RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Minggu, 05 Agustus 2018

Kumpulan Puisi Tasya Aliza Putri - SEDIHKU



♧■■ SEDIHKU ■■♧
☆■■ KARYA :Tasya Aliza Putri ■■☆


Rapuh jari menusuk jiwa telaga malam
Air hujan membasahi jembatan berdaun
Dingin raga ini namun itulah pilu hati
Sendiri aku duduk disini embun pun menciumku
Langit malam turunkan rintik -rintik embun
Agar basah rinduku tujuh sinar berbalik kering
Rumput hijau tak berwarna lagi salahkah diri ini
Kunjungan lembah jalan bertiup angin debu
Rambut yang hitam bergumpal basah
Sepertinya ya ikut menangis atas diriku
Sepi mencekam tak ada pengobat luka

Seraut wajah manis molek indah menawan
Cantik angun bergaun bunga unggu
Kasih jemputlah aku dalam penamu
Tak kusangka hatinya berubah padaku

Purnama tiba namun gelap hati
Perih itu masih membekas diujung sedihku
Debu bertangga hitam luapan penugu syair
Dan bertaya pada jiwa masihkah dia sayang padaku

Kering sudah air mata menahan pilu dan derita
Peluk batin rintik hujan berembun putih
Gadisku patah sayapnya namun masih
Tetap bertahan untuk tegar berbalik sedihku

Percut 4_Agustus_2018
#gadisembun




GAUN AIR BERSELIMUT PILU


Detak ombak melambai pilu dermaga laut
Awan hitam menangis berubah putih
Bintang bersembuyi seperti berteduh
Panorama langit di malam ini sungguh perih
Bisik bibir laut bermandi pasir

Tubuhku lemas berselimut pasir laut
Basah tiada bergaun ombak laut biru
Jatungku berhenti sejenak mataku
Tertutup lembah pasir butiran laut

Lemas sekujur tubuh tak ada daya
Terhimpit kepiluan tangisan jari
Kembar laut tuangkan sejuta resah
Sukma ning tirta naluri berkunjung ke atas langit

Kasih aku tugu jemputmu melambai
Tirai telaga lembah ombak berawan
Wangi berbalut sehelai pasir terdampar
Muara tiada kembali sungguh kejam hatimu kasih

■■KARYA: TASYA ALIZA PUTRI ■■
Percut 2_Agustus _2018
#gadisembun
#untukmu_penjaga_hatik

Kumpulan Puisi Layla Dct - PILIH



PILIH


kita bahkan masih bisa memilih
Menjaga semua tulisan
Yang kan mewangi diatas pusara

Bila tiba masanya
Maut menjemput dalam dekap hangatnya
Lepaskan fana
Yang silaukan mata

Ini seperti pahit
Yang kan berbuah manis
Meski penebusnya adalah jarak
Kekang pada ambisi jurang

Seluma 5 Agustus 2018





RUMAH API


harus seperti itu?
Terbakar dalam rumah apimu??
Sedang aku bukan hujan
Dan tak jua padamu.

Seluma, 4 Agustus 2018




RINDU


Setepat engkau mengatakannya
Kau hapus semua jejakmu
Tanpa sisa
Selain kenang

Seperti naskah yang telah di jilid
Mungkin rasa membawamu
Tersesat di pulau angan
Tanpa harap kan berlayar pulang

Tempat kembali
Serupa semai yang akan tumbuh
Mengilhami tunas-tunas yang membawa rona ke senja
Dan senja ke baka

Karya : Layla Dct
Seluma, 27 Juli 2018

Jumat, 03 Agustus 2018

Kumpulan Puisi Nimas - SENANDUNG



Permintaan
(Nimas Sayu Dara)


Bias mentari mengusap wajahku perlahan
Membangunkan lelap dalam dingin embun semalam
Ingatanku terjaga tiba-tiba
Padamu Tuan, belahan jiwa

Butir embun menganak sungai
Sederas pilu ketika engkau tak lagi di sisiku
Sederas rindu yang tak mampu lagi aku pendam
Hingga nyeri tak sanggup aku sembunyikan

Wahai waktu ....
Kembalikan kekasihku
Ijinkan kami kembali bertemu
Untuk meretaskan simpul ragu yang membelenggu

Wahai jarak ....
Jangan selama ini meminjam dia dan membuat kami berjauhan
Sebab rasa rinduku kini bagai bumerang
Datang dan menyerang tanpa diundang

Lampung, 31 Juli 2018
#SayuDara





Senandung
(Nimas Sayu Dara)


Aku masih kidung yang senantiasa lantunkan tembang rindu, untukmu
Dengarlah senandungnya pada kedalaman hatimu

Bukankah masih tetap setia nada-nadanya menggema dalam cinta?

