RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 28 September 2021

Cerpen - PULANGLAH, NAK! Penulis : Romy Sastra


   Langit-langit rumah sudah seperti sarang walet, seringkali bayangan hitam berkelabat kala malam membuat mata enggan terpejam, doa Ibu di ujung pintu menatap jauh.

"Anakku, bulan Ramadan tahun ini akan pergi, hari raya sudah mulai terasa, takbiran menggema di mana-mana." lirih batin seseorang Ibu dilanda rindu teramat rindu kepada anak-anaknya yang tak pulang di hari raya setiap tahun ditungguinya.

Ibu Parni memiliki dua orang putri, keduanya sudah berumah tangga, dan mereka berada di perantauan di kota yang berbeda-beda.

Sudah tiga kali hari raya Idulfitri tiba, Ibu Parni sendiri menunggu rumahnya tanpa anak dan suami. Cuma ada sesekali anak yang sulung mudik lebaran, itu pun hanya sesaat saja di kampung. Tiga tahun yang lalu, suaminya Ibu Parni pakde Aris meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Semenjak sepeninggal suaminya itu, bu Parni hidup berdua dengan cucunya bernama Lia, cucu dari anak keduanya yang dititipkan diasuh dari kecil oleh mbahnya hingga dewasa.

Di moment hari raya tradisi di kampung, anak-anak hingga dewasa berkunjung ke rumah yang lebih sepuh bersalam-salaman.

"Tok, tok, tok ... asalamualaikum?"
Tak ada jawaban dari dalam rumah, saya ulangi sampai tiga kali mengetuk pintu rumahnya Ibu Parni, tak juga ada jawaban.
Hingga akhirnya, saya coba memberanikan diri untuk masuk, mendorong pintu rumahnya apakah ada orang di dalamnya.

Saya sebagai tetangga Ibu Parni yang dari rantau, setiap hari raya pulang kampung, selalu sungkeman pada beliau. Di tahun ini, saya tersentak melihat Ibu Parni duduk seperti patung di ranjang sudut rumahnya. Badan Ibu Parni tadinya gemuk kini kurus kering.

Spontan Ibu Parni menangis menatapku, ketika pintu rumah terbuka, lantas aku salami beliau. Ternyata beliau tidak bisa mengangkat tangannya.
Aku perhatikan, sepertinya Ibu Parni kena stroke.

Dalam ucapan yang terbata-bata, Ibu Parni yang tak pandai berbahasa Indonesia, beliau berkata:

"Kowe mulih toh, Le?" sahutnya padaku.

"Inggih Bu, Parni. Aku mulih karo bojoku dan anakku." jawabku pada beliau.

Lalu, Ibu Parni diam dan membuang tatapannya ke arah jendela.

“Oo ya, Bu Parni?” Aku mencoba bertanya kembali
"Kenapa rumahnya ditutup tadi, ini kan hari raya. Apakah anak-anak jenengan gak mulih yo?" tanyaku penasaran.

"Bu Parni tak menjawab pertanyaanku"

Air mata Bu Parni kian deras mengalir di saat kedatanganku, beliau menundukkan kepalanya. Seperti ada gejolak perasaan yang tak terbendung dan rasa pilu yang menggunung.

"Pikirku, apa yang terjadi sama Ibu ini dan anak-anaknya?"

Saya mencoba lebih intens bertanya pada Ibu Parni soal kesendiriannya di kampung, yang tadinya beliau sehat hingga kini terbaring sakit tak ditengok oleh anak-anaknya, terutama anak keduanya, apalagi masa lebaran yang sangat dirindukannya.

Beliau, Ibu Parni berbicara terbata-bata dalam bahasa Jawa karena stroke, sekaligus beliau menitip pesan pada saya.
Saya artikan begini:

"Le, dengarkan ya, kata-kataku pada anak-anakku beberapa tahun yang lalu!" perintah Bu Parni pada saya.

"Iya Bu, silakan cerita!" pintaku.


Beberapa tahun yang lalu, aku telah menghukum anak-anakku, setiap mereka pulang kampung dari rantau di hari raya. "Aku berkata, kenapa kamu, Nak? Gak sukses-sukses seperti orang lain. Ibu malu pada tetangga, Nak!"
"Jika kalian ke rantau lagi, jangan pulang sebelum kau sukses di rantau sampai kapanpun aku menunggumu di rumah ini, carilah suami yang sugeh ya! Sampai aku tua dan rumah ini jadi lapuk. Biarkan aku hidup sendiri atas peninggalan harta warisan mbahmu."

Spontan aku terdiam pada kata-kata Bu Parni tentang pesan kemajuan hidup anaknya supaya sukses di rantau terhadap anak-anaknya.
Bisikku dalam hati, haruskah setega itu anak Bu Parni pada orang tuanya yang tinggal sebatang kara, meski kadangkala di hari-hari biasa, anak-anaknya ada mengirimkan uang ke kampung buat keperluan hidup ibunya. Lah, kenapa anaknya tak ada yang pulang satu juga setiap hari raya tiba? Apakah kehidupan anaknya belumlah sukses seperti yang diharapkan orang tuanya.

Di posisi Ibu Parni, tak seharusnya begini beliau pada anak-anaknya. Seperti memaksakan kehendak nafsu duniawi saja. Lirihku di dalam hati dan tak habis pikir, setiap hari raya tiba aku berkunjung ke rumah bu Parni, dan selalu sepi.

Selang beberapa saat bertamu dan bercakap-cakap dengan Bu Parni, Ibu Parni pingsan badannya dingin, lalu dia rebah di ranjang tidur sudut ruangan rumahnya.
Aku berlari ke rumah tetangga yang tak begitu jauh dari rumah Bu Parni meminta tolong, kalau Ibu Parni pingsan tiba-tiba.

aku dan beberapa tetangga menghampiri rumah Bu Parni. Setelah diperiksa, ternyata Bu Parni sudah meninggal dunia.
"Innalillahi wainnailaihi rajiun"

Air mataku tumpah, menatap wajah Bu Parni meninggal dalam keadaan merindukan anak-anaknya dari rantau yang tak pulang-pulang. Di sisi lain, Bu Parni merasa bersalah telah menghukum anaknya untuk sukses di perantauan demi mengangkat harkat dan martabat keluarganya di mata tetangga dan orang-orang kampung.
Di balik wajah jasad Bu Parni, aku menangkap kesedihannya.
Kalau Bu Parni meninggal karena merindukan anak-anaknya untuk pulang di hari raya. Betapa Ibu Parni rindu sangat, sangat rindu pada anak-anaknya, dan anak-anaknya seperti lupa. Bahwa dia anak-anaknya kelak di hari tua akan merasakan kerinduan yang teramat dalam terhadap anaknya juga nanti, jika ana-anaknya di perantauan.

Satu kisah yang kita petik adalah: adakalanya kita menunduk dalam hidup ini, jangan selalu menatap ke atas meraih masa depan yang lebih cerah, walaupun itu perlu.
Ingat! Silaturahmi pada orang tua adalah harta yang tak ternilai harganya, jangan tutup mata dan mata hati untuk tidak pulang kampung sekiranya masih ada orang yang kita kunjungi di hari raya.
Betapa moment di hari raya bagi orang-orang di kampung, seperti panas setahun hujan sehari dapat menyuburkan halaman rumah yang dilanda kegersangan. Suburkan satu pohon, jangan sampai pohon itu jadi ranting-ranting hingga jatuh tak mengenali lagi dari mana pohon itu tumbuh.

***************

   Hari raya kedua setelah kematian bu Parni dua tahun yang lalu, aku mudik.

Dor, dor, door.... Malam hari raya itu tiba, suara petasan terdengar di udara. Anak-anak kecil berlarian di halaman rumah mereka masing-masing. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar kumandang takbir tahlil menggema di mana-mana. Kesyahduan suara Idulfitri menmbangunkan kerinduan pada Ilahi menggetarkan segala nadi.

Pintu melapuk, sampah lantai bertaburan, beranda rumah sudah ditumbuhi rerumputan, menjalar ke dinding yang mulai koyak. Genteng berlumut jatuh, puing-puing berserakan di halaman, rumah itu sunyi tak lagi berpenghuni. Cuit, cuit, cuit ... burung pemakan buah pepaya yang ranum bercicit di kebun samping rumah bu Parni. Sebab, kebun di samping rumahnya itu telah semak yang biasanya beliau selalu membersihkan kebun setiap pagi dan petang.

Kebetulan setiap hari lebaran saya sowan ke tetangga-tetangga yang sudah sepuh.

Mmm, sepi sekali rumah bu Parni ini, tak ada aktivitas dan suara anak-anaknya dari dalam rumah, yang biasanya ramai para tetangga hilir mudik bersalaman dari pintu ke pintu seusai solat ied. Dan aku bertanya pada tetangganya bu Parni, yaitu mbah Lastri. Mbah Lastri lagi duduk di teras rumah sambil menimang cucunya yang baru pulang dari rantau.

"Assalamualaikum ...?"

"Waalaikumsalam." jawab mbah Lastri di depan rumahnya.

"Mbah, adakah anak-anak bu Parni mudik tahun ini?" pertanyaanku mengagetkan mbah Lastri.

"Eh, kowe toh, Le. Syukurlah kowe mudik." sahut mbah Lastri padaku.

"Entahlah, Le, Le?! Jangankan lebaran. Ketika orang tuanya meninggal dunia, anak si Parni itu tidak pulang menengok ibunya."

"Ah, masa sih mbah ....?"
Aku terkejut dengan jawaban mbah Lastri, miris sekali, bisikku dalam hati.

******

   Setahun yang lalu saya mudik sowan ke rumah bu Parni, bu Parni sudah lemah karena penyakit stroke yang dideritanya. menanggung antar sesal dan kesal pada diri dan anak-anaknya. Bu Parni menerapkan prinsip duniawi untuk sukses di rantau dan carilah suami yang sugeh, pinta bu Parni kepada anak-anaknya. Jika merantau kalau mudik harus berjaya, harapnya. Kini bu Parni sudah tiada.

Suami bu Parni, pakde Aris sudah meninggal empat tahun yang lalu. Semenjak remaja lulus sekolah, memang anak-anaknya pergi merantau dan anak yang kedua memiliki anak perempuan bernama Lia. Dan Lia diasuh sama bu Parni dan pakde Aris selaku mbah dari Lia di kampung sebelum mbahnya meninggal, hingga dewasa dan sekarang sudah menikah.

Di tahun ini, aku merenungkan diri akan konflik suatu keluarga di antara konflik keluarga orang-orang di dunia ini yang bernasib sama bahkan lebih tragis konflik kehidupannya. Tak terasa air mata ini menetes jika itu berlaku pada kehidupanku kelak? Semoga tidaklah berlaku dalam hidupku pinta doaku pada Ilahi di kursi lapuk di depan rumah bu Parni yang sunyi.

Satu pertanyaanku kembali pada mbah Lastri. Rumah mbah Lastri dengan bu Parni hanya bersebelahan saja.
Dan aku bercerita panjang lebar berdua dengan mbah Lastri di dalam rumahnya.

"Oya, Mbah? Lah, cucu bu Parni si Lia gak mudik juga tahun ini ya, Mbah?" desakku pada mbah Lastri yang penasaran.

"Le, Le ... itulah Le. Cucu si Parni si Lia pun gak mudik tahun ini. Beberapa bulan setelah mbahnya meninggal, si Lia ikut suaminya ke kampung halaman suaminya. Aku dan mbah Lastri saling bertatapan, tak terasa kristal bening menggenang dan menetes di sela pipi karena sedih dan haru. Aku segera mengusap air mataku karena malu, mbah Lastri terus bercerita.

Kini rumah si Parni teronggok seperti tunggul perlahan dimakan rayap dan melapuk. Aku hanya sebagai suadaranya dititipkan kunci untuk menghidupkan lampu tengah rumah dan teras rumahnya saja. Rumah bu Parni sunyi, dan jauh lebih sunyi nisannya di pembaringan terakhir tak diziarahi si buah hati dan cucu-cucunya. Berharap tetesan doa seuntai Al-fatihah dikirimkan kearibaan menyirami gersangnya selimut tanah di dalam makam, berharap kesejukan ampunan di alam keabadian.

Al-fatihah ....

*****SELESAI*****

Cerpen
PULANGLAH, NAK!
Penulis : Sastra
Ngawi 19 Juni 2018




Rubrik : Catatan Romy Sastra
KONVENSYEN PENYAIR DUNIA 2018
"PENYAIR, ALAM DAN BISIK PADA TUHAN"
Oleh Romy Sastra


HR Resort, pantai Chap Bachok, Kelantan, Malaysia 20-22 Juli 2018.
Dalam konvensyen atau pertemuan penyair dunia 2018 yang diadakan perdana oleh persatuan penyair Malaysia (KONPEN) di skala dunia internasional adalah ajang menumbuhkan cinta sastra (puisi) di duta secara nyata. Bersosialisasi dari media dunia digital Facebook, washp dan lainnya. Ajang ini juga menumbuhkan ukhuwah penyair-penyair Nusantara dan global yang diikutkan oleh 12 negara di antaranya adalah Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunai Darussalam, Korea Selatan, Rusia, Italia, Vietnam, Taiwan, India dan Timor Leste,

Disatukan dalam perlombaan (event) penulisan kreatif yang bertemakan:
"Penyair, Alam dan Bisik Pada Tuhan" untuk antologi buku puisi Wangian Kembang.
Karya yang lolos dari kurasi oleh kurator akan mendapatkan undangan untuk menghadiri perhelatan Konvensyen tersebut.

Diseleksi setiap penyair yang ingin turut serta mengirim 3 puisi. Kemudian puisi-puisi itu disunting oleh Rahman Shaari, penyair Malaysia. Hasilnya terpilih 226 penyair yang lolos dari 12 negara dari peserta 700 penulis.

Perkembangan sastra pada suatu bangsa ada pasang surutnya. Baik itu dalam perbedaan pendapat dan pemikiran. Bagaimana sastra itu terus maju dan berbenah serta berkembang mengikuti peradaban zaman. Sastra memiliki historis dari awal berdirinya sastra.
Istilah sastra berasal dari kata Sanskrit / Sansekerta. Mempunyai makna atau pedoman (verba) dari kata dasar sas: bermakna instruksi atau ajaran, dan tra: menunjukkan pada kata keindahan dari ajaran itu.
Dalam bahasa Indonesia kata sastra ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Pada pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu definisinya sebagai teks penulisan.

Sastra berkisah tentang keindahan rasa yang dituangkan dari imaji ke dalam goresan-goresan tinta terjadi dari cerita dan sejarah hidup si pelaku karya, serta diambil dari sumber imaji objek lainnya yang ia rasakan dan dituangkan ke dalam karyanya itu sendiri.

KONPEN pantai Bachok, Kelantan, salah satu kreativitas Penyair Malaysia berbenah.
Konvensyen dalam arti kata adalah pertemuan bukan hanya sekadar seremonial semata yang saya simak menghadiri undangan sebagai delegasi dari negara Indonesia dan di antara kawan-kawan yang ikut hadir, serta dari berbagai negara yang diikutsertakan.
KONPEN itu pada hakikatnya adalah menjalin dan sinergikan rasa persatuan dan persaudaraan lewat wadah sastra. Di destinasi acara, sejenak para peserta memandang samudra dan pantai yang indah. Betapa riak dan gelombang menghempas karang menyisir pasir-pasir di pesisir pantai hingga menyentuh kaki tamu-tamu yang hadir bukan sekadar selfi saja. Melainkan, merenungi betapa indahnya karunia Tuhan pada alam dan segala ciptaan-Nya, sesuai dalam tema yang diadakan. Para peserta yang hadir meninggalkan aktivitas dari riuhnya kesibukan sehari-hari, hiruk-pikuk dari berbagai problem di perkotaan dan di kehidupan masing-masing peserta untuk mencari pengalaman serta ketenangan batin dan kedamaian rasa pada ruang sastra (puisi) di perhelatan objek wisata pantai Chap, Bachok.

"Jhon F Kennedy pernah berkata: jika politik itu kotor, puisi membasuhnya"

Konvensyen memperkenalkan nuansa etnik Nusantara dan dunia dari delegasi negara-negara yang hadir. Betapa ragam itu sebuah simponi musik kehidupan dalam kearifan adat dan budaya di suatu bangsa. Ia sebuah kolaborasi yang cantik berpadunya sastra, seni dan budaya.
Seperti menampilkan busana etnik dari delegasi negara masing-masing dan di tengah acara berlangsung, kesenian tarian khas negeri Kelantan ditampilkan di panggung pertunjukan. Bahwa sastra, seni dan budaya tidak terlepas dari ranah kehidupan dan peradaban. Konvensyen adalah memartabatkan kesusastraan Nusantara di pentas dunia.
Melayu dalam semboyan petuah Hang Tuah:
"Takkan Hilang Melayu di Bumi"
Di sini kita pahami perhelatan KONPEN tersebut tidak hanya sebagai konvensyen biasa. Melainkan menumbuhkembangkan bibit generasi ke regenerasi semangat dalam ranah sastra, seni dan budaya mengangkat maruah Melayu di mata dunia.

Pantai Chap Bachok, Kelantan adalah daerah berjulukan negeri Serambi Mekkah.
Destinasi itu tepat sekali perhelatan perdana KONPEN diadakan oleh "Persatuan Penyair Malaysia"
Pada KONPEN tersebut dinaungi oleh:
TAN SRI DATO' SRI (DR)
HAMAD KAMA PIAH CHE OTHMAN

Penasihat Konvensyen: DR. A RAHIM ABDULLAH

Presiden Penyair Malaysia: DATO' DR MOHD RADZUAN IBRAHIM

Catatan:
Teruslah berjuang dan berjihad memajukan sastra, serta sinergi bersatunya para penyair-penyair di nusantara dan dunia dalam eloknya perhelatan temu penyair (KONVENSYEN) untuk selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya.

Salam Sastra
Salam Literasi

HR RoS
Jakarta, 25 Juli 2018

Cerpen - SEMALAM DI MALAYSIA Penulis : Romy Sastra


   Kata orang mimpi itu bunga tidur, setelah ku hayati gak juga. ternyata mimpi sebuah petunjuk dari yang maha kuasa. mimpi bunga tidur terjadi dari pergolakan keseharian kita ini, ketika tidur jiwa tak berpegang ke kalimah illahi, maka godaan godaan datang menghampiri.

Sebut saja namaku Jejaka. Jejaka putra sumatera berkelana ke tanah jawa semenjak remaja, sang jejaka mengembara dari lorong kota ke kota lainnya
hanya berbekal jajakan dagangan kecil dari pintu ke pintu, tawarkan sesuatu yang ia jual. Kadang dari pasar pagi ke pasar malam mmm hanya mencari sesuap nasi.
bermimpi obsesi jadi orang berarti sekurang2nya untuk kelangsungan rumah tangganya nanti.

Berlalunya waktu, Jejaka menemukan tambatan hati, disalah satu kota jakarta.
akhirnya menikah di tanah kelahirannya di pulau jawa. Berbuah cinta melahirkan dua orang putra. Putra Jejaka sekarang sudah remaja.

Dulu jejaka punya cita cita, ingin sekolah ke universiti, aral kesehatan menjegal impian. Hingga studynya broken oleh keadaan, Kesehatan yang tak mengizinkannya kala itu. Kini jejaka punya misi, cita citanya dulu di serahkan ke putera sulung, yang kini masih di bangku SMA. Impian si jejaka ingin di realitikan oleh putra sulungnya. Semoga putera sulung jadi siswa teladan di sekolahnya.

Kini Jejaka payah hidupnya susah. Niaga berantakan, sekarang jadi pengangguran
makan & minum ditanggung oleh istri yang rela. Sang istri selalu setia tabah bermanja melayaninya. Hehem....Kadangkala di hiasi juga dengan pertengkaran pertengkaran kecil dalam rumah tangga. Dan itu ku anggap saja sebagai seni kehidupan rumah tangga, kadangkala aku sering minta maaf sebagai pereda tangisnya ketika konflik konflik kecil melanda.

Mmmm....kini jejaka menatap cinta ketiga yang berada jauh di samudera biru, negeri kinabalu. Negeri yang belum pernah ku temui. Cinta itu pun juga belum pernah bertemu.

Sebut saja namanya Jelita. Si Jelita juga mempunyai kisah dalam perjalanan hidupnya. Kehidupannya yang penuh misteri, berwatak srikandi tapi berhati lembut.
kehidupannya di liputi kemelut dari cabaran hidup, teruk sakit membuat langkahnya sulit. Masa depan keluarga ada ditangannya. Aku bangga dengannya dari cerita cerita hidupnya.

Jelita, Aku kini sudah tua. Ingin berlayar melancong ke negeri sabah. Mencoba semalam di malaysia. Bercerita bertamu ke sebuah negeri impian. Negeri perantauan yang menjanjikan bagi kehidupan orang orang rantau yang tak beruntung di negeri kampung halamannya.

Mmm....apakah jejaka juga bermimpi ingin seperti itu 
???....entahlahh. Ketika takdir menentukan langkah apa boleh buat. Berharap sampai disana bertemu dengan jelita, bercerita sejenak di sebuah home stay mungil, kutatap wajah jelita bercerita asa yang selama ini terlukis di maya.

Malaysia negeri sehati sejiwa. Negeri yang ramah orangnya taat beribadah. Aku terpesona kelembutan sikapnya. Mimpi dengan jelita akhirnya bersua.

Ku genggam jemarinya, ku ucapkan kata cinta. I love you, I miss you.. jelita senyum mesra. Aku lihat wajahnya, di kelopak matanya ada tetesan bening mengalir, ku tanya dan tangannya yang masih ku genggam, kenapa kau menangis?? dia berucap lirih.. abaangg?? lalu diam, dan setelah itu Jelita menatapku,, dia berucap kembali dengan penuh keyakinan...Ku usap airmatanya di sela tangis jelita, Ia mengatakan I love you, I miss you juga abang. aku terharu... mmm...ketika itu aku tertawa sejadi jadinya, hahahahahahahahaaaa
hingga aku di cubitnya, aauuuuwwww...sakit, biarin jawabannya.

Ku cuba menenangkan dirinya dalam pelukanku. dan ku ucapkan sebuah kata,
jelita?? life in opera ini memang indah jelita. Ya abgku jawabnya, dan cinta satu malam ini memang indah abg. mmm ku kecup bibirnya dia pasrah............

Ku lukis story dalam cerpen sederhana ini. Hatiku geli, kenapa story ini terjadi.
Jejaka menemukan cinta ketiga semalam di malaysia. 

*****WASSALAM*****
Cerpen
SEMALAM DI MALAYSIA 
Penulis : Romy Sastra
Jakarta, 18-9-2015, 16,29 Ijo



Rubrik : Catatan Romy Sastra
KONPEN ITU KENANGAN
Romy Sastra


TarianTok Dalang memainkan peran di pentas mungil ditonton marhaenis. Dalang asyik mengembangkan cerita bumi surgawi di malam buta. Dalang bermantra: Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap, srengengene ilang wengi iki dunyo dadi peteng dedet. (Jawa) bumi penuh sandiwara dan angkara, langit gelap, matahari tenggelam di malam hari, dunia jadi gelap gulita.

Aku mencoba mendekati pertunjukan, dan aku ketawa. Hahaha....
Kirain saya tadi dalang Jawa yang diundang ke bumi melayu.
Ternyata budaya itu telah ada dimainkan oleh kesenian negeri Serambi Mekkah Kelantan Malaysia.
Satu kebudayaan yang menjunjung tinggi nilai seni di dada ibu yang memiliki historis dan drama-drama klasik serta menceritakan persoalan kehidupan yang lampau dan kekinian, dan ternyata drama itu telah berlaku pada saat itu juga.

"Pertunjukan wayang kulit yang sesungguhnya adalah pertunjukan bayangan sang dalang adalah personifikasi atau bayangan Tuhan itu sendiri, karena ‘Dia’ lah dalang yang menggerakan kehidupan atau ‘cerita’ kehidupan ini."

Tetamu baru saja tiba sore tadi dari negeri Alengka ingin menyaksikan pesta perdana para dewa-dewi penyair-penyair lintas negara.
Pesta itu berlangsung meriah tak berpita merah, diiringi gerimis malam di teras rumah raden penguasa wilayah. (Datuk)

Panji-panji negara berkibar di suatu ruang sebagai lambang kebanggaan tamu yang diundang, seperti istana tak megah. Padahal upeti dipungut dari kantong-kantong tetamu yang dungu dan sang raja kaya raya di mata negeri sudra.

Aahhh..,
Tok Dalang asyik memainkan peran di balik layar, wayang ngakak-ngakak mencibir rembulan.
Kenapa dikau tuan puan nyengir-nyengir menatap para penyair-penyair lain hilir mudik seperti tarian kelelawar malam mencari makan, tak dijamu di kursi sedikit pun yang ada lahap di tanah berlumpur mau saja! Padahal ada tenda yang disaksikan angin malam terbengkalai lunglai dihuni oleh sepi.

Wayang terus berjingkrak-jingkrak asyik di balik layar, hingga pertunjukan wayang terhenti tok dalang dan penonton terkapar lapar. Padahal sudah makan, kenapa tak kenyang? Ah, tuan....

Ya, cerita tiga hari tiga malam pada perjalanan sastra Kelantan adalah kisah, menyisakan jejak-jejak yang tertinggal di pasir dan di kerikil-kerikil tajam menikam lamunan.
Literasi, teruslah bergulir mengikuti peradaban sastra. Sebab sastra sejajar harkatnya di mata keilmuan yang lain. Sastra pun memiliki hadiah Nobel pada sastrawan yang komitmen.

Sastra adalah multi story
Ketika yang indah-indah dikomersilkan adalah lumrah
Lalu, siapa berani memelekkan netra insan-insan pujangga balance pada kondisi yang realita.
Cobalah kita memetik kebijakan diri dari pengalaman dan mengambil hikmah kebaikan dari kontra itulah kearifan sastra sesungguhnya.

Malam terus melaju ditingkah misteri.
Sebab malam akan disunting oleh satu musik gaib yang merintih di dalam kesunyian.
Pada ombak yang mendebur pantai, kecipak-kecipak riak berkejaran di dada segara, nelayan tertidur menunggu jaring yang ditenggelamkan timah, ikan terjerat.

Tentang saja-sajak bisikan alam pada Tuhan tertulis di lipatan kertas Wangian Kembang
Bawalah pulang dengan mahar yang sudah dibayar di meja tamu jika datang.
Sedangkan di sini di kematangan kenduri telah siap sebelum perang terjadi.
Di mana sijil tak dtemukan yang dijemput oleh undangan dari kejauhan tak ada di meja tuan?

Ah, aku terkurung di antara selat dan semenanjung di luasnya samudra laut China Selatan.
Ironis, aku haus di tengah pesta yang berlangsung tiga dina.
Ingin meneguk asinnya samudra, pasti mulut ini muntah darah.
Sebab air mineral yang disuguhkan pahit meski harganya tertulis satu Ringgit.
Aku mencoba terus tersenyum menatap tarif yang murah.
Sayangnya, tamu sastra yang jauh diundang dahaga di bumi serambi Mekkah.

Hahaha...
momen itu membuat aku tertawa
Tapi asyik, sejarah tertoreh di pantai Chap Bachok pada penyair Malaysia di skala dunia, teruslah berbenah!!!
Kita insan-insan sastra balance dengan suasana madah tak memungut kata indah-indah saja. Aku menemukan yang aku cari yaitu betapa indahnya realisasi dari sosial media selama ini yang terjebak di nuansa maya adalah realiti temukan rekan-rekan militan sastra di perjalanan Konpen ke Kelantan.

Siapa berani menyingkap testimoni perhelatan walaupun itu pahit. Ia adalah gula bagi yang menyadari untuk persiapan kenduri selanjutnya.

Salam madah sastra dari Jakarta untuk siapa saja di masa temu penyair lintas negara (dunia) dan nusantara berkarya.

Dalam semboyan Hang Tuah itu
"Takkan Hilang Melayu di Bumi"

HR RoS
Jakarta 020818




Rubrik : Catatan Romy Sastra
MENGENANG SEJARAH PELACURAN SASTRA

Dalam dunia sastra, atau yang lebih umum seni dan kebudayaan, seringkali ada friksi, pertentangan, perselisihan, konflik. Di sana, caci maki, kritik pedas, cemooh, adalah hal lumrah. Tapi sepanas dan sejauh apapun konflik, belum pernah ada yang membawanya ke ranah hukum. Kerja sastra adalah proses melampaui bahasa. Makian hanya sebagian dari berbagai instrumen yang digunakan di dalamnya. Ia bagian dari ekspresi bahasa. Sedangkan sastrawan telah melampaui batasan formal dari bahasa. Perselisihan antar sastrawan paling jauh diselesaikan dalam sebuah mediasi. Atau konflik itu tetap dipelihara sebagai bagian dari kritik. Tidak ada urusan pribadi di sini.

Tapi tradisi dalam dunia sastra itu dipatahkan oleh sebuah tragedi kebudayaan. Penyair bernama Saut Situmorang diseret ke meja hijau dengan tuntutan pencemaran nama baik oleh Fatin Hamama. Ironisnya, Fatin Hamama ini mengaku sudah jadi penyair 40 tahun lamanya. Ia mencatatkan diri dalam sejarah dengan lelucon konyol, seorang penyair menuntut penyair lain akibat kritik yang dilakukan terhadapnya.

Kasus kusut ini bermula dari sebuah distorsi sejarah sastra. Pada tanggal 3 Januari 2014, sekelompok orang bernama Tim 8 meluncurkan sebuah buku bernama 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, di PDS HB Jassin. Tim 8 itu terdiri dari Jamal D. Rahman (Ketua), Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah. Buku itu terkandung cacat taksonomi di dalamnya, karena menyertakan tokoh politik bernama Denny JA sebagai bagian dari tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia. Ia sejajar dengan ikon penyair besar sekelas Chairil, Rendra, Widji Thukul. Klaim sepihak ini membelokkan sejarah kesusasteraan. Orang yang tak paham sastra justru ditokohkan sebagai begawan.

Denny JA ditokohkan oleh Tim 8 karena dianggap berjasa dengan memulai genre sastra baru bernama Puisi-esai. Banyak sastrawan konon jadi pengikutnya. Beberapa sastrawan senior bahkan memberikan dukungan berupa testimoni yang menggugah. Tapi fakta yang terkuak di belakangnya ternyata berkata lain.

Bagi orang umum, barangkali ini hanya persoalan titip nama. Tapi ini adalah persoalan serius karena menyangkut sejarah dan disiplin ilmu pengetahuan. Lebih jauh, kasus titip nama ini adalah penghinaan bagi dunia sastra. Orang-orang kritis mulai bersuara. Mereka mencurigai Denny JA adalah dalang dari tragedi kebudayaan itu. Orang-orang kritis itu kemudian membentuk kelompok, mereka menyebut diri sebagai Aliansi Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Gelombang protes kian besar. Blokade terhadap protes itu juga tidak main-main. Aparat mulai diturunkan. Uang dan kuasa mulai bicara.

Pada tanggal 23 Januari 2014, Pelukis Hanafi menyatakan bahwa ilustrasi sampul buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” adalah lukisannya yang dipergunakan tanpa izin oleh Tim 8. Buku itu selain cacat taksonominya juga telah menggunakan lukisan orang lain sebagai sampul. Tim 8 menolak bertanggung-jawab. Beberapa ajang pertemuan ilmiah yang digagas Aliansi Anti Pembodohan di beberapa universitas sebagai upaya mediasi juga tidak digubris.

Besarnya gelombang protes itu mulai menghantam Denny JA. Ia terlihat kewalahan. Hal itu tercermin dari komentarnya yang berisi kecaman dan ancaman di media. Ia menyamakan para pemrotes itu fasis, bahkan diserupakan FPI (Front Pembela Islam). Tapi fakta-fakta baru terkuak. Banyak orang yang ternyata dibayar untuk membuat puisi pesanan bernama Puisi-esai itu. Beberapa orang membuat pengakuan dan menyesali perbuatannya. Pada 5 Februari 2014, 4 dari 23 orang yang terlibat dalam proyek penulisan dan penerbitan buku-buku Puisi-esai, yaitu Ahmadun Yosi Herfanda, Sihar Ramses Simatupang, Kurnia Effendi, dan Chavcay Saifullah menyatakan keberatan dan merasa diperalat Denny JA. Mereka meminta naskah mereka ditarik dari penerbitan.

Ahmadun Yosi Herfanda bahkan mengakui telah “melacurkan diri” kepada Denny JA, demi uang 10 juta rupiah. Dia pun akhirnya mengembalikan uang itu. Ia sadar, karyanya hanya akan dijadikan alat legitimasi pengaruh Denny JA, setelah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menjadi polemik.

Tak lama berselang, tanggal 6 Februari 2014, Maman S Mahayana menyatakan Denny JA adalah sponsor penyusunan buku tebal yang memasukkan nama konsultan politik itu ke dalam jajaran 33 sastrawan besar Indonesia. Maman juga menyatakan mundur dari Tim 8, serta meminta Jamal D Rahman sebagai ketua Tim 8 mencabut 5 esai yang sudah ditulisnya. Maman menyatakan akan segera mengembalikan honorarium yang ia terima sebesar 25 juta rupiah.

Dari fakta yang terkuak itulah, nama Fatin Hamama muncul ke permukaan.

Awalnya Fatin mengelak disebut sebagai makelar sastranya Denny JA. Sama seperti pengelakan PDS HB Jassin yang menyatakan tidak tahu-menahu soal buku itu. Tapi pengakuan-pengakuan sastrawan di atas tadi tak mampu ditepis. Fatin adalah penghubung antara para sastrawan itu dengan Denny JA. Fatin juga berperan besar dalam perwujudan buku pencoreng sejarah sastra, yang kemudian diketahui mendapatkan dana dari Denny JA itu. Dari sini konflik personal itu dimulai dan dibelokkan. Kemunafikan Fatin ini membuat kelompok Aliansi Anti Pembodohan berang. Fatin dengan enteng mengeluarkan ancaman hukum. Ia akan memenjarakan anggota Aliansi Anti Pembodohan atas aksi protesnya. Kemunafikan dan ancaman ini yang membuat Saut Situmorang muntab.

Saut adalah salah satu dari anggota Aliansi Anti Pembodohan yang paling kritis. Ia juga salah satu dari penyair Indonesia yang dikenal idealis. Penolakannya terhadap aliran uang asing yang menghidupi para komprador dalam dunia kebudayaan, sudah dikenal sejak lama. Dalam aksi protes buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling berpengaruh itu, Saut adalah ujung tombak. Denny JA dan dosa sejarahnya tak mungkin kuat membendung arus protes yang terus membesar. Maka untuk itulah, caci-maki yang terjadi di media sosial dinaikkan statusnya sebagai pencemaran nama baik. Sasarannya jelas, ujung tombak para pemrotes, yaitu Saut Situmorang.

Kritik terhadap buku itu mengalami distorsi. Fatin dijadikan penangkis serangan kritik. Ia membelokkan persoalan kebudayaan ini menjadi kasus kriminal umum secara personal. Dengan diseretnya Saut ke meja hijau, suara protes terhadap buku itu lenyap. Denny JA yang semula sudah kewalahan menghadapi protes menjadi bebas tak tersentuh. Fatin memainkan play victimnya. Ia mempersoalkan makian sebagai kasus gender. Ia merengek-rengek pada Komnas Perempuan. Dan celakanya, Komnas Perempuan menganggap bahasa memiliki kelamin. Jika laki-laki menggunakan metafora dan metonimi kasar terhadap perempuan dianggap seksis. Sementara perbuatan sebaliknya tidak. Bahasa menjadi berpihak dan tidak menguntungkan satu gender.

Orang-orang umum tidak memahami esensi dari persoalan kebudayaan ini. Fatin mendapatkan simpati karena ia perempuan. Makian Saut akibat ancaman dan kemunafikan Fatin dianggap lebih keji dari dusta sejarah yang dilakukan oleh Fatin Hamama dan Denny JA. Kebenaran sudah tidak diperdulikan lagi. Di hadapan uang dan kekuasaan, kebenaran hanyalah sekumpulan daun kering. Ia bahkan begitu mudah diterbangkan oleh satu pasal UU ITE dengan persoalan nama baik, dari orang yang justru perlu dipertanyakan nama baiknya.
Tragedi kebudayaan ini telah dijadikan ajang kriminalisasi sastrawan. Padahal di luar sana, sastrawan besar saling memaki adalah persoalan yang sangat biasa. Dengan minat baca sangat rendah, di negeri ini sastrawan yang mestinya jadi corong kebenaran justru rentan dikriminalisasikan. Orang-orang hanya melihat secara hitam-putih. Rendra telah mengalami politisasi dan kekerasan di masa Orde Baru. Widji Thukul bahkan lenyap di telan bumi. Dan kali ini, Saut Situmorang juga menghadapi “politik sastra” yang sebenarnya, di masa yang katanya demokratis ini. Orde dan penguasa boleh berganti, tapi ketidak-adilan barangkali akan abadi. Panjang umur perlawanan!

*****
*) keterangan diambil dari berbagai sumber.
Kajitow Elkayeni


Cerpen - SUKA DUKA NIAGA DI BALIK HIDAYAH Penulis : Romy Sastra


 
   Sebut saja namaku Rahmat,
Rahmat dan kawan-kawanya melangkahkan kaki menuju sebuah kota daerah Sumedang Jawa Barat, pada pagi hari itu. kami bertiga berada di kota Bandung, aku dan kawan-kawan menunggu bus antar kota menuju ke destinasi hendak niaga keliling antar kampung. masa itu, Rahmat tinggal di salah satu Kecamatan Kabupaten Bandung, tepatnya tak jauh dari terminal Cileunyi. Pagi sekali Rahmat bertiga dengan kawannya, menunggu bus yang ia nanti medal sekarwangi datang menepi.

tit..tiitt tiiittt....

Bunyi klakson bus memanggil penumpang di tepi jalan. Seketika kami bertiga berlari menaiki barang dagangan ke bagasi yang kami bawah ke kota tahu itu, tahu yang terkenal gurihnya. Kawanku sebut saja namanya Alfian dan Aichun, Alfian, Aichun masih ada hubungan kekeluargaan dengan Rahmat. Dalam perjalanan di atas bus kami bercakap-cakap arah tujuan tempat kami akan niaga keliling nanti. 

Alfian berpesan, "Sore nanti kita harus pulang ke Bandung ya, jangan sampai kemalaman kita nanti. karena bus ini sore tak ada trayek lagi ke Bandung."

"Siap Alifian!!!", jawaban Aichun. 

Aku juga menyanggupi pesan Alfian,"oke deeehh."

Satu jam perjalanan kami sudah sampai di batas kota tahu itu. hingga kami memutuskan, Alfian memilih turun di kota Sumedang, Aichun melanjutkan ke daerah Wado ujung Sumedang, perbatasan daerah Tasikmalaya. Saya sendiri Rahmat menuju arah barat kota tahu itu. Tepatnya daerah Cimalaka masih pinggiran wilayah kota tahu itu.

Di awal pagi, aku menjajakan daganganku, alhamdulillah. Pelaris beberapa buah saja daganganku kala itu. Lumayan dah, buat sarapan pagi. Di pagi hingga ke siang hari melangkah demi langkah lelah berpayah, menjajakan dagangan di atas kepala tak kunjung laku lagi.

Uuhhh, lapar sudah mulai menyapa, Aku istirahat di salah satu kedai kopi pesan rebus mie instant, buat penambah tenaga aku berjalan nanti, Aku kembali berjalan lepas dari kedai itu.

"Ibu-ibu, teteh, mamang beli barang pecah belah ni, murah-murah lo",sahutku.

"Moal mang..",jawaban mereka salah seorang, dengan bahasa Sundanya.

Aku tak patah semangat, Terus melangkah dan melangkah. Hingga pada tengah hari aku berhenti di salah satu mushala kecil menunaikan shalat dzuhur sambil rehat kembali.

Resahku mulai menyapa lelah, Karena daganganku itu tak lagi laku. Ahh, lamunanku tertuju ke kampung halaman. Ingat kala bersama orang tua dulu. Semuanya tersedia untuk di makan tak berpayah-payah begini, gumamku. Aku Alfian dan Aichun adalah anak perantau dari Sumatera. Kala remaja pergi merantau karena di kampung masih kecil sudah putus sekolah.

Lamunanku buncah, ingat pesan Alfian pagi tadi di atas bus. Sore hari nanti kami harus pulang ke bandung. Aku gamang sambil berjalan dagangan ini tak laku juga, ahhhh gimana ini ya, lirihku hiba.

Padahal jam sudah menunjukkan jam 16,00 wib. waktunya aku sholat, kebetulan aku mampir di salah satu mushala di daerah Cimalaka itu. daerah yang tak begitu aku kenali. Aku tak sempat sholat berjamaah. Kala itu, karena terlambat menunaikan tepat waktu bersama jamah di kampung itu. Aku perlahan memasuki beranda mesjid. menitipkan barang dagangan ke kedai sebelah mushala.

Rahmat adalah anak yang pemalas sebenarnya, melaksanakan sholat lima waktu.
tapi entah kenapa gerakan kakinya kala itu, ringan memasuki tempat ibadah.

Aku Rahmat itu, menunaikan kewajiban sholat azhar, selesai shalat salam kanan dan ke kiri Rahmat berdoa sebentar saja.. lalu aku di sapa oleh salah seorang jamaah kebetulan ada di samping saya.

Ia bertanya,"Dari mana dik asalmu?"

Lantas aku menjawab,"Aku berasal dari Sumatera pak, tinggalku di Bandung tepatnya di Cileunyi."

"Oohh",seloroh jamaah bapak tua itu. "Apakah adik mau pulang ke Bandung sore ini ya..? Padahal sore-sore begini sudah tidak ada lagi bus ke Bandung."

"oh ya, betulkah itu pak tanyaku?"

"iya benar dik, jawab pak tua itu. Kalau begitu, adik istirahat saja semalam di mushala ini menunggu besok pagi. Oo ya dik, besok pagi ada pasar di samping mushala ini. pagi-pagi sekali adik buka dagangannya ya! Hari sudah sore aku pamit ya dik."

"ya silahkan pak",jawabku.

Aku terasa lega dengan ucapan bapak tua itu, persis yang di ingatkan oleh Alfian di dalam bus medal sekarwangi pagi tadi. Sore itu, aku mandi di mesjid dan kembali ke kedai tempat barang yang aku titipkan tadi. Duit daganganku sisa beberapa saja. ahhh, lumayan buat makan sore ini hanya mie instant rebus lagi, Karena tak ada kedai itu jualan nasi.. ahhh, lemasku hilang seketika.

Selesai makan mie instant, tak beberapa lama, hari sudah menunjukkan waktu maghrib. Aku menunaikan sholat maghrib berjamaah dan hingga ke isya.

Singkat cerita, lepas isya, jamaah sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
tinggal aku sendiri di mushala yang kian sepi. Aku berfikir kenapa ya...? daganganku tak laku-laku siang tadi. Tak seperti biasanya di kota Bandung, aku kalau berjualan sebentar saja di kota Bandung cepat lakunya.

Mmmm..kenapa jauh-jauh begini padahal aku tak begitu paham wilayah kota tahu ini. Selepas sholat isya, sebelum rasa kantuk menyapaku, Aku sempatkan wirid kalimat, La illaha ila anta subhanaka inni kuntumminazzalimin seratus kali.

Hari sudah menunjukkan jam 23,45 wib. Aku merasa kedinginan yang teramat sangat, seluruh tubuhku menggigil, gigiku pun beradu. Seperti menggigit batu-batu kecil di gigi ini.

Aku memutuskan mencari selimut untuk menutup tubuhku yang super dingin. Hingga mataku tertuju kepada sajadah yang berserakkan di lantai mushala. Aku selimuti badanku, kantukku menyapa, hingga mata ini terlelap.

Ketika sadarku hilang masuk ke dalam alam mimpi, aku bermimpi...jauhhh, dari lorong kosmik rasa mimpi.. dari atas langit ada sebongkah kerlip cahaya turun menghampiriku, bak meteor melaju. seketika cahaya itu menyinari dada ini. Aku lirik ia mendekati satu depa diatas wajahku. Telinga pun berdering seperti lonceng berbunyi.

cahaya itu sangat menyilaukan bola mataku seakan siluetnya menerangi seantero alam mimpi. Aku haru dan tertegun, bertanya dalam lelap mimpi sendiri dalam hati.
cahaya apa ini ya illahi..? Seketika di tengah cahaya itu, tertulis kalimat MUHAMMAD bertuliskan huruf Arab. Aku membaca dan menatapnya dengan jelas. setelah selesai dengan khusyuk aku membacanya di dalam hati. Perlahan cahaya itu, menghilang dari pandangan mimpiku.

Aku terjaga seketika, melihat jam dinding mushala telah menunjukkan jam 2:23 wib. Bertanya dalam resah, apa yang telah terjadi dalam mimpiku barusan. Ya Allah, pertanda apa ini?

Ahhh, jawaban misteri itu tak mampu aku pecahkan di sepi begini, Rasa takut menghampiri. Aku lebih baik melanjutkan tidur. Hingga aku terbangun waktu subuh, menunaikan sholat berjamaah. Selesai aktifitas sholat subuh kala itu, fikiranku teringat pesan pak tua sore tadi, Untuk berjualan di samping mesjid pagi ini, selesai sholat subuh. Lantas aku pergi membangunkan yang punya kedai itu, mengambil daganganku yang aku titipkan kemaren sore, dan sekaligus pamit ke penunggu kedai tempat barang niaga aku titipkan. Pagi-pagi sekali aku cari tempat untuk membuka dagangan.

Aneh bin ajaib, daganganku belum selesai aku buka semuanya. Tiba-tiba saja, entah dari mana orang-orang belanja mendatangiku, tanpa ada tawar menawar mereka belanja dan langsung pergi. Gak berapa lama daganganku habis terjual.. hari baru menunjukkan jam 7 pagi. Padahal orang-orang di pasar pagi itu terheran-heran menatapku.. pagi sekali barangnya sudah habis terjual. Ocehan orang-orang di pasar terhadapku. Kita-kita ini para pedagang lama baru mau buka dagangan, dagangan anak muda itu sudah habis terjual. Anehnya lagi kata mereka.. yang belanja orang-orang yang gak kita kenal selama ini. Entah dari mana orang- orang itu datangnya??

Tak menunggu berapa lama, aku bersiap-siap menutup peralatan tempat daganganku, karena daganganku sudah habis. Aku memilih cabut dari pasar itu segera. Pergi ke sebuah terminal kecil, Terminal Cimalaka tak berapa jauh dari pasar itu. Lalu aku melanjutkan perjalanan menaiki bus ke kota Bandung kebetulan bus medal sekarwangi aku tumpangi kemaren pagi sudah ada antri di terminal itu.

Sesampainya aku di sebuah terminal Cileunyi Kabupaten Bandung, aku telah di sambut oleh Alfian dan Aichun.  

Yang dia risau bertanya,"aaiii kau Rahmat..!!?? Kenapa kamu gak pulang kemaren sore..? Kami risau menanti semalaman ini. Dan kemana daganganmu Rahmat!!!??.Aku sangka kau tersasar di Sumedang itu, karena kau orang baru di negeri Sunda ini."

Aaahhh...aku ketawa dan tersenyum kepada mereka,'Daganganku sudah habis semua terjual lo tanpa tersisa."

"Uuuhh, masa sih. aneh ya", gumam Alfian,

"Kau baru datang dari kampung bisa sehebat itu berjualan. Hebat kau Rahmat", puji Alfian.

"Aku saja yang sudah bertahun-tahun, berniaga tak pernah habis, kamu kok bisa. Aku kira daganganmu itu di curi orang. Sekali lagi aku bangga padamu benar-benar hebat kau ini rahmat."

aku hanya senyum saja. Padahal rahasia yang berlaku denganku apakah dengan hikmah hidayah mimpi yang aku alami itu. ketika bermimpi bertemu dengan nur Nabiullah Muhammad SAW.
Mmm,...tak aku ceritakan kepada mereka yang menungguku di terminal itu.

Hingga sampai kini aku tak lagi bertemu mereka kawan-kawan seperjuanganku dulu. Entah di kota mana ia berada sekarang....entahlah.


*****TAMAT*****
Cerpen
SUKA DUKA NIAGA DI BALIK HIDAYAH
Kenangan tahun 1994,
Di kisahkan oleh: HR Romy Sastra
Jakarta, 26-5-2016. 00:22




Rubrik : Catatan Romy Sastra
SASTRA DAN FEMINISME
Oleh Romy Sastra


"Malam itu remang-remang, ada sedikit penerang sorotan lampu cafe menghias di arena pertunjukan. Arena pementasan baca puisi di betelnut Ubud, salah satu venue Ubud Writers and Readers festival. Menarik! Cafe ini sangat romantis untuk bersantai dan mencari hiburan dalam konteks musik serta apresiasi sastra dan budaya dipentaskan"

"Ubud Writers and Readers festival diadakan di pulau Bali, sebagai ajang kreativitas para sastrawan dan budayawan dari mancanegara serta Indonesia berkumpul mengikuti event sastra di berbagai venue dalam peluncuran buku sastra (puisi) dan memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan yang berkembang di zaman milenial ini serta mengupas seluk beluk sastra dan feminisme"

Ubud Writers and Readers Festival, event dunia pementasan seni budaya dan sastra sebagai wujud kegairahan berekspresi individu dan kelompok mengapresiasi bakat insan-insan yang bertalenta di bidangnya.
Soal feminisme di bingkai sastra adalah kesetaraan gender sebagai perempuan yang berkarya, berkarakter, berpikir kepada kearifan alam dan lingkungan dalam tema jagadhita, menjaga wibawa serta keindahan perempuan itu sendiri.
Jagadhita dalam artinya:
Jagadhita adalah kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan setiap orang, masyarakat, maupun negara sebagai tujuan hidup agar tercapainya moksartham jagadhita ya ca iti dharma di dunia ini dan di akhirat nantinya.

Feminisme kesetaraan gender antara kaum perempuan dan laki-laki dari berbagai bidang kebutuhan.
Feminisme di sebagian kelompok adalah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang publik bahkan di ruang pribadi. Feminisme sejati bukanlah merupakan suatu ideologi kebencian kepada kaum lelaki, justru saling sinergi berbagi mencapai kebahagiaan bersama saling menyayangi, dihormati, saling mengasihi dan menghargai.
Feminisme di sini adalah tetap berpegang pada kodrat keperempuanannya sebagai makmum di hadapan lelaki sebagai imam pada kaidah kehidupan berpasangan-pasangan (sunatullah & sunah Rasulullah)

-Feminisme berawal
Feminisme dalam dewasa ini bukan menuntut yang kebablasan dari kodrat keperempuanannya. Semenjak manusia diciptakan, Adam sangat membutuhkan Hawa sebagai pendamping hidupnya, mereka saling membutuhkan saling menghargai kasih sayang, dalam keasyikan hidup penuh kesenangan di surga, hingga mereka berdua dicampakkan ke dunia akibat tergoda oleh rayuan iblis.
Alam terkembang, Adam pun sangat membutuhkan Hawa kembali untuk kelangsungan hidup di dunia. Feminisme keadilan berlaku diterapkan oleh Adam kepada pasang-pasangan anak-anaknya, antara si cantik dinikahkan kepada saudara yang kurang tampan dan sebaliknya dengan adil, lagi-lagi iblis merusak tatanan feminisme itu.

-Feminisme Islam
Feminisme hak juga diterapkan oleh Rasulullah dalam bentuk cinta dan menghargai perempuan seperti pembebasan budak-budak di zaman jahiliah. Seperti Khadijah mengambil peran ayahnya setelah meninggal dunia, Khadijah melanjutkan perdagangan ayah sebagai perempuan pengusaha sukses di zaman itu. Islam hadir untuk menegaskan humanisasi perempuan setara dengan laki-laki di tengah budaya
patriarki, hingga muncul sistem adat budaya matriarki, walau hukum fikih menetapkan pembagian soal harta warisan lelaki dilebihkan, setidaknya perempuan memiliki bagian di dalamnya tidak terlalu tertindas, ini yang ditata oleh Rasulullah.
Ironisnya, semakin jauh era Rasulullah berlalu, semakin jauh pula umat Islam dari penghormatan kepada perempuan. Atas nama Islam, kaum perempuan mendapat kesulitan dalam bergaul, mengekpresikan kebebasan individunya, terkungkung oleh aturan yang sangat membatasi ruang kerja dan gerak dinamisnya, dan dalam kancah politik, suaranya tidak begitu diperhatikan atau bahkan diabaikan sama sekali. Fenomena ini terlihat jelas di negara-negara 'Dunia Ketiga' yang umumnya adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim

-Feminisme di Indonesia
Feminisme di Indonesia sudah tidak lagi mengekang perempuan di berbagai bidang bahkan hingga ke tingkat pemimpin negeri ini yaitu presiden sudah dijabat oleh seorang perempuan di jabatan birokrasi-birokrasi di parlemen-parlemen baik itu di jabatan pemerintahan dan swasta, perempuan mengambil peran penting di dalamnya di era moderenisasi sekarang ini.

-Feminisme di mata dunia
Feminisme di berbagai negara di dalam kepemimpinan sama seperti yang terjadi di Indonesia, perempuan memiliki peran penting di dalam politik baik itu sebagai kepala negara, birokrasi, parlemen, dan bisnis, serta lainnya

-Feminisme di mata keluarga
Feminisme dalam ruang lingkup kehidupan rumahtangga tidak bisa dinafikan. Hampir perempuan berperan penting sama seperti kaum lelaki ikut terjun mencari nafkah membantu suaminya. Bahwa alam dan keadaan dengan sendirinya menuntun perempuan berperan sebagai figur feminisme itu sendiri.

-Sastra dan feminisme.
Sastra menampung nilai-nilai luhur yang terkandung di khasanah keindahan sastra itu sendiri. Bahwa sastra mengandung ajaran kelembutan ke dalam bahasa, menentramkan kegersangan jiwa-jiwa yang penuh angkara.
Sastra menjembatani keindahan dari keterasingan serta keterpasungan perempuan berkarya untuk literasi dan dunia modernisasi.

Ubud Writers and Readers festival 2018 membuka topik feminisme dan tema hajat jagadhita menyuguhkan kearifan manusia kepada semesta dibingkai sastra menjadi lebih menarik dan unik yang berlangsung setiap tahun di Ubud pulau Dewata sebagai ajang kreativitas sastra menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya perempuan di mata dunia dan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam untuk ke depannya, bahwa kehidupan terus berlanjut.
Ubud Writers and Readers Festival 2018 yang saya kunjungi bersama kawan-kawan Dapur Sastra Jakarta, DSJ menyaksikan nuansa perempuan-perempuan feminim, di antaranya seperti gadis Bali berkebaya berpakaian adat yang eksotis. Salah satu budaya feminisme di Indonesia mempertahankan nilai-nilai kodrat perempuan berciri khas kedaerahannya.
Saya pun terpesona dengan keanggunan founder & direktur UWRF Janet DeNeefe memakai kebaya adat Bali. Saya sempat mengajaknya ber-selfie.
Ibu Janet DeNeefe ini salah satunya figur wanita feminisme event sastra dan budaya yang memimpin suatu organisasi berskala internasional, tidak lagi suatu organisasi dipimpin oleh kaum lelaki. Ini menandakan kaum Hawa sudah sederajat peranannya dengan kaum Adam.

Jakarta 2 Nopember 2018

Cerpen - KAU KENANGAN ITU DI RUMAH TUA Penulis : Romy Sastra


   Kenangan adalah masa lalu, yang tak bisa di lupakan begitu saja. Hampir tiga dekade cerita terkubur bak peti mati terkunci dalam memori. Pada kesempatan ini, lamunanku membubung tinggi akan kisah cinta remajaku dulu, Dan setiap insan pastilah memiliki kisah walau ceritanya tak sama.

Sebut saja namanya Ariyati, aku di perkenalkan oleh Rayendra kepada Ariyati. Rayendra adalah teman baru yang baru saja aku kenal di bangku sekolah MTsN sederajat SMP, sekolah menengah pertama. Pertemananku dengan Rayendra berlangsung akrab. Pada suatu ketika, aku diajak nginap di rumahnya. Kebetulan pada hari itu sabtu sore malam minggu, aku menyanggupi tawaran untuk bermalam minggu di kampungnya. Jarak kampungku dengan Rayendra sekitar 5 km. Ketika senja menempuh malam, aku di kagetkan oleh sosok si hitam manis dari sebelah rumah kawan itu. dia tersenyum padaku, aku seakan serba salah membuatku malu. Pada waktu itu, aku tak memahami maksud di balik senyuman itu.

Pada kesempatan minggu kedua aku kembali diajak bermalam minggu di rumah Rayendra. Di malam itu, aku seakan di tampar oleh senyuman pada sebuah hati, aku yang dungu tentang makna senyuman cinta.

"Haaaiii...????",sapa seseorang di sebelah rumah sahabatku itu.

Aku balas juga dengan senyuman. T
api aku tak menjawab sapanya, sebelumnya aku telah di beritahu oleh Rayendra, bahwa yang di sebelah rumahnya rayen itu adalah sepupunya yang namanya Ariyati yang pernah di perkenalkan kepadaku seminggu yang lalu. Si hitam manis dengan senyuman yang mendesakku untuk menyapanya. karena tatapannya mengajakku ke sebuah rumah tua, sebenarnya rumah tua itu adalah rumah bibinya juga tepat berhadapan di depan rumahnya Ariyati itu.

Malam itu aku tak sendiri diajak bermalam minggu dengan Rayendra, ada juga teman sekolah satu kampung dan dia saudaraku juga sebut saja namanya Sandra desiska. Rayendra juga punya sepupu yang namanya Amelia, Amelia adalah wanita cantik berperawakan chinese ayu. Spontan Desiska naksir Amelia malam itu. Berlalunya senja menyulam malam aku dan Ariyati serta Desiska dan Amelia bercerita di rumah tua tentang kawan-kawan sekolah masing-masing panjang lebar.. hingga bla-blaa-blaaaaaa.

Rayendra hanya menonton kami saja seakan sepupunya sudah berpacaran dengan kawan-kawannya yang ia bawa bermalam minggu ke rumahnya. hahaha.....masa kanak-kanak yang belajar remaja, lucu dan lucu juga.

Kebetulan malam itu malam terang bulan. oo ya, telah malam hari kami lalui. spontan kami mencurahkan isi hati masing-masing hingga kami terbuai dengan belaian manjanya malam di bawah sinaran rembulan. Bahwa cubitan kasih masa remaja itu berbunga-bunga seperti tak ingin layu hingga esok pagi.

Oh Rayendra, kisah ini aku tulis ke media. tak akan bisa kamu membacanya. cerita kita yang dulu pernah ada berkawan denganmu tahun 90 an yang berlalu. Setahun yang lalu aku masih menemuimu, kau bertamu ke tempat niagaku dengan membawa anak istrimu. Kini kau telah tiada kawan, pergi untuk selama-lamanya. sebulan sudah jasadmu terbujur di dalam tanah telah menjadi bangkai. Kau pergi membawa derita dalam konflik rumah tangga bersama keluarga istrimu. Kami segenap keluargamu berduka akan kematianmu itu. ahhh lukamu kawan. Al fatihah yang bisa aku persembahkan kehadirat misteri illahi kini. Kaulah pelopor kisahku dengan si hitam manis sepupumu sendiri. Kisahku di rumah tua di mulai.

Kisah ini panjang dan berliku untuk di ceritakan, tapi tak apalah. Aku sinopsiskan saja dalam bingkai cerita sederhana masa remajaku dulu. Berlalunya waktu, aku menamatkan studyku di MTsN Talaok Bayang Pesisir Selatan Sumatera Barat.

Sebuah memori kisah kasih masa remaja dalam pertemanan sekolah masa yang begitu indah. kisah itu menambah sedih akan kisah kasih yang tak sampai ke arena takdir hidup aku dengannya. Pada sebuah kenangan manis berbuah pahit, tatkala moment rekreasi di sebuah objek wisata pergunungan bayang sani indah menjadi saksi perpisahan, bahwa aku akan pergi merantau tinggalkan kampung halaman dan si hitam manis yang ku cintai masa itu. Ia menitipkan blues hitam kepadaku sebagai kenang-kenangan bahwa baju itu tanda ia akan selalu bersama dalam derap jejak langkah kehidupankku merantau ketanah jawa, ya tahun 92 yang berlalu. Aku merantau karena gagal study karenaku sakit, Ariyati melanjutkan pendidikannya ke jenjang sekolah menengah atas SMA negeri Bayang.

Tiga tahun berlalu, hingga Ariyati menamatkan pendidikannya. Aku dan Ariyati tak berpisah dalam jalinan hati dan cinta hingga rasaku menilai begitu. Karena memang kami tak ada kabar berita semenjak aku meninggalkannya merantau, entah dimana keberadaannya ketika itu selepas ia tamat sekolah.

Pada suatu ketika aku pernah pulang ke kampung halaman dari perantauan tepatnya dari kota bandung. Ibuku pernah bercerita, "nak..? bahwa dulu ada seorang wanita kerumah kita bertamu, menanyakan kabarmu yang tak kunjung pulang dari bandung. Ia pernah berdua memasak bantu ibu sambil bercerita banyak hal tentangmu. sampai pekerjaan dapur ibu selesai dia pamit pulang ke rumahnya karena hari sudah sore pada waktu itu."

Aaahhh... aku terdiam dengan seksama tak terasa airmataku menitis di sela pipi mendengar cerita ibuku.. spontan aku palingkan wajahku ke samping ibuku karena aku sedih dan malu.

Ariyati dulu pernah mengirim surat ke alamatku di cileunyi Kabupaten Bandung, sewaktu Ariyati dapat kabar akan alamatku dari ibuku bahwa ia pernah bekerja di department store di kota Medan. Anehnya ketika itu surat yang dikirimkannya kepadaku tak pernah sampai ke kota bandung ke tanganku sendiri, entah kemana menghilangnya? Hingga tertanya sendiri dalam gumpalan rasa yang hiba, ohh Ariyati?? ini isyarat alamat suratmu tak pernah sampai ke tanganku, pertanda kita tak akan mungkin bersatu berjodoh memandu bahtera rumah tangga berdua nantinya, gumamku pilu dalam lamunan, bahwa kisah kasih kita ini tak akan sampai Ariyati. Dan itu terbukti berlalu hingga kini.

Pada suatu moment dalam sosial media facebook, aku mengenal di ruang publik pertemanan sosok si hitam manis dengan nama akun facebooknya, wajah si hitam manis dan nama itu sangat aku kenal banget. aku coba mengintai postingan kronologis tentang facebooknya, ternyata memang Ariyati si hitam manis yang dulu pernah aku cintai ada di ranah sosial media facebook. Oohh berkaca-kaca airmataku menatap satu persatu lembaran demi lembaran tentang kehidupannya bahwa ia si hitam manis itu telah bahagia dengannya bersama buah hati tersayangnya. Ahh, aku kulum saja pandanganku dalam doa ini, semoga ia bertambah bahagia dan langgeng menjadi keluarga samara, sakidah mawaddah wa rahmah hingga ke jannah amin ya allah. Harapanku..

Oohh dalam hati kecilku, aku masih punya rasa kepadanya. Tapi aku coba untuk dewasa dan bijak tentang kisah dan rasa ini. Bahwa memang laju hidup kita telah jauh berbeda dan berubah. kau di sengata sana aku di kota jakarta. tak akan mungkin kisah di sambung kembali. Bahwa kita telah memiliki dunia yang berbeda dan telah tunduk kepada takdir jodoh di masing-masing kita ya Ariyati.

Biarlah hasratku kafani ke dalam peti memori terkunci mati. Tak ingin bangkit mengurai kasih yang tercerai berai dalam kasih yang tak sampai. Aku dan realitaku pun telah bahagia dengannya. Doaku sekali lagi, berbahagialah kau bersamanya.

*****SELESAI*****

Ku petik sebuah memori sederhana.
pahit untuk di kenang, sulit melupakannya.
kisah remaja di era tahun 90 an.

Cerpen,
KAU KENANGAN ITU DI RUMAH TUA
Penulis : Romy Sastra / HR RoS
Jakarta, 8 agustus 2016, 12:50



Catatan Romy Sastra
DAHULU KAU "BONGKAR" BENTENG SOEHARTO ("BENTO")

Anggota DPR kau juluki "BADUT"...
Lalu kau berkirim "SURAT BUAT WAKIL RAKYAT" agar jangan menjadi "TIKUS-TIKUS KANTOR"...

Sampai-sampai orang menjulukimu "MANUSIA SETENGAH DEWA"

Dan para penggemarmu pun berkata "IZINKAN AKU MENYAYANGIMU"...
Tapi kau bilang "AKU BUKAN PILIHAN"...

Ahh, "JANGAN BICARA" lagi tentang idealisme...

Karena kulihat kau ada "SIANG SEBERANG ISTANA", lalu dipanggil masuk ke dalamnya...

"ENTAH" apa "YANG TERLUPAKAN" olehmu..
Hingga tak ada lagi "KEMESRAAN" di antara penggemarmu...
Mungkin mereka sudah "FRUSTASI"...

Kini aku sadar, yang ada hanyalah "DEMOKRASI NASI"...

Jika "BUNG HATTA" masih hidup, mungkin akan berkata padamu...
"Kau bagaikan "BELALANG TUA" yang tak mampu lagi
menganalisa...

Dan lihatlah, sang "GURU OEMAR BAKRI" yang pernah kau puji,
sekarang pun pergi meninggalkanmu...
Pergi ke "UJUNG ASPAL PONDOK GEDE" mencari "IBU" nya yang lama dia tinggalkan...

Sang ibu yang matanya seperti "MATA INDAH BOLA PIMPONG", kini duduk termenung memikirkanmu sambil meneteskan "AIR MATA" lalu bergumam lirih...

Hmmm... "HADAPI SAJA" walaupun harus "ANCUR" !

@setyomartha-

Cerpen Anak Anak - LENTERA SENJA ITU PADAM DI SURAU TUA Penulis : Romy Sastra


   Menyimak eja pada iqra' duduk bersila di hadapan lentera. Dalam kebodohan diri, aku terlantar pintar, karena nakal. Berharap secercah cahaya dari tuan kaji, sampai kini aku masih bodoh tentang al quran kitabku sendiri.

Nagari / negeri kubang bayang pesisir selatan sumatera barat, surau baruh, aku terlantar dalam asuhan santri senja.

"Haiii... Doni,!! pergilah sana kau ngaji! ini hari sudah senja,. kau masih main silat-silat juga bak pendekar cengeng saja. tidak kau lihat, jamaah di mesjid sudah pulang sholat maghrib itu", hardik ibunda.

"ya bunda, aku berangkat ini. 
hiiiiiaaapp....", bak superman terbang aku berlari pergi dari jalan itu.

Padahal sedari sore aku sudah gagah dengan sehelai kain sarung, lengkap dengan peci hitam dan buku iqra' di saku bak pendekar minang di palang pintu nagari... hihihihi...

Aku tak sendiri, ada Darno kawanku yang biasa kalau pergi ngaji berdua dengannya. Dalam perjalanan, aku tersentak kaget oleh sesuatu yang aku raba di saku.

"Dar..?!!!"

"Apa Doni",sahut si Darno terhadapku.

"Uang paket ngaji di sakuku hilang ini"

"Ada berapa uang kau kantongi tadi Doni..?", tanya si Darno.

"Ada tadi di kasih ibuku Rp 50."

"Mungkin terjatuh tadi Don,
sewaktu kita main silat-silatan sore tadi",kata Darno. 

"Yuukk kita cari uangku di tempat tadi Darno!"

"Ayoo Don."

"Ahhh dalam hati, sudah tiga minggu aku tak bayar paket ngaji ini. 
yang dua minggu kemaren aku belum bayar paket ngaji ni, lagian aku pakai buat jajan juga. Apes deh.., celaka dua belas aku nanti ",sumpah serapahku dalam hati.

Eh, duit yang di cari-cari yang hilang tadi tak kunjung di dapati lagi. Waktu isya hampir tiba, hari sudah semakin malam. Aku lihat kawan-kawan ngaji yang lain sudah hampir semuanya pulang dari surau. Sebut saja namanya pak bilal guru ngaji aku dulu ditahun 80 an, yang kini telah almarhum. pak bilal kala itu berdua ngajar ngaji anak santri surau dengan ibu Sri.

Sesampainya di surau itu, aku dan Darno di hardik oleh ibu Sri.
"Ya ampun,,, ",hardiknya. 
"Haiii... pendekar kecil!!! sudah jama berapa ini kau kesini pergi ngaji,Bocah-bocah nakal....?!!! padahal hari sudah menunjukkan jam 20,45 menit Sudah malam tau, si bocah nakal."

Aku terdiam dan takut setengah mati

"Don, 
kabur yuk...!!",bisik darno.

aku diam saja. s
uasana malu bercampur takut dengan ibu Sri, spontan saja si Darno ambil langkah seribu hilang di kegegelapan malam melihat tatapan mata ibu Sri. Keringat dinginku mengalir deras karena aku takut di marahi, yang aku dan ibu Sri masih berhadapan di beranda surau. Sedangkan pak bilal sibuk bebenah mematikan lampu untuk segera pulang. Anak-anak murid pengajian sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Ibu Sri memanggilku.."Doni, sini kau!!"

"i i iya bu Sri", dengan wajahku yang masih menunduk takut.

"Ibu tak memarahimu kini, aku lelah memarahi anak orang. M
asuklah ke surau ini!!! Kau ambil lilin di meja dan ada korek api juga ada disana, kau nyalakan ya perintahnya."

Aku hanya diam saja, haru bercampur takut, karena surau sudah gelap, adalah sedikit bayangan cahaya lampu rumah tetangga di beranda menembus dari luar jendela surau. K
arena lampu petromax sudah di matiin sama pak bilal.

"Ya Doni nasibmu", gumamku dalam hati.

ibu Sri menyapaku dalam kegelepan ruang surau itu. 
"Doni, kau nyalakan lilin itu duduk kau diatas tikar.. kau mengaji sendiri..!! ingat kan bacaan iqra' di malam kemaren..?"

 "Iya bu", jawabanku dalam keadaan bingung. dari mana aku memulainya bacaan pelajaran iqra' malam kemaren ya, tanyaku dalam hati.

"Bu Sri....??",dengan suara memelas aku memanggil guru ngaji itu. dari mana aku mulainya membaca ini, aku lupa sudah bu. Dalam temaramnya ruang surau, tak ada sahutan dari ibu Sri itu.

Dalam remangnya pelita cahaya lilin, aku teringat dengan kejadian tadi sore, duit paket ngaji mingguan itu hilang sudah tiga minggu gak bayar. Kalau ibu tahu duitku hilang pasti aku di marahi ibu di rumah nanti. Sedangkan bacaan iqra' ini tak ku mengerti, hanya berkomat-kamit di hadapan remangnya lentera lilin ini.

Sebenarnya ibu Sri guru ngajiku itu sudah berada di luar surau berdua dengan ibuku. Karena ibuku kehilangan anaknya sudah malam-malam begini si anak belum juga pulang ke rumah, padahal kawan-kawanku sudah pulang dari tadi semuanya.
Lantas ibu menyusul ke surau mencariku, ternyata ibuku dan bu Sri guru ngaji kami itu lagi bercakap-cakap di luar surau.

Ternyata mereka memperhatikanku di luar surau. Mataku terasa mengantuk berat aku takut pulang ke rumah. Hingga aku tertidur di hadapan lentera lilin senja yang hampir padam itu, yang biasa kami pakai kalau lampu petromax tak punya minyak.

Esok pagi aku terjaga dari tidur, Aku berlari keluar surau. Ternyata aku berlari berada di depan rumahku sendiri. Bapak, ibu, adik, kakak dan nenekku tertawa. Mereka semua, melihat tingkahku ketakutan dalam kesiangan. Aku seperti terjaga di dalam surau saja.

Padahal semalam aku di gendong oleh ibuku tertidur di dalam surau sendiri malam tadi. Aku malu, ternyata aku di tertawakan mereka semua. Dalam renungan senja, aku tak pandai ngaji kini.. alamakk.
*****TAMAT*****

Cerpen Anak-Anak
LENTERA SENJA ITU PADAM DI SURAU TUA
Penulis : HR RoS / Romy Sastra
Jakarta, 09-08-2016, 19:29



Catatan Romy Sastra

Indahnya Sebuah Sahabat Tak Ternodai Dengan Seronok Aksi
Sahabat Hati Klau Meniti Kasih Kadangkala Menyakiti
Jadikanlah Sahabat Ini Indah Dalam Bahtera Pergaulan Maya Saja.

Bila Kau Mencinta Bagiku Itu Sebuah Anugerah Terindah
Tapi Bila Ku Tak Mampu Menjawab Hasratmu Janganlah Rasamu Berbeda
Itu Bukan Berarti Aku Tak Simpati Dengan Belaian Manjamu
Karena Kidung Yang Selalu Kau Nyanyikan Ke Hatiku Menguggah Rahsa Asaku
Dan Aku Tak Mau Bila Hati Ini Terluka Nanti Hidanganmu Itu Tak Terealiti.

Sahabat Hati,,
Aku Tak Ingin Mencurahkan Airmata
Bila Itu Berarti Kita Berpisah
Aku Takkan Memberimu Hadiah
Kalau Itu Akan Membuat Kita Tak Lagi Bersua
Izinkan Aku Memberimu Satu Ruang Dihati
Sebagai Bukti Bahwa Kau Sahabat Sejatiku.

Hari Hari Panjang Telah Kita Lewati
Sungguh Jangan Terburu Buru Diakhiri
Sebagai Bukti Dariku Kau Sahabat Sejati Yg Berarti.
Walaupun Kita Berjauhan,
Biarlah Qalbu Berbunga Rindu
Walau Kita Tak Pernah Berjumpa
Yang Penting Kita Tersadar Dalam Doa
Kau Sungguh Berarti Untukku Saling Berbagi.

Semoga Sang Maha Daya Cinta Senantiasa Memayungi Kita Dalam Suasana Bahagia Selamanya...
Doaku, Jadilah Sahabat Sejati Yang Selalu Memahami Situasi..

HR Ros



Catatan Romy Sastra

Bias-bias terkikis dalam pesimis
gontai langkahku menghalau lelah
optimis pada cinta Illahiah.

Dalam religi,
Aku pamit ....

Pergi menjauh dari pergulatan dunia
yang kutempa kearifan jiwa pada nafsu hina
pergi memamah cinta dalam fana sukma.

Diri, mengejar asa terkadang lupa
bahkan memang alpa
rayuannya dunia fatamorgana.

Bila malamku hadir
kebisingan fana sami' menggema
bak lonceng berbunyi
asyik jauh membubung arasy
lafaz terhenti
hati berbisik
bashir kututupi
lidah kulipat langit merapat.



Catatan Romy Sastra

Alam malam dalam kegelapan
hening menempuh kematian
kematian di dalam kehidupan.

Berjalan bak kilat ke dinding misykat
Kupapah jiwa bersama rasa
menyatu bersama unsurku
larut melebur ke istananing dzat itu.

Tak kubawah mahkota megah
menggendong sebait asma
bergandeng dua ekor peliharaan yang setia
berputar mengelilingi asyik
peliharaan itu aku beri nama iman dan tahuid.

Tak dapat pelita di tungku perapian
tak kutemukan cahaya-Nya di sang surya
tak menerangi lilin di milad ultah
tak pesona ceria di glamournya pesta.

Pesta itu anggun tak berpenonton
Sorotan lampu panggung silau menipu
karena sang opera pertunjukan dungu.

Sesungguhnya,
aku menemukan cinta dalam kematian
mati dalam hayat
lenyap ke dalam fardhu ai'n
berakhir kisah suci pada kifayah
sebuah pertemuan realita cinta yang rela
khair di kasyaf wilayah rahmat ilmu
bersama-Mu, aku bahagia.

HR RoS
Jakarta, 11092016



Catatan Romy Sastra

Assalamu'alaikum..sahabat Dumay..

Nafas hariku pamit tertumpah YA
YA itu aku masukan kembali dengan HU
aku mencintai illahiah
Dia menyambut dengan rindu.

aku datang dengan berjalan
IA mengejarnya dengan berlari
aku datang dengan sebait doa
IA menghadiahkan kasih se isi bumi.

Tiada yang Aku pinta darimu
selain kenalilah Aku
tiada yang sia sia Aku ciptakan untukmu
melainkan telah Aku sempurnakan semua untukmu.

Apa yang kau persembahkan untukKu?
hanya selain rasa syukurmu.
sadarilah dirimu,,,,
Aku menyelimutimu
maka kenalilah Aku.
tiada Tuhan selain Aku
maka sembahlah Aku.

Duh,
Mengapa ada juga seribu Tuhan dihatimu,
wahai hambaKu.

HR RoS..



Catatan Romy Sastra

Pendakian religi bermikraj ke kasta tertinggi
menatap cahaya illahi bertemu sang kekasih
bermandi air tirtamaya
mencicipi madu nurjannah
menyatu kepangkuan rahimnya
terlena dalam rahmat cinta yang maha nyata.

Tuhan,
kini aku kembali masuk kedalam mimpi
Engkau ajak aku menemui-Mu
Engkau kenali aku dengan sebuah jannah
aku terpesona moleknya jannah dunia
Kau berlalu meninggalkan diriku.

Aku kejar engkau dengan mata hati
ku tinggalkan jannah dunia itu
aku ingin bersama-Mu kembali
seketika pelita kacahaya membungkusku.

Tuhan,
bila kasta khalifah itu ternoda
campakkan aku ke jahanam sana
bila engkau ridho, ampunilah aku.

Dalam ramadhan ini,
aku beribadah bukan mengejar pahala syurga
karena ejawantah tauhid imanku kepada-Mu.

aku tertatih dan terus berlari mengejar fakta cinta
yang semestinya telah Engkau suguhkan
selau di setiap nafas hidupku.

Tuhan,
ampunilah aku bila lalai
mensyukuri nikmat yang Engkau beri
Engkau yang ku cinta dan tercinta.

nafas pagi menjelang senja dari Jakarta.
HR RoS



Catatan Romy Sastra

Kau adalah sosok terindah yang pernah hadir
mengisi perjalanan hidupku
meskipun kau bukan cerita yang pertama tampil dalam kisah kasih
kehadiranmu mampu mengikrarku.

Ungkapan sebuah janji ajal menjeput tubuh,
tertanam ke dalam area pusara kisah
kisah cinta yang pernah ada dan tiada
seperti kisah mimpi yang sempurna
berkelakar dalam cerita
selalu bercumbu mesra berdua.

Bergurau dalam gelapnya malam
jauh di sudut angan
berhembus sejuta kerinduan.
jarak yang begitu jauh,
bercerita dalam maya
mengikat dalam rasa
kontradiksi di angan yang sering menghiasi hari
yang terkadang amarah dan kecewa
selalu menyapa canda
akankah terbiasnya cinta..?
dalam cerita yang selalu tertuduh hipokrit yang ternoda..??
uhhh, entahlah.

Bila janji-janji tak terealiti,
satu ketakutan yang akan kulalui
jubah kebencian menutup hati
aku bersimpuh memohon ampun
semoga kau memahami,
jangan hukum aku
dengan rasa penyesalan itu nanti.

Memang pertemuan antara kau dan aku
telah menyatunya dalam gita ayat-ayat hati
mesra bersentuhan di ujung jari
terkisah story tak memiliki.
hingga ketakutan aku itu nanti,
paranoid rasa menghakimi masa senjamu
yang akan bermandi dendam setiap hari.

Bila di suatu ketika janji teringkari
Lautan kebencianmu menyapa di hujung mimpi,
aku takut, kisah ini berakhir ke dalam airmata
akhirnya cinta terbenci termisteri dalam rasa yang tak berkesudahan nanti.

HR RoS



Catatan Romy Sastra

Catatan Temu Ziarah Kesenian ZK, dalam Workhsop di Taman Bacaan Masyarakat TBM, Ibnu Hajar Salam, Magelang.

PENULISAN PUISI DAN MAKNA
Oleh Romy Sastra


Kenapa setiap karya jarang lolos kurasi di berbagai perlombaan penulisan/event sastra, persoalannya.
Bagaimana suatu karya itu memiliki identitas yang jelas di keseluruhan isi lahir (fisik) dan (batin) puisi itu sendiri di antaranya adalah:

1. Sebelum menulis suatu karya, sebaiknya penulis itu mengenali tata penulisan yang layak dalam kaidah menurut badan bahasa. Jika penulis itu sengaja mengabaikan tata penulisan dalam karyanya dengan licentia poetica. Penulis itu betul-betul memahami dan punya alasan yang tepat untuk dipertanggungjawabkan ke publik soal penulis itu berlicentia poetica dalam sastra (puisi) itu sah-sah saja dalam kekayaan khasanah ilmu kesusasteraan.

2. Penulis itu, harus paham makna kata ketika kata-kata itu dituliskan suatu majas menjadi diksi-diksi puisi.
Seperti kata "Menanti dan Menunggu" yang memiliki perbedaan makna, dan akan sama bagi yang tak memahami makna.

Suatu contoh kata atau kalimat di bawah ini:
A, seperti kalimat dialog 'Menanti'
"Hardi, sedang apa kamu di pinggir jalan itu?" tegur Heru dari jauh.
"Oya, Heru. Aku di sini menanti angkutan umum mau ke pasar." jawab Hardi.

B, seperti kalimat 'Menunggu'
"Lah, kamu sendiri Heru? Mengapa pula kamu duduk di sana?" Hardi berbalik tanya dari seberang jalan.
"Aku menunggu angkutan umum ini yang mogok karena ban mobilnya bocor parah, dan sedang ditambal."

Nah, di sini perbedaan kata dan makna antara Menanti dan Menunggu.
Menanti tidak terlalu lama, Menunggu sudah jelas agak lama.

3. Bagaimana penulis itu tidak lepas dari tema, puisi itu seperti bercerita, imaji yang bernas dikemas dengan majas-majas. Hingga karya puisi itu memiliki batin (ruh) di dalam lahiriah puisi tersebut dari larik menjadi bait dan ke bait-bait berikutnya, dipadatkan dengan ending. Dan puisi itu ibarat suatu batang tubuh, ada kepala ada badan dan ada kaki.
Kepalanya diibaratkan judul, badan sebagai isi serta kaki sebagai catatan/titimangsa untuk suatu identitas karya si empunya.

Jika dikemas suatu karya itu dengan penataan penulisan dengan apik dan memahami makna kata per kata serta karya tersebut bernas. Maka, karya itu akan berhasil jika tak ingin karya itu menjadi gagal di meja juri (kurasi).

Magelang, 24 Juni 2019



Catatan Romy Sastra

Napas hari memandu lajunya nadi
terbang menghilang mengelilingi diri
bersayap Ya Hu pergi dan kembali
kehidupan terbarukan selalu,
aku mencintai-Mu ya Illahiku
Engkau menyambutnya dengan rindu.

Pujiku datang dengan berjalan
IA menghampirinya dengan berlari
kyusu'ku datang dengan sebait doa
IA membentangkan fana berpayet sutera
aku bertamu membawa segala cumbu
IA menghadiahkan kado untukku pulang
ya, secuil mutiara indah
lebih indah dari se-isi langit dan bumi
yaitu mahabbah cinta-Nya

Tiada yang Aku pinta darimu
selain kenalilah Aku
tiada yang sia-sia Aku ciptakan untukmu
melainkan telah Aku sempurnakan semuanya untukmu.

Apa yang kau persembahkan untukKu?
hanya selain rasa syukurmu
sadarilah itu.
Aku menyelimutimu
maka kenalilah Aku.

Tiada Tuhan selain Aku
maka sembahlah Aku.

"Duh ... mengapa ada juga seribu Tuhan dihatimu,
wahai hambaKu.

HR RoS
Jakarta,14102016