RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Minggu, 10 Desember 2017

Kumpulan Puisi Aishiteru Hyoona - TUAN DAN SELEMBAR KAIN


Diam.

Seandainya kau tahu lukaku.
Luka-luka yang melukai luka-luka hatimu.
Luka-luka itu terluka dalam luka tak berongga.
Nganga darah serupa juadah.
Bergeming gelas kaca disudut lemari.
Menggetarkan setiap senti bumi ini.
Maka biarkan mata-mata matamu memata-mataiku.
Lewat sepucuk surat bergelaga hitam kelam.
Semalam yang sudah larut malam.
Aku tahu satu hari kau akan mengusirku pergi.
Mengajak pagi sebelum dini hari.





-tuan dan selembar kain-


Tuan,kerudungku selembar kain.
Jangan kau renggut dengan paradigma-paradigma busukmu.
Biarkan dia bertahta dikepalaku.
Sekali saja tuan,biarkan aku mengenakannya pada malam-malamku.
Siang-siang yang jalang telah membelengguku.
Aku akan diam pasif.
Seandainya kekuatanku serupa rahwana yang merebut sinta dari kekasih pujaannya.
Sayangnya aku hanyalah pipit diantara alang-alang.
Ingin terbang namun tak tahu kemana hendak pulang.




Terlalu cepat dan aku menua.
Lelah melihat semua lamat-lamat menjauh dariku.
Diakhir tahun yang sungguh membiru.
Batu-batu nisan mulai menghitam.
Putihnya pucat menghantuiku tiap malam pekat
Pada siapa aku harus mengadu, tentang ke lajanganku yang tak tanpak akan segera berlalu.


------------------------------


"mampus kau
dikoyak-koyak sepi."


kau ingat penggalan sajak chairil anwar yang satu ini, penggalan sajak yang tertulis di lampu merah didekat lapangan merdeka. semalam aku melewatinya lagi namun tidak denganmu kali ini.
akh, aku tak pernah mengerti mengapa sajak ini ditulis dengan judul sia-sia.
yang aku tahu, kau tahu penggalan sajak sebelumnya.
kau bilang "Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi"
dan aku sadar bahwa kau sengaja tak memulai sajaknya lebih panjang dari itu karena sebelumnya hanya kata buntu untukku dan untukmu.

Sia-sia – Chairil Anwar

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Chairil Anwar
Februari,1943



---------------------------


Bulatan lengkung sempurna pada jaring ditengah laut itu kau.
Nong!
Kau sebut dia dengan lingkaran penuh.
Keberhasilan yang harusnya disyukuri tanpa perayaan bukan berarti tak merayakan.
Kebahagian dilengkung senyummu yang sempurna.
Tulalit...
Tulalit...
Tak mampu meredam senyum kemenangan dibibirmu yang kian membiru oleh gelegak laut yang menghunjam tubuhmu.
Bebaskan lelah malam yang kian pekat merenggut nyawamu yang tinggal sekerat.
Mata-mata memandangmu dari atas cemas berharap kau terpental keluar dari peluk amuk laut yang menggelegar.


---------------------------


Penyambung lidah cecunguk-cecunguk tua.
Situa lagi bangka telah lama menjadi bangke.
Bangun tak bangkit berkelakar mengular.
Duar!
Suar-suar jentik jemari api menari.
Bias-bias bibir babu tak lagi beribu.
Lirih angin berbisik pada pedih yang tak lagi terusik.
Diam.
Hening.
PadaMU lah kami kembali.
Jangan tanya kemana dia pergi.
Kali ini mungkin dia takkan pulang lagi.





-tuan dan selembar kain-

Tuan,kerudungku selembar kain.
Jangan kau renggut dengan paradigma-paradigma busukmu.
Biarkan dia bertahta dikepalaku.
Sekali saja tuan,biarkan aku mengenakannya pada malam-malamku.
Siang-siang yang jalang telah membelengguku.
Aku akan diam pasif.
Seandainya kekuatanku serupa rahwana yang merebut sinta dari kekasih pujaannya.
Sayangnya aku hanyalah pipit diantara alang-alang.
Ingin terbang namun tak tahu kemana hendak pulang.





Berhenti.


hentikan langkahmu sejenak kawan.
berhenti membicarakan hal hal yang tak perlu kau bicarakan.
sedang tembok-tembok serius mendengarkan dan angin angin senang mengabarkan.
berhenti.
hentikan jejakmu sebentar kawan.
sedang bisikan bisikan mengkhawatirkan dan pujian pujian yang menjatuhkan.
Ketika datang satu masa kau tak lagi bisa menutup telinga atas setiap mulut yang bicara dan tidak pula mampu merubah lisan yang terlanjur disimpan.
Berhenti, tengoklah kanan dan kiri.
Kawan sebelah belum tentu teman sejati.
Tangannya mungkin membawa sebilah belati, bukan hanya untuk menjagamu dan dirinya sendiri tapi untuk membinasakan temannya dikanan dan kiri.





Bermain


Entah mengapa tiba-tiba aku memikirkan masa kanak-kanakku.
Bermain karet...
bemain bola bekel..
Bermain anak bp...
bermain petak upet...
bermain kejar-kejaran...
Bermain masak-masakan...
Bermain dengan imaginasi sepuas hati...
Bermain hingga nafasku sesak...
Bermain hingga bajuku basah...
Bermain hingga keringatku yang tumpah ruah...
Biarkan ibu marah atau bajuku tak lagi berwarna putih merah...
Biarlah...





Dusta.

Menatap sang rembulan dari wajahmu serupa menatap langit dimalam minggu.
Kelabu tak biru.
Menyesal aku menyuruhmu datang dihari sabtu.
Sesalku manut-manut setuju.
Kenapa harus hari sabtu, kenapa tak hari rabu?
Setengah setan mengajak bercumbu dikepalaku.
Mereka asik berbisik-bisik merayuku.
Aku tak mau, tolakku.
Biarlah malaikat cemburu kepadamu karena aku tak mau membalas amarahmu.





Si sampah itu.


Hilang nada.
Aku resah.
Kebencian ini seketika meluap bak air bah.
menebar racun mengangakan luka lama.
Lagi kau berusaha kembali.
Seolah mengorek-ngorek pedih hati.
Cukup! Aku gelap mata.
Gambaran panas api neraka tak lagi kugubris.
Serupa alang-alang di siram bensin.
Kau pantik dan aku terbakar.
Biarlah aku tak tahan lagi.
Hilang insaf seketika.
Melayang bak fatamorgana.
Mampus lah kau!
jangan kembali lagi.





-Andai guruku seorang idola-

Andai guruku seorang idola.
Andai ia aktor korea.
Andai member salah satu boyband ternama.
Mungkin aku akan ingat seluruh ucapannya.
Ingat seluruh materi yang diajarkannya.
Semangat mendengarkan setiap penjelasannya.

Andai guruku seorang idola.
Andai penampilannya serupa aktris korea.
Andai ia salah satu member girlband yang kupuja.
Aku akan lebih sering bertanya.
Aku akan berlomba untuk tampil dihadapannya.
kan kuhapalkan semua rumus yang diajarkannya.
Aku akan belajar tanpa diminta.

Sayangnya guruku bukan seorang idola.
Mereka dituntut tuk jadi sosok yang arif bijaksana.
Berpakaian seragam sederhana.
Penampilan mereka bersahaja.
Seolah murid hanya butuh ilmu semata.
Padahal kami juga butuh mencuci mata.
Butuh keriangan dan gelak tawa.
Bukan hanya unjuk wibawa.





-shadow teacher-


Alahmak, derai tawamu itu.
saat ku bilang kau tak becus jadi guru.
mulut-mulut aku apa perdulimu.
Kau memang selalu begitu, semakin membuat liar fikiranku tentangmu yang kala itu belum menyandang gelar s1.
Sungguh berdebar jantungku memasuki kelasmu itu.
kelas milik seorang guru yang awalnya kuanggap belum layak menjadi seorang guru.
ini kelas apa?
kelas berkarakter atau kumpulan monster monster?
Kelas hiruk pikuk dan kau hanya duduk?
Iya, hanya duduk manis dan mengamati.
Apa kau ini guru, tudingku.
Kembali tawamu berderai, duduklah dan jadi shadow teacher dikelasku selama seminggu.
Seminggu, sedang sehari saja aku merasa tak mampu.Kala itu terpaksa kuredam tanyaku dan mengikutimu.
seminggu, tepat satu minggu aku jadi shadow teacher dikelasmu.
dan aku akhirnya aku tahu mengapa mereka menghormatimu sebagai guru bukan aku.
Sekarang itu hanyalah masa lalu, jejak baik yang kau tinggalkan dihatiku.
Bila masih ada jodoh bertemu, aku ingin kembali menjadi shadow teacher dikelasmu meski hanya seminggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar