RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 20 Mei 2021

Cerpen – RETAK Karya : Tsurayya Tanjung




   "HUUU ...." Suara gemuruh para mahasiswa dan mahasiswi, riuh menyoraki Sari, di sekeliling lapangan basket outdoor kampus ini.

Pada ujung lorong bangunan kelas, seberang lapangan tempatku berdiri kini. Bisa terlihat jelas, bahwa Sari tengah dipermalukan secara terbuka oleh Heru. Heru menghempaskan kado ulang tahun yang Sari berikan padanya. Berupa bola basket, ke sebuah tong sampah yang tak jauh, letaknya dari pinggiran bangku lapangan. Aku tahu Sari takkan memberi hadiah barang murahan. Tentu itu bola basket dengan merk branded. Sebagai anak dari keluarga berada, dia mampu.

"Sari, mengapa kau sampai senekat ini, menunjukkan perasaanmu," gumamku. Menyesali kejadian memalukan yang baru saja kusaksikan dengan kedua mata ini. Yang juga dilihat oleh banyak pasang netra di sekitar kami.

Heru, mengapa dia tak punya hati. Sampai setega itu menunjukkan penolakannya pada Sari. Lalu seringai senyum jahat kemenangan Heru ditujukan ke arahku. Ya, kepadaku. Tak lama ekor mata Sari mengikuti arah pandang Heru ke arahku. Membuat sorot luka di manik mata Sari semakin kentara. Entahlah, hanya saja aku takut dia mengira aku yang meminta Heru mempermalukannya. Lalu hubungan kami akan semakin buruk.

"Kenapa?" tanyaku pada Heru.

"Apanya yang kenapa sih, Cantik." Seringai senyumnya semakin membuatku sebal saja.

"Kenapa kamu mempermalukan Sari, Her ... nggak harus kamu tolak dia dengan cara begitu kan? Gak musti kamu permalukan dia di lapangan tadi. Semua orang jadi tahu."

"Biar saja semua orang tahu, siapa itu Sari. Semua orang tahu kalau dia sahabatmu sejak dari SMU dulu. Juga semua orang pun tahu kalau aku adalah kekasihmu. Biar banyak orang menilai, sahabatmu itu tipikal seperti apa," jelas Heru.

"Jujur aku puas lihat si Sari nangis. Aku gak suka sama cara dia mengkhianati kamu, dengan berani menggoda aku. Aku, Heru Dewanto, kekasih Naina Larasati," ucap Heru lagi.

Heru mencoba mengemukakan pendapat dan isi hatinya. Tapi aku tidak setuju dengan caranya. Aku tidak suka Sari dipermalukan. Hubungan kami memang merenggang saat ini. Tapi jauh di lubuk hatiku. Masih menempatkan Sari sebagai teman terbaikku. Persahabatan yang terjalin selama lima tahun ke belakang ini. Terlalu berharga untuk hancur begitu saja.

"Lagian si Sari tuh, gila ya gak tahu malu, jelas-jelas kita pacaran. Masa blak-blakan ngedeketin aku. Aduh ngeri lah ama cewek model begitu."

"Kamu juga, Nay, cowoknya memperlihatkan kesetiaan malah dicecer. Kamu nggak lagi pening atau demam kan? Atau lagi PMS ya?" tanya Heru sambil menempelkan telapak tangannya di keningku. Manis sekali.

Jujur saja yang dilakukan Heru juga tidak serta merta salah. Jika kejadian pagi tadi, bukan Sari yang blak-blakan menunjukkan perhatiannya pada kekasihku. Mungkin sudah kudatangi Heru saat itu juga. Memberinya pelukan manis, agar siapa pun yang mencoba menarik perhatiannya, tahu diri bahwa Heru adalah milikku.

"Haah, sudahlah yuk, Nay aku antar pulang udah nggak ada kuliah lagi kan hari ini?" Heru menarik lenganku mengajak beranjak dari bangku taman kampus.

Sementara hati ini masih saja tertuju pada Sari, dia pasti merasa sangat dipermalukan. Ah, masih saja mempedulikannya. Meski dia dengan sengaja membuat jarak, sengaja membuat retak persahabatan diantara kami.

***

   Deru ban motor Heru, hembus semilir angin menerpa kulit wajahku. Angan menerbangkan pikiran ke kejadian dua minggu lalu. Masa paling gelap sepanjang persahabatanku dengan Sari dan Susan. Kami tiga sekawan sejak di bangku putih abu. Kala itu Sari tiba-tiba sudah menungguku di teras rumah. Dengan wajah kusut masai. Raut manisnya membias pias. Sempat terpikir kalau di memang sedang punya masalah. Tapi tak pernah kukira, jika masalah yang merundungnya, persoalan hati. Ini pun menjadi titik nadir bagi hubungan kami.

"Nay, boleh Sari minta waktu sebentar."

"Apaan sih, kaya orang asing aja. Lagian kok nunggu di sini sih. Biasanya juga capcus ke kamar aku, mainin laptop. Eh, Susan mana?"

"Susan masih di kampus, dia masih ada jam sampai jam empat sore katanya," jawab Sari.

"Ouh oke, yuk masuk ke kamar, sekalian deh kamu mandi gih, kusut amat sih tu muka. Asem. Hehehe."

"Nay, Sa-Sari, cuma mau nyerahin ini." Sari mengulurkan sepucuk surat padaku.

"Apaan sih, Sar, ada masalah?"

"Ntar, juga, Nay bakal ngerti semuanya. Sari pamit ya Nay." Tiba-tiba Sari memelukku, erat, mengelus punggungku.

Seketika aku mengendus ada yang tidak beres. "Maafin aku, Nayna Larasati. Kamu sahabat terbaikku. Gadis populer yang bersedia merangkul seorang Sar, Si gadis cupu."

Sari melerai pelukannya. Ada bening kaca di kedua netra cokelatnya. Kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan aku kebingungan di teras rumah. Menatap punggungnya hilang, bergeming sambil menatap sepucuk surat.

Dear, Nayna Cantik

Nay, sebelumnya aku mau minta maaf, karena setelah membaca surat ini. Kau akan kecewa bahkan membenciku barangkali. Tapi aku sudah tak mampu lagi menanggung beban hati. Rasanya capek, lelah.

Nay, jujur saja, jika Sari selama ini memendam rasa sama Heru. Maaf, aku tahu dia pacarmu, Nay, tapi Sari gak sanggup lagi menyimpan rahasia hati ini. Sari sudah suka sama Heru, jauh sebelum kamu dan dia jadian dua tahun yang lalu. Aku kira, aku akan sanggup membendung rasa. Tapi nyatanya rasa ini semakin besar dan menyiksa. Nay, aku cinta sama Heru. Kekasih sahabatku sendiri. Maaf Nay, maaf.
Kau boleh benci aku Nay. Aku sadar setelah ini hubugan kita tak akan pernah lagi sama sebagai sahabat. Tapi sebagai sahabatmu, untuk terakhirnya aku minta satu hal padamu. Mulai sekarang Sari akan menunjukkan rasa pada Heru secara terbuka. Aku akan mendekati dia, maaf beribu kali maaf. Tapi bukankah Sari juga berhak bahagia, Nay? Aku berhak mengejar kebahagiaanku sendiri, bukan?
Maafin Sari .

Sari, ya Tuhan, mengapa begini. Aku kecewa, sedih, marah dan rindu pada sahabatku itu bersamaan. Isi suratnya sama sekali diluar dugaan. Aku kira dia kembali bermasalah dengan ayah atau ibunya. Tapi ternyata. Sakit. Rasanya lebih tersayat, bahkan dibandingkan saat Heru mengkhianati hubungan kami setahun lalu. Hingga akhirnya kita sempat mengalami fase putus nyambung. Sungguh ini rasa kehilangan yang lebih besar. Rasa kesepian mendera kalbu. Ada rasa aneh menjalar begitu saja. Seolah menghantarkan ragaku pada suatu dimensi berbeda. Dimana aku bisa melihat slide potongan kejadian masa silam, menyaksikan riuh candaku bersama Sari dan Susan. Seolah aku tengah menonton layar tiga dimensi. Ragaku terjebak berada di sana sesaat. Hampa.

***

   Suara pintu kamarku tak lama berderit, aku enggan mencari tahu siapa yang memasuki kamarku. Hanya ingin berdiam diri di balik selimutku, bersembunyi. Berharap aku tertidur, lalu terbangun, dan menemukan kejadian ini hanyalah mimpi. Andai ....

"Nay, kok masih sore 'dah tidur aja sih?" Suara Susan tiba-tiba terdengar begitu dekat. Rupanya dia yang masuk.

"Nay, ayo bangun, ada premier film baru nih, aku punya gratisan lima tiket. Tar kita berangkat bareng. Kamu sama Heru, Aku ma gebetanku Doni, satu lagi buat Sari." Susan menyingkap selimut, yang menutupi tubuhku, dengan ekspresi ceria seperti biasa.

Aku mendongak dengan mata sembab. Lalu mengulurkan sepucuk surat kepada Susan.

***

   "Yaa Allah, Sari. Aku emang udah ngerasa, dia tuh sering perhatiin si Heru, kalau kita lagi jalan bareng. Tapi kagak nyangka aja gitu loh." Susan duduk di kasur sambil menghempaskan tubuhnya.

"Udah deh Nay, jangan lebay napa. Sari itu gak selevel sama kamu," ucap Susan. Sambil membenahi rambut lurusku yang acak-acakan.

"Baik dari fisik, popularitas maupun kecerdasan. Dia itu gak ada apa-apanya, dibanding kamu. Cantik, bangir, mata bulet kaya jengkol begini," seloroh Susan berusaha menyemangatiku.

" Heru mana tertarik sama gadis dekil kaya dia," ucapnya lagi.

Susan berusaha menghiburku. Bahkan sampai terkesan menjatuhkan Sari. Tapi bukan itu yang aku butuhkan. Sebab aku pun tahu, jauh di lubuk hatinya, dia pun bersedih. Atas retaknya persahabatan ini. Serupa denganku, matanya tak bisa menipu, kalau persahabatan ini berarti. Sangat berarti.

***

   "Nay, udah sampai nih, ayo turun." Heru menggosok telapak tanganku yang masih melingkar di pinggangnya.

"Ketiduran kah, Nay?"

"Eh udah sampai ya, maaf aku nggak ngeuh."

"Ya udah istirahat sana. Maafin aku, atas kejadian hari ini, ya, Sayang."

"Aku tahu diri, bukan orang baik, cumen lagi belajar bener. Terutama buat kamu, Nay. Mungkin aku terlalu possesif terkadang, atau juga kekanakkan. Aku cuma gak mau, mata bulat indahmu ini meredup karena sedih."

Heru mengusap kedua kelopak mataku, lembut. Lalu mengacak belahan rambut lurusku. Manis sekali. Sama seperti sosoknya yang manis. Salah satu cowok terpopuler di kampus kami. Digilai banyak cewek, karena figurnya yang gagah, kulit kuning wajah khas pemuda keturunan jawa yang menawan.

"Hei, ngelamun, segitu terpananya ama aku, ampe takjub begitu ngeliatinnya. Cinta mati ya? Hahahaha ...," canda Heru membuyarkan monolog jiwa.

"Cowok aku emang ganteng banget sih, ampe dikejar-kejar banyak cewek. Ampe akhirnya kamu juga sempat berpaling. Sampe sahabatku juga rela berpaling dari aku demi ngejar kamu. Iya kan?"

Hening, sesaat kami terdiam.

"Maafin aku, Nay, atas kejadian yang dulu. Sungguh aku sayang banget sama kamu. Tapi aku kan sudah berjanji bakal setia dan jagain kamu. Bahkan ketika yang sakitin kamu itu, orang terdekatmu, Nay."

Lagi, kami terdiam, tenggelam dengan pemikiran kami sendiri-sendiri. Ini hari yang berat bagi kami, terutama bagiku. Ada rasa rekah di jiwa, menjadi bongkahan pilu di sudut kalbu. Perasaan kehilangan yang sungguh hebat. Aku berhasil meraih cintaku, tapi kehilangan persahabatanku bersama Sari.

"Nay, aku cabut ya, besok aku jemput, kita ke kampus bareng."

Aku hanya mengantar dia pergi dengan seulas senyum. Rasanya tubuh ini penat sekali. Berjalan gontai, melewati ruang tamu tanpa memperhatikan sekitar.

Tiba-tiba aku mendengar suara Sari, memanggilku. Kiranya dia ada di ruang tamu. Entah sejak kapan, dia menghampiri, tiba-tiba merengkuhku dengan isak tangis tertahan.

"Nay, maafin Sari. Maaf Sari merusak segalanya. Ternyata keputusan Sari mengejar cinta itu keliru. Kini Sari kehilangan segalanya, kehilangan kamu terutama. Mendapatkan perhatian Heru pun tidak. Justru dia muak. Lalu harga diriku ... hks hks, imageku hancur sudah di kampus."

Aku terdiam. Tak mampu bersuara. Sungguh aku pun tidak suka atas semua yang terjadi, semoga bisa dia tarik hikmah atas kesemuanya ini.
Lalu Sari melepaskan rengkuhannya, dari tubuhku yang bereaksi diam. Bergeming reaksi tubuh, ekspresi dari suasana hati yang kacau.

Sari mengacak rambutku, dan berucap. "Sari sayang kamu, Nay. Selamanya kamu bakal ngisi singgasana tertinggi di hati Sari, sebagai sahabat terbaik Sari."

Lalu dia beranjak dari hadapanku, sementara aku masih terdiam, terpaku, kesadaran seolah terenggut. Hingga, deru suara mobil Sari menyadarkan, kalau dia sudah meninggalkan rumah ini.

***

   Setelahnya Sari menghilang. Dia tak pernah lagi muncul di kampus. Beberapa orang mengatakan Sari pindah kota, ada juga yang bilang pindah kampus. Ada secarik sesal dihatiku. Sari juga tidak pernah lagi muncul di depan teras rumahku. Sementara saat kali terakhir kami bertemu, belum terucap kata pengampunan dari lisanku. Meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar marah. Menyadari bahwa retaknya persahabatan ini, berawal atas saranku sendiri. Agar Sari mau mengejar cinta rahasianya. Hanya saja tidak pernah aku kira, jika dia mencintai kekasih sahabatnya sendiri. Kekasihku.

TAMAT


#Cerpen
RETAK
Karya : Tsurayya Tanjung




Cerpen: KESENGSARAAN MEMBAWA NIKMAT Karya : Siamir Marulafau


 

   DI saat mentari menyinari bumi,awan menyongsong langit biru sepertinya kesibukan para petani di ladang Padang panjang, sebuah desa terkenal dengan adat kampungnya.Bak kata pepatah mengatakan 'Manusia hidup tanpa adat berarti biadab'.Ungkapan inilah membuat salah seorang teman sejawatku bernama Dodi datang ke kampung halamanku sekitar dua tahun yang lalu merasa terheran-heran dan tertegun melihat situasi kampungku.Aku pun sempat mengulurkan waktuku bercerita kepadanya tentang kampung halamanku.

"Eddy, aku heran sekalilah semenjak kita tinggal beberapa hari di kampung ini,kelihatannya orang-orang di desa ini sangat sopan-sopan dan ramah,ya Ed." kata temanku itu.

Lantas aku juga tak tinggal diam dan memberikan respon kepadanya bahwa memang begitulah Dodi,aku pun merasa terkesima melihat situasi di sini walaupun kampung ini kampungku sendiri.Tapi yang paling seru lagi, ya kebetulan yang aku kenal di sini seorang anak juragam yang kaya di kampung ini bernama Eni Laia,dia cantik dan baik hati.Dia juga seorang guru di kampung ini dan mengajar di SMP Negeri XI.

"Wah,Edy. Kalau begitu kamu punya teman di kampung ini?"

"Secara kebetulan saja itu dan memang aku sangat mengenal keluaga
perempuan itu".

Kadang-kadang bila aku ke rumah mereka, orang tuanya sangat senang padaku dan begitu juga adik-adiknya.Setahuku mereka ramah dan tidak sombong walaupun mereka kaya di kampung ini.Kata ayahku,mereka dulunya orang miskin tetapi mereka bekerja keras di ladang dengan tekun sehingga hasil ladang mereka sangat menguntungkan dan dari hasil ladang itulah orang tuanya membuat modal untuk berdagang dan lama-lama mereka menjadi kaya di daerah ini.Kemudian setelah orang tuanya naik daun, Eni Laia juga tak tinggal diam dan dia melanjutkan studinya di FKIP Padang.Beberapa tahun kemudian dia lulus dari perguruan itu dan diangkat menjadi salah seorang tenaga pengajar SMP di kampung ini.

"Oh,gitu ceritanya Eddy,menarik juga deh,".

"Iya,Dodi.Kalau mau ingin kenalan,ya, biar kuperkenalkan kamu sama keluaga mereka.Nanti kan kamu tahu bagaimana situasi dan keadaan keluarga itu"

" Hemat saya, kamu kan juga mencari jodoh, iakan?" kataku sama Dodi.

Tapi dodi berkata "Ada-ada saja kamu Eddy. Kalau begitu,tak mengapalah dan aku hanya bercanda saja."

"Oh, teringatnya,Eddy, kamu katakan bahwa orang tuanya seorang juragam dan mengapa mereka cepat sekali kaya raya di kampung ini.Kamu bilang keluarga itu adalah petani dulunya tapi kok begitu jadinya?"

"Jangan heran Dodi,nasib manusia ini kan berubah-ubah dan tidak sama, iakan?Tapi yang paling penting diingat bahwa manusia itu,siapa pun dia harus berusaha dan tidak mungkin Tuhan datang ke muka bumi ini langsung mengubah nasib seseorang jikalau dia tidak mengubahnya sendiri, iakan? Karena usaha itu sangat penting dalam diri manusia.Tanpa berusaha berarti hamba Allah ini akan terpojok dan jatuh miskin. Itulah perinsip yang selalu di pakai oleh Pak Ahmad, Bapaknya Eni Laia setahuku karena perinsip demikian selalu diberitahukan padaku dan aku juga, Dodi selalu menyimpan kata-kata itu.Aku pikir itu kan paling bagus bila kita terpkan dalam hidup kita sehari-hari."

"Apa pun yang kau katakan,Eddy adalah benar dan aku pun setuju.Itu pulalah petuah orang tua yang harus kita tanamkan dalam diri kita supaya kelak sukses dalam hidup".

"Betul sekali Dodi dan biar kamu tahu bahwa sejak kecil aku tinggal di kampung ini, aku selalu bermain ke rumah mereka dan aku tahu athu semua keadaan keluarga mereka. Dulunya, memang mereka sangat miskin tapi sekarang jangan tanya dan itulah orang-orang yang gigih. Meskipun mereka sengsara dulunya tapi membawa nikmat dan bahagia selanjutnya karena mereka sangat tekun bekerja dan gigih dalam mengerjakan apa pun yang halal di mata Allah dan bukan yang haram-haram.Kita lihat pada zaman sekarang, banyak orang kaya tapi kekayaan mereka diperoleh dengan jalan yang tidak halal dan ada juga sebahagian mereka yang kaya memperoleh kekayaan mereka dengan hasil korupsi dan apa jadinya?"

"Sepakat Eddy,benar sekali dan kisah hidup Pak Ahmad Laia itu yang kamu ceritakan bisa dijadikan panutan oleh semua orang supaya mereka tahu tentang perjuangan hidup ini dan ini baru dikatakan kaya bersih, yaitu bersih dari KKN dan hasilnya pun selalu diridoi oleh Allah SWT".

"Memang payah mendapatkan prinsip hidup Pak Ahmad ini,Dodi. Aku pun salut melihat Bapak itu.Dia sekarang menjelang usia 50 tahun dan Erni kurang lebih 30 tahun usianya, dia masih muda.Dia punya adik laki-laki bernama Hafiz Laia berumur 22 tahun dan sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di Padang. Orangnya juga ganteng dan sangat ramah pada setiap orang. Aku sangat senang padanya dan kadang juga aku mengajaknya main-main di ladang untuk bercocok tanam dan sambil makan ubi bakar. Pada sore harinya, kami pulang ke rumah dan jika malam minggu, kami duduk di teras rumah mereka dan sambil main gitar dan dari situlah aku makin kenal dengan kakaknya Eni Laia,orang ramah dan tak pernah menyakiti perasaan orang lain. Pokoknya, dia selalu bergaul dengan teman-temannya. Aku juga mengenal nama di face book dan selalu memberikan komentar pada beberpa puisi yang ditulis oleh seorang penyair menuliskan puisi Penyair Dalam Lingkaran Cinta."

"Oh, mantap sekali,Eddy, aku jadi pepingin kenal dengan dia"

"Ok, Dodi, kalau tak sekarang,kapan-kapan kamu datang kemari lagi akan kuperkenalkan kamu pada keluarga mereka."

"Betul,juga ya,Eddy.Tak apalah, aku akan libur pada bulan Juni tahun depan dan aku akan kontak kamu untuk balik ke sini lagi, ya Eddy. Terserah kamu, kalau aku kapan saja ada waktu dan kuajak kamu pergi di sini lagi. Ok,Eddy,tapi teringatnya, kita akan balik ke kota besok, kan? Kita naik apa sampai ke kota karena kami kuliah pada hari Senin dan alangkah baiknya kita sudah sampai sebelum hari Senin.

"Tak usah khawatir Dodi, kita kan diantar oleh Pak Ahmad. Dia punya supir pribadi namanya Agus, dan aku sudah kontak mereka sebelumnya."

"Wah, bagus sekali,Eddy.Aku pikir kita naik becak, padahal kamu sudah mengatur segalanya. Memang kamu seorang teman yang baik dan aku benar-benar salut pada kamu.Bagaimna pun, aku tak akan melupakan budi baikmu,tapi bila kita sudah sampai ke kota,Eddy. Kita lebih baik singgah ke Swalayan untuk membeli oleh-oleh buat Pak Ahmad sekalipun bukan Tuan Ahmad yang mengantarkan kita tapi kan bisa dititipkan sama supirnya,kan?"


"Ok, terserah kamu,Dodi.Kalau memang begitu prinsipmu, ya aku hanya turut saja.Aku pikir prinsip itu sangat bagus apalagi kita diantar sampai ke kota dan wajar bila kamu membeli oleh-oleh buat mereka,, terutama buat Eni Laia, iakan?"

"Eddy, jangan kamu sepelekan aku,yaEddy, aku bisa marah".

"Lo!,yang kubilang ini kan benar, iakan?"

"Iya, tapi entahlah,Eddy. mengapa hatiku sudah mulai tersentuh pada Eni Laia. Meskipun aku belum bertemu muka hanya melalui face book saja. Makanya, aku pun menuliskan puisi buat dia bertajuk Kaulah Marwarku. Bagaimana ini,Eddy?"

"Wah, baru terbongkar ceritanya, ya Dodi. Kamu bilang tak mau tapi nyatanya kamu sudah mulai jatuh cinta kepadanya." Tapi namun demikian tak usah khwatirlah aku akan bereskan semua karena dia kan kenal padaku dan aku akan katakan kepadanya bahwa ada seorang temanku ingin berkenalan dengan anda, namanya Dodi, seorang penyair masa kini.Pokoknya, kita akan ke mari lagi pada bulan Juni sesuai dengan apa yang kamu janjikan padaku,iakan?"

"Ok, kalau begitu Eddy.Aku setuju dan segalanya bisa diatur kemudian dan yang paling penting kita harus kembali ke kota karena perkuliahan sudah mulai hari Senin. Berhubung sudah larut malam, kita lebih baik beristirahat karena besok pagi kita sudah meninggalkan kampung ini. Selamat malam."

End


#Cerpen
KESENGSARAAN MEMBAWA NIKMAT
Karya : Siamir Marulafau
sm/29112013

Cerpen - SURGA DI TELAPAK KAKI IBU Karya : Siamir Marulafau




   "MEMANG nasi sudah jadi bubur", kata seorang petualang di saat aku menjumpainya di persimpangan jalan dan kebetulan di sana ada sebuah warung kopi beristirahat sejenak.Anak zaman sekarang nampak-nampaknya sudah sangat jauh berbeda bila dibanding dengan anak zaman dahulu, mengapa kita sampai berkata demikian? Karena perkembangan zaman ke zaman semakin canggih dan kehidupan manusia serba tak teratur.Manusia kebanyakan merasa egois dan tak perduli dengan orang lain bahkan seorang anak pun tak perduli dengan orang tuanya.Bayangkanlah itu, kita sangat prihatin dan untuk ini memang kesabaran dalam mendidik anaklah yang lebih utama.

"Tuturanmu, benar,Mir tapi kita tidak boleh putus asa dalam mendidik anak-anak pada zaman sekarang ini karena sangat berbeda dengan zaman orang tua kita pada masa yang lalu."

"Iya, setuju apa yang kamu katakan, tapi makan hati kita sebagai orang tua
terhadap anak-anak kita sekarang. Tapi harus tahu kamu Joni bahwa kerap kali anak-anak melawan sama orang tua mereka sekarang dan tak jauh-jauh anak tetanggaku yang namanya Eko Saputra selalu melawan pada orang tuanya dan terlebih-lebih pada Ibunya.Kadang aku dengar sering ada pertengkaran di rumah mereka.Aku tak habis pikir bagaimana Pak.Agus itu mendidik anak-anaknya padahal dia seorang guru SMP di kampungku.Anaknya sangat bandel dan tidak mau dinasehati,entah apa yang membuat anak itu hilang kendali."

"Mir, tak usah heran kamu,anak zaman sekarang adalah anak main"

"Ada-ada saja kamu ini, Joni.Itu kan tergatung pada yang mendidiknya"

"Iya, tapi anaknya kan tetap bandel juga.Jadi mau apa itu jadinya anak nanti?"

" Tak tahu apa lagi yang kutakan, Joni.Pokoknya, pendidikanlah sebagai solusi satu-satunya mengubah watak dan perilaku anak itu.Tapi yang paling membuat aku kecewa sebagai tetangga,ya aku sempat dengar Eko,anaknya Pak.Agus itu sempat memaki Ibunya sewaktu Bapaknya tak berada di rumah dan entah apa masalahnya fan aku pun tak tahu.Aku pada waktu itu terus mendatangi mereka dan kutariklah tangan Eko kemudian kubawa ke rumahku dan kunasehati.Aku pun sangat geram melihatnya.Kalau tak pikir-pikir anak tetanggaku, aku sudah kutampar pipinya tapi aku juga menahan emosiku.Aku katakan padanya, Eko Saputra, sadarkah kamu apa yang kamu katakan pada Ibumu, itu sudah luar bisa dan kamu akan menjadi anak yang durhaka karena kamu melawan sama orang tua."

"Setelah kunasehati dia, ternyata dia juga nampaknya berubah seketika. Tapi ya namanya anak dalam masa pancaroba masih belum mantap pikirannya untuk mengubah segalanya. Yang paling jengkel dan membuat aku marah sewaktu dia berkelahi dengan salah seorang anak tetangga kami karena dia melempar kepala Udin dengan batu sehingga kepala anak itu berdarah dan tentu saja orang tuanya keberatan.Lantas Ekonya bakal di adukan ke polisis tapi untung kami mencari jalan tengah supaya Eko jangan sampai dibawa ke kantor polisi.Orang tuanya terpaksa mebayar denda sebesar Rp 2.000.000,-(dua juta rupiah) untuk pengobatan anak itu.Ibu Eko sangat marah kepada anaknya dan Eko pun melawan juga sama Ibunya membuat Ibunya sedih dan menangis seketika.Tiga jam kemudian, kupanggilah Eko,anak tetanggaku.Walaupun aku bukan orang tuanya tapi karena anak tetangga,aku juga tak sampai hati membiarkan dia begitu karena Bapaknya sangat baik kepadaku sebagai sahabat dan teman bermain golf di Helvetia.Apa kukatakan pada Eko,"Eko, sudah beberpa kali kau melawan sama Ibumu, ya Ko,itu kan tak baik dan kamu akan durhaka.Kamu harus tahu bahwa surga anak itu di telapak kaki Ibu."Kalau kamu tak percaya, tanyalah pada Udstaz Rahim Gea. Dia selalu memberikan ceramah tentang anak-anak yang durhaka kepada orang tua."Eko,pada zaman dulu ada seorang anak yang durhaka karena selalu melawan orang tua, dan langsung Orang tuanya berdoa kepada Tuhan dan akibatnya anaknya itu menjadi batu dan salah satu diantarnya adalah Maling Kundang".

"jadi, setelah dinasehati, bagaimana Ekonya, pak.Amir?"

"Menangis,dia janji tak akan mengulanginya lagi."Tapi namanya,anak masih ingusan, ya kita selalu memberikan perhatian kepadanya dan apalagi orang tuanya, iakan,Joni?"
|
"Betul. sepakat. Tapi maklum sajalah anak-anak zaman sekarang."

"Tahu kamu Mir, anak-anak tetanggaku pun nakal-nakal dan suka mencuri jambu dan keluyuran pada malam hari. Orang tua mereka juga susah dengan prilaku anak-anak mereka karena anak-anak ini semua tak bisa dibilangi dan mau mencari kemenangan mereka sendiri."

"Itulah model anak zaman sekarang,Joni. Aku sempat dengar Eko ini juga suka main balap liar dan ngebut-ngebut bila naik Honda.Dia kan pernah di opname di RS Umum karena jatuh dari kereta,dan orang tuanya juga yang susah, kan?"

"Wah, kalau anak-anakku,pak.Amir kan tak bubiarkan ngebut-ngebut karena itu sangat berbahaya. Kalau sempat nabrak anak orang, baimana jadinya? Kita kan report maka kita selalu waspada dan betul-betul cermat dalam mendidik anak supaya mereka terarah.Bila begitu, masa depan mereka akan cerah dan jangan sempat seperti anak tetanggaku pada dua tahun yang silam meninggal akibat kecelakaan."

"Oh!, menyedihkan sekali Joni,baiklah sudah hampir pukul 2.30, kita berpisah dulu karena ada urusan yang penting dikerjakan.Selamat sore."

End

#Cerpen :
SURGA DI TELAPAK KAKI IBU
Oleh : Siamir Marulafau
sm/03122013

Cerpen : AMBISI SEORANG JANDA Karya : Siamir Marulafau



   HELENA nama asli berdarah Indonesia dengan paras cantik menawan,baik budi dan tak pernah arogan walaupun dia dilahirkan dari keluarga yang serba ada.Dikatakan, Helena bukanlah anak gadis yang serba kekurangan dalam keluarganya dia seorang mahasiswi pada jurusan Enomusikologi di salah satu perguruan tinggi di kota saya.Aku tak habis pikir menceritakan kisah hidupnya dengan seorang dosen di perguruan tinggi negeri yang ada di kota Medan pada salah seorang teman saya bernama Eddy Murya.


Pada pagi hari yang kabut di mana sinar mentari redup,cahaya tak benderang berderinglah selularku yang kebetulan aku letakkan di atas meja tulisku dan terpaksa aku harus mengangkatnya dan begitu aku terkejut dengan panggilan temanku Eddy Murya.Kami selalu bercakap-cakap dan kadang curhat pada setiap malam minggunya.Tapi, entah mengapa pagi itu,Eddy mengajakku ke pantai cermin untuk menyantap ikan bakar dan kebetulan pada waktu hari Minggu sekitar jam 9.30 pagi.Aku pun tak bisa menolaknya."Yuk,pigi yuk,ke pantai".Dia serius mengajakku dan aku pun bergegas mengambil mobilku dan datang ke rumanya untuk menjemputnya.

Setelah tiba kami di pantai cermin dan menikmati ikan bakar, cerita demi cerita terseliplah dalam benakku apa yang pernah aku dengar kisah cinta antara dua pasang makhluk Tuhan di muka bumi ini dan memang kisah yang sangat menyedihkan dan menyayat hati karena ternyata Helena adalah juga teman saya di waktu SMU di kota Medan. Mendengar cakapku ini, Eddy rupanya mulai tertarik dengan apa yang kuomongkan sambil menyelam minum air dengan pandangan ke hamparan lautan pantai cermin Deli Serdang Sumatera Utara.Sambil makan-makan,aku pun mulai buka cerita pada temanku,Eddy dan dia pun cukup serius mendengarkannya.Dengan catatan bahwa kuceritakan ini bukanlah karena aku seorang yang ahli cakap dan bercerita, bukan, bukan sama sekali tapi karena rasa prihatin mendengar kisah pasangan hamba Allah yang sangat mengharukan hati.

Setelah makan siang bersama dengan suara yang nyaring,Eddy bertanya,"Apa sebenarnya tentang Helena yang kamu singgung tadi ketika kita sedang di perjalanan menuju ke mari,Jul?"Oh,ceritanya aneh tapi nyata pada masa sekarang ini,biasa namanya cerita.Aku sangat prihatinlah Eddy, rupanya teman sekolahku dulu namanya Helena yang menikah dengan seorang dosen pada jurusan sastra Inggris, yaitu Bapak Syaifuddin namanya. Mereka sangat bahagia dan dikaruniai 2 orang anak.Anak-anak mereka cantik-cantik.Nampaknya,Ibu Helena semakin cantik juga selama mempersuamikan Pak,Syaifuddin, ya namanya istri seorang dosen dan tentu saja kantongnya berisi apalagi PNS.

"Oh, iya jelas donk,Eddy.Kalau kita ini, apalah,sudah cukup dikatakan pas-pasan Senin Kamis, iakan?"

"Betul, makanya kita pun harus giat belajar supaya kita kayak Pak.Syaifuddin."

"Tapi Eddy, yang membuat aku sedih adalah peritiwa kecelakaan maut di jalan Tol Balmahera sekitar dua tahun setelah aku tamat di USU.Kecelakaan itu membawa ketidakberuntungan bagi Ibu Helena karena suaminya menghembuskan napas terakhir yang sangat memilukan hati dan aku pun pada masa itu sangat sedih sehingga air mataku tak terbendung mengingat bagaimana nasib Ibu Helena dan kedua anak-anak mereka yang masih kecil-kecil."

"Jadi, bagaimana selanjut,Jul"? Eddy bertanya padaku

"Itulah, setahun kemudian Ibu Helena menikah lagi dengan seorang duda yang
bekerja sebagai pedagang dan sangat kaya di kota Medan,iya namanya saja pedagang serba cukup malah lebih dari itu pun dia bisa beli,Eddy."

"Oh, begitu dan bagaimana dengan anak-anak mereka?"

"Ala, kalau sudah kepingin meranjang, apapun yang terjadi karena bunganya lagi bersemi di taman firdaus. Ya, anaknya terpaksa dititipkan kepada neneknya yang kebetulan Ibunya, Bu Helena masih hidup tapi usianya sudah tua dan dia lah yang merawat anak-anak itu.Tapi yang membuat aku sedih sekali,Eddy, yaitu Ibu Helena tega betul dia meninggalkan anak-anaknya.Aku tak habis pikir, kok senang bangat dia sama Pak.Ahmad, pedagang itu,ya.Pak .Ahmad itu sangat kejam dan sering memukulnya karena selalu mereka bertengkar gara-gara pak.Ahmad main-main perempuan dan selingkuh pada anak gadis orang.Jadi, Ibu Helena pun tak merasa bahagia."

"Sialan, keparat, itu orang sudah tua pun masih selingkuh dan suka main perempuan.Siapa yang tak geram."

"Eddy memang betul katamu, tapi namanya orang kaya, banyak uang dan apa saja bisa di buat.

"Jadi,bagaimana dengan anak-anak yang dua itu, Eddy?"

"Wah,itulah yang menyedihkan sekali karena setahun setelah diitipkan anak-anak itu pada nenek mereka,nenekpun meninggal dunia dan untung ada seorang yang dermawan dan kebetulan tak punya anak tapi mereka sangat kaya. Mereka membawa kedua anak-anak ini ke rumah karena keduanya sedang mengemis di pinggir jalan.Pak.Karim dan istrinya ini tak sampai hati melihat anak-anak ini. Beberapa tahun kemudian anak-anak ini disekolahkan oleh Pak Karim sehingga anak-anak ini berhasil menanamatkan studi mereka di salah satu perguruan tinggi Negeri di kota Medan.Ternyata anak yang sulung bernama Irsan menamatkan studinya pada jurusam Ekonomi Manajemen dan bekerja di salah satu perusahaan besar sebagai asisten Manager Keuangan, menikah dengan seorang gadis cantik belia dengan satu orang anak.Sedangkan adiknya Irsan, Siti Hajar menamatkan studinya pada jurusan Keperawatan Masyarakat dan menikah dengan seorang dokter ahli bedah dan mereka sangat bahagia.Aku pun senang atas perhatian Pak Karim pada kedua anak-anak itu sampai berhasil. hmmm....Jul, bagiamana dengan Ibu mereka yang menikah dengan saudagar itu?"

"Aku bilang,memang dasar ambisi,iya siapa yang tak prihatin sebelum anak-anak ini berumah tangga Ibu Helena bercerai dengan pak.Ahmad dan dia pun kawin dengan seorang gadis Ambon yang agak lumayan cantiknya."

"Ibu Helena, gimana ?"

"Iya, dia tinggal menjanda lagi, dan hidupnya luntang lantung ke sana sini. Dia sering-sering ke rumah kami dan tetanggaku untuk meminta sesuap nasi. Kalau tidak, siapa yang memberikan dia makan?"

"Tapi dia punya anak-anak,Jul. Mengapa dia tak tinggal di rumah anaknya
yang sulung itu?"

"Eddy, mungkin dia malu dengan pak.Karim meskipun anak kandungnya itu tapi dari sisi kemanusiaan, ya apa boleh buat, "siapa yang menanam, dia lah yang memetik" bak kata pepatah mengatakan, iakan Eddy?"

"Betul, tapi kasihan donk sama janda tua itu,tapi aku rasa anaknya,Irsan juga tak sampai hati melihat ibunya dengan keadaan seperti itu."

"Oh,ialah, masa dibiarkan begitu saja, ya namanya anak dengan ibu kandung
tak bisa dipisahkan bagaikan air tak dapat dibelah dan biarpun kita belah-belah tapi selalu bersatu, iakan Eddy?"

"Iya, jelas donk. Itu makanya kalau status janda di kampung kami agak berat bagi mereka menikah lagi bila almarhum suami mereka meninggalkan anak kepada
mereka dan banyak mereka tak mau menikah lagi.Tapi ini tergantung juga pada pribadi janda-janda itu karena semua orang tak sama prinsipnya, Jul."

"Betul,Eddy. Memang semua apa yang kita lakukan akan ada resikonya, iakan?Tapi sudahlah memang nasi sukar menjadi bubur kembali begitulah nasib Ibu Helena yang agaknya sulit bergabung dengan anak-anaknya."

End

#Cerpen
AMBISI SEORANG JANDA
Oleh : Siamir Marulafau
sm/03122013


Cerpen : CINTAKU DI PERSIMPANGAN Karya : Siamir Marulafau


 

   'CINTA memang buta ',kata salah seorang pujangga Inggeris, tapi walaupun demikian cinta itu juga kadang membawa nikmat dan kadang juga membawa sengsara.Istilah ini tak asing lagi dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan masyarakat awam, masyarakat elit, toh cinta itu berbeda ragam dan tergantung pada yang mencintai dan yang dicintai."Cinta itu sebenarnya adalah sesuatu yang mengalir dalam lubuk perasaan yang sangat mendalam" kata seorang teman saya bernama Edison, yang kebetulan baru saja menamatkan studinya pada salah satu perguruan tinggi di USA.Dia selalu membaca banyak buku yang berhubungan ilmu Humaniora dan politik walaupun dia bukan pada jurusan sastra dan politik.Begitu sibuknya dia mempelajari ilmu Psikologi, dia menyempatkan watunya membaca buku-buku yang berhungan dengan kisah cinta dalam berbagai novel.Tapi setelah dia pulang dari USA, kami jumpa di persimpangan dan mengajakku makan di sebuah restauran terdekat di kampus saya dan aku sangat kaget jumpa dengan dia seakan-akan rasa kerinduan itu bercahaya lagi sepertinya mentari menyinari bumi, terang benderang dan betapa gembiranya aku karena kami sudah sekian tahun tak jumpa-jumpa.Dia adalah teman akrabku di waktu aku duduk di bangku kelas III SMU Khalsa beberpa tahun yang silam, dan tahu-tahu dia sudah menjadi magister di bidang ilmu Psikologi.

Setelah kami masuk di sebuah restauran pada siang hari itu, Edison bertanya padaku,"Nasrul, berapa lama kamu belajar ilmu sastra?"

Aku jawab sambil minum segelas teh. "Aku menyelesaikan studiku di bidang ilmu sastra selama 4 tahun"

"Lantas, sastra apa saja yang kamu pelajari,Rul?"

"Sastra Inggris.Itu pun hanya sampai pada level strata satu(S1)"

"Wah,hebat betul kamu,Nasrul. Aku banyak membaca karya-karya kamu di majalah Times Newyork,dan kamu banyak menceritakan tentang kisah cinta remaja pada masa sekarang.Aku juga senang membacanya,Rul.Biar anda tahu aku bercerita padamu bahwa semenjak aku berada di USA, aku melihat teman karibku juga bernama John dan Margareth.Mereka adalah sangat bersahabat pada mulanya, tapi lambat laun menjadi intim.Mereka saling mencintai.Kisah cinta mereka nyata betul aku saksikan karena mereka adalah sangat akrab denganku."

"Oh, menarik sekali Son,apa kira-kira kisahnya itu?"

"Pokoknya, serulah.Karena temanku itu hampir bunuh diri, dan teman perempuannya gila dan terpaksa di bawa ke rumah sakit gila dan sampai sekarang belum juga sembu-sembuh."

"wah! Seru bangat ya, Edison. Kalau begitu apa sih, ceritanya?"

Mendengar ini, Nasrul juga penasaran karena dia ingin mengetahui mengapa sampai perempuannya gila. Ini kisah cinta yang luar biasa sepertinya kisah cinta yang tak dapat dilupakan dan dipisahkan ibarat kulit dengan daging.

"Edison, jangan buat aku penasaran. Kita kan sambil makan dan alangkah baiknya bila kamu ceritakan padaku tentang itu semua."

"Ceritanya amat menyedihkan Rul karena John dan Margareth ini adalah sama-sama berasal dari daerah yang sama ,yakni dari daerah Mississipi,dan orang tua Margareth sangat miskin sedangkan orang tua John sangat kaya.Tapi walaupun Margareth ini miskin orang tuanya namun dia tidak patah semangat.Dia tetap berjuang dan bekerja di sebuah bar di kota New York selama beberapa tahun. Selama dia bekerja di sana, dia banyak membuahi hasil sehingga dia banyak menyimpan dolar di bank untuk biaya perkuliahannya pada masa akan datang.Dia ingin melanjutkan studinya di Universitas Washington dalam bidang ilmu Psikologi.Cerita demi cerita,ya maklum saja ya Rul,namanya orang kerja di Bar, tentu banyaklah pergaulan, dan dia kenal seorang yang kaya raya dan sangat menolongnya terutama dalam masalah keluarga.Mungkin karena Margareth cerita kepada Tuan Davison tentang keluarganya dan Margareth bisa terbantu sedikit.Tapi namanya bantuan mengalir terus menerus sementara Tuan Davidson sudah mulai menaruh perhatian pada Margareth meskipun tak ada rasa cinta dalam perasaan Margareth tapi Karena Tuan Davidson sangat pandai merayu cewek cantik belia ini, akhirnya hati Margareth luluh bagaikan deburan ombak menerpa pantai menyambut cinta Davidson meskipun Davidson sudah punya putra tunggal semata wayang bernama Jhon.Ya, namanya budaya Timur dengan Barat agaknya jauh berbeda, Nasrul, dan tidak salah bila Margareth tercicipi oleh Tuan Davidson.Sungguh malang nasib temanku,Jhon mencitai Margareth pada awal musim semi mereka pergi di sebuah taman tak begitu jauh dari kampus kami,dan di situlah mereka mengadu nasib sehidup semati.Margareth sangat simpatik bersahabat dengan Jhon dan akhirnya mereka menjadi teman yang intim tak dapat dipisahkan.

Aku pun terheran-heran dan terus berkata pada Edison,"Jadi kalau begitu bagaimana kelanjutan ceritanya. Aku sungguh tertarik mendengar kisah demikian,Son."

"Ya, tenang sajalah,silahkan habiskan dulu kopinya, kan masih banyak lagi, iakan?"

Setelah menyirup kopi Edison kembali bercerita, "Tapi, biar kamu tahu ya Nasrul, yang paling seru lagi ketika kami hampir tamat di perguruan itu.Maksudku di Universitas Washington,Jhon bercerita padaku bahwa pada akhir bulan Desember tahun depan, dia akan melanjutkan pernikahannya dengan gadis yang dicintainya,yaitu Margareth. Untuk itu, dia harus memperkenalkan Margreth kepada kedua orang tuanya, terlebih lebih kepada Bapaknya, yaitu Tuan Davidson. Niatnya itu terkabul bahwa dia harus melamar Margareth karena kedua orang tua Margareth setuju bila John ini teman hidup Margareth karena John adalah seorang yang baik budi, jujur, ganteng dan sangat ramah kepada semua orang.Tapi apa yang terjadi,Rul? Bak kata pepatah mengatakan, mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.Tahu-tahu suasana pada malam peminangan gadis belia ini menjadi malam yang sangat malang bagi temanku Jhon karena calon istrinya melarikan diri dengan tiba-tiba di saat John memperkenalkan calon istrinya kepada Bapaknya,dan Margareth sangat malu setelah bertatap pandang dengan Tuan Davidson. Apa mau dikata, John sebelumnya tak tahu bahwa ada hubungan batin antara Margareth dengan orang tuanya sendiri.Dalam perasaan Margareth,kan tidak mungkin Davidson menjadi mertuanya sementara hubungan mereka masih terjalin intim bagaikan makan buah simalakaman, maju kena mundur kena, iakan Nasrul".

"Wah!Seru bangat itu cinta,Edison. Jadi, bagaimana selanjutnya? Apakah mereka tetap juga menikah?"

"Tentu saja tidak, donk, mana mungkin mereka bersatu lagi?"

" Kasihan juga ya, sama teman kamu itu, Jhon"

"Biar kamu tahu, Nasrul.Temanku,Jhon itu sudah hampir bunuh diri dengan membeli racun tikus dan untung juga pada malam itu kuselamatkan dia.Kalau tidak, ya habislah dia.Aku juga turut prihatin, kok mereka nampaknya kurang saling terbuka antara satu dengan lainnya.Maksudku,mengapa Margareth tidak menceritakan pada John masalah hubungannya dengan Tuan Davidson pada awalnya, kan Jhon ini tak akan korban dan begitu juga Margareth.Tapi yang paling seru lagi, Rul.Tiga bulan kemudian, aku dengar khabar dari salah seorang teman perempuan Margareth bernama Sylvia mengatakan Margareth telah diopname di rumah sakit gila karena urat syarafnya terganggu.Ini juga menunjukkan bahwa dia sangat mencintai Jhon, tapi apa boleh buat. Maksud hati nak meluk gunung apa daya tangan tak sampai, iya kan Nasrul?"

"Betul sekali, Edison. Kasihaan juga pada kedua temanmu, itu ya,dan itulah kalau asmara sudah bergelora sehingga dunia kabur dan kadang tersenyum dan kadang menangis seolah-olah cintanya hanya jumpa dipersimpangan dan sangat sakit bila hal ini terjadi dalam diri kita".

"Sepakat, cinta itu buta"

"Benar,Rul. Makanya aku juga sangat berhati-hati kalau bercinta. Soalnya kalau ini terjadi dalam diriku,apa yang harus kubuat?"Aku, kemungkinan akan juga bisa bunuh diri tapi walaupun demikian kita juga orang yang taat beragama, Rul.Dalam agama Islam, seperti kamu ini Rul kan sangat pantang dan dosa besar dalam ajaran Islam,iakan? Kami juga dalam agama Nasrani sangat terlarang bunuh diri apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru, kita umat kristen harus taat beribadah kepada Tuhan dan banyak mengenang dosa-dosa masa lalu dan meminta ampun pada Tuhan penyelamat supaya masuk surga Bapak."

"Betul sekali apa yang ada katakan,Edison. Kami dalam ajaran Islam sangat tercela bunuh diri dan itu tidak akan diampuni oleh Tuhan karena bunuh diri itu adalah salah satu dosa yang paling besar dalam ajaran Islam......Ok, Edison, nampaknya sudah menunjukkan pukul 3.30 dan aku harus balik lagi ke kampus karena ada urusan yang penting.Selamat Tinggal."

End


#Cerpen
CINTAKU DI PERSIMPANGAN
Karya : Siamir Marulafau
sm/02122013

Cerpen - MENGAPA BAPAKKU GAGAL? Karya : Siamir Marulafau


 

   DI saat langit mendung, aku dan temanku Syukur singgah di sebuah kantin terdekat dan tak berapa jauh dari kampus kami di Jln. Uinversitas,19. Aku berkata sama Syukur " Kita lebih baik berhenti sebentar sambil ngopi,kur. Hujan sudah mau turun dan aku takut tak bisa kita sampai ke kampus karena tak ada payung."

"Oh,betul juga" Kata sukur

"Tengoklah,langitnya sudah mendung. Sebentar lagi hujan deras. Jadi kalau begitu, kita lebih baik berteduh di kantin itu sambil ngopi dan kebetulan sekali Kur, ada yang mau kutanya sama kamu".

Syukur jadi terheran-heran dan merasa kaget dengan omonganku itu dan seolah-olah dia ketakutan,dan dia kelihatannya gugup dan tak bisa ngomong lagi. Aku pun jadi tak enak karena aku seolah-olah memaksa dia ngomong. Tapi namun demikian, aku juga membujuk dia supaya semangatnya pulih kembali, betul pula itu dalam pikirku.

Setelah kami masuk ke kantin itu dan memesan dua gelas kopi panas dan mulailah aku cerita pada Syukur dan sambil menanyakan dia apa yang ada dalam benakku. Syukur rupanya sangat tanggap dengan niatku bertanya kepadanya bahwa dia tak bisa ngelak dan aku bilang, "Apakah benar ayahmu bekerja di kantor Depatemen Keuangan,Kur?"

"Oh, ya, memang Bapakku kerja di sana tapi kemungkinan akan pensiun pada akhir tahun ini.Kami tidak tahu apa yang kami buat bila Bapak kami pensiun nanti".

"Kur, kita harus percaya hawa Tuhan itu maha besar adil dan penyayang.Tuhan tak akan membuat hambanya sengsara terus menerus dan Tuhan maha penyayang, iakan?"

"Betul, Din. Tapi aku kan belum menyelesaikan studiku sementara Bapakku pensiun."

"Alah, gampang semua itu kau kan bisa kerja sambil kuliah."

"Terus terang ya, Din. Selama ini Bapakku kerja di kantor Departemen Keuangan, tapi bapakku tak pernah menyeleweng. Maksudnya, mengkorupsi uang negara. Dan baru-baru ini Bapakku dicalonkan menjadi Caleg 2014-2019. Dia memang saja mau tapi tak mau berusaha untuk menduduki jabatan Calon Legislatif. Bapakku jujur benar dan tidak mau neko-neko, dan katanya pada kami, Walaupun aku sudah dicalonkan menjadi Caleg 2014-2019 tapi aku tak ambisi.Kalau memang menang ya, menanglah,kalau tidak menang, ya sudah. Aku tidak mau bersifat money politic karena kalau sudah kayak begitu,kita tak bakal tentram untuk bekerja dan apalagi dinasnya bekerja dibahagian legislatif....Pikirku, ya betul juga bapakku,tapi namun demikian sebagai anak Sulung,aku juga memihak pada prinsip Bapakku karena dia sangat jujur dan tidak mau menyuap dan memakan suap karena itu sangat pantang dalam ajaran islam".

"Oh, jujur sekali Bapakmu,Kur. Sulit sekali mendapatkan orang seperti itu sekarang. Bisa dikatakan 1000 satu dan itu pun kalau ada orang macam kayak gitu."

"Bapakku sederhana dan tidak suka macam-macam. Kemungkinan Bapakku bekerja di kantor Keuangan selama lebih kurang 20 tahun lamanya dan tidak pernah terlibat dalam masalah keuangan baik di dalam pekerjaanya maupun di luar tugasnya. Makanya Bapakku sangat dipercayai oleh atasannya.”

"Kur,ingat bahwa orang jujur selalu terbujur dan sampai-sampai dia pun."

"Din, setiap orang berbeda prinsipnya dan memiliki karakter yang berbeda-beda pula, betul atau tidak?"

"Ya, benar.Tapi alangkah baiknya, Bapakmu memberikan kesempatan padamu untuk bekerja di kantor itu. Maksudku ya, kalau Bapakmu sudah pensiun, jadi kamulah penggantinya."

"Wah!, Tidak mungkin,Din.Itu namanya KKN,mentang-mentang Bapakku sebagai kepala tata usaha di kantor itu,aku harus diangkat menjadi salah seorang staf. Itu kan tidak mungkin. Kita harus melamar dan memenuhi beberapa persyaratan-persyaratan menjadi PNS sebagaimana lazimnya, iakan?"

"Betul, aku sepakat kalau begitu. Masuk menjadi pegawai PNS bukanlah suatu hal yang gampang. Tapi entah bagaimana pula ya, kok yang lainnya gampang masuk dan bekerja sebagai PNS."

"Jangan kamu merasa yang tidak-tidak dan salah paham,Din. Mengenai masuknya seseorang untuk menjadi pegawai PNS telah kupelajari semua karena sedikitnya Bapakku bercerita kepadaku tentang itu semua."

"Baguslah kalau begitu, Kur. Berarti kamu sudah mengerti semua. Tapi aku tak mengerti semua itu karena Bapakku,Kur. Adalah seorang petani dan bukan bekerja sebagai PNS,sedangkan Ibuku tak bekerja dan hanya sebagai Ibu rumah tangga. Kur, sampai sini ajalah dulu kita berbincang kebetulan kami masuk jam 9.30. Bapak dosen yang mengajar mata kuliah Kritik Sastra datang dan salah seorang temanku memanggil melalui selulerku. Selamat tinggal ya, sampai jumpa lagi."

End

Cerpen:
MENGAPA BAPAKKU GAGAL?
Oleh : Siamir Marulafau
sm/28112013

Cerpen - TULANG RUSUK PEREMPUAN TAK PERNAH BERTUKAR Karya : Siamir Marulafau


 

   DI sebuah institusi pendidikan Swasta, ada seorang teman Joni yang sangat akrab dengan aku di kala melanjutkan studiku di salah satu lembaga pendidikan di kota Medan. Nampaknya, teman Joni itu sangat ambisi dalam studi sehingga dia mendapat predikat yang sangat bagus dalam studinya.

Pada suatu hari,aku bertanya pada Nasrul,"Berapa lama kamu tinggal di kota ini?"

Nasrul menjawab,"Saya sudah lama tinggal di sini sekitar lebih kurang 5 tahun lamanya, dan aku tinggal di rumah nenek, dan sudah tiada lagi, meninggal setahun yang silam."

"Oh,begitu.Jadi, orang tuamu masih hidup?"

"Kedua orang tuaku masih hidup,Bapaku bekerja di sebuah instansi sedangkan Ibuku bekerja sebagai ibu rumah tangga. Aku punya dua orang saudara yang sedang kuliah di salah satu perguruan Swasta bernama Rizky Endang Sugiarti dan yang paling bungsu namanya Edi, sedang studi di SMU Negeri 2 Medan".

Memang keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Aku katakan pada Nasrul, "Berarti kedua orang tuamu berhasil membina kalian semua. Kita lihat pada masa sekarang agaknya banyak orang tua gagal dalam membina rumah tangga,dan aku pun selalu bertanya-tanya, mengapa demikian?"

Nasrul yang sedang memegang pulpen menulis puisi berkata,"Ada-ada saja pertanyaan kamu ini, Azmir, berhasilnya orang tua atau tidaknya dalam membina rumah tangga kan tergantung pada pribadi orang tua.Kalau memang orang tuanya tahu tuanya dan berpendidikan mendidik anak, iya jelas donk orang tua itu akan berhasil membina keluarganya, iya toh?"

"Betul sekali Nasrul, apa yang kamu katakan tepat dan aku pun berpikir demikian karena keberhasilan orang tua itu tergantung pada bagaimana mereka mengayomi dan mengarahkan anak-anak mereka ke jalan yang benar, karena apabila salah semua akan tertumpah pada mereka,iakan?"

Menjelang bulan Ramadhan, semua institusi diliburkan dan temanku, Nasrul juga hendak mau balik ke kampung halamannya yang agak jauh dari kota Medan. Selama berada di kampung Nasrul sangat taat beribadah dan semua orang kampung itu sangat senang kepadanya,dan apalagi Nasrul seorang Qori Nasional terbaik di tingkat Universitas di Indonesia. Iya jelas banyak perempuan yang senang kepadanya.

Sekitar pertengahan bulan Ramadan, aku menelpon Nasrul dan bertanya padanya,"Rul, kapan bailik ke Medan?"

Dia menjawab, "Aku ke Medan setelah lebaran bersama adiku Endang karena Endang mau melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Inggris UISU Medan, dan kemungkinan semester depan adiku ini sudah tamat dan diwisuda akhir tahun ini."

"Oh, begitu, Rul. Aku pikir kamu cepat balik ke Medan karena pada akhir bulan Ramdhan ini, ada acara haflah Al Quran diadakan di Mesjid Agung Medan, dan aku telah mendaftarkan kamu untuk ikut peserta pada kegiatan itu, tidak apa-apa kan,Rul?"

Mendengar cakapku ini, Nasrul juga senang dan mengatakan padaku, "iya...daftarkan sajalah, aku akan segera ke Medan, tak usah khawatir, demi teman"

Tepat tanggal 28 Juli 2013,Nasrul datang ke Medan bersama adik kandungnya dan segera menjumpaiku di tempat kosku yang lama tak begitu jauh dari kampusku. Dan alangkah terkejutnya aku di saat Nasrul mengetuk pintu kamarku datang bersama Endang dan seorang perempuan yang cantik, rupanya teman baik Endang. Erni salah seorang perempuan yang baik budi dan hatinya lembut selembut salju disamping ramah pada setiap orang. Sehingga banyak kaum lelaki yang menggaitnya tapi dia tak mau karena dia sangat senang pada abangnya si Endang. Pikirku, Nasrul punya adik perempuan lagi selain Endang tapi penglihatanku salah. Mereka sudah menjalin hubungan asmara sejak duduk di bangku SMU beberapa tahun yang silam. Nasrul juga sangat mencintainya, di mana mereka macam pinang dibelah dua dan tak bisa dipisahkan. Aku berkata dalam hatiku,"Mengapa ga kayak gini pacarku?" Aku murung sejenak karena mengingat nasib dunia sudah menjadi bubur dan sukar menjadi nasi kembali.

Tapi menjelang enam bulan kemudian, aku mendapat kabar baik dari keluarga Nasrul bahwa keluarga Erni sangat setuju bila pernikahan mereka di laksanakan pada bulan Desember tahun depan dan mereka pun tak lupa mengundangku untuk datang ke sana. Aku pun tak menolaknya karena dia juga sahabatku yang baik. Di saat pernikahan mereka aku juga bilang pada Nasrul bahwa kamu harus benar-benar serius berumah tangga sambil kuliah di S2 karena perempuan pada masa sekarang ini sangat berbeda karakternya dengan perempuan pada masa dahulu, iya kalau tak percaya omonganku ini, boleh bertanya pada orang tua.

Nampaknya, Nasrul juga tertarik dengan cakapku dan berkata padaku,"Betul kah itu? Apakah memang semua perempuan punya karakter seperti itu?"

Aku jawab,"Apa yang kukatakan benar,Rul. Karena kalau sudah menikah, istri itu sudah menjadi sebahagian tulang rusuk kita dan sukar untuk dipertukarkan. Jodoh itu adalah semuanya ditangan Illahi dan Allahlah yang menentukan siapa yang pantas jadi istri kita.Makanya pernikahan itu harus benar-benar dan tak boleh tak bertanggungjawab. Hematku, Nasrul...tidak perlu bimbang karena perempuan yang akan kau persunting itu berasal dari keluarga yang baik-baik, iya bukan? Mereka sangat ternama di kampung itu, kan? Ini semua aku dengar pada tetanggamu di waktu aku berkujung ke tempat kalian setahun yang lalu, masih ingat atau tidak?"

Nasrul sangat terkesima mendengar cakapku dan langsung menyalamiku,"Aku sangat salut dengan kamu, Azmir. Kamu adalah teman baikku, dan memang apa yang kamu katakan padaku semua benar dan juga hal seperti ini sangat terpikir olehku. Soalnya, aku harus menikahi Erni karena dia seorang anak yang baik di keluarganya dan pantas menjadi istriku, iakan?"

Itukan tergantung pada yang punya badan, kataku pada Nasrul, "Ingat, Rul perempuan itu berbeda-beda tingkah dan kelakuannya tapi yang paling penting adalah karakternya,bukan soal cantiknya. Memang calon istri kamu sangat cantik, cantiknya macam bintang film Boliwood, India. Aku pun salut melihat kamu, kok sampai bisa dapat kamu secantik itu, ya Rul? Apakah kamu punya ilmu pelet Apalagi Erni itu berasal dari keluarga yang kaya tapi kaya hati pada semua orang. Mengapa aku tahu ini semua, Rul? Aku kan seorang yang suka meneliti kasus,dan apalagi kamu temanku dan tak suka bila kamu menikah dengan perempuan yang tak beres. Maksudnya statusnya tak beres dan keluarganya juga keluarga yang tak terpandang di masyarakat. Itulah yang paling penting,Rul, status keluarga. Karena ingat apa yag selalu dibilang orang, kalau pohonnya bagus, maka buahnya juga akan bagus, iaya kan Rul? Betul atau tidak?"

Nampaknya, Nasrul juga sebagai teman tak bosan mendengar ocehanku walaupun kusampaikan dengan nada yang agak nyaring memekakan kuping tapi Nasrul senang menerimanya dan dia juga sangat berterimakasih atas saranku sebelum dia masuk di ambang pintu pernikahan tahun depan.

"Terimakasih, makasih ,,,,Azmir. Memang kamu teman baikku."

"Aku sudah tahu sifatmu, dan tak akan membiarkan seorang teman hanyut ke hamparan lautan yang tak berpilar.Maksudnya kamu tak suka bila teman hancur hanya disebabkan perempuan karena perkawinan itu seharus sekali saja dan itulah yang paling baik,aku pikir Azmir, iakan? Istri itu kan tulang rusuk kita yang hilang dan sebadan dengan kita, dan tidak bisa dipertukarkan."

Menjelang pertengahan bulan Desember tahun berikutnya, aku pun datang ke pesta perkawinan temanku, Nasrul di mana pergelaran adat istiadat Minang sangat menarik perhatianku karena sebelum mempelai laki-laki memasuki rumah perempuan yang dipersunting terlebih dahulu disambut dengan adat istiadat berupa tari piring yang sangat mengharukan hati. Aku pun sangat tertegun melihat situasi demikian, betapa indahnya tarian-tarian yang disuguhkan pada masa itu. Apalagi keluarga perempuan ini sangat terhormat dan terpandang di kampung itu sehingga pesta perkawinan temanku itu berlangsung dua hari dua malam dan aku betul-betul sangat senang melihat temanku, Nasrul bahagia. Bukan itu saja membuat hatiku senang sebagai teman Nasrul tapi sifat dan karakter keluarga mempelai perempuan sangat sopan dan ramah, menghargai pendapat orang lain dan sebagai buktinya, Endang Sugiarti juga berperan dalam membaca puisinya dengan penuh khidmah membuat bulu kudu semua orang naik ke langit yang ketujuh begitu indahnya bacaan puisi bermakna pada tema perkawinan ditulisnya beberapa bulan sebelum pernikahan Abangnya berlangsung. Aku juga salut melihat Endang pada masa itu, karena dia seorang penyair kenamaan di kota Medan.

Mendengar kataku itu, Nasrul jadi terharu pada apa yang aku katakan, dan kukatakan padanya bahwa aku bukan memuji sebenarnya tapi kenyataan. "Untuk apa kita bilang seperti itu kalau sesuatu yang kita katakan itu tak benar, iakan ,Rul?"

"Betul sekali, Azmir. Terimaksih atas atensi Saudara"

"Iya, apa yang kutakan benar, aku kan tak bercakap yang tidak-tidak, kenyataan,donk."

"Memang betul itu, Azmir,,,,,,,teringatnya? Kapan Azmir menamatkan studinya?"

"Aku kan tak kuliah lagi Nasrul"

"Mengapa? Kan lebih baik kalau kamu melanjutkan ke S3?"

"Aku pikir sudah, Rul sampai S2 saja karena usiaku termakan senja dan lagipula aku sangat sibuk mengajar setiap harinya dan tak punya waktu untuk itu, iakan?"

"Oh, begitu, itu kan tergantung pada kamu sih, Azmir. Tapi hematku kamu lebih baik kuliah S3 karena sangat penting untuk kemajuan pembelajaran di Universitas, iakan?"

"Betul! Betul! sekali. Sepakat tapi aku tak punya waktu lagi dan apalagi biayanya sangat mahal. Kalau memang ada program riset untuk S3 di Malaysia, iya aku akan ikut program itu tapi memang ada tapi biayanya sekarang, Rul."

"Biar kamu tahu Azmir,setelah calon istriku tamat di S2 jurusan linguistik di Universitas Kebangsaan Malaysia, aku akan menyarankan dia supaya melanjutkannya ke S3 dan begitu juga adikku Endang Sugiarti supaya dia harus menyambung kuliahnya ke S2 jurusan sastra Inggris di India. Aku yakin Endang dapat menyelesaikan studinya dalam waktu yang singkat karena dia seorang anak yang pintar dan pandai berbahasa Inggris dan apalagi seorang penyair, iyakan?"

"Aku setuju pendapatmu Nasrul karena Endang itu kan mantan mahasiswiku di Fakultas Sastra UISU beberapa tahun yang lalu dan dia juga pintar dan sangat gigih berjuang demi kesuksesan dalam pendidikan, iya toh? Nampaknya, sudah menunjukkan pukul 12.00 wib, seharusnya kita berhenti dulu karena kebetulan hari ini hari Jum'at dan aku sholat Jumat ke Mesjid Taqwa, apakah tak ikut kamu,Rul?

"Iya, jelas donk, mari kita sama-sama ke mesjid dan sholat bersama, ayuk!"

End


Cerpen :
TULANG RUSUK PEREMPUAN TAK PERNAH BERTUKAR
Oleh : Siamir Marulafau
sm/04042014

Cerpen - CERITA CINTA MAYA Karya : Ros Maya




   "BIASANYA aku lelap tidur
terbangun untuk fikirkan diri mu
mengenang mu yang kini telah jauh
biasanya aku tenang tidur
terbuai ku mengingat diri mu
mencinta mu
namun kau telah jauh
ku cuba lupakan diri mu
mengingat mu
hancurkan hati ku
dahulu seia sekata
namun kini semua telah berlalu
sayang ku ingatkan diri mu..."

Sudah berulang kali Azie memutarkan lagu itu. Setiap kali ia berkumandang, Azie akan ikut menyanyikannya dalam nada yang rendah. Dia cukup suka dengan lagu itu. Niat di hatinya kalau ada pertandingan lagu-lagu karaoke, dia akan bawa lagu itu untuk pertandingkan. Harapan Azie lagu itu akan membawa tuah kepadanya.

Azie menyanyi lagi. " ...bahawa ku tak bisa hidup tanpa mu.. " Namun dia terasa cukup sedih apabila sampai ke bahagian itu. Tanpa sedar kolam matanya digenangi air jernih. Dia terkenangkan seseorang yang cukup menyentuh raga rindunya. Tapi belum sempat air jernih itu mengalir ke pipi, Azie sudah mengesatnya dengan hujung jarinya. Dia tidak mahu anak perempuannya yang tidur sebilik dengan dia sejak lahir itu, akan melihat kesedihannya, kerna sejak akhir-akhir ini, semakin meningkat usia anaknya remaja, terlalu banyak soalan pelik-pelik yang dia tanya, yang kadang-kadang sukar dijawab oleh Azie.

Azie menoleh pada anaknya yang sedang baring di sebelahnya. Kelihatan Mata anaknya mula tertutup. Telinganya ada terpasang 'handfree'.

"Agaknya dia sedang menghafal lirik lagu Janji Manis Mu, kerna pada hujung minggu nanti dia ada pertandingan karaoke peringkat akhir." Begitu sangkahan Azie di dalam hatinya.

Azie tidak ingin menganggu anaknya. Dia cuba melenakan matanya, tapi fikirannya melayang jauh.

" Zie..Abang merasa sangat bersyukur kerna telah dapat bertemu dengan mu, walau telah melalui banyak rintangan. Abang telah dapat juga menatap wajah yang selalu marah-marah sayang ini." Nampak sangat kegembiraan di wajah Azri di saat menuturkan kata-katanya.

" Ya bang, Zie pun rasa terharu sangat di saat tiba-tiba melihat abang terpacak di pintu bengkel Zie mengajar tadi. Rasa macam Zie bermimpi. Itu yang Zie seperti terpingah-pingah tadi itu, sampai tak terjawab salam abang. Maafkan Zie ya." Azie tertunduk malu apabila bola mata Azri mula menatap seluruh wajahnya. Melalui sorot pandangan Mata Azri, Azie dapat merasakan ada segunung rindu yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Sesungguhnya jauh di sudut hati Azie juga mengakui, bahawa dia sangat merindui lelaki ini. Namun dari pergaduhan terakhir yang mereka lalui, membuat Azie berfikir, tidak mungkin lagi Azri akan menemuinya.

Lamunan Azie terhenti apabila dia terasa ada sesuatu yang mengenggam tangannya dan mula meramas jari jemarinya. Jiwanya menjadi lebih bergetar, apabila tiba-tiba genggaman tangan Azri membawa tangannya ke mulut, lalu menyentuhnya dengan satu ciuman yang cukup lembut. Dia terasa ingin merebahkan kepalanya ke dada yang bidang itu, untuk bermanja-manja semahunya. Namun kesedarannya sebagai wanita muslim, Azie beristigafar di dalam hati dan berdoa memohon diberi perlindungan dari Allah, agar dijauhkan dari perbuatan yang diharamkan olehNya.

Perlahan Azie menarik tangannya dari genggaman Azri. Dia keluar dari kereta Savvy merah itu, untuk menghirup udara malam Pantai Teluk Likas. Azie bersandar di dinding keretanya. Dia membawa matanya menatap keindahan lampu-lampu kapal nelayan di tengah lautan. Tapi tidak lama dia berdiri di situ, Azie terasa pinggangnya pula di paut mesra.

"Ya Allah..., sentuhan lelaki ini seperti ais di pergunungan kinabalu, yang menggetarkan bukan cuma jiwa ku, tapi tubuh ku juga. Adakah ini kerna sentuhan pertama, selepas tiga belas tahun suami aku meninggalkan aku?" Azie mengelabah sendiri dalam cuba menenangkan perasaanya.

"Kenapa sayang, sejuk ya? Agaknya udara laut ini membuat mu jadi sejuk." Azri seperti dapat merasakan getaran pada tubuh Azie.

"Ma! Mama!...Kenapa mengeletar ini? Mama kesejukankah?"

Suara anak Azie seperti menyedarkan dirinya. Azie membuka matanya yang bukan tidur. Dia merasa sangat malu pada anaknya. Rupanya dia telah berangan-angankan satu kesah yang tidak nyata.

Azie menatap wajah anaknya. Sambil tersenyum dia berkata, "Tidurlah anak mama. Esok sekolah. Mama mahu awal pergi kerja. Tidak mahu dapat hati Dan merah lagi." Azie cuba mengalihkan perhatian anaknya dari keadaan dirinya tadi.

Anaknya yang sudah duduk tadi itu tiba-tiba mencium pipi ibunya sambil mengucapkan, "Asalamualaikum ma dan selamat malam."

"Walaikumsalam sayang. Jangan lupa baca Al-Fatihah dan Ayat Kursi sebelum tidur itu." Kelihatan anggukan kecil dari anaknya, sebelum merebahkan kembali kepalanya ke bantal di sisi ibunya.

Azie mengiringkan tubuhnya ke kanan, ke dinding yang kosong dalam bilik itu. Azie merasa dia cukup sukar melelapkan mata sejak akhir-akhir ini. Ada perkara yang merungsingkan fikirannya. Kesah hubungan cintanya dengan Azri seperti tergantung tidak bertali.

Sebelum ini Azie meminta hubungan mereka diputuskan. Ini disebabkan dia merasa cukup kecewa dengan sikap Azri yang telah membuang dia dari menjadi rakan muka buku, sedangkan di tempat itulah mereka ditemukan. Bagi Azie apabila Azri sudah sanggup membuangnya seperti itu, bermakna cinta Azri kepadanya sudah tiada. Jadi buat apa lagi mereka berhubung.

Tapi berbeza dengan Azri. Dia membuang kononnya untuk mencari ketenangan, tapi bukan bermakna dia sudah tidak mencintai Azie. Tapi Azie tetap berdegil mahu memutuskan hubungan, kerna tanpa mereka bukan menjadi rakan muka buku lagi, tiada makna lagi perhubungan itu. Sehingga Azri merayu untuk menerimanya kembali, dengan cara menambah Azie menjadi rakan muka bukunya kembali, baru Azie menarik kembali kata putusnya.

Namun baru beberapa hari pertengkaran itu berakhir, datang lagi pertengkaran yang baru.Kali ini lebih teruk dari yang lepas-lepas. Azral telah datang dengan cereta fitnahnya. Dikhabarkannya pada Azri, konon Azie bercinta dengannya sudah 6 tahun. Azie merasa pelik, bagaimana Azral boleh mengatakan begitu, sedangkan selama ini Azie sentiasa cuba mencari jalan menghindar dari berhubung dengan Azral.

Konon lagi fitnah Azral, dia selalu telefon Azie. Kalau Azral tak telefon, Azie akan marah. Pada hal hakikatnya Azral yang selalu marah-marah bila setiap kali dia telefon, selalu tidak diangkat, atau budak-budak yang sambut mempermainkannya.

Paling teruk fitnahnya, Azie konon layan ramai lelaki dan memberi mereka harapan. Sampai ada katanya yang hubung dia memberitahu ada hubungan dengannya, tapi dia biarkan saja, kerna kononya Azie buat begitu sekadar main-main untuk mengisi masa terluang. Azie betul-betul rasa tercabar kemarahannya dengan fitnah Azral yang ini. Pada hal cereta ini diterbalikkannya.Dia yang berkelakuan begitu, tapi dikatakannya Azie.

Azie masih ingat lagi di saat hampir setahun Azie cuba mempelajari sikap Azral. Waktu itu Azie cuba belajar menyanginya apabila Azral merayu cinta kepadanya. Tapi apa yang dia dapat, Azral selalu memburu cinta wanita-wanita yang cantik dalam muka buku. Apabila ditegur oleh Azie, jawapannya cuma main-main. Bukan sayang betul-betul pada mereka. Sekadar mengisi masa lapang saja. Alasan Azral itu tidak dapat terima oleh Azie. Sehingga pada suatu ketika, Azie tidak mampu lagi bertahan dengan tingkah lakunya, apabila Azral sanggup membela rakan muka buka yang selalu bersenda-senda dengannya itu, pada hal rakannya itu sudah cukup menghina Azie. Malah Azie lagi yang dimarah dengan kata-kata yang cukup kesat. Sampai sekarang kata-kata itu tidak pernah luput dari ingatannya.

"Ini cuma mayalah. Hubungan kita pun cuma maya. Kita belum ada ikatan spa-apa. Awak tidak perlu cemburulah. Saya tidak suka dikongkong. Belum ada apa-apa ikatan pun. Kalau mahu pergi, pergilah!"


Cukup pedih hati Azie menerima ungkapan Azral itu. Bermula dari saat itu Azie berikrar di dalam hati hanya menganggap Azral kawan biasa saja. Bermula dari waktu itu juga, Azie tidak ambil kesah lagi hal Azral. Walaupun kadang-kadang ada juga Azral menelefon dia, tapi dia biarkan berdering begitu saja atau dia suruh anak buahnya yang jawab. Namun kadang-kadang ada juga masa dia mengangkat panggilan, di saat dia terlupa memandang panggilan dari siapa. Tapi bila sudah mendengar suara Azral, Azie akan mencari alasan untuk menyingkatkan perbualan.

Sudah jauh Azie hanyut oleh arus ingatannya. Tiba-tiba telefon berdering memecah keheningan malam. Apabila melihat nama Azral yang terpapar memanggil, dia segera mengangkatnya. Tapi Azie tidak bercakap. Dia bangun dari pembaringannya menuju ke pintu. Dia mahu ke ruang dapur untuk bercakap dengan Azmal. Dia tak mahu anaknya mendengar maki hamunnya. Dia ingin memarahi Azmal di atas perbuatannya yang memfitnah dirinya pada Azri.

"Asalamualaikum!" Belum sempat Azie mendengar salamnya dijawab, dia sudah mengajukan soalan dan kata-kata yang agak kesar kepada Azral.

" Siapa nama lelaki-lelaki yang ramai kau kata aku layan dalam muka buku itu? Mana meseg lelaki yang kau kata mengaku ada hubungan dengan aku yang ramai itu?"

Kedengaran Azral menjawab, "Entah mana sudah. Aku tak ingat nama-namanya."

"Kau memang pembohong. Kau sengaja mereka-reka cereta itu pada Azri supaya dia membenci aku. Mustahil kau boleh lupa semua nama itu, mesti ada salah satu yang boleh kau ingat. Ini sudah membuktikan yang kau berbohong. Jangan kau bersumpah-sumpah, nanti kau dimakan sumpah mu. Semua yang kau kata itu bukan sifat ku. Nampak sangat bohong mu. Sayangnya Azri mudah sangat mempercayai cereta dan sumpah mu."

Azie meluahkan perasaan geramnya pada Azral. Azie tidak menunggu lagi Azral menjawab kata-katanya, dia terus menekan punat 'off '.

Azie melihat ada meseg yang belum dibaca. Bila dia membacanya, maka terpaparlah ayat ini, "Dah banyak kali abg cl, tapi sayang tak angkat. Nanti abg akan hubungi sayang lagi."

Rasanya nak muntah Azie membaca meseg itu. Agaknya meseg yang dihantar oleh Azral tadi sebelum dia bercakap dengan Azral. Azie terfikir nak tukar nombor telefon agar tiada lagi gangguan dari Azral.

Azie kembali ke pembaringannya. Dia teringat waktu perkenalannya dengan Azri. Masa dia menjauhkan diri dari Azral, Azri muncul dalam hidupnya. Walaupun Azie sudah fobia dengan cinta maya, tapi entah kenapa dengan Azri, apa yang telah meruntun hatinya untuk menerima kasih sayangnya. Walau mereka selalu bergaduh di sepanjang usia perhubungan setahun lebih itu, namun ia seperti pengikat kasih sayang mereka. Dia pernah menyatakan akan membuat pasport perjalanan ke malaysia untuk menemui Azie dan dia sudah memperlihatkan kesiapan pasport itu. Pada waktu itu hati Azie berbunga bahagia. Tapi kini semuanya seperti tinggal kenangan. Fitnah dari Azmal seperti tertanam di hatinya. Walaupun sudah dijelaskan semuanya oleh Azie, tentang niat Azmal yang sengaja mahu menghancurkan hubungan mereka, tapi sehingga kini Azri membisukan diri dari sebarang kata darinya. Apa yang mampu dilakukan oleh Azie hanya berserah kepada takdir. Dia sudah redoh pada segala kejadian yang dilaluinya.

Dalam keasyikan Azie melayan perasaannya, tiba tiba matanya terpandang pada tudung yang tergantung di dinding biliknya. Tudung itu pemberian dari Azri Azie bangun mendakapnya erat. Tiba-tiba airmatanya menitis. Kali ini dia sudah membiarkannya mengalir. Hatinya cukup tersentuh. Dia ingin menyimpan tudung itu sebagai kenangan terindah di dalam hidupnya.

Dalam sendu yang menyeksakan, kadang kadang Azie bertanya pada dirinya, "Perlulah cinta maya ini berakhir? "

Namun jawab hati halusnya, "Biarlah waktu yang memutuskan."

T A M A T


Cerpen –
CERITA CINTA MAYA
Penulis : Ros Maya




Cerpen - PELAJARAN BERHARGA UNTUK PUTRA Karya : Pandu Eva


 

   SUDAH sering kali ibu melihat Putra, anaknya, rebutan mainan. Kalau sudah main bersama teman-teman, salah satu di antara mereka pasti ada saja yang menangis. Seperti hari ini, Dio teman main Putra, tiba-tiba pulang sambil menangis. Padahal sebelumnya Putralah yang mengajak Dio main ke rumah.

"Putra, kenapa Dio?" tanya ibu dengan lembut.

"Dio mau pinjam motor-motoran, Bu. Tapi ga aku kasih. Ini kan masih baru," ujar Putra polos, sambil memperlihatkan mainan barunya.

"Oh, terus kenapa kamu ga kasih mainan lainnya? Mobil-mobilan misalnya atau puzle itu," tanya ibu lagi, menunjuk beberapa mainan yang masih berserakan di lantai.

"Semua maenan Putra kan masih baru, Bu. Nanti kalo dipinjemin rusak dong," seru Putra dengan wajah cemberut.

"Loh, kalo semua maenan masih baru, terus Dio maen apa dong?"

Putra terdiam. Bahunya turun naik, tanda ia tak tahu. Sementara ibu hanya menggeleng melihat Putra begitu.

***

   Keesokan harinya, saat libur sekolah. Putra tampak asyik bermain bersama motor-motoran dan mainan baru lainnya, di rumah. Dua jam berlalu, ibu melihat Putra mulai bosan bermain. Lalu ia menghampiri Putra.

"Bosan ya? Maen di luar sana sama Dio dan teman-teman. Atau ajak Dio maen ke sini," seru ibu.

Putra tampak senang mendengar saran dari ibu. Lalu ia segera pergi ke rumah Dio dan teman-teman. Sepuluh menit kemudian, Putra kembali ke rumah seorang diri. Tak ada satu orang pun teman bersamanya. Putra tampak murung, bahkan hampir menangis.

Melihat Putra bersedih, ibu segera menghampiri sambil memegang buku cerita bergambar yang baru saja dibeli lewat jalur online.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya ibu, tangan kanannya sibuk membelai lembut rambut Putra.

"Dio dan teman-teman ga mau maen sama aku, Bu. Kata mereka aku pelit." Putra menangis sesegukan, bercerita kepada ibu.

Ibu hanya tersenyum, lalu membuka lembaran buku cerita yang ada di tangannya. Tangisan Putra terhenti melihat buku yang dipegang ibu. Gambar dan warnanya terlihat sangat bagus. Putra kelihatan tertarik.

"Wah, bukunya bagus banget. Ibu baru beli ya? Aku pinjem dong!"

Tangan Putra berusaha meraih buku cerita itu, tapi ibu segera menutup buku dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.

"Ibu, aku pinjam!" Berkali-kali Putra merengek meminta buku cerita dari ibunya, tapi tetap tak dikasih.

"Jangan, Sayang. Ini masih baru. Nanti kalo kamu pinjam, ibu takut robek bukunya," ujar ibu dengan mimik wajah meledek.

Mendengar perkataan ibu. Akhirnya Putra menangis. Melihatnya menangis, ibu tak tega, lalu menarik napas, menyuruh Putra duduk.

"Kamu tau kenapa Dio dan teman-teman ga mau maen sama kamu?" tanya ibu lembut.

Putra hanya mengangguk, menjawab pertanyaan ibu.

"Lalu gimana perasaan kamu waktu ibu ga kasih pinjam buku ini?" Ibu mengangkat buku cerita di hadapan Putra.

"Sedih, Bu," jawab Putra tertunduk.

"Nah, begitu juga perasaan teman-teman kamu, waktu kamu ga kasih pinjam maenan. Apalagi Dio sampai nangis. Pasti sedih banget itu," ujar ibu, berharap Putra yang telah berusia tujuh tahun akan mengerti maksudnya.

Seketika itu juga Putra paham maksud ibunya. Putra segera meminta maaf kepada ibu, berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Lalu ia mulai mengelap air mata dan ingus yang dari tadi keluar masuk karena menangis.

_End_


#CeritaAnak
PELAJARAN BERHARGA UNTUK PUTRA
Oleh : Pandu Eva.
Jakarta, 19 November 2019.



Cermin : GEGARE DERIAN – Tok Dalang


 

   MALAM jum'at jam dua suboh Dolah baru balek ke rumah. Dolah abes ngumpol dengan konco-konconye di pasar seruni ngentak buah durian. Sesampainye di rumah, Leha, bininye yang paling disayang udah bedengkor.

"Assalamualaikum" Dolah ngasi salam, tangannye mengetok pintu.

"O. Leha, Leha. Abang dah balek, bukakanlah pintu sayang" sambong Dolah mujok si Leha.

Dari dalam rumah tedengar suare langkah kaki Leha nuju pintu.

"Waalaikum salam" saot si Leha.

Krek. Pintu rumah pun dibuka si Leha.

"Dari mane bang! Jam segini baru balek?" Tanya si Leha nciom tangan Dolah.

"Rencane tadi tuh yasinan sebentar yak, balek dari yasinan singgah lok ngopi di warong Mak Timah. Abes ngopi langsung balek. Ee.Jumpe pulak same si Leman kawan abang dari Sepok Laot, Die ngajak makan derian di pasar seruni" kate Dolah pulak.

" Pantaslah tangan abang bau derian. Abang nih, makan derian bah tak ngajak." Kate Leha masamkan muke.

"Macam mane pulak na ngajak sayang. Ndak ke abang nih diajak si Leman" Dolah mulai bekelet.

"Bawakan ke adek ni sebutik. Baunye yak yang dibawanye balek" Leha mulai merajok.

"Janganlah merajok sayang, sukor maseh ade baunye, dari pade tadak same sekali hehe" Dolah mujok Leha. "Yok! Kite tidok, abang ngantok." Mereke pon masok kamar.

Dalam kamar. Dolah kepingen pulak na indehoi. Mungkin pengaroh makan derian. Pas pulak malam ini Leha makai baju tidok yang tipis nampak celane dalamnye.

"Sayang! Abang pengen" Dolah mulai merayu.

"Ee! Ngantok bang. Laen kali lah." Kate leha menolak.

Dolah tak putos asa " Ayolah sayang" katenye pulak.

"Ndak e abang nih! Makse pulak" jawab Leha mbalekkan badan mbelakangek Dolah.

"Ayok lah sayang! Abang pengan bah" Dolah maseh bekuat.

"Tunggu bentar!" Kate Leha.

Leha masokkan tangan ke celane dalamnye. Abes tuh tangannye disekapkannye ke idong Dolah. "Iniha!" Katenye pulak.

"Ape maksud sayang nih! Baunye disempalkan ke idong abang" Tanya Dolah naek spaning.

"Ciomlah baunye! Sukor maseh adek ciomkan baunye, dari pade tadak same sekali."

*****END*****
Cermin (Cerita Mini)
GEGARE DERIAN
Karya : Tok Dalang
#tempuyak