RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 09 Juni 2018

Kumpulan Puisi Nimas - PANCAROBA HATI


Pancaroba Hati
(Nimas Sayu Dara)


Akan tiba perpisahan
Jalan tak lagi satu tujuan
Jarak dan waktu memisahkan
Kita saling kehilangan
Dan cerita cinta tinggal kenangan

Akan tiba di mana hati saling merindukan
Dan malam akan di hiasi genangan hujan tak berkesudahan
Akan tiba waktu di mana rindu tinggal sebuah tangis pilu
Kidung cinta berganti irama sesal dan duka
Kasih sayang berubah jadi ladang kebencian

Sebentar lagi waktu itu akan tiba
Di mana kuntum mawar gugur helai demi helai
Terserak di pelataran bumi
Layu, kering dan mati

Lampung, 09 Juni 2018
#SyairSenja
#KidungSenja




RINDU BENGAL
Oleh : Nimas Sayu


Ini masih pagi
Matahari masih belum tinggi
Tapi, akh ...
Mengapa aku sudah rindu?
Bukankah semalam sudah kukatakan jangan dulu datang

Rindu
Mengapa begitu bengal
Selalu datang tiap waktu dengan nakal Tak peduli rasa hatiku
Sungguh terlalu!

Hai kamu yang membuatku rindu
Tolong, berhenti sejenak untuk tak mengusik anganku dengan bayanganmu
Sebab, rindu yang kemarin pun belum sanggup aku jinakkan
Ah rindu ...
Mengapa harus padamu?





Senja Tak Lagi Jingga
(Nimas Sayu Dara)


Awan kelabu dalam bisu
Jingga emasnya terpuruk kelu
Diam membeku di kaki nabastala
Murung tanpa biasnya yang mempesona

Perlahan pawana menyapa
Sesaat menderu bagai amarah
Berseteru dengan mendung yang membuncah

Buntala berduka
Gagana cucurkan air mata
Bagai duka sang dara jelita
Hilang cinta tertelan dusta

Ah, ...
Senja tak lagi jingga

---------------------
Nabastala : Langit
Pawana : Angin
Buntala : Bumi/Jagat
Gagana : Angkasa
Lampung, 10 Juni 2018
#SyairSenja
#KidungSenja

Jumat, 08 Juni 2018

Kumpulan Puisi Puji Astuti - PUSARAN MAKNA CINTA



CATATAN HARI INI


Pagiku terasa mendung
mentari bersembunyi di balik mega abu-abu
menggigilkan rasaku dengan pilu
oleh kerinduan yang mencuat di ujung hati ini

Seraut wajah begitu kucinta
kembali menari di lesahan rasa
tak urung jiwa menjadi resah
tergelitik debaran yang tak asing lagi di dada ini

Catatan demi catatan usang muncul
goresan satu-satu menusuk kalbu
hangat mentari kutunggu hari ini
untuk menyinari jiwaku yang dingin sejak tadi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 08.06.2018





LARA DI UJUNG RINDU


Mungkin rindu ini telah beku
di saat titik hilang atas kepergianmu
mencari di mana pijak-pijak kemarin
terasa gelap tanpa sinar pijar

Kuhunus serangkaian artimu untukku
menjadi sebuah harap yang pupus
karena rapuhnya keberanianku
untuk memperjuangkan cinta jiwa ini padamu

Pengorbanan tiada arti
melecutkan betapa jauh letakku hatimu
tanpa kata dan bicara kau berlalu
meninggalkan recah luka teramat pilu

Rindu ini masih ada
bersemayam di palung terdalam
cukuplah kusemai tanpa derai
untukmu yang jauh dari rengkuh tak tergapai

~ Puji Astuti ~
Jogja, 04.06.2018





PUSARAN MAKNA CINTA


Serumpun ilalang meranggas
terpaan angin di musim kering mengerontangkan hijaunya
begitu juga dengan makna cinta ini
mengering dihempas keterpurukan rima dan sarinya

Warna jingga pudar di tengah semilir angin senja
menjadi rona abu-abu yang pilu
rinai hujan malam yang ditunggu
begitu lama melelahkan segenap masa penantian

Keringnya ranting menggugurkan daun
tak harmonis perjalanan sinkron tumbuhnya
telah menanggalkan anak tunas yang baru

Inilah pusaran cinta
sepenggal dalam kisi makna
bergeser seperti yang kerap kita alami
meletupkan dera hati tuk bisa saling merenungi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 01.06.2018





TIKAMAN BERUJUNG PILU


Saat perbedaan menggerayangi hati
kita menjatuhkan diri dalam sangka
cemburuku meracuni kalbu
meneteskan peluh panas di antara akalku
bahwa cintaku terabaikan di waktumu

