dajjal
di tanah ini,
berdamailah walau sesaat saja
ijinkan anak kami bernapas
memandang langit biru
kenapa kabut menyelimuti seantero negeriku
takut kami melebihi dari el-maut bertamu

Aleppo sejarah terburuk di tanah tandus
tak terdengar lagi
di telinga pemimpin berbudi
seakan telah tuli
seperti tak bisa bersuara bisu sudah

Aleppo itu kini berdarah-darah

HR RoS
Jkt,16122016





#Puisi517
By Romy Sastra
SALAT


#format subuh

denyut jantung
ya hu salat jati
kenali diri dengan ilmu
menuju Illahi Rabbi
biar tak tersesat jalan

#format zhuhur

tunaikan kewajiban baca niat
berdiri ruku' sujud duduk
berdoa lalu mengaji
jadilah hamba yang teladan
al-quran tuntunan

#format ashar

jalan pulang semakin dekat
kembang setaman mewangi
el-maut tak kenal kompromi
segera bertobat
sebelum terlambat menyesal nanti

#format maghrib

senja telah tiba
anak santri pergi mengaji
bulan purnama
tengah malam salat tahajud
berdoa padaMu ya Allah

#format isya

salat adalah jembatan diri
mengenal Tuhan
Makhluk dan Khalik bersatu
syariat tarikat hakikat makrifat
islam iman ihsan

HR RoS
Jkt,16122016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar