RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 03 Juni 2017

Kumpulan Puisi Mohammad As'ad - KITA


Kita

Suara kita makin parau
Ketika negeri ini bercerita tentang korupsi dan kemunafikan
Ketika negeri ini membimbing hati dan jiwa pada kebebalan
Suara-suara kita menjadi parau di bawah gertak senapan
Dan telinga kita berdarah-darah
Tertusuk kegaduhan memekakkan dari gedung parlemen
Dan huru-hara jalanan tak berjiwa

:Ini negeri tak lagi seperti mimpi kita
Oh, kata batinku
‘’tuan-tuan makin jadi seperti tulang-tulang lapuk
bergentayangan, menyeringai, mencakar dan bercakaran
dan kami disini, di bawah ketiak langit
terbisukan, lapar dan merangkak-rangkak’’

Temanggung 2017





Surat cinta 4


Sudah lama rasanya aku tak bicara cinta kita
Karena jiwa makin terhina politik dan kejumawaan penguasa
Tapi biarlah air mata kita mengalir sayang,
Karena bah air mata melegakan pemiliknya

Ini ada sedikit waktu untuk kembali bercerita
Cinta kita yang tengah menyongsong senja,
bersama kelepak sayap anak-anak kita yang makin tak melelahkan rindu
Kita memang harus bertabah, hidup itu perahu
Ada gelombang, badai dan buih di hadapannya
ada kemesraan burung-burung camar,
ada angin lembut berdesir-desir dari langit tak berbatas
Serta kemesraan semesta raya dalam keseimbangan sempurna
: Itulah surat cinta Nya yang mendamaikan hati kita, sayang




Rindu Kembali Bersemi
Mohammad As'adi•31 Mei 2017


Kembali berdiri
Ingin mengerti
Semesta
Sunyi alam raya

Kembali bersemi
Rindu menganga
Tanah harapan
Yang menebas fana
:Arafah
Tanpa iblis dan setan
:Arafah
Gemeriap kekosongan yang menengadah
:Arafah
Yang membakar dan menguras air mata
:Arafah
Bukit batu dan pasir
Jutaan batin putih bergetar
Menggetarkan langit terbuka
Melepas dzikir
Melepas sihir
Dalam rasa
Hanya sebutir zarrah
Diantara bermiliar butir pasir
Yang membakar di antara sayap-sayap malaikat

-Ya rabb.. rindu aku
Rindu aku berihram
Menelentangkan jiwa
Merindu setetes embun
Di terik padang Arafah-
(Ah…aku jadi teringat
Jiwaku terhempas
Dalam pelukan kasih Mu
Aku jadi teringat
Betapa isteriku menenggelamkan jiwaku
untuk menepati janji
menyempurnakan cintaku di Jabal Rahmah )

Temanggung 2017





Sunyi Mendadak jadi Liar
Mohammad As'adi•28 Mei 2017


Sunyi mendadak jadi liar
Air bagai bah mengucur dari langit
Yang sesiang tadi biru dan senja menguning
Angin menjelma jadi gigil
Di luasan yang temaram
Ah...datang beku,
kemudian reranting dan dedaunan kusud
: Kau datang lagi, resahku yang bergelombang
Puisi-puisiku hanyut
Menyusuri perbukitan
Menghitam dilanda cuaca
Cintaku terseret
Menuju pulau, impian kita berdua
Seperti dijalinkan dalam semesta

Temanggung 2017





Aku Mengenang
Mohammad As'adi•26 Mei 2017


Malioboro yang remang, puisi yang gamang
Sepenggal kisah yang tak lekang
Dan sebuah kanvas besar, berbilur bermandi resah
: Kau boleh datang dan pergi
Kau boleh menikam dan menangisi
-Tapi aku kini yang tenggelam dan hanyut
Di jalanan yang tak berperisai
Tak juga ingin pergi
Sendiri mengenang segenggam mimpi-

Malioboro, dan membaca Slauerhoff, sambil pergi bersamanya
Menantang laut sebagai kelasi
Malioboro dan membaca Iqbal, serasa terbang sebagai manusia sempurna
Juga bersama Gibran, menorehkan sajak-sajak cinta
Dan bersama Khairil mengembara dalam gelap !
Setiapkali di Malioboro, seperti kembali membaca sebait puisi
Dalam rentang puisi terpanjangku, bernama kehidupan

Temanggung 2017





Ramadhanku
Mohammad As'adi•26 Mei 2017


Seperti datang dan pergi
Kadang sayup, kadang meredup
Cintaku yang glangut
: Sementara Engkau mendekap erat
Pagiku yang selalu merdu
Setiap subuh, langkah Mu
mengikutiku selalu
sampai depan mihrab
lalu menatapku
dalam setiap ratapanku
Engkau teteskan sezarrah embun
Sebagai tanda cinta Mu padaku

: Ya rabb…ramadhan ini lenturkan hati batuku
Sampai memahami betapa kasih Mu tanpa batas
Sampai aku berlari mengejar Mu !
Dan Engkau teteskan berjuta butir embun
Ya Rabb….Ya Rabb..datanglah
Pada hati
Yang tak juga mampu mensyukuri Ramadhan-ramadhan Mu
Teteskan..teteskan …kegelisahan-kegelisahan
Sampai menjelma kerinduan seluas padang Arafah
Ketika aku sebutir pasir terbakar dalam tobat dan gemuruh cinta
Ya rabb..hadirkan Arafah Mu sepanjang Ramadhan ini
Biar aku hangus terbakar dan memandikan cinta
Sebagai manusia tersesat yang menemukan tempat bernaung
Dan cinta sejatinya seperti Ibrahim menemukan Ismail
Atau Adam kembali bersatu jiwa dengan Hawa.

-Marhaban ya Ramadhan !-
Temanggung 2017






Senja 2
Mohammad As'adi•24 Mei 2017


Semburat merah , senantiasa menghampiri
Sebagai tanda kegelapan menelan cahaya langit
Membawa sunyi selalu !
Untuk mengisi jiwa hati, aku selalu bernyanyi
Mengisi jiwamu yang selalu bersandar pada langit
: anak-anak kita selalu melayang-layang
Damaikan hati, untuk kita segalanya






Cinta Kita
Mohammad As'adi•25 Mei 2017



Cinta kita tak bertepi
rindu bergelora selalu
: malam ini
Dengan cumbu kita yang bergelora
Air mata kita biarkan mengkristal
Seperti malam indah di tanah haram
Ketika kita megemas cinta kita
Diantara talbiyah dan rindu yang menderu
Cinta kita memang tak bertepi

Temanggung 2017





Lelah
Mohammad As'adi•25 Mei 2017


Apakah
kelelahan ini
pertanda sepi
tengah menghampiri senjaku ?

Temanggung 2017





Perempuan gunung
Mohammad As'adi•18 Mei 2017


Senja menggenang air mata perempuan di sampingku
Menyapu angin berbunga rumput, sewangi tanah gunung
-dalam ketidaktahuan dalam hidup, kita senantiasa berjalan
Mendaki dan menerjang perbukitan terjal-
Katamu sambil menyisipkan desah nafas wangi ilalangmu

Risik dedaunan yang tak pernah lupa pada angin
Menyapu jiwa gunung kami yang terenggut sepi
-kita makin hilang dan tergerus amuk jaman
Angin gunung yang menderu membawa serta sejuta erosi jiwa kita
Hanyut dan tak bermuara-
Katamu lagi sambil berpaling tanpa bibir tersenyum
Lalu kami sama-sama tundukkan kepala seperti membaca sebuah nisan

Temanggung 2017




Di depan Mihrab
Mohammad As'adi•24 Juni 2017


Di depan mihrab, sehabis sembahyang isya
Bergelayutan aku, deras air mata
Jiwa luruh, bagi daun-daun kering
Engkau merenggutnya
Perih seketika,
Kuingin menggapainya kembali
Namun hanya sekelebat angin
Gamis Mu yang menerpa
Wajahku
Yang
Makin tertunduk
: Lalilatul qodar Mu yang
Belum juga kuhirup aromanya
Telah kembali pada arsy Mu

Di depan mihrab, sehabis sembahyang isya
Ada cinta melayang-layang
Dan rindu yang menjelma
Jadi bulan merangkak
Di atas bayang-bayang
Hari yang penuh pesta dan riang
: Aku merasa sendirian

Temanggung 2017






Saat Terakhir
Mohammad As'adi•23 Juni 2017


Jiwapun bergelayutan
Di langit yang terasa nikmat segalanya
Seperti perihnya cinta yang terpisah
Engkau segera berlalu !
: Tinggal sepi, tanpa kalam
Sebulan penuh yang telah menjejali
Dengan kasih Mu
Ya Rabb , kemesraan ini tinggal gelayutan hampa
Kenapa ramadhan begitu saja memutus tali cinta
Yang Engkau rajutkan pada setiap jiwa yang lapar
Dan ngungun merindukan Mu selalu ?

