RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 19 Mei 2022

Cerpen - SANG FAKIR Penulis : NengIcha


   Jingga senja menghiasi taman kota. Hamparan mega nyaris memenuhi lempeng cakrawala.

Betapa keindahan nian melenakan jiwa, dan semua atas anugerah kebesaran Sang Pencipta, untuk sebuah kehidupan di alam semesta.

Aku sangat menyukai keindahan alam, tapi kurasa tidak semua orang demikian. Ada pemandangan berbeda di taman kota, aku melihat sesosok gadis tersedu di bangku sudut taman kota. Sebenarnya aku teramat ingin menghampirinya, tapi... Ah sudahlah!! Paling-paling juga diputusin pacarnya. Dan aku berlalu tanpa menghampiri gadis itu.

Telah larut malam, betapa perutku berteriak meminta jatah, sedari siang kurasa aku belum bertemu nasi. Aku memutuskan untuk keluar mencari makanan, niatnya mencari nasi goreng yang ada di samping taman kota. Batapa terkejutnya aku, gadis yang tersedu di bangku sudut taman sejak sore tadi masih juga duduk di sana, bahkan masih memeluk tangisnya. Dan aku memutuskan untuk menghampirinya

"Neng sudah malam Neng, Neng engga pulang?"

Tanpa membalas sepatah kata dia hanya melihatku dengan mata merah seakan menahan bara di dadanya.

"Neng, Neng kenapa? Putus cinta? Sudahlah Neng, cowok di dunia gak cuma satu Neng" aku coba membujuk dia.

"Kamu siapa? Kamu tau apa tentang hidupku?" ungkapnya.

Ternyata dia masih bisa menjawabku, meski dengan nada ketus, dan aku pun menyambung percakapan.

"Soal cinta hanya soal dunia, ingatlah keluarga, yang pasti mencintaimu sepenuh jiwa, Neng mau aku antar pulang?" ungkapku.

"Tidak, aku tak akan pulang, seandainya aku beranjak dari kursi ini, berarti aku akan menghampiri kematianku" jawabnya.

"Astaghfirullahal 'Adzim, Neng sadar Neng, Istighfar!"

Ya Tuhan, betapa kaget aku atas ungkapannya. Mungkin sebaiknya aku ajak dia pulang ke rumahku dulu, sekadar untuk membujuk waktu, agar mau sedikit menghapus tangis gadis itu, setidaknya untuk malam itu.

"Neng, ikut aku pulang yuk! Sebentar lagi ada Satpol PP keliling, seandainya Neng masih di sini, aku yakin Neng akan dibawa" ungkapku.

Sepertinya bualanku mampu membujuknya, dan dia tersedia ikut aku pulang

****

   Betapa pagi yang sangat dingin, mungkin karena mentari belum sematkan senyumnya kala itu.

Iya, mungkin terlalu pagi untuk aku mendamba senyum mentari. Namun betapa cemas aku akan gadis itu, sedari malam rasanya aku susah untuk pejamkan mata. Aku takut terjadi sesuatu karena kenekatan dia yang tak bisa terkontrol, jadi sepagi itu aku memutuskan untuk menghampiri kamarnya.

"Neng, Neng masih tidur?" sembari perlahan aku mengetuk pintu kamarnya.

"Masuklah, pintu gak terkunci" dia pun menyahut.

Perlahan aku buka pintu dan kudapati dia sedang duduk dengan mata merah melebam, aku rasa dia tak tidur semalam.

"Neng gak tidur semalam?"

Aku mencoba untuk bertanya memastikan, namun tak ada pun dia menjawab, dia hanya menggelengkam kepalanya.

"Mungkin sebaiknya Neng mandi dulu terus ganti baju, di lemari samping Neng itu ada banyak baju yang bisa dipakai. Dan aku rasa baju Neng telah kotor, sedari kemarin siang Neng engga pulang bukan?" ungkapku.

"Iya" dengan sangat singkat dia menjawab.

Semalam aku menceritakan bahwa kamar yang dia pakai itu adalah kamar adikku yang baru nikah, dan telah ikut suaminya.

Aku menyiapkan makanan seadanya dari dapur, dan mie instan adalah alternatif yang paling simple. Beberapa saat sebelum aku masak mie, aku menghampiri gadis itu untuk mengajaknya makan bersama.

"Setelah mandi silahkan Neng ke meja makan yang ada di ruang tengah" ucapku.

Sejenak aku menunggu, hingga akhirnya gadis itu keluar dari kamar mandi dan langsung menuju meja makan. Dan aku persilahkan dia untuk menyantap hidangan yang telah aku siapkan.

Meski tak terlalu banyak yang dia makan, setidaknya perutnya tak terlalu kosong.

****

   Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, seharusnya aku bersiap-siap untuk berangkat kerja saat itu. "Lalu bagaimana dengan gadis ini?" sejenak aku berfikir, dan aku putuskan untuk tidak ke kantor hari itu. Sembari makan, aku menghubungi beberapa karyawan untuk memberi kabar ketidak hadiranku hari itu.

Rasa penasaran bercampur kasihan mendorongku untuk ingin menanyakan sesuatu pada gadis itu.

Sembari makan, aku coba mendekatinya, untuk tahu gemuruh apa yang ada dalam dadanya, tentang siapa dia, bahkan siapa keluarganya.

"Neng, aku Radit, boleh aku tahu nama Neng?" tanyaku.

"Devi" dengan sangat singkat dia menjawab.

"Neng sedang ada masalah?" tanyaku.

"Iya, pacarku meninggalkan aku" jawabnya.

Aku tak menyangka, aku akan melihat pemandangan seperti itu. Betapa ketegaran telah ada dalam raut wajahnya, sangat berbeda dengan keadaannya saat kemarin.

"Engkau bertengkar dengan pacarmu?" tanyaku lagi.

"Tidak, tak ada aku bertengkar dengan dia" dia pun menjawab.

"Lalu?" tanyaku kembali.

"Aku punya seorang kekasih, telah lima tahun kita tinggal bersama dalam satu atap, bahkan satu kamar, dua bulan lalu dia berpamit pulang menengok Ibunya di Medan" sepenggal cerita darinya.

"Lalu?" tanyaku dengan seribu penasaran.

"Kemarin pagi aku telfon dia, dia pun mengangkat telfon dari aku, namun yang kudapati adalah suasana yang begitu ramai, saat aku tanya sedang ada apa di rumahnya, justru dia meminta maaf padaku, dan bilang itu adalah acara resepsi pernikahan dia. Dan dia langsung memblokir nomer ponselku" ceritanya lagi.

Oh Tuhan, sungguh aku tak sanggup melanjutkan percakapan. Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya gadis ini.

****

Di pagi itu, dia bercerita banyak hal tentang diri dan perjalanan hidupnya, bahkan dia menyatakan betapa kehancuran atas diri dan masa depannya.

Entah apa yang kurasa saat itu, sungguh rasa kasihan mendorongku untuk melakukan sesuatu.

Aku berniat untuk menikahinya, untuk menyelamatkan kehormatan dia dan keluarganya.

Dan dia pun bersedia untuk menikah dengan aku.

Selang dua bulan kami pun melangsungkan pernikahan. Dan benar saja, satu bulan kemudian dia hamil. Aku tak pernah berpikir panjang tentang hal macam-macam. Aku menikahinya, lalu dia hamil. Aku anggap janin itu adalah anakku.

Kami membina keluarga kecil yang bahagia, Aku, Devi dan Naura buah hati kami.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Kebahagiaan kami berlangsung dengan sangat singkat. Satu tahun kami merasakan kebahagiaan. Di tahun berikutnya, yakni tahun 2014, perusahanku mengalami kebangkrutan, aku menafkahi keluarga kecilku dengan bekerja seadanya, kuli bangunan atau apa saja yang penting halal bagiku.

Aku masih bisa mensyukuri sekecil apa pun rizki yang Tuhan beri untuk aku dan keluargaku, namun sepertinya tidak dengan Devi istriku. Aku melihatnya sangat menderita dengan keadaan ini. Pun sifatnya kini berubah total, dia menjadi seorang pemarah, kasar, bahkan terhadap anaknya.

Di suatu pagi, aku memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta, Devi pun mengizinkan. Dan keesokan hari pun aku berangkat. Aku bekerja seandainya di sana, yang penting bisa mengirim sedikit uang untuk belanja istriku di rumah.

****

   Beberapa bulan aku mengadu nasib di Jakarta dengan bekerja seandainya sembari mencari lowongan kerja yang tepat buat aku. Meski nominal sedikit, aku masih bisa mengirim untuk makan anak dan istriku.

Hampir tiga bulan aku di Jakarta, namun tak juga mendapat pekerjaan yang cocok buat aku. Rasa lelah membebani jiwa, terlebih rasa rindu terhadap anak dan istri yang tengah menanti di Brebes kampung halamanku. Dan aku mutuskan untuk pulang, dan berusaha membangunkan lagi usahaku yang di sana.

Akhir pekan nanti, aku akan pulang dan memulai lagi usaha di Brebes.

Malam itu aku berkemas, seusai shalat subuh aku langsung berangkat pulang, menuju rindu-rinduku yang ada di kampung halaman. Setelah sampai di rumah, ternyata yang kudapati rumahku kosong.

Dan akhirnya aku pergi ke rumah orang tuaku, yang tak jauh dari rumahku, namun ternyata mereka juga tak menahu tentang anak dan istriku. Saat itu, tanpa berpikir panjang aku langsung berangkat ke Rembang rumah mertuaku, yang kuyakini mereka ada di sana. Namun ternyata semua di luar dugaanku, mereka pun tak ada di sana. Hanya ada Ibu mertua yang memberikan amplop panjang kepadaku, dan menyuruhku kembali pulang.

Iya, aku langsung berpamir untuk pulang, meski dengan rasa yang tak bisa dijelaskan. Aku pulang, namun belum sampai di rumah, rasa yang tak karuan ini memaksaku untuk membuka isi amplop panjang tersebut.

Di tengah perjalanan aku berhenti di sebuah tikungan, aku membuka amplop itu, dan betapa terkejutnya aku, surat yang ada dalam amplop itu adalah surat pengajuan cerai.

Lemas seketika badanku. Terasa seakan nyawa lepas dari raga. Aku tak mampu, aku tak mampu. Aku tak mampu hadapi ini semua. Mengapa Tuhan memberiku cobaan yang begitu besarnya.

Apakah Tuhan terlalu menyayangi aku?

Atau Tuhan terlalu membenci aku?

****TAMAT****

Cerpen
SANG FAKIR
Penulis : NengIcha
PURI, 23-04-2022

Diangkat dari kisah nyata seorang sahabat maya

History Adam Hawa - PENYESALAN Oleh : Romy Sastra



azali cinta berjubah kasih mencurah rindu pada kasta jiwa mengenali budi terhijab dan nyata berpayung rasa kala hujan membasah berselimut embun. andai kehausan di panas gelora kekeringan tetap tersenyum, dan rumput-rumput bergoyang lambaikan kedamaian, tertitip bayu merona syahdu sempurnanya ciptaan tuhanku

para pencinta nan agung sampai saat ini masih memuja rindu, bertasbih semenjak sabda tercipta sedetik pun tak alpa. lalu tuhan ciptakan surga dari fitrah maha kekasih untuk sang khalifah, serta tuhan ciptakan neraka sebagai peringatan sebentuk anai-anai melubangi nadi menyemai syahwat membuai tangkai sepoi diayun rayu, mengkebiri janji ilahi merayu menggoda rasa hina. pucuk-pucuk melambai tebarkan gairah memesona berpayet indah dibuai asmara kasih, laknatullah

dan kumbang mengisap madu kembang tak sadarkan diri terkutuk sudah menjerit menyesali tercampak ke mayapada sepanjang tahun sepi seorang diri, lara hiba menghunus pedang doa berlari di malam buta antara safa dan marwa mengetuk pintu arasy. maha kekasih sedang bermain dalang

doa dipanjatkan: "rabbanaa zolamnaa amfusanaa wailam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunanna minal koosirin"

duhai ... cinta belahan jiwa, di manakah kini engkau berada? kembalilah mengisi sepiku! tandus haus lelah mencarimu

engkau rabbani yang kusembah nan bersemayam di dalam angan kedunguanku hamba memohon: ampunilah kesalahan kami bodohnya hamba terlena tergerus godaan iblis: aku mengutuk diri

engkau rabbani nan bertakhta di jiwa ini, bukalah pintu rahmatmu kembali! hibalah sekali ini saja. hamba benar-benar menyesali diri sepanjang hari. aku si adam dan hawa bersenandung lara karena kesalahan ini tak mampu membendung rayu, hingga tauhidku sirna. engkau maha pengampun, maka ampunilah kami

rabbaniku mencipta yang nyata dan yang batin tak terpikirkan olehku engkau ada di hati ini. kenapa iman diri kulengahkan? memang, hamba telah tertipu rayu

sabda utusan uluk salam kala fajar berseru: wahai jiwa nan lara, sujudkan ragamu menyapa tanah meski tandus ia suci cikal bakal terdirinya jasadmu itu. rengkuhlah doa-doa malam bertayamum menyapu bulir menetes dari telaga hiba. buang jauh-jauh nebula palsu di pohon itu! dekaplah lafaz-lafaz nasuha, biar tercurah kasih sayang darinya

pengabdian subuh didirikan allahu akbar salam terucap kanan kiri:

"salamun kaulam mirrabirrahim"

terbentang kembali keindahan semu

tentang tirani hidup membentang panjang sampai dunia ini tertutup

lalu, tiba-tiba hadirnya kekasih yang dirindui, kekasih itu menyapa di antara fajar akan pergi dan berganti pelita semesta. pertemuan membuncah haru, tangis rindu membangunkan fijar-fijar mentari. bibit dunia pencinta nan agung berbahagia bertemu sudah pada yang didamba berkasih mesra serasa tak ingin berpisah lagi tuk selamanya, si pemuja cinta berpulang pada rasa menuju tobat nasuha.

history adam hawa
PENYESALAN
Oleh : Romy Sastra
Ngawi, 07,05,22



Senin, 09 Mei 2022

Pentigraf - HUJAN Penulis : Emmelia M


   Hujan menciptakan irama dalam sepiku. Dinginnya waktu menghangatkan air mataku. Dalam diam, aku mencintaimu.

Kenangan-kenangan indah bersamamu, terlukis dalam bola mata anak kita. Ia senang menikmati hujan sambil tidur di pangkuanku. Seperti dirimu. Haruskah aku selalu kuat?

Hujan menyenruh semua kekeringan dalamku. Membungkam jeritanku padamu. Menaburkan benih percaya dalam kegelapan malam. Ada kerelaan menyertainya, senantiasa.

*****

Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf)
HUJAN
Penulis : Emmelia M
Bogor, 22 Sept 2018

EMMELIA M


Pentigraf – PERKASA Penulis : Emmelia M

   Bila hasrat adalah kegelapan terkelam, maka aku adalah bintang terjauh. Sebuah kejujuran yang tak perlu disombongkan. Aku dapat menatapmu sepuasku. Ketelanjangan ini tidak berdusta. "Aku tetap milikmu." Dan selalu pelukanmu setia sebelum waktu melambat.

Aku menikmati mekarnya sebuah bunga teratai di kolam mama mertuaku. Rumah yang megah namun senyap. Bahkan aku mampu mendengar dawai patah dalam hatiku. "Nak Dewi, sudahkah memutuskan program bayi tabung?" mama berkata pelan sambil menggenggam jemariku. Aku menggangguk perlahan, teringat bunga lotus tadi.

Hari-hari sebelum cinta bersemi, ada pilihan dari beribu bunga yang gugur. Aku bunga lotus mekar di kolam hatimu. Kelembutan yang mengalahkan keperkasaan gengsi. Cinta telah terbit.

*****

Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf)
PERKASA
Penulis : Emmelia M
Bogor, 22 Sept 2018
EMMELIA M



Pentigraf - SEMANGAT TIDAK PICISAN Penulis : Emmelia M


   Picisan, begitu katamu usai membaca ceritaku. Bunga-bunga perlahan gugur dalam inspirasiku. Kau langsung mengedit naskahku hingga aku tak mengenali jiwaku lagi. Picisan terlalu konyol untuk sekarang ini. Terbit di majalah kenamaan, namun aku tak ada.

Banyak jalan setapak yang indah. Satunya melayani Oma Kirsten di panti jompo. Oma Kirsten pesiunan wartawati. Ia memiliki perpustakaan pribadi di ruangannya. Saat aku datang berkunjung, ia menatapku dalam, " Sebuah tulisan sanggup mengubah waktu dan seseorang." Oma tahu jawaban keresahanku.

Aku tak mau dibunuh oleh tulisan. Picisan menurutmu, kuubah dalam kerinduan akan kasih. Kelegaan tersirat. Aku melebur dalam tulisanku. Penamu tertahan. Diterbitkan aku yang baru, aku dan senyumanmu dalam tulisanku.

*****
Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf)
SEMANGAT TIDAK PICISAN
Penulis : Emmelia M
Bogor, 22 Sept 2018
EMMELIA M



Cermin – SUNGAI Penulis : Asrial Mirza


   Sungai, adalah cerukan tanah yang dialiri air yang mengalir dari hulu ke hilir dan akhirnya bermuara ke laut. Meskipun liukannya bagaikan ular raksasa yang menakutkan, namun sejuknya air sungai membawa perarasaan menjadi tentram dan damai. Sungai memang penuh misteri, tapi sungai juga sumber kehidupan dan inspirasi. Sesaat anganku menerawang, mengingat seorang lelaki tua yang bermukim di tanah jawa dan kini sudah pergi menemui khaliqnya. Sayup-sayup terasa menerobos masuk gendang telingaku lantunan suara penyanyi kroncong dengan vibrasi yang menggelora " Bengawan Solo, riwayatmu kini, sedari dulu jadi perhatian insani. Musim kemarau, tak seberapa airmu, dimusim hujan air mengalir sampai jauh. Mata airmu dari solo, terkurung gunung seribu, air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. Itu perahu, riwayatnya dulu, kaum pedagang slalu naik itu perahu." demikian sang maestro kroncong Indonesia almarhum Gesang, bertutur dalam syair lagu BENGAWAN SOLO. Gesang memang sudah tiada, tapi lagu Bengawan Solo dan karya-karyanya yang lain, tetap hidup di hati penggemarnya.

DI TEPI sungai Asahan sore tadi, cuaca redup dan angin sepoi-sepoi menerpa tubuhku. Sementara itu, persis di depan, samping kiri dan kananku, berjajar kawan-kawan dari Yayasan Sahabat Tiga puluh Kisaran dan komunitas ruang pekerja seni tanjungbalai, bersilaturrahim. Pertemuan ini entah untuk yang keberapa, tapi untuk ditepian sungai Asahan merupakan yang pertama. Sejenak semuanya terhanyut dalam suasana, seperti hanyutnya sampah-sampah yang mencemari sungai ini. Nun di seberang sungai, pada pertemuan sungai Asahan denga sungai Silau, ada dangau yang dibangun sebagai saksi sejarah. Menurut penuturan Wan Kumis(bukan Iwan Fals) konon, di tempat itu doeloe Sultan Asahan Pertama dinobatkan. TENTANG KOTA TANJUNGBALAI DAN SUNGAINYA, juga sudah diabadikan oleh seniman lokal dalan sebuah syair lagu. Lagu dengan irama dan rentak melayu ini, sungguh enak didengar, walau popularitasnya tidak sampai menandingi lagu Bengawan Solo.

"TANJUNGBALAI, salah satu kota di Asahan, menurut sejarah balai terletak di ujung tanjung, di pinggir kotanya sungai mengalir titinya yang panjang, lintasan nelayan menambah indahnya kota yang sakti, penduduknya ramai sopan santun budi bahasanya, seolah-olah kita sudah berkenalan lama. Duhaaai... adik jagalah nama kotamu ini, jadikanlah ia, agar menjadi kota yang sakti"(maaf, kalau syair lagunya kurang pas, karena saya tak hafal bukan bermaksud untuk melecehkan).

SUNGAI ASAHAN yang mengalir tenang, adalah saksi bisu pertemuan puluhan anak-anak manusia sore tadi. Sejuknya air sungai, sesejuk hati kami yang bertekad mewujudkan mimpi-mimpi menjadi nyata. Ada rasa syukur, rasa sukacita dan haru. Karena, di tengah hiruk pikuknya pertarungan memperjuangkan nasib dan kehidupan, ternyata masih ada orang-orang yang tetap menggeliat dan punya kepedulian. Mudah-mudahan komunitas ini bukan orang-orang terakhir yang punya kepedulian dan kegelisahan. Tapi sebahagian kecil dari ribuan bahkan jutaan orang-orang yang tetap merindukan sebuah perubahan. Genderang budaya kembali ditabuh, tarian Gubang harap dipergelarkan, agar kita tidak sempat lupa dan anak cucu paham sejarah nenek moyangnya. Lestarikan alam dan jagalah budaya!

*****

Cermin (Cerita Mini)
SUNGAI
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin- USWAH Penulis : Asrial Mirza



   "USWAH", artinya contoh atawa panutan atawajuga teladan. Begitulah keseharian Rasulullah bersikap. Ini bukan dongeng, karena kabar tentang sikap nabi yang humanis ini, bisa kita temukan pada lembar-lembar kitab suci al qur'an dan al hadits. Sehingga, bukan hanya sebab kenabian dan kerasulan beliau maka ummat mengaguminya, tetapi justru sikap dan prilaku yang sangat-sangat terpuji itu menjadikan beliau diidolakan kaum muslimin maupun kaum-kaum lainnya. Kalau dalam bahasa kinian, beliau itu disegani oleh kawan dan lawan.

LALU, siapakah pemimpin kita yang bisa dijadikan panutan saat ini, mungkin kira-kira demikian pertanyaan yang ada dibenak setiap anak bangsa. Pertanyaan normatif namun sulit untuk dijawab. Ironis memang, kalau diantara 250 juta rakyat Indonesia, kita tidak menemukan seorangpun pemimpin yang bisa dijadikan panutan. Inilah kenyataan itu, kenyataan yang membuat hati kita bagai teriris sembilu. Siapakah yang salah dan siapa yang mau disalahkan terhadap kondisi ini?

KONON, sebelum bangkit dan menjadi besar seperti sekarang ini, Korea Selatan adalah negara yang parah dan payah. Perekonomian berantakan, tingginya angka pengangguran dan kriminalitas sudah sampai pada titik nadir. Kondisi yang terakhir ini sebenarnya merupakan hubungan sebab akibat dari carut marutnya ekonomi. Sama dengan penyakit diabetes(gula) stadium empat, akan serta merta merusak jaringan-jaringan syaraf lain yang ada dalam tubuh. Sehingga pada akhirnya akan lumpuh dan mati.
ADA dua masalah utama yang mereka temukan, dari sekian banyak persoalan negara yang mereka kumpulkan. Yakni moral dan pendidikan.
Dua virus besar ini mereka terapi dengan program-program yang begitu signifikan. beberapa tahun kemudian, hasilnya sungguh luar biasa, Korea Selatan muncul sebagai raksasa dunia yang baru dalam bidang industri.

KETIKA kita bicara moral, tentu ada etika dan estetika di sana. Etika itu adalah adab yang bersendikan syara', sedang estetika adalah budi pekerti yang baik dengan berlandaskan budaya. Tampaknya inilah yang menjadi permasalah kita. Permasalah yang terjadi pada kalangan pemimpin dan rakyatnya. Jika penyakit ini tidak segera ditangani secara sungguh-sungguh dan serius, entah bagaiman nasib bangsa da negara ini. Mari kita contoh Korea. Kalau untuk yang baik, rasa-rasanya tidak harus malu mengopek pada orang lain. Apa artinya sok pintar, kalau sebenarnya kita memang belum pintar. Bangkitlah budaya bangsaku, bangkitlah negeriku Indonesia tercinta. SEMOGA !

*****
Cermin (Cerita Mini)
USWAH
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin – SEMANGAT Penulis : Asrial Mirza


   Semangat, sepenggal kata ini memiliki khasiat yang begitu manjur melebihi obat produksi pabrik manapun atau dari segelas air sejuk yang sudah dimunajadkan tabib sholih di kampung seberang. Rasanya Istilah ini tidak berlebihan jika aku berikan kepada sekelompok orang-orang yang kini tengah bergelora syahwat berkeseniannya bak benzin tersulut api, sehingga tidak perduli meskipun sebentar lagi harga bbm akan melambung tinggi.

Adalah komunitas yayasan sahabat tiga puluh, ruang pekerja seni tanjungbalai, sanggar tari tiara intan, ketua pwi, knpi asahan. dokter yazid sabri, kepala man kisaran makmur sukri dan ratusan pencinta budaya yang sama-sama mengikatkan tali bathin dengan eddie karsito. Akhir-akhir ini kerap bertemu dan bersilaturrahim dalam bingkai merangkai kembali tali-tali seni dan budaya yang kusut dan yang berserakan. Hal itu dikarena sebuah prinsip yang sama, bahwa hidup dengan agama menjadi terarah, hidup dengan ilmu menjadi terarah dan hidup dengan seni menjadi indah.

Sedangkan bagi aku pribadi, kebersamaan ini adalah sebuah reuni sejak kami melangkah meninggalkan "sanggar laras" puluhan tahun yang silam sehingg membuhulkan rindu yang sangat dalam, meskipun sekarang suasananya jauh lebih ramai. Semuanya terharu mendapati kenyataan ini, karena hanya karena campur tangan Allah maka pertemuan terjadi, karena rasa sukacita kawan-kawan yang berkumpul dan bersinergi meneriakkan," Seni Pemersatu Jiwa" dan dengan semangat ini lalu eddie karsito mengajak kawan-kawan merajut mimpi untuk merilis sebua film kolosal tentang sejarah KOELI KONTRAK TEMPO DOELOE, dengan title " Annimie In Buiten Gewesten" yang Insya Allah penggarapannya berlokasi hampir seluruhnya di Asahan.

Inilah kerangka dari semangat itu, sebuah produksi film yang masih dalam wujud tataran ide, yang akan berubah nyata apabila banyak tangan-tangan terulur untuk menyambutnya, terutama dari saudara-saudara kita yang berdarah jawa(ma'af,boekan primordial). Pertanyaannya tentu saja adalah, mengapa stressing kita tertuju pada sudara-saudara kita yang sekarang mengguyubkan diri pada putra jawa kelahiran sumatera(Pujakesuma) dan organisasi suku jawa yang lain, karena film ini bertutur tentang bagaimana sejarah sampainya kakek dan nenek buyut mereka sampai di sumatera. Karena kata orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat akan sejarahnya dan Boeng Karno ngomong" Jas merah, jangan melupaka sejarah.
TRAH(garis keturunan) tidak selamanya harus berasal dari darah biru,
karena pada akhirnya keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan turunan siapa, tapi bagaimana kita berjuang dengan disertai doa. Seperti ungkapa populer juragan sepuh Inggris, Churchil, " Saya tidak mau dipajang seperti banteng aduan yang martabatnya ditentukan kebesaran masa lalu". Maka sudah saatnya saudara-saudara kita bangga, karena sebagai anak manusia yang terlahir dari TRAH-TRAH biasa, tapi kini muncul menjelma menjadi orang-orang yang luar biasa dan sukses. "Annimie In Buiten Gewesten" adalah film anda, film kami dan film kita, maka kami undang seluruh masyarakat Asahan yang tua dan muda, khususnya yang punya benang merah dengan uyut kakung dan uyut putri," PAIJO dan PAIJAH" yang menorehkan sejaRah kelahiran anak, cucu dan cicitnya di tanah Sumatera, untuk bergandengan tangan bahu membahu mewujudkan mimpi tentang film ini menjadi nyata. Semoga Allah bersama kita, amiiin !

*****

Cermin (Cerita Mini)
SEMANGAT
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin - KETIKA BUDAYA TERCABUT DARI AKARNYA Penulis : Asrial Mirza



   Ketika budaya sudah tercabut dari akarnya, anak bangsa ini menjadi gamang, terombang ambing dan melayang antara bumi dan langit. keramah tamahan yang dulu kini menjelma menjadi marah-marah, kepedulian yang dulu kini berobah tidak mau tau dan harga diri tidak lebih mahal dari sebungkus rokok. saatnya kita harus gelisah,kalau boleh meminjam kata-kata bijak almarhum ws. rendra siburung merak," orang-orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan" dan yang terjaga dan masih bersikap siaga beramai-ramai memukul kentongan bertalu-talu, agar semua makhluk tersadar bahwa kebersamaan jauh lebih penting dari sikap keakuan dan arogansi yang kini justru sedang mengakar. ketika budaya sudah tercabut dari akarnya, mari kita hujamkan niat sedalam-dalamnya, bahwa hidup punya titik pemberhentian, sebelum lembar buku ditutup dan nyala pelita dipadamkan, sebaiknya kita wariskan sebuah catatan, bahwa doeloe bangsa ini begitu akrab, sehingga gunungpun bisa dipindahkan. wasssalam !

*****

Cermin (Cerita Mini)
KETIKA BUDAYA TERCABUT DARI AKARNYA
Penulis : Asrial Mirza
Kisasran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA




Cermin – TALENTA Penulis : Asrial Mirza



   Suatu ketika salah seorang sahabatku bertandang ke rumah dan menyampaikan keluhannya. Konon dia kesal, karena anak-anaknya sama sekali tidak memiliki talenta. Meskipun aku kecewa dengan sikapnya yang kuanggap kurang mensyukuri nikmat, namun aku berupaya untuk menjadi pendengar yang baik. Karena menurut hematku, jika dia kubantah, kekesalannya akan bertambah satu lagi, yakni sama aku.


TALENTA, yang orang-orang dulu menyebutnya sebagai bakat, bukanlah sesuatu yang istimewa dan kuar biasa. Sebab orang yang berbakat tidak serta merta menjadi hebat, tanpa berlatih dengan gigih, tekun serta sabar. Dan inilah sebenarnya rahasia itu. Bakat mungkin cukup 10 perosen saja, tetapi porsi latihan yang 90 perosennya. Kalau kata orang bijak, lancar kaji karena diulang, enak makanan karena dikunyah.

SEPERTI kataku tadi, dia tidak kubantah, tapi kuberikan gambaran dan pemahaman. Dengan alasan, agar dia tidak sesat karena kufur terhadap nikmat. Mendengar wejanganku ini, kuamati rasa kesalnya mulai memudar. Keadaan tersebut memang kuharapkan, sehingga aku bisa lebih leluasa dalam memberi pencerahan. Sahabatku yang marah dan kecewa, adalah gambaran prilaku umum para orang tua yang tidak bisa menerima kenyataan. Bahwa semua harapan belum tentu bisa menjadi kenyataan. Tetapi justru kenyataan sering terjadi dari yang bukan kita harapkan. aku katakan itu padanya, bukan berarti ada pemutar balikan fakta. Ini adalah sebuah kenyataan yang tentu saja bisa dibuktikan.
KETIKA, di tahun 1978, Tatan Daniel, Uli Famza Marpaung(Ramli Marpaung) Asrial Mirza(ketua sanggar) dan kawan-kawan lainnya berkutat di Sanggar Laras dan punya nama di Sumatera Utara. Eddie Karsito masih selengean dan tidak punya karya apa-apa. Jamak saja memang, karena di Sanggar Laras tidak hanya seniman yang berkumpul, tapi instelatir listrik juga ada. Kondisi tersebut mungkin saja akan terjadi hingga hari ini, kalau saja Asrial dan Eddie ditahun1981 tidak hijrah ke Jakarta.

MELIHAT kenyataan hari ini, Eddie sudah membuka lebar-lebar mata kita, bahwa TALENTA atau BAKAT itu penting tapi bukanlah segala-galanya. Karena latihan yang tiada henti serta semangat juang yang tinggi, akhirnya menjadikan dia orang daerah yang berprestasi di ibu kota. Kenyataan yang lain adalah, seorang Asrial Mirza yang ditahun 1980-an karya-karya sastranya menghiasi halaman-halaman media, hari ini tetap biasa-biasa saja.
SAHABATKU tadi akhirnya menarik nafas lega, gambaran dan pemahaman yang kubentang di hadapannya, ternyata telah menyadarkan dirinya yang selama ini dibebani persepsi yang salah. Seperti apa yang diungkapkan Khalil Qibran dalam sajaknya tentang posisi seorang anak, " Kau hanya bisa memiliki dirinya tetapi tidak bisa memiliki jiwanya."

*****

Cermin (Cerita Mini)
TALENTA
Penulis : Asrial Mirza 
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin - BIROKRAT SEJATI Penulis : Asrial Mirza



   Entah angin apa dan bertiup dari arah mana aku tidak tahu. Juga tidak punya keinginan untuk mencari tahu. Kalau tiba-tiba orang-orang mulai bicara tentang suksesi kepemimpinan di Kabupaten Asahan. Entah siapa yang memulai dan entah siapa pula yang menyahuti aku tidak mengerti. Dan tidak juga coba untuk mengerti untuk persoalan yang satu ini. Hanya saja, secara jujur aku akui kalau membicarakan tentang suksesi adalah sangat menarik minat dan hati. Setidaknya bagi diriku secara pribadi. Begitupun ada rasa heran terbersit jauh di dalam lubuk hati, mengapa suksesi sudah dibicarakan sepagi ini. Bukankah Drs.H.Taufan Gama Simatupang MAP dan H.Surya BSc belum satu tahun menjalani priode ke II. Ini pertanda apa. Ini gejala apa. Atau orang-orang sudah tidak sabar untuk menduduki kursi nomor satu di Asahan. Atau juga ini adalah wujud dari sebuah kegelisahan dari masyarakat yang menginginkan(mungkin) merindukan perobahan pada daerah ini secara cepat dan signifikan. Akibatnya mereka sedikit kehilangan rasa sungkan pada keberadaan Bupati yang masa jabatannya berakhir tahun 2021 yang akan datang. Namun, harus diakui bahwa keinginan akan sebuah perubahan rasanya sangat manusiawi dan juga kebutuhan. Menyikapi bola salju yang sudah mulai menggelinding. kalau boleh dan tidak tabu, aku juga punya sebuah harapan. Harapan itu adalah, Bupati Asahan yang akan datang hendaknya dari kalangan Pengusaha atau Profesional. Ini merupakan sebuah tawaran dan membuka sedikit ruang kesempatan bagi yang ingin mengabdi buat Asahan. Karena, almarhum Drs.H.Risuddin dua priode memimpin Asahan dan Drs.H.Taufan Gama Simatupang MAP tengah menjalani priode yang ke II jadi Bupati dan keduanya sama-sama birokrat sejati. Siapa yang menjadi jagoan anda....!

*****

Cermin (Cerita Mini)
BIROKRAT SEJATI
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin - AKU DAN KEHIDUPAN Penulis : Asrial Mirza


    Kemarin 30 September 2016. Allah memberiku umur genap 56 Tahun, diberinya pula seorang istri setia yang bernama Halimatussa'diah,dan dilengkapi dengan anak-anak yang tercinta, Asyifa Rizvi Al-Miraza(Mhs Psikologi USU), Baina Salsabila Al-Miraza( Siswa MAN Kisaran), M.Yusril Ihza Al-Miraza Hasibuan(Siswa MTSN) dan Ahmad Zidane Ukhrowi Al-Miraza Hasubuan(Almarhum). Suhanalllah Walhamdulillah Walaailaa Haillalahu Wallahu Akbar. Setiap tiba pada hari, tanggal dan bulan kelahiran, aku tidak mengingat usia yang sudah kulewati, tetapi yang paling terpikir adalah" Berapa umur yang masih tersisa yang akan kujalani.

*****

Cermin (Cerita Mini)
AKU DAN KEHIDUPAN
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin - SEORANG LELAKI DAN SEBOTOL BENZIN Penulis : Asrial Mirza


   Siang di halte jalan Cokroaminoto Kisaran atawa di depan Sekolah Dasar,aku duduk setelah memarkirkan sepeda motor. Berselang beberapa saat punggung ini terhenyak di bangku batu yang panjang, seorang lelaki tua dengan tongkat besi steenles ditangan kirinya, duduk sebalahku..Rasanya aku termasuk orang yang tidak beretika juga sombong sekali, jika aku tidak menyapa lelaki yang duduk terengah-engah di sebelahku. " Bapak tadi dari mana.....?' ujarku membuka percakapan. Selanjutnya bapak tua ini bertutur kalau dia sedang olahraga jalan. Rumah tempat dia tinggal hanya sekitar 100 meter dari posisi kami yang tengah berbincang. " Beginilah kalau sudah tua, baru jalan sedikit saja terasa capek. Makanya hidup terlalu lama juga tidak ada guna, kalau kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Menurut lelaki tua yang baru kukenal ini, dia hanya berdua saja tinggal di rumah bersama istrinya. Mereka makan dengan berlangganan sayur rantang. Tidak ada ikan apalagi daging, karena vegetarian. Sementara anak-anaknya sudah hidup dengan keluarga masing-masing, ada yang di Kisaran dan tempat-tempat lainnya. Sedangkan wanita yang masih setia mendampinginya tersebut kini berusia 85 tahun. Sedangkan dia sendiri baru saja merayakan ulang tahun yang ke 94." Saya sudah hidup di Kota Kisaran melewati beberapa zaman dan Kisaran ini adalah daerah yang sangat aman. Meskipun di tempat-tempat lain terjadi kekacauan, tetapi di Kisaran tetap aman. Masa saya dulu, kami berkawan tidak lihat suku, bangsa dan agama juga materi. Makanya pergaulan itu sangat nyaman dan indah. " Dulu kami pergi bersama-sama naik lereng(sepeda) lihat Ronggeng, karena masa itu belum banyak jenis hiburan. Beda dengan anak-anak zaman sekarang, kalau sudah kaya sedikit menjadi sombong. Pembicaraan kami terhenti, ketika seorang teman yang melintas dan sebelumnya kumintai tolong belikan SEBOTOL BENZIN, telah datang. Ketika aku mengisi tangki sepeda motor dengan benzin tadi, lelaki tua inipun beranjak pergi, meski tau di mana rumahnya, tetapi aku lupa menanyakan siapa namanya. Yang masih kuingat ketika disela-sela pembicaraan kami dia menyebutkan nama orang tuanya. " Ayahku Chin Beng.! Dan akupun menimpalinya bahwa sejak kecil sudah dengar nama Chin Beng, namun tidak kenal orangnya. Yang pasti tanah Chin Beng ada di hampir sepanjang sisi sungai Silau di Kota Kisaran. SEORANG LELAKI DAN SEBOTOL BENZIN, itulah kuasa ALLLAH, karena mogok kehabisan minyak, aku dipertemukan dengan lelaki tua turunan Tionghoa.

*****

Cermin (Cerita Mini)
SEORANG LELAKI DAN SEBOTOL BENZIN
Penulis : Asrial Mirza 
Kisaran,Sumatera Utara
ASRIAL MIRZA


Minggu, 08 Mei 2022

TEMPE GORENG TEPUNG YANG MERDEKA Penulis : Emmelia M


 
   Aku menahan laparku di warteg mungil ini. Tersisa uang sepuluh ribu satu-satunya di saku blazerku. Blazer hitam berkancing emas menghiasi penampilanku siang ini.

Di sudut meja dekat dinding, kupesan menu enam ribu rupiah dan satu gelas teh manis panas. Penampilan mewah terasa asing di warung ini. Tak ada yang peduli. Riuh obrolan dan asap rokok dari para pekerja yang sedang makan.

Pelan-pelan kuminum teh manis panas. Merasakannya mengalir di kerongkongan. Hangat, seperti air mataku tertahan di pelupuk. Pelan dan pelan kehangatan teh meredam kecamuk dalam perutku. Aku meminta ibu penjaga warteg membungkus nasiku yang mulai dingin. Aku memakannya nanti bersama anakku, Srintil. Rejeki hari ini. Sang ibu menyelipkan dua potong tempe goreng tepung dalam bungkusan nasiku. Ia memberiku juga dua bungkus teh tawar panas.

Jalan sempit depan Stasiun Duri, penuh sesak segala motor, angkot, bajaj, mikrolet, dan mobil. Aku menjinjing sepatu tinggiku, bersandal jepit, pulang ke rumah kontrakan. Kubuka pintu rumah, dan Srintil meringkuk di kasur, tidur pulas, masih berseragam. Airmataku lirih menggenangi pelupuk mataku. Kupindahkan kepala Srintil ke pangkuanku. "Ibu, sudah pulang? Nanti malam ibu ke Bar Rose atau libur? Srintil bertanya dengan mata masih tertutup. Kubelai rambutnya yang ikal.
"Ibu menemanimu mulai malam ini. Ibu hanya kerja di restoran Babah Ong," kuciumi pipi Srintil. Babah Ong akan membiayai hidup kami berdua, asal aku bekerja sebagai kasir di restorannya. Dia pelanggan lamaku di Bar Rose.

Aku kembali meniti jalan sempit di depan Stasiun Duri, sepulang dari restoran Babah Ong. Lauk dan nasi goreng seafood dari restoran kubawa untuk lauk kami berdua malam ini dan besok pagi. Aku melewati warteg mungil langgananku. Sang ibu pemilik warteg, mantan induk semangku di Bar Rose, sedang beres-beres. Ia melihatku dan segera menghampiriku, memberikan sebungkus tempe goreng tepung yang masih hangat serta selembar seratus ribu ke tanganku. "Kita sudah jadi manusia merdeka," ia memelukku.

*****

TEMPE GORENG TEPUNG YANG MERDEKA
Penulis : Emmelia M
Bogor, 16 Agustus 2019

EMMELIA M


PERCAKAPAN DENGAN HUJAN Penulis : Emmelia M



   Aku mencatat akhir tahun 2017 ini dengan kehadiranmu lewat tulisan. Aku sungguh tak terpikir bila tulisan fiksi pertamaku telah membuatmu penasaran. Aku juga menyukai tulisanku itu, singkat dan indah, ada doa malamku di dalamnya. Dan itu juga sepertinya telah menyentuhmu sehingga mencariku lewat akun medsosku.

Tulisan itu diilhami oleh RohNya, kebaikan dilahirkan dari pemikiran yang penuh harapan terbaik, dan juga kemartiran dalam dunia yang digital, kapitalis dan sepi ini. Sempat terputus selama sebulan, akhirnya kamu menemuiku lewat inbox. Aku pun takut dengan pertanyaanmu, "Mba, penulis ya?" Aku takut karena aku tahu kualitas diriku, aku bukan penulis yang disiplin dengan waktu. Namun kuakui, kunikmati percakapanku denganmu. Banyak dimensi manusia yang baru kuketahui, dan mungkin akan menginspirasi tulisan-tulisanku.

"Jujur, waktu itu kami sudah siap untuk membuat film pendek berdasarkan ceritamu. Sayang, kesibukan kami membuatnya batal," sesalmu menjelaskan betapa tulisanku telah memotivasimu dan juga diriku, untuk lanjut menulis. Dirimu menulis genre non fiksi dan aku di jalur fiksi.

Aku dulu takut berdebat dengan orang-orang filsafat. Namun aku bisa memahami sajak filsafatmu dengan cepat dan menikmatinya bersamamu. "Cerdas, cepat dan tepat menjelaskan artinya," ketakutanku mulai sirna. Lanjut dengan cerita-ceritaku, puisi-puisimu dan satu buku refleksimu.

"Ada tulisan terbaru?" dan semua bergulir mengisi ruang-ruang ingatan, waktu yang ada untuk menjadi lebih baik lagi. Kamu terlatih dan matang dengan kata-kata, dan banyak membuahkan kebaikan kehidupan untuk orang-orang yang benar namun dimarginalisasikan dari kebaikan hidup. Tulisanku masih emosi sesaat, meletup-letup namun kamu tetap menyukainya, meminta saran-saranku untuk penulisan fiksi dan selalu menyemangatiku. Aku baru tahu, ternyata menulis itu menciptakan perjumpaan indah.

Perjumpaan diiringi guyuran hujan atau gerimis, suaramu penuh pengertian dan juga kejutan-kejutan dari keseriusan refleksimu. Benar sebuah kejujuran yang pasti, membuatku malu dengan diriku. Aku mulai ingin berharap lagi, bermimpi lebih jauh lagi.

"Eh aku ingin menulis sesuatu untukmu, semoga bisa tahun ini," aku bersemangat karenamu. Aku pasti harus bertempur habis,-habisan dengan moodku dan kemalasanku. Aku menantang diriku, setelah gagal total menulis esai dan opini. "Gak apa-apa kok, kita berbeda genre. Toh kita bisa saling menikmatinya" akhirnya kita tertawa lepas. Dan menyukainya. Sesuatu, bukan?

Dan hujan kembali menyapaku, menyapamu hari lepas hari, mengilhami, menenangkan, kadang mengejutkan kita untuk menulis lebih lanjut. "Aku kesal, aku merasa aku harus membeli ideku sendiri. Bangkrut aku!" teriakku putus asa. Suaramu menenangkanku. "Cobalah menulis di ladang yang lain, yang lebih menghargai jerih payahmu" aku tersadar, aku belum disiplin untuk lebih bagus lagi. Namun aku ingat harapanku, mimpiku lagi.

Dan janji-janjiku padamu, harus kutuntaskan sukarela, seperti hujan yang sukarela menghilang ke dalam perjumpaan kita.

*****

reflection :
PERCAKAPAN DENGAN HUJAN
Penulis : Emmelia M
Bogor, 21 Des 2017
Minggu Gaudete.

EMMELIA M