RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Senin, 10 April 2017

Kumpulan Puisi & Cerpen Emmy Metamorfosa - BAPAK


BAPAK
by: Emmy Metamorfosa


Mia baru saja menggantung sepasang baju ke paku belakang pintu kamar ketika suaminya tiba. Kendati ia mendengar sedikit percakapan suami dan anaknya di teras, tapi Mia lebih memilih memandangi sepasang busana itu dengan penuh kebahagiaan. Stelan kebaya berbahan renda merah dengan kain wiron berwarna dasar hitam berbatik merah. Bersanding dengan kemeja pria berlengan panjang dari bahan yang sama dengan wiron dan bercelana panjang hitam.
Pintu terdorong dari luar, munculah sosok lelaki yang dirindukan sejak tadi pagi. Senyum Mia memberi sambutan. Menyadari ada sesuatu yang baru si suami ikut memandang dan sambil melingkarkan lengan ke bahu istrinya. Mereka pun sama-sama memandangi sepasang busana itu.
Sepasang busana khas Nusantara yang dibeli tadi siang di pasar, yah... hanya di pasar kain harganya juga tak seberapa. Namun cukup membuat Mia tak dapat memejamkan mata malam ini. Ibu satu anak itu begitu gelisah. Pikiranya menerawang. Besok, dia dan suami akan menghadiri acara perpisahan di sekolah anak mereka. Sebagaimana undangan yang mereka terima seminggu yang lalu.
Mesin waktu berbingkai biru telah menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Mia memilih berdiri memandang keluar jendela. Menatap remang malam yang diselubungi kabut embun. Di antara kebahagiaan karena telah berhasil menghantarkan sang putra tunggal menyelesaikan sekolah SMK Tehnik Komputer dengan nilai prestasi yang lumayan bisa dibanggakan. Ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Bila satu hal itu tiba-tiba muncul di pikirannya dia pun gelisah bahkan sedih. Tak sadar air mata menitik dari sudut mata kanan. Dia terkejut dan buru-buru menghapus butiran hangat tadi dari pipi. Tapi terlambat, suami telah merangkul nya dan berkata " Kenapa menangis? bahagia gak usah pake nangis, lebay deh. Besok kesiangan lho! " Mia berbalik badan menatap wajah suaminya sekejab lalu menunduk seakan tak kuasa beradu pandang. Lalu mereka terlelap sampai pajar membangunkan.
Setelah melewati kerepotan pagi yang beda dari biasa, mereka bertigapun bersiap berangkat. Bima sang putra tunggal sudah rapi dengan seragam sekolah dan jaket kuning organisasi pelajar kebangganya. Mia dan suami tampak bak sepasang 'rose black' sumringah di pagi yang cerah itu. Ketiganya naik ke kabin. Dengan sedikit usaha tentunya sebab bukan mudah pengguna wiron naik ke kabin truck colt diesel. Walau mereka punya satu motor matic yang masih nyicil tapi truck itu saja yang bisa mereka tumpangi sekali bertiga. Mobil itupun milik perusahaan tempat suami Mia bekerja. Mengangkut tandan tandan sawit dari perkebunan ke pabrik pengolahan. Yah, dia seorang supir truck sawit. Kebetulan hari minggu maka mobil boleh dipinjam dengan izin perusahaan tentunya. Perjalanan sedikit panjang dikarenakan mobil truck tidak boleh melintasi jalur kota maka harus memutar dari pinggiran kota. Setelah memarkirkan mobil di tepi lapangan bola seberang sekolah, merekapun memasuki gerbang sekolah.
Suasana ramai, ornanen dan hiasan di sana sini. Bangku bangku disusun sedemikian rapi berbalut satin dan pita merah. Di panggung tampak lousdpeker besar besar dan beberaoa alat musik. Tak ketinggalan spanduk lebar ucapan selamat kepada para siswa yang telah lulus, tentunya.
Sepasang siswa dan guru berpakaian etnik bertugas menyambut tamu undangan. Setelah membimbing kedua orang tuanya ke tempat duduk Bima pun berbaur dengan teman -temannya. Mereka bersenda gurau saling canda dan tawa. Mia tersenyum melihat keceriaan itu. Tapi... lagi lagi keresahaan itu muncul tiba-tiba. Mia menarik napass panjang demi membenamkan nya kembali ke dasar hati.
Acara terus bergulir. Dari kata sambutan, tari, nyanyi, puisi juga ada atraksi bela diri. Semua sudah disuguhkan dengan begitu apik dan rapi. Hingga tiba saatnya pada acara yang dinanti. Yakni pengumuman siswa siswi terbaik. Baik dari sisi prestasi juga dari sisi ahlak, karakter, tatakrama. Kira kira begitulah yang Mia tangkap dari uraian protokol. Beberapa siswa dan siswi satu persatu naik kepentas dengan wajah berbinar, tepuk tangan mengiringi mereka.
Namun tiba tiba napas Mia seakan terhenti, jantungnya berdebar ketika nama anaknya disebutkan. Dan dari sisi kanan Bima muncul lalu naik ke pentas. Perasaan Mia kian tak menentu perasaanya tegang namun senyumnya tetap terkembang. "Anakmu, Ma. Selamat ya." bisik suami sambil menggengam jemarinya yang dingin. "Kamu gugup, ya? hmm..." Mia tak kuasa menjawab hanya tersenyum menatap suaminya lalu memandang kembali ke arah pentas. "Bapak Ibu sekalian, inilah siswa sekaligus alumni terbaik tahun ini. Kami segenap dewan guru dan atas nama sekolah memilih dan menobatkan predikat ini kepada anak kita Bima, putra dari Bapak Sup...", terhenti, kalimat pembawa acara itu menggantung diselingi suara mikrofon yang storing. Mia sudah hampir tak bisa menguasai emosinya lagi dia nyaris pingsan. Kembali terdengar dari pengeras suara " Maaf kami ulangi, anugrah siswa terbaik tahun ini kami berikan kepada Bima putra dari Bapak Atmo dan Ibu Mia". Semua hadirin berdiri dan bertepuk tangan. Kali ini Mia tak lagi mampu menahan diri, tangisnya pecah. Hingga tak mampu menjawab ucapan selamat dari beberapa orang tua siswa di kanan kirinya. Atmo lah yang menyambut jabat tangan mereka.
Kebahagiaan seorang ibu tiada lain hanyalah keberhasilan Sang anak menjadi anak yang baik apalagi sampai yang terbaik. Segala upaya berbalut nestapa dalam membesarkan, mendidik, menyekolahkan dengan segala cinta kasih yang tulus itu seakan terbayarkan, bahkan lebih. Namun ada satu hal yang tak kalah mengharukan dari itu. Beban keresahan yang sejak kemarin menekan perasaan Mia kini telah pecah laksana kepompong merekah dan menjelma menjadi kupu-kupu yang berterbangan indah, yaitu pengakuan Bima akan Ayahnya yang sekarang. Ayah Atmo_nya. Di hadapan khalayak ramai dia meminta pembawa acara merubah nama ayah kandungnya SUPRI dengan menyebut nama ayah yang selama tiga tahun ini menjadi Ayah, Om dan sekaligus sahabatnya. "Terimakasih Nak" ucap Mia kepada anaknya. Meski jarak beberapa meter dari kursi hadirin ke pentas, namun Bima mengangguk seakan ia mendengar suara Ibunya di antara riuh tepuk tangan. Sebuah piala, selembar piagam dan sebuah medali tergantung di lehernya.
Mia berangsur bisa menguasai diri dan kembali duduk. Setelah menyeka sisa airmata di wajahnya. Pandangannya pun fokus kembali ke pentas. Kini di pentas hanya ada Bima memegang mikrofon. Setelah mengucap salam, lalu berterimakasih kepada guru-guru, teman-teman dan semua pihak sekolah. Dia juga meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia perbuat baik sengaja maupun tidak sengaja. Lalu dengan suara sedikit tersendat dan mata berkaca dia berkata " Terimakasih kepada ibu yang sejak kecil telah bersusahpayah membesarkan saya sendirian, melampaui segala penderitaan tanpa mengeluh, buat saya. Sungguh saya tidak bisa membalas Ibu. Hanya saya berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi". Lalu suaranya semakin serak mengiringi kalimat berikutnya, " penghargaan ini pun saya persembahkan kepada sahabat saya Om saya, sekaligus Ayah saya. Bapak Atmo, beliau adalah guru saya di rumah, saya belajar banyak tentang cinta kasih pada sesama dari beliau. Bapak, tetaplah mencintai saya dan Ibu. Saya berjanji akan menjadi kebanggaan kalian." Lalu air mata Bima tak terbendung. Namun ia berusaha menyembunyikanya dengan berbalik badan dan menyudahi kata sambutan itu.
Setelah acara selesai semua saling bersalaman. Para orang tua siswa dengan guru-guru, dengan sesama orang tua siswa dan dengan para siswa. Lalu mereka bertiga kembali ke mobil truck. Di tepi jalan itu Mia memeluk anaknya penuh keharuan. Sejuta kata tersekat di rongga dadanya.
Setiba di rumah, Atmo langsung masuk ke kamar. Begitu pula dengan Bima, ingin berganti baju katanya. Sedangkan Mia masih duduk di dipan dan memandangi piala anaknya. Beberapa detik kemudian Atmo keluar lagi dan memanggil Bima lalu menuju dipan dimana Mia duduk. Bima datang dengan kaos oblong. " Bima ini buat kamu." Atmo menyodorkan sebuah kotak kubus berwarna hitam bertuliskan kalimat berbahasa Inggris. Bima menerima dengan raut penasaran, sejurus kemudian dia bersorak kegirangan. " Horee! bagus banget, ini pasti mahal." Terimakasih Pak." Matanya berbinar terpana. Lalu Atmo berdiri merangkul dan menepuk-nepuk bahu anak tirinya, dan berkata lembut " "Cuma jam tangan merek kw, yang bisa bapak belikan buat kamu. Pakailah, semoga benda ini bisa membantumu dalam menghargai waktu, karena salah satu kunci sukses terpenting, adalah menghargai waktu." "Terimakasih Pak." Bima menyalim dan memeluk ayah tirinya yang untuk pertamakali ia panggil bapak. Lalu mereka bertiga berfoto selfi,ckrek.

Kisaran, Maret 2017





KOPI
by: Emmy

untukmu
bendahara seni
kusunting pesonamu, dulu
dengan aroma sekantong kopi
lirik patidusa sebait cuma
kuracik kata rindu
kini kampungmu
sepi

Kisaran, 280317




MASIH DI SINI
by: Emmy


Tentang aku yang masih di sini,
Jangan tanya
Tak perlu meraba, tak usah menebak arah
Setia, bodoh ataupun keras kepala.

Tentang aku yang masih di sini,
Bukan nian dirimu intan, duhai ...
Namun sekedar tulusku hati menyayang.

Tentang aku yang masih di sini,
Bukan terikat angan, asa belaian
Namun sekedar teguh janji sendiri
Menanti jawab ribuan hari

Kisaran, 190517

Kumpulan Puisi Puji Astuti - TITIPAN RINDU


TITIPAN RINDU
Bay : Puji Astuti


Menggelantung jantungku saat senja
Sejak kerling matamu menembusnya
Percik-percik api kasmaran
Mulai menggelitik asa dan jiwa

Berkali mata ini terpejam
Tuk hengkangkan tajam tatapan
Tak berdaya segenap rasa
Membuncah dan meletupkan detak asmara

Tiada warna seindah kilau di mata itu
Sayu meluruhkan gejolak dalam kalbu
Seirama tuturan lembut syahdu mendayu
Membentuk lingkaran hati dengan rindu

Gayutkan resah ini di secangkir kopi
Terasa nikmat walau tiada gula pemanis
Galau menggejolakkan sebidang dada
Yang terkatub penuh gundah tiada tara

Jalur-jalur mimpi kini mewarnai lingsirnya malam
Tertata di atas angan dan lambung berandaikan
Tersenyumlah selalu untukku, duhai
Yang akan menjadikanmu sebuah mutiara abadi di dalam hati

JOGJA, 3/4/2017





SUNYI
By : Puji Astuti


Detak jarum jam di dinding terdengar berdetak
Seiring desir jantung merah ini berdegup
Melantunkan syair kesunyian pekat merambat
Lirih musik klasik mengalun di antara bisikan asa

Kulewati berbagai propaganda kehidupan
Mencarutkan keadaan yang tak segalanya selalu mapan
Tersandung kerikil tajam di jalanan
Mengucurkan letih di raga tertatih pelan

Rengkuh bayangan seiring lingsirnya waktu
Berjuang di pelataran yang meranggas kelu
Tak sisakan ruang untuk meraih rindu
Seakan titik resah telah menjalin sekutu

Di sini masih bersama detak jarum jam itu
Ternikmatinya kesunyian yang memeluk jiwaku
Terkatubnya bibir kelu dan membisu
Menuju hadirnya geliat mimpi di malam tanpa semilirnya bayu.

JOGJA, 1/4/2017





MEMIKIRKANMU
By : Puji Astuti


Dua malam terlewatkan sudah
Merintih pilu di sudut kelambu
Terpejam mata tak menoreh warna
Terpaku satu lamunan yang mengembara lara

Ingin lepaskan sejumput rindu ini
Melarung di hempasan ombak pantai
Yang membuih serpih kisah kasih
Dan bermuara di tepian pesisir

Satu titik resah kala memikirkanmu
Tiada jeda waktu yang selalu termangu
Mengejar bayang-bayang rindu semu
Dan terlantar di semak-semak belukar itu

Lihatlah senja yang bermega kelabu
Di saat itulah waktu kita bertemu
Di sudut kota dengan keriuhannya
Tanpa pedulikan lagi dua hati sedang berpacu rasa

Senja beranjak pergi
Turunlah malam yang sunyi sepi
Tinggal sebuah serpihan kepingan hati
Tertunduk kelu karena selalu memikirkanmu

Hujan Senja
JOGJA, 31/3/2017





PERIH
By : Puji Astuti


Sekat ini kenapa makin sempit
kurasakan bercampur dengan kepiluan
berjajar seakan barisan ketidak berdayaan memenuhi altar jiwa yang kian meranggas

Tatapan masih melayang-layang di mata
tak lekang segera menyingkir dari rasa
gelisahku bertumbuh satu-satu lara
merimbunkan gelora duka yang teramat panjang

Tidurlah engkau duhai,
jemput keabadian yang semua akan merasakan
peluk kehangatan di mana kemarin dingin selalu menyertai ragamu
tiada lagi tebar tawa memenuhi ruang tidurmu

Bunga syurga telah terpetik
dengan segumpal jiwa syahid nan cantik
rapalan doa tak akan terhenti hanya di sini
di ujung malam sampai titik pagi hari

Entahlah,
kunang-kunang seakan terbang mengerumuni
penuh pijar kerlip di malam gelap tanpa ratri
bulan sabitpun sembunyi di balik mega putih
tanpa mendung dan rintik hujan yang luruh ke bumi.

JOGJA, 31/3/2017





KERINDUAN
By : Puji Astuti


Ada seserpih luka yang merentan
Di dada ini terhampar keikhlasan
Merujuk di dasar paling terdalam
Hanya karena tertimbun dalam ingatan

Sekilas tampak bayang semu
Beranjak dari bangku dingin kosong
Berjalan hampa di antara belantara
Tanpa tetesan cinta yang melentera

Kebisuan ini kubisikan ke kalbuku
Bahwa aku pengembara tanpa lagu
Bergandeng dengan kelu dan pilu
Bercengkerama dengan segayung rasa rindu

Setangkup senyumku adalah sebuah lintasan
Yang mewarnai gelap pelangi yang melawai
Di sebuah bayang di atas danau
Kuperhatikan diriku yang terasa sangat kacau

Pija-pijak kakiku terasa gontai
Menyusuri tirai retas hari-hari
Se-izin yang Kuasa ingin berhenti
Seakan aku dalam lingkaran jemari

Segenggam cinta di telapak ini
Terkemas dalam petaknya peti
Terkunci di semat hati yang terpatri
Dan tak mungkin akan bisa berbagi janji
Untuk selalu indahkan harimu pujaan hati

JOGJA, 30/3/2017





KERINDUAN
By : Puji Astuti


Ada seserpih luka yang merentan
Di dada ini terhampar keikhlasan
Merujuk di dasar paling terdalam
Hanya karena tertimbun dalam ingatan

Sekilas tampak bayang semu
Beranjak dari bangku dingin kosong
Berjalan hampa di antara belantara
Tanpa tetesan cinta yang melentera

Kebisuan ini kubisikan ke kalbuku
Bahwa aku pengembara tanpa lagu
Bergandeng dengan kelu dan pilu
Bercengkerama dengan segayung rasa rindu

Setangkup senyumku adalah sebuah lintasan
Yang mewarnai gelap pelangi yang melawai
Di sebuah bayang di atas danau
Kuperhatikan diriku yang terasa sangat kacau

Pija-pijak kakiku terasa gontai
Menyusuri tirai retas hari-hari
Se-izin yang Kuasa ingin berhenti
Seakan aku dalam lingkaran jemari

Segenggam cinta di telapak ini
Terkemas dalam petaknya peti
Terkunci di semat hati yang terpatri
Dan tak mungkin akan bisa berbagi janji
Untuk selalu indahkan harimu pujaan hati

JOGJA, 30/3/2017





GELISAH
By : Puji Astuti


Sedebar saat itu melihat kerling
Kini debar ada saat tak terlihat lagi
Sederas air mata bahagia
Kini sederas air kesedihan pula

Berputarlah waktu secepat kedipan mata
Agar kegelisahan ikut terbawa pergi
Di manakah teduh yang menyejukkan
Kini senyap terbawa kegersangan cuaca

Sejumput masih tersimpan
Menjadi warna di piasnya kanvas kehidupan
Meninggalkan bercak jingga yang abadi
Di luruhnya perjalanan langkah-langkah kaki

Ada selembar diary yang tergores lusuh
Penuh dengan bercak tetes rindu
Tergantung di pucuk tinggi daun cemara
Agar sedikit terlihat oleh hati yang ber-asa

.
.
.

Mendung kian menebal....

JOGJA, 20-3-2017





RETAS HATI
By : Puji Astuti


Di sini aku memilahkanmu
Di antara dua dimensi berbeda arah
Keterletakanmu yang salah
Ataukah aku kini sudah terpengarah..?

Kau duduk di singgasana egoisme
Mencurahkan keterbatasan gema hati
Menelanjangiku seakan aku sebatang tunas kering
Yang tanpa peduli akan injakan kaki beralas taji

Aku kehilangan kendali jiwa
Mengunyah segala yang terhidang di depan mata
Menelan pahit getirnya suguhanmu
Tanpa bisa memuntahkan tuk rasa pembelaanku

Direjam tanpa syarat
Dikungkung tanpa sempat berteriak
Cambuk dan cambuk hati yang meninggalkan bilur-bilur kecongkakan
Karena patahan ini telah menelan semua kelembutan

Titik berandaku kelabu
Membilurkan curatan, kelokan kelu
Seakan jiwa, sukma dan asaku terpaku
Di alam barkah di mana arah lesatan ujung panahnya tak pernah menentu

Memarit yang tak sengit
Mendera tak perlu adanya terka
Pilu bercampur ragu mengepung kalbu
Di titik nol akhirnya aku buka jendela dengan lembaran-lembaran putih yang baru
Di mana hati memasung pati yang bertelanjang kaki tuk akhirnya ku sendiri mulai melangkah pergi.

JOGJA,27/3/2017





DERA
By : Puji Astuti


Ada yang menggayut di sini
Di dalam jiwa dan rasaku
Terkatung bak batuan ampul
Mengambang di derasnya air terjun
Melenggang dan berayun-ayun simpul

Deranya terasa mengiba
Menyesakkan dada dan tersiksa
Perih terpicu karena rasa sedih
Di waktu yang tak sedikitpun mau beralih

Napas sekedar menghela
Agar menyingkir sesak di raga
Akankah ini jadi buaian hati
Yang kan selalu ikuti langkah-langkah kaki ini

Perindu di ujung hati
Janganlah kau pergi tinggalkan abdi
Lemah aku tanpa sosok dirimu
Yang sekian lama menemaniku selalu

Ingatkah jalinan jemari kita dulu
Yang merajut indahnya waktu yang berlalu
Rasaku menjadi rasamu
Tuk jadikan kita ini saling meramu rindu

Dekap ragaku walau cuma mimpi
Karena ilustrasi telah melabirinkan hati
Sampai di titik waktu nanti
Kita adalah sejoli dalam cinta sejati

Daur ulang aksara
JOGJA, 4/4/2017





JANJI
By : Puji Astuti


Bertaut dengan seluruh kekuatan jiwa
Menyatukan keinginan mulia
Disertai ridho dari Sang Khaliq
Janji ini akan bisa terpenuhi

Denyut nadi pun menjadi sakral detaknya
Memompa daya hidup sebuah nyawa
Melepaskan kelegaan sukma dan jiwa
Merebah saat ini pun sudah terelakan

Sujud bersimpuh memohon naungan teduh
Tuk rasa hati dan raga yang mulai rapuh
Perjalanan kaki terasa sampai di ujung tuju
Yang sekian lama mengembara di arena pacu

Tetes demi tetes air mata hati
Membasahi segenap rapuh jiwa ini
Terampuninya segala dosa dan khilaf
Yang telah memberikan warna gelap di dalam senyawa dada

Genggam jemari gemetar ini
Peluk raga yang melemah ini
Terkatup mata di kala melamunkan rasa
Gemuruh di dada saat ingat akan ampunannya

Tetaplah bersamaku
Sampai napas terakhirku
Peluk ragaku saat mulai kaku membeku
Agar jiwaku bisa tenteram pada saat itu

JOGJA, 16 MEI 2017

Kumpulan Puisi Drs Mustahari Sembiring - SABDA NUSANTARA


SABDA NUSANTARA
Karya MS Sang Muham


Selamat pagi nusantara,
kusapa letihmu dengan suara gemetar
sebab daftar petaka terpapar
hatiku gentar
sehabis terbakar

Selamat pagi saudara sejurai,
kusapa penantianmu dengan nada rendah
sebab fakta yang tergambar
hatiku sedih
setelah perjuangan letih

Kini sabda telah nyata
di hari pertama minggu kedua kita jumpa
kubawa jawab atas penantian doa dan harapan
bersiaplah membawa suara jiwa
akan kuminta kiprah atas suara tertitah

Datanglah dengan hati bungah
kuncup bunga sudah merekah
tapi ingat tak satu katapun luput dari perhitungan
kata adalah sumpah, sumpah adalah janji
akan kuminta bukti dari kata yang kau ketik dengan jari

Hidup harus terus mengalir
sekarang dengarlah sabda sang pemegang kuasa
agar sejahtera kedepannya
tahan kata jangan asal bicara
mulutmu harimaumu seturut pribahasa

Peliharalah hati
jaga bahasa
hati-hati melukis kata dunia maya
apalagi melukai jiwa
kau bisa binasa

Kutunggu datangmu setelah undangan di terima
kita bertemu di istana sahabat bocah angon
alas tua batavia rumah berpagar batu

#Billymoonistanaku, Seninsore, April 03 - 2017 = 17:57 wib





PERHELATAN IBU PERTIWI
Karya MS Sang Muham


Menunggu penuh syahdu
setiap mahar telah di penuhi di hadapan penghulu
wadah jiwa di basuh memasuki kawah candradimuka
tirakat pingitan di lakukan
persiapan menuju pelaminan

Hari tanggal bulan tahun telah serasi
perangkat tempat mumpuni seturut adat
perhelatan ibu pertiwi
pesta nusantara
tuan rumah tanah pasundan

Mohon restumu duhai leluhur agung pendiri negeri
tuturi kami jalan setapak menuju nusantara jaya
malih rupa siasati sengketa
dasa muka hindari angkara
mengerti sebelum terjadi

Alam berkali kali kabarkan pesan
bergegaslah penuhi undangan
tali kekang sudah di lepas kusir dari istana
baginda raja sengaja menyulut api di dada
siapa terlena jadi tumbal perbuatannya

Perhelatan ini tak mungkin di hindari
saudara sejurai kesabaran adalah modal yang di jaminkan
tetap pegang undangan jangan di buang
hitung untung rugi ingat cita cita
di lebak cawene kita berjumpa

Aku saksi mata tak mungkin dusta
doa dan harapan wujudkan kenyataan
perjuangan telah tiba di awal bahagia
ijinkan kusiapkan keperluan pesta
selamat dunia akhirat bahagia sepanjang masa

#Billymoonistanaku, Jumatkliwonpagi, Maret 31 - 2017 = 10:10 wib





DERMAGA TELAH SEPI
Karya MS Sang Muham


Kita pernah seiring berjalan
membariskan waktu menakar usia
hilang percaya di muara sengketa
tenggelam dalam kekhawatiran
dibuai keduniawian

Akhirnya kita sepakat mematikan rasa
menyusuri jalan berbeda

Meski kita telah bertolak arah
di ranah bathin ada benang merah
saat sadar semua pasti akan musnah
susah payah cuma mengotori darah
ego diri ternyata senjata pemecah belah

Memang tak ada kata terlambat untuk khikmat
tapi perahu telah lama lego jangkar
dermaga telah sepi
tarian laut mengisyaratkan pasang
sedang hari sudah petang

#Billymoonistanaku, Rabumalam, Maret 29 - 2017 = 22:22 wib





HILANG SESUNGGUHNYA KEHILANGAN
Karya MS Sang Muham


Sungguh
lolong nestapa merobek senja
sekian saat ngambang
terduduk di ruang hampa
ah...nurani di belenggu sunyi

Hilang sesungguhnya kehilangan
saat ratap tak lagi sebuah obat
tangis tak mampu mengikis

Bujuklah hati
sebab hidup pasti jua berujung
masih bergunakah berbelangsungkawa
jika sebelumnya nafas telah tercemar
penuh dusta

#Billymoonistanaku, Rabumagrib, Mei 03 - 2017 = 17:57 wib





HIDUP ADALAH PILIHAN
Karya MS Sang Muham


Ia telah berlalu
membawa selaksa tanda tanya
merambat di sepanjang denyut nafas

Tak tertinggal catatan
apalagi tugu untuk di kenang
sebab biji yang di semai kering di lahan tandus

Entah kapan ia akan mengulang datang
pada sisa waktu terentang
apa masih ada peluang

Sesungguhnya hidup adalah pilihan
mempertaruhkan segala kemungkinan
tak ada keputusan tanpa pengorbanan
tak ada kebetulan
dari apa yang ditawarkan

#Billymoonistanaku, Rabusjelangsore, Mei 03 - 2017 = 14:44 wib





NIKAH JIWA
Karya MS Sang Muham


Semula aku membencimu
malang melintang pamer rupa
sok kuasa menebar kebencian di sukma

Lalu jodoh mempertemukan kodrat
terpikat lalu jatuh cinta hingga gila
bersumpah setia selamanya
di candi baru cinta bersemi
di istana penghulu memeteraikan nikah jiwa

Ingin kubasuh namamu yang keruh
kukembalikan wibawamu yang luntur
cinta luhur bhayangkara pagar bangsa
abdi cinta kasih tempat berteduh
pembawa damai adem ayem tentram mulya

Halang rintang malang melintang
para punggawa mereka-reka angkara
cinta kita ternoda
tulusnya hati terkebiri
bahtera pengabdian penuh kemunafikan
Duh Tri Brata riwayat ini nyata
tapi cinta tetaplah cinta
kudekap hingga ajal menjemput raga

#Billymoonistanaku, Rabupagi, Mei 03 - 2017 = 07:57 wib





CINTA MENAMBAT SIMPUL RASA
Karya MS Sang Muham


Kutunggu di timur jauh
tak kutemukan jejak apalagi jalan
haruskah pulang kembali kepangkuan malam
padahal rindu masih menggantung
tak rela berpisah denganmu

Meski kerapkali di hianati
remuk redamkan hati nurani
hampir binasakan suara hati
sejujurnya cinta telah menambat simpul rasa
padamu jua duh Tri Brata

Aku memilihmu dan kau memilihku
telah kusumpahkan hidup pengabdianmu satu
hingga usia merentangkan waktu

Meski masa tinggal seujung kuku
kuyakin cinta takkan hadirkan buah kecewa
kupegang teguh sumpah setiaku padamu Tri Brata-ku

#Billymoonistanaku, Selasamalam, Awalmei 02-2017 = 22:22 wib





MENUTUP PINTU DAN JENDELA
MENGHINDARI KECEWA
Karya MS Sang Muham


Aku sudah berhenti di garis batas
saat kau bentangkan kata tanpa nada
menandai lunturnya sebuah pesona
di penghujung manis terkecap
kumaknai sebagai penciptaan jarak

Jangan lagi memulai menyemai harap
lantaran kekosongan jadwalmu
apalagi jika cuma memoleskan gincu merah
pemanis senyum di balik bibir berbisa
bersembunyi di belakang rindu terlarang

Mari belajar melupakan nostalgia merah muda
pada memori tercatat serupa alfa
getah noktah di garis kehidupan
saat hampa menenggelamkan hampir separuh jiwa
maka kini mari sikapi senja dengan bijaksana

Maafkan aku telah menutup semua pintu dan jendela
supaya tak lagi menghadirkan kecewa

#Billymoonistanaku, Selasamalam, Meiawal 02-2017 = 20:50 wib





PEMENANG SEJATI
Karya MS Sang Muham

Pagi sudah merambat lagi
tergulung tirai malam bersama mimpi
menyisakan renung panjang
pada tanya atas ragu
tentang cuaca esok hari

Ada sendu menggantung di kalbu
mengapa jalan begitu berliku
terbentang terhalang tiap sudut pandang
menghempaskan upaya
patah galah di dada

Skenario hidup memori insani
berserah pasrah tetaplah berpengharapan
tiap kompetisi berujung pasti
menang kalah terserah diri
seulet apa jalani suratan Illahi

Pada-MU jua Gusti Pangeran sandaran diri
layakkanlah hamba jadi pemenang jeati

#Billymoonistanaku, Selasapagi, Meiawal, 02 - 2017 = 07:47 wib

Kumpulan Puisi Siamir Marulafau - SANGGAR KRISTAL


#PUISI 5 Bait
MENDENGUNG
siamir marulafau


Aku hanya bermalam di malam sepi
Di kala rembulan menerang
Meskipun mata tertutup
Lara akan melirik sampai ke ujung dunia
Sepanjang napas mendengung di langit biru kelam

sm/06/04/2017





Belajar Berpuisi
siamir marulafau


Apa topik,,,,,,,,,?
Di keheningan malam napasmu beresemayam dalam napasku
Jika bintang di langit berkelip,,,,,,,,,,,,
Akan kubelai kasihmu di tepi danau tak bertepi
Seandainya jiwa ragaku tak tertanam di dadaratan sepi
Hanya titipan kasih akan kuukir
Tinggal debu melambai dengan harapan tak tergapai...
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,apa sambungannya?

sm/05/04/2017






THAT WHAT I SAY BEFORE SLEEPING


The large sea is not able to accept my tears
Since it has been changed to be blood
Whereas the coastal area near by smiles
For the disappointed lives to run

No body is caring for the pain
I wish someone be there for a help
But no one insects flies
To seize my hand
For crying

I burst out of not laughing to anyone else
For the cruelty of mankind surrounding
I just keep silent to notice
That the attitudes
For the patience

On my topic of the verse,is portrayed
What happened there really
It was a real personality
And be shared

Just be patience, to keep up
That's the final urge
I say before sleeping
That 's the final urge
I say before sleeping

sm/05/04/2017,copyright





SANGGAR KRISTAL
siamir marulafau


Memukau hatiku
Melihat keindahanmu
Melapangkan rasa rindu
Akan mesjid-Mu
Rumah ibadah kristal
Mengukir alam ke surga
Menghindar ke dalam gudang bara api memanas
Sampai zhikir tak tenggelam
Meskipun air laut pasang
Iman tak akan susut bagaikan air laut surut
Hanya pada-Mu kuberlindung
Di kala suara azan menggema
Sinar pun tersenyum menerpa lara
Enggan tak sujud
Berpaling tak akan menyebut nama-Mu
Di sanggar Kristal menimba amal
Allahu Akbar,,,,Allahu Akbar,,,Allahu Akbar

sm/04/04/2017





ASI
siamir marulafau


Manusianya tak disusui dengan ASI,Otaknya kayak otak lembu karena disusui pakai susu lembu,apakah benar atau tidak,terserah
Ini hanya rintihan syair....

Jika tak menerima,jangan dibawa ke hati
Syairnya mengingikan otak cerdas
jangan kayak syair tak berbait
Sukar ditelan....

Sukar berpikir apakah iya atau tidak
Makanya ASI penting buat generasi
Negara berkembang dari masa ke masa
Sampai syairnya tak tenggelam di muara sungai tak berpasir

sm/03/04/2017





SEMALAM DI MALAYSIA
siamir marulafau


Cintamu mengukir cahaya
Menyiprak ke dalam jiwa
Bersemayam dalam napas
Dengan kilauan lampu menerang

Seiring kasih dikau bias
Hati pun tak gusar,galau
Rasa duka berbalut suka
Tak terlupakan sepanjang masa

Meskipun cahayamu jauh di mata
Aromamu terhirup dalam napas
Sepanjang senyummu membelai kasih
Sepertinya semalam di Malaysia

Besenandung cinta dan damai
Sampai rinduku tergapai
Meskipun kau dan aku berlindung
Dalam cahaya terang benderang

Mengukir rasa harus tak berkesudahan
Sepanjang kasih dan cintamu bercahaya
Meskipun temaram malam tak berbintang
Seperti dikau menerangi harapanku

Tak terlupakan sepanjang masa
Sampai tulang belulangku merapuh di tanah tak bersuluh
Jika napas tak menerawang lagi
Tapi cahayamu membias selalu dalam rindu

sm/02/03/2017


-------------------------


"BANYAK ORANG BISA MENGKRITIK TAPI BERBUAT TAK BISA,DAN BERBUAT PUN BERSALAHAN"




---------------------------



WHAT THING IS TO KEEP?


The life seems like bees
It will give honey for meal
There will be advantage for the lives
As long as the breath runs
Though for a while to save
Even the nature allows to gain
But not for the useless creatures
That the humanity to keep
Otherwise God will be angry
So as the nature will not be smiling
For those against the Almighty
What the life is there to keep
If the curse will be coming down
And all the trees would be drying
What to do?
Except to pray
How long have you been there to live?
For a while is like to sleep
That's the message to keep in
If you believe the being existence there existed
No force between...
To accept something is being or not
That's the personal destiny

sm/02/04/2017,copyright





APA DAYA?
siamir marulafau


Hanya menunggu waktu
Senja akan terkapar di tanah diam
Jika napas tak mendengung
Kopi kelat tertelan akan cair
Darah tak akan mengalir

Lutut kaku...
Mata tertutup
Makanan tak berselera lagi
Minum pun tak akan masuk lagi
Tubuh menggigil...
Terbaring di bawah langit kelam

Mdn/01/034/2017





KASIH TERBENTANG
siamir marulafau


Hanya kau dan aku tahu di mana napas cinta itu besembunyi
Jika kasih itu tak mencuat di langit biru
Hengkanglah daun-daun pada musim gugur
Di kala senja tak terbiaskan sinar mentari lagi
Bertanya selalu,mengapa daun-daun itu terjatuh?
Apakah usianya tua?

Angin sepoi pun tak sanggup menghemus lagi
Seiring pasir-pasir tak bertaburan di hamparan pantai
Bukan sembarang syair...
Di sini...
Kutaburkan benih sampai napasku tragis
Sekeping kasih di kau bentangkan di atas piring kosong
Akan kusemai sepanjang hayat menanti
Sebelum mentari terbenam

Mdn/30/03/2017





MEMBACA PUISI Minthil Kasmaran dengan tajuk "BULAN SABIT"
siamir marulafau


BULAN SABIT
Minthil Kasmaran


.
Bulan sabit menangis,
melintasi gugusan hari-hari bersamamu,
tak terasa hampir mencapai ujung,
tanda pagi tiba,
dan pestapun usai.

.
Bulan sabit mendesah lirih,
mengulir tasbeh berdoa dalam tangisnya,
bertanya juga : mengapa ada perpisahan ?
jika hati terikat erat telah berakar,
mengapa tak dapat merebut takdir,
yang pernah kita minta bersama,
yang diperjuangkan tapi sia-sia,
aku dan kau kalah berperang,
.

dan ketika purnama tiba,
hati kita jauh,
tapi selalu dalam mimpi-mimpi,
hingga bulan memberikan senyum yang paling sabit.
Kita bersama menangis ....
disini,
hingga mati......

.
Bhumiarema, 24/3'17
mien _angeldark


Membaca topik puisi di atas agaknya menarik perhatian pembaca karena bulan sabit sebagai topi berakar pada penuturan puisi,dan memang puisi ini agak sulit dimengerti jika pembaca tidak cermat memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh si Penyair.Jika kita baca, dan cermati,pemakaian kata-kata dan kalimat terasa indah dan tepat.Pada aninea I,bait pertama,penulis menggunakan "Bulan sabit menangis".Penyair senang menggunakan gaya bahasa personifikasi.Bulan adalah diibaratkan sebagai manusia yang menangis,dan mengapa bulan itu menangis?Dalam hal ini,penyair memberikan suatu teka teki kepada para pembaca bahwa dalam kehidupan sang penyair ada sesuatu yang ditempuh dan ingin mecapainya tetapi kadang hasrat itu tak akan tergapai meskipun penyair berusaha dalam hidup untuk bersatu dengan dengan seseorang yang dia senangi,tapi kadang tak berhasil,sepertinya penyair menempuh berbagai usaha melintasi berbagai jalan kehidupan,seperti apa yang dikatakan pada baris ke 2,"Melintasi gugusan hari-hari bersamamu".Ini menunjukan perjuangan yang berkepanjangan sampai pagi,berarti perjuangan hidup dalammencapai sesuatu yang diinginkan dari mulai petang sampai pagi,yang tersirat pada bait 3,4 dan 5.
"tak terasa hampir mencapi ujung
tanda pagi tiba,
dan pestapun usai"
Selanjutnya,penyair dalam puisi ini,Penyair yang diibaratkan sebagai bulan sabit sangat tekun dan taat kepada Illahi bahwasanya dia tak luput berdoa selalu kepada Tuhan supaya apa yang diinginkan akan tercapai tetapi TAQDIRlah yang datang dari Tuhan sebagai PENENTU apakah tergapai atau tidak.Penyair sangat senang sekali dengan seseorang untuk menjalin hidup bersama dalam dunia fana ini,tetapi apakah mungkin itu terjadi,,,,,,,,,,?Dan selalu bertanya,mengapa 'Kau',dan 'Aku' berpisah?Curahan hatiini dapat di baca dan dilihat pada Alinea ke II,bait 2,dan 3:
"mengulir tasbeh berdoa dalam tangisnya"
"bertanya juga :mengapa ada perpisahan?"
Pada bait- bait selanjutnya,sang penyair meneruskan kisahnya,yaitu :Jika antara Aku dan Kau telah berakar dalam napas,semestinya mengapa berpisah,dan sudah sekian lama kita telah bersatu dan menjalin hubungan baik,dankita telah berjuang matian-matian,dan mengapa sia-sia belaka?Hal inilah yang membuat si Penyair gusar dan sangat tertegun dan penasaran,dan sampai-sampai penyair menulis puisi bertajuk"BULAN SABIT".Curhat si penyair dalam bentuk puisi prosa liris ini dapat dilihat pada bait-bait :
"Jika hati terikat erat telah berakar,
yang pernah kita minta bersama,
aku dan kau kalah dalam perang,"
Ternyata,penyair jelas bahwa hatinya sebagai Bulan Sabit menuturkan pada permirsah bahwa dia telah menjalin hubungan baik kepada seseorang tetapi tak berkesudahan dengan bahagia,sehingga membuat hatinya bertanya-tanya mengapa setiap perjuampaan dalam hidup ini akan mesti adanya perpisahah,apakah ini "TAQDIR"?Penyair mengibaratkan ini sebagai "PEPERANGAN',perang dalam memperjuangkan sendi-sendi kehidupan untuk mencapai kebahagiaan dengan seseorang yang dia cintai dengan dirinya sendiri,tetapi,maksud hati nan memeluk gunung apa daya tangan tak sampai,dan itulah kata pepatah atau petuah yang pernah kita dengar.
Kemudian,pada alinea ke III,penyair menggunakan kalimat-kalimat dengan memakai gaya bahasa personifikasi,yaitu :
"dan ketika purnama tiba,
hati kita jauh,
tapi selalu dalam mimpi-mimpi,
hingga bulan memberikan senyum yang paling sabit
kita bersama menangis.....
disini,
hingga mati,....."
Dalam bait-bait di atas terlihat penyair menuturkan kepada pembaca bahwa hati mereka sudah tak mendekat lagi,dan sudah menempuh jalan hidup masing-masing yang akan sulit bersatu ketika bulan purnama tiba.Kecantikan dan hubungan yang baik hanyamelukiskan pesan dan kesan antara "DIA'dengan "SESEORANG",atau anta 'KAU' dengan 'AKU'.,yang disudahi dengan tangisan rintihan karena 'ASMARANYA tak tergapai.Perlu dicacat bahwa keduanya Pecinta di sini sama-sama membawa kesan dan pesan dalam kehidupan yang berakhir dengan kematian yang bersifat TRAGIS disebabkan TAQDIR, dan Kasih tak sampai.Dan inilah yang harus dipegang sebagai ajaran moral kepada kita semua(sebagai pembaca) bahwa apa yang kita cita-citakan untuk sesuatunya adalah tergantung pada yang maha KUASA,dan Dialah yang memulai dan dan Dialah yang mengakhiri,dan hanyalah USAHA belaka yang harus ditempuh oleh manusia di dunia yang fana ini.

Analisis dalam bentuk puisi:

1.Puisi ini berbetuk puisi prosa liris.
2.Puisi tidak terikat pada pada bentuk puisi yang konvesional
3.Puisi bebasdan tidak bersajak pada setiap akhir baris puisi
4.Puisi perlu pembenahan dalam penulisa sepeti:kata 'pestapun'.Seharusnya'pesta pun' dan 'disini'.Seharusnya'di sini'.
5.Setiap akhir bait-bait puisi seharunya tak perlu pakai tanda 'koma' .
.6.Topic puisi relevant dengan tema puisi
7.Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana dengan majas yang tepat sehingga puisi terasa indah.





MENUNGGU SEBUAH KISAH
siamir marulafau


Apakah aku menunggu sebuah kisah?
Tak akan tertutur sepanjang malam
Rasa kantuk pun mengancam
Jika hanya badai menerpa sebuah kapal
Rasanya tergoncang ...
Sanubari pun menggeliat
Sepanjang lautan tak bersahabat
Jika alam mengaung bagai buaya kelaparan
Bersyukurlah wahai insan...
Sebelum alam berhenti mendongeng
Jangan biarkan alam mengamuk
Jika demikian,kepada siapa mengadu?
Tak seorang pun melirik
Hanya perut atas terpikirkan
Perut bawah juga jadi urusan
Harga rupiahmu berapa?
Jika ringgitku kutukar
Apa yang terjadi di atas bumi panas ini?
Tak seorang pun bisa berceloteh
Terdiam sepanjang jalan kenangan
Hanya omelan yang besar sebesar gajah
Toh bunyinya kosong
Bukan membanding...
Hanya mengingatkan di bawah pohon rimbun
Tak membias sinar satu pun tercantol di ubun-ubun
Alunan setiap baris puisi bukan mengancam
Bukan juga mengkritik...
Hanya mengukir rasa duka
Terjerembab di lembah tak berpilar
Sepertinya mengharungi sungai tak bertepi
Dukaku perih pedih...
Jika negaraku menampung sampah-sampah berbau busuk
Kapan melek dengan mata jengkol tak berarti?
Bukan mengoceh, bukan merepet...
Hanya memupuk rasa kebersamaan
Dalam menitip rasa kasih sesamanya
Kemanusiaan semakin menghilang
Sirna ditelan deburan ombak pantai terjal
Tak akan berbayang selamanya
Jika kesombongan atas harta pangkat tak dibawa mati
Terkuburlah harapan setiap insan
Tak akan mencuat di langit cerah
Di kalaTuhan geleng kepala melihat tingkah laku manusia
Sementara gunung-gunung pun tak akan bersenandung lagi
Hanya ingin meletus...
Jika akan terjadi,mau ke mana insan ini?
Bertaubatlah sebelum sinar mentari berpaling gelap

Mdn/30/03/2017





THE POSITIVE IMPACTS OF USING MALAY LANGUAGE
IN LITERATURE
Siamir Marulafau


University of Sumatra Utara,Medan
e-mail: penyair dcm2@gmail.com

Abstract :
This scientific writing is about the positive impacts of using Malay language in literature,which illustrate the use of Malay language in some of literary works written such as poems,short stories, novels,and folklore.This writing also tries to find out whether the language of Malay is used among the writers in Indonesia or not.
Keywords : Impacts,Language, scientific

I.INTRODUCTION :

Using language is one of the most important things in human life since language is the system of symbol has the meaning.Language is a social phenomenon.It is a means of communication between individuals.It also brings them into relationship with their environment (Lim Kiat Boy:1975,P:3).By using language ,human beings can convey what they means to others,and if there is no language ,they can not be able to say what they like to ask and say something to others. The language used by human beings is not the same with the language used by animals.Most people assume that only humans use language---it is something that sets up a part from all other creatures(Dept.of Linguistics,The Ohio State University:20)
The language used by them depends on what languages in literature be there to write,for instance : In Indonesia,the people are commonly to use Indonesian language derived from Malay language or many people said that the Indonesian language was from ‘Bahasa Melayu Riau’, which is the same root of language such as the language of Malaysia,Brunei,Singapore.The Malay language used in four regions is dominantly used as the language of social life and officials among the people.Though the Malay language which has been developed used for many centuries has different characteristics such as in using ‘words’,’sentences’,or ‘pronunciations’ and not the same with Indonesian language.

1.
The Malay language ,which is used in Indonesia specifically recognized and called as "INDONESIAN LANGUAGE" has been formulated as the National language so as to unite the unity of Indonesian people from Sabang to Merauke that is specifically known as “Sumpah Pemuda”,1928.
The Malay language in Indonesia has many dialects in pronunciations in using words,for examples : The language used in Riau and Johor is different from the Malay dialects used in Palembang,Jambi,and Bengkulu.As the comparison of the different dialects seems to be clear that has been identified that the dialect used in Melayu Riau—Johor is the dialect “e”.While the Malay language used in Melayu Palembang, Jambi and Bengkulu uses the dialect ”o”.
The use of Malay language in four regions is known and different if it is compared with one with another in case of using words and the meaning of the words that may be depended on history and culture,for examples: In Indonesia,the words are said ‘berbeda’,’panitia’,’karena’,’unit gawat darurat’,etc.While in Malaysia,these words are said ‘berbez6’,’urus setia’,’kerana’,’kecemasan’,etc.The difference of Malay language used in Malaysia and Indonesia is not only concentrated on the use of the words,but also in the pronounciation such as in Indonesian language the words pronounced in the dialect”a” are like ‘ kita’,’apa’,saya’,siapa-siapa’,etc.While in Malaysia,these words are pronounced in the dialect “e”or”6” such as ‘kite’,’ape’,’saye’,’siape-siape’,etc.
The Malay language used in the four regions,especially in Indonesia is also focused on literature,whereas literature may not be separated from language as a part of culture.It is because wherever the language be found there, literature will be there planted, anyhow.As a matter of fact,the Malay literature in Indonesia was developed by some of the Indonesian writers,poets,short stories writers,novelists. The language of Malay there had been developed as long as the period of literature was improved from one decade to another.
II.PROBLEM OF THE STUDY
Every research has certainly a problem that should be tackled and this is a task for every researcher to find out the solution to overcome the problem.The problem is being discussed is that:” Is the Malay language positively used in writing literary works?”If it is so,that should be a solution to cover in order that the people know much about how the language of the Malay be improved to be Indonesian language that used in writing poems,short stories, novels and folklores.

2.
III.OBJECTIVE OF THE STUDY

The main purpose of writing this scientific writing is to find out the positive impacts of using Malay language to the public so as to indicate whether the Malay language in Indonesia dominantly used among people being settled on the land,especially in Medan,North Sumatra- Indonesia.In short,there are many people using the Malay language,which affect the positive impacts to the user of language itself in social life and literature.Not only that but also the people ,who become interested in learning and writing literature and the students of University in Indonesia may be concerned to use it as well.

IV.THE METHOD OF THE STUDY
The method of the study used in this paper work is library research.The researcher believed that by doing this method,the problem being discussed could be solved completely.For the first time,he read all the material study dealing with all the problems such as the history of the Malay language, the culture and some poems,short stories,novels,and folklore written in Indonesian language derived from the Malay language as well so as to make him easy find out the solution to overcome the problem related to the topic being discussed.

V.SCOPE OF THE STUDY

Since the Malay language has a wide field of studying in the four regions historically,the researcher tends to limit the discussion so as to avoid a misunderstanding or overlapping which is not related to the topic.He only discussed the positive impacts of using Malay language in literature located in his own country,Medan(North Sumatra-Indonesia)

VI.DISCUSSION

What has been discussed in the problem of this paper work,it is true that the Malay language has a large scope to study and it is a find subject to be identified since the language can be found in every literary work written by the literary men in Indonesia.It was a language since the writer of a poem writing a collection of poems entitled “Nyanyi Sunyi” by Tengku Amir Hamzah.This was dominantly written in Indonesian language derived from the root of the Malay language.Let see the followings:


3.
PADAMU JUA

Habis kikis
segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku paamu
seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Melambaipulang perlahan
Sabar,setia selalu
Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa
di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar

4.
Sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serpa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
Lalu waktu --- bukan giliranku
mati hari ---- bukan kawanku...

BARANGKALI

Engkau yang lena dalam hatiku
akasa swarga nipis-tipis
yang besar terangkum dunia
kecil terlindung alis
Kujunjung di atas hulu
Kupuji di atas lidah
Kupangku di lengan lagu
Kudaduhkan di selendang dendang
Bangkit gunung
buka mata mutiaramu
sentuh kecapi firdausi
dengan jarimu meniru halus
Biar siuman dewi –nyanyi

5.
gambuh asmara lurus lampai
lemah ramping melidah api
halus harum mengasap keramat
Mari menari dara asmara
biar terdengar swara swarna
barangkali mati dipantai hati
gelombang kenang membanting diri


Other writers of the poems in North Sumatra,Medan can also be found in writing poems such as the poets’ name: Afrion,Afri Amelia,Sartika Sari,Sylvia hayati,Syafrizal Sahrum,Try Annisa Lestari,Lentera Bias Jingga,Listra panjaitan, Nuri Aslami, Siamir Marulafau(Penyair Dalam Lingkaran Cinta),Nurjannah Rambe,Nuri Aslami,Rizky Endang Sugiharti,and Zulkarnaen Siregar,who hasbeen successful to write a poem Anthology,entitled"Pulang ke Hulu",etc.All these poets have written the poems in Indonesian language which was deriving from the Malay language as the source of Indonesian language.As a matter of fact,one of the above poets,Afrion was succesful to write a poem in Indonesian language entitled “IBU” published by LABSAS MEDAN.ISBN :978-602-96673-7-0 in the poem
Anthology,”Menguak Tabir” as follow :

IBU

tidak pernah kutahu kapan waktu berhenti berdetak
di dadamu,seribu kunang-kunang menggenggam cahaya
memecah batu,mengikis pasir batu belah
menebang ranting mengukir wajah pucat pasi
di pedalaman kau pungut remah perlawanan
susuri sungai mengayuh rakit ke muara terlunta-lunta
mestinya kau berhenti mengeja huruf dari kegamangan petuah
para datuk
karena di sungai
menggelepar anak ikan tertikam tombak begitu dalam

6.
IBU

hiduplah dengan semestinya
saban hari ketika pulang dan pergi
kulihat kau menggantungkan lampu waktu subuh
pada pohon berbaris memanjang ke belakang
sepanjang gugusan lembah—tanah merekah
tubuh melayang terbang menjelang sembahyang
diamuk cuaca saat azan tiba
di bukit mana tersiar kabar dengan raung halilintar
angin menggulung akar pohon
sekalipun tanah kelahiran dilindung mantra segala doa
hidupmu semakin singkat saja
sesingkat itu
kukenang tubuhmu sepanjang badai dan hujan


Another poet,who has taken part to share his competence among of the above poets in writing poems is Siamir marulafau,who has been writing many poems in the Malay language spoken and used as Indonesian language in Medan.The topic of the poem written is “DURI”in the poem Anthology,ISBN :978-602-74238-5-5, entitled “Bahtera dalam Ayat”,recited on August 22 nd,2016 at the Faculty of Cultural Sciences,University of North Sumatra,Medan-Indonesia.This poem is written in Indonesian language ,published by CV Ganding
Pustaka.Let see this following :

DURI

sepertinya ada duri dalam daging
Tak akan bisa kugerakkan lagi

7.
Semua ototku terasa pedih perih
Suaraku serak tak akan bisa menangis lagi
Tetesan air mataku tak akan hanyut lagi
Beku tetap bergerak di segla penjuru
Jika bumiku diinjak-injak
Aku tetap bergerak dan mengaung
Berjuang sedapat mungkin

Meskipun kakiku patah
Hatiku masih bergerak ke kiri ke kanan
Meskipun dikau penjarakan jasadku
Hati dan pikiranku tak bisa dipenjarakan

Impianku berjalan mulus terus
Aku akan tak semakin perduli lagi
Sejauh anganan kugapai demi negeriku
Tak akan terbelenggu dengan penindasan

Kekuasaan di tangan kiri dan kanan
Akan kuperjuangkan
Meskipun bumi bergulir sampai air kering
Kuperjuangkan sampai tetesan darah terakhir

(sm,02/02/2016)

8.
The writer of this paper work does not only concentrate on the use of Malay language in case of writing poems but also in writing short stories.Thus,the short story is a part of literature that makes reader feel interested to read.The short stories written have various topics compiled in Indonesian language derived from Malay language.The mostly topics of the collections of the short stories illustrated here written by Siamir Marulafau,published by “Sembilan Mutiara Publishing Trenggalek”,2013.ISBN : 978-602-1264-00-3.Let see the followings : 1.Aku Sangat Benci Korupsi;2.Ambisi Seorang Janda;3.Cintaku Di Danau Singkarak;4.Cinta Beralih;5.Cintaku Di Persimpangan;6.Cintaku Di Pinggir Gunung Sinabung,7.Cuaca di pagi hari;8.Jatuh Ketimpa Janda;9.Kasih Seorang Ibu;10.KasihTak Sampai;11.Kebanjiran;12.Kesengsaraan Membawa Nikmat;13.Cintaku Di Balik Tirai;14.MengapaBapakku Gagal?;15.MengapaBapakku Korupsi?;16.Malam Lebaran;17.Perawan Tua;18.Pintu Terbuka;19.Roda berputar;20.Surga Di Telapak kaki Ibu,etc.All these short stories are written in The Malay language in the construction of Indonesian language as the national language of Indonesia,specifically be found in the short story,entitled “CUACA DI PAGI HARI”.

CUACA DI PAGI HARI

Alam tidak bersahabat seiring kupinta doa kepada Tuhan semoga makhluk di bumi terlindungi di mana lautan dan ombaknya mengamuk menerpa tepi pantai namun pasir-pasir terhembus dengan angin badai menyelimuti seluruh impian para insani termasuk para petani,nelayan mencari nafkah setiap hari dan sungguh memberikan ingatan kepada insani bila alam tidak bersahabat sekali jangan mengucap “Tuhan bersalah atau tidak Adil”Ini petanda rahmat kepada insani sementara Tuhan maha Pengasih dan Penyayang yang ada di bumi.Dia maha pencipta tujuh lapis langit dan bumi.
“Apa mau dikata bila alam tak menampakkan kelembutan?Kita tetap mensyukuri nikmat Tuhan di bumi.”Kata seorang teman bernama, Din.
Bila alam tidak bersahabat,kita tidak boleh berpangku tangan atau putus harapan karena sinar matahari,angin kencang dan hujan turun sehari membawa berkah bagi insani.Hujan turun terus-menerus mengguyur juga kadang membawa ketidakberuntungan kepada para petani sedangkan bagi yang lainnya akan membawa keberuntungan sekecil mungkin.
“Tapi cuaca yang bagaimana yang kita inginkan?”Tanya salah seorang teman,Rafin.
“Itu tergantung pada kehendak Illahi,dan manusia hanya menerima dan menjalani.”
Manusia di bumi tak perlu khwatir karena Tuhan maha mengetahui apa yang ada di bumi dan di langit.Pokoknya,kita selalu berserah diri.

9.
The use of Malay language concerning with the writing literary works is not noly concentared on the short stories but also the novels.The novelist, Idris Pasaribu has taken a part in writing novels using Indonesian Language derived from Malay language,entitled “Pincalang”,and “Mangalua”.These two novels are written in a simple language.”Pincalang” was published by Salsabila Pustaka Alkautsar.ISBN 978-602-9844-1-1.While “Mangalua”was published by Yayasan Pustaka Obor Indonesia :IKAPI DKI jakarta.ISBN: 978-979-461-974-2.
As a proof of writing and using Indonesian language derived from Malay language,the novel entitled “Pincalang”is really constructed and written in Indonesian language seems to be true that can be seen fron the beginning up to the end of the novel.

PINCALANG
BUYUNG


“Gelombang mengamuk hebat.Langit hitam.Angin terus menderu-nderu.Dengan lincah,bagaikan seekor monyet,Buyung naik memanjat tiang besar.Sebentar tubuhnya oleng ke kiri dan sebentar oleng ke kanan.Suara derak tubuh Pincalang terdengar kuat.Cekatan sekali Buyung melepaskan tali pangkait ujung layar besar.
Tasss...
Tali pengikat layar terlepas.Layar melorot ke bawah.Dengan cepat Amat menangkap dan melipatnya sebelum layar berwarna cokelat lusuh itu tertiup angin,terbang ke laut.Buyung seperti kilat,meluncur ke bawah melalui tiang layar setinggi dua meter.Setiba di bawah,dia berlari ke haluan dan melepas layar kecil yang ada di sana.Dia melipatnya sendiri,dua lembar layar berwarna cokelat dari kain belacu yang dicelupkan dalam sebuah wadah beirisi air dari tumbukan kulit kayu.Air tumbukan kulit kayu itu dapat memperkuat jaring dan kain agar tak cepat lapuk terkena air laut.Bersama ayahnya, Amat,Buyung mencabut tiang layar dan meletakkannya memanjang mengikuti panjang pincalan.
Amat segera berlari menuju kemudi di buritan.Ia mengambil alih kemudi dari istrinya.Buyung berlari kehaluan.Pinggangnya diikat menggunakan tali besar,lalu ujung tali sebelahnya diikat ke haluan.Istri Amat,Marya,segera berlari menuju perut pincalang,menemui dua anaknya yang lain,Upik yang berusia lima tahun dan Nur yang berusia dua tahun.Anak sulungnya,Buyung berusia delapan tahun.Mereka satu keluarga adalah pemiliki Pincalang itu.
Maryam segera mematikan api di dapur.Untung nasi sudah tanak.Untuk kesekian kalinya mereka terombang-ambing di tengah lautan ......dst”(Idris Pasaribu:2012,p.07 s.d 256)

10.

Another proof to be said is true to write the literary works,especially in case of folklores is that the writer of this scientific writing tries to illustrate the use of Malay Language,which had been developed into Indonesian language be used in writing folklores,found in “Mitos Cerita Rakyat” by T.Silvana Sinar,and Ikhwanuddin Nasution.This book is a collection of research about folklores in Indonesian language,which was published by USU Press,2011,ISBN: 979 458 5564.The construction of this book seems very good because it gives reader much knowledge about what folklores stories are about.
In “Mitos Cerita Rakyat”, the folklores and story tellers of folklores,which were written in Indonesian language by Prof.T.Silvana Sinar,MA,Phd and Prof.Dr Ikhwanuddin Nasution,M.Hum can be seen derived from Malay language such as : “Batu Umang Cerita Rakyat Di Desa Durian Tani Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Sebagai Mediasi Publik”by Hariadi Susilo;”Citra Tokoh Naga Dalam Cerita Putri Hijau Dan Putri Merak Jingga “:Mitos Pembebasan by Irwansyah;”Mitos Incet Dalam Cerita Rakyat Batak Toba”by Martha Pardede;”Kisah Putiri Hijau: Satu Kajian Rasional Dan Irasional” by Pertampilan S.Brahmana; Motif Migrasi Orang Batak Dalam Cerita Rakyat:”Asal Usul Orang Batak “,”Si Baroar” Dan “Si Marhala” by Rosliani;” Metafora Kecantikan Dalam Kajian Hikayat Sabainan Aluih” by Shafwan Hadi Umry;”Konsep Religius Raja Sisingamanagaraja XXII”by Sumurung Simorangkir;”Penanda Landmark Dan Struktur Generik Mite’Sri Putih Cermi”byT.Thirhaya Zein;Antar Mitos”Imam Awang” Dengan Konsep”Imam Awang”,Kurang Beriman”Dalam Cerita Rakyat Melayu Langkat:Pendekatan Semiotik Budaya by Yos Rizal.

Consequently,all the folklores mentioned with the writers above are significant to be recognized in the world of literature so as to know much and grasp literary knowledge about literature and the language of the Malay regarding as the source of language be used to write. As a matter of fact,two senior lecturers at the Faculty of Cultural Sciences,University of Sumatera Utara,Prof.T. Silvana sinar,MA;and Prof.Dr.Ikhwanuddin Nasution,M.Hum shared the real meaning of the story about “Mitos Cerita Rakyat”in their research so that people will acknowledge what the “Mitos Cerita Rakyat” is there about.

As a proof of saying the Malay language be used in writing folklores,Hariadi Susilo tries to expose and describe the description of “CERITA BATU UMANG” in Indonesian language derived from Malay language,which had been developed into Indonesian language from time to time that the story regarding as folklore can be seen in the following:
CERITA BATU UMANG
Di sebuah desa yang bernama Desa Durian Tani, hiduplah sebuah keluarga yng terdiri dari Ayah,Ibu, serta menantunya yang baru melahirkan.Mereka hidup dalam keadaan susah.Mata

11.
Pencaharian mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah bertani.Dari hasil pertanian,mereka yang sedikit itulah mereka dapat hidup.

Pada satu ketika,si Ibu ingin sekali memakan ikan sungai.Hal ini dikatakannya kepada suaminya agar suaminya memancing di sungai.Sungai ini tidak jauh dari desa tersebut.Menurut cerita, di sungai itu terdapat dua batu besar yaitu”Batu Penjemuran dan “Batu pertenunan”.Konon,kedua batu ini mulanya milik Umang yang ada hubungannya dengan Batu Umang tersebut.Batu pertenunan ini adalah tempat orang bertenun di sore dan malam hari.Sedangkan Batu Penjemuran adalah tempat Umang menjemurkan kain yang baru dicucinya.
Dengan suruhan istrinya,maka pergilah si Bapak ke sungai untuk memancing.Pertama kali si Bapak ini ingin pergi ke Batu Pertenunan karena di batu itu sangat cocok untuk memancing dan orang yang memancing tersebut tidak terlihat dengan jelas karena bentuk batu itu agak melengkung. Setelah beberapa lama berada di tempat itu, si Bapak ini tidak menemukan satu ekor pun ikan kesukaan istrinya .Selanjutnya ....dst.”(Hariadi Susilo:2011,p.16,17,18,19,20)

VII.CONCLUSION AND SUGGESTION

The writer of this scientific writing comes to conclusion that literature may not be separated from the language since the language of Malay,which was developed into Indonesian language is a medium of literature whether it is a poem, short story,novel,folklore or any other kinds of literary works.As matter of fact, the language being discussed can positively be found in literary works written in Medan,North Sumatra-Indonesia by the writers,poets,short story writers,and novelists in Indonesia.
The Malay language used in Medan,North Sumatra-Indonesia plays a great role in literature since the language is the root of Indonseian language that is being used by the people in case of literary writing and communication so as to improve the literature in the era of globalization.

The writer of this scientific writing suggets that those who are involved in studying literature should read a lot about Indonesian literature so that they can broaden their knowledge about literature and the Malay language used as its medium whether it is a poem,short story,novel or any other other kinds of literary works.

12.

REFERENCES


Alwasilah,A .Chaedar.2002.Pokoknya Kualitatif :Dasar-dasar Merancang Dan Melakukan Penelitian
Kualitatif.Jakarta :Pustaka Jaya.
Department Of Linguistics.----.Language Files: Materials For an Introduction to Language &
Linguistics,Sixth Edition: The Ohio State University.
Lim Kiat Boey.1975.An Introduction To Linguistics For The Language Teacher.Seameo : Singapore
University Press.
Labsas.2012.Menguap Tabir :Antologi Puisi.Laboratorium Sastra Medan.
Marulafau,Siamir.2016.Bahtera Dalam Ayat: Antologi Puisi.CV. Ganding Pustaka,Yogyakata.
----------------------.2013.Cintaku Di Danau Singkarak: Kumpulan Cerpen.Trenggalek,Sembilan Mutiara
Publisging.
Pasaribu,Idris.2012.Pincalang:Novel.Penerbit Salsabila.Jakarta Timur.
------------------.2015.Mangalua: Novel.PenerbitYayasan Pustaka Obor Indonesia.
Rosmawati R,dkk.1990. Struktur Sastra Lisan Melayu Serdang.Jakarta : Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
T.Silvana Sinar & Ichwanuddin Nasution.2011.Mitos Cerita Rakyat.Medan :Penerbit USU Press.
Teeuw,A.1982.Khazanah sastra Indonesia.Jakarta :Balai Pustaka.
Yunus Umar.1981.Mitos dan Komunikasi.Jakarta : Sinar Harapan.
----------------.1985.Resepsi Sastra : Sebuah Pengantar.Jakarta Gramedia.





JIKA TAK MENERANG
Siamir Marulafau


Napasku bagaikan lentera
Hanya memberikan cahaya seadanya
Tak seperti mentari
Jika tak menerang

Tanamkanlah sumbu pemancar
Jika hati berikhlas membiaskan cahaya
Dari sanalah aku datang
Mengukir kasih sedalam lautan

Jika tidak...
Akan berpaling sepanjang masa
Di kala kaki berpijak di atas karang tak berpilar
Senjaku akan terbenam

Tak akan menggapai sinar lembayung kelam
Jika bintang di langit tak berkelip lagi
Hanya rintihan dan tangisan merangkul sukma
Di daratan terjal memutus napas sampai akhir zaman

Medan/29/03/2017





PETIR
Siamir Marulafau


Petir mengaung
Cahaya redup
Kecemasan mencekam
Hati pun gusar

Angin semakin ribut
Alam tak bersahabat
Halilintar berkilau
Menyambar harapan

Doa besua
Aras-Nya tak goyang
Hanya senyum tersimpul
Di kala napas tersesat

Medan/28/03/2017





TERCORET
siamirmarulafau


Tulisanku tercoret-coret
Tak keruan di pamplet
Tak terbaca orang
Akan di hapus

Tapi tak bisa juga
Hanya saja tintanya
Berwarna keemasan
Membuat lara tersanjung
Walaupun hurufnya patah-patah

Tulisanku tercoret-coret
Melambung ke udara
Makana tak menentu
Membacanya takjelas
Harus pakai kacamata

sm/28/03/2017





LET ME GO ALONE


Let me go alone
If your heart is not mine
Hope will not be coming
Since the love fades away
No breath to resist
While the love is mine
What makes the love go away?
Never I hurt,never i hurt
That you start that you end
I merely guess so
Since the love is not usual
No confidence from the heart
That it goes away
Without warning i Stand still
But what to do?
It can't be paid
Though thousands rupiahs
And let me go alone
You may not come along with
Not because of anger
But it just for reminding
And not for commit suicide
Not for commit adultery
But for the love of lives
Where else you find out
It is not just the same
That the hair is much different
And not the same like the eyes
The love is drawn looks like pearl
Be found at the bottom of sea
Let me go alone....
To sing a song you like
That reminds me when my first love with
To come into the world beside
And not to stay for along with
For the cause of misunderstanding
You may come to see...
What the longing is really
Be always in deep heart of mine
To thank up to die

sm/06/04/2017,copyright





KASIH DI ATAS PANGGUNG
siamir marulafau


Aku hanya mengukir kasih di atas panggung
Seandainya panggung ini roboh
Apakah kasih juga roboh denganplar besi beton?
Di atas sekeping papan merapuh
Sungguh keterlaluan ...

sm/06/04/2017





TIMBANG RASA
siamir marulafau


Aku semakin tua
Semakin tak kuat
Mata semakin rabun
Gigi semakin ompong
Kulit semakin keriput
Rambut semakin memutih
Nafsu semakin tinggi
Omelan semakin semraut
Kemarahan semakin meningkat
Nafsu makan semakin berkurang
Gairah semakin menderu
Apa lagi,iya yang semakinnya?
Mati semakin mendekat
Rasa takut semakin menguat
Rasa muda semakin meningkat
Rasa tua tak teringat
Seolah-olah muda terus
Tahu-tahu masuk ke liang lahat

sm/09/04/2017





PENDUSTA
Siamir Marulafau


Bukan hanya kasih Kutitipkan
Helai napasmu kusemayamkan dalam daging
Kerangka tulangmu Kukokohkan
Mengapa dikau dustakan ayat-ayat-Ku?

Apakah dikau tak berpikir?
Alam semesta Kusempurnakan
Lautan kubetangkan dengan gumpalan awan
Langit dikau junjung menyelimuti segalanya

Apakah dikau tak percaya?
Sinar mentari menyinari bumi dikau pijak
Apakah kurang nikmatnya?
Rembulan menerang dengan cahaya

Ikan di laut bertebaran dan berenang
Melambaikan tangan siap disantap
Apakah dikau tak yakin?
Mengapa dikau dustakan ayat-ayat-Ku?

Aku tak akan merugi
Aku tak akan beruntung
Jika dikau tak sujud sedetik pun
Tak ikut perintah-Ku,tak mengapalah

Tapi jika napas tak mendengung
Akan dikau rasakan siksanKu
Di sanalah bertebar butir penyesalan
Akan tak diberi ampun sedetik pun

Akan dikau terima pembalasan
Pahit gentirnya neraka memuas di seluruh tubuhmu
Apakah tak yakin dengan ucapan-Ku?

Sungguh dikau dustakan ayat-ayat-Ku
Bertaubatlah,wahai insan....
Sebelum tertidur di tanah tak bersuluh
Sebelum tubuhmu dipanggang di gudang bara api menyala

sm/09/04/2017





#PUISI SATU Bait

Melemparkan senyum di atas suka dan duka merangkai di ranting pohon tak terhempas

sm/09/04/2017





SAHABAT SEMINAR
siamir marulafau


Langit membiru mencerahkan lara
Jiwa merangkulkeindahan

KualaTerengganu menyambut dengan senyum
Di kala lelah tak terasa dalam jiwa

Meskipun sinar membakar
Semangat berkobar selalu

Sepanjang seminar membahana dalam jiwa
Seiring udara jua bersahabat

Gedung-gedung pencakar langit mengukir salam
Datanglah para pembentang makalah

Keilmuan senjata tuan
Mengingat tali persaudaraan

Malaysia,Indonesia dan lainnya bersahabat di era global
Syair mengikat ranting-ranting terhempas

Terengganu/sm/22/03/2017





ALLAHU AKBAR
siamir marulafau


Melantunkan syairku
Melukiskan kicauan burung
Di kala insan memukau
Sepertinya ranting kayu bergetar
Pohonnya pun menyulam rembulan
Tak akan cahayanya padam
Semalaman terang berbintang
Cahaya fajar melambai
Subuh menggema di saat azan
Takbir,Allahu Akbar

sm/08/04/2017




HUMAN RIGHT
siamir marulafau


Never have i spoken before
Humanity is the diamond of man's lives
Since this world runs from the beginning up to end
No body will hesitate there to say
For its truth to elaborate
That many people think it uselessly
For the poverty be found everywhere we live
Where is the justice?
Where is the government to seize?
Let them think trice
Since it is a human right to think
But,not to criticize..
I am a humble creature there to speak
Since the Almighty will be smiling
If the man's lives in a safety
Never have i spoke before
That everybody has a right to say
Whereas this world is for them to run the lives
Humanity is the diamond of man's lives
Though this life is just for a while
Let the trees be grown up with he heavy leaves
Where is the justice
Humanity is the brother of solidarity
The sun will be smiling to provide brightening
While the moonless night will be exchanged in lighting
That the lives will be in safety
Never have i spoken before
What i think is to draw a verse of a golden paradise
Not to criticize...
This world is suffice for us all
Whereas the lives will be there for friendship
This verse is not a ghost to gaze
Let them think trice before sleeping to leave
Let them know what color of lives there existed
No one is differentiated
That Almighty loves all creatures on the earth
The love might not be like a fire
With no hatred to separate
With no conflict to kill...
Never i have spoken before
That this verse is so to speak,which brings peace
Peaceful thought is the golden paradise
That be drawn for the success to survive
Let them know how poverty be there running
That might not be regarded as useless thing
It is human right for their demand to gaze
Where is the humanity?
Are they blind to see?
Are their eyes and ears closed to keep?
If it looks like this,what this world seems like?
What should the poor and the rich there be differentiated?
That the Almighty seems has disagreed
But,it is true to think...
Though the lives is just for a while
Don't let them be in chaotic lives
And they are creatures for precious livings
Let them think trice
Before sleeping to leave,,,,before sleeping to leave
It is just a reminding only

sm/03/05/2017,copyright





S6KHI SIBAI
Siamir Marulafau


BAKHA BA D6D6 MAN6 TARASO
WA'AS6KHI FOMA FATAMBAI

sm/03/05/2017





DUNIA AKHIRAT
siamir marulafau


Kehidupanku tak menyentuh
Daun-daun kupetik menghijau
Di kala sinar tak menggapai harapan
Dunia tercebur dalam kesuraman
Jika hidup berparasit di batang kayu
Dunia terbentang seluas mata memandang
Tapi apa kubuat?
Di alam fana berkembang setiap saat
Kesan dan pesan kutinggal...
Jika napas tak menerawang lagi
Apakah mesti aku berpangku lutut?
Aku harus bergerak
Tak akan diam sepanjang hayat
Meskipun gelombang menerpa harapan
Tak akan kubiarkan tergulung di tepi pantai
Sepanjang semangat berkobar bagaikan lautan api
Dunia jangan terlena...
Akhirat pun menanti wajah...
Sepanjang hayat tak lagi merapung di tanah tak bersuluh
Walaupun tulang belulangku merapuh
Seiring harapan beramal kelak membuahi emas surga
Harapan akhirat terukir ...
Jika pengorbanan dan perjuangan jiwa mengukir mutiara
Kehidupan di penantian tak terbentur dengan tembok neraka
Di kala iman tak menyusut sepanjang lautan tak kering
Aku yakin....
Ini bukan kisah sembarang kisah
Akan kudambakan keseimbangan di yaumil mahsyar kelak
Jika napas tak lagi menerawang
Usaha demi usaha terlepaskan ikhtiar
Jika sanubari terketuk di jendela surga

sm/01/05/2017

Kumpulan Puisi & Cerpen Romy Sastra - TAFAKUR


NEGERI DI UJUNG TANDUK
Oleh Romy Sastra II


Hitam dan putih menjadi abu-abu
hitam seperti berjubah suci
putih bernoda tersisih bungkam dikotori
kelabu sudah figur seakan bertopeng dewa
joki terlena di punggung kuda
seperti raja berlari menuju tahta
penonton sibuk bernyanyi di layar kaca.

"Duuhh....

Si pengkhianat menyulut obor
bakar sajalah!
Hartawan senyum-senyum di istana megah
si miskin kian menjerit terjajah setiap hari
statemen beo ego diri
landasan kebenaran bibir sendiri
lidah memang tak bertulang
bercakap seenaknya saja
seperti dewa yang bertuah
disanjung di arena pengabdian
padahal homo homini lupus
ironis negeriku di ujung tanduk.

Akankah?
Caos jalan penyelesaian yang dinanti
sebagai jawaban hitam dan putih
berselimut abu-abu
bukan kami meminta negeri ini hancur lebur
mereka yang membuat skenario dunia ketiga sebagai panggung sandiwara
hingga negeri ini parah terpecah belah
kronis sudah oleh maling-maling berdasi
dari akar rumput hingga pucuk tertinggi.

Berguguran daun-daun tua muda
harga diri jatuh ke bawah
masih membela praduga tak bersalah
hingga tubuh negeri keropos
nadinya seakan terhenti bergerak
oleh benalu kekuasaan di setiap peradaban.

Negeri ini telah di ujung tanduk kawan,
menunggu bom waktu bratayuda
tak bisa dielakkan
lebih cepat lebih baik
prajurit sang patriot tampil memimpin
naik tahta membawa panji kejayaan
di sini dan di sana
akan memandu gejolak tak terduga
pasukan semut siap sudah turun gunung berkompetisi
menunggu komando perang saudara, dari intrik kapitalis yang culas.

Waspadalah...
bahaya di depan mata kita,
sewaktu-waktu kan tiba....

HR RoS
Jakarta, 02/04/2017





#kwatrin TAFAKUR
Romy Sastra II


Seberapa lama tarikh napas mengisi hari
Semenjak roh bersaksi akan mengabdi
Dari azali hingga kini dan nanti
Sadarilah, bahwa ia selalu memuji

Pada denyut nadi tarian diri
Jantung dan hati saling bernyanyi
Kenapa telinga tak mampu mendengar, apakah tuli
Sadarilah, dunia ini hanya igauan mimpi

Tafakurlah sejenak mengenang akhirat
Tersungkur menangis sekejap
Jalan pulang kian mendekat
Sadarilah, matahari sudah rebah ke barat

HR RoS
Jakarta, 06/04/2017





#repost
SURAT UNTUK PERANG DUNIA KETIGA
Romy Sastra II


Wahai penghuni bumi, sejarah telah mencatat, betapa kejamnya penjajahan itu.
Menderita kehidupan di bawah langit, kan kami rasakan nanti.
Dulu Nagasaki dan Hiroshima jadi abu,
Eropa, Asia, Afrika dan Amerika menderita. Dengan ongkos perang yang sangat mahal, kini tragedi itu kan kau ulangi lagi, ironis.

Di senja ini, aku menulis sinopsis history di balik negeri kota Ngawi, di sebuah lereng gunung Lawu menatap gersangnya bumi diselimuti iklim.
Telah tandus rerumputan di padang subur,
aku buka kunci memori dalam sejarah bangku study.
Aku simak dan kuperhatikan, betapa tragisnya sebuah sejarah di buku tua.
Tragis mencekam kala dunia ini perang lagi nanti. "Bila perang terjadi" jeritan tak lagi histeris, karena semuanya mati sekejap.

Ego dunia menerkam kedamaian
jantungku berdetak kencang, ketika selebrasi aksi teknologi diperagakan di pangkalan-pangkalan military di setiap bangsa.
Kau berdelik sebagai perisai diri,
padahal, akan membunuh kami dan generasi itu nanti.
Senjata-senjata yang akan kau muntahkan di pentas teknologi nuklir,
sebagai ajang unjuk gigi.
Akankah selebrasi itu potret membumi-hanguskan tanah- tanah ini kembali,
hingga ozon tak lagi menghidupkan makhluk bumi.

"Suratku buat yang bernurani"
oh, blok Barat dan blok Timur,
perangmu di ujung tanduk menakutkanku,
hipokrit perang bersorak di jantung kami.

Bolehkah aku usul sedikit?"
Berikan bumi ini senyuman kehidupan, perdamaian abadi di era teknologi ini. Sedangkan suara hak azasi manusia menggema di mana-mana dalam wadah cinta hanya seremonial saja.
Perserikatan Bangsa Bangsa,
bebaskan bumi ini dari penjajahan dunia dan genosida!
Kau lembaga mahkamah dunia
dalam perdamaian keadilan dan keamanan, di mana tanggung jawabmu sebagai security perdamaian dunia ini? "Ah...
kau seperti banci bersolek di senja hari,
berdandan rapi tapi tak punya nyali. Apakah lembagamu konspirasi tingkat tinggi sebagai homo homini lupus? Uuhh....

Suratku untuk perang dunia ketiga,
hentikan konfrontasi itu kini!!
bola api jangan kau nyalakan lagi di sana.
Ke mana kuda-kuda kami kan berpacu berlari bermain di rerumputan nan subur, derapnya jadi berdebu gersang alang kepalang, bisa jadi ia mati sebelum bercumbu dengan embun di atas daun-daun.

Akankah kami menerobos gelap
seperti malam padahal siang,
seakan gerhana matahari berkabut oleh kilatan nuklir di atas kepala ini, kami takut tuan-tuan.
Siang seperti malam, bak kilatan mendung halilintar riuh gemuruh mechiu mengharu biru.

Rintihan itu menakutkan jiwa kami
lolongan dan air mata duka kutadah di keranjang tua, dia meleleh di telapak tangan ini,
tak tertampung tumpah berserakan di tangan yang telah pasrah.
Kami takut tuan, layar bendera telah kau kibarkan.
Masinis kereta, driver tank baja,
kapten pilot jet tempur, telah bersiap siaga ke medan laga,
pelatuk senjata seketika dimuntahkan.
Rudal-rudal penghancur akan diluncurkan, meruntuhkan peradaban
bom pembunuh masal akan beraksi membunuh penduduk bumi
sekejap itu matilah kami seketika,
lolongan kematian tak terdengar lagi, panggung dunia usai sudah....

HR RoS
Ngawi, 5 April 2016 16:50





LAWAN PERUSAK ALAM
Romy Sastra II bersama Joko Gali


Kepada zaman nan bertopeng kemajuan
Pada tuan-tuan berdasi otak eksplorasi
Jangan ganggu kearifan alam
Pecundangi bumi eskploitasi kepentingan

Alam ini kehidupan regenerasi
Jangan dirikan geothermal delik kebutuhan
Otakmu licik merampas kesuburan
Dampak-dampak tak kau hiraukan lagi

Bumi Lawu kami lestarikan bersama
Akan dirusak oleh tangan-tangan penjajah
Gunung diam bukan dungu
Ia tertidur tak bisu jangan bangunkan

Jika terjaga digali, pondasi itu runtuh
Memuntahkan bencana di negeri Jawadwipa
Tidak untuk geothermal
Kami pagar hidup generasi leluhur itu

HR RoS
Jakarta, 04/04/2017





TINTA TERAKHIR UNTUKMU NONA
Oleh Romy Sastra II


Tinta merah menggores resah
Pada diksi kertas putih bernoda
Kanvas-kanvas tua hampir pudar warna
Melukis kasih sebagai tinta terakhir

Di peraduan mimpi selimut luka
Khayal ini terjaga
Menoleh lembaran-lembaran memori
Menatap jurang-jurang pemisah
Di antara nostalgia kisah kasih

Kasih yang tak mungkin disulam kembali
History usang sudah
Tinta ini kian mengering
Tak lagi berwarna jingga telah bernoda darah
Kecewa yang menggunung
Jatuh terhempas ke lembah lara

Tinta terakhir ini
Kupersembahkan ke dalam syair
Menilai kearifan kekasih

"Ah... masih adakah rasa dikau untukku
Yang kokoh berdiri pada janji
Untuk memahami relung-relung takdir
Dari cabaran maruah cinta yang rela
Antara aku kau dia dan mereka