Air mata, menunggu kehampaan setelah suara kaki terakhirmu
Meninggalkan altar masjid bersama ribuan jamaah tarawih
Lalu bergema takbir akbar di berjuta gemintang
Aku mencoba menahan, supaya engkau tak pergi
:tapi ketentuan telah terbilang,
ini hari kali terakhir, engkau memelukku
dalam berjuta kenikmatan dan kesejukan bumi
dalam gemetaran, takjub sekaligus duka
dan rindu
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan ramadhan ini sebagai yang
terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya,
maka jadikanlah ramadhanku ini sebagai yang dirakhmati bukan yang
hampa semata”
-Allah hu akbar…allah hu akbar…wa lillah ilhamd-

MOHON MAAF LAHIR dan BATIN

Temanggung 2017





Hening
Mohammad As'adi•12 Juni 2017


-Kuhampiri hening, ku hanyut dalam hening
Kuhampiri kesunyian… aku terhempas dalam kesunyian
Langit terbuka …cahaya menebar mendebarkan
Jiwaku bagai daun-daun sesiang tadi
Rontok dan terhempas
Berserakan

-Kutikam waktu yang terhenti
Tertikam aku
Tertikam dalam perih hari
: Disini tak ada laut sayang
Tapi ada perahu
Gelombang dan deru ombak
Dan bergantang-gantang nyanyian lautan
Disini memang tak ada lautan sayang
Tapi ada perjalanan panjang di atas ombak
Ya…perahu kita….di atas perahu kita
Kita berkejaran dengan waktu
Ini kali malam sunyi di sepuluh hari terakhir
Kita berpelukan, menengadah dan berurai air mata
Seperti ketika kita berdiri dipusaran hari Arafah
Di padang kerontang, berbatu bersama bermiliar butir pasir
Jiwa kita terbakar
Berharap
Cemas
Dan bertanya-tanya : Engkaukah itu ya Rabb
yang meniupkan angin tanpa gigil ?
Ini kali, di malam sunyi aku gemetaran sayang
Merindu ….
Merindu kesenyapan yang memesona
Merindu kemesraan dalam rebana cinta kita
Yang menusuk dari langit malam seribu bulan

Temanggung 2017






Perempuan gunung
Mohammad As'adi•18 Mei 2017


Senja menggenang air mata perempuan di sampingku
Menyapu angin berbunga rumput, sewangi tanah gunung
-dalam ketidaktahuan dalam hidup, kita senantiasa berjalan
Mendaki dan menerjang perbukitan terjal-
Katamu sambil menyisipkan desah nafas wangi ilalangmu

Risik dedaunan yang tak pernah lupa pada angin
Menyapu jiwa gunung kami yang terenggut sepi
-kita makin hilang dan tergerus amuk jaman
Angin gunung yang menderu membawa serta sejuta erosi jiwa kita
Hanyut dan tak bermuara-
Katamu lagi sambil berpaling tanpa bibir tersenyum
Lalu kami sama-sama tundukkan kepala seperti membaca sebuah nisan

Temanggung 2017





Suara Gerimis
Mohammad As'adi•10 Juni 2017


Suara gerimis, mengiris
Seraut wajah menangis
: Kita memang tengah tergelincir
Dalam kepapaan jiwa yang melolong
Tergagap-gagap menengarai sepi
Di belantara makin lantak

Jangan kau sembunyi
Dalam seru butir air yang mengalir
Dari mata setiap orang
:Kita memang harus tinggal dalam hutan
Untuk mengais duri mawar

Jangan kau sembunyi
-Biarkan
Semua terbilang pada kita
Derita, bahagia, sunyi dan gelak tawa
:Ini lah sepenggal kisah
Diantara kisah-kisah purba kita
Menggenapkan hari-hari kita
Dalam lorong
Hamparan
Dan kekekalan

Temanggung 2017






Perih Negeriku
Mohammad As'adi•5 Juni 2017


Di bawah ketiak langit
Akhlak bagai daun-daun berguguran
Selepas melayang, berserak terinjak
Wajahku geram berwarna merah
Tunduk dan malu
Indonesia, negeriku terkoyak

Pidato-pidato sakit jiwa
Hukum berkacamata kuda
Sumpah serapah dan setumpuk sampah
Adalah kata bercampur tai kuda
Berjalan aku di lorong nafas anak-anak negeri
Yang tak pernah berani berkata : Inilah negeriku
Berjalan aku diatas impian terkoyak anak-anak negeri
Yang tak pernah berhenti mengiris ulu hati dan bergumam
:Perih negeriku……

Temanggung 2017




Puncak Cinta
Mohammad As'adi•2 Juli 2017


Duduk sendiri di beranda
Mengecup angin bernada gemetaran
Risik daun berjatuhan
Seperti ingin menebarkan cerita lama
: Sudah cukup, aku mengisahkan
Kegelapan malam dan keterjatuhan jiwa

Semerbak aroma rerumputan tersiram gerimis
Senja menggenang sunyi yang mengembara
Ah…pulang ! Aku telah pulang
Dalam serpihan yang kau gumpalkan
Dan cinta di tengah padang, kau semaikan
:Kini di ambang senjaku yang meremang
Kau menari-nari,
Keterpikatanku jatuh
Mendendam kesumatkan cintaku
Sudah cukup…sudah kita cukupkan kesedihan
Tangis biar diterbangkan angin
: Tak sia-sia air matamu
Tak sia-sia senyumanmu
Tak sia-sia dan tak tersiakan !
2
Pucuk cemara
Mendesiskan desah angin
Seperti cinta yang merebahkan jiwa
Tak henti-henti sepanjang musim
Ujung-ujung gerimis menusuk bumi
‘’Setahun ini tak ada kemarau berarti
Tapi hujan acapkali menakutkan’’ katamu
‘’Ujung ujung gerimis adalah cinta kita
Tegas menusuk bumi
Menyuburkan
Dan memekarkan segala bunga’’ kataku

Pucuk cemara
Bernyanyi selalu
Menyanyikan perjalanan
Seperti angin gunung
Menyusuri lembah
Merambati sungai
Dan akhirnya sampai
Daerah paling ujung
‘’Seperti kita sayang,
Pasti sampai
Di penghujung penghabisan waktu
Dan ada yang menyergap kita’’

Temanggung 2017






Terbaring Aku (Kado Ulang Tahun )
Mohammad As'adi•30 Juni 2017


Terbaring aku pada senja
Mataku begitu berat
Angin berisik selalu
Dan berbisik pada sunyiku
Sepanjang bentangan cinta
: Ini hari sebuah tangis bayi
Yang tak terduga
Menjadi belahan jiwa
Yang menikam rindu selalu
-Kau terlahir untukku
Dan melahirkan serpihan jiwa
Dalam genggaman semesta-

Terbaring aku pada senja
Dan rintik hujan kemarau basah
Gigilku terampas belaian
Dan senyuman menggoda
-ah kau , sakitku makin berhimpitan
Hatiku yang kecil, terkucil dalam dendang
Nyanyianmu yang bersuara selembut cintamu
Mengelus rambutku
Yang makin terkelupas
Jatuh satu persatu-

Temanggung 2017





Musim Dingin Di Gunung


Tepi langit jadi liar menggigit
Angin meriuh rendahkan reranting dan dedaunan
Bayangan matahari yang cemerlang sekonyong menandai
dengan warna-warna suram bersemburat merah
: malam sebentar lagi menyongsong tepian bumi
Menyergapkan luasan lengang
Dan kebekuan yang menggigil

Senja merambat pada tumbuhan yang gelisah
Menunggu mautnya di tangan penebang
Bentangannya di sana, di luasan hutan menyusut
Kusut , gigil merambat-rambat
: senja segera beranjak, burung-burung prenjak
Tak lagi mengerti kemana harus berumah
Angin tak lagi mengerti dimana harus bergelayutan

Aku berdiri, di tepi musim dingin
Di gunung yang membeku dimana tak ada tungku penghangat
Pada senja yang berderak
Bergelayut aku, pada kenangan purba hijau gunung
: tapi sudahlah, kita rebahan saja sambil memadu cinta
di deraian air mata semesta
menikamkan pisau pada sepi

Temanggung 2017






BAKAR AKU !


Bila jiwaku tanpa cinta
Gemerlap gemintang redup menjelma kegelapan
Mawarku semerbak karena cintaku bagai ombak
Memecah lautan gelisahku karena mendamba cinta Mu
Ya Rahman, jelmakan cinta Mu pada nafasnya
Yang telah Engkau ciptakan padanya
Kehadiran yang membelenggu, mengikat jiwa dalam rindu

Diamku adalah gelisah bagai gemuruh angin gunung
Perihku karena rinduku semisal hati terpenggal cinta
Ya Rahim aku menyalakan api semesta…aku nyalakan !
: Bakar ! Bakar aku dengan cinta MU

Temanggung 2017





DENDANG


Selempang sunyi selebar langit tanpa kata
Mensenyapkan jiwa dalam gemuruh ombak
Cinta yang menghempas-hempaskan
Tanpa tulisan dan suara
Cahayanya membuat gelisahku makin risau

Engkau adalah puisi sepanjang menunggu waktu berakhir
Di dasar relung jiwaku, kau bernyanyi tanpa kata
Dan mengalirkan sayang
: jiwaku yang sunyi menggemakan nyanyimu selembut butir embun
jiwaku yang rapuh berjubah cinta semerbak kembang
dan nafasmu menghangatkan gigil jiwaku

Temanggung 2017






Di Ambang Senja Nabawi

Di ambang senja Nabawi
Semburat merah dan jingga
Diantara menara-menara tinggi
Seorang lelaki menunggu perempuannya
Selepas Isya
Di bawah mercury
meraba cintanya
berselimut gamis dari langit
: Inilah kota paling romantis
Banyak lelaki atau perempuan menunggu
Lalu saling melempar senyum
Memadu kasih selepas berdzikir
Dan bergelimang air mata
Pada cinta sejatinya
Tanpa iblis dan setan


Bukan Paris, Jiapur
Montecarlo atau Venice
Yang malam-malamnya penuh cinta dan anggur
Liar penuh ketakberdayaan
Dengan mantra-mantra sihir
Disini, cinta bergelimang kerinduan
Mereka adalah pasangan-pasangan yang terikat janji
Saling menunggu setelah mengeja makna percintaan suci
Di sudut Nabawi, suami menunggu isteri
Isteri menunggu suami
dalam balutan hati seputih kain Ihram

Nabawi bukan Eifel, atau sudut-sudut Kyoto
Di sini, jejak nabi terukir dalam kecamuk rindu
Berjuta pasang mata berurai air mata
Dan para syuhada pun terbaring di Jannatul Baqi
Tak semegah Aoyama Cemetery, atau Pere Lachaise
Tapi aroma kesturi ahli syurga menyuburkan iman
Hembusannya abadi, di segala sudut dan menara tinggi

Diambang senja Nabawi, aku selalu menunggu
Di depan pintu duapuluh lima
Yang berhimpitan dengan taman surga
Dengan hati bergetar , jiwa tertatih
Dihantam gelombang suara
:Assalamualika Ya Rasulullah…

Dan berderet-deret air mengalir
Mengalir ke lautan rindu
Mengalir antara rumah dan mihrabnya
Dan aku tuliskan di jeruji jiwaku
Sebuah kata : Disini dari tempat ini
Kusunting kembali cintaku
Sambil menunggu, cahaya mata isteriku
Yang terbinarkan oleh kasih Nya
Menatapku lalu melangkahkan kaki
Melewati pilar-pilar Nabawi

Madinah 2013/Temanggung 2017




Mohammad Saleh Namanya


Al Aqsha merintih, darah mengalir
Bom dan mesiu
Melantakkan cinta
Menjelmakan gugusan
Awan hitam berurai air mata
Aku jadi teringat suatu malam di Mina
Seorang lelaki setengah baya
Berambut putih dengan punggung sedikit terbungkuk
Terbata langkahnya, merunduk di lorong tenda-tenda
Di antara cahaya-cahaya mercury

Mohammad Saleh namanya
Ia pengawas catering di maktab kami
Di hadapanku ia mengaku seorang Palestin
Di balik bara menyala, matanya nyaris tanpa cahaya
Putus asa ?
: Tidak ! katanya
Kami bangsa berdaulat
Sabra dan Shatila demikian pedih
Al Aqsha senantiasa bergolak
Namun selalu menyeruakkan wewangian syurga tertinggi
Dan para syuhada, anak-anak dan perempuan kami
Adalah para syahid abadi
Datang dan pergi

Setiap desing peluru dan tetes air mata kami
Adalah dentuman jiwa terhimpit di padang pasir membara
Kami adalah bara, kami adalah awan –awan berarak
Kami adalah gelombang- gelombang tinggi
Laras-laras baja, bom dan mesiu
Tak mampu hancurkan jiwa kami


Al Aqsha senantiasa menteskan air mata dan darah
Rembulan dan berjuta bintang di atasnya
Tak henti menerbangkan berpuluh
Beratus bahkan beribu syuhada
Pedih dalam jeritan panjang
Tapi tak pernah hentikan detak jantung kami
:Palestin !
Setelah puas bercerita banyak hal tentang bangsanya
Ia meninggalkanku selepas tengah malam.
matanya tampak berkaca-kaca
Aku hanya bergumam
-*Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu!-

Temanggung 2017
(*Judul Puisi Taufik Ismail)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar