Rabu, 28 November 2018
Kumpulan Puisi Ade Saputra Sunankaligandu - MASIH TENTANGMU
@ MASIH TENTANGMU @
Masih, kupinang rindu di altar malam
Jemari hati erat menggenggam
Meski dibui dalam jeruji sepi
Ditikam lara hingga sanubari
Masih, tentangmu sang jelita
Nan ronakan pelangi ufuk senja
Nan nyalakan lentera di gulita
Hingga aku, luluh di titik nadir
Masih, rintihku tanpa rupa daya
Kala tanpamu dalam dekapku
Nanar, pijar nyala netra
Tuk mengatup, aku tak mampu
Masih, aku pasti kembali
Tuk anyam rindu di atas tilam
Berbenang sutera dari surgawi
Hingga usai parade mimpi di ujung malam
#DewaBumiRaflesia_14_11_18
@ MERDEKA DI TENGAH RIMBA @
Di tengah waktu yang tak pernah ambigu
Kulalui jalanan licin berbatu
Antara dinding tebing yang nyaris tumbang
Dan jurang yang seakan tak berujung
Celoteh binatang hutan
Derit pepohonan
Asri alam negeriku
Masih seperti ratusan tahun lalu
Bolehkah kutanya padamu
Telah berapa lama negeri ini merdeka
Entahlah, yang kutahu
Mereka hanya kenal kata merdeka
#DewaBumiRaflesia_07_04_18
@ DIMENSI SEPI @
Bayu, merdu mengulum rindu
Hening, dijaring pucuk pilu
Pada altar malam meremang syahdu
Raga renta pun kian sayu
Senyum, lekat di dinding hening
Kian erat, enggan hengkang
Meronca, ukir warna di sudut netra
Pelangi aneka pesona cinta
Kupeluk, dengan rasa buta
Terbangkan fatamorgana asa
Sesat, terlunta di rimba pengembara
Dibui, dalam jeruji dimensi asmara
Usah henti tuk mengunyah
Agar tau aneka rasa
Biarkan, cemeti rajam gundah
Tak kan lekang, hingga akhir masa
#DewaAde Saputra Sunankaligandu berada di Aceh.
DIKSI DI SUDUT NEGERI
Kubisik cinta, di sisa hela napas tersisa
Ketika giris dicumbu gerimis
Di beranda malam yang lupa beri warna
Hingga sunyi kian mengiris
Aku, masih terjaga
Merenda sebait aksara
Pada remah-remah basah
Yang nyaris tak terjamah
Lihatlah, masih tersisa jejak telapak
Dari ribuan jemari kaki yang membengkak
Tertusuk onak pohon ambigu
Buah karya pemburu nafsu
Lihatlah, panorama tanpa cedera
Lukisan SANG maha karya
Indah, tanpa cela
Begitupun kita, tanpa sengketa
#DewaBumiRaflesia_17_11_18
BumiRaflesia_23_04_18
@ DIMENSI SEPI @
Bayu, merdu mengulum rindu
Hening, dijaring pucuk pilu
Pada altar malam meremang syahdu
Raga renta pun kian sayu
Senyum, lekat di dinding hening
Kian erat, enggan hengkang
Meronca, ukir warna di sudut netra
Pelangi aneka pesona cinta
Kupeluk, dengan rasa buta
Terbangkan fatamorgana asa
Sesat, terlunta di rimba pengembara
Dibui, dalam jeruji dimensi asmara
Usah henti tuk mengunyah
Agar tau aneka rasa
Biarkan, cemeti rajam gundah
Tak kan lekang, hingga akhir masa
#DewaBumiRaflesia_23_04_18
@ DIKSI DI SUDUT NEGERI @
Kubisik cinta, di sisa hela napas tersisa
Ketika giris dicumbu gerimis
Di beranda malam yang lupa beri warna
Hingga sunyi kian mengiris
Aku, masih terjaga
Merenda sebait aksara
Pada remah-remah basah
Yang nyaris tak terjamah
Lihatlah, masih tersisa jejak telapak
Dari ribuan jemari kaki yang membengkak
Tertusuk onak pohon ambigu
Buah karya pemburu nafsu
Lihatlah, panorama tanpa cedera
Lukisan SANG maha karya
Indah, tanpa cela
Begitupun kita, tanpa sengketa
#DewaBumiRaflesia_17_11_18
Kumpulan Puisi Bang Toyyib Sibarani - ENTAH KENAPA
##### Puisi : "ENTAH KENAPA". ######
Andai kita tidak di sini
Di kota ini....
Di negeri ini...
Mungkin kita tak tahu
Kapal yang kita tumpangi ini
Selalu dikemudikan kapten-kapten gila
Ku lihat langit di setiap tahun baru
Tak ada juga bedanya
Dengan langit tahun yang lalu
Waktu tetap asing di sana
Dan kian bertanduk-tanduk
Lebih setengah periode sudah
Kita berlayar bersama kapal oleng ini
Sudah lupa kita dari mana berangkat
Dan di mana pula akan melepas sauh untuk bertambat
Berbagai Timbunan sampah peristiwa-peristiwa....
Terus Membusuk di bandar-bandar yang kita singgahi...
Kita tak dapat lagi menghitung dan mambaca
Musim hujan atau musim kemarau
Sama buruknya bagi anak-anak dan orang dewasa.
#bang_toyyib_nan_tak_pulang_pulang
# Harapan Buat Generasi Negeri #
Generasi Negeriku...
Kutulis dan kurangkai puisi ini untuk mu
Kuhimbau dan ku ajak tuk terus belajar demi kemajuan bangsamu
Gapailah cita-citamu yang tinggi itu
Menjulang sampai ke langit ke-7
Wahai generasi Negeriku...
Tuntutlah cakrawala ilmu sampai ke ujung dunia dan dari buaiyan sampai keliang lahat
Karena engkau tidak akan pernah tahu
Perang pemikiran atau Ghazaul Fikri yang akan terus melanda sewaktu-waktu.
Wahai penerus generasi Negeriku...
Jangan menyerah dan putus asa dalam mewujudkan impianmu
Teruslah berusaha dan dongkrak semangatmu
Generasi Negeriku...
Jangan berharap dengan yang lain
Karena yang rela berkorban itu hanya dapat dihitung dengan bilangan.
Inilah saatnya... Bangkit dan berbuatlah
Jangan engkau terlena ataupun lengah
Lakukanlah apa yang dapat engkau mampu melakukannya.
Karena hari ini belum tentu sama dengan hari esok.
Maka, jangan izinkan penyeselan datang memberontak
Hingga membuat Negerimu semakin terpuruk.
Generasi Negeriku...
Nasib bangsa,negara dan kotamu ini sekarang ada pada genggaman kalian
Ya kalian... Karena kalian adalah cahaya bangsa, calon penerus bangsa ini
Oleh sebabnya sinar kalian selalu dinanti-nantikan.
Untuk terus dapat menerangi negeri Indonesia ini...
#by_bang_tiyyob
# Androidku #
Wahai hp androidku...
Setiap hari ku gunakan dirimu
Ku cucuk cucuk melalui jariku
Ku pinjam abdroid temanmu
Kadang ku habiskan paketmu
Abdroidku...
Kau ku gunakan untuk mencurahkan isi hatiku
Kau ku gunakan untuk mencurahkan ide dan isi pikiranku
Dan ku gunakan dirimu untuk menceritakan kisahku
Androidku...
Kau selalu kubawa
Kau selalu menemaniku
Tetapi...
Aku tak pernah berterimakasih padamu
Aku tak pernah memperhatikanmu
Maafkan aku wahai androidku...
Tanpamu aku tak dapat mengisi hari hariku.
#efek_android_bang_toyyib_rusak
# Harapan Buat Generasi Negeri #
Generasi Negeriku...
Kutulis dan kurangkai puisi ini untuk mu
Kuhimbau dan ku ajak tuk terus belajar demi kemajuan bangsamu
Gapailah cita-citamu yang tinggi itu
Menjulang sampai ke langit ke-7
Wahai generasi Negeriku...
Tuntutlah cakrawala ilmu sampai ke ujung dunia dan dari buaiyan sampai keliang lahat
Karena engkau tidak akan pernah tahu
Perang pemikiran atau Ghazaul Fikri yang akan terus melanda sewaktu-waktu.
Wahai penerus generasi Negeriku...
Jangan menyerah dan putus asa dalam mewujudkan impianmu
Teruslah berusaha dan dongkrak semangatmu
Generasi Negeriku...
Jangan berharap dengan yang lain
Karena yang rela berkorban itu hanya dapat dihitung dengan bilangan.
Inilah saatnya... Bangkit dan berbuatlah
Jangan engkau terlena ataupun lengah
Lakukanlah apa yang dapat engkau mampu melakukannya.
Karena hari ini belum tentu sama dengan hari esok.
Maka, jangan izinkan penyeselan datang memberontak
Hingga membuat Negerimu semakin terpuruk.
Generasi Negeriku...
Nasib bangsa,negara dan kotamu ini sekarang ada pada genggaman kalian
Ya kalian... Karena kalian adalah cahaya bangsa, calon penerus bangsa ini
Oleh sebabnya sinar kalian selalu dinanti-nantikan.
Untuk terus dapat menerangi negeri Indonesia ini...
#by_bang_tiyyob
Puisi :
# HORMATI PENGUASA #
Oleh : Ahmad Effendi Sibarani
(Aktivis LSM Mandiri & LSM Insani Tanjungbalai).
Duhai Saudaraku yang Mulia
Dimanapun engkau hidup dan berada,
Junjung tinggi dan hormatilah Penguasa
Hargai dan cintailah dirinya
Bukankah dia penjamin hak hak kita?
Bukankah dia pengayom dan pelindung kita???
Bukankah dia pengatur urusan urusan kita??
Sungguh ….. seratus tahun hidup dibawa penguasa yang lalim
jauh lebih baik daripada hidup sehari tanpa pemimpin
Sungguh sedih hati ini
Ketika mendengar celaan celaanmu
kepadanya…..
baik melalui tulisan atau media lainnya
tidakkah engkau tau….
Bahwa Pemberontakan itu
bukan hanya dengan pedang
tapi juga dengan lisan yang tajam
bisa lebih menghancurkan
sungguh….
janganlah kau remehkan lisan
karena ketajamanya berlaku disemua zaman
dengannya engkau bisa menyulut kericuhan
dengannya juga engkau bisa menyulut peperangan
tapi disisi lain..
dengannya pula kedamaian bisa diwujudkan
maka dari itu…….berhati hatilah….
jangan engkau salah dalam menggunakan.
Dan Ketahuilah…..
sungguh,mencela penguasa itu adalah kejahatan
karena dengannyalah
akan terbuka pintu pintu kerusakan
dan tidak akan terjadi padanya
kecuali dua keadaan
akan tersulut api pemberontakan
atau akan terjadi pembantaian.
Janganlah engkau berdalih ……
menganggapnya sbg nasihat ???
karena nasihat dengan terang terangan
Itu, Tiada beda dengan hujatan
Tidak beda jauh dari gunjingan
dan sama dengan membuka aib orang.
Nasihati dia dengan tersembunyi
ditempat gelap nan sunyi
Itulah akhlak utama dalam menasihati
Nasihat itu kewajiban
Diterima apa tidak, itu bukan urusan
jika diterima itu yang kita maukan
jika ditolak,tak perlu marah
Yang penting kewajiban sudah tertunaikan.
Belum datangkah khobar kepada engkau????
(bahwa) perumpaaan anjing anjing neraka
(itu) bagi para pencela penguasa….
Khawarij itu nama kerennya
kata itu terucap
dari lisan nabi kita yang mulia
melalui hadist belia bersabda……
Malang nian nasib seorang pencela
Sudah berbuat keburukan dan kesesatan
tapi yang dia rasakan
telah berbuat seutama utamanya Kebajikan…
Renungkan…..
Tanyakanlah pada diri kita
Adakah kita orang yang sempurna???
yg tiada cela dan tiada dosa???
lalu sadar dan bangunlah
Sungguh pemimpinmu itu juga manusia
yang punya keutamaan
tapi juga tidak luput dari kekhilafan
Dia bukan malaikat yang selalu benar….
Juga bukan syaitan yang selalu ingkar….
Dia hanya manusia,
tempatnya khilaf dan lupa…..
Jadi…..
tiada hak bagimu untuk mencelanya…
tidaklah elok kau korek korek kesalahannya
serta kau abaikan kebaikanya….
duhai saudaraku
meski silih berganti
pergantian penguasa telah terjadi
celaanmu itu tiada akan pernah berhenti
Karena (celaan) itu makananmu
dan hinaan itu minumanmu
Sungguh celaan dan hinaan
akan terus keluar dari mulutmu
semua itu dikarenakan
tidak ada penguasa
yang sesuai dengan selera nafsumu.
Siapapun penggantinya
pasti banyak cela di hadapanmu
pasti akan kau korek korek aibnya
dan kau buatkan tulisan hujatanya…
Belum sampaikah kisah ini padamu???
kisah seorang alim yang berilmu
dan kisah seorang ulama rabbani
yang seandainya sebuah doa mustazab beliau miliki
Hanya bagi pengusalah doa itu yang beliau maui
karena orang berilmu. itu tau
Bahwa, penguasa yang shalih dan adil
akan memerintah dengan dalil
rakyat akan makmur sejahtera
dan bebas dari kedzolimannya.
Jika penguasamu orang terlaknat
itu karena kebanyakan darimu orang jahat
jika penguasamu korup
itu karena kebanyakan darimu orang korup
jika penguasamu dzolim
pasti kebanyakan dari mu orang jahil
itu terjadi dikarenakan
penguasa itu adalah cermin
dari akhlak rakyat dia pimpin.
Wahai Saudaraku , Ketahuilah
tanpa penguasa tidak akan tegak kehidupan
sehingga tersebarlah kekacauan dan kerusuhan
hidup serasa dalam hukum rimba
siapa yang kuat akan menindas
siapa yang lemah akan dilindas
tanpa penguasa kehidupan akan kacau
karena banyak orang jahat yang mangacau
tidakkah engkau jadikan pelajaran
ketika negri ini dilanda kerusuhan????
penjarahan,pembakaran, dan pemerkosaan
sudah menjadi hidangan yang wajar…
Wahai saudaraku….
tidak inginkah engkau hidup aman..????
tak inginkah engaku hidup tentram???
Hanya dengan adanya penguasalah ….
Ketentraman, keamanan’ketenangan
dan kedamaian itu dapat diwujudkan
sungguh, sejarah jangan kau lupakan
Masa reformasi jadikan pelajaran
betapa pentingnya menjaga lisan….
Karena provokasilah meletus kerusuhan.
sungguh benar kata Alqur’an
Bahwa “fitnah ” itu lebih Kejam dari pada pembunuhan
dan ingatlah engkau dengan perkataan
seorang yang termulia sepanjang zaman
Nasihat Beliau yang sangat berkesan
(yaitu)
“berkatalah yang baik
atau engkau pilih diam”
dan tidak takutkah engkau dengan ancaman…???
sabda nabi penuutp zaman….
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan
dan memeranginya merupakan kekafiran”.
Sungguh Soekarno, Suharto, BJ Habibi, Megawati, SBY dan Jokowi itu bukan bahan candaan
juga bukan tempat celaan dan makian
Dia Pemimpin kita
Dia pengayom kita
Dia pelindung kita
dan dialah orang tua kita
yang meski bagaimana pun
kita harus tetap hormat dan mencintainya…..
Kumpulan Puisi Yuliza yuna - FIKIRAN YANG GAGAL
FIKIRAN YANG GAGAL
Apa yang kau miliki tak aku miliki.
Tak satupun hingga aku mengadu.
Aku juga mau yang sama seperti mu.
Tapi aku tak kunjung dapatkan itu.
Terkadang hidup membuatku tanpak rakus.
Haus akan pengakuan.
Lebih sabar dan lebih sabar lagi.
Seperti tetes-tetes hujan yang turun kemarin.
Rasanya masih basah ber bau tanah.
Mereka merah merekah resah.
Serupa nanah didalam darah.
Yuliza yuna
Tanjungbalai, 9 november 2018
Sstt...
Sstt...
Bisik daun kepada batu
Kucurahkan semua
asaku
Sstt...
Bisik daun kepada batu
Tiada tempat untuk mengadu
Sstt...
Bisik-bisik batu kepada daun
Kembali pulang sebulan yang lalu.
Yuna yuliza
Tanjungbalai 9 nobember 2018
Kamis, 18 Oktober 2018
Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - TERSANJUNG
# PENGGEMBALA #
Aku si penggembala,
Bersama seekor kerbau dan anaknya,
Sebungkus bekal makanan di pinggang,
Telusuri padang tanah basah berlumpur,
Meniupkan sebilah seruling bambu,
Dendangkan nyanyian Duka Ibu Pertiwi,
Aku si penggembala,
Kian teriris luka di dada,
Ulah dari teror si pendusta,
Para penoda mulianya suatu agama,
Di tanah yang kini porak poranda,
Dari murkanya alam semesta.
Bergemalah wahai nada nada,
Dari tebing ketebing bebatuan,
Katakan aku disini,
Menanti panggilan dari NKRI,
Untuk menyerahkan jiwa dan raga,
Demi Tanah Air Indonesia Tercinta.
Aku si penggembala,
Bersama kerbau dan anaknya,
Bukan menjadi manusia hina dan tercela.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 18:10:2018
# TERSANJUNG #
Bintang kupandang dengan pesona,
Rembulan bersinar beri cahaya,
Teranglah malam gelap gulita,
Ajak si pungguk ikut bersuara,
Kabarkan indahnya alam semesta,
Tinggalkan sepi laranya jiwa.
Ketimbang langkah hendak menuju,
Jalan ku basah berlumpur pula,
Kononlah pula niat ku tau,
Tuah menyapa gema berkala,
Adakah takdir aku dapat bertemu,
Bersama tuan yang tinggi derajatnya.
Kutimang timang takdirnya raga,
Ku belai belai hasratnya jiwa,
Jikalau memang nanti dapat berjumpa,
Jangan di hina hidupku yang apa adanya,
Biar menjadi kenangan ku sepanjang usia,
Untuk cerita ku nanti kepada anak istri tercinta.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai 18:10:2018
Buat Sahabat hati ku Bapak Drs Mustahari Sembiring
# MERAJUT RINDU #
Gurindam nada rentak berirama,
Syair pujangga merasuk sukma,
Adakah makna rindu menyapa,
Umpama angsa di tengah telaga,
Terbang tak tau entah kemana,
Berdiam diri gundah gulanya.
Jauh dermaga di seberang lautan,
Perahu berlayar tampa kemudi,
Teringat gelombang jadi tantangan,
Karang menanti di laut tak bertepi,
Mungkinkah aku sampai ke tujuan,
Menuai rindu yang tumbuh bersemi.
Hasrat di hati syair merayu,
Sambut bertuan tegur dan sapa,
Tersimpan hajat hentak bertemu,
Ingatkan niat yang lama tertunda,
Oleh karena rasa tak mampu,
Menggapai rindu yang jauh di sana.
LUmbang KAyung bersama Drs Mustahari Sembiring
Tanjung Balai 17:10:2018
# DONGGALA #
Langit menggelegar,
Mega hitam berarak arakan,
Bumi terus bergetar,
Gemuruh ombak menerjang daratan,
Terdengar pekik hingar bingar,
Menyambut jerit penderitaan.
Porak poranda isi alam,
Musnah sebuah impian,
Pucat pasih wajah duka terpendam,
Dalam tangis kepedihan,
Pecahkan cahaya hati yang kini kelam,
Terpojok di jurang kehancuran.
Hanya kepada mu tuhan,
Doa tulus ku panjatkan,
Dari setiap ujian yang kau berikan,
Ujian perjalanan langkah ku di kehidupan,
Yang tak dapat lagi terElakkan,
Walau ku kehilangan keluarga dan impian.
By : LUMBANG KAYUNG
Tanjung Balai 05:10:2018
# PILSAPAH KATA #
HIDUP INI INDAH,
BILA TIADA SALAH,
TIADA MASALAH,
NAMUN MENYERAH KALAH,
SELAMANYA MENGALAH KALAH,
KARENA PERJUANGAN HIDUP BUKAN PASRAH.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 30:09:2018
# MENGIRIS KEHANCURAN #
Risauku menatap mendung,
Di tanah kering yang meronta,
Menanti nyanyian kidung bersenandung,
Tak bersemi lagi merduanya nada nada,
Indahnya alam pun kian menghilang,
Berselimutkan syair syair yang ternoda.
Andai dapat ku gapai mentari,
Kan bergema raungan dari ruang murka,
Tepiskan halilintar yang menggetarkan sanubari,
Redakan goncangan gempa yang kian menganiyaya
Di relung ruang hati yang kian hampir mati,
Oleh karena hasutan dusta yang semangkin meraja lela.
Kembalilah indahnya alam nusantara,
Nyanyikan senandung gita cinta,
Biar ku dengar merduanya canda tawa,
Bergema membelah langit kehancuran,
Dalam keharmonisan ke Kebhinekaan Tunggal Ika,
Di Persada Tanah Air Indonesia Tercinta.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 12:11:2018
n 09:11:2018
# LELAH KU SENDIRI #
Mentari pagi,
Tetes embun di dedaunan,
Sayup menyapa naluri,
Namun rentan untuk ku bertahan,
Dalam mengisi hari hari,
Yang meninggalkan ku dalam pergaulan.
Sepi ku yang temaram,
Gelap di pekat malam,
Hilang gairah tenggelam,
Terpuruk bayang kelam,
Sendiri merenung dalam diam,
Merajut benang yang kian kusam.
Aku menanti rembulan,
Mengikuti langkah kesorangan,
Demi mendapatkan rezeki yang di beri tuhan,
Dalam memenuhi pinta kehidupan,
Walau ku hilang tinggalkan keramaian,
Dan terpuruk merangkai lelah yang ku rasakan.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 09:11:2018
Kumpulan Puisi Adi Bima - BOSAN
Kambing Hitam
oleh : Adi Bima
Siapa saja yg kau anggap musuh
Akankah kau jadikan kambing hitamu
Tak kenal saudara sedarah, masih saja kau anggap musuh
Demi nafsu bejatmu, semua saudara seimanmu kau jadikan kambing hitammu.
Wahai manusia berkedok salju
Masih kah kau menebar berita palsu
Berita baik kau jadikan buruk
Dimana naluri iman mu
. . . . . . . ..... BOSAN ..... . . . . . . .
Waktu berganti hari
Minggu berganti bulan
Bulan berganti tahun.
Adakah rasa bosan hilang sesaat dalam fikiran ku
Dan Terus mengingat akan kuasa Mu
Bosan hanya milik Mu
Aq hanya bisa bersujud untuk menghilangkan sesaat rasa bosan ku.
Bosan saat pekerjaan terus menghantui
Bosan saat rutinitas datang bertubi tubi
Dan aku takan Bosan mengingat semua Ciptaan Ilahi.
Oleh Adi Bima
Judul : Sesak
Oleh : Adi Bima
Nafasku mulai tak beraturan melihat tingkahmu
Terkadang konyol, ceroboh, dungu prilakumu
Sesak terasa dirongga nafasku
Disaat dirimu ada didekat ku
Jangan kau anggap semua itu sama
Karena aku tidak sama denganmu
Jangan lagi bertingkah bodoh
Disaat akal mulai menguasai mu
Semua terasa sesak karena prilakumu
Ada saatnya kau belajar untuk itu
Agar pada waktunya semua orang
Akan memujimu.
Primadona
Oleh : Adi Bima
Dulu kamu sangat digemari
Dari yg tua sampai yg muda
Walau Batu
Kamu primadona ku
Untuk meminangmu
Sangat menguras tenaga ku
Pagi hingga larut malam dan menjelang pagi
Semua sibuk denganmu
Batu yg dulu berdebu Jadi hiasan jemari ku
Tapi kini kamu hanya teronggok lesu
Tak ada lagi yg peduli denganmu
Dan kini debu menjadi teman sejatimu
Entah apa yg dalam benak ku, sampai kau menjadi hiasan jemariku
Batu oh batu, hanya kau yg tau apa isi hatiku.
Judul : Kepala Negara
Dibuat oleh : Adi Bima
Wahai Presiden Republik Indonesia.
Bagai mana sikap seorang kepala negara.
Disaat Rakyatnya datang ke istana.
Menagih janji kepada kepala negara
Mengharap janji untuk pengangkatan pegawai negri.
Tapi janji hanya tinggal janji
Disaat itu pula seorang kepala negara sibuk dengan rutinitasnya
Akan kah janji janji yg terucap, akan berlalu pergi begitu saja.
Tak sedikit rakyat mencibirnya dan tak sedikit pula rakyat masih menyanjungnya.
Wahai kepala negara, sampai kapan
Janji janji yg terucapa akan terlaksana
Disaat rakyat masih banyak menderita
Kepala negara sibuk dengan pekerjaan nya
Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - BERTUBI-TUBI
Tak Bisa Berlari
Wahai mainkan lagu untukku
Irama gendang dan saron
Tak bisa aku berlari, gelisah merambat
Malam di kaki gunung
Tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Hanya asap tembakau
Dan kaki yang tertancap dalam
Di bumi berurai air mata
Wahai tarikan satu tarian
Dalam gelombang pasang
Impian dan harapan
liukkan tubuhmu
bergelombang perbukitan
Karena aku tak bisa berlari
Dari diamku terbalut kabut
Tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Di jejak telapak kedua kakiku sekalipun
Wahai mainkan biolamu
Di lorong keinginan menimangmu kembali
Pada deretan tangismu yang telah pergi
Malam ini tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Diantara suara nyaris hampa
Kasudpun tak lagi meninggalkan jejak
Aku hanya dalam penantian
Merentangkan waktu
Hitam dan putih
Dan menanti
Datangnya Mahsyar
Tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Hari ini
: aku seperti musnah dalam impianku !
Temanggung 2018
Sepagi ini, Ia datang
Seharusnya sepagi ini aku tak tersipu air matamu yang kelu
Jiwaku tersapu dalam sunyiku, waktu yang terpedaya
Wahai perempuan duka, anak bukit teluka
Katakan padaku seperti sebelumnya
Bahwa lelakimu tetap berwajah baja
Sepasang matanya,seliar gagak penakluk cakrawala
‘’Semalam tiga empat ekor burung piak mengitari atap rumah
Seperti mengabarkan tentang kematian,lelakiku tak kunjung berkabar’’
Katamu sedatar lautan tak bergelombang
-Aku dengar kotanya terhempas lautan
Tertelan bumi berderak terbelah-
‘’Tak tahu aku…tak tahu aku, degup jantungku menyesakkan dada
Rinduku menghentak sunyi malam-malamku, tangis anakku
Memanggil-manggilnya, Donggala, ia ada di Donggala’’
Tak mampu ia menyelinapkan cemasnya
Cahaya cintanya berlarian
Tak henti bertanya-tanya
Mencari cintanya yang lain
Lelakinya….kemana lelakinya ?
Wajahnya, sepagi itu mengingatkan aku
Pada perempuan muda penari Pontanu
Di Donggala yang dulu gemerlap
Masihkah ia meliukkan tubuhnya
Menenun Buya Sabe
Dalam irama Ngongi dan Ganda ?
Baru saja Dali Taroe
Polusu Unte
Ponto
Terlepas berserak dalam duka tak bertuan
Berluka
Berbalut Baju Nggembe
Tersapu deru laut berdzikir
Terkubur bumi terbelah
:hari itu kita harus percaya
Takdir mengunci jiwa
Ah sepagi ini
Perempuan setengah baya itu
Dan aku
bernapas dalam larva hitam magma Donggala
Temanggung 1 Oktober 2018
Bertubi-tubi
Bertubi-tubi
Langit dan bumi menghempaskan,jiwa yang leleh
Di negeri yang tak pernah bercermin
Pada Laut yang meluap dan bumi yang terbelah
Bukankah telah dikisahkan
pada kita negeri kaum Luth
yang dihujani batu belerang tanah terbakar ?
Armenia ! Orang Armenia penghina kaum beriman
Hanyut di bawah langit yang mendadak gelap gulita
Awan hitam bergulung-gulung diantara angin menderu
Dan petir menggelegar
Padang tandus menjelma bah melantakkan
Negeri kaum Nuh tinggal jejak tak bertuan
Dan Firaun beserta kaumnya, terkubur laut terbelah
Kita memang tak pandai bercermin
wajah terbelah pada kaca-kaca berserak
dibawah kibaran bendera penjarah negeri
--ya ghaffar, ya rahman…ya rahim…
Karena izin Mu musibah tumpah dari langit
Membelah bumi dan menumpahkan lautan ke daratan
Kami tak lagi memiliki bahtera Nuh, tongkat Musa
Dan tak punya kaki untuk meninggalkan negeri
seperti pengikut Luth-
Ah..kami mengira tak bersebab musabab
musibah berkali –kali menerkam negeri kami
karena kami buta jiwa dan hati
tak pernah membaca yang Engkau katakan
:*Dan apa saja musibah yang menimpa kamu
adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri
dan Allah memaafkan sebagian besar
dari kesalahan-kesalahanmu
Ya ghaffar…ya rahman…ya rahim
Air mata dan sedu sedan
Yang tertatih-tatih
Seperti bermiliar sajak di langit
Hanya seperti angin
Hanya sepintas melintas
Lalu terkubur
Tenggelam oleh waktu
Dan kami kembali
:bersorak-sorai
dalam pesta
dan pidato-pidato sakit jiwa
*[QS. asy-Syura (42): 30]
Dengan pisau
-Aku menghukum diriku sendiri
untuk memusnahkan segala kebencian
dan amarah –
Gemetar tangan tuaku
mengeratkan pisau
pada jiwaku yang risau
untuk menulis sajak :
-Masih ada cinta
untuk berpijak
dan berdiri
Di renta
yang tegak lurus
hanya satu hembusan nafas
merebahkan mimpi-
Tiada suara
jengkerik, belalang
atau hembusan angin
Bisu seperti
gelombang pasang
gelombang surut
bergayut
menambat maut
-Kita akan berlabuh bukan ? – katamu
:dermaga kecil kita
telah menunggu tali kita tambatkan
untuk berhenti bersauh – kataku
Gemetar dalam malam tak bersuara
Rentaku menepis jejak dalam kenangan
Aku menghukum diriku sendiri
Untuk memusnahkan amarah dan kebencian
Temanggung 2018
Di Tengah Gunung
Rona bunga-bunga kopi di tengah gunung
menyibak kangenku: Ah pagi ini aku memelukmu
pada desiran angin yang tak menentu kemana pergi
katamu setiap hembusannya menandai selalu
cinta yang berkibar dan tumbuh di ruang dan waktu
Katamu dermaga kecil kita adalah gunung
Lamunan yang jelmakan impian selalu ciptakan buih
:kita memang tak berada di laut
tapi angin terasa ombak dan gemersik dedaunan
bagai riak menghujankan embun
lalu jelmakan buih cinta dan kehidupan
yang tak henti menarikan tarian pepohonan
*****
Gunung dan angin
Bukit dan sungai seperti juga tebaran bunga-bunga kopi
Menebar aroma tanah tempat berpijak mengharumkan cakrawala
:Kita dan orang-orang gunung selalu bangkitkan senja
menepikan resah dengan kidung dan dandang gula
Rona bunga kopi, eidelwais dan bunga-bunga rumput
menggantungkan selalu harapan perempuan-perempuan gunung
pada kuyup para lelakinya yang terbakar matahari
datang dan pergi, datang dan pergi seperti angin
entah kemana
barangkali sampai seseorang datang bertanya
:bagaimana bisa kita menggenggam angin
Kemudian melemparkan pada senja bersama segumpal resah?
Temanggung 2018
Sabtu, 29 September 2018
Kumpulan Puisi Aulia Putry Manurung - JANGAN TANYA SIAPA AKU
PENGUSIK YANG TERUSIK
Jangan berisik
Kata hadir dengan tak asik
Sebab kupingmu terusik
Padahal kau yang mengusik
Diam
Pergi
Jangan kembali
Apa sifat arogansi telah melekat di diri
Berharap tenang
Tapi selalu mengenang
Akan sikap yang tak disenang
Pada insan yang pembangkang
Tanjungbalai, 24092018, 08.56
APM
JANGAN TANYA SIAPA AKU
Jangan pernah bertanya siapa diriku
Sebab aku hanya insan jalanan
Yang mengais rezeki dari kotoran
Tanpa mau berharap belas kasihan
Jangan tanya siapa diriku
Karena kau tak akan pernah bisa tahu itu
Jerit tangis pilu
Serta keringat yang kerap memacu
Jangan tanya siapa diriku
Jika hanya ingin mencemoohkanku
Apa tiada belas kasihmu
Sebab aku juga manusia sepertimu
Tanjungbalai, 24 September 2018
06.57
Aulia Putry Manurung (vayyeit)
Kumpulan Puisi Yuliza Yuna - AQUARIUM
-Diamku-
Diamku bukan bisu
Awalnya hanya ingin menghukummu.
Atas sikap tak bertanggung jawabmu.
Meski akhirnya yang terhukum itu tak hanya dirimu, tapi juga aku.
Tigapuluh tahun yang lalu kau hadir setelah ku.
Yang lahir sebulan sembilan hari terlebih dahulu.
Guratan nasib membuat kita bertemu hingga akhirnya aku melukai dirimu.
Meski luka itu adalah luka ku.
Tak pantas rasanya ku mengenang mu.
Saat benci mu masih jadi kutukan bagiku.
Namun setelah sekian tahun berlalu, aku masih mengenangmu.
Mengingat satu-satunya memori bahagia yang aku tahu di hidupmu.
Hanya beberapa bait sajak bisu.
Yang mungkin tanpak seperti bualan tong sampah bagimu.
Sebagai pengingat untukmu untukku
bahwa kita pernah saling bertemu.
Tembung.
27 agustus 2018
Yuliza yuna
-Beruntung-
Aku beruntung bertemu denganmu bu
Beruntung lahir dari rahimmu
Beruntung menjadi kesayanganmu
Beruntung pernah tinggal sembilan bulan diperutmu
Kau bawa dan kau elus selalu
Aku beruntung mengenalmu bu
Di tatapan pertama mataku adalah wajahmu
Di sentuhan pertama kulitku adalah tubuhmu
Di hisapan pertama mulutku adalah asimu
Dan di bunyi pertama suaraku adalah namamu
Aku beruntung memilikimu bu
Beruntung tumbuh besar di bawah penjagaanmu
Beruntung dapat menjadi anak kebanggaanmu
Beruntung di didik oleh perempuan kuat sepertimu
Kau adalah guru pertama dan akan jadi selamanya bagiku.
Tembung 15 Sepember 2018
Yuliza yuna
-Aquarium-
Di sini
Di dalam aquarium
Aku hanyalah seekor ikan kecil
Kecil di antara kerumunan ikan-ikan besar
Hidup dan terus berusaha membesar
Besar hingga mampu membuat tempatku terlihat jauh mengecil
Di sana di dalam aquarium
Kotak kaca akhirnya tanpak serupa penjara
Membuatku dan ikan-ikan di sana hidup penuh sesak dan sulit 'tuk bergerak
Aku ingin bebas
Aku ingin ke tempat yang luas
Dengan tubuhku aku berseru lepaskanlah aku
Segera lepaskan aku beserta teman-temanku
Pindahkan kami kedalam kolam
Aku ingin merasakan perubahan siang dan malam
Juga rintik dan derasnya hujan
Namun inginku tak berubah menjadi kenyataan
Meski aku akhirnya dipindahkan
Tapi tidak ke dalam kolam
Aku dilepaskan ke dalamnya lautan
Oleh sebab tubuhku terlanjur kebesaran bila harus tinggal di dalam kolam
Sebahagian temanku berada di kolam dan selebihnya ikut aku masuk lautan
Mereka saling menyalahkan dan akhirnya mati mengenaskan
Mereka mati ketakutan melihat ikan-ikan di lautan
Akhirnya aku hidup sendirian
Kembali menjadi ikan kecil yang berusaha membesar di lautan
Sejauh mataku memandang yang ada hanyalah kebebasan
Hidup diantara ikan-ikan yang mengarungi lautan.
Yuliza yuna
Tembung,14 September 2018
- Kisah di Sepotong Rindu-
Yah, kapan kau mengajakku ke sana?
Aku rindu suasana tenangmu
Sunyi senyap di peraduan terakhirmu.
Di antara berisiknya daun-daun randu
jatuh menutupi rumah kecilmu
Aku rindu kau pangku
Menatap secercah harapanmu terhadap masa depanku, melalui dua bening di matamu.
Meski itu hanya sebuah mimpi untukmu, mengatarku ke peraduan sebelum kantuk menyerangku 'tuk kemudian terlelap di sampingmu.
Tembung 13 september 2018
Yuliza yuna
-Getir-
Sendiri aku bisu
Menatap ke masa lalu
Aku lelah berdiri
Sendiri
Seperti ini
Dari pagi ke pagi
Padamu aku mengadu
Tentangku yang menepis angin lalu.
Tentang rasa ku
Tentang rasa bersalahku yang terus dan terus saja membelenggu
Hingga aku mati rasa
Aku kesepian
Mengharapkan kau serupa hujan
Di tengah-tengah hatiku yang kian kemarau
Namun kau tak jua datang
Memelukku mengajak pulang
Yuliza yuna
Tembung, 13 september 2018
Sabtu, 01 September 2018
Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - DUKA YANG MENCENGKERAM
Duka Yang Mencengkeram
Lagi-lagi aku tafakur sendirian
Air mata,desah sesak nafas
Pada bulanku purnama
Menebarkan ingatan
:Padangbai-Lembar
Masihkah jejakku terukir di pasir dan laut
Yang tergerus goncangan liar bumi
Dan gunung-gunung ?
Di suatu petang
Di Lembar aku betangkan tangan
Menangkap uap garam yang hilir mudik
Pada senja dan bulan purnama
Dari kejauhan , diatas laut yang mengabut
Padangbai melambai-lambai
Kawanan lumba-lumba menyibak lautan
Menyebarkan percikan air menari-nari
:menancapkan kerinduan
Untuk selalu mengenangnya
Kini aku benar-benar tertegun
Pada purnama ku yang temaram
Percikan air laut selat Lombok
Pada angin menjelma sembab air mata
dan kenanganpun terhapus
bumi yang bergoncang-goncang
dan kenanganpun terkelupas
dari wajahku
menghitam
jadi tanah
:inilah duka kita
Duka yang mencengkeram
Temanggung 2018
Tak Putus Rinduku
Terlentang aku disini
Di altar gunung gemunung
Terbentang luas cakrawala
Tapi tak kujumpa jua
Altar seluas Arafah
Ruang tanpa batas
Dalam rentangan jiwa terlentang
Di pelukan bukit-bukit batu dan pasir
Menggenggam nikmat
Rindu menyapu
Air mata mengadu
Terlentang aku disini
Tak kuasa menepis rindu
-ah suaramu
Wirid semiliar butir pasir
Membuat aku terapung
Dalam tanya dan harap
Adakah aku ?
Dimanakah segenap kelu dan keluh kesahku ?
Rindu, menangislah
Dalam kesempurnaan munajat
Pada kelahiranku dan kehadiran yang semu
Dalam rindu
Dalam rindu
Menangisi jiwa yang mendaki dosa
Hanyut
Hanyut aku
Dalam petualangan waktu
Tak henti pada persinggahan
Rindu,kenapa tak bosan
Merayapi gelisah ?
Temanggung 2018
Sajak buat Putriku
Aku bertanya-tanya, sampai dimanakah cinta kami padamu ?
Stasiun kecil dan lambaian tangan mengapai-gapai
Kami berpijak pada bumi dan harapan tersedu
Kau terbawa angin mimpimu
Sembari menunggu waktu
Secahaya rindu menebar-nebar
Di langit kami tersunyi
:kau tergenggam bumi dan langitmu
Yang hanya kami pijak dan tengadahi
Kepak sayapmu
Sepanjang waktu
Seperti dawai tergesek-gesek
Di langit menebar pelangi
Aku terus bertanya-tanya sampai dimanakah cinta kami ?
Pijaklah bahu dan kepala kami
Sampai kami mengerti kau tidak di pulau terpencil
Temanggung 2018
Pidato Politik untuk Indonesia
Negriku
Tak lagi setegar burung garuda
Mencakar gunung gemunung
Kibaran merah putih
Lunglai diselangkangan para koruptor
Terinjak kaki para biadab negeri
Yang memecah-mecah anak negeri
Dengan pidato-pidato sakit jiwanya
Dengan tulisan-tulisan sampahnya
yang makin menghamili keangkaraan
Dan akupun marah
:Dengan kubusungkan dada
Kuteriakkan kata
‘’ Diamlah dan berhenti bicara
Atau seribu badik laknat bakal menusuk-nusuk dada kalian ?
Diamlah dan dengarkan
Sabda langit yang mulai lelehkan matahari
Dan ingin melumat rahang dan mulut kalian ‘’
Inilah negeriku
Indonesia tumpah darahku
Yang makin terjajah dalam kegelapan
Yang menyesatkan pada kebohongan-kebohongan
yang kalian bilang sebagai kebenaran
Dan karena kebebalan
tak lagi merasa getaran sebuah kutukan
: Kalian berhentilah bersenggama dengan bumi ini
kalau hanya ingin melahirkan
bayi-bayi biadab dan laknat seperti kalian
Temanggung 2018
Sajak
1
Nafas tak terpisah dari waktu, seorang perempuan bercerita:
tentang sajak lelaki terbuang
tentu aku tak tahu karena akulah sajak itu
seperti ketidaktahuanku tentang kapan sajak disusupkan
pada angin dan hujan, pada malam dan sepi atau pada kemarau yang dingin
Seperti daun berserak, sajak terbuang di selokan lalu hanyut dimusim berikutnya, tapi aku masih saja menuliskannya dan memungut setiap katanya, merangkai dan melemparkan keluasan cakrawala sunyi
Kadang berderak seperti patahnya reranting terhempas angin
2
Sajak adalah cinta
Bergemuruh, sunyi
Menyatukan rindu dan cemas
Cinta adalah sajak
Huruf-hurufnya darah dan luka
Senggama dan menjelmakan serpihan
Rasa
Jiwa
:Kehidupan sungguh memikat
Kehidupan sungguh mendebarkan
Hanya karena cinta
Membuatnya kita tak bersedih
-Seperti ketika kita memandangi
Bunga-bunga bermekaran
Pada kemarau yang dingin
Menikmati angin sabana kering
Yang tak pernah tidur
Dan ilalang yang terus bernyanyi-
Aku selalu bilang pada sajakku
: jangan bersedih wahai
bukankah musim kering
tak selalu membawa bencana?
Temanggung 2018
Di Senja Kita
Di senja kita
Bersama mulai habisnya waktu
Kita menimbangnya dalam kenangan gemilang
Masa remaja yang telah binasa
Dan masa depan kita
Yang hampir terlunaskan
Senja, dan padang rumput yang terbakar
Dipuncak gunung sana, membuat aku sering ketakutan
“Kau menyeret senandung rindumu
Dalam sepi, atau aku menggantungkan sunyi
Di langit yang bertebaran bintang
Tanpa kau, atau kau tanpa aku’’
Aku menghiburmu hanya dengan sajak
Tak berani aku menantang usia kita
Yang makin reot dan kusud
Tapi kita adalah jiwa, tak terpatahkan
Kenangan yang mestinya telah terbuang
Bolehlah kita tengok:
Disana tertata rapi episode demi episode
Kehidupan yang tertatih-tatih
Lalu menandai kebangkitan kita
Untuk tetap bertahan dalam amuk samodra
Dan angin gunung semerbak bunga
Berganti-ganti musim menghempaskannya
Setiap senja
Tak terasa , senyum kita adalah langit makin temaram
-ah tapi matahari masih bersinar terang
Dan dengan nafas kerentaan hidup kita
Kita masih ada, melautkan kehormatan kita sebagai manusia
Karena kita adalah senandung langit
Dalam ketegaran
Yang tak terkalahkan-
Temanggung 2018
Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - TUNGGU AKU DENGAN CINTAMU
# TUNGGU AKU DENGAN CINTAMU #
Rindang pepohonan,
Meneduhi perjalanan,
Aku melangkah perlahan,
Menelusuri bayang kenangan,
Mengecap kerinduan,
Yang tak hilang di ingatan.
Belaian sang bayu,
Hanyut kan ilusi,
Hasrat ku merayu,
Menyapa sebuah ilusi,
Menyeka seiring rasa ragu,
Yang menghantui di sanubari.
Ahh,,,
Biarlah ku cumbu kata setia,
Mungkin inilah cinta,
Relakan cemburu meraja,
Relakan jiwa tersiksa,
Demi untuk dapat hidup bersama,
selamanya dalam ikatan rumah tangga.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 26:08:2018
# JANGAN PECAH BELAH KERUKUNAN INDONESIA #
Kemarahanmu bagaikan auman seekor singa,
Singa yang telah lama bertapa,
Singa yang hidup dalam goa padang sabana,
Ternyata kau merintih dalam kancah dosa,
Umpama singa lapar dan haus di tengah padang sahara,
Hindari burung nazar yang siap memangsa.
Teriakanmu bagaikan lowongan sekelompok srigala,
Di tengah malam bulan purnama,
Seakan memberi kabar ancaman datangnya bahaya,
Ternyata itu hanya gonggongan di tengah kota,
Di antara sampah sisa sisa manusia,
Untuk dapat tidur nyenyak walau sehari saja.
Dapatkah kau memahami arti perjuangan,
Berjuang bekorbankan harta dan nyawa,
Demi sebuah arti ke kemerdekaan,
Demi kekuatan Pancasila dan Indonesia Tercinta,
Demi cita cita anak cucu untuk dapat meraih impian,
Di dalam satu negara yang aman makmur dan sejahtera.
Pikirkan jika para pejuang itu masih ada dan bicara,
Banggakah mereka dengan apa yang kamu bisa.
Demi anak cucumu juga Merah Putih dan Pancasila.
Demi adat budaya dan kerukunan ummat beragama.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 04:09:2018
# TERIMA KASIH ( DELIMA ) #
Hanya sebentar,
Terdengar hingar bingar,
Dari kabar yang tersiar,
Walau mungkin hanya sebentar.
Aku bersimpuh bangga,
Mereka merasa gembira,
Dan mereka bersuka ria,
Mendengar kabar bintang ibu kota.
Jadilah terbaik buat kami,
Aku abang mu,
Sahabat saudara mu itu kami,
Familie's kato kota kerang mu.
Kuatkan tekat,
Sekeras besi,
Bakar semangat,
Sepanas api,
Tapi ingat dan terus ingat,
Akan berkah karunia Illahi.
Buat Delima masih berbangga masih,
Sekapur sirih,
Seharum kembang selasih,
Kami ucapkanTerima kasih.
HORAS,,, KONCO KAMI.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 23:092018
# RINAI HUJAN MALAM #
Rinai hujan,
Basahi sunyi sepi,
Aku kehilangan rembulan,
Rembulan yang menerangi hati,
Menerangi kehampaan,
Yang menemani kesendirian ku ini.
Aku kian terpuruk di kegelapan,
Entah kemana sirnanya air mata,
Ratap ku hilang di irama curah hujan,
Tatapan ku terperangkap terpana,
Terperosok di angan angan,
Yang tak mungkin lagi menjadi nyata.
Namun biarlah rindu menyelimuti,
Memeluk hampa di malam sunyi sepi,
Tampa rembulan yang menerangi hati,
Bersama hujan yang terus membasahi,
Basahi setiap tetes air mata ku ini,
Hinga hari nanti datang menjemput mentari.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 17:09:2018
Minggu, 05 Agustus 2018
Kumpulan Puisi Tasya Aliza Putri - SEDIHKU
♧■■ SEDIHKU ■■♧
☆■■ KARYA :Tasya Aliza Putri ■■☆
Rapuh jari menusuk jiwa telaga malam
Air hujan membasahi jembatan berdaun
Dingin raga ini namun itulah pilu hati
Sendiri aku duduk disini embun pun menciumku
Langit malam turunkan rintik -rintik embun
Agar basah rinduku tujuh sinar berbalik kering
Rumput hijau tak berwarna lagi salahkah diri ini
Kunjungan lembah jalan bertiup angin debu
Rambut yang hitam bergumpal basah
Sepertinya ya ikut menangis atas diriku
Sepi mencekam tak ada pengobat luka
Seraut wajah manis molek indah menawan
Cantik angun bergaun bunga unggu
Kasih jemputlah aku dalam penamu
Tak kusangka hatinya berubah padaku
Purnama tiba namun gelap hati
Perih itu masih membekas diujung sedihku
Debu bertangga hitam luapan penugu syair
Dan bertaya pada jiwa masihkah dia sayang padaku
Kering sudah air mata menahan pilu dan derita
Peluk batin rintik hujan berembun putih
Gadisku patah sayapnya namun masih
Tetap bertahan untuk tegar berbalik sedihku
Percut 4_Agustus_2018
#gadisembun
GAUN AIR BERSELIMUT PILU
Detak ombak melambai pilu dermaga laut
Awan hitam menangis berubah putih
Bintang bersembuyi seperti berteduh
Panorama langit di malam ini sungguh perih
Bisik bibir laut bermandi pasir
Tubuhku lemas berselimut pasir laut
Basah tiada bergaun ombak laut biru
Jatungku berhenti sejenak mataku
Tertutup lembah pasir butiran laut
Lemas sekujur tubuh tak ada daya
Terhimpit kepiluan tangisan jari
Kembar laut tuangkan sejuta resah
Sukma ning tirta naluri berkunjung ke atas langit
Kasih aku tugu jemputmu melambai
Tirai telaga lembah ombak berawan
Wangi berbalut sehelai pasir terdampar
Muara tiada kembali sungguh kejam hatimu kasih
■■KARYA: TASYA ALIZA PUTRI ■■
Percut 2_Agustus _2018
#gadisembun
#untukmu_penjaga_hatik
Kumpulan Puisi Layla Dct - PILIH
PILIH
kita bahkan masih bisa memilih
Menjaga semua tulisan
Yang kan mewangi diatas pusara
Bila tiba masanya
Maut menjemput dalam dekap hangatnya
Lepaskan fana
Yang silaukan mata
Ini seperti pahit
Yang kan berbuah manis
Meski penebusnya adalah jarak
Kekang pada ambisi jurang
Seluma 5 Agustus 2018
RUMAH API
harus seperti itu?
Terbakar dalam rumah apimu??
Sedang aku bukan hujan
Dan tak jua padamu.
Seluma, 4 Agustus 2018
RINDU
Setepat engkau mengatakannya
Kau hapus semua jejakmu
Tanpa sisa
Selain kenang
Seperti naskah yang telah di jilid
Mungkin rasa membawamu
Tersesat di pulau angan
Tanpa harap kan berlayar pulang
Tempat kembali
Serupa semai yang akan tumbuh
Mengilhami tunas-tunas yang membawa rona ke senja
Dan senja ke baka
Karya : Layla Dct
Seluma, 27 Juli 2018
Jumat, 03 Agustus 2018
Kumpulan Puisi Nimas - SENANDUNG
Permintaan
(Nimas Sayu Dara)
Bias mentari mengusap wajahku perlahan
Membangunkan lelap dalam dingin embun semalam
Ingatanku terjaga tiba-tiba
Padamu Tuan, belahan jiwa
Butir embun menganak sungai
Sederas pilu ketika engkau tak lagi di sisiku
Sederas rindu yang tak mampu lagi aku pendam
Hingga nyeri tak sanggup aku sembunyikan
Wahai waktu ....
Kembalikan kekasihku
Ijinkan kami kembali bertemu
Untuk meretaskan simpul ragu yang membelenggu
Wahai jarak ....
Jangan selama ini meminjam dia dan membuat kami berjauhan
Sebab rasa rinduku kini bagai bumerang
Datang dan menyerang tanpa diundang
Lampung, 31 Juli 2018
#SayuDara
Senandung
(Nimas Sayu Dara)
Aku masih kidung yang senantiasa lantunkan tembang rindu, untukmu
Dengarlah senandungnya pada kedalaman hatimu
Bukankah masih tetap setia nada-nadanya menggema dalam cinta?
Aku masih serumpun ilalang, yang senantiasa bertahan dalam gersangnya semesta
Yang tak pernah letih memancang asa
Meski acapkali harus terkulai kering sebab embun yang tak juga turun
Aku masih telaga tempatmu melepas dahaga
Saat langkahmu payah penuh lelah dan luka
Senantiasa kujaga damaimu di sini
Meski setelahnya engkau berlalu pergi, tak lagi kembali
Akulah bait duka yang selalu kau lupa
Ketika pena kau tuang untuk menulis sajak romansa
Aku ....
Senandung yang masih setia mengalun
Meskipun pesta telah lama usai
Lampung, 30 Juli 2018
#SayuDara
Pejuang
(Nimas Sayu Dara)
Tetes keringat mengalir bersama genangan darah
Membasahi bumi pertiwi tercinta
Jerit tangis anak istri berkumandang
Pilu meneriakkan namamu
Beribu peluru dan mesiu
Menjamah seluruh nusantara
Darah menggenang di mana-mana
Demi membela negara tercinta, Indonesia
Merdeka!
Merdeka!
Tak perduli hidup atau mati!
Terus maju, pantang mundur
Demi Sang saka Merah Putih
Merdeka!
Telah 73 tahun kini kemerdekaan kami nikmati
Berkat perjuanganmu wahai pahlawan
Takkan hilang dalam ingatan
Atas pengorbanan jiwa dan raga, hidup dan matimu
Merdeka!
Seluruh penjuru berseru
Untukmu Indonesiaku!
Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara
Embun Juli
(Nimas Sayu Dara)
Ketika beningnya luruh
Ia begitu malu
Hanya mengintai lewat dahan dan ranting kering
Menyembunyikan kilaunya pada kelopak-kelopak kembang
Embun Juli
Mendendam rindunya pada rerumputan
Hingga dingin menggigilkan pagi
Membeku dalam sunyi
Embun Juli
Ilalang patah hati
Gemerisiknya kering kini
Rindunya urung terobati
Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara
Hingga Akhir Waktu
(Nimas Sayu Dara)
Lemah ragaku bersandar pada bahumu
Menahan ribuan sakit dan nyeri yang tak terperi
Jangan beranjak pergi ....
Aku mohon, tetaplah di sini
Memelukku dengan lantunan doa-doa suci
Tetaplah di sini menemani
Aku ingin melihat cantiknya mentari pagi, sampai senja berpendar di cakrawala
Bersamamu, kekasih
Hingga nanti, ketika satu-satu detak jantung dan denyut nadi berhenti
Aku .... Tetap ingin lelap dalam hangat pelukanmu
Lampung, 05 Agustus 2018
#SayuDara
Fajar Masih Saja Embun
(Nimas Sayu Dara)
Apa kabarmu fajar?
Beberapa purnama berlalu hambar
Segenap rasa hening tersandar
Melewati tiap inci pagi yang beranjak lamban
Apa kabarmu fajar?
Dalam gigil embun kemarau engkau berpijar
Berselimut kabut yang menebal
Apa kau lupa cara menebar hangat dan pendar
Hingga pagi begitu larut dalam dingin yang tak beraturan
Apa kabarmu fajar?
Yang kini tersesat pada pekat halimun dan rinai embun
Masihkah menitipkan kehangatan pada jingga senja?
Lampung, 12 Agustus 2018
#SayuDara
#Kemarau_Agustus_makin_berkabut
Share_pict_from Dara Utami
Langganan:
Postingan (Atom)












