RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 08 Maret 2012

BEBAS TANPA BATAS


Masa muda begitu bermakna,,,
Tuk mengisi harimu dgn berkarya,,
Tak ada penghalang tuk ungkapkan rasa,,,
Pelepas inspirasi dan gejolak jiwa,,,,
Jangan kau bendung apa yg ada,,,
Biarkan mengalir lewat syair dn kata,,,
Fahamilah wahai sahabatku semua,,,
Tiada suatu keindahan selain hidup yg bebas merdeka,,,

by:aru rulyanzo
Jakarta

TAK BERNYAWA


Alunan takdir kita lewatkan diseberang hati
jalan menyesatkan menuju ketidaksepahaman hingga menjarakkan keadaan yang sudah menjadi biasa
hamparan bumi menolak tapak langkah kaki juga jejaknya
menembus ruang hidup hingga dibatas ambang cakrawala
kita tak pernah tahu dimana letak dan ujungnya yang pasti
selama kita hanya terus mencari tanpa harus sebentar saja berhenti

Penat masih saja di hantui rasa bersalah
ketika kesalahan lalu sekilas saja teringat buahkan masalah
senyum merekah di bibirpun mulai meredup
yang semestinya sampai kini harus tetap hidup

hina dina , torehan pujian hingga cacian dan maki
harus kita yakini dalam hidup sebagai apa ?
aku tersandar sendiri memendam jutaan tanya itu disini
apakah kita hanya bisa menikmatinya , diam dan melewatkannya saja
jika dilain waktu ,ini terjadi kembali terulang lagi
masihkah kita punya hati untuk menuainya ?

Oleh : WONG DJOGJA
Djogjakarta

TUMBULAH CINTA , TUMBUH DAN TUMBUH


setelah kau semai biji marah di persawahan relung jiwa
kau taburi serbuk emosi , pemupuk kisi kisi hati tersakiti
kau aliri luapan darah muda di pematang antaranya

sebelum peristiwa itu terjadi ........
cakar bajak tulisan pedas menggores tanah persahabatan lama
tinggalkan luka menganga , hingga terbiasa dan berevolusi
dari tanah persahabatan terluka , tumbuh buah cinta berkala

sesudahnya kini ........
biji marah tumbuh di tanah asmara
serbuk emosi menjadi pemupuk , berseminya daun hati
darah muda mewujudkan apa yang dirasa

cinta suci ........
adalah anugrah terindah dari Sang Kuasa
tak ada yang bisa menghindari ........
bila insan tlah di mabuk cinta membara

syukuri ........
tidaklah baik , bersembunyi dari apa yang dirasa
nikmati cinta selagi tersaji
atas nama cinta , bukanlah bencana ........

Oleh : DEKY BUDI
Surabaya

TAKKAN PERNAH SIRNA


lembut nian tangan sang pujangga,,,
menoreh kata indah bagai di surga,,,
bait-baitnya bgtu dalam terasa,,,
penyejuk hati sampai ke raga,,,

akankah semua itu kan tetap ada,,,
seiring laju jaman dan juga masa,,,
trus mengalir bagai air yg tak ad habisnya,,,
tuk penuhi haus para pembaca,,,

Oleh : Aru Rulyanzo
Jakarta

SEPRTI DAUN AKU MERINDUKAN GERIMIS


AKu menyapamu
kadng seluigas awan berarak
di perak sinar surya
... kadang seperti air bening
memercikkan permukaan telaga
kadang selembut kaki gerimis
menyentuh kelopak muda
menyegarkan sari yang termangu
didalamnya

Tapi kau selalu melihat ppetir kala sapaku tlah hadir
dengan ANGKUH kaw undang guruh
menyempurnakan gemuruh RAPUH

Kau pon tau tentang lisan yang cedera
dan MAKNA menjadi percuma
Tapi aku bersikeras menanam rumpun kata
hingga tumbuh PUCUK-PUCUK DO'A

Yang ku butuhkan adalah sekendi air putih
curahlah kelambungku..........
yang tak henti mengunyah baramu

Kau tau aku tetap menyapamu
tanpa pilih bulu,
tanpa memilih waktu
SEPERTI DAUN AKU MENDAMBA GERIMIS
SEBELUM MATAHARI MENGHANGUSKAN HIJAUKU (diriku)

karya: REZKI RIDHO DATMI
date:selasa-06-03-2012
time:20:47
Tanjungalai,Sumatera Utara

ANAK DESA


aku anak desa
mencoba hidup di kota
mencari pekerjaan
di tempat yang katanya menjanjikan

aku anak desa
bertahan di tanah rantau
walau hatiku selaalu galau
aku terus bertahan

lahan di desa sudah habis dibabat
dibabat oleh tangan tangan serakah
tanam padi tumbuh pabrik
tanam jagung tumbuh gedung

aku anak desa
masih bertahan di kota
menunggu dan menunggu
sampai mengepal jadi batu

Oleh : Bondeath Sick Ness
Cikarang, Jawa Barat

BERAT HATIKU TAK TERSAMPAIKAN


Ku pecut tubuh ini
Ku maki jiwa ini
Ku paksa raga ini
... Ku sayat hati ini
Untuk satu ambisi berarti

Ku asah diriku
Ku tempa mentalku
Agar suatu saat mereka dapat menghargaiku
Mengerti kerja keras ku
Menyadari kegigihanku

Tapi itu semua percuma
Kuruncingkan bambu semangat ini untuk menusuk diriku sendiri
Merobek jerih payahku

Semangatku tak pernah didengar
Kegigihanku dianggap keberhasilan orang lain
Kesalahannya, ku tanggung dengan payah
Apa yg sebnrnya klian peragakan?
Apa yg klian coba tunjukkan?
Kuingin skali saja, kekecewaan itu tak menimpa ku
Kesalahan itu tak menuduhku
Kesedihan itu tak pernah menyelimutiku
Agar ku tenang, agar ku dapat melanjutkan perjuangan ini
Tanpa air mata, tanpa lecet di raga

Oleh : Nabilakhairunnisa Bahar
Tanjungbalai,Sumatera Utara

Senin, 05 Maret 2012

MALAM


Yuni Kurniati
Malam telah membenamkan hati dan keinginan kita dengan gembok ketulusan, dibalik siluet kota mu yang menjarak, bukan dalam rekaan muda tuk tertaut satu titik tatapan kita, bagai jeruji menancapkan langit, dikaki bumi pada asah kita,yang tak pernah terekam dalam pengelihatan, namun nama itu selalu menyata dalam bingkayan do'a.

Oleh : YUNI KURNIATI
Bogor

HEI....


adakah hari esok lagi...
untukmu,hei bocah kecil...??
adakah hari esok kembali...
untuk kita bermain bersama...??

hei bocah kau harapan negara
engkaulah penerus bangsa....
inginkan keadilan dirimu....
disetiap gerak langkahmu...
disetiap gelak tawamu....

hei bocah kecil.....bocah.....
hei bocah kecil...........

Oleh : Bondeath Sick Ness
Cikarang, Jawa Barat

MARSINAH


lantang kau teriakkan...suara perlawanan
menuntut keadilan,yg kau rasa telah hilang
berbekal keberanian...kau lawan ketidak adilan
demi terwujudnya kesejahteraan

dialah MARSINAH....pahlawan bagi kaumnya
pembela kebenaran untuk semuanya
dialah MARSINAH...jangan lupakan jasanya
bukti kesewenang wenangan para penguasa

Oleh : Bondeath Sick Ness
Cikarang, Jawa Barat

TANYA KU DALAM RESAH


Tuhan, aku lelah berpura pura berusaha menjadi yang terbaik agar aku berguna. Aku lelah bersandiwara didepan teman temanku. Aku lelah berusaha menjadi kebanggaan untuk keluarga ku. Aku lelah tersenyum dengan adikku untuk menenangkannya, padahal raga dan hatiku teriris.
Tuhan, aku lelah berteriak "aku bisa" agar aku terlihat kuat, padahal tubuhku sudah rongsok. Aku lelah menjalankan perintah yang seharusnya tidak ku inginkan.
Tuhan, salahkah aku menyiksa diriku sendiri agar orang orang disekitar ku puas terhadap ku, padahal aku sendiri hanya menginginkan hidup tenang dan mengabdi padaMu?

Oleh : NABILAKHAIRUNNISA BAHAR
Tanjungbalai,Sumatera Utara

LAGU SEORANG GERILYA


Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
... menyandang senapan, berbendera pusaka.
Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.

Malam bermandi cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata

OLEH WS RENDRA..
" Agar tak hilang pusaka Indonesia"
Dari : QIE QOEK

GEREGAT KIDUNG PAGI


putihnya krah bajumu , tak seputih hati rakyat tersakiti
putihnya gigi disenyummu , tak seputih tulang tulang korban mati rakyat terprovokasi
putihnya uban asli yang kau sembunyikan di penampilan rapi ........
... tak seputih cinta suciku pada segenap rakyat melarat bumi pertiwi

kamilah rakyat ........ , yang harus kau layani dan patuhi
mahasiswaku adalah laskar terdepan , suarakan kidung nestapa kami
negri ini , bukan tempat golongan orang orang moral bejat pengkorupsi
penindasanmu ........ , kan terbayar oleh rakyat berevolusi

wahai penerima mandat pengatur negri ........
darahmu bisa mendidih , tatkala kursimu masih kokoh dan nyaman ditempati
pabila tlah datang masa berganti ........
tersungut malu dan takut kau ........ menunggu datangnya teradili

Oleh : DEKY BUDI
Surabaya