Selasa, 15 Januari 2013
BULAN YANG TERTIDUR
Berjalan di atas batu kerikil yang tajam…
Menapaki jalan yang tiada arah…
Melihat dengan dengan mata tertutup…
Mendengar dengan telinga tertutup…
Menghirup udara dengan hidung tersumbat…
Itulah aku pengagum rembulan…
Melihat dengan hati…
Mendengar dengan hati…
Menghirup dengan hati…
Itulah aku…
Itulah aku si pengagum rembulan…
Terlihat tetapi buyar….
Terdengar tetapi samar-samar…
Terhirup tetapi tak berbau…
Ku lihat sekali lagi !
Ku dengar sekali lagi !
Ku hirup sekali lagi !
Itu…itu dia…itu diaa !!
Tunggu..tunggu…tak terdengar suaranya…
Tak terhirup aroma tubuhnya…
Tetapi terlihat disana…
Disana !!
Di tempat yang gelap…
Itu dia !!
Itu benar sang rembulan…
Dia masih tertidur…
Sstt.. dia lagi tertidur…
Oleh : Agung Suharmanto
Tanjungbalai,Sumatera Utara
BERHARAP IMPIAN TAK JADI ANGAN - ANGAN
Berjalan hanya untuk satu tujuan…
Berlari hanya untuk wujudkan sebuah harapan…
Termenung meratapi sebuah impian….
Termenung mencari seberkas Angan angan
Jauh …jauh…smakin jauh….
Ku mencari seuntai harapan…
Mencari sebuah impian yang hanya di angan angan…
Benar ! benar ! kau memang benar !!!
Angan-anganku hanya sebuah impian belaka…
Impian yang tak menjadi harapan…
Salahkah?? Salahkah !! salahkah Aku !!
Apa aku salah bermimpi?
Dimana ! dimana dia??
Dimana kau wahai sang Impian…
Masih kah kau berbaik hati padaku…
Wahai kau sang impian…
Aku disini !!
Berharap Impianku tidak Hanya menjadi Angan-angan…
Oleh : Agung Suharmanto
Tanjungbalai,Sumatera Utara
KECEMBURUAN ILALANG
ilalang hanya mampu menatap
langit di atas yang bagaikan atap
indah... terbentang luas tak terbatas
kala senja ada rona jingga yang mengoda jiwa
kala malam ada gemintang yang bersinar terang
kala siang ada lautan biru yang menyejukkan kalbu
saat hujan ada kalanya pelangi yang menghiasi mimpi
tidak seperti ilalang yang seraya layu tertunduk malu
terhempas angin dalam padang yang gersang
menguning kering lantas mati
Oleh : Beti Isfiani
Semarang
MERANGKAI SIKAP
Menata bongkahan masa lalu , pada rasa yang tetap terbengkalai,
ditepian hati yang meranggas patah dahannya
makin perih terasa diulu hati kerna terlanjur membuka lembaran nyata,
Sesungguhnya tekad telah bulat,
meniadakan rasa pada kesibukan hiruk pikuk jakarta.
Aku menjadi bodoh saat cerita digelar senada bahasa jiwa,
padahal tilik sandi berkata sebaliknya, nyaris semuanya dusta.
Prosa dengan nada klise, mengalun diujung lidah tak bertulang,
menyatu dengan lembaran catatan usang yang lapuk.
Sejujurnya, bimbang terus merayap dibatas kebenaran,
bagaimana mesti merangkai sikap, jika tarik menarik hitam dan putih sama kuatnya.
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham / putra fajar.-----
-----(J) Otista pojok perhentian, Senin malam 14 Jan 2013 . 19:@7 wib.---
BABAK AKHIR
Semakin kusadari tampilan kekinian yang semakin asing,
saat kuhadirkan ketulusan,
kumemanen kekecewaan....
Ini semakin rumit, sebab telah melintasi finish
betapa sulit untuk menegakkan benang basah,
diujung ketidakberdayaan....
Kujanjikan babak akhir sisi gelap kehidupan
malam ini, kukemas dengan ikhlas yang mendasar
meski begitu sulit untuk memahami semua peran terlakonkan
apalagi dengan terus memanjakan perasaan....
Maafkan aku,
selamat tinggal masa lalu....
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham / putra fajar.-----
-----(J) Alastua Jakarta, Selasa malam, 15 Jan 2013. 20:07.wib.--
PASTIKAN BERDIRIMU SAHABAT HATI
Ijinkan kuakhiri semua catatan,
telah panjang jejak kaki melumpuri jalan diri
cukuplah buat menata hati.....
Pastikan berdirimu meyakinkan persepsi
sebab pilihan menentukan pondasi membangun janji
esok yang lebih pasti....
Kalimat malam ini bahasa sederhana jadi kunci
kita pedomani meniti hari,
esok yang lebih pasti.....
Pastikan langkahmu sahabat hati,
aku pamit diri.....
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham / putra fajar.-----
-----(J) Alastua Jakarta, Selasa malam 15 Jan 2013 . 21:30 wib.--
Minggu, 13 Januari 2013
SAATNYA MENIMBANG RASA
Pada hitungan ganjil,
ingin kuisyaratkan kata sebenarnya dari arti keterusterangan,
meski harus meluluhlantakkan segala ego,
tapi itulah pondasi dasar mendirikan kebersamaan,
agar tak ada lagi rasa dan asa terabaikan....
Keputusan itu ganjil pada genapnya kepalsuan,
tentu setelah menempuh berpuluh puluh mil ketidakpercayaan,
... lapis berlapis kecewa telah tersedimentasi,
disisi gelap kehidupan,
padahal cuma untuk menyatakan ketulusan,
ujung dari jalan buntu,
dalam kesebatangkaraan diri....
Saatnya menimbang rasa
apa yang kau beri dari sederet pengorbanan
lalu mencoba bertukar tempat meski cuma imajinair kalbu
sebaiknya letakkan dulu ego,
supaya tetap mampu berdiri digaris tengah kejujuran
setiap insan pasti inginkan keadilan.....
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham / putra fajar .-----
-----(J) Pondok bambu istanaku, Sabtu sore 12 Jan 2013 . 14:20 wib.--
HALALKAN AKU
Kasih jika kau benar mencintai ku
Maka aku ingin cita yang halal
Kasih jika kau benar menyayngi ku
Maka aku ingin sayang yang halal
Aku tak ingin hanya sekedar cinta mu
Aku ingin halalkan aku untuk mu
Aku tak ingin hanya sekedar sayang mu
Aku ingin halalkan aku untuk mu
Jika kau benar mencintai ku
Maka halalkan aku untuk mu
Jika kau benar menyayangi ku
Maka halalkan aku untuk mu
Cintai aku karena Allah
Sayangi aku karena ALlah
Jika benar syang dan cinta pada ku
Maka halalkan aku untuk mu
By RPS (Rika Pratiwi Siregar)
Tanjung Balai Asahan
CINTA ANTARA KUTUB UTARA DAN SELATAN
Kucoba nyasar ke dalam pikirinku
Diantara tidur tidak lelapku beberapa hari ini
Beginikah rasanya ?
Ingin bersatu dari kejauhan kutub utara dan selatan
Kelihatan sama ingin menjadi penyeimbang
Menyelaraskan hati menentang perbedaan
Walau samudra luas dengan lantang menghalang
Dikira hati bulat bersih
Menggenggam kalbu walau tersisih
Menahan kerinduan tiada henti
Kepercayaan tertinggilah menjadi penawar hati
Tetap bertahan memeluk cinta tanpa henti
Walaupun jatuh bangun dengan tertatih-tatih
Tetapi ternyata..
Bukannya lagi merpati putih pemberi kabar penyejuk hati
melainkan gagak hitam datang menggeram menerjang
mencatuk..
mencakar..
mengkais-kaiskan kukunya yang tajam
terluka, tergores, pedih, perih kini tidak terkatakan
Inikah balasannya..
Sebuah kerinduan yang menggunung menjulang
Sebuah harapan yang mendalam kedasar lautan
Menghayalkan Tuhan untuk segera menyatukan
Ohhh…namun, putusan Nya lah yang tetap dinantikan
Sabarkan hati dibalik do’a – do’a yang terus dipanjatkan
Apa ini... ? Mengapa begini ?
Kenapa semua ini bisa terjadi ?
Pertanyaan bodoh pun terlontarkan..
Ketika menyadari diri sudah berada di ujung jurang yang rapuh
Tinggal menunggu sedikiiit lagi saja dorongan debu
Untuk bisa benar-benar terjatuh kedalamnya dan MATI
Tenangkan hati.. Sabarkan diri.. Jangan emosi..
Gema kalbu menenangkan jiwa
Menyadarkan kembali akan diri yang terhina
Mungkin ini lah jawaban atas semua pertanyaan
Yang dipanjatkan melalui do’a – do’a.
Kutub utara dan Selatan tidak mungkin di satukan
Sampai kiamat meluntuh lantakkan.
Terima kasih cinta akan masa-masa kenangan yang indah
Sebuah perjuangan yang takkan pernah terlupakan
Raihlah apa – apa sebenarnya yang engkau impikan
Walaupun terluka namun do’a ku tetap untuk kebahagiaanmu
*_*...... END ......*_*
M. Syukri Azhari.
Tanjungbalai,Sumatera Utara
Pujangga tak di akui hahahahaa....
Jumat, 11 Januari 2013
SEPI
Aku kini t'lah menepi dipelataran sunyi jelang senja
Hanya sepi kurasa
Tak seperti waktu gerimis mengeja aksara kita
Tawa kita lepas, renyah seperti berlagu gembira
Hasratku menguap jika kau tak menyambangiku di senja merona jingga
Basahilah rindu ini layaknya hujan membasahi taman hati milik kita
.... hmm aku hanya dapat mengeja separuh desah nafas aksaramu
Maafkan aku
By : Kinanthie Soraya Jasmine
Cikarang,Jawa Barat
11 Januari 2013 15:30
INSPIRASI DALAM NISTA
ketika tebar senyummu pada semua bintang
sebenarnya racun ampuh walau timbulkan gairah
apalagi bagi meteor yang menghampirimu
untuk dapat melepaskan penat dapatkan imajinasi
senyum harapmu terpasang sebagai jaring pukat
walau itu menjadi salah satu prasyarat
menggiring mangsa saat iman tertidur lelah
hasrat membuka kembali pori pori yang tersayat
Kau singkirkan embun yang menutupi wajah
kau poles jerawat yang menjelma kerikil
agar seirama dengan cubitan manja
bersatu dalam gelora dahsyatnya ombak
pantas tubuhmu terjaga dan terawat
terlihat pada daftar tamu rumah senam kebugaran
agar kerlingan gairah kumbang tidak berpaling
diimbangi dengan tipisnya gaun malam
kamuflase gairah telah kokoh indah terpasang
lipstik pink harum tidak pernah terlewatkan
pada bibir rekayasa ukiran paramedis
sempurnakan raga yang tidak berjiwa
duduk gairahmu terpampang pada etalase
bagai ikan arwana sedang ditawarkan
seperti domba di pasar minggu
menunggu langganan pengumbar janji
nistamu terinspirasi padaku :
memoles kecantikanmu dalam mengasah kemampuanku
pantas tubuhmu dalam menjaga kesehatanku
cubitan manjamu dalam meningkatkan keterampilanku
senyum rayumu dalam toleransi sosialku
duduk gairahmu dalam kesabaranku
untuk sempurnakan angan meraih impianku
Oleh : Karyawan Perangin angin
Cianjur
RINDU SETETESMU
kurindukan setetesmu dalam dahagaku
jika sudah begini siapa yang harus ku salahkan
hujan yang selalu ku inginkan tak kunjung datang
mendung selalu berlalu tanpa menghiraukan pintaku
anginpun tak bersahabat hadirnya semakin membuaku sekarat
kemana ku harus mencari setetesmu untuk dahagaku
sudah terlalu lama aku menunggu dari sekian waktu berlalu
rindu... rindu... rindu... itu yang ku rasakan untukmu
seribu pesan pun berlalu dan semuanya menjadi beku
rinai hujan... datanglah dan basahilah bumi
sejukmu masih kunanti
Oleh : Beti Isfiyani
Semarang
AKSARAMU MEMBISU
dari sekian untaian tercipta darimu..
pertama kali ku panggil kau....sayaaang
dengarlah rembulan malammu berbisik dalam lirih nyaris tak bersuara
tak lagi terdengar gemuruh disana ritme kerumitan yang ku gilai nikmatnya
senja kelam.. malampun gerah dibukit yg terbiasa raunganmu memecah keheningan..
Dimana sang pejantan tangguh dalam guratan aksara melepuhkan luahannya
dinding itu kini bisu....
terbungkam walau terdapati gerakmu
bicaralah...
walau bisikan bukan untuk disini meramu rindu
biarkan...
biarkanlah, kunikmati aksaramu dalam imagiku dikeheningan sebagai pengantin bayangan
Oleh : Yulia Aulia Anggraeini
Tangerang
Langganan:
Postingan (Atom)