Berasa tikaman menembus jantung
menyayatkan perih pilu berkepanjangan
memupuk sangka melilit dusta
menumbuhkan pucuk jarum di ujung bidikan

Mengapa ini terjadi
seperti badai di tengah lautan
perahuku oleng tak menentu
terombang ambing ketidakpastian bisu
membentuk palung jurang dalam yang menyakitkan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 01.06.2018





SELAMAT PAGI CINTA


Pagi masih menyelimuti punggung bumi
sedangkan kehangatan mimpiku masih melekat di hati ini
semalam kau berikan sebuah saat terindah untukku
sedangkan linangan air mata bahagiamu kulihat meleleh di pipimu

Debaranku masih kurasakan
jemarimu erat menggenggamku
ikatan waktu bisakah berhenti
agar saat bersamamu tak lepas dari pelukku

Rona merah wajahmu kulihat indah
saat kecupan kuberikan
seakan kepasrahan telah melimbungkan
di ujung layung kebahagiaan kita

Pagi ini
saat mataku terbuka dari pejamnya lelap
kurenggut hamparan rinduku
segera kuingin menyapamu dalam resah
selamat pagi cinta, mimpiku ingin kugubah menjadi nyata dalam serangkaian ritual rasa

~ Puji Astuti ~
Jogja, 01.06.2018





HARI TETAP AKAN BERLALU


Begitu cepatnya waktu
memintal kehidupan kita
tanpa berhenti dan terus menggerus detik pada saat kita memulai

Sudahkah kita mengantongi pundi-pundi
untuk bekal kala waktu berhenti
seiring meregangnya nyawa dari raga
meninggalkan dunia fana tiada abadi

Dosa pasti ikut serta
pahala juga menemani
seimbang atau berat yang mana di buku kita
merenunglah hati, rasa dan jiwa

Bilamana semua ditinggalkan
tanpa apapun kepemilikan dunia menempel di tubuh hina ini
bahkan 'tak ikut serta yang namanya cinta sejati
sendiri tanpa teman lagi dan berkalang sepi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 28.05.2018





KARYAKU TERSURAT


Detak waktu berlalu
mengikuti serangkaian tarian jemariku
menggoreskan lesah-lesah hati
mengitari gelora dan rasa kasih

Kutuangkan serangkaian anak-anak puisi
menjelma menjadi jalinan ritme jelusi
berpeluk air mata bahagia
tergambar kesedihan pilu jua

Ini tentang kata hati
adamu yang mengusik relungku
menorehkan gurat kenangan
sepanjang perjalanan yang telah kujelang

Diksi tak akan berakhir dan habis
menjuntaikan makna di barisan aksara
menumpahkan titik berirama dan berkoma
semua selalu ada dan senantiasa menjelma dalam irama cinta

~ Puji Astuti ~
Jogja, 27.05.2018





SUATU SAAT


Kusapu teriknya matahari yang panas
Riuhnya lalu lalang kaki beralas
Kebingaran melelahkan
Memperkeruh situasi hatiku

Sesak nafasku tertahan
Melirik di ujung trotoar
Seorang tua berteduh kepanasan
Dengan mata kuyu terlihat mulutnya kehausan

Di sisi lain adanya hiruk pikuk transaksi
Uuuuugggh ....
Bikin pening kepalaku naik

Kicau burungpun lenyap senyap
Kesejukan berubah hingar
Hati tenang jadi ikutan garang
Fantastis!

Kuikuti perjalanan kakiku
Menyusuri tepian jalan terjal
Kelokan drainase di pinggir sawah

Mulai ada angin
Aaaaaahhh .... ronggaku terisi penuh lagi

Ujung daun padi hijau melibas terik panas
Seulas senyum di bibirku pias

Ketika mata teradu rumah daun di ujung sana
Terlintas bayangan bersama teman sebaya
Di batas umur belasan silam
Bercanda ramai menghalau burung pencuri bulir-bulir padi
Genit terbang kesana-sini menghindari ketika diteriaki

Aaaaahhhhh ....
Buyar anganku saat burung dara melesat di atas kepala
Rupanya aku merindukan saat-saat itu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 26.05.2018





LEMBARAN KALBU


Di antara kumandang adzan dan lantunan ayat-ayat Alqur'an
mendenting ketenangan hati dan relung jiwa
betapa terasa bahagia ada dalam dada
dengan segenap karunia-Mu yang menebari setiap desah napasku

Tidak sedikitpun teringkari untuk Keagungan-Mu
ucap syukur nan kulantunkan pada gerak bibir di lesap doa-doaku
malam adalah limpahan keheningan
siang anugerah menggerakkan jemari tuk mencari ridho rezeki-Mu
sedangkan pagi, titik awal mata membuka hati
bahwa diri masih diberi kesempatan tuk menata serpih pahala yang telah Engkau janji

Hamparan nikmat-Mu tak terhitung angka
begitu melimpah dalam berkah
kurang apa lagi? terpaan pada kalbu

Tinggal aku jalani alur kehidupan yang sudah tersurat dalam qalam takdir-Mu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23.05.2018





DEBU


Berdiri di ambang keletihan
menuliskan serentang perjalanan
bahwa di sini kaki ini masih berdiri
untuk menopang beratnya raga
semua adalah karunia-Nya

Dalam Ramadhan bertabur rahmat dan pahala
jiwa ini terasa kecil dan hina
melukiskan dosa yang berlumuran
membungkus rasa batin seakan jatuh luruh

Bersimpuh di hitungan sujud
melafalkan aksara-aksara nama-Mu
mengiba keridhoan Engkau sematkan
dalam kalbu dan ragaku yang semakin renta

Linang air mata
membasuh wajah yang memucat
langkah semakin lelah
jiwaku bagai debu di hamparan keagungan-Mu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23.05.2018





RETAS ITU


Dalam rentang waktu yang berlalu
Kutulis di bait-bait senduku
Menyimpan berjuta rasa di dada
Itu untuk prasasti kita

Debur jiwaku bersama larungmu
Geseran waktu terlampaui sudah
Titik air mata bahagia tertinggal
Bisikan itu akan selalu terngiang

Terpisah dari jarak dan waktu
Terpilin kerinduan tak bertepi
Seakan rengkuhku melandung
Di antara ketidakmampuan raga

Berjalanlah dikau dengan cintaku yang telah kau bawa
Bersujudlah dengan do'a nan selalu ter'ucap
Semua itu akan saling menguatkan rasa
Karena kasih ini kitalah punya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23.05.2018




SUDUT HATI


Hampir selesai perjalanan ini
menahan segala gelora hati, keinginan dan kebingaran
bulan yang penuh berkah dan ampunan
segala rahmat dilimpahkan

Namun
sudut hati ini masih terasa pilu
akan dosa yang menumpuk di kalbu
linang air mata menggenang di sudutnya
jika mendekati titik akhir waktu

Sedih saat nanti kepergian Ramadhan
adakah usia ini masih dipertemukan
sedangkan lumuran dosa selalu ada
menggoda jiwa dalam dada

Ramadhan
tinggal beberapa langkah lagi
meninggalkan rencah dera ini
sedih mulai hadir menyambangi
di relung hamparan rasa yang kini menggayuti

~ Puji Astuti ~
Jogja, 10.06.2018

Kumpulan Puisi Siamir Marulafau - APA YANG KUPIKIRKAN?



Puisi:

Syairmu bagaikan gunung meletus seiring barisnya berserakan dan berkeping di tanah tandus tak terurus,terkutuk

#sm 2305208#





TAK AKAN GELAP
Karya : Siamir Marulafau


Dari yang gelap ke dunia terang
Mengukir kecerdasan sampai ke akhirat
Merangkul generasi tak berpaling ke lembah nista
Melibatkan jasad dan napas ke arah yang benar

Meskipun jalan berliku dan berlembah
Hanya guruku berfatwah mengubah citra
Kehidupan tak akan sesat
Apa pun warna menikam pemikiran ke masa depan

Guru berperan: Guruku tersanjung di malam gelap
Membidik sinar menerang
Sampai dunia kupijak tak berlumpur sampai ujung dunia
Dan apa jadinya?

Bagaikan sekuntum bunga mentari bersinar di pagi hari
Jalan setapak akan meluas sampai ke negeri seberang
Hakikat mengukir keindahan membahana sampai akhir hayat
Di kala bumi terpijak tersenyum membelai organ otak manusia

Meskipun mulut guruku berbuih sebanyak buih di lautan
Tak akan berserak dalam jangkauan pemikiran
Berlayarlah sampai ke negeri China
Fatwah para ilmuan dari masa kemasa

sm/29/05/2018





HARAPAN
Karya : Siamir Marulafau

Tak akan ada jalan terbentang
Jika hati tak terukir di hamparan lautan menggema
Hanya titipan buih di penantian kucetuskan
Sepanjang napas tak menerawang

Apa kuharapkan?
Jalan kulalui menghias pohon-pohon melapuk tidak dalam impian
Sepanjang bumi kupijak tak retak
Berguling pun akan utuh dalam harapan

Apa kuharapkan?
Tak akan menghias sinar sampai menerang
Jika napas berkira di temaram malam kelam
Merangkul keajaiban hidup menyisir pantai
sambil menyelam

Ikan - ikan pun tersenyum bertasbih
Merangkul kemenangan tak terhingga
Bila dunia tak terhempas dalam impian
Sepanjang harapan tak tenggelam di dasar laut tak berkarang

sm/29/05/2018





APA YANG KUPIKIRKAN?
Karya : Siamir Marulafau


Sepertinya sekuntum kembang mengering
Jika air tak tersiram dari masa kemasa
Tak melekat pada karang kulalui
Meskipun kuberteriak sampai ujung dunia
Hanya kritik menghantui bersila lidah

Apa kupikirkan?
Apakah kubiarkan merapuh di tanah gersang
Dengan rayap di setiap batang
Jika ilmu sirna tanpa catatan

Mustahil serpihan keilmuan tak menjalar di lorong-lorong bukit tak menjulang ke langit cerah
Aromanya akan meluas
Meskipun sampai ke negeri China

Apa yang kupikirkan?
Mustahil kegunaannya akan terbuang begitu saja
Jika tertanam dalam jasad
Apa pun seharusnya tegak bagai pohon beringin dengan daun merimbun

Sampai rerumputan tak mengering
Meskipun curah hujan tak deras
Manfaatnya tak akan dipertanyakan
Jika sesuatunya terpikirkan dan apakah tak berpikir?

sm/30/05/2018





FLYING ONCE IN LIVES
siamir marulafau


I don't let you fly freely as long as strong wind be there to blow since your wing looks like cloud to cover my suffering.

I don't let you fly freely in the sky as long as the thick cloud be there to make you be in trouble to fly down on the earth

I don't let you fly freely above the cloud where as the sun is too hot for you to steer up

Try to cover my crying when you fly in the sky as long as there is no rain to weep

And I really convey my warm greeting as far as you are away from me

That earth will be feeling sad all nights and days since your voice is hardly heard from now and then

Let me hold up your wings for a while before you are flying freely

Not only sadness covers my suffering but your warm expression and impression have been planted in a garden of spring

I dare say so for you have never stopped flying in the blue sky
And no even a single word be left on the earth I burst out of crying

That's a reason why i don't let you fly freely from thy side
I don't think you are as the sun to shine if never i remind for a while

For it a natural piety to acknowledge that you look no like a bird to fly without gazing

It is a hope be reminded,,,,it is a hope be reminded
Should be in remembrance as along as your wings not broken into pieces

If it is so,how disappointed feeling will be there to conceal
That this world is not nice as sugar to live in

Since your flight is in thy heart which never be urged for thousand times in thy lives

sm/29/05/2018,copyright





Puisi dua bait:


Bulan sabit tersenyum di kala langit menerangi hati redup bersemayam di temaram malam syahdu

sm/23/05/2018





Puisi :


Face book berwajah malaikat dalam media sosial jika napasmu mengukir amal mengingat alif lam mim

sm/23/05/2018





Puisi :

jemarimu menggeliat di atas leter huruf tak berembun di pagi hari tak bersinar,membawa maut

sm/23052018





PUISI :


Jangan mengedit sesuatunya membuat sanubari insan terdampar di atas bara api menyala tak dapat dipadamkan

sm/23/05/3018





Puisi:


1/3 malam-Mu kulalui dengan tahjud mengukir surga-Mu sampai organ tubuhku
bersatu dengan asma-Mu

sm/23/05/2018

Kumpulan Puisi Suyatri Yatri - RENUNGAN DI DINDING WAKTU



TRAGEDI ISTANA PUISI


Ternyata diksiku telah berhamburan entah ke mana
Aksaraku berserakan karena katamu tak lagi menyapa rindu
Kuakhiri jejak sajak yang meretas waktu
Larikku meregang nyawa
Mati tak berirama
Hilang tak bernada
Budaya tergerus diamuk badai
Bias memudar berpagar samar
Kapan pelita memancarkan cahaya di hati suci?

Sementara tongkat membawa rebah
Tiada kukuh tiang menyanggah dinding
Hingga istana runtuh berkeping-keping
Di mana salah besi tak senyawa dengan pondasi?
Tanya tergantung tanpa titik
Koma pun mengambang tanpa jeda
Seru pun tak lagi bersuara merdu
Kemana syair mendengungkan batin
Sementara raga tak merapal jiwa
Dari nurani yang berbisik benar di antara dusta yang berdiri salah

Lemparkan bola api
Terbakar hanguskan segala janji
Bersaksi tanpa bukti
Beralibi di ladang pengakuan
Logika tak lagi mengental di cawan madu

"Inilah nyanyian tragedi istana puisiku"

Berwajah seribu
Bertangan sejuta
Belati bermata dua

Rokan Hulu, 30 Mei 2018
Hakcipta © 2018 Suyatri Yatri
Semua hak terpelihara





#Patidusa_4321
JANJI HATI


Berbisik bayu menyentuh kalbu
Rayuan jangkrik bersenandung
Meluahkan rindu
Merdu

Kasih
Menapak jejak
Menyibak tirai rasa
Genggaman hadirkan gita cinta

Kukalungkan sayang di hatimu
Tanda kerulusan diriku
Menyulam makna
Kebahagiaan

Setia
Mengikat suci
Sebuah janji pasti
Menjaga kebersamaan hati selamanya

Rokan Hulu, 24 Mei 2018
Hakcipta © 2018 Suyatri Yatri
Semua hak terpelihara





BIARKAN UJIAN MEMBALUT PERJUANGANMU


Semoga lulus ujian kali ini, Nak.
Biarkan kicau murai berceloteh
Senyummu menyauk sejuk di permukaan telaga
Dakilah tebing dan jurang menuju puncak kebaikan
Jangan takut tubuhmu tergores luka kerikil tajam
Sebab perjuanganmu membawa kebaikan

Kalungkan selendang ilmu di lehermu yang jenjang
Balutlah ragamu dengan pakaian akhlak yang menawan
Pahami setiap lurah yang kau turuni
Pelajari setiap lereng yang kau lewati
Di sana, akan kau jumpai kisi hidup dari kemampuanmu membaca kehidupan.

Lihatlah lautan yang akan kau seberangi, mencicipi setiap tetes asinnya air
Takkan kering puluhan kali kau timba
Itulah wajah sebenarnya dari kejujuran etikamu
Kerudungmu adalah marwah antik yang harus kau pertahankan dengan baik
Jangan jalangkan lakumu di antara nafsu yang menjerumuskanmu dalam kefanaan dunia

Tangan lembut Allah memberi kekuatan padamu
Untuk terus menuntun ke jalan menuju cahaya-Nya
Tak perlu gamang bersanding derita
Sebab nanti kau nikmati butiran peluh yang telah kau tumpahkan dari kegigihanmu
Air matamu akan menjadi butiran keindahan dari kebahagiaan yang akan kau petik
Berbekal keberanian dan kemandirianmu Bintang kejora dalam payung keimanan hadir dalam genggamanmu

Rokan Hulu, 24 Mei 2018





RENUNGAN DI DINDING WAKTU


Telah kuputuskan tak mendekati bara
Agar sulut tak menyala
Biarkan padam jelaga
Dari cucuran perenungan jiwa
Dihujani sejuknya tirta

Telah aku akhiri secawan penawar
Agar tak tercabar
Namun api terus berkobar
Tak bisa dihentikan walau bijak berkoar
Emosi tak jua tersamar
Meredam dendam yang membesar
Diam tanpa sebab jiwa pun terbakar

Kutinggalkan keluh
yang tak jua meluruh
Kutatap iba dari sesal sungguh
tiada terhentikan juga amarah walau terpasang seribu suluh
Terus bertopang ego berbalut angkuh
Tercipta labirin menjadi gaduh
Sungguh miris jiwa depresi terpasung dalam bumbungan buluh

Dalam badai aku berlutut kalah
Tak ingin rumah layaknya istana permata yang megah
Namun kebersamaan yang tiada menyalah
Kini limbung nurani menyerah
Kukembalikan makna dari rasa lelah
Kuletakkan kembali pada dinding waktu yang pasrah
Tiada dayaku lagi berhadang diri dengan ucapkan terserah

Jalan tercipta dari apa yang terniatkan di jiwa
Ikhlas tertanam pada laku atau hanya sekadar kata tanpa telaah makna
Introspeksi diri menuju bijak dewasa

Rokan Hulu, 23 Mei 2018
Hakcipta © 2018 Suyatri Yatri
Semua hak terpelihara





ZIARAH RINDU


Aku puisikan setiap tetes airmata dari diksi yang berserakan
Menjadi renungan malam memadat kerinduan
Larik makna tercampakkan
Dari sebuah rasa yang sedang berpusara dalam keteduhan
Ikrar dari sejarah memintal peradaban
Terkadang tumbang oleh belati keserakahan
Hadirkan luka dalam berkabung tangisan
Sejumput ego memecahkan persaudaraan
Sementara kesenian pita penghubung dari kelembutan masih meratap di persimpangan

Jiwa yang tandus kian terpenggal
Menziarahi waktu yang tertinggal
Janganlah angkuh menjadi angkara hingga napas tersengal
Saat mantra terpajang bibir tipis mulai merapal
Makna yang tertuang pun gagal
Terselip racun mematikan yang mangkal
Debat tak lagi berujung pangkal
Harga diri hilang terjungkal

Suara langit menggelegar
Bercahaya kerlip lampu suar
Jangan memilin benar hingga hati pun gusar
Terhapus wajah di balik bayangan samar
Terhunus pedang estetika yang tegar
Tanpa bujukan dan hasutan bertengger
Nurani mati pada raga yang menggelepar
Tersesat kelam dari retorika yang gundah terkapar
Pada Ilahi kurengkuh sabar
Di bilik rindu kusenandungkan syair bertajuk syiar

Rokanhulu, 23 Mei 2018
Hakcipta © 2018 Suyatri Yatri
Semua hak terpelihara

Kumpulan Puisi Iis Yuhartini - MENGHITUNG SEPI



POTRET ANAK NEGERI


Menatap nanar
melihat anak negeri
di daerah tersisih.

Bertaruh nyawa
agar berguna
di masa nanti.

Adakah kesempatan
nikmati pembangunan
di tanah indah merdeka.

Mereka matahari
akan terangi ibu pertiwi
memancar sinar ke penjuru bumi.

020618





KETIKA KAU PERGI

Kini baru kurasa
pergimu sisakan luka
menggores relung sukma.

Di pelukmu resahku sirna
tatapmu hangatkan jiwa
doamu kuatkan langkah.

Bunda... ketika kau pergi
jiwaku tak bernyawa
hampa tak bermakna.

010618





HITAM PUTIH


Membelah malam
melihat roda kehidupan
seperti hitam dan putih.

Bagai berada di dua dunia
antara miskin dan kaya
antara gelap dan gemerlap.

Kehidupan metropolitan
jelmakan jiwa egosentris
jurang semakin dalam.

270518





MENGHITUNG SEPI

Kala rindu membuncah
netra kian membasah
betapa ingin di pelukmu
seperti masa kecil dulu.

Kala rindu membuncah
haruskah kucari bayangmu
yang dulu tinggalkan aku
menghitung sepi sendiri.

Sakit masih kurasa
bagai teriris sembilu
namun aku harus pasrah.
nikmati suratan dari Nya.

Di bulan penuh berkah
kucoba rangkaikan doa
semoga sehat dan bahagia
untuk ayah tercinta.

250518




KUTULIS RINDU


Kutulis rindu di gugusan mega
ketika pagi tadi kau menyapa
imajiku berada di dekatmu.

Rindu ini makin menjerat
penuhi semua kisi kisi kalbu
aku tak tahu cara menjauh.

Kutulis rindu di gugusan mega
ketika pagi tadi ada senyummu
melintas di netraku.

Kuingin kau tetap di sini
bermain di benakku yang biru
tak berbatas waktu.

110618




SELAMAT TINGGAL RAMADAN


Seperti ada yang hilang
ketika kau beranjak pergi
baru saja kurasakan nikmat
meniti hari bersamamu.

Selamat tinggal ramadan
peluk aku sekali lagi
rengkuh aku dalam kasih Ilahi
bersihkan titik hitam di kisi hati.

Selamat tinggal ramadan
mungkinkah jumpa lagi
di tahun tahun mendatang
aku rindu dalam pelukmu.

Selamat tinggal ramadan
gema takbir akan bersautan
menyambut hari kemenangan
mengalahkan keakuan.

130618





SELAMAT TINGGAL RAMADAN

Seperti ada yang hilang
ketika kau beranjak pergi
baru saja kurasakan nikmat
meniti hari bersamamu.

Selamat tinggal ramadan
peluk aku sekali lagi
rengkuh aku dalam kasih Ilahi
bersihkan titik hitam di kisi hati.

Selamat tinggal ramadan
mungkinkah jumpa lagi
di tahun tahun mendatang
aku rindu dalam pelukmu.

Selamat tinggal ramadan
gema takbir akan bersautan
menyambut hari kemenangan
mengalahkan keakuan.

130618

Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - KERINDUAN TAK BERTUAN



# TERIMA KASIH ADINDA #


Di impian ku yang tak sempurna,
Kukabarkan juga indahnya arti cinta,
Dari hidup ku yang inginkan kau bahagia,
Juga melihat mu senantiasa gembira,
Dan berharap kau dapat bermanja,
Untuk hilangkan lelahku yang begitu menyiksa.

Terima kasih adinda,
Kau terima rezeki ku apa adanya,
Kau beri candamu yang begitu mempesona,
Yang menawan jiw raga ku sehingga tergoda,
Walau kau hidup di rumah yang baratapkan rumbia,
Kau tak pernah meminta apa yang mereka punya.

Rasa ingin menangis memandang mu,
Tapi ku takut kau bersedih karena ku,
Bukan karena aku benci kepada mu,
Aku hanya merasa sangat malu,
Yang tak dapat memberikan pinta mu yang dahulu,
Pintamu di saat dahulu aku merayumu.

By : LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 04:06:2018





# NYANYIAN PENGANGGUR #


Hidup penuh tantangan,
Hidup tinggalkan keresahan,
Tertawa bersama rembulan,
Menangis dalam penyesalan,
Di saat pagi memberi harapan,
Berhayal memeluk angan angan.

Banyak yang sudah di lakukan,
Semua menjadi sia sia,
Hanya terdengar cemoohan,
Dari kata kata bijak mereka,
Yang hidup di dalam kemewahan,
Yang rakus akan kekuasaan.

Kian simpang siur,
Nyanyian penganggur,
Yang melangkah di tanah subur,
Berharap hidup nya menjadi makmur,
Sedangkan impian kian hancur lebur,
Bersama tarian di depan pintu kubur.

By : LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 03:06:2018





# HASUTAN PENDUSTA #


Hingar bingar,
Yang datang menyambar,
Bagaikan halilintar,
Ceritakan yang tak benar,
Ajak untuk bertengkar,
Inginkan NKRI ini berpencar.

Bagai lelucon saja,
Badut badut bersandiwara,
Layaknya seperti arjuna,
Bak mulia bagaikan dewa,
Diatas duka manusia iya tertawa,
Srigala srigala berbulu domba.

Aku tak dapat memahami,
Di sana sini saling mencaci,
Penuh benci dan iri hati,
Korbankan putra putri pertiwi,
Hanya karena sebuah ambisi,
Untuk menjadi penguasa di negri ini.

By : LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 01:06:2018





# KERINDUAN TAK BERTUAN #


Bagai bayu berhembus perlahan,
Aku hanya bisa merasakan,
Ibarat aroma bunga di taman,
Aku hanya dapat mengendus wewangian,
Umpama irama gemersik dedaunan,
Merdu bersama nada yang tak berketentuan.

Jauh ke tengah lautan,
Terapung tak bertujuan,
Tinggi di puncak pegunungan,
Menjulang tinggi tiada impian,
Terpendam di dasar bumi tersimpan,
Tertanam hancur tak beralasan.

Begitulah cinta yang ku puja,
Begitulah rindu yang ku damba,
Jauh tertinggal belaian manja,
Kasih sayang hampa tiada bermakna,
Hilang sudah impian bahagia,
Menyisakan kenangan yang hampir sirna.

By : LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 25:05:2018





# AKU HERAN #


Aku heran,
Kesalahan kecil di tuntaskan,
Kesalahan besar di pertimbangkan,
Yang benar di persoalkan,
Yang salah penuh kemaafan,
Kenapa semua menjadi pembodohan,
Dalam menjalani panggung kehidupan.

Aku heran,
Memfitnah katanya atas nama tuhan,
Membunuh katanya atas nama tuhan,
Mengadu domba katanya atas nama tuhan,
Mencaci maki katanya atas nama tuhan,
Agama apa sebenarnya yang pantas jadi panutan,
Hingga tuhan tak lagi salah dan di permasalahkan.

Ah ,,, lebih baik ku diam saja,
Anggap saja semua sandiwara,
Seperti sinetron di layar kaca,
Seperti dongen kancil dan buaya,
Yang akan menjadi sebuah cerita nyata,
Tentang kebodohan bapaknya yang hidup di INDONESIA.

By : LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 23:05:2018

Kumpulan Puisi Riri Angreini - TERHENING



SUA DI UJUNG SESAL
: Minang Maimbau (Riri Angreini)


Rindu yang pulang dalam keadaan luka
Remuk redam menghujam hulu dada
Tangis bukan lagi perkara air mata yang tumpah
Ini tentang darah anyir lindap di pusara

Meratapi, menyesali penuh iba
Rasa patah di ujung sua
Nadi tak lagi dialiri merahnya darah
Napas tak lagi di hela penuh makna

Sendiri; menatap nisan
Menyapu segala remah penyesalan
Hadirku terlambat sudah
Kala ragamu berpayungkan puding pancawarna

RA_040618.
#DarahMinang





SI CANTIK BERHATI SURGA
: Riri Angreini


Tuhan sangat menyayangi dirimu
Hingga dunia berduka atas kepulanganmu

Kukabari juga kepergianmu
Pada bidadari kecilku

Bahwa di belahan bumi sana
Ada perempuan cantik berhati surga

RA_040618.
#DarahMinang





LELAKI KOTA HUJAN
: Riri Angreini


Hei ...
Apa kabar lelaki kota hujan
Masihkah rindu merentang kenangan
Pada setiap jejak yang kau singgahi

Di sini;
Pada gerbang Juni
Aku menunggu kepulanganmu
Bersama penawar rasa yang entah

Hmm ...
Pada setiap genangan sisa hujan
Di sana kutemui rautmu yang tampan
Penuh kharisma berjuta kedamaian

RA_010618.
#DarahMinang.





CEMBURU
: Riri Angreini


Kala luka memahat hati
Ia ciptakan lukisan perih
Sketsa yang sudah dirancang kian rupa
Oleh ahli yang tak diragukan lagi

Meringis batin menahan rasa sakit
Pilu dan ngilu mengiris setiap persendian keyakinan
Ia rontokan satu persatu
Perlahan namun pasti
Seumpama rayap dalam lipatan buku

RA_300518.
#DarahMinang.





DARA(H)MU
: Riri Angreini


Engkau tau?
Dia yang dulu kau tinggal pergi
Dalam luka dan air mata
Kini telah menjelma merpati putih

Jangan kau tanya
Seberapa jelitanya ia sekarang
Kurasa kau tak akan percaya
Bila hanya kubahasakan saja

Pulanglah....
Jelang ia meski sesaat saja
Baru kau tau
Betapa pesonamu; ada padanya

RA_290518.
#DarahMinang.





CINTA TAK PULANG PULANG
: Riri Angreini

senja itu
meski langit bertaburan sinar jingga
namun dimata bening itu menyiratkan
duka yang dalam

cahaya itu begitu jelas
melukiskan tentang kerinduan yang paling ibu

semenjak tahun ke tiga kelahirannya
hingga gelar sarjana disematkan
sejajar namanya
selama itu
ia menyelami samudra kerinduan
padamu; sunyi

terkadang dalam tidurnya yang paling senyap
kudengar detak nadinya
bertasbih memanggil namamu dalam rasa
paling syahdu; aku ingin bertemu
pulanglah....
ibu?

RA_290518.
#DarahMinang.





INSAFLAH
: Riri Angreini

Tuan
Membahasakan segala rasa sakit ke padamu
Kurasa sudah percuma
Tersebab nalurimu
Tiada kasih lagi

Segala yang ada di sekitar
Kau perlakukan secara tak manusiawi
Kesombongan
Telah membutakan
Mata batin

Sadarlah
Sudah terlalu jauh
Keangkuhan
Memperbudak
Akal sehatmu

Tuan
Masih ada langit di atas langit
...

RA_280518.
#DarahMinang.





TANGISMU AKU
( Rindu )
: Riri Angreini


Sunyi;
Ia dirimu
Selalu menepi
Dari semaraknya gelanggang

Katamu;
Dalam sendiri
Selalu ada aku
Menjelma butiran embun
Pada kelopak netramu

RA_260518.
#DarahMinang





TERHENING
: Riri Angreini


Tatkala diksi tak mampu kuronce jadi bait puisi
Tersebab kekata telah habis kuurai buat sajak hidupku
Kala tinta tak mampu menuliskan segala kisah
Mulut pun diam seribu bahasa
Maka dengan lantang dan deras
Air mata akan tetap bersaksi
Membela maruah mereka
Dari apa pun jua
Ialah ayat-ayat-Nya
Dalam sajak terhening

RA_250518.
#DarahMinang.





KAU TERBAIKKU
: Riri Angreini


Kau;
Masih saja ingin kutahu kabarmu
Meski berkali-kali hujan Mei menghapus jejak tentangmu
Namun setiap genangan yang tersisa di jalan ingatan
Selalu mengenang rautmu dan teduhnya tatapmu kala itu

Senyum itu
Masih saja menyemangati
Setiap lorong waktu yang kulalui

Bayangmu
Mengikuti langkahku
Dalam perjalanan terindah
Hingga kini

RA_250518.
#DarahMinang.




BVN
: Riri Angreini


Perjalanan hidup
Banyak berkisah tentang luka yang mendera setiap persendian nadi
Tetapi dia tak berhenti sampai di situ saja
Ada semangat yang menjingga
Menghiasi langitnya yang kian senja

Senyumnya begitu tulus
Ucapannya tegas penuh nasihat
Gerik laku cerminan diri yang santun
Bahagia ...
Aku bisa berjabat tangan
Erat
Dalam silaturahmi
Dan kekeluargaan
Maha sahaja

RA_130618.




BVN
: Riri Angreini


Perjalanan hidup
Banyak berkisah tentang luka yang mendera setiap persendian nadi
Tetapi dia tak berhenti sampai di situ saja
Ada semangat yang menjingga
Menghiasi langitnya yang kian senja

Senyumnya begitu tulus
Ucapannya tegas penuh nasihat
Gerik laku cerminan diri yang santun
Bahagia ...
Aku bisa berjabat tangan
Erat
Dalam silaturahmi
Dan kekeluargaan
Maha sahaja

RA_130618.