Rabu, 21 November 2012
DUH ! KENAPA CUMA 5000 RUPIAH YA ?
Pernah menyesal ? ya pasti, kenapa ? biasanya karena kita kehilangan banyak harta atau aset akibat ditipu atau dibohongi oleh orang yang kita anggap bisa dipercaya, atau karena harga diri dan kehormatan kita hilang karena kita terlalu serak
ah atau memandang indah terhadap hal-hal yang dilarang Allah SWT, dan masih banyak yang lainnya
Namun pernahkah kita menyesal ketika Allah SWT memberikan banyak PELUANG INVESTASI di depan mata kita agar kita dapat meraih SUKSES TANPA BATAS, namun kita hanya memberikan investasi yang sangat minim padahal kita mampu memberikan yang lebih besar. Kisah dibawah ini adalah bentuk penyesalan yang sering kita alami dan selalu terulang kembali……………….
-----------------------------------------
Matanya ke sana ke mari, entah mencari apa. Dari wajah dan pakaianya yang lusuh tampaknya ibu ini barusan berpergian yang jauh. Apalagi ia membawa tas pakaian yang reslitingnya sudah rusak, sehingga pakaian yang ia bawa tampak dari luar. Aku kuatir ia akan ditipu oleh para calo yang ada di terminal Joyoboyo ini, karena biasanya wajah yang binggung seperti ibu ini akan mudah sekali menjadi korban calo terminal. "Ibu mau kemana?" tanyaku. "Saya mau ke Kupang", jawabnya lirih. Jarak Kupang (sebuah daerah di Surabaya) dari terminal Joyoboyo tidaklah terlalu jauh kurang lebih 5 kilometer. "Ibu tahu lyn (angkutan kota) ke Kupang?" tanyaku lagi. "Tahu, Mas", jawabnya dengan tatapan sayu. "Baiklah Ibu, saya duluan", aku berpamitan meninggalkan ibu tersebut.
Kebetulan kali ini aku lagi bersama dua teman tengah berjalan kaki dari Gedung Jatim Expo menuju ke kantor di jalan Bogowonto, dan jalur yang aku tempuh ini searah dengan jalur menuju Kupang. Ketika tanpa sengaja aku menoleh ke belakang, ternyata ibu tersebut juga berjalan kaki kurang lebih lima puluh meter di belakangku, padahal katanya tadi akan naik angkutan ke Kupang. Beberapa kali aku menoleh, dan ternyata ia masih di belakangku. Pasti ada masalah ibu ini pikirku.
Ketika tepat di depan patung Suro dan Boyo di depan Kebun Binatang Surabaya aku menghentikan langkah sambil menjelaskan kepada teman yang berasal dari Makassar arti historis dari patung tersebut yang menjadi awal mula dari nama kota Surabaya. Sebenarnya aku berhenti ini sambil memperhatikan ibu ini, ternyata ia melewatiku begitu saja, berarti dia tidak ada maksud apapun kepadaku, maka aku segera kembali berjalan di belakangnya.
"Ibu katanya mau naik lyn ke Kupang, tapi kok jalan", tanyaku. "Ya ...", jawabnya lirih mungkin karena kecapaian dalam perjalanan. "Tapi mengapa Ibu masih jalan kaki?" tanyaku. "Saya tidak punya uang", jawabnya dengan lebih lirih mungkin karena malu mengatakannya. "Rumah Ibu dimana?" tanyaku untuk mempertegas apakah ibu ini berbohong atau tidak. "Di Banyu Urip", jawabnya. "Banyu Urip mana?" tanyaku lagi. "Banyu Urip gang Bok Abang", jawabnya lagi. Berarti ia akan naik angkutan 2 kali dari sini. Segera aku sodorkan uang lima ribu rupiah, "Ini Ibu untuk naik lyn", ucapku. Seketika itu wajahnya berubah sangat luar biasa menjadi cerah dan bibirnya tersenyum, "Terima kasih, Mas", ucapnya spontan sambil menerima uang. Segera ia melambaikan tangan untuk menghentikan angkutan, dan segera ia naik angkutan yang menuju Kupang.
Kejadian tersebut sangat cepat tiba-tiba ia sudah naik angkutan, dan angkutan sudah berjalan meninggalkan aku yang masih terdiam. Mungkin ia sudah sangat ingin bertemu keluarganya, tapi dalam hatiku ada rasa sesal yang dalam. Maksudku menyodorkan uang lima ribu rupiah tadi untuk mengetahui apakah ia berbohong atau tidak, sebab biasanya jika berbohong responnya akan masih seperti kekurangan atau minta tambah. Tapi ternyata Ibu tadi tidak berbohong, sehingga uang lima ribu yang aku berikan sudah sangat berharga dan berarti baginya.
Astaghfirullah, seandainya saya tadi bisa menambah lebih banyak lagi, tentunya tidak hanya untuk biaya naik angkutan saja yang bisa ia bayar, mungkin ia bisa membelikan roti sisir yang harga hanya dua ribu lima ratus rupiah saja untuk anak-anaknya yang menunggunya di rumah. Jika lima ribu rupiah yang pertama bisa membuat ia bahagia karena dapat naik angkutan untuk pulang, dan dengan tambahan yang lebih akan membuat anak-anaknya bergembira menyambutnya, berarti akan semakin banyak wajah yang kembali tersenyum. Tapi mengapa tadi aku ragu memberikan tambahan lima ribu lagi?
Sahabat, penyesalan seperti ini pernah terjadi di masa Rasulullah SAW, seperti kisah dibawah ini :
Seperti biasa ketika hari Jum’at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum’at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga tiba di masjid.
Pada hari yang lain ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat tersebut hendak menunaikan Jama’ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai
Pernah juga pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.
Maka ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.
Kemudian Rosulullah berkata,” Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”
Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal” “Apa yang di katakannya?” “saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."
“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.
Istri yang setia itu menjawab, “suami saya mengatakan “Andaikata lebih panjang lagi……andaikata yang masih baru..…. andaikata semuanya…….”
hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”
Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya.
Jadi begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.
Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”. Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.
Ucapan lainnya ya Rosulullah?” tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi menjawab,”adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.
Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.
Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”.Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.
Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu.
Dengan sabar Nabi menjelaskan,”ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan.
Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab ANDAIKATA SEMUANYA KUBERIKAN KEPADANYA, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda
Sahabat, jangan sampai penyesalan seperti ini terjadi ketika masa bakti kita tinggal sejenak di dunia fana ini, mumpung masih banyak yang menawarkan peluang beramal shaleh, kenapa tidak kita segerakan dan kita istiqomahkan……………….
“ Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh" [al-Munâfiqûn/63:10]
MULIA kita dengan MEMBERI, ABADIKAN yang TERSISA dengan SEDEKAH
Kiriman : Ukhti Nisa
Oleh : Rumah Yatim Indonesia
200 KALI BERZINA
ZINA ! sebuah Dosa Besar yang dikemas oleh Setan begitu indah dan menariknya sehingga hampir semua kita penasaran ingin merasakannya, pemandangan indah perzinaan yang selalu dipropagandakan diberbagai media membuat bayangan perzinaan itu se
lalu melintas dalam otak dan perasaan kita.
apalagi Ketika harta dan kekuasaan sudah ada dalam genggaman kita, maka bayang-bayang perzinaan itu semakin indah dan kuatnya menyeret kita untuk mencoba menikmatinya, diantara kita ada yang terjebak lalu terjerat, bahkan ada yang ketagihan hingga tidak mampu terlepas dari dosa itu, ya ya ya…begitu indah dan canggihnya Setan mengemas penawaran berzina itu kepada kita.
----------------------------------
Pagi itu di Madinah Al-Munawarah dalam sebuah kesempatan Umrah di tahun 2007, seorang ustaz pembimbing dihadang oleh seorang jemaahnya saat sarapan pagi di restoran hotel. Jemaah tersebut meminta waktu sang ustaz untuk berkonsultasi sedikit dari permasalahan. “Ustaz apakah bila seseorang mempunyai dosa yang menggunung kemudian dia bertaubat dan minta ampun kepada Allah maka taubatnya akan diterima?”
Sambil tersenyum sang ustaz menjawab enteng, “Tentu taubatnya akan Allah terima!”
“Tapi ustaz, ada seorang sahabat saya yang kebetulan sedang berumrah dan ada di Madinah saat ini, dan ia ragu kalau taubatnya tidak diterima oleh Allah!” Sambung sang jemaah.
“Mengapa ia masih ragu?!” sahut pak ustaz.
“Sebab dia pernah melakukan dosa zina, Ustaz!” tandas sang jemaah.
Sambil menampakkan wajah penuh keteduhan dan keseriusan, sang ustaz berkomentar, “Peluang untuk bertaubat akan senantiasa terbuka untuknya!”
“Tapi ustaz, zina yang dia lakukan nggak cuma sekali!” jelas sang jemaah.
“Memangnya berapa kali zina yang dilakukannya?” tanya sang ustaz penasaran.
“100 kali zina mungkin pernah dia lakukan, Ustaz!” imbuh sang jemaah.
“Astaghfirullahal Adzhim!” terdengar sang ustaz beristighfar sebab kaget mendengarnya. Terlihat rona dan mimik wajah sang ustaz berubah sebab keterkejutan itu.
Mendapati hal itu sang jemaah bertanya sekali lagi kepada gurunya tadi, “Kalau dosa zina sebanyak itu, apakah ada kesempatan bertaubat untuknya, Ustaz?!”
Sang ustaz mengela nafas kemudian berkata, “Tentu, kesempatan bertaubat akan selalu terbuka untuknya. Kedua tangan Allah Swt. akan terbentang di waktu malam, agar orang yang berdosa di waktu siang sempat bertaubat. Kedua tangan-Nya pun akan selalu terbuka di waktu siang, agar orang yang berdosa di waktu malam sempat untuk bertaubat.”
Dan Abu Musa ra. dan Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa jallah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kejahatan di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kejahatan di malam hari sampai matahari terbit dari barat (kiamat).”
“Pintu taubat selalu terbuka untuk hamba Allah sepanjang waktu, baik siang, malam, pagi maupun petang!!!”
Mendengar penjelasan ini sang jemaah merasa agak nyaman. Terdengar jemaah itu bergumam lalu ia pun melanjutkan bicara, “Kayaknya sahabat saya itu tidak berzina sebanyak 100 kali deh, Ustaz!” Mendengarnya sang ustaz berharap dalam hati bahwa angka zina yang dilakukannya tidak mencapai sebanyak itu. Namun sang ustaz teramat kaget begitu mendengar sang jemaah melanjutkan kalimatnya.
“Kayaknya 200 kali zina juga lebih dia lakukan!!!” Imbuh sang jemaah.
“ASTAGHFIRULLAHAL AZHIM. !!!“ Sang ustaz beristighfar kepada Allah dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Tak terbayang oleh sang ustaz tentang sosok hamba Allah Swt. yang berani melakukan dosa zina sebanyak itu. Sang ustaz merenung dan memikirkan kelakukan manusia bejat ini, hingga rona wajah sang ustaz sungguh berubah secara drastis.
Melihat reaksi seperti itu sang jemaah kembali mengejar. “Ustaz, kalau dosa sebanyak itu, apakah bila ia bertaubat maka akan diterima oleh Allah?!”
Berat sebenarnya sang ustaz menata hati saat mendengar peristiwa ini. Namun sang ustaz mencoba untuk tersenyum dan meyakinkan jemaahnya dengan ucapan, “Meski dosa tiada terhitung. Meski dosa setinggi langit, bahkan bila dosa itu sepenuh bumi. Selagi sang hamba bertaubat dan beristigfar kepada Allah, maka pasti Allah Swt. akan menerima taubat dan memberi ampunan untuknya!”
Anas bin Malik berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, Allah Swt. berkata, ‘Wahai anak manusia, selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan Aku tidak peduli. Wahai anak manusia, seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku ampuni dosa-dosa-Mu, dan Aku tidak peduli. Wahai manusia seandainya engkau mendatangi-.Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi. “ (HR. At-Tirmidzi)
Jawaban ustaz terakhir membuat sang jemaah merasa lega. Ia mulai tersenyum dan kemudian mengatakan, “Alhamdulillah, kalau memang demikian maka saya akan menyampaikan kabar ini kepada sahabat saya itu. Semoga ia yakin bahwa taubatnya akan Allah terima. Tapi ustaz, supaya dia bisa dengar langsung... bisakah saya ajak dia untuk bertemu dengan ustaz?”
“Dengan senang hati saya bersedia berjumpa dengannya. Silakan datang ke kamar 709. Saya tunggu ya di kamar pukul 8 pagi ini!” Terang Pak Ustaz. Sejurus kemudian sang ustaz meninggalkan jemaahnya di meja restoran. Beliau pergi menuju kamarnya sambil terus berucap istighfar kepada Allah Swt. karena sulit membayangkan betapa besar dosa yang dilakukan oleh hamba Allah Swt. seperti yang diceritakan jemaahnya.
Setelah beliau istirahat di kamar, lalu tepat pukul 8 pagi, sang ustaz mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Sang ustaz sigap bangkit untuk membuka pintu, dan ia menduga di balik pintu kini sudah berdiri dua orang manusia. Pertama adalah jemaah yang sudah dikenalnya, dan satunya lagi adalah sahabat jemaahnya yang katanya pernah melakukan dosa zina bahkan 200 kali lebih!
Sayang..., begitu sang ustaz membuka pintu ternyata di sana hanya berdiri sesosok pria yang tiada lain adalah jemaahnya sendiri, “Mana sahabatmu yang mau konsultasi?” Sang ustaz menanyakan.
“Tadinya dia sudah mau ke sini, namun setelah berpikir beberapa lama ia mengutusku saja untuk menemui ustaz. Dia bilang, ia malu berjumpa dengan Ustaz!” Jelas sang jemaah.
“Ya sudah kalau begitu, silakan masuk!” Sahut Pak Ustaz. Jemaah itu kemudian masuk ke kamar sang ustaz.
Dia duduk di salah satu kursi yang ada dalam kamar itu. Sedikit terdengar pembicaraan pembuka suasana, hingga sang jemaah itu kembali bertanya hal yang sama kepada sang ustaz, “Apakah bila dosa zina, bahkan hingga lebih 200 kali akan bisa diampuni oleh Allah bila sang hamba mau bertaubat?!”
Sang ustaz mencoba meyakinkan dengan berbagai macam dalil Al-Quran dan hadits yang menyatakan bahwa Allah Swt. adalah Maha Penerima Taubat. Berkali-kali usai membacakan dalil sang ustaz menegaskan, “Pasti Allah Swt. akan menerima taubat hamba-Nya!!! Tentu dengan syarat ia TIDAK AKAN mengulagi lagi perbuatan itu lagi dan menyesali sepanjang hidupnya lalu mengikuti dengan berbagai amal sholeh yang mampu menunjang penghapusan dosa-dosa itu” Jawaban-jawaban ustaz itu rupanya sudah cukup melegakan bagi sang jemaah.
Usai berdiskusi selama setengah jam lamanya akhirnya sang jemaah kemudian menyalami tangan sang ustaz, Dengan mata berkaca-kaca dan tangis serta derai air mata yang terus mengalir tiada henti, jemaah itu kemudian berkata, “Ustaz mohon maaf ya,orang durjana yang berzina lebih dari 200 kali itu tiada lain adalah saya sendiri orangnya!!!” Bagai disambar petir sang ustaz teramat kaget mendengarnya.
Seolah tak percaya mendengar penuturan itu, kedua mata sang ustaz memandangi jemaahnya yang kini sedang menangis di hadapannya mulai dari atas ke bawah hingga dia pandangi dengan cara yang sama berulang-ulang. “Kok bisa ya, ia melakukan semua dosa ini?!” Gumam sang ustaz dalam hati.
Namun sang ustaz menyadari bahwa ia telah mengungkapkan jaminan Allah membuka pintu taubat bagi pelaku zina sebanyak ini. Ia tidak akan menarik ucapannya lagi! Akhirnya sang ustaz memeluk jemaahnya dengan penuh kehangatan iman yang kini menjalar masuk menembus relung hati sang jemaah.
“Maafkan saya, Ustaz! Saya harus berbohong dalam masalah ini. Saya semula khawatir ustaz akan marah kepada saya bila tahu saya melakukan dosa sebanyak ini... Makanya saya berpura-pura bahwa yang melakukan ini adalah sahabat saya. Sungguh saya ingin bertaubat kepada Allah Swt atas semua dosa zina yang pernah saya lakukan.
Apalagi sekarang Allah Swt sudah beri saya seorang istri shalihah yang berjilbab Bahkan dua anak saya adalah perempuan. Setiap kali mau pergi meninggalkan rumah, saya merasa amat khawatir bila mereka bertiga akan digagahi oleh pria lain, seperti yang sering saya lakukan dengan banyak wanita. Saya gak sanggup menanggung dosa ini, Ustaz!!!” demikian ucapan jujur sang jemaah sambil terus menangis menumpahkan air matanya di dekapan sang ustadz.
Sang ustaz merasa iba dan haru mendengar penuturan taubat seorang jemaahnya. Beberapa petuah untuk bertaubat dan beristighfar diajarkan oleh sang ustaz untuk ketenangan hati jemaahnya. Akhirnya usai mendapatkan ketenangan batin itu, sang jemaah berpamitan dan ustaz pun melepasnya hingga ke depan pintu kamar. Lalu pintu itu pun tertutup kembali.
Sang ustaz menghirup nafas yang dalam usai tamunya pergi. Kini sang ustaz mulai mengerti betapa berat beban dosa yang dipikul pelakunya. Dan betapa dengan bertaubat dan beristighfar kepada Allah itu terdapat banyak kedamaian, ketenangan dan ketentraman jiwa. “Sungguh taubat dan istighfar akan membawa orang yang melaksanakannya bersih jiwa dan pikirannya kembali !!!” Simpul Sang Pak Ustaz.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar [39]: 53)
Sahabat, Allah SWT memang Maha Pengampun, itu bukan berarti kemudian kita salahgunakan untuk melakukan dosa yang sebesar-besarnya, lalu kemudian kalo kita sudah puas baru bertaubat, kendati Allah Maha Pengampun tapi Allah juga MAHA TAU isi hati kita ketika kita berbuat maksiat tersebut, disengaja atau karena khilaf ? kalo kita sengaja mempermaikan kemahampunan Allah, maka hati kita akan dengan mudah direbut oleh Setan dan Setan tidak akan melepas sedetikpun hati kita untuk mendapatkan cahaya hidayah Allah SWT, tapi kalo karena khilaf atau ‘kebodohan’ kita, maka Allah masih sangat peduli untuk merebut hati kita dari genggaman Setan yang menguasai kita.
MULIA kita dengan MEMBERI, ABADIKAN yang TERSISA dengan SEDEKAH
kiriman : Ukhti Nisa
Oleh : Rumah Yatim Indonesia
MENGURAS ASA
Kurapatkan rongga bergetar didada kosong oleh kecewa,
bertanya dalam diam tanpa suku kata,
cuma kau yang mengerti makna ini,
jika harus menterjemahkan nurani
tersisih dipatahnya catatan tak bersusun ,tak beraturan.
Bagaimana harus kuisyaratkan kata
jika semua kalimatku berujung kesia siaan,
jika semua nyatamu adalah kepalsuan.
Inilah adaku yang tak penting bagimu,
berilah waktu untuk kulunturkan jelaga kalbu,
mengusir rasa yang terlanjur tumbuh disukma.
Cuma itu yang bisa kukatakan dalam bahasa kerisauan,
maka berilah kiranya aku jarak,
aqar mampu kukuras asa...
----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham /putra fajar.----
----(J) Pondok Bambu Istanaku, Min ggu pagi 18 Nov 2012.----
PROSA HIDUPKU
Sekarang,
sungguh hatiku ngilu, berdenyut pilu
jangan tanya syak wasangka merajam sukma,
dimana awal dimana penghujungnya, sudah kadaluarsa
ini rangkuman dari anak tangga pengembaraan bathin,
menjalani hidup sekaligus membayar karma....
Sekarang,
sejujurnya hatiku beku, diam membisu
jangankan untuk menyapa , berucap pun enggan
prosa ini terbengkalai, tak ada babak penutupnya
saat rinduku terlarang, pecah didada.....
Entah sampai kapan,
mampu kutahankan perih ini, agar tetap sepadan
keseimbangan atas alfa dan kejujuran
dijalan yang keliru,hidupku...
---oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.----
---(J) Dibatas penantian diri, Minggu 18 Nov 2012.-------------
sungguh hatiku ngilu, berdenyut pilu
jangan tanya syak wasangka merajam sukma,
dimana awal dimana penghujungnya, sudah kadaluarsa
ini rangkuman dari anak tangga pengembaraan bathin,
menjalani hidup sekaligus membayar karma....
Sekarang,
sejujurnya hatiku beku, diam membisu
jangankan untuk menyapa , berucap pun enggan
prosa ini terbengkalai, tak ada babak penutupnya
saat rinduku terlarang, pecah didada.....
Entah sampai kapan,
mampu kutahankan perih ini, agar tetap sepadan
keseimbangan atas alfa dan kejujuran
dijalan yang keliru,hidupku...
---oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.----
---(J) Dibatas penantian diri, Minggu 18 Nov 2012.-------------
JALAN DIRI
Jika tiba waktuku
akan kukatakan yang kutau, semuanya
meski harus kuulang mengurai lara, menggali kubur tua
babak rahasia rindu terlarang, kisah nyata dibalik fakta
Jika harus bicara
akan kueja satu satunya kata kunci pembuka cerita
sejujurnya, aku khawatir merusak sendi sendi luhur tertata
sebab episode ini tidak semestinya ada,
pada garis lurus kehidupan nyata selayaknya;
Kini kusadari
jalan diri bergeser sejak dini
semakin jauh tersisih dipenghujung nyali
karma ini mesti kutebus sendiri, kini
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.----
-----Makassar sapo terulang, Senin sore 19 Nov 2012. 17:51.---
SEGUMPAL DUKA
Kemuning tlah layu diranting,
saat kupanggil namamu dengan bibir gemetar,
dipenghujung jejak langkah terakhirmu,
masih saja menggoreskan luka....
Jangankan henti,
tanpa ekspresi menolehpun enggan,
kau terus saja berlalu,
meninggalkan bait bait terbengkalai,
sajak asmara cinta terlarang....
Setelah kau berlalu,
nyata tertinggal gumpalan rindu,
selimuti malam malam sepiku,
sayangnya...bukan cuma milikku...
Sungguh kubenci sekaligus kumerindu,
mengapa begitu lena, pada harap yang tersia
merajut tali jiwa nan hampa disenja yang tersisa
beginilah akhirnya,berbuah lara segumpal duka.......
----oleh Drs Mustahari Sembiring sang Muham/ putra fajar.----
----Makassar sapo terulang, Senin malam 19 Nov 2012 . 23:57.--
AKU KEHILANGAN JATI DIRIMU
Jika harus menunggu,
sampai kapan mesti kusingsingkan lengan baju
berusaha mengerti sikap masa bodo mu
telantarkan semua isyarat rasa, bahasa sukma juga galau didada
Pada batas layak sebuah kesabaran kuterhenyak,
mengapa tak sedikitpun merubah rencana,
setelah diri terhempas, kandas
dilembah nista jalan kegelapan berujung ratapan..
Duh...cahaya lentera yang kubawa terlalu redup
menyinari kalbu terlanjur penuh debu
Akhirnya padam juga,
aku terpana kehabisan kata kata
tak mampu meyakinkanmu menuju jalan hati baru
sebelum tikungan aku kehilangan jati dirimu....
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.-----
-----Makassar sapo terulang, Selasa dinihari sepi 20 Nov 2012. 00:32.--
HIDUPKU
Sejauh ini..
cuma sunyi dan sunyi
mengisi lembah hampa hidup yang nyata,,
Nampaknya..
semulus gunung lekuk landai
memandangku layaknya fatamorgana..
Tapi senyatanya,
tak bisa kuwakilkan dengan kata-kata
duh hidup memang hidup...
----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.---
----Makassar sapo terulang, Selasa dinihari sunyi, 20 Nov 2012. 01:17.---
cuma sunyi dan sunyi
mengisi lembah hampa hidup yang nyata,,
Nampaknya..
semulus gunung lekuk landai
memandangku layaknya fatamorgana..
Tapi senyatanya,
tak bisa kuwakilkan dengan kata-kata
duh hidup memang hidup...
----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.---
----Makassar sapo terulang, Selasa dinihari sunyi, 20 Nov 2012. 01:17.---
PANTASKAH MENISTA
Bukankah sejakmula kutanyakan,
tentang gesekan rasa melahirkan irama,
dan masih kucatat jawaban pendek, miris dengan pandangan sebelah mata,
tak ada komitment, apalagi anak tangga garis nyata dan tak nyata,
bersama lipatan waktu,angkuhmu menyisakan irama sumbang menantang ,
dimana gerangan tata krama, semestinya dari anak desa.
Jika tau penghujung yang membusuk dibakar cemburu buta,
siapa pula kita yang berani bercengkrama dengan nada sukma,
tempat bermukimnya sejatinya asa.....
Lalu, sekarang inilah hasilnya,
kristal kebencian ,tumpukan sumpah serapah bahkan angkara murka semerah saga. Pantaskah dimuntahkan diujung janji kepalsuan kata.
Pantaskah menista pada pembawa pelita....
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang Muham/putra fajar.---
-----(K) Makassar sapo terulang, Selasa siang 20 Nov 2012.--
NEGERIKU
Aku menjadi tak berdaya ,lebih konyol dari kaum papa ,
bahkan dinista dengan gaya penuh retorika,
setiap bahasa terucap adalah mata pisau
menikam semakin dalam ketidakadilan negeri antah berantah.....
Konon negeriku bertuah ,
konon bangsaku beriman,
konon para pejuang negeri rela mati demi tanah se centi...
Sekarang, tengoklah wajahku suram bersusun tindih dengan kepahitan ,
kenapa kalian cuma jadi pelengkap penderita,
laiknya tentara dilucuti senjatanya ,
aku berteriak teriak kesetanan, malu pada seragam yang kubanggakan...
Negeriku ternyata paceklik harga diri,
melarat hati nurani,
miskin nasionalisme sejati....
sistem mandek dipangkuan para petinggi....
------oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.-----
------(K) Makassar sapo terulang, Selasa siang 20 Nov 2012.---
BUKU KALBU
Ketika sunyi yang sesunyi sunyinya memenuhi langit langit jiwa,
mengatakan apa adanya adalah sebuah ritme
mekanisme jiwa lelana....
Aku terperangkap dikatup asmara berwarna jingga,
tak kuasa membelokkan bahasa,
memalukan dalam fakta terbuka..
Sudah separuh lebih kurenangi payaunya air kehidupan,
hingga kini tak berani kutegakkan nyali,
buku kalbu sejak awal telah keliru,
tersesatlah aku, dijalan kerap kulalui
dalam sunyi yang sejujurnya...
-----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.-----
-----(K)Makassar sapo terulang, Selasa sore 20 Nov 2012.----
KINI GILIRANMU
Sejak dini kukabarkan kata perkata,
bahkan sering dengan catatan kaki ,jengah terbaca cengeng
hitung hitungan dengan nyali pun telah kujalani,
hasilnya : tak bersisa virus kanker asmara terlarang,
tergelar seadanya, kini aku terbiasa....
Sekarang, benih tercecer dihatimu mulai berkecambah
tak kasat mata, hentakanya pasti getarkan sukma lara
beberapa peran pelarian berhasil kau lakonkan,
namun semua berujung hampa,
kandas dikeringnya telaga jiwa,
perih , pilu bahkan ngilu terus tertancap dirasa
kemanapun kau bersembunyi tak lekang ia ada
kini giliranmu menuai nestapa,lara dan hampa
berikut suku bunga atas nikmat sesaat
dihari yang telah lewat...
----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/putra fajar.----
----(I) Makassar sapo terulang, Rabu dinihari 21 Nov 2012 . 03.03.--
JANJI KEKASIH
Kekasih,
jarak membentang telah kuperpendek dengan ikhlas
berangsur angsur pasrah,
dalam ruang yang begitu kita kenal
ku paku adaku terikat pada doa yang khusuk darimu..
Meskipun waktu tak sedikitpun mau kompromi,
terus saja melipat saat yang bertumpuk menjadi tahun,
tapi semua pun sudah bisa kuajak berdialog ,
semua pun sudah berdamai
meski rindu terus saja merekah
direlung hati yang menyubur kau siangi.
Kekasih,
bagaimana mesti kutata bahasa cintaku
menyelaraskannya dengan ketulusan putihnya cintamu,
melahirkan ketenangan ,teduh beranda jiwaku...
Meskipun seringkali memberontak, menghentak,
kesabaranmu melebihi luasnya samudra raya,
merangkum damai segala galauku....
Emangnya cuma langit disitu yang dipenuhi rindu,
merimbuni hari hari berlalu,
dilangitku pun pekat dengan kerinduan itu, begitu selamu,
membujuk dan melegakan teriakanku tanpa suara.
Kekasih,
dialog ini harus kubukukan dalam pustaka jiwa,
kita wariskan pada sang muham,
pelanjut asa yang kerap terbilang,
janji kita bersama mewujudkannya...
----oleh Drs Mustahari Sembiring sang muham/ putra fajar.----
----(I) Makassar sapo terulang, Rabu sore 21 Nov 2012.--------
( Serat jiwa buatmu kekasih hatiku, ibu dari anak anakku )
Langganan:
Postingan (Atom)












