RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 27 Juni 2017

Kumpulan Puisi Puji Astuti - JIKA WAKTU ITU TIBA


JIKA WAKTU ITU TIBA
By : Puji Astuti


Terlindung karena RahmatNya
Dan limpahan rejeki selalu tersedia
Apalagi yang akan dipungkiri
Inilah takdir hidup dan harus dijalani

Bersanding dengan belahan jiwa
Melintasi meditasi sehari-hari dengan rasa
Manis asinnya hidup dengan berbagi
Seakan sempurna seluruh bejana hati

Namun apa daya jika waktu telah tiba
Indahnya dan bahagia dengan orang terkasih tiada
Sendiri di gelapnya alam berbeda
Tertinggal segala yang dulu bergelora

Tiada lagi waktu tuk sesali dalam dada
Terputus sudah segala rantai tuk ibadah
Hanya membawa bekal amal yang terjalani
Dan menunggu hari penghakiman hakiki

Sendiri dan sendiri
Sesal jika beban dosa tinggi
Bersyukur saat rahmat ada di diri
Karena pintu taubat telah terkunci

Yang masih hidup mari bakali jiwa
Kasihan jika nyawa kita tak berharga
Semasa masih ada sisa waktu
Tuk perbaiki selubung amal yang belum menentu

Dosa masih terampuni selagi nyawa masih ada
Jangan sia-siakan hanya tuk berhura
Titik penjemputan tidak ada yang tahu
Persiapkan saja dengan bersih hati dan kalbu

Kembalilah ke retasan rahmatNya
Telisik semua tingkah polah jiwa
Semoga tersisa waktu tuk raga hidup
Sambil menunggu waktu tiba saat berhenti terkatup

Nasehat pada diri
JOGJA, 31 MEI 2017





PERJALANAN MASA
By : Puji Astuti


Sekian lama kaki melangkah tegar
Dengan pantang menyerah bagai prajurit perang di medan laga
Terus melaju tiada rasa ragu
Di segala sisi yang akan dituju

Tanpa terasa terbawa ombak kehidupan
Melingkarkan pelukan mesra di pinggang
Menghangatkan sanubari jiwa penuh legit
Dengan segala dilema yang kian menyempit

Senandung lagu irama bias-bias laras
Memalingkan segalanya yang mulai terlepas
Kandas di atas goresan tinta kanvas
Melarungkan kinerja jiwa yang merawan lugas

Kini kebisuan tersematkan di lembaran mada
Tertanggalnya sobekan-sobekan penuh tinta hitam
Bergeser menjadikan lembaran kian terang
Dengan korban hati dan perasaan yang kini berjatuhan

Langkah mendekati sempurnanya jati
Terbuang yang dulu menggayuti jiwa hati
Hengkang jauh meninggalkan teriakan nyeri
Tuk kembali ke hulu yang senantiasa memberi pengorbanan sejati

Segala keresahan berdatangan
Memilukan dinding-dinding hati bernyawa
Tetesan air mata menderai jiwa
Tak mungkin jemari menampung linang derasnya

Pergumulan ini terhenti
Di tengah jalan setapak penuh onak duri
Wahai jiwa yang meronta
Maafkan segala dera yang kini meletupkan kidung irama penuh terisaknya tangis

Kembalinya sang pengembara
JOGJA, 29 MEI 2017



-------------------------------

Dengan segenap hati saya mengucapkan..
MINAL AIFIN WAL FAIZIN Mohon Maaf Lahir dan Batin..

TAQOBBALALLOHU MINNA WAMINKUM

Menyambung tali silaturahmi untuk kita semua, saya minta maaf jika selama gabung di grup ini banyak salah kata dan perilaku yang kurang berkenan.

Saya manusia biasa yang tak akan bisa luput dari salah dan dosa.

Jogja, 24 juni 2017





SEPI DI UJUNG BATAS
By : Puji Astuti


Semenjak kehadiran bayangan
Sejak itu pula jiwaku terkoyak
Ringkih hati dan perasaan terkebiri
Saat sepi menggerogoti sanubari naluri

Sepenuh air embun di bejana gelas bening
Tetesan air mata seakan menemani waktu ini
Pelukan rindu membuncah di tengah ragu
Akankah semua hanya sebuah ilusi beku

Memandu kalbu yang kian berseteru
Dengan seberkas rasa tuk menepiskan pilu
Cinta ini tak pernah pergi
Hanya menepi tuk memberi segar angin pagi

Membenih rasa di jiwa

JOGJA, 23/6/2017





TERLUKA
By : Puji Astuti


Aku tapaki waktu yang berputar
Dengan telanjang kaki tanpa alas
Pedih yang terasakan
Saat telapak menginjak kerikil-kerikil tajam

Bertahan dan terus berjalan
Tanpa hiraukan perih darah yang mengalir
Karena ini tak seperih rasa di dada
Di saat tetes bening basahi seraut wajah

Kugulung perasaan bagai permadani
Terkerut tanpa bicara dan sunggingan
Menahan riak-riak teriakan jiwa
Semua adalah luruhnya di batas asa

Berpeluk tanpa bayang
Berpegang tanpa digenggam
Berlabuh tanpa tepian
Kutertunduk dalam perjalanan

Rangkaian ini terasa panjang bergelombang
Memenuhi kemegahan bahana jiwa
Sesepi di sudut pandang ketinggian
Aku, yang sendiri dalam alur persemaian
.
.
.

JOGJA, titisan 17/7/2017





BIAS KASIH
By : Puji Astuti

Di ujung malam lintang
Terbangun dan tertegun
Seulas kulum senyum menggoda hati
Memberi isyarat cinta sejati

Aku,
Yang tenggelam dalam peluk
Menangis dalam isak di dadamu
Tertangkup selalu ber-ujung rindu

Biasmu berpendar
Di sekeliling cahaya lilin
Memantul di remang malam
Memapah hati yang sedang menyulam

Kuserap jiwamu
Dan ambil sari cintamu
Kuletakkan di kisi hati
Yang tak dimengerti yang lain

Hariku tetap bergulir
Bersama detik-detik waktu
Tak akan hilang sekejap pun
Dalam melingkarkan rasa di dadaku

JOGJA, ulas 15 juni 2012





SECUIL TERIMAKASIH
By : Puji Astuti


Baru terlahir aku yang melihat dunia
Belai kasih nan tulusmu menggenggam jemari
Menina bobok tuk menjaga lelap
Di kamar hangat yang penuh dekap

Di sini berjuta harap tersematkan
Larikan dan titisan aksara tertata indah
Melahirkan dimensi yang tak ternilai
Oleh perjuangan tanpa pamrih penuh kasih

Walaupun baru sekejap
Aku hadir dan bertandang
Namun begitu tenang ku terlelap
Tuk menciptakan karya yang selalu mencuat berulang-ulang

Met MILAD RPS..
Makasih tak terkata tuk mas Ahmed El Hasby
Kepedulianmu menjadi mutiara di hati kami para pendulang seni..
Jayalah selalu untuk menjadi yang terbaik di antara yang baik.
JOGJA, 6 Juni 2017





GEJOLAK
By : Puji Astuti


Di kala sebuah biduk rasa sirna
Karena tudingan picu yang menggema
Di belantara jantung dan asa
Terbantai gelegak berserak

Cinta itu apa..?
Jika keselarasan berjurang menganga
Merobek tanpa belas kasihan
Yang penting jiwa terpuaskan

Apakah kau sadari..?
Cinta itu harus sejati
Melahirkan harmoni
Bukan hanya caci maki

Bertahun kukulum sendiri
Berpijak sebelah kaki
Ternoda kening dengan tinta
Yang tak hilang karena lekang

Jelagaku bergolak
Terdidih di titik letih
Berjuntai duri menancap pedih
Darahku menetes pelan dan perih

Tiada kata yang manis terucap
Noda noda seakan selalu mengecap
Sungging senyum primadona sirna
Terganti tetes bening bulir air mata

Kututup pesona cakra
Yang menggelantung di sudut saga
Bertirai benang suci candra
Inilah akhir dari telapak kaki pujangga

#kisi_pedut_malam__
JOGJA, 4 Juni 2017




KIDUNG LAYUNG
By : Puji Astuti


Sejumput kepekatan ini
Terlanjur terselami
Menghirup inti sari
Meremah kujamah setara hati

Dengan sepatah jiwa yang buncah
Berserakan rindu dan amarah
Bercarut dengan sepenggal genggam lara

Mengikuti alur langkahmu
Berpijaki di tiap jengkal titisanmu
Seakan aku adalah pelacak keberadaan istana singgahmu

Tertegun menatap sendu sayu
Terlintas akan keasingan yang ada
Bergumul dengan senyum
Menahan gejolak di dadaku kuyu

Menelisik mewakili rasa
Seakan impian adalah penggalan asa raga
Yang terlalu jauh tergapai sarinya makna

Lihatlah aku termangu
Di antara bilur yang tertinggal
Melalap semua kesemuan rasa
Meraung di pekatnya malam

Menatapi purnama gerhana
Di situ kutelanjangi keadaan sempurna
Bahwa aku adalah aku
Bukan kamu atau pun dia
Karena bilahku adalah titik nadi jiwa

JOGJA, 14/7/2017





CABIK
By : Puji Astuti


Secarik kertas lusuh kugenggam
Dengan sederetan kisah merejam
Kucoba larutkan dalam syair
Karena ini desir pembuka tabir

Aku ikuti dalam kisah cintamu
Yang membiru sekujur ragamu
Berteriak tak kunjung lepas
Bergumam tak jua jelas

Murung wajah sahajamu
Meniti kegelisahan yang dalam
Meneteskan pilu kasih rindu
Di ujung sana langkahmu menuju

Kesendirianmu di lorong berkabut
Menguliti hari yang terbalut
Waktu tak terasa telah merenggut
Usia dan kerut wajahmu yang kian surut

Rasamu menusuk jantungku
Pedihmu kini mengaliriku
Kepekaan yang mendulang ragu
Ikutlah bisikan hati nuranimu

Sayapmu bukannya patah
Karena masih tersisa akan kisah kasihmu
Penggalan perjalanan tertunda
Tak usah hiraukan kegundahan itu

Duhai Sang pelantun kalbu
Bangkit dan berdirilah seperti dulu
Yang kokoh tak bergeming
Menyusuri tepian kegersangan
Memory itu jadikan motivasi rasa
Karena engkau tidak sendiri dalam meleraikan debur-debur jiwa.

#salam___hati____
Diunggah ulang
JOGJA, 10 Juni 2017





LAMUNAN
By : Puji Astuti


Tersentak di gayutan pagi mendung menggantung
Sekumpulan hasrat membubungkan putik-putik pilu
Membangunkan segenggam lamunan usang
Yang makin rapat menghimpit belahan rasa

Purnama telah berlalu dua musim
Yang menenggelamkan sederetan kenangan
Semalam di bawah sinar pijarnya
Terasa kembali aliran darah ini menyeruak sesak

Hempas napas seakan pelampiasan jiwa
Berat mewakili onggokan angan
Tuk bisa melukis lagi di atas lembar usang
Yang penuh goretan tinta penuh warna

Di sini tergantung lagi setumpuk lamunan
Berderu dengan kenyataan yang berdendang
Berlalu, tertumpuk di secawan kecewa
Meraungkan titik punah tak berterumbukan tunas

Kubungkus dengan sutera rasa
Ruang kalbu terpijar sinar lilin yang hampir padam
Tak lagi terang tuk tempat bersua jiwa
Kosong terpaku gelap di tingginya altar pusara
.
.
.
.

Mendung kotaku
JOGJA, 9 Juni 2017





CINTA JIWA
BY : Puji Astuti


Kuteguk secawan madu nikmat
Dalam lambaran derai angan yang menggeliat
Sepucuk daun melati aroma magis suci
Yang membaluri sekujur tubuh ini

Kidungku menggelantung bak lembayung
Menjuntai bagai gemulai liuk perawan sedang bersenandung
Jentik yang mulus tanpa bercak merah merona
Senandung cinta dalam lirih decaknya

Titik titik jatuh di tatapan nan teduh
Tersembunyikan ketawa kecil yang riuh
Senandung rindu di telaga warna
Dengan kecipak air di pusaran derasnya

Ooooohhhh... kamajaya sastra
Tuliskan bait-bait yang berirama
Sentuhlah jiwa-jiwa berdetak tertata
Tuk bingkiskan secarik kata pelega karya asa
.
.
.
.

Edisi love
JOGJA, 8 Juli 2017




HASRAT
By : Puji Astuti


Rengkuh hati di malam senyap
Dingin desiran angin menggoyang ranting dahan bergeretak
Setara dengan gelitik jiwa ranaku
Memagut senyum kulum resah terkatub

Dawai ini merdu terasa di dada
Getarnya menggugah gairah rasa
Debur gemuruh sekilas gelisahkan diri
Di tepian malam yang hampa tanpa terang bintang

Dear ... ungkapan rasa hasrat jiwa
Cakrawala senja kini semburat keemasan
Kemilau lembayung mengusung suntinganku
Sentuhlah dengan ujung jemari lentikmu

Luruh,
Pasrah,
Harpaku menyusun melodi syahdu
Menari kalbuku di atas terumbu cinta biru
Dengan irama ritme-ritme geliat sukma
Tuk habiskan detik waktu yang mulai menguasai jiwa di dada

JOGJA, 19 Juli 2017





( Ku temukan cipta Lope-lope )
By : Puji Astuti


Runcahlah
Berjalan ditenggarai rumpun
Mengais bait-bait kelam
Dikau terdiam

Engkau tenggelam di baris malam
Suara lirih ungkapkan teriris kesakitan hati
Tengoklah puja
Bulan pun indah di atas sana
Bintang pun kemilau sinarnnya

Walau semilir angin terpa tubuhmu
Namun dalam hati ada seberkas rindu yang kelu

Kau melerai kisi duka
Jangan pekik kau bilur sendiri
Biarkan rasa ini ikut terkuliti
Tuk bersama berderai air mata di titik sepi

Pujaku
Peluk ragaku agar kau tak merasa sendiri
Genggam tanganku agar hangat jiwamu
Rona kesakitanmu menggaung di cakrawala
Menggumpal hitam menggantungi mega-mega

Jiwaku tersakiti jika kau begini
Terduduk di teras gelap sendiri
Terpaku di sudut keputusasaan

Puja
Pandang mataku dengan penetraanmu
Lihat jantungku dengan mata bathinmu
Secukup mendulang harapan
Tuk Meraup kenyataan ini

Melihat apa yang kita cari
Meniti hari tanpa ragu lagi di hati
Biaskan ronamu puja
Lepaskan kegelisahan jiwa yang ada
Bias kerlip kunang terbang
Menandakan betapa indahnya sisa hidup kita
Biar puing geming itu terlupakan sejenak
Gelak ini kita ciptakan padu
Karena senyummu merupakan kebahagiaanku

( Diunggah ulang karya cipta 2015 )
JOGJA, 19 Juli 2017





SEROJA KERING
By : Puji Astuti


Terbutakan oleh bayang yang kukejar
Menyisakan seonggok pernik tanda tanya
Tertimpakan puja warna
Mendesiskan racun rasa

Kuliti jiwa tanpa ragu
Menorehkan sacarut hina
Tinggalkan di lorong gelap buntu
Bersama pedas cadas kerling membisu

Kupanggil diam beku
Berbisik apalah arti di pulasan bibir membiru
Serasa kematian ada di jiwa ini
Yang lumpuh seketika karena sakitnya terkebiri sepi

JOGJA, 28 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar