RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 25 Maret 2017

Kumpulan Puisi Puji Astuti - ELEGI HIDUP


TERAWANG
By : Puji Astuti


Sinema perjuangan ini belum berakhir
Meneteskan peluh-peluh kucuran lelah
Menaburkan rengkuh ber-aroma kisah
Tertanam dalam jiwa dan mahkota rasa

Sewaktu dera mencambuk dada
Jeritan lirih terlantun di bibir mungil
Memanjat doa untuk bertahan di dalamnya
Sampai jari melepuh diperjalanan yang ditempuh

Di depan famamorgana membentang
Bergelombang mengisyaratkan tantangan
Adakah kesejukan atau bara yang ada
Terkatup kalbu bertahtakan ketegaran

Wajah-wajah manja melintas di mata
Senyum termanis mendera di dada
Kerling cinta menyulutkan gairah membara
Inilah dentuman di sendi-sendi kehidupan

Raih semua harapan kita bersama
Di sana pasti ada tempat untuk merajutnya
Dekapan di dinginnya malam
Sebagai selimut hangat di saat patah semangat

Terumbu akan terus bermunculan
Di tunas-tunas muda yang penuh dengan keselarasan
Rengkuh semua dengan kasih dan cinta kita
Untuk mengubah sebuah jeritan menjadi manisnya senyuman

JOGJA, 13/3/2017





ELEGI HIDUP
By : Puji Astuti


Ada yang tersirat di depan sana
Hati berburu gulirnya waktu
Berlari mengejar matahari
Seperti ingin meneluk bayang sendiri

Pagi jelang siang ini
Napas-napas terengah-engah dihimpit nyali
Untuk paparkan rasa ego,
Bahwa diri bisa menumbangkan keganasan dunia bisnisan

Untuk yang cuma berlenggang tanpa ekspresi
Menundukkan ego dunia adalah mustahil
Karena kita berjalan seiring dengan kaki sendiri
Biarlah yang berlari maka berlarilah

Dan untuk yang terbaring sakit
Berjuang melawan gerogotan virus, bakteri di raga terbujur lemah
Menghitung waktu terasa lamban
Karena tanpa bisa menggerakkan kepakan sayap angan yang terpendam

Elegi pagi jelang siang
Beribu dilema tergelar di atas bumi persada
Tak peduli itu miskin atapun kaya
Semua menerapkan perjalanan hidupnya

Sedangkan diri ini di sini
Terpaku menatap merahnya tanah liat
Yang makin pekat tercampur lumpur hitam
Bergelombang di atas hamparan bumi tua dan semakin panas menggersang

Salam perjuangan....

JOGJA, 15/3/2017




GELISAH
By : Puji Astuti


Sedebar saat itu melihat kerling
Kini debar ada saat tak terlihat lagi
Sederas air mata bahagia
Kini sederas air kesedihan pula

Berputarlah waktu secepat kedipan mata
Agar kegelisahan ikut terbawa pergi
Di manakah teduh yang menyejukkan
Kini senyap terbawa kegersangan cuaca

Sejumput masih tersimpan
Menjadi warna di piasnya kanvas kehidupan
Meninggalkan bercak jingga yang abadi
Di luruhnya perjalanan langkah-langkah kaki

Ada selembar diary yang tergores lusuh
Penuh dengan bercak tetes rindu
Tergantung di pucuk tinggi daun cemara
Agar sedikit terlihat oleh hati yang ber-asa

.
.
.

Mendung kian menebal....

JOGJA, 20-3-2017





HUJAN
BY : Puji Astuti


Bertaburan butir-butir air basahi bumi persada
Bergemuruh kilatan menggelegar di balik awan hitam kelam
Tiada pedulikan jiwa-jiwa yang sedang merana
Berkutat dengan dilema yang menjerat

Seiring tak..tik..tak..tik.. di luar sana
Seonggok hati terbelenggu sepi
Onak dan duri mematahkan asa diri
Sekian lama merejamkan rasa tuk bisa ikuti

Berbasuh tetesan hujan malam ini
Terguyur raga nan rapuh tak bernadi
Kaku, kuyu dan sayu memenuhi kalbu
Tiada harapan yang menghangatkan biduk rindu

Tersenyum seringai di sudut bibir bergincu
Terbayang perjalanan di kabut senja itu
Tanpa ulasan, tanpa pertikaian
Yang ada hanya lepaskan segala kepenatan

Hujan mereda seiring sepinya malam
Gemuruh jiwa masih membakar tak hentinya
Gelora, membuncah seakan ingin tumpahkan
Bahwa dalam jiwa masih terbakar keinginan nyata

Perempuan berbaju biru
Tiada henti berjalan memacu
Berkilometer ditempuhnya dengan gayanya
Dengan senyum seringai ingin taklukkan kekejaman hidup di mayapada impiannya...

JOGJA, 17/3/2017
(Di pinggiran trotoar.. )





KESUNGGUHAN
By : Puji Astuti


Di senja yang menuruni bukit gersang
Kucari kembali serumpunan ilalang yang menghilang
Didera angin tropis dengan panasnya
Mampu membakar luluh kerontangnya

Di sela langkah tertunduk
Katubkan bibir membisu karena terasa kelu
Pernah terjatuh terjerembab di tepi jurang
Yang menyeret dengan segala curamnya

Kesungguhan ini teruji dengan nyali
Akankan bisa berjalan sampai di tepi telaga
Dengan air jernih dan kesejukannya
Tempat berhenti dari semua perjalanan

Simpuh bersujud dengan penuh harap
Termaafkan semua khilaf yang ternoda
Hijaukan lagi ilalang yang hampir mati
Karena tak tersentuh lembutnya jemari

Hujan segeralah turun ke bumi
Sirami kegersangan yang sedang terjadi
Agar tumbuh lagi pucuk ilalang yang hijau
Bersama segar semilirnya sang bayu

Badai pasti akan berlalu....

JOGJA, 22/3/2017




SIANGKU
By : Puji Astuti


Bestariku,
Melampaui tinggi mimpiku
Berdendang tentang adanya rindu
Yang mencungkil akar sehat otakku

Hatimu berterumbu cinta biru
Menyiratkan kegelisahan yang baku
Puing jiwa di dadamu sehangat madu
Yang melesahkan segenap kerak rasaku

Hasratku menimang indahnya cinta
Merasa kehilanganmu adalah keluh gundah asa
Mendapati senyummu itulah obatku
Yang seakan terlebur bersatu dengan hatimu

Siang ini yang penuh debu
Seterik hangat di sukmaku
Tersirat di kecap-kecap isyarat
Bahwa aku adalah belahan jiwa
Yang selalu kau tunggu
Dalam titian waktu berlalu
Hari ini, esok dan yang kan terus melaju
Menyapa cinta itulah indah rasa
Digulir rindu telah menggenggammu

Satu lagu usai aku petik
Dalam dawai melodi indah berakustik
Seiring detak jiwaku yang menelisik
Diantara samar bayangmu penuh dengan rengkuh daya kharismatik

Aku akan selalu melantunkan butiran aksara-aksara bernada cinta yang mewakili hati dan rasa....

JOGJA, 10-4-2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar