RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Jumat, 08 Oktober 2021

Cerita Ringan - CATATAN SEBAIT PUISI Penulis : S Pandi Wijaya


  Selamat malam kekasih
Ini seprai kuning emas
Kusulam dari langit jantung
Tidurlah kekasih
Pada gumpalan busa
Kutumpuk dari purba rindu
........... mimpilah yang indah ........
Pada pelukku yang resah
Pada lelahku yang pasrah
Biar kudekap gundahmu
Biar kulumat gelisahmu

( Your Love " C " )

*****

   " Mata luh merah amat, Son !?" tanya Rina dengan tatapan menyelidik.
" Gua kelilipan, kena angin waktu naek motor, " jawab Sonata sekenanya.

" Bokis luh. Dasar anak sableng, " tukas Rina.

" Kenalin nih temen gua, " sambumgnya sembari menunjuk perempuan di sebelahnya dengan sudut matanya.

" Luh jadi makelar sekarang, Rin !?" seru Sonata bergurau
.
" Sableng luh !" rutuk Rina.

" Ini Sonata, Ra. Anak sableng, " bilangnya pada Ciswi Puspa Sari.

Sonata tau kalau Rina agak kesel, tapi senyum manis teman Rina itu, bikin dia gak peduli. Heehee, dasar sableng.

"Ciswi Puspa Sari, " ujar gadis itu seraya mengulurkan tangannya.

Sonata pun mengulurkan tangannya, tapi ...

"You cann't tought this .... "

" Sableng luh, Son !" seru Rina demi Ciswi terkejut karena Sonata menarik kembali tangannya sambil berkata itu, sebelum Ciswi menyentuh tangannya.

Peduli amat kalo Rina lebih marah, pikir Sonata yang konsen pada pertandingan Volly class metting antara kelasnya II.A3.1 dengan anak kelas II.A2. 
Nyaris kelasnya kalah mendapat perlawanan alot anak-anak kelas IPA itu. Meski menang tipis, tapi gengsi taruhannya. Di final lagi. Dan semacam lap story teman-teman Sonata mengitari lapangan merayakan kemenangan. Diam-diam ada yang ditenggak Sonata dari botol pipih kecil yang diambil dari saku celananya. Tapi Rina terlanjur melihatnya dan melotot padanya.

" Luh jangan maluin gua, Son !" ancam Rina.

" Just a little. Gua konsen kok, " jawab Sonata.

"Luh kenapa, Rin ? Sewot bener, " tanya Arief

"Biasa tuh anak sableng, nenggak, " bilang Rina dengan nada kesal.

"Biarinlah, ntar juga insyaf sendiri, " ujar Arief yang memang tau juga kelakuan Sonata.

" Ini Son, honor luh dari shooting kita kemaren, " Arief menyodori Sonata lima lembar uang sepuluh ribuan.

" Thank's Rief, " sambut Sonata. Lumayan buat beli .........

" Awas luh kalo dipake buat beli botol !" ancam Arief, seperti sudah membaca pikiran Sonata.

Sonata meringis kena skak.

" Son, luh temenin dulu Ciswi. Ajak ngobrol kek. Pokoknya jangan maluin gua, " bilang Rina

" Sini selembar, buat gua beli baso, " ujarnya lagi dengan cepat menyambar selembar uang di tangan Sonata.

Kampreet ....!!! rutuk Sonata cuma bisa memandang Rina berlalu.

Yang bikin kesel bukan karena Rina mengambil uangnya, tapi dia tinggalkan Ciswi begitu saja. Bikin Sonata gatal ga jelas. 
Itu cewek diem aja lagi ditinggal Rina, sesal Sonata. Terpaksa Sonata menemani gadis itu.

" Ee... kamu temannya Rina ?" Sonata terpaksa, kaku membuka percakapan.

Ciswi menjawab dengan anggukan.

" Kamu nunggu Rina ?" tanya Sonata. Dan akhirnya merasa bodoh sendiri dengan pertanyaannya itu.

" Iya, " angguk Ciswi.

" Rina ga bilang mau ke mana ?"

Ciswi menggeleng.


Rina bilang udah lewat malem, nulisnya ntar aja dilanjutkan lagi, heehee ...

*****
   Sonata kebingungan ya ditinggal Rina, pake ninggalin temen ceweknya lagi. Bikin kaku Sonata.

Bingung Sonata mencari bahan pembicaraan. Sesekali mengutuk Rina dalam hati.
Kampret, ke mana tuh anak !? Lama bener lagi perginya, rutuk Sonata.

" Ee, kamu nggak sekolah di sini kan ?" tanya Sonata memecah kebisuan.

" Saya sekolah di SMA Widuri Kebayoran Lama, " jawab Ciswi.

" Jauh juga dari sini. "

" Rina ajak saya ke sini. Bilangnya ada acara class meetting dan kelasnya bertanding di final hari ini, " jelas Ciswi.

" Di sekolah kamu memang ga ada acara seperti ini ?" tanya Sonata.

Ciswi menjawab dengan senyum menggeleng. 
Plong, Sonata merasa lega melihat Rima kembali entah dari mana.

" Gila, sambel si Boim pedes sekali hari ini, " ujar Rina sembari menyeka keringat di dahinya.

" Kamu dari mana, Rin ?" tanya Ciswi menyambut.

" Biasa Cis, " jawab Rina tak jelas, " eh, kamu diapain sama si Sonata ? Anak sableng ini ga macem-macem kan !?" selidiknya lagi.

Ciswi cuma senyum menjawab.

" Ok, besok kamu ke mari lagi kan !?"

" Asal kamu jemput aja, Rin. "

" Sip...!" Rina mengacungkan jempolnya.

" Son, besok siapin lagi jatah gua. Ok !?" ujar gadis itu lagi pada Sonata. 
Sonata tak peduli, tapi dia jadi gerah juga.

" Jatah apaan sih Rin ?" tanya Ciswi.

" Biasalah. Cabut yuk, " bilang Rina tak menjawab pertanyaan Ciswi malah mengajak Ciswi pergi.

Ciswi mengangguk setuju.

" Mari Son, pamit dulu, " ujar gadis itu dengan khas senyum manisnya berpamitan pada Sonata.

Sonata cuma diam seperti tak acuh, cuma memandang Rina dan gadis itu menjauh.


Payahnya, hampir separuh malam Sonata tak bisa tidur. Senyum Ciswi tiba-tiba saja mengusik. Hal yang tidak pernah dirasakannya selama ini. Siang itu di sekolah agak sepi. Segala aktivitas sepertinya mati, padahal di aula sedang mempersiapkan panggung untuk acara kesenian. Pertama untuk lomba di kesenian antar kelas. Puncaknya untuk malam perpisahan atau pelepasan siswa yang berhasil lulus ujian. Payah, mungkin gua yang salah pilih tempat, batin Sonata. Tiba-tiba dirasakannya hal yang selama ini bungkam di hatinya. Ada hal yang bikin gelisah.

Masih teringat Sonata kata-kata sang Embun,

" Tulislah sebaris kalimat bila hatimu gelisah, Sonataku. Jadikan puisi bila kegelisahan itu membuatmu kian resah. "

Kata-kata yang diucapkan Ning, sebelum pergi meninggalkan Sonata. 
Ada rona sendu di mata Sonata. Entah siapa Ning yang mampu membuat anak sableng itu menggenangkan air di pelupuk matanya. Lalu dengan sadar ditulisnya apa yang berkecamuk di hatinya. Tapi setiap terangkai satu kalimat, setiap itu pula dicoretnya lagi. Begitu dan begitu berulang, hingga pada akhirnya selesai juga terangkai beberapa bait.

Sonata tak menyadari bila ada seseorang berdiri di belakangnya. Dan tak sadar juga malam telah larut juga ya. Istirahat dulu ya, biar besok kembali bugar buat beraktivitas. 

Yah, orang itu adalah Ciswi Puspa Sari.
" Sedang buat puisi-kah ... ?" tanya gadis itu menghampiri Sonata.

" Ee ... anu, nggak kok. Cuma iseng aja, " Sonata agak rikuh.

Ciswi cuma senyum melihat sikap Sonata.
" Rina bilang, kamu pinter bikin puisi. Cerpen juga. Rina juga bilang, mading sekolah terasa hambar tanpa goresan kamu, " jelas Ciswi.

" Si Rina ga usah didengerin, " timpal Sonata.

Jangan-jangan tuh kampret ceritain semua tentang gua lagi, batin Sonata.

" Ga usah malu dan disembunyikan bila kita memang punya kemampuan itu, " ujar Ciswi,

" jarang kan orang yang punya kemampuan tapi juga diakui orang, " lanjutnya berujar.

Sonata cuma menarik nafas. Ada makna yang sama seperti yang diucapkan Ning dulu. Sonata pun mengerti maksud ucapan Ciswi. Menatap mata Ciswi sekejap, Sonata membatin; kalo aja lu tau, gua bikin goresan tentang luh, Cis ...
Tapi Sonata cuma menghela nafas panjang.

" Besok ada lomba vokal grup ya ?" tanya Ciswi.

" Yah .... " sahut Sonata sembari melepas pelan nafas panjangnya. Lega karena Ciswi tak lagi mendesakan keingin-tahuannya.

" Orang luar boleh ikut menyaksikan ?"

" Asal tertib dan ga bikin ribut aja. Bebas. "

" Bisa lihat kamu baca puisi dong, " ujar Ciswi antusias.

" Gua dateng aja ga pasti, apalagi buat baca puisi, " sahut Sonata cuek.

" Tapi kelas kamu juga ikut lomba kan ?" tanya Ciswi.

Sonata menjawab dengan anggukan.

Sonata juga tak menyangka kalau Ciswi yang kelihatan pendiam, bisa terus nyerocos bicara. Dan Sonata sesekali mencuri pandang demi melihat senyum gadis itu. Kalo aja lu sadari, kehadiran dan senyum itu udah bikin koyak kalbu gua. Malah rasanya gua sulit buat ngatur nafas, batin Sonata. Dan nyatanya Sonata datang juga menyaksikan acara lomba itu, hanya demi melihat senyum gadis itu lagi.

Dua jenis lomba akan diselenggarakan, vocal grup dan pembacaan puisi. Dan aula yang cukup besar itu riuh oleh keceriaan yang menghiasi gelar perlombaan itu.
Satu per satu kelas menunjukan kebolehannya dalam lomba vokal grup dan puisi itu. Sonata sendiri sepertinya memang tak tertarik pada kedua lomba itu. Alasannya datang cuma satu, untuk melihat senyum Ciswi.

Tapi tiba-tiba ......
" Sonata ... Sonata ... Sonata .... !" seru hampir seisi ruang.

Karuan Sonata celingukan. Si kampret Rina malah menarik lengan Sonata. Dan MC acara dirasa konyol oleh Sonata karena ikut memintanya naik panggung. Sialnya lagi Sonata tidak punya persiapan sama sekali. Dikutuknya MC dan Rina yang konyol, yang membuatnya terpaksa naik panggung dengan kebingungan. Untungnya Sonata ingat yang diselipkan di saku jeans-nya.

" Sebelumnya maaf, puisi ini, tepatnya goresan ini belum punya judul. Mudah-mudahan ada bersedia memberi sarannya, " ujar Sonata sembari berusaha menguasai groginya.

" Son, gua iringin pake gitar yah !?" seru Dedy Rudy Hartono, jagoan gitar clasic.
 

Petikannya pada senar gitar clasic nyaris sempurna.

Tanpa disadarinya mata Sonata mencari-cari satu sosok. Sulit juga dirasakan suaranya keluar.

Ahk, Ciswi di sana, bersebelahan Rina.

Sonata mulai meresapi denting senar yang dipetik Dedy dan mulai membalut jiwanya. Meluncur juga suara dari mulutnya, membacakan yang dia tulis kemarin.
Keresahan ini buat siapa ... ?

Dengan sayap patah
Cinta yang coba kutawarkan

Keresahan ini buatmu, kekasih
Cinta yang kutawarkan padamu
Yang mampu gundahkan malamku
Yang mampu percikan lagi asa

Keresahan ini
Cinta yang kutawarkan padamu
Ingin mendekap pasrahmu
Dengan pelukku yang gerah
Dengan sayap yang juga patah

Ahk, harus kupelajari satu puisi lagi
Harus kurenungi lagi ...
...
Yah, harus direnungi lagi, sebab malam sudah larut. Istirahat dulu. 

*****TAMAT*****

Belajar nulis cerita ringan
Episode Tentang Petualang
CATATAN SEBAIT PUISI
Penulis : S Pandi Wijaya (SPW)
Pandeglang, 04072019
(Catatan Kelana Bodo)




Catatan Kelana Bodo

Aku teman sepimu, nona
Mesti aku benci,
Sebab banyak yang mencibiri
Tapi aku nikmati itu

Aku teman sepimu, nona
Tempat keluhmu, tempat lelahmu luruh
Usai tawari rasa, usai berbagi hati separuh
Tapi, aku nikmati itu

Aku hanya teman sepimu, nona
Yah, aku hanya teman sepimu
Pencatat aksara kusammu
Pendengar cakap kelammu

SPW,
Pandeglang, 28072019



Catatan Kelana Bodo

Maka langitpun menangis
Setelah kuhimpun awan hitamnya
Dan airmatanya biar tenggelamkan aku
Melarungkan jiwaku ke lautan lara

Oi... engkau jangan meragu...
Telah kuikhlaskan kau hapus tentangku
Dari catatan langit jiwamu
Dan pejamkan saja matamu
Saat aku melangkah berlalu

05112018



Catatan Kelana Bodo

Aku dan nyaliku
Jiwa yang tak pernah diam
Sujud pada-Mu
Bukan tersebab takut
Atau karena enggan
Dan bukan karena apa

Aku dan nyaliku
Rapuh dihadap-Mu
Hanya mampu meminta-minta
Atas ridho dan ikhlas-Mu
Dalam setiap hela nafasku
Berserah ditilam sajadah
Pada 2/3 malam berbasuh linangan
Di raka'at tahajud.......

( Nyaliku Tahajud )
~ Bait Kelana Bodo
24102018



Catatan Kelana Bodo

Hhmmm......
Apa yang kau sembunyikan, dinda..
Jangan sembunyikan senyummu

Haahaahaaa, merona merah pipimu
Oi...Oi...dungplak dungdung plak dungdung
Dindaku malu-malu....
Oi..dinda, masih bekas sisa cumbumu semalam

Haahahaaa......
Dindaku sayang...terima kasih....
Karena kau merasa bahagia denganku

( Bahagia-ku )
~ Gurau Kelana Bodo ~
22102018



Catatan Kelana Bodo

Lalu, aku harus bilang apa.....

Memujimu karena aku pemujamu
Oi...Oi...jangan Merajuk
Nanti kau kugaruk...
Sampai kau mabuk

Hahahaaa, sini dinda biar kupeluk
Lebih hangat dari sekedar pepuisiku
Jangan lepas sebelum kau puas....
~ Masih Gurau Kelana Bodo ~

21102018

S PANDI WIJAYA


Prosa - SURAT CINTAKU Karya : Mohammad As'adi



SURAT CINTAKU 1
Dalam Serenada Kelabu


Gunung , perbukitan dan ilalang
Awan beringsut bergelombang
Kabut bertebaran menggenang
Angin membawa serta
Aroma rerumputan rambut ikalmu

Ketika hujan reda
Malam sudah larut
Gigil terasa menghanyut
Yang datang nestapa

Aroma melati menebar dari hutan biru
Cinta mendayung rindu
Aroma melati datang dari segala penjuru
Bunga melati bertebaran di ranjang pengantin

Aku bangkit dari tempat tidur
-dimana engkau kekasihku ?

***
Aroma rerumputan sehabis hujan
Dan angin yang mendesis
Berbayang tawamu
:bawalah aku sekali-kali ke gunung
Katamu

-kau pasti rindu vanda merah muda bukan ?

:vanda merah muda ya vanda merah muda
Saat cintaku bersemi bunga itu hadir selalu
Setiapkali ke gunung, kau selalu bawakan satu
Hingga berpuluh jumlahya

Aroma rerumputan sehabis hujan
Menelisik alur kenangan
Cinta bersemi cinta bermekaran
Tak ada habisnya air mata menggenang
Tak ada habisnya gelak tawa mengembang
Mencintamu adalah bahagia dan nestapa
Karena bersemayam di kalbu
Dan harus ada ketiadaan

-kau jangan pergi
Karena angin acapkali begitu mengigilkan
Katamu seperti tengah merenda ketakutan

Malam sudah demikian larut
Ada sedikit cahaya bulan
Di langit makin berawan
Udara hampa lahir dari sanubariku
Menjelma angin
Menggugurkan satu persatu kelopak melati

:bunga melati bunga pengantin kita

-aku selalu bawakan seperti Vanda yang kau suka

:bunga melati kesucian cinta kita
bawakan aku selalu
Biar malam-malam kita
Selalu di ranjang pengantin
Bunga vanda merah muda
Bawakan aku selalu
Biar ranjang pengantin
Memberikan kelembutan selalu

- Aku selalu bilang padamu bukan ?
Ketika aku ucap janji pengantinku
aku mulai menanam sebutir benih cintaku
barangkali setahun, sepuluh tahun bahkan seribu tahun
kemudian kita menuai sambil menikmati kerentaan
duduk-duduk di setiap ambang senja

Malam demikian larut
Separoh jiwa menggenapkan kesendirian
-Angin jangan kau singkap selimut isteriku
Karena ia akan menggigil

Suamimu
Temanggung, 14 Januari 2020




SURAT CINTAKU 2

Kau datang seperti berjuta embun, ketika hari-hari tak mampu kulewati
Ketika kebimbangan berdiri dipersimpangan jalan. Kau ulurkan tangan, kau ulurkan tangan, membawaku pergi dari masa-masa tenggelam. Batas-batas sepi terlewati bersamamu, menebas kekalutan , kau membawaku dalam biduk, yang tak henti terhempas gelombang, sampai kau berdirikan aku pada tumpuan keberanian, sampai kau menautkan aku pada sebuah tiang pancang untuk melangkah mendekati pelabuhan terakhir.

Tiga puluh enam tahun lalu, kau tebarkan benih-benih kehidupan, bersama cintaku terpaut, melewati batas-batas sunyi yang dulu begitu menakutkan. Kau tak pernah menepi dalam ketakberdayaan, kau tak pernah menepi dari kekalahan-kekalahan.
:Aku tahu kau demikian lelah, dan harus menyerah
Air mata terakhirmu kuhapus dengan kecupan-kecupan
Bersama anak-anak kita
Ketika kelelahan sampai ujung kehidupanmu
:itulah tanda cinta kami melepasmu pulang

Tiga puluh enam tahun lalu, kau seperti pelangi.Di sepanjang jalan kita, menebarkan warna warni di langit. Setiap senja, bayangmu menari-nari selalu, menghiasi angkasa raya bersama bermiliar bintang, suaranya bagai dawai biola anak kita. Liukannya bagai garis-garis estetika dipermukaan kanvas kehidupan anak-anak kita, buah yang jatuh dari pasang surutnya gelombang.

Aku tidak tahu siapakah yang mengutusmu datang padaku? Sebelumnya laut , angin dan gunung tak pernah mengabariku, tapi kau hadir merengkuhku. Kau hadir membuat aku memiliki keberanian mengayuh biduk naik turun di atas pasang surut gelombang. Dan cinta membuat aku tersedu, cinta membuatku jadi pengelana sunyi…ada ketakutan cinta menorehkan sajak-sajak kenangan , menorehkan sajak luka dan kata perpisahan.

: ketakutan memuncak ketika kupandang kedua bola matamu
Sebelum terpejam menggenangkan air mata . Kesedihan ataukah
kau tengah menunjukkan kasihmu pada anak-anak ? Ataukah kau
tengah menujukkan kebahagiaan bertemu dengan kekasih sejatimu?

Pagi ini, sunyi menghadirkanmu. Terasa bertahun tak bersua. Kau datang seperti tiga puluh enam tahun lalu, dengan cahaya mata yang teduh
: hapuslah air matamu
Katamu sambil membelai rambutku, seperti ketika kau belai pada waktu terakhirmu, aku memandangmu tanpa kata, kau membelai tanpa kata. Dingin yang menggigit ruang isolasi membuat aku dan anak-anak kita tak mampu mengucap sepatah kata, huruf alif sekalipun. Dan sebuah episode kehidupan berlaku, kau beringsut beranjak pulang.
Pagi ini aku kembali menulis surat padamu. Tulisan seorang lelaki kisut yang berlumur bayangan-bayangan hitam. Ada aroma melati dan kamboja, harumnya menebar pada sisa-sisa waktu yang terus menelanku.
: kau ajarkan padaku, hidup penuh senyuman dan kau baluri tubuh serta jiwaku dengan doa-doa yang begitu lama tak pernah kubaca. Di padang Arafah kau dekap aku dengan cintamu pada Nya. Harum tubuhmu di ujung hidungku selalu, seperti tengah membuka pintu ruang bercahaya. Disana ada sungai dan buah yang kau tanam setiap pertiga malammu.

-Suamimu- Januari 2020
Temanggung




SURAT CINTAKU 3
Rumah Sunyi


Rumah sunyi tak pernah sunyi karena kehadiran rindu
Kejujuran jejak setiap waktu berdetak menimang kenangan
Wahai perempuan sunyi –kau tengah mendayung dalam penantian
sebuah hari dimana aku juga ada disitu-

Di sebuah dermaga, aku bagai di sebuah dermaga tak berpenghuni
Hanya prasasati-prasasti yang menandai kita pernah bersama
Membacanya, aku seperti mendayung banyak peristiwa di setiap musim
-Aku ingin mengeja hari dengan cintamu, aku ingin menuliskan kalam-kalam
Di semesta, cintaku padamu , cintaku pada setiap orang untuk
menyembuhkan luka jiwa. Musim akan mencatatnya- katamu suatu ketika

Anggun memesona, merajut rindu, kau melepas senja
Dengan wajah menyungging seulas senyum meniti takdir Nya
Kembali kerumahmu. Beristirah panjang
Adakah kesunyian membelenggu rumahmu ?
Disini, rumah kita ada keretakan jiwa lelakimu

Rumah sunyi tak pernah sunyi
Dinding-dindingnya tak henti menyairkan catatan-catatan
Tentang gemercik pancuran setiap pertiga malam
suara percintaan sukma dengan semesta
tentang sedu sedan pengembaraan dalam sunyi
hingga engkau hanyut
hanyut dalam isak serta kata terbata kalam-kalam suci

Cinta mu setiap pertiga malam menjelmakan Rabi'ah al Adawiyah
pada jiwa gemetaran
aku jadi ingat setiap petiga malam di Aziziyah
mununggu penghambaan sempurna kita
kau tak henti…tak henti terbangkan sukma ke padang Arafah
:Jangan bersedih sayang kita akan kembali kesana bersama anak-anak
katamu

Semula aku berharap
semburat merah setiap pagi sebagai pertanda
kehidupan kita masih panjang
Tapi kita harus meniti kenyataan
Sebagai sebuah hakekat
Bahwa kita sebenarnya
Hanyalah-tak lebih sezarrah debu-
Tak mampu menunda
Seperseribu detik sekalipun
Datangnya waktu yang telah ditentukan

Rumah sunyi tak pernah sunyi
Karena ada monumen-monumen yang bicara selalu
-semalam aku teteskan air mata cintaku di altar masjid
La Tahzan..La Tahzan..
aku berdzikir selalu seperti kau minta,
Seperti ketika setiapkali kepalaku menyentuh tubuhmu
Menjelang hari-hari menuju sepi

Aku tak menyangka, genggaman-genggaman erat jemarimu
Menandai sebuah perpisahan panjang
Ketika itu darahmu masih demikian hangat sayang....
setiap huruf yang terucap mengalirkan kehangatan cinta
- kita memang begitu rapuh tapi tak boleh mudah roboh- kataku
Tapi hanya sekejap tarikan nafas terakhirmu
Membuat hatiku tidak berada di tempatnya

(surat ketiga ini aku tulis bukan untuk meratapi kepulanganmu
Namun hanya untuk menandai bahwa rumah kita
Adalah sebuah pelabuhan kecil tempat kita berlabuh sementara
sebelum semua kita tinggalkan menuju pelabuhan abadi-
Rinduku dan anak-anakmu selalu untuk mu)

Suamimu
Temanggung, 8 Januari 2020




SURAT CINTAKU 4

-Kehilangan seseorang
memang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata
Ia adalah dinding kekuatan bagiku
dan anak-anak kami, itulah alasannya
kenapa kami bisa tersenyum-

****

Seperti cahaya kunang-kunang menerabas hujan
Kau datang, suaranya selembut kepak sayap-sayapnya
Cintamu sehalus kabut sehabis hujan
Selembut ketulusan jiwa mengurai kekusutan

Demi melihat kebahagiaan orang-orang yang kita cintai
Cinta bukanlah apa-apa
Cinta adalah perjuangan tak berujung tanpa kelelahan
Ia adalah sepasang mata demikian lembut
Bercahaya mengajarkan harapan-harapan

Dengan keluar dari jasadmu
Kau menemukan kau yang sejati
Meniti hari tanpa kelelahan
Meninggalkan sebuah monumen kecil
Yang bertuliskan banyak hal
Setiapkali aku mengeja
aku berdzikir
Setiapkali berdzikir
Terkuncilah hatiku
Dan kaulah pengunci jiwaku

‘’Aku ingin mengajarkan pada anak-anak
Sebuah kehidupan’’ katamu suatu hari

Rentang waktu
kita dalam rentang waktu yang sama
kau menemukan cintamu bersama Rumi dan Rabi’ah
selaksa beban tertuang dalam hasrat rindumu
tak henti, tak henti menjelmakan waktu
dalam sedu sedan menautkan percintaan semesta

‘’Cintaku padamu karena cintaku pada Nya
kuingin Allah memberikan cinta padaku
bagi yang menyintai Nya
aku selalu minta
cintaku jatuh pada orang yang menyintai Nya
Kau telah memberikan cinta sejatimu padaku dan anak anak kita
Aku hanya berusaha mencari kunci pembuka kebahagiaan
yang kau hantarkan pada kami''

Membaca catatan-catatan cintamu
Semakin dalam perkabungan menikam-nikam
:Ya Rabb, aku alpa memberikannya

Terasa tanganmu mengusap rambutku yang mulai beruban
Kehangatan mengalir keseluruh nadi
kesiaan menjadi berbilang-bilang
Dan aku tertegun diam lepas dari pijakan
Ketika kau mengulang kembali
-membelai rambut dan wajahku
Dalam sebuah tatapan
beberapa menit sebelum perpisahan panjang-

Dan aku tulis surat ini
Saat pagi berselaput kabut dan gigil
Dalam usapan lembut suara ketulusan
Serenada putih kesepian hatiku
ketika fajar lewat

Suamimu
Temanggung, 13 Januari 2020




SURAT CINTAKU 5
Prosa Perkabungan Hati


Daun-daun kembali luruh, ilalang dan rerumputan terisak kehilangan embun aku menjelajah hari-hari pisau, menunggumu di beranda rumah, sepi yang gelisah tak juga menepi. Angin membuka jendela carakwala : Hari ini aku menunggumu, ingin bersamamu berbincang tentang laut dan gunung

-Jangan kau dekap nestapa, jiwamu yang retak kembalilah menguntai keindahan, antara duka, kesenyapan dan rindu— seperti ada suara berdesir di kedua telingaku

‘’Wahai angin dan sepi, jangan pernah menghempaskan aku ke lorong-lorong yang lebih gelap, beri kehangatan aku, dengan kalimat-kalimat mendebarkan- hari-hari makin menusuk hatiku yang ingin menjadi sungai, mengalirkan air dingin, menyanyikan gemercik antara bebatuan dan rerumputan, menebarkan aroma melati dengan kesejukan embun’’

Aku mulai penat, mendamba harapan tak pernah datang. –ah masih saja terdengar gemersik daun-daun luruh, masih terdengar burung-burung mengepakkan sayapnya : pertanda ini kali masih ada kehidupan.

‘’Engkau datang dengan mendekap gigilmu yang pasrah. Terbuai aku dalam mimpiku bersama gunung berkabut musim badai . Ini jiwa telah koyak – Sampaikah bisikku padamu atau lenyap dihempas angin dan lepas mendaki puncak gunung ?

Waktu mesti kita dekap selalu, membawa kita terus menapaki hari yang melaju. Aku tiba-tiba teringat sebuah kalimat yang kau tujukan padaku : Aku ingin membacakan sajak-sajakmu sambil menikmati lukisan-lukisan indahmu. Aku ingin menikmati satu lagu buah renungan anak kita, aku ingin..aku ingin bersamamu, bersama anak-anak kita mengalir dalam kehidupan yang aman dan sentosa.

-Aha …badai datang dari gunung, badai datang dari samodra, badai datang dari semesta, kau bakal terseret ketika luka terus menjadi luka, nestapa jadi nestapa,’’ kembali angin menerkamku dengan kalimat-kalimat sunyiku.


‘’Aku rindu laut, aku rindu gunung dan padang ilalang, aku rindu melewatkan sisa waktu bersama aroma pegunungan, berlarian mengenang masa belia, lalu mengenang masa-masa ketika ranjang pengantin berderit selalu bersama nafas kami menuliskan sajak-sajak cinta’’

- Ini musim badai, bukankah di pelabuhan kecilmu kau telah membangun ketenangan dan hampamu telah kau sirnakan dengan sepasang mata perempuan? Dan perempuanmu telah menepati janji melewatkan waktu menitiskan kehidupan —

‘’ Badai menyeretku ke pusaran tak bermakna, hati yang bergolak tertikam diam. Sisa-sisa masa purba kembali mendidih: kalau saja aku seorang kelasi, aku ingin kembali melaut, berlayar di atas gelombang. Lalu berhenti sejenak di pulau-pulau tak bernama. Mereguk gelisah lalu aku tuangkan dalam sajak-sajak, lalu kuberikan pada semua hati yang gundah’’

- Kau adalah pecundang dan penghianat terbesar, jiwa yang gelisah kau hianati dan ketika ketenangan telah kau genggam dan tergoncang kini kau ingin tinggal pergi pula, –

‘’Aha..badai gunung kau tak mengerti betapa jiwa gelisah adalah nafas dan darah para penyair, ketenangan hanyalah akan memburaikan impian dan menikam waktuku dengan jutaan pisau, ia akan lebih pedih. Dalam jiwa yang goncang ada ketenangan, di dalam jiwa yang goncang ada kepedihan di dalam jiwa yang goncang ada kebahagiaan. Wahai badai gunungku bawa aku pergi…bawa ke benua-benua tak bernama, ini rindu terus bergelayutan…bawalah serta jiwa tersiksaku.’’

-Kau akan kalah-

‘’Sebelum menapaki jalan menuju kemenangan dan mencapai puncak kemenangan, gelisah adalah jalan yang harus kutempuh. Ia akan merobek, Ia akan menikam dan ia pula yang akan memberikan seorang nakhoda bagiku buat melaut untuk melawan engkau….’’

-Jiwa mu telah pecah, itu adalah impian seorang kelasi yang tak lagi punya harapan, mimpimu akan karam, perahumu akan kandas,—

‘’Lihat wajahku yang penuh bilur, raba dadaku yang terus berdegup,itu adalah lukaku, aku siap arungi samodra.’’

-Aku siap habisi kau dengan derita—

Angin semilir, membuyarkan kedatangan badai gunung sore ini. Ah.. engkau datang, engkau datang dengan kata yang menyeretku untuk kembali melayari lautan tak bersuara: impian menyeretku makin jauh ke ceruk paling dalam.-Dimana engkau wahai kekasih hatiku? Di lautankah, di gunung atau di ceruk hatiku ?

(tulisan ini sebagai surat cintaku yang kesekian kalinya untukmu. Semoga engkau bahagia bersama kekasih hatimu sayang )

Suamimu
Temanggung, 15 Januari 2020




SURAT CINTAKU 6
Mendayung Doa-doa


Berkali-kali aku baca , berkali-kali aku baca
Arrahman, Alkahfi , Yasin dan attaubah
pagi dan malam
Di ranjang pengantin kita di ruang senyap
Lalu susul menyusul : Alfatihah

Berpuluh, beratus kali
Dalam air mata berharap
dalam remasan jari jemari mu
dalam tatapanmu yang menikam selalu
hingga terucap doa
-Allaahummaghfirlahaa, warhamhaa, wa ‘aafihaa, wa’fu ‘anhaa,…-

Surat terakhir kubaca di hari perkabungan selepas subuh
: Arrahman
Setiap membaca fa bi`ayyi ala`i rabbikuma tukadziban
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Berulang kehangatan seperti sungai mengaliri wajahku
Dan jatuh di tubuh lemahmu
-kau tahu, hatiku tak lagi di tempatku
Ingin rasanya jiwaku bersatu dengan jiwamu
Mengarungi samodra keindahan
Bersama yang maha pengasih
Bertahun ada kehidupan bersama cinta, rindu, dan bahagia
Lalu nikmat yang mana lagi yang bisa aku dustakan ?
Tapi redup matamu yang hendak segera melepas lelahmu
membuat seluruh nadi dan jiwaku berkunang-kunang
ketakberdayaanku menggenang
Pada detik-detik jelang keberangkatan
terlepas bersama berakhirnya tarikan nafasmu
Ya ..ya kita adalah tanah kering seperti tembikar
dan harus kembali ke tanah dan ruh kembali keasalnya

Duduk merenung bertapa menuangkan selaksa rasa
Ini hari penuh kata sajak terpanjang cinta penyair
Perih terkurung jiwamu yang lebih kuat dari jeruji besi
Dan sebagai penghalang keangkuhanku
Untuk meninggalkanmu

Mendayung doa-doa
seperti ketika kita
duduk bersanding jiwa
Di bawah matahari sore Arafah
Kita saling berkata dan mengaca diri
: kau tuntun aku membaca baris-baris
doa sepanjang sore itu
jiwaku seperti kau peluk dalam jiwamu
tak tertahankan berbutir air mata jatuh

-banyak hal bisa kita tahankan,
Tapi di tanah haram segalanya tumpah
Mengalir bersama berjuta jiwa pasrah
di Padang berbatu
lalu menyusur Muzdalifah
Mina hingga Masjidil Haram
Seperti yang lain
tak henti mengalirkan puisi-puisi cinta
Penuh harap dan kerinduan
Berarak dengan tubuh hanya berbalut ihram
Lalu kau genggam jiwaku
Berayun pada beribu kenangan

Jiwa kami terus berpelukan
kami menakar dan menimbang
Lalu mendayung doa-doa
: Ya Raab sucikan kembali kami

Mendayung doa-doa
Jiwa menjelma jadi ruang tak berpenghuni
Ya Raab….katakan sekali lagi
: fa bi`ayyi ala`i rabbikuma tukadziban

(suratku akan terus mengalir sayang
Kusimpan dalam diamku
Kusimpan di luasnya cakrawala
Dan di hati anak-anak kita )

Temanggung, 15 Januari 2020
Suamimu




SURAT CINTAKU 7
Rumah Kita


(Jangan menangis, Aduhai kenapa pergi! Dalam pemakamanku bagiku, ini lah pertemuan yang bahagia!)
-Jalaluddin Rumi –


Rumah kita pada bukit-bukit, ada sungai-sungai
Di hadapannya hijauan dan bebatuan menjulang
Demikian lama kita merenda benang-benang percintaan
Demikian lama kita melayari kehangatan
:tak kusangka mendadak dinding –dinding rumah kita terluka
Tiang-tiangnya jadi rapuh. Hilang separoh jiwa
Menggigil tak henti-henti

Rumah kita, hamparan karpet dan lukisan-lukisan
Pada setiap hujan yang runtuh, jelmakan riuh sunyi
Bersaksi atas nama perkabungan
Senyumanmu kau susun bertahun
Dalam bongkahan bongkahan embun
Sebelum siang mencuri rindu dari lukaku

:ijinkan sayang ijinkan hati dalam perkabungan
Rumah kita bersaksi dalam setiap bayangan
Rumah kita adalah huruf-huruf kelu
menghabiskan waktuku
Menghamba pada kehampaan absolut
Seperti tinggal dalam buaian pekatnya mendung
menanti hujan menjadi derai air mata

-Ya Rahman....Ya Rahim....pancarkan mata air. Ya Latif...Ya Latif......hembuskan angin lembut melalui lembah-lembah dan bukit-bukit bersama harumnya bunga rumput dan aroma dedaunan.-

--Apa yang kau urai dengan air matamu? Apa yang kau gantang dengan kepedihanmu? – katamu dalam bayangan kabut pagi

:Disini ada ngungun berkepanjangan, hujan seperti air mata
gunung yang mengiliri sungai-sungai, aku ingin hanyut
bersamanya
Hanyut sampai lautan, berdebur bersama ombak dan angin
Mengejarmu, menyeret dan membawa pergi jauh

--Kau masih saja membuat retak hidupmu tenggelam, kau masih saja berlumuran kerinduan mengurai gumpalan-gumpalan kabut. Tidurlah dengan sapuan semilir angin, hangat dalam pelukanku, aku selalu di sisimu di ranjang pengantin kita …aku masih ada di sisimu sayang –katamu melalui kisi-kisi jendela

Pada senyap rumah kita yang tak mau pergi
senja selalu memburuku dengan gelap dan gigil.
Aku tak mampu menepi
Inilah tempatku membuang sauh.
Unggun di rumah kita- tertimbun sajak
Perlahan api padam bersama luruhnya daun
Sepertinya aku mulai kedinginan
Matahari selalu demikian cepat meninggalkan senja
Rumah kita jadi persembunyian perkabungan panjang
-ijinkan aku terus tinggal sementara disini
Sampai tiba waktunya berkemas untuk pulang
Dan menunggu anak-anak menyapa rinduku

Rumah kita senjakala waktu
entah terbang kemana,entah terbang kemana
aku tersesat tak dapat mengepakkan sayap
Lalu terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan
Tidak ! aku tidak segera lari dari kepahitan
Hanya ingin melepas ketaksadaran diri
kemudian membiarkan keindahan Nya menjelma
dalam seluruh waktuku sambil mencari jalan
untuk berlutut mencium selalu gamis Nya-

(tak henti surat-surat cintaku mengalir
Padamu…hanya padamu )

Suamimu
Temanggung, 16 Januari 2020




SURAT CINTAKU 8
Terpatah-Patah Sayapku


Pada sebuah pagi, di depan mihrab
Di rakaat kedua
Suara imam tua membuat dadaku bergetar:
Alhaakumut takatzur…… khatta zurtumul maqaabir

-Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
sampai kamu masuk ke dalam kubur-

Hingga akhir kalam jiwaku terseok
Dalam rukuk dan sujud
Hingga akhir rakaat
Tak juga kudapat puisi
Tak juga kudapat diriku
Di sisa embun hanya kata-kata menyebar
Ingin kutangkap huruf-huruf
Dan menjadikan sebuah kisah

Pada subuh kesekian kalinya,
aku terbata-bata
Pada subuh kesekian kalinya
Engkau patahkan sayapku satu persatu
Untuk kesekian kalinya aku takzimkan jiwa ku
Air mataku adalah kesumatku
pada hati yang selalu merasa terkoyak

-Jiwaku tak henti-henti teremas….Ya Rabb ….ya Rabb…..hentikan ketakberdayaanku dengan bergumpal-gumpal rindu
rindu menghamba, rindu memahami kata-kata Mu
rindu memahami apa yang tengah Engkau berlakukan pada sisa waktuku—

Setiap subuh, aku selalu mengais harapan
Di hadapan Mu kadang air mataku, menderas seperti ketika aku bertamu
Di rumah Mu, di Arafah dan Mina
Pada setiap pagi selepas semburat merah matahari
Sepasang mata yang menghiasi seraut wajah
Untuk kesekian kali menghujam jantungku
:Engkau kekasih hatiku, api yang selalu menyalakan lentera
Menerangi setiap kali kegelapan menyelimuti jiwaku
Engkau kekasih hatiku yang tak henti menggantikan
sayap-sayapku yang patah.
Engkau kekasih hatiku yang tak henti menaburkan embun,
bagai beribu syair para pujangga, mengisi jiwa semesta
Engkau kekasih hatiku yang selalu merebahkan aku
Meniupkan angin gunung, menggerakkan bunga-bunga
dan membawa semerbak wanginya ke seluruh semesta
Membangunkan raga yang makin tak berjiwa
Engkau mengajarkan aku tentang hidup sederhana
Dan cinta bersahaja

Setiap selepas dhuha
Sunyi terasa menyayat
Seperti Dhuha terakhirmu
Sebelum kau menuju pergulatan
Antara ingin melepas kerinduanmu pada Nya
Dan tetap tinggal bersama ku dan anak-anak
-- Aku menyintaimu sayang
Aku sediakan satu ruang kosong untukmu
untuk duduk-duduk bersamaku
Ketika rindu memuncak-

Kudengar lagi bisikmu yang acapkali mematahkan sayap-sayapku
: Cintai aku jangan melebihi cintamu pada Nya
Hidup jangan melebihi takaran
Alhaakumut takatzur… khatta zurtumul maqaabir
Kau mengingatkanku berkali-kali

Suamimu
Temanggung, 20 januari 2020




SURAT CINTAKU 9
Dendang Asmara


1.
-Kutulis surat ini sambil rebahkan jiwa berserah
Kutulis surat karena suatu hari
Kau pernah bilang ingin membacakan sajak-sajakku-

Kubiarkan angin dan cahaya memilikimu
Kubiarkan semesta mendekapmu
Gelisah membuncah, menjelma larut malam
: Kau adalah sunyi hatiku
Kau adalah getaran jiwa semesta dan nyanyian rindu ku

Kutulis surat ini sambil kutikam sunyiku
Kubiarkan angin dan cahaya menjamahmu
: Kau adalah dukaku dalam nyanyian cinta yang panjang
Kau adalah nafasku dan urat nadi semestaku
Kau adalah penggetar langit dan bumi ketika kuucap janji
--pernikahan agung—

Kutulis surat ini ketika sunyi kembali menyergap
: Kau adalah rumah tinggalku yang memesona
Kau adalah tautan retak jiwa dan batinku
Kau adalah air mataku dalam tautan janji
Dan kau adalah samodra puisi

Kutulis surat ini
Karena kau dan aku tertaut dalam sebuah perjanjian suci
: Kau adalah kehidupan semerbak
Membawa tinggal di rumah impian
Berdendang asmara
lewat remang dan cahaya bulan yang alpa waktu
kita persembahkan cinta kita di atas altar berbalut sutera

****

2.

Di antara batu-batu hening
Seberkas sinar menembus rimbun dedaunan
Karena angin bercakap
Kemudian jatuh sehelai demi sehelai
Cahayapun pecah, -dimana kita ?-

Pada kuncup mawar, masih tersisa embun
Daun-daunnya kadang bergetar
: Kau dengarkah tetes embun jatuh
menyentuh rerumputan wahai engkau yang terkasih?
ia begitu lembut, selembut nafasku
yang meniupkan butir-butir puisi —

Awan dan langit setiap pagi
Seperti tak ada yang berkata-kata
Terasa begitu menggigit
Ruang-ruang kosong, angin pun mendadak membisu
Rintihan hati mengalir
Mendesak dada gemetar
: Kusampaikan desah laraku dengan lirih
agar engkau tak lagi mendengar
sampai alpa waktu dan kulupakan wajahku

*****

3.

Dengan mata remangku
Kusapu birunya langit
Paruh gagak menegak
Menikam matahari

Sejuta luka
Menguras beningnya cakrawala
--kenapa kau masih saja bersedih ?—
kata angin berdesir

:berderet kata kusempurnakan
Sebagai sajak terpanjangku
Untuk mewartakan
Bening cinta kepada semesta
Terbang kelangit tinggi

biarkan sajak-sajakku berburu kunang kunang
Di malam-malam ku tak bersuara
Untuknya kupersembahkan
Cahaya-cahaya kecil
Agar melihat wajahnya selalu

Dengan mata remangku
Kuhela angin untuk menepikan samodra kabut
: Ketika cahaya bersemburat
Tampak puing-puing berserak
Bersama kekalutan begitu mendebarkan

--baluri nestapa dengan ketetapan yang berlaku
Kau telah melewati rentang waktu
Bersama ukiran-ukiran berkisah
Tentang sebuah persekutuan suci-
Katamu sambil pergi meninggalkan gigil

****

4.

Setiap aku pulang dan menutup pintu
Mengemas cintaku yang melaut
Kusimpan rapat sambil menunggu waktu
Dalam kebimbangan mendekap hari beku

Lelah mataku menggenggam hati
:ah aku sempat pergi
Bersama jiwa runtuh
menebang cintaku
Dengan mimpi awan berarak
Angin lembut dan kebun bunga

Setiap aku pulang dan menutup pintu rapat-rapat
Di luar, seperti ada suara kaki-kaki terayun
Menapaki beranda menjelma bayangan sosok tak pernah lelah

Bersama suara daun bergesekan menebarkan penat
bayangan itu seperti masih enggan meninggalkan mimpinya
Ingin menyebrangi tepi-tepi waktunya
mengikuti jejak-jejak hati tertinggal


Setiap aku pulang dan menutup pintu
bersama daun jambu bercakap bisu
hanyut aku…hanyut dalam waktu
tak tahu kemana harus berlabuh
merebahkan kepasrahan atas keinginan menggapai hati
-Masihkah aku hanya debu tersapu angin
Sambil menghirup aroma cinta yang pergi ?-

Aku pulang dan menutup pintu
Berkata-kata sendiri
‘’Kususuri jalanku di bawah langit tak bertepi
Menapakkan telapak kaki yang pecah di atas bongkahan batu tersengat
Berdiri dibibir jurang, menatap matahari mengepakkan sayap
terbang bersama Icarus mengitari dinding matahari,
lalu membiarkan tubuh terbakar, jatuh berkeping dan sunyi…
---Bawalah aku terbang, bawalah aku pergi,
kan kubakar jiwa dan batinku di jalan paling sunyi—

Aku bersama daun jambu yang bisu
Menutup pintu
Menepi dari lintasan waktu
: hanya engkau
Yang ingin kuteguk
Hanya engkau
Aku menuggu dibalik pintu selalu

****

5.

Memang, ketika kita terjerat dalam ketiak sepasukan diam
Tak lagi mengerti –Kenapa sekelebat cahaya menjelma pisau
Berkilat dan menikam-nikam cakrawala-

Ketika senyumanmu hadir lagi
aku seperti tak mampu bangkit
Mewartakan gegap gempita hati lusuh
Lalu menghunus lembing tembaga

Lambung malam-malamku berdarah
membasah luka tak kunjung mengering
jiwa resah,gempita rindu makin tak bertuan
:kaulah sunyiku mengembang
kaulah rebana nestapaku tembang

****

6.

Sudah kututup pintu
Tapi kau selalu datang mengendap-endap
Tangan kananmu membawa sekelebat cahaya

Salam tabik kuucap
kau mau menemaniku lagi ?

Sunyi yang begitu pendiam
Mengantarku sampai hari samar
Menari dalam keterasingan pengelana
Untuk meneguk cinta memar

Rindu ketenangan yang senyap:
Cintaku terukir di batang duri-duri mawar
Setiap saat membuat jemariku berdarah

Cintaku terukir diurat-urat daun
Setiapkali tersiram embun
Menebarkan kehalusan dan keharuman semesta

Cintaku sekelebat bayang
Mengeja luka di arsy yang bergetar
Ketika musim cintaku bersemi
Kembali memaknai
Sekalimat janji ketika benih pertamakali kutabur

Rindu seperti makin menepikan
Nafas dan binar mataku dalam pencarian
Dimana aku mesti menunggu ?

Semilir angin mendung
Bergelayut selalu
di pundakku yang kelu
: Ya rabb…hatiku masih menangis

****
7.

Nestapamu ingin kurengkuh hari ini dengan nestapaku
Sambil mengenang ketika pertamakali kutaburkan benih
Mengawali perjalanan cinta kita yang haru

Waktu dan musim, menggerakkan jiwa
Mendebarkan dalam nyanyian petaka, kesumat dan cinta yang meronta
Diantara sungai-sungai yang mengalir ditubuh kita
Sejuta nafas nista kita, adalah nadi kehidupan

Ketidakpercayaan adalah masa bergerak
Menuju kesiaan abadi,
Hati yang batu adalah kematian sempurna
Menggoreskan luka di atas kanvas kebencian

Nestapamu….
Nestapamu adalah tangisku
Meliukkan resahku
Air matamu adalah debaran cinta yang tersia

Nestapaku…
Nestapaku adalah belati
Yang menusuk gelisah cintaku
Yang tersiakan menjadi sunyi

Hari ini kuarungi samodra luasku
Bersama cintaku bergerak
Di belantara wajahmu
Untuk merengkuh nestapamu

Waktu telah mencabik jiwaku –wahai istriku-
Mengalirlah dalam darahku, cintamu yang tersiakan
Menikam dalam keputusasaan menepati janji
: meliuk-liuklah aku dalam ruang penuh prahara
-pesonamu wahai, belahan jiwaku tebarkan anginmu-

Kalau aku berkaca, maka berkaca-kacalah batinku
Kalau aku berkata, maka berkata-katalah rekahan hati
Dengan bulir-bulir berkilau terus mengalir diantara dua alis matamu
: Aku seperti terkapar dalam genangan air matamu
Dalam nestapaku yang makin tak tertahan
Menghina diriku sendiri

Kali ini, kutatap lagi cakrawala luasku
ada suara memanggil-manggilku
Sayup, sesayup kerinduanku rebah di dadamu
Aku rindu padamu.

*
Suamimu
Temanggung, 23 januari 2020




SURAT CINTAKU 10
Prosa Perkabungan Hati 2


Pilihan adalah sebuah tanggung jawab, seperti ketika aku memutuskan memilih ibu dari anak-anakku, seperti ketika aku memilih keindahan menjadi jalan hidupku, seperti ketika aku memilih kegelisahan menjadi jalan untuk meraih impianku, seperti ketika aku memilih penderitaan untuk meraih kebahagiaanku.

Anak-anak kita telah memilih sebuah lorong dan memegang kunci untuk membuka pintu-pintu keindahan. Mereka telah memilih kehidupannya sendiri, dengan sebuah pilihan yang menjadi impian mereka. – Aha, malam-malam begini nyanyian mulut mungil anak-anak kita masih saja terdengar menyisir lapisan hati. Impian mereka melambung jauh menembus batas cakrawala tak henti, singgah di bintang yang satu ke bintang lainnya. Ketika menukik, suara-suara itu bermain dengan aroma bunga dan rerumputan

Nyanyian mulut mungil anak-anak kita, menembus hati dan jiwa menjelma menjadi kerisauan, sebab ketika nyanyian menjadi dewasa betapa mimpi-mimpi itu terasa seperti pisau, menyayat dengan keinginan untuk selalu berjumpa.

Seperti baru kemarin, anak pertama kita, setiap sore musim pancaroba mengajakku mengejar kupu-kupu kuning , menjaringnya lalu ia berlari-lari sambil berteriak –teriak menghampiri ibunya “ Ibu-ibu aku dapat..aku dapat !’’

Lalu memberikan satu ekor dan meminta dibuatkan sebuah sangkar kecil dari ruatan bambu untuk menyimpannya “ tolong simpan supaya aku setiap hari bisa menggambarnya, aku akan tangkap lagi bersama ayah …’’ Begitu hampir setiap pagi di musim kupu-kupu.

Anak kedua kita selalu tak mau diam, ia seperti seekor tupai berekor panjang. Selalu berlarian kesana kemari, melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Impiannya beterbangan ‘’ Aku ingin langit biru selalu, aku ingin langit menjadi bagian hidupku..aku ingin melukis wajah ibu disana ..agar supaya selalu terkenang’’ katanya sambil berayun di pundak ku

Dan bidadari kecil kita, bernyanyi selalu, menari sambil mengedip-ngedipkan kedua bola matanya seperti kedua bola matamu yang bersinar terang. Ia tak henti berdendang ‘’ aku ingin terbang kemana-mana, mengarungi samodra singgah dari benua satu ke benua yang lain. Hidup itu indah bukan ? Aku ingin memetik dawainya satu persatu, akan kubuat sebuah komposisi persembahan bagi ibu, ayah dan kehidupan ‘’

Begitulah ihwal kerinduanku menghentak selalu, kerinduan padamu dan anak-anak kita. ‘’Mereka mulai dewasa, kelapak sayapnya mulai kuat menembus badai dan cakrawala- katamu suatu hari menikam jantungku.

Ya..mereka mulai dewasa, mereka adalah buah yang jatuh dari kasih ibu. Kau selalu membacakan cerita setiap jelang tidur mereka, kau mengajarkan membaca alif dan seterusnya, Kau membangun impian anak-anak dengan bahasa keindahan. Kau membangun jiwa dengan keyakinan : Hidup tak boleh diam, hidup tak boleh mudah kalah.Bukankah kita lahir dari sebuah ketakberdayaan ? Dan ketakberdayaan itu tak boleh jadi sebuah dinding yang mengurung kita.

Perbicangan itu sudah begitu lama, kini menjelma ngungun yang menyergap.Perbincangan itu menjalin kekuatan bagiku dan anak-anakku. Kau seperti ibuku, bermata embun, seperti puisi penyejuk hati.

--Mereka seperti kita, milik dirinya sendiri dan semesta. Sama seperti kita, tak ada kepemilikan sejati atas segala rupa, sama seperti kita , kelak akan tersayat kerinduan – katamu
--Akan sepedih luka tersayatkah atau sesunyi puncak gunung mati ?-
--Tak ada kepedihan sepedih kalau kita meratapi kepedihan, tak ada kesunyian sesunyi ketika kita tengelam dalam kesunyian- katamu

-Ah !- Aku hanya berdesah –itu kata-katamu bertahun lalu, kata-katamu saat kita dalam sebuah perjalanan penuh goncangan. Ketika perahu kita acapkali terayun ombak. Kata-kata itu kini menusuk-nusuk malamku- ya tak ada kepedihan sepedih ketika kita meratapi kepedihan dan kau mengatakan anak-anak bakal seperti kita, suatu hari tersayat kerinduan-

Ya ya ..aku tahu , aku paham hari ini, Biar kesedihan dalam kesenyapan, biar kepahitan dalam kesenyapan...kuberikan segalanya pada kehidupan ini, isteri dan anak-anak, tak ada yang kuminta, demikian pula dengan kematian. Mereka begitu saja hadir untukku, untuk kita semua. ,

Letih terus bergelayut, antara separoh bayang rembulan. Rindu seperti ini, terus berulang pada setiap risik daun yang jatuh tak kenal musim- -kapan anak-anak pulang menjengukmu ?-

Dari kejauhan, suara kalam-kalam merayap, seperti suaramu yang tersimpan di reranting dan dedaunan kembali menggetarkan semesta : Aku begitu mengenalnya, aku begitu mengenalnya- itu adalah pertiga malammu yang selalu kau jaga.
-aku mulai ingin tersenyum sekaligus menitiskan sisa api, untuk kunyalakan kembali mengikuti irama jejak langkah jiwa bercahaya. Jiwa yang tak pernah sunyi menjalin asmara dengan raabnya.

Dalam sepi yang ngungun, kucari alam bakaku yang makin bergelayutan. Setiapkali kutatap sepasang mata mu lewat lukisan anak kita, desiran selalu menapaki seluruh nadi , aku bilang : betapa tak ada yang bisa kita miliki, kecuali hati yang terus dirundung rindu dan aku harus menunggu

Biar kesenyapan dalam kepedihan, menapaki gurat-gurat wajah kita
Tangis dan bahagia menyungai, adalah hak semesta untuk menggurui kita dan berkata : berjalanlah setapak demi setapak supaya sampai dengan rajutan-rajutan kesejatian, lalu menggumpal dalam genggaman semesta hakekat menikam jantung dengan cinta dan kerinduan yang mendebarkan

Suamimu
Temanggung, 24 Januari 2020




SURAT CINTAKU 11
Prosa Perkabungan Hati 3


‘’La Tahzan Innallaha Ma'ana..’’

Bau tanah menyengat setelah hujan tadi siang. Segundukan tanah basah menggenang tenang sebuah nyanyian tanpa kata. Tak ada sisa tebaran bunga, karena kau memang ingin tak ada tabur bunga di atas kuburmu, kau tak ingin ada segala upacara menghantarmu pulang : Doa anak-anak yang selalu kurindukan dan cintamu menjadi selimut hangat untuk menahan gigil, katamu

-Kesendirian ini telah tercipta, ia meneguk rasa kasihku. Hanya berbatas jubah tipis antara ada dan tiada. Kesendirian merenggutku kembali, lalu melontarkan pada kedalaman sebuah keinginan. Aku ingin berbincang berlama –lama denganmu-Barangkali tentang anak-anak kita, atau tentang keterbengkelaian waktu atau tentang impian-impian sebelum mengakhiri perjalanan semu kita –

Lelah, membuatku sirna dalam ruang kelabu, ingin rasanya selalu bergelayut padamu, membuang kenangan . Musim Hujan kali ini, seperti mengguyur kekeringan hati atas kalimat-kalimat yang belum terucap. Akan jadikah badai puisi, mengalirkan sungai kata yang hanya terungkap hati ?

:La Tahzan, Innallaha Ma'ana.. kau berkali-kali mengatakan itu, kau berkali-kali membisikkannya setiap kali kita berbincang sebuah perpisahan.

-Aku tahu …aku tahu, kita tidak pernah sendirian. Kalaupun ada tetes-tetes air mengaliri kedua pipiku, hanya sebagai ungkapan sendu untuk membongkar rahasia yang selalu dikumandangkan sunyi. Sunyi yang menyatukan ruhku dengan ruhmu dalam satu naungan kekuasaan semesta.-

Kegelisahan, kepenatan dan ketakberdayaan, adalah bahasa terindah untuk mengungkapkan sebuah kesadaran, betapa kita sesungguhnya tiada, ada kembali tiada. Sebagai hakikat keberadaan kita, sejatinya kita selalu ada bersama Nya.

Aku tak kan lagi mengucap kata cinta yang bermakna perjalanan berbilur,atau ia melahirkan sebuah kesedihan. ia begitu menggetarkan, waktunya terus menarikan tarian sebuah persekutuan antara sedih dan bahagia, antara pertemuan dan perpisahan. Adalah waktu yang terus menandai tarian dan getaran jiwaku – hanya untukmu dan anak-anak kita-

Karena cinta, kegelapan yang semula menakutkan menjelma bintang gemintang.Kau disini, di tempat asal kejadian, menyandarkan perahu, beristirah dalam diam . Setiap ada rindu menjelma cahaya sepurnama sepasang mata anak perempuan kita yang berbinar ingin terbang keangkasa raya – anak-anak menggamit kita dalam kesadaran berpelukan dalam persekutuan jiwa yang terus mengatakan : hati adalah segalanya, sunyi sebagai bahasa terdalam untuk selalu menggamitmu dalam diam.

Hujan yang nyaris tiada henti kali ini, menggores-nggoreskan sajak mengiris diatas makam. Seperti sebuah senandung menyusuri bayang-bayang. Suara gelisah tak menemukan jalan pulang.

Betapa kebahagiaan mencintaimu seperti sejuta kunang-kunang menari menerangi kegelapan, diantara dahan dan dedaunan yang melambai-lambaikan tangan. Karena kebahagiaan menyintaimu segenap hasrat mempertemukanku dengan risau : La tahzan…… La tahzan ! katamu

-Tidak…aku tidak bersedih karena sebuah kematian, air mataku hanya
Menandai ada kerapuhan yang harus dipahami sebagai sebuah ketentuan
untuk menyadarkan ada sebuah kekuatan tertinggi, yang setiap orang tak
mampu menghalangi-

Kita telah begitu banyak meneguk liur kehidupan
Diantara gemertak jiwa-jiwa berpetualang,
Dan kita menyisipkan Impian dan harapan pada jalan setapak
Dan kita banyak temukan air mata tercecer
Dan kita selalu bertanya kapan bisa beristirah
Merenda desau angin lirih
Dan dinginnya embun
Lalu kita berdekapan
Dengan ketenangan
Setenang malam tahajjud?
Kau telah menemukan pelabuhan terakhirmu

Hujan yang nyaris tak pernah berhenti kali ini
Di atas makam kembali mengiris,
menjelma selempeng pisau
Mengendap-endap lalu mengintai selalu-aku tak ingin berlari
Aku ingin merasakan sakit, oleh sebab sakit memberikan ruang
untuk bercermin , kemudian mematut-matut diri sampai waktuku tiba
kembali berdampingan dalam keabadian.

Melihat kau bersama angin melambai-lambaikan tangan, jiwaku menyisir urat nadimu, dengan asmara yang begitu dalam
Dan angin yang berhembus selalu. Menandai detak-detak kehidupan masih belum berhenti -Aku disini mengenang semua kesepian dan gumpalan-gumpalan asa-

Aku hanya pandai bersajak, huruf demi huruf, adalah denyut kehidupan. Ada kekuatan, keberanian dan kepasrahan, ada sakit, risau dan harapan-harapan, untuk kehidupan anak-anak kita sebagai jalan menuju hari yang kau impikan
-Teguklah senyap dari sajak-sajakku
Oleh sebab, nafasku, mimpi dan harapan-harapan itu
Bergelayutan selalu di setiap kalam
Yang bertebaran di mega-mega
Kalam yang kutulis dengan tegakan huruf-huruf lelah
dengan kerisauan asmara dan rindu mendendam
Karena begitulah ketika aku menyintai kamu

Cakrawala yang telah menegakkan dan meruntuhkan kita
Kembali menaburkan kalam senandungku, di atas makam ini
Hatiku angin, hampa menebar sukma. Dan sukma merayap. Merayap dan lenyap. Hanya bibir ku yang gemetar mengucap kalam dalam bisu menikam !

Suamimu
Temanggung, 26 Januari 2020


Prosa -
SURAT CINTAKU
Karya : Mohammad As'adi

MOHAMMAD
AS'ADI


Rabu, 06 Oktober 2021

TEMBANG KATA TATI KARTINI



EMIMA

- Tuhan, aku baik-baik saja
Dalam luka jiwa ragaku
Masih kurasakan hangat peluk kasih-Mu
Engkau yang mencipta segala rasa
Maha Sempurna

- Berhijrah di moment paling indah
Di bulan paling mulia Ramadhan
Mari mulai gunakan busana-busana muslimah Untuk menyambutnya.

- Berkumpul bersama orang-orang yang baik Serasa berada di syurga bersama para bidadari

- Tak ada suara seindah lantunan ayat Al-Qur'an
Indah, menenangkan.

- Jangan tersesat meski sendiri
Teruslah berjalan menuju surgaNya.

- Nuansa pagi di Kintamani.
Tertutup embun bak kapas terapung

- Dalam lelahku bertahan memasung rasa demi cinta.

- Rinai senja mengguris kalbu, bangkitan luka lama.

- Bagiku Engkaulah cahaya, tiadaMu adalah gulita.

- Ketaatan akan terlihat di saat bersendirian.

- Menepis angan, hadirkan kenyataan .

- Rindu yang tabu adalah merindu kepada selainMu.

- Kesedihan tiada akhir, pergimu buatku tak berdaya.

- Bukan hal mudah mengukur keinginan orang.
kecuali sudah sejiwa.

- Tekad kuat, motivasi pemicu semangat keinginan terpendam.

- Ketaatan terlihat bagaimana lakumu tatkala kau sendirian.

- Indahnya kehidupan seindah hiasan ruang hatimu.

- "Astaghfirullah."
Sudah ditutup rapat, masih diambil juga ikanku.
"Iyalah Mah, kucing kan lebih pintar."
Sahut anakku.

- Cinta tak bersambut rasa, kutahan demimu juita.

- Kalau tak suka jangan paksakan.
Biarkan semua mengalir apa adanya.
Tanpa rekayasa

- Kalau tak mau dicubit, janganlah
mencubit.

- Sebaik-baik penyesalan adalah taubat
dan tidak mengulanginya.

- Alunan suara tilawah murotal sejuk kan
jiwa.

- Cerita hidup takkan terhapuskan
Abadi hingga tiba hisab Illahi nanti

- Terkadang salah langkah
Tak jarang salah ucap
Permata kau campak
Sampah kau jilat.

Jakarta, 3 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Setiap sesuatu sudah ada takdirnya.
Begitupun pertemuan dan perpisahan.
Seseorang mungkin saja hadir sekedar mampir
Atau untuk bersama selamanya
So, biasa sajalah....

Jakarta 23 November 2019
By Tati Kartini


EMIMA

Lega melepas beban rasa
Yang sekian lama menghimpit dada
Maaf ya, bukan aku tega
Aku memang tak cinta

Jakarta, 4 Desember 2019

EMIMA

Maaf harus aku akhiri
Tak ingin lebih jauh sakit hati
Aku mohon undur diri
Melepas ikatan pribadi
Atas nama perasaan cinta ini
Kita jalani lagi kehidupan sendiri

Jakarta, 4 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Pada akhirnya akan terkuak, nampak
Kebenaran kokoh, takkan berpihak
Biar sang waktu yang selesaikan
Setiap pertikaian yang tak berkesudahan
Aku jengah, lelah
Tak tahu bagaimana lagi harus menjelaskan

Jakarta, 4 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Begitu banyak waktu tersia
Dalam kenikmatanNya.
Jiwa melupa
Astaghfirullah

Jakarta, 5 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Kematian adalah sebaik baik takdirNya
Tunggulah aku di sana, di dalam surgaNya
Tempat di mana kerinduan haqiqi berpadu, menyatu
Tanpa ada lagi perpisahan yang menyedihkan

Jakarta, 17 Desember 2019
By Tati Kartini


EMIMA

Seberat apa luka menggenang bara
Menghijab rasa bahagia
Hingga hilang seluruh ceria
Milikilah hati sebening nirmala
Biarkan kilaunya terangi atma
Seakan ada surga di dunia

14 Desember 2019
By:Tati Kartini


EMIMA

Hidup bukan sekadar bilangan angka-angka
Tentang usia dan harta benda
Lebih kepada rasa jiwa
Bahagianya dunia fana hingga ke baqa

Jakarta, 11 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Tak selamanya kecewa berakhir nestapa.
Bahkan mungkin mereguk bahagia melebihi yang diminta.
Sabarlah menunggu waktunya tiba

Jakarta, 10 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA

Teringat masa lalu
Saat remaja, mulai belajar menulis
Mencoret meja atau dimana saja, tak beraturan
Membuat cerpen beberapa kata, tak dilanjutkan
Baru bisa begitu saja
Ah, lucunya....

Jakarta, 9 Desember 2019
Tati Kartini


EMIMA


Juni pun berlalu
Meninggalkan segenap pilu di hatiku
Teganya kamu menyakitiku

Jakarta, 30 Juni 2021
By : Tati Kartini


EMIMA

Januari yang dingin, sepi
Awali hariku sendiri
Mengeja kisah selama ini
Yang tiada arti
Selamat tinggal masa lalu
Bawalah cinta ini berlalu

Jakarta, 1 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Kala digdaya sebagai pujangga cinta
Kau lupa, aku perempuan yang kau sia-sia
Akhirnya kau terpenjara, mati tertikam puisimu sendiri.

Jakarta, 25 Desember 2019
By : Tati Kartini


EMIMA


Lima belas jum'at sudah
Kau pergi menghadapNya
Doa-doa dalam munajat kupanjatkan
Untuk mengobati kerinduan
Bahagialah disana, di dalam surgaNya
Al Fatihah ….

Jakarta, 9 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Ada rindu yang menggantung disukmaku
Terpatri hanya padamu
Nyalakan gelisah dan gundahku
Aku tak mampu menghapus bayangmu
Tulusmu adalah harmoni hatiku

Jakarta 7 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Tahukah kamu?
Sakit rasanya hati ini sayang …
Aku yang pergi, aku yang meratapi
Terasa berat sudut netra menahan
Butiran bening yang meleleh perlahan

Jakarta, 17 Januari 2020
By : Tati Kartini


EMIMA


Jangan ditanya seberapa sedihku
Sehancur apa aku tanpa dirimu
Aku tak mau, lama menunggu
Biarlah, ku ikhlaskan'mu
'Tuk berbahagia tanpa aku

Jakarta, 16 Januari 2020


EMIMA

Di benakku melihatmu, tertunduk berurai air mata
Sayang kau tak sendiri, aku pun menangisi perpisahan ini
Keputusan yang kuambil dengan berat hati
Maafkan aku kekasih

Jakarta, 16 Januari 2020


EMIMA

Cinta...
Rasa sayang ini berlebih
Aku tak mampu mengukur
Tanpamu hidupku hancur

Jakarta, 9 Februari 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Tidur nyenyaklah, kekasih
Dalam dekapan doa kerinduan
Bersama sebuah rasa yang menggantung di awan
Mencipta keindahan dalam rintik hujan
Tentang cinta dan air mata yang tertahan

Jakarta, 14 April 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Setelah sekian lama menggenggam derita
Memendam rasa kecewa karena cinta
Kini aku bangkit, membasuh sakit
Meninggalkan kenangan pahit yang paling menggigit
Melupakan segala dusta yang kau cipta
Biarlah ku berserah kepada Allah saja

Jakarta 14 Maret 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Jangan resahkan perpisahan dengan dunia Perasaan cinta yang kuat, merindu-Nya yang sangat
Akan mendinginkn panasnya neraka atas kuasa-Nya
Amin, InsyaAllah

Jakarta, 10 Mei 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Makna sebuah kata
Sulit menarik kembali kata yang terlontar
Bijaklah dalam bicara dan menuliskan kata
Agar tiada sesal di akhir usia

Jakarta, 10Mei 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Jangan biarkan hatimu menangisi urusan dunia
Ajari hati untuk meyakini urusan terpenting Adalah persiapan untuk akhiratmu

Jakarta, 10 Mei 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Malam Minggu fikiran buntu
Entah mengapa kenangan tentangmu kian membelenggu
Untuk apa mengingatmu?hanya menoreh sakit hatiku
Tidurlah saja banyak mimpi indah disana.
Bismika Allohumma ahya waamuut
Selamat tidur jiwa, lepaskan saja lara

Jakarta, 30 Januari 2022
By : Tati Kartini


EMIMA

Tiada kusangka aku dan kamu berjumpa kembali
Disini di tempat bicara hati ke hati
Begitu lama kita telah sama sama pergi
Tapi kekagumanku tak pernah mati
Tentang bagaimana syair katamu memuja Illahi Rabbi
Begitu indahnya menggetarkan hati

4 Januari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Kubiarkan saja bayangmu lenyap perlahan
Tak ingin lagi ku tahan
Bersama segenap pilu pun berlalu
Jangan lagi me.belenggu di hidupku
Kau tak lagi punya arti bagiku
Tanpamu lebih bahagia hidupku

Jakarta, 8 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Ada kisah pujangga gila cinta
Seperti buaya darat kerjanya menjerat
Bergaya pamer muka di dunia maya
Bermodal poto editan padahal wajah aslinya jerawatan
Memangsa wanita menjual agamanya
Untuk menutupi kebejatannya

Jakarta, 13 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Ibu, kenagan tentangmu menusuk jiwaku
Takan pernah kutemui lagi pengganti dirimu
Kerinduan membuncah, menyeruak
Rasanya ingin aku berteriak ...
Tapi suara telah serak, rasa pun mengerak
Tak kuasa beranjak dari kerinduan maha jarak ....

Jakarta, 13 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Sesekali kau termangu sebagaimana aku
Kita takkan lagi bertemu
Seberapa pun ingin ku ingin mu

Jakarta, 12 Februari 2021
By Tati Kartini


EMIMA

Ketika rahsaku tiba
Menerima cinta ikhlas apa adanya
Di balut asa tersemoga kan
Teruslah bisikkan doa-doa
Memohon pengampunan dosa
Saat salah satu dari kita tiada

Jakarta, 14 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Tiba-tiba saja rasa ini datang mengingatkan
Sudah waktunya memikirkan tentang kehidupan mendatang
Sebagaimana yang di pesankan
Bila usia kita menginjak empat puluhan
Masih berkubang dalam kemaksiatan setan pun berujar
"Kasihan ..." seraya mengusap wajah kita

Jakarta, 11 Desember 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Lembut hadirmu menyentuh sukmaku
Sejuk terasa membelai jiwa
Walau tak jarang marahmu garang
Ya, kaulah sang bayu yang tunduk dalam perintah-Mu ....

Jakarta 2 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Ku lalui jalan penuh onak dan duri
Kudaki bukit terjal yang tinggi
Kureguk cinta kasih sejati, karunia Illahi Robbi
Tiada harapku kepada sesama manusia
Selain silaturahmi dan berbagi kebaikkan
"sebaik-baik umat adalah yang banyak memberikan manfaat."

Jakarta, 29 November 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ketika rahsaku tiba
Menerima cinta ikhlas apa adanya
Di balut asa tersemoga kan
Teruslah bisikkan doa-doa
Memohon pengampunan dosa
Saat salah satu dari kita tiada

Jakarta, 14 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Tiba-tiba saja rasa ini datang mengingatkan
Sudah waktunya memikirkan tentang kehidupan mendatang
Sebagaimana yang di pesankan
Bila usia kita menginjak empat puluhan
Masih berkubang dalam kemaksiatan setan pun berujar
"Kasihan ..." seraya mengusap wajah kita

Jakarta, 11 Desember 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Lembut hadirmu menyentuh sukmaku
Sejuk terasa membelai jiwa
Walau tak jarang marahmu garang
Ya, kaulah sang bayu yang tunduk dalam perintah-Mu ....

Jakarta 2 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA


Ku lalui jalan penuh onak dan duri
Kudaki bukit terjal yang tinggi
Kureguk cinta kasih sejati, karunia Illahi Robbi
Tiada harapku kepada sesama manusia
Selain silaturahmi dan berbagi kebaikkan
"sebaik-baik umat adalah yang banyak memberikan manfaat."

Jakarta, 29 November 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Cinta kasih ini menghunjam
Bersemayam di palung hati, untukmu buah hati
Walau kini kau pergi jauh takkan kembali
Cinta kasih suci tetap bersemi mewangi
Menghiasi hari dan ruang sunyi.
Abadi takkan terganti ....

Jakarta, 21 Desember 2020
By : Tati Kartini


EMIMA

Jeritan hati dalam rindu yang kian gigil
Kepadamu kekasih aku memanggil
Peluklah aku duhai ....
Tak mudah melupakan segenap belai
Darimu yang setiap saat membuatku terbuai
Kini tinggal ku sendiri, lunglai

Jakarta, 22 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Seandainya logika sejalan dengan rahsa. Pastilah takan pernah ada dilema.
Pada hati yang membenci.
Takkan pernah bisa melihat dan menerima kebaikan.
Seberapa banyak pun fakta membuktikan.
Lebih baik buta mata daripada buta hati.

Jakarta, 11 November 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Takkan pernah sendrian
Disaat semua orang meninggalkan
Ada Allah bersamaku selalu

Jakarta, 24 September
By Tati Kartini


EMIMA

Aku bersembunyi dari bilik rasa cinta
Cintaku dan cintamu
Biarkan cinta ini membeku
Tanpa akhir padu
Tak mungkin dua cinta menyatu di hatiku
Cintamu dan cintaku kepadaNya

Jakarta, 20 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ketika amarah membuncah
Seakan Rahwana bersemayam di dalam dada
Meluahkan rahsa kecewa
Berhamburan kata, jatuhlah marwah kita
Menyesal pun tiada guna
Hanya menambah luka jiwa

Jakarta, 12 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Keindahan ciptaan Tuhan yang sering terlupakan
Melebur segenap rasa yang terkadang singgah
Sesungguhnya begitu banyak kita menerima berkah
Dari berbagai ciptaan Allah yang Maha Indah
Maka bersyukurlah

Hutan Pinus, 8 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Kini kau menghilang
Takkan ku meradang
Adamu hanya mengukir bimbang
Membuatku tak tenang
Pergi lah sayang ….
Ketiadaanmu tetap kan ku kenang

Jakarta, 21 Oktober 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Dada ini bergemuruh
Diatas sajadah aku bersimpuh
Air mataku jatuh, luruh
Membasuh hati, teduh
Membakar jiwa, tangguh

Jakarta 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Udara dingin seakan menggigit
Persendian, tulang-tulang bederik
Menahan gigil memekik
Oh, mentari pagi, hangati kami
Dengan dengan sinar cahaya keindahan
Sebagai amanah dari penguasa alam

Jakarta, 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ikuti saja alur jalan yang Allah tentukan
Jalani dengan penuh keikhlasan
Niscaya takkan ada penyesalan di kemudian
Allah maha mengetahui, kita tidak mengetahui

Jakarta, 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Wahai anakku ....
Jadilah pemuda sejati yang dicintai oleh Nabi.
Bukanlah yang berotot besi apalagi tukang selfi
Tapi pemuda yang anti maksiat.
Gemar membaca sholawat.
Dan tak pernah lupa mengerjakan sholat

Jakarta, 1 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Bintangku kian redup
Cahayamu tertutup kabut
Tamparan angin yang tiada lembut
Hingga kasihmu tercerabut
Selesaikan lah semua kemelut
Berharap hati pun kian lembut

Jakarta, 7Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA


Renyahnya ceria canda dan derai tawamu
Menggema di sisi ruang batinku
Kini semua tinggal kenangan
Setelah kau berlalu, meninggalkan
Aku yang hingga kini masih mengakrabi
Semua kisah indah tentang mu tetap abadi

Jakarta, 15 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Ikutilah keinginan hatimu
Biarkan cinta kita teronggok kering dan layu
Hilang rasa cinta yang dulu semanis madu
Kau biarkan merana tersebab ulahmu
Yang asyik dengan dunia barumu
Dan kini mengabaikan perasaanku

Jakarta, 26 Agustus 2020
By Tati Kartini


EMIMA

Tak kupungkiri
Aku mencintaimu sepenuh hati
Mengakar mengurat nadi
Bayangmu menyatu bersama aliran darah ku
Menghentak disetiap hembusan nafasku
Serasa ingin segera terbang menggapai bintang hatiku

Jakarta, 21 Juni 2020
By Tati Kartini


EMIMA RELIGI

Duhai yang Maha Menggenggam Hatiku
Beri hamba waktu untuk memperbaiki hidupku
Hatiku ber jelaga menahan derita cinta yang dusta
Mengabaikan lambaian tanganMu, memanggilku
Pada sajadah yang terhampar indah
Membasuh segala noktah dan hatiku pun basah ....

Jakarta, 4 April 2021
By Tati Kartini


EMIMA BERANTAI

1. Negeriku tengah terpuruk
Tatanan aturannya nyaris
ambruk.

2. Berakibat sangat buruk
Kebijakan maen seruduk
Tak perduli rakyat ngamuk

3. Banyak huru hara antara kita
Rakyat diadu domba
Ketentraman terancam musnah

4. Kasian anak cucu kita
Bila kita hanya diam saja
Berbuatlah sesuatu demi bangsa
Walaupun harus dihujat dan di cela.

5. Cintai, hormati para pahlawan kita
Yang telah berjuang demi bangsa dan negara

6. Bahkan mengorbankan nyawa
Demi Indonesia merdeka

Jakarta, 10 Agustus
By Tati Kartini
Selamat Jelang Hari Kemerdekaa Kita



HAIKU adalah puisi singkat yang terdiri dari 17 suku kata. Ditulis dalam tiga baris dengan pola 5-7-5 suku kata, dan haruslah mengandung dua hal ini: Kigo, dan Kireji. Meski ditulis dalam 3 baris namun haiku pada prinsipnya terdiri dari 2 bagian yang disejajarkan. Bagian terpanjang disebut Frase (12 suku kata) dan bagian terpendeknya disebut fragmen (5 suku kata). Keterpotongan 17 suku kata suara itu menjadi dua bagian yang mana masing-masing bagian adalah membentuk satu gambar dinamakan sebagai “Fungsi Kireji”. Kireji dalam haiku Jepang berupa huruf-huruf tertentu, yang dalam tradisi sastra Jepang mengandung makna tersendiri.

HAIKU


Sesejuk embun
Cinta menyentuh hati
Di pagi hari



SENRYU, bentuk puisi Jepang yang mirip Haiku untuk bersenang-senang. Senryu memiliki struktur fisik yang sama dengan haiku yaitu terdiri dari tiga baris dengan jumlah mora tiap barisnya masing-masing 5-7-5 (go-shichi-go). Namun, isi suatu senryu lebih ringan dan bahkan bisa saja lawakan.

SENRYU

Di taman syurga
Damai hati di dunia
Majelis dzikir


SENRYU

Subur menghibur
Perempuan dambaan
Suami beriman


SENRYU

Seperti mawar
Indah di pandang mata
Berduri pula


SENRYU

Merenda hari
Yang kian sunyi sepi
Takan terganti


SENRYU

Hiasan langitNya
Berwarna cerah indah
Di pagi hari


SENRYU

keindahannya
Suasana pantainya
Saat liburan



GOGYOSHI adalah puisi lima baris atau kalimat dengan ketentuan sebagai berikut:Tiap puisi diberi judul Judul ditulis dalam huruf kapital Tiap judul puisi terdiri dari 5 baris atau 5 kalimat. Tiap kalimat diusahakan kalimat pendek dan padat, dimulai dengan huruf kapital. Di akhir kalimat bisa diberi tanda titik (.), boleh juga tidak.

Gogyoshi

BAYANG
Oleh : Tati

Bayang ….
Aku tak tahu siapa dirimu
Hadirmu membuat aku mengingat kembali luka lukaku
Kau takkan tahu bagaimana malam malamku
Aku berteriak kesakitan, tanpa seorangpun mendengarkan

Jakarta, 24 September 2021


Gogyoshi
ALAM INDAH
By : Tati Kartini


Lembut hembusan bayu, pada daun riak mendayu
Suasana pagi nan indah berhias sinar surya keemasan
Kupu-kupu terbang, bergurau berlarian
Mencumbu bunga ditaman
Duh indahnya alam, ciptaanMu Tuhan ….

Jakarta, 4 Desember 2019


Gogyoshi
By : Tati Kartini
MARAH


Ada perasaan marah di dalam dada
Kutahan sekuat aku bisa
Hampir saja, jadi bahan permainan
Olok-olok laku tabu
Darimu

Jakarta, 4 Desember 2019


Gogyoshi
LEMBARAN BARU
By : Tati Kartini


Hari ini tanpa kamu
Memulai lembaran hidup yang baru
Kuikhlaskan kau pergi
Meski hati tercabik perih
Merintih

Jakarta, 16 Desember 2019


Gogyoshy
Judul : MENANTI SENYUM
Karya : Tati Kartini


Terpapar kisah memelas
Terkapar diantara gedung-gedung megah
Dibawah terik mentari
Sesosok jiwa yang lemah
Menanti seulas senyum ramah

Jakarta, 16 Desember 2019


Gogyoshi
Judul : MEMAHAMI CINTA
Oleh : Tati Kartini


Menguar rasa, sebening kaca
Fahami cinta mulia
Bukan sekadar kata-kata
Abrak pada jiwa yang mencinta
Adalah dengan membuktikannya

Jakarta, 9 Desember 2019


Gogyoshi
SAAT NAFAS TERHEMPAS
By : Tati Kartini


Ku untai kalimat thoyibah,di setiap tarikan nafasku singgah
Pada seuntai tasbih yang berulang terus tiada putus
La Ilaha Illallah …
Berharap jadi kalimat terakhir pada nafas yang terhempas
Saat butiran tasbihku terlepas ….

Jakarta, 9 Desember 2019


Gogyoshi
PERCUMA
By : Tati Kartini


Sedang sendiri sunyi
kupandangi langit kamar sepi
Berhamburan berjuta kenangan resahkan hati
Membaca aksara tanpa makna
Percuma

Jakarta, 9 Desember 2019


Gogyoshi
Judul: KENANGAN
By : Tati Kartini


Dikala rindu ... .
Aku bisa memandang fotomu
Saat hati terjeda ambigu
Cerita cinta bisa berlalu
Tapi kenangan tak bisa menipu

Jakarta, 27 Desember 2019


Gogyoshi
GERHANA
By : Tati Kartini

Cahaya redup berpendar, memudar
Seisi alam bertasbih, memuji dalam sunyi
Rembulan menutup mentari atas perintah Illahi
Bukan sekedar peristiwa alam, tapi juga ibrah
Pelajaran ….

Jakarta, 26 Desember 2019
By : Tati Kartini


Gogyoshi
Judul : JODOHKU
Oleh : Tati Kartini


Aku lelah menantikan sang bayu
Berharap datang menyapa, membelaiku
Ucapan selamat tinggal adalah keterpaksaan
Agar hati mau mengerti
Jodohku bukan kamu

Jakarta, 23 Desember 2019


Gogyoshi
MENCINTAMU
By : Tati Kartini

Tak kuasa mengucap kata
Selain keindahan rasa mencinta
Dirimu separuh jiwaku
Di seluruh hela nafasku
Yang ada hanya kamu

jakarta, 3 Januari 2020


Gogyoshi
Judul : SALAH
Karya : Tati Kartini

Aku lelah memendam resah
Sebentuk rasa sejatinya indah
Lalu mengapa harus ku hempas?
Ada rasa bersalah, kaidah dalam syariah
Membuat hati goyah
Haruskah aku pasrah walau salah?

Jakarta, 10 Februari 2020


Gogyoshi
Engkau Matahariku
By : Tati Kartini


Binar mentari pagi
Kicau indah kenari
Terindah ....
Hanya sapamu penyejuk hati
Hiasi sanubari

Jakarta, 19 Februari 2020


Gogyoshi

PERASAAN
Karya Tati Kartini


Jadilah seperti batu karang
Siap menghadang gelombang yang datang
Tidak mudah memahami isi hati seseorang
Terkadang kita serasa meradang
Menahan perasaan, dada pun ber goncang

JKT, 09082020


Gogyoshi
DZIKRULLAH
By Tati Kartini


Bila hati merasakan kesunyian
Seakan menjauh dari hiruk pikuknya dunia
Nikmati lah ….
Tak ada keindahan melebihi keramaian lafaz dzikrullah
Itulah sebaik-baik keriuhan gemuruh hati

Jakarta, 6 September 2020


Gogyoshi
JANGAN TANYAKAN
By Tati Kartini


Diamku adalah saat terindah
Saat asyik masyuk memadu rasa bersamaNya
Jangan pernah kau tanya mengapa
Karena takan kau temukan jawaban
Selain dalam pencarian sendiri

Jakarta 7 Desember 2019


Gogyoshi
CINTA
By Tati Kartini


Bila dirasa dalam dada hanya ada gelora
Jangan katakan itu cinta
Begitu banyak yang mendefinisikannya
Meskipun berbeda-beda, cinta adalah cinta
Jangan ada dosa dan dusta.

Jakarta, 4 Oktober 2021


Puisi Empat larik
Judul : AKU CINTA KAMU
Karya: Tati Kartini


Berdesakan berjuta kata di kepala
Yang mampu kuucap hanyalah satu kata
"Aku mencintaimu." lirih....
Sangat lembut nyaris hilang suara, terbawa sepoi bayu melaju.

Jakarta 19 November 2019


Puisi Empat Larik
Oleh : Tati Kartini
SAYANG


Kususuri padang ilalang nan gersang
Terik mentari membakar hati
Menepis kata cinta dan sayang
Yang terpapar murahan ….

Jakarta 24 November 2019


Puisi Empat Larik
Judul : AMBIGU
Karya : Tati Kartini


Ku kenalimu seindah rona senja
Hitam, merah dan warna surya keemasan yang mulai tenggelam
Sepekat hati dalam kepolosan
Memeluk ambigu

Jakarta, 30 November 2019


Puisi Empat Larik
Judul : WASPADALAH
Karya : Tati Kartini


Berjalan membawa kotoran
Tempat lupa dan salahnya
Sanjungan hanya akan melenakan
Waspadalah ....

Jakarta, 30 November 2019


Puisi Empat Larik
CINTA DUSTA
Karya : Tati Kartini


Cinta yang indah tak 'kan sesederhana mengatakannya
Bukanlah cinta namanya bila tak berdasarkan syariatNya
Cinta di bibir saja, hanyalah permainan kata
Berhiaskan dusta.

Jakarta 3 Desember 2019


Puisi Empat larik
RINDU
Karya: Tati Kartini


Tidurlah kekasih, lena dan rebahkan rindumu
Sejuk kan sejenak, dalam mimpi temu
Lelahnya rindu yang membara, menikam jiwamu
Dan jiwaku.

Jakarta, 2 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : EMBUN LURUH
Karya : Tati Kartini

Airmata ku terjatuh
Diiringi nada isakan pilu
Seperti embun luruh
Dari pelukan dedaun lusuh

Jakarta, 15 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MENIKAM
Karya : Tati Kartini

Kususuri di setiap inci
Jalan kenangan bersamamu adalah keindahan.
Rasa yang tak akan terlupakan begitu saja
Walau di akhirnya kau menikam

Jakarts, 15 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MATI SURI
Karya : Tati Kartini


Berbaris luka di bilik hati
Tercipta lukisan sunyi
Tangis tawa pun kini tiada lagi
Mati suri

Jakarta, 14 Desember 2019.


Puisi Empat Larik
Judul : SURYA
Oleh. : Tati Kartini


Kali ini sang surya berwarna merah darah
Seakan luruh dari hati yang resah
Dari luka yang semakin parah
Bernanah

Jakarta 12 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MERINDUMU

Selalu saja ada sesak di dada ini
Kilau bening menggenang di sudut netra
Tak kuasa hatiku membayangkan kemuliaanmu
Yaa Rasulullah ….

Jakarta, 12 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : LELAH
By : Tati Kartini


Hari ini melelahkan ….
Kepala benar-benar pusing tujuh keliling.
Muter-muter bicara entah tentang apa
Yang terlihat hanya ketidak sempurnaan kita

Jakarta, 28 Desember 2019


Puisi Empat Larik
Judul : MUMET
By : Tati Kartini


Seberat godam menghatam
Dari dada lanjut kepala
Menghunjam tak berkesudahan
Mumet gak karuan

Jakarta, 28 Desember 2019


Puisi Empat Larik
AKU BERSAMAMU
Oleh : Tati Kartini


Semua hari dan tanggal milikmu
Disetiap hela nafasku
jalan dan jalin tiada henti
Aku bersamamu selalu dan selamanya

Jakarta, 21 Januari 2020


Puisi Empat Larik
KAMU
By Tati Kartini


Pernah satu waktu kau undang hatiku
Menemani harihari sulitmu
Walau akhirnya kau lari saat kakimu mampu tegak berdiri
Meninggalkan aku sendiri ....

Jakarta, 19 Mei 2021


Puisi Empat Larik

MATI
Karya: Tati Kartini


Diamku bukan mati
Rinduku mencabik hati
Tapi sejak kau pergi
Aku seakan telah mati

Jakarta, 22 April 2021


Puisi Empat Larik
Oleh : Tati Kartini

Kamu yang hampir terlupakan
Terbang menjauh tersapu badai angin topan
Tinggal puing kenangan tersisa pada sebongkah hati
Yang enggan melupakan

Jakarta, 10 April 2020


Puisi Empat Larik
TENTANG MU
By Tati Kartini


Ingin kuhapus semua kenang tentang mu
Takkan kusisakan lagi di dalam ingatanku
Sepanjang yang kulalui di kehidupanku
Kaulah pria terburuk untukku

Jakarta, 13 Maret 2021


Puisi Empat Larik
Karya : Tati Kartini
Judul : KEPADA SENJA


Kepada senja aku ingin bercerita
Tentang rasa sakit yang tak tertahankan
Di indah ronamu ku merasakan keindahan
Bebanku seakan hilang bersama datangnya gelap malam

Jakarta, 26 Juli 2019


Puisi Empat Larik
Karya:Tati Kartini
Judul:SENDIRI


Langit pagi sendu membiru
Kembali tatap ini beku
Merasakan kehilangan teramat dalam
Kekasih tak jua datang berkirim salam

Jakarta, 18 Juli 2019


puisi empat larik
Oleh Tati Kartini

Aku ingin terbang sejauh angan
Meninggalkan bayang, kenangan
Menggapai bulan
Berselimut awan

Jakarta, 21 April 2020


Puisi Empat Larik
RINDU
By Tati Kartini


Ada saat rindumu membuncah, tumpah ruah
Terserak, menyesak, hingga terkulai lelah
Terkadang menghilang jauh meninggalkan
Membiarkan rasa terlarut dalam kepiluan

Jakarta, 19 Mei 2020


Puisi Empat Larik
PUSING
By Tati Kartini


Melihat setiap ulah, terkadang buatku lelah
Sebagaimana juga aku, kau taklah sempurna
Tak urung tingkahmu sering
Membuat kepalaku pusing tujuh keliling

Jakarta, 27 Mei 2020

TATI KARTINI


Minggu, 03 Oktober 2021

Cerpen - SEBENTAR SAJA Penulis : Visty Oktaviaa


   "Bang, kapan pulang?."

"Entahlah dik, Abang masih repot dengan kerjaan."

"Tapi Bang, kasihan ibu. Beliau sakit rindu Abang. Pulanglah bang, walau hanya sebentar saja. Tengok ibu."

"Maaf dik, Abang belum bisa pulang. Sudah ya, Abang mau lanjut kerja."

Panggilan telepon diputuskan sepihak, tanpa salam. Ahk, aku hanya mampu menghela napas kuat-kuat. Menatap sosok renta yang tertidur nyaman. Entah kenapa perasaanku sedikit gelisah. Ada rasa was-was melihat ibu yang biasanya uring-uringan, menyuruh aku untuk menelpon bang Jarwo hari ini lebih banyak diam dengan memandang luar jendela.

Sekitar pukul empat sore, kusiapkan ember berisi air hangat untuk membasuh badan ibu.

"Bu, bangun dulu yuk. Biar Nisa lap badan ibu, lalu makan dan minum obat."

Kusentuh tangan keriput itu, dingin. Deg, jantung berpacu lebih cepat. Gemetar dua jari tangan mendekat lubang hidung ibu. Tak terasa ada embusan napas. Refleks tubuhnya kudekap, tiada gerakan dada naik turun pun suara detak jantung.

Aku mundur tak percaya, ah mana mungkin secepat ini. Tuhan, hamba belum siap.

Tok tok tok

Aku menoleh kaget mendengar suara pintu diketuk orang. Berjalan sempoyongan menuju pintu lalu membukanya ...

"Surprise ... Abang pulang."

Senyum berkembang di bawah kumis melintang milik bang Jarwo.

"Abaaaaang ... Hu hu hu, ibu Bang, ibu ..." Seketika air mata luruh bersamaan jatuhnya tubuh dalam pelukan abangku satu-satunya.

"Kenapa ibu dik?. Maaf ya kalau Abang bikin marah karena gak pulang-pulang. Abang mau bikin surprise sekalian beliin mukena dan gamis untuk ibu. Jadi nunggu uang gaji Abang turun dulu baru beli tiket mudik. Tuh, Abang bawain oleh-oleh untuk kamu juga. Sudah ah nangisnya, nanti kangen-kangenannya. Abang mau ketemu ibu dulu, mau minta maaf baru bisa pulang." Bang Jarwo menepuk-nepuk pundakku lalu mendorong halus. Ia pun berjalan menuju kamar ibu.

Kubiarkan Abang memasuki kamar ibu, aku masih tergugu di depan pintu.

"Ibuuuuuu ...!"

Teriakan bang Jarwo memenuhi gendang telinga. Laju air mata pun tak terkendali, raga ambruk menimpa lantai.

Ah ibu, beban itu terlepas sudah. Derita penantian usai direnggut takdir. Sakit yang bersemayam telah pergi , Abang pulang ketika ibu berpulang. Andai Tuhan memberi waktu sebentar saja ...

*****TAMAT*****

Cerpen –
SEBENTAR SAJA
Penulis : Visty Oktaviaa
Palembang, 30 September 2021

Visty Oktaviaa