RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 16 Februari 2017

Kumpulan Puisi Puji Astuti - SENANDUNG RESAH


SENANDUNG RESAH
By : Puji Astuti


Tertegun sesaat menelaah rasa
Pada kisaran waktu yang singkat
Berjuntai rumpun kasih tersambung ikat
Mengapa genggaman lepas tak tertambat

Kidung malam terdengar sayu
Berjalan seakan kaku
Rindu menuai bisu
Tertunduk wajah-wajah pilu
Menyeruak di ruang jiwa

Akankan cinta tersasar ke lembah cadas
Tanpa bersua tuk saling lepas
Seakan hidup ini hanya sebatas tuas
Getas meretas tertindas

Hati luluh bentuk lirik diri
Tersandung cinta kasih yang sedih
Melodi simponi pun terasa lirih
Tak terserat indah yang terasa pedih

Kenapa musti ada tetesan jiwa
Membuat rasa terluka
Membuyarkan inti-inti cinta
Porak poranda terbabat badai kecewa
Melebur segala mimpi
Benamkan asa yang ada

"Kenapa ...ya, kenapa?"

Tanyaku pada diri dan juga dirimu
Akankah cinta sejati hanya menjadi milik pelangi
Senja nan indah tenggelam bersama sunset
Senyum temaram bias sisakan luka di hati
Dan selalu retaskan bisik-bisik manja

Pergi menjemput malam
Tenggelam dalam kelam
Di jendela rasa dua sejoli
Terpisah rindu nan resah
Tersisih dari sisa waktu senja berlalu....

Jogja, 26/01/2017





SENJA AKAN TIBA
By : Puji Astuti


Kasih,
Perjalanan ini kita tempuh
Dan waktu pun pernah kita luangkan
Di mana kita selalu sisihkan kesempatan
'Tuk temukan rindu-rindu di hati
Kita mencari apa yang perlu dicari

Lihatlah, aku selalu ada di dekatmu
Sedekat korek api dan rokok
Sehangat secangkir kopi dan pahit
Namun, aku tak pernah pedulikan
Siapa dirimu di masa lalu
Karena itu, kehidupan milikmu nan dulu
Adalah kebahagiaanku
Dari itu aku belajar makna kasih

Yang,
bila kini ada ragu menggayut di dadamu
Pastikan itu hanya buang buang waktu saja
Bagiku, karena satu hati dan rasaku
Sama seperti yang kita kenal selama ini
Tak ada tuntutan apapun pada janji
Karena kita tahu bahwa kita saling cinta
"Padamu ...titik hati hanya bersatu, ya. Untuk kita..
..
Sayang, pijar masih ada
Dan kupastikan selalu ada untukmu
Walau lelehku tak kan bermakna
Karena, itulah pengorbananku
Kau tau aku adalah lilin untukmu
Yang tak akan menyerah menerangi
Walau ragu kau cumbu
aku tetap milikmu

Satu pintaku padamu
Jangan padamkan bara cinta
Biarkan terus berbinar saat menatapmu
Dan sangat erat di saat memelukmu
Ada tiga kata yang aku suka... "Aku Cinta Padamu ....

#hujan_gerimis_disenjaku
Jogja, 26/01/2017




CINTA KITA

Berayun melintasi selah-selah daun senja yang gugur
Kidung cinta masih mengalun saat kabut putih meredam lingsirkan malam
Bersandar pada gayutan serpih lamunan
Melepaskan kegelisahan sepenggal nyanyian kita berdua

Kemasan payung kasih sangatlah rapi
Sematkan pucuk-pucuk rindu di hati
Manis perasan jiwa terukir di sana
Berdentum riuhkan suasana erotis kasmaran

Jiwa menyatu dalam bejana cinta sejati
Ukiran abjad makna tertitis di rahim puisi
Melambangkan dua hati yang saling berpagut
Mereguk inti sari kehidupan nan lestari

Bahtera ini akan terus melaju
Seiring tumbuhnya tunas berterumbu
Menghijaukan kegersangan yang ada
Karena kita pemilik cinta sesungguhnya

Lingkar hati
Buih jiwa yang misteri
Padukan di sini
Selamanya akan terpatri suci

JOGJA, 13/2/2017
#PujiAstuti





BELAHAN JIWA
By : Puji Astuti


Bergayutlah di kekarnya lenganku
Di sini penuh dengan kehangatan cinta
Janganlah meragu tuk mengadu
Segenap keresahan yang membelenggu

Ada rindu di ujung terumbu yang selalu baru
Naungan kasih akan menyelimuti tiap sudut hati
Harapan dan impian jangan disingkirkan pergi
Datanglah agar jiwa di penuhi ketenangan yang hakiki

Kita yang tersebut dalam makdah cinta
Menciptakan gumpalan-gumpalan kebahagiaan
Rindu dan cemburu biarlah menjadi resapan
Karena keduanya melekat dalam hati dan pikiran

Kasih,
Kumpulkan semua kekuatan rasa
Kita reguk manisnya dalam makna cinta
Bagaikan Ratih dan Kamajaya
Yang selalu satu tuk memadukan gelora kehangatannya

Waktu biarlah berlalu apa adanya
Tenggelamkan asa di cawan madu canda
Simpan wangi melati ke dalam hati sanubari
Bawalah resah kita ke ujung senja nanti

Pelantun jiwa,
Mari duduk di sini dekat di hati
Rebahkan dan sandarkan penat raga sehari
Labuhkan semua gelora jiwa kusuma
Agar kita satu rasa dan satu cinta yang selalu menggelora.

#JOGJA_cerahpagi_ 7-2-2017





TETES PERIH
By : Puji Astuti


Terletak di ketidakjujuran tuk membunuh
Dilematik menusuk tirai kepercayaan
Kecurangan mengatas namakan rajutan ikatan
Menikam di balik manisnya secawan hidangan

Dia yang menangis ter-isak karena dusta
Melepuhkan bilur kesakitan hati dan jiwa
Meneriakkan segala kekesalan yang ada di dada
Tanpa ada peduli tuk bisa meredam raungannya

Mencabik, menguliti tanpa hati
Mengucurkan darah kesetiaan yang terbeli
Bahkan tak jua pedulikan sukma kini terbelenggu keji
Akan jeruji tirani dalam khasanah tahta singgasana kepicikan naluri

Belati terhunus dan menembus perih
Meluruh, memberuncah darah tak terperi di sini
Goresannya detik demi detik makin mencekik
Di ujung hembusan napas sengal makin kian tanggal

Di manakah nama cinta itu singgah
Nanar mata mencari keteduhan demi keluh jiwa
Tuk sandarkan segala luka di atas luka
Karena sekujur raga telah luluh dan tak lagi berdaya

#JOGJA_siang__ 7/2/2017





TERLARUNG
By: Puji Astuti


Hari ini secawan madu kau berikan padaku, tuk mendulang kecurigaan yang semalam kau sematkan, ada sinar kecemburuan di balik matamu yang selalu kau palingkan dari wajahku

Lihatlah,
Seonggok perasaan ini lebur menjadi sejumput arang hitam, niscaya aku yang meringkuk di sudut selimut setelah mendapati hatimu yang membuncah penuh dengan amarah

Dengarlah,
Sesak jiwaku ingin kau luruhkan, namun dinginnya malam tak juga membuatmu meredamkan api di hati, aku diam dan kau pun diam.

Dengan terpejam, sekali lagi kugali semua yang pernah terjadi, ada serumpun bunga ungu terselip di antara bingkai slide cerita.
Aku terisak melihat kerentangan yang ada di antara kita

Hari ini sudah terlarung jiwaku, mendapati serpihan kekecewaan untuk kesekian kalinya dalam sebuah perjalanan panjang,
biarlah semua menjadi prasasti abadi, bahwa kita pernah menjadi satu hati yang pada awalnya terdiri dua jiwa yang sangatlah berbeda.

#_Cintaituindah_Jikasatujiwa
#FIKTIF, JOGJAKARTA, 29012017





#Puisi_Prosais_Kolaborasi
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
Puji Astuti


#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga di pupuk lewat diksi.

Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi.

Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia.

Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....

Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....

****

#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu.

"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening.

"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah.
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih.
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah.

Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....

****

#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan.

Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya.

Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati.

Kau yang pergi....

Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....

Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017





REJAM JIWA
By : Puji Astuti


Linangku jatuh di pipi
Terkhianati akan sebuah janji
Lukaku merejam perih
Berdarah, tersayat akan nilai kepercayaan

Lelah aku rasakan sendiri kini
Disambut lemparan senyum sinis
Bagai menertawakan tetesan darahku
Ayunan nina bobo yang terdengar tak merdu

Mimpi buruk mengusik tiap waktu
Dosa-dosapun tak terhiraukan lagi
Apakah mampu berpijak hati ini
Tuk bisa melerai setiap tiupan kemunafikan

Tongkat masih kukuh tergenggam
Gayungpun masih bisa kupenuhi
dengan tetes peluh di setiap detik waktu

Tangan masih mampu menguliti mimpi
Kedua kaki rapuh bisa mengukur jalanan
Napas membagi udara di rongga dada
Namun parau suara ini menyanyikan kidung kenestapaan

Jangan khianati jika memang tak perlu
Bersandingpun terasa jauh di sana
Bibirku membisu meredam amarah
Ada gejolak yang membakar di dalam dada

Naif memang terjerat benang kusut
Membelenggu hati dan pikiran
Serasa mencekik urat nadi sekarat
Menohok ulu hati sangat memilukan

Mencibir berbisik-bisik kata
Melempar senyum kecurigaan
Akankah menyadari itu bagai sebuah belati
Menghunjam sampai ke jantung kematian

JOGJA, 29012017





PANAS
By: Puji Astuti


Terik di kala siang hari
Menaburkan benih-benih risih
Seutas tali terbang terbawa angin
Tersangkut di ujung dahan kering
Tertegun angan melayang
Terobek kalbu nan rundung
Serentak raga terbujur kaku
Siang membawa aroma amis
Tatapan matahari sadis
Panas menggilas sedih
Bagi hati yang berpaling pergi

Cinta sejati tak pernah ada merupa
Di atas perjalanan kaki dusta
Benci menjadi sahabat diri
Nalar hilang hanyut terbawa jala
Aku pun menelusup mencari duri
Yang terselip di antara jemari

Perih tersentuh luruh
Apalagi tersiram air garam
Geram, dendam menyelimuti sekujur jiwa

Prasangka dusta di belakang layar
Jadi tanda tanya pada kabar
Tirai sudah terhampar nyata
Menebar racun di zona rasa
Hempaskan citra yang megah
Lunturkan kepercayaan
Mencoreng muka dengan arang
Beringas menerpa wajah yang nanar

Mata elang telah mengarah
Satu tudingan ujung jari dengan pasti
Memantau dengan segenap benci
Karena yang dicari kesucian
Kenapa hipokrit menjuntai pada hati
Kepercayaan perisai diri kalah
Tak mampu membimbing cinta
Relung jiwa terpatri menerima yang ada

Ah, terik... reduplah sekejap
Biarkan wajahku menatapmu
Tanpa tertutup telapan tangan ini.

Jogja, 28/01/2017





PAGI
By : Puji Astuti

Tetes embun membasahi ujung jemari
Sejuknya menegarkan keresahan semalam
Tajuk rindu menyelusup perlahan
Menggenangi cawan hati berselimut hangat

Mimpi menoreh senyum terkulum
Melarikkan sepenggal cerita cinta kasih
Desah napasmu masih lirih terdengar
Saat mata terkatup tuk lepaskan kelelahan

Pagi..
Sapa yang menghangatkan dinginnya udara
Kegairahan membangunkan mimpi asa
Satu genggaman masih erat ingin ter-dekap
Tuk menuntunku menapak di perjalanan panjang

Warna telah tertoreh di kanvas hati
Dindingnya bagai pelangi setelah rinai hujan
Membias dalam senyum dan binar tawa
Jangan hancurkan cinta yang sudah tertanam nyata

Jeda waktu dan jarak terbentang
Terlampaui oleh kekuatan tali hati
Terangkum dalam kosa-kosa aksara
Bahwa satu jiwa menumpu kalbu dan rasa

Terkatup rindu bertalu tak henti memanggil
Tulang rusukku jangan pergi lagi
Disini selalu ada maaf serta setumpuk hati jiwa
Tuk kau pulang dan melampiaskan semua kisah cerita

JOGJA, 27012017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar