RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 25 Maret 2017

Kumpulan Puisi Puji Astuti - ELEGI HIDUP


TERAWANG
By : Puji Astuti


Sinema perjuangan ini belum berakhir
Meneteskan peluh-peluh kucuran lelah
Menaburkan rengkuh ber-aroma kisah
Tertanam dalam jiwa dan mahkota rasa

Sewaktu dera mencambuk dada
Jeritan lirih terlantun di bibir mungil
Memanjat doa untuk bertahan di dalamnya
Sampai jari melepuh diperjalanan yang ditempuh

Di depan famamorgana membentang
Bergelombang mengisyaratkan tantangan
Adakah kesejukan atau bara yang ada
Terkatup kalbu bertahtakan ketegaran

Wajah-wajah manja melintas di mata
Senyum termanis mendera di dada
Kerling cinta menyulutkan gairah membara
Inilah dentuman di sendi-sendi kehidupan

Raih semua harapan kita bersama
Di sana pasti ada tempat untuk merajutnya
Dekapan di dinginnya malam
Sebagai selimut hangat di saat patah semangat

Terumbu akan terus bermunculan
Di tunas-tunas muda yang penuh dengan keselarasan
Rengkuh semua dengan kasih dan cinta kita
Untuk mengubah sebuah jeritan menjadi manisnya senyuman

JOGJA, 13/3/2017





ELEGI HIDUP
By : Puji Astuti


Ada yang tersirat di depan sana
Hati berburu gulirnya waktu
Berlari mengejar matahari
Seperti ingin meneluk bayang sendiri

Pagi jelang siang ini
Napas-napas terengah-engah dihimpit nyali
Untuk paparkan rasa ego,
Bahwa diri bisa menumbangkan keganasan dunia bisnisan

Untuk yang cuma berlenggang tanpa ekspresi
Menundukkan ego dunia adalah mustahil
Karena kita berjalan seiring dengan kaki sendiri
Biarlah yang berlari maka berlarilah

Dan untuk yang terbaring sakit
Berjuang melawan gerogotan virus, bakteri di raga terbujur lemah
Menghitung waktu terasa lamban
Karena tanpa bisa menggerakkan kepakan sayap angan yang terpendam

Elegi pagi jelang siang
Beribu dilema tergelar di atas bumi persada
Tak peduli itu miskin atapun kaya
Semua menerapkan perjalanan hidupnya

Sedangkan diri ini di sini
Terpaku menatap merahnya tanah liat
Yang makin pekat tercampur lumpur hitam
Bergelombang di atas hamparan bumi tua dan semakin panas menggersang

Salam perjuangan....

JOGJA, 15/3/2017

Kamis, 16 Maret 2017

Kumpulan Puisi & Cerpen HR RoS - ANA DAN KAKA


ANJING KESAYANGAN
Karya Romy Sastra


telah aku tarik rentang tali temali
berjarak jauh kupintal mendekat
nan terikat pada simpul pohon rimbun
akar mencakar di ujung kuku
tak melukai dada ibu

pucuk melambai menyentuh arasy
sebagai saksi laju perjalanan kereta
nan acapkali singgah di berbagai stasiun

ketika perjalanan usai
menempuh titian dunia
pengadilan menunggu di meja maha hakim
di sana terjawab perkara rahasia
nan bersembunyi sunyi
di lembaran hari

berkawan saja cinta
dengan dua ekor anjing kesayangan
kuberi nama Iman dan Tauhid
napas anjing setia berhias di setiap laku
tak melolong hanya diam
berbicara bisu

roda kereta berantai besi
rel berbantal baja
pergi bermusyafir membawa cinta
terikat di dada tuan si empu

dua peliharaan kesayangan bersimpuh
di atas sajadah membentang di setiap laku
pada jejak-jejak santri
menuju dermaga abadi

HR RoS
Jakarta, 10-01-2017





mengenang 22 Desember hari ibu
pada milad di hari yang sama
kepada mbak Retno Rengganis

DOA PUISI UNTUK IBU
Karya: Romy Sastra


Satu tangkai kembang rindu
kupersembahkan di akhir tahun ini
dalam keheningan malam,
aku sujudkan tubuhku ke hadirat kalbu
memanggil dalam iringi doa
ya Allah... sampaikan rindu ini kepada ibuku

"Ibu...

Telah jauh kaki ini melangkah
perih sedih bumi kupijak
namun nasib badan tak jua berubah

Diri ini telah bermandi peluh
mengais asa berkelana di lorong masa dan waktu
yang tertinggal kini lamunan pilu
di hari ulang tahunku

Aku tersadar ibu,
jauh lebih perih deritamu
yang pernah kau cabari dulu membesarkan anak-anakmu

"Oh, Ibu"
kala malam mata ini berurai sebak
teringat masa pahitnya deritamu mencari sesuap nasi untuk kami,
dalam kelam menengadah doa.
Bersujud,
ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku ya Allah.

"Ibu,
Di hari kenangan ini
aku menangis rindu
setumpuk pilu tercucur ke dalam napasku
kupandangi raut wajah tiranimu
menitis rintik bening di depan kaca
pipi anakmu juga telah keriput
menyamai raut wajahmu ibu

Doaku,
berbahagialah engkau selalu
di usia senjamu yang telah ranum itu

Ananda tahu,
andaikan gunung Merbabu jadi intan berlian
tak kan bisa membalas jasamu ibu.

Satu kesempatan
di hari ulang tahunku ini
kutitip larik puisi sastra untukmu dariku
air mata hiba berhentilah menitis
bergantilah dengan air mata bahagia
titip salam rindu padamu ibu
maafkan atas semua kekhilafan anakmu
'Oh, ibuku....

HR RoS
Jakarta 21-12-16





DARAH ALEPPO BERCUCURAN
By Romy Sastra


Negeri yang diberkati tak nyaman lagi
haru hiba membuncah di dada
ke mana luka kan diobati
perban putih tak cukup membalut darah
embun pagi berganti debu
angin berubah bunyi meciu
warna langit berkabut
jalan-jalan penuh ranjau
genderang perang kapan kan berakhir
sudahlah

Dunia diam,
doa tak mampu melebur badai berlalu
tangisan kian pilu
genosida semakin gila,
tubuh berbalut jubah diperkosa
bangkai tua muda jadi abu

Tuhan,
langit ini seakan runtuh
runtuhlah!
kiamat sudah terjadi
perang ini lebih dahsyat dari neraka
jeritan akhirat,
masih ada dispensasi amal terselip
jeritan konflik ini pelik, pedih

Bumi Aleppo hangus tak bertuan
penguasa-penguasa bermata satu
menciptakan gaduh
apa yang kau cari wahai dajjal
di tanah ini,
berdamailah walau sesaat saja
izinkan anak kami bernapas
memandang langit biru
kenapa kabut menyelimuti seantero negeriku
takut kami melebihi dari el-maut bertamu

Aleppo sejarah terburuk di tanah tandus
tak terdengar lagi
di telinga pemimpin berbudi
seakan telah tuli
seperti tak bisa bersuara bisu sudah

Aleppo itu kini berdarah-darah

HR RoS
Jkt,16/12/2016





BERLAYAR RINDU
Karya Romy Sastra


tutup saja lubang dunia
ia jendela penggoda
kenali rumah sejati
temui kematian
hingga wafat tak berkafan

makam diri bercahaya megah
nisan berasma cinta
tak lelah menggali tanah
liang sembilan pasungkan
getar nadi jangan hiraukan
hingga sesak sekejap jangan risau
di sana pintu maha hidup menyapa

bukalah dada asmara
leburkan ego di tiang ampunan
rengkuh rasa sentuh awas-Nya
Ia magnet menuntun usaha tak sia-sia
tak berjarak sedikitpun dari yang ada
bercumbu di setiap pesta
panggung kerlip tak berlilin
merona seperti purnama

bercinta kepada kekasih sejati
dalam kelambu rindu
detik-detik memandu laju
dengan kereta kencana tak berkuda
membubung terbang tinggi bersama ruh
bersayap aurora cinta
langit dan bumi bersatu di dagu
Ia menyelimuti ruang dan waktu

ingin tahu mutiara terindah
jangan takut dalamnya sagara
berlayarlah, hingga fana
telanjangi jiwa jangan bernafsu
biarkan bidadari menyapa menggoda

renangi saja tanpa ragu-ragu
pakai tongkat petunjuk jalan
biar tak tersesat bertamu
ke dalam istana tak berkaca
kemilau bertumpuk dalam tatapan
tak runtuh dihimpit nafsu
mandilah dengan tirta cahaya terindah
nafs diri pasrah bersatu padu pada tajali itu

HR RoS
Jakarta, 06-01-2017





TAHAJUD CINTA TANPA DOA
Karya Romy Sastra


sajadah tahajud terbentang
duduk tafakur
di bawah lindungan Ka'bah
aku membawa rindu
jauh ke ruang jiwa

sunyi sepi berkawan hening
pusarakan warna nafsu pada dinding kaca
lenyap tak bercahaya

si burung merak datang kepakkan sayap
menyusun Ya Hu ke dalam napas
unang aning unong berbisik pada sami'
bhasyiran
bertamu ke lahayattan qalbu

malam-malam indah bersama sunyi
tenggelam menyatukan diri
asyik rasa, fana menyentuh Ilahi
misykat kristal membulir tak tersentuh
seperti kejora di malam purnama
terhampar di padang Sahara jiwa

khair-khair berbisik dalam sami'an
khair bhasyiran bermusyahadah
tersusun dalam tirai mahabbah cinta
lembut halus melebihi seribu sutera

kacahaya menyapa tahajud
terpana indahnya kelambu kasih
bahagia bagi hamba yang selalu bersujud
rindu-rindu bersetubuh menyatu
bersatu padu

di bawah lindungan Ka'bah cinta
ada di wajah maujudullah
bersama tongkat alif menengadah kerlip
ada di malam-malam indah bersama-Nya

tahajud cinta tanpa doa dunia
meneguk telaga Firdausi
membawa kasih tuk sang kekasih
dalam pangkuan
yang tak mau di tinggal pergi

HR RoS.
Jakarta, 24-2-2016. 16,24





HARAPAN YANG GAGAL
By Romy Sastra


ingat masa kecil,
tersimpan cerita pahit banyak kenangan
berselang waktu yang sudah jauh berlalu
menelaah masa-masa kecil dulu
ketika dimanja-manja orang tua

di balik manja itu,
tersimpan raut resah gelisah
dari kedua orang tua
dalam keterbatasan ekonomi
yang selalu menghimpit diri
kala itu, canggung badan berhias tangis
semua gagal dalam hidangan hidup

yah, entah mengapa pagi ini
jauh di perantauan di sudut kota
kuluahkan perasaan ini
sekedar mengenang memo
telah jauh tinggalkan cerita pilu
seribu duka telah berlalu,
kini seribu tanggung jawab menghampiriku

di kaki ini, asa yang kuraih
di jalan yang berkerikil dan berduri
tak jua menghadirkan mimpi-mimpi indah
kucoba tuk selalu tersenyum,
tapi air mata selalu berlinang malu
aku telah melangkah di setiap kota
dan berpijak di pulau yang berbeda
berharap meraih asa tuk sebuah cinta
dan kepada mereka
serta berbagi untuk orang tua
tak jua asa itu merekah

ingin kuakhiri perantauan di kota ini
tinggalkan mimipi-mimpi semu
hidup bersama kedua orang tua kembali
walau yang kubawa dari kembara sebuah senyuman duka

ahh, lama sudah kampung halaman itu kutinggalkan
tak apalah,
setidaknya aku berada di tanah tumpah darah kembali,
menyulam asa kecil yang tertunda
di sana

mencoba tuk tegar menerima takdir Ilahi
terima kasih Tuhan
telah menghadiahkan suratan takdir
dalam opera hidup yang bermakna
kan kujadikan ladang ibadah

HR RoS
Jakarta, 06,03,17





TANGISAN DI TANAH MERAH
By Romy Sastra


Tangisku pecah di tanah merah
mengenang ayah terbaring kaku
di tengah rumah
kini ayah telah tiada

Ayah,
aku di sini
di pembaringan terakhirmu
menatap sedih
dengan bulir yang menetes

Oh, ayah
batu nisan itu
belum kami persiapkan
kembang setaman belumlah kering
aku mendekap ke tubuh makam
menitip pesan cinta rindu dan doa
ya Allah,
ampunilah dosa orang tuaku
lapangkanlah kuburan ayah
terimalah amal ibadahnya

Ayah,
satu tongkat semangat telah kau titipkan padaku
kini aku telah tahu rasanya dunia
sepeninggal ayah pergi meninggalkan kami
satu hati merintih di kesendirian sepi
mengenang nasib kami yang kau tinggalkan
kini kau telah terbujur
di ruang misteri
yang tak akan mungkin kembali lagi

Oh, Tuhan...
Semangati hamba
biar aku raih cita-cita ayah
yang dulu pernah dititipkan kepadaku
meski ibu selalu dirundung pilu
kami selalu mendekap dalam ceria
menghapus duka yang tak pernah sudah
di tengah rumah ini

Semoga darah tirani cintamu ayah
tegar menempuh asa pada kelanjutan hidup kami seterusnya

Amin ya Allah

HR RoS
Jakarta 17-2-2016, 07,45

Catatan kaki: sebuah puisi teruntuk keponakan Benni Slankers dan Randy sebulan kematian ayahnya.





#Puisi_Kolaborasi
ANA DAN KAKA


Ana dan Kaka
sentuhan jemari belaian rindu
kiambang bertaut sisakan senyumanmu

Ana dan Kaka
biarkan teratai layu di tasik madu
akar berenang menelan pahit
benang-benang kehidupan
cabaran merajut kilauan

Kelopakmu tersusun rapi
meliuklentok mengejar bayangan
jangan layu tersentuh bak mimosa pudica

Ana dan Kaka
sayapmu patah di kiri dan kanan
menganyam rindu di bibir malam
tadahkan tangan dalam sujud
raih mahabbah maha kekasih

Jangan mengharap kasih
yang tak kunjung datang
bicara tentang mama dan papa
iringi dengan doa
yang terkubur di pusara
sirami dengan kembang setaman
berbahagialah hendaknya nama yang tertulis di batu nisan
di samping pohon kemboja

Ana dan Kaka
tersenyumlah menatap mentari pagi
di sana kehidupan masih berlanjut
senja belumlah tiba
persiapkan amal ibadah
untuk bekal bersemayam nanti
bersama mama dan papa, ya, di sana

ANA DAN KAKA
(kisah dua anak Yatim)
puisi kolaborasi, Nur Mutiara PELITA TRENGGANU (Norhaizan Mahussin)
bersama Romy Sastra II

Jakarta, Malaysia 18/2/17





TOPENG-TOPENG DEWA
Romy Sastra


intrik birahi kapitalis
mencengkram dunia

politikus dungu bermain catur
kalah strategi marah
pengamat ilmuan
seremonial teori saja

sang penguasa dan pengusaha duduk manis
jadi penonton sayembara
rakyat gelisah sudah

selir-selir tahta
seakan bertopeng dewa
semua berkoar benar
padahal hipokrit memalukan
yang penting kenyang tuan senang

para pecundang
ingin jadi pahlawan kesiangan
padahal ia intrik-intrik politik
gerilya berbahaya
untuk sebuah bangsa

barak-barak partai
menyusun konspirasi tingkat tinggi
bak si kecil belajar main petak umpet

gita cinta tanah air itu
hanya seni suara saja
seperti pertunjukan opera
pepesan kosong belaka

bung!"
di mana realiti janji itu
katanya,
amanah itu di pundak dewa mensejahterahkan rakyat
ternyata, hahahaha

anak negeri ini lapar bung
hasil tani dan kebun tiada harga lagi

negeri ini kaya
tapi kenapa kolonialis yang berjaya

putra putri bangsa ini pintar
tapi kenapa bisa dibodohin
uhhh,
emang dasarnya bodoh

coba pelajari sejarah
sang tokoh silam berjuang untuk bangsa
tak mencari keuntungan
malah berkorban jiwa raga

kini,
tuan-tuan telah berjaya
berjuang untuk rumah tanggamu saja
itupun jalan yang salah
kau korupsi di mana-mana

sang tokoh pahlawan itu kini
berduka di haribaan-Nya
di nisan tua

HR RoS
Jakarta, 14/2/17





#Kwatrin
ORASI DEMOKRASI
Romy Sastra


Toa meraung-raung tak jelas
Habib berbicara
Orasi pedas
Perwakilan suara umat yang gelisah

Siang tadi di depan istana ada tamu
Raja tak berpesta,
Tamu tak diundang datang
Panggung-panggung politik meriah
Padahal undangan disebarkan
Lewat hukum tak adil

Katanya akidah dinistakan
Umat tak terima,
Lebih baik mati berkalang tanah
Daripada akidah tergadai
Untuk apa hidup,
Kenyang hanya memakan bangkai
Harga diri tidak bisa dibeli
Lebih baik berdamai,
Jangan bermain api, negeri kan terbakar

HR RoS
Jakarta, 110217





#Quotes


ketika musim kemarau datang
ia menitipkan pesan kepada awan
sediakan payung sebelum rinai turun

dan ketika musim hujan melanda
bersuka citalah
bahwa rahmat-Nya menitipkan kesuburan
maka tersenyumlah

HR RoS
Jkt, 17/2/17





#Quotes


kepada hujan yang menetes sepanjang hari
jangan tangisi rasa hiba membawa koloni risau ke dada

biarkan takdir menjawab,
musim ini kan berlalu
ada hikmah sesudah musim penghujan
ia menyirami alam yang tandus,
menyejukkan hati yang gersang
berdamai kita sepanjang hari

HR RoS
Jkt, 17/2/17





#Mutiara

Sukses dan kegagalan adalah hadiah dari usaha, dan itu keniscayaan

Berguru kepada sesuatu pengalaman adalah study menata masa depan untuk lebih baik lagi

Pengalaman bukan sekedar bahan renungan,
akan tetapi berikhtiarlah kembali
demi mencapai keberhasilan yang tertunda

HR RoS
Jkt, 16217





#Puisi_Lipatdus
PROSES DEMOKRASI


Pesta demokrasi belum lagi usai
Sindiran cibiran kian menikam
Yang kalah legowo
Menang merangkul
Berdamailah!

HR RoS
Jakarta,16217






#Anekdot
PETANI DAN SI BURUNG PIPIT
By Romy Sastra


Pada suatu pagi,
para petani desa bersenda gurau di kedai kopi.

Selepas sarapan pagi, terjadilah dialog aktivitas di antara mereka

Salah seorang petani mengajak kawannya untuk bangkit dari tempat duduknya. "Berseru..."kita ke sawah yukk!?" Sahut pak tani yang rajin ke kawannya yang di sebelahnya.

"Kawannya menjawab"
malas ah, kata kawannya itu.

"Kenapa emangnya, tak mau turun ke sawah?
Pak tani yang rajin tadi balik bertanya.

Kawannya si petani yang rajin tadi memberikan alasan yang sangat diplomatis.

"Ya, kalau kita jadi petani
sudah pupuk mahal
obat padi harganya selangit
mirisnya lagi sering gagal panen.

Ketika panen juga nantinya
harga padi dan beras dibeli murah sama pengusaha,
parahnya lagi, beras juga masih diimpor dari luar negeri menyaingi harga pasaran dari petani lokal.
Gak dijual padi dan beras itu nanti tak bisa menutup hutang biaya usaha pertanian kita. "Uuuhh... deliknya sikawan itu.

Petani rajin itu balas menjawab.
"Ya... kau banyak teori nampaknya kawan, alasanmu saja kau tak mau berusaha,
dasar rakyat pemalas kau ini,
coba kamu pikir, kalau tak ke sawah kita-kita ini,
tak lagi bertani, mau makan apa kau dan keluargamu nanti?

Kawan itu bergumam lirih,
"uhh.. dasar kau tak paham program pemerintah selama ini pak tani, ya pak tani.

Tahu gak kau pak tani?
Program pak menteri sekarang ini impor beras dari negara Thailand,
beras dibeli murah dijual mahal di Indonesia, beras dalam negeri harganya dipolitisi, deliknya persiapan beras dalam negeri tak mencukupi.
Padahal negeri ini surplus lumbung hasil tani.

Sang tengkulak pecundang berkilah dari sudut kedai itu. "Uhhh, debat tingkat rakyat sok pintar.

Hehem,
termasuk si penulis anekdot ini, hihihihi.

Coba pikir baik-baik kata si tengkulak!
Kalau kau tak ke sawah!"
Paceklik dan kemiskinan akan semakin pahit, kehidupan ini akan menjerit
pemerintah akan semakin terjepit.

"Ah..., kata si petani, dasar kau tengkulak!'
Kau tahu cari untung saja sebagai pedagang, sebenarnya kaulah biang kerok semua masalah harga selama ini.

"Ahh, enak saja kau berkata jawab tengkulak.
Aku hanya pembeli dan penjual saja sebagai jembatan antara kau dan pemerintah
wajarlah aku dapat keuntungan dalam perdagangan.

Pagi itu sudah beranjak pergi, tak terasa matahari sudah mulai meninggi
debat para petani itu tak kunjung jua selesai.

Pipit, si burung sawah mengintip debat petani di kedai kopi
dari ranting pohon di kebun yang tak berapa jauh dari kedai itu.
Si burung pipit mencicit lirih miris, cit..cit..cit...cit....
Ia seakan berbisik sedih dalam cicitannya. Berharap, mendukung para petani, ke sawahlah pak tani! Harapnya.

Aku si pipit ini, sama halnya dengan si mungil kalian di rumah yang lagi doyan makan,
jangan kau hiraukan birokrasi di atas
optimislah kesawah pak tani!
Tataplah selalu mentari pagi itu
di sanalah kehidupan.

Aku si pipit sawah, si pencuri biji padi yang menguning menumpang hidup denganmu petani.

Aku tidak sama dengan si burung hantu yang di sana,
dan si burung hantu itu jauh lebih berbahaya lagi, satu lumbung dimangsanya.
Parahnya lagi,
bahkan lumbung-lumbung pun dijualnya.

HR RoS
Jakarta, 29-11-2015. 08,05





#Quotes


kepada bangkai-bangkai hidup
kesucian tertutup pada nafsu
nyalakan pelita jangan redup
hidup bagaikan suci dalam debu
berterima kasihlah pada-Nya
sujudkan tubuh dan jiwa ini
kenali anasir diri
nan tercipta dari cahaya jadi sempurna
mengabdilah!

HR RoS
Jkt, 30,01,2017





#Renungan
Testimoni Pada Suatu Mimpi
By Romy Sastra


ada yang lebih panas dari api
yaitu matahari
ada yang lebih tajam dari belati
yaitu mata hati
panas dan tajamnya mata hati,
bisa memandang cahaya yang tersembunyi

angin dan air kekuatan yang paling kuat di dunia ini,
tapi, ada yang lebih kuat dari angin dan air yaitu rasa
Sedangkan rasa bisa mengenal Dzat Illahi

itulah sempurnanya insan kamil yang tahu jati diri,
keadaan nan abadi ada di alam diri,
sampai ke akhirat nanti maha nyata sekali

HR RoS
(tertulis di Jakarta, Senin malam
1-Mei-2000,
sebuah kertas menghampiri dalam mimpi)





#Quotes


cacian dan cemooh suara angin adalah ujian
nan menerpa diri pada isu,
ia bumbu iman menuju perjalanan hakiki
teruslah bermusafir
meski jalan itu tandus dijalani

ketika goyang dengan terpaan
akan terjungkal oleh angin sendiri,
maka tersenyumlah dengan cabaran
kan kau petik mutiara hakiki dalam kesabaran

Jika tak mampu berdiri,
diterpa badai ujian perubahan kau jejaki,
hidayah-Nya takkan lari
nan bermahkota pada jubah religi
jangan bernyanyi di tepian pantai
jika riak datang kau gamang

HR RoS
Jkt, 03/02/2017





JANGAN BAKAR CINTA DENGAN NAFSU
Romy Sastra II featuring Dave Whitelee


Halilintar menggelegar
jauh di kosmik nan tinggi
Menyentuh geger jantungku
Aku bersembunyi di balik tirai
Takut akan bunyi guruh
Ada lubang selebar bola mata
Seakan mengundang rinai tiba-tiba

Pada kilatan netra lelaki borjou
Menggilas rusuh di wajah gadis desa nan lugu
Ia semakin jelas terlihat
Akan merampas permata belia
yang ia punya, aahh....

"Tuhan... kenapa dia kembali lagi?
Bukankah kemarin dia telah datang
Menyentuh sesuatu yang kumiliki
Apakah harum lulurku tadi pagi
Terbang melintasi kerajaan langit
Hingga pesonaku menebar ke sukmanya

Tubuh ini merinding gemetar
Takut dia menghisap maduku
Sedangkan pembimbing rohani
Menyemai fitrah pada nilai-nilai luhur

Berkhotbah di sana-sini
Jangan, jangan, jangan!
Jangan kau hinakan aku sayang
Sebelum ikrar noktah setia di persandingan depan pak penghulu
Kita berjanji sehidup semati

Cahaya netramu
Semakin menajam menikam mata
Aku seperti terkapar tatapan buaya
Mematikan semua denyut nadiku

Pijar-pijar api membawa kilat
Seakan membakar rumahku
Kenapa cinta kau bakar dengan nafsu

"Tuhan, tolonglah aku!"
Tubuh ini kaku sudah
tak berkuasa menepis gejolak asmaranya
Kuternoda di jalan berlumpur
Terkapar rayuan si dahaga cinta

Jangan rampas mahkota yang kupunya
Aku tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan
Pahamilah aku anak desa tak berdaya
Tak silau dengan kerlip kota

"Oh..., tidak, tidakk, tidaaaakkk! Pekikku
Aku takut cinta bernoda,
Aku tak senaif yang kau kira
Meski aku merindui kemurnian cinta

Sedangkan nuraniku bertanya
Cintailah aku dengan hati suci
Jangan cintai aku dengan netra srigala

Risau jiwa pada praduga,
praduga nafsu cinta hina
Ya, hanya praduga cinta nan hina
Ketakutanku berlebihan
Semoga kau mengerti maksudku
Tak ingin maruah cinta kita ternoda oleh nafsu hina

Pada sinopsis cinta lelaki halilintar
Akan membakar ruang rinduku

Jakarta, Depok, 02,03,2017

* spesial untuk balasan puisi ibu Nunung Noor El Niel (Lelaki Hujan ) ide cerita Lelaki Halilintar.





Cerpen_kisah_penulis
Judul: MIMPI BERTEMU NABI
Karya: Romy Sastra


Suasana mimpi di malam itu, purnama bercahaya indah di dada langit, kerlip kejora bertaburan, seakan arasy bertamu memeluk bumi. Aku terpesona di alam tidur di ruang kosmik dalam jiwa ini. Mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW sebuah misteri pada religi tingkat tinggi.

Doa-doa seiring tasbih sepanjang permana tak berbilang setiap malam, laju napas memuji, iringi perjalanan iman melakukan ibadah salat tahajud. Hadirnya rasa rindu kepada yang dirindui oleh sekalian yang tercipta mengharapkan pertemuan dengan maha kekasih bermandi cahaya pada bintang gemintang dari percikan gesekkan kalbu bertasbih kepada Rabbani di alam diri.

Aku duduk bersila, seperti bertapa bak lingga yoni mencari keheningan diri, mimpi itu.
Di antara bintang gemintang yang terang menyinari angkasa, ada satu bintang yang gemilang dikelilingi oleh pijar-pijar kerlip. Tatapanku syahdu, memandang langit biru di dalam mimpi, sesosok yang berjubah hijau keluar dari kerlip satu bintang yang gemilang, dan ia turun ke bumi menemuiku secara khair di dalam mimpi itu.

Sosok berjubah hijau turun ke bumi menghampiri lelapku, jiwa ini sadar akan fenomena batin yang terjadi dalam mimpi. Ya, dalam mimpi itu.

Sosok yang berjubah hijau tak menampakkan rupa,
melainkan berwajah cahaya.

"Ia berseru!. "Wahai umat yang merindu, aku datang kepada kamu sekalian menititipkan pesan, Ikutilah sunahku!" Kau akan memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam suasana takjub suara itu begitu lembut menyapa mimpi yang jarang ditemui.

Di sisi lain, selain yang berjubah hijau berwajah cahaya itu, ada juga sosok yang gaib tak berwujud menuntun perjalanan mimpi, dan itu salah satu suara batin mendampingi perjalanan mimpiku.
Ia mengisyaratkan ke dalam ruang mimpiku!. "Itu Rasulullah turun ke muka bumi. "Wahai yang tertidur," Ikutin jejak langkah di mana dan ke mana Rasulullah itu berpijak. Maka, seseorang itu akan mendapatkan syafaat ilmu yang baik dan mendapatkan kebahagiaan serta keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.

Aku tertegun dengan petunjuk suara dari yang tak berwujud itu.
Lantas, aku mengikuti jejak-jejak sang Rasul berjalan berada di depanku.
Serasa telapak kaki ini, menginjak salju yang sejuk merasuk ke seluruh tubuh, aku terpukau lembutnya jejak ini ya Allah.

"Sang suara itu kembali berseru!
"Ikutin pemberhentian di mana Rasulullah itu berdiri, berdirilah di tempat jejaknya itu, dan duduklah di mana Rasulullah itu duduk.

Aku memperhatikan di antara dua petunjuk suara dan arah langkah kaki yang berjubah hijau berada di depanku, yaitu Rasulullah dan suara gaib tak berwujud itu.

Suara itu berpesan lagi. "Sesiapa yang ikut berteduh di bawah pohon yang Rasul dudukin, ia akan memperoleh kebahagian rezeki dunia yang penuh berkah.

Dari jarak tujuh langkah di depanku, sang Rasul yang berjubah hijau dikelilingi cahaya, berhenti berteduh dan bersandar pada suatu pohon yang telah mati. Pada gersangnya jalan-jalan yang ia lalui, jejak-jejak langkah kakinya tumbuh rumput-rumput meghijau menimbulkan kesuburan pada alam yang tadinya gersang.

****

Lalu sang Rasul terus berjalan dan berjalan, pergi dari pemberhentian di bawah pohon yang mati dan telah menjadi rimbun serta berbuah lebat.

Dengan rasa yang lebih takjub, aku mengikuti jejak rasul bersandar di pohon yang meranting tadi, yang dedaunnya telah tumbuh subur dan berbuah. Anehnya, buah pohon itu menjadi ranum mewangi menusuk hidung, aku terpukau sejuknya suasana di bawah pohon rimbun itu.

Sang suara gaib kembali berpesan; "Ke mana arah lenyapnya Rasulullah itu menghilang, dalam perjalanan malamnya menempuh fajar, dan dalam perjalanan siang menempuh senja. "Maka, ikutilah perjalanannya itu dan di mana beliau menghilang dari tatapan.
Jikalau engkau mampu hilang bersama tenggelamnya di mana Rasulullah itu lenyap, maka seseorang itu akan mencapai kesempurnaan ilmu dan hidup hingga ke jannah.

Dengan linangan air mata membasahi pipi, rasa rindu serindu-rindunya, aku menatap Rasul itu berada di tepian telaga biru, lenyapnya sosok yang berjubah hijau di hadapanku ke dalam telaga.

Tangisku pecah, rindu ingin bersamanya, aku memanggil yang telah hilang dari tatapan dengan tersedu-sedu. Akhirnya aku terjaga dari tidur, mimpiku usai.

****

Suasana masih terasa malam, fajar mulai menyingsing, mata ini tak lagi mampu terpejam, tatapan kosong menatap langit-langit kamar rumahku, seakan tertegun pada mimpi yang baru saja usai, hingga suara azan Subuh berkumandang, spontan aku berbenah dan mandi, mengganti baju koko, memakai peci pergi mendatangi mesjid dan ikut salat Subuh berjamaah di mesjid.

Selesai rituah ibadah salat Subuh berjamaah di mesjid, para jamaah pulang ke rumahnya masing-masing.

Yang tertinggal aku dan pak ustad,
ia baru selesai berdoa di dekat mimbar, aku berada di belakangnya.

Dan aku bertanya perihal mimpiku kepada pak ustad yang masih ada di mesjid itu.

"Assalamualaikum ya, pak ustad?"
"Waalaikumsalam Warahmatullahiwabarakatu.

"Ada apa gerangan ya anak muda?"
Sepertinya ada berita yang sangat penting rupanya ini. "Pak ustad bertanya dengan rasa penasaran"

"Iya pak ustad.

"Aku tadi bermimpi bertemu sosok berjubah hijau, sedangkan wajahnya diliputi cahaya, serta dengan suara gaib menuntunku pada suatu petunjuk arah jejak langkah kaki serta duduk dan lenyapnya yang berjubah hijau itu, hingga aku terjaga sampai mimpiku usai. Tak beberapa lama suara azan Subuh berkumandang, selesai salat berjamaah tadi, aku menemuimu pak ustad.

Sedangkan pak ustad, dengan seksama mendengarkan cerita mimpiku dan ia sangat terkesima.

"Ya..., pak ustad, apa artinya mimpiku itu. "Ya ...,pak ustad?"

Aku mencoba merayu pak ustad untuk memberikan jawaban dari pertanyaanku.

"Pak ustad tidak langsung menjawab, justru ia terpana menatapku.

Tak berapa lama pak ustad akhirnya beraksi.

"Spontan saja pak ustad memeluk tubuhku dan mengucapkan, "Ya anak muda, dikau telah mendapatkan rahmat dan petunjuk yang mulia oleh Allah SWT dari mimpimu itu.

Pelukkan itu ia lepaskan, dan bersalaman denganku.

"Semoga hidupmu dilimpahi ilmu yang bermanfaat dan keberkahaan rezeki serta kebahagian dan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat dari Allah SWT nantinya. Aamiin....

Semua kejadian yang berlaku dalam mimpi itu, aku utarakan sedetail mungkin di hadapan pak ustad, sehingga membuat pak ustad manggut-mangut mendengarkan semua cerita yang kukatakan kepadanya.

Pak ustad tak banyak bicara untuk menjelaskan perkara mimpiku itu,
selain ia menitipkan pesan;

"Engkau anak muda ... suatu saat nanti, kau akan menemukan jawabannya sendiri, dari semua mimpi-mimpimu yang dikau alami.

"Aamiin ... alhamdulillah ya, Allah
bisikku dalam hati.

Hingga pada masa kisah mimpi itu terjadi, dan jawaban mimpi itu masih aku cari sampai saat ini. Dan alhamdulillah kini, seiringnya waktu, tabir mimpi itu sedikit demi sedikit terjawab tentang kesadaran hidup terus berjalan ke ujung senja, tabir mimpi itu adalah rahasia religi serta rahasia aspek kehidupan dalam laju lembaran-lembaran suratan takdir hidupku, hanya aku sebagai pelaku kisah dari misteri mimpi itu yang tahu.

Berlalunya waktu, mimpi yang terjadi di tahun 1999, aku yang pada waktu itu seorang santri jalanan menempuh lelaku pada pengajian mencari jati diri dengan seorang guru di tanah Banten dan Karawang, pada masa jadi santri, antara guru yang di Banten dan yang di Karawang itu. Tak pernah aku menceritakan kisah mimpi dari anak murid kepada sang guru kedua-duanya. Dan guru itu telah tiada kini.

Aku sang santri sadar, bahwa hikmah dari pengajian kepada guru-guruku adalah mata rantai hidayah dari Allah SWT memandu kedewasaan diri menempuh perjalanan hidup jadi manusia yang beriman dan menjadi hamba yang shaleh. Karena kehendak-Nyalah semua kisah hidup itu terjadi dan kepada-Nya jualah kita kembali, aamiin.

Mimpi bertemu Nabi sudah terulang tiga kali dalam suasana dan cerita yang berbeda di tahun yang sama.
Dan mimpi itu memang tak pernah aku ceritakan kepada sesiapapun selain aku menceritakan kepada pak ustad di tahun 1999 yang telah jauh berlalu, sepertinya aku telah lupa dengan pak ustad yang menitipkan pesan-pesan religi pada mimpiku kala itu.

Sungguh aku teramat rindu dan ingin bertemu denganmu kembali ya, Rasul.

Seiring berjalannya waktu,
hidayah Allah SWT menuntun hamba-Nya kepada jalan ihdinash shiraathal mustakim, alhamdulillah, aku diberikan pengetahuan untuk mentafsirkan dari jawaban-jawaban setiap mimpi yang aku alami. Ya, hanya dalam kehidupan kisah mimpiku saja dan itu memang menjadi pedoman hidupku. Sesungguhnya, bahwa hidup itu mengabdi dan pasrah pada ketentuan suratan takdir mengiringi langkah kaki dan nasib yang Allah titipkan kepada hamba-hamba-Nya
.
Pernah saya membaca suatu hadits mengenai mimpi, yang saya sendiri lupa tentang hadits itu.
Kurang lebih bunyinya begini:
Petunjuk yang terjadi setelah aku tiada di dunia ini nanti terhadap umatku, yaitu impian (mimpi)
salah satu Hadits Nabi Muhammad SAW.

"Waallahualambissawab"

Selesai





#Puisi
RINDU KAMI YA RASUL


Ya, Muhammad
engkau diutus ke dunia
penyempurna akhlak manusia
dari sifat jahiliyah menjadi mulia
dari kegelapan menuju terang
engkau insan kamil
tercipta dari sabda Hu Dzatullah
sang utusan dari azali
hingga akhirat nanti

Rindu kami ya Rasul
dari risalahmu kami berpedoman
biar kami tak tersesat jalan
syafaat itu kami tunggu nanti
ketika amal kami tak cukup dalam timbangan
di Padang Masyhar

Beratkan nilai kebaikan kami
dengan syafaatmu
jangan sia-siakan harapan umatmu ya Nabi
berselawat seluruh jiwa untukmu
karena dari rahmat engkau ia ada
engkau kekasih dari yang maha pengasih

HR RoS
Jakarta, 18,02,2017
NB: 53, untuk buku bersama abg Ahmed El Hasby





PESIMIS CINTA DI SUDUT SENJA
Karya Romy Sastra II

Aku mengenalmu
bukan sebuah mimpi
aku menyayangimu
bukan sebuah tarian ilusi
aku mencarimu
sesuatu dari rasa di lubuk hati
dan ingin mengenggam indah jemarimu
dan kecup keningmu

Jejak pesimis pada impian
dalam goresan maya tak berarti
untuk membuktikan kalau kita memang tak lagi sehati
kau yang menunggu kepastian
dari sebuah penantian cinta
yang tak ternantikan

Kau tunggulah aku di sini
di pantai memerah yang sarat temaram
demi menggapai sebuah mimpi akan terwujudnya sebuah janji
kalau memang nasib kan berpihak pada janji

Tuhan....
Izinkan aku memilikinya kelak
meski tanah retak
kaki berdarah pada jejak yang kupijak
memeluk dalam dekapan hangat
sebuah pembuktian,
dia yang selalu menyangsikan majas miris
majas yang tergores dalam hati yang pesimis

Harapan itu
ingin aku kembali ke pantai meski riak gemuruh
siulan camar bernyanyi
mewujudkan sebuah janji
harapan janji yang terealiti

Tuhan....
Aku ingin bersamanya
menata sebuah cita
dalam obsesi gita cinta di senja nan rela
berlayar bersamanya menghalau gundah
yang dia selalu dalam tanda tanya
pesimis harapan mengusik pilu
yang selalu mengganjal di relung hati
dan aku ingin membuktikan
kalau merpati itu tak akan ingkar janji
akankah Ilahi mewujudkan mimpi itu?
Entahlah, kasih....

Kisah yang terbangun dari goresan hati
berawal dari sebuah memori puisi
kasih terkisah indah
memerah di pantai senja jingga
senja yang kian temaram
dalam harap malam yang berpurnama
berharap purnama akan menyinari malam ini.
Duh, rindu....

HR RoS
Jakarta, 270217





MONOLOG ASA RAHSA YANG LARA
Karya Romy Sastra II


Pigura tak terbingkai kaca
gambar lusuh terkanvas rona pilu
berjalan tak terarah
tersasar di jalan yang buntu
tersungkur di lobang yang berbatu
duh, sialnya hidup

Hidup bermandi duka
Cinta merona rindu
galau dimabuk asmara
terkapar terluka rasa yang tak berdarah
akhirnya kecewa itu menyiksa juga
gundah gulana,
mendung menggantung tak berpelita surya gerimis membasahi
tak menyejukkan hati

Aku payah meraih asa
akankah luka termemory kembali
menjadi story hidupku nanti

Kini lelah meraih rindu
"oh, rindu, bungkamlah!

Bungkam jangan memancing lara sukma hiba menyentuh rasa
Rasa yang telah kaku digilas waktu

Suatu ketika rindu tak pernah bertemu
aku rela mahligai hidup tak berpihak padaku
titipanku pada puisi rela untukmu di sana

Hanya salam dan doaku menyertaimu,
berbahagialah dirimu selalu di sana
biarlah sepi ini indah temani malam
sendiri bernyanyi dengan sebotol arak
mabuk melepaskan sesak semoga terkuak
Semoga esok pagiku cerah kembali
hahahahaa... rasa rindu yang telah payah....

HR RoS
Jakarta, 05,03,17





MENCARI YANG TERSEMBUNYI PADAHAL IA NYATA
Karya Romy Satra II


Ainul hayat tak tersentuh
pada bulir-bulir sujud ruh
tutup saja pintu-pintu nafsu
pasrah fana mengintai kacahaya cinta
aku telah dibisikkan pada takdir
wilayah hayat hanya seumur jagung
setelah matang dipetik kering
biji bertunas pengganti tirani tumbuh
lalu tubuh menjadi debu

Oh, kerlip tasbih sujud pada senja
bak manik mutu manikam
secuil asyik kulirik cukup dalam
pada pencapaian tajali hati
untuk semesta menyentuh maha jiwa
menganyam makna sastrajendrayuningrat
menatap kerlip hanya sesaat saja

HR RoS
‪#‎Dalamtakbirsenja‬#
Jakarta, 05,03,17





GUGURLAH BUNGA
By Romy Sastra II


Gugurlah wahai bunga,
bila embun malam tak cukup menyirami kelopak cinta
oh, rindu
telik sandi kasih bernoda debu
jalinan yang tak akan mungkin bersatu

Warta kasih nan abadibpada senja
diterima dalam kasta cinta suci
pada gesekkan kalbu menuai tasbih

Lajunya rindu semu telah berlalu
rebahlah dalam dekapan pilu
pada keutuhan janji
telah dijegal di lembah sunyi

Kularung saja bunga cinta suci
pada Ilahi Rabbi
berharap damai jiwa sepanjang hari

HR RoS
Jkt, 05,03,17





BERNYANYI BERSAMA GITA
By Romy Sastra II


sepilihan memori dalam resonansi puisi
pada rasa tak bernada kukenali
gita kita masih bersahaja
memahami tarian tinta di meja kaca
kepada sepoinya angin menerpa sastra
sepilihan itu mengerti cerita senja
seperti dian pijarkan malam

hama-hama di pucuk daun berbenalu
kepompong merenda kelambu sutra
jangan terpesona pada warna pelangi
yang hanya sesaat menari titipkan misteri
ada baiknya kita lalui jalan berlumpur
memetik hikmah pada jejak berikutnya
untuk lebih waspada tak terjatuh di lobang yang sama

tarian ini masih gemulai
lenggok tinta di kertas tak berwarna
menuliskan satu kata seribu makna
mimpi itu sudah terobsesi oleh poetry alam
sang Maha larik taburkan aksara
pada langit dan bumi serta seisinya
tuliskan pada jiwa yang mengerti
menebar seuntai senyum pada sajak dan puisi

jangan menyerah wahai nahkoda
arungi gelombang dengan santai
biarkan riak menari menggusur pantai
camar-camar tak risau bernyanyi
masih ada gemulai nyiur melambai tersenyum menatap sagara nan membiru
bahwa pemandangan itu indah di sana
meski ambai-ambai tergilas gelombang
tak gamang dengan hadangan
sedangkan lembayung
masih sisakan harapan pada buih
tertitip dari terik menyinari

HR RoS
Jkt, 28,2,17





SABDA AZALI
By Romy Sastra II


Empat anasir berpadu
menjadi koloni buat tubuh
Nur Muhammad telah dulu bersaksi
Hu Dzatullah
Asyhadu alla ilaha illallah

Segalanya bermula dari alam kosong
yang ada DzatNya
Nur Qun Hu Dzullah
di dalam kandungan Qun Nur Muhammad dari pada DzatNya

Berkuasanya Dzat kepada sifat
tidak Aku jadikan engkau wahai Muhammad
melainkan rahmat untuk sekalian alam

Berfirman Rabbani pada sifatullah,
teteskan air nuktahmu wahai NurKu!

Nur mani menjadikan cahaya putih,
kepada air

Nur madi menjadikan cahaya hitam,
kepada bumi

Nur wadi menjadikan cahaya merah,
kepada api

Nur maningkem menjadikan cahaya kuning,
kepada angin

Tiada kosong telah terisi wajibul wujud

Bersabda sifatullah:
iyakun kun jadi, jadilah engkau Jibril
penguasa bumi
Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Mikail
penguasa air

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Israfil
penguasa angin

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Izrail
penguasa api

Kepada Adam tercipta sebagai insan kamil
khalifah di muka bumi,
tiada upaya semua tercipta mengabdi

Adam papah tak memiliki daya
sabda Rabbani titipkan karsani kepada Jibril
karsani ditiupkan ke tubuh Adam
Adam berdaya,
apa yang ada di dunia menyerah
Idajil tak terima

Daya keimanan Adam pada keinginan
menjadikan rasa mecumbui nafsu duniawi

Karsani tertancap di ubun
tembus ke dubur jadi abu
berjalan di bumi Allah
gelisah tak berpenamping
dari keinginan tercipta Hawa
tempat bermanja dan terlena
sesungguhnya surga dan neraka itu
nyata ada di dunia dan di jiwa ini

HR RoS
Jakarta, 21/2/17





RENUNGAN MUSYAFIR
By Romy Sastra II


Debu tak mesti bernoda padahal ia nirmala
sauk saja jadikan tirta tak basah
adakala ia pembersih yang dihalalkan
pergi bertamu ke Baitullah
jalan sang musyafir seribu langkah tak lelah
Sedangkan peluh meluruh di tubuh
bercampur debu bernoda tak mengapa

Kenapa banyu melimpah tak disentuh
tuk bersihkan wajah pada religi
sedangkan matahari di hati
tak pernah redup menyinari
puji-pujian pun di rongga
tak lekang memandu ruh di nadi

Ah, malulah pada hayat
tak lelah menghidangkan nafsu duniawi
kenapa tak disyukuri pemberian yang ada
bulan masih purnama
kejora masih kerlipkan cahaya
matahari belumlah terbit dari barat
berbenahlah sebelum terlambat

Ah, malulah pada ruh
ia masih bermain riang tak berbaju
bercumbu sunyi dalam kelambu rindu
ketika tamu tak di undang datang
jangan sesali tarian jiwa terhenti tak lagi berirama
penyesalan alang kepalang tiada guna
kembalilah wahai diri pada-Nya
dunia tak pernah indah
meski disulam dengan emas permata

HR RoS
Jakarta, 230217





HARMONI SENJA PADA GARIS KHATULISTIWA
By Romy Sastra II


Pada kemilau di atas mega
samudera biru membentang
sejauh mata memandang
tetesan hulu ke hilir di sela dedaunan
bersenandung alur ke muara
hijaunya pesona alam nusantara

Aku sibak tatapan jauh ke ujung angan
gemuruh ombak memecah karang
pasir-pasir berbisik di bibir pantai
menyapa camar bersiul dalam alunan riak
sunyi bernyanyi bersama riuh
yang ada decak gemuruh

Dahsyatnya sebuah keagungan
dalam simphoni harmoni senja
mendekap dalam kearifan alam nusantara
di ring road khatulistiwa

Pada peradaban nusantara,
mimpi-mimpi indah menjelma ke dalam tahta
dari magis rimba pertapaan bunian
sang punggawa pun ikut bertapa kedigdayaan
untuk sebuah keutuhan pagar betis
demi sebuah kejayaan jawara
mengukuhkan kekuasaan di titik batin
berjayalah sebuah budaya lama
lestarikan peninggalan itu
dalam kearifan indahnya mayapada
Alam asri museumkan di hati kita
bersemilah cinta kuntum jadi mekar
di bumi kathulistiwa ini
antara Melayu Indonesia
Malaysia, Brunai, dan Singapura

Selamat sore dari Jakarta

HR RoS
Jakarta, 23-2-2016. 15,30





DAULAT TUANKU RAJA-RAJA
SENUSANTARA DARI TINTA MAYA MENYAPA
By Romy Sastra


Khayalku membubung tinggi
jauh ke balik awan
senja ini,
pada sebuah tahta
di negeri antah berantah
negeri yang dipertuan agung
oleh tirani history

Pada sebuah amanah
dari rumput-rumput di balik tembok istana
indahnya tirai permaisuri berkilau kaca
pigura klasik menarik di dinding mewah
potret-potret tetuah raja tersenyum gagah di bingkai berlukis permata

Kelambu berpayet manik-manik eksotis
beraroma kesturi
sang permaisuri bersolek glamouris
seperti bidadari-bidadari cantik
bak bunga mekar di kala senja

Panji-panji berkibar di seantero negeri
lambang patriot jati diri di istana, lara
singgasana melukis aksara sangskerta
pada relief-relief kejayaan tempo dulu
raja tersenyum indahnya mahkota di kepala

Lamunan tuanku nan berbudi
melaju ke balik awan
memikirkan nasib hidup rakyatnya
yang kian tersisih

Sang yang dipertuan agung
daulat tuanku,
seperti masa bodo saja
rumput-rumput hijau di taman hati
di beranda istana menari indah
seperti kembang mekar yang belum jadi
tak tersentuh si kumbang janti

Rumput-rumput ilalang meradang
menyambut tetes-tetes embun
tak kunjung datang
disapa telapak kaki sang penguasa
burung-burung kenari berkicau elok
iramakan melodi cinta
dalam alunan kesadaran rindu
dari perjamuan tahta tuanku

Pada negeri seribu budi
memandu indahnya kemesraan
nyanyian sapa surgawi
yang hidup di padang ilalang
gersang selama ini
tak mati dibakar matahari

Cucurkanlah rasa cinta buat kami
wahai yang bersafari
meski tak kau bawa emas berlian
melekat di tubuhmu tak kau bagi
kami tak meminta kilauan permata
yang kami inginkan tunaikan janji
amanahlah jangan korupsi
jangan jual negeri ini

Hormat untukmu paduka cinta
yang kami butuhkan kini
senyum mesra dari paduka raja
bertaut menyapa bersama kami
berkelanalah jauh ke beranda marjinal
dari megahnya istana itu
kami ingin kemesraan langit dan bumi

Dalam diksi melodi syair senja
fiksikan khayalku ke istana nusantara
bumi pertiwi titipan Ilahi

Dikau raja berjubah setengah dewa
syair ini kupersembahkan kekaguman
dalam madah seuntai syair rela
menyapamu dari Jakarta
untuk sang mahkota di mana saja bertahta

HR RoS
Jakarta. 21-2-2016. 16,55





OPTIMIS
By Romy Sastra


Dalam lamunan
kuhayalkan tentang diri
berteriak dalam ruangan kosong
desahku lirih mencibir bayangan semu
teriakin kebodohan

Dalam sadar kubuka pikiran
Pikirkan tentang jalan hidup
untuk menerobos onak belukar
kegundahan diri selama ini
gundah dalam bayang-bayang ilusi

Tersadar diri
memegang teguh jalan hidup
menjalani realita hidup dari-Nya
napas napas optimis kuiringi memandu
mengabdi ke jalan Ilahi gapai ridho-Nya

Canda tawa selama ini tak seindah kubayangkan
tak lagi menghibur lara
banyak sudah kebenaran Ilahi dilalaikan
pecundang sudah bersama lelah

Pagi bersama terik tatap masa depan
menutup bayangan semalam
jemari menyusun pertanyaan sastra
menulis dalam syair
walau terkurung dalam tanda tanya
di ruang penuh misteri
tetap jawabannya
aku akan menganyam realiti
untuk meraih impian
membentuk kepribadian

Tak selamanya malam itu kelam
bersujud dalam kesunyian di keremangan
mengadu kesilapan diri
menghalau kegundahan
semoga gelisah berlalu pergi

Dalam doa
menengadah mencari cinta-Nya
mencoba memacu semangat mencintai-Nya
berharap dicintai-Nya
dan mencintai yang di sampingku juga
mendekap tanpa melukai kasih sayang
hidup indah bersama cinta

Dalam goresan optimis ini
semoga maha karya puisi
tak sia-sia memaknakan cinta
oh, diri. Mengertilah!

HR RoS
Jkt,19/2/17





JEMBATAN KUBANG NYANYIAN JIWA
Romy Sastra


i
tirani adat dalam kaum bergulir kepada zaman untuk peradaban tak bertuan, generasi dimulai dari sebuah ekspedisi para tuanku, alam berkembang disebabkan pecahnya kearifan istana di tungku tiga sejarangan dalam percaturan kekuasaan di tangan raja yang terkudeta oleh konflik aturan dalam kekeluargaan melahirkan keturunan ke berbagai seantero bumi Melayu

ii
Bayang sebuah negeri ekspedisi tuanku raja penghulu adat membawa empat suku dari negeri Solok Alahan Panjang, titipan tutur tuah tuanku di bawah panji adat istana Pagaruyung Minangkabau

iii
dendang indang nyanyian penunggu rimba bersahutan di hulu, si bunian melestarikan budaya pada kearifan alam, jagalah hutan dengan cinta, jangan tergerus titipan penguasa alam pada kelangsungan hidup akan terus berlanjut, yang menimbulkan bencana tiba-tiba, rusuh aliran air bergemuruh banjir bertamu mengalir ke tepian menuju samudera, risau tertumpah di dada mengingat ikatan jembatan jangan terlepas oleh hempasan deburan air bah

iv
si bujang tertegun dalam igauan
kala lamunan menyentuh kasih memadah kisah di atas aliran air batang Bayang di jembatan tua, ketika petang telah tenggelam, kumandang azan menabuh segala ruh, sujudkan diri menghadap Ilahi, senja berlalu, kita yang pernah bernyanyi lagu-lagu kenangan di jembatan itu,
nyanyikan tembang jiwa di kala senja menjajah malam menikam kelam, remang kisah hidup duduk si anak bujang petik seruling bisu siulan dungu, bahwa tepian jadi saksi cerita yang tak pernah sudah

v
batang Bayang dalam nyanyian jiwa
dekade telah berlalu sisakan selaksa cerita pada jembatan tua, bahwa di sana kisah bercumbu, sepoinya angin malam menatap kejora malam di dada langit,

vi
kawan,
lihatlah titian yang terpilin oleh arus bah, teronggok sudah jadi sejarah zaman pada regenerasi titian sepintas berlari ke seberang dan titian ini pernah kita lalui bersama, ya, cerita kita pernah tertitip di sini, kisah kita bukan cerita semusim,
tapi cerita yang pernah mabuk dengan kecubung, sebatang rokok filter dan dengan sebatang tebu yang pernah kita ambil di jalanan, ada cerita tentang dunia ini indah dan tentang ikrar asmara cinta yang membuat semangat muda mudi bergairah menatap langit pada purnama mencumbui si pungguk yang merana

vii
kepada malam yang dingin di ujung jembatan kita berjuntai, petikkan gitar tua, bahwa dalam sebuah irama lagu kisah kasih di sekolah masih terasa indah hingga kini

viii
ah, kau cerita yang tersisa pada negeri yang kucintai, dari titipan leluhur pujangga adat dari istana berkelana membawa peradaban zaman ke negeri Bayang,
Kubang nan denai cinto

HR RoS
Jakarta,16217





MENCARI MAHA KEKASIH
By Romy Sastra


Tapa lingga yoni ning hening
lebur terkubur bermandi peluh
mencari cinta sepanjang permana
memuji menempuh kematian di dalam hidup
dalam gulungan ombak beriak tak bertepi
mencari-Mu

Bilangan napas di tubuh gemuruh
bertanya pada sami' lonceng berbunyi
membuka pada tabir bashir
sepasukan kerlip bertamu
jubah Jibril menyelimuti dunia
gigil terpana diri diam tak berucap

Rasa bisu menyentuh kalam
bawalah daku mursyid ke langit tertinggi
kasta-kasta mewah ditempuh
pada tujuh pintu neraka kau tutup
membuka tujuh pintu nirwana
terbuka tirai maha kerlip
menyentuh segala sukma
tauhid berdiri di Baitullah

Salaamun qaulam mir rabir rahiim
salam sejahtera untukmu wahai pendaki
di sini pintu rahmat Maha raja bermula
daun-daun berguguran
netra dunia padam netra batin menikam

Memang pendakian ini
belumlah sampai jejak langkah kau daki
ini masih alam cahaya
leburkan saja kerlip jingga itu
jangan bermain rona
itupun masih rupa nafsu
matikan dirimu hingga fana
kan kau temui yang kau rindu

HR RoS
Jakarta, 15/2/17





AKU TAK SEHINA YANG KAU DUGA
By Romy Sastra


kuakui,
kau sangat berarti
karena diriku tak pantas kau cintai
meski terperap dalam harap
ingin damai bersama kekasih
duhai cinta,
dikau tak seindah yang kubayangkan
cabaranku terkikis oleh keraguanmu
aku sang kelana tinta
sadar,
hanya bermajas-majas duka

goresan sang musyafir syair lara
berkongsi ke alam maya
sebagai seniman yang ketinggalan kereta,
puisiku bukan tebar pesona
kepada bunga-bunga yang indah

ia melukis kongsi dalam bingkai
satu dunia satu hati satu jiwa
berkoloni dalam ukhuwah manusiawi
membuat sejarah hidupku
meski ia bias ditelan mimpi
andai tak dihargai
tak apalah

berharap,
setia satu hati memahami seni
tak melukis kontradiksi
pahamilah sebuah luah tinta sastraku
dalam kearifan budi yang bersahaja

presepsi hidup,
aku tak sehina yang kau duga
hidupku bermaruah
genggamanku erat melekat
meski genggaman ini,
bak batu karang yang selalu menghadang
dia juga bisa lebur oleh deburan

kasih,
aku memang tak sempurna
hanya mampu memadah noktah cinta dengan sastra
tak menjamumu dengan hidup berlimpah
dan tak layak diperjuangkan ke dalam arena hidupmu
berkaca diri dengan rasa
aku bukanlah pemimpi hati yang gundah
memanglah larik-larik tintaku adakala lara
dan memang nasibku jauh dari kata sempurna

aku kan selalu tegar berdiri,
dalam batas-batas jejak langkah
tak tergerus oleh badai
tak hancur digulung ombak
selagi langkah kaki dan rasaku dipahami
meski pasrah dijajah
tapi tak rela kesetiaan ini dihina

biarlah kini,
hari-hari kosongku
bersenandung sastra
untuk mengisi lembaran putih
jadikan memori
meluah obsesi yang telah jauh pergi meninggalkanku

kini,
aku mencoba merajut sepi
berkelana dengan rasa
berkawan dengan tinta
hidup dengan realiti
berkasih dengan satu hati yang terkini
bercinta sampai mati
meski hidupku merenda-renda imaji saja
biarlah kau gugur bunga-bunga senja
nan merona indah di sana

HR RoS
Jakarta, 13/02/2017





SI MISKIN BERCINTA
Karya Romy Sastra


Si miskin bertanya,
ke mana akan dibawa pohon cinta
yang telah lama berbunga ungu
arah rindu telah kelabu mendekap pilu
berbuah malu

"Oh, mendung
mendung rindu yang tak lagi menentu
langit sebak menutup gejolak di dada ini
lilin hati kenapa padam, nyalakan kembali
jangan kelam bermain diam, kan tersasar arah realiti yang selalu menanti

Kasih,
telah tinggi aku pacu semangat berlari
mengitari hari mencari sesuap nasi
mengejar obsesi meraih impi
namun nasib tak jua berpisah
dari badan diri.

Masa bahagia nan pernah singgah
menyapa beranda asa sekejap berlalu
dan sayangnya seketika sirna tiada tersisa

Kuterpaku bertanya dalam hiba
ketika cinta tak rela berdiri di jalan yang licin, berlalulah dari arah itu!

Di sana
jalan berpita merah
berpermadani indah terbentang
menuju istana noktah bermegah
hidup dalam kasta yang mewah
aku berdoa rela untukmu
berbahagialah bersamanya
Bibir menjadi saksi lirih, secebis kemesraan menyulam angan yang bermain di ujung mimpi semalam kian kelam
bias kisah semu tak berbuah setia
rasa yang tersisa ini kelu sudah ke dalam bisu

Biarlah bayangan diri jadi penonton
dari bilik sunyi
menatap paranoid kasih yang tersisih

Biarkan kudekap angan yang rapuh
merestui kebahagiaan bersama yang lain
berbahagialah hendaknya di sana selamanya

Kasih,
hapuskanlah cerita cinta yang pernah mengisi ruang hati ini
kala bersamamu dulu,
aku rela dengan telapak tangan sepuluh jari
menyerahkan semua takdir ke meja berlapis sutera di ruang jamuan kasih yang dia sediakannya

Dalam kasih yang tak sampai
kearifan cinta yang pasrah berdamai saja pada kekalahan si miskin bercinta

Gubahan rasa yang terakhir ini
dengan tinta merah kumadah goresan luka
mengusap derai air mata
yang membasahi duka hidup
yang kian menganga

Doaku,
berbahagialah dikau di sana bersamanya.

HR RoS
Jakarta,10,02,17





MENCUMBUI LARA
Romy Sastra

"Ohhh...

Di awal malam hadirkan rasa rindu
sunyi mulai bernyanyi di lorong-lorong parit, parung jangkrik senandungkan kidung malam,
si anak kecil mengintip celah parit
kejepit kalajengking menangis pada wajah yang telah membiru
duka negeriku terhantui, percaturan politik gerilya di barak-barak rahasia, bak bom waktu meletus sewaktu-waktu, aahhh....

Pagi nan lara yang tak beralamat, seduh saja gelas putih tak bergula
yang biasa hitam berasa manis, dahaga terbeli meski otak tak ternutrisi inspirasi, sebab, kopi telah bercampur menu doktrin sianida di atas taplak meja menatap warta jurnalis tak lagi berimbang.

Dalam lamunan nan lara, sang marjinal menuang imaji hina
berceloteh pada pena kanvaskan perasaan yang tak bermakna dalam maya ini, tepuk jidat tuan nan berdasi si buta hati di jendela kasta tertinggi, karena nasib bangsa telah terjajah oleh benalu serakah.

Semalam merindu pujaan di balik awan, tak nampak mahkota kerlip di langit, iklim masih bersahabat pada koloni hitam,
si mayang menjauh tinggalkan kemewahan
tak ingin bersolek pada keindahan yang semu, hatinya telah lara tak lagi mau dicumbui.

Oh, kau yang di sana, di meja yang sejuk, berembun tak membasahi.
Aku di sini, kirimkan alunan puisiku bernyanyi ditingkah hujan, embun berguguran di dedaunan
pagiku selalu menari menghiasi kertas menghibur hati, karena jejak kaki berlumpur di depan rumah, nikmati saja sepotong roti sisa kemaren petang.

Aku memuja kedamaian pada sukma bermain tadi malam bersama kekasih pujaan
telah kutumpahkan pundi-pundi rasa ini,
nyaris tak tersisa dan ternyata kemesraan semalam menutup kemesraan duniawi, kemesraanku hanya di sajadah religi.

Kelembutan telah kupasrahkan mengaliri rasa sayang
rasa sayang itu kepada budi yang bersahaja.

Dalam sunyi mengobati letih, menjalin perasaan di kesendirian
'tuk isi hari-hari dengan kewaspadaan
dan menghadiahkan kebahagiaan walau hanya dalam sajak dan puisi
rela lelah walau bait-bait ini tak dimaknai.

Harapanku, semoga yang membaca tidak gelapkan hati tentang madah nan lara
yang kita kan sama-sama lara walau irama berbeda,
aku berbagi, walau hadiah ini dalam sebatas senyum diksi untukmu,
walau tak dihargai tak apalah
dan aku kan selalu tersenyum mesra
bersama sastra.

HR RoS
Jakarta, 11,02,17





#Repost.
Puisi ini dapat apresiasi dari group PUSTAKA MAYA sebagai pemenang TERBAIK KEDUA dalam ajang kreasi penilaian berkala setiap bulan. Dalam keputusan group diumumkan oleh akun Pustaka Maya pada tanggal 12-Pebruari-2017 19,00 wib

TEROPONG BATIN BERDARAH
By Romy Sastra


Wahyu tertutup sudah di garis batas ambiya
tak ada lagi warta hakiki selain sabda
petuah wali keramat nan bertuah
bisu di pusara mimpi
adakala wangsit dipercaya

Jibril tak turun lagi ke muka bumi
membawa pesan ILLAHI
setia saja pada titah awal berlaku
sunatullah

Khidir masih bertapa bisu
di garis pantai tak bertepi
memandang sagara lepas tak berujung
pusara segitiga bermuda dahaga sudah
memuntahkan lahar api ke seantero dunia
teropong batin berdarah

Semalam,
seribu satu lafaz kukirimkan ke langit
langit mendung,
gumpalan awan hitam menyelimuti malam
rinainya berdarah di bumi nusantara
adakah gejolak di depan mata
bom waktu meledak tiba-tiba?

"Ah... resah,
biarlah takdir mengiringi pelangi
semogalah tumbuh benih-benih pemimpin
yang memayungi buana
cakrawala pagi menyinari dunia kembali
di negeri pertiwi tanah emas

Pertapaan rasa puisiku berharap
koloni awan hitam rinaikan darah
tak menatap lagi
bersinarlah wahai dunia....

HR RoS
Jakarta,17/01/2017





FLASHBACK
By Romy Sastra


Seiring berjalannya waktu,
hari bulan dan tahun terus melaju
sisakan detik sejenak balik ke belakang
buka tabir memory masa lalu.

Pada suatu tanya dalam lamunan, teringat semua sahabat
di mana daku temui sahabat-sahabat itu
yang dulu bernostalgia seperti si Bolang
pernah bercinta bagaikan kupu-kupu malu
masa lalu merayu berkirim surat kepada pecundang dikibuli, surat tak pernah sampai ke tangan si pujaan, malah disembunyikan
dan kini kurindu sahabat di muka buku ini.

Untukmu sahabat yang di ambang senja
kepada cerita yang belumlah usai
dengan sebatang rokok dan ponsel kugenggam di suasana santai
menatap seperti sayup-sayup sampai.
Siapakah ia gerangan dalam sampul lembaran maya, satu persatu berjuntai di dinding kaca.
"Ah, nyaris aku tak mengenal
wajah-wajah yang sudah keibuan bersolek bergaya bagai seleb dengan senyuman.
Di balik kerudung nan imut
telukis wajah berangsur tua keriput,
entah untuk siapa wajah yang keriput itu?" Entahlah.
Didandannya diri seperti bergaya muda, padahal tak muda lagi.

"Oh, sahabat maya yang di sana
dikau dulu dara cantik menarik,
kini meranum nyaris layu sulit dikenali
hanya daftar nama pada netra buta meraba mengenalmu lewat rasa, adakah rasa nan lama bisu tersentuh.

Aku tersenyum nakal, tak terasa bulir-bulir air mata bahagia menetes di remangan hati di musim hujan menuju pancaroba ini, dudukku bisu bercumbu pada imaji, dan dinginnya senyumanmu pada umur yang beranjak sepuh sama sepertiku, aku terhanyut akan masa lalu, masa lalu dan waktu yang tak bisa diputar lagi.

"Ohh, sahabat, aku sadar kini!" Stuasimu sama seperti aku, ataukah keadaanku yang jauh di bawah standar gaya, karena pelita dunia tak menerangi jalan hidupku. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur pada maha pencipta yang telah memperjalankan roda nasib, sehingga nasib ini indah kurasa dan meski kita tak pernah berjumpa, aku semakin larut dalam sedih senja ini, biarlah.
Sebab, rama-rama tak lagi menari
di taman-taman cinta telah gersang, kerontang oleh kemarau nostalgia yang tak lagi bernyanyi, seperti diulit mimpi pada bayangan kisah yang kian terjepit, memang nasib kisah kita berbeda.

"Sahabat maya yang di sana"

Aku takkan menemukan lagi
canda tawa itu, semasa gurau bercampur rayu dan kadang pertengkaran kecil menghiasi celoteh parung-parung murai bernyanyi di masa lalu,
dan teramat sedih lagi, ingin rasanya kugapai semua memory itu satu persatu
itupun terasa berat, satu saja berat rasanya kuwujudkan tuk menemui Realiti pada flashback kita.

"Mmm ... kutarik napas ini dalam-dalam, memang sudah jauh berlalu memori itu.

Di irama dunia yang berpacu mengejar asa menjaga maruah,
testimoni telah menjadi sinopsis diksi pada prosaliris,
bahawa kita telah punya tanggung jawab yang berbeda dan terpisah di kota dan daerah yang jauh di sana-sini
hanya ungkapan rindu akan masa lalu untukmu sahabat berbahagialah kalian semua di sana, ya di sana.

Kini, kita sama meniti asa di arena yang berbeda
aku titip pesan, mengabdilah pada cinta yang memelukmu saat ini!"

Dalam hayal ini, kuhentikan keterpakuanku tuk mengenang masa lalu itu
berkaca menatap langit dalam keremangan mendung, ruang itu pekat
berkaca pada bayangan diri menari kausalis bayang dari asal berdiri
tersadar, esok bersama mentari bersinar kembali
kan kugapai cita raih asa di dalam rumahtangga di masing masing kita.

Sahabatku, di mayaku!
Sekali lagi, doaku untukmu, mengabdilah sebaik-baiknya dalam cinta
ciptakan rumahtangga yang SAMARA, Sakinah Mawaddah Wa Rahmah demi mengapai ridho-Nya
karena di pundak kitalah
pelanjut tirani darah
keturunan sejarah orang tua berbenah
semoga maha karya tirani darah kita
bermakna sepanjang sejarah
dan menjadi sebuah nilai kebanggaan pelanjut generasi berikutnya untuk keturunan zaman.
"Oh, sahabat....

Semoga saja, wassalam

HR RoS
Jakarta, 08/02/2017





KABUS RINDU BUAH HATI
DI KAKI GUNUNG LAWU
By Romy Sastra


Bias-bias embun pagi
tak kunjung kering di dedaunan
kala senja menyapa
alam tertutup kabut mencekam
berselimut bayangan kelam

Nun yang jauh di sana
dari kesibukkan ibukota
lamunan bocah di kaki gunung Lawu
di gubuk itu,
tatapannya pada langit rumah selalu bertikai
kenapa pengap tak ada nada memanggil
dari ayah yang selalu dirindukan

Kau si bocah telah remaja
tumbuh tanpa dekapan orang tua
yang selalu ditinggal pergi
pada jemari noktah mengitari jejak hari untukmu
di lorong-lorong kota termamah asa
ayahnda bersenandung lirih di kala senja lewat maya

"Oh, awan yang berarak di cakrawala tinggi
kutitip si buah hati dalam wilayah Brawijaya
dengan tinta madah pujangga
tembangi kearifan rasa bersimponi
dalam aturan budaya sang prabu
di gunung leluhur itu

Di kaki bukit yang asri
si buah hati kutinggalkan dalam jalinan cinta
menjelang dua dekade kau kini sudah remaja

Putra itu,
kala siang bermain berlari
mengisi hari menutup sepi
pada senja menyapa
dikau bermuram durja,
bertanya sendiri jauh ke dalam jiwa
di manakah ayahku kini berada
yang tak kunjung kembali

Ketika pikirmu tak terlerai
bulir membuncah di pipi
mengalir ke sudut bibir, "uhhh....
Matamu terkatup lirih
ke mana kan kucari ayah bunda yang jarang ada di rumah ini

"Ayah, Ibu

Dikau penuntun penerang jiwa nan sepi
kembalilah!
Terangi rumah ini dengan cahaya cintamu

Seringkali padi di kampung ini berbuah
di tepian jalan menurun mendaki
di tangga sawah tersusun indah
gontai langkah kaki kala pulang sekolah

Ananda,
acapkali tersenyum menatap pelangi
kala senja menghias di kaki gunung Lawu
sendu tiba-tiba membuncah lara
gerimis di hati leraikan tatapan senja
pelangi malu dan redup tertutup kabut
Dendang rasa rindu
bukan senandung semusim saja menghampiri
tapi sudah lamunan hari-hari

Padi itu selalu menguning
silih berganti dituai petani
ayah, kau tak jua kembali
tinggalkan seribu kota itu
yang telah kau lewati, kembalilah ke desa
di desa kita pernah berlari
mengejar capung-capung
menikmati gigitannya di jari kecilku ini

Kembalilah pelita jiwa
oh, ayahku!"
mentari sudah meninggi
menara pucuk bambu merayu memanggilmu
temani ananda sekali lagi
biar kudekap kau erat-erat di rumah rindu

Testimoni dari rintihan si putra di balik telp,
kala senja menyapa ayah bunda

HR RoS
Jakarta, 6-2-2016. 12,45





DI BAWAH POHON KAMBOJA TUA
RINTIHAN LIRIH
By Romy Sastra


Bulan sabit telah menggantung
di balik pohon kamboja
tanah merah belum digali

Perjalanan diri
telah berada di ujung tanduk
sadari,
untuk menempuh ujung jalan
haruslah melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat itu
adalah diri sendiri

Ketika dahan beringin tua patah
tunas-tunasnya berganti,
akar bertaut menjalin tirani
dan ketika daun-daunnya berguguran
bunga berputik tak menjadi layu
siklus tumbuhkan kembali

"Oh, misteri?
Jangan bayangi mimpi dengan el-maut
izinkan aku Tuhan hidup seribu tahun lagi
beribadah sepanjang napas memandu
bila el-maut kan bertamu,
kembang setaman dan air doa kasih
shohibul bait persiapkan cangkul
ke tanah merah yang siap siaga menggali

"Oh, misteri?
Bukan puisi ini memanggil nan ditakuti
bukan juga doa sebelum takdir merintih
aku masih punya cinta untuk sang kekasih
jangan kau ulit aku
dengan mimpi-mimpi misteri

Di bawah kamboja tua
lamunan terpaku sendu

Diri?
Adakah amal ibadah kau dekap
selimuti arwah tidur panjangmu di sana

Ya Illahi,
izinkan hamba melafazkan seribu istighfar
di setiap lengah di dalam jiwa ini
biar tak sia-sia hamba dihidupkan kembali
lautan dosa keringlah!
jadikan telaga amal surgawi tuk bermandi

Ketika doa tak terkirim kepada Illahi Rabbi
sesal dirundung duka tak berkesudahan
tangis lara tak henti di sana selamanya....

HR RoS
Jakarta, 05-2-2016, 00,00





#Prosais_Kolaborasi
HUJAN TAK PERNAH SALAH
Penulis: Romy Sastra bersama
DianSi


*(Romy)
Karena siklus semusim wajah iklim tersenyum
jangan sesali tetesan menyirami kemarau
di bumi gersang inginkan hujan basahi alam

Hatimu nan rindu pada dekapan syahdu
jangan tangisi kepergian kekasih
yang pergi tak kembali lagi

Ketika layaran tak lagi berlabuh ke dermaga
awan titipkan hujan,
gelombang menghadang perahu karam
aku mati,
larungkan nisanku pada riak
biarkan pantai mewangi kembang setaman.

**(Diansi)
Sekiranya saja kau tahu, sesungguhnya aku tak pernah jauh dari hatimu
Lihatlah, hempasan bait-baitku
Betapa hanya padamu membadai hujan.

*(Romy)
Rindumu padamkan!
jangan bermain di pantai fatamorgana
petikan memori kita
biarkan terkunci mati
jangan tangisi takdir
rela doa sunyi kukirimkan dalam misteri
izinkan dikau kekasih mendayung bahtera
bersama yang lain....

**(Diansi)
Jangan katakan itu hingga melukai rindu yang kubangun sejak lama
Sesungguhnya kerinduanku adalah kau menjadi takdir sajak-sajak pualam dari hatiku.

Jakarta, Ujung Pandang, 03/02/2017





#ragamkucindan
TAKBIR BUYA TAISAK DI HARI RAYO
Karya Romy Sastra


Jauh-jauh tabangnyo si burung bangau
namun hinggoknyo
yo ka kubangan juo
jauh-jauh bujang marantau
namun pulangnyo lai ka kampung halaman kito.

Karatau madang di hulu
babuah bungo balun
marantaulah bujang dahulu
di rumah paguno balun.

Lah jauh tabangnyo perjalanan
putera daerah mancari ilmu
lah tarang nagari di sabalah
lah silau mato mamandang nagari urang
nagari kito basilang sangketo
antah bilo katarangnyo.

Tadanga saluang kubalo di lereng bukiek
di rambang patang hari
sayuik-sayuik ganto padati
bansaik di badan
lah jadi pamenan diri.

Baurai isak tangieh ka dado
nasib si dagang malang
galeh takambang hujan tibo
sumarak Bayang Sani
di balai induak-induak kito
barabuik patang
manjalang sanjo hari.

Manangieh tapian bundo
anak nan ketek lah digadangkan
lah gadang dak kunjuang pulang
lah cadiek si bujang diasuh angku katik
babalieklah ka Bayang Sani
ramikan nagari kito.

Kinilah masonyo anak nan paguno
mambangun kampuang jo nagari
bia dak sio-sio jabatan disandang
selagi masih bafungsi
mambuek anak kamanakan bangga kini.

"Yuuukk...!"

Jadikan koto baru tanah religi
Bayang pado umumnyo
itu baru kujempol, salut kami.

Dangalah rintihan sayuik-sayuik sampai
kami menadah hibo
gemparkan Mesjid Jihad itu nanti
dengan orasi dakwah islami.

Mesjid kitolah asri buya
di jalan raya Bayang Sani
di bangun jo amal jariyah petani
tapi mesjid itu kosong
dengan cahaya pengetahuan ulama,
ulama itu di mano kini ?!"

****

"Ooo ...buya?"
Babalieklah kanagari
doa kami menyertai kesehatanmu.

Katiko tanah merah tabantang
di nan langang
sasah mayit tibo kudian
indak katadanga lai rintihan misteri
ka mesjid Jihad itu nanti
maratok surang di kayu gadang
takana jaso bundo alun di tunaikan.

Pitaruahkan anak kamanakan
sarato umaik jo nagari
mahimbau jo hibo hati
babalieklah kanagari kito
bangun kampung halaman
basamo-samo kumbali
nanlah ditinggakan sedari dulu.

Nan cadiek panuntun sipandieh
nan cegak panuntun sitengkak
nan nyariang panunjuakan si pakak
nan tarang panuntun si buto
nan kayo tampek batenggang
nan bansaik jaan bahibo hati
nan pandieh pailah batanyo
ka tungku parapian buya kito
bia masak aieh tajarang.

Tamakan indak tasasali
taupek usah dicaraco
cukuik inok-inok palito hati
kok karuah aieh di hilieh
tolong janiehkan aieh di hulu
ampun baribu ampun ka nan kuaso
pinta jo pinto barilah maaf mamak kami
lah cegak sakiek di hati.

Bungo rampai alah tuangku serakkan
ka sarek pantun di nan rami
baguru ka padang data
dapek ruso balang kaki
baguru kapalang aja
bagai bungo kambang tak jadi
balaieh sampai ka pulau
bajalan sampai ka bateh
batanyo ka nan tahu
manuntuik kaji kapado ahlinyo
apa kaji dek diulang
pasa jalan dek dituruik
mangaji sampai khatam
alam takambang jadi guru.

"Buya...?!"

Kami tunggu kesaksian khutbah ulama
di Mesjid Jihad Koto Baru Bayang
di hari rayo nanti.
Sang putera daerah berkumpul
DR Ahmad Kosasih
berharap khutbah takbir
balinang aieh mato di ranah bundo
bia talarai isak nan salamoko

Salam santun dan hormat kami
dari anak kamanakan sarato umaik jo nagari.

HR RoS
Jakarta, 3-2-2016, 10,32





SINOPSIS MEMORI RINDU
OBJEK WISATA JEMBATAN AKAR
By Romy Sastra


i
Rajutan nan cekatan Tuanku Pakiah Sokan,
lilit melilit akar pohon beringin dan akar pohon kubang titian zaman tahun 1890 dijalin. Dalam hajat jembatan hidup orang banyak menempuh destinasi pada jerih dan peluh anak negeri mencari sesuap nasi dilalui tahun 1916.
Sang cerdik pandai Tuanku Pakiah Sokan berpikiran jauh melampaui generasi dan zaman.

ii
Negeri Bayang dilalui sungai sepanjang mata memandang jauh ke muara berkoloni ke samudera.
Ketika rinai datang deburan perlahan riuh gemuruh, suara alam senandungkan misteri lirih mencekam, iklim tak bersahabat semusim.

iii
Di sini rindu belum selesai, meski kisah telah jauh berlalu tinggalkan untaian madah-madah puisi merayu sang kekasih.
Di atas seonggok batu sebesar rumah Qulhu, sang pencinta sepasang merpati bernyanyi tentang dunia ini indah. Bahwa sayap-sayap rindu ingin terbang jauh menatap masa depan, finish langkah ikrar cerita hidup nan manis dimulai di sini, me-ikrar janji
dengan untaian kaki berjuntai, rebahan asmara berpagut di dada
seperti pilin titian akar terjalin,
memori jadi sinopsis di tepian air mengalir, seakan tak ingin ditinggal pergi merantau ke negeri nan jauh, serasa kepergian takkan kembali lagi.

iv
Deburan banjir menghantam objek wisata ikon Ranah Bayang,
masa nan lampau, menahan tangis kan menetes, menatap ketegaran urat mengikat erat tak ingin terputus tergerus arus air bah ke muara, hampir saja selesai sejarah objek wisata Rang Bayang Pesisir Selatan titipan cerdik pandai. Air bah sering datang dari hulu menyentuh badan titian akar membuat hati rusuh kan runtuh.

v
Jika tangis tak terlerai, doa tak tertitipkan pada Illahi, tentang kearifan alam bersemi tak pernah bersumbangsih pada bakti jariyah jerih payah area peninggalan sang Tuanku tak menuai ibadah. Jangan salahkan titipan berakhir, dan titian kasih bermuram durja sedih,
kisah kita padam, kenangan hanya tinggal kenangan.
Sedangkan dendam rindu kita belum selesai di sini, dikau ke mana perginya kasih? Tak lagi menyentuh cerita yang pernah diungkai, apakah kisah kita telah menjadi pusara dan terkunci mati dalam peti rahasia memori. "Ah ... entahlah.

vi
Bila pada suatu masanya tiba, torehan kisah yang membisu buka kembali, menemui jejak dulu nan tertutup debu.
Jembatan akar, satu destinasi seribu satu cerita tertitip di sini....

HR RoS
Jakarta, 02/02/2017





MONOLOG KACA DIRI
By Romy Sastra


Jangan bermain rindu pada kunang-kunang
kerlip cahayanya sekejap redup
bercintalah sepenuhnya pada kekasih realiti
kan didapatkan kemesraan hakiki

Bersolek pada bayangan kelam
rupa abstrak fatamorgana diri paranoid
bercerminlah pada rasa
biarkan jiwa mencari jawaban terindah

Jangan berkaca pada riak ego memandu
kan terjatuh malu di kolam berlumpur
berkaca pada cermin retak
wajah nan rancak nampak berserak

Mengukur diri jangan pada bayangan
takkan didapatkan jawaban nan pasti
malah ia dikejar semakin berlari

Tersenyumlah sedikit pada nasib
meski himpitan menjerit
misteri takdir adakalanya tersenyum manis

Singsingkan lengan hadapi dunia
jangan lari dari kenyataan
kehidupan berlanjut pada bibit
jangan berhenti sebelum finish

Tataplah dermaga jiwa
layaran berlabuh membawa sukma
jangan layu menatap hati
mentari batin tak pernah redup menyinari

HR RoS
Jkt, 01/02/2017





SENANDUNG JEMARI KASIH
Karya: Norhaizan Mahussin
Romy Sastra


#i
di sini,
skrin bisu memuntah warna kehidupan
menyusun puisi menyimpan rahsia
melontar rasa ke laut rindu
mencuit hati memecah tawa
menghitung mutiara zikir kasih
menghulur jemari menguak duka
memesan ayat memandu nyawa
memandang sepi sebutir noktah
yang sepi semakin sepi
bermonolog setiap hati
hingga akhir nanti....


#ii
di sini dan di sana
berlabuh pada rasa seni
meski terlalu jauh jarak segara
terpisah antara pantai dan samudera

pada seuntai puisi malam
tafakurkan diri mendekap pada Illahi,
rentakkan jemari bercumbu rindu memuji,
jikalau mutiara bersemayam di labirin hati
noktah kekasih ikatkan
jangan bermuram durja pada sepi
rona hati ceriakan
monologkan rasa dengan cinta
biar putik berbuah jadi tirani
tumbuh bersemi sampai mati....

Jakarta, Malaysia 31/01/2017





#Puisi_patidusa_tangga (4321)
NEGERI PARA BEDEBAH


Berkaca pada demokrasi rasulullah
Dari Muhammad bermula
Maruah terjajah
Dibebaskan

Seiring zaman tongkat merapuh
Pedoman dikebiri kawan
Satu payung
Pengkhianat

Demokrasi tersandera politik benalu
Menghalalkan segala cara
Berebut tahta
Serakah

Kapitalis menguasai perdagangan dunia
Imperialis penjajah genosida
Tak berdarah
Waspada

Pengusaha seperti badut gendut
Yang penting kenyang
Harta menumpuk
Stroke

Demokrasi jadi dagelan mimpi
Bebas lepas bablas
Hukum dibeli
Kerdil

Gaduh tak kunjung selesai
Rakyat kian sengsara
Tunggu komando
Caos

Berdamailah pada sejarah bangsa
Ukur bayangan berlari
Jangan seenaknya
Berkuasa

HR RoS
Jakarta, 03/02/2017





#Puisi_Kolaborasi
PESAN RASA UNTUKMU KAWAN
Penulis: Romy Sastra bersama
Nor Azah Bahrim


Kepada angin kabarkan serat pelangi
bahwa malam ini,
pesan rasa untukmu kawan
kepada riak nan mendebur riuh
buih-buih terhempas jadi bias
nyiur melambai damaikan camar berlalu

Layu kembang tak jadi,
jika batang kau patahkan
pada sajak dan puisi kita gersang
ranting-ranting berjatuhan ke bumi
madah gelisah,
malam ini berkabut
bulan malu di balik awan

Pada bunga seroja nan ranum
di semenanjung Malaya
bait-bait sastranya dirangkai ke muka buku
ceritakan kisah rindu tak pernah sudah
pada siapa anganmu melaju?
padahal jalinan asmara di beranda senja
tak redup pelita kasih lilin di meja
bersenandunglah di dada noktah nan realiti
kan didapatkan surgawi menjelma
dari lengan Arjuna memeluk erat srikandi cinta

Kirimkan syairku lewat maya
pada tarian diksi nan bersahaja
bersemilah dikau gita sahabatku di sana
sebait doa berbungkus sastra memandu
meski kita terpisah jarak gunung dan samudera.

******

#ii
Rinduku yang berkepuk dirangkai jendela muka bukuku, bagai di genangi air tidak basah
di jemur panas mentari tidak mengering
karib sekali lilitan bait-baitnya
terkebat gegar gita tari di jemariku rupanya menjadi tanyamu yang tidak terjawab lag

Lalu
senja nan merah kau datangi aku kawan dengan khabar seberkas tinta lewat sepoi angin pada
riak ombak riuhnya yang terus mengocak damai pantai telah menggelisahkan rasa merusuh menelangkai diamnya hatimu

Engkaukah
kawan yang semalam
menanyakan patah-patah rinduku terkhusus pada siapa ?
yang mengakali tidak jemu merenung bait-bait resah rindu mengairi langka jemariku di lawang temu
penuh tenunan rindu yang ranum entah kepada siapa untuk siapa
hingga banyak tanda tanya
merentas nusantara merambak tebaran berkisah rupanya

Pesanku satu kawan..!
cukup kau mengerti rindu itu apa
pasti kau tahu kenapa aku tidak belajar berhenti mengelari rasanya
biarpun ceritera kasihku telah lengkap titiannya

Rindu bagiku sebentuk rasa yang tidak pernah habis merambat waktu di tuang tidak mengurang di simpan semakin meladung
menyeru-nyeru untuk di muntahkan isinya menjadi sebongkah cerita yang tidak bertitik

Ya, sebenarnya
rindu bisa saja melamar hati bukan cuma untuk kawan kekasih keluarga sahabat-sahabat di dekat juga kepada DIA....

Jakarta, Malaysia 29/01/2017





#Puisi_Prosais_Kolaborasi
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
Puji Astuti


#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga dipupuk lewat diksi

Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi

Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia

Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....

Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....

****

#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu

"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening

"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah

Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....

****

#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan

Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya

Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati

Kau yang pergi....

Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....

Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017





TERLARUNG SEBAK KE DALAM RIAK
By Romy Sastra


Ketika perjalanan teriris bulir
mencoba merayu bunda dalam letih
duh,
sudah terlukis di dinding history
di kancah diri memeluk sebak di hati.

Darah permatamu pergi
pergi dan pergi menjauh
tinggalkan beranda rumah ini
di tengah hari,
terlarung sebak ke dalam riak
crystal membuncah
tak tertahankan di sudut mata.

Ya, Illahi

Hamba larung doa yang rela
keharibaan jiwa
langkah musafir yang semakin terkikis di tanah tandus
hamba ingin setetes embun membasahi
ampunan kasih-Mu ya Rabbi.

Perjalanan ini semakin menepi
ke ruang senja
memohon pada-Mu ya Allah
Izinkan hamba kelak berjumpa
ke tanah bunda kembali,
mengetuk jendela usang terpampang dari kecil semenjak ananda dibesarkan hingga kini,
berharap dalam opera permata yang selalu menghalau sedih jadi ceria.

Meski jiwa dan hidupnya bertabur derita
yang disimpan dalam peti rahasia hati
tak boleh sesuatu pun yang kan mengetahui
selain aku dengan-Nya

Sehatlah bunda...

Bunda,
jalan ini masih kujejaki
samudera itu masih kurenangi
sekiranya dermaga beranda rumah
di hari raya nanti ananda tak kembali,
pintaku, maafkan aku ya bunda"
ketika burung bangau terbang tinggi
tak kembali,
bukan ia tenggelem ke lumpur yang dalam
melainkan masih mencari bulir-bulir berlian
walau terkilau hanya bayangan saja.

permata dalam doa
membangunkan azali bercahaya indah
bila masanya ia akan kembali menatap beranda tua
menitipkan kanvas warna ceria
bercumbu mesra
dalam gita ananda dan ibunda
serta keluarga semua di tanah tumpah darah
meski usiamu bunda,
berangsur ke ujung senja,
tak alpa doa menengadah di atas sajadah lusuh
menyapa ruh
bukti bakti ananda pada history
nan tergurat di pundak renta yang telah pasrah pada misteri.
Tersenyumlah sekali lagi bunda, biar doa-doa ananda lerai di batin yang sampai....

HR RoS
Goresan dalam kenangan
perjalanan jalan raya Painan - Padang, ke destinasi Jakarta 29-1-2016. 14,28





SAJAK JEJAK MEMORI
By Romy Sastra


Wahai angin nan berhembus lirih membawa rindu pada daun-daun kering, di sini bisu menatap gemulainya ayunan layangan, hampir saja debu menutup netra nan layu, hanya cicitan sriti menyapa di ketinggian, kembalilah pulang wahai rama-rama menari, hari telah petang.

Siulan camar di pantai memanggil gelombang riak bergoyang menepi, dia yang ingin kembali mencari jejak memori, ambai-ambai tenggelam tertinggal pada kenangan silam, bahwa pasir tak lagi putih.
Sinopsis kasih nan usang menitip seuntai sajak lara, pada tinta yang hampir pudar warnanya.

Kepada senja di bukit cemara, bulan enggan titipkan pelita menerangi mayapada, dada langit masih mendung menyapa malam,
ironis, rinai telah jatuh duluan basahi pipi, bahwa kehadiran asmara nan berlalu hanya fatamorgana.

Dik, Januari terakhir tahun ini
sisakan harapan pada Pebruari,
jikalau bianglala tak lagi berwarna pada senja, bukan berarti lembayung tak disinari aurora cinta.
Lihatlah dik, gugusan kasih masih menari pada senyuman rindu yang terabaikan, ketika kasih berbunga mesra kembali di jemari ini jangan lengahkan, tatap mataku! Masih ada diary kita merupa, dan
sentuh juga dada ini, masih berdebar menyebut namamu.
Jika Pebruari nanti masih mendung, hujan turun kembali. Jangan embun ditumpahkan di daun nan layu, biarkan kearifan alam menyuburkan dendam rindu tak kunjung sudah untuk kita, menyirami gersangnya laju yang pernah kita lalui.

Dikau yang ingin kembali pada noktah hati yang tersisih, oleh cabaran nan pernah kau hidangkan, kau memilih aku dan dia, kembalilah dik! Ke jalan yang pernah kita rintis berdua, tautkan hati, genggam erat jemari kita, tak ingin berpisah kedua kalinya.

HR RoS
Jakarta, 28/01/2017





MIHRAB CIPTA KEKASIH
Karya Romy Sastra


Hu Dzatullah,
saksi kekasih menatap maha kekasih
tercipta cinta seperti burung Ta'us
memuji tunduk pada Rabbani
segala yang ada bertasbih
bersaksi pada titah azali berdiri
sujud menghadap mihrab cinta

Nuktah tertumpah jadikan,
madi wadi mani manikam
anasir sahabat itu

Ya Jibril kepada bumi
ya Mikail kepada air
ya Israfil kepada angin
ya Israil kepada api
Pancar memancar sinar rahmatan
bersembunyi di qolbi
jangan jauh-jauh mencari Ilahi
cukup kau mati di dalam hidup
kan dikenali megahnya istananing hati
bersemayam segala rahsi

Sesungguh jalan pulang tak jauh ditempuh
rentan waktu seujung kuku

Tiba-tiba kematian jasad datang menyapa
El-maut marah-marah
takut?" Iya
apalah daya tak tahu jalan pulang
sesat alang kepalang
mengigil rontok segala nyali
tak sadar satu persatu malaikat itu
sebelumnya telah pergi
yang tersisa hanya amal kerabat sejati

Selesai perkara dunia
tubuh berdebu jadi abu
yang abadi tak akan mati
meronta ingin kembali
sia-sia saja jeritan pilu
yang ditangisi telah berlalu

HR RoS
Jkt, 27/01/2017





Puisi_Kolaborasi
TANGISAN DOA
Karya: Romy Sastra bersama
Norhaizan Mahussin

#i
Sujudkan tubuh luruhkan rusuh
betapa terlena umur dunia direnda
tak kenal mutiara cinta di dalam jiwa
resah senja kian mendekat
bakti masih menggenggam duniawi
terlupa jalan pulang nan abadi

Napas berpacu tak lagi menentu
kaki gemetar merintih kaku
jemari menyentuh tak lagi merasai
mahkota perlahan memutih
aura rupa pudar, lusuh rona tak berseri
berkaca diri cermin seperti retak
menjerit lara pelangi tak lagi indah

sajadah kian usang terbentang
tangisan darah tirani mengetuk pilu
bertanya diri, jalan rumah qulhu sepi
bekal selimut abadi tak jua merupa di hati
dalam doa tangis ini mengadu
ya Ilahi, ampuni hambaMu....

#ii
Di atas sejadah ini
aku menghitung hari
sisa usia kian menipis pergi
menanti pelangi di kaki langit
rinai di dada basahi jubah doa
menanti cahaya di ufuk barat
umur kian senja sunset merah jingga
pertanda el-maut sekejap lagi menyapa

Di sini di hati ini, merimbun doa mewangi
kepada-Mu kuserahkan pohon taqdirku
ya Ilahi,
Husnul Khotimah tiket itu hantarkan
Syurga Firdausi bentangkan
leburkan rinduku pada-Mu
gugurkan semua dosa-dosa yang ada

Dalam sinopsis hati merintih
doa memanggil maha kekasih

Amin ya Allah, ya Rabbal 'alamin....

Jakarta, Malaysia, 27/01/2017





SERUNAI PELUH AYAH BUNDA
By Romy Sastra


kepada peluh
nan mengering jadi debu
berkawan hari
zam-zam menganak sungai
di sela pori
mengais sandang pangan
pagi dan petang
mencipta asa pada buah hati

napas menitip jerih pada riuh
bawalah mimpiku mentari
jangan redup
meski kulit terbakar terik
tergurat di tubuh kian layu

baju berlapis perca koyak dan lusuh
dalam sepi
senandungkan kasih tak bertepi
serunai hati ayah bunda
membelai jemari si kecil menangis

tataplah pelangi nak
jangan kau kejar angin
kan terjatuh pada sepoinya hidup

menunduklah melihat rerumputan
jangan menatap kerlip kan terjatuh sakit
jejak kaki ayah bunda
titipkan nama dan sejarah di dadamu
meski berdarah dan bernanah tak mengapa
asal kau bahagia memetik kilau suasa
jadikan emas permata

HR RoS
Jkt, 26/01/2017





Cerpen_Kolaborasi
KETIKA CINTA TAK DIRESTUI
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta


#1
Mentari telah meninggi, di balik pentilasi jendela. Perlahan kusibak tirai pembatas dingin dari siklus hawa tak menentu menerebos jiwa nan lara.
Sedangkan hati ini masih resah, menatap jalanan yang diguyuri hujan semalam.

Tok..tok...tok....

Terdengar suara ketukkan pintu
dari luar kamar, seperti ada yang mau membangunkanku.

"Hai... Ridwan, bangun nak! Hari sudah siang.
Apakah kamu gak kerja hari ini? Sahut suara itu.

Sepertinya ibuku memanggil ini, bisikku dalam hati.

"Ya... ibu, aku sudah bangun ini.

"Ibu berlalu dari pintu mendengar jawabanku, kalau aku memang telah bangun"

Lama sekali tatapan kosong,
kala memandang satu pigura di dinding kamar terpampang.

Ia Anetta, kekasihku.
Bergumam sendiri,
bertanya dalam bisu.

"Netta?"
Kenapa dikau hadir mengisi hidupku,
abang mencintaimu Netta
sedangkan akidah kita berbeda,
diriku ingin memilikimu.
Tapi, "ahh... lamunan, kenapa kau usik jiwaku ini.

Anetta, kita yang pernah mengikat janji tuk saling mencintai selamanya, apapun itu rintangan kita nanti, akan dihadapi berdua.
Bak merpati tak ingin ingkari janji sampai mati.
Setengah dekade jalinan cinta bersamamu, orang tuaku belum diberi tahu sama sekali tentang hubungan kita.

Pagi telah merambat pergi, aku Ridwan masih saja di atas tilam lusuh berbantal jemari letih.
Dengan rasa malas tiba-tiba, aku putuskan tak masuk kerja hari ini.

Lalu, ibuku mengetuk pintu kedua kalinya.

Tok..tok...tok....

"Ridwan..., haii, nak?"
Kenapa belum bangun juga kau ini?"

Tak sabar ibuku membuka pintu, kreekk...
memang pintu tak terkunci dari semalam.

"Walah... kau ini Ridwan!"
Ada apa sih kamu kok melamun begitu, hari sudah siang, apa kamu cuti hari ini?
tanya ibuku dengan nada penasaran.

(Aku masih saja diam menatap
foto Anetta di dinding kamarku)

Spontan ibuku mengambil bingkai yang terpampang di dinding, ia sudah lama potret itu menghias relung-relung asmara, di kala kurindu dengan Anetta.

*******

Coba kamu terangkan Ridwan!"
Ada apa dengan foto ini?

Kutatap wajah ibu dengan rasa pesimis dan malu.

"Ibu..., maafkan Ridwan ya, bu.

Foto ini adalah Anetta kekasihku bu,"
terus!" Tanya ibu lagi.

Ia Anetta, sudah lama kupacari, Netta minta menikah denganku ibu.
"Lho... baguslah itu Ridwan, Anetta kan cantik, wanita karir lagi,
dan kalian saling mencintai kok.
Ibu juga tak sabar menimang cucu kesayangan dari pernikahan kalian nanti.

Ia ibu, tapi.
Tapi kenapa Ridwan?"

"Ibu... Anetta itu beragama Kristiani lho ibu.

"Walah..., sahut ibu.

"Tidakk ...,tidak Ridwan,
Ibu tidak merestui kamu menikah dengan Anetta itu.
Dengar ya, Ridwan!"
Apa kata dunia, jikalau ibu punya menantu orang Kristiani.
Mau ditarok di mana muka ibu, semua saudara mencelamu nanti Ridwan.

"Buu... yang menikah itu aku bu,
bukan mereka.

"Ia... ibu tahu itu Ridwan, tapi bagaimana pertanggungjawabanmu di akhirat kelak, sedangkan tuntunan agama kita jelas melarang menikah beda agama.

"Yaa... ibu, cinta itu butuh perjuangan serta pengorbanan.

Pengorbanan apa? Tidakk Ridwan.
Kamu tidak boleh menikah dengan Anetta itu, titik....

Ibuku keluar dari dalam kamar, membawa ekspresi gundah gulana.

Sedangkan aku larut dalam pikir, bak buah simalakama menjadi menu pagiku.

Pertikaian prinsip jodoh dengan Anetta oleh ibuku, membuat kisahku dengan Anetta kian rumit.

Hingga kutuliskan sepucuk surat dan kukirimkan pada Anetta.

Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang....

*******

#2
Sementara itu di tempat lain...
Anetta termangu..
Matanya menatap jauh ke arah jendela kantornya yang berhadapan dengan laut...
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang..... atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Kutipan ayat yang disampaikan pendeta dalam khotbah ibadah minggu masih saja terngiang dalam telinganya. Hati Anetta benar-benar kacau balau.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku bingung Tuhan... di sisi lain aku begitu mencintai Ridwan... tapiiii....." batin Anetta.
Hanya butiran bening yang menetes di pelupuk mata Netta.

_________________
__________________

Suatu siang...
Sepucuk surat dari Ridwan datang.
Dengan tergesa-gesa Anetta pun segera membukanya.

"Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang.."

Anetta terhenyak ketika membaca surat dari Ridwan. Ada pemberontakan yang begitu hebat di hatinya.
"Tidak... jangan sekarang Bang.. aku belum siap bila harus berpisah dengan abang!" jerit Netta sambil meremas surat dari Ridwan.
Ia pun bergegas mencoba menghubungi Ridwan di handphonenya, namun sia-sia saja. Nomor milik Ridwan tidak aktif.
Ahkirnya ia pun memutuskan mencari Ridwan ke Jakarta.

Bukan hal yang mudah untuk mencari alamat Ridwan di Jakarta. Namun dengan sedikit bantuan dari seorang teman, Anetta berhasil menemukan rumah Ridwan.
"Tok... tok... tok... permisi..." ucap Netta sambil mengetuk pintu rumah Ridwan.
"iya sebentar" sahut suara dari dalam.
Tidak berapa lama terdengar pintu dibuka, kreekkk....
"Netta???" ucap Ridwan terkejut. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Ridwan setengah tidak percaya jika yang dihadapinya adalah Anetta, kekasih hatinya, lima tahun lamanya ia menjalin cinta.

"Eh.. anu.. itu.. eh... silahkan duduk Netta" kata Ridwan sambil tergagap-gagap.
Anetta pun duduk berhadapan dengan Ridwan. Untuk sementara waktu mereka hanya saling terdiam. Hingga pertanyaan Ridwan pun memecah keheningan di antara mereka.
"Kapan kau sampai di Jakarta?" tanya Ridwan.
"Kemarin siang saya sampai abang, aku menginap di rumah Maria. Dia yang membantuku mencari alamat abang." ucap Netta getir.
Lagi-lagi mereka berdua pun kembali terdiam.

Netta membuka pembicaraan

"Kenapa Bang? Tidak adakah jalan keluar yang terbaik buat kita? Apakah memang semua harus berakhir seperti ini?" kata Anetta terisak.
"Entah Net.. tapi mungkin ini yang terbaik." ujar Ridwan.
"Tapi Netta mencintai abang...." sanggah Anetta.
"Begitu pula dengan abang Netta... abang juga mencintai Netta tapi perbedaan kita sungguh tidak bisa disatukan Net..." sahut Ridwan. "Apa kamu mau berpindah keyakinan demi aku supaya kita bersatu?" lanjutnya.
Anetta terdiam dan tenggelam dalam isak tangisnya.
"Jawab Net.. apa Netta mau?" desak Ridwan. "Maaf bang... Netta tidak bisa membohongi kata hati Netta... Netta tidak bisa ikut keyakinan yang abang anut..." ucap Anetta.
"Begitu pula dengan abang Net... bila kamu mengajukan pertanyaan yang sama, abang pun tidak sanggup untuk ikut keyakinan yang kamu anut..." sahut Ridwan. "Dan lagi... apakah kita mau menyakiti hati orangtua kita bila bersikukuh meneruskan hubungan ini?"
Anetta menggeleng.
"Bagaimana pula dengan anak-anak kita kelak? Tidak mungkin dalam satu kapal akan dikendalikan dua nahkoda dan akidah... kapal tersebut tentu akan kesulitan menemukan arah dan tujuannya... Kamu paham kan Net?" ucap Ridwan.
Anetta pun menyeka air matanya.
"Netta paham bang... Maaf bila Netta terlalu egois ingin memaksakan hubungan ini...

Dengan hati yang kecewa, gayung tak bersambut, bak pucuk dicinta ulam layu sudah.

"Oya, bang, Netta pamit pulang aja ke Semarang bang... Netta ikhlas... Netta legowo dengan keputusan yang abang ambil... Semoga abang menemukan wanita solehah untuk mendampingi hidup abang... doa Netta menyertai abang. Dan Netta tidak pernah menyesal jatuh cinta pada bang Ridwan" ucap Netta sambil tersenyum.
"Abang pun juga begitu Net.. Abang tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Netta dan abang doakan Netta pun segera menemukan pendamping yang lebih baik dari abang" jawab Ridwan.

(Hingga Ridwan berpisah secara baik-baik dengan kekasihnya Anetta)

Selesai
Jakarta, Semarang, 24/01/2017



SEMUA TENTANGKU
By Romy Sastra


Berkaca diri pada bayangan silam
menatap khayal dalam kelam
aku majenun paranoid
dalam gugusan cahaya temaram

Dihantui goresan yang menikam
kala gundah membuncah lara
sulaman yang selalu dirobek
ditenun kembali dengan tabah
menjadi gaun-gaun cinta

Semua tentangku,
salah menumpuk dalam tuduhan pahit
aku terima saja meski lelah
kan kucabari ke-egoan bara api
membakar ranting-ranting patah
dalam gentingnya tali buaian kasih
masih tersisa setetes embun
"tuk basahi gejolak tak pernah sudah

Jalan nan berlumpur
pada jejak yang telah goyah
arah mana kan dilalui lagi
jalan itu basah semua, ternoda

Pertemuan sudah tak semesti
genggaman jemari tak lagi mesra
asmara berbunga benalu
titian kasih terurai pada benang merah
melaju gita cinta di arah yang tak sama

Sekuntum bunga nan pernah harum
menutup rindu
larung sajalah rasa menyulam bisu
jika kertas tak mampu membungkus bara

"Ahh... satu kisah
dalam makna lingkaran cinta
jalinan menjadi sia-sia saja....

HR RoS
Jkt,24/01/2017





-------- I B U ---------
By Romy Sastra


Kudapati kabar tentangmu
dari adinda
kau kini tergeletak payah
di pembaringan tidurmu ibu

Ada apa gerangan ini ya Illahi
bak petir menyambar di siang hari
air mata langit seketika menitis
seiring tangis membuncah
mengiris batin di lorong hati

"Ya, Rabb....

Pertemukan aku dengan ibuku
selagi nyawanya masih bersahabat di badan

Pada tinta petang ini
aku menyusun berita syair lara
yang ke sekian kalinya mengudara
kukabarkan pada seorang ibu
yang melahirkanku

Ibu

Tataplah dunia ini dengan napas
jangan bisu mengundang haru
cinta yang masih tersisa pada buah hati
nan berada di tanah Jawa
kembali ke ranah tepian mandi
sauk seteguk wudu' membasuh ruh
berdoalah selalu, oh Ibu

Kita terpisah jarak di lingkar samudera
antara tanah Jawa dan Sumatera
kan kuarungi sagara itu
melintasi cakrawala berkabut
dalam tatapan yang sendu
senja yang akan meredup

Siang tadi aku mendengar suaramu ibu
di ujung telphon bernada lirih
di larung sunyi menyapa bilik hati
suara terbata-bata memanggil
"Romy... pulanglah nak!"
ibu sudah payah kini

Seketika suara itu perlahan membisu
sekejap ananda bagaikan anak yang dungu
tak menentu,
apa yang harus diperbuat
resah berlari kepada suatu tempat
berlari dan terus berlari
mengejar bayangan senap terperap
yang melintasi sekejap
hanya keyakinan
bahwa cinta itu masih segar terasa
"Tuk didekap erat

Terpaku lelah di sudut rasa
pada pelarian yang tak terarah
peluh dan air mata mencucur
kusujud sektika di sebuah mushala,
ya Allah... ya Allah... ya Allah....

............... .............
............... .............

Pertemukan ranting berhamburan
bersujud pada batang yang kian merapuh
di lingsir warta kejauhan
antara Padang dan Jakarta
ingin bertemu pada ibunda
terkapar di ranjang pesakitan
astaghfirullah....

HR RoS
#BERDUKA
Jakarta 21-1-2016, 16,00





#Prosais_Kolaborasi
Judul: JANGAN AMBIL NYAWAKU TUHAN
Karya: Romy Sastra dan Puji Astuti


i
Kembang ilalang mekar di tanah tandus
daun subur batang tegar berdiri
rinai tak pernah datang suburkan gersang
noktah terukir di telapak tangan
berkaca, ada garis pemisah
tak bertemu goresan tinta dengan buku
azali menitipkan titah
pada sepasang merpati berjanji

Seribu satu lakon hidup dijalani
episode berlayar bermandi peluh
darah tertumpah pada tirani
bunga berputik jadi buah

"Ah...
janji pengabdian belum semua ditepati
kisah noktah kan tenggelam
senja menyapa purnama tak merupa
kabut hitam melayari malam
detak jantung bisu nadi diam
jangan ambil nyawaku Tuhan

Wahai kusuma hati jangan bersedih
jika aku pulang tinggalkan kenangan
sepasang merpati jangan pernah ingkar janji
setialah noktah sampai mati
kutunggu dikau wahai kusuma
di pintu surga
jadilah permaisuri berbakti
hingga selesai syair noktah kehidupan
pada kidung menyayat hati

Titipkan kerlip pada malam religi
jangan sunyi mengundang misteri
suluhkan lilin pada tirani
lembayungkan aurora surya pada embun pagi
buah hati,
jangan lupa sebait doa wahai ananda
bila nisan sedih tak tersirami doa berbaktilah....

****

ii
Beratus ribu detik telah melibas hari-hari
tiada rasa terbelenggu 'tuk dampingi janji
merajut rumbai kehidupan hakiki
seakan derita menyatu di antara nadi kita
berbinarlah wahai tulang rusukku
hari tiada indah tanpa gurat senyumanmu

Kutanamkan janji suci abadi
dalam altar kesucian imani
permadani tempat bertaut rindu
tak ingin kehilangan bayangmu
seperti jua diriku
yang selalu ingin mendampingi di senjamu

Pengabdian ini belumlah sempurna
luka kecilmu jua masih perih
rajut benang sutera masih kusut
tunggulah barang sedikit waktu untukku
merapikan semua amanah noktah

Pemahat jiwaku
rengkuh sukma di batas nurani
jangan jatuhkan isakku atas kepergianmu
kurasa kesanggupanku tak sekuat ketegaran
masih adakah sedikit waktu untuk kami,
TUHAN
berilah beberapa saat lagi
untuk membingkai kebahagiaan senja
titipkan memo pada darah-darah tirani
semoga mereka berbakti....

Jakarta, Jogjakarta 20/01/2017





MAKNA SEBUAH KISAH
By Romy Sastra


Kedewasaan cinta mewaspadai rasa adalah makna tak terhingga
kecemburuan menyesak di balik kisah
kebodohan nan dungu dipelihara
kearifan jiwa pada yang ada
titipan maruah langit yang sempurna

Semburat larik membuncah kata
maknai aksara dengan seksama
hadiah kebahagiaan senyuman mesra
penjarakan fatamorgana pada doa
biarkan ilusi menjauh pergi

Analisis arti klimaks sempurnakan kasih
memahami larik tersembunyi
tiada bayu berhembus tak menitipkan
syahdu
tiada banyu mengalir tak suburkan
malahayati

Oohh,
Pucuk-pucuk cemara berguguran jatuh ke bumi
seperti angan melayang
tak karuan jadi paranoid
jangan pungut kisah yang telah mati
biarkan debu meretas jadi aurora suci
tak sia-sia janji azali iringi kehidupan
berdamai bersama takdir
mengukir renda jubah wibawa bersahaja

Jauh mata memandang tertikam kosong
bayangan seketika hilang dari tatapan
jangan paranoid dihidangkan
sempurnakan kisah tersenyumlah

Berdiri di jejak yang tak pasti
biarkanlah azali menjadi misteri
satu kekuatan yang tersisa
potret-potret sejarah jadi cinderela
tatapan terpigura
ke dalam bingkai-bingkai kisah selaksa
sentuh mahadaya tersembunyi
mengiringi langkah hari
tersenyumlah wahai diri
bergurulah pada rasa Illahi
Ia mursyid sejati

HR RoS
Jakarta, 20/01/2017





BERSELINGKUH
DENGAN SASTRA
By Romy Sastra


Telah lama kubungkam cinta
pada rongga dada
payet-payet asmara berjatuhan
biarkan saja selendang rindu koyak
Lentik tarian diksi mengisi kosa hati
sendu kidung imaji pelepas dahaga sunyi
menyusun bahtera dalam nahkoda jiwa
mengitari rasa dunia seni kata

Pada ego diri membingkai seni
meluah rasio imaginasikan jiwa
leburkan lamunan
larung hayal ke atmosfir jingga
jingga pelangi cinta puisi bermadah

Aku telah lama terpikat sastra
semenjak darah tertumpah ke dunia
kala itu,
sang Maha Jiwa
menitip poetic pada rahim ibuku
tinta menggantung di labirin misteri diri
berkaca pada alam memetik kearifan

Cerminan rasa diri ini pada dunia
tertegun tertunduk dalam lamunan
indahnya stalaktit stalagmit renda larik
sulaman alam sastra para pujangga
terpesona gitakan seni kerdilku
meski tak menarik

"Oohh, ternyata sukmaku
berselingkuh bersama hayalan
di malam-malam yang sunyi
menghitung bintang di langit tinggi
adakah kerlip jatuh menimpa tinta
jadi aksara, aahhh....

Kala siang menyapa hati
teliti asyik bercinta melirik larik
tintakan syair-syair gila

Seringkali kuabaikan pesona
pada noktah malam yang realita
memilih berselingkuh melalui puisi
menyusun realiti sastra itu
jadikan bahtera ke dua
bersanding pada impian tak berkonflik

Si empu cinta Romy sastra,
jujur; tak banyak pahama aksara sastra
aku bercumbu saja dengan madah
terlintas begitu saja

Berselingkuh dengan sastra
memanglah berbeda

HR RoS
Jakarta,19/01/2017





#Opini_Renungan
KETIKA BATU NAGA TAK LAGI BERTUAH
Oleh Romy Sastra


Sejarah tuah dalam peradaban negeri
ranah dilingkari adat dan sara' nan elok budi, tergerus zaman oleh kehidupan anak tirani nenek moyang kami.

Dalam sejarah tempo dulu, ketika banjir bandang melanda paru-paru induk sungai Batang Bayang, yang mengalir dari berbagai mata air di sela-sela sungai kecil di hulu rimba Bayang Utara.
Suatu ketika keajaiban alam berlaku di Negeri Kubang, banjir bandang meluluh-lantakkan apa yang ada menghambat laju arus air bah ke muara. Entah dari mana sepasang ular naga berenang dari hulu rimba, terpasung oleh takdir di ujung kampung, hingga menjadi batu.
Sampai saat ini penjelmaan batu naga itu masih ada.

Ketika naga menjadi batu di ujung kampung, banjir bandang tak mampu menenggelamkan negeri hingga batas akhir desa, sehingga Banjir mengelak keluar area desa.

Batu naga nan bertuah, berharap tuahnya dari ridho Allah SWT yang maha kuasa. Adakah naga itu titipan jelmaan Tuanku nan bertapa di Negeri Danau asal muasal negeri Bayang umumnya, Nagari Kubang khususnya. Ataukah sepasang tongkat keramat terbang dari pemilik tuah bumi Andalas, tongkat berenang berupa ular naga.
Amanah dari pemilik tuah untuk Kearifan alam yang dilegendakan hingga akhir zaman, wallahu'alam bisawwab, wallahu'alam kisawwal.

Banjir di negeri kami adalah pesta tahunan, ironisnya hampir tiap bulan. Adakala banjir bandang besar datang dalam setengah dekade bertamu menguji iman anak negeri, bukan sekedar uji nyali lagi. Tetapi uji keyakinan antara tuah dan ridhoNya.
Ketika tuah berlaku jadikan ia iqtibar bahwa negeri itu diberkahi dari yang maha kuasa, dan jangan kotori dengan seribu satu macam konflik di tanah keramat bunda, yang pemilik tuah akan mencabut ridhonya dan berlalu pergi dengan sendirinya hingga ringkih batu teronggok jadi bisu tak lagi berpenunggu.

Ingat, bukan batu alam kekuatan menyelamatkan negeri. Syukurlah legenda tak di dewakan di negeri kami hingga kini. Keyakinan umat tetap berjubah di dada pada Rabb yang memangku buana ini.
Ingat, jangan kosongkan rumah qulhu di corong jantung negeri berkumandang subuh, siang, petang, maghrib hingga menempuh malam. Kala malam menengadah kearibaan, berharap lindungi kampung kami ya Illahi dari marabahaya dan bencana, hanya padaMu kekuasaan yang menolong.

Ketika batu naga tak lagi bertuah,
jangan salahkan bunda mengandung.

Para penghulu tak lagi amanah dengan sumpah:
Ke atas tak berpucuk, ke bawah tak berurat akar, di tengah bolong diliangi kumbang. Begitulah sumpah jabatan disandang jangan lalaikan, amanahlah!

Bundo salingka kaum bertalian basudaro sadonyo. Jangan buat bibit sengketa di tanah tirani nenek moyang bundo kanduang ikon limpapeh rumah nan gadang.
saling tegur sapalah satu sama lainnya, padamkan bara api membuncah jadi lahar membakar seantero sendi kehidupan nagari.

Lestarikan kearifan alam di bumi ranah minang tanah bundo.
Jangan di rimba membabat lahan sembarangan tanpa reboisasi kembali. Yang akan menyebabkan longsor lereng rimba di mana-mana dan menimbulkan banjir bandang tiba-tiba.

Wahai, para generasi ke regenerasi, bangun kepribadian.
Jangan ciptakan virus zaman pada pergaulan yang bersahaja.
Jangan lukai antar sesama saling berbagilah!

Wahai pemangku tahta dalam titipan risalah lima tahunan, bersinergilah selalu dengan amanah, jangan sampai lengah.
Dan kepada pemangku tahta berikutnya, komitmentlah hingga pada suatu masa jabatan di pundak bersafari putih di ajang pesta demokrasi rukunlah!"

Wahai, kepada corong umat yang berkumandang sabda di mimbar religi, teguhkan iman umat hingga badan berkalang tanah, tak terbawa arus kompetisi seremonial zaman, jadilah jati diri sendiri sebagai ulama.

Dan terkhusus pada penulis saya sendiri, jangan jadi pembual sebagai penulis opini renungan nurani saja, berbuatlah sesuatu secara real pada tintamu ini. Hehem, jangan jadi bedebah.

Doa kami ya Rabbi,
redalah hujan yang tak henti-henti itu hingga mengakibatkan banjir besar. Jadikan hujanMu berkah dan rahmat bagi kehidupan ini.
Hindarilah bencana melanda negeri kami,
KepadaMulah kami berlindung dari marabahaya musibah banjir ini....

Aamiin.

HR RoS
Jakarta, 05-01-2017





#Sinopsis_Renungan
KETIKA TAKBIR DI AMBANG JIHAD
By Romy Sastra


Langit bumi kita pernah biru
ketika malam bertaburan bintang
menemani rembulan bersinar terang.
Doa-doa malam si pemuja maha jiwa, melantunkan zikir pada Rabbani.
"Ya, Rabbani... damaikan negeri ini,
dari angkara murka nan silih berganti
menerpa maruah kedamaian akidah.

Cakrawala hari tergerus siklus musim
hitam tak berpelita di dada langit
lihatlah pagi ini berkabut, cuaca mendung.
Ada sedikit rona biru mengintip
dibayangi koloni keabu-abuan, yang akan tertutup menghambat kisi-kisi kerlip pada pelangi.

Embun pagi,
dikau butiran suci
tertumpang di daun keladi
beningmu akan bias diterkam debu
selalulah hadirkan lembayung kasih
pada rona yang berseri di muka buku.

Ozon menitip perisai,
tangkis gejolak langit menembus bumi
dan bumi ini tandus oleh efek teknologi,
cikal bakal perubahan iklim
di hati para dewa berhati monster
yang akan menerkam kedamaian dunia.

Selebaran terpampang di kaki lambang negara
seakan mau terkoyak oleh terpaan badai
Garuda itu risih terbang di bumi nusantara
aksara patriot persatuan tersusun rapi
sebagai falsafah ideologi bangsa, akan tercabik oleh para serigala malam
nan meraung melolong minta jatah darah pada bayi-bayi pelanjut tirani kemerdekaan.

Menunggu bom waktu
di poros segitiga bermuda
para punggawa hitam membawa huru-hara akan merusak tatanan leluhur nan berbudi
ngeri, tiba-tiba nantinya.

Panji-panji benalu tumbuh subur
telah berkibar di bumi pertiwi
bratayuda ataukah Jihad di medan laga
menuntut maruah siapa yang benar siapa yang salah.
Ketika takbir komando di ambang jihad berkumandang.
Para pelaku perisai negara wanti-wanti sudah, arah angin ribut akan bertiup dari segala arah.

Warta wara-wiri isyarat jangka
para sepuh pada tuah nan didapatkan dari bisikkan Dewa, melaju sudah dengan semestinya. Pahami! jangan heran, ia tetap terjadi percaya tak percaya.

Kitab sabda Nabi menitip pedoman
pada suluh di hati nan beriman yakinlah!
Bahwa janji hukum kalam Nabi
pasti tak mengingkari laju zaman menguji insan, ia keniscayaan.

Lalu,
apa yang diperbuat lagi
ketika rongrongan bertubi-tubi
mencabik sendi-sendi kehidupan
tak mau lagi berdamai dalam kebersamaan
di negeri intan berlian ini.
Aku termangu di ujung aspal
melihat pelangi tak lagi indah pada warta di setiap pagi dan senja.
Akankah halilintar,
membumi-hanguskan tiba-tiba kejayaan
di negeri sumpah palapa
dari maha patih Gajah Mada
yang pernah ia torehkan dalam sejarah persatuan nusantara lama menuju kejayaan nusantara tercinta.

Berdamailah negeriku!"
Jangan undang sengketa
di hati para anak-anak bangsa.

HR RoS
Jakarta, 12-01-2017





MATI DI DALAM HIDUP MENCARINYA
Karya Romy Sastra


Mendaki gunung tertinggi
menurun terjal lembah sunyi
singkirkan semak belukar
kerikil bebatuan menusuk jejak perih
lalui saja!

Dahaga meminum asma cinta
lapar terasa kenyang menganyam yakin
lewat tasbih memandu laju
mabuk bersenandung asmara kasih
di altar religi sufi
asyik bercumbu bersama diri
Kala cinta berselimut duka
jangan risau
kasihNya takkan ke mana
kala rindu menikam pilu
jangan merajuk
sayangNya tak terkira
kala dosa sebesar dunia
bertobatlah!
ampunanNya melebihi bumi dan arasy

Tuhan
telah aku jalani perjalanan hari
tak kutemukan jejak abadi
aku mati mencariMu
dalam tajali jejak wali maha nyata sekali
kukejar Engkau,
Dikau menghampiri dengan berlari
aku terpesona cinta
terbungkus kafan kalimah cahaya-Nya

HR RoS
Jakarta, 04,01,17





DARAH DUKA BOCAH,
DUNIA TAK BERTELINGA
TAK BERMATA
Karya Romy Sastra


Duka lara nestapa miris
hancur berantakan bermandi darah
SADIS

Ada apakah gerangan tragedi ini
berjuta jiwa terbantai
dari manusia-manusia bengis

Ya Allah...
Aku menengadah jauh ke labirin jiwa
kurangkai syair puisi hiba
beribu tanya?
di manakah kedamaian dunia kini dicampakkan

Jeritan anak tak beribu tak lagi di rindu
jeritan yatim piatu kian pilu
ironis,
bibit-bibit pun mati musnah berdebu

Riak pasir terpijak di pinggir jalan berbisik
bertanya pipit pada ilalang
tegarlah berdiri meski tanah ini gersang
bom waktu membakar zaman
kota-kota hangus tak bertuan malang

Geruduk si bengis peluru mortil
berkenderaan berlapis baja
hanya membantai anak-anak kecoa

Kau meniup abu di tungku api
yang tak membara
apa makna pembantaian itu?
hidup ini hanya sebuah ladang ibadah
kenapa kau buat seperti opera kepentingan usia seumur jagung
bukalah matamu, wahai monster berjubah Dewa
dengarkan jeritan tangis mereka.

Genosida kau budayakan di tanah yang diberkahi
tanah mereka berlumuran berdarah
tanah yang rela di lumuri noda

Ya Tuhan,

Sudahilah pertempuran itu
damaikan bumi ini
biarkan mereka berlari
mengejar impian cinta-Mu

Ataukah Engkau lenyapkan sajalah
bumi ini seketika
hingga darah bocah tak berdosa itu
tak tercecer ke mana-mana
Ya Allah....

HR RoS
Jakarta, 11-1-2016. 21,16





"" PESAN CINTA TERAKHIR ""
Karya Romy Sastra


Menatap wajah nan ayu
di balik langit-langit kamar ini
merupa tak berwujud abstrak
bukan ia kuntilanak
tetapi sesuatu yang pernah hadir dalam hidupku

Sepucuk surat titipkan pada angin
sampaikan pesan cinta
labuhkan mimpi kepada impian
ternyata angan-angan

Rongga ini masih bernapas
menghela warna dunia
malahayati cinta masih tersisa
bertamulah walau hanya sesaat saja

Kasih yang telah pergi
pergi yang tak kembali lagi
pesan cinta terakhir itu
masih terngiang hingga kini

Telah lelah kaki melangkah
jejak tak menapak lunglai sudah
tangan kaku melingkari tubuh
aku yang dulu pernah menggenggam erat tanganmu
kini layu

Bibir kelu,
menitipkan harapan nan tersisa
adakah dikau masih merindukan daku
lewat aksara jendela angin
di bilik pembaringan
semoga kidung resah ini tak fatalis
terhantar ke beranda hatimu
berputiklah bunga cantik janganlah layu dikau malu

Kasih,
kuburlah dendam membara itu tenggelamkan bersama sepi
tinggalkan cerita lama
rajut kembali mahadaya cinta
jangan asa pesimis tubuh jadi melemah
hapuslah sisa-sisa air mata itu
bernyanyilah bersama pagi ini
ceria kembali.

Isyarat napasku melafazkan cinta
teruntukmu,
berbahagialah dikau hendaknya
sepeninggalku
aku tak pergi untuk selamanya
hanya sesaat saja

Aku hanya pergi ke alam keheningan
tak berbatas tak ber-ujung
padam tenggelam,
sunyi berbalut iman dalam religi

Pergi tinggalkan dunia cinta sementara
izinkan daku mencari cinta abadi
bersemayam ke dalam haribaan Ilahi

HR RoS
Jakarta,11-1-2017





SKETSA TETESAN DARAH CINTA
Romy Sastra


Pertemuan sebuah rasa
membuncah asyik,
membulir makraj makraj cinta
dalam cumbu asmaradana
membuai sayang
terlena jerih di puncak kasih

Fitrah bersabda dalam qolam,
sari rasa bersemayam bersama sulbi
tetesan darah cinta berkoloni ke dalam garbah

Bersatunya wadi, madi, mani, maningkem
dikontak oleh rahmatan Nur Murhammad
jadikan si jabang bayi
berjanji kan mengabdi

Satu langkah insani berada ke dalam surga
memuji menyapa cinta bertasbih

Menitis ke dunia menjadi khalifah
sebagai regenerasi cinta
apakah akan jadi baik atau celakakah

HR RoS
Jakarta, 04,01,17





LONCENG KEMATIAN
Karya Romy Sastra


Deru ruh gelisah diam membisu
kala takdir hayat terhenti pada janji
lonceng kematian akan tiba di liang rongga
lonceng tak berdenging diam sudah
satu persatu ruh di badan luruh
mendahului kematian segala tubuh
ruh tunggal akhir kepergian
meninggalkan bangkai

Liang sami' sunyi
kelopak mata melotot
netra batin tak lagi berkerlip
gunung Thursina ciut kerontang
ari disentuh bak salju tergelincir pilu
dahaga alang kepalang meminta air idaman
selera makan lahap tak lagi tertelan
yang dimakan bayang-bayang

Lonceng kematian, menakutkan
el-maut tak kenal hiba
rupanya merontokkan bulu roma
kerjanya seperti menghempas gunung merapi
memuntahkan lahar ke segala nadi
takut, sungguh menakutkan
ke mana lolongan pedih berlari
se-isi bumi masa bodo
berharap tetesan doa ahlul bait membisik
tak jua tertolong
lonceng kematian tetap jua terjadi

HR RoS
Jakarta, 02,01,17





Cerpen
NOKTAH LADANG IBADAH
Kolab Penulis: Romy Sastra and
Shethie Rahmaniyah Dawam

Dasawarsa laju noktah bersemi indah dalam bingkai kesetiaan rumahtangga Sahira dan Firman.

Berkabut senja nyalakan pelita
jalan licin dilalui tak gamang dengan bimbang.

"Sahira...," sapa suami tercinta, Firman.

"Ya, Abang...."

"Hira, malam ini tahun 2016 akan berlalu, berganti tahun baru 2017. Semua terbarukan selalu, yang penting sekali senyumanmu selalu baru 'tuk abang ya!" kata suaminya ketika pulang dari kerja.

"O ya, mana anak-anak kita ya, Ra?" lanjutnya.

"Hari sudah mulai sore, suruh mereka mandi!"

"Haiiittt..., jangan lupa Uminya juga mandi lho," canda sang suami, lagi.

"Iiihh abang, ya, iyalah... masa ya iya dong..., Abang,"
sewot manja Sahira, istri Firman tercinta.

"Lepas mandi, ajak anak-anak makan bersama ya, Umi!"

Memang, Firman dan Sahira memiliki sepasang anak belia di rumah sederhananya. Hampir keseharian kehidupan mereka rukun dan damai.

"Ra..., maghrib sebentar lagi akan tiba,
yuk kita salat berjamaah di rumah saja!" Ajak suaminya.

"Ya, Abang. Kita ambil air wudhu dulu, yuk!"

***

"Ra, tahu gak Hira?"

"Apa, Bang?"

"Sepuluh tahun sudah noktah kita terjalin indah, klimaks kebahagiaan yang Abang dambakan selalu darimu adalah ketika selesai salat berjamaah, anak-anak dan kamu, Ra. Dikau dan buah hati kita memeluk dan mencium tangan kasar Abang, tapi lembut menafkahi rumahtangga kita ini."

Mendengar ucapan sang suami, mata Sahira berkaca-kaca merasakan kebahagiaan yang terpancar di hati Firman sang suami tersayang.

Anak-anak mereka tak menghiraukan apa yang terjadi di antara kedua orangtuanya, saling berbagi hati. Anak-anak selesai salat lari-lari berkeliling ruangan sambil berjingkrak memperlihatkan kebahagiaan mereka sebagai anak-anak yang disayang.

Rara adalah anak sulung dari pernikahan Firman dengan Sahira.

"Umi...," sapa anak sulungnya.

"Ada apa, Rara sayang?" Tanya sang umi.

"Umi, kelak Rara ingin mempunyai suami seperti Ayah, ya Mi," celetuk Rara dengan polos.

Spontan saja, Uminya kaget mendengar celoteh anaknya, yang sesungguhnya bukan pertanyaan anak kecil seumur Rara.

"Memang kenapa, Rara dengan ayahmu ini?"

"Gak apa-apa Umi...."

Firman tak kalah hebat kagetnya dengan kata-kata tulus dari anak tersayangnya.
Sedangkan si bungsu yang sedari tadi tak terlihat, menghilang ke rumah tetangga bermain bersama teman-temanya.

Firman masih kepikiran perkataan Rara---anak kesayangannya itu dengan rasa penasaran.
Dengan tatapan yang optimis Rara sudah mampu mengutarakan maksud perkataannya tadi kepada kedua orang tuanya.

"Umi, Ayah..., walau pun Rara masih kecil memang tak seharusnya Rara ucapin kata-kata itu pada Umi dan Ayah.
Dengan rasa bangga, Rara merasa bahagia dan bersyukur menjadi anak Umi dan Ayah. Melihat keharmonisan orang tua Rara, tak pernah ada pertengkaran semenjak Rara masih kecil sampai saat ini. Beda dengan orang tua teman Rara, pernah mereka bertengkar Rara lihat sewaktu main ke rumahnya." Ujar Rara sedemikian rupa.

"Ayah...," lanjut Rara lagi.

"Apa sih rahasia Ayah, kok gak pernah pernah bertengkar dengan Umi?"

"Rara...Rara, kamu ini. Ingin tahu aja ya persoalan kehidupan orang tua?" Kata ayahnya sambil geleng-gelengkan kepala.

"Baiklah Nak, Ayah kasih tahu rahasia Ayah dengan Umi sama Rara....
Rahasianya, ada ketika salat berjamaah bersama Umimu. Karena dengan salat, adalah kunci segala kebahagiaan dan kunci menghilangkan keruwetan rumahtangga. Dan Umimu tak pernah Ayah anggap sebagai istri Ayah."

"Lho, kok gitu ayah?" Kata Rara dengan nada penasaran.

"Rara, dengarkan pesan Ayah baik-baik ya!"

"Iya, Ayah,"

"Jangan pernah jadikan pasangan kita itu nanti sebagai objek. Dan Umimu, Ayah anggap sebagai pacar atau kekasih Ayah sendiri lho. Makanya Ayah memiliki kekasih sepanjang hari dengan Umimu." Jelas sang ayah.

"Wahhh..., Ayah hebat dan lucu, hihihi...."

"Memang Ayahmu ini badut, ya, Ra?" sambil meraih Rara lalu menggelitiki hingga Rara terpingkal-pingkal menahan geli.
Sedangkan Umi dan adiknya Rara hanya senyum-senyum sambil menyiapkan makan malam mereka nanti.

***

Setelah acara makan malam selesai, seperti biasa Firman mengajari anak-anaknya mengaji.
Kebiasaan seperti itu selalu mereka lakukan, demi tertanamnya pondasi yang kuat dalam beribadah sedini mungkin.

Tiba-tiba Riri, adiknya Rara nyeletuk...

"Ayah...Umi..., kenapa tidak pergi jalan-jalan seperti tetangga kita malam ini? Kan, malam tahun baru banyak petasan dan kembang api...." ujar Riri polos.

"Pergantian tahun tidak mesti dirayakan seperti itu, Sayang," jawab sang ibu sambil memangku Riri.

"Kalau mau main kembang api, kan bisa kapan aja. Lagipula petasan sudah tidak diizinkan dipasang, sebab seringkali membahayakan penggunanya."

"Oh gitu ya, Mi," kata Riri manggut-manggut.

"Betul Nak, yang dikatakan Umi barusan. malam tahun baru tidak mesti hura-hura dan berlebihan. Ayah dan Umi berharap kalian menjadi lebih cerdas dan tambah soleha," lanjut Firman menambahkan penjelasan istrinya.
Lalu mereka melanjutkan mengajinya. Sang Ayah mengajari Rara membaca Alquran, sedangkan Uminya mengajari Riri hafalan surat di juz'amma.

Mereka selalu tekun untuk kegiatan yang satu itu. Mereka juga mengimbangi kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti bersilaturahmi dan rekreasi sambil olah raga di akhir pekan.
Walau sekadar bersepeda bersama di area 'care free day'.

Terkadang Firman dan Sahira mengalami masa di mana mereka agak sulit memberikan pengertian dan penjelasan ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga dari kedua buah hati mereka.

Untungnya Firman atau pun Sahira rajin mencari referensi pendidikan anak dan wawasan lainnya dari media buku-buku atau elektronik. Dan pastinya dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Begitulah kehidupan mereka yang islami, membuat iri tetangga-tetangga. Iri yang mengacu kepada mengajak kebaikan. Mereka juga tak lupa mengajari anak-anak bersosialisasi dengan tetangga dan kepada teman anak-anaknya.

Kemajuan teknologi pada saat ini membuat para orang tua bekerja keras menjadikan anak-anak tetap pada jalur yang baik. Sehingga pemantauan dan bimbingan akhlak terpuji dan agamais bisa menjadi modal anak-anak melewati kehidupan yang makin keras di masa yang akan datang. Firman dan Sahira termasuk salah satu contoh orang tua yang memperhatikan hal tersebut.

*** TAMAT***

HR-RoS
Jakarta-Bekasi, 01,01,17




CERPEN
DIK, MASIHKAH KAU MENCINTAIKU
Karya Romy Sastra


Sinopsis cinta terjalin, berlabuh di depan penghulu, rindu kebahagian adalah impian setiap insan yang mendambakannya.
Dua tahun sudah membingkai noktah, serasa sakit bak menelan pil pahit, hidup segan mati tak mau.

Laraswati nama sang istri dari suami bernama Firman.

Awal perkenalan Laras dengan Firman, terjadi di sebuah kota Jakarta.
Laraswati wanita Jawa asal Jogjakarta
Firman lelaki berdarah Menado,
mereka sama-sama merantau.
Singkat cerita, cinta mereka terjalin, madu asmara tak terbendung tumpah bersama derai air mata,
Laras cantik yang baru beranjak dewasa, sudah tergoda dengan glamournya kota, tergerus pada godaan rayuan lelaki Firman.
Firman adalah lelaki sudah cukup usia untuk menikah, dia agak sedikit menunda niat tuk menikah pada usia muda, alasannya memang masuk akal, belum mapan berumah tangga.
Padahal Firman adalah lelaki gagal dengan doktrin kematangan hidup, sehari-harinya ia penjudi, suka wanita-wanita malam.
Kala malam tiba, Firman berfantasi asyik dengan segelas wisky di night club ke night club yang lain pada malam yang lainnya bersama kawan-kawan. Pekerjaan tak menentu, asal dapat duit buat dugem ia sudah senang.

****

Cinta mereka tak terbendung,
Laras tiba-tiba sakit, sering mengeluh sakit perut dan muntah-muntah kecil, membuat Firman hiba.

"Dik laras... sahut Firman, kita periksa kesehatanmu ke dokter yuk?!"
Dengan rasa malas, Laras menyanggupi ajakkan Firman kekasihnya.

"Ayoolah bang"
rasanya badanku lemas banget ni, kepalaku pusing, pemandanganku juga gelap.

Laras akhirnya dibawa ke klinik terdekat berobat, hasil konsultasi dengan dokter jaga, laras dinyatakan hamil dua bulan oleh dokter. Spontan saja Laras terkejut, a..a..apa dok?" Aku hamil? "Iya dik, kamu hamil dua bulan jalan, jawab dokter.

Firman pun tak kalah kagetnya, dengan tepuk jidat, alamak....

Lepas dari klinik, mereka, Firman dan Laras pulang ke kostnya Laras.

Laras dengan tatapan meyakinkan pada Firman,
bertanya.

"Abang... gimana ini kelanjutannya, dengan perutku ini?
Firman tak lantas menjawab pertanyaan Laras kekasihnya itu.
Firman hanya diam tertunduk di sudut ruang dengan seribu onak di kepalanya.

Sedangkan jawaban dari Firman tak kunjuk didapatkan Laras.

Laras spontan menangis pilu, memikul tanya karena ia sudah berbadan dua.

Tiba-tiba Firman bangkit memeluk Laras dengan belaian kasih sayang.

"Dik... sabar ya, kita menikah segera di Jakarta ini.
Abang akan cari duit dulu, dan setelah itu, kita menikah ke pak ustadz kenalan abang. sewaktu dulu, abang pernah hantarkan kawan menikah sama pak ustadz itu,
ia tidak jauh dari kost kita ini.

"Abang... laras bertanya ni?"
aku sendiri di Jakarta ini bang, yang ada hanya abang seorang yang kuharapkan, orang tuaku jauh di Jogjakarta, apa tak sebaiknya kita kasih tahu orang tuaku dulu? "Gak usah dik" jawab Firman, ini mendadak. Lagian abang gak punya duit dengan banyaknya keluarga ikut campur tentang pernikahan kita nanti.

****

Tiba masanya, jadilah mereka menikah di bawah tangan dengan pak ustadz.
Singkat cerita, Laras melahirkan anak pertamanya seorang bayi yang cantik.

Hari berlalu, bulan dan tahun berganti. Firman sang suami yang dulu mencintai sangat sama Laras.
Ia kini Firman, berubah sikapnya menjadi kasar, suka main tangan dan pemabuk, serta pemalas.
Membuat Laras semakin terhimpit lara dan derita, hingga perkawinannya dengan Firman tak sanggup ia jalani lagi. Anak mereka sudah berusia satu tahun, baru bisa berdiri jatuh bangun,
dan Firman sangat menyayangi putri cantiknya itu.

Pada suatu ketika, terjadi pertengkaran hebat di antara mereka berdua. Muka dan mata Laras membiru kena hantaman Firman, KDRT sudah seringkali dilakukan Firman terhadap Laras istrinya.

****

Laras dengan penuh penyesalan bertanya dalam hati, ya Allah?" kenapa derita ini menimpaku?
Hingga akhirnya Laras memutuskan untuk kabur dari kostnya, kebetulan siang itu suaminya tak ada di rumah. Laras membungkus pakaian ia dan putri cantiknya, membawa duit seadanya, menuju stasiun kereta api Senen menuju kota kelahirannya Jogjakarta.
Laras pesan tiket ke kasir jaga,
dapat tiket kereta ke Jogja jam 16,30, tiba Jam 5,00 wib pagi di kota Jogjakarta yang tertera di tiket itu.

Tidak menunggu berapa lama kereta malam pun tiba di stasiun Senen, Laras berdua dengan putri kecil nan cantik, menjinjing tas kecil naik ke kereta api malam dengan deraian air mata meninggalkan kota Jakarta. Kota yang menyimpan seribu satu kenangan manis dan pahit selama ia merantau di kota ini. Menempuh malam, dalam lara luka yang berkecamuk di hati Laras bersama anak di pangkuan terpisah dari ayahnya. Hingga waktunya pagi menyapa sampailah kereta ke destinasi di stasiun Jogjakarta.

Kembali cerita pada Firman,
Firman yang telah kehilangan anak istri kalang kabut, bertanya pada tetangga, semua tetangga menjawab tak tahu.
Hari-hari sepi di kamar dilalui Firman dengan setumpuk penyesalan. Bertanya dalam hati?" Ingin ia kembali ke kota asalnya' sedangkan Manado jauh, dan uang pun tak punya, kawan malam dan night club telah ia tinggalkan semua.

Ia kini berubah, dalam sepi, tetiba hidayah masuk ke sanubarinya.
Firman yang penuh penyesalan dengan segala perbuatannya, selama ini yang ia perbuat kepada istri tersayangnya Laraswati.

Berbulan sudah Firman dilanda rindu akan anak dan istri,
pada suatu malam tiba-tiba, suara handphone berdering di samping tidurnya Firman. Dengan suara perlahan, serasa sayup-sayup jauh suara itu memanggil.

''Assalamualaikum abang Firman?
Apakah ini abang Firman ya?"
Spontan saja Firman kaget dadanya berdebar-debar serasa ia kenal dengan suara itu.
Ii...ii..i..iiyaa, aku Firman, siapa ini ya?
"Aku Laras abang, aku sekarang ada di kampung, di Jogjakarta.
"Ooo... Laras, Laras sayang, gimana keadaan putri kita? Apa iya sehat-sehat saja kan?
'Alhamdulillah abang, kami sehat saja di kampung Laras ini.

Laras wanita yang santun dan cantik, pandai menyesuaikan suasana dalam percakapan lewat udara bersama suaminya, seakan tak pernah terjadi apa-apa dalam hati yang pilu hidup bersama Firman, suaminya selama ini ia tinggalkan, hingga ia kabur dari Jakarta ke kota kelahirannya Jogjakarta.

(Laras dengan penuh keyakinan mengatakan niatnya ingin jadi TKW)

"Abang... Laras mau jadi TKW ke Hongkong,
putri kita, kutitip sama mbahnya di rumah. Laras mungkin bulan depan sudah berada di Hongkong abang.

"Larass... dengarkan abang,
izinkan abang berbicara dulu sekejap.
"Ya ..., apa abang, berbicaralah!"

Kenapa kau tinggalkan abang dik?"
Abang sepi di kamar ini, di Jakarta ini.
Loh, bukannkah abang sudah puas dengan pergaulanmu dan kurang puaskah abang menzalimiku hingga wajahku membiru, sampai kini masih ada bekasnya abang?!"
Bekas luka di hatiku masih sakit.

"Dik Laras... maafkan abang dik"
dalam suasana suara handphone tengah malam di daun telinga. Perdebatan emosi, dendam, rindu bercampur menjadi satu.

"Cukup sudah abang!"
sandiwara gombalmu merayuku.
"Aku tak banyak waktu menelponmu abang, hari sudah larut malam, putri tidur, nanti dia terbangun.

Laras hanya mohon pamit sama abang, dalam jedah lima tahun ke depan, Laras jadi TKW ke Hongkong.

"Jangan Laras... jangan!!!"
dengan suara serak-serak basah menyimpan duka dan kecewa dalam konflik mahligai rumah tangga. Spontan saja, mengalir air mata mereka masing-masing.

"Laras... dengarkan suara abang ini!"
Abang sudah berubah dik, abang kini sudah insaf, abang ingin hidup bersamamu dan hidup bersama anak kita.
"Coba pikirkan dik, abang di Jakarta pun sebatang kara, mau pulang ke Menado tak mungkin.
Abang ingin ke Jogja hidup damai bersamamu dik Laras.

"Jaa... Jangan abang!" Aku sudah memesan tiket pesawat tuk berangkat bersama bu-deku bulan depan, pasport pun sudah ada.
Carilah penggantiku abang!!

"Tidak dik Laras!"
Abang akan ke Jogja esok pagi, menemuimu dan anak kita.

"Jangan abang... sekali lagi jangan abang ke Jogja.

"Dik Laras sayangku"
Abang bertanya pada hati kecilmu dik, masihkah kau mencintaiku?
sekiranya masih ada rasa cintamu untukku,
urungkan niatmu pergi ke Hongkong.

Dengan linangan air mata mereka berdua,
bercakap-cakap dalam kesunyian malam,
hati Laras akhirnya luluh
menerima Firman kembali.

Dengan nada suara sesungukkan Laras dan Firman saling maaf memaafkan.
Akhirnya Firman esok pagi langsung berangkat ke Jogjakarta menemui anak dan istri tercinta.
Laras pun mengurungkan niatnya jadi TKW ke Hongkong, dia batalkan semua rencana tuk merubah nasib dalam perantauan lima tahun ke depan.

Firman kini hidup bahagia bersama Laras dan keluarga kecilnya di kota Jogjakarta.
Jogjakarta kota budaya, ramah dan kota pendidikan.

Tamat
HR RoS
Jakarta, 16,11,16





SAJAK SASTRA GITA PELANGI
Karya Romy Sastra


i
tunggul tua melapuk berdebu,
bertahun-tahun ditebas ditinggal pergi
rela lebur dimakan waktu,
bias perlahan diterpa bayu,
meski tunas tak berganti,
organik di batang tak suburkan ladang,
sedih menyapa riuh burung murai bernyanyi
tinggalkan benih noda tapi suci pada takdir gersang berharap subur,
siklus tunas nan enggan tumbuh, hanya berganti jamur-jamur cendawan
penghias sepi walau tak menarik

ii
pada poetry jiwa kabarkan pesan seni
teruntuk punggawa sastrawan sastrawati
lencana seremonial seni tak berarti
di pundak regenerasi terima sajalah
penghibur rasa pada tinta sastra nan rela
aksara luah menjulang ke langit tinggi
tak bertangga menembus kosmik jiwa

iii
sadari,
ketika angkasa tak berpelangi
koloni awan nan berarak,
jangan enggan menitik basahi gersang
lama sudah menghadang,
ilalang nan bertahun-tahun dahaga
tetap hidup tak lekang dengan panas
tak lapuk ditingkah hujan
tak mati meski kering kerontang

iv
berguru pada semut merah nan beriring jalan
seiya sekata saling menyapa tak menikam maruah
bersama meruntuhkan gunung
tak menimbulkan bencana
bergandeng tangan
ciptakan istana nan megah
tak ingin menyakiti diganggu membela diri

v
sastra gita pelangi menitip bahasa seni
sastra cinta bersemi
tak melebar cerita gombal suatu hati,
melainkan menghibur pada banyak hati
yang mau memahami rasa puisi saja
tak menggadaikan ego semaunya
membiarkan alur ke hilir menuju muara

vi
warna-warni bianglala jingga adalah simponi gesekan dentingan biola kearifan sabda nada alam gemuruh riuh bangunkan pertapaan Dewi menyulang banyu di pemandian mistik aromakan kembang melati

vii
sastra gita pelangiku memadah kiasan
saling berbagi tanpa pamrih
bak air mengalir tak ingin kering
disauk musafir alam
bak embusan angin sepoikan dedaunan
meski dahan kan patah
ranting-ranting berjatuhan

viii
menari riak seayun ombak
tak menikam perahu
meski badai datang menerpa samudera
jangan tangisi nahkoda melepas sauh,
bukan ia menakuti pelayaran kan oleng
waspada diri jubah kearifan ilmu pengetahuannya,
jangan sampai laju doa tenggelam
sebelum cemas sirna tiba di dermaga

ix
kita nikmati sajalah liukan nyiur di pantai
berhias menambah hembusan
camar-camar bernyanyi kepakan sayap
tarikan gemulai menari di dada sagara
meski panggung tak berpenonton ceria

x
terdiam menatap barisan pasir membentang
tak berujung tumpang tindih
tak menyalahkan satu sama lainnya
berdamai pada poetry rasa
ia gesekan poetry sabda maha jiwa

HR RoS
Jakarta,28,12,16





#kolaborasi_cerpen
Tema: PETUALANGAN
Judul: MERANTAU
Penulis: 1. Romy Sastra 2. Siti Rahmaniyah


Bak pepatah Minang, Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum. Merantaulah bujang dahulu, di kampung berguna belum.

Pepatah itu di ranah Minang, seperti magic memacu semangat muda-mudi untuk tinggalkan kampung halaman, demi menatap masa depan dan harapan-harapan.

Sebut saja namanya Rendra. Rendra remaja tanggung, berasal dari daerah Sumatera Barat.

"Mak..., selepas Lebaran nanti, saya hendak merantau ke tanah Jawa mencari pengalaman," ujarnya pada sang Ibu.

"Oya? Lalu, bagaimana dengan sekolahmu Rendra?" tanya Mak sembari mengernyitkan dahinya yang sudah berkerut.

"Mak..., aku tahu sekolah itu penting. Tapi aku kasihan sama Mak, sangat payah membiayai sekolahku," rengek Rendra lagi.

"Tidak Rendra, kau harus sekolah, Mak masih mampu menyekolahkanmu, meski Mak mengambil upah dari sawah orang, setelah ayahmu tiada, Nak...," kenangnya setengah menangis.

Air mata Rendra menitik mendengar kata-kata Maknya, sebab beban orangtuanya terlalu berat dan pahit. Namun, demi si buah hati seorang Ibu, untuk menyekolahkan anaknya seperti anak-anak lain di kampung halaman. Buat seorang Ibu, apa saja ia lakukan demi pendidikan dan masa depan anaknya. Jujur saja, di masa itu kehidupan orangtua Rendra sulit, di bawah garis kemiskinan.

***

Pagi itu, ketika Rendra pamit pada orangtuanya untuk merantau, tinggalkan seribu kenangan di kampung halaman, mencari kehidupan baru di perantauan. "Mak..., sekiranya nanti Rendra berjodoh di rantau, relakan Rendra ya, Mak?"

Maknya hanya terdiam. Tak terasa bulir-bulir bening bergulir di pipi Maknya, tanpa ada sepatah kata pun dari bibirnya. Hanyalah peluk perpisahan di antara mereka. Hening. Hari berlalu, bulan dan tahun berganti. Rendra makin tumbuh dewasa. Satu dekade berjalan, Rendra selalu kirimkan kabar setiap tahun pada Maknya, kalau ia tak sempat pulang kampung pada saat Lebaran.

***

Perkenalan Rendra dengan seorang gadis cantik berdarah Jawa-Yogyakarta, terjadi di kota Metropolitan.

"Hai! Kenalan dong, siapa namamu, Dik?" sapa Rendra.

"Hai juga, Abang, namaku Sarah," jawab gadis tersebut. "Siapa nama Abang ya?" lanjutnya.

"Aku Rendra, Dik!" ‘Nama yang tampan, setampan orangnya. Hmmm...,’ Sarah bergumam sambil senyum-senyum sendiri.

Sarah, adalah seorang gadis berpendidikan dan anak orang berada. Rendra, berkenalan di depan kampus---ia sedang menempuh pendidikan sarjana. Seiring waktu berlalu, Rendra menjalin cinta dengan Sarah, Rendra sangat mencintai Sarah—dan juga sebaliknya. Rendra berkeinginan, Sarah yang dicintainya itu jadi pendamping hidupnya kelak jika berjodoh.

***

Suatu hari Rendra mengutarakan niatnya memperistri Sarah. Dan karena Rendra serius, ia ingin bertemu dengan kedua orangtua Sarah. Ternyata gayung pun bersambut. Usai pendidikannya Sarah sudah siap dipinang oleh Rendra. Hati Sarah berbunga-bunga tentang bahagia yang tak terucapkan. Tibalah hari yang sakral, ketika dua hati dipertemukan lalu cinta bertaut. Rendra sudah mendatangkan orangtuanya untuk melamar Sarah menjadi seorang istri. Ijab kabul dan resepsi pernikahan mereka diadakan di salah satu gedung resepsi di Jakarta. Semua berjalan lancar seperti yang mereka dan keluarga kedua belah pihak harapkan. Rendra pun sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Rendra mengizinkan Sarah jika ingin bekerja. Namun Sarah memilih untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka yang akan lahir kelak. Ya, kini umur pernikahan mereka sudah berjalan tujuh bulan. Beberapa bulan lagi akan lahir anak pertama mereka.

***

Tangis seorang bayi pecah ketika azan subuh berkumandang, pagi ini. Bayi laki-laki mungil dan tampan menjadi pelengkap bahagia mereka.

"Aku namai anak kita Putra Reza Pratama, Sayang," ujar Rendra selesai mengazani bayi mereka.

"Terserah Abang saja, nama yang bagus dan gagah!" kata Sarah berseri-seri meski lelahnya perjuangan melahirkan beberapa jam yang lalu masih terlihat di rona wajah cantiknya.

"Sayang..., aku ingin memintamu seorang anak lagi nanti," pinta Rendra seraya mengerling nakal ke arah istri yang sangat ia cintai.

"Ihhh..., kalau Abang minta sekarang, aku kasih boneka barbie kesayanganku ya!" Sarah menimpali candaan suaminya dengan manja.

Dan, gelak tawa mereka tak terelakkan lagi. Sampai-sampai beberapa perawat jaga merasa iri melihat kemesraan pasangan tersebut.
Sementara Rendra menerima ucapan selamat yang bertubi-tubi dari sanak saudara via telepon genggamnya---Sarah memperhatikan suaminya dengan seksama. Semakin ia menyayangi dan bangga akan suaminya itu.
Perantau, pekerja keras, penyayang, dan sangat menghormati orangtuanya dan orangtua Sarah juga tentunya.

Bahagia itu sederhana. Mencintai, memiliki, dan menjaga cinta tetap tumbuh subur di hati masing-masing, merupakan pengorbanan yang tak ternilai harganya.

***TAMAT***

Jakarta, 12.12.2016
* Karatau: area persawahan/perkebunan
* Madang: sebuah pohon di Minang.





#kolaborasi_cerpen
Tema: PETUALANGAN
Judul: MERANTAU
Penulis: 1. Romy Sastra 2. Siti Rahmaniyah


Bak pepatah Minang, Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum. Merantaulah bujang dahulu, di kampung berguna belum.

Pepatah itu di ranah Minang, seperti magic memacu semangat muda-mudi untuk tinggalkan kampung halaman, demi menatap masa depan dan harapan-harapan.

Sebut saja namanya Rendra. Rendra remaja tanggung, berasal dari daerah Sumatera Barat.

"Mak..., selepas Lebaran nanti, saya hendak merantau ke tanah Jawa mencari pengalaman," ujarnya pada sang Ibu.

"Oya? Lalu, bagaimana dengan sekolahmu Rendra?" tanya Mak sembari mengernyitkan dahinya yang sudah berkerut.

"Mak..., aku tahu sekolah itu penting. Tapi aku kasihan sama Mak, sangat payah membiayai sekolahku," rengek Rendra lagi.

"Tidak Rendra, kau harus sekolah, Mak masih mampu menyekolahkanmu, meski Mak mengambil upah dari sawah orang, setelah ayahmu tiada, Nak...," kenangnya setengah menangis.

Air mata Rendra menitik mendengar kata-kata Maknya, sebab beban orangtuanya terlalu berat dan pahit. Namun, demi si buah hati seorang Ibu, untuk menyekolahkan anaknya seperti anak-anak lain di kampung halaman. Buat seorang Ibu, apa saja ia lakukan demi pendidikan dan masa depan anaknya. Jujur saja, di masa itu kehidupan orangtua Rendra sulit, di bawah garis kemiskinan.

***

Pagi itu, ketika Rendra pamit pada orangtuanya untuk merantau, tinggalkan seribu kenangan di kampung halaman, mencari kehidupan baru di perantauan. "Mak..., sekiranya nanti Rendra berjodoh di rantau, relakan Rendra ya, Mak?"

Maknya hanya terdiam. Tak terasa bulir-bulir bening bergulir di pipi Maknya, tanpa ada sepatah kata pun dari bibirnya. Hanyalah peluk perpisahan di antara mereka. Hening. Hari berlalu, bulan dan tahun berganti. Rendra makin tumbuh dewasa. Satu dekade berjalan, Rendra selalu kirimkan kabar setiap tahun pada Maknya, kalau ia tak sempat pulang kampung pada saat Lebaran.

***

Perkenalan Rendra dengan seorang gadis cantik berdarah Jawa-Yogyakarta, terjadi di kota Metropolitan.

"Hai! Kenalan dong, siapa namamu, Dik?" sapa Rendra.

"Hai juga, Abang, namaku Sarah," jawab gadis tersebut. "Siapa nama Abang ya?" lanjutnya.

"Aku Rendra, Dik!" ‘Nama yang tampan, setampan orangnya. Hmmm...,’ Sarah bergumam sambil senyum-senyum sendiri.

Sarah, adalah seorang gadis berpendidikan dan anak orang berada. Rendra, berkenalan di depan kampus---ia sedang menempuh pendidikan sarjana. Seiring waktu berlalu, Rendra menjalin cinta dengan Sarah, Rendra sangat mencintai Sarah—dan juga sebaliknya. Rendra berkeinginan, Sarah yang dicintainya itu jadi pendamping hidupnya kelak jika berjodoh.

***

Suatu hari Rendra mengutarakan niatnya memperistri Sarah. Dan karena Rendra serius, ia ingin bertemu dengan kedua orangtua Sarah. Ternyata gayung pun bersambut. Usai pendidikannya Sarah sudah siap dipinang oleh Rendra. Hati Sarah berbunga-bunga tentang bahagia yang tak terucapkan. Tibalah hari yang sakral, ketika dua hati dipertemukan lalu cinta bertaut. Rendra sudah mendatangkan orangtuanya untuk melamar Sarah menjadi seorang istri. Ijab kabul dan resepsi pernikahan mereka diadakan di salah satu gedung resepsi di Jakarta. Semua berjalan lancar seperti yang mereka dan keluarga kedua belah pihak harapkan. Rendra pun sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Rendra mengizinkan Sarah jika ingin bekerja. Namun Sarah memilih untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka yang akan lahir kelak. Ya, kini umur pernikahan mereka sudah berjalan tujuh bulan. Beberapa bulan lagi akan lahir anak pertama mereka.

***

Tangis seorang bayi pecah ketika azan subuh berkumandang, pagi ini. Bayi laki-laki mungil dan tampan menjadi pelengkap bahagia mereka.

"Aku namai anak kita Putra Reza Pratama, Sayang," ujar Rendra selesai mengazani bayi mereka.

"Terserah Abang saja, nama yang bagus dan gagah!" kata Sarah berseri-seri meski lelahnya perjuangan melahirkan beberapa jam yang lalu masih terlihat di rona wajah cantiknya.
"Sayang..., aku ingin memintamu seorang anak lagi nanti," pinta Rendra seraya mengerling nakal ke arah istri yang sangat ia cintai.

"Ihhh..., kalau Abang minta sekarang, aku kasih boneka barbie kesayanganku ya!" Sarah menimpali candaan suaminya dengan manja.

Dan, gelak tawa mereka tak terelakkan lagi. Sampai-sampai beberapa perawat jaga merasa iri melihat kemesraan pasangan tersebut.
Sementara Rendra menerima ucapan selamat yang bertubi-tubi dari sanak saudara via telepon genggamnya---Sarah memperhatikan suaminya dengan seksama. Semakin ia menyayangi dan bangga akan suaminya itu.
Perantau, pekerja keras, penyayang, dan sangat menghormati orangtuanya dan orangtua Sarah juga tentunya.

Bahagia itu sederhana. Mencintai, memiliki, dan menjaga cinta tetap tumbuh subur di hati masing-masing, merupakan pengorbanan yang tak ternilai harganya.

***TAMAT***

Jakarta, 12.12.2016
* Karatau: area persawahan/perkebunan
* Madang: sebuah pohon di Minang.





#Cerpen, (dalam kisahku)
BERSAMA CINTA MENEMUI MAHA CINTA
Karya Romy Sastra


Ketika waktu maghrib menyapa, kami selalu sholat berjamaah bersama anak-anak
betapa indahnya sebuah nilai realitas rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah.

Kala lantunan doa dari sang imam memandu, meski suara itu berbisik pada kalbu dalam hati yang tak terdengar oleh diamnya duduk kami.
Tapi, suasana hasrat doa itu, seakan sama pada kesetiaan cinta dalam rumah tangga untuk selama-lamanya hingga ke jannah,
di antara aku dan jamaah itu, meski tak terdengar oleh telinga ini,
tapi rasaku mengatakan ia adalah seirama.
Buktinya, aku melirik dalam duduknya makmum itu, mereka tersenyum menyalami tanganku, dan mengecup jemariku.

Spontan mereka menengadah menatap wajah sang imam dan kukecup juga kening jamaah yang ada di hadapanku satu persatu, mereka adalah istri dan kedua anak-anakku, hasil dari pernikahan pada tahun 1998 silam.

Yang sulung, adalah Bale Iqbal Iqbal Al Javpad kelahiran 1999
dan yang bungsu Rio Sastra lahir 2004, kedua-duanya anakku itu lelaki.

Ia ibunya bernama Mimi
aku sendiri Romy, suaminya Mimi.

Mimi adalah
sosok pendamping hari-hariku
dalam suka maupun duka.

Selepas dari ritual berjamaah sholat maghrib, kami bangkit dari peraduan persembahaan kepada Allah Swt, ya Illahi Rabbi.

*****

Mimi menyapa,

"Abang" ini segelas kopi aku letakkan di atas meja.

Aku yang biasanya selepas maghrib mengambil waktu santai di ruang tamu, menyusun larik-larik diksi di atas kertas putih tuliskan sebait puisi sarapan tinta malamku.

"Ya, Mi, silahkan ditarok!
Nanti abang minum,
airnya masih panas kok.

"Aku pergi dulu ya bang,
rengek Mimi, hendak ke warung beli handbody lotion pengusir nyamuk buat bekal tidur anak-anak nanti.

"Ya, silahkan!
Jangan lupa belikan abang sebungkus rokok ya!"

"Ya abang, sahut Mimi.

Sambil menulis satu judul cerpen
dan larik-larik demi larik puisi selesai juga puisi kumadah,
aku langsung memposting ke sosial media karyaku itu, untuk kumpulan karya-karya puisi dalam koleksi antologi sastra, yang selalu diekspos setiap minggu dan ada yang satu bulan sekali bersama kawan-kawan group sastra facebook.

Kelak karya itu, aku bukukan sebagai kenangan masa tua untuk anak-anakku, buat cerita sejarah sastra sepeninggal hidup ini nanti.

Suara beduk isya mulai menyapa, dari kejauhan malam yang mulai kelam,
Mimi yang sedari tadi ada di depan layar televisi menyaksikan cerita sinetron yang ia selalu ikuti.

"Mimi ... ayo kita selesaikan kewajiban sholat fardhu isya dulu ya, dan kita berjamaah kembali.

Kali ini, kami berdua saja di rumah sholat berjamaah, karena anak-anakku pergi mengaji ke tempat biasanya ia menimba ilmu iqra'.

Malam-malam sunyi mulai menyapa
suasana dingin mulai terasa.

Mimi yang biasanya,
selalu membaringkan tubuhnya lebih dulu, berharap kala malam ia bisa bangun kembali untuk menunaikan sholat sunat tahajud yang biasanya kami lakukan.

"Abang..., aku tidur duluan ya,
aku ngantuk sudah ini.

"ya ...,silakan Mimi!"
Abang belum ngantuk ni.

Mimi, seorang istri yang ia sudah lelah dari kesibukkan sehari-hari sebagai seorang ibu, kerja seorang istri dalam kehidupan sehari-hari memang tak pernah selasai.

Sedangkan aku sang ayah, masih menunggu mereka, anak-anak pulang mengaji.

Supaya ia bisa belajar sebelum tidur, menghapal pelajaran sekolahnya dari tugas guru sekolah.

Tok, tok, tok ..."
"Assalamu'alaikum?

Alhamdulillah, bisikku dalam hati, mereka anak-anakku sudah pulang.

"Wa'alaikumsalam!
jawabku dari dalam rumah.

"Mana ibuku ayah, tanya si bungsu?
"Ibumu sudah tidur nak,
bukalah buku pelajaran kalian, kerjakan dulu PR sekolahmu!
Sebelum kau tidur.
Selesaikan tugas sekolah kalian,
baru pergi tidur ya!"
Biar besok tak dimarahin gurumu di sekolah!
"ya, ayah. Jawab si bungsu.

Yang sulung, tanpa disuruh ia sudah berada di depan rak bukunya.

Selesai mereka belajar, lalu anak-anak itu tidur di biliknya masing-masing.

Singkat cerita ....

Malam telah berselimut kelam
suasana hening memanggil misteri malam, bersuara cit, cit, cit
auuuuuu ....
seakan suara itu menyuruhku tidur.
Sedangkan aku sang ayah masih saja menulis cerpen tentang surat cinta kepada Rabb malam,
bahwa hidup ini indah Tuhan"
terimalah bakti syukur kami ke hadirat-Mu.
Cerpen itu kuluahkan dari imaji dan realiti ke dalam larik-larik,
aku melirik jam dinding sudah menunjukkan jam, 23:00 wib.

"Ya, mata ini perlu diistirahatkan,
dan semoga aku bisa bangun bersama Mimi istriku menunaikan shalat sunah tahajud nanti di pertigaan malam.

Lelap, lelah dari asa itu,
memandu hari-hari setiap hari.

Pas takdir malam menghampiri, religi membangunkan jiwa yang tubuh dan sukma pergi pada kayangan mimpi entah ke mana perginya tadi, ah, mimpi.

Di pertigaan malam,
istri membangunkanku....

"Bang, bang, bangun!
Yuk kita shalat tahajjud.

"Aauu ...
duh, ngantuk banget mata ini,
aku tak menghiraukan panggilannya,
mencoba lelap lagi.

Mimi gak sabar, digelitikin perutku
yang ia sangat paham akan kelemahanku, kalau ia membangunkan suaminya.

"Ayo ah, bangun bang! Yuk sholat tahajud kita.
Dengan sedikit rasa malas dan cemberut
pada kantuk,
akhirnya aku bangkit juga dari pembaringan.

Kami berdua bergantian ke kamar mandi
membasuh muka untuk berwudhu'.
Lepas berwudhu',
sajadah dibaringkan di bilik sholat.

Di tengah malam sunyi,
dingin teramat dingin,
seakan malam ini,
malam ujian religi bagi kami ....

Suara jangkrik bersahutan
menghibur mimpi-mimpi insan yang terlena di peraduan irama gesekkan biola malam. Bahwa malam itu indah.

Dalam tahajud itu ....

Pada indahnya suara lirih doa-doa malam, seakan membangunkan sang Maha Kekasih di haribaan-Nya.

Aku dan Mimi sama-sama khusyuk tartil dalam tuntunan tahajud malam,
berdua satu jiwa,
menatap jauh ke dalam fana.
Bahwa yang kami bawa adalah
"CINTA TANPA DOA DUNIA,
BERSAMA CINTA MENEMUI MAHA CINTA''.

Karena biasanya hajat doa kami,
ada masa tak memohon tentang dunia.

Akan tetapi, di antara hajat malam tahajud itu,
kami hanya melihat diri ini masing-masing,
apakah sang Maha Kekasih masih menghidupkan kami esok hari.

Tahajud cinta di malam buta,
sungguh,
kami tak meminta dunia,
pada kesenangan semata....

Tapi sungguh benar, yang kami bawa adalah
ibadah penyaksian sang maha cinta
nan bersemayam di dalam jiwa ini.

Akhir dari ibadah penjamuan rindu
di malam bisu
kami saling menatap,
dan saling bertanya?"

"Abang..., tanya Mimi?
Adakah abang menyaksikan Maha Kekasih itu dalam sujud doamu tadi?

"Ya ..., Mimi, jawabku.
Abang menemukan Maha Kekasih itu tadi.

"Apakah dikau juga Mimi, sama melihat kehadiran-Nya dalam sujudmu tadi?"

'Ya abang, sama!" Aku pun masih melihat-Nya tadi.

"Yaa, kalau begitu"
isyarat usia dan jodoh kita masih panjang Mimi,
karena Maha Kekasih masih sudi menampakkan cahaya-Nya pada kehidupan kita.
Semoga ya Allah, hidup ini Engkau berkahi, aamiin....

Satu tatapan dalam pelukan
malam-malam indah bersama kekasih
menemui Maha Kekasih
di peraduan sujud tahajud malam itu.
Indahnya bercumbu rindu dengan tuntunan ilmu di dalam ibadah yang sempurna.

Tamat

HR RoS
Jakarta, 28-5-2016, 15:48





#Sejarah_Namaku_HR_RoS
NAMA HR RoS ITU
Oleh Romy Sastra


Belasan tahun yang lalu, tahun 2000
perintah dari tuan guru

Aku sang murid santri jalanan tak formal, diutus ke sebuah mesjid bersejarah,
mesjid agung Karawang yang dibangun oleh Bupati Karawang yang pertama.
Di malam moment raya idul adha
aku sudah ditunggu oleh seorang kakek tua

Tepatnya jam 00,00
seorang kakek berjubah hitam datang menyapa?
"Ayo, ke sini kamu anak muda!
"Aku menghampiri dengan sungkem.
Dalam realita serealita-litanya,
hingga aku dihajikan dalam sebuah ketentuan tuntunan kakek tua itu

Ketika aku dipanggil perintahkan tawaf dengan sebuah petunjuk
mengelilingi ruang mesjid dengan bacaannya yang ia amanahkan,
kututup proses itu dengan sholat sunah,
kutancapkan mata hati ke Baitullah

Ranah dalam penyaksian mata hati
tersaksi jamaah haji wukuf di tanah suci
dalam pendengaran batin sayup-sayup takbir berkumandang dari kejauhan

Subhanaallah,
tak bisa kuberkata dalam fana jiwa
megahnya sebuah hikmah
dari sang kakek tua renta

*****

Masa itu,
aku dititahkan amanah sebuah nama:
HAJI RAHMAT ROMY SASTRA
dengan selembar kertas putih.
Dan ia nama itu kusingkat HR RoS saja
amanah dari sang kakek aku kaget

Bahwa telah terjadi proses religi di luar akal pikiranku masa itu.
Sang kakek memberikan tiga butir kurma dan selesai proses lahir batin itu, kami beraktivitas kembali pada takbir sampai waktu Subuh

Berlalunya malam religi tahun 2000 itu
sampai proses di sholat idul adha paginya,
sang kakek menatap dengan senyum mesra

Tatkala kami berpisah
dari selesainya ritual sholat idul adha di pagi tahun 2000 itu
tujuh langkah dari mesjid sejarah
sang kakek sirna entah ke mana

Aku terpesona dalam derap langkah misteri lenyapnya sang kakek berjubah hitam di taman mesjid agung Karawang Jawa Barat belasan tahun yang berlalu.
Hingga saat ini tertanya-tanya
siapakah engkau wahai sang kakek?
Ia sejarah sebuah kisah di malam raya idul adha
tentang HR RoS,
Haji Rahmat Romy Sastra.

HR RoS
Jakarta, coretan kisah di malam idul adha 24-9-2015, 00,00





#Puisi-Prosais
NEGERI SERIBU RAJA TAK BERISTANA
by Romy Sastra


Pusaka tua limpapeh rumah nan gadang
berselendang kasih sayang
menghapit
nan sembilan ruang,
ditingkah ayun tarian indang
semarak Ranah Minang tempo dulu
dalam tatanan bunda yang tersayang,
lestarilah dalam kearifan zaman

Rumah tua,
lapuk dimakan rayap
telah runtuh ditelan zaman

Seribu raja di negeri kami
hanya memiliki satu istana, ialah janji
tak bersinggasana mewah melainkan amanah tirani
Penghulu bertongkat sakti satu tunjuk,
pada isyarat panji dalam adat
elok budi kaum dalam titah dituruti
adat bersandi alur, alur bersandi patut

Tuanku nan sakti,
menitipkan suluh pada generasi
selaras alam Ranah Minang dengan pelita
terangi umat dengan akidah tauhid
berdendang kasih sayang
adat bersandi sara'
sara' bersandi kitabullah

Umara nan cerdik pandai penata nagari,
maju bersama
penghulu perisai adat
ulama pembimbing budi
duduk se-iya sekata
melalui musyawarah mencapai mufakat
bak tiga tungku bergandeng tangan
sejarangan,
memasak tanak dari jerih payah petani

Bunda kandung bersiul meminta angin
dari pesawahan hingga ke halaman rumah
bahwa Dewi Sri telah menari melambai
pelepas jerih benih nan disemai
sang Dewi bersama peri cantik
si gadis pingit
belajar memegang nampan ayunan padi

Peri yang terpingit di sembilan ruang
bertilam manja diasuh pituah di malam hari
cikal bakal penyimpan selendang lusuh
pada limpapeh rumah nan gadang

Anak kanduang sibiran tulang
pelepas dahaga ayah bunda
jikalau besar nanti
peganglah hormatilah tuah tiga tungku sejarangan
biar tak binasa generasi dalam globalisasi

Generasi muda,
otot kawat bertulang besi
berpikiran maju, pelita nagari
pegang erat-erat panji-panji adat
yang dikibarkan, semenjak Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, berkelana turun dari gunung merapai
datang menitipkan pusaka adat
dari babat alas sampai akhirat nanti

Berdamailah bersama risalah
dalam filosofi ranah di tungku perapian
alamat hidup dalam adat tak bersilang sengketa
jaya bersama kemajuan teknologi
walau cabaran maruah selalu menghampiri datang silih berganti
di negeri seribu raja tak beristana
tetap berjaya tunduk pada pituah tetua....

HR RoS
Jakarta-18092016





SEMALAM DI BAITUL MAKMUR
Karya Romy Sastra


Getar-getar tasbih mengelilingi arasy
dalam perjalanan malam
menanjak ke ruang angkasa jiwa
berdiri di samudera biru
menatap bayangan kalbu
diselimuti nafsu-nafsu itu

Malam-malam indah bersama diri
dalam kegelapan jalan rasa memandu
ya, melaju dengan rasul itu

Di perjalanan diri pada titik tasbih
bak kilat menerobos pekat
mencari yang tersembunyi
Baitul Makmur di langit tinggi
terletak pada ubun yang tak terpijak
bermahkota cahaya cinta berpanji tauhid

Kuucapkan salam,
salamun kaulam mirrabbirrahim

Baitul Makmur masjidil
sang khalifah Illahi
tempat bersandarnya Ibrahim

Masjidil para wali
di negeri awan yang tinggi
tak jatuh, tak bergeser barang sedikitpun
mihrabnya tertata indah
temboknya berdinding kacahaya
bertaburan bunga-bunga surga

Aku dapatkan Baitul Makmur
tersembunyi di dalam diri
bersinggasana di keheningan
jauh di balik awan
tertatap tak kelihatan
teraba tak tersentuh
ia adalah wujud dari derajat religi
peribadatan para sufi-sufi

Semalam di Baitul Makmur
bermandi cahaya mahabbah
kenalilah jalan sang utusan
sang para pecinta
utusan risalah Illahiah

Jalan-jalan misykat kaca tak tersentuh
bersemayam dalam Nurullah
ketika si burung merak berkelana ke samudera jiwa
membawa tasbih-tasbih cinta
kau tak akan tersesat jalan
tujuan jalan-jalan Tuhan
dalam perjalanan malam
menuju istana keabadian

HR RoS
Jakarta, 12-9-2015, 08,56





SEMALAM DI BAITUL MAKMUR
Karya Romy Sastra


Getar-getar tasbih mengelilingi arasy
dalam perjalanan malam
menanjak ke ruang angkasa jiwa
berdiri di samudera biru
menatap bayangan kalbu
diselimuti nafsu-nafsu itu

Malam-malam indah bersama diri
dalam kegelapan jalan rasa memandu
ya, melaju dengan rasul itu

Di perjalanan diri pada titik tasbih
bak kilat menerobos pekat
mencari yang tersembunyi
Baitul Makmur di langit tinggi
terletak pada ubun yang tak terpijak
bermahkota cahaya cinta berpanji tauhid

Kuucapkan salam,
salamun kaulam mirrabbirrahim

Baitul Makmur masjidil
sang khalifah Illahi
tempat bersandarnya Ibrahim

Masjidil para wali
di negeri awan yang tinggi
tak jatuh, tak bergeser barang sedikitpun
mihrabnya tertata indah
temboknya berdinding kacahaya
bertaburan bunga-bunga surga

Aku dapatkan Baitul Makmur
tersembunyi di dalam diri
bersinggasana di keheningan
jauh di balik awan
tertatap tak kelihatan
teraba tak tersentuh
ia adalah wujud dari derajat religi
peribadatan para sufi-sufi

Semalam di Baitul Makmur
bermandi cahaya mahabbah
kenalilah jalan sang utusan
sang para pecinta
utusan risalah Illahiah

Jalan-jalan misykat kaca tak tersentuh
bersemayam dalam Nurullah
ketika si burung merak berkelana ke samudera jiwa
membawa tasbih-tasbih cinta
kau tak akan tersesat jalan
tujuan jalan-jalan Tuhan
dalam perjalanan malam
menuju istana keabadian

HR RoS
Jakarta, 12-9-2015, 08,56





#prosa
DI SURAU TUA LENTERA BERMULA
Karya Romy Sastra


Jantung negeri dalam lentera zaman
gubuk tua di seberang sungai di kaki bukit nan permai
indang-indang tari indang
berdendang sianak malang

Terlahir ke dunia, tak berbaju dungu, dititah bunda berjalan segera berlari mengejar pesona dunia. Sayangnya tak bertongkat, tak berpedoman. Kala remaja mencari pencerahan iman di surau tua, peninggalan leluhur adat dari tuanku imam dan katik ranah bunda, semoga menjadi pencetak pemikir bangsa kepada regenerasi bangsa selanjutnya

Di sini, di surau ini bibit-bibit bermunculan
bekal penerang jalan ke negeri seribu taman
ya, dunia kehidupan.
Menuju alam sejuta taman
ya, Surgawi alam keabadian.

"Wahai ... sahabatku yang pertama, Iman"
dikau berpeganglah ke pundak tubuhku, jagalah goda dan rayu yang akan menghempaskan rasa malu
mari bersama memandu bahtera hidup menuju belantara diri
berjalan lebih hati-hati di dunia ini

Aku tak sanggup siksa derita suatu ketika nanti, roh dan jasad berpisah pergi menuju asal muasalnya kembali. Ahhh, Iman diri" semoga kau tak meninggalkanku sekedip mata,
sehela tarikan napas keluar masuk
memandu rahasia rasa dan jangan lengah sejengkal tanah, serasa tiba-tiba menyesatkanku ke lembah nista

"Wahai ... sahabatku yang kedua, Tauhid"
bawalah daku pada kasta-kasta Iman di tingkat makam.
Ajari langkah hati ini, meniti jembatan keyakinan dalam pedoman hakiki.

"Tauhid ...., sahabat religiku?"
di mana letak pusara ambiya berada?
di mana letak makam waliyullah bersinggasana?
di mana laju keluar masuk rasul
menitip firman Tuhan pada kesadaran hidup yang jujur tak berkamuflase kepura-puraan sang utusan antara hak dan bathil berkompetisi di setiap helaan napas

Iman dan Tauhid sahabat religi
memandu hak mengawasi bathil
mengintai di dalam diri sehari-hari

****

Ya, di surau tua lentera bermula
dunia ini sudah tua kawan,
jangan berleha-leha dengan dunia ini
sabda dalil, akhir zaman ini" manusia akan terkotak-kotak dalam kelompok kultusan kebenaran masing-masing, itu terbukti titah sabda Nabi, umat yang merasa punya panji kenabian merasa benar sendiri.
Ironis, bak air yang mengalir dari hulu menuju hilir sampai ke muara, merasa suci.
Padahal terkontaminasi sudah dengan kepentingan duniawi

Seribu satu lebih kelompok panji-panji berdiri para pencari kebenaran di akhir zaman, berhati-hatilah wahai kau sahabat religiku Iman dan Tauhid mengiringi roh dan jasad ini bernapas terhenti di muara kehidupan

Bawalah daku kembali ke hulu
ya, sahabatku?!"
Di mana awalnya keimanan mengalir.
Ia dari lentera surau tua bermula
dalam asuhan kearifan budi, lestari dari negeri-negeri yang beradab, surau-surau peninggalan yang hampir lapuk dimakan zaman.
Di sana kedamaian terlengahkan, ia sunyi terpusarakan pada kitab lusuh bersama dongeng-dongeng seribu satu malam oleh tuan kaji
di negeri yang telah terlupakan
oleh candu-candu seremonial dunia

Surau tua itu sudah rapuh
bangun kembali fisik dan ajaran tuan kaji, biar peradaban dan akidah tak lekang dengan panas tak lapuk bersama hujan

Semoga umur dunia ini kian panjang
dengan alunan firman dan adzan
berkumandang di setiap waktu
di jantung negeri para regenerasi itu ....

HR RoS
Jakarta, 23102016





#prosais
Di Telapak Kaki Bunda Kubersujud
Oleh Romy Sastra


Bunda,
tergurat di wajahmu rona renta
membulir sedih berhias rela
ananda menatap dari kejauhan
di balik dinding jiwa
kau mewujud resah
karena tanggung jawab cinta
cinta untuk buah hatimu
darah dagingmu

Bunda,
kita sudah terpisah jauh
dari tanah tumpah darah itu
daku berkelana
ke ranah yang belum terjumpa
semasa balitaku dulu
dikau mengajarkan tentang arti hidup
mencari jati diri
meski sampai ke ujung dunia

Kini takdir itu,
aku telah ternoktah pada jodoh pilihanku
darah-darah tiranimu telah lahir ke dunia
pelanjut helaan napasmu mengisi kasih
dia kini telah belia
sudah tumbuh dewasa

Bunda,
engkaulah segalanya bagiku
di telapak kakimu kubersujud
kembang kantil itu telah mekar
minyak kesturi mewangi
sumur tua di belakang rumah masih ada
serasa misteri menyapaku dalam lamunan
mengajakku kembali
ke tengah rumah kecil kita

Bunda,
bila masanya kita bersua
akan aku timba sumur tua itu
membasuh noda menghapus dosa
dalam pengabdian sebagai anak berbakti,
bersujud mendekap basuh telapak kakimu bunda
ucapkan terima kasih,
akan jerihmu selama ini

Dari relamu aku terfitrah
karena ma'unahmu syurga itu ada
aku perjalankan hajat ini
dengan kembang setaman
ketika dikau tiada terjumpa lagi
di samping nisan di atas tanah merah
kutaburkan doa-doa kyusuk
menyauk embun kusirami dalam goa sempit
yang mengekang jasad itu

Bunda,
dalam mihrab doa aku bertanya
melipat lidah ke langit rasa
menutup rapat-rapat di keheningan cipta
berdoa,
ampunilah dosa-dosa orang tuaku ya allah?"
sayangilah ia,
sebagaimana ia menyayangiku dari kecil

Bunda,
tinta emas ini memadah melukis hiba
berharap malam berpurnama ketika tiada lenteranya
cahaya ibadahku menerangi sujud itu

Umurmu bunda, sudah mendekati senja
anakmu kini di terik pijar sang surya
mengirim bait-bait doa di malam buta
belajar dari nasehat yang pernah kau tuah
pendidikan yang dituntun dulu
jadilah anak yang berbakti
penerang jejak kelam di kemudian hari
itulah pesanmu dulu
kuingat selalu

Bunda,
dalam aksara puisi doa ini
pengabdianku
ananda realisasikan dari kejauhan
di setiap helaan napas doa kasih
semoga dikau berbahagia sehat selalu

Oh bundaku ....

HR RoS
Jakarta, 30102016





#prosais
Di Telapak Kaki Bunda Kubersujud
Oleh Romy Sastra


Bunda,
tergurat di wajahmu rona renta
membulir sedih berhias rela
ananda menatap dari kejauhan
di balik dinding jiwa
kau mewujud resah
karena tanggung jawab cinta
cinta untuk buah hatimu
darah dagingmu

Bunda,
kita sudah terpisah jauh
dari tanah tumpah darah itu
daku berkelana
ke ranah yang belum terjumpa
semasa balitaku dulu
dikau mengajarkan tentang arti hidup
mencari jati diri
meski sampai ke ujung dunia

Kini takdir itu,
aku telah ternoktah pada jodoh pilihanku
darah-darah tiranimu telah lahir ke dunia
pelanjut helaan napasmu mengisi kasih
dia kini telah belia
sudah tumbuh dewasa

Bunda,
engkaulah segalanya bagiku
di telapak kakimu kubersujud
kembang kantil itu telah mekar
minyak kesturi mewangi
sumur tua di belakang rumah masih ada
serasa misteri menyapaku dalam lamunan
mengajakku kembali
ke tengah rumah kecil kita

Bunda,
bila masanya kita bersua
akan aku timba sumur tua itu
membasuh noda menghapus dosa
dalam pengabdian sebagai anak berbakti,
bersujud mendekap basuh telapak kakimu bunda
ucapkan terima kasih,
akan jerihmu selama ini

Dari relamu aku terfitrah
karena ma'unahmu syurga itu ada
aku perjalankan hajat ini
dengan kembang setaman
ketika dikau tiada terjumpa lagi
di samping nisan di atas tanah merah
kutaburkan doa-doa kyusuk
menyauk embun kusirami dalam goa sempit
yang mengekang jasad itu

Bunda,
dalam mihrab doa aku bertanya
melipat lidah ke langit rasa
menutup rapat-rapat di keheningan cipta
berdoa,
ampunilah dosa-dosa orang tuaku ya allah?"
sayangilah ia,
sebagaimana ia menyayangiku dari kecil

Bunda,
tinta emas ini memadah melukis hiba
berharap malam berpurnama ketika tiada lenteranya
cahaya ibadahku menerangi sujud itu

Umurmu bunda, sudah mendekati senja
anakmu kini di terik pijar sang surya
mengirim bait-bait doa di malam buta
belajar dari nasehat yang pernah kau tuah
pendidikan yang dituntun dulu
jadilah anak yang berbakti
penerang jejak kelam di kemudian hari
itulah pesanmu dulu
kuingat selalu

Bunda,
dalam aksara puisi doa ini
pengabdianku
ananda realisasikan dari kejauhan
di setiap helaan napas doa kasih
semoga dikau berbahagia sehat selalu

Oh bundaku ....

HR RoS
Jakarta, 30102016





TERJAUH IA TERDEKAT
Oleh Romy Sastra


Duduk melipat lidah menyentuh langit
merenda rasa ke dalam jiwa
doa-doa bertarung di angkasa
berputar bermain bersama nebula
destinasi Tuhan perjalanan terjauh
padahal ia dekat sekali

Terbuka sembilan jendela rumah
nafsu-nafsu lepas mencari kesenangan
yang dicari tak jua menemukan jawaban
meski berkelana ke ujung dunia
yang ditemukan tetap kepalsuan

Menutup sembilan pintu diri
pada jejak-jejak wali
berpeluh mendaki makam keimanan
butiran zam-zam mengalir di segala pori
hidangan kalam jamuan asyik
menuju titik destinasi terjauh
yang dituju telah bertamu tak disadari

Kematian terindah senyum menatap cinta
meski El-maut datang menakutkan
tak gentar rubuhnya gunung Thursina menimpa
tak ciut nyali meski gelap tertutup terik
sadar pada hayat sejati akan dijelang
rindu kematian adalah kwalitas iman

Sesungguhnya di dunia adalah tertidur
ketika terjaga nanti baru tahu destinasi abadi

HR RoS
Jkt,18112016





BINTANGKU REDUP
KARYANYA ABADI
By Romy Sastra


Di sini di tanah nan berdebu
kuberdiri sekejap
hayalkan memori dua dekade berlalu
kisah,
pada suatu era,
satu kembang berputik mewangi
tetiba dikau gugur
semestinya mekarmu bertahan lama
simpatiku berbuah kagum sekejap malang
kala itu,
daun-daun muda berduka
secepat itu kau kembali keharibaan-Nya
tragis kecelakaan di perjalanan misteri sulit terjawab
kenapa bunga idola gugur
meninggalkan seribu tanya tak terungkap
hingga namamu tertulis di batu nisan
bersama Honda D 27 AK

Aahh, membuka peti kenangan
sia-sia melukis malam harap berbintang
kenangan tertutup kabut pekat
kau bunga
telah lelap berselimut kain kafan
Ciamis dan Bandung, aku datang ke kotamu
dalam perjalanan malam
memanjatkan doa tuk bunga itu
semoga kau tenang dipangkuan-Nya

HR RoS
Ciamis, 21/11/2106. 00:26

puisi mengenang Nike Ardila





PROSAIS MAMIRI SENJA
BY Romy Sastra


"Dinda, lama sudah pesanku terkirim, tak ada jawaban darimu. Dinginnya embun pagi, telah kembali pada sepoinya mamiri senja, secercah bintang di langit titipkan temaram kian menyapa malam, sedangkan rerumputan bergoyang riang melipat bayangan kelam.

Di sana, kuncup-kuncup putri malu telah mekar menari, serabut kembangnya mewangi jatuh perlahan, ditingkah kupu-kupu eksotis lambaikan sayap berwarna-warni.

Di ufuk senja, tarian sriti menyilaukan pelangi, yang akan tenggelam pada rintik hujan kan reda.
Siluet di kaki langit berhias memori,
dendangkan lagu kenangan tentang kereta senja tak pernah kembali.

"Oohh, kidung asmara kasih nan terkisah semusim purnama, sebentar lagi menyapa.
Rindu pada rona netra di langit kerlip, berharap malam ini bercahaya indah.

Juita, sang bidadari malam, izinkan kukecup bibirmu lewat pesona sajak anganku.
Aku rindu serindu-rindunya,
Juita mimpi pesona rasa, resah kisah yang tak pernah sudah.

Kembali menyemai benih menuai semi, akankah diksi ini hanya terhantar lewat madah bualan saja.
Tak mengapa aku berkisah pada dendang rasa yang menyuburkan tinta, berharap lukisan menjadi kenyataan meski aku terkisah dalam bayangan saja.
"Aaahh, tak mengapa....

HR-RoS
Jkt,21-12-16





KUNCUP MENGATUP
BERHARAP MEKAR KEMBALI
Karya Romy Sastra


kembang kasih semusim berbunga
iklim tak bersahabat bibit tumbuh sedih
berharap siklus berganti suburkan kembali

tangkai layu berputik gugur
daun-daun jatuh ke tanah
sakwasangka pada bayu
tertuduh tak menentu

padahal tiada hujan apalagi terik
embun membias dahaga tiba
teruk hati membuncah gundah
membakar malayahati kasih

pigura-pigura tak berkaca
kertas madah lusuh pudar warnanya
apalah daya jemari sang kanvas
karya tercipta tebar pesona
tak dihargai hanya tontonan saja

bercumbu rama-rama aroma semerbak
hinggap disambut kelopak malang
kumbang-kumbang berdendang
mengisap madu lalu terbang

ahh, bunga sedih layu tak mekar
kuncup-kuncup mengatup harap berbuah
ditingkah kebohongan janji manis
sang lebah menyengat berbisa
sisakan madu tertumpah pula

rela kembang tak mekar lagi
daripada jadi opera semusim
terputus tirani cantik di taman kekasih
lembaran berganti pada bibit alami
tumbuh liar
siap hidup hadapi cabaran
meski tak lagi dikecup mesra
terlena belaian mematikan

HR RoS
Jkt, 12122016





DASAWARSA USIA
By Romy Sastra


Empat dasawarsa usia jejaki dunia
2017 di ambang selamat datang
tinggalkan kenangan 2016.

Lembaran demi lembaran diri
membentang semenjak lahir
hingga di kepagian hari
menempuh senja menanti jingga

Saat ini,
dawai biola hidup
masih mengalun merdu
petikan irama kasih
dari maha pengasih.

Perjalanan diri
mengintai hari
cabaran demi cabaran
terbingkai ke dalam mimpi
jadikan sebuah history.

Mimpi demi mimpi telah usai
terbangun dari lelap nan sekejap
opera impian diri hanyalah keniscayaan
bukan hayalan malam
asa obsesi tetap jadi memori.

Kini,
gita usia berada di ujung tanduk
masa senja merona jingga
bekal selimut kubur tak jua diraih
sedangkan,
story memori telah jauh berlalu pergi
dan tak akan mungkin kembali lagi.

"Ya,
satu nan diharapkan sebuah kepastian
kesetiaan hidup dalam amal
pelipur lara di akhirat nanti.

Realiti asa setialah menempuh senja
sampai menutup mata
meski hidup ini seribu tahun lagi
ataukah esok hari,
kita pulang ke kampung halaman abadi.

HR RoS
Jakarta, 27122016





TERTANYA RINDU DALAM HIBA
Karya Romy Sastra


Sastra cinta di pelaminan mimpi
desah hasrat melukis pelangi
mimpi-mimpi titipkan cerita buaian imaji
tentang kisah sepucuk surat tak sampai
pada kekasih hati.

"Aahh, titik peluh basahi diksi
laju perjalanan kereta senja
anjlok di perbatasan kota
berlari mengejar kupu-kupu rindu
terkejar, ia menari pergi
tinggalkan kenangan pada suatu janji.

Dalam perjalanan hidup
cahaya harapan tak menerangi jalanku.
Gelisah,
seakan berpegang tongkat rapuh.

Sudah lama kaki berjalan
tertatih menyulam kasih raih seribu mimpi.
Debu-debu jalanan berkabut
melintasi arah muara tinta
memadah talenta sastra
tertanya diri pada dinding bisu
kapankah jendela bahagia terbuka
menghiba pada tanya,
kuas-kuas kanvas merupa pigura tak berwajah.

Melukis tanya di dalam rasa
di kala sedih menimpa tubuh
ramuan rindu,
kenapa bisu?" Ya, dikau bisu.
Tak menyapa sama sekali
Semestinya," berceritalah.

Uuuuhhh...

Camar bermuram durja di pantai sunyi
seruling rindu di pelayaran kisah kasih
labuhkan cerita pada samudera maya
membangunkan lelah
di keheningan sukma lara.

Duhai, awan yang berarak senja
bawalah daku ke samudera terjauh
biar kuhidup dalam masa senja ini yang tak lagi menoktah rindu.

Aku kini,
mencoba membiasakan hidup
tak lagi bernyanyi di pantai semu dengan camar-camar itu
biasakan sepi menyulam hari
tanpa kicauan si burung camar itu lagi.

Tinta cinta melukis senja pudar warnanya
jika kembang rindu kan layu
layulah....

HR RoS
Jakarta-11122016





KETIKA JALAN LICIN
By Romy Sastra


Sudah dibisikkan oleh angin
jangan berjalan di hari hujan
jalan yang kau tempuh licin
diam dulu sekejap tunggu rinai reda
petir masih kilatkan apinya
payung pun tak kau bawa

Bertahan pada suatu keadaan
ke hati-hatian
jangan berkaca diri dengan bayangan
jejak laju langkah kan terhalang kelam
memilih adalah pertimbangan
supaya tak terjerumus kedua kali
ke dalam lobang yang sama

Berpikirlah,
pilihan yang terbaik ada di tangan
bersabarlah,
suratan tak terhapus meski arah itu buntu
berikhtiar jalan menuju keberhasilan
jangan menumpang dagu
yang hujan ada masa jalan tak licin
biarkan takdir berbicara
tunduklah pada ketentuan-Nya

HR RoS
Jakarta, 11-01-2017





SETIA BERSEMBUNYI
By Romy Sastra

Deru debu bergemuruh
luruh dihempas bayu
butir-butir pasir berbisik
gemercik di langkah sang musyafir
jejak-jejak itu
bias disapu ambai-ambai pantai
tak meninggalkan benci

Camar,
kenapa dikau
bersembunyi di balik nyiur
beribu tanya memamah rasa
kapankah,
pesta pantai kan berakhir indah
tak menggerus kearifan biota alam
biarkan permai menari ditingkah zaman

Teduhan nyiur di pantai
sepasang camar membelai kasih
menoktah cinta memandu ikrar setia
terbang sepanjang hidupnya

Setia riak dan gelombang
sama-sama berbuai menggulung kasih sayang
menyisih ke tepian bibir pantai berbuih
dinanti nyanyian serunai pasir putih
desiran angin saksi kisahkan sunyi
berkoloni setia meski ia tak bermakna

Berkaca pada Romeo dan Juliet
mati bersama dalam samudera cinta
setianya menjadi simpul jalinan
asmara kawula muda
dalam kicauan riak kasta nan mewah
pada pesta dunia bermegah....

HR RoS
Jkt, 2811206





MENGGAPAI BINTANG DI BALIK AWAN
Oleh Romy Sastra


Hidup bak berjalan di atas lumpur
mengejar kembang teratai
nan tumbuh subur di dalam air
semakin melangkah kaki kian terkulai

Teratai tumbuh indah, sayangnya,
akar tak berpegangan ke dasar tanah
ketika banjir melanda
teratai itu,
ikut pula berenang ke muara

Hidup bagaikan musafir di Sahara tandus
haus,
obsesi terkikis tergerus nasib
satu cemeti terselip di hati ini
ialah keyakinan iman
menggapai bintang-bintang malam
meski malam tak berembulan
purnama redup di balik awan

Tinta sastra terhempas
di lingkaran kebimbangan masa depan
jalan mana kan kutempuh semua arah buntu
Jakarta berjuta kerlip tebar pesona
menjanjikan intan berlian di sisi mereka
kupetik hanya sebongkah suasa
berharap sepuhan jadi emas permata

Kapan bintang jatuh di tangan
genggaman seakan enggan menadah
biarkan peluh bermandi luka
asal maruah tak tergadai begitu saja

HR RoS
Jakarta, 30-12-2016





CINDAI NAN ELOK
By Romy Sastra


Burung jelantik cantik bercicit riang
berenang di atas cawan dalam sangkar tuan

Cindai-cindai nan elok
selendang bersulam payet manis
jemari lentik
melenggok tarian sapin melayu

Kenduri
bertilam manik benang emas
pelaminan eksotis
dihiasi kembang idaman
beradu tatapan bersama tuan

Tudung songket
melingkari panggul-panggul penari
rentak panggung berputar melingkar
berjoget riang berdendang
seakan mabuk kepayang

Dalam dekapan rindu
kenduri satu malam
bak bidadari memadu kasih
Dalam semusim purnama

Cindai tarian kenduri budaya lama
storykan kejayaan tatapan sejiran
berjaya dalam seniman
sebuah peradaban yang dibanggakan

Satu jiwa
satu hati
satu rasa

Berpadu
dalam kearifan madah-madah cinta

HR RoS
Jakarta, 30112016





#prosais
SENANDUNG DI LERENG LAWU
By Romy Sastra


Berdiri di sini
di bumi kelahiran
tumpah darahku
lereng Lawu selatan kuto Ngawi
Lawu menyimpan banyak cerita misteri

Di padang ilalang gersang
menatap jauh ke samudera biru
langit cerah berkoloni awan putih
menengadah dalam kearibaan doa

"Oohh, ayah bunda,
ananda di sini berdiri
menitip rindu

Tujuh belas tahun di tinggal di desa
di lereng gunung Lawu ini
jarang sekali bermanja bersamamu
"oohh,
ayah bundaku!"
Ananda ingin dibelai
layaknya remaja yang lain tumbuh dewasa

Dalam doa menitip cinta
berbahagialah engkau di sana
bersama bunda

Ayah,
pulanglah raya nanti
kita bercerita lagi di sini
kala senja berdua
bercerita tentang negeri di atas awan
menatap sunset di balik pinus-pinus muda
bianglala tenggelam menyapa malam
di lereng Lawu bersenandung rindu
tentang indahnya dunia ini
dalam nasehat-nasehatmu ayah

Pitutur luhur menggugah jiwa
tak terasa ceritamu menitiskan air mata
ingin kudekap selimut malam bersama
yang terasa hanya bayangan
gelisahku membuncah
pada langit-langit rumah

Ayah,
kembalilah ke desa ketika masa tiba
kita berlari di lereng ini kembali
ceritakan tentang kearifan jiwa
mengisi dunia kedewasaan diri
tirani yang berbenah dan berbudi
aku tegar berdiri, meski tanpa hari-harimu
hanya dari didikan itu
aku mengerti makna hidup
bersamamu ayah, tiada duanya

Ananda menitip cinta dalam puisi
dengan secarik larik menyapa dalam seni

Prosais bersama ananda,
Iqbal Al Javpad.

HR RoS
Jakarta, 1122106





SERULING PECAH TAK BERNADA
Karya Romy Sastra


seruling rindu bertanya pada angin
ke mana sepoi berlalu
titipkan pesan di hati nyonya
lentikkan jemari lambaikan tangan
adakah nyanyian rindu pada janji
yang dulu dikoar-koarkan
untuk gita sebuah rasa
aku tergoda

seruling bambu bertanya pada merdu
hembusan napas gembala senja
titipkan rasa pada semut merah
beriring jalan menyapa mesra
kenapa tahta tuan tak berjaya
satu juta semut meruntuhkan singgasana

seruling malam bertanya pada lagu
kidung mendayu lenakan kalbu
nyanyian malam kian sedih
pungguk merindu bulan berlalu
mengurai cerita kasih yang tak sampai

puisiku untuk tuan dan si nyonya itu
pesankan,
pada Arjuna dan Srikandi nan bertahta
di singgasana mewah di tengah kota
kebahagiaan masa depan negeriku
semakin diterkam elang-elang serakah
kaki tangan berlenggok tak bertelinga
terpedaya sudah pada benalu tak kenal malu

langit kian rendah
kaki tuan menginjak wibawa sendiri
siang berganti malam
terik padam malam temaram
ibu memanggil pulang
kembang setaman mewangi
berbaktilah,
kenapa torehan jasa dibiarkan ternoda
ketika sejarah dikenang tak berguna

HR RoS
Jkt,15122016





EMBRIO CINTA
Karya Romy Sastra


Desah cinta setetes darah hina berkoloni
sukma kasih menyatu dalam garbah
terbentuk bibit insani
bertanya Hu pada embrio
"Kutitip amanahKU... ke dunia kelak,
adakah engkau sanggup memikul titah dunia sepanjang kematian?
sedangkan engkau embrio tercipta dari sabdaKU,
dari kehidupan pertama dalam Qolam azali
Kutuntun dengan detail indahnya rahsi

Azali tergurat misteri
di setiap detik-detik laju cipta
lena seperti melayang dalam nebula
segala serba ada tersenyum mesra
berdialog belajar cinta bernapas Hu
detak-detak memandu berjalan jauh
tetap langkah itu di hadapan-Nya

Hu bersabda pada ruh,
siapa Rabbmu ya embrio?
Engkaulah wahai kekasihku

Embrio lahir ke dunia alam kematian
tersesat jalan negeri apa ini
tak lagi menemukan kedamaian
yang ada kebisingan
embrio mencoba tenang kembali
pada adzan memandu asma-asma puji
yang dikenal dari dalam rahim
baru saja tertumpah lewat goa garbah
embrio bergantung pada titah Ar-Rabbani
dari suara merdu ayah bunda serasa semu
ayah dan ibu memelukmu
Ar-Rabbani menuntut jalan embrio
belajar bermusyafir pada dunia kematian
mencari lembaran azali kembali
untuk bekal jalan pulang ke alam abadi ....

HR RoS
Jakarta, 27092016





TERSISIH IA SETIA
Karya Romy Sastra


Tak pandai menari lantai berjungkit
ketika gemulai tarian
tak selaras dengan nyanyian
jemari dan songket
terlilit selendang ungu
kan terjatuh malu

Kidung rindu mengalun merdu
merindu dibuai angin lalu
kidung tak lagi bernada cinta
nada bisu membungkam kalbu

Aksara cinta berbalut tinta
gelisah terluah di kertas madah
langkah kaki terhenti
bak musyafir kehilangan arah
dahaga di tengah samudera
tak tahu arah mana kan ditempuh lagi

"Aahh... rasa, tercabar di minda tanya
padahal musyafir cinta
masih setia dalam perjalanannya

Tinta jiwa ini
melukis misteri berbalut resah rasa
terlukis di bingkai setengah jadi
buruk sudah bayangan di depan mata

Wajah-wajah rindu
seperti berkaca di cermin retak
merupa tak membentuk indah
tertutup butir-butir kaca berserak
seakan rindu-rindu tak lagi tampak

Bertanya dalam diam
jawabannya bungkam
hanya makna yang bisa ku-eja
di setiap rindu yang kutunggu

Rindu telah ranum merona
menghela di sela napas-napas cinta
resah sudah

Dalam tanya resah menjawab sendiri
rindu ini masih seperti yang dulu
menunggumu sampai akhir hayatku
aku tak memelihara kembang lain
di taman hati
setiaku selalu
menggenggam noktah kasih
dalam bingkai setia
bersama dirimu setia sampai mati

HR RoS
Jakarta, 11112016





#SONIAN_ASMARA


1
dendang rasa rindu
mengalun merdu
pada cinta
terlena

2
pesona asmara
kecup menyentuh
bibir kita
nikmatnya

3
dikau kekasihku
kurindu surga
kenikmatan
cintamu

HR RoS
Jakarta13112016





#Puisi517
By Romy Sastra
SALAT


#format subuh
denyut jantung
ya hu salat jati
kenali diri dengan ilmu
menuju Illahi Rabbi
biar tak tersesat jalan

#format zhuhur
tunaikan kewajiban baca niat
berdiri ruku' sujud duduk
berdoa lalu mengaji
jadilah hamba yang teladan
al-quran tuntunan

#format ashar
jalan pulang semakin dekat
kembang setaman mewangi
el-maut tak kenal kompromi
segera bertobat
sebelum terlambat menyesal nanti

#format maghrib
senja telah tiba
anak santri pergi mengaji
bulan purnama
tengah malam salat tahajud
berdoa padaMu ya Allah

#format isya
salat adalah jembatan diri
mengenal Tuhan
Makhluk dan Khalik bersatu
syariat tarikat hakikat makrifat
islam iman ihsan

HR RoS
Jkt,16122016





PADA SUATU SENJA DI
DERMAGA TELUK BAYUR
Karya Romy Sastra


Di dermaga rindu tangis pecah
tinggalkan ranah bunda
sedih ditikam senja
kala layar bersiar laju menuju riak
lambaian nahkoda isyaratkan kepergian
irama camar bersiulan
titipkan pesan pada angin malam

Dermaga pun tak lagi tampak di kejauhan
sayup-sayup kutatapi bendera menari
iringi kepergian kapal melaju
ke samudera biru

Gejolak jiwa terpana
gundah meretas samudera, seketika pilu
terpaku, ranah bunda memanggilku
jiwa tertahan di antara simalakama
terus berlalu ataukah kembali pulang
sedih menikam kalbu

Nyiur melambai di pesisir pantai
seakan iringi kepergian nahkoda itu
camar bersiul mencicit perit
merayu memanggil kelana, kembalilah ke tanah bunda wahai darah muda
bisik sang bayu semilir lirih
biarkan takdir berlalu
senja jingga lenakan tubuh dibuai gelombang menghadang

"Sapa sang kidung malam berdendang,
"Ooii... Ranah Minang nan denai cinto,
larek sansai di tanah Jao
jaan tapian nan ditangisi
bialah rantau den pajauah

Pada suatu senja di Teluk Bayur permai
saksi sejarah perjalanan si anak dagang
ketika asa cinta nan dulu pernah diungkai
terbangkalai sudah,
tak tahu rimbanya sampai saat ini
asmara hilang ditelan bayangan gelombang

Teluk Bayur di pesisir pantai Sumatera Barat
saksi sejarah dermaga tua dari zaman penjajah
dalam era peradaban cinta Siti Nurbaya

Dermaga tua jadi saksi memori rindu
sebuah rindu yang kini tak lagi dijumpai
memori nan berlalu telah membisu
tinta bermadah di kertas maya
kupuisikan sebuah history
dalam lamunan di kesendirian hati
melukis sastra sisa-sisa cerita yang tak sudah

Ketika masa remaja mengikat kasih
pergi tinggalkan pantai barat Sumatera melaju ke tanah Jawa
memori titipkan sejarah tak bermakna

Selamat tinggal Teluk Bayur permai
kudatangi dikau kembali
menyapa kenangan lewat tinta ini

HR RoS
Jakarta,29122016





LENTERA DUNIA
By Romy Sastra


Sabda guru memandu
ejaannya menitip aksara pada tunas bangsa
jalan terjal berliku jejaki ruang kosong
bocah bermimpi berlari mencari cahaya
jamur bermenung di tunggul tua
tanpa pupuk ketrampilan hidup
ditingkah kebodohan zaman
lentera dunia hadir menerangi gelap
pahlawan tanpa tanda jasa

Terima kasih guru
pendidikan kau ajarkan
dari taraf eja menjadi sarjana
soko guru perisai kemajuan
di kepalamu lentera dunia menyala
cahaya ilmu nan tak kunjung padam

Ki Hajar Dewantara,
semboyanmu:
tut wuri handayani
ing madya mangun karsa
ing ngarsa sungtulada
( di belakang memberi dorongan,
di tengah mencipta peluang berprakasa,
di depan memberi teladan )

Guru,
dikau kukenang selalu
dari kecilku sampai tutup usia nanti
walau jasadmu berkalang tanah
torehan jasamu kemilau abadi
meski dunia kembali gelap
cahaya ilmu janganlah berakhir

HR RoS
Jkt, 25/11/2016





DAUN-DAUN MUDA BERGUGURAN
Karya Romy Sastra



tanah tandus tergerus siklus zaman
pohon tua bertunas
kembang berputik jadi idaman hati

ketika budi dan religi dikebiri
make up cantik penghias diri
jajakan cinta di balik tirai malam

wajah-wajah ayu berlenggok
bak bidadari dari kayangan
rela terhempas
jadi penghibur wanita malam

dengan segelas anggur di tangan
serigala-serigala rakus bermata elang
di balik rerimbunan kerlip eksotic
melirik mangsa kemayu jadikan teman mainan

jelantik berkicau berbisik kecil
bermanja lirih
sangkar-sangkar kerlip
menambah suasana riang

house musik riuh menggugah syahwat
pasangan berlalu satu persatu memandu kasih
hilang dari kerumunan mencari tempat persembunyian

malam-malam panjang
dalam keramaian di pinggir jalanan
dugem di awal malam
menambah asyiknya pesta konco-koncoan

malam kian panjang
berhias lampu jalanan
beraroma mistik mewangi dari dukun langganan
malam bertaburan bintang
daun-daun muda berguguran
jadi prostitusi jalanan

pesta usai
cinta satu malam melenakan
daun-daun muda terdampar di tengah jalan
kembang muda berputik
tinggalkan kenangan
layu sudah sebelum berkembang

HR RoS
Jakarta, 11-11-2015, 11,51





ASEAN IMPOTEN
Oleh Romy Sastra


Forum persatuan perdamaian Asean
tentang rasa kemanusiaan
tuk Rohingya impoten
label organisasi bagai seremonial saja
jika bencong dan banci
masih berjuang tuk hidup bernyanyi
tentang budaya cantik dan eksotic dalam lagu
Asean pengecut tak berkuku, uuhh malu

Alasan klasik dibuat dalam konferensi
tak intervensi internal sebuah negeri
seperti tergigit lidah
di mana tanggung jawab sosial dan kemanusiaan itu,
kau beri label serumpun
dalam wadah kebersamaan solusi bertetangga
demi kemaslahatan umat
berbagai agama dalam suatu bangsa
kau seakan tak berdaya
hak azasi manusia
dikebiri oleh penguasa Iblis

Pemerintah Myanmar
sahabat Asean tak berbudi
ironis,
diplomasi negara yang bersahaja loyo
nyaris tak ada solusi jitu
seperti gigi ompong tak bertaring
malu-malu kucing penakut
hanya mampu mengintip tikus di lobang semut

Aku tak percaya Asean kini
nyatanya, genosida suatu kaum dibiarkan begitu saja

Asean tak bertaring impoten sudah
seperti bencong alias banci kaleng
di tengah keramaian kota

Save Rohingya

HR RoS
Jakarta, 28112016





"'"""" TONGKAT TUA
TELAH RAPUH """"""
Karya Romy Sastra


Ayahh
perjalanan panjang telah kau lalui
berhentilah melangkah
duduk manislah di rumah
getir, pahit,manis, indahnya kehidupan
jalan berliku menanjak menurun
terjal tandus berbatu kau tempuh
dikau jalani dengan senyuman

Kaki pecah melangkah di bawah terik
tak ayah hiraukan
demi memenuhi asa pelita hati
nasi yang kami makan
dari peluh darahmu kami di besarkan

Ayahku,
impian tinggi menggebu
untuk buah hatimu
tegar berdiri dipaksa melangkah
tetap kau pintali benang merah hidup ini
berkaca diri berantai dengan masa lalu
bersama tiang-tiang lapuk terkubur sudah
meringis sedih di setiap letih
masa lalu yang telah bias
berlalu jauh meninggalkanmu
hilang ditelan masa,
gagal dirundung duka

Kini,
putik-putik berbunga telah berbuah
kau masih saja tertatih payah dan lelah

Miris,
dikala senja menyapa
dada kau penuh menyeruak sebak
duduk di sudut rumah beranda tua
berpangku tongkat rapuh
diolok-olok cucu yang lugu

"Ah ... sedih,
nasi putih tak lagi berkuah
seduhan pagi tak lagi kau rasa
hanya asap putih mainan sepimu
kau linting dari jari jemarimu yang keriput

Ayaahhh ...

Kau kini tak lagi tersenyum dengan dunia
bila malam tiba
air mata bercucuran
berbisik lirih menghiba
ya Allah,
sejahterakan jugalah anakku
di mana pun ia berada
doamu ayah masih tersisa

Getar-getar doa itu
membangunkan sang penjaga malam
mengintip rintihan bunian lagi menyepi
kau menitipkan doa ke dalam misteri
memanggil anak yang tak pernah kembali
samudera mana yang ia arungi
batu dilempar arus tak beriak sampai kini gelombang tak jua menepi

Uhh,
seorang anak merantau
tinggalkan tumpah darah
tak pernah kembali lagi
usia senja telah meratap dalam cinta
meski ia kecewa
ayah, kau tetap sabar dalam doa

Duhai, mahkotaku yang telah hilang
entah ke mana perginya
tak tahu kini di mana rimbanya
pulanglah nak!"
Ayah menantimu di beranda senja ini
haruskah tanah merah kan kau temui nanti
wahai anakku ....

HR RoS
Jakarta, 13,11,2015, 08,42





RINDU NAN BISU
Oleh Romy Sastra


merindu, bak tunggul lapuk
mengharapkan hujan
tunaskan dahan kembali
di sini, masih menyulam sepi
berkawan bayangan
dendangkan nada seruling siul
terpana menatap kejauhan
adakah nyanyian rindu tak bisu
menghibur pilu

kekasih yang dulu didambakan
tak lagi kini kujumpa
rinduku telah bisu tak bermakna lagi
ternyata kau benar-benar menghilang dari pandangan
akankah kisah telah tertutup rapat
menjadi kenangan usang

uhh... entahlah

setapak demi setapak kaki melangkah
tuk meraih jejak impian
pada jejak-jejak hati
yang tak lagi menampakkan diri

rasa ceritakan kisah pada madah senja
berpegang tongkat tinta
berkelana tuliskan aksara yang tersisa
meski rasa ini lelah menyapa cinta nan beku
memanglah,
aku telah bosan dengan cinta semu

duhh ... kenapalah
siulan camar di pantai itu
tak lagi bersuara
apakah parungnya terpasung bisu
ataukah lupa irama kisah yang pernah tercinta

keadaan kita seperti eja di balik tanya
seakan noktah rindu masih kau rasa

ya, kenapa kau kini biarkan rindu membisu
sepi berkawan hari
ya, sepertinya
memang kau telah berlalu

ketika kau semakin jauh
jauh, jauuhh dan jaauuuhhh
tinggalkan kisah ini
tintaku tetap bermadah rindu
meski luahku
tersekat terpenjara lara
tak terkurung mati memuntahkan diksi

bila noktah hatimu
tak lagi bermuara kasih
ajarkan aku untuk biasa tentang rasa
yang tak lagi mengenal cinta

biarlah kurajut rindu-rindu ini
bersama bayangan semu
kan kujadikan itu
sebagai pemanis hidupku
dan setia menyendiri tak lagi bercinta
apalagi mencari memori baru
sebagai pengganti dirimu yang telah pergi

HR RoS
Jakarta, 07113016





#Prosais_Religi
MAHABBAH MAHA KEKASIH
Karya Romy Sastra


Berdiri dengan sendirinya,
Qadim puji alal Qadim
Tuhan maha pencipta, pengasih dan penyayang
Azali sifat Dzat mentitah kalam ciptakan kekasih Muhammad

Ketika kalam mencipta, bersabda: pada kosong, Nur Qun Hu Dzullah
Berdiri tirani Dzat bermegah pada sumber Lil alamin, wal awallu wal akhiru
Cahaya Nurbuwat Muhammad
Hikmah kejadian untuk para utusan dan sekalian alam

Kemilau pada kosong itu
Terang benderang hadir bersamaan
Terbuncah indah mendaki ke gunung Thursina
Asholatu daimullah tajalallah, mautu qoblal antal mautu

Muhammad menitiskan nuktah Tercipta empat sahabat setia
Jibril, Mikail, Israil, Israfil.
Alamat berdirinya empat anasir
Penguasa bumi, angin, air, api Cikal bakal anazir Adam tercipta sebagai insan kamil

Diri ini
Hikmah mahabbah maha kekasih
Tertuang dalam ruang goa garbah bunda
Terkisah ke dalam buah cinta asmaradana
Berkoloni jadi embrio karya maha Rabbani Illahi
Bersatu Dzat, sifat, asma, af'al

Si jabang berselimut di dinding rahim nan lembut, melebihi sehalus seribu sutera
Meminum tetesan telaga hayat dalam pujian
Ya Hu, hidup memuji berdenyut di segala nadi

Tuhan bermegah pada ciptaan Menyentuh di segala ruh
Memuji keagungan sendiri,
bersabda: "Akulah Tuhanmu, ya hambaKu"
"Kuciptakan engkau, "Aku ingin agar dikenal, maka kenalilah Aku....

HR RoS
Jkt, 29112016





RESAH BERSELIMUT MIMPI
Romy Sastra II


nada rinai bernyanyi lirih leraikan gersang
hujan pun turun suburkan alam

siulan malam terhenti,
pada sayap-sayap yang terbang siang tadi

ada seekor merpati kedinginan
terkurung sepi,
dinginnya hati tanpa selimut kekasih

oh, tetesan bulir malam
kau undang kedukaan pada suatu mimpi
terlelap di kelambu nan merindu
koyak tergigit resah impian tak bersemi

pejamkan bola mata nan hampir layu
tidurlah
biarkan memori berselimut pada history
kunci saja jangan dibuka lagi
andaikan malam ini tak berkejora
purnama enggan merupa
yakinlah, esok terik masih ada
menyinari kehidupan kembali

HR RoS
Jakarta, 7,3,17





#Sajakluka
RINDU YANG TAK KEMBALI
By Romy Sastra


Untukmu kenangan terlupakan,
senandung rindu merayu kisah yang dulu bersemi telah padam, pada lembaran usang berharap jadi bahagia, menggoda rindu kembali. Pernah sesaat berkasih sayang di tengah jalan kisah terkhianati berbuah kecewa.
Ya, di peraduan sajak senja merona, kugubah sesuatu nama nan pernah kunyanyikan di pentas kekasih, singgah di hati sang kekasih yang tersisih.

Di jalan memori, tinta berbisik kepada khayal menatap sekelabat bayangan abstrak, tetiba hadir sekejap, titipkan resah dan pergi meninggalkan tanya, adakah pertanda rindu masa silam kembali lagi. Aahh, paranoid, kenapa tak pernah hilang? Terbukanya tirai ilusi kisah yang menyedihkan pada suatu pilihan di persimpangan jalan, meninggalkan kepedihan luka tak berdarah tentang cinta setengah hati terbagi antara harap emas dan suasa.

Risau mendera menatap kisah
telah terkubur dalam peti terkunci mati,
rasa rindu menyapa kembali pada lamunan sunyi, terasa semu disemai sepoi angin mamiri, aahh... rindu ternyata tak kembali.

Pada kekasih yang dulu terjalin, berjanji tuk menoktah ikrar dua hati sampai bersemi hingga ke nisan tanah merah, jejak-jejak tinta puisi cinta kutelusuri tak lagi tampak di dinding kaca, antara masa dan jarak berjalan tuk mencari rupa cinta, tak jua merupa. Karena tertutup kabus pekat di dinding kebisuan, rindunya pun tak pernah beri kabar lagi, apakah ia telah pulang selama-lamanya menghadap Illahi, ataukah sudah bahagia bersama kehidupan yang diimpikan pada kilauan emas, mencampakkan suasa tak berharga.

"Aahh... biarlah rindu tak kembali
jikalau harap terperap berbuah senap.
Kenapa jalan memori terbuka dalam lamunan tiba-tiba, padahal tak sedikitpun kuundang.
Bahwa satu hati pernah kecewa, meski pintu maaf selalu diberi,
tak jua menjadi penyelesaian pada konflik-konflik perasaan nan pernah terjadi.

Testimoni potret kisah nan lara
jadi sinopsis kecewa di jantung cinta tak bernadi, pernah mati.

HR RoS
Jkt, 4122016





RESAH BERSELIMUT MIMPI
Romy Sastra II


nada rinai bernyanyi lirih leraikan gersang
hujan pun turun suburkan alam

siulan malam terhenti,
pada sayap-sayap yang terbang siang tadi

ada seekor merpati kedinginan
terkurung sepi,
dinginnya hati tanpa selimut kekasih

oh, tetesan bulir malam
kau undang kedukaan pada suatu mimpi
terlelap di kelambu nan merindu
koyak tergigit resah impian tak bersemi

pejamkan bola mata nan hampir layu
tidurlah
biarkan memori berselimut pada history
kunci saja jangan dibuka lagi
andaikan malam ini tak berkejora
purnama enggan merupa
yakinlah, esok terik masih ada
menyinari kehidupan kembali

HR RoS
Jakarta, 7,3,17





Puisi ini dapat apresiasi dari tim penilai
All admin group Pustaka Maya,
sebagai JUARA KEDUA
pada event bertema KOPI.
Dalam keputusan penilaian diumumkan oleh akun Group PUSTAKA MAYA pada tanggal 6 Maret 2017. 15,00 wib
Terima kasih saya ucapkan kepada All admin group.

Tema: KOPI
Judul: MENCARI MAKNA RASA IHSAN
Karya: Romy Sastra


kepada kopi air gula dan cangkir
berkoloni dalam satu wadah
berjuntai isyarat secangkir kopi pagi
dalam duduk bangkitkan imaji
secangkir kopi warnai kehidupan

temui diri dalam makna seduhan
di mana gula tempatnya manis
pahitnya kopi terpisahkan
air adalah sumber kehidupan
pada aroma memberikan jawaban di lidah

aku mencari diri pada secangkir kopi
tak kutemui pada larik-larik puisi
pujangga meluahkan kisah pada sastra
nan tertuang satu cerita seribu makna
imaji bermain pada aksara diri

telah aku kelilingi dunia batin
mencari jawaban insani
pada renungan secangkir kopi
ihsan ternyata ada pada rasa sejati
iqtibari makna hidup tak sia-sia berpikir

HR RoS
Jakarta, 19-02-2017





TAFAKUR


Jangan menanti purnama semusim
Pijar-pijar kejora mengulit malam
Malam usai ia tenggelam
Cari di hati yang bersih jiwa yang tenang
Tengoklah ke dalam kerlipnya selalu ada

Bunuh riuh pada onak pikir
Nan menggoda jalan pulang ke haribaan
Sunyikan diri sekejap menuju keabadian
Rumah-rumah qulhu siaga menanti

Sejenak berpikir memanglah jembatan keselamatan
Untuk apa beribadah seribu tahun lamanya
Berjalan tak memakai panduan kan tersesat
Lebih baik mati saja dari awal tak menumpuk dosa
Penyesalan di ujung nyawa tiada gunanya

HR RoS
Jakarta, 15/03/2017





#Kwatrin
PADA KOSONG ADA ISI
Romy Sastra II


Diam itu bukan membisu
Tatapan berbicara lewat hati
Dialog rasa tentang jiwa
Bahwa sukma mengulit mimpi

Tundukkan kepala batu
Duduk tafakur menghitung-hitung dosa
Gelap diri tak bisa berkaca
Bersihkan noda dosa dengan doa-doa

Kapan lagi menyibak yang tertutup
Terlena diri, dengan kepalsuan mimpi
Mimpi-mimpi tentang dunia nan indah
Larung nafsu di atas sajadah cinta biar sirna

Dalam diri kosong terperi
Padahal ia terisi sudah nan sejati
Mengisi yang telah ada
Tak payah memetik Sastra Jendra

Sastra Jendra Hayuningrat klimaks pendakian
Pada makam-makam diri dilalui
Dengan menempuh mati di dalam hidup
Berusahalah menanam benih-benih cinta semoga berbuah

HR RoS
Jakarta, 14/03/2017





SINOPSIS SETETES KEHIDUPAN
Romy Sastra II


setetes tirta pelerai dahaga
pada hujan penyubur tanaman
tentang aliran hulu ke hilir sumber kehidupan
berlabuh ke muara berkoloni di samudera
makna kearifan alam dari sang pencipta

dari ar-ro'du bergemuruh
al-barq kilatan petir halilintar
Jibril berpesan kepada awan
kawinlah dikau gravitasi gas mengembun
berikrar di kosmik bersama angin

yang akan rinaikan hujan tuk mayapada
berdamailah kehidupan
titah Ar-Rabbani
maha pengasih lagi maha penyayang
bersyukurlah pada-Nya wahai hamba
jaga kelestarian bumi titipan itu
jangan rusak alam dengan serakah
biar tak menimbulkan bencana di mana-mana

HR RoS
Jakarta, 14/03/2017





#Kwatrin
MAKNA SEBUAH HAYAT
Romy Sastra II


kepada gerak nadi tiada henti
titipkan kehidupan pada alam diri
bersatunya anasir ruh dari maha ruh
ia tertumpang hanya sesaat saja

kepada denyut jantung pujian
adakala ia rusak terhenti memuji
ikuti saja iramanya bernyanyi satu nada, Hu
iqtibari debar dada rindu

kepada laju napas
berhembus keluar masuk
tangga nada terindah meski berbisik
irama syairnya nan mulia, Ya Hu

kepada akal dan pikiran
jembatan pertemuan menuju keabadian
ayat-ayat suci kabarkan pesan religi
kenapa ia tak dimaknakan

bahwa mencari-Nya,
sangat susah taklah sulit
cukup buka tabir mursyid
karena IA maha nyata di sekeliling kita

IA berada di ruang lingkup lahir dan batin
maka pahami dan kenalilah
tiada berjarak tak jauh
menyatu bersatu padu di badan diri

HR RoS
Jakarta, 13/03/2017





ISYARAT ALAMAT MISTERI
Romy Sastra II


angan di batas bayang
seperti tarian layangan diterpa bayu
ke mana laju lamunan malam kan dibawa
sedangkan sepi berkawan lolongan misteri
seakan Malaikat datang menyapa
bahwa pemberhentian jejak-jejak hari
kian sampai di ujung jalan

pada malam bersandar diri
resah menikam kelam
serpihan mimpi memanglah bunga hari
nan bermain pada kisah yang terlewati dan
mengisyaratkan alamat teka teki
bahwa kematian pasti kan ditempuh

maka berbenahlah sedari kini
jangan menunggu hidayah kan terlambat
ketika El-maut bertengger di ubun
menyesal tiada guna

berusahalah meraih hidayah-Nya
padahal hati, akal dan pikiran adalah
kendaraan tuk mengejar ketertinggalan
mengisi kekosongan catatan Raqib
lipat saja buku Atid jangan biarkan ia membuat memori malu
pada masa perhitungan nanti

HR RoS
Jakarta, 12/03/2017