RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 27 Juni 2017

Kumpulan Puisi & Prosa HR RoS - NOKTAH DI TENGAH BADAI


"Prosa secangkir kopi untuk negeriku"
KETIKA MASA PULANG SEKOLAH
AKU DAN IKAN KECIL ITU
Oleh Romy Sastra II


Nagari Kubang Bayang
Pesisir Selatan, Sumatera Barat
memanggilku pulang, masa lebaran tahun kemaren, satu tahun telah berlalu. Kini, ia ranah itu seakan memanggil kehadiranku kembali.

Sinopsis kisah di sungai itu,
ia tetesan dari sumber berbagai mata air dari gunung, menyatu menjadi anak-anak sungai kecil. Riaknya aliran menjadi induk sungai "BATANG BAYANG" dari hulu mengalir ke hilir berlabuh ke muara.
Catatan harian, masa kecilku semasa pulang sekolah.
Aku terjun ke sungai bersama kawan-kawan setiap hari selalu kami lakukan.
Riang gembira berenang di sekitar air tenang di tempat pemandian,
air Batang Bayang membelah negeri-negeri kami sampai ke samudera.

Sungai itu, saksi sejarah alam untuk keberlangsungan berbagi kehidupan dan biota dari rahmat yang maha kuasa.
Menitipkan pesan pada kearifan alam untuk peradaban,
demi lestarinya regenerasi kehidupan negeri-negeri kami
yang terus berlanjut hingga kiamat nanti.

Kenapa aku tulis cerita secangkir kopi?"
Kukirimkan ke persada maya. Testimoni cerita masa kecilku, untuk membangunkan anak-anak negeri yang telah tertidur mengenang masa kejayaan dulu.
Negeri kami dilimpahkan anugerah yang banyak dari sang pencipta alam.
Salah satunya adalah ikan-ikan yang berenang bersamaku ketika aku mandi di siang hari.
Segerombolan ikan berbondong-bondong mencubit kulitku, seakan-akan anak ikan itu mengajak bermain petak umpet riang gembira.
Menitip pesan pada cerianya ia ke rasaku, bagaimana melanjutkan masa depannya nanti, biar ia tak punah.
Dialog rasa yang menyentakkan kearifan diri, akan kehidupan biota di telaga sungai yang kuselami.

Masa kecil itu,
adalah masa terindah yang tak terlupakan hingga kini,
dulu aku berenang di suatu lubuk di sungai itu. Ikan-ikan kecil hingga sedang menyambut kedatanganku. Aku berenang di sela bebatuan, menyaksikan ikan-ikan itu dengan kaca mata renang yang aku buat sendiri.
Ikan-ikan itu seakan berbisik pada aksara mulutnya yang lucu, dengan berbahasa batin di lorong bebatuan di dalam sungai ia menyapa?"

"Haaiii ... Sastra? Selamat siang ya!"
Sudahkah kau pulang sekolah hari ini?"
"Aku menjawab sapaannya dengan bahasa batin juga serta dengan tatapan mesra.

"Ooohhh ... lirihku dalam hati, indahnya sayap-sayapmu wahai ikan yang berenang, dan siripmu unik berkilauan di badanmu wahai ikan, kau adalah sahabat biota sungaiku.

"Ooo... ya Sas?
Ajari aku tentang makna cinta dan kasih sayang manusia terhadap kami di sungai ini, biar kami tak punah di kemudian hari nanti.
Padahal aku diciptakan untuk memenuhi konsumsi hidupmu sastra dan hajat hidup orang banyak juga.

"Aahhhh,
aku hanya diam beribu bahasa bahwa sang maha jiwa menitipkan pesan pada kelestarian alam di negeri kami.

********
Seperti biasa ketika hari mulai senja, aku terbiasa memancing di tempat pemandian itu,
menunggu pancingku mulai menyapa, dengan getaran-getaran kecil, seakan pertanda rezeki mulai ada.
Aku sempatkan menatap kunang-kunang malam menerangiku,
dengan sebuah pancing bermata kail dan secuil umpan untuk kularung ke dalam lubuk-lubuk ikan itu.

Berharap ada rezekiku pada senja ini yang akan aku bawa pulang untuk dimasak di rumah nanti.

Di keremangan malam,
aku duduk di bebatuan beberapa menit sambil menyambut sang rembulan menampakkan wajahnya di balik awan.
Tak berapa lama, umpanku di sambar ikan, aku haru harap-harap cemas semoga aku bisa mendapatkan ikan ini. Dan ternyata ikan itu memang aku dapatkan, ia menggeliatkan tubuhnya seakan ingin melepaskan diri, padahal bisiknya tadi siang, ia telah rela tubuhnya digoreng untuk dimakan, memang ia diciptakan untuk sebuah kehidupan juga.

Dekade demi dekade telah berlalu dan pada tahun yang lalu aku ke sana,
di tempat kenangan masa kecilku dulu bermandian.
Kawan-kawan kecil dulu,
aku sambangi mereka satu persatu mengajaknya ke tepian kenangan senja itu.
"Aku bertanya pada mereka?!
kenapa rona sungai ini tak seindah dulu kawan?" dan ke mana ikan-ikan kecil sebagai sahabat kita dulu tak tampak lagi kini?
Lantas mereka menjawab dengan penuh semangat, dan sedikit berbahasa diplomatis. "Ya, Sastra. Bahwa tepian mandi kita dulu ini sudah tergerus banjir bandang berkali-kali dan ikan yang berenang bersamamu dulu telah punah sudah oleh prilaku segelintir orang kampung menyentrum bahkan meracuninya juga.

"Waahhh... ironis sekali, lirihku.

Ketahuilah Sastra, mereka yang menyentrum dan meracuni biota sungai itu adalah saudara-saudaramu juga lo sastra.
Ia adalah Jonal Pendra kakak kandungmu salah satunya.
Lantas aku kaget dan tertawa sejadi-jadinya, hahahaha... karena geli,
yang aku maki ya saudaraku sendiri.
Sayangnya kemaren aku pulang, dia tak sempat aku temui.
Ingin aku melarangnya dengan bahasa indah, bahwa membunuh ikan tanpa melindungi anak-anaknya kembali adalah kenistaan yang sempurna, dan biota sungai itu sejarah kita juga.

Bertanya pada goresan maya di lembaran ini, menitip pesan kepada Pak Wali Nagari pada kesan tirani sifat di kampung yang tak mau dimengerti akan lestarinya sungai itu kembali.

Dulu, masa kejayaan periode kepemimpinan daerah, ada aturan menjaga kelestarian sungai kita secara bersama-sama.
Bahkan rekomendasinya hingga ke badan hukum dengan peraturan ke pihak yang berwajib, dan aturan hukum adat tentang konsekwensi prilaku anak negeri itu sendiri.

Kini, dengan secercah harap
tertitip doa dan salam kepada aparat setempat di Negeri Kubang dan Bayang sekitarnya.
Tolong bangun kembali sistem melestarikan perikanan di sungai itu, biar ikon kehidupan sungai tak habis ditelan masa.

Kita semua berharap, kearifan dulu lestari kembali.

Siapa,
dan mengapa sebegitu punahnya regenerasi ikan itu di negeri sendiri.
"Aahhhh ....

HR RoS
Jakarta, 23-07-2016, 19:27





NOKTAH DI TENGAH BADAI
Romy Sastra II


menari rinai dalam buaian kasih
menetes jatuh ke lubuk hati
terlena sesaat di ayunan sang bayu
seakan bahagia telah tergenggam sudah
padahal,
skenario opera cinta kamuflase setia
"oohh, sang pemimpi bahagia sesaat
diundang lara jadi panggung derita
indahnya kemilau manik-manik pesta
tergoda pada renda bersulam sutra
kenapa rapuh sulaman pada janji
robek di bibir manis
terpukau berbuah rayu
nada nyanyian hatinya tak seirama
tarian indang berujung malang

pada riak awan
tak kisah meluluh-lantakkan pesta
mendung menetes di panggung kenduri
tiang-tiang pengantin berantakan
bercerai-berai
pupus sudah bahagia didamba
tertipu malu pada rayuan gombal
menangislah kawan, jika beban itu kan pergi

"kawan..."
kenapa badai rumah tangga yang dibina
baru saja menikmati cincin perkawinan
seketika,
membawa kehancuran noktah cinta di depan penghulu
kau yang telah berpayah menjalin renda
akhirnya robek juga

kisah antara pencinta sang Dewi bersanding di singgasana Arjuna pendusta
di pentas pagar ayu
rumah tangga istri pertamanya tertipu
yang kedua lebih tertipu

kenduri yang bersolek dusta
setelah ijab kabul di depan penghulu
buyar menikam malu,
noktah di tengah badai pecah berantakan,
janji tertunai, kasih tergantung dengan deraian air mata

Pesta usai belum pada waktunya
maruah tergadai
dalam kasih yang tak sampai
sedihnya mencintai sang gombalis
lebih baik tutup saja noktah sebelum luka kian berdarah

HR RoS
Jakarta,02,06,2017
#fiksikonflikkenduri





RINDU YANG TELAH KARAM
By Romy Sastra II


aku larung napas dalam rentak tak terpijak
bergetar nadiku iringi puji-puji tasbih
kuhimpun sami' kukulum kalam
hentikan hayatan nafs sesak tak perduli
melebur ke ruang sukma diri
terbuka jendela bashiran
kumatikan nafsu,
aku fana, mati di dalam hidup

jauhh rindu kupacu
berlayar di dalam jiwaku
hingga rinduku karam
noda-noda cinta berhamburan
yang melekat di kulit ari keraguan iman
berganti dengan nada-nada cinta mengasyikkan

bersemayamnya maha kekasih
bersentuhan tak teraba asyik berkasihan
rinduku karam pada kematian nafsu
terdampar di istananing mahabbah Tuhan
menikmati jamuan surgawi
ia adalah IA sendiri

HR RoS
Jakarta, 02,06,2017





SOLILOKUI DIRI MENCARI DIRI
Romy Sastra II


Telah aku gelorakan nafsu mencicipi hidangan bermain di ujung lidah, dari kekangan segala ingin pada pertarungan iman dan batin di shaum siang tadi.
Ternyata nikmatmu wahai si penggoda, hanya di batas tenggorokan saja.

Diri berpayah-payah mencari diri,
di mana jamuan terlezat berada?
Aku cari di kantin-kantin, kujejaki kuliner trotoar di pinggir jalan, ternyata tak satu pun yang mampu pesona kuliner itu membuat aku terpana.

Diri mencari diri,
mengikuti jejak-jejak wali bersufi, pada kajian lelaku bershaum nafsu sepanjang ruh menyelimuti, tak mau menyentuh aroma nikmat sesaat menggoda.

Aku dicubit pedih oleh hening, tak lagi memikirkan nafsu, yang kupikirkan perjumpaan kerinduan. Betapa lezatnya rindu telah terhidang di dalam sukmaku, dan bertahtanya kemewahan tiada tara.
Aku malu pada batinku, ternyata kuliner terlezat itu adalah makrifatullah.

HR RoS
Jakarta,29,05,2017





SOLILOKUI
TOPENG DI BALIK RUPA
Romy Sastra II

topeng berselimut bayang, disanding rupa melati berwangi kesturi
sering berkaca pada rasa, hasrat meminjam rupa pada bulan
sedangkan kejora selalu membayangi aurora ingin berpesta di malam hari

wahai diri, sadari, takdir telah ditentukan dari azali, untuk apa bermain bayang di tangan yang kotor, bersolek seperti bidadari kesiangan
lebih baik kilaukan rupa pada tirta religi memandu relung-relung jiwa bersayap ruhani, kan terlihat jelas ekspresi ilahi pada wajah nan manis

diri yang tak pernah sadar memandang pelangi, sebab hadirnya sesaat seperti imaji membayangi, kadangkala diri cemberut di depan kaca, seperti tak pernah puas pemberian dari azali, duhai diri, mengertilah
tanggalkan wajah nan bersolek di balik topeng-topeng mewah, gantilah dengan hiasan dedoa, menjadi senyuman nan berkah

HR RoS
Jakarta, 29,05,2017





#Puisi_Sufi
JIWAKU DAN TUAN GURU ITU
Romy Sastra II


lembah-lembah diri kuselami
menurun mendaki melafaz kalam Ilahi
jalan-jalan terjal kutelusuri
memasuki alam jiwa, rongga rimba raya
aku dan nafsu itu
mengikuti jejak langkah tertatih
jerih payah tak lagi dirasai

di aliran nan tenang sesuatu bertapa bisu
di balik batu berkilau zamrud
seperti bercermin di telaga kaca rasa
sesuatu itu bersabda, ia maha jiwa
sang jiwa penunggu kasta itu berbisik

duhai yang terlena payah
jangan jauh-jauh mencari cinta
selami saja lautan terdalam
jangan takut tenggelam
di dasar jiwa itu mutiara tersimpan

duhai yang menengadah ke langit jiwa
di tingkat makam yang tinggi
makhota cinta bertahta
untuk apa engkau datang kemari
yang hanya membawa jera
padamkan pelangi melingkari galaxi diri
biar tak tergoda dengan ilusi

tuan guru nan bergelar mursyid sejati
aku datang kemari membawa cinta
izinkan aku bertanya tentang azali berdiri
ya tuan penunggu sagara alam diri

baiklah....
coba kau pegang tongkat alif, jangan dilepaskan walau sesaat
dan jangan kau berdiri di kakimu itu
jangan pula kau duduk di tilam permadani
tetapi,
berpijaklah di tempat rasamu bersembunyi
kau kan tahu rasa yang sejati
bersilalah pada embun-embun malam
pada ruang yang teramat sunyi
walau sesak menyeruak berdinding pekat
tak dapat melihat abstrak
bercumbulah dengan lafaz tasbih berbisik
kan kau dapatkan khair-khair rahsi

di sana sabda itu dibisikkan
di pertemuan pintu Ar-Rabbani
la illaha illa ana, innani anaallah
pengakuan IA.

fa subhannallazi biyadihi....
akhir kalam ayat berjanji

subhanna rabbika robbil izati....
ia adalah penutup segala doa untuk-Nya

sesungguhnya itulah sabda tuan guru
membuka jalan tajali
meminta petunjuk jalan akan azali
IA keakuan kesucian-Nya yang segala maha
nyata tak terbantah

mursyid memanggil pulang
kembalilah turun ke mayapada wahai jiwa
pegang nukilan tauhid Ilahi
jangan dilengahkan
meski langit itu kan runtuh ke bumi

HR RoS
Jakarta, 28,05,2017





#Haibun_Klasik
#I
Tema: HARAPAN MENUJU SUKSES
Judul: PELUH AYAH BUNDA EMBUN DOA
Karya: Romy Sastra II


Luruh risau demi cinta terhadap buah hati. Dikau ayah dan ibu, perjuanganmu. Tak kenal lelah mencari sesuap nasi tuk membesarkan darah daging sendiri.

Sedangkan peluh menganak sungai di sela pori, embun doa itu tak kau hiraukan lagi. Isyarat pengabdian kasih dan amanah dari Illahi, ikrar noktah di depan penghulu, kala itu. Ayah dan Ibu berjanji sehidup semati.

Kala senja tiba,
lilin menyala di tengah rumah, tak sampai pagi pijarnya redup.
Lilin isyarat pelita di malam buta, penerang lorong-lorong gelap di setiap jejak masa depan kau lalui.
"Ayah, Ibu, kuberharap pada Ilahi.
Hidupkan dikau seribu tahun lagi, serasa malaikat penjagaku engkaulah wahai, Ayah dan Ibu....

Dari tengadah
Awal ikhtiar doa
Memohon asa

HR RoS





#Haibun_Klasik
#II
Tema: HARAPAN MENUJU SUKSES
Judul: BERBAKTILAH ANAKKU
Karya: Romy Sastra II


"Oh, anakku?" Kini kau telah dewasa, tataplah wajah renta ini! Tergurat jerih demi kasih sayang tak berujung untukmu. Meski jalan ini menanjak dan menurun, Ayah dan Ibu lalui.
Satu pinta Ayah dan Ibu, berbaktilah dikau nanti!
Jadilah pelanjut regenerasi yang berbudi. Raih cita-cita setinggi langit, tapi rendahkan hatimu sedalam segara biru, karena di sana mutiara terindah kau temui, dan semoga pelita tak padam di dadamu tuk berbakti, "oh, buah hatiku.

Terik hampir tenggelam menyapa senja
jika dian di tengah rumah nanti padam, nyalakan seuntai ayat suci pengantar religi ke nisan teronggok sunyi di batu nisan. Guncangkan arasy dengan lantunan doamu, kirimkan amal surgawi ke haribaan Ilahi tuk Ayah dan Ibumu nanti. Ya, anakku....

Pelita hati
Dikau harapan kami
Ayah Ibumu

HR RoS





#Haibun_Klasik
#III
Tema: HARAPAN MENUJU SUKSES
Judul: BUAH JATUH TAK JAUH DARI BATANG
Karya: Romy Sastra II


"Ayah, senja itu akhirnya datang jua.
Sunset di dada langit, berwarna jingga keemasan. Seakan menitipkan kilau misteri, pertanda pengabdianmu selesai sudah tentang dunia berwajah sementara. Daun-daun berguguran ke bumi, ranting-ranting meranggas di dahan berjatuhan, berharap siklus tunaskan kembali.
Wahai angin nan membawa sepoi, bawalah gumpalan awan hitam menyimpan hujan jatuh ke tanah. Harap gersang berlalu pergi, berganti subur kembali.

Sedangkan kehidupan ini terus berlanjut, batang enggan melapuk jadi tunggul berdebu, digantikan oleh jamur-jamur nan gampang layu.
Tirani getah mengaliri di seluruh batang dan ranting, biar daun-daun bermekaran, putik berbuah menjadi matang mencipta bibit tak lekang oleh hujan dan panas pengganti history nan telah diam bersemayam di ruang sunyi....

Sunyi abadi
Bibit tumbuh kembali
Siklus sejarah

HR RoS





#Haibun_Klasik
#IV
Tema: HARAPAN MENUJU SUKSES
Judul: MENTARI SELALU BERSINAR
Karya: Romy Sastra II


Malam telah berganti fajar menyingsing pagi, prosa diri tertoreh di labirin diksi. Sinopsiskan cerita hidup pada untaian haibun selaksa dendang tak bernyanyi. Pelangi jembatan warna menyapa gita tentang dunia ini indah, berpacu bersama mentari pagi, daku melarung kelam ke dalam cahaya, tertutup hiba berganti ceria, biarlah yang berlalu diam bersama sejarah.

"Oh, terik pagi. Pijar malam padamkan! Biarkan awan hitam yang berlalu menjadi langit biru, sebiru riak menari bersama camar-camar bernyanyi di lautan lepas. Percaya akan kemurahan yang maha kuasa, hidup berlanjut tak tersia-sia asalkan mau berikhtiar dan berdoa.
Tuhan maha pengasih, hanya kepada-Nya kita tempat meminta, semoga harapan menuju sukses dapat diraih hendaknya, aamiin....

Mentari hati
Pembuka hajat diri
Terus berdoa

HR RoS
Jakarta, 10/04/2017





MENATAP IA DENGAN TAFAKUR
Romy Sastra II


aku puisikan bait-bait larik jiwa
menatap sekejap ke dalam otakku
dengan jalan membunuh inderawi
duduk bersila bak budha menatap nirwana
tiada bermantera tak berkomat-kamit
yang kubawa hanya secercah rasa
seketika gumpalan pelita hadir bak kejora
menerangi alam batinku
tercipta dari keheningan sesaat

aku dan nafsu itu
berpacu mengejar tempat tertinggi
pada kasta-kasta iman menggoda diri
ialah menatap kerlip sang maha mega
di puncak fana terhenti
menyimak yang sejati
ataukah labirin menyesatkan di balik tirai ilusi

segala nafsu lelah terbakar sirna
di keheningan malam di wajah baitullah
indah kerlip cinta bertaburan cahaya

aku dan diriku
membunuh hasrat doa
tiada yang kupinta
selain ingin menatapnya saja
bahwa sesungguhnya Dia masih ada, memelukku
pada janji yang tak pernah diingkari-Nya
bahwa jiwa ini tak berjarak dengan Maha

aku haru,
dosa-dosa itu seakan berguguran
tubuh runtuh bergemetaran
pada terjawabnya asholatu daimullah
semoga itu pertanda ibadahku diterima-Nya
innallaha latukhliful mii'aad
dalam khyusu' sesaat
aku dan diriku lebur lenyap dan fana
fana menyentuh maha rasa
bersatu padu, yang ada hanya DIA

HR RoS
Jakarta, 27,05,2017





KWATRIN TABUR BUNGA
Romy Sastra II


Ia gugur kemarin, bertarung melawan ajal tragedi kematian
Menyongsong sisa-sisa napas akan habis, pertarungan terhebat tak terkalahkan
Matilah sekujur badan kepergiannya, awal kehidupan menempuh keabadian
Selimut putih pembungkus bangkai, amal-amal itu sebagai pertolongan

Tunas-tunas nan tumbuh, taburkan bunga di pusara titipkan doa
Ramadan hampir tiba usah berlinang air mata
Sedangkan bangkai di alam kubur bias, tinggal tulang-belulang tersiksa
Adakah jasa tatkala di dunia berbuah pahala, ataukah tertitip di perjalanan sepi sia-sia

Jembatan anak yang shaleh itu doa, sampaikah dikirimkan?
Sedangkan al-fatihah tak fasih dibaca masih dalam ejaan
Sungguh malang anak dibesarkan
Ketika ruh menjerit kehausan tak dapat pertolongan

Tabur bunga di pusara iqtibari diri
Hidup di dunia tak abadi
Setiap yang bernyawa pasti mati
Jangan bermain-main dengan misteri

HR RoS
Jakarta,25,05,17






TUHAN MAHA NYATA
Romy Sastra II


Tuhan
tidak tidur
IA melihat segala yang nyata dan ghaib
tak pernah ngantuk
sekejap IA tertidur lebur yang ada

Tuhan
tak pernah makan,
sebab IA bukan makhluk
IA lapar dan haus ingin disapa
IA Khalik, sumber nutrisi lahir dan batin

Tuhan
IA nyata dan tersembunyi
berwujud tak berwarna
tersembunyi di pikiran yang dungu
padahal IA nyata ada di hadapan kita

Tuhan
IA bukan alam mayapada
bukan benda
bukan juga cahaya
IA Dzat Awas menyelimuti segala yang ada

Maka,
sadari rasa
IA bersemayam di jiwa-jiwa yang peka

HR RoS
Jkt,240517



#Puisi_Kolaborasi
MENANTI YANG TAK TERNANTI
By Pelangi Senja and Romy Sastra II


Sepanjang jalan
Bulan mengekoriku tiada henti
Terkadang rindu berlindung di balik kabut
Bersembunyi di balik awan

Namun, seketika terlihat lagi, merupa
Resah tatapan di minda tanya
Kulemparkan saja senyuman pada langit
Melambai bulan di perbatasan angan
Ternyata dunia ini bulat

Sayangnya, ia tenggelam silih berganti siang dan malam
Pasang dan surut kehidupan
Adalah lumrah pada tiap bergelar insan

"Ooh... bulan, ke mana bintang yang memagari galaxi
Nanti kucuri rindu dikau simpan di hati
Adakah kau sudi candra bernyanyi

"Ooh... candra, aku pergi saja
Nanti malam atau esok lusa kita ketemu lagi
Walau hanya kulihat dikau di langit tinggi
Tak mengapa, aku rela menantimu di sini
Di perbatasan hati yang cemas ini

Selangor Jakarta, 10,06,17





KEKASIH TELAH PERGI
Romy Sastra II


moment itu terbuang sia-sia
ketika penantian yang panjang berlalu
padahal setahun sudah aku menantimu
kini dia telah pergi
meninggalkan pesan-pesan yang tersisa
pesan napas ibadah berhikmah

sedih kini,
karena kemaren tak selalu bersamanya
hikmah yang dia hidangkan tak kucerna
aku menyesali,
tak berjubah dalam penjara cinta
teralis itu terlalu rapuh kupatahkan

oh,

kesetiaan cintanya terbuang begitu saja
yang dia persembahkan di ujung-ujung malam
ya ramadan

malam hikmah
malam yang indah
malam melebihi indahnya seribu bulan tak kujumpa

kepergianmu begitu santun
meninggalkan pesan
pesan fitrahnya di hari raya
se-isi alam, bahkan arasy
menghantarkan kepergianmu
dengan lantunan syahdu
takbir, tahmid, tahlil, tasbihmu menggema
daku di bumi,
luluh runtuh segala peluh ruh
pada suara fitri mendayu
jika umurku ada di tahun nanti
berharap dikau kutemui kembali

ramadan,
cintamu tak pernah pudar
sedangkan cintaku rapuh,
jalan yang kami tempuh berliku
dosa ini entah terampuni entah tidak
semogalah fitrah daku kembali
seperti bayi terlahir ke bumi

di keheningan lamunan ini
malu menyapa rasa
layakkah aku menjadi hamba-Mu ya Allah
mmm, entahlah
karena moment memory puasa itu
aku menyia-nyiakannya

HR RoS
Jakarta, 170617





OBATMU TERDAPAT DI DALAM DIRIMU
Romy Sastra II


Ketika sadar terpikirkan tujuan
Jangan lari dari kenyataan
Merasa perih tak ada penawar
Sedangkan Tuhan bersamamu, menyediakan segala kebutuhan

Jangan gelap bermain api,
kan terbakar nanti
Sedangkan cahaya hati selalu menerangi

Apakah kamu tak menyadari penawar lara
Ia berasal dari dirimu
Kenapa kamu tak mengetahuinya?
Kau mengira hatimu satu benda yang kecil

Namun
Di dalam hatimu
Termuat alam yang begitu besar
Segala lara ada obatnya
Surga dan neraka ada di dalamnya
Bahkan cinta dan benci bergandengan
Tak berjarak seperti misykat tak terlihat
Nyata mengikat erat sebuah perjalanan

Unsur tubuh kearifan ruh
Maka, kenalilah sang Maha Ruh
Hingga sakit terasa nikmat
Berjalanlah dengan pedoman
Biar tak tersesat jalan menempuh kehidupan dan kematian

HR RoS
Jakarta, 130617
#menjawab_syair_Syaidina_Ali





#Puisi_Kolaborasi
MENANTI YANG TAK TERNANTI
By Pelangi Senja and Romy Sastra II


Sepanjang jalan
Bulan mengekoriku tiada henti
Terkadang rindu berlindung di balik kabut
Bersembunyi di balik awan

Namun, seketika terlihat lagi, merupa
Resah tatapan di minda tanya
Kulemparkan saja senyuman pada langit
Melambai bulan di perbatasan angan
Ternyata dunia ini bulat

Sayangnya, ia tenggelam silih berganti siang dan malam
Pasang dan surut kehidupan
Adalah lumrah pada tiap bergelar insan

"Ooh... bulan, ke mana bintang yang memagari galaxi
Nanti kucuri rindu dikau simpan di hati
Adakah kau sudi candra bernyanyi

"Ooh... candra, aku pergi saja
Nanti malam atau esok lusa kita ketemu lagi
Walau hanya kulihat dikau di langit tinggi
Tak mengapa, aku rela menantimu di sini
Di perbatasan hati yang cemas ini

Selangor Jakarta, 10,06,17





KADO UNTUK TUAN SASTRA
RUANG PEKERJA SENI TANJUNG BALAI
By Romy Sastra II


tuan
tiga tahun sudah jejak tinta kutorehkan ke persada maya, daku titipkan selarik kata di pucuk rasa menari pada kertas yang hampir lusuh, tintaku yang lama membisu kini kembali berbenah

kalau tidak karena tuan ada di sini, tak mungkin ada bingkai-bingkai sastraku di lemari mayamu, tuan kemas rapi

tuan
layaran tintaku selalu menepi tak ingin terlalu jauh berlayar bukan takut tenggelam, daku selalu mencari tempat keberadaan yang sunyi tuk memadah yang ada dan tiada, sebab tintaku masih mentah tuk dilarung ke samudera terjauh

tuan
di ruang pekerja seni ini kita tersenyum
usia boleh bertambah sisa umur kian berkurang, dan mati
sedangkan lemari seni ini tetap berjaya hingga beribu tahun lamanya, dikau menyusun rapi talenta-talenta sastra yang tuan kelola tanpa pamrih, justru senyuman mesra dikau hadiahkan kepada kami, tuan

di haul yang ke delapan ini kami tak mengirimkan kado-kado seremonial di ruang mayamu tuan, melainkan wejangan diksi-diksi basi kukirimkan di ruang seni yang tuan bina
meski tak berharga tinta ini kumadah saat ini, tapi ia akan menjadi sejarah sepeninggalku nanti di dunia ini, bersamamu tuan

selamat ulang tahun Grup
RUANG PEKERJA SENI
di bawah asuhan abangnda
Ahmed El Hasby semoga RPS berjaya selamanya

HR RoS
Jakarta, 060617. 03:00





#Repost_Cerpen
SI DUNGU DAN SABDA TUAN GURU
Romy Sastra II


__untuk menempuh ujung jalan
haruslah melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat itu
adalah diri sendiri__

Di sudut ruang di belakang pintu
santri dungu belajar bodoh.
Saking dungunya, menatap sang tuan guru.... Ia malu tertunduk kaku seakan menatap bisu, entah apa yang akan diperbuatnya tak tahu. Hanya sesekali mengangkat kepala, melirik sekeliling deretan duduk santri,
siapa-siapa saja yang hadir datang memetik hikmah di malam-malam indah di gubuk sepuh yang tak dikenal oleh kalangan santri modern.

Seakan sepuh ini, tak kelihatan berdiri di tempat yang terang,
dilengahkan begitu saja oleh glamournya dunia.
Anehnya, aksara jiwa yang di-eja-wantahkan sang guru,
sang dungu nyambung denga
n bimbingan rasa yang diasah melalui kedisplinan olah batin sang santri patuh.
Sang dungu belajar bodoh,
dungu tak mengerti sama sekali
jalan-jalan santri di kitab fikih.

Duduk diam santun menyulam bisu
hening memahami pituduh meneliti makna-makna jiwa, dan merenungi sejarah kolosal agama
pada jejak-jejak wali di peradaban tanah Jawa serta nusantara, bahkan kisah para wali di dunia ke-islaman itu sendiri, yang dikupas di setiap malam purnama.
Sang dungu, asyik bersandar di tiang kerlipnya lampu-lampu menara di ruang sukma, seperti kejora bertaburan di arasy tertinggi, padahal hanya di titik batin ia bersembunyi.
Dungu adalah aku, si murid yang patuh. Hanyalah patuh pada perintah sabda-sabda cinta, menerangkan tentang kemulian akhlak Rasulullah dan lelaku para wali-wali Allah. Wejangan sang guru yang paripurna
seakan jiwa ini terbang melayang ke bait-bait Baithullah.

"Wahai... murid-muridku yang dalam perjalanan menuju cahaya ruh yang mulia. Sahut sang guru pada pertanyaan hakikat kepada santri yang memahami siloka guru yang mengandung makna.

"Di mana berdirinya Alif di dalam dirimu wahai santriku?
Para sang murid terdiam, selepas sang guru memberi isyarat pertanyaan yang sulit terjawab bagi santri yang belum tahu jalan kematian fardu 'ain.

Sedangkan sang guru memerhati sangat gelagat si dungu, tentang kebodohannya, dari pertanyaan tuan guru itu.

Ia dungu, tetap diam dan terpejam seakan menggali sendiri makna pertanyaan baru saja terlintas dari gurunya.

Sang guru, tak ada rafalan mantera dan kalimat sakti yang dititipkannya sebagai perisai diri kepada para murid-muridnya.
Hanya nasehat-nasehat dan cerita kolosal yang guru kiaskan melalui duduk yang rapi di hadapan santri-santrinya itu.

Sembilan puluh enam malam purnama, dungu bertapa di gua ketawadu'an sebagai santri muda di hadapan guru. Tak pernah sama sekali dititipkan amalan dan diperintahkan melafaz kalam,
dan membungkus rafalan untuk dibawa pulang kepada peraduan hari-harinya. Si dungu tak merasa menadah bingkisan uluran hikmah dari setiap pertemuan sembilan puluh enam purnama berjalan.
Melainkan hanya pasrah pada kebodohannya. Bahwa ia si dungu memasrahkan saja perjalanan santri jiwanya pada kehendak Ilahi, di mana saja ia berada.

Pasrah pada takdir, ruh "DIN" yang ia yakini, sesungguhnya Alif berdiri pada rasa batin yang jujur tak ternoda barang sedikitpun.
Alif berdiri di Ka'bahtullah, dititipkan sang Khalik dari azali berdiri, hingga pada pemberhentian napas terhenti di ujung sesak pada rongga dicabut misteri.

Aku sang dungu, percaya pada keyakinan tutur sang guru. Ketika telepati sang guru memadah sukma
menitip pesan pada telik sandi sang dungu, di ruang-ruang batin nan sunyi. Si dungu tersenyum menerima rentetan jawaban dari aksara batin sang guru pada kedunguannya tentang duniawi. Ia selalu diam dan menyimak saja tutur-tutur rasa yang tak berwujud tuk dimengerti di antara ilmu jiwa dan cinta, asyik berkomunikasi memaparkan rahsa rahasia batin antara sang guru dan si dungu.

Pada malam kesekiannya, sang guru menjabarkan kedudukan si dungu. "Ketika kau dungu, kau yang selalu setia memandu perguruan ini.
aku akan menyambangimu setiap hari, dan selalu ada di sampingmu meski kau berkelana ke ujung dunia, tersadar dikau atau pun tidak, aku selalu menuntunmu. Dan kau berada di lobang semut sempit sekalipun, aku mengikuti langkahmu ke mana pun kau pergi.

Dan itu terbukti,
ketika sang dungu menanyakan perihal tabir tebal tertutup gaib silsilah keturunan dari azali hingga peradaban sesudah ia tiada nanti.
Bahkan menjabarkan history dunia seiring konflik zaman di mayapada ini.

Ia sang guru,
memaparkan sangat tepat sekali.
Dungu semakin bodoh pada linuwih batin sang guru sepuh.

Santri mengejar bodoh mengikuti jejak sufi
berjubah cinta yang rela.
Mewaspadai noda-noda jas roh memandu langkah selama sembilan puluh enam purnama, bertapa di malam-malam buta, dengan segelas jamuan kopi penahan kantuk, hingga fajar menyingsing di balik jendela rumah tua.

Pada masa keniscayaan hari, selama mondok di gubuk reyot guru sepuh. Si dungu mengikuti jalan realiti kehidupan telah berbuah prediket bodoh. Di perantara nyata dan gaib, tanpa berkomat-kamit titah itu tersingkap. Si dungu diuji dengan sebuah opera kakek si peminta-minta. Si dungu semakin awas lan waspada akan sebuah ujian dari opera titik akhir pengabdian sang murid yang setia akan titah pituduh aksara tutur sang guru, selama sembilan puluh enam purnama menempa jalan-jalan sunah.

"Aahhh... senyum sang dungu semakin merekah pada telik sandi rahasia sepuh. Matanya semakin mendelik, rasa batinnya semakin halus, budinya semakin dipekerti, jiwanya semakin cinta,
ruhaninya semakin diasah,
jeli pada telik sandi rahsa sebagai santri. Yang ia hanya mengejar prediket bodoh, ya bodoh, pada kalimat; lahaula walakuata illa billahil aliyil adzim.

Memahami ujian jangan sampai lupa pada kegagalan insan yang sempurna.

Antara tutur tinular aksara sang sabda tuan guru dan murid yang didamba.
Ia adalah rahasia menyambut amanah, di sanalah estapet tercurah.

HR RoS
Dinukilkan dalam history
HR Romy Sastra
Jakarta, 26-5-2016. 16:56.





#Repost
"Prosa secangkir kopi untuk negeriku"
KETIKA MASA PULANG SEKOLAH
AKU DAN IKAN KECIL ITU
Oleh Romy Sastra II


Nagari Kubang Bayang
Pesisir Selatan, Sumatera Barat
memanggilku pulang, masa lebaran tahun kemaren, satu tahun telah berlalu. Kini, ia ranah itu seakan memanggil kehadiranku kembali.

Sinopsis kisah di sungai itu,
ia tetesan dari sumber berbagai mata air dari gunung, menyatu menjadi anak-anak sungai kecil. Riaknya aliran menjadi induk sungai "BATANG BAYANG" dari hulu mengalir ke hilir berlabuh ke muara.
Catatan harian, masa kecilku semasa pulang sekolah.
Aku terjun ke sungai bersama kawan-kawan setiap hari selalu kami lakukan.
Riang gembira berenang di sekitar air tenang di tempat pemandian,
air Batang Bayang membelah negeri-negeri kami sampai ke samudera.

Sungai itu, saksi sejarah alam untuk keberlangsungan berbagi kehidupan dan biota dari rahmat yang maha kuasa.
Menitipkan pesan pada kearifan alam untuk peradaban,
demi lestarinya regenerasi kehidupan negeri-negeri kami
yang terus berlanjut hingga kiamat nanti.

Kenapa aku tulis cerita secangkir kopi?"
Kukirimkan ke persada maya. Testimoni cerita masa kecilku, untuk membangunkan anak-anak negeri yang telah tertidur mengenang masa kejayaan dulu.
Negeri kami dilimpahkan anugerah yang banyak dari sang pencipta alam.
Salah satunya adalah ikan-ikan yang berenang bersamaku ketika aku mandi di siang hari.
Segerombolan ikan berbondong-bondong mencubit kulitku, seakan-akan anak ikan itu mengajak bermain petak umpet riang gembira.
Menitip pesan pada cerianya ia ke rasaku, bagaimana melanjutkan masa depannya nanti, biar ia tak punah.
Dialog rasa yang menyentakkan kearifan diri, akan kehidupan biota di telaga sungai yang kuselami.

Masa kecil itu,
adalah masa terindah yang tak terlupakan hingga kini,
dulu aku berenang di suatu lubuk di sungai itu. Ikan-ikan kecil hingga sedang menyambut kedatanganku. Aku berenang di sela bebatuan, menyaksikan ikan-ikan itu dengan kaca mata renang yang aku buat sendiri.
Ikan-ikan itu seakan berbisik pada aksara mulutnya yang lucu, dengan berbahasa batin di lorong bebatuan di dalam sungai ia menyapa?"

"Haaiii ... Sastra? Selamat siang ya!"
Sudahkah kau pulang sekolah hari ini?"
"Aku menjawab sapaannya dengan bahasa batin juga serta dengan tatapan mesra.

"Ooohhh ... lirihku dalam hati, indahnya sayap-sayapmu wahai ikan yang berenang, dan siripmu unik berkilauan di badanmu wahai ikan, kau adalah sahabat biota sungaiku.

"Ooo... ya Sas?
Ajari aku tentang makna cinta dan kasih sayang manusia terhadap kami di sungai ini, biar kami tak punah di kemudian hari nanti.
Padahal aku diciptakan untuk memenuhi konsumsi hidupmu sastra dan hajat hidup orang banyak juga.

"Aahhhh,
aku hanya diam beribu bahasa bahwa sang maha jiwa menitipkan pesan pada kelestarian alam di negeri kami.

********
Seperti biasa ketika hari mulai senja, aku terbiasa memancing di tempat pemandian itu,
menunggu pancingku mulai menyapa, dengan getaran-getaran kecil, seakan pertanda rezeki mulai ada.
Aku sempatkan menatap kunang-kunang malam menerangiku,
dengan sebuah pancing bermata kail dan secuil umpan untuk kularung ke dalam lubuk-lubuk ikan itu.
Berharap ada rezekiku pada senja ini yang akan aku bawa pulang untuk dimasak di rumah nanti.

Di keremangan malam,
aku duduk di bebatuan beberapa menit sambil menyambut sang rembulan menampakkan wajahnya di balik awan.
Tak berapa lama, umpanku di sambar ikan, aku haru harap-harap cemas semoga aku bisa mendapatkan ikan ini. Dan ternyata ikan itu memang aku dapatkan, ia menggeliatkan tubuhnya seakan ingin melepaskan diri, padahal bisiknya tadi siang, ia telah rela tubuhnya digoreng untuk dimakan, memang ia diciptakan untuk sebuah kehidupan juga.

Dekade demi dekade telah berlalu dan pada tahun yang lalu aku ke sana,
di tempat kenangan masa kecilku dulu bermandian.
Kawan-kawan kecil dulu,
aku sambangi mereka satu persatu mengajaknya ke tepian kenangan senja itu.
"Aku bertanya pada mereka?!
kenapa rona sungai ini tak seindah dulu kawan?" dan ke mana ikan-ikan kecil sebagai sahabat kita dulu tak tampak lagi kini?
Lantas mereka menjawab dengan penuh semangat, dan sedikit berbahasa diplomatis. "Ya, Sastra. Bahwa tepian mandi kita dulu ini sudah tergerus banjir bandang berkali-kali dan ikan yang berenang bersamamu dulu telah punah sudah oleh prilaku segelintir orang kampung menyentrum bahkan meracuninya juga.

"Waahhh... ironis sekali, lirihku.

Ketahuilah Sastra, mereka yang menyentrum dan meracuni biota sungai itu adalah saudara-saudaramu juga lo sastra.
Ia adalah Jonal Pendra kakak kandungmu salah satunya.
Lantas aku kaget dan tertawa sejadi-jadinya, hahahaha... karena geli,
yang aku maki ya saudaraku sendiri.
Sayangnya kemaren aku pulang, dia tak sempat aku temui.
Ingin aku melarangnya dengan bahasa indah, bahwa membunuh ikan tanpa melindungi anak-anaknya kembali adalah kenistaan yang sempurna, dan biota sungai itu sejarah kita juga.

Bertanya pada goresan maya di lembaran ini, menitip pesan kepada Pak Wali Nagari pada kesan tirani sifat di kampung yang tak mau dimengerti akan lestarinya sungai itu kembali.

Dulu, masa kejayaan periode kepemimpinan daerah, ada aturan menjaga kelestarian sungai kita secara bersama-sama.
Bahkan rekomendasinya hingga ke badan hukum dengan peraturan ke pihak yang berwajib, dan aturan hukum adat tentang konsekwensi prilaku anak negeri itu sendiri.

Kini, dengan secercah harap
tertitip doa dan salam kepada aparat setempat di Negeri Kubang dan Bayang sekitarnya.
Tolong bangun kembali sistem melestarikan perikanan di sungai itu, biar ikon kehidupan sungai tak habis ditelan masa.

Kita semua berharap, kearifan dulu lestari kembali.

Siapa,
dan mengapa sebegitu punahnya regenerasi ikan itu di negeri sendiri.
"Aahhhh ....

HR RoS
Jakarta, 23-07-2016, 19:27





KEKASIH YANG PERGI KE DALAM DIRI
Romy Sastra II


Tatapan ini bertanya pada langit,
di mana istana Tuhan berada?
Langit tersenyum luas, seluas mata memandang, terpana
Wahai langit? Ke mana perginya kekasihku yang tercinta
Langit menjawab! Tanyalah kepada hatimu wahai si hamba yang lara

Lalu, seraut wajah tertunduk menatap hati, berbisik pada jiwa
Wahai jiwa? Ke mana perginya kekasihku yang tercinta
Hati pun tersenyum, seakan menitip isyarat, shaumlah sepanjang hari dan zikir
Ternyata kekasih itu tak berlalu jauh,
ia berada berjubah pada jiwa-jiwa yang fakir

HR RoS
Ngawi 270617




FITRAH SEPANJANG HARI
By Romy Sastra II


siklus masa telah berlalu
aktivitas bermula kembali
kumbang dan rama-rama di taman
masih menari seperti kemaren
selalu ceria menyambut terik
meski sayapnya tipis
ia tetap menantang matahari
menyulam hiasan hidup tuk raih masa depan

raya berangsur pergi
kenangan tertoreh di setiap moment
jejak kita tetap sama mengejar obsesi
segelintir hati pernah ternoda, fitrahkan kembali
sebab, raya masih tersisa
dan ia selalu ada di jiwa ini
seromonialkan ia sepanjang hari
semoga fitri kan kembali ditemui

HR RoS
Ngawi, 030717





KEPAL TANGAN INI
Karya Romy Sastra


di tanah ini kita berdiri
dilahirkan dari rahim ibu pertiwi
negeri ini surga yang turun ke dunia
kita jaga kelestarian dalam kasih
meski berbeda prinsip keyakinan yang ada
usah dibentangkan perbedaan
kawal perbedaan itu menuju kebersamaan

pada janji di tiang merah putih kita berbakti
satu cinta kepada cinta saling berbagi
menjaga perdamaian jadikan kekasih
seperti jari-jemari mengikat temali
putra putri bangsa bersatu
walau berbeda suku beda kayakinan
kita sama-sama satu tujuan, bertuhan

kepal tangan ini mari berjanji
satu hati dalam kasih
meski kiblat kita berdiri tak sama
dalam pijakan beriring jalan
berpelukan di dada yang terbina
menjaga kerukunan di antara kita

HR RoS
Jakarta, 100717





PELANGI DI DADA AYAH
Karya: Romy Sastra II


"Ayah, sudahlah bermain lumpur
hari sudah petang, matahari hampir tenggelam,
kodok dan jangkrik mulai bernyanyi

"Wahai anakku...
meski tubuh ayah terkubur lumpur, cangkul ini masih bisa memacul,
ayah akan pulang bila azan berkumandang,
biarkan magrib ini ayah sujud di pematang
ayah menunggu pelangi tiba
karena hujan mulai reda
di mata ayah tadi, ada rupamu menjelma
menjadi sosok ksatria di hari tuaku

"Ayah, darahmu mengalir di nadiku,
pelitamu menyinari hati ini
aku akan tetap berbakti
doakan ksatriamu memetik bintang
jika pelangi tak jua datang senja hari
pulanglah ayah!" Niscayaku tetap mengabdi
akulah darahmu, nan mengalir di sanubari
pada peluh itu, mengucur membesarkan anak-anakmu

HR RoS
Jakarta, 090717





#Quotes
BERKACA MELIHAT RUPA
Romy Sastra II


Jangan pernah bercinta,
kalau hanya mau manisnya saja
Ketika terluka tak tahu obatnya sakit

Untuk apa pandai menari,
jika tarian sendiri tak dipahami
Sedangkan lantai selalu berjungkit

Kado yang dihantarkan lewat angin,
sepoinya berharap menyejukkan batin
Kenapa aksara dikirim,
berhias ego sendiri
Semestinyalah diri ini bercermin

Pada uluran tinta yang manis,
kritis di bibir menabur gula
Kenapa dianggap pahit,
karena yang pahit memang sulit dicerna

Berkacalah diri...!!
Karena berkaca paras itu jelas sekali
Teliti sebelum membeli,
adalah kehati-hatian naluri

HR RoS
Ngawi Jawa Timur, 050717




#cerpen
Tangis Perpisahan
Penulis: Romy Sastra


Tak terbayang sebelumnya dalam hidup ini, jika layaran harus tenggelam, dermaga rapuh untuk dituju, dian pun padam.
Nakhoda seperti kehilangan arah menempuh riak di tengah samudera. Sekoci pun terhempas batu karang, tali sauh rapuh mengikat tambang, malang.

Harapan pada suatu noktah adalah kebahagiaan dan damai, meski hidup terkungkung derita, cabaran pun silih berganti datang melanda. Di sana dan di sini memanglah tak sama irama nyanyian kisah dalam dendang kepayang, bukan irama sinopsis hidup semata, melainkan realiti yang terjadi pada kisah hidup insani nan dilalui.

Rinai mulai menyapa di ujung genteng, sayup-sayup suara azan berkumandang dari corong pengeras suara, waktu magrib tiba.

"Ros, usah lagi kita begaduh macam ni, malulah sama anak, mereka sudah mulai remaja. Abang mencintaimu, menyayangi anak-anak dan menyayangimu juga Ros.

Persetan dengan rayuan manismu abang.
Aku sudah bosan mendengarkan kata-kata cinta dan sayang darimu selama ini, bang Reza. Semenjak kita mula berpacaran aku mengenalimu kau memang playboy, sampai saat ini perangai kau tetap playboy tengik!

"Pertengkaran senja itu mulai menyapa"

Kreekkk... gubrakkk....

Daun pintu dibanting seketika oleh Ros, berlalu ke bilik anaknya meninggalkan suasana risau di dada suaminya.

Kawatir akan terjadi sesuatu di dalam bilik anaknya, lalu Reza menghampiri istrinya di dalam bilik.

Ternyata Ros sudah memeluk anak-anaknya. Kebetulan anak mereka belumlah tidur, masih saja menonton televisi drama kartun serial Upin dan Ipin. Ros menangis di pelukan anak-anak mereka.

"Papa, ada apa gerangan ini mama ya, papa? Mama kok menangis pilu macam ni?" Sahut salah satu anak Reza yang sulung.

Senja mulai menyelimuti kota, di luar rumah hujan pun turun, kota berwajah temaram, menandakan hari mulai malam.

"Nak, kenapa tak belajar soalan sekolahmu, bukankah ada perintah pekerjaan sekolah tadi siang dari gurumu?" Tanya Papanya kepada si sulung, sedangkan yang bungsu diam dan ikut menangis di pangkuan mamanya.

"Papa, soalan dari sekolah sudah saya kerjakan dari petang tadi pa, "jawab si anak sulungnya.

Seketika Ros bangkit menengadah menatap suaminya, Reza. Suasana di bilik pada malam itu, tak lagi nyaman di mata anak-anaknya, yang seharusnya tak elok pertengkaran kedua orang tua disaksikan oleh anak-anak. Tapi, karena keadaan orang tualah yang tak bijak dengan mengontrol emosi di dalam berumah tangga membuat suasana runyam terlebih lagi pada si buah hati yang mulai mengerti arti hidup dari potret kehidupan orang tua.

"Abang!" Pergi dari bilik ini, Pergiii....!!"
Aku sudah muak dengan sifatmu abang, kau punya selingkuhan taunya ya?!" Bentak Ros pada Reza, suaminya.

"Tidak, Ros, tidak. Kau salah paham terhadap abang tu.

"Apanya yang tidak abang Reza?"
Kau tengoklah di dalam meseg dan koment-komentmu di facebook fonmu itu! Aku membacanya di facebook fonku sendiri.

"Ya, ampun mama?! Mama salah paham itu. Jawab Reza pada Ros istrinya.
Abang kan seorang pergurau, banyak rakan-rakan abang bersenda gurau pada abang, itu wajar, bukan berarti abang selingkuh, mama. "Alaahh... masih saja berkilah, gombal!! Dasar buaya. Makian Ros pada suaminya.

Tanpa ampun, Ros mengusir Reza suaminya keluar rumah, dengan rasa emosi kecewa dan tak ingin melawan istrinya, Reza berlalu dari hadapan anak dan istri. Air matanya tumpah di derasnya hujan. Tangisan perpisahan pecah bercampur makian tak terbendung antara Reza dengan istrinya. Disaksikan oleh anak-anak mereka, di suasana hujan pada malam hari, dingin menusuk tulang, Reza terus berlalu. Entah ke mana tujuannya yang ia ingini, hatinya gaduh, antara pulang ke orang tuanya atau ke mana ya!? Gumamnya dalam hati dalam perjalanan di lorong-lorong kota ia berjalan.
Ia tak ingin pertengkaran itu semakin panas di depan anak-anaknya. Makanya Reza mengalah pergi sementara tinggalkan anak dan istri tercinta.

Pada suatu pilihan, Reza memutuskan tuk menuju salah satu mesjid di kota itu. Reza yang basah kuyup tak membawa bekal apapun dan salinan tuk mengganti pakaiannya yang basah.

"Kenapa kau ini, anak muda? Hari sudah malam, di mana alamat rumahmu?" Ataukah kau hendak mencari alamat seseorang di kota ini ya?"
Reza yang disambut oleh penjaga mesjid tempat ia berteduh, menjawab pertanyaan penjaga mesjid itu dengan rasa gugup.

"Iii.. ii... iya pak ustadz, saya hendak mencari alamat saudara saya di kota ini, dan saya kemalaman.
"Oo, kalau begitu, istirahatlah di mesjid ini anak muda!" Sahut pak usadz penjaga mesjid itu.
"Terima kasih saya pak ustadz, atas kebaikannya.
"Iya, sama-sama anak muda.

Reza diberikan kain sarung dan baju seadanya untuk mengganti pakaiannya yang basah itu.

Pada malam itu, selepas solat. Reza berdoa memohon petunjuk pada Allah, akan problem rumah tangganya yang ia hadapi, mendapatkan jalan dengan sebaik-baiknya. Ia ingin menjelaskan kembali kesalahpahaman dengan istri tercinta.
Reza menyesali diri, kenapa ada pertengkaran dengan istri yang kucintai itu, ya Allah.

Di sisi lain, Ros pun tak larut dalam kesedihan dan kegundahan hatinya dengan suaminya. Ros berdoa pada yang kuasa memohon petunjuk juga. Semoga suaminya kembali pulang dan ia ingin berdamai dengan keegoannya dan kekhilafan suaminya.

**********

Sesungguhya mereka saling MENCINTAI....

Tapi karena telah kebawa ego dan emosi masing-masing, hingga pertengkaran terjadi yang gak sepatutnya disaksikan oleh anak-anaknya.

Esok harinya, setelah habis solat subuh di mesjid itu.
Ada sebuah kekuatan rasa memanggilnya ia pulang, menemui anak dan istrinya kembali.

Reza akhirnya pamit kepada ustadz di pagi itu, tuk melanjutkan perjalanannya. Iya terpaksa berbohong karena malu menceritakan problem yang terjadi di dalam rumah tangganya pada pak ustadz.

Reza dengan rasa optimis melangkah pulang kembali ke rumahnya, dengan jalan kaki ia berdoa dalam hati, semoga anak dan istrinya menyambutnya dengan baik kembali, bila sampai di rumah nanti. Dalam perjalanan menuju rumah, Reza menempuh dua jam lebih dari mesjid yang ia singgahi semalam, jarak dari rumahnya.

Sesampai di halamn rumahnya,
hari sudah mulai siang.
Reza mengetuk pintu....

Tok tokk tokkk... "Asalamualaikum??"

Reza dengan hati yang berdebar-debar berharap ada sahutan dari dalam rumahnya.

"Waalaikumsalam"
Jawab suara dari dalam

"Kreekk... daun pintu dibuka.

Dengan mata melotot, Ros menatap suami sedikit marah, mungkin dari rasa sisa pertengkaran kemaren petang.

"Mama, maafkan abang ya ma?"

Ros tak memperdulikan ungkapan Reza, suaminya. Istrinya diam dan berlalu pergi tinggalkan suami yang mematung di depan pintu.
Padahal di hati Ros, ia tersenyum menatap suami telah pulang kembali.
Tanpa basa-basi, Reza menyerobot saja masuk menghadang istrinya.

"Mama!?" Maafkan abang mama!!
Jika abang salah bergurau di dunia maya. Hingga membuat mama cemburu dan marah-marah tanpa ada penjelasan dari abang terlebih dahulu.

Ros mulai tersenyum dengan kata-kata suaminya, Reza.

"Iya, abangku saya maafkan dirimu" Tapi....
"Tapi apa mama?
"Abang jangan selingkuh tau.
"Hai ...siapa yang selingkuh ma?!"

"Hehe, gelak senyum Ros, pada suaminya.

"Jangan marah-marah lagi ya mam"
Rayu Reza pada istrinya, dan mama itu salah paham sama abang petang kemaren itu, lo.

Dan Ros pun meminta maaf pada suaminya, karena telah mengusir suami tercintanya dari rumah pada saat hujan
Akhirnya mereka berdamai, saling berjabat tangan dan saling berpelukan.
"Ma, abang mencintaimu mama.
Iya, abang. Mama pun sama.

Anak-anaknya sedari tadi menyaksikan kedua orang tuanya berdamai, anak-anak mereka berteput tangan.

"Horee... papa dan mama sudah baikan ni.
Alhamdulillah ya Allah, orang tuaku sudah akur kembali.

Spontan saja, anak-anak mereka ikut berpelukan bersama kedua orang tuanya.
"Mama-mama, jangan bertengkar lagi ya!?" Sama papa, kasihan papa, mama. "Tidurnya entah di mana semalam tu.

Reza dan Ros saling bertatapan mendengarkan penuturan kedua anaknya.
Hingga mereka tertawa bersama-sama sambil memeluk anak-anaknya.

Selesai
HR RoS
Jakarta, 18-Juli-2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar