RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Senin, 09 Januari 2017

Kumpulan Puisi & Cerpen HR RoS - JENDELA SAHABAT NAN INDAH


LONCENG KEMATIAN
Karya Romy Sastra


Deru ruh gelisah diam membisu
kala takdir hayat terhenti pada janji
lonceng kematian akan tiba di liang rongga
lonceng tak berdenging diam sudah
satu persatu ruh di badan luruh
mendahului kematian segala tubuh
ruh tunggal akhir kepergian
meninggalkan bangkai

Liang sami' sunyi
kelopak mata melotot
netra bathin tak lagi berkerlip
gunung Thursina ciut kerontang
ari disentuh bak salju tergelincir pilu
dahaga alang kepalang meminta air idaman
selera makan lahap tak lagi tertelan
yang dimakan bayang-bayang

Lonceng kematian, menakutkan
El-maut tak kenal hiba
rupanya merontokkan bulu roma
kerjanya seperti menghempas gunung merapi
memuntahkan lahar ke segala nadi
takut, sungguh menakutkan
ke mana lolongan pedih berlari
se-isi bumi masa bodo
berharap tetesan doa ahlul bait membisik
tak jua tertolong
lonceng kematian tetap jua terjadi

HR RoS
Jakarta, 02012017





#Cerpen

NOKTAH LADANG IBADAH
Kolab Penulis: Romy Sastra and
Shethie Rahmaniyah Dawam


Dasawarsa laju noktah bersemi indah dalam bingkai kesetiaan rumahtangga Sahira dan Firman.
Berkabut senja nyalakan pelita
jalan licin dilalui tak gamang dengan bimbang.

"Sahira...," sapa suami tercinta, Firman.

"Ya, Abang...."

"Hira, malam ini tahun 2016 akan berlalu, berganti tahun baru 2017. Semua terbarukan selalu, yang penting sekali senyumanmu selalu baru 'tuk abang ya!" kata suaminya ketika pulang dari kerja.

"O ya, mana anak-anak kita ya, Ra?" lanjutnya.

"Hari sudah mulai sore, suruh mereka mandi!"

"Haiiittt..., jangan lupa Uminya juga mandi lho," canda sang suami, lagi.

"Iiihh abang, ya, iyalah... masa ya iya dong..., Abang,"
sewot manja Sahira, istri Firman tercinta.

"Lepas mandi, ajak anak-anak makan bersama ya, Umi!"

Memang, Firman dan Sahira memiliki sepasang anak belia di rumah sederhananya. Hampir keseharian kehidupan mereka rukun dan damai.

"Ra..., maghrib sebentar lagi akan tiba,
yuk kita salat berjamaah di rumah saja!" Ajak suaminya.

"Ya, Abang. Kita ambil air wudhu dulu, yuk!"

***

"Ra, tahu gak Hira?"

"Apa, Bang?"

"Sepuluh tahun sudah noktah kita terjalin indah, klimaks kebahagiaan yang Abang dambakan selalu darimu adalah ketika selesai salat berjamaah, anak-anak dan kamu, Ra. Dikau dan buah hati kita memeluk dan mencium tangan kasar Abang, tapi lembut menafkahi rumahtangga kita ini."

Mendengar ucapan sang suami, mata Sahira berkaca-kaca merasakan kebahagiaan yang terpancar di hati Firman sang suami tersayang.
Anak-anak mereka tak menghiraukan apa yang terjadi di antara kedua orangtuanya, saling berbagi hati. Anak-anak selesai salat lari-lari berkeliling ruangan sambil berjingkrak memperlihatkan kebahagiaan mereka sebagai anak-anak yang disayang.
Rara adalah anak sulung dari pernikahan Firman dengan Sahira.

"Umi...," sapa anak sulungnya.

"Ada apa, Rara sayang?" Tanya sang umi.

"Umi, kelak Rara ingin mempunyai suami seperti Ayah, ya Mi," celetuk Rara dengan polos.

Spontan saja, Uminya kaget mendengar celoteh anaknya, yang sesungguhnya bukan pertanyaan anak kecil seumur Rara.

"Memang kenapa, Rara dengan ayahmu ini?"

"Gak apa-apa Umi...."

Firman tak kalah hebat kagetnya dengan kata-kata tulus dari anak tersayangnya.
Sedangkan si bungsu yang sedari tadi tak terlihat, menghilang ke rumah tetangga bermain bersama teman-temanya.
Firman masih kepikiran perkataan Rara---anak kesayangannya itu dengan rasa penasaran.
Dengan tatapan yang optimis Rara sudah mampu mengutarakan maksud perkataannya tadi kepada kedua orang tuanya.

"Umi, Ayah..., walau pun Rara masih kecil memang tak seharusnya Rara ucapin kata-kata itu pada Umi dan Ayah.

Dengan rasa bangga, Rara merasa bahagia dan bersyukur menjadi anak Umi dan Ayah. Melihat keharmonisan orang tua Rara, tak pernah ada pertengkaran semenjak Rara masih kecil sampai saat ini. Beda dengan orang tua teman Rara, pernah mereka bertengkar Rara lihat sewaktu main ke rumahnya." Ujar Rara sedemikian rupa.

"Ayah...," lanjut Rara lagi.

"Apa sih rahasia Ayah, kok gak pernah pernah bertengkar dengan Umi?"

"Rara...Rara, kamu ini. Ingin tahu aja ya persoalan kehidupan orang tua?" Kata ayahnya sambil geleng-gelengkan kepala.

"Baiklah Nak, Ayah kasih tahu rahasia Ayah dengan Umi sama Rara....
Rahasianya, ada ketika salat berjamaah bersama Umimu. Karena dengan salat, adalah kunci segala kebahagiaan dan kunci menghilangkan keruwetan rumahtangga. Dan Umimu tak pernah Ayah anggap sebagai istri Ayah."

"Lho, kok gitu ayah?" Kata Rara dengan nada penasaran.

"Rara, dengarkan pesan Ayah baik-baik ya!"

"Iya, Ayah,"

"Jangan pernah jadikan pasangan kita itu nanti sebagai objek. Dan Umimu, Ayah anggap sebagai pacar atau kekasih Ayah sendiri lho. Makanya Ayah memiliki kekasih sepanjang hari dengan Umimu." Jelas sang ayah.

"Wahhh..., Ayah hebat dan lucu, hihihi...."

"Memang Ayahmu ini badut, ya, Ra?" sambil meraih Rara lalu menggelitiki hingga Rara terpingkal-pingkal menahan geli.
Sedangkan Umi dan adiknya Rara hanya senyum-senyum sambil menyiapkan makan malam mereka nanti.

***

Setelah acara makan malam selesai, seperti biasa Firman mengajari anak-anaknya mengaji.
Kebiasaan seperti itu selalu mereka lakukan, demi tertanamnya pondasi yang kuat dalam beribadah sedini mungkin.

Tiba-tiba Riri, adiknya Rara nyeletuk...

"Ayah...Umi..., kenapa tidak pergi jalan-jalan seperti tetangga kita malam ini? Kan, malam tahun baru banyak petasan dan kembang api...." ujar Riri polos.

"Pergantian tahun tidak mesti dirayakan seperti itu, Sayang," jawab sang ibu sambil memangku Riri.

"Kalau mau main kembang api, kan bisa kapan aja. Lagipula petasan sudah tidak diizinkan dipasang, sebab seringkali membahayakan penggunanya."

"Oh gitu ya, Mi," kata Riri manggut-manggut.

"Betul Nak, yang dikatakan Umi barusan. malam tahun baru tidak mesti hura-hura dan berlebihan. Ayah dan Umi berharap kalian menjadi lebih cerdas dan tambah soleha," lanjut Firman menambahkan penjelasan istrinya.
Lalu mereka melanjutkan mengajinya. Sang Ayah mengajari Rara membaca Alquran, sedangkan Uminya mengajari Riri hafalan surat di juz'amma.

Mereka selalu tekun untuk kegiatan yang satu itu. Mereka juga mengimbangi kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti bersilaturahmi dan rekreasi sambil olah raga di akhir pekan.
Walau sekadar bersepeda bersama di area 'care free day'.
Terkadang Firman dan Sahira mengalami masa di mana mereka agak sulit memberikan pengertian dan penjelasan ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga dari kedua buah hati mereka.
Untungnya Firman atau pun Sahira rajin mencari referensi pendidikan anak dan wawasan lainnya dari media buku-buku atau elektronik. Dan pastinya dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Begitulah kehidupan mereka yang islami, membuat iri tetangga-tetangga. Iri yang mengacu kepada mengajak kebaikan. Mereka juga tak lupa mengajari anak-anak bersosialisasi dengan tetangga dan kepada teman anak-anaknya.

Kemajuan teknologi pada saat ini membuat para orang tua bekerja keras menjadikan anak-anak tetap pada jalur yang baik. Sehingga pemantauan dan bimbingan akhlak terpuji dan agamais bisa menjadi modal anak-anak melewati kehidupan yang makin keras di masa yang akan datang. Firman dan Sahira termasuk salah satu contoh orang tua yang memperhatikan hal tersebut.

*** TAMAT***
HR-RoS
Jakarta-Bekasi, 01.01.17





JENDELA SAHABAT NAN INDAH
Karya Romy Sastra


Daun-daun kering menatap senja
setangkai bunga di ambang embun
pelangi jingga menitip kilau
rona-rona mempesona jiwa
damai melingkari mayapada

Bertanya kicauan pada rama-rama
terbanglah berayun riang bersama kami
sebentar lagi terik meredup
putri malu buka tabir kehijauan
simponikan kedamaian senja pada malahayati
meski kehadirannya semu
tapi ia menitip rasa bersama embun.

Embun mengurai lembayung
di atas tetesan daun
pelangi berlalu,
koloni embun syahdu di atas daun keladi
walau seketika akan terjatuh
tetesan menyirami bumi dengan air cinta

Desah senja melukis rasa
bersama tinta
kupuisikan saja secarik madah lewat sastra
ketika resah membungkam luah
dimanakah ruhani puisi dipusarakan
tak lagi dimaknakan

Satu pesan cinta
lewat jendela puisi senja ini
genggamlah rasa toleransi,
satu cinta, satu hati, satu kasih
bersemi ke lubuk hati
dalam pigura kasih sayang
sesama insan.
"Yuukk, kita berbimbing tangan...

HR RoS
Jkt, 30122016





MENGGAPAI BINTANG DI BALIK AWAN
Oleh Romy Sastra


Hidup bak berjalan di atas lumpur
mengejar kembang teratai
nan tumbuh subur di atas air
semakin melangkah kaki kian terkulai

Teratai tumbuh indah, sayangnya,
akar tak berpegangan ke dasar tanah
ketika banjir melanda
teratai itu,
ikut pula berenang ke muara.

Hidup bagaikan musafir di sahara tandus
haus,
obsesi terkikis tergerus nasib
satu cemeti terselip di hati ini
ialah keyakinan iman
menggapai bintang-bintang malam
meski malam tak berembulan
purnama redup di balik awan

Tinta sastra terhempas
di lingkaran kebimbangan masa depan
jalan mana kan kutempuh semua arah buntu
Jakarta berjuta kerlip tebar pesona
menjanjikan intan berlian di sisi mereka
kupetik hanya sebongkah suasa
berharap sepuhan jadi emas permata

Kapan bintang jatuh di tangan
genggaman seakan enggan menadah
biarkan peluh bermandi luka
asal maruah tak tergadai begitu saja.

HR RoS
Jakarta, 30-12-2016





PADA SUATU SENJA DI
DERMAGA TELUK BAYUR
Karya Romy Sastra


Di dermaga rindu tangis pecah
tinggalkan ranah bunda
sedih ditikam senja
kala layar bersiar laju menuju riak
lambaian nahkoda isyaratkan kepergian
irama camar bersiulan
titipkan pesan pada angin malam.

Dermaga pun tak lagi tampak di kejauhan
sayup-sayup kutatapi bendera menari
iringi kepergian kapal melaju
ke samudera biru.

Gejolak jiwa terpana
gundah meretas samudera, seketika pilu.
Terpaku, ranah bunda memanggilku.
Jiwa tertahan di antara simalakama
terus berlalu ataukah kembali pulang
sedih menikam kalbu.

Nyiur melambai di pesisir pantai
seakan iringi kepergian nahkoda itu
camar bersiul mencicit perit
merayu memanggil kelana, kembalilah ke tanah bunda wahai darah muda!"
Bisik sang bayu semilir lirih
Biarkan takdir berlalu
senja jingga lenakan tubuh dibuai gelombang menghadang.

"Sapa sang kidung malam berdendang,
"Ooi... Ranah Minang nan denai cinto,
larek sansai di tanah Jao
jaan tapian nan ditangisi
bialah rantau den pajauah.

Pada suatu senja di Teluk Bayur permai
saksi sejarah perjalanan si anak dagang
ketika asa cinta nan dulu pernah diungkai
terbangkalai sudah,
tak tahu rimbanya sampai saat ini
asmara hilang ditelan bayangan gelombang.

Teluk Bayur di pesisir pantai Sumatera Barat
saksi sejarah dermaga tua dari zaman penjajah
dalam era peradaban cinta Siti Nurbaya.

Dermaga tua jadi saksi memori rindu
sebuah rindu yang kini tak lagi dijumpai
memori nan berlalu telah membisu
tinta bermadah di kertas maya
kupuisikan sebuah history
dalam lamunan di kesendirian hati
melukis sastra sisa-sisa cerita yang tak sudah

Ketika masa remaja mengikat kasih
pergi tinggalkan pantai barat Sumatera melaju ke tanah Jawa
memori titipkan sejarah tak bermakna.

Selamat tinggal teluk bayur permai
kudatangi dikau kembali
menyapa kenangan lewat tinta ini....

HR RoS
Jakarta,29122016






SAJAK SASTRA GITA PELANGI
Karya Romy Sastra


i
tunggul tua melapuk berdebu,
bertahun-tahun ditebas ditinggal pergi
rela lebur dimakan waktu,
bias perlahan diterpa bayu,
meski tunas tak berganti,
organik di batang berharap suburkan ladang,
sedih menyapa riuh burung murai bernyanyi
tinggalkan benih noda tapi suci pada takdir gersang berharap subur,
siklus tunas nan enggan tumbuh, hanya berganti jamur-jamur cendawan
penghias sepi walau tak menarik

ii
pada poetry jiwa kabarkan pesan seni
teruntuk punggawa sastrawan sastrawati
lencana seremonial seni tak berarti
di pundak regenerasi terima sajalah
penghibur rasa pada tinta sastra nan rela
aksara luah menjulang ke langit tinggi
tak bertangga menembus kosmik jiwa

iii
sadari,
ketika angkasa berpelangi
koloni awan nan berarak,
jangan enggan menitik basahi gersang
lama sudah menghadang,
ilalang nan bertahun-tahun dahaga
tetap hidup tak lekang dengan panas
tak lapuk ditingkah hujan
tak mati meski kering kerontang

iv
berguru pada semut merah nan beriring jalan
seiya sekata saling menyapa tak menikam maruah
bersama meruntuhkan gunung
tak menimbulkan bencana
bergandeng tangan
ciptakan istana nan megah
tak ingin menyakiti diganggu membela diri

v
sastra gita pelangi menitip bahasa seni
sastra cinta bersemi
tak melebar cerita gombal suatu hati,
melainkan menghibur pada banyak hati
yang mau memahami rasa puisi saja
tak menggadaikan ego semaunya
membiarkan alur ke hilir menuju muara

vi
warna-warni bianglala jingga adalah simponi gesekan dentingan biola kearifan sabda nada alam gemuruh riuh bangunkan pertapaan Dewi menyulang banyu di pemandian mistik aromakan kembang melati

vii
sastra gita pelangiku memadah kiasan
saling berbagi tanpa pamrih
bak air mengalir tak ingin kering
disauk musafir alam
bak embusan angin sepoikan dedaunan
meski dahan kan patah
ranting-ranting berjatuhan

viii
menari riak seayun ombak
tak menikam perahu
meski badai datang menerpa samudera
jangan tangisi nahkoda melepas sauh,
bukan ia menakuti pelayaran kan oleng
waspada diri jubah kearifan ilmu pengetahuannya,
jangan sampai laju doa tenggelam
sebelum cemas sirna tiba di dermaga

ix
kita nikmati sajalah liukan nyiur di pantai
berhias menambah hembusan
camar-camar bernyanyi kepakan sayap
tarikan gemulai menari di dada sagara
meski panggung tak berpenonton ceria

x
terdiam menatap barisan pasir membentang
tak berujung tumpang tindih
tak menyalahkan satu sama lain
berdamai pada poetry rasa
ia gesekan poetry sabda maha jiwa

HR RoS
Jakarta,28122016





HITAM DI ANTARA KERLIP
Oleh Romy Sastra


Hitam dalam temaram
khayalkan sesuatu angan
bunga tak berputik jadi buah
bayang-bayang penghias rasa saja.

Cerita hidup yang tak mungkin dilupakan
konsep manajemen Tuhan
meski kelam kian kelam
kerlip hati,
terangi pekat dalam diri
berharap,
hadirnya secercah cahaya dalam diam.

Tatapan yang pasrah tapi tak rela
menitip asa bisu pada sastra puisi tak diakui
"Aahh,
biarlah cerita mainan mimpi saja
tak mengapa....

HR RoS
Jkt,28122016





LAJU UJUNG JALAN
Karya Romy Sastra


Jalan hidup nan pernah dilalui
setumpuk beban di pundak merintih,
walau berat dipikul tersenyum,
tersisa cerita pada lembaran memori.

Singgah di persimpangan sesaat
seakan tersesat pada pilihan membayangi
jalan itu hanyalah hayalan mimpi
mimpi yang tak terurai
terbengkalainya jenjang study
mendewasakan diri langkah tertatih.

Kekinian,
adalah takdir yang pasti
nikmati saja yang real jangan kotori
pada pilihan hati,
tak ingin terjebak konsep fatalis
berdamai bersama laju azali
apa yang terjadi,
jadikan segala aktiviti ibadah saja.

Karena hidup ini kan berakhir
ujung jalan di depan menganga
jangan sampai tergelincir
berpegang pada keyakinan terarah.

Tongkat keimanan melaju
pada pikir dan hati
rasa yang jujur meski pahit ditelan manis
berharap berbuah cerita
jadi bibit tirani yang bersahaja
waspada harga terindah....

HR RoS
Jakarta, 28122016





DASAWARSA USIA
By Romy Sastra


Empat dasawarsa usia jejaki dunia
2017 di ambang selamat datang
tinggalkan kenangan 2016.

Lembaran demi lembaran diri
membentang semenjak lahir
hingga di kepagian hari
menempuh senja menanti jingga

Saat ini,
dawai biola hidup
masih mengalun merdu
petikan irama kasih
dari maha pengasih.

Perjalanan diri
mengintai hari
cabaran demi cabaran
kubingkai ke dalam mimpi
jadikan sebuah history.

Mimpi demi mimpi telah usai
terbangun dari lelap nan sekejap
opera impian diri hanyalah keniscayaan
bukan hayalan malam
asa obsesi tetap jadi memori.

Kini,
gita usia berada di ujung tanduk
masa senja merona jingga
bekal selimut kubur tak jua diraih
sedangkan,
story memori telah jauh berlalu pergi
dan tak akan mungkin kembali lagi.

"Ya,
satu nan diharapkan sebuah kepastian
kesetiaan hidup dalam amal
pelipur lara di akhirat nanti.

Realiti asa setialah menempuh senja
sampai menutup mata
meski hidup ini seribu tahun lagi
ataukah esok hari,
kita pulang ke kampung halaman abadi.

HR RoS
Jakarta, 27122016





SASTRA GELISAH
By Romy Sastra


Gelisah menikam resah
tinta alam pudarkan senja
pikiran linglung menuai bingung
tubuh lunglai tak berdaya
jerih di urat nadi
hampir tak berdenyut.

Ada apa gerangan ini wahai sebab
sendiri tertanya diam tak tahu
entah lelah ataukah? "Uuhh..."

Malam ini,
dungu menyulam bisu
biarkan aksara tubuh
berselimut debar tak menentu.

Pada suatu warta bayu
menembus sepoi energikan rindu
pada sesuatu jejak tak terpijak
tersentuh tak teraba
bayang-bayang kisah perlahan menari pergi
pergilah dikau kan pergi
rela laju tak seiring jalan.

Berkaca lamunan pada sejarah
tertunai kearifan realiti diri
nan pernah mengusik resah
menuai bingung
mencoba tersenyum saja
berharap semangat terbarukan
menatap esok pagi
mentari kan menyinari kembali

Kidung syair nyanyikan sepi
lewat nada puisi
storykan semut merah menyapa mesra
nan berbaris di dinding setia
gita beriringlah bersama tinta
bergandeng tangan menyapa sastra....

HR RoS
Jkt, 26,12,2016





HARMONI LEMBARAN MIMPI
Karya Romy Sastra


Kidung malam membungkam bisu
lembaran hayal kuputar
dentingan jam dinding, tiingg....

Buka lipatan sajadah malam
dalam malam bersujud tahajud
kudekap mihrab iman
roda napas berjalan
sampai di penghujung jalan.

Lelah pasrah lelap bertasbih
harmonikan mimpi indah
menghalau lembah sunyi.

Lelap nan bermakna ibadah
dalam genggaman Illahi Rabbi
puja-puji selimut tidur
peraduan lembut dalam sukmaku
bersemayam bersama awasnya Dia
izinkan tubuh linglung lunglai
menggapai maha daya cinta.

Puji asyik,
tercipta di keheningan religi malam
malam nan nikmat bersetubuh rindu
bercinta bersamaNya
IA maha kekasih itu....

HR RoS
Jkt, 26122016




GEJOLAK RINDU SEMUSIM SALJU
By Romy Sastra

rindu semusim salju
hadir menyapa
menunggu dikau
di balik jendela hati
yang merindu masih belum bertamu

di sini,
putik bunga cinta merekah
menanti dikau kekasih
di taman asmara

kasih,
lihatlah di ranting cemara itu
bertengger merpati putih
dalam ayunan bayu
menyulam rindu

bersiul mengikrar kata
tak akan mengingkari janji

bunga cemara menghiasi salju
dalam sepoinya rindu
adakah gelora rindumu untukku
bergejolak di kejauhan bisu

labuhkan saja cinta di peraduan kasih
dermaga janji bertemu antara dua hati
setia menempuh bahtera
meski tenggelam bagaikan kisah
Romeo dan Juliet

kasih,
datanglah sesaat saja dalam lamunan
dekaplah tubuhku ini
biar kurasakan kehangatan geloramu

kecupan bibir merah bercinta
meski beradu dalam mimpi
mimpi indah bersamamu

setia kasih dalam noktah hati
untukmu selamanya
nan tercinta ilusi puisi saja

HR RoS
Jakarta, 09-01-2017





#Prosais_Renungan

TIRANI MISTERI BANGSA INI
Karya Romy Sastra


Lelakon tanah pertiwi peradaban zaman, tertulis dalam syair pujangga Jayabaya.
Roda pikir sang pujangga mistik, melebihi era dan masa tertulis indah,
dalam wadah jangka pada kisah Nusantara.

Catatan aksara Nusantara,
kitab sepuh linuwih
terbukti sudah.

Jelas sekali pitutur luhur mengiringi lembaran alam dan tragedi
tak satu pun tak terkisah, bahkan melebihi jangka nan tertuang dalam perenungan panjang, hingga dunia terlipat sampai selesai.

Tirani misteri bangsa ini bagaikan
dalam wajan rebusan panas mendidih pedih,
dan seperti gunung merapi kan memuntahkan lahar ke seantero negeri.
Heningkan pikir sesaat biar terjawab laju misteri dalam rasa terwajah jelas di kehidupan nyata.

Kompetisi pesta zaman seperti bola api, panas bergulir menuju palang
datang silih berganti.
Tahta singgasana diperebutkan,
menitip janji visi misi kemakmuran
rona, lika-liku, tingkah hari berjalan seperti kabut hitam di dada langit mencekam mayapada menakutkan, tetap tunduk pada hukum takdir Tuhan, jangka adalah titisan lembaran Dewa pada aksara mistik pujangga adiluhung tanah Jawa.

Sibak saja tirai alam berlaku
ia skenario dari produser yang Maha
jangan bersedih pertiwi, ingatkan anakmu berjalan hati-hati
Jangan meronta si buah hati, laju hidup dalam hidangan zaman adalah suratan.

Diri,
bersandarlah pada haribaan temui jiwa,
Tuhan itu bersemayam tak bertempat. "Llihatlah...!" IA.
IA tersenyum menatap tatapan insan yang mengenali keabadian Rabbaninya.

Sebentar lagi laju diri ini kan berakhir
Nusantara tetap berlari,
biarkan roda berputar,
jangan ketinggalan kereta,
ikuti saja laju nasib.
Kereta itu selalu berbenah ke stasiun dan stasiun berikutnya.

HR RoS
Jakarta, 08-01-2017





GENOSIDA UMAT DI BUMI SYIRIA
Karya Romy Sastra

Air mata mereka tak lagi bening
tapi sudah darah,
tubuhnya sudah kering
tidak lagi bernyawa,
tanah yang diberkahi telah tandus
sudah dibumi-hanguskan.

Haus lapar sampai pada kematian
obat-obatan semua diboikot
pemimpin di sana tidak lagi punya jiwa
sudah watak serigala.

Pembunuhan,
kejam brutal biadab tak lagi manusiawi.

Homo homini lupus,
manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya.

Ya Allah

Kerukunan itu telah musnah
perbedaan ideologi antara Suni dan Syiah,
di manakah kedamaianmu kini
oh, Suriah?

Kompleks kepentingan merajalela
hipokrit dunia ketiga menikam dari belakang
efek politik keserakahan musang berbulu domba
bak binatang buas di hutan belantara
siapa yang kuat dia berkuasa.

Duh, pemimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa
di mana telingamu kini,
seakan tuli.
Kenapa lembagamu lemah tak berdaya,
dikau melihat media seakan buta
pelayananmu hanya seremonial saja
tak menyentuh ranah perdamaian
tindakkanmu,
seperti pecundang pasang kuda-kuda.

Robohkan saja gedung putih itu
karena tak lagi berfungsi dengan semestinya.

Kini,
jeritan umat di Suriah pilu
kehidupannya terhempas ke jurang yang terdalam
menakutkan.

GENOSIDA, pembantaian di mana-mana
tak lagi punya nurani
tak berprikemanusiaan,
hanya karena sebuah jabatan
tak kau pikirkan balasan Tuhan.

Politik binatang telah membutakan akidah
adakah engkau Dajjal-Dajjal itu?

Menangis sang utusan di makam suci
ia tak bisa berbuat apa apa
padahal sang Nabi,
menitipkan hukum risalah Illahi yang harus dipedomani.

Berdamailah kau kini,
wahai Suni dan Syiah
jangan ikuti alur history Iblis
kau manusia punya hati....

HR RoS
Jakarta, 08-01-2017






#PS_2349
(Campuran kata dan suku kata)

SANG UTUSAN
Karya Romy Sastra


aliran jiwa
urat nadi bernyawa
magenta warna darah merah
sempurna insan kamil unsur tubuh bersatu anasir hidup manusia

Adam
khalifah
di dunia
bapak segala tubuh Nabi

HR RoS
Jakarta, 07-01-2017





LUKISAN MALAM
Oleh Romy Sastra


Malam ini syahdu
kuraih secarik kertas putih
lukiskan aksara malam
diam dalam kelam
merindukan kenangan

Menyusun bisikkan bathin
ke kawah rasa
rindu menikam pilu
terluah di kesendirian
meskipun hamparan malam
berkabut bisu dalam tatapan

Pada alam nan sunyi
sejuk tubuh bermandi embun
mendung melingkari galaxi
butir-butir kejora
yang biasa menampakkan kerlip
telah hilang di balik awan

Lukisan malam tak bergambar
merupa rasa ke dalam tinta
syairkan senandung riuh pada bayu
kejora redup
malam temaram kian kelam
tak berpurnama mendung sudah

Lukisan malam bias tak berkenyataan
kanvas pudar magenta jiwa buyar
cakrawala bertabuh dentuman
pertanda akan turun hujan
takut berselimut dingin
malam kian mencekam
menakutkanku
lukisan malam angan-angan

HR RoS
Jkt, 07012017





BERLAYAR RINDU
Karya Romy Sastra


Tutup lubang dunia
ia jendela penggoda
kenali rumah sejati
temui kematian
hingga wafat tak berkafan

Makam diri bercahaya megah
nisan berasma cinta
tak lelah menggali tanah
liang sembilan pasungkan
getar nadi jangan hiraukan
hingga sesak sekejap jangan risau
di sana pintu maha hidup menyapa.

Bukalah dada asmara
leburkan ego di tiang ampunan
rengkuh rasa sentuh awasNya
Ia magnet menuntun usaha tak sia-sia
tak berjarak sedikitpun dari yang ada
bercumbu di setiap pesta
panggung kerlip tak berlilin
merona seperti purnama

Bercinta bersama kekasih sejati
dalam kelambu rindu
detik-detik memandu laju
dengan kereta kencana tak berkuda
terbang tinggi membubung
bersayap aurora cinta
langit dan bumi bersatu di dagu
Ia menyelimuti ruang dan waktu

Ingin tahu mutiara terindah
jangan takut dalamnya sagara
berlayarlah, hingga fana
telanjangi jiwa jangan bernafsu
biarkan bidadari menyapa menggoda

Renangi saja tanpa ragu-ragu
pakai tongkat petunjuk jalan
biar tak tersesat bertamu
ke dalam istana tak berkaca
kemilau bertumpuk dalam tatapan
tak runtuh di himpit nafsu
mandilah dengan tirta cahaya terindah
nafs diri pasrah bersatu padu pada tajali itu

HR RoS
Jakarta, 06-01-2017





SETANGKAI KEMBANG RINDU
Karya Romy Sastra


Seribu satu cerita telah kuluahkan
memetik sebuah kisah
yang takkan mungkin kulupakan

Pada setangkai nan merekah
menitip aroma wangi
sekuntum bunga berseri
satu kelopak jatuh ke bumi
mencium hanyirnya jejak musafir

Baru saja kemaren
simphoni rindu kudendangkan
kini,
nada rindu itu telah sumbang
pada sebuah keadaan
yang sulit dimengerti karena berjauhan.

Bila cintaku adalah deritamu
maka campakkan noktah hati ini ke samudera terjauh
biarlah riak gelombang menenggelamkan jejak layaran mimpi

Ketika luka hati tak berdarah
menitis sebak derai airmata
jadikan ia embun 'tuk membasuh laramu

Setangkai kembang rindu
kau bungkam ke dalam lamunan sepi
jangan kau anggap wanginya
sebuah kepalsuan bingkai kekasih
kenapa dikau layu suburlah
jadilah penghibur setia musafir rindu
bersemilah cinta, mekar selalu....

HR RoS
Jakarta, 06,01,2017





KISI-KISI YANG TERSISIH
Karya Romy Sastra


Mengais asa di sisi peraduan mimpi
jerih,
Malam telah bertamu membawa serpihan
rinai,
Duduk sejenak di sandaran hati
diam,
Memandang langit masih berarak
sebak,
Samudera beriak diterpa bayu
gamang,
Pelayaran oleng ke dermaga tepi
sayup-sayup sampai.

Telah kularung tinta seperti magenta
pelangi,
Tuliskan syair-syair puisi pada maya
bercerita,
Senandungkan lagu memori
resah,

Mencoba mengukur bayangan diri
Walau tak pernah sama dalam kisi-kisi hati
Roda waktu mengilas masa tentang impian
Tenggelam sudah ke dalam catatan kelam
seperti malam tak berembulan

Lepas yang semu berlalulah
Sisa-sisa obsesi menganyam realiti
Hingga ke ujung usia
Berbakti saja pada suratan takdir
selamanya....

HR RoS
Jakarta, 05012017





PIGURA TINTA FATAMORGANA
Karya Romy Sastra


Melukis di atas air
kanvaskan rupa diri
bertinta rasa

Terlukis wajah-wajah nan indah
merona syahdu
rupa ini,
di bingkai banyu
tergambar tak merealiti dalam sukmaku

Hayal menatap jauh
ke lubuk hati yang terdalam
rasa gundah,
tak kutemukan warna cinta
dalam pigura kancah telaga

Berlari dan terus berlari
mengejar bayangan diri
kakiku tersandung
langkah seketika terhenti

Di sudut senja,
tak kutemukan warna pelangi
telah lelah diri,
pasrah mewujud
di singgasana senja ini

Ke mana kan kubawa lara
telah lama lara kularung
ke dalam belantara doa

Bisikkan sang bunian jiwa
menyadarkanku pada suatu petunjuk,
berhentilah dikau berkelana
wahai sang pujangga hati

Padahal yang kau cari
sudah ada di depan mata

Genggamlah gita pelangi duniamu
walau ronanya hanya sesaat saja
tapi ia indah untuk dinikmati
bersama noktah cinta itu

Dalam hening,
sekejap melukis bayang
kugoreskan tinta hati
ke dalam kertas bermadah rasa
kidungkan syair-syair rasa
yang tak kunjung merupa

HR RoS
Jakarta, 5-1-2017





MATI DI DALAM HIDUP MENCARINYA
Karya Romy Sastra


Mendaki gunung tertinggi
menurun terjal lembah sunyi
singkirkan semak belukar
kerikil bebatuan menusuk jejak perih
lalui saja!

Dahaga meminum asma cinta
lapar terasa kenyang menganyam yakin
lewat tasbih memandu laju
mabuk bersenandung asmara kasih
di altar religi sufi
asyik bercumbu bersama diri

Kala cinta berselimut duka
jangan risau
kasihNya takkan ke mana
kala rindu menikam pilu
jangan merajuk
sayangNya tak terkira
kala dosa sebesar dunia
bertobatlah!
ampunanNya melebihi bumi dan arasy

Tuhan
telah aku jalani perjalanan hari
tak kutemukan jejak abadi
aku mati mencariMu
dalam tajali jejak wali maha nyata sekali
kukejar Engkau,
Dikau menghampiri dengan berlari
aku terpesona cinta
terbungkus kafan kalimah cahayaNya.

HR RoS
Jkt,04012017





#Puisi_517

SEJARAH
Karya Romy Sastra


#Format Subuh
Adam Hawa
Tercampak dari Surga Allah
Karena dosa tergoda Iblis
Menyesali tiada guna
Bertobat meminta pengampunan diri

#Format Zhuhur
Teguhnya iman dan tauhid
Ibrahim tak terbakar api
Api padam seketika
Wahyu turun perintahkan salat
Salat kewajiban

#Format Ashar
Nabi Yunus dimakan ikan
Ikan itu mati
Nabi Yunus selamatkan diri
Bersatunya badan
Asal usul kejadian salat

#Format Maghrib
Nuh ditimpa banjir
Anak istri tak tertolong
Karena kafir
Nabi bertobat banjir surut
Sempurnanya hidung dan mulut

#Format Isya
Derita Musa kalah perang
Harkiya menang
Nabi susah wahyu turun
Perintahkan salat prajurit teguh
Kemenangan umat diraih
HR-RoS
Jakarta,04.01.2017

Catatan kaki: menurut sebagian pengamat sejarah, asal-usul kejadian salat Maghrib awalnya juga dari Nabi Isa as, wallahu'alam bswb.





SKETSA TETESAN DARAH CINTA
Karya Romy Sastra


Pertemuan sebuah rasa
membuncah asyik,
membulir makraj makraj cinta
dalam cumbu asmaradana
membuai sayang
terlena jerih di puncak kasih

Fitrah bersabda dalam qolam,
sari rasa bersemayam bersama sulbi
tetesan darah cinta berkoloni ke dalam garbah.

Bersatunya wadi, madi, mani, manigkem
dikontak oleh rahmatan Nur Murhammad
jadikan si jabang bayi
berjanji kan mengabdi

Satu langkah insani berada ke dalam syurga
memuji menyapa cinta bertasbih

Menitis ke dunia menjadi khalifah
sebagai regenerasi cinta
apakah akan jadi baik atau celakakah?

HR RoS
Jkt,04012017





PELANGI TAK SELALU INDAH
Karya Romy Sastra


Semburat hari membulir pagi
daun-daun menari lenggok bak bidadari
capung terbang bergoyang
menanti bianglala hadir merupa
fajar redup embun bias tertutup debu

Netra dunia sinari lembah sunyi
di sana dan di sini iklim tak sama
gejolak hari melakon cerita usang
rona silih berganti dalam siklus masa
pelangi adakala tak selalu indah
di antara cerita lama dan kekinian
jelas berbeda

Di sini langitku berkabut
menutup jendela biru
ruang mega keabu-abuan
seduhan kopi tak manis kuhidangkan
dunia disapa tertawan kebisuan
seperti opera tak berpenonton
pentas tertutup layar
seakan tak memahami alur cerita seni
skenario salah tingkah sudah

Bait-bait tinta bersimpuh tertoreh lusuh
pelangi tak sempurna mewarnai lingkaran
dentuman menghapus jejak kabut pagi
terik hadir seperti purnama di malam hari

Kabut pekat akhirnya
rinaikan sebak di dada langit
nuansa pagi tak berseri
pada puisi ini bercerita tentang pelangi
yang tak selalu indah
pada cakrawala dunia

HR RoS
Jakarta, 03.01.2017





#Opini_Renungan
KETIKA BATU NAGA TAK LAGI BERTUAH
Oleh Romy Sastra


Sejarah tuah dalam peradaban negeri
ranah dilingkar adat dan sara' nan elok budi, tergerus zaman oleh kehidupan anak tirani nenek moyang kami.

Dalam sejarah tempo dulu, ketika banjir bandang melanda paru-paru induk sungai Batang Bayang, yang mengalir dari berbagai mata air di sela-sela sungai kecil di hulu rimba Bayang Utara.

Suatu ketika keajaiban alam berlaku di Negeri Kubang, banjir bandang meluluh-lantakkan apa yang ada menghambat laju arus air bah ke muara. Entah dari mana sepasang ular naga berenang dari hulu rimba, terpasung oleh takdir di ujung kampung, hingga menjadi batu.
Sampai saat ini penjelmaan batu naga itu masih ada.

Ketika naga menjadi batu di ujung kampung, banjir bandang tak mampu menenggelamkan negeri hingga batas akhir desa, sehingga Banjir mengelak keluar area desa.

Batu naga nan bertuah, berharap tuahnya dari ridho Allah SWT yang maha kuasa. Adakah naga itu titipan jelmaan Tuanku nan bertapa di Negeri Danau asal muasal negeri Bayang umumnya, Nagari Kubang khususnya. Ataukah sepasang tongkat keramat terbang dari pemilik tuah bumi andalas, tongkat berenang berupa ular naga.
Amanah dari pemilik tuah untuk Kearifan alam yang di legendakan hingga akhir zaman, wallahu'alam bisawwab wallahu'alam kisawwal.

Banjir di negeri kami adalah pesta tahunan, ironisnya hampir tiap bulan. Adakala banjir bandang besar datang dalam setengah dekade bertamu menguji iman anak negeri, bukan sekedar uji nyali lagi. Tetapi uji keyakinan antara tuah dan ridhoNya.
Ketika tuah berlaku jadikan ia iqtibar bahwa negeri itu diberkahi dari yang maha kuasa, dan jangan kotori dengan seribu satu macam konflik di tanah keramat bunda, yang pemilik tuah akan mencabut ridhonya dan berlalu pergi dengan sendirinya hingga ringkih batu teronggok jadi bisu tak lagi berpenunggu.

Ingat, bukan batu alam kekuatan menyelamatkan negeri. Syukurlah legenda tak di dewakan di negeri kami hingga kini. Keyakinan umat tetap berjubah di dada pada Rabb yang memangku buana ini.
Ingat, jangan kosongkan rumah qulhu di corong jantung negeri berkumandang subuh, siang, petang, maghrib hingga menempuh malam. Kala malam menengadah kearibaan, berharap lindungi kampung kami ya Illahi dari marabahaya dan bencana, hanya padaMu kekuasaan yang menolong.

Ketika batu naga tak lagi bertuah,
jangan salahkan bunda mengandung.

Para penghulu tak lagi amanah dengan sumpah:
Ke atas tak berpucuk, ke bawah tak berurat akar, di tengah bolong diliangi kumbang. Begitulah sumpah jabatan disandang jangan lalaikan, amanahlah!

Bundo salingka kaum bertalian basudaro sadonyo. Jangan buat bibit sengketa di tanah tirani nenek moyang bundo kanduang ikon limpapeh rumah nan gadang.
Saling tegur sapalah satu sama lainnya, padamkan bara api membuncah jadi lahar membakar seantero sendi kehidupan nagari.

Lestarikan kearifan alam di bumi ranah minang tanah bundo.
Jangan di rimba membabat lahan sembarangan tanpa reboisasi kembali. Yang akan menyebabkan longsor lereng rimba di mana-mana dan menimbulkan banjir bandang tiba-tiba.

Wahai, para generasi ke regenerasi, bangun kepribadian.
Jangan ciptakan virus zaman pada pergaulan yang bersahaja.
Jangan lukai antar sesama saling berbagilah!

Wahai pemangku tahta dalam titipan risalah lima tahunan, bersinergilah selalu dengan amanah, jangan sampai lengah.
Dan kepada pemangku tahta berikutnya, komitmentlah hingga pada suatu masa jabatan di pundak bersafari putih di ajang pesta demokrasi rukunlah!"

Wahai, kepada corong umat yang berkumandang sabda di mimbar religi, teguhkan iman umat hingga badan berkalang tanah, tak terbawa arus kompetisi seremonial zaman, jadilah jati diri sendiri sebagai ulama.

Dan terkhusus pada penulis saya sendiri, jangan jadi pembual sebagai penulis opini renungan nurani saja, berbuatlah sesuatu secara real pada tintamu ini. Hehem, jangan jadi bedebah.

Doa kami ya Rabbi,
redalah hujan yang tak henti-henti itu hingga mengakibatkan banjir besar. Jadikan hujanMu berkah dan rahmat bagi kehidupan ini.
Hindarilah bencana melanda negeri kami,
kepadaMulah kami berlindung dari marabahaya musibah banjir ini... amin.

HR RoS
Jakarta, 05012017.
(dalam renungan kampung dilanda banjir saat ini)




#Patidusa
KABUT PAGI


magenta pelangi warnai pagi
pertanda gerimis datang
bunga bermekaran
mewangi
mentari
mulai bersinar
tangan cekatan bekerja
mencari nafkah hingga petang

damai
bersama alam
kearifan jiwa berTuhan
bersyukur padaNya ibadah itu
langit membentang di angkasa
lembayung telaga kerlip
teratai berjuntai
akarnya
malam
rembulan bertamu
bintang bersinar terang
awan berlalu pungguk rindu
fajar menyingsing pagi cerah
kabut berlalu menjauh
embun bertaburan
bening

HR-RoS
Jakarta, 11-01-2017






#Akrostik_Typografi
Judul: Romy Sastra
Karya: Aku Dw
RomY SastrA



Obsesimu hanya rela
Menulis bagaikan air mengalir
Yang tak kenal lelah menulis
Sedih gembira religi sufi
Aksara tinta tersusun
Sebagai penyair
Tak di kenal
Rapopo
Aku



HR-RoS
Jakarta, 12-O1-2017





DARAH DUKA BOCAH,
DUNIA TAK BERTELINGA
TAK BERMATA
Karya Romy Sastra


Duka lara nestapa miris
hancur berantakan bermandi darah
SADIS.

Ada apakah gerangan tragedi ini
berjuta jiwa terbantai
dari manusia-manusia bengis

Ya Allah...
Aku menengadah jauh ke labirin jiwa
kurangkai syair puisi hiba
beribu tanya?
di manakah kedamaian dunia kini dicampakkan

Jeritan anak tak beribu tak lagi di rindu
jeritan yatim piatu kian pilu
ironis,
bibit-bibit pun mati musnah berdebu

Riak pasir terpijak di pinggir jalan berbisik
bertanya pipit pada ilalang
tegarlah berdiri meski tanah ini gersang
bom waktu membakar padang
kota-kota hangus tak bertuan
malang.

Geruduk si bengis peluru mortil
berkenderaan berlapis baja
hanya membantai anak-anak kecoa

Kau meniup abu di tungku api
yang tak membara
apa makna pembantaian itu?
hidup ini hanya sebuah ladang ibadah
kenapa kau buat seperti opera kepentingan usia seumur jagung
bukalah matamu, wahai monster berjubah Dewa
dengarkan jeritan tangis mereka.

Genosida kau budayakan di tanah yang diberkahi
tanah mereka berlumuran darah
tanah yang rela dilumuri noda.

Ya Tuhan,

Sudahilah pertempuran itu
damaikan bumi ini
biarkan mereka berlari
mengejar impian cinta-Mu.

Ataukah Engkau lenyapkan sajalah
bumi ini seketika
hingga darah bocah tak berdosa itu
tak tercecer ke mana-mana
Ya Allah....

HR RoS
Jakarta, 11-1-2016. 21,16





"" PESAN CINTA TERAKHIR ""
Karya Romy Sastra


Menatap wajah nan ayu
di balik langit-langit kamar ini
merupa tak berwujud abstrak
bukan ia kuntilanak
tetapi sesuatu yang pernah hadir dalam hidupku

Sepucuk surat titipkan pada angin
sampaikan pesan cinta
labuhkan mimpi kepada impian
ternyata angan-angan

Rongga ini masih bernapas
menghela warna dunia
malahayati cinta masih tersisa
bertamulah walau hanya sesaat saja

Kasih yang telah pergi
pergi yang tak kembali lagi
pesan cinta terakhir itu
masih terngiang hingga kini

Telah lelah kaki melangkah
jejak tak menapak lunglai sudah
tangan kaku melingkari tubuh
aku yang dulu pernah menggenggam erat tanganmu
kini layu

Bibir kelu,
menitipkan harapan nan tersisa
adakah dikau masih merindukan daku
lewat aksara jendela angin
di bilik pembaringan
semoga kidung resah ini tak fatalis
terhantar ke beranda hatimu
berputiklah bunga cantik janganlah layu dikau malu

Kasih,
kuburlah dendam membara itu tenggelamkan bersama sepi
tinggalkan cerita lama
rajut kembali mahadaya cinta
jangan asa pesimis tubuh jadi melemah
hapuslah sisa-sisa air mata itu
bernyanyilah bersama pagi ini
ceria kembali.

Isyarat napasku melafazkan cinta
teruntukmu,
berbahagialah dikau hendaknya
sepeninggalku
aku tak pergi untuk selamanya
hanya sesaat saja

Aku hanya pergi ke alam keheningan
tak berbatas tak ber-ujung
padam tenggelam,
sunyi berbalut iman dalam religi

Pergi tinggalkan dunia cinta sementara
izinkan daku mencari cinta abadi
bersemayam ke dalam haribaan Illahi

HR RoS
Jakarta,11-1-2017





JANUARI KELABU
Karya Romy Sastra


Seribu satu cerita tertoreh
bersama kasih menyulam rindu
siklus tahun berganti
semusim rindu telah sunyi
kembang yang dulu indah mekar mewangi
kini layu sudah

Kenangan membeku
kau lukis sejarah yang berbeda
di penghujung cerita kisah berlalu
pertengahan Januari kisah kelabu
kau pergi meninggalkan gita cinta
yang kupupuk membara
hingga teronggok jadi abu.

Semusim saja kembang itu mekar
belumlah berputik kelopak berguguran
jatuh ke bumi
di pertengahan Januari ini
kau pahat bibirmu menyapa rindu biarlah,
aku terima meski kisah tak rela.

Ikrarku menyulam kasih
takkan kulanggar seumur hidupku
kau larung kisah ke dalam sunyi
membawa rinduku menganyam bisu.

Menadah bulir yang menitis
ke telapak tangan rela
biarlah pelangi menari menghias rasa
jikalau kisah ini kan berakhir
berakhirlah....

HR RoS
Jakarta 12-1-2017






KETIKA JALAN LICIN
By Romy Sastra


Sudah dibisikkan oleh angin
jangan berjalan di hari hujan
jalan yang kau tempuh licin
diam dulu sekejap tunggu rinai reda
petir masih kilatkan apinya
payung pun tak kau bawa

Bertahan pada suatu keadaan
ke hati-hatian
jangan berkaca diri dengan bayangan
jejak laju langkah kan terhalang kelam
memilih adalah pertimbangan
supaya tak terjerumus kedua kali
ke dalam lobang yang sama

Berpikirlah,
pilihan yang terbaik ada di tangan
bersabarlah,
suratan tak terhapus meski arah itu buntu
berikhtiar jalan menuju keberhasilan
jangan menumpang dagu
yang hujan ada masa jalan tak licin
biarkan takdir berbicara
tunduklah pada ketentuaNya

HR RoS
Jakarta, 11-01-2017




#DUKOTU
AZALI

#i
Awalnya dari nur
Hitam merah kuning putih

#ii
Menjadi anasir alam
Tanah air angin api

#iii
Tuhan jadikan tubuh Adam
Seperti patung berdiri

#iv
Lalu ditiupkan ruh
Jasad sujud bertasbih memuji

#v
Jadilah ia insan kamil
Pelanjut tirani dunia

#vi
Pahami unsur diri berdiri
Dari ilmu hakiki

#vii
Kenali awal kejadian
Semoga tahu jalan pulang

HR RoS
Jkt, 10-01-2017





ANJING KESAYANGAN
Karya Romy Sastra


telah aku tarik rentang tali temali
berjarak jauh kupintal mendekat
nan terikat pada simpul pohon rimbun
akar mencakar di ujung kuku
tak melukai dada ibu

pucuk melambai menyentuh arasy
sebagai saksi laju perjalanan kereta
nan acapkali singgah di berbagai stasiun

ketika perjalanan usai
menempuh titian dunia
pengadilan menunggu di meja maha hakim
di sana terjawab perkara rahasia
nan bersembunyi sunyi
di lembaran hari

berkawan dengan dua ekor anjing kesayangan
kuberi nama Iman dan Tauhid
napas anjing setia berhias di setiap laku
tak melolong hanya diam
berbicara bisu

roda kereta berantai besi
rel berbantal baja
pergi bermusyafir membawa cinta
terikat di dada tuan si empu

dua ekor kesayangan bersimpuh
di atas sajadah membentang di setiap laku
pada jejak-jejak santri
menuju dermaga abadi

HR RoS
Jakarta, 10-01-2017





TEROPONG BATIN BERDARAH
By Romy Sastra


Wahyu tertutup sudah di garis batas anbiya
tak ada lagi warta hakiki selain sabda
petuah wali keramat nan bertuah
bisu di pusara mimpi
adakala wangsit dipercaya.

Jibril tak turun lagi ke muka bumi
membawa pesan ILLAHI
setia saja pada titah awal berlaku
sunatullah.

Khidir masih bertapa bisu
di garis pantai tak bertepi
memandang sagara lepas tak berujung
pusara segitiga bermuda dahaga sudah
memuntahkan lahar api ke seantero dunia
teropong batin berdarah.

Semalam,
seribu satu lafaz kukirimkan ke langit
langit mendung,
gumpalan awan hitam menyelimuti malam
rinainya berdarah di bumi nusantara
adakah gejolak di depan mata
bom waktu meledak tiba-tiba?

"Ah... resah,
biarlah takdir mengiringi pelangi
semogalah tumbuh benih-benih tirani
yang memayungi buana
cakrawala pagi menyinari dunia kembali
di negeri pertiwi tanah emas.

Pertapaan rasa puisiku berharap
koloni awan hitam rinaikan darah
tak menatap lagi
bersinarlah wahai dunia....

HR RoS
Jakarta,17012017





#Patidusa
HAYALAN MEMORI
By Romy Sastra


imaji
selimuti sedih
kenapa memori datang
membawa dendam tak sudah
cerita asmara menyisakan luka
tertuduh hipokrit cinta
kisah berlalu
pergi

rindu
kenapa bertamu
padahal cerita berakhir
selesai menyemai benih impian
biarkan ilalang tumbuh kering
meski padang gersang
bertahan sendiri
sunyi

HR RoS
Jakarta,14/01/2017





ROMANSA CINTA
YANG TELAH SIRNA
By Romy Sastra


Sekuntum kembang nan mengembang
biasa mekar di beranda senja
kala malam tiba
setia dingin berselimut embun
tak resah sepi
meski kelopak gugur bersama angin.

Rona senja telah berlalu
sepoi bayu melambai sedih
sayang,
aroma asmara basi sudah tak mewangi
romansa cinta sirna
tak lagi tersenyum manis.

Wajah cantik nan ayu menghilang
tenggelam ke pusara bisu
seakan sinar ayunya redup
bisu membungkam rindu.

Romansa cinta yang dulu bersemi
nan selalu kusirami
kini mati.

Kenapa mesti sunyi bersolek sedih
kenapa juga mesti terluka
padahal belati ego tak kupakai
membunuh naluri
aku selalu bertasbih
gelorakan kasih untukmu
tak kau sadari.

Ah, dikau tetap diam seribu bahasa
membiarkan romansa rindu menjadi basi

Kembang senja nan mekar, mekarlah!
jika kelopak tak layu
meski kemarau hari mengamit hati
biarkan taman itu gersang
bertahan seperti ilalang di tengah padang
biarkan burung-burung kecil bernyanyi
siulkan parung bangunkan yang bermenung.

Belailah rasa sedih
bersapa mesra dalam canda maya
biarkan kehangatan kasih
berkoloni dalam dekapan cinta.

Jangan bisu tersia-sia menyulam pilu
tak lagi membuncah tawa
seakan kau menanam tebu di tepi bibir
manisnya belum ditelan
pohonnya kau biarkan mati.

Kini,
Romansa rindu telah dimamah senja
Layu sudah
malam berselimut dingin
ya dinginlah
biarkan cerita berakhir
tak meninggalkan benci
suatu masa memori menyapa
biarkan magenta hati berwarna
izinkan simponi kasih bernada kembali....

HR RoS
Jakarta, 13/01/2017





#Sinopsis_Renungan
KETIKA TAKBIR DI AMBANG JIHAD
By: Romy Sastra


Langit bumi kita pernah biru
ketika malam bertaburan bintang
menemani rembulan bersinar terang.
Doa-doa malam si pemuja maha jiwa, melantunkan zikir pada Rabbani.
"Ya, Rabbani... damaikan negeri ini
dari angkara murka, nan silih berganti
menerpa maruah kedamaian akidah.

Cakrawala hari tergerus siklus musim
hitam tak berpelita di dada langit
lihatlah pagi ini berkabut, cuaca mendung.
Ada sedikit rona biru mengintip
dibayangi koloni keabu-abuan, yang akan tertutup menghambat kisi-kisi kerlip pada pelangi.

Embun pagi,
dikau butiran suci
tertumpang di daun keladi
beningmu akan bias diterkam debu
selalulah hadirkan lembayung kasih
pada rona yang berseri di muka buku.

Ozon menitip perisai,
tangkis gejolak langit menembus bumi
dan bumi ini tandus oleh efek teknologi,
cikal bakal perubahan iklim
di hati para dewa berhati monster
yang akan menerkam kedamaian dunia.

Selebaran terpampang di kaki lambang negara
seakan mau terkoyak oleh terpaan badai
Garuda itu risih terbang di bumi nusantara
aksara patriot persatuan tersusun rapi
sebagai falsafah ideologi bangsa, akan tercabik oleh para serigala malam
nan meraung melolong minta jatah darah pada bayi-bayi pelanjut tirani kemerdekaan.

Menunggu bom waktu
di poros segitiga bermuda
para punggawa hitam membawa huru-hara akan merusak tatanan leluhur nan berbudi
ngeri, tiba-tiba nantinya.

Panji-panji benalu tumbuh subur
telah berkibar di bumi pertiwi
bratayuda ataukah Jihad di medan laga
menuntut maruah siapa yang benar siapa yang salah.
Ketika takbir komando di ambang jihad berkumandang.
Para pelaku perisai negara wanti-wanti sudah, arah angin ribut akan bertiup dari segala arah.

Warta wara-wiri isyarat jangka
para sepuh pada tuah nan didapatkan dari bisikkan Dewa, melaju sudah dengan semestinya. Pahami! jangan heran, ia tetap terjadi percaya tak percaya.

Kitab sabda Nabi menitip pedoman
pada suluh di hati nan beriman yakinlah!
Bahwa janji hukum kalam Nabi
pasti tak mengingkari laju zaman menguji insan, ia keniscayaan.

Lalu,
apa yang diperbuat lagi
ketika rongrongan bertubi-tubi
mencabik sendi-sendi kehidupan
tak mau lagi berdamai dalam kebersamaan
di negeri intan berlian ini.

Aku termangu di ujung aspal
melihat pelangi tak lagi indah pada warta di setiap pagi dan senja.
Akankah halilintar,
membumi-hanguskan tiba-tiba kejayaan
di negeri sumpah palapa
dari maha patih Gajah mada
yang pernah ia torehkan dalam sejarah persatuan nusantara lama menuju kejayaan nusantara tercinta.

Berdamailah negeriku!"
Jangan undang sengketa
di hati para anak bangsa....

HR RoS
Jakarta, 12-01-2017




SEMUA TENTANGKU
By Romy Sastra


Berkaca diri pada bayangan silam
menatap hayal dalam kelam
aku majenun paranoid
dalam gugusan cahaya temaram

Dihantui goresan yang menikam
kala gundah membuncah lara
sulaman yang selalu dirobek
ditenun kembali dengan tabah
menjadi gaun-gaun cinta

Semua tentangku,
salah menumpuk dalam tuduhan pahit
aku terima saja meski sakit
kan kucabari ke-egoan bara api
membakar ranting-ranting patah
dalam gentingnya tali buaian kasih
masih tersisa setetes embun
"tuk basahi gejolak tak pernah sudah

Jalan nan berlumpur
pada jejak yang telah goyah
arah mana kan dilalui lagi
jalan itu basah semua, ternoda

Pertemuan sudah tak semesti
genggaman jemari tak lagi mesra
asmara berbunga benalu
titian kasih terurai pada benang merah
melaju gita cinta di arah yang tak sama

Sekuntum bunga nan pernah harum
menutup rindu
larung sajalah rasa menyulam bisu
jika kertas tak mampu membungkus bara

"Ahh... satu kisah
dalam makna lingkaran cinta
jalinan menjadi sia-sia saja....

HR RoS
Jkt,24/01/2017





FATAMORGANA RINDU
Karya Romy Sastra


Lembayung kasih tertutup mendung
pagi ini,
rintik-rintik hari menitis berkepanjangan
semakin mencekam sunyi
dalam alunan memori

Labuhkan tatapan ke kertas lusuh
Memadah bayangan fatamorgana rindu
kutulis dengan tinta rasa memamah sukma lara

"Oh, rindu,
dikau tak lagi nyanyikan nada merdu
kala dulu menyapa dengan mesra
pada nada-nada kasih yang syahdu
telah terbungkus pilu
ke mana kan kucari bayangan rindu
telah semu jadi realiti imaji diri

Semburat luka semakin menganga
tak kenal lagi darah yang mengalir
luka disayat sembilu
tak lagi kurasa bulir yang biasa menitis
kala sedih menyapa hatiku

Rasa itu telah hambar
ditikam fatamorgana rindu
yang kian beku
mimpi semalam telah usai
pergi bersama kepalsuan kekasih

Dalam masa yang tersisa ini
mengadu dalam doa
berbahagialah rindu-rindu
nan dulu pernah kusemai
ke dalam noktah cinta bersamanya

Meski noktah hidupmu gersang berkabut
bayangan hari yang tak lagi bermentari
lalui saja kisah cinta meski pahit
berbahagialah duka....

HR RoS
Jkt,23/01/2017





BUNGA-BUNGA MIMPI
By Romy Sastra


Skenario hari tentang senja kan pergi
sisakan sunset di kaki langit
menuai malam lelap berselimut mimpi
cerminan diri pada rona hati
terbawa ke dalam layar bayangan tidur

Tentang sekuntum bunga senja
mimosa pudica tertumpang butiran embun
layu tak tersentuh, malu
bunga-bunga mimpi tenggelam tak berkenyataan

Ooh, kabut petang, iringi merpati pulang
malam hampir tiba
sedangkan bidadari enggan merupa
adakah benar bunga-bunga mimpi
kan kembali menari, entahlah....

HR RoS
Jkt, 22/01/2017





#Quotes


Kepada ruh berhutang sama amanah
Anasir sudah manunggal jadi insani
Kenapa Tuhan tak dikenali
Durhaka saja hidup
Lebih baik mati sebelum berjanji

HR RoS
Jkt, 22/01/2017





" DI STASIUN SEPI "
By Romy Sastra


Pada penantian yang lelah
kereta telah berlalu
lewati stasiun pagi itu
termangu pada sebuah kenyataan
ditinggalkan oleh penantian
yang membosankan.

Semburat debu melukis di wajah lusuh
pagi nan ayu
siklus cuaca cerah berubah mendung
di cakrawala hati yang gundah
bingung.

Lelah menunggu sesuatu yang tak tertunggu
bergumam,
"Mmm... pegang erat jemari
tertindih di kening
imaji terhempas pada lamunan pagi
mendung hati rinaikan diri
pegangan jemari terlepas
genggaman bias.

Dalam lelap duduk sandarkan mimpi
biarlah kereta itu berlalu pergi
tinggalkan daku di sudut duka

Duh,
berurai air mata kecewa
di stasiun yang sepi
kuusap bulir perlahan menitis
menghapus kisah pagi
seakan tak pernah ada resah terjadi

Kereta berlalu sejauh mungkin
dan tak akan mungkin kembali lagi
keterminal sepi
laju kisah masinis tinggalkan merpati
sayap patah sendiri

HR RoS
Jakarta 21/01/2017





-------- I B U ---------
By Romy Sastra


Kudapati kabar tentangmu
dari adinda
kau kini tergeletak payah
di pembaringan tidurmu ibu.

Ada apa gerangan ini ya Illahi
bak petir menyambar di siang hari
air mata langit seketika menitis
seiring tangis membuncah
mengiris batin di lorong hati.

"Ya, Rabb....

Pertemukan aku dengan ibuku selagi nyawanya masih bersahabat di badan.

Pada tinta petang ini
aku menyusun berita syair lara
yang ke sekian kalinya mengudara
kukabarkan pada seorang ibu
yang melahirkanku.

Ibu

Tataplah dunia ini dengan napas
jangan bisu mengundang haru cinta yang masih tersisa pada buah hati
nan berada di tanah Jawa
kembali ke ranah tepian mandi
sauk seteguk wudu' membasuh ruh
berdoalah selalu.

Terpisah jarak di lingkar samudera
antara tanah Jawa dan Sumatera
kan kuarungi sagara itu
melintasi cakrawala berkabut
dalam tatapan yang sendu
senja yang akan meredup.

Siang tadi aku mendengar suaramu ibu
di ujung telphon bernada lirih
di larung sunyi menyapa bilik hati
suara terbata-bata memanggil
"Romy... pulanglah nak!"
ibu sudah payah kini.

Seketika suara itu perlahan membisu
sekejap ananda bagaikan anak yang dungu
tak menentu,
apa yang harus diperbuat
resah berlari kepada suatu tempat
berlari dan terus berlari
mengejar bayangan senap terperap
yang melintasi sekejap
hanya keyakinan
bahwa cinta itu masih segar terasa
"Tuk didekap erat.

Terpaku lelah di sudut rasa
pada pelarian yang tak terarah
peluh dan air mata mencucur
kusujud sektika di sebuah mushala,
ya Allah... ya Allah... ya Allah....

............... .............
............... .............
pertemukan ranting berhamburan
di lingsir warta kejauhan
antara Padang dan Jakarta
ingin bertemu pada ibunda
terkapar di ranjang pesakitan
astaghfirullah....

HR RoS
#BERDUKA
Jakarta 21-1-2016, 16,00





#Prosais_Kolaborasi
Judul: JANGAN AMBIL NYAWAKU TUHAN
Karya: Romy Sastra dan Puji Astuti


1.
Kembang ilalang mekar di tanah tandus
daun subur batang tegar berdiri
rinai tak pernah datang suburkan gersang
noktah terukir di telapak tangan
berkaca, ada garis pemisah
tak bertemu goresan tinta dengan buku
azali menitipkan titah
pada sepasang merpati berjanji

Seribu satu lakon hidup dijalani
episode berlayar bermandi peluh
darah tertumpah pada tirani
bunga berputik jadi buah

"Ah...
janji pengabdian belum semua ditepati
kisah noktah kan tenggelam
senja menyapa purnama tak merupa
kabut hitam melayari malam
detak jantung bisu nadi diam
jangan ambil nyawaku Tuhan

Wahai kusuma hati jangan bersedih
jika aku pulang tinggalkan kenangan
sepasang merpati jangan pernah ingkar janji
setialah noktah sampai mati
kutunggu dikau wahai kusuma
di pintu surga
jadilah permaisuri berbakti
hingga selesai syair noktah kehidupan
pada kidung menyayat hati

Titipkan kerlip pada malam religi
jangan sunyi mengundang misteri
suluhkan lilin pada tirani
lembayungkan aurora surya pada embun pagi
buah hati,
jangan lupa sebait doa wahai ananda
bila nisan sedih tak tersirami doa berbaktilah....
****

2.
Beratus ribu detik telah melibas hari-hari
tiada rasa terbelenggu 'tuk dampingi janji
merajut rumbai kehidupan hakiki
seakan derita menyatu di antara nadi kita
berbinarlah wahai tulang rusukku
hari tiada indah tanpa gurat senyumanmu

Kutanamkan janji suci abadi
dalam altar kesucian imani
permadani tempat bertaut rindu
tak ingin kehilangan bayangmu
seperti jua diriku
yang selalu ingin mendampingi di senjamu

Pengabdian ini belumlah sempurna
luka kecilmu jua masih perih
rajut benang sutera masih kusut
tunggulah barang sedikit waktu untukku
merapikan semua amanah noktah

Pemahat jiwaku
rengkuh sukma di batas nurani
jangan jatuhkan isakku atas kepergianmu
kurasa kesanggupanku tak sekuat ketegaran
masih adakah sedikit waktu untuk kami,
TUHAN
berilah beberapa saat lagi
untuk membingkai kebahagiaan senja
titipkan memo pada darah-darah tirani
semoga mereka berbakti....

Jakarta, Jogjakarta 20/01/2017





MAKNA SEBUAH KISAH
By Romy Sastra


Kedewasaan cinta mewaspadai rasa adalah makna tak terhingga
kecemburuan menyesak di balik kisah
kebodohan nan dungu dipelihara
kearifan jiwa pada yang ada
titipan maruah langit yang sempurna

Semburat larik membuncah kata
maknai aksara dengan seksama
hadiah kebahagiaan senyuman mesra
penjarakan fatamorgana pada doa
biarkan ilusi menjauh pergi

Analisis arti klimaks sempurnakan kasih
memahami larik tersembunyi
tiada bayu berhembus tak menitipkan
syahdu
tiada banyu mengalir tak suburkan
malahayati

Oohh,
Pucuk-pucuk cemara berguguran jatuh ke bumi
seperti angan melayang
tak karuan jadi paranoid
jangan pungut kisah yang telah mati
biarkan debu meretas jadi aurora suci
tak sia-sia janji azali iringi kehidupan
berdamai bersama takdir
mengukir renda jubah wibawa bersahaja

Jauh mata memandang tertikam kosong
bayangan seketika hilang dari tatapan
jangan paranoid dihidangkan
sempurnakan kisah tersenyumlah

Berdiri di jejak yang tak pasti
biarkanlah azali menjadi misteri
satu kekuatan yang tersisa
potret-potret sejarah jadi cinderela
tatapan terpigura
ke dalam bingkai-bingkai kisah selaksa
sentuh mahadaya tersembunyi
mengiringi langkah hari
tersenyumlah wahai diri
bergurulah pada rasa Illahi
Ia mursyid sejati.

HR RoS
Jakarta, 20/01/2017





BERSELINGKUH
DENGAN SASTRA
By Romy Sastra


Telah lama kubungkam cinta
pada rongga dada
payet-payet asmara berjatuhan
biarkan saja selendang rindu koyak.

Lentik tarian diksi mengisi kosa hati
sendu kidung imaji pelepas dahaga sunyi
menyusun bahtera dalam nahkoda jiwa
mengitari rasa dunia seni kata.

Pada ego diri membingkai seni
meluah rasio imaginasikan jiwa
leburkan lamunan
larung hayal ke atmosfir jingga
jingga pelangi cinta puisi bermadah.

Aku telah lama terpikat sastra
semenjak darah tertumpah ke dunia
kala itu,
sang Maha Jiwa
menitip poetic pada rahim ibuku
tinta menggantung di labirin misteri diri
berkaca pada alam memetik kearifan.

Cerminan rasa diri ini pada dunia
tertegun tertunduk dalam lamunan
indahnya stalaktit stalagmit renda larik
sulaman alam sastra para pujangga
terpesona gitakan seni kerdilku
meski tak menarik.

"Oohh, ternyata sukmaku
berselingkuh bersama hayalan
di malam-malam yang sunyi
menghitung bintang di langit tinggi
adakah kerlip jatuh menimpa tinta
jadi aksara, aahhh....

Kala siang menyapa hati
teliti asyik bercinta melirik larik
tintakan syair-syair gila.

Seringkali kuabaikan pesona
pada noktah malam yang realita
memilih berselingkuh melalui puisi
menyusun realiti sastra itu
jadikan bahtera ke dua
bersanding pada impian tak berkonflik.

Si empu cinta Romy sastra,
jujur; tak banyak pahama aksara sastra
aku bercumbu saja dengan madah
terlintas begitu saja.

Berselingkuh dengan sastra
memanglah berbeda.

HR RoS
Jakarta,19/01/2017





NAN TERLUPAKAN
Karya Romy Sastra


Rajut terkoyak sulaman rapuh
Roda waktu menjajah lara
Terbuka benang memori di album lusuh
Hari berlalu musim berganti
Kidung jiwa leraikan resah
Rindu bertamu di tepian hati
Lembaran asmara telah kubencii
Aku kalah pada gita cinta pelangi
Tak memihak pada sebutir embun

Pergi sajalah kisah jangan datang lagi
Rawat kenangan dan lupakan kekecewaan
Tatap laju ke depan meski rasa itu pahit
Berdamai bersama jiwa tinggalkan dendam
Lupakan kisah sedih yang dulu
Kisah kasih yang tak sampai
Memang noktah kita telah berbeda
Tak lagi bisa bersatu
Hilang jangan dikenang lagi
Biarlah rindu-rindu terbang bersama debu
Nan pergi biarlah pergi....

HR RoS
Jkt,18012017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar