RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Senin, 06 Maret 2017

Kumpulan Puisi Juliano Adjie Mansiz - TERDIAM


"PERPISAHAN"
Oleh : JA Mansiz


Dini hari
Kutakdirkan untuk pergi ke dunia lain
Menyapu lembaran kusam
Ditanah yang gersang
Menghisap lembah perpaduan dengan lumpur yang lembab.
Betapa ruginya diri ini
Meninggalkan kalian peyemangat hari hariku
Daun daun kering pun tak berjatuhan diperjalan luas membentang.
Meninggalkan suatu aroma
Tidaklah mudah bagiku
Tapi apa daya ketika malam menyelimut senja
Menjadi waktu menjadi singkat
Kisah kita sebelumnya menjadi memori
Kehidupan.
Esok akan menjadi hari yang pilu.





"TERDIAM"
Oleh :JA Mansiz


Kulewati keramik demi keramik kepastian
Tembok tembok putih menjadi saksi peristiwa malam
Tak ada suara sedikitpun terdengar dimalam itu.
Kedua mata hanya melihat
Mereka yang lalu lang melewati ruangan sempit yang kumuh itu
Tak ada yang bisa menemani malam ini
Tak ada yang bisa dibawa bicara
Hanya sebait sajak sebagai pengganti malam ini.





"AYAH"


Sibawah pohon cemara yang indah
Kulukis wajah ayah
Diatas Pasir putitih yang kuusap
Kulukis wajah ayah
Kumis Hitam diatas Bibir ayah mengingatkanku wajah ayah
Ku telusuri relung relung kehidupan
Namun gagal menemukan satu bait sajak yang dapat mentertemukan aku dengan ayah
Hanya sebait Puitis ini yang dapat menjadi alat komunikasiku.
Angin menghembus berlahan lahan
Daun daun kering beterbangan
Abu abu halus menyelimuti tanah merah kepastian.
O..Tuhan berapa lama lagi aku bisa hidup dengan ayah sehari semalam.
Detik jam pun tak mampu menjadi suasana dalam drama ini.
Tik...Tok..Tik..Tok
Nada waktu yang menjadi pendengar.
Jarum waktu yang menjadi lukisan mata
Tak mampu mempertemukan aku dengan ayah.





"DiTanah KEPASTIAN"
Oleh :JA Mansiz


Diatas tanah altar kepastian
Dikediaman para dagelan
Yang membeku hiru pikuk
Getirnya air mata dipelupuk mata
Tanah air yang menjadi
Saksi ketika peristiwa subuh hingga subuh kembali
Tanah coklat yang menguras beribu kritik
Tak jua membangunkan seorangpun dari pola kehidupan
Mereka menyaksikan fantasi drama politik
Yang kian akan membangun etalase etalase megah setinggi menara katedral
Mereka berjanji kehidupan akan menjauh dari masa lampau.
Tapi lihat mereka asyik dengan fantasi itu
Mereka menghayati tetapi tidak terjadi
Mereka memahami tetapi tidak jua bangkit dari tempat duduk yang empuk
Mereka hanya mengundang bisikkan bisikkan kecil yang dapat mengundang masa lampau.





"WANITA SENJA"
Oleh : JA Mansiz


Pagi ku awal pagimu
Dunia hadir di Cakrawala kusam
Saat setetes embun pagi
Menitik di Pasir gersang
Melukis sebuah titik kehidupan
Relung relung hati tak dapat di terka
Bagai burung tanpa suara
yang terbang diatas rumput kehidupan
Entang kemana aku harus menelusuri
Gua gua hitam.
Tapak kaki ini tergelitiki dengan abu abu halus disela sela jari jemari.
Sampai kapan..
Sampai kapan..
Sampai kapan..
Sampai kapan ku temui wahai ibu
Dan berakhir dengan
Peristiwa ketika malam menyelimuti
Senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar