RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Minggu, 02 Desember 2012

KETIKA SUAMI PULANG MALAM

Sahabat yang selalu dicintai Allah SWT, sadarkah kita bahwa karena tanggung jawab yang begitu dalam untuk menafkahi dan membahagiakan keluarga, seorang Suami harus bekerja keras peras keringat melawan persaingan hidup yang semakin tidak seh

at karena sistem ekonomi dan moneter kita sedang dalam cengkeraman ‘Sistem Dajjal’,

bukan hanya beban pekerjaan yang sudah begitu berat ditambah lagi kadang tekanan dari atasanya atau masalah dengan pelanggannya, disepanjang jalan berangkat hingga sampai tujuan tidak sedikit godaan yang membuat niat dan semangat akan sebuah tanggung jawab yang mulia terhadap keluarga menjadi pudar dan berubah arah, bahkan seringkali Suami kita harus pergi pagi-pagi dan pulang larut malam.

Dukungan motivasi dan doa dari sang istri dan keluarga adalah sebuah kekuatan yang luar biasa yang mampu meneguhkan dan selalu meluruskan niat dan tanggungjawab sang suami sepanjang hari dalam memperjuangkan kemuliaan hidup untuk diri, keluarga dan semua orang yang berada dalam tanggungjawabnya.

So ….jangan pahami yang negatif dulu ketika suami kita pulang larut malam, kisah dibawah ini akan memberi hikmah untuk selalu berprasangka baik dengan suami kita…..

--------------------------------------------------------


Malam itu Setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam.



Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.



Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya (Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, "Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah isteri dan anak saya?"



Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. " Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan" Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.



Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk.



"Tunggu sebentar disini bu!" pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya. an Alhamdulillah, saya justeru mendapatkan teh manis hangat dari tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut. "Ini bu,.. kasih ke anak ibu!" selanjutnya mereka meminumnya berdua.



Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat "Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya" sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana? Tanya saya Saya tinggal di daerah Bintaro tapi...(dia menghentikan bicaranya), Bapak pulang bekerja ? dia balas bertanya.



"Ya" jawab saya singkat.



"Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak menunggu? Tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.



"Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi." Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. "Bu, maafkan saya kalau saya salah omong.



Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan? Pintanya dengan sedih dan sopan. Airmatanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.



Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. "ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!" saya berusaha menjelaskannya. "Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak saya" kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang membuat saya heran. Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya? tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus meng-ikhlas-kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun.



Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.



Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.



Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah saya baru sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. "Gila.Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua didalamnya" dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar meng-ikhlaskan semuanya. "Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya biar bisa lebih ikhlas" dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.



Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil padahal hal ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan karena kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi malam. Saya belum bisa benar-benar meng-ikhlaskan kejadian tadi malam bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati karena telah menipu saya.



Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus.



"Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan ? tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala..



Segera saya buka kotak tersebut dan "Ya Allah, semua milik saya kembali. Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang tertulis ;



" Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin itu saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah saya berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di hlate bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. Terima kasih.



Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada dihadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua uangnya diserahkan saja ke mesjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut dan keluarga kita.



Sahabat, ternyata berbagi / Sedekah itu tidak harus ikhlas atau menunggu ikhlas, karena Allah sebenarnya memiliki skenario yang unik untuk membersihkan harta kita melalui hamba-hambaNYA yang sedang dalam kesulitan untuk bertemu kita meminta bantuan atau pertolongan kita, disetiap lampu merah kita ketemu pengemis, anak jalanan dan pengamen, disetiap belokan dan parkiran kita ketemu tukang parkir, diperjalanan kita ketemu panitia pembangunan masjid, di Jejaring Sosial kita ketemu juga sama Rumah Yatim Indonesia atau lainnya yang selalu menawarkan Proyek-Proyek Sedekah dan Amal Shaleh.



Ya……semuanya itu harus kita pahami bahwa mereka semua itu adalah petugas-petugas pembersih harta kita, kendati seringkali kita memberikan sedekah kepada mereka itu dengan sedikit terpaksa, tapi ketahuilah sebuah kewajiban yang kita lakukan baik dengan suka rela atau terpaksa Allah SWT tetap membalsnya dengan berlipat. Artinya kalo kita ketemu mereka yakinlah bahwa pasti masih ada harta kita yang masih belum bersih, so….sediakan selalu uang sedekah walau itu kecil



Kisah diatas adalah sebuah contoh bahwa sang Suami tersebut belum bisa ikhlash dalam bersedekah, tapi Allah ternyata maha cepat balasan kebaikannya, Allah menggerakkan hati si Ibu untum mengucapkan terima kasihnya dalam bentuk yang lebih baik dari apa yang telah diterimanya.





Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya, meskipun engkau memberikan nafkah kepada keluargamu sendiri, engkau tetap memperoleh pahala, sampai sekerat makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari )



dari Abu Hurairah juga diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau berikan kepada fakir miskin, dan satu dinar yang engkau berikan sebagai nafkah keluargamu; yang terbaik diantaranya adalah yang engkau berikan sebagai nafkah istrimu.” (HR. Muslim)



Dalam hadist Ka’ab bin Ajizzah juga diriwayatkan bahwa ada seseorang lelaki yang lewat di hadapan Nabi. Para sahabat melihat ada yang menakjubkan pada semangatnya. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagus nian apabila keadaannya itu karena berjuang di jalan Allah?” Rasulullah menanggapi: “kalau ia keluar rumah demi menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, berarti ia di jalan Allah; kalau ia keluar rumah untuk menghidupi ayah ibunya yang sudah tua renta, berarti ia di jalan Allah; dan apabila ia keluar rumah demi menghidupi dirinya sendiri agar terpelihara, maka ia juga di jalan Allah. Tetapi kalau ia keluar rumah karena rasa sombong dan membanggakan diri, maka ia berada di jalan Iblis.” (HR. Ath-Thabrani )



MULIA kita dengan MEMBERI, ABADIKAN yang TERSISA dengan SEDEKAH

Kiriman : Ukhti Nisa
Oleh : Rumah Yatim Indonesia

TERBANG

Bukan membenci pagi,alasan malas..janji yang meretas,buat enggan beraktifitas.
Ku henti sejenak alam terbatas,berkejaran berlari terengah nafas..tersisa secuil rasa ini,berdiri di ambang batas.
Mengejar bidadari,bersenyum lepas..kurasa sukar sekali,gapai langit ketujuh yg paling atas.
elang,pinjami aku sayap..tuk terbang tinggalkan harap.

Oleh : Syairlendra Arai
Bogor

ANAK KITA BUKAN ROBOT

Astaghfirullahal ‘adzim, alangkah seringnya kita memotivasi anak-anak kita bukan demi kebaikan mereka di akhirat, tetapi demi memperturutkan kebanggaan kita sendiri. Kita didik mereka agar mampu membaca pada usia balita, bukan agar mereka l

ebih mengenal Tuhannya, tetapi demi mendatangkan decak kagum tentang betapa hebatnya kita mendidik mereka.

Kita asah kecerdasan sehingga hebat luar biasa. Bukan agar bisa menolong agama Allah ini dengan kemampuan yang mereka miliki. Justru sebaliknya, kita ajarkan kepada mereka doa-doa kepada Allah Ta’ala untuk memperoleh dunia. Kita biasakan mereka berdoa bukan agar hatinya terpaut dengan Allah ‘Azza wa jalla, tetapi semata agar Allah melimpahkan perstasi yang menakjubkan. Tak salah jika semasa kuliah rajin puasa dan memelihara sikap takzim pada orang tua, tetapi sesudah mereka memperoleh apa yang dicita-citakan, bekas-bekas puasa Senin itu tak tampak sedikit pun.

Pertanyaan kemudian, apakah salah kita menyayangi mereka? Tidak. Kecupan untuk anak kita atau pelukan hangat saat bercanda dengan mereka adalah perbuatan sunnah apabila kita melakukannya untuk meninggikan perintah nabi. Allah ‘Azza wa jalla akan melimpahkan barakah bagi setiap kecupan kita atau usapan jemari di atas pipi mereka yang basah oleh airmata. Allah akan jadikan setiap detik kehidupan kita bersama anak-anak kita sebagai catatan pahala yagn tiada putus-putusnya bila kita sentuh mereka karena ketakwaan kita kepada Allah. Tetapi kita tidak tahu, apakah yang akan kita dapatkan jika kita melakukan semua itu demi kebanggaan kita sendiri?

Subhanallah, alangkah sering mata kita terkelabui oleh yang semu. Kita menginginkan mereka mendengar setiap perkataan kita. Tetapi kita lupa belajar mendenganr suara nurani mereka. Kita ingin anak-anak kita cerdas, enerjik dan kreatif, tetapi kitalah yang pertama kali membunuh bakat-bakat mereka, inisiatif-inisiatif mereka dan bahkan kebaikan-kebaikan mereka.

Astaghfirullahal ‘azhim. Alangkah sia-sia kita mendidik anak, kecuali jika kita melakukannya sebagai tanggun jawab kepada Allah Ta’ala. Alangkah sia-sia kebanggan kita atas kehebatan mereka kalu kehebatan itu justru mengantarkan mereka ke neraka, kemudian menarik kita untuk sama-sama tercampak dalam siksa yang pedih. Na’udzubillahi min dzalik.

Masya Allah….., terkadang kita ajarkan kepada mereka doa-doa, tetapi tanpa menumbuhkan keyakinan bahwa Allah adalah tempat bergantung dan memohon pertolongan. Kita ajarkan kepada mereka Al-Qur’an, sehingga mereka fasih membacanya di usia yang masih amat belia, tetapi kita lupa membangkitakan kepercayaan di hati mereka untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup. Kita ajarkan kepada mereka hafalan surat-surat pendek, bukan untuk membekali jiwa mereka, tetapi demi memproleh tepuk tangan yang meriah saat wisuda TPA. Atau kita gembleng mereka untuk mampu mengusai ilmu apa saja, tetapi tanpa mempersiapkan jiwa mereka untuk mengabdikannya kepada Allah ‘Azza wa jalla. Kita tidak membangkitkan jiwa mereka untuk mencintai agama ini dengan ilmu, iman dan amal shalih. Mereka menjadi orang-orang yang merugi meskipun prestasinya membuat orang lain merasa iri.

Ya…..ya……ya…..., alangkah sia-sia semua usaha kita kalau hanya untuk hidup di dunia. Terlalu mahal biaya yang harus kita bayar. Terlalu besar tenaga yang harus kita keluarkan kalau kita didik anak-anak kita menjadi manusia cerdas hanya untuk pandai mencari nafkah. Alangkah panjang masa mereka belajar sejak play group hingga jenjang S-3 untuk hidup yang amat pendek, jika mereka mampu menyelesaikan doktor pada usia 30 tahun sementara Allah mengaruniakan kepada mereka usia rata-rata, yakni 60 tahun, berarti belajar satu hari untuk dapat bekerja mencari nafkah satu hari. Sementara menikmatinya Cuma beberapa jam. Itu pun banyak yang tidak sempat menikmati.

Demi masa. Sungguh kita sangat merugi kalau kita didik anak-anak kita dengan sekian banyak kursus dan keterampilan hanya agar masa depan mereka cerah, dan memperoleh pekerjaan yang membanggakan. Apalagi kalau anak-anak itu ternyata sebelum sempat meraih masa depan Allah sudah memanggilnya. Sungguh, kerugian yang berlipat-lipat bagi kita. Di dunia kita tidak mendapatkan apa-apa sementara di Akhirat kita hanya meratap dengan penuh kekecewaan.

Sahabat, mudah-mudah kisah dibawah ini membuat tersadar akan arti pentingnya Anak kita……….

----------------------------------------------------


Bu Linar mewarisi dendam kesumat akibat sejak kecil dirundung penderitaan dan penghinaan. Tidak ingin selamanya hidup menderita dan dicaci, dia berhasil menaikkan harkat keluarganya dengan bekerja keras menjadi guru. Sayang, dendam masa lalu terlalu berakar dalam dirinya. Bu Linar pun menjadi sombong, induk dari segala macam dosa.



Dia suka pamer dan membangga-banggakan dirinya. Bahkan dia menghalalkan segala macam cara agar keinginannya tercapai.

Dan yang pertama menjadi korban adalah anak-anaknya sendiri. Mereka dipaksa menanggung ambisi besar si ibu dengan belajar setiap waktu. Selain belajar di sekolah dari pagi hingga siang, mereka juga mendapatkan les privat langsung setelah sekolah usai. Sore harinya mereka les vokal, les tari, dan malam hari les yang lainnya lagi.



“Kalian tahu betapa sulitnya mencari uang! Sementara kalian enak-enak saja! Tugas kalian cuma satu, yaitu berprestasi!” teriak Bu Linar tiap jumpa anak-anaknya sedang santai



Anak-anak Bu Linar kehilangan masa kanak-kanak mereka demi mewujudkan cita-cita si ibu. Dan memang mereka semua mendapatkan juara pertama, bahkan juara umum di sekolah. Namun, itu semua tidak membuat mereka bahagia.



“Prestasi kalian harus ditingkatkan lagi. Ibu belum puas!” seru si ibu saat memaksa anak-anaknya belajar pada masa liburan.

Selain menyuruh anaknya selalu belajar, setiap hari si ibu memeriksa PR dan hasil ulangan anak-anaknya. Apabila ada satu nomor saja yang salah maka dia tak ragu-ragu memukul buah hatinya dengan kayu atau rotan.



“Kalian anak Ibu, Ibu yang melahirkan kalian, Ibu berhak mengajar kalian supaya tahu diri!” makinya. Kondisi itu semakin parah karena sikap si ayah setali tiga uang dengan si ibu.



Bu Linar juga memaksa anak-anaknya ikut lomba model yang sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan si anak. Setiap kali menjadi juara, dia pun memamerkannya kepada tetangga kanan kiri. Sementara itu, anaknya semakin tak bahagia, apalagi saat ibu mereka berkata, “Lihat tuh, lemari piala itu sangat besar dan mahal! Kalian harus mengisinya dengan piala-piala hasil juara lomba!”



Tak heran lama-kelamaan anaknya jatuh sakit karena stres ditekan si ibu. Lagi-lagi si ibu tidak ambil pusing dengan kondisi anaknya. Yang penting keinginannya terlaksana.



Belasan tahun berlalu, Bu Linar tak habis pikir, anak-anaknya yang sejak kecil selalu berprestasi menjadi orang yang tidak punya pendirian. Mereka plin-plan, peragu, penakut, dan gagal dalam pergaulan sosial. Anak-anaknya memang sudah dewasa, tetapi sifatnya masih kekanak-kanakan. Segalanya terserah kepada keinginan si ibu.



Begitu juga soal mendapatkan pekerjaan. Si ibu harus turun tangan dengan meloloskan semua anaknya menjadi pegawai di sejumlah instansi pemerintah. “Walau gagal menjadi artis top, menjadi pegawai masih dapat dibanggakan,” ujarnya.



Sayangnya, karier anak-anaknya mandek karena tidak terbiasa kreatif. Mereka bergantung pada perintah ibunya sehingga tidak cakap mengelola hidupnya sendiri. Malangnya, mereka mengalami gangguan kejiwaan, yaitu selalu dihinggapi rasa takut, terutama takut gagal sehingga cenderung tidak melakukan apa-apa. Bahkan mereka akan langsung jatuh sakit jika berhadapan dengan sedikit masalah.

----------



Sahabat, Setelah mempunyai anak hendaknya kita lebih memahami bahwa kita orang tua tidak selalu benar. Jangan sampai ambisi kita mengorbankan kebahagiaan anak-anak kita karena Prestasi yang berasal dari jiwa yang tertekan tidak akan mendatangkan kebahagiaan.



Ya…anak-anak kita bukan Robot yang siap membantu melayani dan mewujudkan keinginan-keinginan kita yang sesa’at.



Tugas kita justru bagaimana Anak-Anak kita mempunyai karakter yang kuat dan keimanan yang kokoh sehingga jika kita lebih dulu meninggalkan mereka, kita bisa istirahat dengan tenang dan tersenyum indah ketika kita sedang ‘beristirahat’ di Alam Barzah nanti



Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin 'Ali, dan di sisi Nabi ketika itu ada Al-Aqro' bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro' berkata, "Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallampun melihat kepada Al-'Aqro' lalu beliau berkata, "Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi" (HR Al-Bukhari )



Datang seorang arab badui kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut kasih sayang dari hatimu" (HR Al-Bukhari )



"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…" [at Tahrim : 6].



MULIA kita dengan MEMBERI, ABADIKAN yang TERSISA dengan SEDEKAH

Kiriman : Ukhti Nisa
Oleh : Rumah Yatim Indonesia

SANGGUPKAH PUPUSKAN ASA ?


indah dunia tapi ruang yg tersisa begitu sempit,,
mencoba menjauh ke dalam kesunyian.
tempat yg bagi ku terasa nyaman
tapi tak bisa ku temui.

coba terus mencari...
kuharap berjumpa lagi dengan sahabat yg lama ku nanti.
seharusnya aku tak pernah lari .

Oleh : Andi Gunaone
Tanjungbalai,Sumatera Utara

KALA SUARA HATI KITA SEDERHANA



Aku tak akan mengetuk palu
Memutus perkara dari satu berita maya
Mengendus kebohongan tanpa bukti dimata
Memangnya siapa aku yang berani menuntut tanpa fakta...!

Tidak kah kau juga sebenarnya merasa...?
Bahwa setiap keadaan seolah terjadi sebagai tanda
Bahwa semua ini cuma isu untuk memulai perkara
Sekedar untuk memuaskan syak wasangka
Yang ditiupkan oleh nafas - nafas yang senang dagelan saat luang masa...!

Oh...
Jangan pula kau pukul palu atas ritme ku
Yang bernyanyi dalam tafakur penyesalan
Sebab langkahku yang belum jua sampai tanah impian...!

Marilah kawan...
Marilah sahabatku...
Mari kita gandeng keselarasan
Walau debaran kita tak berdenyut urutan nada yang sama
Walau juang kita tak berbunyi suara kebebasan yang serupa
Sebab kita terlahir oleh DZAT yang sama...

Marilah kawan...
Aku rindu pada masa saat kau bukan siapa-siapa...
Aku rindu saat kau rangkul aku atas nama_NYA
Aku rindu ketika kita seret debu dengan langkah kaki kita
Sebab kala itu kita memang sederhana...

Inilah ritme_ku...
Bunyinya tetap sama...
Mengalir bukan karena kau punya banyak harta
Atau sebab kau punya besarnya nama...

By : Wahyu Sumut Kembara
Minggu, 2 Desember 2012. ( Sederhananya Rasa )
Tanjungbalai - Sumatera Utara.

MAAF, NAMAMU TAK DIKENAL DISINI



Pikirmu,
sekali mendayung dua tiga dermaga tersinggahi
menjajakan gula gula istimewa
milikmu

Jala pesona tebarkan janji semuluk fatwa pujangga
masih berbekal jumawa merambahi ibukota
ya : sudah ada pagar rasa disana
menunggu giliran bercengkrama

Pikirmu,
sedangkal saku isi dompetku
sekehendak hati bicara suka suka
lupa diri, tak ingat lagi rumah didesa

Diamku merekam tabiat, bukan karena takut
ibukota adalah rumahku, tempat bermain menampi harap
jika cuma sekembaran bahkan melebihimu, gampang didapat
tinggal tegakkan kepala ,lalu berucap

Sebaiknya urungkan niat menjabat hasrat,
jalan menuju beranda hati tertutup rapat
aku pun tak sudi mengenalmu lagi
maaf , namamu tak dikenal disini

-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/ putra fajar.-----
-----(I) Makassar sapo terulang, Sabtu sore 01 Des 2012.--------

IJINKAN AKU PAMIT

Sahabat,
ijinkan aku pamit undur diri dari kotamu
jejak pengabdian penjaga gudang tua sementara berakhir
tugas baru menungguku dihiruk pikuknya Batavia,
menyusuri jalan jalan penuh tantangan,
disana....

Sahabat,
ada namaku tersurat dipasir pantai Akkarena,
membentang luas nafas kesejukan disitus purbakala,
bahkan puisiku menjadi arena tarian sakral taman kupu kupu,
kupahatkan memory dipohon pinus bukit Malino,
barangkali masih banyak alfa yang tercecer sepanjang trotoar kota,
nostalgia itu tersimpan rapi dipustaka jiwa,
selamanya ,hingga akhir masa

Sahabat,
jika Gusti Pangeran Welas Asih , masih bermurah hati
kita bersua dinuansa berbeda, tetap berwajah sama
kusiapkan beranda jiwa pintu terbuka selebar lebarnya,
kunanti datangmu di Batavia, kota sejuta pesona

----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.---
----(I) Makassar sapo terulang, Sabtu sore 01 Des 2012.-----

SERAT JIWA UNTUK APH

Adikku APH,
Hidup adalah fakta pribadi kasunyatannya diri
membentang sejak lahir hingga wafatnya raga,
kesepahaman ruh dan penciptanya sebermula
saat berada dikandungan ibunda,
ketika lahir, itulah rahasia hidup kita....

Adikku APH,
silang sengketa telah memporakporandakan bahtera keluarga,
terombang ambing adamu diberanda yang mana,
kering kerontang jiwamu haus kasih sayang,
saat mekar hatimu berontak tak hendak jenak,
dijalan kelam menapakkan kaki, tak perduli lagi
rebah imanmu dibelantara dunia fana,
sangkamu hidup memang tak adil bahkan nista,
syah saja jika jalanmu sungsang, bahkan menyilang
dibawah pengaruh butiran pelambung jiwa,
lalu : masa bodo dengan semuanya

Adikku APH,
kunyalakan lenteraku ,lemah cahayanya
barangkali bisa memberi arti,
meski cuma silluit hitam selintas malam,
tapi aku pernah hadir disisi gelap kehidupanmu...

---oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.---
---(I) Makassar sapo terulang, Sabtu sore 01 Des 2012.-----

GELISAHMU ADALAH GETAR MAGNETIK CINTA

Duhai pelantun rindu...
akhirnya buncah jua suara jiwa,
padahal telah kau tanam didasar sanubari terdalam...

Gelisahmu adalah getar magnetik cinta,
memanggil sipemilik tulang rusuk...

Yakinkan diri dia akan segera tiba..
menjemput adinda melengkapi hidupnya,
songsonglah olehmu duhai perindu,
takdir yang tersurat jodoh terberita,

Membangun mahligai abadi ,
kokoh laksana batu karang,
pondasi generasi penerus hakikat..

Bersamanya hidup lebih terasa hidup,
menapaki fananya dunia kehidupan..
Pada NYA jua kita berharap,
pada NYA jua kita berserah...

---oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.----
---(I) Makassar sapo terulang, Minggu dinihari 02 Des 2012.--
(Kudedikasikan untuk adekku Elpiani H Elvin )

ASMARA HITAM

Sahabat hati,
direntang dini hari dingin dan beku,
satu persatu nostalgia kupunguti mulai dari pojok kota
murahnya cinta yang kau tawarkan,
semuanya penuh kebohongan.....

Sahabat hati,
sebab kau mulai dengan kebohongan penuh kepura puraan,
maka berbuah lebatlah segala tipu daya, penuh sandiwara
ketika terjebak didalamnya,
kau meronta menudingkan segala penyebabnya,
sepertinya akulah pelaku utamanya....

Sahabat hati,
penjaga alam asmaragama murka sendawakan titah
semua hak bahagia serta pelanginya cinta buah asmara,
telah dicabut dari ruang lingkup kehidupanmu,
tertinggal hampa, sia sia dan tak pernah bahagia
selama didunia.....

-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.----
-----(I) Makassar sapo terulang Minggu dinihari, 02 Des 2012.--

AKU, SIPEMBUKA JALAN


Duhai Gusti Pangeran Welas Asih,
hampir tiap hari kulantunkan doaku,
mengurai magna hidup dan kehidupan : Nyatanya dihidupku

Kubahasakan sebisaku, bahkan seringkali tanpa tata krama
meluncur seirama nafasku yang tersengal sengal
dalam kepapaan ku tak berdaya didera seteru berbaju sama

Gemetar berdiriku sanggub tak sanggub tetap kutengadahkan muka,
berharap mujizat milik MU hadir dilembar pengabdianku

Nyatanya : Hingga hari ini , KAU mampukan kukayuh asa
mengarungi samudra kepahitan penuh kezoliman

Aku malu, sebab mulutku masih terlalu sering bersungut sungut
menjalani sisa tugas pembuka jalan : Abdi masyarakat setia

Aku membangkang padahal jalan ini menyelamatkanku,
aku memberontak padahal rancanagn ini indah dari MU

Duhai Gusti Pangeran Welas Asih,
kupegang teguh Sabda MU , tentang tugasku si pembuka jalan
" Apapun yang diperbuat Lucyfer terhadapmu,
KU jadikan penggenapan atas janji KU, padamu "
mampukan aku tetap meyakini Sabda itu,
agar tak goyah keyakinanku....

---oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/ putra fajar.----
--- (I) Makassar sapo terulang, Sabtu sore 01 Des 2012.------

PETIR SAJA KU TANTANG


Aku lahir di ranjang fajar
Tidur di timang mahgrib
.
Laguku adalah hembusan bayu
dan kidung-kidung lugu
.
Apa?
Terdengar bisu? Itukan katamu..
.
Hei. . .!! Asal kau tau
Cuacaku adalah gersang
Hujan tak ada dalam kamusku
Petir Saja Ku Tantang
Apa lagi cuma kamu..
.
.
Buah karya: purba sesha
Malang

RUANG SENANDUNG RINDU

Ini
Kutitipkan salam lewat jemari menari
Bertulis tentang kasih kinasih
Isyarat hati menanti
.
Itu
Aksara rinduku
Jadikan prasasti
Saat nanti,
Saat aku tak lagi disisi
.
Disini
Ku taburi manik-manik melati
Lalu padamu kan kuberikan
Arti cinta dalam ketulusan
.
Disitu
Nantinya tempat kita bertemu
Kusebut Ruang Senandung Rindu
Karna disanalah ruang kita bermadu
.
Disana
Mari kita rajut bahagia
Di indahnya bafana-bafana syurga
Selamanya...
.
.
By -purba sesha-
Malang