RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 20 Mei 2021

Cerpen : SENYUMMU BAHAGIA KAMI - Nengicha



   SENJA hampir tenggelam dalam kelam. Jingga mega hiasi cakrawala sebentar lagi akan sirna, ditelan gelapnya malam. Cukup lama aku menunggu mas Yoga, dan akhirnya sampai juga dia di tempat yang dia janjikan, di taman kompleks yang tidak jauh dari rumah.

"Kok terlambat sih, katanya jam 6 petang?" tanyaku.

"Iya, ada sesuatu di rumah, yuk langsung" dia pun menjawab sembari menggandeng tanganku menuju motornya.

Kita langsung melaju ke tempat biasa kita nongkrong, di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari komplek perumahan tempatku tinggal.

"Dinda makan apa?" Tanyanya.

"Nasi goreng aja sama teh hangat" jawabku.

Selama perjalanan tadi perutku terasa mual, sepertinya masuk angin.

"Dinda" adalah panggilan mas Yoga ke aku.

Malam itu kita makan sambari melepas rindu, dengan bercanda tawa dan ngobrol apa saja yang ada. Sungguh, hati teramat merindukan saat-saat seperti itu.

Cukup lama kita tidak jalan bareng. Maklum, hubungan kita agak rumit. Belum ada restu dari Ayahku. Ayahku adalah orang tuaku satu-satunya, karena Ibu meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit. Dan saat ini pun Ayahku sedang sakit. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya lama-lama. Ayahku tidak suka sama mas Yoga, dan aku sendiri tidak tahu alasannya.

Meski udara malam terlalu dingin terasa. Namun betapa bahagianya saat itu kurasa. Kerinduan yang lama tak tersampaikan, kini tercurah sudah, cukup dalam seduhan canda tawa riang bersama dengan satu rindu. Bersama dia sang pujaan hatiku. Tawa lepas semburat bersahutan.

Hampir tiga jam, namun waktu tak terasa telah melaju dengan cepatnya.

"Risty!" dari kejauhan terdengar suara Nina memanggil aku.

Aku melambai untuk mengajaknya bergabung di meja kita.

"Hi, berdua saja?" tanya Nina.

"Iya, seperti yang kamu lihat" jawabku.

Nina adalah karibku. Dia tempat aku mencurah segala rasa dalam jiwa.

Tangis dan tawa sering aku curah kepadanya.

"Nina mau makan apa?" tanya mas Yoga.

"Gak usah aku udah makan, minum aja jus apel"

"Bentar tak pesenin dulu" sahut mas Yoga.

"Ris, apa kabar kamu dan Yoga?" tanya Nina.

"Kalau hubungan kita, baik baik aja. Tapi Ayahku yang masih... Begitu lah" jawabku.

"Kamu udah coba deketin, kenapa sebab Ayah kamu gk bisa nerima?" tanya Nina lagi.

"Belum sih, mungkin besok aku akan usaha"

"Iya, kamu sendiri yang harus bisa yakinin Ayah kamu" ungkap Nina.

"Jus apelnya Nin" mas Yoga datang dengan segelas jus apel di tangannya.

"Lho, kamu tunguin?"

"Kenapa gak dianter pelayan aja? Tanya Nina sama mas Yoga.

"Iya, gak apa-apa, biar cepet aja, cafenya lagi rame soalnya" jawab mas Yoga.

Setelah beberapa saat kita ngobrol bertiga, akhirnya mas Yoga ngajak kita pulang.

"Pulang yuk, ntar Dinda dicari Ayah lho" ungkap mas Yoga padaku.

"Iya deh, pulang yuk Nin !"

"Hayuk, aku juga tadi mau pulang, tapi ngeliat kalian di sini jadi pingin mampir" jawab Nina.

Kita bergegas pulang, Nina pulang dengan motornya sendiri. Dan aku tetap bersama mas Yoga. Seperti biasa, aku dianter hanya sampai gang komplek perumahan. Karena kita gak mau ada masalah yang berlanjut karena Ayah melihat kita bersama.

**

   Betapa cerah pagi itu. Hangat mentari mampu hangatkan ragaku yang sedang pilu saat itu. Seperti biasa Ayah berjemur di belakang rumah. Menghangatkan badannya, sambil menikmati secangkir teh panas yang belum lagi aku buatkan. Dahulu Ayah suka kopi, tapi semenjak lambungnya bermasalah, Ayah menjauhi minuman hitam tersebut.

"Ayah, teh panas dan semangkuk bubur dah sampai" sapaku dengan senyum ceria.

"Buburnya nanti saja, tehnya saja bawa sini" sambung Ayah.

"Buburnya sekarang juga Yah, biar Risty suapin"

"Baiklah, kamu gak ada kuliah?" tanya Ayah.

"Enggak Yah, maka dari itu jadwal Risty seharian ini hanya menemani Ayah" sembari kulepas senyum untuk ayah. Dan Ayah pun tersenyum membalasku.

Setelah semangkuk bubur dan secangkir teh panas ternikmati, aku memulai percakapan.

"Yah, Risty boleh tanya?"

"Tanya apa? Sepertinya serius?" Balas Ayah.

"Eeemm, tentang mas Yoga, kenapa Ayah tidak suka sama mas Yoga? Alasannya apa Yah?" tanyaku.

"Emang Ayah pernah bilang gak suka sama Yoga?" Sambung tanya Ayah.

"Terus kenapa Ayah nolak lamaran dia? Bahkan melarang aku deket sama dia? Sahutku.

"Risty, kamu adalah anak semata wayang Ayah, Ayah ingin kamu bahagia, Ayah ingin kamu hidup berkecukupan, dan lebih baik lagi dari sekarang" ungkap Ayah.

"Maksud Ayah?" tanyaku.

"Tempo hari pak Bowo sempet melamar kamu untuk anaknya yang jadi pengusaha di Riau, tapi belum Ayah terima, dan sekarang Ayah berniat mau menerima lamaran itu" jawab Ayah.

"Ayah!, tidakkah Ayah sayang sama Risty?" tanyaku.

"Justru Ayah sayang Risty, Ayah ingin Risty hidup berkecukupan" sahut Ayah.

"Terus Ayah gak mikirin perasaan Risty?" sambungku.

"Masalah perasaan, dijalani dulu, pasti perasaan itu akan muncul dengan sendirinya" jawab Ayah.

"Ayah!" sahutku dengan nada agak tinggi, dan air mata yang tak kuasa lagi aku bendung.

Aku pergi meninggalkan Ayah dengan mengemas alat-alat makan Ayah menuju dapur. Dengan derai air mata yang tidak tertahan, aku masuk kamarku.

Pagi cerahku kini meredup. Dengan tirai sendu yang teramat kalut. Hati teramat gundah, pun pikiran yang teramat buncah. Air mata yang tiada deras lagi, namun masih saja berjatuhan dengan sendiri. Setelah beberapa jam aku ada di dalam kamar. Mungkin Ayah telah selesai berjemur.

"Risty ...!" terdengar suara Ayah dari luar.

Aku bergegas keluar sembari bersihkan air mataku. Dan aku jumpai Ayah duduk di kursi meja makan, tepat di depan kamarku.

"Iya Ayah"

Ayah memegang tanganku saat aku telah dekat dengannya.

"Kamu menangis?, kenapa kamu menangis?" Tanya Ayah.

"Nggak apa-apa Ayah" jawabku.

"Kalau kamu gak suka, kamu bilang, dan Ayah akan menolak lamaran pak Bowo, bukan apa-apa yang Ayah inginkan, cuma kebahagiaanmu saja. Seorang anak Ayah semata wayang, yang amat Ayah sayang" ungkap Ayah yang tidak sanggup aku mendengarnya. Tidak kuasa air mata kembali bercucur, aku memeluk Ayah dengan sangat erat. Seorang Ayahku yang amat aku cintai, yang bertubuh lemah karena telah sakit-sakitan.

"Risty sangat sayang Ayah, dan Risty gak akan nolak apapun perintah Ayah, apa pun akan Risty lakukan untuk membahagiakan Ayah" ungkapku dengan derai air mata yang tak tertahan.

"Dan Ayah cuma ingin melihatmu bahagia, bukan yang lain" jawab Ayah.

"Yah sudah, nanti malam suruh Yoga temui Ayah" ungkap Ayah sambil melepasku yang sedang dalam pelukannya.

Air mata ini masih terus saja mengalir, rasa haru, rasa bahagia, dan rasa sayang pada Ayah teramat hebat, yang membuat air mata ini tidak bisa aku hentikan.

**

   Senja itu memancarkan jingganya dengan penuh keindahan. Mewarnai wajah langit dengan penuh keceriaan. Tiada dapat terlukis sebuah kebahagiaan yang sedang Tuhan anugerahkan kepadaku. Sore itu aku telpon mas Yoga, dan aku menceritakan semua kejadian tadi siang. Betapa bahagia mas Yoga saat itu. Terdengar pada setiap kata-kata yang dia ungkap dalam telpon. Baru saja aku pulang dari mushollah untuk menunaikan sholat maghrib, dan meletakkan mukenah di kamar, terdengar suara motor mas Yoga berhenti di luar. Betapa bahagiaku tidak bisa dilukis dengan kata saat itu.

"Assalamualaikum" terdengar suara mas Yoga.

"Waalaikum salam" jawabku sembari bukakan pintu dengan rasa bahagia yang tak terkira.

"Masuk mas, Ayah masih di mushollah" sambutku.

Dan aku kebelakang untuk membikin teh.

Tidak lama kemudian Ayah pulang dari mushollah.

"Assalamualaikum" terdengar dari dapur suara Ayah yang baru pulang.

"Waalaikum salam Ayah" jawab mas Yoga sembari menyambut dengan uluran tangan, yang hendak cium tangan Ayah. Dan mereka duduk di sofa dengan posisi berhadapan.

Dan Ayah pun memulai percakapan.

"Kamu sudah lama?" tanya Ayah.

"Tidak Ayah, baru saja sampai" jawab mas Yoga.

"Kamu sayang sama Risty?" tanya Ayah

"Sangat Yah, aku sangat mencintai Risty" jawab mas Yoga.

"Ayah akan merestui kalian, tapi dengan satu syarat" sambung Ayah.

"Syarat apa Yah?" tanya mas Yoga.

"Kamu harus berjanji untuk bisa bahagiakan Risty, entah dengan cara apapun itu" ungkap Ayah.

"Iya Yah, aku janji" sambung mas Yoga dengan binar mata penuh kebahagiaan.

"Ayah sangat sayang Risty, dan keinginan Ayah, hanyalah melihat Risty bahagia" ungkap Ayah.

"Iya Yah, aku janji akan bahagiakan Risty" jawab mas Yoga kembali.

"Ya sudah, minggu depan ajak orang tuamu ke sini, untuk melamar Risty" lanjut Ayah.

"Iya Yah, siap." jawab mas Yoga dengan senyum paling bahagia.

"Ya sudah, Ayah ke kamar, jangan malam-malam pulangnya, satu jam saja, terus pulang" perintah Ayah sambil beranjak dari tempat duduknya.

Malam itu sebuah kebahagiaan yang tak terhingga untuk kita berdua. Dan malam itu sebuah kebahagiaanku telah dimulai. Kebahagiaan yang nyata. Bersama mas Yoga dan Ayah. Dua orang yang teramat aku cinta. Dan semoga kebahagiaan ini akan abadi hingga akhir nanti.

*****TAMAT*****


Cerpen :
SENYUMMU BAHAGIA KAMI
#Nengicha
MK. Juli 2019




Cermin : SEPATU BUTUT - Pandu Eva


 

   SEORANG anak perempuan berlalu pergi sendirian. Tampaknya ia sengaja berjalan berjauhan dari sekelompok anak seusianya, yang juga sedang menuju arah pulang.

Jika diperhatikan, memang ia berbeda dari anak-anak tersebut. Seragam sekolah, tas, dan sepatunya keliatan lebih usang dari pada yang lain. Resleting tas sudah tak berfungsi, tertutup menggunakan peniti. Tali sepatunya pun sudah tak ada, diganti dengan tali plastik (rafia). Belum lagi bagian bawah sepatu sudah tak menempel sebagaimana mestinya. Sesekali Rizka melihat ke arah teman-temannya. Membandingkan semua benda yang melekat di tubuh mereka. Jika sudah begitu, ada perasaan sedih di hatinya.

***

   "Kamu, sudah pulang, Nak?" tanya Supardi kepada Rizka. "Pulang lebih awal?"

"Iya, Ayah. Guru-guru rapat," jawabnya.

Rizka membuka sepatu. Supardi memperhatikan bagian bawah sepatu putrinya. Ia menghampiri, diambilnya sepatu itu.
"Nanti, Ayah lem lagi ya?"

Rizka mengangguk, dan berlalu masuk ke dalam rumah. Sudah kesekian kali sepatunya dilem oleh Ayahnya. "Sudah biasa!" Rizka menarik napas.

***

   Supardi menaruh sepatu putrinya di dekat kompor, berharap lekas kering lemnya, terkena hawa panas. Karena sepatu itu tak mungkin ia jemur. Matahari telah selesai tugasnya, disembunyikan sinarnya. Berganti dengan sinar bulan.

"Sudah makan, Nak?" tanya Supardi, "maaf, di dapur cuma ada nasi dan tahu saja. Ayah cuma sanggup beli tahu. Pak Budi belum memberi upah mingguan. Besok dia baru pulang dari luar kota."

"Iya, Ayah. Aku sudah makan."

"Sepatumu, sudah Ayah lem, ya. Besok bisa kamu pakai."

Rizka mengangguk. Matanya sudah tak dapat diajak kompromi, rasa kantuk yang menyerang, tak sanggup lagi menahan kelopak matanya. Ia pun tertidur.

***

   Selesai mengerjakan tugas rumah, Rizka bersiap-siap berangkat sekolah. Diambilnya sepatu yang telah dilem oleh Ayahnya. Diamati dengan seksama, lumayanlah, lebih rapi dari kemarin. Minimal sudah tak berlubang lagi, gumamnya. Namun, nahas. Saat dipakai, lemnya terbuka kembali. Tampaknya sudah tak bisa diperbaiki. Karena sudah beberapa kali dilem. Rizka menarik napas.

Supardi melihat raut kesedihan, di wajah putrinya.

"Nanti, Ayah belikan yang baru, ya."

"Iya, Ayah." Rizka tersenyum, diciumnya punggung tangan Supardi. Tak ingin Ayahnya ikut bersedih.

***

   Rizka terkejut. Saat melihat sepatu dikamarnya. Diamati lekat-lekat. Warna hitamnya pekat. Talinya putih bersih tanpa noda. Alas bawahnya pun tanpa cela. Masih baru! Batinnya berkata, tapi Ayahnya tidak mengatakan apa-apa, sejak ia pulang sekolah tadi.

Ia, tergopoh-gopoh mencari Ayahnya. Tak dapat membendung rasa bahagia.

"Kamu kenapa, Nak? Ngos-ngosan begitu."

Rizka memeluk Ayahnya. Diangkat sepasang sepatu baru kehadapan Supardi.

Supardi tersenyum. Dielus kepala putrinya.

"Ayo! Makan bareng Ayah," ajaknya.

Mata Rizka seketika membulat. Tak percaya dengan apa yang ia lihat di meja. Lauk-pauk yang hampir tak pernah ia makan. Ayam goreng, ikan bakar dan sambal kecap.

"Waaawwww. Ayah, pasti sudah diberi upah oleh Pak Budi ya?"

Supardi tak menjawab. Ia dan putrinya makan dengan lahap. Malam ini mereka sangat bahagia.

***

   Malam semakin larut. Supardi terlihat melipat pakaian mendiang istrinya. Semua barang-barang istrinya ia kembalikan ke dalam karung. Gambaran kegiatan siang tadi, terlintas kembali. Di sebuah pasar, seorang banci bernyanyi. Dari satu warung ke warung lain, menyusul bernyanyi dari pintu ke pintu.

Gerombolan bocah pasar mengolok-olok. "Ada banci ... ada banci ...." Sambil tepuk tangan. Tak ada amarah sedikit pun menanggapi bocah-bocah nakal itu.

Di benaknya hanya ada,Ia harus mendapatkan uang, untuk mengganti sepatu butut putrinya dengan sepatu baru. Karena hari ini, Pak Budi belum pulang dari luar kota, dan upah mingguannya. Belum terbayar. Dan ia sudah terlanjur berjanji pada Rizka.

***END***


Cermin (Cerita Mini)
SEPATU BUTUT
Oleh: Pandu Eva.
Jakarta, 17 February 2019



Cermin : HIJRAHNYA PENCURI - Pandu Eva


 

HUJAN, membuat suasana malam menjadi sepi. Tak ada satu orang pun berlalu-lalang, hanya terdengar suara beberapa binatang malam. Maklum daerah perkampungan.

Keadaan membuatku mudah beraksi. Rumah Bu Hajah Odah, janda baru empat hari ditinggal suaminya, terlihat lengang. Mungkin beliau, sudah terlelap bersama ketiga putranya. Aku mengendap-endap, seraya berjinjit. Mulai celingukan, berjaga-jaga, khawatir ada yang melihat aksiku. Sebelum beraksi, aku mengenakan lebih dulu seragam tugas. Pakaian serba hitam dengan topeng hitam pula.

Langkah pertama mencongkel pintu berhasil, menyusul dengan berjalan ke arah kamar. Kondisi rumah mendukung sekali aksiku. Hanya ada ruang tamu, satu kamar, dan dapur. Sangat sederhana. Di kamar aku melihat Hajah Odah terlelap bersama ketiga putranya yang masih kecil. Lalu menelusuri lemari, perlahan tanpa menimbulkan suara.

'Di mana dia menyimpan uang selawat dari para warga?'

Lalu mataku menangkap benda bulat yang ditutup dengan serbet. Dengan mengendap aku menghampiri dan membukanya. Ternyata di tempat ini Hajah Odah menyimpan uang selawat. Kondisinya masih di dalam amplop. Tanpa berpikir lama, aku meraup semua amplop tanpa sisa. Ditaruh dalam kantong celana, yang terdapat beberapa di kanan dan kiri. Setelah berhasil, aku pun pergi.

***

   Setelah beberapa kali mengetuk pintu. Marni, istriku membukakan pintu rumah.

"Sudah pulang, Mas?" tanya Marni.

"Iya, cape banget," ujarku seraya memijat tengkuk leher.

Lalu aku mulai merogoh kantong celana, mengeluarkan beberapa lembar uang cukup banyak. Uang selawat yang kucuri. Setelah sebelumnya dikeluarkan semua dari amlop. Di jalan.

"Ini, simpen!"

"Wah. Dapat rezeki ya, Mas? Alhamdulillah ya Allah, uang ini bisa kita pakai buat biaya lahiran," seru Marni bahagia. Diciumnya uang itu berulang kali, seraya mengucap hamdalah.

Istriku memang sedang hamil tiga puluh empat minggu. Sebentar lagi anak pertama kami mengecap dunia luar. Mencuri menjadi pekerjaan sampingan, selain menjadi kuli panggul di pasar. Terkadang aku mencopet juga. Lumayan buat tambahan. Namun, Marni tidak pernah tahu.

Keesokan paginya Marni bercerita.

"Kasian deh, Mas. Bu Hajah Odah rumahnya kemalingan semalam. Semua uang selawat raib. Padahal sengaja dia ga mengadakan pengajian. Karena uang itu buat makan sehari-hari."

"Trus?" tanyaku cuek.

"Iya, kan sekarang ga ada yang cari nafkah," ujar Marni dengan nada prihatin.

"Loh, masa ga punya uang bisa naek haji," celetukku.

"Loh. Mereka naek haji dibayarin keluarga besar Bu Hajah Odah, Mas."

"Ya, kalo gitu, minta makan aja sama keluarganya besok." Aku mengatakan dengan santai, seraya menikmati gorengan yang sedari tadi ada di hadapanku.

Terlihat Marni menghela napas, "Bu Hajah tipe orang ga mau merepotkan orang lain," sambungnya.

***

   Memasuki minggu ke tiga puluh lima usia kehamilan Marni. Tiba-tiba ia mengeluh sakit di bagian perut. Dengan sigap, aku membawanya ke bidan. Ternyata, sudah waktunya Marni melahirkan. Dari luar ruang bersalin, aku mendengar Marni teriak menahan sakit. Tak ketinggalan suara bidan dan asistennya ikut membantu proses melahirkan. Namun, tak berapa lama, suara rintihan dan teriakan Marni sirna. Tangisan bayi pun tak terdengar.

Setelah beberapa menit. Bu Bidan keluar ruangan.

"Maaf, Pak Santo. Ibu Marni dan bayi tidak tertolong. Terlalu banyak pendarahan, dan bayi saat keluar sudah tak bernapas. Di leher sang bayi ada lilitan tali pusat." Bidan menjelaskan detail.

Kakiku mendadak tak bertenaga. Kepala sakit, pandangan mulai buram. Dalam kesedihan dan kesakitan, aku mendengar ceramah seorang ustad, yang sedang didengarkan oleh salah satu perawat. Menggunakan ponsel.

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka Neraka lebih pantas baginya.”( HR. Ath-Thabrani).

"Oleh karena itu kaum muslimin, para kepala keluarga, berusahalah memperoleh rezeki yang halal dengan cara yang halal pula."

Penggalan ceramah itu membuat bulu kudukku meremang, ada rasa sedih terpatri di hati. Teringat pekerjaan sampingan yang kujalani. Mencuri dan mencopet.

'Apa kepergian Marni dan anakku, adalah teguran dari-Nya?'

***

   Aku tak dapat membendung cairan bening yang telah memenuhi kelopak mata. Jatuh deras bersamaan helaan napas tak beraturan. Melihat istri dan anakku dimakamkan.

Setelah proses pemakaman selesai, aku melangkah menuju masjid yang berada tak jauh dari tempat pemakaman. Mengambil wudhu, menjalankan sholat tobat, sambil menanti masuk waktu Zhuhur.

Menangis, memohon ampun pada zat yang Maha Pengampun.

Setelah puas mengeluarkan isi hati pada pemilik semesta, aku bergegas pergi. Saat tengah berada di depan masjid, aku melihat Bu Hajah Odah dan ketiga putranya yang masih kecil sedang berjalan, menjajakan kerupuk, menawarkan kepada orang-orang yang berlalu-lalang.

'Maafkan saya, Bu Hajah. InsyaAllah saya janji akan mengganti uang Ibu dengan jalan halal."

_End_



Cermin (Cerita Mini)
Hijrahnya Pencuri
Oleh : Pandu Eva



Cermin : BUKAN MENOLAK REZEKI - Pandu Eva


 
   REZEKI tak selamanya berupa materi, orang baik yang kerap ada di sekeliling kita pun adalah rezeki. Namun, kita tetap harus mengerti, untuk selalu membalas budi, bersyukur dan mendoakannya.

"Epoy, nanti gue transfer elo 500 ribu ya. Tolong kasihin temen gue. Dia lagi ngawinin anaknya. Jangan lupa amplopin yak," ujar Mba Yati dari seberang telepon.

"Iya, Mba!" jawabku.

"Nanti gue kirim sejuta ya. 500 lagi buat elo."

"Hah! Ga usah, Mba. Serius! Bukan nolak rezeki. Tapi Mba udah terlalu banyak kasih uang ke aku. Nanti aja kalo butuh. Bisa minta atau pinjem. Ya, mudah-mudahan aku ga ngerepotin Mba lagi," tolakku pada Mba Yati.

Mba Yati bukan kakak kandungku, tapi kebaikannya sudah seperti saudara sekandung. Bukan tanpa alasan aku menolak pemberiannya. Bukan pula karena sudah berlebihan. Apalagi menolak rezeki. Sekali lagi bukan!

Namun, rasa tak enak hati. Ini nyata, bahwa ada orang sebaik beliau di sisiku. Kalau mau dihitung, entah sudah berapa banyak beliau memberiku secara cuma-cuma. Dari jumlah besar hingga kecil.

Bahkan aku pernah diberinya modal dagang sebesar 3,1 juta. Belum lagi saat aku melahirkan, ia kirim sejuta. Tiap lebaran tak pernah lupa beri THR 500 ribu. Aku bersyukur sekaligus tak enak hati. Setelah beliau beri modal sebanyak itu, aku hanya bisa menekankan padanya ....

"Mba, mulai tahun depan. Aku mohon ga usah kasih THR 500 ribu lagi. Anggap aja itu modal 3,1 juta. THR yang Mba kasih di muka,'' tegasku padanya.

"Ya, gak gitu dong. Doain aja gue banyak rezeki. Biar tetep bisa kasih elo THR tiap tahun."

"Bukan gitu! Nanti keenakan aku. Ga lah, Mba. Makasih banyak. Semoga Mba banyak rezeki, dan dikaruniai anak-anak sholeh sholehah."

"Aamiin," ucap Mba Yati.

**

   Mba Yati memang orang berada. Punya usaha apotik. Suaminya seorang apoteker di rumah sakit. Duit bagi beliau tak masalah. Namun, tetap saja aku merasa tak enak hati terlalu sering menerima pemberiannya.

Aku tahu bagaimana perjuangan beliau untuk menjadi seperti sekarang. Dari anaknya berusia tiga tahun, sudah ditinggal kerja. Anaknya di rumah sendiri. Beruntungnya beliau dikaruniai anak-anak yang pintar dan mandiri.

Kedua anaknya, mendapat beasiswa. Kerap menjadi juara dalam lomba ilmu pengetahuan. Di balik kesuksesan beliau, ada tahajud tiap malam, sedekah tak sedikit. Aku termasuk tahu awal mulanya beliau merintis. Oleh sebab itu, tak sampai hati aku menerima pemberian beliau terus-menerus. Tak mau aji mumpung.

'Lalu apa yang bisa kuberikan untuk membalas kebaikannya? Entah.'

Mungkin hanya bisa membantu tenaga dan doa saja. Jika beliau butuh apa-apa. Misal menjaga ibunya yang kebetulan tinggal bersebelahan denganku. Meski ada juga keluarga Mba Yati yang ikut menjaga ibunya.

Dari beliau aku belajar, bahwa usaha tak pernah membohongi hasil. Di balik kesuksesannya ada kerja keras yang luar biasa. Juga kepeduliannya terhadap orang tua, patut dicontoh. Saat beliau susah dulu, hingga sekarang sukses. Tak pernah alpa mencukupi kebutuhan orang tua.

Semoga kelak aku bisa seperti beliau. Semoga Allah senantiasa memberi ridho dan berkah pada Mba Yati dan keluarganya.

Aamiin.

_End_


Cermin (Cerita Mini)
BUKAN MENOLAK REZEKI
Oleh : Pandu Eva




Cermin : DILEMA - Tati Kartini




   SEBAGAI seorang wanita yang sudah cukup lama hidup sendiri, tak munafik aku merasa bahagia, ketika tiba-tiba datang seorang pria yang pernah berhubungan dekat di waktu lalu. Dia pria mantanku dulu yang pernah berkhianat, meninggalkan aku karena tertarik kepada teman wanitanya.

Kuakui aku sangat mencintainya, dialah pria pertama yang bisa membuat aku jatuh cinta setelah sekian lama aku hidup sendiri. Rasa sakit yang pernah ditorehkannya seakan lenyap begitu saja, ketika dia kembali dengan ucapan penyesalannya.

"maafkan aku sayangku, aku menyesal telah meninggalkanmu, kini aku sadar kamu lah wanita terbaik yang selama ini ku rindu, percayalah aku takkan pernah meninggalkanmu lagi."ucapnya.

Dengan kerinduan dan rasa bahagia aku larut dalam setiap katanya yang semanis madu, dia memang pandai mengambil hatiku.
Membujuk ku dan merayu.

"Baiklah, aku terima kamu kembali, aku pun masih mencintaimu, kalau boleh tau kapan kamu mau melamarku?"

Langsung saja aku ajukan pertanyaan itu mengingat hubungan yang sudah cukup lama. Walaupun dia sempat berselingkuh tapi status kami tak pernah benar-benar putus. Hubungan kami sudah berjalan hampir 2 tahun karena itulah kuberanikan untuk menanyakan padanya kepastian kelanjutan hubungan ini.

"Sabarlah, kamu kan tahu kuliah aku masih setahun lagi."

Selalu saja itu jawabnya, tak pernah memberikan kepastian tepatnya dalam hitungan tahun atau bulan padahal meskipun kuliahnya belum selesai dia sudah bekerja dengan penghasilan yang cukup untuk bekal berumah tangga, usia pun bukan lagi remaja. Bahkan kuliahnya pun bukan kali pertama, ini adalah kuliah lanjutan, tambahan dari keilmuan dengan jurusan berbeda.

Jujur aku sangat kecewa dengan jawabannya, yang tak pernah berubah. Aku merasa tengah menjalani kemaksiatan karena di dalam agamaku tidak diperbolehkan berpacaran. Itu sebabnya jadi dilema di dalam hatiku, aku takut akan murka Nya.

Sejujurnya aku tak sanggup mengambil keputusan, walau pernah juga aku mencoba untuk mengakhiri. Rasanya tak sanggup menahan rasa di hati ini, aku tak punya pilihan selain dia. Rasa cintaku padanya yang teramat besar membuat aku mau menerimanya kembali.

Dia bukanlah orang yang tak paham tentang agama, bahkan ilmu agamanya lebih dari yang aku tahu. Sungguh aku tak bisa memahami mengapa dia selalu mengulur waktu untuk menghalalkan aku.

Tak ada lagi cara yang bisa kutempuh selain melangitkan doa-doa.

"Ya Robb, hanya Engkau yang bisa membolak balik kan hati, tetapkanlah hati kami di dalam kebenaran, sesungguhnya hati kami ada di antara dua jari-jariMu, Engkau lah yang maha berkuasa atas segala sesuatu.Duhai, Dzat yang maha belas kasih kepada hamba-hambaMu. terima lah doa ku, kabulkan lah permohonanku."

Aku pasrahkan semua kepada Nya, aku tak sanggup mengatasi masalah ini.
Hanya bermuhasabah dan berserah diri yang aku jalani dari hari ke hari, berharap belas kasih illahi Robbi, mohon ampun atas rasa cinta yang nyaris tak mampu ku bendung. Semoga doa dan harapan yang selalu kupanjatkan menjadi jalan kebaikan bagi hubungan antara aku dengannya.

Aku pasrah atas takdirNya, bukankah jauh sebelum aku dicipta sudah tertulis semua takdirku di Lauh Mahfudz? Juga tentang pertemuan aku dengan Adi yang aku harap akan menjadi suamiku.

Semoga Allah swt, melindungi hubungan kami agar tetap berada di dalam koridor syar'i. Seberapapun beratnya menahan rasa cinta ini, aku berusaha untuk istiqomah di dalam rambu-rambu yang diajarkan di dalam agamaku.

Aku tak ingin aqidah tercemari dengan dosa walau jatuh cinta bukanlah kehendakku. Bertemu dan jatuh cinta padanya pastilah bagian dari takdir Nya sebagai ujian keimanan. Disitu aku diuji mana yang lebih aku cintai. Allah kah atau Adi kekasihku.

Aku teringat kisah nabi Yusuf allaihi salam. Ketika Julaikha mengejar cintanya, nabi Yusuf meninggalkannya tapi ketika Julaikha mengejar cinta Allah, Allah mengirim nabi Yusuf kepadanya.

Mampukah aku melakukannya? Ya Allah, tolong lah … hanya pada Mu aku bermohon. Engkau yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi diriku dan dirinya.

~~~End


Cermin (Cerita Mini)
DILEMA
karya : Tati Kartini
Jakarta, 8 Maret 2020

TATI KARTINI








Cermin : CANTIK MANJA TAPI DURHAKA - Tati Kartini




   NING anak Kepala Desa cantik ceria dan manja begitu banyak yg kagum padanya. Ning luar biasa beda dengan diriku yg sederhana, dia menjadi idola di mana mana. Aku sangat mengaguminya.

Suatu hari setelah berpisah sekian lama.
" Hai ...kamu Tina ya? " aku terkejut tak percaya.

" Alhamdulillah ...kamu Nining ya".

Berlinang air mata bahagia bertemu sahabat lama yg menjadi idola.
Kamipun berpelukan erat.

" Hayu Tin mampir ke rumah ku lama kita tak jumpa aku kangen kamu, ingin cerita seperti dulu. Yuuukkk ...rumah ku cuma beberapa meter dari sini,kita cukup berjalan kaki."

Tak berapa lama sampailah di sebuah rumah dengan pekarangan yang luas tertata indah. Nampak pohon buah-buahan dan pohon bunga yang berwarna warni.
Juga sebuah kolam lengkap dengan air mancur dan ikannya.

Sesampai di dalam rumahnya. Aku masih tetap seperti dulu mengagumi semua yg jadi miliknya,kemewahan yg masih saja berpihak padanya. Rumah indah dengan perabotan yang serba mewah.

" Rumahmu indah Ning ...kau memang beruntung lahir dari keluarga terhormat dan kaya raya " aku memujinya.
Sambil mataku terus menatap berkeliling, memandang setiap inci dari rumah yang sangat megah.

" Ning ...." tiba tiba dari sebuah kamar terdengar suara yg sangat lemah ...

" Siapa itu Ning?" Tanyaku,tanpa di jawabnya,dia berjalan menuju ke arah suara itu.

" Ada apa lagi mak! Aku lagi ada tamu,bisa gak diam dulu, Mak jangan rewel,itu pempers baru ganti mahal Mak ...jangan pengen ganti terus ..." Terdengar suara Ning dengan bentakan keras.

Astghfirulloh, sakit hati ini mendengar kata-kata sahabatku,begitu teganya dia kepada ibunya yg dulu sangat memanjakanya. Seketika itu juga semua kekagumanku sirna.

'Oh,Ning,kamu cantik kaya tapi ternyata kau durhaka.' aku bergumam sendiri ....

-END-

Cermin (Cerita Mini)
CANTIK MANJA TAPI DURHAKA
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 1desember 2019

TATI KARTINI








Cermin : SI GADIS KECIL BERGIGI HITAM - Tati Kartini




   SEPERTI biasa di pagi hari aku membuka jendela. Segar rasanya mengendus udara pagi. Tercium harum bunga melati yang menjalar di tepi pagar, di halaman rumahku. Terkejut kulihat gagang sapu bergerak sendiri. Hampir mengenai wajahku yang tengah terpaku memandangi melati.

Hap! reflek tanganku menangkap gagang sapu yang melaju, lalu kutarik sedikit kuat.

Terdengar teriakan si gadis kecil bergigi hitam, "Aduh! Ampun Nek, jangan di tarik sapunya"

"Awas ya sekali lagi ganggu nenek ga nenek belikan lagi coklat ya."

"Ampun nek, aku mau coklat, hayu Nek cepetan kita beli ke apamayat."

"Apa? Kemana?" Ujarku

"Ke apamayat Nek”

“Ke Rumah Mayat?, ih … gak mau ah serem.Nenek takut neng." Aku pura-pura tak paham maksudnya.

"Itu Nek, toko yang di belakang rumah." Rengeknya, manja.

"Oh … Toko Maret." Ucapku menjelaskan maksudnya.

"Iya nek, aku mau dua coklatnya ya."

"Iya sayang sebentar ya nenek pake kerudung dulu, kamu juga ya cantik, pakailah jilbabnya." Kataku mengingatkannya.

"Memang nya kenapa kalau gak pake jilbab nek?" Gadis kecilku bertanya sambil bergelayut manja.

"Sayang, kamu kan suka coklat, kalau beli coklat yang sudah terbuka tak ada bungkusnya lagi, kamu mau gak sayang?"

Spontan gadis kecilku menjawab, "Ih nenek jorok, aku gak mau yang terbuka jijik."

"Nah begitu pula kamu nak, kalau tidak tertutup nanti ada lalat nempel di rambutmu, ih… jijik." Kujelaskan semampunya, agar cucu bisa mengerti.

" Iya nek, jijik ya nanti lalatnya bertelur di rambut aku." Jawabnya.

"pinter cucu nenek." Kupeluk dan kuciumi wajahnya sambil merapihkan jilbabnya.

"Yuuk berangkat, sekarang kamu kelihatan sangat cantik dengan jilbabmu." Aku memujinya, cucuku tersenyum.

Senyuman terindah di dunia, dengan gigi hitamnya yang berkilau indah, sangat indah.
Karunia Allah yang tak terhingga, tiada tara. Alhamdulillah terimakasih ya Allah kau kirim dia untukku Si Gadis Kecil bergigi Hitam yang cantik luar biasa, kesayanganku, penyemangat hidup.

~End

Cermin (Cerita Mini)
SI GADIS KECIL BERGIGI HITAM
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 4 Desember 2019

TATI KARTINI

Cerpen : MUSYRIK - Tati Kartini


 

   SENJA hampir tenggelam ditelan gelap malam ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara parau dari belakang Heru.

"Nak, hari mulai gelap sebaiknya kamu segera pulang."

Setengah terkejut Heru menjawab, "Oh,bapak saya sampai terkejut, bapak siapa?tiba-tiba saja ada di dekat saya."

Dengan wajah ramah bapak tua itu pun menjawab pertanyaan Heru, "Bapak memang juru kunci di danau ini nak."

"Juru kunci? Biasanya penjaganya satpam pak."

Pak tua pun menjawab dengan lebih rinci.
"Satpam memang ada untuk menjaga pengunjung yang rekreasi menikmati keindahan danau ini, tapi coba kamu perhatikan pepohonan yang rimbun di tengah danau sana."
Ujar pak tua sambil menunjuk ke tengah danau.

"Kenapa dengan pepohonan itu pak?." Heru pun bertanya penasaran.

"itu adalah pulau kecil tempat dimakamkannya seorang anak mahkota kerajaan yang dikenal dengan nama Pangeran Boros Ngora atau Prabu Hariang Kancana.Hingga kini masih dikeramatkan, banyak pengunjung yang berziarah, bapaklah yang menjadi juru kunci di makam itu."

Heru manggut-manggut mendengar semua penjelasan pak tua.

"Setiap manusia punya bermacam-macam keinginan, mereka bukan hanya berdoa tapi juga mereka mencari jalan pintas agar supaya keinginannya lekas tercapai." Jawab pak tua menambah penjelasanya.

"Apakah setelah selesai berdoa disini, mereka bisa mencapai semua yang diinginkannya?
Tanya Heru semakin bertambah penasaran.

"Sangat mungkin karena mereka begitu percaya dengan doanya."

Heru berkomentar ter heran-heran, "Mohon maaf pak, bukankah cara seperti itu bisa dikatakan musyrik?"

Pak tua terkejut dengan pertanyaan Heru, "Apa maksudmu nak."

Berganti kini Heru yang memberikan penjelasan, "Maaf pak sekadar menyampai kan apa yang saya dapat dari guru saya, menurut beliau kalau kita berdoa selain kepada Allah itu di larang."

Pak tua menyimak, mendengarkan Heru menceritakan apa yang dipelajarinya selama belajar di sebuah pesantren.

"Teruslah ceritakan, apa yang kamu pelajari nak.Bapak ingin mendengarnya, selama ini bapak hanya tahu tentang doa yang dibacakan di makam keramat ini."

"Baik pak, dengan senang hati berbagi ilmu yang dimiliki adalah merupakan kewajiban, begitu menurut guru saya.Waktu maghrib hampir tiba sebaiknya kita ke mushola terdekat untuk melaksanakan sholat maghrib di sana, tak baik menunda-nunda shalat, nanti setelah selesai shalat maghrib bisa kita lanjutkan ceritanya."

Dengan petunjuk jalan dari pak tua sampailah mereka di sebuah mushola.
Mereka berwudhu di tempat yang sudah disediakan.

*****

   Selesai shalat maghrib berjamaah, Heru dan pak tua saling bersalaman.

"Maafkan saya pak, dari tadi asyik berbincang saya sampai lupa belum mengenalkan diri, nama saya Heru Subagja pak panggil saja saya heru." Ucap Heru sambil bersalaman,mencium punggung tangan pak tua.

"Oh kita belum berkenalan ya, bapak biasa dipanggil pak kuncen nak, karena pekerjaan bapak sebagai juru kunci, padahal bapak juga punya nama yang bagus, nama bapak Agus Hidayat tapi nama panggilan 'Abah kuncen' lebih dikenal di daerah sekitar danau ini."

"Baiklah,saya juga lebih senang memanggil abah saja, biar lebih akrab terasa seperti kepada orang tua sendiri."

"Oh iya, baguslah kalau begitu." timpal si pak tua terlihat senang mendengar ucapan Heru.

"Abah disana sepertinya ada warung, bagaimana kalau kita teruskan ngobrolnya di warung saja sambil memesan minuman yang hangat, udara sudah mulai terasa dingin."

"Betul, itu memang warung kopi, berjualannya sampai pagi, ada makanan kecilnya juga."

Sambil terus berjalan mereka tak henti bicara sampai tiba di sebuah warung sederhana yang hanya berjarak beberapa meter dari mushola.

"Aduh abah, kamana wae bah nembe katingali."(1)

Mang Ewo si pemilik warung menyapa si pak tua dengan akrab memakai bahasa dan logat sundanya.

"Kamari abah teh udur saminggu Wo, sok lah pang damelkeun abah kopi dua gelas, ieu abah mawa semah."(2)

"Udah abah bahasa Indonesia saja, maaf abah saya kurang paham bahasa sunda."
Heru menyela.

"Oh iya sampai abah lupa belum di kenalkan ini mang Ewo pemilik warung kopi, satu-satunya yang dekat dengan mushola."

Heru mengulurkan tangan menyalami mang Ewo, "Kenalkan nama saya Heru mang."

Sambil menyeruput kopi yang sudah terhidang di meja, Heru kembali berkata.
"Mang Ewo buka warung sampai pagi?"

"Iya den(3), menjelang tengah malam nanti pengunjung yang akan berziarah mulai berdatangan, biasanya mereka pesan minuman untuk menghangatkan badan.Udara disini memang sangat dingin sebentar lagi kabut akan turun."

"Oh, begitu mang? Alhamdulillah saya bawa jaket." Sahut Heru sambil menutup kepalanya dengan topi yang melekat pada jaketnya.

"Nak heru kamu mau ikut ke makam keramat? Sebentar lagi tamu yang berziarah akan berdatangan mencari abah untuk mengantar ke pulau."

"Saya menunggu disini saja bah menemani mang Ewo, boleh ya mang?" Heru menolak ajakan abah sambil melirik mang Ewo.

"Tentu boleh den, silahkan kalau cape bisa tidur-tiduran di bangku itu." Ucap mang Ewo sambil menunjuk dipan yang dialasi tikar pandan.

Diliriknya pak tua yang terlihat mulai mengantuk, "Abah kalau ngantuk silahkan tidur, saya akan berbincang-bincang dulu dengan mang Ewo."

Abah menjawab ucapan Heru dengan mata yang sudah sedikit terpejam, sambil bersandar pada tiang.

"Baik nak abah tidur dulu sebentar ya, ngobrol saja dengan mang Ewo."

*****

"Mang Ewo pasti paham juga ya dengan tradisi yang ada sangkut pautnya dengan mitos Kerajaan Panjalu." Tanya Heru kepada Mang Ewo yang sedang menyiapkan bahan gorengan untuk pagi harinya.

"Mang Ewo hanya mengetahui sedikit dari tradisi disini, selain orang banyak yang datang berziarah, ada juga acara memandikan keris pusaka setiap bulan maulid."

Mang Ewo menceritakan adat masyarakat awam yang masih kukuh dengan tradisi, makam pun terkadang dijadikan tempat meminta.

"Padahal yang mengabulkan segala doa hanya Allah SWT saja ya mang."ujar Heru menyela.

" Pada kenyataanya orang yang kurang paham ilmu agama, menjadikan semua ritual itu sebagai cara untuk memperoleh keinginan dengan cara cara gaib,semacam ilmu hitam begitu." Ucap Mang Ewo, mengayatakan pendapatnya

"Terimakasih mang untuk semua penjelasannya, saya pamit untuk beristirahat di mushola saja supaya nanti malam bisa shalat sunnah dan membaca Al Qur'an, tolong sampaikan salam saya untuk abah, apabila abah kuncen sudah bangun."

"oh, iya den nanti saya sampaikan, terimakasih sudah mengunjungi warung mang ewo."

"Iya mang, sama-sama assalamu'alaikum." Ucapku sambil berdiri beranjak pergi menuju ke mushola, untuk beristirahat sebelum kembali ke jakarta setelah shalat subuh berjamaah besok pagi.

*****End

Note:
(1).Kemana saja abah baru kelihatan
(2).kan kemarin saya sakit seminggu wo, tolong buatkan kopi dua gelas, abah bawa tamu ni.
(3). ' den' Panggilan untuk orang yang dihormati.


Cerpen
MUSYRIK
oleh : Tati Kartini
Jakarta, 6 Desember 2019.

TATI KARTINI

Cerpen : NASIHAT AYAH - Tati Kartini




   DI keheningan pagi ku tertegun, mengingat kembali mimpi semalam bertemu ayah. Rinduku kepada ayah semakin kental.

"Duh ayah, kerinduan tentangmu takan pernah bisa terhapuskan."Lirih bisik hatiku.

Aku memahami di dalam diammu sarat akan cinta untukku, sebagaimana aku pun mencintaimu. Banyak yang mengatakan seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Begitupun denganku, kau cinta pertama ku.

Bukan hanya sekali kulihat tetesan air matamu yang jatuh. Sekarang, setelah dewasa akupun merasakan betapa berat menjalani hidup sendiri. Ayah harus bekerja mencari nafkah dan menjagaku. Cinta yang tulus kepada ibu membuat ayah bertahan membesarkan aku seorang diri, tak menikah lagi.

"Ayah,aku menyayangimu selalu dan selamanya, kau kebanggaanku."

Satu kata yang tak sempat terucap olehku, betapa inginku,kau bisa mendengarnya. Kau pergi begitu cepat namun kenangan tentangmu tetap melekat erat.

"Aku sangat rindu padamu ayah"

Berulang kali kata itu kubisikan dalam doaku.Aku berharap dapat jumpamu kelak dalam surga-Nya. Terbayang jelas kala jasadmu terbujur kaku di hadapanku dengan beberapa sobekan terlihat masih menganga.
"Duh, siapa yang begitu tega lakukan ini kepadamu?" Air mataku bercucuran menetesi jasad bekumu.

Teringat saat-saat kau menangisiku karena ulah nakal ku. "Maafkan aku ayah, tak pernah mendengar nasehatmu." Air mataku semakin deras, aku semakin tergugu.

*****

   Larut dengan kenanganku, terbayang kembali saat bersama di sela-sela tugasnya.
Aku dapat mengingat dengan baik kebersamaanku dengan ayahku, bahkan pada usia yang masih dini. Ayah selalu bercerita tentang kasih sayang kepada binatang sekalipun. Terbayang kembali cerita ayah;

"Sewaktu ayah berburu kehutan, ayah melihat seekor kera di kerimbunan daun, diatas pohon yg sangat tinggi…'Dor!' ayah menembak dengan senapan itu." Ucap ayah sambil menunjuk senapan yang tergantung pada dinding tembok.

"Kera pun terjatuh ayah segera menghampiri, ayah sangat terkejut."

"Ada apa yah?."Aku menyela, bertanya pada ayah.

"Nak, ternyata kera itu menggendong anak nya yang masih sangat kecil, ia menjulurkan anaknya ke hadapan ayah, seakan ingin menitipkan. Matanya berkaca-kaca, kera itu tampaknya sangat sedih."

"Terus, ayah?" Aku bertanya semakin penasaran dengan cerita ayah.

"Ayah membawanya, itulah si Mongki yang selalu main denganmu yang ayah pelihara sejak kecil, induknya mati dalam perjalanan ke dokter karena kehabisan darah."

Wajah ayah terlihat murung dan matanya pun berkaca-kaca juga. Semenjak itu ayah tak pernah berburu.

"Binatang juga punya perasaan seperti kita, jadi harus kita sayangi." Ayah mengakhiri ceritanya.

Ayah sangat menyayangi binatang, bahkan tikus pun ayah tak mau membunuhnya.

"Sayang, kalau tak ingin ada tikus di dalam rumah, rumah harus bersih gak boleh jorok ya, kamu anak ayah yang cantik gak pantas rumahnya kotor." Nasehat ayah yang selalu kuingat.

Andai saja ibuku masih ada tentunya aku masih ada teman untuk berbagi kesedihan ini. Tapi ibu sudah lebih dahulu berpulang, bahkan aku hanya bisa tahu wajahnya dari foto yang digantung oleh ayah di kamar tidurku.

"Ibumu sangat cantik seperti kamu sayang, jadilah wanita sebaik ibumu dan jangan lupa doa kan ibu selalu." Ayah selalu memuji ibu dan selalu mengingatkan agar aku selalu berdoa untuk ibu.

"iya ayah, aku selalu ingat doa yang diajarkan ayah." Jawabku.

"Sabar Nita, ikhlaskan ayahmu pergi.Jangan kau tangisi, kasihan nanti bisa memberatkan ayah." Mas Dadan, menenangkan ku.

"Terimakasih mas kau hadir, siapa yang memberi kabar?" Tanyaku pada mas Dadan teman dekatku semasa SMA.

"Hanny menelponku, teman-teman alumni SMA kita, mereka akan tiba sebentar lagi."

"Terimakasih mas, aku bersyukur kalian semua sudah seperti saudara bagiku."

"Kamu tenang ya, aku bantu mengurus penguburan ayah nanti setelah selesai otopsi."

Mas Dadan selalu menunjukkan perhatiannya, dia tak pernah berubah walaupun sudah jarang berjumpa.

"Tadi pagi sepulang dari dinas malam ayahku tertabrak mobil, jalanan masih sangat sepi dan gelap, ayah tidak bisa diselamatkan karena terlambat mendapat pertolongan, penabraknya kabur." Aku tersendat menjelaskan, menahan tangis.

"Iya, pak polisi sudah menjelaskannya padaku. Kita urus saja dulu ayahmu,pak polisi yang akan mengurus laporan terjadinya kecelakaan ini." Hari yang terburuk yang kurasakan pada saat itu.

*****

   Namun aku sangat bersyukur teman-temanku semua baik kepadaku, sudah seperti saudara. Semua itu karena ayah selalu menasehati agar berhati-hati di dalam pergaulan.

" Ibarat berteman dengan penjual minyak wangi kamu akan menghirup wanginya dan kalau berteman dengan pandai besi maka kamu akan merasakan panasnya." Begitu nasehat ayah yang selalu kuingat.

Berkat nasehatnya aku terhindar dari pergaulan yang buruk. Sejak ayah tiada mas Dadan yang begitu menyayangiku, semakin bertambah kasih sayangnya. Ditunjukan dengan kedatangan kedua orang tuanya untuk melamarku.

Tak lama berselang, sepeninggal ayah aku resmi menjadi istri mas Dadan, laki-laki saleh dan baik hati. Itulah diantara satu hikmah berteman dengan orang yang baik, sebagaimana nasehat ayah.

"Aduh, ada apakah gerangan sepagi ini istriku terlihat murung?" Sentuhan mas Dadan menyadarkanku dari lamunan panjangku.

"Mas aku mimpi bertemu dengan ayah." Jawabku tersendat. Mas Dadan meraih tubuhku, memeluk erat, menenangkan.

Seraya berbisik "Ayah menjengukmu, karena ingin melihat cucunya, cepat mandi sayang kita jenguk ayah di makamnya, kita berdoa disana."

"Baik mas, tunggu sebentar ya."

Selesai mandi dan berdandan alakadarnya aku pun bersiap berangkat ke pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir ayahku. Tak lupa ku petik beberapa tangkai bunga yang tumbuh di halamanku, untuk kutabur diatas makam ayah. Mas Dadan menghampiri turut membantu memetik bunga.

"Sudah sayang, biar mas yang petik saja, jangan kamu yang metik nanti bisa jatuh, bunganya tinggi itu." ujarnya.

"Terimakasih mas." aku membalas.

"Duduk saja di kursi itu, hati-hati jatuh.Jagalah baby kita di rahimmu itu." Mas Dadan menunjuk perutku yang mulai terlihat membesar.

Alhamdulillah, berkat bimbingan dan doa-doa ayah aku bahagia memperoleh suami sebaik ayah menyayangiku.

"yuk sayang kita berangkat ke makam ayah selagi matahari belum menyengat, biar rindu kepada ayah terobati."

"iya mas." Jawabku pendek seraya bangkit dari kursi.

Sambil memasukan bunga ke dalam tas plastik, kubayangkan seolah ayahku masih ada, ingin ku sampaikan kabar gembira kepada ayah, 'lihat ayah,sebentar lagi cucumu akan lahir.' Bisik hatiku. Perlahan aku berjalan ke arah mas Dadan yang sudah menunggu di dalam mobil. Mas Dadan turun menghampiri.

"Hati-hati." Bisiknya seraya meraih pinggangku menggandengku.

*****

   Tak butuh waktu lama pun sampailah di pemakaman, aku melangkah berhati-hati.
Tempat Pemakaman Umum sangat padat, hampir penuh berisikan kuburan orang yang sudah meninggal. Aku pandangi sekitarnya, mencari nisan yang bertuliskan WANDI nama almarhum ayahku.

"Itu beberapa langkah lagi sebelah kanan." Ujar mas Dadan.

Sedikit tergesa aku pun menghampiri makam ayah lalu ku belai batu nisannya, seakan ada wajah ayah di hadapanku. Ku tumpah segenap kerinduanku sambil terus memanjatkan doa terbaik untuk ayahku.

"Wahai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sayangi lah ayah dan ibukku sebagaimana mereka menyayangiku, tempatkan lah di syurga_Mu, aamiin"

Selesailah rangkaian doa pengobat rinduku, untuk mengobati kerinduan akan kenangan bersama ayah.

-----------------------------END--------------------------


#Cerpen
Judul : NASIHAT AYAH
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 5 Desember 2019

TATI KARTINI

Cerpen : NENEKKU SAYANG - Tati Kartini


  

   NENEKKU cantik dan baik hati, bersyukur Allah swt memberi aku nenek yang luar biasa. Walau ayah ibuku sudah tiada, aku tidak kekurangan kasih sayang berkat memiliki nenek yang penyayang. Aku tidak sendirian di rumah nenek ada tiga cucu nenek yang lain, putra putrinya paman dan bibiku. Menambah seru, heboh di dalam rumah hingga tak perlu bermain mencari kawan lain sepulang sekolah. Kami berempat sangat kompak berbagi tugas membantu nenek yang mulai tua dan lemah. Nenekku pendiam jarang berbicara tapi selalu tersenyum ramah kepada semua cucunya. Setiap hari libur sekolah kami berbagi tugas membersihkan rumah dan membantu memasak menyiapkan hidangan makan siang. Budi, Soleh dan Tia menyapu, mengepel lantai dan membereskan rumah dan aku biasa membantu nenek memasak di dapur.


Satu hari menjelang tidur nenek memasuki kamar kami., "Anak-anak besok pagi kalian bebas tugas beres-beres rumah, kita bangun pagi menyiapkan makan siang bersama, setelahnya kita berangkat ke sawah untuk melihat panen padi milik kita."

Serempak kami berteriak gembira, "Horee! Asiiik, besok kita akan makan di saung nenek."

"Cepat tidur anak-anak agar besok bisa bangyn lebih pagi, jangan lupa baca doa tidur, doakan juga ayah ibumu."

"Iya Nek, terimakasih nenek sangat baik." Serempak kami menjawab.

"Aku akan doakan Nenek juga, semoga selalu sehat dan panjang umur."Ujarku

"Amin!" Semua mengaminkan

Malam itu kami tidur dengan rasa sangat bahagia, terbayang keindahan padi di sawah yang sedang menguning. Masyaallah la quwwata illa billah. Kami bersyukur dan merasakan kebahagiaan yang sempurna walau tanpa ayah bunda.

*****

   Pagi-pagi sekali kami bergegas mandi, semua bersiap untuk melaksana kan shalat subuh berjemaah di mushola milik nenek yang terletak bersebelahan dengan rumah. Keluarga dekat semua berkumpul untuk shalat berjemaah. Mereka adalah adik-adik nenek, nenekku anak sulung. Selesai shalat subuh Nenek berpesan kepada adik-adiknya.

"Cepatlah kembali ke rumah masing-masing, jangan lupa pagi ini kita akan memanen padi di sawah, agar bisa bersama sama memotong padi."

"Baiklah kak, assalamualaikum."

Paman dan bibiku bersalaman mencium tangan nenek, begitupun kami semua berebut mencium tangan Nenek.

*****

   Sesampainya di sawah, kami hanya bermain, membuat terompet dari batang padi.
"Teeetttt, teeett." Riuh bunyi terompet bersahutan.

Nenek memandangi kami, tersenyum bahagia., "Anak-anak kalau kalian lapar boleh makan duluan, nanti Nenek bareng dengan paman dan bibi."

Tanpa menunggu lama kami berebutan mengambil piring.

"Eiiit, cuci tangan dulu!" Nenekku mengingatkan sambil tersenyum mengacungkan telunjuknya.

"Baiklah Nek, maafkan kami hampir lupa cuci tangan." Kami serempak menjawab dan mulai bergantian mencuci tangan di pancuran pinggiran sawah. Airnya sangat bening dan sejuk.

Alam di kaki bukit ini memang sangat indah, aku sangat mencintainya. Pernah beberapa kali Nenekku mengajak berlibur ke Kota, walau sangat ramai dan banyak hiburan di kota tapi aku lebih mencintai desaku yang indah dan subur menghijau. Tak berapa lama selesai kami mencuci tangan, semua saudara berkumpul untuk turut makan siang bersama. Semua terlihat puas dan bahagia, makan siang yang nikmat, pemandangan yang indah dan hasil panen padi melimpah. Alhamdulillah kami sangat bahagia memiliki Nenek yang cantik dan sholehah. Betapapun keriput terlihat banyak di wajahnya, bagi kami Nenekku wanita tercantik yang mengagumkan.

Nenekku kini tiada, Semoga Allah swt menempatkan di surga. Aamiin

~End

#Cerpen
NENEKKU SAYANG
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 5 Desember 2019

TATI KARTINI

Cerpen : CEMBURU - Tati Kartini


 

   MALAM itu ayah Anna pulang tugas negara, sebagai anggota TNI pak Wandi sudah biasa mendapat tugas luar untuk waktu yang cukup lama. Sejak Anna mulai balita bu Eni isteri dari pak Wandi memilih tetap di Ciamis Jawa Barat tidak ikut mendampingi bila pak Wandi mendapat tugas di luar daerah, karena Anna sudah mulai bersekolah di taman kanak-kanak. Bu Eni tak ingin Anna nantinya selalu ber pindah pindah sekolah.

Sampai pada suatu hari ayah Anna kembali dari tugasnya. Kala itu hari menjelang senja. Anna yang tengah tertidur di sofa terkejut mendengar keributan di dalam kamar tidur ibunya.

"Bagus ya ...suami tugas kamu enak-enakan ngobrol sama pria lain!" Pak wandi membentak bu Eni dengan suara yang sangat keras.

"Dengar dulu penjelasan ku pah… " Suara bu Eni sambil terisak menangis.

"Tak perlu!, sudah jelas kulihat dengan mataku sendiri, kau pikir bagus tak ada suami menerima tamu Laki-laki?"

Praaannggg! Terdengar seperti ada benda yang di lempar kan. Anna sangat terkejut, menangis tertahan. Tak berapa lama kemudian, pak wandi menghampiri Anna.

"Nak… papah pergi dulu ya ...nanti papah kembali lagi untuk menjemput mu." Bisik pak Wandi sambil memeluk Anna.

Terdengar isak tangis bu Eni semakin keras., "Pah, jangan pergi dengar penjelasan ku pah."

Pak wandi berjalan tergesa menuju pintu tanpa menghiraukan panggilan istrinya. Anna hanya bisa menatap tanpa sepatah kata, air matanya mulai berjatuhan mengalir deras di pipinya. Bukan baru sekali ini Anna melihat keributan kedua orang tuanya. Bu Eni menghambur keluar dari kamar tidur hendak menyusul pak wandi, demi dilihatnya Anna yg berurai air mata dengan isakan perlahan bu Eni berbalik menuju sofa di mana Anna tergolek menangis.

"Cup sayang ... jangan menangis papah gak marah sebentar lagi pasti pulang." Bu Eni membujuk Anna yang masih saja terisak, dipeluknya Anna dalam dekapan erat.

*****

   Hari berganti minggu pak Wandi belum juga kembali Anna merasakan kerinduan yang sangat, Anna memang sangat dekat dengan ayahnya.

"Mah, kenapa ayah belum pulang juga ya? Anna kangen ayah mah.” Anna bertanya kepada ibunya.

"Sabar sayang besok ayah pasti pulang kalau tugasnya sudah selesai." Bu Eni tersenyum menghibur Anna dengan jawaban nya.

Anna hanya terdiam berusaha memahami. Hingga 3 bulan kemudian, di syatu hari….

"Ayah! ... Mah lihat ayah pulang." Teriak Anna dengan kegembiraan yang puncak, sambil terus menghambur kepelukan ayahnya.

"Ayah pulang jemput Anna, mau kan Anna ikut ayah?" Pak Wandi bertanya sambil mengangkat tubuh mungil putrinya, kemudian di gendongnya dengan penuh kasih sambil tak henti-henti mencium pipi Anna.

"Anna kan sekolah Yah, nanti bu guru marah kalau Anna tak masuk sekolah."

Anna menjawab dengan manjanya, membuat bertambah gemas hati pak Wandi. "Iya, Anna kan sudah sekolah pah."

Bu Enipun menimpal bicara. "Mah kita ikut ayah aja yuuk, Anna pengen selalu ada ayah di rumah, Anna sedih kalau ayah jauh."

Anna merajuk kepada ibunya. "Ikutlah denganku Mah, Anna bisa pindah sekolah disana, atau kau lebih senang jauh denganku ya?"

Pak Wandi mulai emosi, sulit bagi seorang suami melupakan kejadian saat menyaksikan istri bicara akrab dengan lelaki yang tidak di kenalnya. Menyadari rasa cemburu pak Wandi yang masih belum reda, bu Eni cuma bisa diam takut salah bicara.

"Aku pulang hanya untuk satu malam cepatlah berkemas kalau kau akan ikut aku." Pak Wandi bicara dengan nada mengancam.

"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu, kita pamit dulu pada ibuku nanti sore selesai berkemas." Bu Eni luluh hatinya melihat Anna yang benar-benar terlihat rindu tak mau berpisah dengan ayahnya.

*****

   Sore hari selepas shalat asyar mereka berjalan ke rumah neneknya Anna yang tak seberapa jauh jaraknya dengan rumah pak Wandi.

"Assalamu'alaikum …" Pak wandi mengucapkan salam seraya mengetuk pintu.

Terdengar sahutan dari dalam rumah.

"Wa'alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh, silahkan masuk nak." Ujar neneknya Anna seraya merengkuh Anna kedalam pelukannya.

"Cucu nenek semakin cantik saja, nenek jadi gemas." Ujar neneknya Anna sambil tak henti mencium pipi Anna bertubi-tubi.

"Kapan tiba kau Wandi, lama ibu tak melihatmu." Ujar neneknya Anna kepada pak Wandi.

"Iya bu, tugas sudah tak mungkin untuk ditinggalkan, beberapa bulan ini saya tak bisa pulang kecuali izin cuti, karena itulah saya bermaksud untuk berpamitan membawa pindah Eni dan Anna bu."

"Ya Tuhan, bagaimana nenek bisa jauh dari Anna?" Nenek bicara dengan lirih sambil memeluk Anna lebih erat lagi.

"Jangan khawatir Buu, nanti kami akan selalu menengok Ibu." Pak Wandi menghibur nenek yang nampak sangat bersedih akan berpisah dengan Anna.

"Baiklah kalau sudah jadi keputusanmu Wandi, Eni dan Anna memang tanggung jawabmu, ibu hanya ingin menyampaikan pesan, jagalah mereka dengan kasih dan sayang jangan kau kecewakan kami. Ingatlah janjimu pada waktu kau melamar Eni untuk menjadi istrimu, kau berjanji akan menjaga dan menyayangi Eni." Dengan suara terbata-bata neneknya Anna berkata menahan kesedihan yang mendalam, harus berpisah dengan orang-orang yang sangat disayanginya.

"Jangan khawatirkan bu, percayalah saya akan menyayanginya."

"Begitu sudah seharusnya nak, rukun-rukunlah selalu, kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, jangan cepat emosi.Cemburu itu bagus pertanda adanya cinta, tapi cemburu buta bisa membuat celaka."

"Baik bu akan saya ingat semua nasehat ibu." Pak Wandi menjawab sambil menundukan kepala.

"Pada waktu kamu berangkat tugas yang lalu kamu marah sampai lupa pamitan pada ibu, seharusnya kamu bertanya dulu. Pemuda yang bersama istrimu itu keponakan Eni yang tinggal di Sumatra dia sedang mengikuti tes untuk masuk di AKABRI, kamu tak mengenalinya ya? Dia sudah besar sekarang, badannya kekar."

"Iya bu saya mohon maaf, Eni sudah menjelaskanya tadi bu."

Mendengar pembicaraan nenek dan ayah ibunya Anna serasa di nina bobokan, ia tertidur pulas di pelukan neneknya.

"Lihat anakmu, tak baik untuk jiwanya bila sering mendengarkan keributan ayah ibunya."

Nenek melanjutkan petuahnya. "Kalau ada masalah selesaikan baik-baik berdua jangan di hadapan anak, kasian kalau terluka jiwanya akan terbawa sampe dewasa.Tertanam dalam memorynya. Banyak-banyaklah berdoa untuk kebaikan anakmu, doa orang tua sangat makbul, terutama kau Eni sebagai ibunya."

Eni yang sejak tadi diampun menjawab, "Terimakasih ibu atas wejangannya, aku akan berusaha sekuat tenaga mendidik Anna agar jadi wanita salehah yang berpendidikan dan taat ajaran agama, sebagaimana ibu dulu mendidikku.Aku juga mohon doa ibu untuk kebaikan keluargaku bu."

Dengan mata yang ber kaca-kaca nenek mengarahkan pandanganya pada anaknya kemudian bicara. "Sudah pasti Eni ibu mendoakan untuk kebahagiaanmu, dunia dan akhiratmu.Begitupun kamu Eni berdoalah selalu untuk Anna. Hanya doa anak yang saleh yang kelak sampai pada kita dialam sana."

Tak terasa hari sudah senja, Anna yang tertidur menggeliatkan badanya dan merengek manja. "Mah… aku mau susu."

Neneknya Annaa mendudukan cucunya di kursi sambil bangkit iapun berkata. "Nenek buatkan susu untuk mu ya Anna?"

Serentak Eni menjawab "Tak usah bu, sudah hampir maghrib kita pamit saja."

Anna kembali merengek "Ah … mamah Anna mau susu."

Bu Eni menghampiri Anna dan berkata " Ssttt ...Anna jangan cerewet kasian nenek, Anna minum susu di rumah saja ya."

Annapun mengangguk

"Ayo, sekarang Anna salam pada nenek." Bu Eni membimbing tangan Anna mendekati nenek.

Merekapun berpamitan pada nenek sambil berpelukan, seakan berat untuk berpisah.

"Jaga dan sayangilah Eni dan Anna ya… " Nenek mengulangi pesannya pada pak Wandi.

"Baik bu, mohon doanya." Ujar pak Wandi pendek.

*****

   Bertepatan adzan maghrib merekapun sampai di rumah.

"Lekas berwudu Mah kita sholat berjamaah." Ucap pak Wandi kepada istrinya, sambil menyusun sajadah.

"Ya Pah sebentar lagi, Mamah sedang membuatkan susu untuk Anna."
Ditaruhnya susu Anna di meja makan.

"Anna ayuk wudu dulu, sambil menunggu susumu dingin kita solat berjamaah dengan ayah."

*****

   Mereka shalat berjemaah dengan sangat khusyu, di lanjutkan dengan berdoa. Pak Wandi memanjatkan doa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi keluarganya.

"Robbana attina fii dunya khasanah wafil akhiroti hasanata waqina adzabannar."

Serentak Anna dan ibunya meng aamiinkan. "Aamiin … "

Selesailah rangkaian solat berjamaahnya, Anna kembali teringat susunya.

"Mah susu Anna mana? Anna bertanya pada ibunya.

Bu Eni menjawab sambil menuntun Anna ke meja makan. "Ini susu Anna, kita sebaiknya makan malam dulu, Ayah sudah menghampiri, kita akan makan malam bersama-sama."

Bu Eni kembali membujuk Anna agar mau makan sebelum minum susunya.

"iya bu Anna juga sudah lapar." Anna merengek manja sambil melirik ayam goreng kesukaanya.

"Anna mau sama ayam goreng Mah."

Bu Eni menaruh ayam goreng ke piring makan Anna. Dan tak lupa mengisi piring makan pak Wandi seraya bertanya. "Cukup secentong nasinya Pah?"

Pak Wandi mengambil nasi dari tangan istrinya. "Cukup Mah, terimakasih."

Tanpa banyak bicara mereka menyantap dan menyelesaikan makan malamnya.

"Mah Papah harap kamu ikhlas menemaniku bertugas, Aku sekarang sudah tidak di mess lagi sudah mendapat rumah asrama dan di perbolehkan menempati bersama keluarga,semoga kamu betah kita bisa berkumpul bahagia bersama-sama tanpa ada kecurigaan lagi." Pak Wandi kembali membuka pembicaraan sambil meraih sajian hidangan penutup.

"Terimakasih Pah, saya akan selalu patuh kepadamu, bukankah suami adalah pintu syurganya istri?Itu yang diajarkan ibuku, ibu dan almarhum ayah mereka sangat rukun, saling menghormati dan kami sangat bahagia, aku ingin seperti mereka. Berharap kelak Anna pun mendapat contoh dan suri tauladan dari kita sebagai orang tuanya."

Pak Wandi sangat puas mendapat jawaban dari istrinya, di ulurkanya tanganya sambil berbisik mesra. "Tolong maafkan Papah ya Mah, papah selalu saja marah kepadamu, papah cemburu karena sangat mencintaimu, takut kehilanganmu."

Dengan tersipu bu Eni menjawab. "Tanpa diminta pun aku sudah memaafkanmu, saya paham Papah cemburu dan tak sanggup hidup terpisah makanya Mamah bersedia ikut pindah denganmu, kita pasti lebih bahagia kalau selalu bersama-sama."

Malam itu mereka berbincang-bincang penuh kemesraan. Membayangkan kebahagiaan yang akan di lalui, bersama-sama membesarkan buah hatinya hingga kelak Anna dewasa menjadi wanita shalehah

-----------------------------TAMAT----------------------------


#Cerpen
Judul : CEMBURU
Karya: Tati Kartini
Jakarta,13 Desember 2019

TATI KARTINI