Aku masih serumpun ilalang, yang senantiasa bertahan dalam gersangnya semesta
Yang tak pernah letih memancang asa
Meski acapkali harus terkulai kering sebab embun yang tak juga turun

Aku masih telaga tempatmu melepas dahaga
Saat langkahmu payah penuh lelah dan luka
Senantiasa kujaga damaimu di sini
Meski setelahnya engkau berlalu pergi, tak lagi kembali

Akulah bait duka yang selalu kau lupa
Ketika pena kau tuang untuk menulis sajak romansa
Aku ....
Senandung yang masih setia mengalun
Meskipun pesta telah lama usai

Lampung, 30 Juli 2018
#SayuDara





Pejuang
(Nimas Sayu Dara)


Tetes keringat mengalir bersama genangan darah
Membasahi bumi pertiwi tercinta
Jerit tangis anak istri berkumandang
Pilu meneriakkan namamu

Beribu peluru dan mesiu
Menjamah seluruh nusantara
Darah menggenang di mana-mana
Demi membela negara tercinta, Indonesia

Merdeka!
Merdeka!
Tak perduli hidup atau mati!
Terus maju, pantang mundur
Demi Sang saka Merah Putih

Merdeka!
Telah 73 tahun kini kemerdekaan kami nikmati
Berkat perjuanganmu wahai pahlawan
Takkan hilang dalam ingatan
Atas pengorbanan jiwa dan raga, hidup dan matimu

Merdeka!
Seluruh penjuru berseru
Untukmu Indonesiaku!

Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara





Embun Juli
(Nimas Sayu Dara)


Ketika beningnya luruh
Ia begitu malu
Hanya mengintai lewat dahan dan ranting kering
Menyembunyikan kilaunya pada kelopak-kelopak kembang

Embun Juli
Mendendam rindunya pada rerumputan
Hingga dingin menggigilkan pagi
Membeku dalam sunyi

Embun Juli
Ilalang patah hati
Gemerisiknya kering kini
Rindunya urung terobati

Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara




Hingga Akhir Waktu
(Nimas Sayu Dara)


Lemah ragaku bersandar pada bahumu
Menahan ribuan sakit dan nyeri yang tak terperi

Jangan beranjak pergi ....
Aku mohon, tetaplah di sini
Memelukku dengan lantunan doa-doa suci

Tetaplah di sini menemani
Aku ingin melihat cantiknya mentari pagi, sampai senja berpendar di cakrawala
Bersamamu, kekasih
Hingga nanti, ketika satu-satu detak jantung dan denyut nadi berhenti
Aku .... Tetap ingin lelap dalam hangat pelukanmu

Lampung, 05 Agustus 2018
#SayuDara




Fajar Masih Saja Embun
(Nimas Sayu Dara)


Apa kabarmu fajar?
Beberapa purnama berlalu hambar
Segenap rasa hening tersandar
Melewati tiap inci pagi yang beranjak lamban

Apa kabarmu fajar?
Dalam gigil embun kemarau engkau berpijar
Berselimut kabut yang menebal
Apa kau lupa cara menebar hangat dan pendar
Hingga pagi begitu larut dalam dingin yang tak beraturan

Apa kabarmu fajar?
Yang kini tersesat pada pekat halimun dan rinai embun
Masihkah menitipkan kehangatan pada jingga senja?

Lampung, 12 Agustus 2018
#SayuDara
#Kemarau_Agustus_makin_berkabut
Share_pict_from Dara Utami

Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - MIMPIKU



Gigil Bunga-Bunga Rumput

Gigil bunga-bunga rumput pada pagi terbit
Di sela-sela bebatuan gunung
Menyisakan risik risau semalam
:Kupu-kupu terbang bergerombol
Menandai cahaya merekah
Kepaknya tak sesunyi
Hati yang tengah merindu

Bunga-bunga rumput , sepadang sabana bukit
Hembusan nafasnya,dalam kehangatan bergerak
Mendaki perbukitan sebagai jalan yang dipilih
Dan akupun terbang dengan sayap-sayap kertas
Bergerak….bergerak….terdampar
Ke puncak sunyi yang menganga

Temanggung 2018





Mimpiku
buat Gendukku
(akhirnya Kau ke Istana Negara)



Banyak sudah harapan terbuang
Impian berganti menjelang
Sunyiku belum juga mampu mengeja kata

Mimpiku kau bawa terbang jadi mimpimu
Menutup lukaku yang menganga
Kau terbang melayang diatas karpet merah
Dengan berjuta cahaya
Berkilat menebarkan sajak bersahut
Membawa jiwaku dalam keindahan melaut
:kenanglah aku wahai anakku
Dalam sayup dawai
Torehkan cintaku wahai anakku
Dalam alunan nada
Yang terbilang
Dalam makna yang menebar

Rindu mengajari kita tentang cinta yang sebenarnya
Perjuangan, pengorbanan dan kesungguhan
Rindu mengajari kita tentang ketabahan dan ketangguhan
Dan rindu memberikan sunyi
Dan sunyi meretas jalan kita
Menuju puncak tertinggi
Menyaksikan lautan menari-nari

Temanggung 1918




Aku Selalu Menunggu
(kepada anak-anak yang selalu datang)


Sedari pagi daun-daun berguguran
Mata anak-anak tersiksa, mengejar mimpi-mimpinya
: aku tak beranjak menepikan ketakberdayaan

Sedari pagi mereka selalu saja menyelipkan sajak
Pada angin yang tak pernah tidur
Mengejar bayang mimpi dalam usia terhenyak
:hidup seperti pisau menikam nikam

-Akupun berkata pada retakan kaca
:Simpanlah aku di dalamnya
Kalaupun pecah biar berkeping
Dan terkubur dalam kesakitan

Sedari pagi selalu datang kata
Dalam lafal hembusan angin lelah
Mereka Selalu datang
Bertubi-tubi
Sampai matahari bersembunyi dibalik gigir gunung
-Esok akan datang lagikah
Kata cemas dalam air mata tersembunyi ?

Aku selalu menunggu
Alif, ba’ kehidupan itu
Aku akan selalu termangu
Sedari pagi, sampai segala bunyi berakhir

Temanggung 2018.




Cinta dalam Sunyi
-Isteriku-

1.
Sepetak kenangan, cinta menggenang
Sejak semula kita menikam dada kita dengan setumpuk kerinduan
Dan Cinta yang tak pernah tidur
:Aku menatapmu setiap menjelang tidur
Dan kau melepas malam dengan sebuah ciuman

Kadang malamku seperti berkaca-kaca
Dalam pelukan
Terasa sunyi, dalam gigil yang seperti menghibur kita
‘’tak boleh musim merenggut mekarnya bunga dan rimbunnya dedaunan’’
Katamu

2.
Kau seperti mendengar mantra langit membias purnama
Seperti 35 tahun yang terbang
-Kita bersandar pada sebatang cemara, ketika musim gigil
merambati perbukitan, dengan lembut angin merapatkan pelukan
tak ada sepatah kata menyibak kabut yang tak pernah surut
menyelimuti pohon-pohon cemara dan puncak gunung-

Aku mendengar nafas mu berkata-kata diam
Karena resah angin menanti pergantian musim
-Cakarwala yang jauh, menanti kita selalu
Menanti kita selalu. Kita berdua, abai dalam waktu
: Jangan…jangan menjauh !-

Kekasihku, tinggallah dalam mantra
Cinta kita yang meratap dan merindu
Di seluas bimasakti
Seperti ketika Padang Arafah memeluk kita
ucapkan lafal-lafal penyempurna cinta
kita tak bisa menerka
hanya padang luas terbuka

Temanggung 2018




Terkenang Laut Merah
(1)


Sering terasa melepuh
Jiwa bersayap rapuh
Terbang tanpa henti
-Disini
Disini aku selalu mengenangmu
Dalam sepi
Waktu yang melaju-

Seperti Qois menanti Laila
Bicara pada air serta menghanyutkan dedaunan liar
Mengalirkan cintanya
Kerinduannyapun menyapa burung dan angin
-sampaikan cintaku pada Laila- katanya

Hari memang terasa gigil selalu
Musim dingin memaksa burung-burung tinggal disarang
Risaunya bukan karena terpisah jauh
Tapi karena berpelukan selalu
Takut angin berkhianat berubah jadi badai
Bertiup mendebarkan

Senja, merah matahari menyisir bukit-bukit datar
Sebelum tenggelam seperti bola api
Yang mengubah hutan jadi kuning kemerahan
-Laut merah !
Seperti senja di tepi laut merah
Matahari menyala pelan menyatukan diri
Dengan cakrawala batas laut
Seperti cinta kita
Berpelukan hangat
Disana
Di tepi laut merah-

Temanggung 2018

Kamis, 02 Agustus 2018

Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - BUKAN MENJADI PENDUSTA


# BUKAN MENJADI PENDUSTA #

Lihat di sana,
Tiada lagi bunga bunga,
Derita yang begitu menganiyaya,
Tapi itu sudah biasa,
Seumpama air mata,
Kering di tangisan tak bernyawa,
Ya,, palestina.

Di sini,
Terlihat langkah kecil berlari,
Menempuh imajinasi,
Mengejar mimpi mimpi,
Dan terpuruk dalam ambisi,
Setelah menghakimi diri sendiri.

Aku Cinta Indonesia,
Kerukunan berBhineka Tunggal Ika,
Kini telah menjadi ajang huru hara,
Mengotori tetesan darah mereka,
Mereka yang rela berkorban harta dan nyawa,
Demi kemerdekaan anak cucunya dan Pancasila,
Tapi mengapa kita harus lupa?.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 27:07:2018





# KEBAHAGIAN KU #


Bagai mana lagi,
Ku kan terus arungi,
Lelah meronta tak mau pergi,
Hari ini esok dan hari nanti,
Aku arung perjalanan takdir ini,
Yang hadir seperti mimpi mimpi,
Walau tiada jawaban yang harus ku nanti.

Aku melangkah terbelai lika liku,
Melangkah terbuai sang bayu,
Terhenti diantara debu debu,
Terserap keringat di baju,
riang menerjang sepasang sepatu,
Kala itu langit hampir kelabu.

Aku mencari kebahagian,
Kebahagiaan yang ku impikan,
Diantara kerlip lampu jalanan,
Diantara redup rindang pepohonan,
Di situ aku terus berjalan,
Bersama cerianya kebebasan.

By : LUmbang KAyung
Asahan 27:07:2018





# TEGURAN MU BANGUNKAN LELAP KU #


Tak dapat ku kabar kan,
Tentang pelangi,
Tentang rembulan,
Tentang mimpi mimpi,
Tentang perjalanan,
Yang ingin ajak aku untuk dapat berlari.

Teguran mu bangunkan tidur ku,
Ku buka helai daun jendela,
Aku terbelai hembusan Sang Bayu,
Gemersik nada alunan rimbunan Bambu,
Panggil ku kembali beraksara,
Tentang alam dia dan kamu sahabat ku.

Inilah goresan malam ku,
Sambut hangat rembulan dan mentari,
Arungi luasnya lautan biru,
Bangunkan ku dari sepi ku sendiri,
Itu karena kamu sahabat ku,
Sahabat yang panggilkan seberkas cahaya Asa.

Lumbang KAyung
Tanjung Balai asahan 06:08:201




# TERPERANGKAP ANGAN ANGAN #


Aku masih di sini,
Ku hempaskan mimpi mimpi,
Ku meniti pelangi,
Kan ku kejar panasnya mentari,
Untuk ku jadikan cahaya abadi,
Dalam syair nada cinta suci.

Tiada arti luasnya samudra,
Badai topan bukan rintangan,
Dengarkan gemuruh halilintar menyala,
Irama nyanyian ku membawa sebuah impian,
Dan berkumandang hingar bingar tawa bahagia,
Dalam dekap hangatnya pelukan.

Di sini cinta dan kekuatan,
Kokoh menghadapi rintangan,
Di sini kasih sayang selembut cahaya rembulan,
Menebarkan harum bunga bunga di taman,
Yang tak lekang di usik zaman,
Hingga terkubur di pusara kehormatan.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 06:08:2018




# AKU YANG KEHILANGAN ASA #


Seumpama pena,
Kau goreskan kata kata,
Seumpama gema,
Kau dendangkan nada irama,
Menggoda jiwa dan raga,
Merayu merasuk kedalam sukma.

Aku si air sungai mengalir kemuara,
Hanyut terbawa arus dilema,
Terbelai lembut hembusan angin asmara,
Lalu terasa asin di kala coba meminumnya,
Dan tak dapat untuk melepas haus dahaga,
Yang akan larut menuju lautan samudra.

Tiada guna berceloteh duka dan lara,
Dalam meretas dilema sandiwara cinta,
Terasa kan hampa linangan air mata,
Dalam merenungi kekecewaan yang sempurna,
Di jiwa yang kini menelan perih pahitnya derita,
Yang menyelimuti langkah hilangnya sebuah asa.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 14:08:2018

Kumpulan Puisi Bang Toyyib Sibarani - UNTUK CALON LEGISLATIFKU


" UNTUK CALON LEGISLATIFKU "

Untuk apa aku berjualan janji-janji.
Jika aku sekali hadir dan seterusnya tak nampak lagi.
Untuk apa ku hadirkan materi jika selembar saja yang kuberi tak cukup dalam sehari.

Pemilihku tidak butuh calon yang pandai berpuisi seperti aku. Dan
Tidak juga yang memiliki banyak istri dan bamyak materi.

Rakyat memilihku untuk memperjuangkan isi perutku lalu kemudian memperjuangkan pemilihku dan golongan atau partaiku.

Tak peduli seberapa bagus partaiku
Yang ku tunggu cair anggaran tanpa celah untuk masuk kepundi-pundiku.

Rakyatku butuh yang mengerti akan perbaikan. Butuh pembaharu dan pelayanan tanpa harus bertaruh.
Tak sedikit yang pemilihku yang tahu.
Bahwa aku seorang legislatif yang terpilih dan duduk diatas bangkai saudara sendiri.




Budaya Salah Menyalahkan


Wahai para ulama yang lupa dengan umatnya…!
Nasehat dan ilmumu merupakan cahaya
Yang menerangi dan membuat tenang orang yang berada dalam kegelapan
Tapi kenapa moral dan nilai yang kamu bawa itu sekarang lari tunggang langgang
Menjauh…dan menjauh, sehingga figure itu telah tiada.

Wahai para penguasa yang serakah…!
Kamu menjadi tulang punggung rakyat jelata
Kok malah enak-enakan ngumpulkan harta
Tidakkah kamu ingat,
Akan pikulan amanat yang amat berat .

Wahai para penegak hukum yang lembek…!
Tegakkanlah hukum di negara kita kuat-kuat
Genggamlah keputusan yang adil dan bijaksana
Jangan malah ikut-ikutan nimbrung dengan para penjahat
Dan menyalahgunakan amanat.

Wahai para ekonom dan pengusaha yang ber”ego” ria..!
Kenapa kamu tidak menguatkan rupiah kita…?
Kenapa kamu tidak membuka lapangan kerja…?
Sedangkan kamu melihat banyak anak negri kita yang pengangguran
Walaupun mereka telah menyelesaikan strata sarjana.

Wahai para pemuda-pemudi yang malas-malasan…!
Campur tanganmu dalam memajukan bangsa diperlukan
Otakmu…, tenagamu…, pikiranmu…masih segar
Tapi kenapa kamu terbuai dengan rayuan narkoba
Yang akhirnya menghancurkan “nilaimu” di masa depan.

Wahai para Ulama.., wahai para penguasa…, wahai para penegak hukum…, wahai para ekonom dan pengusaha…, wahai para pemuda-pemudi dan seluruh bangsa Indonesia…
Akankah kita saling menyalahkan orang lain selamanya
Sehingga kita mudah dipecah belah oleh para penjajah…?
Atau karena memang didikan kecil kita yang menyalahkan kodok kalo kita terjatuh?
Atau perasaan gensi yang lebih kuat sehingga kita tidak mau menyalahkan diri sendiri?
Malulah…., tahu dirilah…, introspeksi dirilah…
Singkaplah tabir budaya menyalahkan orang lain…!
Dan perbaikilah dari diri kita masing-masing
Sambunglah sendi-sendi yang telah tercerai berai…
Agar menjadi satu kesatuan yang kuat untuk bersama memperbaiki bangsa kita

Ya Rabbun ghafuurr….
Engkau Maha Mengetahui segalanya…
Kesalahan kita, kebobrokan kita, kelemahan kita dan kerusakan kita…

Maka berikanlah ampun Mu ya Rabb…
Dan berikanlah kepada kami ulama yang baik dan perbaikilah ulama kami.

Berikanlah kepada kami penguasa yang baik dan perbaikilah penguasa kami.

Berikanlah kepada kami penegak hukum yang baik dan perbaikilah penegak hukum kami.

Berikanlah kepada kami ekonom dan pengusaha yang baik dan perbaikilah ekonom dan pengusaha kami..

Berikanlah kepada kami pemuda-pemudi yang baik dan perbaikilah pemuda-pemudi kami.

Berikanlah kepada kami bangsa yang baik dan perbaikilah bangsa kami… Aamiin

#Pesan_Puisi_Bang_Toyyib_Sibarani
#selamatberaktiviras





"ORANG KECIL ORANG BESAR"


Di suatu malam yang sunyi
Di dalam rumahku yang gerah
Beberapa anakku yang lugu
Sedang kuberi wejangan yang lugu-lugu
Akuberkata:
“wahai Anak-anakku,
Kamu sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kamu nanti menjadi orang kecil!”
“Orang kecil itu, kecil peranannya
Kecil perolehannya,”

“Ya,” itulah dia
“Orang kecil sangat kecil bagiannya.
Anak yang paling kecil masih mendingan.....
Rengeknya didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan karena.....
Suaranya tak suara.”

Lalu Sang ibu juga ikut wanti-wanti...
“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ...... dia ditipu
Jika ia menipu ....... dikejar
Jika ia bekerja....... digangguin
Jika ia mengganggu..... dia dikerjain.”

“Ingatlah, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas ...... dia diperas
Jika ia diam ..... dia ditikam
Jika ia protes ....... dia dikentes
Jika ia usil ........dia dibedil.”

“Orang kecil jika ia hidup dipersoalkan
Jika dia mati tak dipersoalkan.”
“Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya pasti selalu besar.”

“Orang besar jujur maupun tak jujur tetap makmur....
Benar-tak benar tetap dibenarkan
Zhalim-tak zhalim tetap dibiarkan.”
“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”
“Orang kecil jujur..... dibilang tolol
Orang besar tolol....... dibilang jujur
Orang kecil berani ......dikata kurangajar
Orang besar kurangajar....... dikatakan berani.”
“Orang kecil mempertahankan haknya.....
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak orang kecil....
disebut pendekar.”
Kemudian anakku terus diam tak berkata-kata
Namun dalam diri mereka selalu bertanya-tanya:

“Anak Kecil bisa menjadi Besar
Tapi mungkinkah Orang Kecil
Menjadi Orang Besar ?”

“O r a n g k e c i l ? ? ?
O r a n g b e s a r ! ! ! ”

#Pesan_puisi_bang_toyyib_Sibarani
#buat_Tan_Ahmad





" Ohh....Wahai Pemimpinku "

Aku Merindukanmu, Ohh... Wahai Pemimpinku
Sepanjang kurun waktu kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa dan para Petinggi Politikus
Terus mempermainkan kelemahan
Tanpa kusadari Airmataku pun mengalir mengikuti panjang kurun waktu
Mencari-cari tangan dan lemah lembut gaya serta wibawamu.
Dari data-data tipis dan Terus kudengar suara sembrautan.
Ku dengar Derita mengiris terus berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kututup dan Berharap sesekali mendengarkannya.
Saat Merdu kau menghibur suaramu dengan janji-janji.

Aku merindukanmu, wahai pemimpinku.
Ribuan tangan gurita keserakahan menggerogoti keuangan negeri ini
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa dan memakan korban
Mengeruk bumi meretas berjuta harapan
Aku pun tak berdaya dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu, menjerit hingga kurangkai dalam sebuah puisi.
Ohh wahai Pemimpinku, Ohh wahai calon Presidenku
Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Ingin rasanya ku meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, Wahai Calon Presidenku
Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu serta pendukungmu
Ohh...wahai calon Pemimpinku selamat dan salam hangat dari rakyatmu kusampaikan kepadamu.
Rakyatmu ingin bertanya bagaimana melawan gelombang kebodohan, kemiskinan dan sulitnya lapangan pekerjaan serta rasa kecongkaan yang telah tergayakan.

Bagaimana mengatasinya, seperti asing ditanah negeri sendiri wahai Pemimpinku.

#Puisi_pesan_bang_toyiib_sibarani
#untuk_calon_presiden_RI_2019