RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Jumat, 30 Juli 2021

Cermin - AMPUNKAN AKU, BU Penulis : Romy Sastra



   Kaki Ibu Suriati dan Pak Sardi sudah retak, bahkan sudah membengkak. Berjalan terpingkal-pingkal pergi ke sawah seperti siklus musim terus bergulir bak roda pedati mengiringi langkah kerbau berlari di jalan bebatuan sepanjang pagi dan senja hari.

Ketika Bu Suriati tiba di sawah, dia berdendang ke arah mata angin.

"Berembuslah duhai hari! Kirimkan kesejukan ke dada yang resah ini. Bawalah gumpalan awan menurunkan hujan di tanah yang kemarau ini."

"Tuhan, kenapa kami selalu gagal panen di setiap tahun. Apakah tanah yang tak subur di musim kemarau selalu tiba, atau dosa-dosa yang semakin merajalela. Hingga, kebun sawah dan tumbuh-tumbuhan tak dapat hidup, ataukah orang-orangnya yang tak lagi bersahabat, lupa norma adat dan akidah di kampung ini? Ampunkan kami ya Allah, kalau itu yang terjadi." keluh dan doa Ibu Suriati di pematang sawah menatap langit.

Sudah beberapa tahun Ibu Suriati dengan suaminya menggarap sawah di desa untuk kelangsungan hidup dan anak-anaknya yang mulai remaja. Ada yang masih sekolah, ada yang baru balita. Dan panen itu selalu tak mendapatkan hasil yang diharapkan.

"Pak, kita selalu gagal panen, dan anak-anak kita sudah mulai tumbuh dewasa, kita 'kan punya kebun karet di rimba? Bagaimana kalau sebaiknya bapak menyadap karet kembali ke rimba untuk biaya hidup dan biaya anak-anak kita ke sekolah." pinta Bu Suriati, dan juga salah satu anak sulung Pak Sardi di senja hari.

Pak Sardi hanya bergeming, menatap istri dan anak-anaknya di atas tikar makan sehabis waktu Magrib, dan hanya mengangguk menjawab saran istrinya. Air mata Pak Sardi jatuh ke dalam, tertelan bersama ikan asin dan sambal yang pedas, sepedas hidup yang ia rasakan membesarkan anak-anaknya.

Keesokan paginya, Pak Sardi bangun selesai solat Subuh. Pak Sardi mengajak anak sulungnya tersebut ke rimba, hendak menyadap pohon karet yang sudah lama ia tinggalkan karena hasilnya tak seberapa, disebabkan harga getah karet sangat murah dibeli pengepul getah.

Di tengah pendakian rimba menuju kebun karet miliknya. Pak Sardi dan anaknya si Buyung terengah-engah menaklukan pendakian menuju kebun karet miliknya. Pak Sardi bertanya pada si Buyung.

"Anakku Buyung si sulung, ketika kau besar nanti, ingat pesan bapak ya, nak?! Jangan kau lupakan jerih payah orang tuamu di masa tua. Ingatkan kepada adik-adikmu nanti! Jika ada rezeki lebih di mana pun kamu berada dan dengan siapa pun kamu menikah, bantulah ibu dan bapakmu walau sepersen pun kau beri, meski setiap tahun apalagi setiap bulan. Betapa ibu dan bapak merasa memiliki anak-anak yang berguna, setidaknya doa pun bapak harapkan pertanda kau tetap ibadah."

Singkat cerita, setelah dewasa. Sebagian anak-anak Bu Suriati pergi merantau, dan yang lainnya berusaha di kampung.

Selang beberapa tahun kemudian, si Buyung dan adik-adiknya teringat curhat bapaknya di masa muda di punggung bukit di desanya.

Kini, anak-anak Bu Suriati dan Pak Sardi sudah berumah tangga semuanya. Hidup anak-anaknya selalu merasa kekurangan sepanjang hari di dalam rumah tangga. Padahal hidup di rantau, anak-anak itu sudah berulangkali mendapatkan kesempatan menjadi pedagang yang sukses dari perniagaannya, dan anak-anaknya yang di kampung juga memiliki kesempatan yang sama berkat pendidikan disekolahkan oleh kedua orang tuanya dengan keterampilan yang berbeda-beda. Akan tetapi, mereka menyia-nyiakan rezeki yang didapatkan demi kelangsungan hidupnya masing-masing. Entah bagaimana anak-anak Ibu Suriati dan Pak Sardi mengelola keuangan di dalam rumah tangga untuk kemajuan masa depannya. Hingga mereka selalu merasa kekurangan, dan pada akhirnya, anak-anak itu mengeluh pada orang tuanya yang sudah tua, karena tak punya modal usaha. Sedangkan Bu Suriati dan Pak Sardi tinggal bersama anak bungsunya di kampung.

Ironis, di masa umur Ibu Suriati dan Pak Sardi yang kian senja. Anak-anak mereka masih saja mengemis meminjam uang pada orang tuanya untuk berbagai alasan keperluan modal usaha ke orang tuanya. Hidup dan sehat aja orang tuanya sudah bersyukurlah anak-anak itu semestinya. Orang tua petani, bukan pensiunan pegawai negeri yang memiliki penghasilan bulanan apa lagi simpanan.

Salah seorang anaknya, meminta uang ke orang tua yang sudah renta atas nama pinjam buat modal usaha, tak diberi. Cerca dan caci maki menggunung di dada anak yang tak tahu di untung. Membuat hati kedua orang tuanya teriris.

Flashback, di masa mereka masih kecil untuk menyekolahkan anak-anak Bu Suriati dan Pak Sardi, kedua orang tua itu sudah payah. Hidupnya seperti kaki di kepala, dan kepala di kaki, jerih, pediiiihhh ....

Di suatu malam, suara parau dari sudut rumah, doa-doa Bu Suriati seperti menggemparkan langit, hujan turun sederas-derasnya. Sederas air mata Bu Suriati di tengah malam buta. Memohon ke Yang Maha Kuasa:

"Ya Ilahi, bukakanlah pintu rezeki bagi anak-anak hamba di mana saja mereka berada."

Doa itu di puncak ikhtiar yang menggelegar diiringi petir malam di seantero alam.

Malam tenggelam, sayup-sayup suara azan Subuh terdengar, hujan mulai reda. Sungai di kampungnya banjir bah tiba-tiba.
Terdengar suara, dum, dum, dum.... Gemuruh bebatuan dan kayu-kayu gelondongan hanyut dari hulu sungai mengirimkan ke muara dan berlabuh di samudra.

Ibu Suriati jantungan, dapur di belakang rumahnya hanyut karena hujan semalam.
Ibu Suriati kepayahan menghela napas melihat Pak Sardi menyelematkan sisa-sisa perabotan yang hanyut dibawa air bah dan Pak Sardi ikut tenggelam dan hanyut meninggal di ganasnya air yang melanda. Pak Sardi akhirnya ditemukan oleh warga dengan tubuh yang sangat mengenaskan berjarak 5 KM dari kampungnya. Ibu Suriati pun meninggal di pagi buta karena serangan jantung melihat dapur rumah hanyut bersama suaminya, dan disaksikan anak, cucu serta menantunya. Pagi hingga siang, berita bencana itu menyebar ke mana-mana. Malang tak dapat diraih, mujur tak dapat ditolak bak kata pepatah.

Kabar musibah itu sampai ke perantauan, diterima oleh anak-anak Bu Suriati dan Pak Sardi. Salah satu anak mereka yang selalu meminta uang pada orang tuanya berteriak:

"Ampunkan aku Buu ... Bapaaakk ...!!! Aku yang tak berbakti ini maafkanlah, yang selalu menyusahkan dan tak berguna." teriakkan salah satu anaknya itu terlambat sudah. Nasi sudah jadi bubur, badannya di rantau tak bisa pulang kampung melihat orang tuanya terakhir kali. Hanya air mata penyesalan di batu nisan, seminggu setelah kedua orang tuanya dimakamkan, baru bisa pulang karena tak punya uang untuk pulang secara tiba-tiba dapat kabar duka. Tangis di tanah merah anak itu, getarkan sekujur tubuh yang pasrah.

"Ibu, bapak, maafkan anakmu yang tak sempat memelukmu terakhir kalinya ...."

--------------TAMAT-----------

Cermin –
AMPUNKAN AKU, BU
Penulis : Romy Sastra
Jakarta, 27-8-'20

Salam takziah dipanjatkan pada Ilahi, dan dikirimkan kepada kedua orang tuanya di tanah merah yang basah oleh air mata.

Aamiin, aamiin, ya rabbal alamin.














Cermin - JAKA KECIL YANG PUTUS SEKOLAH Karya : Romy Sastra


 
   Di tengah malam seorang Emak muda menjerit sakit perut, ia memegang bahu suaminya. Suasana malam itu, suaminya panik melihat istri kesakitan mau melahirkan bayi yang dikandungnya. Tapi, itu hanyalah rasa mual-mual melilit menjelang waktunya tiba. Lahir ke dunia fana ini telanjang, hanya membawa senyuman dan tangis, ada yang diam seperti bingung tak tahu alam apa ini?
Sembilan bulan dalam kandungan, si jabang bayi disayang dibelai dari balik tirai jemari lembut kedua orang tua, tersekat oleh dinding rahim seorang Emak tak dihiraukan, terkadang sakit di perutnya melilit dari tendangan kaki si jabang bayi. Sedangkan si jabang terus tumbuh berkoloni mengabdi berada dalam masa fitrah bersama Tuhannya, bersaksi pada Rahman Rahim memuji lewat nadi dan jantung bertasbih.

"Pak, sebentar lagi anak kita lahir ke dunia,"
kata si Emak pada suaminya.

"Iya Mak, kita akan memiliki anak dari buah cinta kita, semoga anak kita lahir dengan selamat dan sehat." harap mereka dalam doa.

Tibalah pada masanya, si jabang bayi menangis keluar dari garbah. Tak berbaju hanya membawa tumpahan darah membuncah seperti gunung api memuntahkan lahar ke seantero lembah dan daratan yang ada. Miskin memang, kodrat si jabang keluar dari rahim tak berbaju seperti bernasib malang, terpancar dari raut wajah yang pasrah, hanya dibalut selembar kain usang. Ditingkahi tangan cekatan si dukun bayi di perkampungan kala itu.

*****


   Hari berlalu, bulan berganti tahun, ia jalanin hidup ini dengan riang. Si jabang bayi telah tumbuh remaja, bernama Jaka.

"Jaka?" seru Emaknya dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Mak?" jawab Jaka pada Maknya.

"Jaka, kau sudah berumur tujuh tahun, Nak?!Sudah masanya sekolah, sekolahlah yang pintar ya, Jaka!" nasihat Maknya pada Jaka.

"Kelak kamu sudah dewasa, carilah ilmu yang bermanfaat yang bisa mengantarkan kehidupan masa depanmu bahagia dunia dan akhirat. Nasihat, doa dan harapan si bunda memacu semangat hidup si Jaka belajar dan terus belajar hari ke hari di awal sekolahnya. Jaka menatap wajah Emaknya seperti bulan meneduhi malam."

Di sela-sela waktu pulang sekolah, Jaka selalu membantu pekerjaan kedua orang tuanya di sawah dan di kebun. Dalam hati kecil si anak, betapa mulianya pekerjaan orang tuanya dari pagi hingga petang bergulat dengan lumpur sawah menari bersama ilalang tajam menusuk kaki si Ayah dan Ibu yang tak kenal menyerah mencari nafkah sebagai petani demi membesarkan serta menyekolahkan anak-anaknya. Batin si Jaka kecil mulai berkata-kata.

Singkat cerita...Gontai langkah si Jaka, pada detik-detik perpisahan kelulusan sekolahnya. Si Jaka dalam hasil rapor 'Sekolah Dasar' yang lumayan bagus, pas menduduki bangku kelas enam tahap akhir, Jaka jarang masuk sekolah demi membantu orang tuanya, ia akhirnya gak lulus dan gak bisa sekolah ke jenjang selanjutnya tingkat SLTP. Penyebab kedua orang tuanya Jaka tak mampu hidup dalam kemiskinan, bukan Jaka tak pintar. Karena itu tadi, si Jaka kecil seringkali tak masuk sekolah mengikuti mata pelajaran dari gurunya. Hari-hari Jaka banyak dia habiskan di sawah dan di ladang membantu pekerjaan orang tuanya. Meski orang tuanya kerap melarang membantu pekerjaan orang tuanya di sawah untuk terus sekolah! Jaka kecil meneteskan air mata melihat nasib orang tuanya berpanas-panasan dibakar matahari. Makanya jam sekolah Jaka sering dipakai di tengah sawah. Hingga study mata pelajaran jarang ia ikuti.

Berbilang masa terus melaju, remaja si Jaka kecil akhirnya putus sekolah. Karena kedua orang tua yang tak mampu membiayai si Jaka melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi. Sebab, faktor ekonomi kedua orang tuanya yang payah pada masa itu. Bersyukurlah anak-anak sekarang menempuh pendidikan sudah disediakan paket program pemerintah wajib belajar.

**********

"Mak, Jaka tak lulus sekolah, Mak. Jaka pergi merantau saja ke kota ya, Mak?"
pinta Jaka pada Emaknya.

"Tapi, kau kan bisa nyambung sekolah lagi tahun depan, Jaka!?" sahut Emaknya.

"Tidak Mak, Jaka malu dengan adik-adik kelas, jika Jaka satu bangku dengan adik kelas itu."

"Lho ... lalu mau jadi apa kamu Jaka, kalau kau tak mau sekolah lagi!"

"Aku ingin berbakti sama Ayah dan Mak, mencari uang untuk membantu adik-adik nanti. Biarlah aku mengalah asal adikku bisa sekolah." pinta Jaka meyakinkan kedua orang tuanya.

Emaknya Jaka terpana, dadanya sesak, tiba-tiba air bening menetes di sela pipi Emak Jaka, sambil memeluk Jaka dengan hati yang sangat iba dan haru akan pernyataan buah hatinya.

Jaka si remaja kecil akhirnya pergi tinggalkan kampung halaman dan kedua orang tuanya merantau ke kota. Dapat usaha kecil-kecilan di kota. Jaka teringat janji pada Emaknya di kampung 'tuk membantu ayah dan Emak menyekolahkan adik-adiknya. Orang tua Jaka berbangga hati dapat kabar, ternyata anaknya si Jaka sukses di rantau berdagang kecil-kecilan dari asongan hingga punya lapak sendiri, tanpa berpendidikan sekolah tinggi, Jaka sudah bisa mengirimkan uang untuk kebutuhan orang tuanya di kampung.


------------------------TAMAT---------------------

Cermin –
JAKA KECIL YANG PUTUS SEKOLAH
Karya : Romy Sastra
Jakarta, 15-9-'20

Catatan: segelintir kisah pernah terjadi pada suatu kehidupan di masa yang lalu. Beda masa sekarang, tidak ada anak-anak bangsa yang tidak sekolah. Program pemerintah telah menyediakan anggaran untuk pendidikan siswa-siswi yang tak mampu wajib Belajar.

Yuukk, sekolah!!
Semangatlah belajar anak-anak generasi bangsa, raih cita-citamu! Mari menggapai suluh ke matahari, menanam cinta di mana kau berada, berbibit doa di setiap langkahmu.










Minggu, 25 Juli 2021

Fiksi - BENCANA TAK BERPINTU Karya : Romy Sastra


   Hujan di akhir tahun bulan November, satu dasawarsa berlalu. Ibu Nurmilah bermata sayu menatap kosong ke arah balik jendela. Ibu Nurmilah ini seorang Ibu yang sangat alim, ia menyaksikan hujan jatuh berpacu dari angkasa, sudah seminggu lamanya hujan tak kunjung reda, menjadikan anak-anak telaga di halaman rumahnya. Hujan dari pagi hingga petang, langit tak jua menampakan cahaya. Orang-orang di kampung tak lagi bisa ke mana-mana untuk mencari kehidupan, selain hanya berdiam diri saja di rumah. Sedangkan Ibu Nurmilah memilih berpuasa sehari-hari dan beribadah. Memang, kampung Ibu Nurmilah itu sunyi dari alunan kalam Ilahi, yang ada wewangian kemenyan senja hari, ada apa gerangan? Ah, musim itu membawa bencana.

Di keesokan harinya tragedi itu terjadi, di hari Jumat siang yang gelap mencekam.

"Tolong, tolong, tolong... teriakan orang minta tolong dari belakang rumah Ibu Nurmilah membahana." Suara itu perlahan lenyap.

Ibu Nurmilah membuka pintu dapur dan ia menatap pemandangan yang tak biasa ke lereng bukit, tak jauh dari ujung kampung. Lereng bukit bergemuruh, Ibu Nurmilah menyaksikan tanah bergerak cepat menghantam rumah-rumah penduduk hingga tak bersisa.

"Astaghfirullahaladzim," ucap Ibu Nurmilah dalam hati. "Apakah ini kiamat sudah datang?" bisiknya lagi.


Suara yang dia dengar tadi di belakang rumahnya adalah Ibu Jelantik, Ibu jelantik berprofesi sebagai dukun beranak di kampung tersebut merangkap dukun pelet dan pengobatan apa saja. Ibu Jelantik setiap senja selalu rumahnya beraroma kemenyan, membuat Ibu Nurmilah sudah tak lagi kuat menahan aroma menyan setiap senja sebagai tetangganya bu Jelantik.

Pemuda-pemudi di kampung masih saja asyik dengan tontonan asusila di handphone yang lagi ramai-ramainya. Pemuda-pemudi kampung kesehariannya hanya bersolek, mabuk-mabukan, dan berkumpul di pos-pos siskamling serta di rumah-rumah kosong untuk dijadikan arena berpacaran bahkan kerap berbuat mesum.

Kampung itu benar-benar gelap dari cahaya agama, pantas saja alam sudah muak dengan tingkah laku penghuninya, hingga bencana memporakporandakan sebagian kampung itu dengan tanah longsor dan dihanyutkan ke sungai menuju muara. Bangkai-bangkai berserakan di mana-mana di sepanjang sungai bersama material-material kayu gelondongan dan kuningnya air sungai bercampur tanah.

Dan hujan itu reda, bencana menyisakan puing-puing duka di mata orang-orang meninjau lokasi. Ucapan istighfar yang tak putus-putus di mulut para pelancong dari mana-mana, menyaksikan satu kampung digerus air bah bercampur longsoran tanah.

Air mata Ibu Nurmilah membasahi sajadah, meminta ampun kehadirat Allah SWT, atas apa yang telah berlaku secara spontan di kampungnya.

"Untung hamba selamat ya, Allah, dari bencana ini?" lirih kasih Ibu Nurmilah kepada Maha Kekasih.

Ibu Nurmilah yang tinggal sebatang kara di sepinya kaki bukit membuat ia tetap kokoh pada keimanannya. Suaminya yang sudah meninggal dua dekade yang lalu, dan tak memiliki anak. Keluarganya yang lain sudah lupa daratan, Ibu Nurmilah dengan hidayah-Nya selalu menjalankan ibadah sampai tua.

Satu keingkaran akan dihabiskan oleh perjanjian Tuhan kepada manusia-manusia yang sudah melampaui batas, bencana itu tak berpintu. Dan tidak akan terjadi kiamat kepada hamba-hamba yang masih bertobat menyembah-Nya.


---------------------------------------TAMAT-----------------------------------

Fiksi –
BENCANA TAK BERPINTU
Karya : Romy Sastra
Jkt, 51019

















Cerpen - PINTU TERBUKA Karya : Siamir Marulafau



   Di saat mentari memancarkan sinar violet, aku sudah mulai bergegas mempersiapkan langkahku pergi ke Kampus yang jauhnya hanya 5 km dari rumahku. Aku yakin kepergianku akan mulus tak ada hambatan apapun.Tapi sebaik kaki kananku melangkah, tiba-tiba Udin memanggilku sambil mengajakku ke kampus dan aku bilang"Memang aku akan mau ke sana sebentar lagi dan aku lagi menunggu anakku Nur sambil mengantarkannya ke sekolah."

"Oh! Begitu, kata Udin.Jadi, kalau begitu aku tak usah nunggu kau lagi Mir.Aku juga kebetulan menjemput Ibuku di Bandara Kuala Namo.Mereka tiba di sana sekitar jam 10.30."

Setibanya aku di kampus salah seorang temanku,Ani bercerita tentang masalah pamannya yang datang ke kampung pada bulan yang lalu.Pamannya rasa-rasanya aneh karena dia datang ke sana bertanya pada Ani,"Mengapa pintu kalian ini selalu terbuka pada malam hari.Ini kan bulan September ".

Mendengar ocehan Pamannya Ani, Tuti jadi terheran-heran dan berkata,"Paman,kalau paman ingin tahu maknanya, lebih baik paman tanyakan sama bibi dan kebetulan bibi lagi ke luar ke pasar membeli buah-buahan untuk acara pesta besok."

Pikirku, pintu ini selalu terbuka siang malam karena Bibi selalu menuggu kedatangan suaminya dan mereka pergi pada bulan September yang lalu melalui pintu ini,Paman.Biar kamu tahu Tuti,aku datang ke mari bukan ada apa-apa dan aku hanya menenangkan pikiranku karena kebetulan istriku meninggal 25062012 yang lalu.

Mendegar itu, Paman Ani jadi terkesima dan bertanya,"Pesta apa itu,Tuti?"

"Entah, apa itu,Om.Aku kurang paham.Teringatnya, kemungkinan pesta kecil-
kecilan karena di rumah ini, tragedi yang sangat mengharukan dan menyedihkan terjadi beberapa bulan yang lalu.Tapi mungkin Paman sudah tahu,iakan?"

"Tragedi apa itu?"Paman Ani bertanya dan sehemat saya tak mungkin itu terjadi karena bibinya, Ani tak pernah menyurati saya sebelumnya, dan saya tidak yakin dengan omonganmu.Kalau memang begitu,coba ceritakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?

"Wou.Begini Paman,sekitar setahun yang lalu, suami Bibi pergi memancing dengan beberapa orang temannya di laut dan sampai sekarang belum pulang-pulang.Peristiwa ini sudah dilaporkan pada yang berwajib dan kasusnya sedang ditangani polisi dan sungguh menyedihkan, ya Paman.Aku kasihan pada Bibi."

Mendengar cakapan Tuti, paman Ani juga turut bersedih, karena Almarhum diduga yang tak pulang-pulang adalah sangat akrab dengan Pak. Sunoto.Tapi menjelang magrib, suara kerumunan orang-orang disekitar mesjid kedengaran dan rupanya,Pak. Sudirman bersama rekan-rekan telah pulang dan singgah sholat magrib di mesjid.Diberitakan mereka dipulangkan di tanah air karena sampan mereka hanyut diperairan Malaysia.

Pak. Sunoto juga ikut terheran-heran, ada apa di mesjid itu,Tuti, nampaknya banyak sekali orang berkerumun di sana.Coba kau lihat, ada apa?
Tiga menit kemudian, terdengarlah ucapan'Salam' dan pak.Sunoto terasa kaku karena pak.Sudirmnan beserta tiga orang temannya masuk ke dalam rumah tanpa mengucapakan selamat datang kepada pak. Sunoto.Tutipun agaknya bingung dan bertanya dalam hati sambil memegang sebuah cermin, apa yang terjadi?
Dengan tidak mengucapkan 'selamat tinggal pada tuan rumah', pak Sunoto pergi dan lari terbirit-birit sepertinya ketakutan dihantui perasaan bersalah seiring dia terjatuh dekat pekuburan islam dengan suara yang melengking dan menjerit-jerit, di mana penduduk kampung mengira dia digigit seekor anjing gila.


---------------------------------TAMAT----------------------------------

Cerpen –
PINTU TERBUKA
Oleh :Siamir Marulafau
sm/31082013

Jumat, 23 Juli 2021

Cermin - PERISTIWA SATU MALAM Karya : Ayu Ashari


   "Tidak ada yang berubah di kota sekecil ini Wid, kecuali orang-orang yang hidupnya dalam dunia rumit," kata sahabatku yang setiap saat mendampingi ku

Aku menatap ke depan, aku melihat jalan dengan penerangan dari gerbong kereta, dan Diya tanpa penerangan sedikit pun sesungguhnya dapat melihat benjolan di atas mataku, lantaran peristiwa yang baru saja ku alami.

"Wid",sapa Diya,  
"Hari mulai gelap", sambil mengusapkan tangannya pada celana jeans dan berdiri.

" Ayo Wid" kita pergi dan kita ikuti jalur kereta ini," Diya menarik tanganku dengan paksa.

"Ah, Jalur kereta yang halus seperti jalan menuju rumahku dulu.", tapi, apakah aku bisa sampai ke ujungnya lalu masuk ke suatu tempat, yang belum jelas siapa penghuninya?, tempat di mana empunya tak jelas menyukaiku.

"Wid", sapa Diya . 

"Hati-hatilah melangkah, di depan kita ada sebuah jembatan, air sungai nya pun nampak hitam", di antara celah-celah bantalan rel, lagi-lagi Diya dengan tanganya menuntunku berjalan sepanjang rel kereta, sambil selalu menjaga keseimbangan.
Di kanan-kiri rel rawa-rawa terkurung dalam kabut yang mulai naik. Sementara mataku mulai perih dan perutku lapar.

"Ayolah Wid." kata Diya. "Kita harus berjalan terus untuk meninggalkan kenangan juga peristiwa apa saja yang pernah engkau-aku alami selama perjalanan hidup ini, tak perlu diingat lagi, bagaimana kita terbuang dan tersisihkan, bagaimana semua tampuk kesalahan terlontar ke pada kita, walau kita sendiri tak mengerti permasalahannya, bagaimana kita selalu di fitnah dan tak di beri kesempatan membela diri, bagai mana hati kita tersayat belati kepalsuan, aku juga masih merasakan rasa sakit yang kau rasakan akibat pukulan pukulan itu, aku mengerti lembamnya memang sudah hilang tapi sakitnya masih kau rasakan sampai detik ini, dan bagai mana pula kita harus pontang panting sendirian, bagai mana kita terlunta tak berdaya, terlalu banyak bagaimana-bagaimana yang lain tapi sudahlah Wid tutuplah memori itu!" kemudian dengan hati-hati Diya menuntunku untuk sesaat istirahat di salah satu stasiun kota lama.

Oh, Diya menarik nafas sambil sembari mengucapkan satu kalimat yang sering ia katakan, 
“ O, dunia yang sekarat ternyata kami adalah budak-budakmu ke mana pun kami pergi atau tinggal terlahir pilihan dan apakah cinta masih merupakan rasa getir terlezat yang tertunda?"

Akhirnya Aku dan widiya sampai pada bantalan jalur kereta terakhir di stasiun kota lama. Kemudian kami mencoba untuk tidur meski harus diselimuti ribuan nyamuk di tubuh kami dan dingin yang tak henti-hentinya mengajak kami untuk mengingat perjalanan yang belum selesai ini.

"Ini lah mati sebelum mati" fikir ku, dimana hidup hanya merupakan sebuah Fatwa,

Sedang perjalanan masih panjang, ini baru sepenggal kisah Peristiwa Satu Malam di dua ribu sembilan belas.

Sinar surya menyelusup masuk dari selah selah kaca jendela stasiun tua menjaga kan ku dari tidur tak bertuan di penggalan malam.

"Masih ada kereta yang akan lewat Wid" bisik Diya

"Ya Diya, life must go on" jawab ku.


--------------------------------TAMAT------------------------


Cermin –
Sepenggal kisah
PERISTIWA SATU MALAM
(Dialog suara hati dan sejatinya)
Karya : Ayu Ashari
Medan, 0305019

















Cermin - MISTERY CINCIN PERTUNANGAN Karya :Tati Kartini




Dengan malas aku menggeliat, nikmat sekali tidurku malam ini. Menikmati liburanku di rumah nenek, di kampungku.

Sayup terdengar suara nenek, membangunkan. "Santi, bangun sayang… kita berangkat pagi ya, jadi ikut nenek ke hutan?"

"Iya nek jadi dong kangen pengen liat pemandangan alam." Jawabku sambil melempar selimut dan tergesa melangkah ke kamar mandi.

Sudah lama aku tidak pulang ke kampungku di Sumatra Barat, kampungku yang indah dengan pemandangan alamnya. Kesempatan liburan inilah aku pergunakan untuk pulang kampung sekalian menjenguk nenekku.

"Kita bawa bekal untuk makan siang ya, supaya tak lapar nanti di hutan."
Ucap nenek sambil terus memasukkan bekal siang ke dalam rantang.

"ya nek makan di hutan pasti nikmat, ada saungnya ya nek?" Jawabku.

"Ada yang dulu dibuat oleh kakek, nenek merawatnya dengan baik agar nyaman untuk beristirahat, kamu bisa duduk menikmati pemandangan dari saung."

Tak sabar aku ingin segera sampai di hutan, terbayang keindahan pemandangan alam di tepi hutan perbukitan.

"yuk nek aku sudah siap, kita berangkat." 
Pintaku pada nenek

"Iya selagi masih pagi udara masih sejuk." Nenek menimpal.

*****
   Tidak sampai satu jam berjalan sudah berada di tepi hutan. Aku tertegun menatap indahnya pemandangan.

"Jangan berhenti dulu, kita naik ke atas sedikit lagi, diatas pemandangannya lebih indah."


"Oke nek aku sudah tak sabar lagi."

Tak lama berjalan sampailah di ladang nenek, di pinggir perbukitan banyak tumbuh-tumbuhan tanaman nenek. Nenek berkeliling untuk memeriksanya, sementara aku asyik dengan ponsel mengabadikan pemandangan. Setelah puas memotret, aku bersandar menikmati sepoi sejuk angin perbukitan, memandangi daun- daun yang bergoyang. Sayup aku bernyanyi, kupandangi daun waru yang melambai tertiup angin, melayang jatuh tepat di sisiku.

"hei ...jangan melamun," tiba-tiba seorang pemuda tampan menyapaku.

"kau, kau ...siapa? Aku menjawab, terkejut.

'Aneh, kenapa tiba tiba ada dia disini?' hatiku berkata.

"Siapa kamu?" tanyaku berusaha biasa, tak ingin terlihat gugup.

"kamu lama pergi,lupa padaku? Aku kekasihmu Riyan.Lihat! Ini cincin pertunangan kita,ada namamu di sini."

Dia menaruh cincin di telapak tanganku dan menggenggamnya untuk beberapa saat dengan sorot mata yang tajam penuh kerinduan. Kuperhatikan cincin polos indah itu, tertulis nama Ratih. Kepala seakan berdenyut, semakin bingung.
Ratih teman sekolahku, kenapa namanya ada pada cincin ini?

"Riyan, aku bukan Ratih dia …" Kata-kata ku tersekat, tak lanjut bicara. 
Aku melihat sekitar… kemana dia? Mengapa tiba-tiba menghilang?

"Riyan!"

Setengah berteriak aku memanggil,panik. Sebuah elusan dingin pada tengkuk menambah rasa panik aku.

"Duh, nenek bikin aku kaget."


Aku terdiam sejenak masih mengingat kejadian tadi,begitu nyata 'tak mungkin itu mimpi' kata hatiku.

"Nek, lihat pemuda berkemeja putih? Tampan wajahnya." 
Aku bertanya pada nenek, penasaran.

"Dari pagi kita cuma berdua, tak ada orang datang kesini. Mungkin kamu mimpi San, kamu tertidur nyenyak, nenek tak tega membangunkan, Yuuukkk ...pulang hari mulai petang."

Aneh cincin ini ada di genggaman, aku tak berani bilang pada nenek, nanti saja di rumah akan ku ceritakan.

*****
   Berjalan berdua tanpa berkata-kata, di keheningan senja tibalah kembali di rumah nenek.

"Cantik, mandi sayang, biar segar.Nenek lihat dari tadi kamu murung, kapok ya main ke hutan."


"Enggak, Santi senang di hutan indah pemandangannya." Aku menjawab sekenanya, sambil melangkah ke kamar mandi.

Air mengguyur tubuhku terasa menyegarkan. Perasaan masih kalut penuh tanda tanya. 'Bagaimana bisa cincin ini nyata, bukan sebuah mimpi,aku harus bagaimana?'

Tiba-tiba terpikir untuk menghubungi Ratih by phone,bergegas aku keluar kamar mandi menuju ke kamar tidur untuk berganti pakaian,hari hampir malam. Kunyalakan lampu kamar terlihat jelas cincin yang tadi kusimpan diatas meja rias, tergeletak. Kuambil cincin dan kugenggam, sambil kuraih ponselku yang kutaruh berdekatan. Aku mulai mencari nama temanku Ratih, pada ponselku.
Agak lama mencarinya, sudah lama tak saling berkabar, sehubungan kesibukan masing masing.

"Halo… " Kusapa Ratih setelah nomor tersambung.
" Ini aku Santi, apa kabarmu Ratih? Sudah lama kita tak jumpa, aku baru kemarin tiba di rumah nenek. untuk berlibur disini dan menjenguk Nenek."

Terdengar jawaban dari Ratih. "Santi kebetulan kamu datang, aku kangen kamu San.Besok pagi aku ke rumah nenek kamu ya."

Suara Ratih terdengar parau. "Oke datanglah besok pagi aku tunggu ya."

Aku menyetujui bertemu Ratih besok pagi.

*****
   Keesokan hari tanpa menunggu terlalu lama Ratih muncul dengan wajah yang kusut, terlihat kurus dan sayu, aku betul-betul pangling.

"Ratih kamu kenapa kelihatan pucat, sakit ya?"


Aku tak sabar menunggu jawaban Ratih. Alih-alih bicara, Ratih malah menghambur ke pelukanku, menangis tersedu.

"Ratih tolong di jawab, kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu?"


Perlahan Ratih mulai bicara tanpa melepaskan pelukannya dariku. "Aku lagi berkabung, Riyan calon suamiku meninggal dunia, ini adalah hari ketujuh wafatnya."

Seperti disambar petir aku terkejut bukan kepalang. Kupeluk Ratih lebih erat lagi. "Tenangkan dirimu, ceritakan padaku bagaimana semua ini bisa terjadi,
untuk mengurangi beban perasaanmu."

Perlahan Ratih mulai bisa menguasai perasaannya dan mulailah dengan ceritanya.
"Setahun lalu aku mengenal Riyan, pria tampan dan baik hati. Kami berkenalan di medsos, intens berhubungan melalui medsos, bertelepon dan video call. Lebih kurang setahun berjalan mulus,menyenangkan. Kami berjanji untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Hingga datanglah Riyan seminggu yang lalu menjumpaiku, bermaksud melamarku.
Riyan pun mengutarakan maksudnya pada ayahku, tanpa diduga-duga ternyata ayahku menolak dan sangat marah mendengar permohonan lamaran dari Riyan.Ayah tidak yakin hubungan yang berawal dari medsos bisa menjadi pasangan hidup yang baik. Dengan hati hancur Riyan pulang ke kotanya, tak kalah hancurnya hatiku mendengar berita pesawat yang ditumpanginya jatuh di tebing perbukitan hutan itu, semua korban tidak ada yang selamat."

Bak disambar petir mendengar penuturan Ratih, walaupun begitu aku berusaha untuk tetap tenang. 

Aku bicara perlahan, tersendat. "Innalillahi wainnailaihi rojiun, sabar ya Ratih ikhlaskan, banyak-banyaklah kirim doa untuknya. Aku turut berduka cita."

Ratih mengangguk perlahan, terlihat mulai tenang. "lihatlah Riyan titip cincin ini untukmu, dia sangat mencintaimu Ratih."

Aku serahkan cincin yang sedari tadi sudah kusiapkan. Dengan terheran-heran Ratih menerima cincin yang bertuliskan namanya. "Apa kalian saling mengenal?"

Ratih bertanya seakan tak sabar menunggu jawaban. Aku hanya mengangguk perlahan. Tidak mungkin aku harus menceritakan bahwa cincin itu di beri Riyan di tepi hutan dekat tebing perbukitan.


--------------------------------TAMAT-------------------------------

Cermin –
MISTERY CINCIN PERTUNANGAN
Karya :Tati Kartini 
Jakarta 24 November 2019

TATI KARTINI





Cerita Mini - INNALILLAHI WAINNA ILLAIHI ROJIUN Karya : Tati Kartini


 "Mah! Kaka tadi mengeluh pusing, diajak ke dokter gak mau." Dengan berlari si adik mendatangi kamarku, aku sedang siap-siap hendak melaksanakan salat fardhu dzuhur. Tanpa menjawab kata-kata si adik, aku bergegas masuk ke kamar si sulung.

"Adik, coba panggil tetangga kita yang pegawai di poliklinik sebelah, minta tolong di tensikan, dia kan teman sekolahmu juga kan?"

"iya mah,"siadik berlari ke rumah teman sekolahnya yang sudah bekerja di bagian keperawatan, tetangga sebelah rumah.

Tak lama berselang selesai di tensi.

"Normal bu bagus, 110/90." Ujar Lena seorang perawat teman sekolah anakku, sewaktu SMP.

Sedikit lega hatiku, kufikir ada baiknya aku solat dzuhur dulu, yang tadi sempat tertunda karena panik melihat si kaka seakan tak berdaya, matanya terus terpejam. 
"Adik, mamah mau solat dulu, tolong jaga kaka ya."

"Iya mah."Jawab si adik

Dengan cepat kuselesaikan solat dzuhur dan kembali ke kamar si kaka. 
"Astaghfirulloh ... adik, badan kaka basah kuyup, ya Tuhan, cepat panggilkan supir kita bawa kaka ke rumah sakit."

Dengan di papah si kaka di bawa masuk ke dalam mobil, ia nampak tersenyum. 
Tak henti-henti ku belai kepalanya.

"Sabar sayang, kuatkan ya nak." 
Air mataku mulai mengalir berjatuhan.

Sesampai di Rumah Sakit. 
Anaku sempat membuka matanya yang sejak tadi terpejam, bahkan kembali tersenyum dan melambaikan tangan.

Selesai pemeriksaan, dokterpun memberikan penjelasannya. 
"Ibu mohon bersabar, banyak saja berdoa, putra ibu keadaanya cukup seurius, kita akan menolongnya dengan maksimal."

"Tapi tadi anakku tersenyum dokter, malah melambaikan tangannya."

"Anak ibu tidak sadar, itu halusinasi saja bu."

Akupun hanya mampu tertunduk sambil terus melafazkan doa-doa.


Tak lama terdengar si kaka mendengkur seolah tertidur pulas, team dokter sibuk membantu pernapasan dan memasang banyak alat yang aku tak faham. Sesekali kulirik layar monitor yang ada di sebelah tempat anakku berbaring. Terlihat semua ukuran tensi, detak jantung dan lainnya yang kurang bisa ku mengerti. Melihat kondisi seperti itu aku tak sanggup lagi melihat ke layar monitor, detak jantung si kaka semakin melemah dan tensi menunjukan 34/44. Akupun jatuh terduduk, tak sanggup lagi berdiri. Si adik berusaha menenangkan aku.

"Mah ikhlaskan mah ...." 
Si adik bicara terbata-bata, sambil mengusap air mata.

Aku kuatkan untuk berdiri melihat ke layar monitor yang sudah berwarna hitam, polos. 
Pertanda kehidupan berakhir sudah. Semua berjalan begitu cepat, semua seakan mimpi belaka.

Kupeluk anakku, sambil kuungkapkan segenap perasaan cinta kasih seorang ibu.

"Innalillillahi wainnaillaihi rojiun, mamah ikhlaskan kamu nak, berbahagialah di haribaanNya anak salehku, syurga menantimu, aamiin Allohumma aamiin. ‘

-----------------TAMAT-----------------

Cerita Mini –
INNALILLAHI WAINNA ILLAIHI ROJIUN 
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 21 November 2019

TATI KARTINI










Cermin - DI PANTAI ITU, KAMU Karya : S Pandi Wijaya


 
   "Om, lagi apa sendirian ?" Gadis kecil yang cantik, gumamku. Menatapi gadis kecil berdiri di depanku dengan tanyanya. Entah dari mana bidadari kecil itu datang.

"Kamu siapa anak manis ...?" tanyaku sembari mencari orang yang mungkin bersama gadis kecil ini.

"Orang tuamu ke mana ?" tanyaku lagi.

"Bunda bilang, tidak sopan menjawab pertanyaan orang dengan pertanyaan. Tidak baik, " sahut gadis kecil itu.

"Jawab dulu pertanyaan Gin, baru Om boleh tanya Gin, " tegas gadis kecil itu menyambung.

Mengerung alisku. Anak pandai, gumamku.
"Oh iya, Bundamu memang benar. Maaf ya Om belum jawab pertanyaan kamu, " timpalku seraya menepuk jidat sendiri.

"Om ini payah, heehee ...!"seru Gin, nama gadis kecil itu sambil tertawa renyah. Lucu.

"Om jawab pertanyaan kamu yah, " ujarku.

"Om sedang memandangi ombak di laut itu. Om juga sedang menikmati udara segar di sini," jelasku pada gadis kecil itu.

"Sekarang aku jawab pertanyaan Om, " bilang gadis kecil itu.

"Pertanyaa Om yang mana ya ...!?" timpalku berlagak lupa.

"Payah, payah. Om memang payah !" seru gadis kecil itu seakan menganggap aku ini pelupa, "biar aku langsung jawab saja, " sambungnya.

"Om panggil saja aku, Gin. Aku hanya bersama bunda dan suster. Ayah sedang tugas di luar kota. Luar kota itu jauh sekali," ujar Gin.

"Bunda dan susterku di sana, Om," Gin menunjuk ke satu arah, " mereka juga sedang menikmati segarnya udara pantai, " jelasnya.

Aku memandang ke arah yang ditunjuk Gin. Aih, mata ini mulai buram melihat ke kejauhan. Samar, tapi kulihat dua sosok perempuan di arah tunjukan Gin.

"Gin boleh tanya Om ...?"

"Boleh. Semoga Om bisa jawab ya."

"Kenapa karang itu bolong, Om ? Apa sebab karena itu disebut karang bolong ?"
Gadis kecil yang ingin serba tahu, gumamku. Dan semakin aku tegasi, ada bayang wajah yang kukenali melintas. Wajah masa lalu itu seperti ditegaskan lagi oleh wajah Gin.

Akh, aku segera menepis bayangan itu. Siapapun bisa jadi seperti apa yang dipikirkan bila kenangan menggenang.
Ri, akh ....!

"Om melamun ya !?" tegur Gin.

"Eh, maaf ya Gin. Om hanya sedang mencari jawaban atas pertanyaan Gin, " ujarku menghindar tatapan mata Gin.

Mata itu serupa matamu, Ri. Bulat, bening memberi kedamaian.

"Om melamun kan !?" seru Gin.

Aku jawab dengan senyum.
"Begini Gin, karang itu bolong mungkin saja sebab sekian lamanya terkena ombak laut. Lalu karang itu terkikis sedikit demi sedikit, bisa jadi dalam puluhan tahun lamanya di terpa ombak. Maka lama-lama karang itu bolong, " jelasku semampuku.

"Lalu bisa saja tempat ini dinamakan Karang Bolong karena keberadaan karang bolong yang indah itu, " jelasku lagi menambahkan.

"Om pintar, bisa menjelaskan dengan baik. Terima kasih Om, " ujar Gin tampak puas.

"Gin, kamu dicari bunda tuh. Kita akan segera pulang, " dari kejauhan seorang perempuan memanggil Gin.

"Iya Bu. Sebentar, Gin izin pamit dulu, " sahut Gin pada perempuan itu.

"Itu susternya Gin, Om. Sebel Gin lahir, itu susternya Bunda sampai bunda menikah dan lahirlah Gin. Sekarang jadi susternya Gin, " jelas Gin tentang perempuan yang menghampirinya.

"Gin pamit ya Om. Semoga kita bisa berjumpa lagi, " pamit Gin.

"Selalu jadi anak yang baik ya, Gin. Terima kasih sudah menemani Om, " ujarku.

Perempuan yang menjemput Gin, menegasiku setelah agak dekat.
"Mas Son ...!?" lirih suara perempuan yang nyaris serupa desah, samar sempat kudengar. Dan wajah perempuan paruh baya itupun seakan tak asing bagiku. Perempuan itu menyebut namaku ? tanyaku di batin. 
Sambil menjauh perempuan itu berkali-kali memandang ke arahku.

Itu, bu Darmi ...! seruku membantin mengingat perempuan itu. Bu Darmi, Ri ...? Lalu Gin, putri Ri-kah !? Wajah Gin nyaris mirip Ri. Mata Gin serupa mata yang dimiliki Ri. Akh, terlambat kukejar. Ketiga perempuan itu telah dibawa lari mobil berlalu menjauh.

Akh Ri, di pantai itu kamu
Kenangan kembali menggenang
Pada jejak di pasir terhapus riak
Hanya buih tertinggal dengan asa tanggal
Angin membiusku ngilu pilu

Ri, adalah engkau di pantai itu
Di samudraku masih meneriakan ombak
Meraba-raba, mencumbui karang
Terhempas sebagai buih ...

Lalu
Aku hanya buih ....

---------------------TAMAT-----------------



Cermin -
DI PANTAI ITU, KAMU
Karya : S Pandi Wijaya
#belajar_bikin_cerita
SPW,
Pandeglang, 22122020
( Catatan Kelana Bodo )










Jumat, 02 Juli 2021

#Cermin - FIRASAT Karya : Tati Kartini



   Mimpi bagi sebagian orang biasa mungkin sekedar bunga tidur.

Tapi tak jarang bagi orang tertentu terutama orang salafus saleh mimpi adalah sebuah firasat dan juga merupakan pesan peringatan akan sesuatu hal yang mungkin terjadi.

Malam belum begitu larut ketika aku baru saja menyelesaikan solat fardhu isya, rasa kantuk mendera luar biasa.

Aku membaringkan tubuhku bersiap untuk tidur ketika tiba-tiba saja ponsel berdering.

Dengan mata menahan kantuk yang luar biasa aku menjawab juga telpon mas Tanto, calon suamiku yang tengah menjenguk ibunya di luar kota.

Belum sempat mas Tanto mengucapkan sepatah kata apapun, aku mendahului bicara.

"Maaf mas aku ngantuk banget, telp lagi nanti ya, aku sudah mau tidur nih."lalu aku pun mengakhiri pembicaraan dan menutup telpon nya.

Keesokkan harinya pagi-pagi sekali kembali mas Tanto menghubungiku by phone menyampaikan kabar tentang keadaan ibunya yang mulai membaik.

"Alhamdulillah."hanya itu yang bisa kuucapkan.

Sejujurnya aku terpengaruh dengan mimpi malam tadi.

Dalam mimpi aku melihat mas Tanto memotong rambut nya sebatas bahu, dia memang terbiasa berambut panjang, berkali-kali aku meminta untuk memotong rambutnya tapi dia selalu menolak, 'sayang'katanya, begitulah ciri seorang seniman kerap kali berbeda dari orang kebanyakan.

"Kenapa diam?"ujar mas Tanto

Dengan sedikit terkejut aku mencoba bercerita tentang mimpiku kepadanya.

"Mas tadi malam dalam mimpi aku melihat mu dengan rambut yang sudah dipotong dan kamu berpamitan kepadaku akan pergi."

"Lalu?coba teruskan."pintanya.

"Di dalam mimpi aku berusaha mengingatkanmu, tentang janjimu untuk menikah denganku tapi kau nampak tidak peduli."

"Semoga saja itu pertanda baik."ucap mas Tanto penuh harap.

"Amin"aku pun mengaminkan

***

   Beberapa hari kemudian setelah ibunya membaik mas Tanto kembali memberi kabar melalui pesan singkat.

[Assalamu'alaikum adik, maaf sebelumnya mas memberikan kabar melalui pesan WhatsApp saja, sejujurnya mas tidak sanggup untuk mengatakan ini.

Semoga kamu bisa memahami keadaan mas, mas tidak bisa kembali kepadamu, atas permintaan ibu mas di jodoh kan dengan perempuan yang masih ada hubungan keluarga dan harus segera menikahi nya, melihat kondisi ibu yang masih dalam keadaan sakit mas tak kuasa untuk menolak, sekali lagi tolong maafkan mas ya.]

Tak ada sepatah kata pun yang mampu kutuliskan, untuk membalas pesannya.

Terlintas dalam ingatanku tentang mimpiku beberapa malam lalu, inikah makna nya?

Sebagai peringatan atas segala harapan yang selama ini di semai kan di dalam angan?

Sungguh telah disabdakan oleh Rasulullah, beliau melarang kita untuk panjang angan-angan tentang sesuatu yang belum pasti.

Jangan terlalu berharap kepada janji manusia, percayalah kepada janji Allah swt saja.

Dalam kesedihan aku menyadari kesalahan diri.

Sangat banyak yang harus aku perbaiki, hijrah seorang wanita bukan sekedar menutup aurat saja.

Mimpi itu seakan teguran, peringatan agar aku lebih meningkatkan iman.

Alhamdulillah ya Allah atas ujian kehidupan yang Kau kirimkan agar aku tak lengah dalam setiap keadaan.

Apalagi tentang rasa cinta yang seringkali menjadi pemicu kemaksiatan.

Kini, insyaAllah aku takkan tergoda dengan janji laki-laki yang belum tentu jodoh bagiku.

Semanis apapun cinta ditawarkan hanya akan menjadi racun bila belum dihalalkan.

Itulah yang kualami.

Bahkan disaat telah ditancapkan niat hijrah di dalam hatiku, ujian pun semakin bertubi datang silih berganti, sungguh kalau bukan karena Allah yang me rakhmati, tak mungkin semua bisa diatasi.

Sesungguhnya semua perbuatan baik yang terjadi dan mampu aku lakukan semata karena Allah juga.

Apalah daya aku hanyalah seorang hamba, untuk bernafas saja takkan bisa tanpa pertolongan dari Nya.

Dalam kesendirianku kini, aku menikmati untuk lebih mendekati Nya.

Kuhabiskan waktu untuk bermuhasabah, beruzlah mengikuti tradisi para nabi sesuai dengan kemampuan diri.

Sikap lillah karena Allah saja, membuktikan betapa bila Allah berkehendak tak ada yang bisa menahan ataupun menghalangi.

Disuatu hari jodoh pun datang sendiri, seorang alim mencari jodoh untuk anaknya seorang Tahfidzul Qur'an.

Beliau meminang diriku untuk putranya Asep Ibnu yang ternyata pernah satu pesantren denganku sebelum Asep akhirnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Al Azhar Cairo.

Alhamdulillah ya Allah, begitulah cara Allah memantaskan, terkadang melalui banyak cobaan dan rintangan.

Kini kami hidup bahagia menjalani sunnah Rasulullah, di dalam rumah tangga yang syakinah mawadah warahmah.

Hidayah itu datang kepadaku dari sebuah mimpi yang bermakna kehilangan.

Bila kita ikhlas dengan apa yang diambilnya niscaya Allah swt akan memberikan ganti dengan yang lebih baik lagi.

Manusiawi merasakan kesedihan di dalam menjalani berbagai ujian kehidupan hingga melupakan bahwa Allah telah berjanji akan memberikan ganti yang lebih baik lagi jika memantapkan untuk hijrah kepada kebaikan. Yakinlah

~~~Tamat

#Cermin
FIRASAT
Karya : Tati Kartini

TATI KARTINI






Cerpen - GARA GARA KOMPOR Karya : Airi Cha




   Selama bulan Ramadhan ini, aktifitas sebagai preman tukang palak dihentikan untuk sementara waktu. Semua itu semata-mata, agar ibadah para anggota khusuk dan tidak berlinangan air mata, eh dosa maksudnya. Sebagai gantinya tiap hari mulai jam delapan pagi, Iyem sang big bos mewajibkan kami untuk tadarusan meski yang dibaca Iqro tak apalah yang penting ikhlas. Setelahnya ganti berganti kami piket sebagai tukang masak untuk mempersiapkan menu berbuka dan santap sahur.

Sebenarnya jatah masak adalah giliran Yanie, tapi karena lagi lahiran ups salah, ulang tahun maksudnya jadi acara kuliner disorong Iyem pada Siti. Bos kata pengen ngasih kejutan spesial paket hemat buat tangan kanannya itu setelah nanti azan Magrib tiba. Dari pada bengong nungguin Siti masak, mumpung senggang ku pergunakan waktu buat ngojek. Itung-itung cari tambahan buat THR lebaran para bocah kampung KAN.

Sementara Yanie yang merasa dapat pahala runtuh, lebih memilih tiduran di kamar sambil berselancar di dunia maya. Dia kagak tahu bahwa hari ini ulang tahunnya, sebab mulai dua bulan lalu, Iyem menyembunyikan semua kalender yang ada. Termasuk kalender di aplikasi hp.

Si latah Yanih sepertinya lagi gandrung bercocok tanam beraneka jenis sayuran. Sampai-sampai tiap sejam sekali itu sayur disiram. Katanya biar gak kehausan. Dia kira itu pohon punya mulut dan tenggorokan apa? Bonsai membonsai juga dilakukannya. Sampai seminggu lalu dia berbisik di telinga Siti yang rada lelet kayak wifi lagi dipakai sekampung. Yanih kata pengen juga membonsai Iyem biar tambah antik. Untung saja cuma aku yang dengar meski Siti yang dibisikan. Lha kalau sampai big bos tahu bijimana? Bakal kiamat Kubro idup tu anak. Semua orang juga tahu, walau gak dibonsai Iyem kan emang udah permanen. Ya itu segitu, tu. Yang ngakunya kayak Diam Sosor, siapa yang berani bantah? Meski gak dilihat dari pucuk pohon cemara pun, gak ada tuh sirip-siripnya eh miripnya sama artis yang pernah kuojeki waktu syuting film Mayat-Mayat Cinta.

Memutuskan pulang ngojek lebih cepat. Pengen nyantai menunggu bedug Magrib. Kulihat di beranda big bos duduk nyantai dengan kaki di naikan ke atas meja. Bukan apa-apa, itu dilakukannya sebab kemarin malam mendadak Iyem kena serangan encok dan asam urat, belum lagi panunya kambuh seperti jamur yang tumbuh subur di musim penghujan. Jadi supaya terlihat emang lagi sakit, si bos minta kakinya dibalut sama perban. Sempat sih kutawarkan untuk membalut sekujur tubuhnya biar seperti mummi di zaman Firaun. Eh si bos malah ngamuk, dan kepalaku di pentung pakai centong, lalu semua anggota preman ikut-ikutan pula. Coba salahku di mana? Apa karena aku anak yatim-piatu? Pengen ngadu sama siapa? Eh kok jadi curhat.

Akhirnya setelah ku parkir Baday, aku berjalan menuju beranda.

"Napa cepat kali ko pulang, Doet?"

Nah, kalau bos udah tanya begini aku rada gimana gitu. Pengen terharu, tapi percuma juga. Bukannya malah disayang, ntar aku malah dijitak.

"Woiii! Bos tanya elu, Doet," Tiba-tiba Yanie muncul di ambang senja, eh pintu.

"Lemes," sahutku ogah-ogahan.

Iyem memberi kode pada Yanie untuk mendorong kursi rodanya menghampiriku. Kemarin Iyem maksa minta duduk di kursi roda. Katanya biar penyakitnya terlihat elit dan berkelas. Sumpah dah, kalau tidak karena takut mau saja rasanya kujitak kepala Iyem yang rada bundar. Pada hal kalau saja si bos tahu, panu itu penyakit berkelas lho. Zaman sekarang orang tu tidak takut lagi pada tatto di lengan preman, lebih takut lagi sama panu yang tumbuh tanpa perasaan di wajah, leher atau pun punggung. Namun mana berani aku bilang ke bos begitu.

"Kek mana, Doet. Udah ko belik yang kupesan?"

Si Bos sok pake logat Medan ngomong samaku. Aku memberi anggukan sebagai kode keras.

"Beli apa, Doet?"

Yanie penasaran ingin tahu.

"Beli sempak yang ada baling-baling kapal selamnya," jawabku ngaco.

"Siapa yang beli cempedak? Mau donk," timpal Siti yang tiba-tiba nonggol dari dapur kayak Jalang kung gak diundang hajatan. .

"Sempak Kak Siti, bukan cempedak," kataku rada ngenes.

"Oalaa, kok sampai tersedak sih. Makanya kalau makan jangan sak bijinya." Nasehatnya bak Ustadzah kultum.

"He, Siti! Masakan lu udah beres?"

Iyem mencoba menyudahi pembicaraan Jakarta-Bekasi ini.

"Tenang, Bos. Tadi sudah pakai Masako, tambah Ajinomoto, juga Royco," jawabnya lagi-lagi salah koneksi. Bayangkan sendiri dah, gimana nano-noninya itu masakan dibubuhi segala mantra perasa.

"Duh, Ti. Bos itu tanya masakan bukan penyedap." Yanie semakin semaput bukan semata karena Siti, tapi lebih disebabkan karena lapar.

"Tenang, Bu wakil bos, tak ada yang menyadap pembicaraan kita."

"Sudah, sudah. Mending lu lihat lagi masakan lu yang di kompor," perintah Iyem, agar Siti tidak semakin ngawur.

"Oh, opornya sudah masak. Setelahnya tadi Siti jerang kuali buat memanaskan minyak tuk meng...," kalimat Siti menggantung sebab kami mendengar Yanih bernyanyi ulang tahun dengan melengking dan pakai nada sumbang.

"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga!"

Terang saja kami berlari menuju tempat asal suara, takutnya tuh anak kesurupan kelamaan nunggu acara buka puasa dan pecah balon diultah Yanie. Setibanya di dapur kami semua terperangah melihat Yanih yang kambuh latahnya sambil meniup kompor serta api dalam kuali yang mulai membumbung.

"Kebakaran, kebakaran," teriak Yanie piknik sambil hilir-mudik bawa koper kayak seterika belum panas.

"Bos, Mbak Yanie senang amat ya kita kasih kejutan selamat ulang tahun," ujar Siti salah sangka dan pastinya juga salah dengar.

"Mata mu picek, Ti. Lihat noh kompor dan kualimu. Tolooong!"

Iyem berteriak panik lupa sama jabatannya sebagai kepala preman yang ditakuti.

"Ambil kain basah Mbak Yanih," Perintahku pada Yanih yang asik tepuk tangan di depan kuali yang sudah mengepulkan asap dan api. Sebab kaget, secepat kilat dia berlari, dan kembali dengan seember air. Tanpa ba bi bu langsung disiram ke Iyem.

Byur....

"Yanih!"

Teriakan Iyem yang hanya bisa duduk tegang di kursi roda membahenol sejagat kampung.

"Buruan semua keluar," kataku linglung sebab api membesar, dan aku mendadak lupa di mana letak tabung gas.

Kami berlari mencari selamat, Siti yang biasanya tidak dengar tiba-tiba saja sembuh gendang telinganya.

"Tolong... kebakaran," teriak kami berbarengan tanpa malu lagi. Namun sepertinya tidak ada yang mendengar. Sebab bedug di mesjid bertalu, dan azan Magrib pun berkumandang. Mungkin takzil lebih menggoda ketimbang suara cempreng kami yang ngelangsa.

"Doet, Big Bos mana?"

Yanie baru tersadar begitu sampai di luar. Aku celingak-celinguk dengan gaya masih oon. Namun sejurus kemudian kami dikejutkan dengan asap hitam yang mengepul keluar dari pintu rumah.

"Tutup telinga, tiarap!"

Yanih berteriak lantang karena terkejut, mendadak kami ikut latah dan langsung nyosor nyium bumi. Apesnya tanpa diminta dalam doa, idung Yanie mendarat di eek Mi-Chan angsa yang sepupuan karib ma Siti. Semua memejamkan mata menunggu suara ledakan yang pasti akan terjadi.

Tunggu punya tunggu apa yang kami takutkan tidak terjadi. Dari asap yang mengepul terdengar suara batuk yang kami yakin adalah Iyem. Kami buru-buru bangkit untuk membantunya. Namun belum sempat kaki kami berdiri tegak, Iyem sudah mengaum seperti Harimau tidak kebagian jatah daging.

"Siti!"

Demi melihat Bos yang mirip Dakocan dicat hitam, kami segera ambil ancang-ancang buat lari. Namun sepertinya Iyem tahu niat kami.

"Eats, pada mau kemana?"

"Ndak ke mana-mana, Bos. Cuma mau ambil minum buat batalkan puasa," kataku harap-harap cemas.

"Jangan bohong, Doet!"

"Kue ultahnya kagak bolong, Bos. Kalau bolong itu donat," bela Siti meski tetap salah jaringan.

"Sudah, jangan takut. Sebab hari ini aku lagi baik hati, tidak sombong dan gemar menabung," kata Iyem tersenyum lepas.

"Benaran, Bos?"

Aku rada tidak percaya. Pasti ujung-ujungnya ada udang dalam rempeyek.

"Gimana caranya tu tabung bisa Bos jinaki?"

Lagi-lagi kuping Siti kambuh, menabung sama tabung kan beda hurup awal ya, we?

"Aku taruh kain basah, lalu api lambat laun padam," jelas Iyem gak pakai panjang kali lebar.

"Kami ndak ada yang sempat taruhan, Bos."

"Lu diem dah, Ti. Bos kata taruh alias letak eh lu dengar apa. Emang lu kira kita lagi di Las Vegas main judi," sela Yanie menahan dongkol.

"Selamat ulang Tahun, Sobat," ucap Iyem mengulurkan tangan.

"Tap, tapi," kata Yanie terbatah ingin mengatakan sesuatu. Namun tak bisa, hanya angka sebelas di lubang idung Yanie naik turun sebagai jawaban. Entah karena terharu, entah apalah aku juga tidak tahu.

"Mbak Yanih cepat ambil kue serta lilinnya," pintaku.

"Siap, ChaDoet."

Semangat empat lima Yanih berlari tanpa melihat lagi.

"Aduh, Biyung," teriak Iyem seketika.

"Kenapa Bingung, Bos?"

"Bukan bingung, kaki ku diinjek Yanih."

Iyem langsung mengelus kakinya yang setengah Mummi, ketika sejurus kemudian Yanih berlari kembali dengan tart di tangan.

"Hadeuuu!"

Lagi lagi Yanih menginjak kaki Iyem yang satunya.

Kemudian....

Bruk!

Plok.

Yanih jatuh, kue tart mendarat mulus tepat di wajah Yanie yang berdiri di hadapanku.

"Sitiii!"

Yanie berteriak sambil guling-guling di tanah. Menumpahkan kekesalannya pada saudara setanah airnya Mi-Chan.

Sementara Iyem bukan lagi sakit encok, ayannya pun ikutan kambuh akibat ulah Siti.

Yanih sendiri burusn repot memandikan sayurannya yang terkena cipratan kue ultah. Takut itu sayur terinfeksi virus corona.

"Mereka semua bahagia banget, ya, Dut."

"Suka ati pengelihatan dan pendengaranmu lah Kak Siti," jawabku sambil ngeloyor pergi.

"Siapa yang mati?"

Lagi-lagi kuping Siti ngedrop.

"Woiii, hari ini bukan ulang tahunku. Lebaran juga belom. Ntar Juni," teriak Yanie tiba-tiba.

Aku masih sempat mendengarnya sebelum Baday kulaju untuk mencari tempat membatalkan puasa.

Akibat keteledoran Siti semua rencana gagal Total. Entah siapa yang ultah tak diketahui, bos mungkin sudah waktunya masuk rumah jompo karena sudah pikun. Pun tidak bisa menyalahkan Siti sepenuhnya, sebab Iyemlah yang punya andil dalam hal ini. Seandainya saja dia tidak menyuruh Siti. Akh sudah lah, nasi sudah jadi bubur.

*****TAMAT*****

Cerpen –
GARA GARA KOMPOR
Karya : AIRI CHA
Pengojek Hati
2200.290621