RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Jumat, 02 Desember 2022

Cerpen - KISAH GADIS PELIPUR LARA Penulis : Ririn Riyanti


 
   "Ma, katanya aku punya adik angkat, dimana kamarnya?" tanyaku pada Mama ketika kami tengah santai duduk di ruang keluarga sambil menonton talk show di tv.

Mama menunjuk sebuah pintu di samping kamar Oma. Terus terang aku sangat penasaran seperti apa sosok Tiara gadis pelipur lara keluargaku setelah mereka kehilangan diriku saat bayi.

Aku tumbuh dan dibesarkan di sebuah panti asuhan setelah warga menemukanku yang masih berupa bayi merah berselimut basah di tepi sungai tak jauh dari panti. Kata Mama aku adalah korban penculikan oleh saingan bisnis Papa dan membuangku ke sembarang arah saat dikejar polisi.

Mama mengajakku melangkah menuju kamar yang dulu pernah menjadi tempat beradu Tiara dalam mimpinya. Mama membuka pintu kamar dan memasukinya. Aku pun perlahan mengikutinya dari belakang.

Mama duduk di tepi ranjang single dengan seprai berwarna biru yang katanya warna kesukaannya.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar ini. Nuansanya hampir sama dengan kamar milikku hanya bedanya di kamar ini ada banyak sekali figura berukuran kecil. Aku mendekati dan mengamati foto-foto itu. Ada banyak gambar seorang anak perempuan dari bayi sampai beranjak remaja.

"Itulah adikmu." Aku mendengar namun tidak menoleh ketika Mama memperkenalkan sosok di dalam figura dan masih sibuk memperhatikan gadis kecil itu.

Bayi gemoy dengan pipi chubby tanpa rambut terlihat jelas lipatan tubuhnya yang hanya menggunakan popok sekali pakai. Bayi itu tengah duduk dengan tangan hendak meraih mainan di depannya. Tampak wajahnya ceria dan tertawa lebar. Imut sekali.

Aku beralih pada figura berwarna hitam yang menampilkan gambar seorang anak kecil tengah mengayuh sepeda dengan wajah riang ditemani Oma. Sepertinya dia sedang belajar mengendarai sepeda karena masih menggunakan sepeda roda empat.

Dalam figura berwarna merah tampak anak kecil mengenakan seragam SD lengkap dengan topi dan dasi. Aku perkirakan usianya saat itu sekitar 8 tahun. Gambar ini pun ia tampak ceria dengan tangan memegang corn es krim miliknya.

Di figura kayu bermotif daun gadis yang sama sedang duduk di bangku panjang sebuah taman. Di depannya ada sebuah danau jernih. Juga dengan wajah ceria sambil menikmati permen kapas berwarna pink dengan ukuran cukup besar untuk anak seusia dirinya.

Gadis ini benar-benar menempatkan dirinya sebagai pelipur lara keluarga angkatnya. Gadis berambut lurus itu tampak sangat menikmati waktu bersama keluarga yang membesarkan dirinya.

"Apa dia selalu tersenyum?" tanyaku tanpa menoleh dan masih memandangi gambar-gambar lainnya.

"Iya. Wajahnya selalu tersenyum walau sedang sakit. Dia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merepotkan walau dia gadis yang manja," ujar Mama terdengar serak seperti menahan tangisnya.

"Dia gadis yang ceria dan bawel. Dia suka jalan-jalan, kemana pun dia mau. Dia suka makan ikan bakar tanpa tambahan bumbu apapun. Dia... dia...." Mama tak sanggup lagi bercerita tentang gadis kecil dalam figura itu. Aku berbalik dan langsung memeluk tubuh wanita yang telah melahirkanku itu.

"Dia takut gelap dan tidak bisa tidur kalau tidak ditemani. Dan dia sekarang sendiri di tempat gelap....."

Mama berusaha meneruskan ceritanya dengan terisak-isak, bahkan tubuhnya bergetar. Pilu sekali rasanya mengalami kehilangan putrinya dua kali. Aku ikut menitikkan air mata seakan aku ikut mengalaminya.

Cukup lama Mama menangis dalam pelukanku. Aku bisa mengerti jika luka kehilangan seorang putri yang pernah menjadi pelipur lara sulit terobati walau satu putrinya telah kembali.

"Maaf, Mama sudah buatmu tidak nyaman karena menceritakan adikmu," kata Mama seraya mengendurkan pelukannya lalu mengusap air mata di pipinya.

"Ceritakan saja aku ingin mendengarnya. Aku ingin tahu seperti apa adikku yang manis itu," jawabku seraya menunjuk figura di dinding kamar ini.

"Apa kamu tidak cemburu dengan kasih sayang kami padanya?" Aku menggeleng dan tersenyum.

Mama menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan. Mama tampak berusaha menguasai emosinya cukup lama. Kesedihan itu masih tampak sangat jelas di mataku.

"Dulu Mama dan Papa baru pulang dari luar kota. Saat melewati semak-semak kami melihat seorang gadis yang masih berseragam SMA membawa kantong kresek berwarna hitam dan membuangnya di semak-semak itu. Yang aneh, baju dan roknya ada noda darah yang cukup banyak dan jalannya tampak kesulitan. Ada seorang pria yang menemani gadis itu, yang juga masih berseragam SMA." Mama menghela nafas mengatur kembali emosinya.

"Setelah kedua remaja tadi pergi, kami turun dari mobil dan menghampiri kantong kresek yang dibuang remaja tadi. Papa mengambil kantong yang berlumuran darah itu dan membukanya.....," Mama kembali menangis dan terbata-bata meneruskan kalimatnya, "Ada bayi yang baru dilahirkan lengkap dengan noda darah dan tali pusar yang belum dipotong. Bayi itu telanjang dan menangis kencang saat Papa membuka kantong itu, mungkin karena dingin terkena angin."

Aku memberi wanita tercantikku segelas air putih dan diminumnya serta mengusap air matanya.

"Melihat bayi merah itu Mama teringat kamu yang juga dibuang oleh baby sittermu, Mama jadi iba dan ingin membawanya pulang. Tapi sebelum itu kami bawa bayi mungil itu ke klinik terdekat untuk mendapat penanganan medis. Beruntung bayi itu sehat dan bisa segera dibawa pulang."

"Kami sepakat untuk mengadopsi bayi tak berdosa itu. Dan ternyata semua keluarga setuju karena mereka tahu jika kami masih bersedih atas kehilanganmu dan juga rahim Mama. Mereka ingin bayi malang itu bisa menjadi bayi yang beruntung karena dilimpahi kasih sayang kami. Ternyata memang benar, bayi malang itu bisa menempatkan dirinya sebagai pelipur hati kami. Hingga akhir hayatnya dia tetap tersenyum. Maaf bukan maksud kami menggantikanmu dengan yang lain, tapi nurani kami memanggil untuk merawat bayi tak berdosa itu.

Kata Mama di usia Tiara yang keempat tahun mereka bertemu ibu kandung Tiara. Dia terkejut dan menangis tak mengira bayi yang dibuangnya ternyata masih hidup dan merasa menyesal telah membuang bayinya. Setelah itu dia sering datang untuk menjenguk putrinya dan membawakan banyak barang untuk menyenangkan hati gadis malang itu.

Sementara sang ayah pergi dengan wanita lain setelah beberapa bulan Tiara dibuang dan hilang ditelan bumi.

"Kamu tahu siapa yang telah menyebabkan dia meninggal?" pertanyaan Mama mengusik hatiku penasaran.

"Ayah kandungnya," ujar Mama dengan mata merah penuh amarah.

Akhh!

Ayahnya? Bagaimana bisa? Aku menutup mulut saking terkejutnya sampai berseru dengan nada suara cukup tinggi dan jantungku berasa berhenti berdetak.

Dia akhirnya mengetahuinya dari si ibu tapi tidak mau pernikahannya terganggu oleh hadirnya Tiara, jadi dia berusaha menyingkirkannya. Aku tak habis pikir dengan kegilaan ayah kandung Tiara. Sungguh biadab !

Pria kejam itu dipenjara seumur hidup untuk kematian putrinya, karir serta pernikahannya pun hancur. Dia pantas mendapatkannya karena membunuh putrinya hingga dua kali.

'Adikku sayang nasibmu sungguh malang. Semoga di sana kamu bahagia,' doaku untuk Tiara Nugraha adikku, pelipur lara keluargaku.

Mama berpesan padaku agar bisa menjaga diri dan kehormatan sebagai seorang wanita. Sebab apapun alasannya, wanita adalah pihak yang akan selalu dirugikan. Sama halnya dengan Ibu kandung Tiara yang berulang kali gagal menikah sebab masa lalunya yang pernah hamil di luar nikah membuang bayi yang baru saja dilahirkannya. Meski setiap orang punya kenangan, namun masa lalu seperti ini sungguh teramat dihinakan.


*****TAMAT*****


Cerpen –
KISAH GADIS PELIPUR LARA
Penulis : Ririn Riyanti

RIRIN RIYANTI