RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Kumpulan Puisi Mahyaruddin - TERUWIR DI NEGERI SENDIRI



*Terusir di negeri sendiri*


Olehku pengendara besi tua.

Ini Tanah mu ?
Itu Tanah mu ?
Lantas,
Di mana Tanah Tuhan ku ?!

PondokTeduh.
Mahyaruddin, Belawan 2017.

Kumpulan Tembang Kata Waib - LUKA


Sesekali ku hembuskan gumpalan asap rokok dari
Tenggorakkanku yang getir....
Sayatan demi sayatan yang kau toreh di kulit tipisku meski mulai membaik
Namun masih ada bekas yang terlihat...memanjang...
Setiap jejak yg dulu pernah kita jajaki masih tersimpan rapi di lemari yg mulai menua termakan hari dan waktu.....
Dalam kesendirianku ini
Dalam kebekuan hati ini
Dalam penantianku ini....
Hingga aku tak mampu lagi tuk mengingat lagi cerita yang pernah kita perankan dalam delima kebahagiaan...
Aku lelah..... dan ingin kembali....
Di kehidupan yg abadi.....

By.Waib





---------------------------

Hingga kini luka ini masih terasa meskipun telah lama berlalu
Sampai kinipun kekecewaan itu masih manusuk hatiku...
Kau telah merubah siangku jadi malam yg kelam.....
Pekat dan dingin......
Kau buat senyum indahku jadi patah dan beku...
Walau telah berulang kali ku coba.....tuk tersenyum...
Lautku tak lagi bergelora
Langitku tertutup awan hitam...... pekat
Tanpa hujan...
Bumiku kering kerontang
Merekah....
Embun pagi tak lagi mampu
Membasahi rerumputan....
Hingga saat ini purnama tak seterang dulu....samar.....
Bawalah pergi cintaku
Bawalah kemana
kau mau......
Meski aku tak lagi bersamamu.....
Entah esok hari.....

By.Waib

Kumpulan Puisi & Prosa HR RoS - BELAJAR MATI


BELAJAR MATI
Romy Sastra


Telah aku pungut tujuh kerikil melempari dosaku, tujuh kerikil penutup pintu neraka itu.
Membolak-balik kerikil kecil memandu pituduh, menghitung diri membuka hati.

Duduk bersila menatap layaran
merenungi megatruh di kancah rahasia pikir. Terkias makna yang bermegah di ruang batin, mencari-Mu, Ilahi.

Aku belajar mati merenangi segara biru, pantai-pantai melambai menghiasi nafsu berjuntai. Kutolak bara api membakari jiwa, padamkan dengan doa tauhid paripurna.
Di ujung pencarian diri, tak kutemukan bayangan wujud sama sekali, yang ada kosong teraba, terisi awas tak tersentuh. Jiwaku terpaku menatap maha jiwa, digulung maha ombak mendesir seperti lonceng berbunyi, aku mati di segara pengabdian cinta hakiki.

Pengembaraan itu akhirnya terhenti, di garis batas keyakinan tak diragukan. Pada duduk sila semalam di rumah Qulhu. Aku merindui-Mu selalu....

HR RoS
Jakarta, 11,08,17





JERITAN YANG TAK DIDENGAR
Romy Sastra


terkubur dalam reruntuhan
ruh-ruh syahid syahidah pilu
buminya gersang berabu mesiu
langit gelap tertutup asap
dari teknologi pembunuh
demi kepentingan ego diri
maruah penguasa tak lagi berharga

jeritan si kecil histeris
seperti nyanyian digesek biola duka
jiwanya resah, ayah ibu tewas kemaren
kepada siapa lagi meminta belas kasihan
tangan-tangan pejuang berdarah
mengusap wajah-wajah tak berdosa
terabai di padang gersang, malang

ya, Ilahi
kapan kedamaian menjelma
di bumi yang diberkahi itu
sedangkan sejuta doa telah kami panjatkan
engkau maha mendengar rintihan si kecil
perang ini adalah perang jihad
hamba siap tempur ke medan laga

kabulkan doa-doa teraniaya itu
janji-Mu pasti, keadilan pasti tiba
izinkan aku jihad ke medan laga
membela kebenaran itu
seperti jihadnya rasulullah
jika aku mati, bukan mati sia-sia
matikanlah aku karena fisabilillah

HR RoS
Jkt, 08,08,17





#Kolab_Prosais
SEPOTONG SENJA


"Aku ingin menjadi sepotong senja, tuan. Dipuja tiap sore oleh para pujangga di bibir malam.
"Aku cemburu pada jingga, yang warnanya membawa kedamaian pada alam. "Kenapa tuan tak mau mengerti arti kesetiaan itu?" Sedangkan merpati masih setia pada sangkar dengan pasangan.
"Aku bukan abuabu, yang tuan anggap debu, yang tiada erti sebuah rindu, bahkan tiada dipandang mata sekalipun.

"Ahh... kutuliskan sekeping nota untukmu senja. Pinjamkan aku namamu, sebelum malam merampas kelam. Sekalian keindahanmu yang ada kutadah dalam doa.
"Semoga tuan mengerti erti kesetiaan senja pada lembayung di segara cinta.

"Ya... Nona, bersabarlah tuk sekejap!" Aku kan kembali merajut noktah yang tercabik oleh sembilu goda.
"Aku bukan si tuan yang dianggap hina, lupa dengan kisah yang pernah kita bina. Nota itu masih tersimpan rapi di hati ini, Non!"
"Akulah si merpati yang tak ingin ingkar janji pada Nona yang terkasih....
Meski terbangku melepas ego, dan kularung ego itu ke ruang senja. Menyauk embun di daun keladi, kuusap pada setangkup hati yang tersisih.

Pelangi Rainy Sang Senja bersama Romy Sastra
Selangor dan Jakarta 07,08,17





#puisi_kolaborasi
MEMORI DAERAH SUNYI
Pelangi Senja bersama Romy Sastra

pada sekeping hati
tanah pulau yang dibiar sepi
setelah engkau pergi
aku tewas kalah dan mati

tidakkah kau melihat aku, bekas kekasihmu
madu yang dulu kau saring, kini telah kering
membilang semu di bibir hari
noktah kita akhirnya tercabik duri

setelah engkau bertemu debunga wangi
selendang usang tak berharga lagi
perca-perca rindu jadi memori
memori yang tak berarti

jalan sepi pernah kita lewati
kau memahat namaku di daerah sunyi
hanya kau dan aku berjanji sehidup semati
ternyata lenaku mengecapi mimpi-mimpi
setelah terjaga engkau tiada lagi
kisah kasih itu ternyata ilusi

4.8.2017
Selangor dan Jakarta





#Kwatrin Renungan Diri
Romy Sastra


Sepi merenung bukan patah hati. Melainkan diam tafakur mencari diri. Duduk bersunyi-sunyi di malam hari. Komat-kamit menghitung tasbih menempuh pagi.

Sepi merenungi kejadian azali terjadi. Tuntunan tauhid di atas tiang-tiang berdiri. Pada alif berguru tongkat sejati. Jangan bermain ego jika ingin tahu hakiki.

Duhai, pengembara sunyi. Tatap malam jangan bermain kelam. Sedangkan pintu langit selalu terbuka di hati. Bulan dan bintang tak pernah tenggelam bersemayam.

Seribu guru kupelajari ajaran kebenaran. Guru-guru itu bertaburan di setiap langkah dan berlari. Taat pada tuntunan takkan tersesat jalan. Menangislah diri jika tak ditemukan yang dirindui.
Aku pernah mati meninggalkan dunia ini sesaat. Dunia ini, jika tak diawasi lelaku akan tersesat. Sebelum terlambat ke liang lahat segeralah bertobat. Kiamat diri sebentar lagi kian mendekat.

Aku mati belajar mengenali sakaratul maut. Sedangkan el-maut mencibir diri ini nyawa akan direnggut. Kenapa diri lupa tentang kematian tak merasa takut. Sedangkan tangan el-maut tiba-tiba datang mencabut.

Pada sepi aku bersunyi-sunyi menyadari kekhilafan diri. Dalam kesunyian menemui Ilahi. Wajah Ilahi bukan wujud melainkan Idzati. Dengan jalan menempuh kematian itu kita bertajali.

HR RoS
Jkt, Jumat malam 03/08/17

Selasa, 01 Agustus 2017

Kumpulan Puisi Lukita Annisya - LEMBARAN FOTO HITAM PUTIH



"Lembaran Foto Hitam Putih"
Oleh: Lukita Annisya


Lembaran foto hitam putih yang berjejer rapi disekeliling istanaku
Seakan membuat otakku tercuci akan masa laluku
Teringat akan hal indah saat berada dihalaman rumahku
Teringat akan hal bahagia yang membuat diriku angkuh
Teringat akan hal susah yang membuat diriku terpuruk..


Terkadang, ingin rasanya menyalahkan semua situasi itu
Terkadang, ingin juga rasanya mengulang semua kenangan itu
Namun, putaran rotasi bumi selalu berjalan
Membuat semua masa lalu menjadi sebuah kenangan
Menuntut pribadi untuk menjadi insan yang baik dimasa depan..


Lembaran foto hitam putih yang berjejer rapi disekeliling istanaku
Tak lagi rapi, indah, bahkan lembut untuk diraba
Kini telah kasar, usang, bahkan meninggalkan debu ketika disentuh
Namun, banyak menyimpan memori kenangan indah didalamnya...

Medan, 30juli2017
#olehku_WanitaPenuhSelaksaMimpi

Kumpulan Puisi Puji Astuti - TITIPAN RASA



TITIPAN RASA
By : Puji Astuti


Menyentuh titik malam
Dingin angin torehkan sebongkah lara
Sempurnakan kucuran di lembah duka
Bersambut cengkeraman kuku-kuku cakra

Lengkingan memilu meratapi namamu
Terguyur di kala titik embun yang turun
Kelengangan alam menciutkan hati jadi kelu
Butir-butir air mata pun enggan tuk turun

Rayuan seakan menjadi cibir makna kata
Selendang sutera pengikat jiwa kita
Bening air matamu kini terjatuh jua
Di antara peluh lelahmu wahai puja

Kusuguhkan secangkir kopi pahit
Agar kau tau pahit itu tidaklah legit
Mencuri sedikit madu tuk kau gamit
Menaruhnya di sudut letak yang paling sulit

Malamku masihlah panjang
Kuterjang yang selalu ingin menghadang
Kusunting bunga cinta ini sekarang
Kusematkan untuk kau bawa kembali pulang

JOGJA, 30 Juli 2017





SENANDUNG
By : Puji Astuti


Tertegun aku menelaahmu
Pada kisaran waktu yang tersingkat
Berjuntai rumpun kasih tersambung ikat
Mengapa kau lepas dan tak tertambat

Kidung malam ini masih terdengar sayu
Dan kaki-kaki berjalan seakan kelu
Tertunduk wajah wajah pilu
Menyeruak di ruang jiwaku

Akankan cinta tersasar di lembah cadas
Tanpa bersua tuk saling lepas
Seakan hidup ini hanya sebatas tuas
Yang getas, meretas dan tertindas

Hati dan bentuk lirik diri
Tersandung cinta kasih yang sedih
Melodi simphoni pun terasa lirih
Tak terserat indah hanya ada pedih

Kenapa..?

Musti ada tetes jiwa dan rasa
Yang membuyarkan inti-inti cinta
Porak poranda terbabat badai sukma
Melebur segala mimpi dan asa yang ada

Kenapa..?

Tanyaku pada diri dan juga dirimu
Akankah cinta sejati menjadi milik hati
Cukup indahkan senja dengan corak pelangi
Yang bisa hiaskan senyum tanpa ada luka di hati
Dan selalu retaskan bisik-bisik manja di jendela rasa dua sejoli

JOGJA, 12 Agustus 2017
Unggah ulang





INGATKU
By : Puji Astuti


Kegelisahan nurani dan asa ini menggelinjang
Kehampaan dan kerinduan serasa menyatu tak terpisah
Sudut nuansa bathin tersayat senyumanmu
Ranum mengisi pantai hati biruku

Kupendar makna kerlinganmu
Hangat menyusupi dinding jiwa rapuhku
Bagai selimut tebal membungkus dinginnya ragaku
Berpagut genggaman jemari seiring hangatnya rasa di dada

Ujung lidahku kelu
Hati serasa beku terpaku
Sinar mata meredup terpesona
Begitu dalam wibawa cinta yang kau bawa

#resahku_GSP_1282017__





INGINKU
By : Puji Astuti


Berhamburan resah di setangkup hati ini
Lembaran indah yang kita lalui
Terpagut di bawah sinar rembulan sabit
Titik rindu bertemu dan bersatu

Inginku selalu ada di sepanjang hari
Melantun kisi-kisi cengkerama cinta
Ringan dan lapang di dada
Hari pun bergulir tidak terasa

Terbitnya mentari menghantar harapan
Tersembulnya rembulan malam menjadi ingatan
Tatap sendu dan bisikan rindu
Adalah dirimu pemilik lantunan merdu

Harap ini ruaskan di lubuk hatimu
Duhai pemikat kalbu dan jiwa
Setara gelora debar mengiris sukma kita
Yang kini terluka berceceran di hamparan hampa

Kecup resah nadi pun gelisah
Butir gelombang getar kini merambah
Ada rindu yang menyumpat di lorong waktu
Sakit, seperih sayatan sembilu rasa di hati

Inginku,
Simpan segala ngilu terkaparnya kita
Bersama meretaskan semua yang terjadi
Bahwa aku masih tetap di sini
Berdiri dengan segenap ketulusan hati

Aku akan selalu ada.

JOGJA, 9 Agustus 2017





Gerhanaku


Sesekali kulirik keatas langit biru
Terasa ada secuil resah pilu
Meremahkan garis-garis senduku
Yang teramat dalam akan kehilanganmu

Duhai..
Memilikimu adalah separuh kebahagiaanku
Melepasmu merupakan rata mati hati ini
Singgahlah selalu di gelap jiwaku
Karena sangat berat menanggalkan semua kenangan itu

By : Puji Astuti
JOGJA, 8 Agustus 2017





KERESAHANKU
By : Puji Astuti


Ada setitik lesah menggerogoti rasa
Mengguncang detik waktu yang ada
Kekeluan menghias campak-campak wajah
Kini membuat kalbuku menunduk resah

Kukidung sebaris kata sendat
Yang mendengung lirih dan tak bernada
Bermuara desakan pilu di dinding dada
Tak mampu lagi aku tuk berkata-kata

JOGJA, 2/8/2017

Kumpulan Puisi Endang Misnawaty - LELAH


LELAH

Aku lelah bercumbu dengan kepalsuanmu
Yang menghiasi setiap lembar dari cerita kosong yang tak bermakna
Aku lelah mendengar setiap rayuan yang melenakanku
Membuaiku..
hingga kuterlena
Kepalsuan demi kepalsuan menghiasi setiap dinding rumah yang kau lewati
Rayuanmu bagai angin semilir yang selalu berhembus ditelingaku
Aku lelah bercerita pada burung yang terbang melayang di angkasa luas
Aku lelah bercerita pada bintang malam yang berkerlip di langit malam
Aku lelah setiap cahaya rembulan membiaskan cahayanya pada dunia
Ach..
Aku lelah bercerita tentang indahnya dunia
Toh semua jadi gelap gulita
Mentari pagi yang bersinar lembut
Biaskan kehangatan pada tubuh lelah penuh dusta
Yang terkapar lelah tak berdaya
Menangis tanpa air mata kepedihan
Ach..
Rindu datang lagi
Menghampiri selembar jiwa yang rapuh
Oleh ketidak berdayaan yang hakiki
Pergilah..!!
Bawa semua kebohongan yang terucapkan
Dan janji manis penuh bisa yang mematikan
Biarkan mentari pagi tetap bersinar dengan senyum indah yang penuh makna
Biarkan burung burung tetap bercicit menghiasi dunia dengan candanya
Biarkan awan biru tetap beriring di angkasa luas
Biarkan aku di sini tetap mendengar dongeng kepalsuan yang tak akan habis jilid demi jilid cerita kepalsuan
Meski diriku terkapar penuh luka
Yang kau torehkan dengan kebencian
Ach..
Rindu datang lagi menghampiri selembar jiwa yang semakin rapuh
Terkapar tak berdaya oleh kepalsuan dan kebohongan.

By Endang Misnawaty
Di gubuk tua rumahku
30 juli 2017 11:24
Siantar city kotaku tercinta




ADA RINDU


Malam malam begini
Aku rindu menyusuri lorong gelap tanpa lentera
di jalan desa yang penuh cerita cinta
Rembulan malam yang redup seakan malu dan bersembunyi di antara gumpalan awan
Ada riak riak cahaya yang berkerlip di antara seribu bintang yang berkejaran di antara awan di langit kelam
Di jalan yang berbatu
jemarimu erat menggenggam seakan takut kehilangan diriku
Ada cerita indah di antara kita
Menyongsong masa depan yang begitu rumit untuk kita gapai
Di antara kita dan orang tua
Ada jenjang yang harus kita patuhi
Tinggalah kasih
Tinggallah cinta
Di ujung lorong gelap tanpa lentera
Kita berpisah tanpa kata
Dan selalu berjanji akan tetap setia
Dan mengenang cerita cinta kita selamanya
Di lorong gelap tanpa lentera
Selalu ingatkan aku akan cerita kita
Tanpa kata selamat tinggal
Kau susuri mentari tenggelam penuh warna
Dan kususuri mentari terbit dengan ceria
Di sana selalu ada senyumku
Meski kita berpisah tanpa kata
Karena tradisi dan agama
Tapi selalu kulihat senyum indahmu
Di antara indahnya mentari pagi
Dan warna jingga di saat rembulan muncul
Aku rindu saat indah bersamamu
Menyusuri jalan desa penuh debu
Dan jemari tanganmu yang takut kehilangan aku

By Endang Misnawaty
Di gubuk tua rumahku
9 agustus 2017 21:10
Siantar citu





DI ANTARA HUJAN


Kucari bayang dirimu dalam bulir bulir air hujan yang jatuh berderai indah di halaman
Tetes demi tetes bawa kisah indah tentang cerita kita semalam
Tik tok tik tok jarum jam meningkahi tiap warna denting lagu kerinduan
Di mana bayang wajahmu yang menyelinap dalam mimpi semalam?

Warna jingga semburat di langit penuh awan
Bianglala menari indah di antara langit yang penuh hujan
Di sana senyum indahmu bagai mentari yang sembunyi di antara air hujan
Dingin..!
Mata binalmu menyongsong tiap warna yang memancar dari bianglala penuh warna

Tik tok tik tok jarum jam semakin kencang ketika detik demi detik berlomba mencapai tujuan
Aku masih di sini menantimu dengan setia
Meski warna jingga menggoda dirimu yang penuh makna
Lupakan tentang kisah kita semalam
Yang bernyanyi di antara dentingan gitar
Dan lagu yang semakin sumbang
Toh noktah yang kita lagukan semakin hari semakin tidak beraturan
Dan warna jingga hilang di antara air hujan
Dan senyum indahmu menghantui setiap mimpi indahku di antara malam tak berbintang

By Endang Misnawaty
Di gubuk tua rumahku
9 agustus 2017 19;51
Siantar city





Mimpiku


Biang lala yang muncul ketika hujan berderai keras
Kini telah sirna dengan datangnya malam
Ada rembulan yang bersinar cerah
Ada bintang yang berkelip indah
Tapi tak seindah hatiku yang merindukanmu
Di sana ada senyummu yang merekah
Ada tawamu yang renyah
Semua begitu memukau

Kadang kesepian datang menjelma
Ada resah yang bergema di hati
Rintik hujan yang turun tadi sore
Masih menyisakan embun didaunan
Dingin mencekam bagai hatiku tanpa gairah

Di sini ada rindu yang menggebu
Pada raut wajah di balik awan
wajah yang begitu kurindukan
Genggaman tanganmu tadi malam
Masih menyisakan kehangatan yang begitu dalam
Begitu sendu dan kelabu
Hingga aku tersipu malu
Dan memerahkan pipiku yang lucu
Ternyata cuma dalam mimpi kita bertemu
Tapi telah menjadi pengobat rinduku

By Endang Misnawaty
Di gubuk tua rumahku 2 agustus 2017 16:07
Siantar city

Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - AKU TULIS SAJAK INI



Aku Tulis Sajak Ini


Aku tulis sajak ini
Karena cuaca makin gelap
Dan suara rakyat
Menjelma jadi
Suara yang terbisukan

Ini sajak, hadir dari mulut terbungkam
Di tengah para wakil rakyat
Yang bertelinga besi
Dan behati baja
Untuk terus bertahta

: Kita harus bertahan
Melata di lorong-lorong
Tak henti mengusap keringat
Yang mengucur dari jidat kita yang lebam
Selebam wajah negeri ini

Aku tulis sajak ini
Dengan gelora yang tersesat
Diantara derita para petani
Diantara angin yang meniupkan keluh kesah
Dan menghujamkan ke bumi

Sambil memijit sakit encokku
Aku tulis sajak ini, jangan merasa terasing
Kita tidak sendiri
Karena segala rupa hampir serupa
Hidup kita hanyalah titah dan telah terbilang

Kita memang tak boleh diam dan termangu
Walau jiwa tertikam dan teremas
Oleh negeri yang makin tak mengerti
Ada derita bertubi-tubi
Ada tikaman-tikaman yang melukakan anak-anak negeri

: Kita memang tak mampu menyudahi air mata
Tirani telah meluluhlantakkan
Nurani negeri ini
Lumpur telah menggenang
dimana-mana…di mana-mana !

Temanggung 2017