RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 16 Februari 2017

Kumpulan Puisi & Cerpen HR RoS - KEMATIAN


DAHULU KAU "BONGKAR" BENTENG SOEHARTO ("BENTO")

Anggota DPR kau juluki "BADUT"...
Lalu kau berkirim "SURAT BUAT WAKIL RAKYAT" agar jangan menjadi "TIKUS-TIKUS KANTOR"...

Sampai-sampai orang menjulukimu "MANUSIA SETENGAH DEWA"

Dan para penggemarmu pun berkata "IZINKAN AKU MENYAYANGIMU"...
Tapi kau bilang "AKU BUKAN PILIHAN"...

Ahh, "JANGAN BICARA" lagi tentang idealisme...

Karena kulihat kau ada "SIANG SEBERANG ISTANA", lalu dipanggil masuk ke dalamnya...

"ENTAH" apa "YANG TERLUPAKAN" olehmu..
Hingga tak ada lagi "KEMESRAAN" di antara penggemarmu...
Mungkin mereka sudah "FRUSTASI"...

Kini aku sadar, yang ada hanyalah "DEMOKRASI NASI"...

Jika "BUNG HATTA" masih hidup, mungkin akan berkata padamu...
"Kau bagaikan "BELALANG TUA" yang tak mampu lagi
menganalisa...

Dan lihatlah, sang "GURU OEMAR BAKRI" yang pernah kau puji,
sekarang pun pergi meninggalkanmu...
Pergi ke "UJUNG ASPAL PONDOK GEDE" mencari "IBU" nya yang lama dia tinggalkan...

Sang ibu yang matanya seperti "MATA INDAH BOLA PIMPONG", kini duduk termenung memikirkanmu sambil meneteskan "AIR MATA" lalu bergumam lirih...

Hmmm... "HADAPI SAJA" walaupun harus "ANCUR" !

@setyomartha-





#Puisi_517
KEMATIAN
By Romy Sastra


#format_isya
bertamu pada mihrab diri
senandungkan tasbih
fajar menyingsing terik menanti
gerak sulbi getarkan nadi
berpacu darah mendidih

#format_subuh
kepada malam
nan berlalu menyapa siang
silih berganti keniscayaan hari
kapan menemui mati
ketika hidup mengenali Rabbani

#format_zuhur
kenali ilmu belajar mati
bimbingan makrifat pada mursyid
mati tapi hidup
fana dalam salat daim
rahasia hakikat

#format_ashar
hidup semakin menatap senja
tanah merintih sedih
kapan sujudkan jiwa mencariNya
jangan menyesal
ketika terbangun dari kematian

#format_magrib
butiran kerlip amal
ataukah debu menutup tubuh
ketika neraca
tak tertitip safa'at Nabi
merugi merintih tak tertolong

HR RoS
Jakarta, 25/01/2017





#Quotes

kepada perisai nusantara berotot Dewa
pertiwi nan berjiwa Srikandi
junjung budi di tanah trani, waspadalah
jangan kepala terinjak oleh kedunguan diri
sebelum kolonialis menumpahkan darah
pagar betis diper-erat kembali

HR RoS
Jkt, 25/01/2017





#Cerpen_Kolaborasi
KETIKA CINTA TAK DIRESTUI
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta


#1
Mentari telah meninggi, di balik pentilasi jendela. Perlahan kusibak tirai pembatas dingin dari siklus hawa tak menentu menerebos jiwa nan lara.
Sedangkan hati ini masih resah, menatap jalanan yang diguyuri hujan semalam.

Tok..tok...tok....

Terdengar suara ketukkan pintu
dari luar kamar, seperti ada yang mau membangunkanku.

"Hai... Ridwan, bangun! hari sudah siang.
Apakah kamu gak kerja hari ini? Sahut suara itu.

Sepertinya ibuku memanggil ini, bisikku dalam hati.

"Ya... ibu, aku sudah bangun ini,
ibu berlalu mendengar jawabanku telah bangun.

Lama tatapan kosong
kala memandang satu pigura di dinding kamar terpampang.

Ia Anetta, kekasihku.
Bergumam, bertanya dalam bisu?"

"Netta?"
Kenapa dikau hadir mengisi hidupku,
abang mencintaimu Netta
sedangkan akidah kita berbeda
diriku ingin memilikimu.
Tapi, "ahh... lamunan, kau usik jiwaku.

Anetta, kita yang pernah mengikat janji tuk saling mencintai selamanya, apapun itu rintangan kita nanti, akan dihadapi berdua.
Bak merpati tak ingin ingkari janji sampai mati.
Setengah dekade jalinan cinta bersamamu, orang tuaku belum diberi tahu sama sekali tentang hubungan kita.

Pagi telah merambat pergi, aku Ridwan masih saja di atas tilam lusuh berbantal jemari letih.
Dengan rasa malas tiba-tiba, aku putuskan tak masuk kerja hari ini.

Lalu, ibuku mengetuk pintu kedua kalinya.

Tok..tok...tok....

"Ridwan..., haii, nak?"
kenapa belum bangun juga kau ini?"

Tak sabar ibuku membuka pintu, kreekk...
memang pintu tak terkunci dari semalam.

"Walah... kau ini Ridwan!"
Ada apa sih kamu kok melamun begitu, hari sudah siang, apa kamu cuti hari ini?
tanya ibuku dengan nada penasaran.

(Aku masih saja diam menatap
foto Anetta di dinding kamarku)

Spontan ibuku mengambil bingkai yang terpampang di dinding, ia sudah lama potret itu menghias relung-relung asmara, di kala kurindu dengan Anetta.

*******

Coba kamu terangkan Ridwan!"
Ada apa dengan foto ini?

Kutatap wajah ibu dengan rasa pesimis dan malu.

"Ibu..., maafkan Ridwan ya bu.

Foto ini adalah Anetta kekasihku bu,"
terus!" tanya ibu lagi.

Ia Anetta, sudah lama kupacari, Netta minta menikah denganku ibu.
"Lho... baguslah itu Ridwan, Nietta kan cantik, wanita karir lagi,
dan kalian saling mencintai kok.
Ibu juga tak sabar menimang cucu kesayangan dari pernikahan kalian nanti.

Ia ibu, tapi.
Tapi kenapa Ridwan?"

"Ibu... Anetta itu beragama Kristiani lho ibu.

"Walah... sahut ibu.

Tidakk, tidak Ridwan....

Ibu tidak merestui kamu menikah dengan Anetta itu. Dengar Ridwan!"
Apa kata dunia, jikalau ibu punya menantu orang Kristiani.
Mau ditarok di mana muka ibu, semua saudara mencelamu nanti Ridwan.

"Buu... yang menikah itu aku bu,
bukan mereka.

"Ia... ibu tahu itu Ridwan, tapi bagaimana pertanggungjawaban di akhirat kelak, sedangkan tuntunan agama kita jelas melarang menikah beda agama.

"Yaa... ibu, cinta itu butuh perjuangan serta pengorbanan.

Pengorbanan apa? Tidakk Ridwan.
Kamu tidak boleh menikah dengan Anetta itu, titik....

Ibuku keluar dari dalam kamar, membawa ekspresi gundah gulana.

Sedangkan aku larut dalam pikir, bak buah simalakama menjadi menu pagiku.

Kutuliskan sepucuk surat
kukirimkan pada Anetta.

Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang....

*******

#2
Sementara itu di tempat lain...
Anetta termangu..
Matanya menatap jauh ke arah jendela kantornya yang berhadapan dengan laut...
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang..... atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Kutipan ayat yang disampaikan pendeta dalam khotbah ibadah minggu masih saja terngiang dalam telinganya. Hati Anetta benar-benar kacau balau.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku bingung Tuhan... di sisi lain aku begitu mencintai Ridwan... tapiiii....." batin Anetta.
Hanya butiran bening yang menetes di pelupuk mata Netta.

_________________
__________________

Suatu siang...
Sepucuk surat dari Ridwan datang.
Dengan tergesa-gesa Anetta pun segera membukanya.

"Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang.."

Anetta terhenyak ketika membaca surat dari Ridwan. Ada pemberontakan yang begitu hebat di hatinya.
"Tidak... jangan sekarang Bang.. aku belum siap bila harus berpisah dengan abang!" jerit Netta sambil meremas surat dari Ridwan.
Ia pun bergegas mencoba menghubungi Ridwan di handphonenya, namun sia-sia saja. Nomor milik Ridwan tidak aktif.
Ahkirnya ia pun memutuskan mencari Ridwan ke Jakarta.

Bukan hal yang mudah untuk mencari alamat Ridwan di Jakarta. Namun dengan sedikit bantuan dari seorang teman, Anetta berhasil menemukan rumah Ridwan.
"Tok... tok... tok... permisi..." ucap Netta sambil mengetuk pintu rumah Ridwan.
"iya sebentar" sahut suara dari dalam.
Tidak berapa lama terdengar pintu dibuka, kreekkk....
"Netta???" ucap Ridwan terkejut. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Ridwan setengah tidak percaya jika yang dihadapinya adalah Anetta, kekasih hatinya, lima tahun lamanya ia menjalin cinta.

"Eh.. anu.. itu.. eh... silahkan duduk Netta" kata Ridwan sambil tergagap-gagap.
Anetta pun duduk berhadapan dengan Ridwan. Untuk sementara waktu mereka hanya saling terdiam. Hingga pertanyaan Ridwan pun memecah keheningan di antara mereka.
"Kapan kau sampai di Jakarta?" tanya Ridwan.
"Kemarin siang saya sampai abang, aku menginap di rumah Maria. Dia yang membantuku mencari alamat abang." ucap Netta getir.
Lagi-lagi mereka berdua pun kembali terdiam.

Netta membuka pembicaraan

"Kenapa Bang? Tidak adakah jalan keluar yang terbaik buat kita? Apakah memang semua harus berakhir seperti ini?" kata Anetta terisak.
"Entah Net.. tapi mungkin ini yang terbaik." ujar Ridwan.
"Tapi Netta mencintai abang...." sanggah Anetta.
"Begitu pula dengan abang Netta... abang juga mencintai Netta tapi perbedaan kita sungguh tidak bisa disatukan Net..." sahut Ridwan. "Apa kamu mau berpindah keyakinan demi aku supaya kita bersatu?" lanjutnya.
Anetta terdiam dan tenggelam dalam isak tangisnya.
"Jawab Net.. apa Netta mau?" desak Ridwan. "Maaf bang... Netta tidak bisa membohongi kata hati Netta... Netta tidak bisa ikut keyakinan yang abang anut..." ucap Anetta.
"Begitu pula dengan abang Net... bila kamu mengajukan pertanyaan yang sama, abang pun tidak sanggup untuk ikut keyakinan yang kamu anut..." sahut Ridwan. "Dan lagi... apakah kita mau menyakiti hati orangtua kita bila bersikukuh meneruskan hubungan ini?"
Anetta menggeleng.
"Bagaimana pula dengan anak-anak kita kelak? Tidak mungkin dalam satu kapal akan dikendalikan dua nahkoda dan akidah... kapal tersebut tentu akan kesulitan menemukan arah dan tujuannya... Kamu paham kan Net?" ucap Ridwan.

Anetta pun menyeka air matanya.
"Netta paham bang... Maaf bila Netta terlalu egois ingin memaksakan hubungan ini...

Dengan hati yang kecewa, gayung tak bersambut, bak pucuk dicinta ulam layu sudah.

"Oya, bang, Netta pamit pulang aja ke Semarang bang... Netta ikhlas... Netta legowo dengan keputusan yang abang ambil... Semoga abang menemukan wanita solehah untuk mendampingi hidup abang... doa Netta menyertai abang. Dan Netta tidak pernah menyesal jatuh cinta pada bang Ridwan" ucap Netta sambil tersenyum.
"Abang pun juga begitu Net.. Abang tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Netta dan abang doakan Netta pun segera menemukan pendamping yang lebih baik dari abang" jawab Ridwan.

(Hingga Ridwan berpisah secara baik-baik dengan kekasihnya Anetta)

Selesai
Jakarta, Semarang, 24/01/2017





SERUNAI PELUH AYAH BUNDA
By Romy Sastra


kepada peluh
nan mengering jadi debu
berkawan hari
zam-zam menganak sungai
di sela pori
mengais sandang pangan
pagi dan petang
mencipta asa pada buah hati

napas menitip jerih pada riuh
bawalah mimpiku mentari
jangan redup
meski kulit terbakar terik
tergurat di tubuh kian layu

baju berlapis perca koyak dan lusuh
dalam sepi
senandungkan kasih tak bertepi
serunai hati ayah bunda
membelai jemari si kecil menangis

tataplah pelangi nak
jangan kau kejar angin
kan terjatuh pada sepoinya hidup

menunduklah melihat rerumputan
jangan menatap kerlip kan terjatuh sakit
jejak kaki ayah bunda
titipkan nama dan sejarah di dadamu
meski berdarah dan bernanah tak mengapa
asal kau bahagia memetik kilau suasa
jadikan emas permata

HR RoS
Jkt, 26/01/2017




#Quotes


kepada bangkai-bangkai hidup
kesucian tertutup pada nafsu
nyalakan pelita jangan redup
hidup bagaikan suci dalam debu
berterima kasihlah padaNya
sujudkan tubuh dan jiwa ini
kenali anasir diri
nan tercipta dari cahaya jadi sempurna
mengabdilah!

HR RoS
Jkt, 30012017





#Renungan
Testimoni Pada Suatu Mimpi
By Romy Sastra


Ada yang lebih panas dari api
yaitu matahari
Ada yang lebih tajam dari belati
yaitu mata hati
Panas dan tajamnya mata hati,
bisa memandang cahaya yang tersembunyi.

Angin dan air kekuatan yang paling kuat di dunia ini,
Tapi, ada yang lebih kuat dari angin dan air yaitu rasa.
Sedangkan rasa bisa mengenal Dzat Illahi.

Itulah sempurnanya insan kamil yang tahu jati diri,
Keadaan nan abadi ada di alam diri,
Sampai ke akhirat nanti maha nyata sekali.

HR RoS
(tertulis di Jakarta, senin malam
1-Mei-2000,
sebuah kertas menghampiri dalam mimpi)





GORESAN BAYANGAN MEMORI
By Romy Sastra

Menulis abjad diri
dengan rasa tak berwarna
aksara bayangan tak berwujud
bermukim ke dalam lembaran jiwa
menggubah memori pada puisi
mengenang masa-masa bahagia
walau ia selalu berhias kecewa.

Duh diri,
kenapa dikau menangisi story
yang tak semesti
padahal bayangan kekasih
takkan mungkin kau pegang
dalam dekapan satu hati.

Diri,
tataplah wajah belas kasihmu
di dinding kaca kau menangis
kan sadari arti hidup
takkan mungkin mimpi-mimpi diraih
karena ia semu dalam tidurmu.

Di rona bibir memandu bisu
lembaran hari menyulam kenangan
kenapa bulir seringkali tercecer
pada kaca menatap wajah layu
merajuk pilu bukan karena tak tegar.

Memori nan semakin menjauh
dan jauh berlalu tak menentu
menyepi sepi
ketika malam menyulam kelam
seringkali bermenung sendiri
bertanya kepada hayalan
kemanakah bahagia itu berlari
menghilang bersama kegagalan.

Goresan ini adalah syair hati
sulit kunikmati,
pada puisi mencumbui kosa jiwa
hiburkan berbagai kecewa melanda.
"Ahh...rasa, goresan lara semakin lara.

HR RoS
Jakarta, 30/01/2017





#Renungan


Jangan terlalu percaya kepada orang lain, karena bayangan diri sendiri saja menghilang di kegelapan malam.
Berjalanlah dengan mata hati
meski kaki tak melangkah, karena
mata hati mampu menerangi yang tak bercahaya.

HR RoS
Jkt, 30012017





#Puisi_Kolaborasi
PESAN RASA UNTUKMU KAWAN
Penulis: Romy Sastra bersama
Nor Azah Bahrim


Kepada angin kabarkan serat pelangi
bahwa malam ini,
pesan rasa untukmu kawan
kepada riak nan mendebur riuh
buih-buih terhempas jadi bias
nyiur melambai damaikan camar berlalu.

Layu kembang tak jadi,
jika batang kau patahkan
pada sajak dan puisi kita gersang
ranting-ranting berjatuhan ke bumi
madah gelisah,
malam ini berkabut
bulan malu di balik awan.

Pada bunga seroja nan ranum
di semenanjung Malaya
bait-bait sastranya dirangkai ke muka buku
ceritakan kisah rindu tak pernah sudah
pada siapa anganmu melaju?
padahal jalinan asmara di beranda senja
tak redup pelita kasih lilin di meja
bersenandunglah di dada noktah nan realiti
kan didapatkan surgawi menjelma
dari lengan Arjuna memeluk erat srikandi cinta.

Kirimkan syairku lewat maya
pada tarian diksi nan bersahaja
bersemilah dikau gita sahabatku di sana
sebait doa berbungkus sastra memandu
meski kita terpisah jarak gunung dan samudera.

******

#ii
Rinduku yang berkepuk dirangkai jendela muka bukuku, bagai di genangi air tidak basah
di jemur panas mentari tidak mengering
karib sekali lilitan bait-baitnya
terkebat gegar gita tari di jemariku rupanya menjadi tanyamu yang tidak terjawab lagi

Lalu
senja nan merah kau datangi aku kawan dengan khabar seberkas tinta lewat sepoi angin pada
riak ombak riuhnya yang terus mengocak damai pantai telah menggelisahkan rasa merusuh menelangkai diamnya hatimu

Engkaukah
kawan yang semalam
menanyakan patah-patah rinduku terkhusus pada siapa ?
yang mengakali tidak jemu merenung bait-bait resah rindu mengairi langka jemariku di lawang temu
penuh tenunan rindu yang ranum entah kepada siapa untuk siapa
hingga banyak tanda tanya
merentas nusantara merambak tebaran berkisah rupanya

Pesanku satu kawan..!
cukup kau mengerti rindu itu apa
pasti kau tahu kenapa aku tidak belajar berhenti mengelari rasanya
biarpun ceritera kasihku telah lengkap titiannya

Rindu bagiku sebentuk rasa yang tidak pernah habis merambat waktu di tuang tidak mengurang di simpan semakin meladung
menyeru-nyeru untuk di muntahkan isinya menjadi sebongkah cerita yang tidak bertitik

Ya, sebenarnya
rindu bisa saja melamar hati bukan cuma untuk kawan kekasih keluarga sahabat-sahabat di dekat juga kepada DIA.

Jakarta, Malaysia 29012017





#Puisi_Prosais_Kolaborasi
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
Puji Astuti


#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga di pupuk lewat diksi.

Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi.

Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia.

Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....

Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....

****

#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu.

"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening.

"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah.
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih.
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah.

Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....

****

#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan.

Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya.

Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati.

Kau yang pergi....

Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....

Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017





#Quotes


Jangan takut dalamnya lautan
jika mau tahu mutiara yang asli
maka, harus berani meninggalkan ragu.
Sebab, mutiara yang asli
ada di dasar laut
kalau ingin melihat mutiara yang asli, telanjanglah!
Hidup harus berani basah menyilami meninggalkan perahu itu.

HR RoS
Jkt, 29/01/2017





#Prosais
TERLARUNG SEBAK KE DALAM RIAK
By Romy Sastra


Ketika perjalanan teriris bulir
mencoba merayu bunda dalam letih
duh,
sudah terlukis di dinding history
di kancah diri memeluk sebak di hati.

Darah permatamu pergi
pergi dan pergi menjauh
tinggalkan beranda rumah ini
di tengah hari,
terlarung sebak ke dalam riak
crystal membuncah
tak tertahankan di sudut mata.

Ya, Illahi

Hamba larung doa yang rela
keharibaan jiwa
langkah musafir yang semakin terkikis di tanah tandus
hamba ingin setetes embun membasahi
ampunan kasih-Mu ya Rabbi.

Perjalanan ini semakin menepi
ke ruang senja
memohon pada-Mu ya Allah
Izinkan hamba kelak berjumpa
ke tanah bunda kembali,
mengetuk jendela usang terpampang dari kecil semenjak ananda dibesarkan hingga kini,
berharap dalam opera permata yang selalu menghalau sedih jadi ceria.

Meski jiwa dan hidupnya bertabur derita
yang disimpan dalam peti rahasia hati
tak boleh sesuatu pun yang kan mengetahui
selain aku dengan-Nya

Sehatlah bunda...

Bunda,
jalan ini masih kujejaki
samudera itu masih kurenangi
sekiranya dermaga beranda rumah
di hari raya nanti ananda tak kembali,
pintaku, maafkan aku ya bunda"
ketika burung bangau terbang tinggi
tak kembali,
bukan ia tenggelem ke lumpur yang dalam
melainkan masih mencari bulir-bulir berlian
walau terkilau hanya bayangan saja.

permata dalam doa
membangunkan azali bercahaya indah
bila masanya ia akan kembali menatap beranda tua
menitipkan kanvas warna ceria
bercumbu mesra
dalam gita ananda dan ibunda
serta keluarga semua di tanah tumpah darah
meski usiamu bunda,
berangsur ke ujung senja,
tak alpa doa menengadah di atas sajadah lusuh
menyapa ruh
bukti bakti ananda pada history
nan tergurat di pundak renta yang telah pasrah pada misteri.
Tersenyumlah sekali lagi bunda, biar doa-doa ananda lerai di batin yang sampai....

HR RoS
Goresan dalam kenangan
perjalanan jalan raya Painan - Padang, 29-1-2016. 14,28





SAJAK JEJAK MEMORI
By Romy Sastra

Wahai angin nan berhembus lirih membawa rindu pada daun-daun kering, di sini bisu menatap gemulainya ayunan layangan, hampir saja debu menutup netra nan layu, hanya cicitan sriti menyapa di ketinggian, kembalilah pulang wahai rama-rama menari, hari telah petang.

Siulan camar di pantai memanggil gelombang riak bergoyang menepi, dia yang ingin kembali mencari jejak memori, ambai-ambai tenggelam tertinggal pada kenangan silam, bahwa pasir tak lagi putih.
Sinopsis kasih nan usang menitip seuntai sajak lara, pada tinta yang hampir pudar warnanya.

Kepada senja di bukit cemara, bulan enggan titipkan pelita menerangi mayapada, dada langit masih mendung menyapa malam,
ironis, rinai telah jatuh duluan basahi pipi, bahwa kehadiran asmara nan berlalu hanya fatamorgana.
Dik, Januari terakhir tahun ini
sisakan harapan pada Pebruari,
jikalau bianglala tak lagi berwarna pada senja, bukan berarti lembayung tak disinari aurora cinta.
Lihatlah dik, gugusan kasih masih menari pada senyuman rindu yang terabaikan, ketika kasih berbunga mesra kembali di jemari ini jangan lengahkan, tatap mataku! Masih ada diary kita merupa, dan
sentuh juga dada ini, masih berdebar menyebut namamu.

Jika Pebruari nanti masih mendung, hujan turun kembali. Jangan embun ditumpahkan di daun nan layu, biarkan kearifan alam menyuburkan dendam rindu tak kunjung sudah untuk kita, menyirami gersangnya laju yang pernah kita lalui.

Dikau yang ingin kembali pada noktah hati yang tersisih, oleh cabaran nan pernah kau hidangkan, kau memilih aku dan dia, kembalilah dik! Ke jalan yang pernah kita rintis berdua, tautkan hati, genggam erat jemari kita, tak ingin berpisah kedua kalinya.

HR RoS
Jakarta, 28/01/2017





#Quotes

kegagalan pada noktah pertama
bukan sesuatu yang telah sirna
melainkan jodoh hakiki itu
masih belum bertamu
maka, bersabarlah!

HR RoS
Jkt,27/01/2017





#Puisi_Patidusa_Tangga (4321)
BERDAMAILAH NEGERIKU


Sayap garudaku patah tertembak
Wajah nusantara risau
Hipokrit merajalela
Politik

Siapa lawan siapa kawan
Yang punya kesempatan
Negaraku kacau
Mencekam

Panji-panji berkibar di keramaian
Seakan siap bertarung
Unjuk gigi
Pendekar

Temali Bhinneka Tunggal Ika
Satu tubuh bersaudara
Falsafah negara
Maknakan!

Jangan salahkan alam murka
Amanah tergadai sudah
Berpikir sejenak
Sadarlah!

Hukum tajam ke lawan
Tumpul ke kawan
Hakim disogok
Pecundang

Warta jurnalis tebang pilih
Rakyat semakin bingung
Tontonan murahan
Membosankan

Berdamai dalam gita cinta
Rakyat aman sentosa
Amanah janji
Tunaikan

Politik homo homini lupus
Kejam sadis membunuh
jangan dipakai
Buang!

Manusia homo homini socius
Berbudi saling menghargai
Berjabat tangan
Berbagi

HR RoS
Jakarta, 090217





MIHRAB CIPTA KEKASIH
Karya Romy Sastra


Hu Dzatullah,
saksi kekasih menatap maha kekasih
tercipta cinta seperti burung Ta'us
memuji tunduk pada Rabbani
segala yang ada bertasbih
bersaksi pada titah azali berdiri
sujud menghadap mihrab cinta.

Nuktah tertumpah jadikan,
madi wadi mani manikam
anasir sahabat itu.

Ya Jibril kepada bumi
ya Mikail kepada air
ya Israfil kepada angin
ya Israil kepada api.

Pancar memancar sinar rahmatan
bersembunyi di qolbi
jangan jauh-jauh mencari Ilahi
cukup kau mati di dalam hidup
kan dikenali megahnya istananing hati
bersemayam segala rahsi

Sesungguh jalan pulang tak jauh ditempuh
rentan waktu seujung kuku.

Tiba-tiba kematian jasad datang menyapa
El-maut marah-marah
takut?" Iya
apalah daya tak tahu jalan pulang
sesat alang kepalang
mengigil rontok segala nyali
tak sadar satu persatu malaikat itu
sebelumnya telah pergi
yang tersisa hanya amal kerabat sejati.

Selesai perkara dunia
tubuh berdebu jadi abu
yang abadi tak akan mati
meronta ingin kembali
sia-sia saja jeritan pilu
yang ditangisi telah berlalu.

HR RoS
Jkt, 27/01/2017





#Puisi_Kolaborasi
TANGISAN DOA
Karya: Romy Sastra bersama
Norhaizan Mahussin


#i
Sujudkan tubuh luruhkan rusuh
betapa terlena umur dunia direnda
tak kenal mutiara cinta di dalam jiwa
resah senja kian mendekat
bakti masih menggenggam duniawi
terlupa jalan pulang nan abadi

Napas berpacu tak lagi menentu
kaki gemetar merintih kaku
jemari menyentuh tak lagi merasai
mahkota perlahan memutih
aura rupa pudar, lusuh rona tak berseri
berkaca diri cermin seperti retak
menjerit lara pelangi tak lagi indah

sajadah kian usang terbentang
tangisan darah tirani mengetuk pilu
bertanya diri, jalan rumah qulhu sepi
bekal selimut abadi tak jua merupa di hati
dalam doa tangis ini mengadu
ya Ilahi, ampuni hambaMu....

#ii
Di atas sejadah ini
aku menghitung hari
sisa usia kian menipis pergi
menanti pelangi di kaki langit
rinai di dada basahi jubah doa
menanti cahaya di ufuk barat
umur kian senja sunset merah jingga
pertanda el-maut sekejap lagi menyapa

Di sini di hati ini, merimbun doa mewangi
kepada-Mu kuserahkan pohon taqdirku
ya Ilahi,
Husnul Khotimah tiket itu hantarkan
Syurga Firdausi bentangkan
leburkan rinduku pada-Mu
gugurkan semua dosa-dosa yang ada

Dalam sinopsis hati merintih
doa memanggil maha kekasih

Amin ya Allah, ya Rabbal 'alamin....

Jakarta, Malaysia, 27/01/2017





CATATAN MEMORI YANG TERLUKA


Hari ini aku mengutip
sebuah kisah lalu
kucoret semuanya jangan tersisa
sehalus-halus ingatan
dan sebesar-besar rasa
tenggelam kecewa ke samudera tinta

Kupintal benang memori
kusimpul jadi cerita luka
dan kujadikan raga puisi
untuk kukutip sepikul mimpi

Ya, hari ini aku pelajari bayangan
tentang sebuah kehidupan
betapa sukarnya
meniti di titian yang kecil

Terkadang kaki hampir tersandung melangkah
terkadang tersungkur di lorong waktu
tanpa ada tangan sudi menggapai
betapa susahnya memetik kejora
padahal malam berpurnama indah
jatuhlah wahai kejora ke jiwa ini
biar kerlip menerangi hati

Hari ini aku memahami
arti sebuah persahabatan
tidaklah ia seindah langit biru
dengan kepulan awan
nan memutih indah di dada langit

Sahabat itu,
ketawa bersama menangis sendiri

Ya, hari ini aku mengerti
tentang sebuah angan
semua yang indah diharapkan
tak menjadi pelangi pada senja tadi
kenapa misteri yang bertamu
di ruang rindu
takut aku akan kidung semu

Pahit kadang lebih mesra kurasa
yang hadir menghampiri diri
yang datang memeluk erat
lalu membisik halwa manja
hinggakan hati ini berwadah
hidup tapi mati rasa

Apa pun itu,
kehidupan ini perlu kuteruskan
demi sebuah asa diri
meski kaki ini berdarah
meniti jejak-jejak kerikil hidup
hingga ke hujung nyawa raga terpisah....

HR RoS - Adyra
Jakarta - Kuala Lumpur
Feb 15 2017
6.56 Pm




JEMBATAN KUBANG NYANYIAN JIWA
Romy Sastra


i
tirani adat dalam kaum bergulir kepada zaman untuk peradaban tak bertuan, generasi dimulai dari sebuah ekspedisi para tuanku, alam berkembang disebabkan pecahnya kearifan istana di tungku tiga sejarangan dalam percaturan kekuasaan di tangan raja yang terkudeta oleh konflik aturan dalam kekeluargaan melahirkan keturunan ke berbagai seantero bumi Melayu

ii
Bayang sebuah negeri ekspedisi tuanku raja penghulu adat membawa empat suku dari negeri Solok Alahan Panjang, titipan tutur tuah tuanku di bawah panji adat istana Pagaruyung Minangkabau

iii
dendang indang nyanyian penunggu rimba bersahutan di hulu, si bunian melestarikan budaya pada kearifan alam, jagalah hutan dengan cinta, jangan tergerus titipan penguasa alam pada kelangsungan hidup akan terus berlanjut, yang menimbulkan bencana tiba-tiba, rusuh aliran air bergemuruh banjir bertamu mengalir ke tepian menuju samudera, risau tertumpah di dada mengingat ikatan jembatan jangan terlepas oleh hempasan deburan air bah

iv
si bujang tertegun dalam igauan
kala lamunan menyentuh kasih memadah kisah di atas aliran air batang Bayang di jembatan tua, ketika petang telah tenggelam, kumandang azan menabuh segala ruh, sujudkan diri menghadap Ilahi, senja berlalu, kita yang pernah bernyanyi lagu-lagu kenangan di jembatan itu,
nyanyikan tembang jiwa di kala senja menjajah malam menikam kelam, remang kisah hidup duduk si anak bujang petik seruling bisu siulan dungu, bahwa tepian jadi saksi cerita yang tak pernah sudah

v
batang Bayang dalam nyanyian jiwa
dekade telah berlalu sisakan selaksa cerita pada jembatan tua, bahwa di sana kisah bercumbu, sepoinya angin malam menatap kejora malam di dada langit,

vi
kawan,
lihatlah titian yang terpilin oleh arus bah, teronggok sudah jadi sejarah zaman pada regenerasi titian sepintas berlari ke seberang dan titian ini pernah kita lalui bersama, ya, cerita kita pernah tertitip di sini, kisah kita bukan cerita semusim,
tapi cerita yang pernah mabuk dengan kecubung, sebatang rokok filter dan dengan sebatang tebu yang pernah kita ambil di jalanan, ada cerita tentang dunia ini indah dan tentang ikrar asmara cinta yang membuat semangat muda mudi bergairah menatap langit pada purnama mencumbui si pungguk yang merana

vii
kepada malam yang dingin di ujung jembatan kita berjuntai, petikkan gitar tua, bahwa dalam sebuah irama lagu kisah kasih di sekolah masih terasa indah hingga kini

viii
ah, kau cerita yang tersisa pada negeri yang kucintai, dari titipan leluhur pujangga adat dari istana berkelana membawa peradaban zaman ke negeri Bayang,
Kubang nan denai cinto

HR RoS
Jkt, 16217





MENCARI MAHA KEKASIH
By Romy Sastra


Tapa lingga yoni ning hening
lebur terkubur bermandi peluh
mencari cinta sepanjang permana
memuji menempuh kematian di dalam hidup
dalam gulungan ombak beriak tak bertepi
mencariMu

Bilangan napas di tubuh gemuruh
bertanya pada sami' lonceng berbunyi
membuka pada tabir bashir
sepasukan kerlip bertamu
jubah Jibril menyelimuti dunia
gigil terpana diri diam tak berucap

Rasa bisu menyentuh kalam
bawahlah daku mursyid ke langit tertinggi
kasta-kasta mewah ditempuh
pada tujuh pintu neraka kau tutup
membuka tujuh pintu nirwana
terbuka tirai maha kerlip
menyentuh segala sukma
tauhid berdiri di Baitullah

Salaamun qaulam mir rabir rahiim
salam sejahtera untukmu wahai pendaki
di sini pintu rahmat maha raja bermula
daun-daun berguguran
netra dunia padam netra batin menikam

Memang pendakian ini
belumlah sampai jejak langkah kau daki
ini masih alam cahaya
leburkan saja kerlip jingga itu
jangan bermain rona
itupun masih rupa nafsu
matikan dirimu hingga fana
kan kau temui yang kau rindu

HR RoS
Jakarta, 15/2/17





BIAS TERLALU PAGI
By Romy Sastra


Mengenalmu
jauh sebelum kita mengenal dunia maya
aku mengenalmu hanya sebatas sahabat saja

Kukenali dirimu
memang kita pernah dekat
aku mengenalmu
hanya sebatas nasehat-nasehat

Pada lembaran hari
dalam gurauan memori rinai mengiringi
mendung pagi titipkan dingin di jendela
cuaca masih tak bersahabat
mendung menghiasi hujan
sang mentari mengintip malu
di ufuk awan

Irama luka mulai luruh
jatuh ke dalam nada sendu
pada lamunan persahabatan kita
kulabuhkan perasaan
ke dalam makna
untuk memetik hikmah
dalam wacana yang tak berirama

Goresan puisi pagiku hanya sekedar
mengantar untaian bayangan silam
berharap,
mentari yang malu menyapa kembali
selamat siang hari,
jangan bias dikau mentari
terlalu pagi bersembunyi
senja masih jauh di ufuk maghrib

Wahai pelangi nan menari
titipkan rerona embun menyirami pagi
bias-bias resah di dedaunan kan kering
yang layu berganti ceria seketika
malam, cerahlah bersama kejora
Salam dariku tuk sahabat di mana saja berada
yang terstory pualam semoga berbahagia

Kala malam angan menyulam kelam
bakar saja sebatang lilin
bermainlah bersama lelehan
biar hangat jemari ditingkah dingin
jikalau malam tak purnama
titipkan sebait doa
hati yang redup bersinarlah kembali

HR RoS
Jkt, 15/2/17





#Motto
BELAJAR DAN BERKARYA SAMPAI TUA
MENULIS SAMPAI MATI


HR RoS
Jakarta





Kwatrin
ORASI DEMOKRASI
Romy Sastra


Toa meraung-raung tak jelas
Habib berbicara,
orasi pedas
Perwakilan suara umat yang gelisah

Siang tadi di depan istana ada tamu
Raja tak berpesta,
tamu tak diundang datang
Panggung-panggung politik meriah
Padahal undangan disebarkan
Lewat hukum tak adil

Katanya akidah dinistakan
Umat tak terima,
Lebih baik mati berkalang tanah
Daripada akidah tergadai
Untuk apa hidup,
Kenyang hanya memakan bangkai
Harga diri tidak bisa dibeli
Lebih baik berdamai,
Jangan bermain api, negeri kan terbakar

HR RoS
Jakarta, 110217





MENCUMBUI LARA
Romy Sastra


"Ohhh...

Di awal malam hadirkan rasa rindu
sunyi mulai bernyanyi di lorong-lorong parit, parung jangkrik senandungkan kidung malam,
si anak kecil mengintip celah parit
kejepit kalajengking menangis pada wajah yang telah membiru
duka negeriku terhantui, percaturan politik gerilya di barak-barak rahasia, bak bom waktu meletus sewaktu-waktu, aahhh....

Pagi nan lara yang tak beralamat, seduh saja gelas putih tak bergula
yang biasa hitam berasa manis, dahaga terbeli meski otak tak ternutrisi inspirasi, sebab, kopi telah bercampur menu doktrin sianida di atas taplak meja menatap warta jurnalis tak lagi berimbang.

Dalam lamunan nan lara, sang marjinal menuang imaji hina
berceloteh pada pena kanvaskan perasaan yang tak bermakna dalam maya ini, tepuk jidat tuan nan berdasi si buta hati di jendela kasta tertinggi, karena nasib bangsa telah terjajah oleh benalu serakah.

Semalam merindu pujaan di balik awan, tak nampak mahkota kerlip di langit, iklim masih bersahabat pada koloni hitam,
si mayang menjauh tinggalkan kemewahan
tak ingin bersolek pada keindahan yang semu, hatinya telah lara tak lagi mau dicumbui.

Oh, kau yang di sana, di meja yang sejuk, berembun tak membasahi.
Aku di sini, kirimkan alunan puisiku bernyanyi ditingkah hujan, embun berguguran di dedaunan
pagiku selalu menari menghiasi kertas menghibur hati, karena jejak kaki berlumpur di depan rumah, nikmati saja sepotong roti sisa kemaren petang.

Aku memuja kedamaian pada sukma bermain tadi malam bersama kekasih pujaan
telah kutumpahkan pundi-pundi rasa ini,
nyaris tak tersisa dan ternyata kemesraan semalam menutup kemesraan duniawi, kemesraanku hanya di sajadah religi.

Kelembutan telah kupasrahkan mengaliri rasa sayang
rasa sayang itu kepada budi yang bersahaja.

Dalam sunyi mengobati letih, menjalin perasaan di kesendirian
'tuk isi hari-hari dengan kewaspadaan
dan menghadiahkan kebahagiaan walau hanya dalam sajak dan puisi
rela lelah walau bait-bait ini tak dimaknai.

Harapanku, semoga yang membaca tidak gelapkan hati tentang madah nan lara
yang kita kan sama-sama lara walau irama berbeda,
aku berbagi, walau hadiah ini dalam sebatas senyum diksi untukmu,
walau tak dihargai tak apalah
dan aku kan selalu tersenyum mesra
bersama sastra.

HR RoS
Jakarta, 110217






SI MISKIN BERCINTA
Karya Romy Sastra


Si miskin bertanya,
ke mana akan dibawa pohon cinta yang telah lama berbunga ungu
arah rindu telah kelabu mendekap pilu
berbuah malu

"Oh, mendung
mendung rindu yang tak lagi menentu
langit sebak menutup gejolak di dada ini
lilin hati kenapa padam, nyalakan kembali
jangan kelam bermain diam, kan tersasar arah realiti yang selalu menanti

Kasih,
telah tinggi aku pacu semangat berlari
mengitari hari mencari sesuap nasi
mengejar obsesi meraih impi
namun nasib tak jua berpisah
dari badan diri.

Masa bahagia nan pernah singgah
menyapa beranda asa sekejap berlalu
dan sayangnya seketika sirna tiada tersisa

Kuterpaku bertanya dalam hiba
ketika cinta tak rela berdiri di jalan yang licin, berlalulah dari arah itu!

Di sana
jalan berpita merah
berpermadani indah terbentang
menuju istana noktah bermegah
hidup dalam kasta yang mewah
aku berdoa rela untukmu
berbahagialah bersamanya

Bibir menjadi saksi lirih, secebis kemesraan menyulam angan yang bermain di ujung mimpi semalam kian kelam
bias kisah semu tak berbuah setia
rasa yang tersisa ini kelu sudah ke dalam bisu

Biarlah bayangan diri jadi penonton
dari bilik sunyi
menatap paranoid kasih yang tersisih

Biarkan kudekap angan yang rapuh
merestui kebahagaian bersama yang lain
berbahagialah hendaknya di sana selamanya

Kasih,
hapuskanlah cerita cinta yang pernah mengisi ruang hati ini
kala bersamamu dulu,
aku rela dengan telapak tangan sepuluh jari
menyerahkan semua takdir ke meja berlapis sutera di ruang jamuan kasih yang dia sediakannya

Dalam kasih yang tak sampai
kearifan cinta yang pasrah berdamai saja pada kekalahan si miskin bercinta

Gubahan rasa yang terakhir ini
dengan tinta merah kumadah goresan luka
mengusap derai air mata
yang membasahi duka hidup
yang kian menganga

Doaku,
berbahagialah dikau di sana bersamanya.

HR RoS
Jakarta,10217




FLASHBACK
By Romy Sastra


Seiring berjalannya waktu,
hari bulan dan tahun terus melaju
sisakan detik sejenak balik ke belakang
buka tabir memory masa lalu.

Pada suatu tanya dalam lamunan, teringat semua sahabat
di mana daku temui sahabat-sahabat itu
yang dulu bernostalgia seperti si Bolang
pernah bercinta bagaikan kupu-kupu malu
masa lalu merayu berkirim surat kepada pecundang dikibuli, surat tak pernah sampai ke tangan si pujaan, malah disembunyikan
dan kini kurindu sahabat di muka buku ini.

Untukmu sahabat yang di ambang senja
kepada cerita yang belumlah usai
dengan sebatang rokok dan ponsel kugenggam di suasana santai
menatap seperti sayup-sayup sampai.
Siapakah ia gerangan dalam sampul lembaran maya, satu persatu berjuntai di dinding kaca.
"Ah, nyaris aku tak mengenal
wajah-wajah yang sudah keibuan bersolek bergaya bagai seleb dengan senyuman.
Di balik kerudung nan imut
telukis wajah berangsur tua keriput,
entah untuk siapa wajah yang keriput itu?" Entahlah.
Didandannya diri seperti bergaya muda, padahal tak muda lagi.

"Oh, sahabat maya yang di sana
dikau dulu dara cantik menarik,
kini meranum nyaris layu sulit dikenali
hanya daftar nama pada netra buta meraba mengenalmu lewat rasa, adakah rasa nan lama bisu tersentuh.

Aku tersenyum nakal, tak terasa bulir-bulir air mata bahagia menetes di remangan hati di musim hujan menuju pancaroba ini, dudukku bisu bercumbu pada imaji, dan dinginnya senyumanmu pada umur yang beranjak sepuh sama sepertiku, aku terhanyut akan masa lalu, masa lalu dan waktu yang tak bisa diputar lagi.

"Ohh, sahabat, aku sadar kini!" Stuasimu sama seperti aku, ataukah keadaanku yang jauh di bawah standar gaya, karena pelita dunia tak menerangi jalan hidupku. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur pada maha pencipta yang telah memperjalankan roda nasib, sehingga nasib ini indah kurasa dan meski kita tak pernah berjumpa, aku semakin larut dalam sedih senja ini, biarlah.
Sebab, rama-rama tak lagi menari
di taman-taman cinta telah gersang, kerontang oleh kemarau nostalgia yang tak lagi bernyanyi, seperti diulit mimpi pada bayangan kisah yang kian terjepit, memang nasib kisah kita berbeda.

"Sahabat maya yang di sana"

Aku takkan menemukan lagi
canda tawa itu, semasa gurau bercampur rayu dan kadang pertengkaran kecil menghiasi celoteh parung-parung murai bernyanyi di masa lalu,
dan teramat sedih lagi, ingin rasanya kugapai semua memory itu satu persatu
itupun terasa berat, satu saja berat rasanya kuwujudkan tuk menemui Realiti pada flashback kita.

"Mmm ... kutarik napas ini dalam-dalam, memang sudah jauh berlalu memori itu.

Di irama dunia yang berpacu mengejar asa menjaga maruah,
testimoni telah menjadi sinopsis diksi pada prosaliris,
bahawa kita telah punya tanggung jawab yang berbeda dan terpisah di kota dan daerah yang jauh di sana-sini
hanya ungkapan rindu akan masa lalu untukmu sahabat berbahagialah kalian semua di sana, ya di sana.

Kini, kita sama meniti asa di arena yang berbeda
aku titip pesan, mengabdilah pada cinta yang memelukmu saat ini!"

Dalam hayal ini, kuhentikan keterpakuanku tuk mengenang masa lalu itu
berkaca menatap langit dalam keremangan mendung, ruang itu pekat
berkaca pada bayangan diri menari kausalis bayang dari asal berdiri
tersadar, esok bersama mentari bersinar kembali
kan kugapai cita raih asa di dalam rumahtangga di masing masing kita.

Sahabatku, di mayaku!
Sekali lagi, doaku untukmu, mengabdilah sebaik-baiknya dalam cinta
ciptakan rumahtangga yang SAMARA, Sakinah Mawaddah Wa Rahmah demi mengapai ridho-Nya
karena di pundak kitalah pelanjut tirani keturunan sejarah orang tua berbenah
semoga maha karya tirani kita bermakna sepanjang sejarah
dan menjadi sebuah nilai kebanggaan pelanjut generasi berikutnya untuk keturunan zaman.
"Oh, sahabat....

Semoga saja, wassalam.

HR RoS
Jakarta, 08022017





**BERMALAM DI KLENTENG TUA**
By Romy Sastra


Demi kesuburan dan kedamaian
sang Dewi menitiskan kasih
dari klenteng Budhis tertinggi
aroma mewangi
di lorong-lorong angin
dari peribadatan sang reinkarnasi

Pelangi jingga melingkar tadi senja
langit Jakarta disuguhi dupa
Petak Sembilan
dipayungi Dewi Kwan Im

Tatapan marjinal lara, menadah
mewahnya dandanan sang umat Budhis
mendung berlapis
alam berjubah putih keabuan
pertanda rintik-rintik kan menitis

Pada kejayaan Tao
para Dewa Dewi melukis senyuman
di dalam klenteng tua
sang pengemis
meminta belas kasih
dari sang pemuja
kesejahteraan dunia reinkarnasi

"Ohh....
Budhis-Budhis
penebar keharmonisan insani
dari Nirwana kau tanamkan cinta
untuk sesama
berbagilah kepada mereka di sana
yang mengulurkan tangan
bagi yang membutuhkan
semoga siklus reinkarnasimu berjaya
pada dunia kelahiran berikutnya

Gong xi fa cai.

HR RoS
Jakarta 7-2-2016, 18,377





KABUS RINDU BUAH HATI
DI KAKI GUNUNG LAWU
By Romy Sastra


Bias-bias embun pagi
tak kunjung kering di dedaunan
kala senja menyapa
alam tertutup kabut mencekam
berselimut bayangan kelam.

Nun yang jauh di sana
dari kesibukkan ibukota
lamunan bocah di kaki gunung lawu
di gubuk itu,
tatapannya pada langit rumah selalu bertikai
kenapa pengap tak ada nada memanggil
dari ayah yang selalu dirindukan.

Kau si bocah telah remaja
tumbuh tanpa dekapan orang tua
yang selalu ditinggal pergi
pada jemari noktah mengitari jejak hari untukmu
di lorong-lorong kota termamah asa
ayahnda bersenandung lirih di kala senja lewat maya.

"Oh, awan yang berarak di cakrawala tinggi
kutitip si buah hati dalam wilayah Brawijaya
dengan tinta madah pujangga
tembangi kearifan rasa bersimponi
dalam aturan budaya sang Prabu
di gunung leluhur itu.

Di kaki bukit yang asri
si buah hati kutinggalkan dalam jalinan cinta
menjelang dua dekade kau kini sudah remaja.

Putra itu,
kala siang bermain berlari
mengisi hari menutup sepi
pada senja menyapa
dikau bermuram durja,
bertanya sendiri jauh ke dalam jiwa
di manakah ayahku kini berada
yang tak kunjung kembali.

Ketika pikirmu tak terlerai
bulir membuncah di pipi
mengalir ke sudut bibir, "uhhh....
matamu terkatup lirih
ke mana kan kucari ayah bunda yang jarang ada di rumah ini.

"Ayah, Ibu.

Dikau penuntun penerang jiwa nan sepi
kembalilah!
Terangi rumah ini dengan cahaya cintamu.

Seringkali padi di kampung ini berbuah
di tepian jalan menurun mendaki
di tangga sawah tersusun indah
gontai langkah kaki kala pulang sekolah.

Ananda,
acapkali tersenyum menatap pelangi
kala senja menghias di kaki gunung Lawu
sendu tiba-tiba membuncah lara
gerimis di hati leraikan tatapan senja
pelangi malu dan redup tertutup kabut
Dendang rasa rindu
bukan senandung semusim saja menghampiri
tapi sudah lamunan hari-hari.

Padi itu selalu menguning
silih berganti dituai petani
ayah, kau tak jua kembali
tinggalkan seribu kota itu
yang telah kau lewati, kembalilah ke desa
di desa kita pernah berlari
mengejar capung-capung
menikmati gigitannya di jari kecilku ini.

Kembalilah pelita jiwa
oh, ayahku!"
mentari sudah meninggi
menara pucuk bambu merayu memanggilmu
temani ananda sekali lagi
biar kudekap kau erat-erat di rumah rindu.

Testimoni dari rintihan si putra di balik telp,
kala senja menyapa ayah bunda.

HR RoS
Jakarta, 6-2-2016. 12,45





BERBAGI PENGALAMAN RELIGI
DAPAT DALAM MIMPI

Sebuah kitab kutemukan tentang salat menyapa dalam mimpi.
Isi kitab itu menerangkan,
bagaimana keadaan tubuh ini tatkala Allah Swt menjawab pertemuan hambaNya dalam salat hakiki?

Tandanya: Reaksi seluruh tubuh itu meregang gemetar,
nada ning dalam telinga seperti lonceng berbunyi.

Setelah itu hanyut dan fana,
tubuh yang gemetar terhenti di dalam kefanaan yang akan terasa sejuk dan lembut. Tatapan mata batin melihat pancaran cahaya datang bersamaan, cahaya yang hadir bersamaan itu tadi bias menjadi awas....
Wallahu allam bisawwab

HR RoS
Jkt, 06022017





HISTORY JALAN MEMORI
By Romy Sastra


Ingatkah dirimu di jalan itu?
Jalan yang pernah kita lalui
bercerita tentang dunia ini indah
kita kan meniti titian senja berdua.
Masa remaja telah tertinggal jauh,
sedangkan kini, uban sudah mulai memutih
memori kita selalu baru mengikuti jejak ilusi.

Sekilat lidah janji sebait irama nan manis
dekapan bersembunyi di dada kekasih
kau terlena dalam pangkuan rindu
seakan tak mau melepaskan hangatnya tubuh kita.

Dalam lamunan rindu pada hayal tempo dulu
kisah dungu itu telah jauh berlalu
cerita kian membisu tinggalkan kenangan
tawa kita nan dulu mesra seirama senada.

Kala itu,
pelukkan ternoda dalam kecupan mesra
seakan tak menerima kenyataan cinta
kita bertikai dihiasi rinai senja
kau berlalu tinggalkan sepi,
sepi di jalan memori.

Jalan itu ... oh, jalan memori.
Dikau berlalu menjauh, jauuhh dan menjauuuuhh.

Rinai berlabuh, derai rindu pilu
kau nan berlalu tinggalkan kepingan luka, kuterpaku....

"Ah, setetes maniak mengalir
menghiasi pipi.
Akhirnya, tinggalah kusendiri
kita berpisah.

Mencoba memanggil namamu
kau semakin berpaling
perlahan namun pasti
di ujung jalan di persimpangan hati
daku menoleh ke belakang
seakan ingin menggenggam erat jemari kembali
kenangan itu sudah lama usai bersamamu,
ternyata bayangan kasih harapan ilusi
tetap saja rindu pergi bawa dendam tak sudah.

Serasa kini memori itu kembali lagi bertamu
bayangan yang melintas tatkala jemariku
mengenggam erat jemarimu,
bisikkkan kata cinta pesona rasa,
"Ahh... hayal fatamorgana kau membangunkan tidur panjangku tentang kisah kasih tak sampai.

Kala malam bermanja tinta, rinai malam ini bertamu lagi, tintakan cerita basi sebait mimpi, tenggelam madah ke dasar samudera yang memang kita berpisah.
Lambaian hayal di kejauhan history ucapan lirih,
selamat berpisah kasih, jika kau rindu kembalilah nanti.

Kata-kata paranoid mencengkram janji
Selamat tinggal kekasih,
selamat tinggal sayang
suatu masa aku akan pergi jauh
tinggalkanmu sementara waktu
Kau tatap seraut wajah bayangan rindu nan lara.
Ucapkan!"
kenapa kita berpisah dulu di jalan memori
dan kenapa kisah itu terjadi?

Bahwa kisah nan indah itu kini telah membatu.
Akhirnya kemesraan hayal memudar jadi memori saja buat selamanya.

"Uuhh... aku tertunduk diam, terpaku berkata tapi bibir kelu.
Tak tahu kala itu,
kita sama-sama kecewa kemesraan itu terlalu dini terleraikan, kecewa sendiri, ucapkan kata selamat tinggal kekasih.

Kini, terlintas hadir masa lalu nan merindu
masihkah dirimu yang di sana menyimpan cerita terkubur dalam peti rahasia hati terkunci mati
dendamkah dirimu dengan kisah itu?
Entahlah.

"Kisah, aku datang kini,
dengan sebait cerita yang lusuh
mengingatkan masa lalu kita,
akankah dirimu yang di sana masih teringat jua kisah di jalan itu,
jalan saksi bisu yang pernah bermadu rindu di tetes-tetes gerimis senja yang ranum,
kini kisah itu telah jauh berlalu
tak mungkin di rangkai kembali.

HR RoS
Jakarta, 05022017
#dalamlamunanmadahmemori





DI BAWAH POHON KAMBOJA TUA ITU
RINTIHAN LIRIH
By Romy Sastra


Bulan sabit telah menggantung
di balik pohon kamboja itu
tanah merah belum digali.

Perjalanan diri
telah berada di ujung tanduk
aku menyadari,
untuk menempuh ujung jalan
haruslah melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat itu
adalah diri sendiri.

Ketika dahan beringin tua itu patah
tunas-tunasnya berganti
dan ketika daun-daunnya berguguran
bunga berputik tak menjadi layu
siklus tumbuhkan kembali.

Oh, misteri?
jangan bayangi mimpi dengan el-maut
izinkan aku Tuhan hidup seribu tahun lagi
beribadah sepanjang napas memandu
bila el-maut kan bertamu,
kembang setaman dan air doa kasih
shohibul bait persiapkan cangkul
ke tanah merah yang siap siaga menggali.

Oh, misteri?
bukan puisi ini memanggil nan ditakuti
bukan juga doa sebelum takdir merintih
aku masih punya cinta untuk sang kekasih
jangan kau ulit aku
dengan mimpi-mimpi misteri itu.

Di bawah kamboja tua
lamunan terpaku sendu.

Diri?
Adakah amal ibadah kau dekap
selimuti arwah tidur panjangmu di sana.

Ya Illahi,
izinkan hamba melafazkan seribu istighfar
di setiap lengah di dalam jiwa ini
biar tak sia-sia hamba dihidupkan kembali
lautan dosa keringlah!
jadikan telaga amal surgawi tuk bermandi.

Ketika doa tak terkirim kepada Illahi Rabbi
sesal dirundung duka tak berkesudahan
di sana, selamanya....

HR RoS
Jakarta, 05-2-2016, 00,00






#Puisi_Patidusa_Tangga (4321)
RINTIHAN DI BUMI YANG DIBERKAHI
By Romy Sastra


Deru bunyi mesiu bergemuruh
Bom berjatuhan runtun
Tanah kering
Berdarah

Pekik suara takbir menyayat
Luluh dihantam perang
Debu berterbangan
Gelap

Tangis bermandi luka hiba
Anak kehilangan ibu
Ayah tiada
Berjihad

Tanah yang diberkahi Allah
Perjanjian akhir zaman
Perang dimulai
Musnah

Siapa yang menuduh salah
Semua merasa benar
Padahal politik
Pengkhianat

Dengan kekuasaan sesaat lupa
Dunia sekejap mata
Hancur lebur
Binasa

Senjata doa tersisa kirimkan!
Hababil masih bingung
Menunggu perintah
Tuhan

Tanah pertiwi subur makmur
Wahai nan berbudi
Bantu mereka
Kelaparan

HR RoS
Jakarta, 04022017





SEMBUHKAN LUKA INI
By Romy Sastra


Coba bayangkan!
ketika ditinggalkan orang yang dicintai
saat dia yang disayangi mengecewakan
mengkhianati, sakit di hati ini....

Air mata ini tangis penyesalan
tak ada yang peduli
tak ada yang mengerti
hanya aku dan sepi berselimut sedih
dalam kelamnya hidup
apakah semua berakhir di sini
dalam gelap tersadar
tak kubiarkan hidup ini sia-sia.

Aku harus bangkit,,,
melanjutkan perjalanan hidup
walau sisa luka masih terasa menyakitkan
mencoba memaafkan
dan melepaskan masa lalu
bersyukur untuk rasa sakit
yang membuat jantung semakin kuat berdenyut
ini saatnya aku harus melangkah
tak peduli seberat apapun perjalanan itu.

Berjalan dengan harapan
dengan tindakan menuju kebahagiaan cinta sejati
ini saatnya memulai langkah pertama
dari pahitnya masa lalu
meski langkah yang sudah dititipkan sejarah
jadikan guru berhias memori.

Dengan rasa peduli
bagikan harapan indah kepada teman dan keluarga
yang membutuhkan sebait goresan asa yang tersisa ini....

HR RoS
Jakarta, 04022017





#Quotes


Cacian dan cemooh suara angin adalah ujian
nan menerpa diri pada isu,
ia bumbu iman menuju perjalanan hakiki.
Teruslah bermusafir!
Meski jalan itu tandus djalani.

Ketika goyang dengan terpaan
akan terjungkal oleh angin sendiri,
Maka tersenyumlah dengan cabaran!
Kan kau petik mutiara hakiki dalam kesabaran.

Jika tak mampu berdiri,
diterpa badai ujian perubahan kau jejaki,
hidayahNya takkan lari
nan bermahkota pada jubah religi
jangan bernyanyi di tepian pantai
jika riak datang kau gamang.

HR RoS
Jkt, 03022017





#Puisi_patidusa_tangga (4321)
NEGERI PARA BEDEBAH


Berkaca pada demokrasi rasulullah
Dari Muhammad bermula
Maruah terjajah
Dibebaskan

Seiring zaman tongkat merapuh
Pedoman dikebiri kawan
Satu payung
Pengkhianat

Demokrasi tersandera politik benalu
Menghalalkan segala cara
Berebut tahta
Serakah

Kapitalis menguasai perdagangan dunia
Imperialis penjajah genosida
Tak berdarah
Waspada

Pengusaha seperti badut gendut
Yang penting kenyang
Harta menumpuk
Stroke

Demokrasi jadi dagelan mimpi
Bebas lepas bablas
Hukum dibeli
Kerdil

Gaduh tak kunjung selesai
Rakyat kian sengsara
Tunggu komando
Caos

Berdamailah pada sejarah bangsa
Ukur bayangan berlari
Jangan seenaknya
Berkuasa

HR RoS
Jakarta, 03022017





#Puisi517
ZIKIR


Denyut jantung berzikir
Allahu puji zikir itu
Sujudkan tubuh
Bersatunya lahir dan batin
Total mengabdi pada Illahi

HR RoS
Jkt, 02022017





MONOLOG KACA DIRI
By Romy Sastra


Jangan bermain rindu pada kunang-kunang
kerlip cahayanya sekejap redup
bercintalah sepenuhnya pada kekasih realiti
kan didapatkan kemesraan hakiki.

Bersolek pada bayangan kelam
rupa abstrak fatamorgana diri paranoid
bercerminlah pada rasa
biarkan jiwa mencari jawaban terindah.

Jangan berkaca pada riak ego memandu
kan terjatuh malu di kolam berlumpur
berkaca pada cermin retak
wajah nan rancak nampak berserak.

Mengukur diri jangan pada bayangan
takkan didapatkan jawaban nan pasti
malah ia dikejar semakin berlari.

Tersenyumlah sedikit pada nasib
meski himpitan menjerit
misteri takdir adakalanya tersenyum manis.

Singsingkan lengan hadapi dunia
jangan lari dari kenyataan
kehidupan berlanjut pada bibit
jangan berhenti sebelum finish.

Tataplah dermaga jiwa
layaran berlabuh membawa sukma
jangan layu menatap hati
mentari batin tak pernah redup menyinari.

HR RoS
Jkt, 01/02/2017





SINOPSIS MEMORI RINDU
OBJEK WISATA JEMBATAN AKAR
By Romy Sastra

i
Rajutan nan cekatan Tuanku Pakiah Sokan,
lilit melilit akar beringin dan kubang titian zaman 1890 dijalin. Dalam hajat jembatan hidup orang banyak menempuh destinasi pada jerih dan peluh anak negeri mencari sesuap nasi dilalui 1916.
Sang cerdik pandai Tuanku Pakiah Sokan berpikiran jauh melampaui generasi.

ii
Negeri Bayang dilalui sungai sepanjang mata memandang jauh ke muara berkoloni ke samudera.
Ketika rinai datang deburan perlahan riuh gemuruh, suara alam senandungkan misteri lirih mencekam, iklim tak bersahabat semusim.

iii
Di sini rindu belum selesai, meski kisah telah jauh berlalu tinggalkan untaian madah-madah puisi merayu sang kekasih.
Di atas seonggok batu sebesar rumah Qulhu, sang pencinta sepasang merpati bernyanyi tentang dunia ini indah. Bahwa sayap-sayap rindu ingin terbang jauh menatap masa depan, finish langkah ikrar cerita hidup nan manis dimulai, me-ikrar janji
dengan untaian kaki berjuntai, rebahan asmara berpagut di dada
seperti pilin titian akar terjalin,
memori jadi sinopsis di tepian air mengalir, seakan tak ingin ditinggal pergi merantau.

iv
Deburan banjir menghantam objek wisata ikon Ranah Bayang,
masa nan lampau, menahan tangis kan menetes, menatap ketegaran urat mengikat erat tak ingin terputus tergerus arus air bah ke muara, hampir saja selesai sejarah objek wisata Rang Bayang Pesisir Selatan titipan cerdik pandai. Air bah sering datang dari hulu menyentuh badan titian akar membuat hati rusuh kan runtuh.

v
Jika tangis tak terlerai, doa tak tertitipkan pada Illahi, tentang kearifan alam bersemi tak pernah bersumbangsih pada bakti jariyah jerih payah area peninggalan sang Tuanku tak menuai ibadah. Jangan salahkan titipan berakhir, dan titian kasih bermuram durja sedih,
kisah kita padam, kenangan hanya tinggal kenangan.
Sedangkan dendam rindu kita belum selesai di sini, dikau ke mana perginya kasih? Tak lagi menyentuh cerita yang pernah diungkai, apakah kisah kita telah menjadi pusara dan terkunci mati dalam peti rahasia memori. "Ah ... entahlah.

vi
Bila pada suatu masanya tiba, torehan kisah yang membisu buka kembali, menemui jejak dulu nan tertutup debu.
Jembatan akar, satu destinasi seribu satu cerita tertitip di sini....

HR RoS
Jakarta, 02022017





MENDUNG HARI
YANG TAK KUNJUNG PERGI
By Romy Sastra


Mendung tak kunjung berlalu
selaksa rindu bungkam
di beranda sore kemaren.

Menyapa langit pada netra dunia
bersinarlah dikau lewat jendela hari
izinkan pelangi hadir gemulai sekejap
menuntaskan rindu alam pada embun.

Di awal pagi nan dingin
terik kenapa malu, siklus kan berganti.

Oh, hujan
biasmu menyisakan butiran pada puisi
di keremangan awan resahkan langit
pada malam nan berlalu
kerudung malam tak berjubah rembulan
malam ini,
bakar saja sepotong lilin hangatkan sepi
koloni musim belumlah berganti.

HR RoS
Jakarta, 01/02/2017





#Patidusa
KENDURI ZIKIR HATI
By Romy Sastra


Kepada wali nan bersembunyi
Detak nadi memuji
Nyanyian jiwa
Tasbih

Pesta panggung kerlip cahaya
Santri sufi hening
Dimabuk tuak
Illahi

Zikir
Majelis hati
Kenduri hakikat diri
Musyafir dahaga mencari cinta

Syariat tarikat hakikat makrifat
Jenjang fana tajali
Dari takhali
Tahali
HR RoS
Jakarta, 31/01/2017





KENDURI ZIKIR HATI
By Romy Sastra


Kepada wali nan bersembunyi
nadi memuji detak jantung mengiringi
nyanyian jiwa berirama tasbih
tak terdengar sama sekali.

Padahal pesta panggungnya kerlip
penonton bersorak-sorai
dalam aksi dimabuk tuak Illahi
para malaikat jadi saksi
hebatnya kenduri sufi di majelis zikir hati.

Musyafir dahaga mencari cinta
yang dicari tak berjarak
dari jejak langkah tak terpijak
wali itu pun malu tertunduk dan mati
arasy terbentang sepanjang batin memandang.

HR RoS
Jakarta, 31/01/2017





#Prosais_Kolaborasi
HUJAN TAK PERNAH SALAH
Penulis: Romy Sastra bersama
DianSi


*(Romy)
Karena siklus semusim wajah iklim tersenyum
jangan sesali tetesan menyirami kemarau
di bumi gersang inginkan hujan basahi alam.

Hatimu nan rindu pada dekapan syahdu
jangan tangisi kepergian kekasih
yang pergi tak kembali lagi.

Ketika layaran tak lagi berlabuh ke dermaga
awan titipkan hujan,
gelombang menghadang perahu karam
aku mati,
larungkan nisanku pada riak
biarkan pantai mewangi kembang setaman.

**(Diansi)
Sekiranya saja kau tahu, sesungguhnya aku tak pernah jauh dari hatimu
Lihatlah, hempasan bait-baitku
Betapa hanya padamu membadai hujan.

*(Romy)
Rindumu padamkan!
jangan bermain di pantai fatamorgana
petikan memori kita
biarkan terkunci mati
jangan tangisi takdir
rela doa sunyi kukirimkan dalam misteri
izinkan dikau kekasih mendayung bahtera
bersama yang lain....

**(Diansi)
Jangan katakan itu hingga melukai rindu yang kubangun sejak lama
Sesungguhnya kerinduanku adalah kau menjadi takdir sajak-sajak pualam dari hatiku.

Jakarta, Ujung Pandang, 03022017





#Quotes


ketika musim kemarau datang
ia menitipkan pesan kepada awan
sediakan payung sebelum rinai turun

dan ketika musim hujan melanda
bersuka citalah
bahwa rahmat-Nya menitipkan kesuburan
maka tersenyumlah

HR RoS
Jkt, 17/2/17





#Quotes


kepada hujan yang menetes sepanjang hari
jangan tangisi rasa hiba membawa koloni risau ke dada

biarkan takdir menjawab,
musim ini kan berlalu
ada hikmah sesudah musim penghujan
ia menyirami alam yang tandus,
menyejukkan hati yang gersang
berdamai kita sepanjang hari

HR RoS
Jkt, 17/2/17




Berbagi pemahaman tata menulis buat kawan-kawan yang mau menerima.
Pada penempatan kata kerja
( di ) ( ku ) ( mu ) ( nya )

Setiap kata menunjukkan kata kerja
di itu menyatu dengan kata di depannya.
Contoh: dimanja, ditikam, dilempar, disiksa, disentuh, diraba, disengaja dll.

Setiap kata menunjukkan kata tempat
di itu terpisah dengan kata di depannya.
Contoh: di mana, di sini,di sana, di situ,
di daerah, di pinggir, di sudut, di tengah,
di dalam, di luar, di kota, di daerah,
di mana-mana, di mana pun dll.

Pengunaan ku pada kalimat di depan
pada kata kerja, ku itu menyatu.
Contoh: kuambil, kugores, kuraba, kurasa dll.
Kalau ingin terpisah gunakan kata aku.

Penggunaan kata mu,
mu itu menyatu pada kata di belakangnya.
Contoh:
sekehendakmu, sesukamu, bersamamu dll.
Dan kalau mau terpisah gunakan kamu.

Dan nya pun menyatu pada kata di belakangnya.
Contoh: dikatakannya, dirindukannya, di sisinya, dll

Hanya kepada Allah kalimat nya itu memakai huruf kapital.
Contoh, kepadaNya / kepada-Nya
untukMu / untuk-Mu.

Permasalahan ini, banyak kita tidak paham akan penggunaan kata kerja dan kata penunjuk,
termasuk saya sendiri juga selama ini.
Semoga bermanfaat buat kawan-kawan semua.

HR RoS





ANA DAN KAKA


Ana dan Kaka
sentuhan jemari belaian rindu
kiambang bertaut sisakan senyumanmu.

Ana dan Kaka
biarkan teratai layu di tasik madu
akar berenang menelan pahit
benang-benang kehidupan
cabaran merajut kilauan.

Kelopakmu tersusun rapi
meliuklentok mengejar bayangan
jangan layu tersentuh bak mimosa pudica.
Ana dan Kaka
sayapmu patah di kiri dan kanan
menganyam rindu di bibir malam
tadahkan tangan dalam sujud
raih mahabbah maha kekasih.

Jangan mengharap kasih
yang tak kunjung datang
bicara tentang mama dan papa
iringi dengan doa
yang terkubur di pusara
sirami dengan kembang setaman
berbahagialah hendaknya nama yang tertulis di batu nisan
di samping pohon kemboja.

Ana dan Kaka
tersenyumlah menatap mentari pagi
di sana kehidupan masih berlanjut
senja belumlah tiba
persiapkan amal ibadah
untuk bekal bersemayam nanti
bersama mama dan papa, ya, di sana.

ANA DAN KAKA
(kisah dua anak Yatim)
puisi kolaborasi, Nur Mutiara PELITA TRG ( Norhaizan Mahussin)
bersama Romy Sastra
Jakarta, Malaysia 18/2/17





OPTIMIS
By Romy Sastra


Dalam lamunan
kuhayalkan tentang diri
berteriak dalam ruangan kosong
desahku lirih mencibir bayangan semu
teriakin kebodohan

Dalam sadar kubuka pikiran
Pikirkan tentang jalan hidup
untuk menerobos onak belukar
kegundahan diri selama ini
gundah dalam bayang-bayang ilusi

Tersadar diri
memegang teguh jalan hidup
menjalani realita hidup dari-Nya
napas napas optimis kuiringi memandu
mengabdi ke jalan Ilahi gapai ridho-Nya

Canda tawa selama ini tak seindah kubayangkan
tak lagi menghibur lara
banyak sudah kebenaran Ilahi dilalaikan
pecundang sudah bersama lelah

Pagi bersama terik tatap masa depan
menutup bayangan semalam
jemari menyusun pertanyaan sastra
menulis dalam syair
walau terkurung dalam tanda tanya
di ruang penuh misteri
tetap jawabannya
aku akan menganyam realiti
untuk meraih impian
membentuk kepribadian

Tak selamanya malam itu kelam
bersujud dalam kesunyian di keremangan
mengadu kesilapan diri
menghalau kegundahan
semoga gelisah berlalu pergi

Dalam doa
menengadah mencari cinta-Nya
mencoba memacu semangat mencintai-Nya
berharap dicintai-Nya
dan mencintai yang di sampingku juga
mendekap tanpa melukai kasih sayang
hidup indah bersama cinta

Dalam goresan optimis ini
semoga maha karya puisi
tak sia-sia memaknakan cinta
oh, diri. Mengertilah!

HR RoS
Jkt,19/2/17





POTRET ANAK PINGGIRAN


i
angkuhnya kehidupan di gelanggang borjou, zaman bersolek di beranda masa depan pada kemajuan
berkacalah kemewahan pada kesusahan
semoga nurani menyentuh perit si anak kampung pantang mengeluh, yang tatapannya jauh dari cemburu, di panggung opera nan mewah laju deru mesin iringi kemajuan teknologi di bandar-bandar keramaian nan riuh, seperti gemuruh pesawat terbang
ya, pesawat yang terbang tinggi langkahi kerendahan gagah bersayap sombong hilang di balik awan

ii
duka bocah di tanah pertiwi, tak tersentuh akan nasibnya yang telah tergadai oleh globalisasi
bibirmu dik, bungkam sudah oleh keadaan, tataplah study pada ejaan semoga mengerti tentang kemajuan zaman terus bergulir,
sedangkan di dadamu ada bara regenerasi menembus lorong dan waktu demi maruah ayah bundamu

iii
alam ini bijak dik, dan dunia kejam
jangan picingkan mata, tatap laju duna ini, tantang dengan semangat membara,
pada filosofi isyarat sepikul kayu dikau gendong, 'tuk ciptakan bara api tanak nasi menjelang petang didihkan air di atas tungku perapian,
teruslah melangkah pulang dik, memang hari sudah petang,
nyanyian jangkrik bersahutan di hutan tak kau hiraukan
para bunian pun tersentuh mengintip langkah kaki si anak pinggiran di kaki langit nan jauh dari keramaian

iv
pada tanah pertiwi berlumbung emas,
manik-manik terurai hanya kerlipkan istana para raja,
seperti surgawi nan megah nikmat duniamu hanya sesaat saja
cobalah berbagi tuan, kepada mereka yang terpinggirkan bahkan dimarjinalkan oleh zaman,
tempa pendidikan mereka-mereka yang jauh di pedalaman

v
regenerasi ini bukan bodoh, tapi tahu diri dan berbudi
tak angkuh menyentuh laju kehidupan yang glamouris
memang dikau tak mampu bernyanyi tentang glamour semua itu, irama yang beda pada nada dan tarian nasib
dikau dik, bukan berparas miskin, tetapi kau kaya dengan peluh mencucur sebagai cerminan bakti si anak pinggiran pada orang tua, dikau tak malu ditingkah roda berputar
ada masa hidup ini indah, tegarlah selalu, tataplah mentari pagi yang ia tak pernah berhenti menyinari kepada mayapada

vi
titip salut pada rona bersahaja
dari wibawa anak gadis desa,
yang dikau sudah belajar arti kehidupan, dikau bukan manusia susah dan pemalas, tapi dikau mencoba memaknai perjalanan di awal langkah yang kau tempuh, yang dikau mengisyaratkan 'tuk menempuh laju ujung jalan tak risau dengan resah pada beban di kemudian hari
teruslah melangkah dik, meski dunia kejam tapi, alam ini bijak bersahabat dengan kearifan zaman
walau keadaan tak berpihak pada nasib

HR RoS
Jkt, 020317





PASRAH
Romy Sastra II


tlah aku persilahkan dikau pergi
membawa kisi-kisi memori
tentang ikrar merpati tak tertepati
memang sayapnya patah
tertembak cemburu buta
dendamlah

kubur saja janji pada awan
tenggelamkan
memang purnamaku
tak mampu menyibak malam
iklim langitmu tak mau berubah
seperti pualam dihempas salju
tetap saja dikau berhati batu
aku menyerah

HR RoS
Jakarta, 04,03,17





BERNYANYI BERSAMA GITA
By Romy Sastra II


sepilihan memori dalam resonansi puisi
pada rasa tak bernada kukenali
gita kita masih bersahaja
memahami tarian tinta di meja kaca
kepada sepoinya angin menerpa sastra
sepilihan itu mengerti cerita senja
seperti dian pijarkan malam

hama-hama di pucuk daun berbenalu
kepompong merenda kelambu sutra
jangan terpesona pada warna pelangi
yang hanya sesaat menari titipkan misteri
ada baiknya kita lalui jalan berlumpur
memetik hikmah pada jejak berikutnya
untuk lebih waspada tak terjatuh di lobang yang sama

tarian ini masih gemulai
lenggok tinta di kertas tak berwarna
menuliskan satu kata seribu makna
mimpi itu sudah terobsesi oleh poetry alam
sang Maha larik taburkan aksara
pada langit dan bumi serta seisinya
tuliskan pada jiwa yang mengerti
menebar seuntai senyum pada sajak dan puisi

jangan menyerah wahai nahkoda
arungi gelombang dengan santai
biarkan riak menari menggusur pantai
camar-camar tak risau bernyanyi
masih ada gemulai nyiur melambai tersenyum menatap sagara nan membiru
bahwa pemandangan itu indah di sana
meski ambai-ambai tergilas gelombang
tak gamang dengan hadangan
sedangkan lembayung
masih sisakan harapan pada buih
tertitip dari terik menyinari

HR RoS
Jkt, 28 2 17





#Cerpen
Judul: MIMPI BERTEMU NABI
Karya: Romy Sastra II


Suasana mimpi di malam itu, purnama bercahaya indah di dada langit, kerlip kejora bertaburan, seakan arasy bertamu memeluk bumi. Aku terpesona di alam tidur di ruang kosmik dalam jiwa ini. Mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW sebuah misteri pada religi tingkat tinggi.

Doa-doa seiring tasbih sepanjang permana tak berbilang setiap malam, laju napas memuji, iringi perjalanan iman melakukan ibadah salat tahajud. Hadirnya rasa rindu kepada yang dirindui oleh sekalian yang tercipta mengharapkan pertemuan dengan maha kekasih bermandi cahaya pada bintang gemintang dari percikan gesekkan kalbu bertasbih kepada Rabbani di alam diri.

Aku duduk bersila, seperti bertapa bak lingga yoni mencari keheningan diri, mimpi itu.
Di antara bintang gemintang yang terang menyinari angkasa, ada satu bintang yang gemilang dikelilingi oleh pijar-pijar kerlip. Tatapanku syahdu, memandang langit biru di dalam mimpi, sesosok yang berjubah hijau keluar dari kerlip satu bintang yang gemilang, dan ia turun ke bumi menemuiku secara khair di dalam mimpi itu.
Sosok berjubah hijau turun ke bumi menghampiri lelapku, jiwa ini sadar akan fenomena batin yang terjadi dalam mimpi. Ya, dalam mimpi itu.

Sosok yang berjubah hijau tak menampakkan rupa,
melainkan berwajah cahaya.

"Ia berseru!. "Wahai umat yang merindu, aku datang kepada kamu sekalian menititipkan pesan, Ikutilah sunahku!" Kau akan memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam suasana takjub suara itu begitu lembut menyapa mimpi yang jarang ditemui.

Di sisi lain, selain yang berjubah hijau berwajah cahaya itu, ada juga sosok yang gaib tak berwujud menuntun perjalanan mimpi, dan itu salah satu suara batin mendampingi perjalanan mimpiku.
Ia mengisyaratkan ke dalam ruang mimpiku!. "Itu Rasulullah turun ke muka bumi. "Wahai yang tertidur," Ikutin jejak langkah di mana dan ke mana Rasulullah itu berpijak. Maka, seseorang itu akan mendapatkan syafaat ilmu yang baik dan mendapatkan kebahagiaan serta keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.

Aku tertegun dengan petunjuk suara dari yang tak berwujud itu.
Lantas, aku mengikuti jejak-jejak sang Rasul berjalan berada di depanku.
Serasa telapak kaki ini, menginjak salju yang sejuk merasuk ke seluruh tubuh, aku terpukau lembutnya jejak ini ya Allah.

"Sang suara itu kembali berseru!
"Ikutin pemberhentian di mana Rasulullah itu berdiri, berdirilah di tempat jejaknya itu, dan duduklah di mana Rasulullah itu duduk.

Aku memperhatikan di antara dua petunjuk suara dan arah langkah kaki yang berjubah hijau berada di depanku, yaitu Rasulullah dan suara gaib tak berwujud itu.

Suara itu berpesan lagi. "Sesiapa yang ikut berteduh di bawah pohon yang Rasul dudukin, ia akan memperoleh kebahagian rezeki dunia yang penuh berkah.

Dari jarak tujuh langkah di depanku, sang Rasul yang berjubah hijau dikelilingi cahaya, berhenti berteduh dan bersandar pada suatu pohon yang telah mati. Pada gersangnya jalan-jalan yang ia lalui, jejak-jejak langkah kakinya tumbuh rumput-rumput meghijau menimbulkan kesuburan pada alam yang tadinya gersang.

****

Lalu sang Rasul terus berjalan dan berjalan, pergi dari pemberhentian di bawah pohon yang mati dan telah menjadi rimbun serta berbuah lebat.

Dengan rasa yang lebih takjub, aku mengikuti jejak rasul bersandar di pohon yang meranting tadi, yang dedaunnya telah tumbuh subur dan berbuah. Anehnya, buah pohon itu menjadi ranum mewangi menusuk hidung, aku terpukau sejuknya suasana di bawah pohon rimbun itu.

Sang suara gaib kembali berpesan; "Ke mana arah lenyapnya Rasulullah itu menghilang, dalam perjalanan malamnya menempuh fajar, dan dalam perjalanan siang menempuh senja. "Maka, ikutilah perjalanannya itu dan di mana beliau menghilang dari tatapan.
Jikalau engkau mampu hilang bersama tenggelamnya di mana Rasulullah itu lenyap, maka seseorang itu akan mencapai kesempurnaan ilmu dan hidup hingga ke jannah.

Dengan linangan air mata membasahi pipi, rasa rindu serindu-rindunya, aku menatap Rasul itu berada di tepian telaga biru, lenyapnya sosok yang berjubah hijau di hadapanku ke dalam telaga.

Tangisku pecah, rindu ingin bersamanya, aku memanggil yang telah hilang dari tatapan dengan tersedu-sedu. Akhirnya aku terjaga dari tidur, mimpiku usai.

****

Suasana masih terasa malam, fajar mulai menyingsing, mata ini tak lagi mampu terpejam, tatapan kosong menatap langit-langit kamar rumahku, seakan tertegun pada mimpi yang baru saja usai, hingga suara azan Subuh berkumandang, spontan aku berbenah dan mandi, mengganti baju koko, memakai peci pergi mendatangi mesjid dan ikut salat Subuh berjamaah di mesjid.

Selesai rituah ibadah salat Subuh berjamaah di mesjid, para jamaah pulang ke rumahnya masing-masing.

Yang tertinggal aku dan pak ustad,
ia baru selesai berdoa di dekat mimbar, aku berada di belakangnya.

Dan aku bertanya perihal mimpiku kepada pak ustad yang masih ada di mesjid itu.

"Assalamualaikum ya, pak ustad?"
"Waalaikumsalam Warahmatullahiwabarakatu.

"Ada apa gerangan ya anak muda?"
Sepertinya ada berita yang sangat penting rupanya ini. "Pak ustad bertanya dengan rasa penasaran"

"Iya pak ustad.

"Aku tadi bermimpi bertemu sosok berjubah hijau, sedangkan wajahnya diliputi cahaya, serta dengan suara gaib menuntunku pada suatu petunjuk arah jejak langkah kaki serta duduk dan lenyapnya yang berjubah hijau itu, hingga aku terjaga sampai mimpiku usai. Tak beberapa lama suara azan Subuh berkumandang, selesai salat berjamaah tadi, aku menemuimu pak ustad.

Sedangkan pak ustad, dengan seksama mendengarkan cerita mimpiku dan ia sangat terkesima.

"Ya..., pak ustad, apa artinya mimpiku itu. "Ya ...,pak ustad?"

Aku mencoba merayu pak ustad untuk memberikan jawaban dari pertanyaanku.

"Pak ustad tidak langsung menjawab, justru ia terpana menatapku.

Tak berapa lama pak ustad akhirnya beraksi.

"Spontan saja pak ustad memeluk tubuhku dan mengucapkan, "Ya anak muda, dikau telah mendapatkan rahmat dan petunjuk yang mulia oleh Allah SWT dari mimpimu itu.

Pelukkan itu ia lepaskan, dan bersalaman denganku.

"Semoga hidupmu dilimpahi ilmu yang bermanfaat dan keberkahaan rezeki serta kebahagian dan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat dari Allah SWT nantinya. Aamiin....

Semua kejadian yang berlaku dalam mimpi itu, aku utarakan sedetail mungkin di hadapan pak ustad, sehingga membuat pak ustad manggut-mangut mendengarkan semua cerita yang kukatakan kepadanya.

Pak ustad tak banyak bicara untuk menjelaskan perkara mimpiku itu,
selain ia menitipkan pesan;

"Engkau anak muda ... suatu saat nanti, kau akan menemukan jawabannya sendiri, dari semua mimpi-mimpimu yang dikau alami.

"Aamiin ... alhamdulillah ya, Allah
bisikku dalam hati.

Hingga pada masa kisah mimpi itu terjadi, dan jawaban mimpi itu masih aku cari sampai saat ini. Dan alhamdulillah kini, seiringnya waktu, tabir mimpi itu sedikit demi sedikit terjawab tentang kesadaran hidup terus berjalan ke ujung senja, tabir mimpi itu adalah rahasia religi serta rahasia aspek kehidupan dalam laju lembaran-lembaran suratan takdir hidupku, hanya aku sebagai pelaku kisah dari misteri mimpi itu yang tahu.

Berlalunya waktu, mimpi yang terjadi di tahun 1999, aku yang pada waktu itu seorang santri jalanan menempuh lelaku pada pengajian mencari jati diri dengan seorang guru di tanah Banten dan Karawang, pada masa jadi santri, antara guru yang di Banten dan yang di Karawang itu. Tak pernah aku menceritakan kisah mimpi dari anak murid kepada sang guru kedua-duanya. Dan guru itu telah tiada kini.

Aku sang santri sadar, bahwa hikmah dari pengajian kepada guru-guruku adalah mata rantai hidayah dari Allah SWT memandu kedewasaan diri menempuh perjalanan hidup jadi manusia yang beriman dan menjadi hamba yang shaleh. Karena kehendak-Nyalah semua kisah hidup itu terjadi dan kepada-Nya jualah kita kembali, aamiin.

Mimpi bertemu Nabi sudah terulang tiga kali dalam suasana dan cerita yang berbeda di tahun yang sama.
Dan mimpi itu memang tak pernah aku ceritakan kepada sesiapapun selain aku menceritakan kepada pak ustad di tahun 1999 yang telah jauh berlalu, sepertinya aku telah lupa dengan pak ustad yang menitipkan pesan-pesan religi pada mimpiku kala itu.

Sungguh aku teramat rindu dan ingin bertemu denganmu kembali ya, Rasul.

Seiring berjalannya waktu,
hidayah Allah SWT menuntun hamba-Nya kepada jalan ihdinash shiraathal mustakim, alhamdulillah, aku diberikan pengetahuan untuk mentafsirkan dari jawaban-jawaban setiap mimpi yang aku alami. Ya, hanya dalam kehidupan kisah mimpiku saja dan itu memang menjadi pedoman hidupku. Sesungguhnya, bahwa hidup itu mengabdi dan pasrah pada ketentuan suratan takdir mengiringi langkah kaki dan nasib yang Allah titipkan kepada hamba-hamba-Nya.

Pernah saya membaca suatu hadits mengenai mimpi, yang saya sendiri lupa tentang hadits itu.
Kurang lebih bunyinya begini:
Petunjuk yang terjadi setelah aku tiada di dunia ini nanti terhadap umatku, yaitu impian (mimpi)
salah satu Hadits Nabi Muhammad SAW.

"Waallahualambissawab"

Selesai





#Puisi
RINDU KAMI YA RASUL


Ya, Muhammad
engkau diutus ke dunia
penyempurna akhlak manusia
dari sifat jahiliyah menjadi mulia
dari kegelapan menuju terang
engkau insan kamil
tercipta dari sabda Hu Dzatullah
sang utusan dari azali
hingga akhirat nanti

Rindu kami ya Rasul
dari risalahmu kami berpedoman
biar kami tak tersesat jalan
syafaat itu kami tunggu nanti
ketika amal kami tak cukup dalam timbangan
di Padang Masyhar

Beratkan nilai kebaikan kami
dengan syafaatmu
jangan sia-siakan harapan umatmu ya Nabi
berselawat seluruh jiwa untukmu
karena dari rahmat engkau ia ada
engkau kekasih dari yang maha pengasih

HR RoS
Jakarta, 18,02,2017



----------------------------


#Berbagi
Sekali lagi berbagi buat yang mau saja,
ada banyak yang kita tak paham dalam sebuah penempatan tata kata preposisi, termasuk saya selama ini.

Menggunakan tanda ( ke ) ( di )
( pun )
Contoh:
( ke ) pada suatu kata tempat.
ke sana
ke sini
Ke situ
ke depan
ke arah
ke bawah
ke atas
ke samping
ke kiri
ke kanan
ke belakang dan sebagainya.

Pengunaan ( di ) pada kata tempat atau kata penunjuk.
Contoh:
di antara
di sana
di sini
di situ
di atas
di bawah
di tengah
di depan
di belakang
di mana-mana
di waktu pagi
di waktu malam, dan lain-lain.

Penggunaan kata ( di ) pada kata kerja.
Contoh:
dilakukan
disejajarkan
diintimidasi
disuruh
diserahkan
dimaknakan
dilempar
diajak, dan lain-lain.

Pengunaan huruf kapital atau huruf besar pada sebuah nama:

Contoh:
nama bulan, Januari, Pebruari, Maret, April, Mei, dan seterusnya.

Nama Tuhan, Allah. ( T dan A ) gunakan huruf kapital.

Nama kota, nama orang, ia memakai huruf kapital, dan lain-lain.

Berfikir yang benar Berpikir
fikir ______________pikir
bernafas _________ bernapas
nafas ____________ napas.

Semoga bermanfaat

HR RoS
Jakarta, 24,02,2017
Menurut EYD dan KBBI
di bawah ini:





RENUNGAN MUSYAFIR
By Romy Sastra


Debu tak mesti bernoda padahal ia nirmala
sauk saja jadikan tirta tak basah
adakala ia pembersih yang dihalalkan
pergi bertamu ke Baitullah
jalan sang musyafir seribu langkah tak lelah
Sedangkan peluh meluruh di tubuh
bercampur debu bernoda tak mengapa

Kenapa banyu melimpah tak disentuh
tuk bersihkan wajah pada religi
sedangkan matahari di hati
tak pernah redup menyinari
puji-pujian pun di rongga
tak lekang memandu ruh di nadi

Ah, malulah pada hayat
tak lelah menghidangkan nafsu duniawi
kenapa tak disyukuri pemberian yang ada
bulan masih purnama
kejora masih kerlipkan cahaya
matahari belumlah terbit dari barat
berbenahlah sebelum terlambat

Ah, malulah pada ruh
ia masih bermain riang tak berbaju
bercumbu sunyi dalam kelambu rindu
ketika tamu tak di undang datang
jangan sesali tarian jiwa terhenti tak lagi berirama
penyesalan alang kepalang tiada guna
kembalilah wahai diri pada-Nya
dunia tak pernah indah
meski disulam dengan emas permata

HR RoS
Jakarta, 230217





SABDA AZALI
By Romy Sastra


Empat anasir berpadu
menjadi koloni buat tubuh
Nur Muhammad telah dulu bersaksi
Hu Dzatullah
Asyhadu alla ilaha illallah

Segalanya bermula dari alam kosong
yang ada DzatNya
Nur Qun Hu Dzullah
di dalam kandungan Qun Nur Muhammad dari pada DzatNya

Berkuasanya Dzat kepada sifat
tidak Aku jadikan engkau wahai Muhammad
melainkan rahmat untuk sekalian alam

Berfirman Rabbani pada sifatullah,
teteskan air nuktahmu wahai NurKu!

Nur mani menjadikan cahaya putih,
kepada air

Nur madi menjadikan cahaya hitam,
kepada bumi
Nur wadi menjadikan cahaya merah,
kepada api

Nur maningkem menjadikan cahaya kuning,
kepada angin

Tiada kosong telah terisi wajibul wujud

Bersabda sifatullah:
iyakun kun jadi, jadilah engkau Jibril
penguasa bumi

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Mikail
penguasa air

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Israfil
penguasa angin

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Izrail
penguasa api

Kepada Adam tercipta sebagai insan kamil
khalifah di muka bumi,
tiada upaya semua tercipta mengabdi

Adam papah tak memiliki daya
sabda Rabbani titipkan karsani kepada Jibril
karsani ditiupkan ke tubuh Adam
Adam berdaya,
apa yang ada di dunia menyerah
Idajil tak terima

Daya keimanan Adam pada keinginan
menjadikan rasa mecumbui nafsu duniawi

Karsani tertancap di ubun
tembus ke dubur jadi abu
berjalan di bumi Allah
gelisah tak berpenamping
dari keinginan tercipta Hawa
tempat bermanja dan terlena
sesungguhnya surga dan neraka itu
nyata ada di dunia dan di jiwa ini

HR RoS
Jakarta, 21/2/17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar