RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 13 Januari 2018

Kumpulan Puisi Riri Angreini - MENUNGGU TANPA JENUH

Kumpulan Puisi Puji Astuti - SENJA


SENJA


Untuk kesekian kalinya
semilir angin sore ini menggeluti perasaanku
mengunduh selepah rindu tuk menjamah angan
betapa inginnya aku mendengar kisahmu

Lembar demi lembar tergores tinta
dengan aksara penuh tantangan rasa
berdebat dengan pucuk-pucuk ragu
seakan tak percaya saat ini aku masih begini

Duhai pedih
mengapa kau ini selalu berceloteh
tak tahukah bahwa aku mulai penat
setiap kali menyisir gelisahmu yang berkobar

Seperti saat ini
senja berkabut rinai hujan
mendesak gigil jiwaku yang mulai dingin
oleh kekhawatiran akan guguran tangisan

Lembayung senja di punggung gunung
biasnya tertimbun pekatnya percik hujan
ronanya terbaur bersama remangnya malam
makin terasa resahku dan gelisahmu ngelangut duhai pedih

~ Puji Astuti ~
Jogja, 10-01-2018





KABARKU


Kemana pergimu
tanpa identitas letak pijakan
hilang menghentikan alur
hingga aku pun tak dengar lagi hela napasmu

Sejenak ingin mencari di gelapnya remang
mengobsesikan segala bayang-bayang
betapa gusar perasaan menggerayang hati
seakan pupus segala pencarian ini

Gemuruh luka kian menganga
menggerus palung jiwa terdalamku
menghentikan langkah lelah
untuk mendapatimu di berbagai arah

Adakah lorong gelap itu persembunyianmu
mendengus hawa pelarian dari kenyataan
mengubur keseharian dari keramaian rasa
bagaikan seorang pidana pendosa

Kutunggu jejak derumu
seperti saat berpacu di jalanan rindu
tak mengenal putus asa 'tuk bertahan
penantianku adalah sepanjang harapan

Inilah keadaanku
sentakkan perindu
genggam kepalan hati
menunggu pulangmu kembali di sini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 10 Januari 2018

Kumpulan Puisi Sariv - TERBARING DALAM KESUNYIAN


" terbaring dalam kesunyian "

Melangkah dalam sepi sendirian.
Terbaring beralas tanah di kesunyian.
Jika Surya bersinar terik tubuh kepanasan.
Bila hujan jiwa kebasahan di bawah awan gelap.
Yang kaya tetap di hormat dan disanjungi.
miskin dan hina terbiarkan menyendiri.
Kerana Harta serta tahta terpahat di naluri.
Kesucian dan keikhlasan telah tergadai.
Kejujuran bagai hembusan Bayu belaka.
Sampai akhir hayat bertabur kamboja.
Tiadalah sapa yang menemani.

By : sarif





" sekadar luahan rasa "

Gugur kelopak bunga ke bumi kekeringan.
Bersama airmata tertunduk sayu.
Siapalah insan ini yang tak berdaya.
Mengharap lembutnya sutera kasihmu.
Sampai bilakah diri ini menahan derita.
Tangisan merenda di ujung malam.
Sekadar meluah rasa di kesepian.
Terbelenggu di dalam hiba.
Disebalik itu semua terlafas kesyukuran.
Kerana pengujian dalam kehidupan.
Biarpun terbuang dan terhina di mata mereka.
Namun keindahan terlindung dalam khazanah cinta.

By : sarif





" kembali diawalan "


Setelah kian lama tersungkur dikesuraman.
Mengecap indahnya sesaat surgawi.
Hanyalah kehampaan menusuk dijiwa.
Cahaya duniawi gemerlap hanya ilusi.
Setapak selangkah mengayun meski lemah.
Dihati inginkan kembali diawalan yang suci.
titian ini penuh duri tak peduli apapun rintangan.
Hanya mengharap Nur suci illahi rabbi.
Perkenan impian ini untuk jadi nyata.
Menyemarak kalbu penawar duka.
Biarpun harus tersisih ditepian zaman.

By : sarif

Minggu, 07 Januari 2018

Kumpulan Puisi Fatircool - UNGKAPAN RINDU



Marah..
Ya aku marah..
Aku marah karena rindu..
Rindu akan sapamu,
Rindu akan senyummu,
Rindu akan tawamu,
Rindu perhatianmu,
Rindu kehangatanmu,
Rindu senyummu,
Aku kesepian karena merindu..
Aku butuh hadirmu,
Aku marah,
Karena rasa itu memudar..
Ya aku marah..
Karena dengan begitu kau hadir menyapaku
Aku sayang kamu..
Hanya dengan memicu pertengkaran
Kita dapat menyatu
Dari rasa marah kudapat lumpahan perhatianmu..
Maaf jika ku bawel..
Tapi itu semua karena ku sayang kamu
Kamu,..
Ya hanya kamu.

UNGKAPAN RINDU
Medan,03012018
Fatircool,
Yv, (YuliaVebian)






Sepi ini menghujat
Melamun membunuh hati
Menanti penuh ketakpastian
Seolah sinar pun meredup.

Bagai racun, rindu itu membunuh.
Gelap,
Kini kumelangkah tak tau arah
Berjalan penuh gundah.

Aku duduk dikesunyian
Enggan berkata
Hanya airmata
Ya...airmata penanda luka.

Kekasih, dimanapun kamu
Dan apapun aku bagimu
Kamu lah cahayaku
Kau kan kutunggu hingga memutih rambutku

HAMPA
Medan, 06012018
Fatircool,
Yv, (YuliaVebian)

Kumpulan Puisi & Prosa HR RoS - BERBAKTILAH ANAKKU



MENATAP HALAMAN KEDUA
Romy Sastra


kemarin adalah cerita
yang lampau menjadi sejarah
kekinian realita

history seperti daun-daun kering jadi sampah kenapa enggan dibuka
padahal ia organik jadikan pucuk berbunga
sedangkan ranting kokoh menyambut kedasih
meski batang 'kan roboh ditelan usia
angin kian lirih menerpa
siklus terus berganti
tegarlah

di halaman pertama kisah baru saja dimulai
mengiringi laju yang terus berlalu
menuju bakti berikutnya
pada halaman kedua menyemai haluan ketiga dan seterusnya hingga selesai
biarlah nama dan sejarah tertulis di batu nisan
berpuisi sunyi
ilalang siap menemani

HR RoS
Jkt, 3118





#Fiksi_HR_RoS
Berbaktilah Anakku
Romy Sastra


Ning nang ning nong, anakku gendong
"Cepatlah tidur, Nak. Ibu menanak nasi, buatmu jika lapar nanti."

Si mungil akhirnya diam di pangkuan, merasakan betapa nyamannya buaian belaian kain gendongan.
Si Ibu dengan cekatan mempersiapkan menu untuk keluarga, sebentar lagi hari akan petang.

Kebiasaan di kampung, teringat masa kecil,
Ibu memanggil anak-anaknya.
"Anak-anakku, mari makan bersama, duduk kita bersama Ayah." Sahut Ibu pada anaknya.

"Dengarkan Nak!" Sebelum nasi ini dimakan, terlebih dulu kita berdoa. Semoga nasi yang dimakan menjadi darah daging yang halal. "Bagaimana Ayahmu, dari pagi hingga ke petang membanting tulang mencari sesuap nasi buat kita," dan membiayai sekolahmu hingga lulus sarjana. "Kelak kau dewasa, memiliki pekerjaan dan menjadi anak yang sukses, jangan lupa jasa orangtuamu ya, Nak?!"

Anak-anak itu terdiam, sesekali ia melirik ke arah Ayah dan Ibunya sedang makan, ada butiran bening menetes di sela pipi, bukan karena peluh, melainkan pilu dan luluh hati kedua orangtuanya merasakan kehidupan yang begitu sulit untuk menatap masa depan.

Di sela suap demi suap diayun, ada sebuah pesan dari Ayahnya.
"Oh, anak-anakku?" Kenanglah lara hidup ini, untuk bahan dikau tahu diri nanti.
Supaya jerih Ayah kau balas Dengan ibadah.

"Menunduklah berjalan, supaya kau tak terantuk di bebatuan." Sebab, dengan berjalan hati-hati adalah pelita hati.

"Dan, kenang juga Ibu menggendongmu kala kau bayi!" Betapa nyanyiannya menyayat hati, berharap kau cepat terlelap, jangan menangis.

"Jika kami ini, kedua orangtuamu tua nanti, jangan abaikan dari pandangan dan perhatian." Sebab, tenaga itu tak lagi kuat berjalan apalagi berlari.
Bukan kami menuntut untuk digendong seperti kau dulu bayi, kami hanya butuh perhatian ingin disayangi juga, tak tersakiti dengan kata-kata, ahhh ...
Apalagi ocehan,
menyusahkan saja ini orang tua.
"Pedihhhh, Nak?!" Jika itu terkisah nanti ....

HR RoS
Jkt, 050118




#Esai_Karya_YS_Sunaryo
MENYEMAI KATA MENJADI SASTRA
Pada Puisi MONAS MIKROFON RAKYAT
oleh Romy Sastra

YS Sunaryo adalah sosok penulis yang kreative dan produktif melahirkan karya-karya menggugah tanya bagi para pembaca puisi-puisinya.
Ia seorang sastrawan berpendidikan, bertalenta di bidang sastra. Memiliki dedikasi tinggi dalam perjalanan kesusasteraan Indonesia di sosial media saat ini, hingga di kehidupan sehari-hari sebagai pengajar serta pendidik dan religius.

Ia aktif di berbagai antologi puisi tunggal serta antologi bersama, dan menjalin kekerabatan kepada para penyair antar negara.

YS Sunaryo sahabat rendah hati berprestasi di berbagai event grup puisi. Ia selalu dapat penghargaan sebagai juara, menandakan karya-karyanya bernas serta memiliki kualitas tata kata yang baik menurut EYD dan PUEBI.

Puisi-puisi YS Sunaryo bukan hanya mainan imaji semata, melainkan sebuah perenungan batin yang dalam, serta memiliki insting yang Allah anugerahi Ilham ke khayalannya. Sinergi pada kisah dan kenyataan ia tulis seketika.

Ia menyimak perkembangan zaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
Betapa ironisnya ketidakadilan suatu aturan yang diterapkan oleh pemerintah pada sekelompok rakyat yang melanda keresahan sekelompok rakyat itu sendiri dalam berdemokrasi.

Puisi YS Sunaryo di bawah ini mensatire oligarki

MONAS MIKROFON RAKYAT
Karya YS Sunaryo


Monumen Nasional gagah perkasa
Monas namanya tak lekang panas
Emas di pucuk membungkus segala cemas
Indonesia jaya terpancang hingga ke angkasa

Berjuta-juta putih di sini merapal doa
Membela agama untuk kehormatan manusia
Berjuta-juta pula warna warni silih berganti
Awasi kuasa agar tak hunuskan besi tirani

Di kaki Monas berlindung bangsa berharga diri
Tiang rakyat, pilar pengobar semangat
Jangan kau sembunyi sendiri lalu mengoligarki
Didih air mata jelata tak akan tersumbat

Kepadamu aku mengangkat hormat
Kau mikrofon suara-suara anak bangsa agar tegak bermartabat

Bandung, 14 Desember 2017


Pada judul puisi di atas mengisyaratkan, bahwa Monas adalah tempat umum bukan sekadar tempat rekreasi dan ikon ibukota dan tugu Nasional semata. Ia Monas adalah wadah demokrasi di mata anak-anak bangsa menyuarakan aspirasinya dari ketidakadilan pada suatu kelompok atau pemerintah.

Dalam bait pertama, YS Sunaryo menyampaikan rasa bangga pada tugu Monas berhias emas berdiri teguh ke angkasa
Ia makna dari kekayaan Indonesia menjadi mercusuar Nusantara mengabarkan pada dunia
Bahwa di tugu itu maruah bangsa Indonesia ini kaya tak lemah mampu berdiri di kaki sendiri.

Pada bait kedua, si aku karya ikut lirih pada perkembangan gejolak politik beraksi di jantung ibukota selama ini. Pada kejadian orasi demokrasi umat meminta keadilan hukum dari kekisruhan ketidakadilan pada pemerintah. Bahwa satu kelompok atau individu meresahkan keharmonisan antar sesama.
Silih berganti organisasi mendatangi tugu itu sebagai ajang demokrasi menyuarakan pendapat pada hukum yang adil, menghunus pedang doa ke hadirat yang Maha Kuasa. Bahwa doa yang dizalimi tajam, setajam kilat menyambar Rahwana.

Lanjut ke bait ketiga, si empu karya semakin mensatire sekelompok yang merasa bertangan besi, menginjak-injak rumput hijau tak berkuasa menjangkau. Angkuhnya oligarki, merasa di tangannya kekuasaan sesaat.
Bahwa negeri ini, bukanlah negeri oligarki tuan.
Berkuasanya sekelompok elit tidak mengayomi seluruh lapisan kehidupan anak bangsa.

Dan di bait terakhir ending puisi si empu karya.
Mari tegakkan hukum seadil-adilnya, biar kami rakyat menghormati jalannya roda pemerintahan itu.
Hingga negeri ini bermartabat tegap seperti tugu Monas, yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk dengan hujan.
Monas adalah sejarah berdarah pada suara-suara yang sumbang terhadap pemerintah.
Monas idealnya adalah wadah mikrofon anak-anak bangsa berdemokrasi jangan haknya dikebiri.

HR RoS
Jakarta, 130118





#Kuatrin PERJALANAN ABADI
Romy Sastra


Tanah liat adalah selimut sunyi, kafan 'kan menjadi rapuh
Bangkai-bangkai berdebu menunggu waktu kembali utuh
Esok atau lusa, mungkinkah seribu tahun lagi perjalanan diri ditinggalkan ruh
Entahlah, yang jelas el-maut tiba-tiba tetap akan berlabuh

Petiklah rahasia sunyi menuju jalan kematian abadi, kembali hidup
Telinga tak lagi berdenging wajah pucat pasi, jantung berhenti berdegup
Mata memandang suci mencintai dunia sudah tertutup
Lidah kelu meminta seteguk air dari nafsu telah menjadi gugup

Lalu, apa yang akan dibawa ke sana?
Yang jelas tak pasti amal dunia diterima
Sebab, riya-riya ibadah membaju di dada
Satu keyakinan diri, bertakwalah secara total pada-Nya

HR RoS
Jkt, 11118





#Karmina Renungan
Romy Sastra


Berjuntai kaki menikmati santai
Hidup terhimpit dilamun sansai

Memandang kilau mata jadi silau
Menundukkan kepala membuang galau

Mencoba melangkah mencari diri
Sedangkan yang dicari bersembunyi

Berpikir sesaat mencari jawaban hati
Bertanya pundak pada telapak kaki

Masih jauhkah destinasi yang akan ditempuh
Sedangkan jarak taklah jauh

Cukup berpikir sesaat biar tak tersesat
Mencari jalan pulang menuju akhirat

Mari membasuh muka ambil sajadah
Duduk berdoa memintalah pada Allah

Biarkan Ia menguasai konflik hidup
Nyalakan pelita jangan biarkan redup

Setiap kisah adalah sejarah
Petik hikmahnya mari berbenah

HR RoS
Jakarta, 11118

Kumpulan Puisi Aulia Putry Manurung - SI OJEK PAYUNG



SI OJEK PAYUNG
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
By. Aulia Putry Manurung


Gerimis ini tak mengusikmu
Bahkan hujan yang mulai menyirami tubuhmu
Kau malah tertawa dengan girangnya
Tanpa sedikit pun takut akan resiko yang ada

Seolah penari kau melangkah gembira
Walau kuyup tapi tetap bernyanyi ria
Dengan payung ditangannya
Menjaja pada siapa yang d jumpa

Kau si ojek payung
Hujan adalah anugrah buatmu
Sebab rezeki pasti menghampiri
Sehingga nanti perut akan terisi

Hujan masih sangat deras
Sederas langkahmu dalam menjaja
Payung, ojek payung ... Mulutmu bersuara
Berharap kantong akan menumpuk juga

Pojok jendela, 03.12.2017
AACB





UNTUK SESEORANG.


Untukmu yang kusebut seseorang
Kebodohanmu menghancurkan diri
Keegoan yang tak beralasan membuat nyawamu tersia sia
Semua akan jadi petaka

Cobalah bercermin pada diri
Seperti apa posisi diri
Seorang peri atau iblis penjilat api
Terlalu kalau dihayati

Untukmu yang kusebut seseorang
Basuh dadamu dengan air kesabaran
Buang semua murka yang kau terima dari mereka
Sebab ini bukan kisah manusia yang mulia

Sujud dan mohon ampunlah pada-Nya
Sebelum petaka menerpa jiwa
Karena semua telah teraniaya
Oleh fitnah yang kau tebar di dada

By. AACB
Aulia Putry Manurung
Penghujung hari, 29 Desember 2017
#AuliaAksaraCamarBiru





TANJUNGBALAIKU


Bunga rampai dijual orang
Harum semerbak kembang melati
Tanjungbalai si kota kerang
Kapankah tuan datang kemari

Lagu indah buat kotaku tercinta
Tanjungbalai dinamai dia
Indah tanjungnya
Luas balainya

Masyarakatnya ramah menyapa
Senyum simpul selalu di bibirnya
Tiada sombong di dada
Persaudaraan erat terjaga

Balai yang terletak di ujung tanjung
Sudah tertulis di sejarahnya
Jikalau tuan hendak datang berkunjung
Pasti enggan buat melupakannya

Mari semua kita menjaga
Tanjungbalai kota tercinta
Pusaka sejarah budaya bangsa
Adat resam melayu aslinya

By. Aulia Putry Manurung
Tanjungbalai, 26 Desember 2017.
22;49

Colek
Pak Ahmed El Hasby
Pak Syamsul Rizal
Ayah Hmyunus Tampubolon
Juga Dewan Kesenian Tanjungbalai





MANA RASA ITU

Bingung
Sedih
Terkejut
Mengapa begini

Rasa
Asa
Cinta
Semua sirna

Mengapa begitu kejam
Tidakkah ada rasa lagi
Terlalu naif dirimu padaku
Aku tahu dirimu

Pergi saja
Sudah lupakan semua
Kubur cerita silam kita
Biar semua tinggal cerita

Tanbe, 2 Juli 2017
Aulia Putry Manurung.
#MolenJimboBabyPotato





PANCASILA.


Ketuhanan Yang Maha Esa
Kita mengakui itu
Dan percaya penuh terhadapNya
Sebab kita mengimaniNya

Kemanusiaan yang adil dan beradab
Masih adakah itu?
Apa kau ragu
Mengapa ada tanda tanya di otakmu

Persatuan Indonesia
Apa itu mungkin?
Kenapa ada keterkotakan
Juga ada pemblokan

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Semoga itu tetap ada
Agar rakyat tidak menderita
Kesejahteraan merata

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Aku ingin itu ada
Engkau pun juga
Kita dan mereka mengharapkannya

Tanjungbalai, 1 Juni 2017
Aulia Putry Manurung.





SENRYU


Indah wajahmu
Aku terpaut rindu
Cinta bersemi

Elok rupamu
Perangai mengusikku
Rindu menerpa

Teruna jiwa
Singgasana pujaan
Gelora cinta

Oleh : Aulia Putry Manurung
Tanbe... 040117





AKUNTING DIRI


Pembukuan hatiku dalam kesepian
Kakuku mengakunting jiwa
Debit sayangmu sirna
Karena kredit kebencian

Lajur hidupku hampa
Sebab tanggalnya durjana
Rangkaian kata semanis madu
Sehingga meregistrasi di jiwa

Bisikanmu laksana laporan merdu
Menjumlah sayang
Namun sekarang hilang.

Tanbe...110117
By : Aulia Putry Manurung.

Kumpulan Puisi Layla Dct - PENAWARAN



PENAWARAN


Dilema yang memblenggu
Berikan sudut yang tak rasional.
Memihak,
Melihat segalanya dari sisi yang berbeda.

Dan lagi
Sebuah penawaran manis.
Dari penawaran lama yang dulu pernah disampaikan.

Entahlah...
Laut pun tak dapat menawar asinnya sendiri.
Ada catatan~catatan penting yang tak utuh sebagai sebuah penyambung lidah masa depan.
Biar
Dan biar semesta saja yang menunjukannya.

Seluma,2 januari 2018





CATATAN SANG MUSAFIR


Tak peduli bagiku
Mengorbankan seluruh hidup
Bahkan hanya untuk satu nama saja.

Yang melekat
Tepat di dasar kalbu
Menyeretku pada sebuah perjumpaan
Yang kuminta dengan segera.

Meski harus kutelan semua rasa pahit..
Aku ingin kembali suatu saat nanti.
Menelusuri jalan~jalan berduri menujumu
Yang terpenjara oleh angkara.
Untuk memberimu harap.

Agar engkau dapat bebas,
Agar engkau menemani sepanjang perjalanan ini;
Di kemudian hari.

By : :Ansy
Layla Dct
Seluma,30 Des 2017





PEREMPUAN TUA YANG SENDIRI


Perjalanan panjang yang menyesatkan.
Membawanya pada tepian curam
Lepaskan semua kekuatan
Dan lumpuh ditepian jurang.

Jiwanya memutih..
menua dalam kesepian
Setelah kesempatan yang dimilikinya
Dilarikan kekacauan yang tiba~tiba.

Yang ia tahu,
Nafas adalah sebuah senyum.
Meski menjadi utuh tak selamanya dapat terjadi dengan mudah.

Oleh : Layla Dct
Seluma, des 2017




PENANAM RUMPUT


Sayangnya engkau lupa.
Engkau bukan seorang peternak dalam langkahmu.

Dan rerumputan yang kau tanam,
Sejenis rumput beracun
Yang dapat mengancam kehidupan nurani.

Setelah dengan sengaja,
Dengan rerumputan itu kau memaksa menerima penghargaanmu.

Koma.
Dan entah kapan menemukan penawarnya.