RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Rabu, 03 Mei 2017

Kumpulan Prosa & Puisi HR RoS - TASBIH CINTAKU LARA


PROSA SEMALAM DI MALAYSIA
by Romy Sastra


Kata orang mimpi itu bunga tidur, setelah kuhayati gak juga.
Ternyata mimpi adalah sebuah petunjuk dari yang maha kuasa.
Mimpi bunga tidur terjadi dari pergolakkan keseharian kita ini, ketika tidur jiwa tak berpegang ke kalimah Ilahi, maka godaan-godaan datang menghampiri.

Alkisah ....
Sebut saja nama itu Jejaka,
Jejaka putra Sumatera berkelana ke tanah Jawa semenjak remaja, sang Jejaka mengembara dari lorong- lorong kota ke kota lainnya,
hanya berbekal jajakan dagangan kecil dari pintu ke pintu, tawarkan sesuatu yang ia jual.

Kadang dari pasar pagi ke pasar malam. "mmm, hanya mencari sesuap nasi.
Bermimpi punya obsesi jadi orang berarti, sekurang-kurangnya untuk kelangsungan hidup rumah tangganya nanti.

Berlalunya waktu,
Jejaka menemukan tambatan hati, di salah satu kota Jakarta.
Ya, kota Jakarta bagian barat. Jejaka akhirnya menikah di tanah kelahiran istrinya di pulau Jawa,
singkat cerita, Jejaka dan istrinya berbahagia hingga berbuah cinta melahirkan dua orang putra
putra Jejaka sekarang sudah remaja.

Dulu jejaka punya cita-cita, ingin sekolah ke university, aral kesehatan menjegal impian
hingga studynya broken oleh keadaan. Pada kesehatan yang tak mengizinkannya kala itu,
kini Jejaka punya misi, dan cita-cita. Dulu semasa pendidikan punya obsesi hendak kuliah, sayangnya pendidikannya terputus. Kini keinginannya itu, diserahkan ke putera sulung yang kini masih di bangku SMA sebentar lagi akan menamatkan jenjang pendidikan SMA-nya itu.
Impian si Jejaka ingin direalitikan oleh putra sulungnya, menempuh study ke jenjang university.
Semoga putera sulung jadi siswa teladan di sekolahnya dan bisa meraih prestasi yang dibanggakan.

Berlalunya waktu, kini Jejaka payah, hidupnya susah, niaga pun berantakan, sekarang jadi pengangguran.
Hidup bak siklus hari, ada hujan ada panas, ibarat roda berputar kadang di atas kadang di bawah.

Sementara, makan dan minum ditanggung oleh istri yang rela.
Sang istri selalu setia dan tabah bermanja melayani kehidupan rumah tangganya.

"Hehemm ....

Kadangkala dihiasi juga dengan pertengkaran-pertengkaran kecil dalam irama rumah tangganya,
dan itu dia anggap saja sebagai seni kehidupan. Indahnya sebuah noktah, dalam kearifan diri sebagai pemimpin. Ya, ketika pertengkaran terjadi, kedua pasangan itu berbesar hati saling meminta maaf dari kesalahpahaman yang terjadi, dan mereka sama-sama memaafkan, cumbuan bumbu rumahtangga kembali diketengahkan, jadilah itu pereda tangis ketika konflik-konflik kecil melanda.

*************

Jejaka cinta ....

Kini Jejaka menatap cinta ketiga yang berada jauh di samudera biru, negeri Kinabalu
negeri yang belum pernah ditemui,
cinta itu pun juga belum pernah bertemu.

Cinta pertama Jejaka, telah tersusun bisu dalam lemari kenangan. Dan sepertinya, sosok cinta pertamanya itu. Ia berada di pulau Kalimantan. Sampai saat ini tak pernah bertemu lagi, semenjak lepas dari pendidikan SMP, ketika mereka berada di kampung halaman. Ada dua dekade setengah tak pernah bertemu. Ahhh... biarlah story itu jadi memori bisu.


Cinta kedua Jejaka, ada pada realiti noktahnya kini, semoga
berbahagialah selamanya.

**********

Cinta ketiga itu,
sebut saja namanya Jelita.
Si Jelita juga mempunyai kisah dalam perjalanan hidupnya.

Kehidupannya yang penuh misteri, berwatak Srikandi tapi berhati lembut.
Kehidupannya diliputi kemelut dari cabaran hidup, teruk sakit gastrik membuat langkahnya sulit melangkah.
Masa depan keluarga ada di tangannya,
aku bangga mendengarkan dari cerita-cerita perjalanan hidupnya.

Jelita ....

Aku kini sudah tua,
ingin berlayar melancong ke negeri Sabah, Malaysia. Jejaka berkeinginan mencoba semalam di Malaysia,
bercerita dan ingin bertamu ke sebuah negeri impian tempat Jelita berada.
Negeri perantauan yang menjanjikan bagi kehidupan orang-orang rantau yang tak beruntung di negeri kampung halamannya.

"Mmm,
apakah Jejaka juga bermimpi ingin seperti pahlawan-pahlawan devisa itu,
entahlahh?"

*********

Impian....
Ketika takdir menentukan langkah hidup apa boleh buat,
berharap sampai di sana bertemu dengan Jelita, bercerita sejenak di sebuah home stay mungil, kutatap wajah Jelita, ada pancaran rona-rona bahagia dan bahagia. Bercerita asa cinta yang selama ini terlukis di maya, telah terwujud sudah.

Malaysia negeri sehati sejiwa
negeri yang ramah orangnya, taat beribadah.
Aku terpesona kelembutan sikap Jelita perempuan Sabah
mimpi dengan Jelita akhirnya bersua.

Kugenggam jemarinya, kuucapkan kata cinta.
I love you, I miss you ... "Jelita akhirnya tersenyum mesra.

Aku menatap wajah Jelita yang sayu akan rindu, karena takut rindu itu berlalu, ketika jelita berubah ekspresi kebahagian jadi risau, ia menatap ke sebuah taman dan sesekali ke ruang sepi dan langit tak berhujung, tak menghiraukan kehadiran Jejaka yang telah jauh-jauh datang dari seberang. Sepertinya makna lamunannya, jauh ke ruang angkasa, ada rasa syukur, akan kehadiran sosok yang ia dambakan di dunia maya selama ini, seakan takdir alam telah mempertemukannya pada cinta dunia maya.
Di kelopak matanya ada tetesan bening mengalir.
"Jejaka mencoba bertanya pada Jelita?" dan tangannya yang masih tergenggam, kenapa dikau menangis Jelita? Tanya Jejaka, kekasihnya yang telah berada di sampingnya sendiri.
Jelita akhirnya, dia berucap lirih.

"Abaangg? "Lalu, Jelita diam seketika, dan setelah itu Jelita menatapku" dia berucap kembali dengan penuh keyakinan.
"Kuusap air matanya di sela tangis Jelita.
"Ia Jelita, mengatakan.
I love you, I miss you juga abg,
aku akhirnya terharu, dengan ucapan Jelita kekasih maya itu.

"Mmmm....
Ketika itu, aku tertawa sejadi-jadinya, hahaahaaaa....
Sehingga aku dicubit manja oleh Jelita, "auuuuwwww... sakit tau, lirihku padanya, biarin aja wee, jawabannya.

Kucoba menenangkan diri Jelita dalam pelukanku
dan kuucapkan sebuah kata asmara kisah.

"Jelita??
Life in opera ini memang indah Jelita, godaku pada Jelita.
Ya, abangku, jawabnya.
"Abang?" memang cinta satu malam ini terasa indah abg.
Spontan, kupeluk tubuh Jelita lebih erat lagi, dalam dekapan itu. Jelita cinta, akhirnya kukecup bibirnya sejadi-jadinya. Hehe jelita pasrah,
hingga ... Hehem....

"Ahhh, kisah pada hasrat,
terlukis dalam hati yang tersirat.
Kuluahkan story dalam prosa sederhana ini,
hatiku geli,
kenapa story ini terjadi. Malulah pada umur seharusnya.

Jejaka akhirnya menemukan cinta ketiganya semalam di Malaysia.

wasalam ....

HR RoS
Jakarta, 18-9-2015. 16,29





TASBIH CINTAKU LARA
Romy Sastra II


malam-malam indah memandu tasbih
dalam mihrab cinta
bersanding dengan bayangan diri
hakikat wujud nafsu bertamu
larung saja ke dalam doa

dalam gelap mencari cinta
dalam terang bercumbu mesra
tasbih cinta bergetar di segala nadi
bergetar ke dinding misykat hati
terlena, megahnya payet-payet istana Ilahi

tengelam ke telaga cahaya
telaga warna-warni nafsu diri
menggoda perjalanan sufi
menuju destinasi hakiki
kibaskan saja warna-warna pelangi

ya Rabbi,
hamba bertamu ke pintu istana-Mu
Engkau tutup apakah akan dibuka pintunya
hamba gelisah dihimpit tanya
ohh, maha cintaku

jangan Engkau palingkan wajah-Mu
aku menunduk malu menghitung dosa
ampunilah hamba ya Rabbi
dari segala dosa yang kulakukan
tersenyumlah walau sekejap saja
meski dosaku seperti buih di lautan

wahai sang pemilik malam
malam ini tak disambut tasbihku
izinkan umurku ada esoknya
tuk mengetuk mihrab-Mu kembali
bertamu di malam-malam berikutnya

berharap,
tampakkan wajah-Mu wahai kekasih
walau sekejap saja, tak lama menatap-Mu
sebab, hadir-Mu membakar matahari
menyalakan mata hati

jangan biarkan tasbih cintaku lara
merugi sujud tak diterima
karena wajah-Mu tak merupa
wajah nan teragung tiada duanya
ia adalah awas bukan cahaya

HR RoS
Jakarta, 30,04,17





KEMATIAN KIAN MENDEKAT
Romy Sastra II


tamu itu pasti terjadi
menyapa raga dan jiwa ini
mengakhiri semua cerita
menutup gita

ketika ruh akan pergi
tubuh terbujur kaku
jangan ada derai air mata
untuk menempuh jalan kematian
digiring el-maut
dalam ketakutan yang tak terkira

duhh, diri
tamu misteri yang tak kenal waktu
ia bertamu
mencabut ruh dari badan
menghantar ruh ke jalan keabadian
ke telaga siksa ataukah cinta

jasad terbalut kain kafan
bangkai tertanam dalam lumpur
semua para pengiring keranda kan berlalu
pengap di dinding papan
jasad menunggu siksaan
Hancur bias ditelan waktu
nisan-nisan berdebu
padang ilalang kerontang
kamboja pun berguguran jatuh ke bumi
sepi

tiada gelap yang lebih gelap dari gelap
dalam kuburan itu
tiada sunyi yang lebih sunyi dari sunyi
di bawah nisan itu

pusara kan menjadi saksi
di lintasan dunia seperti lembah mimpi
dari hidup yang berpesta pora
lengah pada kematian abadi

mmm ...
bila ruh pergi
Tuhan meridhoi memanggil kematian
kunanti dikau amal rinduku
di telaga cinta
di singgasana jannah
adakah dikau tersisa amalku
ataukah hampa
entahlah, rahasia

HR RoS
Jakarta, 28,04,17





PELACUR-PELACUR NEGERIKU
Karya Romy Sastra II


kembang kantil bersolek di ujung mantera
kemenyan mengebul di bibir dukun
terurai asap di atas ubun
wangi menyeruak di sekujur tubuh
bila malam menyapa mistik
mantra asmaradana menggoda arjuna
arjuna liar di kota metropolis
mucikari-mucikari bak selebritis
berdandan cantik berkawan iblis

pecandu malam pulang malam
wahai pelacur-pelacur negeriku
kau perusak generasi bangsa ini
tubuhmu yang sintal berambut emas
mewangi bak kembang melati
lenggak-lenggok gemulai di trotoar jalanan
senyum menggoda mencari mangsa
memikat si hidung belang di dalam mercy

kau pelacur negeriku
negeri ini gersang
bak ilalang di tengah padang
generasi tak lagi punya pegangan
iman zaman tergadai oleh kemolekan

di diskotik night club kau asyik
malammu berfantasi ekstasi
disorot lampu disco seantero pesta
pesta malam bergoyang erotis
kau lunglai menjelang pagi
berkawan whisky tak sadar diri
memanglah kau tak tahu diri

HR RoS
Jakarta, 28,04,17





#Repost
PROSA PERIHNYA NOKTAH
Karya Romy Sastra II


Suamiku,
telah kau tinggalkan aku
pada noktah yang kau buat rapuh
yang dulu pernah membaja
masa di awal pernikahan kita
ketika tubuhku masih muda.

Kini kau pergi tak pernah kembali lagi
benih cinta yang kau titipkan di rahimku
telah tumbuh dewasa, belia sudah.

Ia menamparku dalam celoteh pilu.
"Ibu?" ke mana ayah tiada lagi bersama kita?
Aku rindu ayah, Ibu. Pertanyaan lirih dari gadis kecil memilukan segala nadi.

"Ahh, anakku..." sapaanmu, buah hatiku.
Desah rasa ini, luruh tuntutan rindu seorang anak nan lugu, sebak menikam jantung.
kenapa kau bangunkan lara Ibu yang telah terkurung sunyi, oh, anakku?"

Kugumam isak berlari ke kamar kecil meninggalkan si mungil lepas dari pangkuan. Diam menyendiri sedih dengan tatapan kosong, seperti dendam tak berkesudahan kepada noktah yang ternoda.

Tatapan gadis kecilku, jauh lebih pilu lagibmerindui ayah yang tak pernah pulang, pernah titipkan pesan belikan boneka lucu buat teman tidurnya, di kala kepergian alasan sesaat saja, nyatanya, ahh....

Oh, anakku
aku tak ingin engkau tahu, ada hal yang telah berlaku antara Ibu dan Ayahmu, anakku.

"Tangis pecah tak tertahankan"

"Ibu ..., katakan!!"
di mana ayah kini berada?!
aku rindu ayah Ibu!"

Dengan muka yang tertutup malu terhadap buah hati sendiri, kupejam mata ini dalam-dalam, berharap pemberontakan dari si buah hatiku redam.

Pada kenyataan aku dan ayahnya,
pernah berulangkali terjadi pertengkaran tanpa sebab yang tak habis pikir,
entah apa kekuranganku oh, suamiku.
Lara teramat lara dalam bunga-bunga noktah tak berbuah bahagia bersamamu.

Kuremas-remas dada ini, sakit ..."
sakit begitu sakitnya noktah dinodai.

Aku peluk si gadis kecilku kembali, memohon kepada Ilahi Rabbi, jangan hukum anakku Tuhan dengan tirani karma dosa-dosa orang tuannya sendiri.
Kristal-kristal bening berkoloni di pipi, kuusap dan terus kuusap ia terus mengalir sendiri.

"Wahai, Suamiku?!
Aku ingin kita intropeksi diri
di mana letak runyamnya noktah kita. Pengabdianku teramat indah kepadamu selama ini.
Evaluasilah janji dulu lebih baik lagi, jangan ada dusta di antara kita
jika dikau ingin kembali lagi padaku,
sedangkan aku masih mencintaimu.

Daku berharap, pada madah prosa luka ini kau baca!
Anakmu menunggumu di rumah.
Seringkali kala senja, ia mengkhayalkan sesuatu yang tak kumengerti, entah apa yang ia lamunkan. Seakan ia merasa sesuatu yang berbeda gejolak rumah tangga saban hari, antara kau dan aku suamiku, tatapannya kosong pada cakrawala yang hampir tenggelam, seperti bermain pada bayangan Ayahnya, paranoid sudah.
Ia sambil memegang sebuah buku di beranda rumah, menulis tentang rindu,
pulanglah Ayah! Aku rindu Ayah.

"Kembalilah pulang suamiku!" Bangunlah kembali istana yang telah runtuh oleh badai ego di antara kita.
Maafku padamu, sekiranya kesilapan pernah terjadi dalam proses keutuhan noktah cinta kita, dan aku juga telah memaafkanmu, pada tragedi hati yang pernah terkoyak oleh waktu yang berlalu.

Lupakanlah godaan kilauan suasa yang menggoda rasa, ia bukan emas permata kepergianmu, mencari kesenangan sesaat dalam persembunyian sepimu,
yang belum tentu emas kau dulang pada bayangan kasih hinamu di sana.

Aku masih mencintaimu dalam doa, kusujudkan tubuh ini memanggil namamu, tuk kembali.
meski tubuh ini sudah tua dan layu,
aku masih menyimpan kilauan permata pada cinta yang setia
tak akan mencari penggantimu lagi, kembalilah pulang, oh, suamiku
aku dan anakmu menunggumu di rumah.

HR RoS
Jakarta, 04092016





#Repost
SI MISKIN JATUH CINTA
By Romy Sastra II


sketsa cinta sudah terbingkai kaca
kupandang ia tak teraba
lorong waktu menikam pilu, aksara yang kutinta dalam bayangan rindu, kala sepi, mengkhayal tentang masa lalu, melukis seraut wajah di ujung jalan itu

dekade cinta yang kujumpai di rambang senja, ketika kau menatapku, tatapanmu menyeruak ke dalam dada
bunga-bunga berputik di taman hati, bahagianya aku

tak berapa lama bunga merayu, berputik seketika layu jatuh ke bumi, kau tergoda warna pelangi di taman nirwana si kumbang jati, seketika wibawaku runtuh
kau dan aku memang strata yang jauh berbeda, dikau permata istana dari keluarga berada, sedangkan aku orang yang tak punya, ingin memiliki putri mayang, terhalang dinding pemisah, semua keluargamu menghinaku, tertuduh tak tahu diri, kututup seraut wajah menyimpan malu, ahh... malu

mmm....
sengketa rasa tercabik tak berdarah, bak kolosal kisah bratayuda mencintaimu, yang tega merobek sutra yang kuberi, dianggap perca yang tak berharga, kuterima dengan hiba meski pahit dirasa, ia adalah penghinaan terhadap kasta sudra hidupku

lara... berapa lama aku tercabar maruah, wahai tangis hati,
kau lukis bulir di pipi
kekasih yang pergi memilih jalan permadani
tinggalkan memori luka teramat pedih,
ah... cinta,
kau buaian mimpi-mimpi indah saja

pada selaksa kisi-kisi malam berselimut sepi menyendiri, dikawani kunang-kunang tak menerangi, sedangkan rembulan pun enggan titipkan senyuman
mengintip malu di balik awan

"aahh..., angan, buah khayalan
jangan bermain harapan
sadarlah, kau si miskin bermukim di tepi mimpi
tak tahu diri, memikat sebuah hati dengan bayang-bayang malu mencintai kekasih, bertepuk sebelah tangan

ketika malam sadarku bersemayam, akankah realiti cinta terjamah ke sebuah noktah, lama sudah harapan didamba, tak menjadi kenyataan sia-sia saja si miskin mencintai, tak sadar diri dan tak tahu diri

wahai seraut mimpi yang di sana
jangan bermain bayangan kasih, jikalau jemari indahmu kau hiasi ke lain hati, jauh sangat kaki ini melangkah mengejarmu, kau bermain sayang di ujung bibir cinta sejati kau buang, kau berkasih mesra bersama yang baru, rasa ini teriming-imingi opera hati, kini aku terluka
miris terjajah lara dalam opera cinta, terhina oleh kepalsuan janji
ke manakah arah jalan kan kutempuh, semuanya jalan itu buntu

ya, aku si miskin orang yang tak punya, mencintai anak yang berada
modalku hanya ..."
bingkai-bingkai cinta yang rela
tetap juga tak berarti bagimu dan keluargamu
aku pasrah,
jika nasib tak berpihak pada sudra
yakinku, mentari esok masih menyinari
mencoba tuk menata hati kembali
mencintai kekasih yang biasa-biasa saja
kenangan pahit,
janganlah terulang lagi

HR RoS
Jakarta 01-09-2016





#Repost Prosa
KEMBALILAH ANAKKU
Karya: Romy Sastra II


"Umi...??" anakku.
Kalau kau pergi merantau ke tanah seberang, sukses tidak suksesnya jangan lupa pesan Ibu ya?!
Pesan itu, adalah pesan Ibu kandung Umi, semasa ia hendak merantau ke tanah Jawa.
jagalah sholat dan kesehatanmu,
pandai-pandailah bergaul dan baik-baik saja di negeri orang ya, nak?!
Kelak ibumu sudah tua, hiduplah di kampung halaman. Bawa anak-anak dan suamimu nanti pulang ke rumah kembali.
Ibu akan selalu berdoa untukmu.
Walau kau tak membawa emas berlian dari rantau, kampung halaman tetaplah intan permata, oh, anakku.
Dan surga itu, berada di bawah telapak kaki Ibumu ini, Umi.

******

Sedangkan Abi, adalah suami dari Umi.
Mereka telah dikaruniai tiga orang anak, dua orang anak perempuan yang cantik, dan satunya lagi lelaki yang tampan.

"Abi bertanya kepada umi"

"Umi? Hidup ini tidak sekedar makan dan mencari kekayaan semata.
Akan tetapi di sisi lain, akidah memanggil umat untuk menegakkan panji-panji khilaffah yang telah berdiri di Irak dan Syiria sana, Umi.

Umi terdiam,
perlahan suaranya bangkit menengadah ke wajah sang suami dengan pasti.

Ya, Abi..."
ketika panggilan jihad datang terhadapmu, wahai Abi.
Abi akan pergi membela panji ISIS, Umi merelakan Abi mati syahid di tengah pertempuran.
Walaupun aroma darah kematian telah Umi rasakan, dari keringat Abi, bagi Umi itu adalah wangi kesturi surgawi.
Keyakinan sang jihadah yang teguh dari pengaruh ISIS selama ini, ia telah terdoktrin aliran Islam ekstrim dalam kelompok pengajiannya.
"Mmmm..." ironis.

Paham ekstrim itu merasuki jiwa sang syahidah di negeri sendiri.
Seakan tekad baja, keyakinan yang telah terdoktrin pemahaman propaganda itu adalah khilaffah yang benar-benar berada di jalan Allah.

"Na'uzubillah minzalik"

Bagi mereka itu adalah jalan yang mulia.

Sang jihadis akhirnya pergi ke medan tempur, tak berapa lama, Abi dikabarkan tewas ke tanah air.

Selang beberapa bulan, akhirnya Umi dan ketiga anak-anaknya menyusul ke Syiria, secara diam-diam. Ia diajak oleh kelompok ISIS yang lainnya menuju Syiria. Dan telah berada di salah satu sudut kota negeri rampasan ISIS.
Padahal, Umi berniaga di pusat grosir Tanah Abang, yang cukup menjanjikan masa depan buat ia dan anak-anaknya kelak dewasa.

******

Ya, Umi. Sapa Aminah dalam tanya? yang belum sepenuhnya mengerti akan sepak terjang Abinya selama ini.
Aminah adalah anak kedua dari Umi, Ibu kandungnya sendiri.
Sedangkan yang lelaki si sulung hanya asyik membaca buku-buku peninggalan Abinya, dan yang bungsu belum tau apa-apa akan persoalan demi persoalan hidup orang tuanya, karena sibuk mengaji dan mengaji.
Aminah bertanya lagi,
"Umi? Kita berada di Jakarta berniaga cukuplah sukses, sebagai agen/grosir pakaian di pertokoan Tanah Abang, telah dicukupi segala kebutuhan kita, Umi. Serta keperluan lainnya.
Kenapa kita harus ada di sini di negeri yang penuh gejolak ini, Aminah takut Umi?"

Anakku?" dengarkan Umi ya!"
Kita ada di negeri yang diberkahi ini nak.
Abi kita gugur di sini, dan kita akan menyusul Abi sewaktu-waktu anakku.
Soal keperluan kita sehari-hari
bahkan kematian kita nanti di sini adalah surga, dan surga itu pun dijanjikan oleh pakem khilafah jihadah ini. Berdasarkan hukum-hukum khilafah jihad, dan harapan masa-depan hidup kita ada di tangan penguasa ISIS, janjinya nak.

Tapi, Aminah rindu akan tanah air kita Umi, serasa batin Aminah ingin pulang saja menemui nenek yang jauh di Indonesia.

Abi dan Umi berniaga yang lumayan sukses.
Kenapa Abi pergi menumpahkan darah yang sia-sia saja, kini Abi telah tiada, entah di surga mana Abi berada kini, oh, Umi?"
Uminya terdiam, sesekali ia melirik jauh ke halaman barak-barak jihad yang berpasir, seperti menutup rahasia yang penuh misteri dari doktrin jejak dakwah Abinya selama ini. "Ahh... kau terlalu polos nak, terlalu suci untuk korban di sini, berlabel mati syahid. Air mata Uminya deras mengalir.

Air mata seorang Ibu yang penuh kebimbangan hidup dan akidah yang mulia, gundah oleh pertanyaan Aminah anak kedua mereka yang sangat cerdas itu.

Jauh di sudut rasa, gejolak bak anak singa maju ke hutan belantara, berburu rusa demi harga diri sebagai penguasa rimba alam raya. Tepatnya di gurun padang pasir, yang dia tak tahu sesungguhnya medan yang ia tempuh, untuk berjihad di kelompok ISIS sendiri.

Abinya telah dulu pergi meninggalkan keluarga anak dan istri tercinta semenjak anak dan istrinya di tanah air.

******

"Flashback"
( sebelum kepergian Umi ke Syiria)

Dengan ucapan takbir, Allahu akbar!!!
Abinya pergi dari Indonesia menuju Syiria.

Selang berapa lama, warta mengudara dari Timur Tengah.
Abi tewas di medan tempur sebagai jihad mati syahid.
"Mmmm... berita itu menggemparkan keluarga Abi.

Semua sanak saudara menangisi kematian Abi,
Umi datang dengan suara perlahan, jangan tangisi suamiku wahai familyku semua.
Abi telah berada di surga Allah, telah bertemu dengan ruh-ruh jihadis lainnya, dan telah bersama bidadari-bidadari surga, ikhlaskanlah kematiannya, Abiku itu!
Sedangkan Umi, istri dari Abi yang gugur itu tak sama sekali meneteskan air matanya, menampakkan ketegeran keyakinan akan kematian Abinya yang telah mulia sebagai syahid.

Semua keluarga dalam berkabung terdiam dengan keteguhan isteri tercinta Abi. Si istri jihadis, Umi.
Sedangkan anak-anaknya hanya sesesungukkan di sudut rumah karena kematian Abinya.

Selang berapa bulan kemudian
Umi menghilang dari kabar,
sanak saudara pada bertanya-tanya.
Kalau Umi telah meninggalkan semua kehidupannya di kota Jakarta, termasuk perniagaan yang ia rintis dari jerih payahnya selama ini.
Bak ditelan bumi, Umi pergi di kegelapaan malam bergabung ke markas kelompok ISIS.
Testimoni Umi, dalam akun yang kami simak. Mereka berbahagia di sebuah negeri yang diberkahi katanya.

Ironis,

Ibu yang di kampung halamannya sendiri tak lagi dia rindukan, bahkan air mata sang ibu tak berhenti menetes akan keberadaan nasib sang anak dan ketiga cucunya yang ia risaukan selama ini.
Badan sudah kurus kering wajah keriput menua merindukan si anak tak pernah kembali semenjak kabar kematian si Abi suaminya.

Ibumu, berbalut selendang usang yang dia sandang di bahunya, telah lusuh membasuh luka yang tak berdarah, dalam keringat berurai air mata, menatap potret anak tersayang di dinding rumah.
Anakku, pelitamu hampir padam
senja telah di tepi ngarai nak.
Pulanglah sayang!!!

Ahh..."
Aku di sini, sebagai penulis bersama keluargamu Umi, menukilkan hiba pada sanak saudara di sana,
pelajarilah dengan seksama konsep organisasi yang jelas-jelas terhakimi oleh dunia sebagai teroris!! Negara kita dan dunia Islamnya bukan thagut dan bodoh.
Dan kelompok Islam menilai bahwa ISIS adalah bentukkan propaganda untuk mengambil kesempatan kekisruhan antara Suni dan Syiah di Timur-Tengah, dan merampas ladang-ladang minyak, yang ia gunakan untuk proyek kehidupannya serta biaya ongkos perang berkoloni dengan para sekutu-sekutunya, analisisku.

Aku suluh asap, bukan maksud membakar jerami di ladang singa berdiri.
Tapi hanya sekedar menyampaikan rintihan ibunda Umi di sini, di kampungmu. Kalau ibundamu sudah tua, tak berhenti-berhenti menangis,
pilu akan nasib permata yang diharapkan dari kecil itu.
Kembalilah Umi, ke Indonesia!!

Ibu cemas menantimu bersama ayahmu.
Kami ingin memelukmu kembali meski Abimu telah tiada.
pulanglah nak" bersama cucu-cucuku.
Bahwasanya rumahmu dan di telapak kaki ibumu kau mengabdi, adalah surga yang sesungguhnya di dunia ini.
Ingatlah pesan ibundamu dulu, ketika kau akan pergi merantau.
Bukalah nurani yang terbingkai di dadamu itu.

Kenapa tanah berpasir kau rindukan, padahal belum tentu jihadmu itu adalah surga yang kau rindui, meski tubuhmu berbalut sunah. Pahamilah nak, dengan akal pikiran serta jiwamu akan langkahmu itu. Benarkah perjalananmu jihad fisabilillah mati langsung masuk surga.

"Aaahhh...." anakku Umi?"
Lebih baik mati terhormat bernisan bernama di tanah merah
di samping ibumu nanti.
Daripada mati sia-sia di sana, tak bernisan, yang akan berselimut debu ditiup angin-angin lalu.

Rintihan ibunda sang jihadah

HR RoS
Jakarta, 26- Agustus 2016

"Prosa seorang Ibu merindukan anaknya tuk segera pulang di medan Jihad"





DESTINASI HAKIKI
Romy Sastra II


berkabut sebak, jejak luruh dalam bayangan tak terpijak
tatapan tajam menatap celah
memilah garis rasa
lurus tak tercela
aku raba doa menyingkap sukma
mati di dalam hidup
jantung bergerak nadi bergetar
alam sunyi menepi
hening bak lonceng berbunyi dalam bashiran, sami'an ilallah

fana....

tubuh halus menembus kosmik alam diri
menatap segara riak berwarna,
menggodaku
sampai di sini keindahan-Nya
godaan itu,
ia adalah nafsuku
aku berlari meninggalkan jejak abstrak
dalam tarikh napasku tahan,
tak ingin tergoda dalam kancah warna

destinasi imanku melaju
dalam perjalanan pikir akal dan nafsu
meninggalkan rona semu
akliq nakliq fitrah itu
lebur berbaur ke kolam rasa
menuju awas tak berujung,
tak bertempat,
bening tak berwarna lagi

lingga saliraku kaku dalam yoga zikra
pentauhidan itu melaju menuju tauhid destinasi yang hakiki
tak berwujud,
kepada maha jiwa
bayanganku sirna, yang ada adalah, IA.... makrifat itu

HR RoS
Jakarta,25,04,17





#repost
MONOLOG NASEHAT DIRI
Romy Sastra II


kicauan nan manis bak burung bernyanyi
tak berparung memaksa bersiul
khutbah terhormat seperti dewa mabuk
jubah indah bersolek duniawi
sayangnya tak bermaruah pada langit

mengintip cinta di malam hari
bagaikan kunang-kunang menari
melayang kerlipnya seketika padam
di mana rindu bersembunyi
sedangkan ruang diri tak pernah dibuka
yang ada kelam
terpesona saja pada godaan

biarlah hasrat impian terkikis
dibawa oleh debu-debu berterbangan
relakan melepas kepalsuan rindu
lebih baik berkubangan dalam lumpur hidup
menatap kesucian
mencoba tak jahat pada kenangan

rasa nan jujur adalah guru batin pada diri
menyilami makna jiwa yang suci
membuang jauh-jauh prasangka buruk
tak membuat cela
hidangkan seuntai sajak semoga dicerna
berharap tak dicampakkan begitu saja

uhh... jangan sia-sia beo berkicau
kepada si dungu memamah bisu
lebih baik berkaca pada malu
tak rusak sejarah ditorehkan

ego diri bagaikan resi dewa dewi
seakan sabda merasa telah fitrah
percuma terlahir jadi manusia
tak mampu memahami arti diri sendiri

hanya setetes darah hina yang dibanggakan
itu pun tertitipkan sementara

ohh, diri

diri seakan alimin
berkopiah tak bermakhota ilmu

ohh, dungu

diri seakan halimah
tak bertudung tiada malu masih sok tahu

"uhh...,

berilmu tak berhikmah
berpayung tak berteduh
berharta tapi tak bersedekah
bersedekah tapi tak rela
memberi selalu pamrih
berwibawa gagah tak berkharisma
cantik rupawan tak menawan
hidup tak bertujuan lunglai di tepi jalan
makan lahap tak kenyang berserakan
beragama label indentiti semata
berilmu tak mampu mewejang aksara
selalu dahaga,
meminum tirta kalimah tak bertuah
beribadah seakan sudah tahu jalanya surge

"aahhh..., nistanya

berlayar tak berdermaga
terombang-ambing di segara gamang dirasa
mendaki seakan tahu makna ketinggian
berjalan di yang datar tersandung
kesakitan
mengalir air ke hilir tak ke muara
berkaca diri tak nampak
terkilas wajah di cermin yang retak
diri bodoh seakan paham rahasia hati

duhh, diri

ke mana lara kan dibawa
sedangkan sakit sedikit saja menangis
tersenyum tak merekah
tertawa miring raut wajah melukis hiba

berpikirlah sesaat wahai diri
karena berpikir itu lebih baik
daripada beribadah berpuluh-puluh tahun lamanya
biar tak tersesat jalan
semoga dewasa diri dalam kearifan budi
arahkan langkah ke sebuah tujuan
biar tak sia-sia hidup dalam perjalanan

Seyogyanya, memahamilah dikau diri
walau sekejap saja

HR RoS
#Koreksi_cemooh_diri
Jakarta, 22-08-2016. 01:12





NAPAS DI UJUNG MAUT
Romy Sastra II


satu-satu rasul pergi
yang bersemayam di dalam diri
sebagai jembatan religi menemui Ilahi Rabbi
telah jauh jejak langkah melaju
torehkan seribu satu cerita
tentang fananya dunia
bahwa kematian pasti terjadi

runtuh sudah gunung Thursina
sentuhan lembut tak lagi hangat
langit-langit hambar tak lagi berasa
pendengaran tak lagi berdenging, tuli
lidah patah perigi kering, dahaga
netra melirik tatapan buta
el-maut masih dalam perjalanan hampir tiba
sekejap saja sudah berada di depan rumah

riuh membuncah ruh-ruh
penggoda datang silih berganti
menyuguhkan menu-menu surgawi
padahal fatamorgana saja
sang sakaratul maut gundah
selera makan lahap terasa
seperti lapar terbaik
lelah dan payah habis berlari haus sekali

di mana, dan ke mana arah jalan pulang
nan ditempuh tak tahu destinasi abadi
laknatullah merayu pada satu titik ruh
kembalilah kepadaku wahai si fulan
istana megah menantimu di sana
ayah bundamu merindukan selalu
ikutlah bersamaku
sambutlah jemari kasih ini
kau selamat dalam genggamanku
ternyata ia pengkhianat sejati
menggoda kematian religi di segala tubuh

pergulatan terhebat
bukan mencari sensasi gelar posisi duniawi
tetapi melawan segala penipuan
yang akan terlempar ke lembah marakhayangan
lembah kepiluan, penyesalan teragung
tunggu sajalah nanti
jika tak percaya pada larik-larik puisi ini

napas di ujung maut
pertempuran hitam dan putih
apakah terhempas ke lembah lara
atau pulang ke kampung halaman terindah
berpikirlah,
jalan mana kan kau lalui
hanya ilmu dan amal jawabannya

HR RoS
Jakarta, 24,4,17





#stanza
RINDU LARA DI SUDUT SENJA
Romy Sastra II


Semakin jauh kepergian mentari
Sesungguhnya, teriknya taklah padam
Ia ada pada mata hati menyinari jiwa
Redupnya sesaat, ada pelangi pengganti
Kilaunya sisakan sunset keemasan
Mentari adakala sembunyi bukan malu
Awan-awan petang menutupi langit
Bahwa pertanda siang akan berlalu

Tentang jingga menari bersama kupu-kupu
Rindu nan lara di sudut senja
Masih memetik asa pada aurora langit
Tegar berdiri meski sunyi
Berharap sang kejora merupa meski sekejap
Malam bercumbu rayu pada kerlip
Petiklah satu bintang!
Yang mampu menyinari malam-malam panjang

HR RoS
Jakarta, 23,04,2017





#septima
SADAR DIRI
Romy Sastra II


Laju layang-layang terbang melayang
Terbang tinggi jauh ke balik awan
Angan-angan hendak terbang ke bulan
Kaki di bumi terikat benang layangan
Impian diulit angan tak jadi kenyataan
Sadar diri, potret buram, cermin rusak
Lebih baik mengukur bayangan sebelum tumbang

Berkaca pada telapak tangan
Garis-garis nasib retak menyedihkan
Bukan tak percaya kepada suratan
Sesaat merenungi kisah hidup ke belakang, iqtibari
Ada misteri di depan mata menanti, sadari
Jangan lengah mendayung biduk bahtera
Sedangkan riak segara menyapa senja kian gamang

HR RoS
Jakarta, 22,04,2017





#Sektet
RA KARTINI
Romy Sastra II


Lilin itu memang tak nyala di rumah sendiri
Otak pribumi dijajah oleh kolonialis
Kartini terpasung dirantai di bilik sunyi
Sedangkan pijar menyala di sanubari
Generasi buta aksara dan hikmah
Dibodohi penjajah sejak dulu kala

Kartini bertanya pada kiyai
Di mana pintu langit berada
Kiyai terpana, resah
Mau menjabarkan pintu-pintu langit
Sayangnya, tangan kiyai terbelenggu Belanda
Bibir terkunci mewejang kalam

Kartini, kau bak pijar dari timur
Emansipasi wanita melawan penjajah
Negeri selama ini gelap, kau sang pencerah
Dari tinta hingga ke meja dakwah orasimu
Merdekakan kebodohan menuntut ilmu
Habis gelap terbitlah terang, semboyan itu

HR RoS
Jakarta, 21,04,2017





#Quint
JEJAK-JEJAK DIRI
By Romy Sastra II


Daun-daun berguguran
Seperti helai rambut berjatuhan
Jejak langkah hampir sampai di tujuan
Kapan lagi pengabdian ditunaikan
Sedangkan lilin hampir padam di telapak tangan

Ranting-ranting jatuh ke bumi
Seperti air mata membasahi pipi
Jejak hari kian menepi
Kapan lagi sujudkan diri
Sedangkan kematian sebuah misteri

Tunas-tunas enggan tumbuh
Seperti kulit ari hampir lusuh
Jejak tak terpijak kian rusuh
Kapan lagi bersimpuh
Sedangkan el-maut akan mencabut ruh

Tanah-tanah subur disirami hujan
Seperti peluh berembun di atas daun
Jejak religi tunaikan
Kapan lagi hidup mengenal Tuhan
Sedangkan pintu surga selalu terbuka jalan

Jiwa-jiwa yang tenang tersenyum indah
Seperti musafir mencari cinta
Jejak sufi berkelana bersama jiwa
Kapan lagi berjubah rela
Sedangkan ilmu dan amal kunci ibadah

HR RoS
Jakarta, 21,04,2017





#kwatrin
MONOLOG KACA DIRI
By Romy Sastra II


Bermain rindu pada kunang-kunang
Kerlipnya sekejap redup menghilang
Bercintalah sepenuh hati pada yang tersayang
Raih kekasih dengan kasih saying

Bersolek pada bayangan silam
Rupa abstrak fatamorgana kelam
Bercermin pada rasa dan jiwa
Biarkan akal mencari jawaban terindah

Jangan berkaca pada riak ego memandu
Kan terjatuh di kolam berlumpur, malu
berkaca pada cermin nan retak
wajah rancak nampak berserak

Mengukur diri jangan pada bayangan mimpi
Sedangkan mimpi adalah bayangan ilusi
Takkan didapatkan jawaban nan pasti
Semakin dikejar ia semakin berlari

Tersenyumlah sedikit pada nasib
Meski himpitan kian menjerit
Jangan biarkan otak menjadi sakit
Dunia ini tidaklah sempit

Singsingkan lengan hadapi dunia
Jangan lari dari kenyataan yang ada
Kehidupan ini berlanjut di depan mata
Jangan berhenti sebelum finish tiba

Tataplah dermaga jiwa
Layaran berlabuh membawa sukma
Jangan layu mata menatap cinta
Mentari batin tak pernah redup menyinarinya

HR RoS
Jkt, 20,04,2017





#Tarzina
DEMOKRASI DAMAI
By Romy Sastra II


Siang tadi pesta di kotaku terjadi
Pesta di panggung demokrasi
Damai sekali

Demokrasi potret perubahan
Jangan tuan-tuan gontok-gontokan
Malu sama anak kecil jadi tontonan

Pilkada, Pemilihan Kepala Daerah
Yang menang jangan bangga
Ingat janji-janji jangan lupa

Ketika janji tuan tepati
Kami angkat tuan kembali
Jadilah pemimpin yang berbakti

Kalau tuan korupsi lupa amanah
Jangan salahkan alam murka
Kukutuk tuan masuk penjara

Jadilah pemimpin berwibawa
Disayang oleh sesama
Kuanggap dikau manusia setengah dewa

Putih jangan jadi abu-abu
Abu adalah debu
Jangan buat malu

HR RoS
Jakarta, 19,04,17





#Distikon
SINOPSIS KISAH KASIH
Romy Sastra II


Boleh bersedih jangan menangis
Rasa hiba bunga jiwa yang manis

Boleh saja berduka jangan biarkan hati resah
Sedangkan kisah adalah guru terindah

Bernyanyilah menghibur diri
Bunga-bunga yang layu semoga bersemi

Bercerita tentang lembaran usang
Semoga impian silam terkenang

Bayu membawa kabar rindu
Diam tak berbisik menjadi bisu

Sinopsis kisah kasih dendam tak sudah
Mimpi-mimpi cinta jadi cerita lara

HR RoS
Jakarta, 18,04,17





INTRIK-INTRIK JANGKRIK
Romy Sastra II

dua hari lagi
anak-anak kecil
bermain di kamar sempit

intrik-intrik licik
kendali otak sakit
hipokrit abaikan demokrasi

pasang kuda-kuda
gerilya cari mangsa
coblos pilihan pilkada ibukota

saling sikat sikut
menjatuhkan lawan
hakikatnya kau pun bersaudara

kenapa selimut kotor
kau pakai berpesta
kami bukan bodoh mengawal kinerja

jangkrik genggong
obral janji tuk negeri
membenahi alasan kemajuan

padahal oportunis saja
hajatmu terselubung noda
pesta-pesta borjou di tengah kota

anak-anak kecil dungu
siulan jangkrik dipercaya
nanti rumahmu digusur juga

pilihlah aku
karena aku mampu
membuat perubahan kota

perubahan apa
ya, perubahan kata
dari kata penggusuran, ke penertiban

Hahahahaha....

HR RoS
Jakarta, 17,04,2017





SIULAN BISU KEPADA NONA
By Romy Sastra II


sang bayu melaju membawa rindu
tentang senja telah berlalu
di segara riak kirimkan ombak ke bibir pantai
pasir menyambut tarian buih gemulai

imaji menempuh destinasi suatu hati
camar-camar nyanyikan kedamaian
tentang malam enggan purnama
rinduku telah tiba di awal malam
sedangkan langit masih saja berawan
nun kerlip kejora mulai bermain cinta
bercumbu mesra di dada langit
seketika ia pun tenggelam
impian rinduku dibuai bayang-bayang
seperti bertepuk sebelah tangan

aku teringat kepada nona
yang kukenal siang tadi
entah mimpi ataukah ilusi bermain hari
rasanya tidak,
aku menyapanya dengan senyum mesra
bersiul manja,
dikau tak menoleh sama sekali

ah,
memang siulanku tak bernada
aku mencumbuimu lewat rasa
pantas saja dikau tak tersentuh
rayuanku bisu karena lidah kelu, malu
takut dikau menolak bunga pemberianku
memang bunga pemberian dariku
hanya puisi

tentang rindu tertitip di ranting kering
daun-daun enggan tumbuh
sedangkan siklus telah berganti
dari musim gugur ke musim semi

terimalah persembahan puisiku nona
meski dikau tak membalas sapaanku siang tadi
imaji kepada nona tak terurai
impian hatiku akhirnya tak sampai

HR RoS
Jkt, 13-04-2017





RASA ITU MURSYID DIRI
Romy Sastra II


kejujuran iman
keutamaan dalam detak jantung berpacu
mengejar langkah waktu
silih berganti datang dan pergi
denyut nadi mengiringi aliran laju

rasa diri di sekujur tubuh sutra surgawi
langit-langit rongga terminal rasa
ketika rasa memberi tahu
dialah mursyid diri itu

bila mursyid sejati dalam diri sunyi
rasa terhenti tubuh mati

ketika Jibril menyapa
datang membawah risalah Tuhannya
berhadapan di antara rasa dan mata hati
bersiap-siaplah
suatu saat nanti ia membawamu pergi
menyatukan kembali ke azali
sanggupi saja kedatangannya membawa ruh

sabda tuan guru penuntun jalan hakiki
berbisik pada bilik-bilik religi
seperti berada dalam goa Hira
membuka pintu-pintu arasy
dia hadir sebagai sahabat baik tak menipu

ketika tabir terbuka kerlip bertamu
sang utusan titip pesan
kenalilah dirimu selalu
jangan sampai tersesat jalan

pesan sabda,
kau akan tahu jalan Tuhanmu
di puncak rasa, ia maha rasa itu
sirri wa ana sirrahu

HR RoS
Jakarta 020517




BIBIT PENCINTA NAN AGUNG MENYESALI
Karya Romy Sastra II


azali cinta,
berjubah kasih mencurah rindu
pada kasta jiwa mengenal budi
antara terhijab dan nyata
tetap mendapatkan tempat berpayung rasa
kala hujan basah berselimut embun
andai kehausan,
panas bergelora kekeringan tersenyum
rumput-rumput bergoyang
lambaikan kedamaian
tertitip bayu merona syahdu
sempurnanya ciptaan Tuhanku

para pencinta nan agung
sampai saat ini masih memuji rindu, bertasbih
semenjak sabda tercipta
sedetik pun tak alpa

Tuhan ciptakan surga nan indah
fitrah maha kekasih 'tuk sang khalifah
Tuhan ciptakan neraka sebagai peringatan
anai-anai melubangi urat nadi
menyemai syahwat membuai tangkai
sepoi diayun bayu rayu, kebiri janji Ilahi
merayu menggoda rasa hina
pucuk-pucuk melambai tebarkan gairah
terpesona sudah dengan payet-payet indah

membuai asmara kasih
asyik memadu rindu
bak kumbang mengisap madu kembang
tak sadarkan diri,
terkutuk sudah dari Ilahi
menjerit menyesali tercampak ke mayapada
sepanjang tahun sepi seorang
lara hiba menghunus pedang doa
berlari di malam buta antara Safa dan Marwa
mengetuk pintu arasy sang Maha bermain dalang

doa dipanjatkan,
rabbanaa zolamnaa amfusanaa wailam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunanna minal koosirin

duhai ... cinta, belahan jiwa
di manakah kini kau berada?"
kembalilah mengisi sepiku
tandus haus lara lelah mencarimu

Engkau Tuhan, yang kusembah
nan bersemayam dalam angan kedunguanku
hamba memohon, ampuni kesalahan kami
bodohnya hamba terlena tergerus goda Iblis

Engkau Tuhan, nan bertahta di jiwa ini
bukalah pintu rahmatMu kembali
hibalah,
hamba menyesali diri sepanjang hari
bersenandung lara, karena kesalahan ini
Engkau maha pengampun,
maka ampunilah kami

Engkau mencipta yang nyata dan yang batin
tak terpikirkan olehku
Engkau ada di hati ini
kenapa iman diri kulengahkan
memang, hamba telah tertipu rayu

sabda sang utusan uluk salam
kala fajar berseru"
wahai jiwa nan lara,
sujudkan ragamu menyapa tanah
meski tandus ia suci
cikal bakal terdirinya jasad itu

rengkuhlah doa debu-debu malam
bertayamum suci menyapu bulir yang menetes
buang jauh-jauh nebula rayu di pohon itu
dekaplah lafaz-lafaz hiba mohon ampun
biar tercurah kasih sayangNya

allahu akbar,
salam terucap kanan dan kiri
salamun kaulam mirrabirrahim
terbentang kembali keindahan semu
tentang tirani hidup,
akan membentang panjang,
sampai dunia ini tertutup

hadir sang kekasih yang dirindui
sang kekasih menyapa di antara fajar
fajar akan berlalu pergi
berganti pelita dunia
pertemuan membuncah haru
tangis rindu membangunkan fijar-fijar mentari
bibit dunia pencinta nan agung berbahagia
bertemu sudah pada yang didamba
berkasih mesra serasa tak ingin berpisah lagi 'tuk selamanya

#history_Adam_Hawa
HR RoS
Jakarta, 07,05,17





#kwatrin
IQTIBARI NASIB
By Romy Sastra II


Terlena pada pandangan pertama, purnama
Kisi-kisi malam membuai angan, pada kejora
Ilalang di tanah tandus, merindukan bahagia
Sedangkan rinai sama sekali, tak jua ada

Kupu-kupu di atas daun bermandi tangis
Sedih di daun layu, rintihan hidup histeris
Jeritan tak terdengar, menyentuh batin
Lolongan kepedihan lenyap terbawa angin

Oohh, koloni awan, sibakkan gumpalanmu
Jangan menutup langit nan membiru
Tersenyumlah iklim, biarkan si kecil berlari
Rotasi pancaroba masih menyimpan misteri

Bercermin pada kisah, bukalah pintu hati
Jangan bermain bayangan diri
Sadari langkah, seberapa jauh kaki berlari
Tetap yang dikejar hanyalah ilusi

Menyadari takdir adalah ibadah kepadaNya
Insafi sayap-sayap liarmu si rama-rama
Jangan tergoda pada dunia
Ada seribu satu jalan menuju bahagia

HR RoS
Jakarta, 06,05,17




#Kwatrin NISFU SYA'BAN
Romy Sastra II


Sunyi berkawan malam berdiam diri
Renungi jejak-jejak hari yang telah pergi
Teringat seribu satu noda membayangi
Bersemayam di dada ini

Tentang perjalanan malam sang Maha Raja
Rabbani turun ke langit dunia
Menebar kasih sayang dan ampunanNya
Heningkan diri mencari Maha cinta

Mahabbah di malam nifsu sya'ban
Catatan amal ditutup, saldo amal diperlihatkan
Setahun menyemai benih kebajikan
Adakah sampai catatan ke langit, ataukah tertumpah di lautan

Bulan purnama hadir menyapa
Menyaksikan Maha Raja membawa bejana
Kututup pijar mata ini kubuka kalbu
Persilakan sang Raja masuk pintu rumahku

Berkomat-kamit menghitung tasbih
Menunggu hadirnya sang kekasih
Hadir pada hati hamba-hamba yang bersih
Dia menemani jangan risau jangan bersedih

HR RoS
Jakarta, 12,05,17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar