RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Rabu, 06 Oktober 2021

TEMBANG KATA TATI KARTINI



EMIMA

- Tuhan, aku baik-baik saja
Dalam luka jiwa ragaku
Masih kurasakan hangat peluk kasih-Mu
Engkau yang mencipta segala rasa
Maha Sempurna

- Berhijrah di moment paling indah
Di bulan paling mulia Ramadhan
Mari mulai gunakan busana-busana muslimah Untuk menyambutnya.

- Berkumpul bersama orang-orang yang baik Serasa berada di syurga bersama para bidadari

- Tak ada suara seindah lantunan ayat Al-Qur'an
Indah, menenangkan.

- Jangan tersesat meski sendiri
Teruslah berjalan menuju surgaNya.

- Nuansa pagi di Kintamani.
Tertutup embun bak kapas terapung

- Dalam lelahku bertahan memasung rasa demi cinta.

- Rinai senja mengguris kalbu, bangkitan luka lama.

- Bagiku Engkaulah cahaya, tiadaMu adalah gulita.

- Ketaatan akan terlihat di saat bersendirian.

- Menepis angan, hadirkan kenyataan .

- Rindu yang tabu adalah merindu kepada selainMu.

- Kesedihan tiada akhir, pergimu buatku tak berdaya.

- Bukan hal mudah mengukur keinginan orang.
kecuali sudah sejiwa.

- Tekad kuat, motivasi pemicu semangat keinginan terpendam.

- Ketaatan terlihat bagaimana lakumu tatkala kau sendirian.

- Indahnya kehidupan seindah hiasan ruang hatimu.

- "Astaghfirullah."
Sudah ditutup rapat, masih diambil juga ikanku.
"Iyalah Mah, kucing kan lebih pintar."
Sahut anakku.

- Cinta tak bersambut rasa, kutahan demimu juita.

- Kalau tak suka jangan paksakan.
Biarkan semua mengalir apa adanya.
Tanpa rekayasa

- Kalau tak mau dicubit, janganlah
mencubit.

- Sebaik-baik penyesalan adalah taubat
dan tidak mengulanginya.

- Alunan suara tilawah murotal sejuk kan
jiwa.

- Cerita hidup takkan terhapuskan
Abadi hingga tiba hisab Illahi nanti

- Terkadang salah langkah
Tak jarang salah ucap
Permata kau campak
Sampah kau jilat.

Jakarta, 3 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Setiap sesuatu sudah ada takdirnya.
Begitupun pertemuan dan perpisahan.
Seseorang mungkin saja hadir sekedar mampir
Atau untuk bersama selamanya
So, biasa sajalah....

Jakarta 23 November 2019
By Tati Kartini


EMIMA

Lega melepas beban rasa
Yang sekian lama menghimpit dada
Maaf ya, bukan aku tega
Aku memang tak cinta

Jakarta, 4 Desember 2019

EMIMA

Maaf harus aku akhiri
Tak ingin lebih jauh sakit hati
Aku mohon undur diri
Melepas ikatan pribadi
Atas nama perasaan cinta ini
Kita jalani lagi kehidupan sendiri

Jakarta, 4 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Pada akhirnya akan terkuak, nampak
Kebenaran kokoh, takkan berpihak
Biar sang waktu yang selesaikan
Setiap pertikaian yang tak berkesudahan
Aku jengah, lelah
Tak tahu bagaimana lagi harus menjelaskan

Jakarta, 4 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Begitu banyak waktu tersia
Dalam kenikmatanNya.
Jiwa melupa
Astaghfirullah

Jakarta, 5 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Kematian adalah sebaik baik takdirNya
Tunggulah aku di sana, di dalam surgaNya
Tempat di mana kerinduan haqiqi berpadu, menyatu
Tanpa ada lagi perpisahan yang menyedihkan

Jakarta, 17 Desember 2019
By Tati Kartini


EMIMA

Seberat apa luka menggenang bara
Menghijab rasa bahagia
Hingga hilang seluruh ceria
Milikilah hati sebening nirmala
Biarkan kilaunya terangi atma
Seakan ada surga di dunia

14 Desember 2019
By:Tati Kartini


EMIMA

Hidup bukan sekadar bilangan angka-angka
Tentang usia dan harta benda
Lebih kepada rasa jiwa
Bahagianya dunia fana hingga ke baqa

Jakarta, 11 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Tak selamanya kecewa berakhir nestapa.
Bahkan mungkin mereguk bahagia melebihi yang diminta.
Sabarlah menunggu waktunya tiba

Jakarta, 10 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Teringat masa lalu
Saat remaja, mulai belajar menulis
Mencoret meja atau dimana saja, tak beraturan
Membuat cerpen beberapa kata, tak dilanjutkan
Baru bisa begitu saja
Ah, lucunya....

Jakarta, 9 Desember 2019
Tati Kartini


EMIMA


Juni pun berlalu
Meninggalkan segenap pilu di hatiku
Teganya kamu menyakitiku

Jakarta, 30 Juni 2021
By : Tati Kartini


EMIMA

Januari yang dingin, sepi
Awali hariku sendiri
Mengeja kisah selama ini
Yang tiada arti
Selamat tinggal masa lalu
Bawalah cinta ini berlalu

Jakarta, 1 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Kala digdaya sebagai pujangga cinta
Kau lupa, aku perempuan yang kau sia-sia
Akhirnya kau terpenjara, mati tertikam puisimu sendiri.

Jakarta, 25 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA


Lima belas jum'at sudah
Kau pergi menghadapNya
Doa-doa dalam munajat kupanjatkan
Untuk mengobati kerinduan
Bahagialah disana, di dalam surgaNya
Al Fatihah ….

Jakarta, 9 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Ada rindu yang menggantung disukmaku
Terpatri hanya padamu
Nyalakan gelisah dan gundahku
Aku tak mampu menghapus bayangmu
Tulusmu adalah harmoni hatiku

Jakarta 7 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Tahukah kamu?
Sakit rasanya hati ini sayang …
Aku yang pergi, aku yang meratapi
Terasa berat sudut netra menahan
Butiran bening yang meleleh perlahan

Jakarta, 17 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA


Jangan ditanya seberapa sedihku
Sehancur apa aku tanpa dirimu
Aku tak mau, lama menunggu
Biarlah, ku ikhlaskan'mu
'Tuk berbahagia tanpa aku

Jakarta, 16 Januari 2020


EMIMA

Di benakku melihatmu, tertunduk berurai air mata
Sayang kau tak sendiri, aku pun menangisi perpisahan ini
Keputusan yang kuambil dengan berat hati
Maafkan aku kekasih

Jakarta, 16 Januari 2020


EMIMA

Cinta...
Rasa sayang ini berlebih
Aku tak mampu mengukur
Tanpamu hidupku hancur

Jakarta, 9 Februari 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Tidur nyenyaklah, kekasih
Dalam dekapan doa kerinduan
Bersama sebuah rasa yang menggantung di awan
Mencipta keindahan dalam rintik hujan
Tentang cinta dan air mata yang tertahan

Jakarta, 14 April 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Setelah sekian lama menggenggam derita
Memendam rasa kecewa karena cinta
Kini aku bangkit, membasuh sakit
Meninggalkan kenangan pahit yang paling menggigit
Melupakan segala dusta yang kau cipta
Biarlah ku berserah kepada Allah saja

Jakarta 14 Maret 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Jangan resahkan perpisahan dengan dunia Perasaan cinta yang kuat, merindu-Nya yang sangat
Akan mendinginkn panasnya neraka atas kuasa-Nya
Amin, InsyaAllah

Jakarta, 10 Mei 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Makna sebuah kata
Sulit menarik kembali kata yang terlontar
Bijaklah dalam bicara dan menuliskan kata
Agar tiada sesal di akhir usia

Jakarta, 10Mei 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Jangan biarkan hatimu menangisi urusan dunia
Ajari hati untuk meyakini urusan terpenting Adalah persiapan untuk akhiratmu

Jakarta, 10 Mei 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Malam Minggu fikiran buntu
Entah mengapa kenangan tentangmu kian membelenggu
Untuk apa mengingatmu?hanya menoreh sakit hatiku
Tidurlah saja banyak mimpi indah disana.
Bismika Allohumma ahya waamuut
Selamat tidur jiwa, lepaskan saja lara

Jakarta, 30 Januari 2022
By : Tati Kartini


EMIMA

Tiada kusangka aku dan kamu berjumpa kembali
Disini di tempat bicara hati ke hati
Begitu lama kita telah sama sama pergi
Tapi kekagumanku tak pernah mati
Tentang bagaimana syair katamu memuja Illahi Rabbi
Begitu indahnya menggetarkan hati

4 Januari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Kubiarkan saja bayangmu lenyap perlahan
Tak ingin lagi ku tahan
Bersama segenap pilu pun berlalu
Jangan lagi me.belenggu di hidupku
Kau tak lagi punya arti bagiku
Tanpamu lebih bahagia hidupku

Jakarta, 8 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Ada kisah pujangga gila cinta
Seperti buaya darat kerjanya menjerat
Bergaya pamer muka di dunia maya
Bermodal poto editan padahal wajah aslinya jerawatan
Memangsa wanita menjual agamanya
Untuk menutupi kebejatannya

Jakarta, 13 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Ibu, kenagan tentangmu menusuk jiwaku
Takan pernah kutemui lagi pengganti dirimu
Kerinduan membuncah, menyeruak
Rasanya ingin aku berteriak ...
Tapi suara telah serak, rasa pun mengerak
Tak kuasa beranjak dari kerinduan maha jarak ....

Jakarta, 13 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Sesekali kau termangu sebagaimana aku
Kita takkan lagi bertemu
Seberapa pun ingin ku ingin mu

Jakarta, 12 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Ketika rahsaku tiba
Menerima cinta ikhlas apa adanya
Di balut asa tersemoga kan
Teruslah bisikkan doa-doa
Memohon pengampunan dosa
Saat salah satu dari kita tiada

Jakarta, 14 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Tiba-tiba saja rasa ini datang mengingatkan
Sudah waktunya memikirkan tentang kehidupan mendatang
Sebagaimana yang di pesankan
Bila usia kita menginjak empat puluhan
Masih berkubang dalam kemaksiatan setan pun berujar
"Kasihan ..." seraya mengusap wajah kita

Jakarta, 11 Desember 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Lembut hadirmu menyentuh sukmaku
Sejuk terasa membelai jiwa
Walau tak jarang marahmu garang
Ya, kaulah sang bayu yang tunduk dalam perintah-Mu ....

Jakarta 2 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Ku lalui jalan penuh onak dan duri
Kudaki bukit terjal yang tinggi
Kureguk cinta kasih sejati, karunia Illahi Robbi
Tiada harapku kepada sesama manusia
Selain silaturahmi dan berbagi kebaikkan
"sebaik-baik umat adalah yang banyak memberikan manfaat."

Jakarta, 29 November 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ketika rahsaku tiba
Menerima cinta ikhlas apa adanya
Di balut asa tersemoga kan
Teruslah bisikkan doa-doa
Memohon pengampunan dosa
Saat salah satu dari kita tiada

Jakarta, 14 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Tiba-tiba saja rasa ini datang mengingatkan
Sudah waktunya memikirkan tentang kehidupan mendatang
Sebagaimana yang di pesankan
Bila usia kita menginjak empat puluhan
Masih berkubang dalam kemaksiatan setan pun berujar
"Kasihan ..." seraya mengusap wajah kita

Jakarta, 11 Desember 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Lembut hadirmu menyentuh sukmaku
Sejuk terasa membelai jiwa
Walau tak jarang marahmu garang
Ya, kaulah sang bayu yang tunduk dalam perintah-Mu ....

Jakarta 2 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA


Ku lalui jalan penuh onak dan duri
Kudaki bukit terjal yang tinggi
Kureguk cinta kasih sejati, karunia Illahi Robbi
Tiada harapku kepada sesama manusia
Selain silaturahmi dan berbagi kebaikkan
"sebaik-baik umat adalah yang banyak memberikan manfaat."

Jakarta, 29 November 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Cinta kasih ini menghunjam
Bersemayam di palung hati, untukmu buah hati
Walau kini kau pergi jauh takkan kembali
Cinta kasih suci tetap bersemi mewangi
Menghiasi hari dan ruang sunyi.
Abadi takkan terganti ....

Jakarta, 21 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Jeritan hati dalam rindu yang kian gigil
Kepadamu kekasih aku memanggil
Peluklah aku duhai ....
Tak mudah melupakan segenap belai
Darimu yang setiap saat membuatku terbuai
Kini tinggal ku sendiri, lunglai

Jakarta, 22 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Seandainya logika sejalan dengan rahsa. Pastilah takan pernah ada dilema.
Pada hati yang membenci.
Takkan pernah bisa melihat dan menerima kebaikan.
Seberapa banyak pun fakta membuktikan.
Lebih baik buta mata daripada buta hati.

Jakarta, 11 November 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Takkan pernah sendrian
Disaat semua orang meninggalkan
Ada Allah bersamaku selalu

Jakarta, 24 September
By Tati Kartini


EMIMA

Aku bersembunyi dari bilik rasa cinta
Cintaku dan cintamu
Biarkan cinta ini membeku
Tanpa akhir padu
Tak mungkin dua cinta menyatu di hatiku
Cintamu dan cintaku kepadaNya

Jakarta, 20 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ketika amarah membuncah
Seakan Rahwana bersemayam di dalam dada
Meluahkan rahsa kecewa
Berhamburan kata, jatuhlah marwah kita
Menyesal pun tiada guna
Hanya menambah luka jiwa

Jakarta, 12 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Keindahan ciptaan Tuhan yang sering terlupakan
Melebur segenap rasa yang terkadang singgah
Sesungguhnya begitu banyak kita menerima berkah
Dari berbagai ciptaan Allah yang Maha Indah
Maka bersyukurlah

Hutan Pinus, 8 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Kini kau menghilang
Takkan ku meradang
Adamu hanya mengukir bimbang
Membuatku tak tenang
Pergi lah sayang ….
Ketiadaanmu tetap kan ku kenang

Jakarta, 21 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Dada ini bergemuruh
Diatas sajadah aku bersimpuh
Air mataku jatuh, luruh
Membasuh hati, teduh
Membakar jiwa, tangguh

Jakarta 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Udara dingin seakan menggigit
Persendian, tulang-tulang bederik
Menahan gigil memekik
Oh, mentari pagi, hangati kami
Dengan dengan sinar cahaya keindahan
Sebagai amanah dari penguasa alam

Jakarta, 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ikuti saja alur jalan yang Allah tentukan
Jalani dengan penuh keikhlasan
Niscaya takkan ada penyesalan di kemudian
Allah maha mengetahui, kita tidak mengetahui

Jakarta, 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Wahai anakku ....
Jadilah pemuda sejati yang dicintai oleh Nabi.
Bukanlah yang berotot besi apalagi tukang selfi
Tapi pemuda yang anti maksiat.
Gemar membaca sholawat.
Dan tak pernah lupa mengerjakan sholat

Jakarta, 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Bintangku kian redup
Cahayamu tertutup kabut
Tamparan angin yang tiada lembut
Hingga kasihmu tercerabut
Selesaikan lah semua kemelut
Berharap hati pun kian lembut

Jakarta, 7Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA


Renyahnya ceria canda dan derai tawamu
Menggema di sisi ruang batinku
Kini semua tinggal kenangan
Setelah kau berlalu, meninggalkan
Aku yang hingga kini masih mengakrabi
Semua kisah indah tentang mu tetap abadi

Jakarta, 15 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ikutilah keinginan hatimu
Biarkan cinta kita teronggok kering dan layu
Hilang rasa cinta yang dulu semanis madu
Kau biarkan merana tersebab ulahmu
Yang asyik dengan dunia barumu
Dan kini mengabaikan perasaanku

Jakarta, 26 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Tak kupungkiri
Aku mencintaimu sepenuh hati
Mengakar mengurat nadi
Bayangmu menyatu bersama aliran darah ku
Menghentak disetiap hembusan nafasku
Serasa ingin segera terbang menggapai bintang hatiku

Jakarta, 21 Juni 2020
By Tati Kartini


EMIMA RELIGI

Duhai yang Maha Menggenggam Hatiku
Beri hamba waktu untuk memperbaiki hidupku
Hatiku ber jelaga menahan derita cinta yang dusta
Mengabaikan lambaian tanganMu, memanggilku
Pada sajadah yang terhampar indah
Membasuh segala noktah dan hatiku pun basah ....

Jakarta, 4 April 2021
By Tati Kartini


EMIMA BERANTAI

1. Negeriku tengah terpuruk
Tatanan aturannya nyaris
ambruk.

2. Berakibat sangat buruk
Kebijakan maen seruduk
Tak perduli rakyat ngamuk

3. Banyak huru hara antara kita
Rakyat diadu domba
Ketentraman terancam musnah

4. Kasian anak cucu kita
Bila kita hanya diam saja
Berbuatlah sesuatu demi bangsa
Walaupun harus dihujat dan di cela.

5. Cintai, hormati para pahlawan kita
Yang telah berjuang demi bangsa dan negara

6. Bahkan mengorbankan nyawa
Demi Indonesia merdeka

Jakarta, 10 Agustus
By Tati Kartini
Selamat Jelang Hari Kemerdekaa Kita



HAIKU adalah puisi singkat yang terdiri dari 17 suku kata. Ditulis dalam tiga baris dengan pola 5-7-5 suku kata, dan haruslah mengandung dua hal ini: Kigo, dan Kireji. Meski ditulis dalam 3 baris namun haiku pada prinsipnya terdiri dari 2 bagian yang disejajarkan. Bagian terpanjang disebut Frase (12 suku kata) dan bagian terpendeknya disebut fragmen (5 suku kata). Keterpotongan 17 suku kata suara itu menjadi dua bagian yang mana masing-masing bagian adalah membentuk satu gambar dinamakan sebagai “Fungsi Kireji”. Kireji dalam haiku Jepang berupa huruf-huruf tertentu, yang dalam tradisi sastra Jepang mengandung makna tersendiri.

HAIKU


Sesejuk embun
Cinta menyentuh hati
Di pagi hari



SENRYU, bentuk puisi Jepang yang mirip Haiku untuk bersenang-senang. Senryu memiliki struktur fisik yang sama dengan haiku yaitu terdiri dari tiga baris dengan jumlah mora tiap barisnya masing-masing 5-7-5 (go-shichi-go). Namun, isi suatu senryu lebih ringan dan bahkan bisa saja lawakan.

SENRYU

Di taman syurga
Damai hati di dunia
Majelis dzikir


SENRYU

Subur menghibur
Perempuan dambaan
Suami beriman


SENRYU

Seperti mawar
Indah di pandang mata
Berduri pula


SENRYU

Merenda hari
Yang kian sunyi sepi
Takan terganti


SENRYU

Hiasan langitNya
Berwarna cerah indah
Di pagi hari


SENRYU

keindahannya
Suasana pantainya
Saat liburan



GOGYOSHI adalah puisi lima baris atau kalimat dengan ketentuan sebagai berikut:Tiap puisi diberi judul Judul ditulis dalam huruf kapital Tiap judul puisi terdiri dari 5 baris atau 5 kalimat. Tiap kalimat diusahakan kalimat pendek dan padat, dimulai dengan huruf kapital. Di akhir kalimat bisa diberi tanda titik (.), boleh juga tidak.

Gogyoshi

BAYANG
Oleh : Tati

Bayang ….
Aku tak tahu siapa dirimu
Hadirmu membuat aku mengingat kembali luka lukaku
Kau takkan tahu bagaimana malam malamku
Aku berteriak kesakitan, tanpa seorangpun mendengarkan

Jakarta, 24 September 2021


Gogyoshi
ALAM INDAH
By : Tati Kartini


Lembut hembusan bayu, pada daun riak mendayu
Suasana pagi nan indah berhias sinar surya keemasan
Kupu-kupu terbang, bergurau berlarian
Mencumbu bunga ditaman
Duh indahnya alam, ciptaanMu Tuhan ….

Jakarta, 4 Desember 2019


Gogyoshi
By : Tati Kartini
MARAH


Ada perasaan marah di dalam dada
Kutahan sekuat aku bisa
Hampir saja, jadi bahan permainan
Olok-olok laku tabu
Darimu

Jakarta, 4 Desember 2019


Gogyoshi
LEMBARAN BARU
By : Tati Kartini


Hari ini tanpa kamu
Memulai lembaran hidup yang baru
Kuikhlaskan kau pergi
Meski hati tercabik perih
Merintih

Jakarta, 16 Desember 2019


Gogyoshy
Judul : MENANTI SENYUM
Karya : Tati Kartini


Terpapar kisah memelas
Terkapar diantara gedung-gedung megah
Dibawah terik mentari
Sesosok jiwa yang lemah
Menanti seulas senyum ramah

Jakarta, 16 Desember 2019


Gogyoshi
Judul : MEMAHAMI CINTA
Oleh : Tati Kartini


Menguar rasa, sebening kaca
Fahami cinta mulia
Bukan sekadar kata-kata
Abrak pada jiwa yang mencinta
Adalah dengan membuktikannya

Jakarta, 9 Desember 2019


Gogyoshi
SAAT NAFAS TERHEMPAS
By : Tati Kartini


Ku untai kalimat thoyibah,di setiap tarikan nafasku singgah
Pada seuntai tasbih yang berulang terus tiada putus
La Ilaha Illallah …
Berharap jadi kalimat terakhir pada nafas yang terhempas
Saat butiran tasbihku terlepas ….

Jakarta, 9 Desember 2019


Gogyoshi
PERCUMA
By : Tati Kartini


Sedang sendiri sunyi
kupandangi langit kamar sepi
Berhamburan berjuta kenangan resahkan hati
Membaca aksara tanpa makna
Percuma

Jakarta, 9 Desember 2019


Gogyoshi
Judul: KENANGAN
By : Tati Kartini


Dikala rindu ... .
Aku bisa memandang fotomu
Saat hati terjeda ambigu
Cerita cinta bisa berlalu
Tapi kenangan tak bisa menipu

Jakarta, 27 Desember 2019


Gogyoshi
GERHANA
By : Tati Kartini

Cahaya redup berpendar, memudar
Seisi alam bertasbih, memuji dalam sunyi
Rembulan menutup mentari atas perintah Illahi
Bukan sekedar peristiwa alam, tapi juga ibrah
Pelajaran ….

Jakarta, 26 Desember 2019
By : Tati Kartini


Gogyoshi
Judul : JODOHKU
Oleh : Tati Kartini


Aku lelah menantikan sang bayu
Berharap datang menyapa, membelaiku
Ucapan selamat tinggal adalah keterpaksaan
Agar hati mau mengerti
Jodohku bukan kamu

Jakarta, 23 Desember 2019


Gogyoshi
MENCINTAMU
By : Tati Kartini

Tak kuasa mengucap kata
Selain keindahan rasa mencinta
Dirimu separuh jiwaku
Di seluruh hela nafasku
Yang ada hanya kamu

jakarta, 3 Januari 2020


Gogyoshi
Judul : SALAH
Karya : Tati Kartini

Aku lelah memendam resah
Sebentuk rasa sejatinya indah
Lalu mengapa harus ku hempas?
Ada rasa bersalah, kaidah dalam syariah
Membuat hati goyah
Haruskah aku pasrah walau salah?

Jakarta, 10 Februari 2020


Gogyoshi
Engkau Matahariku
By : Tati Kartini


Binar mentari pagi
Kicau indah kenari
Terindah ....
Hanya sapamu penyejuk hati
Hiasi sanubari

Jakarta, 19 Februari 2020


Gogyoshi

PERASAAN
Karya Tati Kartini


Jadilah seperti batu karang
Siap menghadang gelombang yang datang
Tidak mudah memahami isi hati seseorang
Terkadang kita serasa meradang
Menahan perasaan, dada pun ber goncang

JKT, 09082020


Gogyoshi
DZIKRULLAH
By Tati Kartini


Bila hati merasakan kesunyian
Seakan menjauh dari hiruk pikuknya dunia
Nikmati lah ….
Tak ada keindahan melebihi keramaian lafaz dzikrullah
Itulah sebaik-baik keriuhan gemuruh hati

Jakarta, 6 September 2020


Gogyoshi
JANGAN TANYAKAN
By Tati Kartini


Diamku adalah saat terindah
Saat asyik masyuk memadu rasa bersamaNya
Jangan pernah kau tanya mengapa
Karena takan kau temukan jawaban
Selain dalam pencarian sendiri

Jakarta 7 Desember 2019


Gogyoshi
CINTA
By Tati Kartini


Bila dirasa dalam dada hanya ada gelora
Jangan katakan itu cinta
Begitu banyak yang mendefinisikannya
Meskipun berbeda-beda, cinta adalah cinta
Jangan ada dosa dan dusta.

Jakarta, 4 Oktober 2021


Puisi Empat larik
Judul : AKU CINTA KAMU
Karya: Tati Kartini


Berdesakan berjuta kata di kepala
Yang mampu kuucap hanyalah satu kata
"Aku mencintaimu." lirih....
Sangat lembut nyaris hilang suara, terbawa sepoi bayu melaju.

Jakarta 19 November 2019


Puisi Empat Larik
Oleh : Tati Kartini
SAYANG


Kususuri padang ilalang nan gersang
Terik mentari membakar hati
Menepis kata cinta dan sayang
Yang terpapar murahan ….

Jakarta 24 November 2019


Puisi Empat Larik
Judul : AMBIGU
Karya : Tati Kartini


Ku kenalimu seindah rona senja
Hitam, merah dan warna surya keemasan yang mulai tenggelam
Sepekat hati dalam kepolosan
Memeluk ambigu

Jakarta, 30 November 2019


Puisi Empat Larik
Judul : WASPADALAH
Karya : Tati Kartini


Berjalan membawa kotoran
Tempat lupa dan salahnya
Sanjungan hanya akan melenakan
Waspadalah ....

Jakarta, 30 November 2019


Puisi Empat Larik
CINTA DUSTA
Karya : Tati Kartini


Cinta yang indah tak 'kan sesederhana mengatakannya
Bukanlah cinta namanya bila tak berdasarkan syariatNya
Cinta di bibir saja, hanyalah permainan kata
Berhiaskan dusta.

Jakarta 3 Desember 2019


Puisi Empat larik
RINDU
Karya: Tati Kartini


Tidurlah kekasih, lena dan rebahkan rindumu
Sejuk kan sejenak, dalam mimpi temu
Lelahnya rindu yang membara, menikam jiwamu
Dan jiwaku.

Jakarta, 2 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : EMBUN LURUH
Karya : Tati Kartini

Airmata ku terjatuh
Diiringi nada isakan pilu
Seperti embun luruh
Dari pelukan dedaun lusuh

Jakarta, 15 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MENIKAM
Karya : Tati Kartini

Kususuri di setiap inci
Jalan kenangan bersamamu adalah keindahan.
Rasa yang tak akan terlupakan begitu saja
Walau di akhirnya kau menikam

Jakarts, 15 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MATI SURI
Karya : Tati Kartini


Berbaris luka di bilik hati
Tercipta lukisan sunyi
Tangis tawa pun kini tiada lagi
Mati suri

Jakarta, 14 Desember 2019.


Puisi Empat Larik
Judul : SURYA
Oleh. : Tati Kartini


Kali ini sang surya berwarna merah darah
Seakan luruh dari hati yang resah
Dari luka yang semakin parah
Bernanah

Jakarta 12 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MERINDUMU

Selalu saja ada sesak di dada ini
Kilau bening menggenang di sudut netra
Tak kuasa hatiku membayangkan kemuliaanmu
Yaa Rasulullah ….

Jakarta, 12 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : LELAH
By : Tati Kartini


Hari ini melelahkan ….
Kepala benar-benar pusing tujuh keliling.
Muter-muter bicara entah tentang apa
Yang terlihat hanya ketidak sempurnaan kita

Jakarta, 28 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MUMET
By : Tati Kartini


Seberat godam menghatam
Dari dada lanjut kepala
Menghunjam tak berkesudahan
Mumet gak karuan

Jakarta, 28 Desember 2019


Puisi Empat Larik
AKU BERSAMAMU
Oleh : Tati Kartini


Semua hari dan tanggal milikmu
Disetiap hela nafasku
jalan dan jalin tiada henti
Aku bersamamu selalu dan selamanya

Jakarta, 21 Januari 2020


Puisi Empat Larik
KAMU
By Tati Kartini


Pernah satu waktu kau undang hatiku
Menemani harihari sulitmu
Walau akhirnya kau lari saat kakimu mampu tegak berdiri
Meninggalkan aku sendiri ....

Jakarta, 19 Mei 2021


Puisi Empat Larik

MATI
Karya: Tati Kartini


Diamku bukan mati
Rinduku mencabik hati
Tapi sejak kau pergi
Aku seakan telah mati

Jakarta, 22 April 2021


Puisi Empat Larik
Oleh : Tati Kartini

Kamu yang hampir terlupakan
Terbang menjauh tersapu badai angin topan
Tinggal puing kenangan tersisa pada sebongkah hati
Yang enggan melupakan

Jakarta, 10 April 2020


Puisi Empat Larik
TENTANG MU
By Tati Kartini


Ingin kuhapus semua kenang tentang mu
Takkan kusisakan lagi di dalam ingatanku
Sepanjang yang kulalui di kehidupanku
Kaulah pria terburuk untukku

Jakarta, 13 Maret 2021


Puisi Empat Larik
Karya : Tati Kartini
Judul : KEPADA SENJA


Kepada senja aku ingin bercerita
Tentang rasa sakit yang tak tertahankan
Di indah ronamu ku merasakan keindahan
Bebanku seakan hilang bersama datangnya gelap malam

Jakarta, 26 Juli 2019


Puisi Empat Larik
Karya:Tati Kartini
Judul:SENDIRI


Langit pagi sendu membiru
Kembali tatap ini beku
Merasakan kehilangan teramat dalam
Kekasih tak jua datang berkirim salam

Jakarta, 18 Juli 2019


puisi empat larik
Oleh Tati Kartini

Aku ingin terbang sejauh angan
Meninggalkan bayang, kenangan
Menggapai bulan
Berselimut awan

Jakarta, 21 April 2020


Puisi Empat Larik
RINDU
By Tati Kartini


Ada saat rindumu membuncah, tumpah ruah
Terserak, menyesak, hingga terkulai lelah
Terkadang menghilang jauh meninggalkan
Membiarkan rasa terlarut dalam kepiluan

Jakarta, 19 Mei 2020


Puisi Empat Larik
PUSING
By Tati Kartini


Melihat setiap ulah, terkadang buatku lelah
Sebagaimana juga aku, kau taklah sempurna
Tak urung tingkahmu sering
Membuat kepalaku pusing tujuh keliling

Jakarta, 27 Mei 2020

TATI KARTINI


Minggu, 03 Oktober 2021

Cerpen - SEBENTAR SAJA Penulis : Visty Oktaviaa


   "Bang, kapan pulang?."

"Entahlah dik, Abang masih repot dengan kerjaan."

"Tapi Bang, kasihan ibu. Beliau sakit rindu Abang. Pulanglah bang, walau hanya sebentar saja. Tengok ibu."

"Maaf dik, Abang belum bisa pulang. Sudah ya, Abang mau lanjut kerja."

Panggilan telepon diputuskan sepihak, tanpa salam. Ahk, aku hanya mampu menghela napas kuat-kuat. Menatap sosok renta yang tertidur nyaman. Entah kenapa perasaanku sedikit gelisah. Ada rasa was-was melihat ibu yang biasanya uring-uringan, menyuruh aku untuk menelpon bang Jarwo hari ini lebih banyak diam dengan memandang luar jendela.

Sekitar pukul empat sore, kusiapkan ember berisi air hangat untuk membasuh badan ibu.

"Bu, bangun dulu yuk. Biar Nisa lap badan ibu, lalu makan dan minum obat."

Kusentuh tangan keriput itu, dingin. Deg, jantung berpacu lebih cepat. Gemetar dua jari tangan mendekat lubang hidung ibu. Tak terasa ada embusan napas. Refleks tubuhnya kudekap, tiada gerakan dada naik turun pun suara detak jantung.

Aku mundur tak percaya, ah mana mungkin secepat ini. Tuhan, hamba belum siap.

Tok tok tok

Aku menoleh kaget mendengar suara pintu diketuk orang. Berjalan sempoyongan menuju pintu lalu membukanya ...

"Surprise ... Abang pulang."

Senyum berkembang di bawah kumis melintang milik bang Jarwo.

"Abaaaaang ... Hu hu hu, ibu Bang, ibu ..." Seketika air mata luruh bersamaan jatuhnya tubuh dalam pelukan abangku satu-satunya.

"Kenapa ibu dik?. Maaf ya kalau Abang bikin marah karena gak pulang-pulang. Abang mau bikin surprise sekalian beliin mukena dan gamis untuk ibu. Jadi nunggu uang gaji Abang turun dulu baru beli tiket mudik. Tuh, Abang bawain oleh-oleh untuk kamu juga. Sudah ah nangisnya, nanti kangen-kangenannya. Abang mau ketemu ibu dulu, mau minta maaf baru bisa pulang." Bang Jarwo menepuk-nepuk pundakku lalu mendorong halus. Ia pun berjalan menuju kamar ibu.

Kubiarkan Abang memasuki kamar ibu, aku masih tergugu di depan pintu.

"Ibuuuuuu ...!"

Teriakan bang Jarwo memenuhi gendang telinga. Laju air mata pun tak terkendali, raga ambruk menimpa lantai.

Ah ibu, beban itu terlepas sudah. Derita penantian usai direnggut takdir. Sakit yang bersemayam telah pergi , Abang pulang ketika ibu berpulang. Andai Tuhan memberi waktu sebentar saja ...

*****TAMAT*****

Cerpen –
SEBENTAR SAJA
Penulis : Visty Oktaviaa
Palembang, 30 September 2021

Visty Oktaviaa

Rabu, 29 September 2021

SECANGKIR KOPI UNTUK NEGERIKU – Romy Sastra



secangkir kopi untuk negeriku
POLITIK HOMO HOMINI LUPUS
Romy Sastra


1500 tahun berlalu, Plautus yang pertama kali mengisyaratkan istilah homo homini lupus pada gejolak nafsu di diri manusia.

Hingga di abad 15-16 filsuf Inggris Thomas Hobbes mempepulerkan istilah Plautus homo homini lupus ke dalam konsep pemikirannya pada masa penyiksaan di penjara.
Mengecam kekejaman kolonialis di dunia pada waktu itu.

Mesin politik di negeri ini tak ubahnya seperti zaman kolonial, tapi kini sudah menjadi kolonial yang moderat, kolonialnya adalah anak bangsa sendiri. Pertikaian politik itu digarami seribu satu hoax. Ironis, manisnya segelas madu dari pemikiran pengamat atas nama kebenaran ditumpahkan di taplak meja, hanya jadi pepesan kosong belaka dan tokoh-tokoh bermuka dua itu benar-benar menjilat lantai meminta jatah delik membela hak, ternyata memancing sengketa. Perang dalil-dalil di muka kamera seperti punggawa berhati suci di mata raja mencari pujian padahal tercela. Ia adalah politik dari keegoan manusia, pelakunya putra-putri bangsa sendiri terhadap sesamanya. Ternyata tak sadar diri, langkah kemajuan negeri dijegal oleh proxy luar memancing war di ranah teknologi dan di dada generasi yang tak tahu diri. Sejatinya mereka adalah bersaudara, tapi kenapa tak memahami fitrah insani, tak mau bersatu menikam kawan sendiri. Untuk apa manusia itu diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini? Fitrah hatinya tertutup dungu, hingga melanggar tatanan yang ada dalam akidah. Di dadamu telah dituntun jalan menuju Tuhan, kenapa tak diyakini? Mereka kental beriman bak cerdik pandai tapi, kenyataannya fasik dengan warna duniawi.

Bertanya pada ulama, bagaimana umat kini ya, ulama? Umat seakan kehilangan arah tauhid. Sedangkan dada umat terkontaminasi virus kebodohan hingga menutupi nurani, sebagian umat dan ulama telah bertauhid pada dunia, karena dengan uang dunia itu indah dalam pikirannya. Ulama menyampaikan satu dalil dalam jawaban tapi tak berhikmah.

Wahai pemimpin politik, di otakmu banyak sekali serangga. Padahal kau berniat mendirikan istana dan takhtamu menjadi indah kau terlena. Tuan, akan dibawa ke mana arah politik ini? Kami seperti pion yang ditunggangi. Doktrinmu penipu dan semu, sangat gelap lajunya, tak 'ku mengerti ujung-ujungnya kami dikhianati, di belakang layar kau bernyanyi minta belas kasihan jabatan. Gak ditunaikan dendam abadi menjadi tirani. Kini skenario covid 19 tak kunjung usai, siapa yang benar dan culas di pementasan global ini? Tunggu sansai berikutnya akan membantai umat dan generasi di kancah armagedon.

Aahhh ....
Negeri ini di tengah pentas politik demokrasi, vigur-vigur yang mengatas-namakan kepentingan rakyat, kau bagaikan pahlawan di siang bolong. Setelah kau berjaya berjalan di jalur karpet merah, dan telah dimakan sumpah di atas ikrar kitab suci, hidup kami kau hinakan, dengan berbagai polemik dan delik bangsa kau keluhkan, ujung-ujungnya kau korupsi. Bung!! Negeri ini bangkrut sudah seringkali terjadi inflasi, kau saling tuding sambil berlari tinggalkan jejak di balik terali, kau cuma mengontrak terali tiga puluh hari, dan kau kembali ke pentas demokrasi berorasi seperti tak punya harga diri.

Wahai para pelaku politik, doktrinmu yang menjanjikan kemakmuran bangsa. Ternyata solusimu adalah hutang dan nambah hutang membuat para yang kepayang senang. Kau bak ksatria memimpin pertempuran di medan laga, setelah perjuangan itu kau menangkan dengan peluru-peluru dari kami di bilik demokrasi kau lupa rakyatmu. Ahh, pertarungan hitam dan putih jadi bedebah ....

Politik ibarat kuda berlari dengan joki-joki di tengah padang siang dan malam, menerobos kabut berpacu mengejar final kemenangan.
Politiknya seperti homo homini lupus menerkam kawan dan lawan, persahabatanmu tidak ada yang abadi, kesepakatanmu adalah semu, kau berjubah kamuflase menggenggam jalinan sesama kawan bersatu setujuan,
mengiringi negeri ini mencapai kemakmuran, nyatanya di tengah jalan, sayangnya kau menikam.

Di mana homo homini sociolity fitrah insani itu? Kau kebiri sendiri.
Sifat dan karakter berbangsamu seperti benalu, ilalang yang tumbuh kian membingungkan. Sebab seperti jerami, tak lagi bisa membedakan hak dan hoax, hipokrit diri dipertontonkan di pentas publik.
Di mana nurani?

Opera politikmu seperti bermain petak umpet di tengah padang, rumput-rumput di jalanan kau bawa bergoyang, kau pupuk dengan janji-janji harapan manis setelah bertakhta ia dilupakan begitu saja, lamis.
Rumput ilalang yang malang itu akhirnya ditinggal dalam kegersangan. Walau dimarjinalkan di tengah jalan, ia tetap bertahan hidup di lapangan.

Dunia dan negeri ini menunggu bellum omnium contra omnes, akan kau biarkan perang pecah bak bom waktu di tengah jalan.
Negeri ini luluh lantak tak karuan, kelompok-kelompok yang merasa dari pasukan langit berjubah kebesaran berdelik kebenaran berkicau di atas podium menebar ujaran kebencian, berujung radikalisme, berdalil jihad, padahal jahat. Jahat berkonfrontasi sesama jahat adalah keparat!!!

Kau libatkan rakyat (umat) untuk berkonfrontasi memusuhi saudaranya sendiri. Hingga perang saudara akan pecah nanti,
dengan sengaja kau ajak manusia ini membunuh sesamanya. Akibatnya, manusia itu akan berkepala serigala semuanya.

Sederhana bagiku, dengan secangkir kopi pahit pagiku. Untuk memadamkan istilah Plautus dan Thomas Hobbes itu. Kembalilah kepada fitrah dan sunnah! Bahwa, manusia adalah khalifah di muka bumi ini penyeimbang kehidupan estafet rahmatan lilalamin, dan hidup di dunia ini sementara, yang abadi di sana, amanahlah wahai yang diberikan amanah.

Ingat ...!
Bahwa kursi empuk di takhtamu adalah ranjau, janganlah silau.
Buka matamu, buka telingamu, singsingkan lengan dan kepal tanganmu itu! Lihatlah kehidupan mereka di pelosok-pelosok negeriku dan negerimu, mereka berjuang melawan kelaparan, ketidakadilan, pengangguran, harga-harga dipecundang. Bagaimana ia mengejar impian kedamaian di beranda senjanya yang ada Kematian perlahan-lahan.

Sedih kalau diceritakan mah,
gunakanlah hati nuranimu, lihatlah mereka di sana!
Apakah benar-benar ia sudah merdeka?!

Menunggu opera tahun politik berikutnya akan segera tiba?
Apakah Anda akan jadi penonton atau berdiam diri saja seperti pecundang tak lagi punya nyali ke kotak misteri masuk ke dalam ranah kebodohan (golput) ikut jadi pengamat di balik selimut?
Duhai, tuan?! Visi misimu berambisi kemakmuran, negeri ini yang katanya gemah ripah loh jinawi, hanya statemen basi. Kinerjamu ngawur seperti bermain catur,
kapan akur?

Jakarta, 020222



Secangkir kopi untuk negeriku
KETIKA MASA PULANG SEKOLAH AKU DAN IKAN KECIL ITU


Episode 1.

Nagari Kubang Bayang pesisir selatan
memanggilku pulang, masa lebaran kemaren yang telah berlalu.

Sungai itu,
tetesan sumber berbagai mata air dari gunung, riaknya aliran sungai dari hulu mengalir ke hilir berlabuh ke muara.
catatan harian, masa kecilku dulu
semasa pulang sekolah.
aku terjun ke sungai bersama kawan-kawan setiap hari selalu kami lakukan.
aku berenang di sekitar air tenang di tempat pemandian itu
air batang bayang membelah negeri-negeri kami sampai ke samudera.

Sungai itu saksi sejarah kehidupan dari rahmat yang maha kuasa
menitipkan pesan pada kearifan alam untuk peradaban.
demi lestarinya regenerasi kehidupan negeri-negeri kami
yang terus berlanjut hingga kiamat nanti.

Kenapa aku tulis cerita secangkir kopi
ku kirim ke persada maya?
testimoni cerita masa kecilku untuk membangunkan anak-anak negeriku pada masa kejayaan dulu.
negeri kami di limpahkan anugerah yang banyak dari sang pencipta alam ini.
salah satunya adalah ikan-ikan yang berenang bersamaku ketika aku mandi di siang hari.
segerombolan ikan berbondong-bondong mencubit kulitku, seakan-akan anak ikan itu mengajak bermain petak umpet riang gembira
menitip pesan pada cerianya ia ke rasaku, bagaimana melanjutkan masa depanya nanti biar ia tak punah.

Masa kecil itu
adalah masa terindah yang tak terlupakan hingga kini,
dulu aku berenang di suatu lubuk di sungai itu. ikan-ikan kecil hingga sedang menyambut kedatanganku, aku menyaksikannya dengan kacamata renang yang aku buat sendiri.
ikan-ikan itu seakan berbisik pada aksara mulutnya yang lucu, dengan berbahasa bathin di lorong bebatuan di dalam sungai ia menyapaku, haiii...sastra?
selamat siang ya, sudahkah kau pulang sekolah..?
aku menjawab dengan tatapan mesra,
ooohhh indahnya sayap-sayapmu berenang dan indahnya sirip yang berkilauan di badanmu wahai ikan.
o ya sas, ajari aku tentang makna cinta manusia terhadap kami di sungai ini biar kami tak punah nanti di kemudian hari, padahal aku di ciptakan untuk memenuhi konsumsi hidupmu sastra dan hajat hidup orang banyak. aahhhh,
aku hanya diam beribu bahasa bahwa sang maha jiwa menitipkan pesan pada kelestarian alam di negeri kami.

Seperti biasa ketika hari mulai senja, aku terbiasa memancing di tempat pemandian itu.
menunggu pancingku mulai menyapa,
aku sempatkan menatap kunang-kunang malam menerangiku,
dengan sebuah pancing bermata kail secuil umpan untukku larung ke dalam lubuk-lubuk ikan itu,
berharap ada rezekiku pada senja ini yang akan aku bawa pulang untukku masak di rumah.

Di keremangan malam,
aku duduk di bebatuan beberapa menit sambil menyambut sang rembulan menampakkan wajahnya di balik awan.
tak berapa lama, umpanku di sambar ikan, aku haru harap-harap cemas semoga aku bisa mendapatkan ikan ini.
ternyata ikan itu memang aku dapatkan, ia menggeliatkan tubuhnya seakan ingin melepaskan diri, padahal bisiknya tadi siang, ia telah rela tubuhnya di goreng untuk di makan, memang ia di ciptakan untuk sebuah kehidupan juga.

Dekade demi dekade itu telah berlalu
kemaren sore aku kesana di tempat kenangan masa kecilku dulu bermandian.
kawan-kawan kecilku dulu aku tanya satu persatu, kenapa rona sungai ini tak seindah dulu kawan, dan kemana ikan-ikan kecil sebagai sahabatku itu tak tampak lagi kini?
lantas dia menjawab dengan semangat, bahwa tepian mandi kita dulu ini sudah tergerus banjir bandang berkali-kali dan ikan yang berenang dulu bersamamu punah sudah oleh prilaku segelintir orang kampung menyentrum bahkan meracuninya juga.
dan ironis sekali, mereka adalah saudara-saudaramu juga. Ia adalah Jonal pendra salah satunya.
lantas aku kaget dan tertawa sejadi-jadinya hahahaha... karena geli,
yang aku maki ya saudaraku sendiri.
sayangnya kemaren aku pulang, dia tak sempat aku temui.
ingin aku melarangnya dengan bahasa indah, bahwa membunuh ikan tanpa melindungi anak-anaknya kembali adalah kenistaan yang sempurna.

Bertanya pada goresan maya di lembaran ini, menitip pesan kepada pak wali nagari pada kesan tirani yang tak mau di mengerti akan lestarinya sungai itu.

Dulu masa kejayaan periode kepemimpinan daerah, ada aturan menjaga kelestarian sungai kita secara bersama-sama.
bahkan rekomendasinya hingga ke badan hukum adat tentang konsekwensi prilaku anak negeri itu sendiri.

Kini, dengan secercah harap
tertitip doa dan salam kepada aparat setempat di negeri kubang dan bayang sekitarnya.
bangun kembali sistem perikanan di sungai itu biar icon kehidupan sungai tak habis di telan masa.

Kita semua berharap, kearifan dulu lestari kembali

Siapa,
dan mengapa sebegitu punahnya regenerasi ikan itu di negeri sendiri. Ahhhh.....

HR RoS
Jakarta, 23-07-2016, 19:27



Secangkir kopi untuk negeriku
MERCUSUAR RUMPUN BAMBU


Episode 2.

Milah, memilah kata tak biasa
bak sembilu melukai
santun bak dewi di puja dewa melahirkan mantera-mantera kewibawaan tiada tara.

Warna warni kehidupan
tumbuh subur merona bak pupuh aksara yang kokoh berdiri di seantero diksi kurangkai syair
menyentuh sanubari bagi yang mampu memahaminya.

Rona itu tumbuh laksana mercusuar di rumpun bambu
sama-sama berdiri berpacu hidup berkompentisi menjulang ke langit tinggi.
melambai seperti nyiur di pantai sayangnya tak bisa berteduh di kala hujan panas menyentuh tubuh.
bambu itu bermiang di bibir, ranting-ranting dan dedaunannya gemerisik
nadanya bersatu, mengalun kokoh di rangkul melukai
ia tumbuh subur di negeriku.

Alam terkembang jadi guru,

berburu ke padang datar
dapat rusa belang kaki
berguru kepalang ajar
bagaikan bunga kembang tak jadi.

pepatah melayu tempo dulu
mengukuhkan akan sesuatu
tentang pelita anak negeri
tak lagi menerangi,
tentang budaya telah di kebiri,
tentang jiwa yang telah terlena oleh sepoinya angin mamiri,
tentang rasa yang telah hambar untuk di nikmati,
tentang budi yang tercabar oleh ego sendiri,
tentang cinta religi telah beralih ke duniawi.
Ohh.... regenerasi itu,
sinarilah langkah-langkah tuan
kaji
di pondok-pondok senja dengan abjad hijaiyah memandu tuah
wahai regenerasi di surau-surau itu.

Generasi diatas kami,
di mana kau simpulkan mercusuar icon negeri
yang dulu tumbuh subur di corong-corong surau dan mesjid
kenapa dikau berkompetisi bak mercusuar tumbuh seperti di rumpun bambu tak menyinari.

Tumbuh tapi gersang menjulang tinggi
tanahnya tandus
seakan tuah tuntunan tuan kaji telah di khianati.

Ohhhh icon,
negeri ini kau titipkan seribu janji
seperti berorasi di pentas demokrasi
satu bendera pejuang kau kibarkan di puncak bukit
bahwa negeri ini telah merdeka maju dari wibawa tuah sang pemimpin
padahal selebrasimu tipu daya sesaat saja
seakan negeri ini tertitip putera yang tak bertalenta
berpacu mencari kehidupan di cela-cela kesempatan tak bermaruah.
oh negeri nasibmu kini,
berada di tangan-tangan penadah mencari kekayaan sesaat saja.

Bendera kemajuan kau koar-koarkan
seakan perlambang negeri ini telah maju melampaui negeri khayangan di bukit-bukit kurcaci.

Oh mercusuar itu
tumbuh di rumpun bambu
hidup melambai berisik tak memayungi
berkoloni bersama bayang-bayang pelangi
benalunya bergerombolan di dahan yang subur
seakan menyimpan onak rahasia malam bergentayangan
yang akan menerkam, menimbulkan ketakutan intimidasi di setiap generasi.

Megahnya bangunan religi
corong jantung negeri
telah kosong melompong
bak istana inca di bangun lalu di tinggalkan oleh peradaban zaman yang tergusur oleh kekuasan baru.

Pos hura-hura di kedai tua muda
ramai di isi sipenat dari kerja sehari-hari.

Mercusuar negeri ini,
seyogyanya ada di tengah jantung kampung yaitu negeri yang beriman bertauhid.
sebagai pengontrol dalam religi
sosial budaya dan akidah
biar tak melenceng jauh dari nilai-nilai sunah.

Damainya sebuah negeri ada di doa-doa para tetua yang hampir punah
di paguron-paguron santri kiyai.

Ingat,
dunia ini berumur panjang
berkat jamaah-jamaah tua muda yang bersujud siang dan malam
pagi dan petang memanjatkan doa pada kearibaan tuhan,
berterima kasihlah kepadanya
karena dia usia dunia ini panjang.

HR RoS
Jakarta, 24-07-2016. 13:44



Secangkir Kopi Untuk Negeriku
POLITIK HOMO HOMINI LUPUS


episode 3,

1500 tahun telah berlalu Plautus yang pertama kali mengisyaratkan istilah homo homini lupus pada gejolak nafsu di diri manusia kala itu.

Hingga di abad 15-16 filsuf inggris thomas hobbes mempepulerkan istilah plautus homo homini lupus itu ke dalam konsep pemikirannya dari masa penyiksaan di penjara,
mengecam ke kejaman kolonialis di dunia pada waktu itu.

Mesin potret kehidupan berpolitik di negeriku tak ubahnya seperti zaman kolonial tapi sudah kolonial yang moderat,
kolonialnya adalah anak bangsa itu sendiri.

Ia adalah politik dari ke egoan manusia, pelakunya putera-putera bangsa sendiri terhadap sesamanya.
sejatinya ia tak memahami fitrah insani untuk apa manusia itu di ciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini, fitrah hatinya tertutup dungu.
hingga melanggar tatanan yang ada dalam akidah di dadamu telah menuntun jalan itu pada tuhanmu
mereka kental beriman cerdik pandai tapi kenyataannya fasik dengan dunia.

Bertanya kepada ulama, bagaimana umat kini ya ulama?
seakan kehilangan arah tauhid telah bertauhid pada dunia, karena dengan uang dunia itu indah menurut hatinya.
wahai pemimpin di tahtamu kau terlena,
akan kemana arah politik ini, kami engkau bawa.
doktrinmu semu dan sangat gelap lajunya tak ku mengerti ujung-ujungnya kami di khianati.

Aahhh
Negeri kami di tengah pentas politik demokrasi, vigur-vigur yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, kau bagaikan pahlawan di siang bolong, setelah kau berkuasa hidup kami kau hinakan, dengan berbagai polemik dan delik bangsa kau keluhkan.
wahai pemimpin politik,
doktrinmu yang menjanjikan kemakmuran bangsa.
kau bak ksatria memimpin pertempuran di medan perang
setelah perjuangan itu kau menangkan dengan peluru-peluru kami di bilik demokrasi kau lupa rakyatmu, Ahhh bedebahh..

Politik itu ibarat kuda berlari dengan joki-joki di tengah padang siang dan malam menerobos kabut berpacu mengejar final kemenangan.
politiknya seperti homo homini lupus menerkam kawan dan lawan persahabatanmu tidak ada yang abadi.
kesepakatannya adalah semu
berjubah kamuflase menggenggam jalinan sesama kawan bersatu setujuan.
mengiringi negeri ini mencapai kemakmuran, nyatanya di ujung jalan ia menikam.

Dimana homo homini sociolity fitrah insani itu?
kau kebiri sendiri.
sifat dan karakter berbangsamu semu membingungkan, hipokrit di pertontonkan di pentas publik.

Opera politikmu seperti bermain petak umpet di tengah padang,
rumput-rumput di jalanan kau bawa bergoyang, kau pupuk dengan janji-janji harapan setelah kau bertahta ia di lupakan,
rumput ilalang yang malang itu hingga di tinggal dalam kegersangan.
walau di marjinalkan di tengah jalan ia tetap bertahan hidup di lapangan.

Dunia ini dan negeriku
menunggu bellum omnium contra omnes,
kan kau biarkan perang pecah bak bom waktu di tengah jalan.

Kau libatkan rakyat
untuk berkonfrontasi memusuhi
saudaranya sendiri?
hingga perang saudara akan pecah nanti.
dengan sengaja kau ajak manusia ini membunuh sesamanya,
hingga manusia itu akan berkepala serigala semuanya.

Sederhana bagiku, dengan secangkir kopi pahit pagiku
untuk memadamkan istilah Plautus dan Thomas Hobbes itu.
kembalilah kepada fitrah dan sunah
bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi ini. sebaliknya hidup di dunia ini sementara yang abadi disana, amanahlah wahai penguasa.

Ingat ...!
Bahwa kursi empuk di takhtamu adalah ranjau, janganlah silau.
Buka matamu, buka telingamu, singsingkan lengan dan kepal tanganmu itu! Lihatlah kehidupan mereka di pelosok-pelosok negeriku dan negerimu, mereka berjuang melawan kelaparan, ketidakadilan, harga-harga dipecundang. Bagaimana ia mengejar impian kedamaian di beranda senjanya yang ada Kematian perlahan-lahan.

Sedih kalau diceritakan mah,
gunakanlah hati nuranimu, lihatlah mereka di sana!
Apakah benar-benar ia sudah merdeka?!

Menunggu opera tahun politik sudah tiba?
Apakah Anda akan jadi penonton atau berdiam diri saja seperti pecundang tak lagi punya nyali ke kotak misteri masuk ke dalam ranah kebodohan (golput) ikut jadi pengamat di balik selimut?

Duhai, tuan?! Visi misimu berambisi kemakmuran, negeri ini yang katanya gemah ripah loh jinawi, hanya statemen basi. Kinerjamu ngawur seperti bermain catur,
kapan akur?

Jakarta, 020219




ESAI Adalah Karangan Prosa Yang Membahas Suatu Masalah Secara Sepintas Lalu Dari Sudut Pandang Pribadi Penulisnya.Di Dalam Esai Berisi Tentang Opini, Pandangan Atau Ekspresi Pribadi Dari Penulis Mengenai Sebuah Hal Yang Sedang Terjadi Atau Berlangsung Di Masyarakat

Belajar Esai
MENYIMAK KARYA RELIGI AKAK PELANGI SENJA DARI SELANGOR MALAYSIA
Oleh Romy Sastra


Ini puisi membuka cakrawala pikirku, tuk meesaikan sebuah karya sahabat merangkap kakak. Tanpa ia sadari atau tidak, puisi ini mengandung filosofi hakikat yang sangat bermakna sekali pada isyarat batin yang tersirat di diri ini.

Puisi yang tak bertajuk huruf melainkan tajuknya aksara tanda titik-titik menandakan kosong tapi berisi menuai pikir dalam renungan pada titik-titik yang mesti dipahami bagi yang mencari destinasi titik itu.
Ini sebuah bentuk perjalanan imaji si aku penulis menyauk tirta di telaga batin memandu bilik-bilik diri.
Sangat sulit menterjemahkan sebuah syair yang tersirat meski ia tersurat, jika si pembaca tak memahami isi daripada kosong, melainkan insan-insan yang sudah menempuh perjalanan batin yang sudah ia temui isi di dalam kosong itu sendiri.

Mari kita menyimak puisi ini:

.....

bernafas dalam tubuh tak berjasad
bergerak bagai jisim yang bernyawa
bercahaya dalam terang meski gelap
berbara tanpa api yang terbakar
entah..
kukutip kau dari mana
hidup dalam denyut tanpa nadi
bacalah aku tanpa noktah
kerana aku ada di mana jua

Pelangi Senja, 21.08.17
Selangor

Pada larik pertama si Aku bermadah:
-bernafas dalam tubuh tak berjasad.
Ia mengajak kita merenungi sesuatu yang batin di dalam diri ini, sebab nafs itu batin. Terasa lajunya keluar masuk pada rongga dan hidung. Ia sebuah ibadah iman diri puji memuji hakiki dari detak jantung dan nadi, Ya Hu, Ya Hu, Ya Hu / Allah Allah Allah. Dan ini dinamakan solat jati pada tingkat ibadah tarikh batin, bukan pekerjaan jasad lahiriyah.

Dan menyimak di larik kedua:
-bergerak bagi jisim yang bernyawa.
Dari tarikh gerak nafs itu mengajak jisim, dalam makna tubuh atau jasad memuji bersama lahir dan batin, maka jisim bernyawa.

Di larik ketiga:
-bercahaya dalam terang meski gelap.
Ia menuntun jiwa berselancar mencari cahaya sejati, cahaya sejati itu adalah nur dalam diri. IA sangat nyata adanya dan IA awas tak tersaksi oleh rasa tak tersentuh oleh rasa itu di dalam gelap, yang ada pekat tapi IA lebih dekat dari pekatnya gelap itu.

Larik keempat:
-berbara tanpa api yang terbakar.
Ia menyiratkan empat nafsu di dalam diri. Mutmainah, lawamah, sufiah dan amarah.
Empat nafsu bagian dari api jisim membakari panas setengah panas sedang dan sejuk. Jangan hidupkan amarah biar gak terbakar. Sebab bara itu hanya bisa dipadamkan dengan sabar istighfar,

Pada kalimat larik kelima:
-entah.
Ia si Aku terpana bukan dungu pada lajunya pikir di dalam diri. Melainkan betapa megahnya sang Maha di dalam jiwanya.

Di larik keenam:
-kukutip kau dari mana.
Si Aku semakin heran dengan penomena yang terjadi pada puji batin, ia datang tiba-tiba bersamaan, kemilau manik-manik jiwa membuncah ke seantero arasy jiwanya, tertegun si Aku indahnya megah.

Di larik ketujuh:
-hidup dalam denyut tanpa nadi.
Sungguh si Aku semakin terharu, terpukau pada mati di dalam hidup. Sebab, si Aku yang mengenali hakiki tak lagi berpijak pada nadi dan detak jantung memuji. Ia si Aku telah bermusyahadah kepada sejati, bersaksi. Sesungguhnya yang hidup itu adalah Dzat laisa kamiselihi.

Larik kedelapan:
bacalah aku tanpa noktah kerana.
Pada Dzat laisa kamiselihi syaiun mengajak semua ciptaanNya tuk memuji mengenali khaliknya, tanpa ada alasan makhluk merasa takut pada Maha Pencipta yang Maha lembut. Tercipta karena sebab melahirkan akibat / kausalis terjadi karena kehendak tak ada yang sia-sia ia diciptakan.

Pada larik terakhir:
-aku ada di mana jua.
Ilahi, Ar-Rabbani menyatakan pada segala ciptaanNya. IA khalik tidak jauh dari makhluk dan dari segala yang ada. Sedangkan leher dengan urat leher masih ada jaraknya, IA Allah manunggal menyatu kepada segala yang ada. IA berada di mana-mana, bukan bermaksud IA banyak. Akan tetapi IA Dzat Awas menyelimuti segala yang ada dan tiada sekalipun. IA Allah Akbar, Allah maha besar.

HR RoS
Jakarta, 24/08/2017



Esai Pendek
MARI KE PESISIR SELATAN
Romy Sastra


Pesisir Selatan adalah salah satu Kabupaten di Sumatera Barat, beribukota Painan.
Sejarah mencatat, bahwa Pesisir Selatan daerah segudang cerita, ada sejarah dan objek wisata, serta memiliki sistem adat matrilineal yang dianut secara budaya dan sosial di masyarakat Minangkabau pada umumnya.
Sistem adat matrilinear itu adalah suatu aturan adat yang mengatur alur menurut keturunan pada Ibu.

Ada sebuah pulau kecil di seberang kota Painan, nama pulau itu Pulau Cingkuak. Untuk menempuh Pulau Cingkuak itu kita harus melewati objek wisata Pantai Carocok.
Banyak masyarakat umum tidak paham akan sejarah Pulau Cingkuak. Masyarakat yang belum pernah ke Pulau Cingkuak itu, mengira Cingkuak itu semacam binatang kera berwarna abu-abu berekor panjang dan bersanggul di kepalanya. Padahal nama Cingkuak itu berasal dari salah seorang nama kolonial Bangsa Portugis Poeloe Tjinko. Karena lidahnya orang Minang menyebut poeloe tjinko terlalu sulit. Maka, lidahnya lebih nyaman menyebutnya jadi Pulau Cingkuak.

Pulau itu pernah kami ramaikan dengan kesenian dan sastra dalam rangka parade baca puisi, dihadiri oleh rekan-rekan penggiat sastra dari berbagai kabupaten di Sumatera Barat, di bulan Oktober tahun 2017 yang lalu.

"Yuk, kita berwisata ke Pesisir Selatan provinsi Sumatera Barat."
Ada banyak objek wisata di Pesisir Selatan, yang tak kalah dibandingkan sama objek wisata di berbagai objek wisata di Indonesia ini.
Salah satunya adalah objek wisata Jembatan Akar, serta Pantai Mandeh.
Jembatan Akar dibangun oleh sesepuh Bayang Utara bernama Angku Pakiah Sokan, pada tahun 1890 oleh urat atau akar Batang pohon beringin dan akar pohon kubang, dengan cara dijalin memilih kedua akar-akar pohon itu bersama masyarakat setempat. Konon, Angku Pakiah Sokan itu memiliki ilmu yang tinggi. Dan akar jembatan itu tumbuh kuat mengikat, bisa dilalui pertama kali pada tahun 1916 untuk keperluan masyarakat setempat kala banjir dari hulu sungai Batangi Bayang, ke hilir menuju muara pantai Pasar Baru kecamatan Bayang.
Dan juga objek Pantai Mandeh yang menawan seperti perawan bersolek senja hari disorot sunset. Pantai Mandeh ini dijuluki Raja Ampatnya Sumatera. Serta banyak lagi pesona zamrud alam Minangkabau tepatnya di Pesisir Selatan. Selain kuliner dan masakan Minang yang wahh ....

HR RoS
Jakarta, 031117



Esai
MENUMBUHKAN SEMANGAT LITERASI PESISIR SELATAN
Bersinergilah Pemerintah Daerah dan Komunitas ( independen )
Oleh Romy Sastra


Pesisir Selatan, Sumatra Barat berbenah dari segala aspek pembangunan mengejar ketertinggalan dari daerah Kabupaten / Kotamadya di Sumatra Barat pada umumnya.
Salah satunya adalah di bidang literasi sastra, baik itu melalui dinas pemerintahan daerah yang digalakkan melalui sekolah-sekolah di nagari-nagari yang ada di berbagai Kecamatan Pesisir Selatan. Mencoba berbagai inovasi literasi dengan sistem membuka kantin-kantin bacaan seperti perpustakaan di berbagai komunitas / kelompok generasi yang kreatif di daerahnya. Pusat kantin literasi sudah dibangun di kota Painan dan diresmikan oleh Bupati Hendrajoni.

Apa itu literasi?
Literasi adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk berkomunikasi, berbicara, membaca, menyimak dan menulis serta berkarya.
Fungsi kantin literasi adalah membangun generasi dan masyarakat melek aksara tulis baca dan berkarya di bidang sastra dan lainnya untuk membangun intelektual dan mental putra putri daerah di berbagai perkembangan zaman di bidang literasi.

Rendahnya literasi di Pesisir Selatan disebabkan oleh masyarakat yang kurang sadar akan manfaatnya. Lebih dari itu, beberapa orang bahkan masih belum mengerti makna literasi.

Apa itu literasi?
Literasi adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk berkomunikasi, berbicara, membaca, menyimak dan menulis
Beberapa lembaga survei menyatakan fakta tentang rendahnya budaya literasi di Indonesia. Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Pada penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Data Unesco menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001%—artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Hasil survei tersebut cukup memprihatinkan.

Orang Indonesia memang lebih terbiasa mendengar dan berbicara daripada berliterasi. Coba lihat saja, berapa waktu yang rata-rata orang habiskan untuk menonton televisi per hari? Berapa waktu yang digunakan untuk mengobrol. Bandingkan dengan sedikitnya waktu yang disisihkan untuk membaca dan menulis.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya budaya literasi tersebut, antara lain:

1. Kebiasaan membaca tidak dimulai dari diri sendiri
2. Perkembangan teknologi yang semakin canggih
3. Sarana membaca yang minim
4. Kurang dimotivasi tidak saling mendukung
5. Sikap malas untuk mengembangkan gagasan
2.
Di era teknologi yang semakin canggih ini, kita bisa memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Washp, Telegram, Twitter, Youtube, Instagram sebagai jembatan komunikasi dari dunia maya ke dunia nyata
Dari berbagai banyaknya komunitas-komunitas yang tumbuh di Pesisir Selatan dalam era digital ini. Mari bersinergi dinas Arsip dan dinas pemerintah lainnya di daerah mendukung talenta-talenta putra putri daerah yang mulai berkembang di Pesisir Selatan. Salah satunya kami dari Grup Sastra Bumi Mandeh di ranah Facebook sudah dua kali mengadakan diskusi literasi sastra dari Ibukota Jakarta tahun 2017 yang lalu, tim panitia kami mencoba bersinergi minta dukungan untuk mengadakan perhelatan sastra di Painan tepatnya pulau Cingkuak tak dapat respon dari setiap undangan yang kami undang tak satu pun yang hadir dinas yang diundang, hingga temu diskusi sastra di SDN 08 Painan tahun 2018. Selesai tim dari Dapur Sastra Jakarta DSJ menghadiri Temu Penyair Asia Tenggara di Padang Panjang. Dihadiri oleh Riri Satria sebagai ketua rombongan sekaligus pembina Sastra Bumi Mandeh SBM, serta Remmy Novaris dkk dari Jakarta. Rombongan menyambangi Pesisir Selatan dalam temu diskusi sastra ke acara tersebut. Hanya yang hadir dalam undangan SBM adalah kepala dinas pariwisata saja dan beberapa guru serta perwakilan. Harapan kami dari Grup SBM dalam visi misi ke depannya, membangun literasi di dunia digital Facebook yang sedang berjalan dua tahun ini. Mencoba selalu merealisasikan kegiatan grup SBM ke daerah, mari dinas arsip dan perpustakaan pemerintah daerah yang terkait di bidang literasi kita bersinergi, meski kami tahu pemerintah daerah sudah mempunyai agenda sendiri pada program literasi di daerah.

Agenda tahunan grup Facebook Sastra Bumi Mandeh (SBM) melakukan inovasi gerakan independen mengadakan lomba / event penulisan puisi bagi penulis pemula merangsang putra putri daerah berkarya. Dalam ajang event tersebut panitia menawarkan hadiah berupa wisata sastra ke Ubud Bali. Putra-putri Pesisir Selatan yang memiliki talenta semangat menulis untuk yang pemula dan yang senior tergabung di grup Sastra Bumi Mandeh SBM, mempunyai buku antologi karya tunggal berupa puisi, cerpen dan novel serta karya lainnya. Mendapatkan hadiah berupa tiket pp dan akomodasi selama di Bali untuk mengikuti Ubud Writers and Readers Festival, biaya transportasi akomodasi konsumsi dan penginapan ditanggung penuh oleh pengurus grup

Satu catatan:
ketika putra putri daerah memiliki kemauan berorganisasi berorientasi pada jalan kemajuan dan perkembangan daerah memartabatkan daerah tersebut lewat literasi sastra di tangan putra putri daerahnya, maka dukunglah!
Semoga semangat kita semua, kita bisa mengadakan Hari Puisi Indonesia HPI di daerah Kabupaten Pesisir Selatan ke depannya. Demi terangkatnya maruah daerah Pesisir Selatan itu sendiri.

Jakarta, 13 Agustus 2018



Esai Karya YS Sunaryo
MENYEMAI KATA MENJADI SASTRA PADA PUISI “MONAS MIKROFON RAKYAT”
oleh Romy Sastra


YS Sunaryo adalah sosok penulis yang kreative dan produktif melahirkan karya-karya menggugah tanya bagi para pembaca puisi-puisinya.
Ia seorang sastrawan berpendidikan, bertalenta di bidang sastra. Memiliki dedikasi tinggi dalam perjalanan kesusasteraan Indonesia di sosial media saat ini, hingga di kehidupan sehari-hari sebagai pengajar serta pendidik dan religius.

Ia aktif di berbagai antologi puisi tunggal serta antologi bersama, dan menjalin kekerabatan kepada para penyair antar negara.

YS Sunaryo sahabat rendah hati berprestasi di berbagai event grup puisi. Ia selalu dapat penghargaan sebagai juara, menandakan karya-karyanya bernas serta memiliki kualitas tata kata yang baik menurut EYD dan PUEBI.

Puisi-puisi YS Sunaryo bukan hanya mainan imaji semata, melainkan sebuah perenungan batin yang dalam, serta memiliki insting yang Allah anugerahi Ilham ke khayalannya. Sinergi pada kisah dan kenyataan ia tulis seketika.

Ia menyimak perkembangan zaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
Betapa ironisnya ketidakadilan suatu aturan yang diterapkan oleh pemerintah pada sekelompok rakyat yang melanda keresahan sekelompok rakyat itu sendiri dalam berdemokrasi.

Puisi YS Sunaryo di bawah ini mensatire oligarki

MONAS MIKROFON RAKYAT
Karya YS Sunaryo


Monumen Nasional gagah perkasa
Monas namanya tak lekang panas
Emas di pucuk membungkus segala cemas
Indonesia jaya terpancang hingga ke angkasa

Berjuta-juta putih di sini merapal doa
Membela agama untuk kehormatan manusia
Berjuta-juta pula warna warni silih berganti
Awasi kuasa agar tak hunuskan besi tirani

Di kaki Monas berlindung bangsa berharga diri
Tiang rakyat, pilar pengobar semangat
Jangan kau sembunyi sendiri lalu mengoligarki
Didih air mata jelata tak akan tersumbat

Kepadamu aku mengangkat hormat
Kau mikrofon suara-suara anak bangsa agar tegak bermartabat

Bandung, 14 Desember 2017

Pada judul puisi di atas mengisyaratkan, bahwa Monas adalah tempat umum bukan sekadar tempat rekreasi dan ikon ibukota dan tugu Nasional semata. Ia Monas adalah wadah demokrasi di mata anak-anak bangsa menyuarakan aspirasinya dari ketidakadilan pada suatu kelompok atau pemerintah.

Dalam bait pertama, YS Sunaryo menyampaikan rasa bangga pada tugu Monas berhias emas berdiri teguh ke angkasa
Ia makna dari kekayaan Indonesia menjadi mercusuar Nusantara mengabarkan pada dunia
Bahwa di tugu itu maruah bangsa Indonesia ini kaya tak lemah mampu berdiri di kaki sendiri.

Pada bait kedua, si aku karya ikut lirih pada perkembangan gejolak politik beraksi di jantung ibukota selama ini. Pada kejadian orasi demokrasi umat meminta keadilan hukum dari kekisruhan ketidakadilan pada pemerintah. Bahwa satu kelompok atau individu meresahkan keharmonisan antar sesama.
Silih berganti organisasi mendatangi tugu itu sebagai ajang demokrasi menyuarakan pendapat pada hukum yang adil, menghunus pedang doa ke hadirat yang Maha Kuasa. Bahwa doa yang dizalimi tajam, setajam kilat menyambar Rahwana.

Lanjut ke bait ketiga, si empu karya semakin mensatire sekelompok yang merasa bertangan besi, menginjak-injak rumput hijau tak berkuasa menjangkau. Angkuhnya oligarki, merasa di tangannya kekuasaan sesaat.
Bahwa negeri ini, bukanlah negeri oligarki tuan.
Berkuasanya sekelompok elit tidak mengayomi seluruh lapisan kehidupan anak bangsa.

Dan di bait terakhir ending puisi si empu karya.
Mari tegakkan hukum seadil-adilnya, biar kami rakyat menghormati jalannya roda pemerintahan itu.
Hingga negeri ini bermartabat tegap seperti tugu Monas, yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk dengan hujan.
Monas adalah sejarah berdarah pada suara-suara yang sumbang terhadap pemerintah.
Monas idealnya adalah wadah mikrofon anak-anak bangsa berdemokrasi jangan haknya dikebiri.

HR RoS
Jakarta, 130118



MONOLOG adalah suatu percakapan yang dilakukan oleh satu orang atau tokoh tunggal dengan dirinya sendiri.

Monolog
CINTA SAHABAT MAYA

Sayapku terbang sore ini,
menemani sahabat maya
semangat hati yang tumbuh kepada sesama
melahirkan lentera gita cinta.
cinta yang terbangun,
janganlah sampai terluka.

Seiring kasih yang tumbuh
janganlah salah memahami arti
kasihku disini, untuk berbagi
tidak menciptakan lara hati.
hati yang lara,
karena tak pandai memahami arti mimpi.

Rinduku menyirami sahabat maya
yang disana, berwajah seribu.
aku melontarkan segugus cinta, kepada sesama tak pernah jemu.
semoga sahabat mayaku,
tak merasa,
kalau rinduku ratapan palsu.

uhhhh...
Satu kisah telah terlewati,
setahun sudah, artikanlah...!!
wahai sang pengamat para pujangga?
tintaku menari melukiskan gerimis
geirimis hati sore ini
semoga gersang tandus dalam lara
berlalulah.!!!
aku mencumbu dengan balut puisi,
merangkai satu cerita kontra
semoga kau dan aku bisa tertawa.
huahahahaaa....

Disini...
aku mencumbu rindu
menyapa sahabat maya,
menghampiri dengan senyum mesra.
aku jatuh cinta denganmu
melalui bayangan rasa tinta
dengan syair puisi ini
aku bernyanyi,
untuk sahabatku yang disana
dimanapun dikau berada.

Cintaku yang terpendam sunyi
kepada sahabat sahabat hati
aku melukis indah dalam syair,
dengan monolog cinta sahabat maya.
sebagai ukiran seni hati
menghias hidup menjelang senja ini..

Aku Kau dan Dia serta mereka disana.. berbahagialah.

HR RoS.



Monolog
CINTA SAHABAT MAYA

Sayapku terbang sore ini,
menemani sahabat maya
semangat hati yang tumbuh kepada sesama
melahirkan lentera gita cinta.
cinta yang terbangun,
janganlah sampai terluka.

Seiring kasih yang tumbuh
janganlah salah memahami arti
kasihku disini, untuk berbagi
tidak menciptakan lara hati.
hati yang lara,
karena tak pandai memahami arti mimpi.

Rinduku menyirami sahabat maya
yang disana, berwajah seribu.
aku melontarkan segugus cinta, kepada sesama tak pernah jemu.
semoga sahabat mayaku,
tak merasa,
kalau rinduku ratapan palsu.

uhhhh...
Satu kisah telah terlewati,
setahun sudah, artikanlah...!!
wahai sang pengamat para pujangga?
tintaku menari melukiskan gerimis
geirimis hati sore ini
semoga gersang tandus dalam lara
berlalulah.!!!
aku mencumbu dengan balut puisi,
merangkai satu cerita kontra
semoga kau dan aku bisa tertawa.
huahahahaaa....

Disini...
aku mencumbu rindu
menyapa sahabat maya,
menghampiri dengan senyum mesra.
aku jatuh cinta denganmu
melalui bayangan rasa tinta
dengan syair puisi ini
aku bernyanyi,
untuk sahabatku yang disana
dimanapun dikau berada.

Cintaku yang terpendam sunyi
kepada sahabat sahabat hati
aku melukis indah dalam syair,
dengan monolog cinta sahabat maya.
sebagai ukiran seni hati
menghias hidup menjelang senja ini..

Aku Kau dan Dia serta mereka disana.. berbahagialah.

HR RoS.



monolog
BERGURU PADA SEMUT
Romy Sastra


bisu bukan tak bersuara, bahasa mengeja kata
tarian jemari gemulai melahirkan makna
dan aku tak bisu membaca perihal cinta di dalam lirik, berkomat-kamit menyapa
adakah wajahku tersenyum atau terpana?
mestinya jiwaku memahami bahasa batin!

berguru pada semut-semut kecil beriring jalan, saling berkenalan
ia mencium aroma cinta tak tersisih di garis kesetiaan, melainkan menyisihkan dendam

duhai, diri....
jangan kotori kewibawaan insani
malulah pada budi yang bersemayam di hati jiwa ini menyemai plamboyan
biarkan bunga-bunga cinta bermekaran di taman
bibit kesahajaan jubah keimanan

usah bertengkar diri!
pelita 'kan padam rupa menghitam
jangan menyimpan dendam, bunga itu layu kekang ego tak bermain api
sedangkan angin masih berhembus:
kipaskan dada!

usah bertengkar diri!
sauk dan teguk setitik air di telaga sunyi bermandilah dengan kacahaya rasa,
dunia ini indah
menikmati hidup sesaat ini: aku beribadah

ya... aku malu pada semut-semut kecil berbaris di tanah
berikan laluannya jangan diinjak: mati!
tapi, ia tak dendam ketika disakiti
jangan salahkan doa-doa yang dizalimi dimakbulkan tuhan

sadarlah diri!
pinjamkan aku cermin itu, biarkan aku berkaca

Jkt, 210919



SINOPSIS adalah ringkasan padat dan jelas dari sebuah naskah buku, film, dan jenis karya lainnya tanpa menghilangkan unsur penting dalam naskah tersebut

Sinopsis
BMB BUMI MANDE BAPUISI
Romy Sastra


Selayang pandang deburan pesisir menggugah tembok-tembok batu karang di Batu Kalang, pantai Kambang berhias pasir putih sejauh mata memandang dan hutan bakau di taman laut Bumi Mande Bapuisi. Kita bernyanyi bersama indahnya pesona pulau pantai Mande menghalau risau pada nyanyian yang sumbang menempuh petang, tentang kearifan lokal yang tak ingin tergerus zaman.
Di pantai Sago di pinggir jalan sajakku terhenti, kenapa camar-camar laut itu mulai enggan terbang tinggi, sedangkan siulan merpati tak ingin bisu, camar tak lagi mampu berlomba bernyanyi, ia memilih sunyi. Apakah sayap-sayapnya telah patah? "Ya... jika iya, masih ada sunset jingga nan jauh merupa menyulam cerita di kaki langit memanjakan dermaga Teluk Bayur dengan untaian lembayung pada riak-riak yang tenang. Satu sayap patah menikam jatuh, menimpa daun-daun mati, cukup saja tariannya melepas sayap putih terjatuh di daun mati, tunas-tunas enggan berganti, kenapa? "Oh... titian akar di negeri Pulut-Pulut Bayu Bayang Utara, destinasi wisata itu di ujung rimba, berhias negeri baru di atas awan, menitip cerita dua hati para remaja berkisah nostalgia, yang selalu setia menanti kehadiran kekasih tentang kepergian semusim rindu pada raya tiba.
Koto Baru Bayang, dibingkai janji-janji manis di rinai embun air terjun, destinasi berkasih sayang, di Bayang Sani itu, cerita bermula, kisah tak jadi di sini, rindu semusim usai pada rintik air bening di ujung mata mengundang pelangi bertandang, seperti bidadari membawa selendang bersolek di atas batu tak nampak oleh mata telanjang.
"Ya, sinopsis deburan petang, riang ombak bernyanyi di pantai yang tak lelah menari gemulai di sagara nan dalam. Aku terdiam di batas ranah Pesisir Selatan, berjuntai memandang, sejuknya tatapan ke hutan belantara di sana. Pada suara alam, lembutnya kicauan cericit si burung mungil bersahutan.
Pesisir Selatan di nyanyian diksi Bumi Mande Bapuisi kala senja menyapa pantai di Carocok Painan nan permai.

HR RoS
Jkt, 26/07/17



Sinopsis
SETETES KEHIDUPAN
Romy Sastra


setetes tirta pelerai dahaga
pada hujan penyubur tanaman
tentang aliran hulu ke hilir sumber kehidupan
berlabuh ke muara berkoloni di samudera
makna kearifan alam dari sang pencipta

dari ar-ro'du bergemuruh
al-barq kilatan petir halilintar
Jibril berpesan kepada awan
kawinlah dikau gravitasi gas mengembun
berikrar di kosmik bersama angin

yang akan rinaikan hujan tuk mayapada
berdamailah kehidupan
titah Ar-Rabbani
maha pengasih lagi maha penyayang
bersyukurlah pada-Nya wahai hamba
jaga kelestarian bumi titipan itu
jangan rusak alam dengan serakah
biar tak menimbulkan bencana di mana-mana

HR RoS
Jakarta, 14/03/2017



Sinopsis Memori Rindu
OBJEK WISATA JEMBATAN AKAR
By Romy Sastra


i
Rajutan nan cekatan Tuanku Pakiah Sokan,
lilit melilit akar pohon beringin dan akar pohon kubang titian zaman tahun 1890 dijalin. Dalam hajat jembatan hidup orang banyak menempuh destinasi pada jerih dan peluh anak negeri mencari sesuap nasi dilalui tahun 1916.
Sang cerdik pandai Tuanku Pakiah Sokan berpikiran jauh melampaui generasi dan zaman.

ii
Negeri Bayang dilalui sungai sepanjang mata memandang jauh ke muara berkoloni ke samudera.
Ketika rinai datang deburan perlahan riuh gemuruh, suara alam senandungkan misteri lirih mencekam, iklim tak bersahabat semusim.

iii
Di sini rindu belum selesai, meski kisah telah jauh berlalu tinggalkan untaian madah-madah puisi merayu sang kekasih.
Di atas seonggok batu sebesar rumah Qulhu, sang pencinta sepasang merpati bernyanyi tentang dunia ini indah. Bahwa sayap-sayap rindu ingin terbang jauh menatap masa depan, finish langkah ikrar cerita hidup nan manis dimulai di sini, me-ikrar janji
dengan untaian kaki berjuntai, rebahan asmara berpagut di dada
seperti pilin titian akar terjalin,
memori jadi sinopsis di tepian air mengalir, seakan tak ingin ditinggal pergi merantau ke negeri nan jauh, serasa kepergian takkan kembali lagi.

iv
Deburan banjir menghantam objek wisata ikon Ranah Bayang,
masa nan lampau, menahan tangis kan menetes, menatap ketegaran urat mengikat erat tak ingin terputus tergerus arus air bah ke muara, hampir saja selesai sejarah objek wisata Rang Bayang Pesisir Selatan titipan cerdik pandai. Air bah sering datang dari hulu menyentuh badan titian akar membuat hati rusuh kan runtuh.

v
Jika tangis tak terlerai, doa tak tertitipkan pada Illahi, tentang kearifan alam bersemi tak pernah bersumbangsih pada bakti jariyah jerih payah area peninggalan sang Tuanku tak menuai ibadah. Jangan salahkan titipan berakhir, dan titian kasih bermuram durja sedih,
kisah kita padam, kenangan hanya tinggal kenangan.
Sedangkan dendam rindu kita belum selesai di sini, dikau ke mana perginya kasih? Tak lagi menyentuh cerita yang pernah diungkai, apakah kisah kita telah menjadi pusara dan terkunci mati dalam peti rahasia memori. "Ah ... entahlah.

vi
Bila pada suatu masanya tiba, torehan kisah yang membisu buka kembali, menemui jejak dulu nan tertutup debu.
Jembatan akar, satu destinasi seribu satu cerita tertitip di sini....

HR RoS
Jakarta, 02/02/2017



Sinopsis Renungan
KETIKA TAKBIR DI AMBANG JIHAD
By Romy Sastra


Langit bumi kita pernah biru
ketika malam bertaburan bintang
menemani rembulan bersinar terang.
Doa-doa malam si pemuja maha jiwa, melantunkan zikir pada Rabbani.
"Ya, Rabbani... damaikan negeri ini,
dari angkara murka nan silih berganti
menerpa maruah kedamaian akidah.

Cakrawala hari tergerus siklus musim
hitam tak berpelita di dada langit
lihatlah pagi ini berkabut, cuaca mendung.
Ada sedikit rona biru mengintip
dibayangi koloni keabu-abuan, yang akan tertutup menghambat kisi-kisi kerlip pada pelangi.

Embun pagi,
dikau butiran suci
tertumpang di daun keladi
beningmu akan bias diterkam debu
selalulah hadirkan lembayung kasih
pada rona yang berseri di muka buku.

Ozon menitip perisai,
tangkis gejolak langit menembus bumi
dan bumi ini tandus oleh efek teknologi,
cikal bakal perubahan iklim
di hati para dewa berhati monster
yang akan menerkam kedamaian dunia.

Selebaran terpampang di kaki lambang negara
seakan mau terkoyak oleh terpaan badai
Garuda itu risih terbang di bumi nusantara
aksara patriot persatuan tersusun rapi
sebagai falsafah ideologi bangsa, akan tercabik oleh para serigala malam
nan meraung melolong minta jatah darah pada bayi-bayi pelanjut tirani kemerdekaan.

Menunggu bom waktu
di poros segitiga bermuda
para punggawa hitam membawa huru-hara akan merusak tatanan leluhur nan berbudi
ngeri, tiba-tiba nantinya.

Panji-panji benalu tumbuh subur
telah berkibar di bumi pertiwi
bratayuda ataukah Jihad di medan laga
menuntut maruah siapa yang benar siapa yang salah.
Ketika takbir komando di ambang jihad berkumandang.
Para pelaku perisai negara wanti-wanti sudah, arah angin ribut akan bertiup dari segala arah.

Warta wara-wiri isyarat jangka
para sepuh pada tuah nan didapatkan dari bisikkan Dewa, melaju sudah dengan semestinya. Pahami! jangan heran, ia tetap terjadi percaya tak percaya.

Kitab sabda Nabi menitip pedoman
pada suluh di hati nan beriman yakinlah!
Bahwa janji hukum kalam Nabi
pasti tak mengingkari laju zaman menguji insan, ia keniscayaan.

Lalu,
apa yang diperbuat lagi
ketika rongrongan bertubi-tubi
mencabik sendi-sendi kehidupan
tak mau lagi berdamai dalam kebersamaan
di negeri intan berlian ini.
Aku termangu di ujung aspal
melihat pelangi tak lagi indah pada warta di setiap pagi dan senja.
Akankah halilintar,
membumi-hanguskan tiba-tiba kejayaan
di negeri sumpah palapa
dari maha patih Gajah Mada
yang pernah ia torehkan dalam sejarah persatuan nusantara lama menuju kejayaan nusantara tercinta.

Berdamailah negeriku!"
Jangan undang sengketa
di hati para anak-anak bangsa.

HR RoS
Jakarta, 12-01-2017



OPINI merupakan sikap, pandangan, atau tanggapan seseorang terhadap suatu fakta dan kebenarannya relatif. Karena dipengaruhi unsur pribadi yang bersifat subyektif, baik berupa pertika maupun saran-saran. Opini disebut juga gagasan atau argumentasi.

Opini
LGBT DI MEJA MAHKAMAH KONSTITUSI

Tuan profesor tertipu politik dunia kotor,
tak sadar ia dipecundangi oleh manusia dajjal berdelik hak azasi privasi dan kebebasan
Tuan mengaku berakidah, tetapi pola pikiranmu hina dan tertutup hidayah pada maruah iman yang ia punya, kenapa prof? Perbuatan asusila LGBT tak dihukum malah menjadi legal. Hinanya keputusan MK di tangan penyelenggara institusi pemerintah itu.
Bagaimana tak hina, anjing jantan saja tak bercinta dengan anjing jantan.
Di mana keilmuan yang berhikmah kau amanahkan pada pendidikan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermartabat ke depannya tuan. Apakah tuan prof sudah kalah dengan budi tuan sendiri, hingga jubah keilmuanmu bobrok dicurangi, atau telah disogok?!
"Ah ... tuan, entahlah."

"Jangan berpikiran sempit tuan prof!"
Kau sudah didoktrin oleh delik kebebasan dalam bernegara berazas demokrasi, yang seakan negara terlalu mencampuri urusan privasi masyarakat hingga ke ranjang pribadi.
Negara dan pendirinya mengatur melawan keburukan perbuatan rakyatnya pada sebuah kehancuran suatu bangsa.
Tapi, kenapa suatu lembaga negara sebagai wadah tak menjaga virus-virus kehancuran itu?
Seakan kalah diplomasi oleh para bedebah bangsa, seyogyanya adalah impor doktrin liberalisme dunia untuk menghancurkan negeri ini bahkan mempercepat azab turun, hingga bumi ini hangus dan tenggelam ( kiamat )

Eihhh ... yang tak berakidah, yang mendukung elgebete, jangan berdelik kebebasan kau.
Tidak ada satu pun di Indonesia ini sebuah suku tak bertuhan dan tak punya tatanan martabat keyakinan akan norma-norma keluhuran. Selain manusia dajjal dan ateis.
Sebab elgebete adalah perbuatan melebihi dari binatang itu sendiri, ia terkutuk.
Bukankah sudah ada firman Tuhan mengabarkan akan azab kisah-kisah islami dan agama lainnya. Seperti kaum Sodum dan Gomorrah.

Kenapa institusi pemerintah kalah dengan delik manusia-manusia hina?
Apakah ini manajemen Ilahi pada umat di akhir zaman? Ya, tentu bagi yang berpikir ia ujian untuk menguji dunia pada hambanya yang beriman dan bertaqwa. Alasan apa kau wahai yang mendukung LGBT, kau adalah pelakonnya.
Sekiranya keluarga atau anak-anakmu terjangkit virus gay, jeruk makan jeruk tersaksikan di depan matamu, apakah kau akan diam?
Tanya dirimu, apakah masih ada sisi manusiawi yang bernurani di hatimu? Konyol.

Bijak dan meleklah pada hukum Tuhan wahai manusia yang berpikir, elgebete adalah pintu kehancuran suatu zaman.

HR RoS
Jakarta, 201217



Opini Renungan
KETIKA BATU NAGA TAK LAGI BERTUAH
Oleh Romy Sastra


Sejarah tuah dalam peradaban negeri
ranah dilingkar adat dan sara' nan elok budi, tergerus zaman oleh kehidupan anak tirani nenek moyang kami.

Dalam sejarah tempo dulu, ketika banjir bandang melanda paru-paru induk sungai Batang Bayang, yang mengalir dari berbagai mata air di sela-sela sungai kecil di hulu rimba Bayang Utara.

Suatu ketika keajaiban alam berlaku di Negeri Kubang, banjir bandang meluluh-lantakkan apa yang ada menghambat laju arus air bah ke muara. Entah dari mana sepasang ular naga berenang dari hulu rimba, terpasung oleh takdir di ujung kampung, hingga menjadi batu.
Sampai saat ini penjelmaan batu naga itu masih ada.

Ketika naga menjadi batu di ujung kampung, banjir bandang tak mampu menenggelamkan negeri hingga batas akhir desa, sehingga Banjir mengelak keluar area desa.

Batu naga nan bertuah, berharap tuahnya dari ridho Allah SWT yang maha kuasa. Adakah naga itu titipan jelmaan Tuanku nan bertapa di Negeri Danau asal muasal negeri Bayang umumnya, Nagari Kubang khususnya. Ataukah sepasang tongkat keramat terbang dari pemilik tuah bumi andalas, tongkat berenang berupa ular naga.
Amanah dari pemilik tuah untuk Kearifan alam yang di legendakan hingga akhir zaman, wallahu'alam bisawwab wallahu'alam kisawwal.

Banjir di negeri kami adalah pesta tahunan, ironisnya hampir tiap bulan. Adakala banjir bandang besar datang dalam setengah dekade bertamu menguji iman anak negeri, bukan sekedar uji nyali lagi. Tetapi uji keyakinan antara tuah dan ridhoNya.
Ketika tuah berlaku jadikan ia iqtibar bahwa negeri itu diberkahi dari yang maha kuasa, dan jangan kotori dengan seribu satu macam konflik di tanah keramat bunda, yang pemilik tuah akan mencabut ridhonya dan berlalu pergi dengan sendirinya hingga ringkih batu teronggok jadi bisu tak lagi berpenunggu.

Ingat, bukan batu alam kekuatan menyelamatkan negeri. Syukurlah legenda tak di dewakan di negeri kami hingga kini. Keyakinan umat tetap berjubah di dada pada Rabb yang memangku buana ini.
Ingat, jangan kosongkan rumah qulhu di corong jantung negeri berkumandang subuh, siang, petang, maghrib hingga menempuh malam. Kala malam menengadah kearibaan, berharap lindungi kampung kami ya Illahi dari marabahaya dan bencana, hanya padaMu kekuasaan yang menolong.

Ketika batu naga tak lagi bertuah,
jangan salahkan bunda mengandung.

Para penghulu tak lagi amanah dengan sumpah:
Ke atas tak berpucuk, ke bawah tak berurat akar, di tengah bolong diliangi kumbang. Begitulah sumpah jabatan disandang jangan lalaikan, amanahlah!

Bundo salingka kaum bertalian basudaro sadonyo. Jangan buat bibit sengketa di tanah tirani nenek moyang bundo kanduang ikon limpapeh rumah nan gadang.
Saling tegur sapalah satu sama lainnya, padamkan bara api membuncah jadi lahar membakar seantero sendi kehidupan nagari.

Lestarikan kearifan alam di bumi ranah minang tanah bundo.
Jangan di rimba membabat lahan sembarangan tanpa reboisasi kembali. Yang akan menyebabkan longsor lereng rimba di mana-mana dan menimbulkan banjir bandang tiba-tiba.

Wahai, para generasi ke regenerasi, bangun kepribadian.
Jangan ciptakan virus zaman pada pergaulan yang bersahaja.
Jangan lukai antar sesama saling berbagilah!

Wahai pemangku tahta dalam titipan risalah lima tahunan, bersinergilah selalu dengan amanah, jangan sampai lengah.
Dan kepada pemangku tahta berikutnya, komitmentlah hingga pada suatu masa jabatan di pundak bersafari putih di ajang pesta demokrasi rukunlah!"

Wahai, kepada corong umat yang berkumandang sabda di mimbar religi, teguhkan iman umat hingga badan berkalang tanah, tak terbawa arus kompetisi seremonial zaman, jadilah jati diri sendiri sebagai ulama.

Dan terkhusus pada penulis saya sendiri, jangan jadi pembual sebagai penulis opini renungan nurani saja, berbuatlah sesuatu secara real pada tintamu ini. Hehem, jangan jadi bedebah.

Doa kami ya Rabbi,
redalah hujan yang tak henti-henti itu hingga mengakibatkan banjir besar. Jadikan hujanMu berkah dan rahmat bagi kehidupan ini.
Hindarilah bencana melanda negeri kami,
kepadaMulah kami berlindung dari marabahaya musibah banjir ini... amin.

HR RoS
Jakarta, 05012017.
(dalam renungan kampung dilanda banjir saat ini)



Renungan
TESTIMONI PADA SUATU MIMPI
By Romy Sastra


ada yang lebih panas dari api
yaitu matahari
ada yang lebih tajam dari belati
yaitu mata hati
panas dan tajamnya mata hati,
bisa memandang cahaya yang tersembunyi

angin dan air kekuatan yang paling kuat di dunia ini,
tapi, ada yang lebih kuat dari angin dan air yaitu rasa
Sedangkan rasa bisa mengenal Dzat Illahi

itulah sempurnanya insan kamil yang tahu jati diri,
keadaan nan abadi ada di alam diri,
sampai ke akhirat nanti maha nyata sekali

HR RoS
(tertulis di Jakarta, Senin malam
1-Mei-2000,
sebuah kertas menghampiri dalam mimpi)



Renungan
MUSYAFIR
By Romy Sastra


Debu tak mesti bernoda padahal ia nirmala
sauk saja jadikan tirta tak basah
adakala ia pembersih yang dihalalkan
pergi bertamu ke Baitullah
jalan sang musyafir seribu langkah tak lelah
Sedangkan peluh meluruh di tubuh
bercampur debu bernoda tak mengapa

Kenapa banyu melimpah tak disentuh
tuk bersihkan wajah pada religi
sedangkan matahari di hati
tak pernah redup menyinari
puji-pujian pun di rongga
tak lekang memandu ruh di nadi

Ah, malulah pada hayat
tak lelah menghidangkan nafsu duniawi
kenapa tak disyukuri pemberian yang ada
bulan masih purnama
kejora masih kerlipkan cahaya
matahari belumlah terbit dari barat
berbenahlah sebelum terlambat

Ah, malulah pada ruh
ia masih bermain riang tak berbaju
bercumbu sunyi dalam kelambu rindu
ketika tamu tak di undang datang
jangan sesali tarian jiwa terhenti tak lagi berirama
penyesalan alang kepalang tiada guna
kembalilah wahai diri pada-Nya
dunia tak pernah indah
meski disulam dengan emas permata

HR RoS
Jakarta, 230217



Renungan
TESTIMONI PADA SUATU MIMPI
By Romy Sastra


Ada yang lebih panas dari api
yaitu matahari
Ada yang lebih tajam dari belati
yaitu mata hati
Panas dan tajamnya mata hati,
bisa memandang cahaya yang tersembunyi.

Angin dan air kekuatan yang paling kuat di dunia ini,
Tapi, ada yang lebih kuat dari angin dan air yaitu rasa.
Sedangkan rasa bisa mengenal Dzat Illahi.

Itulah sempurnanya insan kamil yang tahu jati diri,
Keadaan nan abadi ada di alam diri,
Sampai ke akhirat nanti maha nyata sekali.

HR RoS
(tertulis di Jakarta, senin malam
1-Mei-2000,
sebuah kertas menghampiri dalam mimpi)



RENUNGAN

Jangan terlalu percaya kepada orang lain, karena bayangan diri sendiri saja menghilang di kegelapan malam.
Berjalanlah dengan mata hati
meski kaki tak melangkah, karena
mata hati mampu menerangi yang tak bercahaya.

HR RoS
Jkt, 30012017



ANEKDOT adalah karangan cerita singkat yang menarik, lucu, dan mengesankan karena isinya berupa kritik atau sindiran terhadap kebijakan, layanan publik, perilaku penguasa, atau suatu fenomena.

Anekdot
PAPA BEDEBAH
Romy Sastra


Harimau mengaum bukan lapar di gurun itu tuan
Serigala mengintai sisa-sisa bangkai
Capung-capung menari di taman ilalang
Kuda berlari kencang mengejar awan
Joki terjungkal di meja sidang pamit keluar
Si badak tetap dungu membisu di kursi pesakitan
Raja hutan tepuk jidat di istana
Pening aku bah, negara kian susah
Kebutuhan rakyatnya ditelan mentah-mentah

"Ah, aneh memang tingkah tuan?!"
Apakah itu trik licik disusun rapi di balik layar?
Opera papa membuat anak negeri mencibir di sudut bibir yang kian kurang ajar

Bukankah meja yang dipakai tuan adalah ketua, tempat membuat undang-undang anti korupsi?
Ternyata senjata makan tuan
Apakah tuan-tuan yang hipokrit, ingin menunggu giliran juga?
"Ya, tunggu sajalah."

"Padahal tuan punya hati, punya rasa, punya keluarga, tak malukah?"
Ketika rapat menyusun amanat, tuan duduk di kursi empuk yang berjubah dewa,
dikau mengantuk
Titah rakyat dititipkan di pundakmu dilengahkan begitu saja
Sedangkan janji-janji di pentas demokrasi masih segar kami ingat
Kenapa tuan beropera sakit di meja pesakit?
Padahal kue bakpao sudah tak lagi menempel di jidat
Alasan mencret, memang kekenyangan kebelet
Lebih baik tuan pamit dulu ke toilet
Hilang masuk ke lubang septic tank
Ada kawan-kawan busukmu menghibur di sana
Tikus-tikus berdasi tak bermaruah lagi

HR RoS
Jakarta, 151217



Anekdot
BAKPAO DI KEPALA PAPA
Romy Sastra


"Papaa...?! jangan suka keluar malam!"
sebab, di jalanan KPK berkeliaran mencari papa. Sahut si istri pada suaminya.

Lantas, suaminya menjawab dengan spontan

"Ya ..., Mama?! Papa keluar rumah sebentar kok, cuma hanya mencari bakpao saja, Ma."

Akhirnya Mama mengizinkan Papa keluar rumah mencari kuliner malam.
Belumlah hari beranjak malam, papa sudah berantem dengan sebatang pohon. Papa terkapar di sisi jalan, disirami rinai seperti tetesan air mata rakyatnya karena luka yang terburai.

Ternyata kuliner malam itu sudah disantap bersama-sama, berpesta di balik meja mewah.

Tak berapa lama, papa diantar ojek menjelang malam ke hospital dengan tubuh yang lunglai, dan bakpao itu nempel di kepala. Lucunya, Papa pingsan seperti orang bingung.
"Lucu ya, emang lucu."

"Papa pingsan, kok seperti orang ketakutan,
kata punggawa yang disewa, ditanya si pemburu berita."

"Kenapa bingung dan seperti orang ketakutan ya, Papa?"
Apa salahmu Papa?
"Ahh ... papa, apa mungkin lagi ketakutan sama KPK yang mencarinya."

Papa keluar rumah membawa Fortuner tua, menyamar jadi orang biasa dengan sengaja membuat delik menabrakan kendaraan rongsokannya, atau lagi berkonspirasi delik hukum dengan sejawat dan kolega, untuk menantang KPK supaya lepas dari jeratan hukum kedua.

Padahal Papa menghilang bukan untuk senang-senang, tapi tujuan alasan sakit yang mendadak. Delik licik Papa menumbalkan Fortuner tua di senja hari sebagai buang sial dari kesusahan rakyat pada pemimpin yang tak amanah pada jabatannya. Demi untuk menunda proses hukum menjeratnya. Papa rela malu-maluin diri, memang Papa gak tahu malu,
dasarr....

Bandel sih, Papa.
Mestinya Papa di rumah saja atau lari ke Kutub Utara, beku jadi es di sana.

Akhirnya Papa ketangkep deh.
Pertama ketangkap, Papa kuat, bisa lepas lagi.

Ketangkap kedua kalinya, Papa ingin berdelik untuk sakit, ternyata memang sakit di gedung pesakitan, hehe....

HR RoS
Jakarta, 171117



Anekdot
PETANI DAN BURUNG PIPIT
By Romy Sastra


"Pada suatu pagi...
para petani desa, bersenda gurau di kedai kopi.

Selepas sarapan pagi itu, terjadilah dialog aktivitas sehari-hari di antara mereka
tentang kehidupan aspek kampung yang serba pahit dan sulit.

Salah seorang petani mengajak kawannya untuk bangkit dari tempat duduk di kedai itu.

"Ia berseru..."
kita ke sawah yuk?
sahut pak tani, ke kawannya yang di sebelahnya.

"Kawannya itu menjawab...
malas ah, sahutnya.

"Kenapa emangnya...?"
pak tani itu balik bertanya.

Kawannya tadi memberikan alasan yang sangat di plomatis.

"Oohh... pak tani, kalau kita jadi petani.
Sudah pupuk mahal
obat padi harganya selangit,
mirisnya lagi, sering gagal panen.

Ketika panen juga nantinya,
harga padi dan beras di beli murah sama pengusaha tengkulak.
Parahnya lagi, beras juga di impor dari luar negeri menyaingi harga pasaran dari petani.
Kalau tidak di jual padi dan beras itu, nanti tak bisa menutup hutang biaya usaha pertanian. "Uuhh, deliknya sikawan itu.

Pak petani itu balas menjawab;
ya?"
kau banyak teori nampaknya kawan
alasanmu saja kau tak mau berusaha
dasar rakyat pemalas kau ini.
Coba kamu pikir, kalau tak ke sawah kita-kita ini"
tak lagi bertani, mau makan apa kau dan keluargamu nanti?

Kawan itu bergumam lirih,
"Uuhh... dasar kau tak paham program pemerintah selama ini pak tani,
yaa, pak tani.

"Tahu gak kau pak tani...?
Program pak Menteri sekarang ini impor beras dari Thailand.
Beras di beli murah di jual mahal. Beras dalam negeri harganya di politisi. Deliknya, persiapan beras dalam negeri tak mencukupi.
Padahal negeri ini surplus lumbung hasil tani....

***

Sang tengkulak pecundang berkilah dari sudut kedai itu. "Uuhhh..."
debat tingkat rakyat sok pintar.

Hehem,
termasuk si penulis anekdot ini. Alamak, gue juga termakan tulisan sendiri.

Coba pikir baik-baik kata si tengkulak.
Kalau kau tak ke sawah...?!"
paceklik kemiskinan akan semakin pahit, kehidupan ini kian menjerit
pemerintah akan semakin terjepit.

"Ah... kata si petani,
dasar kau tengkulak.
Kau tahu cari untung saja sebagai pedagang. Sebenarnya, kaulah biang kerok semua masalah harga selama ini.

"Uhh, enak saja kau berkata jawab tengkulak.
Aku hanya pembeli dan penjual saja, hanya jembatan antara kau dan pemerintah,
wajarlah aku dapat keuntungan.

Pagi itu sudah beranjak pergi,
tak terasa matahari sudah mulai meninggi.
Debat para petani itu tak kunjung jua selesai.

Pipit, siburung sawah mengintip debat petani di kedai kopi,
dari ranting pohon di kebun yang tak berapa jauh dari kedai itu.
Siburung pipit mencicit lirih, miris, seakan berbisik dalam cicitnya. Berharap sedih mendukung petani,
ke sawahlah pak tani...! harapnya.

Aku si-Pipit ini, sama halnya dengan simungil kalian di rumah yang lagi doyan makan.
Jangan kau hiraukan birokrasi di atas.
Optimislah ke sawah!
tataplah selalu mentari pagi itu
di sanalah kehidupan.

Aku sipipit sawah
sipencuri biji padi yang menguning, menumpang hidup dengan petani. Ia adalah kearifan Tuhan yang disediakan untuk kehidupan, saling menjaga dan melengkapi. Hehem, rayunya si-Pipit kecil.

Aku sama halnya dengan siburung Hantu yang di sana"
dan siburung Hantu itu jauh lebih berbahaya lagi, satu lumbung negara dimangsanya.
parahnya lagi,
bahkan lumbung pun dijualnya....

HR RoS
Jakarta,29-11-2015, 08,05



FIKSI adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi. Dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta.

Fiksi
BERBAKTILAH ANAKKU
Romy Sastra


Ning nang ning nong, anakku gendong
"Cepatlah tidur, Nak. Ibu menanak nasi, buatmu jika lapar nanti."

Si mungil akhirnya diam di pangkuan, merasakan betapa nyamannya buaian belaian kain gendongan.
Si Ibu dengan cekatan mempersiapkan menu untuk keluarga, sebentar lagi hari akan petang.

Kebiasaan di kampung, teringat masa kecil,
Ibu memanggil anak-anaknya.
"Anak-anakku, mari makan bersama, duduk kita bersama Ayah." Sahut Ibu pada anaknya.

"Dengarkan Nak!" Sebelum nasi ini dimakan, terlebih dulu kita berdoa. Semoga nasi yang dimakan menjadi darah daging yang halal. "Bagaimana Ayahmu, dari pagi hingga ke petang membanting tulang mencari sesuap nasi buat kita," dan membiayai sekolahmu hingga lulus sarjana. "Kelak kau dewasa, memiliki pekerjaan dan menjadi anak yang sukses, jangan lupa jasa orangtuamu ya, Nak?!"

Anak-anak itu terdiam, sesekali ia melirik ke arah Ayah dan Ibunya sedang makan, ada butiran bening menetes di sela pipi, bukan karena peluh, melainkan pilu dan luluh hati kedua orangtuanya merasakan kehidupan yang begitu sulit untuk menatap masa depan.

Di sela suap demi suap diayun, ada sebuah pesan dari Ayahnya.
"Oh, anak-anakku?" Kenanglah lara hidup ini, untuk bahan dikau tahu diri nanti.
Supaya jerih Ayah kau balas Dengan ibadah.

"Menunduklah berjalan, supaya kau tak terantuk di bebatuan." Sebab, dengan berjalan hati-hati adalah pelita hati.

"Dan, kenang juga Ibu menggendongmu kala kau bayi!" Betapa nyanyiannya menyayat hati, berharap kau cepat terlelap, jangan menangis.

"Jika kami ini, kedua orangtuamu tua nanti, jangan abaikan dari pandangan dan perhatian." Sebab, tenaga itu tak lagi kuat berjalan apalagi berlari.
Bukan kami menuntut untuk digendong seperti kau dulu bayi, kami hanya butuh perhatian ingin disayangi juga, tak tersakiti dengan kata-kata, ahhh ...
Apalagi ocehan,
menyusahkan saja ini orang tua.
"Pedihhhh, Nak?!" Jika itu terkisah nanti ....

HR RoS
Jkt, 050118



DIKSI adalah suatu pilihan kata yang tepat dan selaras dengan penggunaannya dalam menyampaikan sebuah gagasan atau cerita yang meliputi gaya bahasa, ungkapan, pilihan kata, dan lain-lain, sehingga didapatkan efek sesuai dengan yang diinginkan.

Diksi dalam kenangan
ULTAH ITU BISU

Mendung gelap berkabut
di langit rasa linangan airmata tertumpah
moment ini,
Lilin yang kupegang ditangan,
kusimpan di meja
tak kunyalakan lagi,
kue tar itu tiada diatas nampan cinta
apalagi tamu dan kado tak jua menyapa.

Ultah yang bisu,
ketika ultahku singgah di beranda usia
bertamu dihadapan rumah
aku persilakan masuk lewat jendela
Kepagian sekali dia hadir menatap berandaku,
aku terdiam.
bergumam sendiri dalam hati,, mmmm
mataku berkaca kaca, kado senyuman cintanya hadir lewat jendela.

persetan dengan ultah senja,

Aku ambil selimut dingin kubalut ketubuh
dipembaringan aku menatap hayal ke dentingan detik-detik jam dinding.

Aku malu menampakkan wajah ke beranda
Sesekali menjulurkan kepala lewat jendela
hari apa ini..? hhhhhhhhh
aku tertawa dalam bisik hati,
mmm aku seperti bermimpi, tertanya di bilik sunyi
terlupa sudah miladku sendiri.

Aku mencoba intip taman kecil disamping rumah
satu bunga berputik mekar
mekar ditaman hayalan
ingin rasanya kupetik,
kan kujadikan sebagai lilin-lilin kecil diatas kue tar yang tak bernampan.

Mmmm,, ultahku bisu
kue tar itu tak kuhidangkan
biarlah menjadi angan-angan
diantara tamu maya hadir menyapa
sebagai kado terindahnya walau hanya sebatas salam dan doa.

Hayalku menemani hari jadiku.

HR RoS
Jakarta 9 july 2015



Diksi dalam kenangan.
CABARAN EGO YANG TERSEMBUNYI

Pupuh bait puisi pilu
diksi ini selalu melukis rindu

duh,
Perjalanan kasih ini semakin tak di mengerti
kau anggap kabar burung itu
merusak sendi-sendi maruahmu.

perjalanan cinta di ranah maya
membisikan kata-kata indah
tak kau pahami celoteh nuri
kau hias nyanyiannya dengan emosi.

mmm,
dewasakanlah diri
Jadikanlah teladan tuah yang bisa di mengerti.

Perang pedang cinta
di singgasana hati berdua
terluah menulis melukis melalui tinta
sama-sama menjaga martabat wibawa.

Nyaliku ciut
akhirnya ku dungu,
karena ku malu.

Pupuh diksi menyapa hari
mewarta syair di seantero rasa seni
senandungkan alunan rindu
Study hatiku tak pernah di pedomani
karena kau kaku memahami sesuatu
tentang cinta di langit biru.

Sayembara bergelora
cabaran menari di pentas ego
karena merasa sama menjaga harga diri
terluka sudah, obatilah sendiri.

Aku bertanya kini,
Setiakah cinta menjelma sepanjang masa..?
duh bunga, ditaman mekarlah
benalu prasangka berlalulah
untuk yang terkisah dan buat sahabat semua.

Seringkali terselip salah sangka
luah undur selalu menyapa
aku pasrah tapi tak rela.

Maya,
terimalah burung merpati itu kembali
dalam tatapan jingga,
fahamilah ia...
karena merpati itu
tak pernah ingkar janji.

HR RoS..
Jakarta 20-8-2015



Menyusun diksi sajak menari
KETAR KETIR DI PENTAS TARI

Sorot pijar pesona seni
pentas megah layar terkembang
kupu kupu bersolek di bilik ganti
lentik tarian gemulai beraksi
dalam pertunjukan kuda lumping
seni tari.

Ketika aku berlakon sebagai MC
melangkah menaiki panggung
tiba tiba kupu kupu menari
bak kuda sembrani
irama terkait kain songket
tak pandai menari lantai berjungkit.

kodok tertawa di tengah padang
lampu padam kodok berkotek
seakan opera usai
gulita dalam pentas tari mencekam
sang kodok diam bernyanyi
telah lelap,
lelah menyambut pagi
pesta satu malam selesai sampai disini.

HR RoS
Jakarta, 10-4-2016, 00:00



PROLOG adalah pengantar dari suatu naskah yang dapat berupa dialog atau kilas balik dari suatu peristiwa yang terjadi dalam cerita.

Prolog
NOKTAH YANG TERSIKSA
Romy Sastra


"Kasih ..." sapa lamunanku, di angan yang tersisih pada kekasih. Yang aku telah memilikimu, jauh sebelum noktah kita terjalin di depan penghulu.
Kita yang pernah jatuh hati di labuhan batin, berjanji: akan mengarungi bahtera dengan cinta sampai mati. Separuh layaran perjalanan, ujian datang, biduk dikayuh kenapa terhenti? Mestinya cabaran gelombang hidup itu dilalui dengan kasih sayang, bukan ringan tangan. "Kenapa tuan garang ke pipiku?" Setiap ada kelalaianku, muka ini sasaran jadi lebam.
"Apa kurangnya aku kepadamu?"
Pada riak hidup yang kita hadang, janganlah gamang. Sekoci pun bisa turun, jika layaran ditenggelamkan, biarlah tubuhku ini mengambang di riak lautan, awan hitam berlalulah!
Biarkan takdirku terdampar di dermaga tak bertuan lagi.

Kini, kebahagiaan itu hanya sebatas mainan. cintamu hanya gombalan saja, demi mendapatkan sesuatu dariku, dan cincin kawin yang kau ikatkan di jariku dulu, ternyata suasa.
Aku kecewa, tapi kusimpan kekecewaan itu dalam-dalam.
Bersampan bersamamu adalah kebimbangan
Jiwaku remuk pada jalinan noktah yang tersiksa
Akhirnya aku mengalah bukan tak mencintaimu
Daripada hidup bermandi air mata darah, lebih baik kusunting sepi menutup rapat-rapat bayangan memori bersamamu.
Akhir sebuah kisah, berakhirnya noktah
Berbalik arah memilih jalan berpisah ....

HR RoS
Jkt, 021117



KUCINDAN merupakan pantun kelakar dari Sumatera Barat

ragam kucindan
TAKBIR BUYA TAISAK DI HARI RAYO
Karya Romy Sastra


Jauh-jauh tabangnyo si burung bangau
namun hinggoknyo
yo ka kubangan juo
jauh-jauh bujang marantau
namun pulangnyo lai ka kampung halaman kito.

Karatau madang di hulu
babuah bungo balun
marantaulah bujang dahulu
di rumah paguno balun.

Lah jauh tabangnyo perjalanan
putera daerah mancari ilmu
lah tarang nagari di sabalah
lah silau mato mamandang nagari urang
nagari kito basilang sangketo
antah bilo katarangnyo.

Tadanga saluang kubalo di lereng bukiek
di rambang patang hari
sayuik-sayuik ganto padati
bansaik di badan
lah jadi pamenan diri.

Baurai isak tangieh ka dado
nasib si dagang malang
galeh takambang hujan tibo
sumarak Bayang Sani
di balai induak-induak kito
barabuik patang
manjalang sanjo hari.

Manangieh tapian bundo
anak nan ketek lah digadangkan
lah gadang dak kunjuang pulang
lah cadiek si bujang diasuh angku katik
babalieklah ka Bayang Sani
ramikan nagari kito.

Kinilah masonyo anak nan paguno
mambangun kampuang jo nagari
bia dak sio-sio jabatan disandang
selagi masih bafungsi
mambuek anak kamanakan bangga kini.

"Yuuukk...!"

Jadikan koto baru tanah religi
Bayang pado umumnyo
itu baru kujempol, salut kami.

Dangalah rintihan sayuik-sayuik sampai
kami menadah hibo
gemparkan Mesjid Jihad itu nanti
dengan orasi dakwah islami.

Mesjid kitolah asri buya
di jalan raya Bayang Sani
di bangun jo amal jariyah petani
tapi mesjid itu kosong
dengan cahaya pengetahuan ulama,
ulama itu di mano kini ?!"

****

"Ooo ...buya?"
Babalieklah kanagari
doa kami menyertai kesehatanmu.

Katiko tanah merah tabantang
di nan langang
sasah mayit tibo kudian
indak katadanga lai rintihan misteri
ka mesjid Jihad itu nanti
maratok surang di kayu gadang
takana jaso bundo alun di tunaikan.

Pitaruahkan anak kamanakan
sarato umaik jo nagari
mahimbau jo hibo hati
babalieklah kanagari kito
bangun kampung halaman
basamo-samo kumbali
nanlah ditinggakan sedari dulu.

Nan cadiek panuntun sipandieh
nan cegak panuntun sitengkak
nan nyariang panunjuakan si pakak
nan tarang panuntun si buto
nan kayo tampek batenggang
nan bansaik jaan bahibo hati
nan pandieh pailah batanyo
ka tungku parapian buya kito
bia masak aieh tajarang.

Tamakan indak tasasali
taupek usah dicaraco
cukuik inok-inok palito hati
kok karuah aieh di hilieh
tolong janiehkan aieh di hulu
ampun baribu ampun ka nan kuaso
pinta jo pinto barilah maaf mamak kami
lah cegak sakiek di hati.

Bungo rampai alah tuangku serakkan
ka sarek pantun di nan rami
baguru ka padang data
dapek ruso balang kaki
baguru kapalang aja
bagai bungo kambang tak jadi
balaieh sampai ka pulau
bajalan sampai ka bateh
batanyo ka nan tahu
manuntuik kaji kapado ahlinyo
apa kaji dek diulang
pasa jalan dek dituruik
mangaji sampai khatam
alam takambang jadi guru.

"Buya...?!"

Kami tunggu kesaksian khutbah ulama
di Mesjid Jihad Koto Baru Bayang
di hari rayo nanti.
Sang putera daerah berkumpul
DR Ahmad Kosasih
berharap khutbah takbir
balinang aieh mato di ranah bundo
bia talarai isak nan salamoko

Salam santun dan hormat kami
dari anak kamanakan sarato umaik jo nagari.

HR RoS
Jakarta, 3-2-2016, 10,32



QUOTE dalam kata kerja berarti mengulang atau menyalin sebuah teks atau pidato yang ditulis atau disampaikan.

Quote

"Menggapai suluh ke matahari, menanam cinta di mana kita berada, berbibit doa di setiap langkah adalah titian menuju-Nya"

Romy Sastra



Catatan Romy Sastra
PUISI DAN DIKSI


Puisi harus berdiksi, kenapa?
Karena puisi adalah menuliskan sesuatu yang indah dan bermakna
Apa itu diksi?
Diksi adalah kata-kata pilihan.
Kenapa harus dipilih kata-katanya?
Ya, karena puisi itu bukan rumpian hati.

Romy Sastra
Jakarta, 6221