Tinta terakhirku ini kian memudar
Ketika kertas putih di albumku
Telah terkoyak berdebu cemburu
Yang tak bisa lagi melukis wajah rindu

Ter-iris sembilu tuduhan hipokrit cinta
Yang sesungguhnya
Bukanlah jubah pribadiku Nona

Diksi rasa cinta ini
Akan menutup lembaran biru
Lembaran hati telah beku
Tak lagi membimbing masa depan
Dari cabaran puisi yang kian tersisih

"Oh... Nona, aku memang masih di sini
Menatap menyirami bungamu nan indah
Dengan seteguk tirta maya cinta dalam bisu
Yang mengalir dari tetesan air mata rindu
Pertanda cinta ini masih ada
dan setia untukmu

Bila suatu masa jalinan kasihmu setia
Bernoktah cinta sepanjang hari
Hingga ikrar di depan penghulu
Setumpuk cabaran menjadi pelajaran
Tinta ini tak akan kuakhiri Nona

Walau mimpiku usai
Impian dan harapan terbengkalai
Daku tetap meraih obsesi dari sebuah mimpi
Jika malam tetap kau sinari
Meski mimpi-mimpi itu semu
Kan bias ditelan waktu

"Duhh ... taman khayalku merindu
Nan selalu melukis warna hati pada kekasih
Seperti indahnya pelangi jingga
Yang memerah di peraduan senja
Kusapa dikau cinta
Di kala senja hari
Adakah malam ini berpelita sinar purnama
Sedangkan malam ini
Musim masih saja berkabut
Aku serasa dibodohi si pungguk
Bermain rindu di dahan lapuk

Ketika bulan malu memadu rindu
Dikau hadirlah Nona!
Jangan pijar malam menjadi temaram
Jadilah sosok Juwita menari indah
Di dada langit
Kan menyinari pekatnya kabut buana

Daku tak lagi punya ruang
Tempat berlari mengejar bayanganmu
Tersenyum menatapmu yang jauh
Yang bersandar di ranting bulan nan merindu
Meski kunang-kunang hatiku
Tak cukup mampu menerangi cinta
Di seantero mayapada
Dan terangi sukma pilu
Mengobati cerita terluka lara
Dalam kisah cinta yang tak nyata
Ketika tinta yang memudar ini masih tersisa
Yang akan melukis malam
Senyumlah!"
Pelita kecil itu janganlah sampai padam
Sedangkan dikau masih dalam genggaman

Embun rinduku
Yang selalu mencair di awal pagi
Menatap teriknya mentari siang tadi
Ketika senja tiba
Harapan pesimis memandang lembayung
Di tengah riak buih risau
Menitip kabar pada pelangi yang menepi
Ke telaga kasih nan membisu
Kabarku sama seperti yang berlalu
Aku masih mencintaimu, Nona

"Oh ... terik"
Laju sinarmu membakar langit
Hangatkan tubuhku sekejap saja!
Izinkan jejak ini menggapai obsesi hari
Senja telah tenggelam
Berharap, siluet cinta nan nyata merona
Pada keagungan Illahi Rabbi
Mendekap dalam doa-doa senja
Menitip sebait asma
"Berharap,"
cinta di hati ini janganlah redup

Aku masih seperti yang dulu yang kau rindu,
Memadah telepati dalam luah telik sandi
Meski menggores ayat-ayat pesimis
Jika kau tak lagi mengharap kehadiranku
Tak mengapa, aku juga rela

Pada tinta terakhir ini Nona
Tak jua dikau mengerti arti kekasih
Daku tak ingin jemari ini terhenti Menitip larik-larik puisi
Padamu Nona Maya si cemburu buta
Ketika goresan tintaku tak lagi dihargai
Dan tak lagi kau hantarkan warna ceria
Ke arena kanvas rupa rasaku
Yang mulai menipis di kertas putih
Karena rasaku semakin sepi
Semenjak ditinggal pergi
Pada bayangan mimpi kekasih

"Aahh ... mimpi.
Dikau paranoid tidur malamku ....

HR RoS
Jakarta, 03/04/2017





SAJAK ALAM MENGGAPAI RINDU
Karya Romy Sastra II


mendung nan berarak rinaikan air suci, gravitasi langit berkoloni di awan nan tinggi
betapa hebatnya sebuah kekuatan tak kelihatan
terpikirkan dalam lamunan
Engkau Tuhan adalah kerinduan

rinai itu jatuh ke bumi
menyisakan embun di rerumputan,
burung-burung nan bersolek
berkicau riang menyapa pasangan,
sayap nan cantik memancing kemesraan
nyanyiannya lembut adalah kedamaian
tertiup angin lena dimabuk asmara,
parung berkicau memanggil rindu
mari bersimponi bersamaku wahai kekasih,
dengan larik rindu sepoinya angin surgawi

aliran tirta di lembah menuju muara
menyapa segala biota di telaga kering
senang riang gembira
daun-daun muda di gurun menari erotis
gersang telah menghilang,
sang banyu menyemai segala rindu,
dari rasa cinta kearifan maha cinta
dahaga di tanah kering subur sudah

sajak alam menggapai rindu
pada rinai yang menghapus segala dahaga
biarkan jiwa ini berpaling
dari kepalsuan cinta dunia
menghilang ke dalam ranah maha jiwa
tak ingin menduakan maha kekasih
asyik tak terusik
karam ke samudera cinta tertinggi
yang bertaburan mutiara nan indah
ya, di jiwa ini ....

HR RoS
Jakarta, 03/04/2017





#kwatrin
INTROPEKSI DIRI OBAT SAKIT HATI
Romy Sastra II


Kalau perlu menangislah!
Jika lara itu kan luruh, berlalunya duka
Kembalikan senyuman yang tersisa itu
Jangan bermain hiba di sudut hati, kan tersiksa

Ketika janjian bertamu, bahwa ia adalah ibadah
Jangan salahkan takdir
Sedangkan suratan lagi bermain bersama misteri
Seperti gulungan awan hitam menyimpan hujan

Jangkaulah langit tertinggi
Bisikan mantera jiwa ke dalam doa
Bawalah seuntai madah cinta, kepada maha cinta
Malaikat kan tersenyum, menatap insan yang berduka

Kabarkan kepada Rabbani
Doa-doa cinta berhias tobat nasuha
Redalah segala resah menghimpit hati
Semoga luruh nan risau berganti ceria

Kehidupan dan kematian adalah keniscayaan
Maka tersenyumlah menghadapi ujian
Biarkan hikmah mendewasakan kisah
Semoga bertambah penghayatan diri, tuk cabari laju kehidupan ini

Sedangkan senja pasti menanti
Memintali siang ke ranah malam tenggelam
Ia isyarat alam pada hidup di kemudian
Jangan tangisi benang kusut tak terurai

Intropeksi adalah penyelesaian terindah
Jangan sesali luka, bahwa hati meminta kedamaian sepanjang hari
Bercumbulah bersama problema
Biarkan ia tersenyum mesra, melahirkan keharifan tiada tara

HR RoS
Jakarta, 30/03/2017





KHALIFAH MAHKOTA DIRI
Romy Sastra II


mahkota tersusun indah, harkat diri martabat tubuh, lambaian seperti mayang menari disepoi si angin lalu
mahkota nan indah berjela-jela tutupi maruah istana tak terjatuh di lembah hina, jadi jembatan melaju menuju mimpi-mimpi

pandai berkaca di kening kan tampak kilauan manik-manik permata, merupa tak dapat disentuh,
tak pandai mengemudi lorong hati, pekat membayangi

matahari diri menatap terik tersungkur malu
tak pandai memandang tertipu dungu
mata hati bersenandung rindu bertemu rindu
meneguk telaga firdausi tak berair melainkan nurrun ala nurrin

nafs-nafs menghela bergerilya adakala sama seiring senada, jadilah seperti seruling senandungkan puji,
adakala ia tak sama bernyanyi
tersendat terikat simpul kabari rahsi melangkah
wahai angin nan berhembus, jangan lelah memompa jantung berlari, biarkan sumbu selalu hangat
nyalakan lilin di nampan misteri

layar kipas mengipas, sharinglah kabar dan opini, jangan iringi musik nan berbisik merusak amarah membakar istana, kan lebur gunung Thursina dihantam badai melanda, terimalah untaian firman, bahwa ia adalah kabar terindah dan mulya, menutup segala isu nan membunuh

oohh, lubang dunia terminal rasa
jangan tamak menggigit segala yang ada, jadilah corong memfilter nikmat dan pahit, dari sanalah bermula kebaikan dan keburukan terjadi, pada sari-sari dilumat, jadi saripati menyuburkan organik di batang tubuh ini
mahkota di kepala harkat martabat diri
wajah nan indah sempurnanya Ka'batullah
rebahkan ia menuju denstinasi tertinggi
tunduk dan sujudkan sepanjang waktu bertamu

HR RoS
Jakarta, 28/03/2017





NABIYULLAH SULAIMAN
Romy Sastra II


Dengan izinNya
Tunduk segala makhluk padamu
Tiada yang agung kerajaan selain kerajaanmu
Tiada yang kaya,
selain kekayaanmu di dunia ini
Engkau tak sombong wahai Nabiyullah

Nabiyullah Sulaiman sejarah teragung
Permata-permata jadi kaca, Balqis terkesima
Singgasana Saba dilipat dalam doa
Sekejap lenyap tak berharga
Balqis tunduk menyerah

Kekuasaanmu tak satupun menandingi,
di zaman itu hingga nanti
Penyembahanmu sampai tongkat melapuk
Hingga rayap-rayap bermain debu
Bahwa ibadahnya fana ke ujung nyawa
Tersungkur,
entah berapa lama roh berpisah dari raga
HR RoS
Jkt, 27/03/2017





#belajar
#mengingatkan_sampai_paham


Petunjuk Buat Yang Membutuhkan
Dan Yang Ragu Selama ini

Tentang prefiks ( di ) pada kata kerja
( di ) itu menyatu

Contoh:

dicumbu, direkam, disiksa, ditangisi, dibalik, dilakukan, dirindukan dan lainnya.
Tentang preposisi ( di ) pada kata tempat dan penunjuk
( di ) itu terpisah

Contoh:
di antara, di sana, di sini, di situ, di mana,
di sudut, di pinggir, di balik, di mana-mana, di saat, di setiap dan lainnya.

HR RoS
Jkt,070417





SAHABAT ITU DI MANA KINI
Romy Sastra II


aku bisikkan sapa diksi lewat tinta
di goresan ini menyapa memori
dalam lingkaran maya,
dekapi tinta, berbahasa bisu
kembalilah di sini di jalan ini, sahabatku

izinkan daku bertemu dikau sekali lagi
meski hari-hari yang berlalu,
telah jauh tinggalkan cerita
kita yang dulu berdiri di jalan yang berliku
kenapa kini kau menghilang dari pandangan
membuat tatapanku tertunduk layu
menatap bayang-bayang yang dulu ada

oh, sahabatku
di pos pemberhentian itu
kita dulu tertawa bersama
kala penat dalam keseharian mengikat tubuh dari peluh riuh
menyulam masa depan di jalan yang berbeda
kini, aku kehilanganmu....
akankah kau sadari sahabat
dikau sungguh berarti bagiku

kmbalilah ke sini
di pos ini aku menunggu rindu
bawalah senyuman indah untukku
kutitip harapan padamu,
kita bersama kembali membangun kemesraan
bergandeng tangan dalam suka maupun duka
janganlah sembunyi di balik resah
jangan kau biarkan aku sepi sedih sendiri
hingga jalan ini sunyi
pos senyuman kita tak lagi terisi

kembalilah sahabatku,
jangan pergi lagi dariku
aku di sini menantimu
dengan sebait puisi rindu setia bersamamu

bimbinglah aku, sekiranya aku lemah
maafkanlah aku,
sekiranya kau pernah terluka
meski satu lilin di tangan ini
tak mampu pijarnya menyalakan ruangan
kuingin sebuah senyuman
kembalilah tertawa menghalau kecewa
sebak yang pernah menyeruak di dada
larungkan saja

HR RoS
Jakarta, 09/04/2017
#menyapa_sahabat_yang_di_sana