RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Jumat, 08 Juli 2022

Kajian Sastra Syamsul Rizal (Tok Laut) - PUISI

 


PUISI

Puisi adalah alat pengungkapan pikiran, perasaan dan sebagai alat ekspresi. Karya sastra merupakan bentuk komunikasi yang tidak terlepas dari empat pendekatan yakni

1. Pendekatan objektif (objective criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada karya sastra,
2. Pendekatan ekspresif (expressive criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada penulis,
3. 3.Pendekatan mimetik (mimetic criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan terhadap semesta/alam,
4. Pendekatan pragmatik (pragmatic criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada pembaca.

Pendekatan ekspresif telah dikembangkan menjadi psikologi sastra dan antropologi sastra. Oleh karena itu, secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, puisi ini adalah poetry yang erat dengan -poet dan -poem. Mengenai kata poet yang berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang mampu memasuki alam metafisis menuju alam makrifah. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Definisi puisi yang dikemukakan para penyair romantik Inggris sebagai berikut;
• Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.

• Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.

• Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

• Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturut-turut secara teratur).

• Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah, bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

UNSUR – UNSUR PUISI

Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut:

• Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.

• Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.

• Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.

• Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.

• Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik. Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut:

• Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

• Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

• Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca.

• Amanat/tujuan/maksud (itention), sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

STRUKTUR FISIK PUISI

Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.

• Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

• Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

• Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

• Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang.

• Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

• Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum.
Secara etimologi kata Psikologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno Psyche dan Logos. Kata psyche berarti “jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ilmu”. Jadi, psikologi secara harfiah berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa

Psikologi Sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan, sebagaimana Sosiologi Refleksi, Psikologi Sastra pun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan.

Pada dasarnya, psikologi sastra akan ditopang oleh 3 pendekatan sekaligus. Pertama, pendekatan tekstual, yang mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Kedua, pendekatan reseptif-pragmatik, yang mengkaji aspek psikologis pembaca sebagai penikmat karya sastra yang terbentuk dari pengaruh karya yang dibacanya, serta proses resepsi pembaca dalam menikmati karya sastra. Ketiga, pendekatan ekspresif, yang mengkaji aspek psikologis sang penulis ketika melakukan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupun wakil masyarakatnya

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan dalam kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya pada ekspresi perasaan atau tempramen penulis (Abrams, 1981: 189). Informasi tentang penulis memiliki peranan yang sangat penting dalam kajian dan apresiasi sastra. Penilaian terhadap karya seni ditekankan pada keaslian dan kebaruan (Teew, 1984: 163-165).

Pendekatan ini dititik beratkan pada eksistensi pengarang sebagai pencipta karya seni. Sejauh manakah keberhasilan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya. Karena itu, tinjauan ekspresif lebih bersifat spesifik. Dasar telaahnya adalah keberhasilan pengarang mengemukakan ide-idenya yang tinggi, ekspresi emosinya yang meluap, dan bagaimana dia mengkomposisi semuanya menjadi satu karya yang bernilai tinggi. Komposisi dan ketepatan peramuan unsur-unsur ekspresif di sini akhirnya menjadi satu unsur sentral dalam penilaian. Karya sastra yang didasari oleh kekayaan penjelmaan jiwa yang kompleks tentunya mempunyai tingkat kerumitan komposisi yang lebih tinggi dibanding dengan karya sastra yang kering dengan dasar jelmaan jiwa.

Psikologi sastra adalah suatu kajian yang bersifat tekstual terhadap aspek psikologis sang tokoh dalam karya sastra. Sebagaimana wawasan yang telah lama menjadi pegangan umum dalam dunia sastra, psikologi sastra juga memandang bahwa sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang menggunakan media bahasa, yang diabdikan untuk kepentingan estetis. Karya sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan seorang pengarang, yang berarti di dalamnya ternuansakan suasana kejiwaan sang pengarang, baik suasana pikir maupun suasana rasa/emosi Roekhan (dalam Aminuddin, 1990:88-91).

Psikologi sastra merupakan gabungan dari teori psikologi dengan teori sastra. Sastra sebagai “gejala kejiwaan” di dalamnya terkandung fenomena-fenomena kejiwaan yang nampak lewat perilaku tokoh-tokohnya, sehingga karya teks sastra dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologi. Antara sastra dengan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional, demikian menurut Darmanto Yatman (Aminuddin, 1990:93). Pengarang dan psikolog kebetulan memiliki tempat berangkat yang sama, yakni kejiwaan manusia. Keduanya mampu menangkap kejiwaan manusia secara mendalam. Perbedaannya, jika pengarang mengungkapkan temuannya dalam bentuk karya sastra, sedangkan psikolog sesuai keahliannya mengemukakan dalam bentuk formula teori-teori psikologi.

Oleh : Syamsul Rizal (Tok Laut)
Tanjungbalai,Sumatera Utara
Kamis, 11 Juli 2013

SYAMSUL RIZAL
(TOK LAUT)


Senin, 04 Juli 2022

“KIDUNG HATI AMRETA” MERAWATI MAY (Buku Puisi Sejarah Cinta Yang Panjang) Oleh : Handrawan Nadesul


   
Sahabat lawas saya Mas Irawan Massie, pernah agak ragu dulu melabel serumpunan puisi saya sebagai puisi romantik, sehubungan kompilasi puisi-puisi saya bernuansa cinta. Puisi beraroma romantik (romantic poem).

Saya mengingat-ingat kembali, membongkar khazanah puisi dunia, saya menemukan puluhan penyair dunia menulis puisi romantik. Saya tidak sendiri, dan tidak perlu bimbang apa masih layak tetap melanjutkan menulis puisi romantik. Tema romantik selalu hadir pada lintas usia.

Dimulai dengan karya-karya William Shakespeare, Pablo Neruda dengan sekitar 30 puisi cinta romantiknya, Maya Angelou, John Clare, Kahlil Gibran, Elizabeth Barret Browning, Christopher Marlowe, Oscar Wilde, Edmund Spencer, Omar Khayam, William Blake, Edgar Allan Poe, Emily Dickinson, Percy Bysshe Shelley, sampai Tu Fu, dan semua penyair dunia ini menuangkan puisi romantik dengan segala versinya, sampai pada usia sepuhnya.

Demikian pula adanya sekumpulan puisi Merawati May, yang sudah tidak remaja lagi, menuliskannya dalam buku puisi bertajuk Kidung Hati Amreta yang saya terima kemarin, lebih sebagai ungkapan sejarah cinta.

Cinta yang katakanlah multifungsi. Cinta dalam angan-angan, dalam imajinasi, dalam fantasi, cinta yang nyata, cinta yang kuyup, cinta yang meratap. Dan inilah dunia cinta May, yang terasakan miris dan getir. Melintas pula di sana cinta yang hampa, yang merajuk, yang menangguk harapan. Melimpah ruah tentang cinta. Sosok sejarah cinta seseorang.

Dalam buku puisi berkurun 4 tahunan, satu puisi tahun 2017, beberapa puisi bertitimangsa 2018, selebihnya dari 96 puisi ditulis 2021. Buku yang dipersiapkan sebagai hadiah ulang tahun perkawinan ke-21, bukan gadis ting-ting lagi.

Saya belum mengenal May sebagai individu maupun karya puisinya. Yang saya tahu banyak puisi ditampilkan di akun FB-nya. May penyair jebolan media sosial, alumni FB khususnya. Apa yang saya bisa tangkap pada buku puisi May setebal 132 halaman ini?

May menyanyikan cinta. Sudah disebut, kalau itu semua ungkapan tentang cinta. Menghayati puisi yang dijadikan judul bukunya, Kidung Hati Amreta, boleh jadi ini suara cinta yang getir, cinta yang tersedu, dan terasa perih.

May minta kita mendengarkannya ia sedang bernyanyi. Bisa jadi ada jeritan kecil di sana. Ada yang mengiris, ada permohonan selayaknya hati seorang wanita, yang peka terhadap sekitar, terhadap perasaannya sendiri, entah kepada siapa, entah untuk apa, tak selalu jelas itu semua ke mana dialamatkan.

Mengamati semua puisi May dalam buku ini, seakan tiada hari tanpa puisi. Tiada hari tanpa ungkapan cinta. Sekadar ingin memberi catatan saja untuk May, bahwa dia begitu produktif. Dalam satu hari pada 10 Agustus saja bisa 4 puisi dilahirkan.

Tidak banyak, kalau bukan langka, penyair yang sanggup melakukannya.

Menulis puisi sebanyak itu, saya menduga, berisiko terjebak menghadirkan puisi yang terlalu encer, dan kelewat longgar, mengingat idealnya puisi dilahirkan eloknya menempuh pengendapan. Bahkan belum tentu semua puisi setelah diendapkan waktu, masih dirasa laik untuk dihadirkan. Perlu butuh waktu untuk kembali ditilik. Mas Sapardi Djoko Damono melakukan itu, seingat saya.

Puisi ditulis memetik dahan membuang ranting. Bila tidak demikian, boleh jadi membawa penyair terantuk jebakan lain, saking kelewat rajin puisi ditulis. Jauh berbeda dengan prosa, sekali lagi, puisi perlu diendapkan, perlu disublimasi, dikristalisasi, kalau menginginkan puisi menyentuh pembacanya.

Dalam kodrat bersastra, ada beda antara produktif dengan kreatif, saya kira. Sebagai upaya exercises, tak salah menulis puisi lebih sering, lebih rajin. Tapi, hemat kita, tidak semua puisi hasil kerajinan berlatih, harus dipaksakan hadir. Menulis puisi tidak seinstant menulis buku harian.

Saya mengamati, secara teknis, dan berungkap, May sudah menguasai. Namun ihwal mengisinya, memilah kontennya, tidak semua selaiknya diangkat. Tidak serta-merta apa saja yang remeh temeh, laik jadi konten puisi, saya kira. Perlu rasa-pikir yang besar, yang dituangkan pada sudut yang kecil, supaya menukik, bukan menyebar sebagaimana prosa. Puisi tidak secerewet prosa.

Menulis puisi, bukan pula harus terjebak sekadar memadatkan kalimat dan memenggal-menggalkannya, melainkan memadatkan rasa-pikir yang hendak dituangkan. Perlu rasa-pikir yang lebih besar, lebih punya nilai, dibandingkan hanya untuk menulis prosa. Digigit kutu busuk, umpamanya, bisa jadi bahan prosa yang bagus, namun tidak laik untuk bahan puisi, saya kira.

Menuangkan semua apa saja yang ada dalam rasa-pikir dalam berpuisi, berisiko terjebak menuliskan hanya lirik. Prosa lirik sah saja, selama tidak kehilangan metafora. Kita tahu beberapa syarat diminta untuk mengindahkan puisi, yang membuatnya menjadi selalu elok menyentuh.

Bukan menuangkan samuderanya, melainkan ombaknya. Bukan menuangkan anginnya, melainkan rasa sejuknya. Bukan langitnya, melainkan birunya. Bukan rembulannya, melainkan nuansa purnamanya. Bukan cintanya melainkan rasa di baliknya. Begitu yang puisi minta, saya kira. May banyak menulis peristiwa, apa adanya, pemotret yang tekun.

Saya salut May begitu gigih, dan menyimpan potensi menulis puisi. Modal kepenyairannya sudah ia miliki, tinggal lebih menukik dalam menuliskan dan menuangkannya. Lebih cermat memilah oleh karena bukan apa saja rasa-pikir laik dijadikan puisi.

Puisi bukan saja butuh padat nilai, nilai yang besar, menjadi tidak indah kalau terlalu polos menuangkannya. Tanpa kekuatan metafora, pilihan kata, dan kepekaan rasa bahasa, puisi menjadi sangat telanjang, atau bukan puisi namanya.

Puisi bukan kalimat panjang yang secara struktur dikerat-kerat sehingga menyerupai sosok puisi. Ini jebakan yang berisiko menimpa penyair bila apa saja dalam rasa dan pikir dituangkan semuanya. Puisi juga harus terhindar dari maksud mendefinisikan. Puisi bukan definisi apapun.

Selamat buat May. Saya membaca, bagi May puisi sepertinya segalanya buat hidupnya. Penyair yang melanglang dan singgah ke mana saja kegiatan bersastra negeri hadir. Dalam tempo sangat singkat, May berkibar, dan May layak menjadi contoh bagaimana di tengah semarak di mana-mana ada saja yang tergerak menulis puisi, penyairnya hadir.

Salam puisi,
Handrawan Nadesul
“KIDUNG HATI AMRETA” MERAWATI MAY
Buku Puisi Sejarah Cinta Yang Panjang

HANDRAWAN
NADESUL










Ass wr wb,

Dear May,
Selamat sore. Saya kirim sekedar komentar atas bukumu KIDUNG HATI AMRETA. Semoga berkenan.

KIDUNG HATI AMRETA adalah judul buku kumpulan puisi yang ditulis Merawati May penyair dari Bengkulu.

Sesuai judulnya buku ini sebagian besar berisikan puisi-puisi yang bernada cinta. Tidak ada yang salah. Tema cinta memang sangat disukai para penyair, khususnya penyair pemula. Sebagai penyair yang produktif, May juga mencurahkan perasaannya pada puisi-puisi yang ditulisnya. Selain itu ada puisi tentang perjalanan dan anak desa yang juga merupakan tema-tema tipikal seorang penyair. Kalau saja untaian kata yang ditulis May lebih diresapi dan ditunggu beberapa waktu sebelum disampaikan puisi-puisi yang ada di buku ini akan sangat menarik. Sayangnya May kurang sabar untuk mengendapkan tulisannya sebelum disajikan. Tetapi bukan masalah utama. Perjalanan waktu dan pengalaman akan mendewasakan puisi-puisi yang mungkin akan segera hadir. Kekaguman akan tempat atau kota yang baru sekali dikunjungi juga dilukiskan lewat kata-kata indah oleh May. Akan lebih indah kalau May mempunyai waktu untuk meresapkan sebentar kekaguman tersebut sebelum dilontarkan sebagai puisi. Menulislah terus May. Dengan ketekunan menulis dan mengamati tulisan-tulisan yang telah disampaikan, karya-karyamu yang akan datang akan terasa lebih dewasa.

Prijono Tjiptoherijanto
Penyair dan Guru Besar Ilmu Ekonomi UI

Salam puisi,
Prijono T
FEB-UI
PRIJONO T


Kamis, 23 Juni 2022

Cerpen - SEPENGGAL TANYA DALAM KECEWA Penulis : Riri Eka Putri


 

   Pagi itu saat gerimis mulai membasahi jalan. Jarum jam menunjukan pukul 0.8 pagi. Dengan malas kulangkahkan kaki kekamar mandi. Ada rasa malas menyeruak di hati. Tapi hari ini aku harus hadir karena tuntutan pekerjaan dikantor. Cuaca semakin dingin gerimis berubah menjadi rintik hujan membuatku semakin malas untuk beranjak dari duduk ku.

Tiba - tiba telefon itu bordering.
“Assalamu'alaikum Pe”, begitu suara terdengar dari seberang sana.

Kemudian telefon di tutup. Dalam bingung hati bertanya....ada apa ya???

Satu jam kemudian SMS bordering. Ah.....ada apa ini?? Pertanyaan dan tuduhan bertubi menyerangku. Rintik hujan semakin deras. Sederas airmata yg mengalir di pipi. Aku semakin bingung dengan semua tuduhan yang tak beralasan.

“Pe.....”, tiba - tiba sebuah sentuhan mengusap pipi.

“Pe ada apa? Kenapa matamu sembab?”

Pe semakin terisak saat pelukan hangat itu mendekapnya. Pe melihatkan SMS itu pada orang terkasihnya. Ada kecewa saat itu ketika kepercayaan di sia siakan ketika tuduhan seperti terdakwa. Entah apa yang terukir dipikiran mereka sehingga begitunya mereka memusuhi Pe tanpa harus bertanya dulu.

Pe bingung, terbesit tanya dalam kecewa. Ujian apa lagi ini? Pe menyadari setiap yang beriman itu pasti di uji. Pe tak pernah menyalahi takdir namun begitulah roda kehidupan.

Hari berlalu waktupun berganti pe berusaha untuk tetap tegar dg semua ini. Dia hanya selalu teringat akan masa masa indahnya dulu ,waktu masih bersama orang tua yang mencintainya. Hidupnya yang selalu bahagia jauh dari kesedihan, namun itulah hidup. Saat orang lain tak bisa menilai. Hanya mendengar dari mulut ke mulut tanpa harus mencari kebenaran.

Pe satu pesanku untuk mu. Bersabarlah karena kebenaran itu akan terungkap. Dan biarkan waktu membuktikan semuanya
Didunia engkau kalah akhirat adalah kehidupan mu. Tetap istiqamah.....Selalulah menjaga ukhuwah.

*****TAMAT*****

Cerpen –
SEPENGGAL TANYA DALAM KECEWA
Penulis : Riri Eka Putri


Cerpen - KENANGAN ITU Penulis : Riri Eka Putri


   
Sisa hujan semalam masih membasahi jalan. Kupercepat langkah ini menuju perantara Rumah Sakit , suara itu masih terngiang di telingaku, ketika kumelewati ruangan operasi.

Ops hampir saja ruang pendaftaran itu terlewati.
“Ada yang bisa dibantu dek?”, sebuah suara mendekatiku dengan tanpa basa basi.

Aku pun mengangguk,”iya bu,"
Aku masih bengong berdiri diruang pendaftaran tiba tiba, kenangan itu kembali mengusiku.
“Ini anak ibu ya?”, dokter itu bertanya sambil menunjuk ke arahku,

“Iya dok, anak perempuan saya satu satunya, karena dia saya bertahan untuk menjalani pengobatan ini. Dokter? berapa lama saya bisa bertahan?”

“Itu semua tergantung semangat ibu ya. Semoga pemeriksaan hari ini berjalan lancar.” Dengan tetap semangat kuyakini itu, dalam hati semua akan baik baik saja.

“Sekolah dimana anak ibu ya?”, tiba tiba dokter itu bertanya lagi,

“Di sekolah kejuruan dok.”

“Di kota ini bu?”, suara itu kembali terdengar lirih.

“Iya dok, ini baru nyampe pagi ini.”

“Ooo semoga ada yang bisa merawat ibu nanti ya.....”

“Dek?”, suara itu kembali membuyarkan lamunanku.

“Eh iya bu”, tanpa kusadari aku telah hanyut bersama masa lalu,sehingga aku sendiri lupa kalau ada urusan ke Rumah sakit ini,

“Ma'af dek untuk hari ini pelayanan Rumah sakit sudah tutup esok saja kembali ke sini lagi ya?”

Dengan masih berharap aku pun beranjak pergi dengan perasaan galau dan aku memutuskan untuk kembali pulang.

*****

   Kenangan itu selalu saja menjadi selimut tidurku. Hari berlalu, waktu berganti, wajah ayu itu selalu dekat di ingatanku. Perempuan tegar yang teramat baik bahkan semua orang mengakui kebaikan beliau. Perempuan yang kupanggil Mama
yang selalu membimbingku dan setia mengajariku madrasah bagi kami. Perempuan yang paling istimewa di mata papa, namun Allah lebih menyayangi beliau.

*****

  Mama...., sejuta cinta telah kau persembahkan ke arena hidupku dulu. Kini telah berbuah tanggung jawab yang membuat hidupku berarti. Lima tahun bukan waktu yang singkat untukmu berjuang melawan kesakitan karena Ca Mamae yg menggerogoti tubuhmu. Mama selalu berjuang demi kami anak - anak mama, namun takdir itu tetap berkata lain. Kini kenangan demi kenangan itu selalu menari di sudut mimpi.

Terimakasih Mama telah menjadi ibu yang terbaik buat kami.

*****TAMAT*****
Cerpen –
KENANGAN ITU
Penulis : Riri Eka Putri
PADANG 3 september 2016


Kamis, 19 Mei 2022

Cerpen - SANG FAKIR Penulis : NengIcha


   Jingga senja menghiasi taman kota. Hamparan mega nyaris memenuhi lempeng cakrawala.

Betapa keindahan nian melenakan jiwa, dan semua atas anugerah kebesaran Sang Pencipta, untuk sebuah kehidupan di alam semesta.

Aku sangat menyukai keindahan alam, tapi kurasa tidak semua orang demikian. Ada pemandangan berbeda di taman kota, aku melihat sesosok gadis tersedu di bangku sudut taman kota. Sebenarnya aku teramat ingin menghampirinya, tapi... Ah sudahlah!! Paling-paling juga diputusin pacarnya. Dan aku berlalu tanpa menghampiri gadis itu.

Telah larut malam, betapa perutku berteriak meminta jatah, sedari siang kurasa aku belum bertemu nasi. Aku memutuskan untuk keluar mencari makanan, niatnya mencari nasi goreng yang ada di samping taman kota. Batapa terkejutnya aku, gadis yang tersedu di bangku sudut taman sejak sore tadi masih juga duduk di sana, bahkan masih memeluk tangisnya. Dan aku memutuskan untuk menghampirinya

"Neng sudah malam Neng, Neng engga pulang?"

Tanpa membalas sepatah kata dia hanya melihatku dengan mata merah seakan menahan bara di dadanya.

"Neng, Neng kenapa? Putus cinta? Sudahlah Neng, cowok di dunia gak cuma satu Neng" aku coba membujuk dia.

"Kamu siapa? Kamu tau apa tentang hidupku?" ungkapnya.

Ternyata dia masih bisa menjawabku, meski dengan nada ketus, dan aku pun menyambung percakapan.

"Soal cinta hanya soal dunia, ingatlah keluarga, yang pasti mencintaimu sepenuh jiwa, Neng mau aku antar pulang?" ungkapku.

"Tidak, aku tak akan pulang, seandainya aku beranjak dari kursi ini, berarti aku akan menghampiri kematianku" jawabnya.

"Astaghfirullahal 'Adzim, Neng sadar Neng, Istighfar!"

Ya Tuhan, betapa kaget aku atas ungkapannya. Mungkin sebaiknya aku ajak dia pulang ke rumahku dulu, sekadar untuk membujuk waktu, agar mau sedikit menghapus tangis gadis itu, setidaknya untuk malam itu.

"Neng, ikut aku pulang yuk! Sebentar lagi ada Satpol PP keliling, seandainya Neng masih di sini, aku yakin Neng akan dibawa" ungkapku.

Sepertinya bualanku mampu membujuknya, dan dia tersedia ikut aku pulang

****

   Betapa pagi yang sangat dingin, mungkin karena mentari belum sematkan senyumnya kala itu.

Iya, mungkin terlalu pagi untuk aku mendamba senyum mentari. Namun betapa cemas aku akan gadis itu, sedari malam rasanya aku susah untuk pejamkan mata. Aku takut terjadi sesuatu karena kenekatan dia yang tak bisa terkontrol, jadi sepagi itu aku memutuskan untuk menghampiri kamarnya.

"Neng, Neng masih tidur?" sembari perlahan aku mengetuk pintu kamarnya.

"Masuklah, pintu gak terkunci" dia pun menyahut.

Perlahan aku buka pintu dan kudapati dia sedang duduk dengan mata merah melebam, aku rasa dia tak tidur semalam.

"Neng gak tidur semalam?"

Aku mencoba untuk bertanya memastikan, namun tak ada pun dia menjawab, dia hanya menggelengkam kepalanya.

"Mungkin sebaiknya Neng mandi dulu terus ganti baju, di lemari samping Neng itu ada banyak baju yang bisa dipakai. Dan aku rasa baju Neng telah kotor, sedari kemarin siang Neng engga pulang bukan?" ungkapku.

"Iya" dengan sangat singkat dia menjawab.

Semalam aku menceritakan bahwa kamar yang dia pakai itu adalah kamar adikku yang baru nikah, dan telah ikut suaminya.

Aku menyiapkan makanan seadanya dari dapur, dan mie instan adalah alternatif yang paling simple. Beberapa saat sebelum aku masak mie, aku menghampiri gadis itu untuk mengajaknya makan bersama.

"Setelah mandi silahkan Neng ke meja makan yang ada di ruang tengah" ucapku.

Sejenak aku menunggu, hingga akhirnya gadis itu keluar dari kamar mandi dan langsung menuju meja makan. Dan aku persilahkan dia untuk menyantap hidangan yang telah aku siapkan.

Meski tak terlalu banyak yang dia makan, setidaknya perutnya tak terlalu kosong.

****

   Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, seharusnya aku bersiap-siap untuk berangkat kerja saat itu. "Lalu bagaimana dengan gadis ini?" sejenak aku berfikir, dan aku putuskan untuk tidak ke kantor hari itu. Sembari makan, aku menghubungi beberapa karyawan untuk memberi kabar ketidak hadiranku hari itu.

Rasa penasaran bercampur kasihan mendorongku untuk ingin menanyakan sesuatu pada gadis itu.

Sembari makan, aku coba mendekatinya, untuk tahu gemuruh apa yang ada dalam dadanya, tentang siapa dia, bahkan siapa keluarganya.

"Neng, aku Radit, boleh aku tahu nama Neng?" tanyaku.

"Devi" dengan sangat singkat dia menjawab.

"Neng sedang ada masalah?" tanyaku.

"Iya, pacarku meninggalkan aku" jawabnya.

Aku tak menyangka, aku akan melihat pemandangan seperti itu. Betapa ketegaran telah ada dalam raut wajahnya, sangat berbeda dengan keadaannya saat kemarin.

"Engkau bertengkar dengan pacarmu?" tanyaku lagi.

"Tidak, tak ada aku bertengkar dengan dia" dia pun menjawab.

"Lalu?" tanyaku kembali.

"Aku punya seorang kekasih, telah lima tahun kita tinggal bersama dalam satu atap, bahkan satu kamar, dua bulan lalu dia berpamit pulang menengok Ibunya di Medan" sepenggal cerita darinya.

"Lalu?" tanyaku dengan seribu penasaran.

"Kemarin pagi aku telfon dia, dia pun mengangkat telfon dari aku, namun yang kudapati adalah suasana yang begitu ramai, saat aku tanya sedang ada apa di rumahnya, justru dia meminta maaf padaku, dan bilang itu adalah acara resepsi pernikahan dia. Dan dia langsung memblokir nomer ponselku" ceritanya lagi.

Oh Tuhan, sungguh aku tak sanggup melanjutkan percakapan. Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya gadis ini.

****

Di pagi itu, dia bercerita banyak hal tentang diri dan perjalanan hidupnya, bahkan dia menyatakan betapa kehancuran atas diri dan masa depannya.

Entah apa yang kurasa saat itu, sungguh rasa kasihan mendorongku untuk melakukan sesuatu.

Aku berniat untuk menikahinya, untuk menyelamatkan kehormatan dia dan keluarganya.

Dan dia pun bersedia untuk menikah dengan aku.

Selang dua bulan kami pun melangsungkan pernikahan. Dan benar saja, satu bulan kemudian dia hamil. Aku tak pernah berpikir panjang tentang hal macam-macam. Aku menikahinya, lalu dia hamil. Aku anggap janin itu adalah anakku.

Kami membina keluarga kecil yang bahagia, Aku, Devi dan Naura buah hati kami.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Kebahagiaan kami berlangsung dengan sangat singkat. Satu tahun kami merasakan kebahagiaan. Di tahun berikutnya, yakni tahun 2014, perusahanku mengalami kebangkrutan, aku menafkahi keluarga kecilku dengan bekerja seadanya, kuli bangunan atau apa saja yang penting halal bagiku.

Aku masih bisa mensyukuri sekecil apa pun rizki yang Tuhan beri untuk aku dan keluargaku, namun sepertinya tidak dengan Devi istriku. Aku melihatnya sangat menderita dengan keadaan ini. Pun sifatnya kini berubah total, dia menjadi seorang pemarah, kasar, bahkan terhadap anaknya.

Di suatu pagi, aku memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta, Devi pun mengizinkan. Dan keesokan hari pun aku berangkat. Aku bekerja seandainya di sana, yang penting bisa mengirim sedikit uang untuk belanja istriku di rumah.

****

   Beberapa bulan aku mengadu nasib di Jakarta dengan bekerja seandainya sembari mencari lowongan kerja yang tepat buat aku. Meski nominal sedikit, aku masih bisa mengirim untuk makan anak dan istriku.

Hampir tiga bulan aku di Jakarta, namun tak juga mendapat pekerjaan yang cocok buat aku. Rasa lelah membebani jiwa, terlebih rasa rindu terhadap anak dan istri yang tengah menanti di Brebes kampung halamanku. Dan aku mutuskan untuk pulang, dan berusaha membangunkan lagi usahaku yang di sana.

Akhir pekan nanti, aku akan pulang dan memulai lagi usaha di Brebes.

Malam itu aku berkemas, seusai shalat subuh aku langsung berangkat pulang, menuju rindu-rinduku yang ada di kampung halaman. Setelah sampai di rumah, ternyata yang kudapati rumahku kosong.

Dan akhirnya aku pergi ke rumah orang tuaku, yang tak jauh dari rumahku, namun ternyata mereka juga tak menahu tentang anak dan istriku. Saat itu, tanpa berpikir panjang aku langsung berangkat ke Rembang rumah mertuaku, yang kuyakini mereka ada di sana. Namun ternyata semua di luar dugaanku, mereka pun tak ada di sana. Hanya ada Ibu mertua yang memberikan amplop panjang kepadaku, dan menyuruhku kembali pulang.

Iya, aku langsung berpamir untuk pulang, meski dengan rasa yang tak bisa dijelaskan. Aku pulang, namun belum sampai di rumah, rasa yang tak karuan ini memaksaku untuk membuka isi amplop panjang tersebut.

Di tengah perjalanan aku berhenti di sebuah tikungan, aku membuka amplop itu, dan betapa terkejutnya aku, surat yang ada dalam amplop itu adalah surat pengajuan cerai.

Lemas seketika badanku. Terasa seakan nyawa lepas dari raga. Aku tak mampu, aku tak mampu. Aku tak mampu hadapi ini semua. Mengapa Tuhan memberiku cobaan yang begitu besarnya.

Apakah Tuhan terlalu menyayangi aku?

Atau Tuhan terlalu membenci aku?

****TAMAT****

Cerpen
SANG FAKIR
Penulis : NengIcha
PURI, 23-04-2022

Diangkat dari kisah nyata seorang sahabat maya

History Adam Hawa - PENYESALAN Oleh : Romy Sastra



azali cinta berjubah kasih mencurah rindu pada kasta jiwa mengenali budi terhijab dan nyata berpayung rasa kala hujan membasah berselimut embun. andai kehausan di panas gelora kekeringan tetap tersenyum, dan rumput-rumput bergoyang lambaikan kedamaian, tertitip bayu merona syahdu sempurnanya ciptaan tuhanku

para pencinta nan agung sampai saat ini masih memuja rindu, bertasbih semenjak sabda tercipta sedetik pun tak alpa. lalu tuhan ciptakan surga dari fitrah maha kekasih untuk sang khalifah, serta tuhan ciptakan neraka sebagai peringatan sebentuk anai-anai melubangi nadi menyemai syahwat membuai tangkai sepoi diayun rayu, mengkebiri janji ilahi merayu menggoda rasa hina. pucuk-pucuk melambai tebarkan gairah memesona berpayet indah dibuai asmara kasih, laknatullah

dan kumbang mengisap madu kembang tak sadarkan diri terkutuk sudah menjerit menyesali tercampak ke mayapada sepanjang tahun sepi seorang diri, lara hiba menghunus pedang doa berlari di malam buta antara safa dan marwa mengetuk pintu arasy. maha kekasih sedang bermain dalang

doa dipanjatkan: "rabbanaa zolamnaa amfusanaa wailam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunanna minal koosirin"

duhai ... cinta belahan jiwa, di manakah kini engkau berada? kembalilah mengisi sepiku! tandus haus lelah mencarimu

engkau rabbani yang kusembah nan bersemayam di dalam angan kedunguanku hamba memohon: ampunilah kesalahan kami bodohnya hamba terlena tergerus godaan iblis: aku mengutuk diri

engkau rabbani nan bertakhta di jiwa ini, bukalah pintu rahmatmu kembali! hibalah sekali ini saja. hamba benar-benar menyesali diri sepanjang hari. aku si adam dan hawa bersenandung lara karena kesalahan ini tak mampu membendung rayu, hingga tauhidku sirna. engkau maha pengampun, maka ampunilah kami

rabbaniku mencipta yang nyata dan yang batin tak terpikirkan olehku engkau ada di hati ini. kenapa iman diri kulengahkan? memang, hamba telah tertipu rayu

sabda utusan uluk salam kala fajar berseru: wahai jiwa nan lara, sujudkan ragamu menyapa tanah meski tandus ia suci cikal bakal terdirinya jasadmu itu. rengkuhlah doa-doa malam bertayamum menyapu bulir menetes dari telaga hiba. buang jauh-jauh nebula palsu di pohon itu! dekaplah lafaz-lafaz nasuha, biar tercurah kasih sayang darinya

pengabdian subuh didirikan allahu akbar salam terucap kanan kiri:

"salamun kaulam mirrabirrahim"

terbentang kembali keindahan semu

tentang tirani hidup membentang panjang sampai dunia ini tertutup

lalu, tiba-tiba hadirnya kekasih yang dirindui, kekasih itu menyapa di antara fajar akan pergi dan berganti pelita semesta. pertemuan membuncah haru, tangis rindu membangunkan fijar-fijar mentari. bibit dunia pencinta nan agung berbahagia bertemu sudah pada yang didamba berkasih mesra serasa tak ingin berpisah lagi tuk selamanya, si pemuja cinta berpulang pada rasa menuju tobat nasuha.

history adam hawa
PENYESALAN
Oleh : Romy Sastra
Ngawi, 07,05,22



Senin, 09 Mei 2022

Pentigraf - HUJAN Penulis : Emmelia M


   Hujan menciptakan irama dalam sepiku. Dinginnya waktu menghangatkan air mataku. Dalam diam, aku mencintaimu.

Kenangan-kenangan indah bersamamu, terlukis dalam bola mata anak kita. Ia senang menikmati hujan sambil tidur di pangkuanku. Seperti dirimu. Haruskah aku selalu kuat?

Hujan menyenruh semua kekeringan dalamku. Membungkam jeritanku padamu. Menaburkan benih percaya dalam kegelapan malam. Ada kerelaan menyertainya, senantiasa.

*****

Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf)
HUJAN
Penulis : Emmelia M
Bogor, 22 Sept 2018

EMMELIA M


Pentigraf – PERKASA Penulis : Emmelia M

   Bila hasrat adalah kegelapan terkelam, maka aku adalah bintang terjauh. Sebuah kejujuran yang tak perlu disombongkan. Aku dapat menatapmu sepuasku. Ketelanjangan ini tidak berdusta. "Aku tetap milikmu." Dan selalu pelukanmu setia sebelum waktu melambat.

Aku menikmati mekarnya sebuah bunga teratai di kolam mama mertuaku. Rumah yang megah namun senyap. Bahkan aku mampu mendengar dawai patah dalam hatiku. "Nak Dewi, sudahkah memutuskan program bayi tabung?" mama berkata pelan sambil menggenggam jemariku. Aku menggangguk perlahan, teringat bunga lotus tadi.

Hari-hari sebelum cinta bersemi, ada pilihan dari beribu bunga yang gugur. Aku bunga lotus mekar di kolam hatimu. Kelembutan yang mengalahkan keperkasaan gengsi. Cinta telah terbit.

*****

Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf)
PERKASA
Penulis : Emmelia M
Bogor, 22 Sept 2018
EMMELIA M



Pentigraf - SEMANGAT TIDAK PICISAN Penulis : Emmelia M


   Picisan, begitu katamu usai membaca ceritaku. Bunga-bunga perlahan gugur dalam inspirasiku. Kau langsung mengedit naskahku hingga aku tak mengenali jiwaku lagi. Picisan terlalu konyol untuk sekarang ini. Terbit di majalah kenamaan, namun aku tak ada.

Banyak jalan setapak yang indah. Satunya melayani Oma Kirsten di panti jompo. Oma Kirsten pesiunan wartawati. Ia memiliki perpustakaan pribadi di ruangannya. Saat aku datang berkunjung, ia menatapku dalam, " Sebuah tulisan sanggup mengubah waktu dan seseorang." Oma tahu jawaban keresahanku.

Aku tak mau dibunuh oleh tulisan. Picisan menurutmu, kuubah dalam kerinduan akan kasih. Kelegaan tersirat. Aku melebur dalam tulisanku. Penamu tertahan. Diterbitkan aku yang baru, aku dan senyumanmu dalam tulisanku.

*****
Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf)
SEMANGAT TIDAK PICISAN
Penulis : Emmelia M
Bogor, 22 Sept 2018
EMMELIA M



Cermin – SUNGAI Penulis : Asrial Mirza


   Sungai, adalah cerukan tanah yang dialiri air yang mengalir dari hulu ke hilir dan akhirnya bermuara ke laut. Meskipun liukannya bagaikan ular raksasa yang menakutkan, namun sejuknya air sungai membawa perarasaan menjadi tentram dan damai. Sungai memang penuh misteri, tapi sungai juga sumber kehidupan dan inspirasi. Sesaat anganku menerawang, mengingat seorang lelaki tua yang bermukim di tanah jawa dan kini sudah pergi menemui khaliqnya. Sayup-sayup terasa menerobos masuk gendang telingaku lantunan suara penyanyi kroncong dengan vibrasi yang menggelora " Bengawan Solo, riwayatmu kini, sedari dulu jadi perhatian insani. Musim kemarau, tak seberapa airmu, dimusim hujan air mengalir sampai jauh. Mata airmu dari solo, terkurung gunung seribu, air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. Itu perahu, riwayatnya dulu, kaum pedagang slalu naik itu perahu." demikian sang maestro kroncong Indonesia almarhum Gesang, bertutur dalam syair lagu BENGAWAN SOLO. Gesang memang sudah tiada, tapi lagu Bengawan Solo dan karya-karyanya yang lain, tetap hidup di hati penggemarnya.

DI TEPI sungai Asahan sore tadi, cuaca redup dan angin sepoi-sepoi menerpa tubuhku. Sementara itu, persis di depan, samping kiri dan kananku, berjajar kawan-kawan dari Yayasan Sahabat Tiga puluh Kisaran dan komunitas ruang pekerja seni tanjungbalai, bersilaturrahim. Pertemuan ini entah untuk yang keberapa, tapi untuk ditepian sungai Asahan merupakan yang pertama. Sejenak semuanya terhanyut dalam suasana, seperti hanyutnya sampah-sampah yang mencemari sungai ini. Nun di seberang sungai, pada pertemuan sungai Asahan denga sungai Silau, ada dangau yang dibangun sebagai saksi sejarah. Menurut penuturan Wan Kumis(bukan Iwan Fals) konon, di tempat itu doeloe Sultan Asahan Pertama dinobatkan. TENTANG KOTA TANJUNGBALAI DAN SUNGAINYA, juga sudah diabadikan oleh seniman lokal dalan sebuah syair lagu. Lagu dengan irama dan rentak melayu ini, sungguh enak didengar, walau popularitasnya tidak sampai menandingi lagu Bengawan Solo.

"TANJUNGBALAI, salah satu kota di Asahan, menurut sejarah balai terletak di ujung tanjung, di pinggir kotanya sungai mengalir titinya yang panjang, lintasan nelayan menambah indahnya kota yang sakti, penduduknya ramai sopan santun budi bahasanya, seolah-olah kita sudah berkenalan lama. Duhaaai... adik jagalah nama kotamu ini, jadikanlah ia, agar menjadi kota yang sakti"(maaf, kalau syair lagunya kurang pas, karena saya tak hafal bukan bermaksud untuk melecehkan).

SUNGAI ASAHAN yang mengalir tenang, adalah saksi bisu pertemuan puluhan anak-anak manusia sore tadi. Sejuknya air sungai, sesejuk hati kami yang bertekad mewujudkan mimpi-mimpi menjadi nyata. Ada rasa syukur, rasa sukacita dan haru. Karena, di tengah hiruk pikuknya pertarungan memperjuangkan nasib dan kehidupan, ternyata masih ada orang-orang yang tetap menggeliat dan punya kepedulian. Mudah-mudahan komunitas ini bukan orang-orang terakhir yang punya kepedulian dan kegelisahan. Tapi sebahagian kecil dari ribuan bahkan jutaan orang-orang yang tetap merindukan sebuah perubahan. Genderang budaya kembali ditabuh, tarian Gubang harap dipergelarkan, agar kita tidak sempat lupa dan anak cucu paham sejarah nenek moyangnya. Lestarikan alam dan jagalah budaya!

*****

Cermin (Cerita Mini)
SUNGAI
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin- USWAH Penulis : Asrial Mirza



   "USWAH", artinya contoh atawa panutan atawajuga teladan. Begitulah keseharian Rasulullah bersikap. Ini bukan dongeng, karena kabar tentang sikap nabi yang humanis ini, bisa kita temukan pada lembar-lembar kitab suci al qur'an dan al hadits. Sehingga, bukan hanya sebab kenabian dan kerasulan beliau maka ummat mengaguminya, tetapi justru sikap dan prilaku yang sangat-sangat terpuji itu menjadikan beliau diidolakan kaum muslimin maupun kaum-kaum lainnya. Kalau dalam bahasa kinian, beliau itu disegani oleh kawan dan lawan.

LALU, siapakah pemimpin kita yang bisa dijadikan panutan saat ini, mungkin kira-kira demikian pertanyaan yang ada dibenak setiap anak bangsa. Pertanyaan normatif namun sulit untuk dijawab. Ironis memang, kalau diantara 250 juta rakyat Indonesia, kita tidak menemukan seorangpun pemimpin yang bisa dijadikan panutan. Inilah kenyataan itu, kenyataan yang membuat hati kita bagai teriris sembilu. Siapakah yang salah dan siapa yang mau disalahkan terhadap kondisi ini?

KONON, sebelum bangkit dan menjadi besar seperti sekarang ini, Korea Selatan adalah negara yang parah dan payah. Perekonomian berantakan, tingginya angka pengangguran dan kriminalitas sudah sampai pada titik nadir. Kondisi yang terakhir ini sebenarnya merupakan hubungan sebab akibat dari carut marutnya ekonomi. Sama dengan penyakit diabetes(gula) stadium empat, akan serta merta merusak jaringan-jaringan syaraf lain yang ada dalam tubuh. Sehingga pada akhirnya akan lumpuh dan mati.
ADA dua masalah utama yang mereka temukan, dari sekian banyak persoalan negara yang mereka kumpulkan. Yakni moral dan pendidikan.
Dua virus besar ini mereka terapi dengan program-program yang begitu signifikan. beberapa tahun kemudian, hasilnya sungguh luar biasa, Korea Selatan muncul sebagai raksasa dunia yang baru dalam bidang industri.

KETIKA kita bicara moral, tentu ada etika dan estetika di sana. Etika itu adalah adab yang bersendikan syara', sedang estetika adalah budi pekerti yang baik dengan berlandaskan budaya. Tampaknya inilah yang menjadi permasalah kita. Permasalah yang terjadi pada kalangan pemimpin dan rakyatnya. Jika penyakit ini tidak segera ditangani secara sungguh-sungguh dan serius, entah bagaiman nasib bangsa da negara ini. Mari kita contoh Korea. Kalau untuk yang baik, rasa-rasanya tidak harus malu mengopek pada orang lain. Apa artinya sok pintar, kalau sebenarnya kita memang belum pintar. Bangkitlah budaya bangsaku, bangkitlah negeriku Indonesia tercinta. SEMOGA !

*****
Cermin (Cerita Mini)
USWAH
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin – SEMANGAT Penulis : Asrial Mirza


   Semangat, sepenggal kata ini memiliki khasiat yang begitu manjur melebihi obat produksi pabrik manapun atau dari segelas air sejuk yang sudah dimunajadkan tabib sholih di kampung seberang. Rasanya Istilah ini tidak berlebihan jika aku berikan kepada sekelompok orang-orang yang kini tengah bergelora syahwat berkeseniannya bak benzin tersulut api, sehingga tidak perduli meskipun sebentar lagi harga bbm akan melambung tinggi.

Adalah komunitas yayasan sahabat tiga puluh, ruang pekerja seni tanjungbalai, sanggar tari tiara intan, ketua pwi, knpi asahan. dokter yazid sabri, kepala man kisaran makmur sukri dan ratusan pencinta budaya yang sama-sama mengikatkan tali bathin dengan eddie karsito. Akhir-akhir ini kerap bertemu dan bersilaturrahim dalam bingkai merangkai kembali tali-tali seni dan budaya yang kusut dan yang berserakan. Hal itu dikarena sebuah prinsip yang sama, bahwa hidup dengan agama menjadi terarah, hidup dengan ilmu menjadi terarah dan hidup dengan seni menjadi indah.

Sedangkan bagi aku pribadi, kebersamaan ini adalah sebuah reuni sejak kami melangkah meninggalkan "sanggar laras" puluhan tahun yang silam sehingg membuhulkan rindu yang sangat dalam, meskipun sekarang suasananya jauh lebih ramai. Semuanya terharu mendapati kenyataan ini, karena hanya karena campur tangan Allah maka pertemuan terjadi, karena rasa sukacita kawan-kawan yang berkumpul dan bersinergi meneriakkan," Seni Pemersatu Jiwa" dan dengan semangat ini lalu eddie karsito mengajak kawan-kawan merajut mimpi untuk merilis sebua film kolosal tentang sejarah KOELI KONTRAK TEMPO DOELOE, dengan title " Annimie In Buiten Gewesten" yang Insya Allah penggarapannya berlokasi hampir seluruhnya di Asahan.

Inilah kerangka dari semangat itu, sebuah produksi film yang masih dalam wujud tataran ide, yang akan berubah nyata apabila banyak tangan-tangan terulur untuk menyambutnya, terutama dari saudara-saudara kita yang berdarah jawa(ma'af,boekan primordial). Pertanyaannya tentu saja adalah, mengapa stressing kita tertuju pada sudara-saudara kita yang sekarang mengguyubkan diri pada putra jawa kelahiran sumatera(Pujakesuma) dan organisasi suku jawa yang lain, karena film ini bertutur tentang bagaimana sejarah sampainya kakek dan nenek buyut mereka sampai di sumatera. Karena kata orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat akan sejarahnya dan Boeng Karno ngomong" Jas merah, jangan melupaka sejarah.
TRAH(garis keturunan) tidak selamanya harus berasal dari darah biru,
karena pada akhirnya keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan turunan siapa, tapi bagaimana kita berjuang dengan disertai doa. Seperti ungkapa populer juragan sepuh Inggris, Churchil, " Saya tidak mau dipajang seperti banteng aduan yang martabatnya ditentukan kebesaran masa lalu". Maka sudah saatnya saudara-saudara kita bangga, karena sebagai anak manusia yang terlahir dari TRAH-TRAH biasa, tapi kini muncul menjelma menjadi orang-orang yang luar biasa dan sukses. "Annimie In Buiten Gewesten" adalah film anda, film kami dan film kita, maka kami undang seluruh masyarakat Asahan yang tua dan muda, khususnya yang punya benang merah dengan uyut kakung dan uyut putri," PAIJO dan PAIJAH" yang menorehkan sejaRah kelahiran anak, cucu dan cicitnya di tanah Sumatera, untuk bergandengan tangan bahu membahu mewujudkan mimpi tentang film ini menjadi nyata. Semoga Allah bersama kita, amiiin !

*****

Cermin (Cerita Mini)
SEMANGAT
Penulis : Asrial Mirza
Kisaran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA


Cermin - KETIKA BUDAYA TERCABUT DARI AKARNYA Penulis : Asrial Mirza



   Ketika budaya sudah tercabut dari akarnya, anak bangsa ini menjadi gamang, terombang ambing dan melayang antara bumi dan langit. keramah tamahan yang dulu kini menjelma menjadi marah-marah, kepedulian yang dulu kini berobah tidak mau tau dan harga diri tidak lebih mahal dari sebungkus rokok. saatnya kita harus gelisah,kalau boleh meminjam kata-kata bijak almarhum ws. rendra siburung merak," orang-orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan" dan yang terjaga dan masih bersikap siaga beramai-ramai memukul kentongan bertalu-talu, agar semua makhluk tersadar bahwa kebersamaan jauh lebih penting dari sikap keakuan dan arogansi yang kini justru sedang mengakar. ketika budaya sudah tercabut dari akarnya, mari kita hujamkan niat sedalam-dalamnya, bahwa hidup punya titik pemberhentian, sebelum lembar buku ditutup dan nyala pelita dipadamkan, sebaiknya kita wariskan sebuah catatan, bahwa doeloe bangsa ini begitu akrab, sehingga gunungpun bisa dipindahkan. wasssalam !

*****

Cermin (Cerita Mini)
KETIKA BUDAYA TERCABUT DARI AKARNYA
Penulis : Asrial Mirza
Kisasran, Sumatera Utara

ASRIAL MIRZA