RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 20 Mei 2021

Cerpen : AMBISI SEORANG JANDA Karya : Siamir Marulafau



   HELENA nama asli berdarah Indonesia dengan paras cantik menawan,baik budi dan tak pernah arogan walaupun dia dilahirkan dari keluarga yang serba ada.Dikatakan, Helena bukanlah anak gadis yang serba kekurangan dalam keluarganya dia seorang mahasiswi pada jurusan Enomusikologi di salah satu perguruan tinggi di kota saya.Aku tak habis pikir menceritakan kisah hidupnya dengan seorang dosen di perguruan tinggi negeri yang ada di kota Medan pada salah seorang teman saya bernama Eddy Murya.


Pada pagi hari yang kabut di mana sinar mentari redup,cahaya tak benderang berderinglah selularku yang kebetulan aku letakkan di atas meja tulisku dan terpaksa aku harus mengangkatnya dan begitu aku terkejut dengan panggilan temanku Eddy Murya.Kami selalu bercakap-cakap dan kadang curhat pada setiap malam minggunya.Tapi, entah mengapa pagi itu,Eddy mengajakku ke pantai cermin untuk menyantap ikan bakar dan kebetulan pada waktu hari Minggu sekitar jam 9.30 pagi.Aku pun tak bisa menolaknya."Yuk,pigi yuk,ke pantai".Dia serius mengajakku dan aku pun bergegas mengambil mobilku dan datang ke rumanya untuk menjemputnya.

Setelah tiba kami di pantai cermin dan menikmati ikan bakar, cerita demi cerita terseliplah dalam benakku apa yang pernah aku dengar kisah cinta antara dua pasang makhluk Tuhan di muka bumi ini dan memang kisah yang sangat menyedihkan dan menyayat hati karena ternyata Helena adalah juga teman saya di waktu SMU di kota Medan. Mendengar cakapku ini, Eddy rupanya mulai tertarik dengan apa yang kuomongkan sambil menyelam minum air dengan pandangan ke hamparan lautan pantai cermin Deli Serdang Sumatera Utara.Sambil makan-makan,aku pun mulai buka cerita pada temanku,Eddy dan dia pun cukup serius mendengarkannya.Dengan catatan bahwa kuceritakan ini bukanlah karena aku seorang yang ahli cakap dan bercerita, bukan, bukan sama sekali tapi karena rasa prihatin mendengar kisah pasangan hamba Allah yang sangat mengharukan hati.

Setelah makan siang bersama dengan suara yang nyaring,Eddy bertanya,"Apa sebenarnya tentang Helena yang kamu singgung tadi ketika kita sedang di perjalanan menuju ke mari,Jul?"Oh,ceritanya aneh tapi nyata pada masa sekarang ini,biasa namanya cerita.Aku sangat prihatinlah Eddy, rupanya teman sekolahku dulu namanya Helena yang menikah dengan seorang dosen pada jurusan sastra Inggris, yaitu Bapak Syaifuddin namanya. Mereka sangat bahagia dan dikaruniai 2 orang anak.Anak-anak mereka cantik-cantik.Nampaknya,Ibu Helena semakin cantik juga selama mempersuamikan Pak,Syaifuddin, ya namanya istri seorang dosen dan tentu saja kantongnya berisi apalagi PNS.

"Oh, iya jelas donk,Eddy.Kalau kita ini, apalah,sudah cukup dikatakan pas-pasan Senin Kamis, iakan?"

"Betul, makanya kita pun harus giat belajar supaya kita kayak Pak.Syaifuddin."

"Tapi Eddy, yang membuat aku sedih adalah peritiwa kecelakaan maut di jalan Tol Balmahera sekitar dua tahun setelah aku tamat di USU.Kecelakaan itu membawa ketidakberuntungan bagi Ibu Helena karena suaminya menghembuskan napas terakhir yang sangat memilukan hati dan aku pun pada masa itu sangat sedih sehingga air mataku tak terbendung mengingat bagaimana nasib Ibu Helena dan kedua anak-anak mereka yang masih kecil-kecil."

"Jadi, bagaimana selanjut,Jul"? Eddy bertanya padaku

"Itulah, setahun kemudian Ibu Helena menikah lagi dengan seorang duda yang
bekerja sebagai pedagang dan sangat kaya di kota Medan,iya namanya saja pedagang serba cukup malah lebih dari itu pun dia bisa beli,Eddy."

"Oh, begitu dan bagaimana dengan anak-anak mereka?"

"Ala, kalau sudah kepingin meranjang, apapun yang terjadi karena bunganya lagi bersemi di taman firdaus. Ya, anaknya terpaksa dititipkan kepada neneknya yang kebetulan Ibunya, Bu Helena masih hidup tapi usianya sudah tua dan dia lah yang merawat anak-anak itu.Tapi yang membuat aku sedih sekali,Eddy, yaitu Ibu Helena tega betul dia meninggalkan anak-anaknya.Aku tak habis pikir, kok senang bangat dia sama Pak.Ahmad, pedagang itu,ya.Pak .Ahmad itu sangat kejam dan sering memukulnya karena selalu mereka bertengkar gara-gara pak.Ahmad main-main perempuan dan selingkuh pada anak gadis orang.Jadi, Ibu Helena pun tak merasa bahagia."

"Sialan, keparat, itu orang sudah tua pun masih selingkuh dan suka main perempuan.Siapa yang tak geram."

"Eddy memang betul katamu, tapi namanya orang kaya, banyak uang dan apa saja bisa di buat.

"Jadi,bagaimana dengan anak-anak yang dua itu, Eddy?"

"Wah,itulah yang menyedihkan sekali karena setahun setelah diitipkan anak-anak itu pada nenek mereka,nenekpun meninggal dunia dan untung ada seorang yang dermawan dan kebetulan tak punya anak tapi mereka sangat kaya. Mereka membawa kedua anak-anak ini ke rumah karena keduanya sedang mengemis di pinggir jalan.Pak.Karim dan istrinya ini tak sampai hati melihat anak-anak ini. Beberapa tahun kemudian anak-anak ini disekolahkan oleh Pak Karim sehingga anak-anak ini berhasil menanamatkan studi mereka di salah satu perguruan tinggi Negeri di kota Medan.Ternyata anak yang sulung bernama Irsan menamatkan studinya pada jurusam Ekonomi Manajemen dan bekerja di salah satu perusahaan besar sebagai asisten Manager Keuangan, menikah dengan seorang gadis cantik belia dengan satu orang anak.Sedangkan adiknya Irsan, Siti Hajar menamatkan studinya pada jurusan Keperawatan Masyarakat dan menikah dengan seorang dokter ahli bedah dan mereka sangat bahagia.Aku pun senang atas perhatian Pak Karim pada kedua anak-anak itu sampai berhasil. hmmm....Jul, bagiamana dengan Ibu mereka yang menikah dengan saudagar itu?"

"Aku bilang,memang dasar ambisi,iya siapa yang tak prihatin sebelum anak-anak ini berumah tangga Ibu Helena bercerai dengan pak.Ahmad dan dia pun kawin dengan seorang gadis Ambon yang agak lumayan cantiknya."

"Ibu Helena, gimana ?"

"Iya, dia tinggal menjanda lagi, dan hidupnya luntang lantung ke sana sini. Dia sering-sering ke rumah kami dan tetanggaku untuk meminta sesuap nasi. Kalau tidak, siapa yang memberikan dia makan?"

"Tapi dia punya anak-anak,Jul. Mengapa dia tak tinggal di rumah anaknya
yang sulung itu?"

"Eddy, mungkin dia malu dengan pak.Karim meskipun anak kandungnya itu tapi dari sisi kemanusiaan, ya apa boleh buat, "siapa yang menanam, dia lah yang memetik" bak kata pepatah mengatakan, iakan Eddy?"

"Betul, tapi kasihan donk sama janda tua itu,tapi aku rasa anaknya,Irsan juga tak sampai hati melihat ibunya dengan keadaan seperti itu."

"Oh,ialah, masa dibiarkan begitu saja, ya namanya anak dengan ibu kandung
tak bisa dipisahkan bagaikan air tak dapat dibelah dan biarpun kita belah-belah tapi selalu bersatu, iakan Eddy?"

"Iya, jelas donk. Itu makanya kalau status janda di kampung kami agak berat bagi mereka menikah lagi bila almarhum suami mereka meninggalkan anak kepada
mereka dan banyak mereka tak mau menikah lagi.Tapi ini tergantung juga pada pribadi janda-janda itu karena semua orang tak sama prinsipnya, Jul."

"Betul,Eddy. Memang semua apa yang kita lakukan akan ada resikonya, iakan?Tapi sudahlah memang nasi sukar menjadi bubur kembali begitulah nasib Ibu Helena yang agaknya sulit bergabung dengan anak-anaknya."

End

#Cerpen
AMBISI SEORANG JANDA
Oleh : Siamir Marulafau
sm/03122013


Cerpen : CINTAKU DI PERSIMPANGAN Karya : Siamir Marulafau


 

   'CINTA memang buta ',kata salah seorang pujangga Inggeris, tapi walaupun demikian cinta itu juga kadang membawa nikmat dan kadang juga membawa sengsara.Istilah ini tak asing lagi dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan masyarakat awam, masyarakat elit, toh cinta itu berbeda ragam dan tergantung pada yang mencintai dan yang dicintai."Cinta itu sebenarnya adalah sesuatu yang mengalir dalam lubuk perasaan yang sangat mendalam" kata seorang teman saya bernama Edison, yang kebetulan baru saja menamatkan studinya pada salah satu perguruan tinggi di USA.Dia selalu membaca banyak buku yang berhubungan ilmu Humaniora dan politik walaupun dia bukan pada jurusan sastra dan politik.Begitu sibuknya dia mempelajari ilmu Psikologi, dia menyempatkan watunya membaca buku-buku yang berhungan dengan kisah cinta dalam berbagai novel.Tapi setelah dia pulang dari USA, kami jumpa di persimpangan dan mengajakku makan di sebuah restauran terdekat di kampus saya dan aku sangat kaget jumpa dengan dia seakan-akan rasa kerinduan itu bercahaya lagi sepertinya mentari menyinari bumi, terang benderang dan betapa gembiranya aku karena kami sudah sekian tahun tak jumpa-jumpa.Dia adalah teman akrabku di waktu aku duduk di bangku kelas III SMU Khalsa beberpa tahun yang silam, dan tahu-tahu dia sudah menjadi magister di bidang ilmu Psikologi.

Setelah kami masuk di sebuah restauran pada siang hari itu, Edison bertanya padaku,"Nasrul, berapa lama kamu belajar ilmu sastra?"

Aku jawab sambil minum segelas teh. "Aku menyelesaikan studiku di bidang ilmu sastra selama 4 tahun"

"Lantas, sastra apa saja yang kamu pelajari,Rul?"

"Sastra Inggris.Itu pun hanya sampai pada level strata satu(S1)"

"Wah,hebat betul kamu,Nasrul. Aku banyak membaca karya-karya kamu di majalah Times Newyork,dan kamu banyak menceritakan tentang kisah cinta remaja pada masa sekarang.Aku juga senang membacanya,Rul.Biar anda tahu aku bercerita padamu bahwa semenjak aku berada di USA, aku melihat teman karibku juga bernama John dan Margareth.Mereka adalah sangat bersahabat pada mulanya, tapi lambat laun menjadi intim.Mereka saling mencintai.Kisah cinta mereka nyata betul aku saksikan karena mereka adalah sangat akrab denganku."

"Oh, menarik sekali Son,apa kira-kira kisahnya itu?"

"Pokoknya, serulah.Karena temanku itu hampir bunuh diri, dan teman perempuannya gila dan terpaksa di bawa ke rumah sakit gila dan sampai sekarang belum juga sembu-sembuh."

"wah! Seru bangat ya, Edison. Kalau begitu apa sih, ceritanya?"

Mendengar ini, Nasrul juga penasaran karena dia ingin mengetahui mengapa sampai perempuannya gila. Ini kisah cinta yang luar biasa sepertinya kisah cinta yang tak dapat dilupakan dan dipisahkan ibarat kulit dengan daging.

"Edison, jangan buat aku penasaran. Kita kan sambil makan dan alangkah baiknya bila kamu ceritakan padaku tentang itu semua."

"Ceritanya amat menyedihkan Rul karena John dan Margareth ini adalah sama-sama berasal dari daerah yang sama ,yakni dari daerah Mississipi,dan orang tua Margareth sangat miskin sedangkan orang tua John sangat kaya.Tapi walaupun Margareth ini miskin orang tuanya namun dia tidak patah semangat.Dia tetap berjuang dan bekerja di sebuah bar di kota New York selama beberapa tahun. Selama dia bekerja di sana, dia banyak membuahi hasil sehingga dia banyak menyimpan dolar di bank untuk biaya perkuliahannya pada masa akan datang.Dia ingin melanjutkan studinya di Universitas Washington dalam bidang ilmu Psikologi.Cerita demi cerita,ya maklum saja ya Rul,namanya orang kerja di Bar, tentu banyaklah pergaulan, dan dia kenal seorang yang kaya raya dan sangat menolongnya terutama dalam masalah keluarga.Mungkin karena Margareth cerita kepada Tuan Davison tentang keluarganya dan Margareth bisa terbantu sedikit.Tapi namanya bantuan mengalir terus menerus sementara Tuan Davidson sudah mulai menaruh perhatian pada Margareth meskipun tak ada rasa cinta dalam perasaan Margareth tapi Karena Tuan Davidson sangat pandai merayu cewek cantik belia ini, akhirnya hati Margareth luluh bagaikan deburan ombak menerpa pantai menyambut cinta Davidson meskipun Davidson sudah punya putra tunggal semata wayang bernama Jhon.Ya, namanya budaya Timur dengan Barat agaknya jauh berbeda, Nasrul, dan tidak salah bila Margareth tercicipi oleh Tuan Davidson.Sungguh malang nasib temanku,Jhon mencitai Margareth pada awal musim semi mereka pergi di sebuah taman tak begitu jauh dari kampus kami,dan di situlah mereka mengadu nasib sehidup semati.Margareth sangat simpatik bersahabat dengan Jhon dan akhirnya mereka menjadi teman yang intim tak dapat dipisahkan.

Aku pun terheran-heran dan terus berkata pada Edison,"Jadi kalau begitu bagaimana kelanjutan ceritanya. Aku sungguh tertarik mendengar kisah demikian,Son."

"Ya, tenang sajalah,silahkan habiskan dulu kopinya, kan masih banyak lagi, iakan?"

Setelah menyirup kopi Edison kembali bercerita, "Tapi, biar kamu tahu ya Nasrul, yang paling seru lagi ketika kami hampir tamat di perguruan itu.Maksudku di Universitas Washington,Jhon bercerita padaku bahwa pada akhir bulan Desember tahun depan, dia akan melanjutkan pernikahannya dengan gadis yang dicintainya,yaitu Margareth. Untuk itu, dia harus memperkenalkan Margreth kepada kedua orang tuanya, terlebih lebih kepada Bapaknya, yaitu Tuan Davidson. Niatnya itu terkabul bahwa dia harus melamar Margareth karena kedua orang tua Margareth setuju bila John ini teman hidup Margareth karena John adalah seorang yang baik budi, jujur, ganteng dan sangat ramah kepada semua orang.Tapi apa yang terjadi,Rul? Bak kata pepatah mengatakan, mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.Tahu-tahu suasana pada malam peminangan gadis belia ini menjadi malam yang sangat malang bagi temanku Jhon karena calon istrinya melarikan diri dengan tiba-tiba di saat John memperkenalkan calon istrinya kepada Bapaknya,dan Margareth sangat malu setelah bertatap pandang dengan Tuan Davidson. Apa mau dikata, John sebelumnya tak tahu bahwa ada hubungan batin antara Margareth dengan orang tuanya sendiri.Dalam perasaan Margareth,kan tidak mungkin Davidson menjadi mertuanya sementara hubungan mereka masih terjalin intim bagaikan makan buah simalakaman, maju kena mundur kena, iakan Nasrul".

"Wah!Seru bangat itu cinta,Edison. Jadi, bagaimana selanjutnya? Apakah mereka tetap juga menikah?"

"Tentu saja tidak, donk, mana mungkin mereka bersatu lagi?"

" Kasihan juga ya, sama teman kamu itu, Jhon"

"Biar kamu tahu, Nasrul.Temanku,Jhon itu sudah hampir bunuh diri dengan membeli racun tikus dan untung juga pada malam itu kuselamatkan dia.Kalau tidak, ya habislah dia.Aku juga turut prihatin, kok mereka nampaknya kurang saling terbuka antara satu dengan lainnya.Maksudku,mengapa Margareth tidak menceritakan pada John masalah hubungannya dengan Tuan Davidson pada awalnya, kan Jhon ini tak akan korban dan begitu juga Margareth.Tapi yang paling seru lagi, Rul.Tiga bulan kemudian, aku dengar khabar dari salah seorang teman perempuan Margareth bernama Sylvia mengatakan Margareth telah diopname di rumah sakit gila karena urat syarafnya terganggu.Ini juga menunjukkan bahwa dia sangat mencintai Jhon, tapi apa boleh buat. Maksud hati nak meluk gunung apa daya tangan tak sampai, iya kan Nasrul?"

"Betul sekali, Edison. Kasihaan juga pada kedua temanmu, itu ya,dan itulah kalau asmara sudah bergelora sehingga dunia kabur dan kadang tersenyum dan kadang menangis seolah-olah cintanya hanya jumpa dipersimpangan dan sangat sakit bila hal ini terjadi dalam diri kita".

"Sepakat, cinta itu buta"

"Benar,Rul. Makanya aku juga sangat berhati-hati kalau bercinta. Soalnya kalau ini terjadi dalam diriku,apa yang harus kubuat?"Aku, kemungkinan akan juga bisa bunuh diri tapi walaupun demikian kita juga orang yang taat beragama, Rul.Dalam agama Islam, seperti kamu ini Rul kan sangat pantang dan dosa besar dalam ajaran Islam,iakan? Kami juga dalam agama Nasrani sangat terlarang bunuh diri apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru, kita umat kristen harus taat beribadah kepada Tuhan dan banyak mengenang dosa-dosa masa lalu dan meminta ampun pada Tuhan penyelamat supaya masuk surga Bapak."

"Betul sekali apa yang ada katakan,Edison. Kami dalam ajaran Islam sangat tercela bunuh diri dan itu tidak akan diampuni oleh Tuhan karena bunuh diri itu adalah salah satu dosa yang paling besar dalam ajaran Islam......Ok, Edison, nampaknya sudah menunjukkan pukul 3.30 dan aku harus balik lagi ke kampus karena ada urusan yang penting.Selamat Tinggal."

End


#Cerpen
CINTAKU DI PERSIMPANGAN
Karya : Siamir Marulafau
sm/02122013

Cerpen - MENGAPA BAPAKKU GAGAL? Karya : Siamir Marulafau


 

   DI saat langit mendung, aku dan temanku Syukur singgah di sebuah kantin terdekat dan tak berapa jauh dari kampus kami di Jln. Uinversitas,19. Aku berkata sama Syukur " Kita lebih baik berhenti sebentar sambil ngopi,kur. Hujan sudah mau turun dan aku takut tak bisa kita sampai ke kampus karena tak ada payung."

"Oh,betul juga" Kata sukur

"Tengoklah,langitnya sudah mendung. Sebentar lagi hujan deras. Jadi kalau begitu, kita lebih baik berteduh di kantin itu sambil ngopi dan kebetulan sekali Kur, ada yang mau kutanya sama kamu".

Syukur jadi terheran-heran dan merasa kaget dengan omonganku itu dan seolah-olah dia ketakutan,dan dia kelihatannya gugup dan tak bisa ngomong lagi. Aku pun jadi tak enak karena aku seolah-olah memaksa dia ngomong. Tapi namun demikian, aku juga membujuk dia supaya semangatnya pulih kembali, betul pula itu dalam pikirku.

Setelah kami masuk ke kantin itu dan memesan dua gelas kopi panas dan mulailah aku cerita pada Syukur dan sambil menanyakan dia apa yang ada dalam benakku. Syukur rupanya sangat tanggap dengan niatku bertanya kepadanya bahwa dia tak bisa ngelak dan aku bilang, "Apakah benar ayahmu bekerja di kantor Depatemen Keuangan,Kur?"

"Oh, ya, memang Bapakku kerja di sana tapi kemungkinan akan pensiun pada akhir tahun ini.Kami tidak tahu apa yang kami buat bila Bapak kami pensiun nanti".

"Kur, kita harus percaya hawa Tuhan itu maha besar adil dan penyayang.Tuhan tak akan membuat hambanya sengsara terus menerus dan Tuhan maha penyayang, iakan?"

"Betul, Din. Tapi aku kan belum menyelesaikan studiku sementara Bapakku pensiun."

"Alah, gampang semua itu kau kan bisa kerja sambil kuliah."

"Terus terang ya, Din. Selama ini Bapakku kerja di kantor Departemen Keuangan, tapi bapakku tak pernah menyeleweng. Maksudnya, mengkorupsi uang negara. Dan baru-baru ini Bapakku dicalonkan menjadi Caleg 2014-2019. Dia memang saja mau tapi tak mau berusaha untuk menduduki jabatan Calon Legislatif. Bapakku jujur benar dan tidak mau neko-neko, dan katanya pada kami, Walaupun aku sudah dicalonkan menjadi Caleg 2014-2019 tapi aku tak ambisi.Kalau memang menang ya, menanglah,kalau tidak menang, ya sudah. Aku tidak mau bersifat money politic karena kalau sudah kayak begitu,kita tak bakal tentram untuk bekerja dan apalagi dinasnya bekerja dibahagian legislatif....Pikirku, ya betul juga bapakku,tapi namun demikian sebagai anak Sulung,aku juga memihak pada prinsip Bapakku karena dia sangat jujur dan tidak mau menyuap dan memakan suap karena itu sangat pantang dalam ajaran islam".

"Oh, jujur sekali Bapakmu,Kur. Sulit sekali mendapatkan orang seperti itu sekarang. Bisa dikatakan 1000 satu dan itu pun kalau ada orang macam kayak gitu."

"Bapakku sederhana dan tidak suka macam-macam. Kemungkinan Bapakku bekerja di kantor Keuangan selama lebih kurang 20 tahun lamanya dan tidak pernah terlibat dalam masalah keuangan baik di dalam pekerjaanya maupun di luar tugasnya. Makanya Bapakku sangat dipercayai oleh atasannya.”

"Kur,ingat bahwa orang jujur selalu terbujur dan sampai-sampai dia pun."

"Din, setiap orang berbeda prinsipnya dan memiliki karakter yang berbeda-beda pula, betul atau tidak?"

"Ya, benar.Tapi alangkah baiknya, Bapakmu memberikan kesempatan padamu untuk bekerja di kantor itu. Maksudku ya, kalau Bapakmu sudah pensiun, jadi kamulah penggantinya."

"Wah!, Tidak mungkin,Din.Itu namanya KKN,mentang-mentang Bapakku sebagai kepala tata usaha di kantor itu,aku harus diangkat menjadi salah seorang staf. Itu kan tidak mungkin. Kita harus melamar dan memenuhi beberapa persyaratan-persyaratan menjadi PNS sebagaimana lazimnya, iakan?"

"Betul, aku sepakat kalau begitu. Masuk menjadi pegawai PNS bukanlah suatu hal yang gampang. Tapi entah bagaimana pula ya, kok yang lainnya gampang masuk dan bekerja sebagai PNS."

"Jangan kamu merasa yang tidak-tidak dan salah paham,Din. Mengenai masuknya seseorang untuk menjadi pegawai PNS telah kupelajari semua karena sedikitnya Bapakku bercerita kepadaku tentang itu semua."

"Baguslah kalau begitu, Kur. Berarti kamu sudah mengerti semua. Tapi aku tak mengerti semua itu karena Bapakku,Kur. Adalah seorang petani dan bukan bekerja sebagai PNS,sedangkan Ibuku tak bekerja dan hanya sebagai Ibu rumah tangga. Kur, sampai sini ajalah dulu kita berbincang kebetulan kami masuk jam 9.30. Bapak dosen yang mengajar mata kuliah Kritik Sastra datang dan salah seorang temanku memanggil melalui selulerku. Selamat tinggal ya, sampai jumpa lagi."

End

Cerpen:
MENGAPA BAPAKKU GAGAL?
Oleh : Siamir Marulafau
sm/28112013

Cerpen - TULANG RUSUK PEREMPUAN TAK PERNAH BERTUKAR Karya : Siamir Marulafau


 

   DI sebuah institusi pendidikan Swasta, ada seorang teman Joni yang sangat akrab dengan aku di kala melanjutkan studiku di salah satu lembaga pendidikan di kota Medan. Nampaknya, teman Joni itu sangat ambisi dalam studi sehingga dia mendapat predikat yang sangat bagus dalam studinya.

Pada suatu hari,aku bertanya pada Nasrul,"Berapa lama kamu tinggal di kota ini?"

Nasrul menjawab,"Saya sudah lama tinggal di sini sekitar lebih kurang 5 tahun lamanya, dan aku tinggal di rumah nenek, dan sudah tiada lagi, meninggal setahun yang silam."

"Oh,begitu.Jadi, orang tuamu masih hidup?"

"Kedua orang tuaku masih hidup,Bapaku bekerja di sebuah instansi sedangkan Ibuku bekerja sebagai ibu rumah tangga. Aku punya dua orang saudara yang sedang kuliah di salah satu perguruan Swasta bernama Rizky Endang Sugiarti dan yang paling bungsu namanya Edi, sedang studi di SMU Negeri 2 Medan".

Memang keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Aku katakan pada Nasrul, "Berarti kedua orang tuamu berhasil membina kalian semua. Kita lihat pada masa sekarang agaknya banyak orang tua gagal dalam membina rumah tangga,dan aku pun selalu bertanya-tanya, mengapa demikian?"

Nasrul yang sedang memegang pulpen menulis puisi berkata,"Ada-ada saja pertanyaan kamu ini, Azmir, berhasilnya orang tua atau tidaknya dalam membina rumah tangga kan tergantung pada pribadi orang tua.Kalau memang orang tuanya tahu tuanya dan berpendidikan mendidik anak, iya jelas donk orang tua itu akan berhasil membina keluarganya, iya toh?"

"Betul sekali Nasrul, apa yang kamu katakan tepat dan aku pun berpikir demikian karena keberhasilan orang tua itu tergantung pada bagaimana mereka mengayomi dan mengarahkan anak-anak mereka ke jalan yang benar, karena apabila salah semua akan tertumpah pada mereka,iakan?"

Menjelang bulan Ramadhan, semua institusi diliburkan dan temanku, Nasrul juga hendak mau balik ke kampung halamannya yang agak jauh dari kota Medan. Selama berada di kampung Nasrul sangat taat beribadah dan semua orang kampung itu sangat senang kepadanya,dan apalagi Nasrul seorang Qori Nasional terbaik di tingkat Universitas di Indonesia. Iya jelas banyak perempuan yang senang kepadanya.

Sekitar pertengahan bulan Ramadan, aku menelpon Nasrul dan bertanya padanya,"Rul, kapan bailik ke Medan?"

Dia menjawab, "Aku ke Medan setelah lebaran bersama adiku Endang karena Endang mau melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Inggris UISU Medan, dan kemungkinan semester depan adiku ini sudah tamat dan diwisuda akhir tahun ini."

"Oh, begitu, Rul. Aku pikir kamu cepat balik ke Medan karena pada akhir bulan Ramdhan ini, ada acara haflah Al Quran diadakan di Mesjid Agung Medan, dan aku telah mendaftarkan kamu untuk ikut peserta pada kegiatan itu, tidak apa-apa kan,Rul?"

Mendengar cakapku ini, Nasrul juga senang dan mengatakan padaku, "iya...daftarkan sajalah, aku akan segera ke Medan, tak usah khawatir, demi teman"

Tepat tanggal 28 Juli 2013,Nasrul datang ke Medan bersama adik kandungnya dan segera menjumpaiku di tempat kosku yang lama tak begitu jauh dari kampusku. Dan alangkah terkejutnya aku di saat Nasrul mengetuk pintu kamarku datang bersama Endang dan seorang perempuan yang cantik, rupanya teman baik Endang. Erni salah seorang perempuan yang baik budi dan hatinya lembut selembut salju disamping ramah pada setiap orang. Sehingga banyak kaum lelaki yang menggaitnya tapi dia tak mau karena dia sangat senang pada abangnya si Endang. Pikirku, Nasrul punya adik perempuan lagi selain Endang tapi penglihatanku salah. Mereka sudah menjalin hubungan asmara sejak duduk di bangku SMU beberapa tahun yang silam. Nasrul juga sangat mencintainya, di mana mereka macam pinang dibelah dua dan tak bisa dipisahkan. Aku berkata dalam hatiku,"Mengapa ga kayak gini pacarku?" Aku murung sejenak karena mengingat nasib dunia sudah menjadi bubur dan sukar menjadi nasi kembali.

Tapi menjelang enam bulan kemudian, aku mendapat kabar baik dari keluarga Nasrul bahwa keluarga Erni sangat setuju bila pernikahan mereka di laksanakan pada bulan Desember tahun depan dan mereka pun tak lupa mengundangku untuk datang ke sana. Aku pun tak menolaknya karena dia juga sahabatku yang baik. Di saat pernikahan mereka aku juga bilang pada Nasrul bahwa kamu harus benar-benar serius berumah tangga sambil kuliah di S2 karena perempuan pada masa sekarang ini sangat berbeda karakternya dengan perempuan pada masa dahulu, iya kalau tak percaya omonganku ini, boleh bertanya pada orang tua.

Nampaknya, Nasrul juga tertarik dengan cakapku dan berkata padaku,"Betul kah itu? Apakah memang semua perempuan punya karakter seperti itu?"

Aku jawab,"Apa yang kukatakan benar,Rul. Karena kalau sudah menikah, istri itu sudah menjadi sebahagian tulang rusuk kita dan sukar untuk dipertukarkan. Jodoh itu adalah semuanya ditangan Illahi dan Allahlah yang menentukan siapa yang pantas jadi istri kita.Makanya pernikahan itu harus benar-benar dan tak boleh tak bertanggungjawab. Hematku, Nasrul...tidak perlu bimbang karena perempuan yang akan kau persunting itu berasal dari keluarga yang baik-baik, iya bukan? Mereka sangat ternama di kampung itu, kan? Ini semua aku dengar pada tetanggamu di waktu aku berkujung ke tempat kalian setahun yang lalu, masih ingat atau tidak?"

Nasrul sangat terkesima mendengar cakapku dan langsung menyalamiku,"Aku sangat salut dengan kamu, Azmir. Kamu adalah teman baikku, dan memang apa yang kamu katakan padaku semua benar dan juga hal seperti ini sangat terpikir olehku. Soalnya, aku harus menikahi Erni karena dia seorang anak yang baik di keluarganya dan pantas menjadi istriku, iakan?"

Itukan tergantung pada yang punya badan, kataku pada Nasrul, "Ingat, Rul perempuan itu berbeda-beda tingkah dan kelakuannya tapi yang paling penting adalah karakternya,bukan soal cantiknya. Memang calon istri kamu sangat cantik, cantiknya macam bintang film Boliwood, India. Aku pun salut melihat kamu, kok sampai bisa dapat kamu secantik itu, ya Rul? Apakah kamu punya ilmu pelet Apalagi Erni itu berasal dari keluarga yang kaya tapi kaya hati pada semua orang. Mengapa aku tahu ini semua, Rul? Aku kan seorang yang suka meneliti kasus,dan apalagi kamu temanku dan tak suka bila kamu menikah dengan perempuan yang tak beres. Maksudnya statusnya tak beres dan keluarganya juga keluarga yang tak terpandang di masyarakat. Itulah yang paling penting,Rul, status keluarga. Karena ingat apa yag selalu dibilang orang, kalau pohonnya bagus, maka buahnya juga akan bagus, iaya kan Rul? Betul atau tidak?"

Nampaknya, Nasrul juga sebagai teman tak bosan mendengar ocehanku walaupun kusampaikan dengan nada yang agak nyaring memekakan kuping tapi Nasrul senang menerimanya dan dia juga sangat berterimakasih atas saranku sebelum dia masuk di ambang pintu pernikahan tahun depan.

"Terimakasih, makasih ,,,,Azmir. Memang kamu teman baikku."

"Aku sudah tahu sifatmu, dan tak akan membiarkan seorang teman hanyut ke hamparan lautan yang tak berpilar.Maksudnya kamu tak suka bila teman hancur hanya disebabkan perempuan karena perkawinan itu seharus sekali saja dan itulah yang paling baik,aku pikir Azmir, iakan? Istri itu kan tulang rusuk kita yang hilang dan sebadan dengan kita, dan tidak bisa dipertukarkan."

Menjelang pertengahan bulan Desember tahun berikutnya, aku pun datang ke pesta perkawinan temanku, Nasrul di mana pergelaran adat istiadat Minang sangat menarik perhatianku karena sebelum mempelai laki-laki memasuki rumah perempuan yang dipersunting terlebih dahulu disambut dengan adat istiadat berupa tari piring yang sangat mengharukan hati. Aku pun sangat tertegun melihat situasi demikian, betapa indahnya tarian-tarian yang disuguhkan pada masa itu. Apalagi keluarga perempuan ini sangat terhormat dan terpandang di kampung itu sehingga pesta perkawinan temanku itu berlangsung dua hari dua malam dan aku betul-betul sangat senang melihat temanku, Nasrul bahagia. Bukan itu saja membuat hatiku senang sebagai teman Nasrul tapi sifat dan karakter keluarga mempelai perempuan sangat sopan dan ramah, menghargai pendapat orang lain dan sebagai buktinya, Endang Sugiarti juga berperan dalam membaca puisinya dengan penuh khidmah membuat bulu kudu semua orang naik ke langit yang ketujuh begitu indahnya bacaan puisi bermakna pada tema perkawinan ditulisnya beberapa bulan sebelum pernikahan Abangnya berlangsung. Aku juga salut melihat Endang pada masa itu, karena dia seorang penyair kenamaan di kota Medan.

Mendengar kataku itu, Nasrul jadi terharu pada apa yang aku katakan, dan kukatakan padanya bahwa aku bukan memuji sebenarnya tapi kenyataan. "Untuk apa kita bilang seperti itu kalau sesuatu yang kita katakan itu tak benar, iakan ,Rul?"

"Betul sekali, Azmir. Terimaksih atas atensi Saudara"

"Iya, apa yang kutakan benar, aku kan tak bercakap yang tidak-tidak, kenyataan,donk."

"Memang betul itu, Azmir,,,,,,,teringatnya? Kapan Azmir menamatkan studinya?"

"Aku kan tak kuliah lagi Nasrul"

"Mengapa? Kan lebih baik kalau kamu melanjutkan ke S3?"

"Aku pikir sudah, Rul sampai S2 saja karena usiaku termakan senja dan lagipula aku sangat sibuk mengajar setiap harinya dan tak punya waktu untuk itu, iakan?"

"Oh, begitu, itu kan tergantung pada kamu sih, Azmir. Tapi hematku kamu lebih baik kuliah S3 karena sangat penting untuk kemajuan pembelajaran di Universitas, iakan?"

"Betul! Betul! sekali. Sepakat tapi aku tak punya waktu lagi dan apalagi biayanya sangat mahal. Kalau memang ada program riset untuk S3 di Malaysia, iya aku akan ikut program itu tapi memang ada tapi biayanya sekarang, Rul."

"Biar kamu tahu Azmir,setelah calon istriku tamat di S2 jurusan linguistik di Universitas Kebangsaan Malaysia, aku akan menyarankan dia supaya melanjutkannya ke S3 dan begitu juga adikku Endang Sugiarti supaya dia harus menyambung kuliahnya ke S2 jurusan sastra Inggris di India. Aku yakin Endang dapat menyelesaikan studinya dalam waktu yang singkat karena dia seorang anak yang pintar dan pandai berbahasa Inggris dan apalagi seorang penyair, iyakan?"

"Aku setuju pendapatmu Nasrul karena Endang itu kan mantan mahasiswiku di Fakultas Sastra UISU beberapa tahun yang lalu dan dia juga pintar dan sangat gigih berjuang demi kesuksesan dalam pendidikan, iya toh? Nampaknya, sudah menunjukkan pukul 12.00 wib, seharusnya kita berhenti dulu karena kebetulan hari ini hari Jum'at dan aku sholat Jumat ke Mesjid Taqwa, apakah tak ikut kamu,Rul?

"Iya, jelas donk, mari kita sama-sama ke mesjid dan sholat bersama, ayuk!"

End


Cerpen :
TULANG RUSUK PEREMPUAN TAK PERNAH BERTUKAR
Oleh : Siamir Marulafau
sm/04042014

Cerpen - CERITA CINTA MAYA Karya : Ros Maya




   "BIASANYA aku lelap tidur
terbangun untuk fikirkan diri mu
mengenang mu yang kini telah jauh
biasanya aku tenang tidur
terbuai ku mengingat diri mu
mencinta mu
namun kau telah jauh
ku cuba lupakan diri mu
mengingat mu
hancurkan hati ku
dahulu seia sekata
namun kini semua telah berlalu
sayang ku ingatkan diri mu..."

Sudah berulang kali Azie memutarkan lagu itu. Setiap kali ia berkumandang, Azie akan ikut menyanyikannya dalam nada yang rendah. Dia cukup suka dengan lagu itu. Niat di hatinya kalau ada pertandingan lagu-lagu karaoke, dia akan bawa lagu itu untuk pertandingkan. Harapan Azie lagu itu akan membawa tuah kepadanya.

Azie menyanyi lagi. " ...bahawa ku tak bisa hidup tanpa mu.. " Namun dia terasa cukup sedih apabila sampai ke bahagian itu. Tanpa sedar kolam matanya digenangi air jernih. Dia terkenangkan seseorang yang cukup menyentuh raga rindunya. Tapi belum sempat air jernih itu mengalir ke pipi, Azie sudah mengesatnya dengan hujung jarinya. Dia tidak mahu anak perempuannya yang tidur sebilik dengan dia sejak lahir itu, akan melihat kesedihannya, kerna sejak akhir-akhir ini, semakin meningkat usia anaknya remaja, terlalu banyak soalan pelik-pelik yang dia tanya, yang kadang-kadang sukar dijawab oleh Azie.

Azie menoleh pada anaknya yang sedang baring di sebelahnya. Kelihatan Mata anaknya mula tertutup. Telinganya ada terpasang 'handfree'.

"Agaknya dia sedang menghafal lirik lagu Janji Manis Mu, kerna pada hujung minggu nanti dia ada pertandingan karaoke peringkat akhir." Begitu sangkahan Azie di dalam hatinya.

Azie tidak ingin menganggu anaknya. Dia cuba melenakan matanya, tapi fikirannya melayang jauh.

" Zie..Abang merasa sangat bersyukur kerna telah dapat bertemu dengan mu, walau telah melalui banyak rintangan. Abang telah dapat juga menatap wajah yang selalu marah-marah sayang ini." Nampak sangat kegembiraan di wajah Azri di saat menuturkan kata-katanya.

" Ya bang, Zie pun rasa terharu sangat di saat tiba-tiba melihat abang terpacak di pintu bengkel Zie mengajar tadi. Rasa macam Zie bermimpi. Itu yang Zie seperti terpingah-pingah tadi itu, sampai tak terjawab salam abang. Maafkan Zie ya." Azie tertunduk malu apabila bola mata Azri mula menatap seluruh wajahnya. Melalui sorot pandangan Mata Azri, Azie dapat merasakan ada segunung rindu yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Sesungguhnya jauh di sudut hati Azie juga mengakui, bahawa dia sangat merindui lelaki ini. Namun dari pergaduhan terakhir yang mereka lalui, membuat Azie berfikir, tidak mungkin lagi Azri akan menemuinya.

Lamunan Azie terhenti apabila dia terasa ada sesuatu yang mengenggam tangannya dan mula meramas jari jemarinya. Jiwanya menjadi lebih bergetar, apabila tiba-tiba genggaman tangan Azri membawa tangannya ke mulut, lalu menyentuhnya dengan satu ciuman yang cukup lembut. Dia terasa ingin merebahkan kepalanya ke dada yang bidang itu, untuk bermanja-manja semahunya. Namun kesedarannya sebagai wanita muslim, Azie beristigafar di dalam hati dan berdoa memohon diberi perlindungan dari Allah, agar dijauhkan dari perbuatan yang diharamkan olehNya.

Perlahan Azie menarik tangannya dari genggaman Azri. Dia keluar dari kereta Savvy merah itu, untuk menghirup udara malam Pantai Teluk Likas. Azie bersandar di dinding keretanya. Dia membawa matanya menatap keindahan lampu-lampu kapal nelayan di tengah lautan. Tapi tidak lama dia berdiri di situ, Azie terasa pinggangnya pula di paut mesra.

"Ya Allah..., sentuhan lelaki ini seperti ais di pergunungan kinabalu, yang menggetarkan bukan cuma jiwa ku, tapi tubuh ku juga. Adakah ini kerna sentuhan pertama, selepas tiga belas tahun suami aku meninggalkan aku?" Azie mengelabah sendiri dalam cuba menenangkan perasaanya.

"Kenapa sayang, sejuk ya? Agaknya udara laut ini membuat mu jadi sejuk." Azri seperti dapat merasakan getaran pada tubuh Azie.

"Ma! Mama!...Kenapa mengeletar ini? Mama kesejukankah?"

Suara anak Azie seperti menyedarkan dirinya. Azie membuka matanya yang bukan tidur. Dia merasa sangat malu pada anaknya. Rupanya dia telah berangan-angankan satu kesah yang tidak nyata.

Azie menatap wajah anaknya. Sambil tersenyum dia berkata, "Tidurlah anak mama. Esok sekolah. Mama mahu awal pergi kerja. Tidak mahu dapat hati Dan merah lagi." Azie cuba mengalihkan perhatian anaknya dari keadaan dirinya tadi.

Anaknya yang sudah duduk tadi itu tiba-tiba mencium pipi ibunya sambil mengucapkan, "Asalamualaikum ma dan selamat malam."

"Walaikumsalam sayang. Jangan lupa baca Al-Fatihah dan Ayat Kursi sebelum tidur itu." Kelihatan anggukan kecil dari anaknya, sebelum merebahkan kembali kepalanya ke bantal di sisi ibunya.

Azie mengiringkan tubuhnya ke kanan, ke dinding yang kosong dalam bilik itu. Azie merasa dia cukup sukar melelapkan mata sejak akhir-akhir ini. Ada perkara yang merungsingkan fikirannya. Kesah hubungan cintanya dengan Azri seperti tergantung tidak bertali.

Sebelum ini Azie meminta hubungan mereka diputuskan. Ini disebabkan dia merasa cukup kecewa dengan sikap Azri yang telah membuang dia dari menjadi rakan muka buku, sedangkan di tempat itulah mereka ditemukan. Bagi Azie apabila Azri sudah sanggup membuangnya seperti itu, bermakna cinta Azri kepadanya sudah tiada. Jadi buat apa lagi mereka berhubung.

Tapi berbeza dengan Azri. Dia membuang kononnya untuk mencari ketenangan, tapi bukan bermakna dia sudah tidak mencintai Azie. Tapi Azie tetap berdegil mahu memutuskan hubungan, kerna tanpa mereka bukan menjadi rakan muka buku lagi, tiada makna lagi perhubungan itu. Sehingga Azri merayu untuk menerimanya kembali, dengan cara menambah Azie menjadi rakan muka bukunya kembali, baru Azie menarik kembali kata putusnya.

Namun baru beberapa hari pertengkaran itu berakhir, datang lagi pertengkaran yang baru.Kali ini lebih teruk dari yang lepas-lepas. Azral telah datang dengan cereta fitnahnya. Dikhabarkannya pada Azri, konon Azie bercinta dengannya sudah 6 tahun. Azie merasa pelik, bagaimana Azral boleh mengatakan begitu, sedangkan selama ini Azie sentiasa cuba mencari jalan menghindar dari berhubung dengan Azral.

Konon lagi fitnah Azral, dia selalu telefon Azie. Kalau Azral tak telefon, Azie akan marah. Pada hal hakikatnya Azral yang selalu marah-marah bila setiap kali dia telefon, selalu tidak diangkat, atau budak-budak yang sambut mempermainkannya.

Paling teruk fitnahnya, Azie konon layan ramai lelaki dan memberi mereka harapan. Sampai ada katanya yang hubung dia memberitahu ada hubungan dengannya, tapi dia biarkan saja, kerna kononya Azie buat begitu sekadar main-main untuk mengisi masa terluang. Azie betul-betul rasa tercabar kemarahannya dengan fitnah Azral yang ini. Pada hal cereta ini diterbalikkannya.Dia yang berkelakuan begitu, tapi dikatakannya Azie.

Azie masih ingat lagi di saat hampir setahun Azie cuba mempelajari sikap Azral. Waktu itu Azie cuba belajar menyanginya apabila Azral merayu cinta kepadanya. Tapi apa yang dia dapat, Azral selalu memburu cinta wanita-wanita yang cantik dalam muka buku. Apabila ditegur oleh Azie, jawapannya cuma main-main. Bukan sayang betul-betul pada mereka. Sekadar mengisi masa lapang saja. Alasan Azral itu tidak dapat terima oleh Azie. Sehingga pada suatu ketika, Azie tidak mampu lagi bertahan dengan tingkah lakunya, apabila Azral sanggup membela rakan muka buka yang selalu bersenda-senda dengannya itu, pada hal rakannya itu sudah cukup menghina Azie. Malah Azie lagi yang dimarah dengan kata-kata yang cukup kesat. Sampai sekarang kata-kata itu tidak pernah luput dari ingatannya.

"Ini cuma mayalah. Hubungan kita pun cuma maya. Kita belum ada ikatan spa-apa. Awak tidak perlu cemburulah. Saya tidak suka dikongkong. Belum ada apa-apa ikatan pun. Kalau mahu pergi, pergilah!"


Cukup pedih hati Azie menerima ungkapan Azral itu. Bermula dari saat itu Azie berikrar di dalam hati hanya menganggap Azral kawan biasa saja. Bermula dari waktu itu juga, Azie tidak ambil kesah lagi hal Azral. Walaupun kadang-kadang ada juga Azral menelefon dia, tapi dia biarkan berdering begitu saja atau dia suruh anak buahnya yang jawab. Namun kadang-kadang ada juga masa dia mengangkat panggilan, di saat dia terlupa memandang panggilan dari siapa. Tapi bila sudah mendengar suara Azral, Azie akan mencari alasan untuk menyingkatkan perbualan.

Sudah jauh Azie hanyut oleh arus ingatannya. Tiba-tiba telefon berdering memecah keheningan malam. Apabila melihat nama Azral yang terpapar memanggil, dia segera mengangkatnya. Tapi Azie tidak bercakap. Dia bangun dari pembaringannya menuju ke pintu. Dia mahu ke ruang dapur untuk bercakap dengan Azmal. Dia tak mahu anaknya mendengar maki hamunnya. Dia ingin memarahi Azmal di atas perbuatannya yang memfitnah dirinya pada Azri.

"Asalamualaikum!" Belum sempat Azie mendengar salamnya dijawab, dia sudah mengajukan soalan dan kata-kata yang agak kesar kepada Azral.

" Siapa nama lelaki-lelaki yang ramai kau kata aku layan dalam muka buku itu? Mana meseg lelaki yang kau kata mengaku ada hubungan dengan aku yang ramai itu?"

Kedengaran Azral menjawab, "Entah mana sudah. Aku tak ingat nama-namanya."

"Kau memang pembohong. Kau sengaja mereka-reka cereta itu pada Azri supaya dia membenci aku. Mustahil kau boleh lupa semua nama itu, mesti ada salah satu yang boleh kau ingat. Ini sudah membuktikan yang kau berbohong. Jangan kau bersumpah-sumpah, nanti kau dimakan sumpah mu. Semua yang kau kata itu bukan sifat ku. Nampak sangat bohong mu. Sayangnya Azri mudah sangat mempercayai cereta dan sumpah mu."

Azie meluahkan perasaan geramnya pada Azral. Azie tidak menunggu lagi Azral menjawab kata-katanya, dia terus menekan punat 'off '.

Azie melihat ada meseg yang belum dibaca. Bila dia membacanya, maka terpaparlah ayat ini, "Dah banyak kali abg cl, tapi sayang tak angkat. Nanti abg akan hubungi sayang lagi."

Rasanya nak muntah Azie membaca meseg itu. Agaknya meseg yang dihantar oleh Azral tadi sebelum dia bercakap dengan Azral. Azie terfikir nak tukar nombor telefon agar tiada lagi gangguan dari Azral.

Azie kembali ke pembaringannya. Dia teringat waktu perkenalannya dengan Azri. Masa dia menjauhkan diri dari Azral, Azri muncul dalam hidupnya. Walaupun Azie sudah fobia dengan cinta maya, tapi entah kenapa dengan Azri, apa yang telah meruntun hatinya untuk menerima kasih sayangnya. Walau mereka selalu bergaduh di sepanjang usia perhubungan setahun lebih itu, namun ia seperti pengikat kasih sayang mereka. Dia pernah menyatakan akan membuat pasport perjalanan ke malaysia untuk menemui Azie dan dia sudah memperlihatkan kesiapan pasport itu. Pada waktu itu hati Azie berbunga bahagia. Tapi kini semuanya seperti tinggal kenangan. Fitnah dari Azmal seperti tertanam di hatinya. Walaupun sudah dijelaskan semuanya oleh Azie, tentang niat Azmal yang sengaja mahu menghancurkan hubungan mereka, tapi sehingga kini Azri membisukan diri dari sebarang kata darinya. Apa yang mampu dilakukan oleh Azie hanya berserah kepada takdir. Dia sudah redoh pada segala kejadian yang dilaluinya.

Dalam keasyikan Azie melayan perasaannya, tiba tiba matanya terpandang pada tudung yang tergantung di dinding biliknya. Tudung itu pemberian dari Azri Azie bangun mendakapnya erat. Tiba-tiba airmatanya menitis. Kali ini dia sudah membiarkannya mengalir. Hatinya cukup tersentuh. Dia ingin menyimpan tudung itu sebagai kenangan terindah di dalam hidupnya.

Dalam sendu yang menyeksakan, kadang kadang Azie bertanya pada dirinya, "Perlulah cinta maya ini berakhir? "

Namun jawab hati halusnya, "Biarlah waktu yang memutuskan."

T A M A T


Cerpen –
CERITA CINTA MAYA
Penulis : Ros Maya




Cerpen - PELAJARAN BERHARGA UNTUK PUTRA Karya : Pandu Eva


 

   SUDAH sering kali ibu melihat Putra, anaknya, rebutan mainan. Kalau sudah main bersama teman-teman, salah satu di antara mereka pasti ada saja yang menangis. Seperti hari ini, Dio teman main Putra, tiba-tiba pulang sambil menangis. Padahal sebelumnya Putralah yang mengajak Dio main ke rumah.

"Putra, kenapa Dio?" tanya ibu dengan lembut.

"Dio mau pinjam motor-motoran, Bu. Tapi ga aku kasih. Ini kan masih baru," ujar Putra polos, sambil memperlihatkan mainan barunya.

"Oh, terus kenapa kamu ga kasih mainan lainnya? Mobil-mobilan misalnya atau puzle itu," tanya ibu lagi, menunjuk beberapa mainan yang masih berserakan di lantai.

"Semua maenan Putra kan masih baru, Bu. Nanti kalo dipinjemin rusak dong," seru Putra dengan wajah cemberut.

"Loh, kalo semua maenan masih baru, terus Dio maen apa dong?"

Putra terdiam. Bahunya turun naik, tanda ia tak tahu. Sementara ibu hanya menggeleng melihat Putra begitu.

***

   Keesokan harinya, saat libur sekolah. Putra tampak asyik bermain bersama motor-motoran dan mainan baru lainnya, di rumah. Dua jam berlalu, ibu melihat Putra mulai bosan bermain. Lalu ia menghampiri Putra.

"Bosan ya? Maen di luar sana sama Dio dan teman-teman. Atau ajak Dio maen ke sini," seru ibu.

Putra tampak senang mendengar saran dari ibu. Lalu ia segera pergi ke rumah Dio dan teman-teman. Sepuluh menit kemudian, Putra kembali ke rumah seorang diri. Tak ada satu orang pun teman bersamanya. Putra tampak murung, bahkan hampir menangis.

Melihat Putra bersedih, ibu segera menghampiri sambil memegang buku cerita bergambar yang baru saja dibeli lewat jalur online.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya ibu, tangan kanannya sibuk membelai lembut rambut Putra.

"Dio dan teman-teman ga mau maen sama aku, Bu. Kata mereka aku pelit." Putra menangis sesegukan, bercerita kepada ibu.

Ibu hanya tersenyum, lalu membuka lembaran buku cerita yang ada di tangannya. Tangisan Putra terhenti melihat buku yang dipegang ibu. Gambar dan warnanya terlihat sangat bagus. Putra kelihatan tertarik.

"Wah, bukunya bagus banget. Ibu baru beli ya? Aku pinjem dong!"

Tangan Putra berusaha meraih buku cerita itu, tapi ibu segera menutup buku dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.

"Ibu, aku pinjam!" Berkali-kali Putra merengek meminta buku cerita dari ibunya, tapi tetap tak dikasih.

"Jangan, Sayang. Ini masih baru. Nanti kalo kamu pinjam, ibu takut robek bukunya," ujar ibu dengan mimik wajah meledek.

Mendengar perkataan ibu. Akhirnya Putra menangis. Melihatnya menangis, ibu tak tega, lalu menarik napas, menyuruh Putra duduk.

"Kamu tau kenapa Dio dan teman-teman ga mau maen sama kamu?" tanya ibu lembut.

Putra hanya mengangguk, menjawab pertanyaan ibu.

"Lalu gimana perasaan kamu waktu ibu ga kasih pinjam buku ini?" Ibu mengangkat buku cerita di hadapan Putra.

"Sedih, Bu," jawab Putra tertunduk.

"Nah, begitu juga perasaan teman-teman kamu, waktu kamu ga kasih pinjam maenan. Apalagi Dio sampai nangis. Pasti sedih banget itu," ujar ibu, berharap Putra yang telah berusia tujuh tahun akan mengerti maksudnya.

Seketika itu juga Putra paham maksud ibunya. Putra segera meminta maaf kepada ibu, berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Lalu ia mulai mengelap air mata dan ingus yang dari tadi keluar masuk karena menangis.

_End_


#CeritaAnak
PELAJARAN BERHARGA UNTUK PUTRA
Oleh : Pandu Eva.
Jakarta, 19 November 2019.



Cermin : GEGARE DERIAN – Tok Dalang


 

   MALAM jum'at jam dua suboh Dolah baru balek ke rumah. Dolah abes ngumpol dengan konco-konconye di pasar seruni ngentak buah durian. Sesampainye di rumah, Leha, bininye yang paling disayang udah bedengkor.

"Assalamualaikum" Dolah ngasi salam, tangannye mengetok pintu.

"O. Leha, Leha. Abang dah balek, bukakanlah pintu sayang" sambong Dolah mujok si Leha.

Dari dalam rumah tedengar suare langkah kaki Leha nuju pintu.

"Waalaikum salam" saot si Leha.

Krek. Pintu rumah pun dibuka si Leha.

"Dari mane bang! Jam segini baru balek?" Tanya si Leha nciom tangan Dolah.

"Rencane tadi tuh yasinan sebentar yak, balek dari yasinan singgah lok ngopi di warong Mak Timah. Abes ngopi langsung balek. Ee.Jumpe pulak same si Leman kawan abang dari Sepok Laot, Die ngajak makan derian di pasar seruni" kate Dolah pulak.

" Pantaslah tangan abang bau derian. Abang nih, makan derian bah tak ngajak." Kate Leha masamkan muke.

"Macam mane pulak na ngajak sayang. Ndak ke abang nih diajak si Leman" Dolah mulai bekelet.

"Bawakan ke adek ni sebutik. Baunye yak yang dibawanye balek" Leha mulai merajok.

"Janganlah merajok sayang, sukor maseh ade baunye, dari pade tadak same sekali hehe" Dolah mujok Leha. "Yok! Kite tidok, abang ngantok." Mereke pon masok kamar.

Dalam kamar. Dolah kepingen pulak na indehoi. Mungkin pengaroh makan derian. Pas pulak malam ini Leha makai baju tidok yang tipis nampak celane dalamnye.

"Sayang! Abang pengen" Dolah mulai merayu.

"Ee! Ngantok bang. Laen kali lah." Kate leha menolak.

Dolah tak putos asa " Ayolah sayang" katenye pulak.

"Ndak e abang nih! Makse pulak" jawab Leha mbalekkan badan mbelakangek Dolah.

"Ayok lah sayang! Abang pengan bah" Dolah maseh bekuat.

"Tunggu bentar!" Kate Leha.

Leha masokkan tangan ke celane dalamnye. Abes tuh tangannye disekapkannye ke idong Dolah. "Iniha!" Katenye pulak.

"Ape maksud sayang nih! Baunye disempalkan ke idong abang" Tanya Dolah naek spaning.

"Ciomlah baunye! Sukor maseh adek ciomkan baunye, dari pade tadak same sekali."

*****END*****
Cermin (Cerita Mini)
GEGARE DERIAN
Karya : Tok Dalang
#tempuyak










Cerpen : SENYUMMU BAHAGIA KAMI - Nengicha



   SENJA hampir tenggelam dalam kelam. Jingga mega hiasi cakrawala sebentar lagi akan sirna, ditelan gelapnya malam. Cukup lama aku menunggu mas Yoga, dan akhirnya sampai juga dia di tempat yang dia janjikan, di taman kompleks yang tidak jauh dari rumah.

"Kok terlambat sih, katanya jam 6 petang?" tanyaku.

"Iya, ada sesuatu di rumah, yuk langsung" dia pun menjawab sembari menggandeng tanganku menuju motornya.

Kita langsung melaju ke tempat biasa kita nongkrong, di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari komplek perumahan tempatku tinggal.

"Dinda makan apa?" Tanyanya.

"Nasi goreng aja sama teh hangat" jawabku.

Selama perjalanan tadi perutku terasa mual, sepertinya masuk angin.

"Dinda" adalah panggilan mas Yoga ke aku.

Malam itu kita makan sambari melepas rindu, dengan bercanda tawa dan ngobrol apa saja yang ada. Sungguh, hati teramat merindukan saat-saat seperti itu.

Cukup lama kita tidak jalan bareng. Maklum, hubungan kita agak rumit. Belum ada restu dari Ayahku. Ayahku adalah orang tuaku satu-satunya, karena Ibu meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit. Dan saat ini pun Ayahku sedang sakit. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya lama-lama. Ayahku tidak suka sama mas Yoga, dan aku sendiri tidak tahu alasannya.

Meski udara malam terlalu dingin terasa. Namun betapa bahagianya saat itu kurasa. Kerinduan yang lama tak tersampaikan, kini tercurah sudah, cukup dalam seduhan canda tawa riang bersama dengan satu rindu. Bersama dia sang pujaan hatiku. Tawa lepas semburat bersahutan.

Hampir tiga jam, namun waktu tak terasa telah melaju dengan cepatnya.

"Risty!" dari kejauhan terdengar suara Nina memanggil aku.

Aku melambai untuk mengajaknya bergabung di meja kita.

"Hi, berdua saja?" tanya Nina.

"Iya, seperti yang kamu lihat" jawabku.

Nina adalah karibku. Dia tempat aku mencurah segala rasa dalam jiwa.

Tangis dan tawa sering aku curah kepadanya.

"Nina mau makan apa?" tanya mas Yoga.

"Gak usah aku udah makan, minum aja jus apel"

"Bentar tak pesenin dulu" sahut mas Yoga.

"Ris, apa kabar kamu dan Yoga?" tanya Nina.

"Kalau hubungan kita, baik baik aja. Tapi Ayahku yang masih... Begitu lah" jawabku.

"Kamu udah coba deketin, kenapa sebab Ayah kamu gk bisa nerima?" tanya Nina lagi.

"Belum sih, mungkin besok aku akan usaha"

"Iya, kamu sendiri yang harus bisa yakinin Ayah kamu" ungkap Nina.

"Jus apelnya Nin" mas Yoga datang dengan segelas jus apel di tangannya.

"Lho, kamu tunguin?"

"Kenapa gak dianter pelayan aja? Tanya Nina sama mas Yoga.

"Iya, gak apa-apa, biar cepet aja, cafenya lagi rame soalnya" jawab mas Yoga.

Setelah beberapa saat kita ngobrol bertiga, akhirnya mas Yoga ngajak kita pulang.

"Pulang yuk, ntar Dinda dicari Ayah lho" ungkap mas Yoga padaku.

"Iya deh, pulang yuk Nin !"

"Hayuk, aku juga tadi mau pulang, tapi ngeliat kalian di sini jadi pingin mampir" jawab Nina.

Kita bergegas pulang, Nina pulang dengan motornya sendiri. Dan aku tetap bersama mas Yoga. Seperti biasa, aku dianter hanya sampai gang komplek perumahan. Karena kita gak mau ada masalah yang berlanjut karena Ayah melihat kita bersama.

**

   Betapa cerah pagi itu. Hangat mentari mampu hangatkan ragaku yang sedang pilu saat itu. Seperti biasa Ayah berjemur di belakang rumah. Menghangatkan badannya, sambil menikmati secangkir teh panas yang belum lagi aku buatkan. Dahulu Ayah suka kopi, tapi semenjak lambungnya bermasalah, Ayah menjauhi minuman hitam tersebut.

"Ayah, teh panas dan semangkuk bubur dah sampai" sapaku dengan senyum ceria.

"Buburnya nanti saja, tehnya saja bawa sini" sambung Ayah.

"Buburnya sekarang juga Yah, biar Risty suapin"

"Baiklah, kamu gak ada kuliah?" tanya Ayah.

"Enggak Yah, maka dari itu jadwal Risty seharian ini hanya menemani Ayah" sembari kulepas senyum untuk ayah. Dan Ayah pun tersenyum membalasku.

Setelah semangkuk bubur dan secangkir teh panas ternikmati, aku memulai percakapan.

"Yah, Risty boleh tanya?"

"Tanya apa? Sepertinya serius?" Balas Ayah.

"Eeemm, tentang mas Yoga, kenapa Ayah tidak suka sama mas Yoga? Alasannya apa Yah?" tanyaku.

"Emang Ayah pernah bilang gak suka sama Yoga?" Sambung tanya Ayah.

"Terus kenapa Ayah nolak lamaran dia? Bahkan melarang aku deket sama dia? Sahutku.

"Risty, kamu adalah anak semata wayang Ayah, Ayah ingin kamu bahagia, Ayah ingin kamu hidup berkecukupan, dan lebih baik lagi dari sekarang" ungkap Ayah.

"Maksud Ayah?" tanyaku.

"Tempo hari pak Bowo sempet melamar kamu untuk anaknya yang jadi pengusaha di Riau, tapi belum Ayah terima, dan sekarang Ayah berniat mau menerima lamaran itu" jawab Ayah.

"Ayah!, tidakkah Ayah sayang sama Risty?" tanyaku.

"Justru Ayah sayang Risty, Ayah ingin Risty hidup berkecukupan" sahut Ayah.

"Terus Ayah gak mikirin perasaan Risty?" sambungku.

"Masalah perasaan, dijalani dulu, pasti perasaan itu akan muncul dengan sendirinya" jawab Ayah.

"Ayah!" sahutku dengan nada agak tinggi, dan air mata yang tak kuasa lagi aku bendung.

Aku pergi meninggalkan Ayah dengan mengemas alat-alat makan Ayah menuju dapur. Dengan derai air mata yang tidak tertahan, aku masuk kamarku.

Pagi cerahku kini meredup. Dengan tirai sendu yang teramat kalut. Hati teramat gundah, pun pikiran yang teramat buncah. Air mata yang tiada deras lagi, namun masih saja berjatuhan dengan sendiri. Setelah beberapa jam aku ada di dalam kamar. Mungkin Ayah telah selesai berjemur.

"Risty ...!" terdengar suara Ayah dari luar.

Aku bergegas keluar sembari bersihkan air mataku. Dan aku jumpai Ayah duduk di kursi meja makan, tepat di depan kamarku.

"Iya Ayah"

Ayah memegang tanganku saat aku telah dekat dengannya.

"Kamu menangis?, kenapa kamu menangis?" Tanya Ayah.

"Nggak apa-apa Ayah" jawabku.

"Kalau kamu gak suka, kamu bilang, dan Ayah akan menolak lamaran pak Bowo, bukan apa-apa yang Ayah inginkan, cuma kebahagiaanmu saja. Seorang anak Ayah semata wayang, yang amat Ayah sayang" ungkap Ayah yang tidak sanggup aku mendengarnya. Tidak kuasa air mata kembali bercucur, aku memeluk Ayah dengan sangat erat. Seorang Ayahku yang amat aku cintai, yang bertubuh lemah karena telah sakit-sakitan.

"Risty sangat sayang Ayah, dan Risty gak akan nolak apapun perintah Ayah, apa pun akan Risty lakukan untuk membahagiakan Ayah" ungkapku dengan derai air mata yang tak tertahan.

"Dan Ayah cuma ingin melihatmu bahagia, bukan yang lain" jawab Ayah.

"Yah sudah, nanti malam suruh Yoga temui Ayah" ungkap Ayah sambil melepasku yang sedang dalam pelukannya.

Air mata ini masih terus saja mengalir, rasa haru, rasa bahagia, dan rasa sayang pada Ayah teramat hebat, yang membuat air mata ini tidak bisa aku hentikan.

**

   Senja itu memancarkan jingganya dengan penuh keindahan. Mewarnai wajah langit dengan penuh keceriaan. Tiada dapat terlukis sebuah kebahagiaan yang sedang Tuhan anugerahkan kepadaku. Sore itu aku telpon mas Yoga, dan aku menceritakan semua kejadian tadi siang. Betapa bahagia mas Yoga saat itu. Terdengar pada setiap kata-kata yang dia ungkap dalam telpon. Baru saja aku pulang dari mushollah untuk menunaikan sholat maghrib, dan meletakkan mukenah di kamar, terdengar suara motor mas Yoga berhenti di luar. Betapa bahagiaku tidak bisa dilukis dengan kata saat itu.

"Assalamualaikum" terdengar suara mas Yoga.

"Waalaikum salam" jawabku sembari bukakan pintu dengan rasa bahagia yang tak terkira.

"Masuk mas, Ayah masih di mushollah" sambutku.

Dan aku kebelakang untuk membikin teh.

Tidak lama kemudian Ayah pulang dari mushollah.

"Assalamualaikum" terdengar dari dapur suara Ayah yang baru pulang.

"Waalaikum salam Ayah" jawab mas Yoga sembari menyambut dengan uluran tangan, yang hendak cium tangan Ayah. Dan mereka duduk di sofa dengan posisi berhadapan.

Dan Ayah pun memulai percakapan.

"Kamu sudah lama?" tanya Ayah.

"Tidak Ayah, baru saja sampai" jawab mas Yoga.

"Kamu sayang sama Risty?" tanya Ayah

"Sangat Yah, aku sangat mencintai Risty" jawab mas Yoga.

"Ayah akan merestui kalian, tapi dengan satu syarat" sambung Ayah.

"Syarat apa Yah?" tanya mas Yoga.

"Kamu harus berjanji untuk bisa bahagiakan Risty, entah dengan cara apapun itu" ungkap Ayah.

"Iya Yah, aku janji" sambung mas Yoga dengan binar mata penuh kebahagiaan.

"Ayah sangat sayang Risty, dan keinginan Ayah, hanyalah melihat Risty bahagia" ungkap Ayah.

"Iya Yah, aku janji akan bahagiakan Risty" jawab mas Yoga kembali.

"Ya sudah, minggu depan ajak orang tuamu ke sini, untuk melamar Risty" lanjut Ayah.

"Iya Yah, siap." jawab mas Yoga dengan senyum paling bahagia.

"Ya sudah, Ayah ke kamar, jangan malam-malam pulangnya, satu jam saja, terus pulang" perintah Ayah sambil beranjak dari tempat duduknya.

Malam itu sebuah kebahagiaan yang tak terhingga untuk kita berdua. Dan malam itu sebuah kebahagiaanku telah dimulai. Kebahagiaan yang nyata. Bersama mas Yoga dan Ayah. Dua orang yang teramat aku cinta. Dan semoga kebahagiaan ini akan abadi hingga akhir nanti.

*****TAMAT*****


Cerpen :
SENYUMMU BAHAGIA KAMI
#Nengicha
MK. Juli 2019




Cermin : SEPATU BUTUT - Pandu Eva


 

   SEORANG anak perempuan berlalu pergi sendirian. Tampaknya ia sengaja berjalan berjauhan dari sekelompok anak seusianya, yang juga sedang menuju arah pulang.

Jika diperhatikan, memang ia berbeda dari anak-anak tersebut. Seragam sekolah, tas, dan sepatunya keliatan lebih usang dari pada yang lain. Resleting tas sudah tak berfungsi, tertutup menggunakan peniti. Tali sepatunya pun sudah tak ada, diganti dengan tali plastik (rafia). Belum lagi bagian bawah sepatu sudah tak menempel sebagaimana mestinya. Sesekali Rizka melihat ke arah teman-temannya. Membandingkan semua benda yang melekat di tubuh mereka. Jika sudah begitu, ada perasaan sedih di hatinya.

***

   "Kamu, sudah pulang, Nak?" tanya Supardi kepada Rizka. "Pulang lebih awal?"

"Iya, Ayah. Guru-guru rapat," jawabnya.

Rizka membuka sepatu. Supardi memperhatikan bagian bawah sepatu putrinya. Ia menghampiri, diambilnya sepatu itu.
"Nanti, Ayah lem lagi ya?"

Rizka mengangguk, dan berlalu masuk ke dalam rumah. Sudah kesekian kali sepatunya dilem oleh Ayahnya. "Sudah biasa!" Rizka menarik napas.

***

   Supardi menaruh sepatu putrinya di dekat kompor, berharap lekas kering lemnya, terkena hawa panas. Karena sepatu itu tak mungkin ia jemur. Matahari telah selesai tugasnya, disembunyikan sinarnya. Berganti dengan sinar bulan.

"Sudah makan, Nak?" tanya Supardi, "maaf, di dapur cuma ada nasi dan tahu saja. Ayah cuma sanggup beli tahu. Pak Budi belum memberi upah mingguan. Besok dia baru pulang dari luar kota."

"Iya, Ayah. Aku sudah makan."

"Sepatumu, sudah Ayah lem, ya. Besok bisa kamu pakai."

Rizka mengangguk. Matanya sudah tak dapat diajak kompromi, rasa kantuk yang menyerang, tak sanggup lagi menahan kelopak matanya. Ia pun tertidur.

***

   Selesai mengerjakan tugas rumah, Rizka bersiap-siap berangkat sekolah. Diambilnya sepatu yang telah dilem oleh Ayahnya. Diamati dengan seksama, lumayanlah, lebih rapi dari kemarin. Minimal sudah tak berlubang lagi, gumamnya. Namun, nahas. Saat dipakai, lemnya terbuka kembali. Tampaknya sudah tak bisa diperbaiki. Karena sudah beberapa kali dilem. Rizka menarik napas.

Supardi melihat raut kesedihan, di wajah putrinya.

"Nanti, Ayah belikan yang baru, ya."

"Iya, Ayah." Rizka tersenyum, diciumnya punggung tangan Supardi. Tak ingin Ayahnya ikut bersedih.

***

   Rizka terkejut. Saat melihat sepatu dikamarnya. Diamati lekat-lekat. Warna hitamnya pekat. Talinya putih bersih tanpa noda. Alas bawahnya pun tanpa cela. Masih baru! Batinnya berkata, tapi Ayahnya tidak mengatakan apa-apa, sejak ia pulang sekolah tadi.

Ia, tergopoh-gopoh mencari Ayahnya. Tak dapat membendung rasa bahagia.

"Kamu kenapa, Nak? Ngos-ngosan begitu."

Rizka memeluk Ayahnya. Diangkat sepasang sepatu baru kehadapan Supardi.

Supardi tersenyum. Dielus kepala putrinya.

"Ayo! Makan bareng Ayah," ajaknya.

Mata Rizka seketika membulat. Tak percaya dengan apa yang ia lihat di meja. Lauk-pauk yang hampir tak pernah ia makan. Ayam goreng, ikan bakar dan sambal kecap.

"Waaawwww. Ayah, pasti sudah diberi upah oleh Pak Budi ya?"

Supardi tak menjawab. Ia dan putrinya makan dengan lahap. Malam ini mereka sangat bahagia.

***

   Malam semakin larut. Supardi terlihat melipat pakaian mendiang istrinya. Semua barang-barang istrinya ia kembalikan ke dalam karung. Gambaran kegiatan siang tadi, terlintas kembali. Di sebuah pasar, seorang banci bernyanyi. Dari satu warung ke warung lain, menyusul bernyanyi dari pintu ke pintu.

Gerombolan bocah pasar mengolok-olok. "Ada banci ... ada banci ...." Sambil tepuk tangan. Tak ada amarah sedikit pun menanggapi bocah-bocah nakal itu.

Di benaknya hanya ada,Ia harus mendapatkan uang, untuk mengganti sepatu butut putrinya dengan sepatu baru. Karena hari ini, Pak Budi belum pulang dari luar kota, dan upah mingguannya. Belum terbayar. Dan ia sudah terlanjur berjanji pada Rizka.

***END***


Cermin (Cerita Mini)
SEPATU BUTUT
Oleh: Pandu Eva.
Jakarta, 17 February 2019



Cermin : HIJRAHNYA PENCURI - Pandu Eva


 

HUJAN, membuat suasana malam menjadi sepi. Tak ada satu orang pun berlalu-lalang, hanya terdengar suara beberapa binatang malam. Maklum daerah perkampungan.

Keadaan membuatku mudah beraksi. Rumah Bu Hajah Odah, janda baru empat hari ditinggal suaminya, terlihat lengang. Mungkin beliau, sudah terlelap bersama ketiga putranya. Aku mengendap-endap, seraya berjinjit. Mulai celingukan, berjaga-jaga, khawatir ada yang melihat aksiku. Sebelum beraksi, aku mengenakan lebih dulu seragam tugas. Pakaian serba hitam dengan topeng hitam pula.

Langkah pertama mencongkel pintu berhasil, menyusul dengan berjalan ke arah kamar. Kondisi rumah mendukung sekali aksiku. Hanya ada ruang tamu, satu kamar, dan dapur. Sangat sederhana. Di kamar aku melihat Hajah Odah terlelap bersama ketiga putranya yang masih kecil. Lalu menelusuri lemari, perlahan tanpa menimbulkan suara.

'Di mana dia menyimpan uang selawat dari para warga?'

Lalu mataku menangkap benda bulat yang ditutup dengan serbet. Dengan mengendap aku menghampiri dan membukanya. Ternyata di tempat ini Hajah Odah menyimpan uang selawat. Kondisinya masih di dalam amplop. Tanpa berpikir lama, aku meraup semua amplop tanpa sisa. Ditaruh dalam kantong celana, yang terdapat beberapa di kanan dan kiri. Setelah berhasil, aku pun pergi.

***

   Setelah beberapa kali mengetuk pintu. Marni, istriku membukakan pintu rumah.

"Sudah pulang, Mas?" tanya Marni.

"Iya, cape banget," ujarku seraya memijat tengkuk leher.

Lalu aku mulai merogoh kantong celana, mengeluarkan beberapa lembar uang cukup banyak. Uang selawat yang kucuri. Setelah sebelumnya dikeluarkan semua dari amlop. Di jalan.

"Ini, simpen!"

"Wah. Dapat rezeki ya, Mas? Alhamdulillah ya Allah, uang ini bisa kita pakai buat biaya lahiran," seru Marni bahagia. Diciumnya uang itu berulang kali, seraya mengucap hamdalah.

Istriku memang sedang hamil tiga puluh empat minggu. Sebentar lagi anak pertama kami mengecap dunia luar. Mencuri menjadi pekerjaan sampingan, selain menjadi kuli panggul di pasar. Terkadang aku mencopet juga. Lumayan buat tambahan. Namun, Marni tidak pernah tahu.

Keesokan paginya Marni bercerita.

"Kasian deh, Mas. Bu Hajah Odah rumahnya kemalingan semalam. Semua uang selawat raib. Padahal sengaja dia ga mengadakan pengajian. Karena uang itu buat makan sehari-hari."

"Trus?" tanyaku cuek.

"Iya, kan sekarang ga ada yang cari nafkah," ujar Marni dengan nada prihatin.

"Loh, masa ga punya uang bisa naek haji," celetukku.

"Loh. Mereka naek haji dibayarin keluarga besar Bu Hajah Odah, Mas."

"Ya, kalo gitu, minta makan aja sama keluarganya besok." Aku mengatakan dengan santai, seraya menikmati gorengan yang sedari tadi ada di hadapanku.

Terlihat Marni menghela napas, "Bu Hajah tipe orang ga mau merepotkan orang lain," sambungnya.

***

   Memasuki minggu ke tiga puluh lima usia kehamilan Marni. Tiba-tiba ia mengeluh sakit di bagian perut. Dengan sigap, aku membawanya ke bidan. Ternyata, sudah waktunya Marni melahirkan. Dari luar ruang bersalin, aku mendengar Marni teriak menahan sakit. Tak ketinggalan suara bidan dan asistennya ikut membantu proses melahirkan. Namun, tak berapa lama, suara rintihan dan teriakan Marni sirna. Tangisan bayi pun tak terdengar.

Setelah beberapa menit. Bu Bidan keluar ruangan.

"Maaf, Pak Santo. Ibu Marni dan bayi tidak tertolong. Terlalu banyak pendarahan, dan bayi saat keluar sudah tak bernapas. Di leher sang bayi ada lilitan tali pusat." Bidan menjelaskan detail.

Kakiku mendadak tak bertenaga. Kepala sakit, pandangan mulai buram. Dalam kesedihan dan kesakitan, aku mendengar ceramah seorang ustad, yang sedang didengarkan oleh salah satu perawat. Menggunakan ponsel.

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka Neraka lebih pantas baginya.”( HR. Ath-Thabrani).

"Oleh karena itu kaum muslimin, para kepala keluarga, berusahalah memperoleh rezeki yang halal dengan cara yang halal pula."

Penggalan ceramah itu membuat bulu kudukku meremang, ada rasa sedih terpatri di hati. Teringat pekerjaan sampingan yang kujalani. Mencuri dan mencopet.

'Apa kepergian Marni dan anakku, adalah teguran dari-Nya?'

***

   Aku tak dapat membendung cairan bening yang telah memenuhi kelopak mata. Jatuh deras bersamaan helaan napas tak beraturan. Melihat istri dan anakku dimakamkan.

Setelah proses pemakaman selesai, aku melangkah menuju masjid yang berada tak jauh dari tempat pemakaman. Mengambil wudhu, menjalankan sholat tobat, sambil menanti masuk waktu Zhuhur.

Menangis, memohon ampun pada zat yang Maha Pengampun.

Setelah puas mengeluarkan isi hati pada pemilik semesta, aku bergegas pergi. Saat tengah berada di depan masjid, aku melihat Bu Hajah Odah dan ketiga putranya yang masih kecil sedang berjalan, menjajakan kerupuk, menawarkan kepada orang-orang yang berlalu-lalang.

'Maafkan saya, Bu Hajah. InsyaAllah saya janji akan mengganti uang Ibu dengan jalan halal."

_End_



Cermin (Cerita Mini)
Hijrahnya Pencuri
Oleh : Pandu Eva