RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 19 Juni 2021

Cerpen – KESALAHAN Karya : Airi Cha


 

   Aku termanggu di teras, pandangan nanar pada pepohonan di sekitar rumah. Entah apa penyebab mentari yang tadinya terik tiba-tiba meredup. Pikiran melayang ke sana kemari, beberapa kali aku keluar masuk rumah ingin mengambil sesuatu, tetapi lupa, bingung pada diri sendiri. Meraih kunci kontak, hanya dalam beberapa detik motor tua warisan bapak telah menyala. Namun hati urung untuk mengendarainya, kembali aku duduk di kursi bambu yang mulai keropos.

Akhirnya kaki melangkah tanpa tujuan. Tepat dipersimpangan aku berdiri bersama orang-orang yang sedang menunggu angkutan umum sesuai jurusan. Bingung hendak kemana, beberapa remaja putri terlihat berdandan centil. Busana yang mereka kenakan seakan sengaja ingin menggoda kaum adam. Aku memperhatikan satu persatu dari mereka mencuri dengar pembicaraan yang tak jauh dari mahkluk bernama laki-laki.

"Itu angkutannya," teriak seorang remaja berkaos pink, padu padan dengan rok hitam di atas lutut. Pada jarak yang tidak begitu dekat kendaraan yang dinanti terlihat.

Mereka melambaikan tangan ke arah angkutan yang melaju, dan angkutan itu menepi. Naik satu persatu, aku mengikuti tanpa tau kemana tujuan. Kebetulan belum ada penumpang selain kami maka aku bebas memilih duduk dipojokkan. Mereka tak henti-hentinya berbicara aku hanya duduk layaknya pendengar budiman. Sesekali waktu melirik pada para gadis yang masih bau kencur itu.

Angkutan terus melaju membelah jalanan menuju pusat kota, deretan ruko-ruko sepanjang jalan mengaburkan pandangan. Angin sepoi dari kaca jendela yang sedikit terbuka mengundang kantuk. Tak tertahankan lagi sejenak aku terlelap sampai kendaraan berhenti secara tiba-tiba. Aku terjaga, dan tidak ada sesuatu apa pun yang terjadi. Kendaraan kembali melaju perlahan, terasa hening. Para gadis belia mendadak bisu, mencoba memperhatikan dan mencari tau apa gerangan. Tanpa terduga mereka serentak menatap ke arahku.

"Ya Tuhan," desisku tertahan sambil mendekap mulut tak percaya, mata seketika terbelalak. Apa yang terjadi dengan mereka aku tak tau, atau kah pengelihatanku yang terganggu. Entahlah, tapi wajah mereka mendadak begitu menakutkan.

"Pinggir, Bang!"

Kompak para gadis meminta pada sopir untuk menepi membuat aku terjaga.

"Ternyata hanya mimpi," lirih aku berkata.

Seperi terhipnotis lagi-lagi aku mengikuti mereka setelah turun dari angkutan dan berjalan memasuki sebuah Mall terbesar di kota. Melangkah tanpa tujuan, mulanya aku tidak perduli pada orang-orang yang berpapasan. Namun lama-kelamaan terasa ada keanehan. Mereka mempunyai ekspresi yang nyaris sama, penuh kesedihan dan dalam ketakutan. Aku terus saja melangkah di antara bangsawan-bangsawan kota. Aroma tubuh mereka jelas punya kelas berbeda denganku, tapi entah kenapa lama-kelamaan aroma itu menusuk hidung dan berbau tak sedap. Kepala dibuat pusing, perut serasa dikocok-kocok. Ingin muntah, tetapi tidak bisa, takut dan malu sebab akan jadi tontonan. Seseorang mendekat, pandanganku mendadak kabur tidak mampu membedakan laki-laki atau perempuan kah yang dihadapan.

"Kamu baik-baik saja?" Nada suaranya terdengar prihatin.

Ia menyentuh bahuku. Aku mengangkat wajah untuk melihatnya.

"Tidak jangan mendekat," kataku sedikit takut. Ia terus maju, aku mundur untuk menghindari, dan tanpa sengaja menubruk seseorang di belakang.

"Maaf," ucapku spontan.

Orang itu hanya mengangguk, dan lagi-lagi aku terkejut. Rautnya sama seperti orang tadi, menakutkan.

"Tidak!"

Aku menjerit histeris.

Sekeliling menatap padaku, mereka satu persatu mendekat. Aku ketakutan dan ingin muntah. Mereka bau amis darah, pakaian compang-camping. Bahkan dari mereka ada yang wajahnya tidak hancur tanpa mata, hidung, dan mulut.

Seseorang mencekal pergelangan tanganku, wajahnya lebih menyeramkan dari lainnya. Ada belatung berlompatan dari luka pada mata kiri. Hidungnya pun mengeluarkan darah berbau busuk.

"Lepaskan aku!"

Meminta dan terus meronta. Orang-orang semakin ramai mendekat, rasa takut menghinggapi dan isi perutku seakan diaduk-aduk.

Entah kekuatan dari mana mendadak aku mampu melepaskan diri dari cekalan orang tersebut. Hanya satu yang terlintas dalam pikiran harus bisa menjauh. Berlari menuruni anak tangga. Mereka yang berada di eskalator memandangiku, wajah mereka sama menyeramkan dengan tubuh beraroma bangkai.

Mendadak beberapa orang mendekat menghalangi langkahku. Dalam kebingungan hanya doa menjadi senjata andalan. Tidak tahu harus bagaimana caranya terlepas dari para zombie. Ya, aku baru tersadar terjebak bersama Zombie di pusat perbelanjaan. Tiba-tiba aku merasa lantai tempat berpijak bergetar. Perut semakin mual, kepala pusing, pandangan mulai nanar. Tangan para Zombie mengapai-gapai tubuhku, kepanikan mulai melanda hanya bisa menyebut nama Tuhan berulang-ulang.

Seseorang dengan sigap menarik tanganku kami lalu berlari bersama. Tujuan adalah pintu keluar, menyempatkan diri melihat pada wajah sang penolong, ia sama sepertiku tidak mengerikan dan tidak berbau. Lalu kami berpapasan dengan beberapa orang yang juga tidak terlihat seperti Zombie. Perut bertambah mual saat bertabrakan dengan seseorang yang berwajah dipenuhi nanah dan belatung, karena kaget aku terjatuh. Namun segera bangkit dan berlari lagi, terasa ada guncangan dan nyaris terpeleset di lantai. Terpisah dari sang penolong membuat aku kebingungan, terlupa di mana letak pintu-pintu untuk sesegera mungkin dapat keluar dari tempat menakutkan ini.

Setelah berkeliling ke sana-sini, akhirnya menemukan pintu dan menghirup udara bebas. Isi perut keluar, bersamaan dengan itu sebuah suara maha dahsyat terdengar menggema dan membuat tubuh terlempar, telinga serasa berdengung. Pandangan gelap seketika dan hening tanpa suara-suara yang sempat terdengar memilukan.

Ada rasa perih di dahi, dan rasa sakit di kaki. Aku membuka mata perlahan, samar-samar terdengar suara riuh-reda dan orang-orang terlihat sibuk dengan wajah panik. Aku mengumpulkan sisa ingatan sesaat sebelum hilang kesadaran. Bangkit lalu melangkah perlahan menuju bangunan yang telah porak poranda. Burung-burung seakan berputar-putar di atas kepala, tidak mengerti pada apa yang terjadi. Tetesan darah mengaburkan pandangan mata kiri saat seseorang menghampiri.

"Syukurlah kamu selamat, Nona," katanya antusias.

"Ada apa ini?" Aku bertanya dalam ketidakmengertian.

"Bom."

Terperangah tanpa tau apa yang harus diperbuat.

"Lalu bagaimana dengan orang-orang di dalam sana?" Tak dapat kusebunyikan rasa khawatir.

Ia hanya menggeleng dan tertunduk sedih. Tak lama dua orang paramedis menghampiri. Mereka membersihkan luka disekitar wajahku tanpa berkata. Lelaki itu berniat pergi, aku mencegahnya untuk mengucap terima kasih. Kujabat erat tangannya, tapi mendadak aku melihat kilasan episode sebelum gedung ini luluh lantak. Tergambar jelas lelaki itu meletakkan sesuatu pada sudut-sudut tertentu sebelum akhirnya gedung ini porak-poranda.

"Kau ...," terhenti kata-kataku, lelaki itu menatap kosong.

"Kau salah satu dari mereka yang melakukan aksi bom," lanjutku ragu.

Pemuda seumuranku itu tersentak seketika.

"Kenapa kau lakukan, dan mengapa kau menolongku?"

"Entahlah," katanya seperti dalam kebingungan.

"Kenapa tidak kau biarkan aku mati bersama mereka?"

"Aku tidak bisa, aku berubah pikiran. Namun semua terlambat." Ia menjawab lirih dengan sesal mendalam.

"Apa penyebabnya?" Rasa penasaran menghinggapi hati.

"Kau!"

"Aku?"

"Ya, Kau. Wajahmu seperti Ibuku. Saat melihatmu hatiku seketika luluh. Aku mencoba memberi tau keamanan, tapi tidak bertemu. Sementara waktu tidak mau menunggu. Aku memilih mencarimu, agar kau tidak menjadi korban," ucapnya tertunduk sedih.

"Kau harus menyerahkan diri. Jika tidak, aku yang akan melaporkanmu." Kalimat itu meluncur begitu saja.

"Laporkanlah. Aku menunggu di sini," katamu tertunduk sedih.

Aku melangkah tanpa menghiraukanmu, mencari keamanan yang bisa segera membantu, terlupa pada kebaikanmu. Ada rasa berkecamuk dalam diri, orang-orang yang kutemui seakan tidak saling perduli. Aku terus menyusuri lokasi, hingga kaki tersandung, dan tubuh terjerembab menimpah sesosok. Segera bangkit ada ketakutan dalam diri sebab menemukan mayat. Dengan sedikit keberanian dan rasa penasaran kucoba membalik tubuh yang tergeletak tak lagi bernyawa.

"Ya Tuhan!"

Aku nyaris tidak percaya.

Seketika lidah kelu tidak mampu berkata apa pun. Di hadapan yang terbaring kaku adalah lelaki yang beberapa saat lalu bebicara denganku. Tangan gemetar saat kuusap wajahnya. Ada embun di pelupuk yang akhirnya berderai menjadi rinai membasah pipi. Ntah berapa lama menangis sampai orang-orang menemukanku.

Lalu sejak hari itu tidak ada sepatah kata lagi yang terlontar dari bibir. Aku menjadi pesakit dan dianggap kekasih tersangka yang turut andil dalam aksi pengeboman.

*****TAMAT*****

Cerpen – 
KESALAHAN
Oleh : Airi Cha
Pengojek Hati
1617.030118.
















Fiksi - AKU PINJAM SAMPUL CINTAMU, KAWAN Karya : Romy Sastra




   Bertanya pada sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya, mungkinkah aku datang tepat pada waktunya? Ria dan Wulan di suatu pertemuan.

"Hai ... Wulan, lagi sibuk ya?" sahut Ria pada Wulan yang lagi duduk di depan rumahnya.

(Kebetulan Ria bertetangga dengan Wulan cukup lama)

"Ah, gak juga Ria, ada apa Ria?" jawab Wulan penuh rasa penasaran.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu, Wulan."

kata Ria dengan malu-malu.

Ria menghampiri Wulan yang tengah asyik membaca sebuah novel di beranda rumahnya. Kebiasaan Wulan pada petang hari menunggu waktu magrib tiba, serta sambil menunggu suaminya, sedangkan suaminya Wulan belum pulang kerja, kadang suaminya pulang lepas Magrib karena macet di jalanan.

**

   "Wulan, sebetulnya aku cemburu padamu."

tanya Ria pada Wulan.

"Lho, cemburu tentang apa Ria padaku?" Wulan membetulkan posisi duduknya di hadapan Ria.

Ria terdiam sejenak, lalu bangkit menatap wajah Wulan dengan tatapan sayu bertanya.

"Cie ... cie ... ciee ... ada yang lagi galau sepertinya ni?" ledek Wulan pada Ria yang menyimpan ekspresi problem di raut wajah sahabatnya itu.

"Iya Wulan, aku lagi galau sekarang ni." jawab Ria pada Wulan.

"Terus teranglah Ria, ada apa denganmu?" pinta Wulan.

"Sebenarnya saya malu padamu, Wulan?"

"Malu kenapa sih?" Wulan kian penasaran.

"Oya, satu dekade Wulan berumah tangga dengan suamimu, apakah pernah bertengkar selama ini?" tanya Ria pada Wulan.

"Dan apakah Wulan juga bahagia bersama suamimu?"

"Waduh, ini pertanyaan yang sangat serius buatku kayaknya, Ria?" cetus Wulan dengan penuh kehati-hatian pada sahabatnya itu.

"Begini Ria, aku tahu jawaban yang kau ajukan padaku. Dengarkan baik-baik ya, Ria sahabatku!"

Wulan menatap wajah Ria dengan tatapan yang serius.

***

   "Ria, sesuatu hal akan terjadinya pertengkaran adalah kausalitas sisi kehidupan. Bagaimana kita itu selaku pelakon mampu mencari solusi demi terciptanya kedamaian dan meraih kebahagiaan dalam rumah tangga adalah bumbu pada suatu noktah. Dan tidak ada manusia di muka bumi ini yang tidak memiliki problem di dalam kehidupannya, termasuk dalam kehidupan rumah tangga tentunya."

"Sahabatku, Ria. Aku adalah seorang istri dari suamiku yang tercinta. Ketika ada suatu nasihat dari suamiku, dan sekecil apa pun nasihat itu. Aku menghargainya sebagai istri yang taat, tidak buru-buru membantah perkataannya, jika suamiku berbicara. Aku simak dulu dengan saksama, Setelah nasihatnya itu selesai, aku memeluk suamiku erat-erat, dan spontan suamiku mencium keningku."

"Serta, suamiku tidak menganggap aku istrinya melainkan aku dijadikan pacar atau kekasih oleh suamiku, dan sebaliknya aku pun membalas demikian. Ketika kami ada salah paham pada suatu keadaan, kami berdua tidak terburu-buru saling cemberut. Kami saling bertanya baik-baik dan mencari titik persoalan itu dengan lapang dada. Satu lagi, kami selalu bercanda dengan penuh kemesraan. Pada suatu waktu, kami berduaan naik motor seperti orang lagi pacaran mengisi kesempatan jalan-jalan mencari suasana yang lebih fresh, bisa di mana aja, walaupun yang kami bawa hanya beberapa bungkus kuaci mengisi duduk-duduk santai berdua, kalau duit kami di kantong memadai. Ya, bolehlah memilih tempat yang agak lebih, seperti ke cafe atau rumah makan yang sederhana saja untuk ganti selera."

"Satu kunci yang harus kita hayati, dan itu penting bagiku adalah: lakukan salat berjamaah dengan suami di rumah. Selesai salat, ciumlah tangan suami dan berpelukan! Di situlah pintu keberkahan dan kebahagiaan di dalam rumah tangga terjadi serta berdoalah!"

****

   Tak terasa air mata Ria menetes mendengarkan wejangan sahabatnya Wulan, sebab ia tak dapat merasakan kehidupan rumah tangga yang didambakannya itu.

"Wulan ...?" sapa Ria pada sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.

"Izinkan aku Wulan meminjam sampul cintamu untuk kuhiasi dalam kehidupan rumah tanggaku sebagai potret untukku menghiasi kehidupan rumah tanggaku ya, Wulan."

"Aku bangga bertetangga dan bersahabat denganmmu, seperti ada cahaya hidayah noktah menyadarkanku dari nasihatmu, Wulan."

"Sebenarnya sudah lama aku menaruh cemburu pada kebahagiaan serta kemesraanmu dengan suamimu, walau ada rasa malu aku curhat denganmu, aku beranikan saja curhat dan bertanya padamu, aku terharu dapat pendidikan yang berharga darimu Wulan."

Wulan mendengarkan kata-kata sahabatnya Ria penuh kejujuran, Ria yang menyimpan suatu kehidupan rumah tangga seperti neraka. Wulan sering melihat Ria bertengkar dengan suaminya, karena Wulan sadar. Ia tak mau bertanya soal internal kemelut rumah tangga sahabatnya itu, takut ia salah. Wulan telah membuka pintu hidayah dari hikmah nasihatnya pada Ria, serta telah mencairkan bongkahan gunung es yang membatu di dada Ria selama ini berumah tangga dengan suaminya.

Waktu magrib tiba, Ria pamit pulang ke rumahnya.

*****

   "Terima kasih ya Wulan, atas wejanganmu padaku. Aku tersadar akan kelengahanku selama ini." sahut Ria pada Wulan.

"Oo ... sama-sama Ria, terima kasih juga ya, Ria sudah mau bertamu ke tempatku." jawab Wulan pada sahabatnya itu.

"Jangan kapok-kapok datang ke rumahku ya Ria, kalau ada keperluanmu dan ingin minta bantuan padaku, silakan tanyakan saja!" pinta Wulan pada Ria.

"Oke Wulan, waktu Magrib hampir tiba, terima kasih atas kebaikanmu, aku pamit ya?"

"Asalamualaikum, Wulan."

"Walaikumsalam, sama-sama Ria."

Setibanya Ria di rumah, ia langsung sujud syukur dan menunaikan ibadah salat Magrib, karena dapat kekuatan untuk menata rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah dari sahabatnya, Wulan. Kebetulan suaminya belum pulang kerja, karena suaminya dapat tambah jam lembur kerja di tempat perusahaan ia bekerja.

Kutunggu cintamu sayangku, kembalilah pulang ke gubuk kita! Aku telah menyediakan karpet merah cintaku berpayet rindu. Ria terlelap di ranjang asmara menunggu suaminya segera tiba.

Fiksi - 
AKU PINJAM SAMPUL CINTAMU, KAWAN 
Karya : Romy Sastra
Jakarta, 17 Juni 2021