Kamis, 18 Oktober 2018
Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - TERSANJUNG
# PENGGEMBALA #
Aku si penggembala,
Bersama seekor kerbau dan anaknya,
Sebungkus bekal makanan di pinggang,
Telusuri padang tanah basah berlumpur,
Meniupkan sebilah seruling bambu,
Dendangkan nyanyian Duka Ibu Pertiwi,
Aku si penggembala,
Kian teriris luka di dada,
Ulah dari teror si pendusta,
Para penoda mulianya suatu agama,
Di tanah yang kini porak poranda,
Dari murkanya alam semesta.
Bergemalah wahai nada nada,
Dari tebing ketebing bebatuan,
Katakan aku disini,
Menanti panggilan dari NKRI,
Untuk menyerahkan jiwa dan raga,
Demi Tanah Air Indonesia Tercinta.
Aku si penggembala,
Bersama kerbau dan anaknya,
Bukan menjadi manusia hina dan tercela.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 18:10:2018
# TERSANJUNG #
Bintang kupandang dengan pesona,
Rembulan bersinar beri cahaya,
Teranglah malam gelap gulita,
Ajak si pungguk ikut bersuara,
Kabarkan indahnya alam semesta,
Tinggalkan sepi laranya jiwa.
Ketimbang langkah hendak menuju,
Jalan ku basah berlumpur pula,
Kononlah pula niat ku tau,
Tuah menyapa gema berkala,
Adakah takdir aku dapat bertemu,
Bersama tuan yang tinggi derajatnya.
Kutimang timang takdirnya raga,
Ku belai belai hasratnya jiwa,
Jikalau memang nanti dapat berjumpa,
Jangan di hina hidupku yang apa adanya,
Biar menjadi kenangan ku sepanjang usia,
Untuk cerita ku nanti kepada anak istri tercinta.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai 18:10:2018
Buat Sahabat hati ku Bapak Drs Mustahari Sembiring
# MERAJUT RINDU #
Gurindam nada rentak berirama,
Syair pujangga merasuk sukma,
Adakah makna rindu menyapa,
Umpama angsa di tengah telaga,
Terbang tak tau entah kemana,
Berdiam diri gundah gulanya.
Jauh dermaga di seberang lautan,
Perahu berlayar tampa kemudi,
Teringat gelombang jadi tantangan,
Karang menanti di laut tak bertepi,
Mungkinkah aku sampai ke tujuan,
Menuai rindu yang tumbuh bersemi.
Hasrat di hati syair merayu,
Sambut bertuan tegur dan sapa,
Tersimpan hajat hentak bertemu,
Ingatkan niat yang lama tertunda,
Oleh karena rasa tak mampu,
Menggapai rindu yang jauh di sana.
LUmbang KAyung bersama Drs Mustahari Sembiring
Tanjung Balai 17:10:2018
# DONGGALA #
Langit menggelegar,
Mega hitam berarak arakan,
Bumi terus bergetar,
Gemuruh ombak menerjang daratan,
Terdengar pekik hingar bingar,
Menyambut jerit penderitaan.
Porak poranda isi alam,
Musnah sebuah impian,
Pucat pasih wajah duka terpendam,
Dalam tangis kepedihan,
Pecahkan cahaya hati yang kini kelam,
Terpojok di jurang kehancuran.
Hanya kepada mu tuhan,
Doa tulus ku panjatkan,
Dari setiap ujian yang kau berikan,
Ujian perjalanan langkah ku di kehidupan,
Yang tak dapat lagi terElakkan,
Walau ku kehilangan keluarga dan impian.
By : LUMBANG KAYUNG
Tanjung Balai 05:10:2018
# PILSAPAH KATA #
HIDUP INI INDAH,
BILA TIADA SALAH,
TIADA MASALAH,
NAMUN MENYERAH KALAH,
SELAMANYA MENGALAH KALAH,
KARENA PERJUANGAN HIDUP BUKAN PASRAH.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 30:09:2018
# MENGIRIS KEHANCURAN #
Risauku menatap mendung,
Di tanah kering yang meronta,
Menanti nyanyian kidung bersenandung,
Tak bersemi lagi merduanya nada nada,
Indahnya alam pun kian menghilang,
Berselimutkan syair syair yang ternoda.
Andai dapat ku gapai mentari,
Kan bergema raungan dari ruang murka,
Tepiskan halilintar yang menggetarkan sanubari,
Redakan goncangan gempa yang kian menganiyaya
Di relung ruang hati yang kian hampir mati,
Oleh karena hasutan dusta yang semangkin meraja lela.
Kembalilah indahnya alam nusantara,
Nyanyikan senandung gita cinta,
Biar ku dengar merduanya canda tawa,
Bergema membelah langit kehancuran,
Dalam keharmonisan ke Kebhinekaan Tunggal Ika,
Di Persada Tanah Air Indonesia Tercinta.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 12:11:2018
n 09:11:2018
# LELAH KU SENDIRI #
Mentari pagi,
Tetes embun di dedaunan,
Sayup menyapa naluri,
Namun rentan untuk ku bertahan,
Dalam mengisi hari hari,
Yang meninggalkan ku dalam pergaulan.
Sepi ku yang temaram,
Gelap di pekat malam,
Hilang gairah tenggelam,
Terpuruk bayang kelam,
Sendiri merenung dalam diam,
Merajut benang yang kian kusam.
Aku menanti rembulan,
Mengikuti langkah kesorangan,
Demi mendapatkan rezeki yang di beri tuhan,
Dalam memenuhi pinta kehidupan,
Walau ku hilang tinggalkan keramaian,
Dan terpuruk merangkai lelah yang ku rasakan.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 09:11:2018
Kumpulan Puisi Adi Bima - BOSAN
Kambing Hitam
oleh : Adi Bima
Siapa saja yg kau anggap musuh
Akankah kau jadikan kambing hitamu
Tak kenal saudara sedarah, masih saja kau anggap musuh
Demi nafsu bejatmu, semua saudara seimanmu kau jadikan kambing hitammu.
Wahai manusia berkedok salju
Masih kah kau menebar berita palsu
Berita baik kau jadikan buruk
Dimana naluri iman mu
. . . . . . . ..... BOSAN ..... . . . . . . .
Waktu berganti hari
Minggu berganti bulan
Bulan berganti tahun.
Adakah rasa bosan hilang sesaat dalam fikiran ku
Dan Terus mengingat akan kuasa Mu
Bosan hanya milik Mu
Aq hanya bisa bersujud untuk menghilangkan sesaat rasa bosan ku.
Bosan saat pekerjaan terus menghantui
Bosan saat rutinitas datang bertubi tubi
Dan aku takan Bosan mengingat semua Ciptaan Ilahi.
Oleh Adi Bima
Judul : Sesak
Oleh : Adi Bima
Nafasku mulai tak beraturan melihat tingkahmu
Terkadang konyol, ceroboh, dungu prilakumu
Sesak terasa dirongga nafasku
Disaat dirimu ada didekat ku
Jangan kau anggap semua itu sama
Karena aku tidak sama denganmu
Jangan lagi bertingkah bodoh
Disaat akal mulai menguasai mu
Semua terasa sesak karena prilakumu
Ada saatnya kau belajar untuk itu
Agar pada waktunya semua orang
Akan memujimu.
Primadona
Oleh : Adi Bima
Dulu kamu sangat digemari
Dari yg tua sampai yg muda
Walau Batu
Kamu primadona ku
Untuk meminangmu
Sangat menguras tenaga ku
Pagi hingga larut malam dan menjelang pagi
Semua sibuk denganmu
Batu yg dulu berdebu Jadi hiasan jemari ku
Tapi kini kamu hanya teronggok lesu
Tak ada lagi yg peduli denganmu
Dan kini debu menjadi teman sejatimu
Entah apa yg dalam benak ku, sampai kau menjadi hiasan jemariku
Batu oh batu, hanya kau yg tau apa isi hatiku.
Judul : Kepala Negara
Dibuat oleh : Adi Bima
Wahai Presiden Republik Indonesia.
Bagai mana sikap seorang kepala negara.
Disaat Rakyatnya datang ke istana.
Menagih janji kepada kepala negara
Mengharap janji untuk pengangkatan pegawai negri.
Tapi janji hanya tinggal janji
Disaat itu pula seorang kepala negara sibuk dengan rutinitasnya
Akan kah janji janji yg terucap, akan berlalu pergi begitu saja.
Tak sedikit rakyat mencibirnya dan tak sedikit pula rakyat masih menyanjungnya.
Wahai kepala negara, sampai kapan
Janji janji yg terucapa akan terlaksana
Disaat rakyat masih banyak menderita
Kepala negara sibuk dengan pekerjaan nya
Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - BERTUBI-TUBI
Tak Bisa Berlari
Wahai mainkan lagu untukku
Irama gendang dan saron
Tak bisa aku berlari, gelisah merambat
Malam di kaki gunung
Tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Hanya asap tembakau
Dan kaki yang tertancap dalam
Di bumi berurai air mata
Wahai tarikan satu tarian
Dalam gelombang pasang
Impian dan harapan
liukkan tubuhmu
bergelombang perbukitan
Karena aku tak bisa berlari
Dari diamku terbalut kabut
Tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Di jejak telapak kedua kakiku sekalipun
Wahai mainkan biolamu
Di lorong keinginan menimangmu kembali
Pada deretan tangismu yang telah pergi
Malam ini tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Diantara suara nyaris hampa
Kasudpun tak lagi meninggalkan jejak
Aku hanya dalam penantian
Merentangkan waktu
Hitam dan putih
Dan menanti
Datangnya Mahsyar
Tak ada
Tak ada yang bisa kutemui
Hari ini
: aku seperti musnah dalam impianku !
Temanggung 2018
Sepagi ini, Ia datang
Seharusnya sepagi ini aku tak tersipu air matamu yang kelu
Jiwaku tersapu dalam sunyiku, waktu yang terpedaya
Wahai perempuan duka, anak bukit teluka
Katakan padaku seperti sebelumnya
Bahwa lelakimu tetap berwajah baja
Sepasang matanya,seliar gagak penakluk cakrawala
‘’Semalam tiga empat ekor burung piak mengitari atap rumah
Seperti mengabarkan tentang kematian,lelakiku tak kunjung berkabar’’
Katamu sedatar lautan tak bergelombang
-Aku dengar kotanya terhempas lautan
Tertelan bumi berderak terbelah-
‘’Tak tahu aku…tak tahu aku, degup jantungku menyesakkan dada
Rinduku menghentak sunyi malam-malamku, tangis anakku
Memanggil-manggilnya, Donggala, ia ada di Donggala’’
Tak mampu ia menyelinapkan cemasnya
Cahaya cintanya berlarian
Tak henti bertanya-tanya
Mencari cintanya yang lain
Lelakinya….kemana lelakinya ?
Wajahnya, sepagi itu mengingatkan aku
Pada perempuan muda penari Pontanu
Di Donggala yang dulu gemerlap
Masihkah ia meliukkan tubuhnya
Menenun Buya Sabe
Dalam irama Ngongi dan Ganda ?
Baru saja Dali Taroe
Polusu Unte
Ponto
Terlepas berserak dalam duka tak bertuan
Berluka
Berbalut Baju Nggembe
Tersapu deru laut berdzikir
Terkubur bumi terbelah
:hari itu kita harus percaya
Takdir mengunci jiwa
Ah sepagi ini
Perempuan setengah baya itu
Dan aku
bernapas dalam larva hitam magma Donggala
Temanggung 1 Oktober 2018
Bertubi-tubi
Bertubi-tubi
Langit dan bumi menghempaskan,jiwa yang leleh
Di negeri yang tak pernah bercermin
Pada Laut yang meluap dan bumi yang terbelah
Bukankah telah dikisahkan
pada kita negeri kaum Luth
yang dihujani batu belerang tanah terbakar ?
Armenia ! Orang Armenia penghina kaum beriman
Hanyut di bawah langit yang mendadak gelap gulita
Awan hitam bergulung-gulung diantara angin menderu
Dan petir menggelegar
Padang tandus menjelma bah melantakkan
Negeri kaum Nuh tinggal jejak tak bertuan
Dan Firaun beserta kaumnya, terkubur laut terbelah
Kita memang tak pandai bercermin
wajah terbelah pada kaca-kaca berserak
dibawah kibaran bendera penjarah negeri
--ya ghaffar, ya rahman…ya rahim…
Karena izin Mu musibah tumpah dari langit
Membelah bumi dan menumpahkan lautan ke daratan
Kami tak lagi memiliki bahtera Nuh, tongkat Musa
Dan tak punya kaki untuk meninggalkan negeri
seperti pengikut Luth-
Ah..kami mengira tak bersebab musabab
musibah berkali –kali menerkam negeri kami
karena kami buta jiwa dan hati
tak pernah membaca yang Engkau katakan
:*Dan apa saja musibah yang menimpa kamu
adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri
dan Allah memaafkan sebagian besar
dari kesalahan-kesalahanmu
Ya ghaffar…ya rahman…ya rahim
Air mata dan sedu sedan
Yang tertatih-tatih
Seperti bermiliar sajak di langit
Hanya seperti angin
Hanya sepintas melintas
Lalu terkubur
Tenggelam oleh waktu
Dan kami kembali
:bersorak-sorai
dalam pesta
dan pidato-pidato sakit jiwa
*[QS. asy-Syura (42): 30]
Dengan pisau
-Aku menghukum diriku sendiri
untuk memusnahkan segala kebencian
dan amarah –
Gemetar tangan tuaku
mengeratkan pisau
pada jiwaku yang risau
untuk menulis sajak :
-Masih ada cinta
untuk berpijak
dan berdiri
Di renta
yang tegak lurus
hanya satu hembusan nafas
merebahkan mimpi-
Tiada suara
jengkerik, belalang
atau hembusan angin
Bisu seperti
gelombang pasang
gelombang surut
bergayut
menambat maut
-Kita akan berlabuh bukan ? – katamu
:dermaga kecil kita
telah menunggu tali kita tambatkan
untuk berhenti bersauh – kataku
Gemetar dalam malam tak bersuara
Rentaku menepis jejak dalam kenangan
Aku menghukum diriku sendiri
Untuk memusnahkan amarah dan kebencian
Temanggung 2018
Di Tengah Gunung
Rona bunga-bunga kopi di tengah gunung
menyibak kangenku: Ah pagi ini aku memelukmu
pada desiran angin yang tak menentu kemana pergi
katamu setiap hembusannya menandai selalu
cinta yang berkibar dan tumbuh di ruang dan waktu
Katamu dermaga kecil kita adalah gunung
Lamunan yang jelmakan impian selalu ciptakan buih
:kita memang tak berada di laut
tapi angin terasa ombak dan gemersik dedaunan
bagai riak menghujankan embun
lalu jelmakan buih cinta dan kehidupan
yang tak henti menarikan tarian pepohonan
*****
Gunung dan angin
Bukit dan sungai seperti juga tebaran bunga-bunga kopi
Menebar aroma tanah tempat berpijak mengharumkan cakrawala
:Kita dan orang-orang gunung selalu bangkitkan senja
menepikan resah dengan kidung dan dandang gula
Rona bunga kopi, eidelwais dan bunga-bunga rumput
menggantungkan selalu harapan perempuan-perempuan gunung
pada kuyup para lelakinya yang terbakar matahari
datang dan pergi, datang dan pergi seperti angin
entah kemana
barangkali sampai seseorang datang bertanya
:bagaimana bisa kita menggenggam angin
Kemudian melemparkan pada senja bersama segumpal resah?
Temanggung 2018
Sabtu, 29 September 2018
Kumpulan Puisi Aulia Putry Manurung - JANGAN TANYA SIAPA AKU
PENGUSIK YANG TERUSIK
Jangan berisik
Kata hadir dengan tak asik
Sebab kupingmu terusik
Padahal kau yang mengusik
Diam
Pergi
Jangan kembali
Apa sifat arogansi telah melekat di diri
Berharap tenang
Tapi selalu mengenang
Akan sikap yang tak disenang
Pada insan yang pembangkang
Tanjungbalai, 24092018, 08.56
APM
JANGAN TANYA SIAPA AKU
Jangan pernah bertanya siapa diriku
Sebab aku hanya insan jalanan
Yang mengais rezeki dari kotoran
Tanpa mau berharap belas kasihan
Jangan tanya siapa diriku
Karena kau tak akan pernah bisa tahu itu
Jerit tangis pilu
Serta keringat yang kerap memacu
Jangan tanya siapa diriku
Jika hanya ingin mencemoohkanku
Apa tiada belas kasihmu
Sebab aku juga manusia sepertimu
Tanjungbalai, 24 September 2018
06.57
Aulia Putry Manurung (vayyeit)
Kumpulan Puisi Yuliza Yuna - AQUARIUM
-Diamku-
Diamku bukan bisu
Awalnya hanya ingin menghukummu.
Atas sikap tak bertanggung jawabmu.
Meski akhirnya yang terhukum itu tak hanya dirimu, tapi juga aku.
Tigapuluh tahun yang lalu kau hadir setelah ku.
Yang lahir sebulan sembilan hari terlebih dahulu.
Guratan nasib membuat kita bertemu hingga akhirnya aku melukai dirimu.
Meski luka itu adalah luka ku.
Tak pantas rasanya ku mengenang mu.
Saat benci mu masih jadi kutukan bagiku.
Namun setelah sekian tahun berlalu, aku masih mengenangmu.
Mengingat satu-satunya memori bahagia yang aku tahu di hidupmu.
Hanya beberapa bait sajak bisu.
Yang mungkin tanpak seperti bualan tong sampah bagimu.
Sebagai pengingat untukmu untukku
bahwa kita pernah saling bertemu.
Tembung.
27 agustus 2018
Yuliza yuna
-Beruntung-
Aku beruntung bertemu denganmu bu
Beruntung lahir dari rahimmu
Beruntung menjadi kesayanganmu
Beruntung pernah tinggal sembilan bulan diperutmu
Kau bawa dan kau elus selalu
Aku beruntung mengenalmu bu
Di tatapan pertama mataku adalah wajahmu
Di sentuhan pertama kulitku adalah tubuhmu
Di hisapan pertama mulutku adalah asimu
Dan di bunyi pertama suaraku adalah namamu
Aku beruntung memilikimu bu
Beruntung tumbuh besar di bawah penjagaanmu
Beruntung dapat menjadi anak kebanggaanmu
Beruntung di didik oleh perempuan kuat sepertimu
Kau adalah guru pertama dan akan jadi selamanya bagiku.
Tembung 15 Sepember 2018
Yuliza yuna
-Aquarium-
Di sini
Di dalam aquarium
Aku hanyalah seekor ikan kecil
Kecil di antara kerumunan ikan-ikan besar
Hidup dan terus berusaha membesar
Besar hingga mampu membuat tempatku terlihat jauh mengecil
Di sana di dalam aquarium
Kotak kaca akhirnya tanpak serupa penjara
Membuatku dan ikan-ikan di sana hidup penuh sesak dan sulit 'tuk bergerak
Aku ingin bebas
Aku ingin ke tempat yang luas
Dengan tubuhku aku berseru lepaskanlah aku
Segera lepaskan aku beserta teman-temanku
Pindahkan kami kedalam kolam
Aku ingin merasakan perubahan siang dan malam
Juga rintik dan derasnya hujan
Namun inginku tak berubah menjadi kenyataan
Meski aku akhirnya dipindahkan
Tapi tidak ke dalam kolam
Aku dilepaskan ke dalamnya lautan
Oleh sebab tubuhku terlanjur kebesaran bila harus tinggal di dalam kolam
Sebahagian temanku berada di kolam dan selebihnya ikut aku masuk lautan
Mereka saling menyalahkan dan akhirnya mati mengenaskan
Mereka mati ketakutan melihat ikan-ikan di lautan
Akhirnya aku hidup sendirian
Kembali menjadi ikan kecil yang berusaha membesar di lautan
Sejauh mataku memandang yang ada hanyalah kebebasan
Hidup diantara ikan-ikan yang mengarungi lautan.
Yuliza yuna
Tembung,14 September 2018
- Kisah di Sepotong Rindu-
Yah, kapan kau mengajakku ke sana?
Aku rindu suasana tenangmu
Sunyi senyap di peraduan terakhirmu.
Di antara berisiknya daun-daun randu
jatuh menutupi rumah kecilmu
Aku rindu kau pangku
Menatap secercah harapanmu terhadap masa depanku, melalui dua bening di matamu.
Meski itu hanya sebuah mimpi untukmu, mengatarku ke peraduan sebelum kantuk menyerangku 'tuk kemudian terlelap di sampingmu.
Tembung 13 september 2018
Yuliza yuna
-Getir-
Sendiri aku bisu
Menatap ke masa lalu
Aku lelah berdiri
Sendiri
Seperti ini
Dari pagi ke pagi
Padamu aku mengadu
Tentangku yang menepis angin lalu.
Tentang rasa ku
Tentang rasa bersalahku yang terus dan terus saja membelenggu
Hingga aku mati rasa
Aku kesepian
Mengharapkan kau serupa hujan
Di tengah-tengah hatiku yang kian kemarau
Namun kau tak jua datang
Memelukku mengajak pulang
Yuliza yuna
Tembung, 13 september 2018
Sabtu, 01 September 2018
Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - DUKA YANG MENCENGKERAM
Duka Yang Mencengkeram
Lagi-lagi aku tafakur sendirian
Air mata,desah sesak nafas
Pada bulanku purnama
Menebarkan ingatan
:Padangbai-Lembar
Masihkah jejakku terukir di pasir dan laut
Yang tergerus goncangan liar bumi
Dan gunung-gunung ?
Di suatu petang
Di Lembar aku betangkan tangan
Menangkap uap garam yang hilir mudik
Pada senja dan bulan purnama
Dari kejauhan , diatas laut yang mengabut
Padangbai melambai-lambai
Kawanan lumba-lumba menyibak lautan
Menyebarkan percikan air menari-nari
:menancapkan kerinduan
Untuk selalu mengenangnya
Kini aku benar-benar tertegun
Pada purnama ku yang temaram
Percikan air laut selat Lombok
Pada angin menjelma sembab air mata
dan kenanganpun terhapus
bumi yang bergoncang-goncang
dan kenanganpun terkelupas
dari wajahku
menghitam
jadi tanah
:inilah duka kita
Duka yang mencengkeram
Temanggung 2018
Tak Putus Rinduku
Terlentang aku disini
Di altar gunung gemunung
Terbentang luas cakrawala
Tapi tak kujumpa jua
Altar seluas Arafah
Ruang tanpa batas
Dalam rentangan jiwa terlentang
Di pelukan bukit-bukit batu dan pasir
Menggenggam nikmat
Rindu menyapu
Air mata mengadu
Terlentang aku disini
Tak kuasa menepis rindu
-ah suaramu
Wirid semiliar butir pasir
Membuat aku terapung
Dalam tanya dan harap
Adakah aku ?
Dimanakah segenap kelu dan keluh kesahku ?
Rindu, menangislah
Dalam kesempurnaan munajat
Pada kelahiranku dan kehadiran yang semu
Dalam rindu
Dalam rindu
Menangisi jiwa yang mendaki dosa
Hanyut
Hanyut aku
Dalam petualangan waktu
Tak henti pada persinggahan
Rindu,kenapa tak bosan
Merayapi gelisah ?
Temanggung 2018
Sajak buat Putriku
Aku bertanya-tanya, sampai dimanakah cinta kami padamu ?
Stasiun kecil dan lambaian tangan mengapai-gapai
Kami berpijak pada bumi dan harapan tersedu
Kau terbawa angin mimpimu
Sembari menunggu waktu
Secahaya rindu menebar-nebar
Di langit kami tersunyi
:kau tergenggam bumi dan langitmu
Yang hanya kami pijak dan tengadahi
Kepak sayapmu
Sepanjang waktu
Seperti dawai tergesek-gesek
Di langit menebar pelangi
Aku terus bertanya-tanya sampai dimanakah cinta kami ?
Pijaklah bahu dan kepala kami
Sampai kami mengerti kau tidak di pulau terpencil
Temanggung 2018
Pidato Politik untuk Indonesia
Negriku
Tak lagi setegar burung garuda
Mencakar gunung gemunung
Kibaran merah putih
Lunglai diselangkangan para koruptor
Terinjak kaki para biadab negeri
Yang memecah-mecah anak negeri
Dengan pidato-pidato sakit jiwanya
Dengan tulisan-tulisan sampahnya
yang makin menghamili keangkaraan
Dan akupun marah
:Dengan kubusungkan dada
Kuteriakkan kata
‘’ Diamlah dan berhenti bicara
Atau seribu badik laknat bakal menusuk-nusuk dada kalian ?
Diamlah dan dengarkan
Sabda langit yang mulai lelehkan matahari
Dan ingin melumat rahang dan mulut kalian ‘’
Inilah negeriku
Indonesia tumpah darahku
Yang makin terjajah dalam kegelapan
Yang menyesatkan pada kebohongan-kebohongan
yang kalian bilang sebagai kebenaran
Dan karena kebebalan
tak lagi merasa getaran sebuah kutukan
: Kalian berhentilah bersenggama dengan bumi ini
kalau hanya ingin melahirkan
bayi-bayi biadab dan laknat seperti kalian
Temanggung 2018
Sajak
1
Nafas tak terpisah dari waktu, seorang perempuan bercerita:
tentang sajak lelaki terbuang
tentu aku tak tahu karena akulah sajak itu
seperti ketidaktahuanku tentang kapan sajak disusupkan
pada angin dan hujan, pada malam dan sepi atau pada kemarau yang dingin
Seperti daun berserak, sajak terbuang di selokan lalu hanyut dimusim berikutnya, tapi aku masih saja menuliskannya dan memungut setiap katanya, merangkai dan melemparkan keluasan cakrawala sunyi
Kadang berderak seperti patahnya reranting terhempas angin
2
Sajak adalah cinta
Bergemuruh, sunyi
Menyatukan rindu dan cemas
Cinta adalah sajak
Huruf-hurufnya darah dan luka
Senggama dan menjelmakan serpihan
Rasa
Jiwa
:Kehidupan sungguh memikat
Kehidupan sungguh mendebarkan
Hanya karena cinta
Membuatnya kita tak bersedih
-Seperti ketika kita memandangi
Bunga-bunga bermekaran
Pada kemarau yang dingin
Menikmati angin sabana kering
Yang tak pernah tidur
Dan ilalang yang terus bernyanyi-
Aku selalu bilang pada sajakku
: jangan bersedih wahai
bukankah musim kering
tak selalu membawa bencana?
Temanggung 2018
Di Senja Kita
Di senja kita
Bersama mulai habisnya waktu
Kita menimbangnya dalam kenangan gemilang
Masa remaja yang telah binasa
Dan masa depan kita
Yang hampir terlunaskan
Senja, dan padang rumput yang terbakar
Dipuncak gunung sana, membuat aku sering ketakutan
“Kau menyeret senandung rindumu
Dalam sepi, atau aku menggantungkan sunyi
Di langit yang bertebaran bintang
Tanpa kau, atau kau tanpa aku’’
Aku menghiburmu hanya dengan sajak
Tak berani aku menantang usia kita
Yang makin reot dan kusud
Tapi kita adalah jiwa, tak terpatahkan
Kenangan yang mestinya telah terbuang
Bolehlah kita tengok:
Disana tertata rapi episode demi episode
Kehidupan yang tertatih-tatih
Lalu menandai kebangkitan kita
Untuk tetap bertahan dalam amuk samodra
Dan angin gunung semerbak bunga
Berganti-ganti musim menghempaskannya
Setiap senja
Tak terasa , senyum kita adalah langit makin temaram
-ah tapi matahari masih bersinar terang
Dan dengan nafas kerentaan hidup kita
Kita masih ada, melautkan kehormatan kita sebagai manusia
Karena kita adalah senandung langit
Dalam ketegaran
Yang tak terkalahkan-
Temanggung 2018
Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - TUNGGU AKU DENGAN CINTAMU
# TUNGGU AKU DENGAN CINTAMU #
Rindang pepohonan,
Meneduhi perjalanan,
Aku melangkah perlahan,
Menelusuri bayang kenangan,
Mengecap kerinduan,
Yang tak hilang di ingatan.
Belaian sang bayu,
Hanyut kan ilusi,
Hasrat ku merayu,
Menyapa sebuah ilusi,
Menyeka seiring rasa ragu,
Yang menghantui di sanubari.
Ahh,,,
Biarlah ku cumbu kata setia,
Mungkin inilah cinta,
Relakan cemburu meraja,
Relakan jiwa tersiksa,
Demi untuk dapat hidup bersama,
selamanya dalam ikatan rumah tangga.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 26:08:2018
# JANGAN PECAH BELAH KERUKUNAN INDONESIA #
Kemarahanmu bagaikan auman seekor singa,
Singa yang telah lama bertapa,
Singa yang hidup dalam goa padang sabana,
Ternyata kau merintih dalam kancah dosa,
Umpama singa lapar dan haus di tengah padang sahara,
Hindari burung nazar yang siap memangsa.
Teriakanmu bagaikan lowongan sekelompok srigala,
Di tengah malam bulan purnama,
Seakan memberi kabar ancaman datangnya bahaya,
Ternyata itu hanya gonggongan di tengah kota,
Di antara sampah sisa sisa manusia,
Untuk dapat tidur nyenyak walau sehari saja.
Dapatkah kau memahami arti perjuangan,
Berjuang bekorbankan harta dan nyawa,
Demi sebuah arti ke kemerdekaan,
Demi kekuatan Pancasila dan Indonesia Tercinta,
Demi cita cita anak cucu untuk dapat meraih impian,
Di dalam satu negara yang aman makmur dan sejahtera.
Pikirkan jika para pejuang itu masih ada dan bicara,
Banggakah mereka dengan apa yang kamu bisa.
Demi anak cucumu juga Merah Putih dan Pancasila.
Demi adat budaya dan kerukunan ummat beragama.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 04:09:2018
# TERIMA KASIH ( DELIMA ) #
Hanya sebentar,
Terdengar hingar bingar,
Dari kabar yang tersiar,
Walau mungkin hanya sebentar.
Aku bersimpuh bangga,
Mereka merasa gembira,
Dan mereka bersuka ria,
Mendengar kabar bintang ibu kota.
Jadilah terbaik buat kami,
Aku abang mu,
Sahabat saudara mu itu kami,
Familie's kato kota kerang mu.
Kuatkan tekat,
Sekeras besi,
Bakar semangat,
Sepanas api,
Tapi ingat dan terus ingat,
Akan berkah karunia Illahi.
Buat Delima masih berbangga masih,
Sekapur sirih,
Seharum kembang selasih,
Kami ucapkanTerima kasih.
HORAS,,, KONCO KAMI.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 23:092018
# RINAI HUJAN MALAM #
Rinai hujan,
Basahi sunyi sepi,
Aku kehilangan rembulan,
Rembulan yang menerangi hati,
Menerangi kehampaan,
Yang menemani kesendirian ku ini.
Aku kian terpuruk di kegelapan,
Entah kemana sirnanya air mata,
Ratap ku hilang di irama curah hujan,
Tatapan ku terperangkap terpana,
Terperosok di angan angan,
Yang tak mungkin lagi menjadi nyata.
Namun biarlah rindu menyelimuti,
Memeluk hampa di malam sunyi sepi,
Tampa rembulan yang menerangi hati,
Bersama hujan yang terus membasahi,
Basahi setiap tetes air mata ku ini,
Hinga hari nanti datang menjemput mentari.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 17:09:2018
Minggu, 05 Agustus 2018
Kumpulan Puisi Tasya Aliza Putri - SEDIHKU
♧■■ SEDIHKU ■■♧
☆■■ KARYA :Tasya Aliza Putri ■■☆
Rapuh jari menusuk jiwa telaga malam
Air hujan membasahi jembatan berdaun
Dingin raga ini namun itulah pilu hati
Sendiri aku duduk disini embun pun menciumku
Langit malam turunkan rintik -rintik embun
Agar basah rinduku tujuh sinar berbalik kering
Rumput hijau tak berwarna lagi salahkah diri ini
Kunjungan lembah jalan bertiup angin debu
Rambut yang hitam bergumpal basah
Sepertinya ya ikut menangis atas diriku
Sepi mencekam tak ada pengobat luka
Seraut wajah manis molek indah menawan
Cantik angun bergaun bunga unggu
Kasih jemputlah aku dalam penamu
Tak kusangka hatinya berubah padaku
Purnama tiba namun gelap hati
Perih itu masih membekas diujung sedihku
Debu bertangga hitam luapan penugu syair
Dan bertaya pada jiwa masihkah dia sayang padaku
Kering sudah air mata menahan pilu dan derita
Peluk batin rintik hujan berembun putih
Gadisku patah sayapnya namun masih
Tetap bertahan untuk tegar berbalik sedihku
Percut 4_Agustus_2018
#gadisembun
GAUN AIR BERSELIMUT PILU
Detak ombak melambai pilu dermaga laut
Awan hitam menangis berubah putih
Bintang bersembuyi seperti berteduh
Panorama langit di malam ini sungguh perih
Bisik bibir laut bermandi pasir
Tubuhku lemas berselimut pasir laut
Basah tiada bergaun ombak laut biru
Jatungku berhenti sejenak mataku
Tertutup lembah pasir butiran laut
Lemas sekujur tubuh tak ada daya
Terhimpit kepiluan tangisan jari
Kembar laut tuangkan sejuta resah
Sukma ning tirta naluri berkunjung ke atas langit
Kasih aku tugu jemputmu melambai
Tirai telaga lembah ombak berawan
Wangi berbalut sehelai pasir terdampar
Muara tiada kembali sungguh kejam hatimu kasih
■■KARYA: TASYA ALIZA PUTRI ■■
Percut 2_Agustus _2018
#gadisembun
#untukmu_penjaga_hatik
Kumpulan Puisi Layla Dct - PILIH
PILIH
kita bahkan masih bisa memilih
Menjaga semua tulisan
Yang kan mewangi diatas pusara
Bila tiba masanya
Maut menjemput dalam dekap hangatnya
Lepaskan fana
Yang silaukan mata
Ini seperti pahit
Yang kan berbuah manis
Meski penebusnya adalah jarak
Kekang pada ambisi jurang
Seluma 5 Agustus 2018
RUMAH API
harus seperti itu?
Terbakar dalam rumah apimu??
Sedang aku bukan hujan
Dan tak jua padamu.
Seluma, 4 Agustus 2018
RINDU
Setepat engkau mengatakannya
Kau hapus semua jejakmu
Tanpa sisa
Selain kenang
Seperti naskah yang telah di jilid
Mungkin rasa membawamu
Tersesat di pulau angan
Tanpa harap kan berlayar pulang
Tempat kembali
Serupa semai yang akan tumbuh
Mengilhami tunas-tunas yang membawa rona ke senja
Dan senja ke baka
Karya : Layla Dct
Seluma, 27 Juli 2018
Jumat, 03 Agustus 2018
Kumpulan Puisi Nimas - SENANDUNG
Permintaan
(Nimas Sayu Dara)
Bias mentari mengusap wajahku perlahan
Membangunkan lelap dalam dingin embun semalam
Ingatanku terjaga tiba-tiba
Padamu Tuan, belahan jiwa
Butir embun menganak sungai
Sederas pilu ketika engkau tak lagi di sisiku
Sederas rindu yang tak mampu lagi aku pendam
Hingga nyeri tak sanggup aku sembunyikan
Wahai waktu ....
Kembalikan kekasihku
Ijinkan kami kembali bertemu
Untuk meretaskan simpul ragu yang membelenggu
Wahai jarak ....
Jangan selama ini meminjam dia dan membuat kami berjauhan
Sebab rasa rinduku kini bagai bumerang
Datang dan menyerang tanpa diundang
Lampung, 31 Juli 2018
#SayuDara
Senandung
(Nimas Sayu Dara)
Aku masih kidung yang senantiasa lantunkan tembang rindu, untukmu
Dengarlah senandungnya pada kedalaman hatimu
Bukankah masih tetap setia nada-nadanya menggema dalam cinta?
Aku masih serumpun ilalang, yang senantiasa bertahan dalam gersangnya semesta
Yang tak pernah letih memancang asa
Meski acapkali harus terkulai kering sebab embun yang tak juga turun
Aku masih telaga tempatmu melepas dahaga
Saat langkahmu payah penuh lelah dan luka
Senantiasa kujaga damaimu di sini
Meski setelahnya engkau berlalu pergi, tak lagi kembali
Akulah bait duka yang selalu kau lupa
Ketika pena kau tuang untuk menulis sajak romansa
Aku ....
Senandung yang masih setia mengalun
Meskipun pesta telah lama usai
Lampung, 30 Juli 2018
#SayuDara
Pejuang
(Nimas Sayu Dara)
Tetes keringat mengalir bersama genangan darah
Membasahi bumi pertiwi tercinta
Jerit tangis anak istri berkumandang
Pilu meneriakkan namamu
Beribu peluru dan mesiu
Menjamah seluruh nusantara
Darah menggenang di mana-mana
Demi membela negara tercinta, Indonesia
Merdeka!
Merdeka!
Tak perduli hidup atau mati!
Terus maju, pantang mundur
Demi Sang saka Merah Putih
Merdeka!
Telah 73 tahun kini kemerdekaan kami nikmati
Berkat perjuanganmu wahai pahlawan
Takkan hilang dalam ingatan
Atas pengorbanan jiwa dan raga, hidup dan matimu
Merdeka!
Seluruh penjuru berseru
Untukmu Indonesiaku!
Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara
Embun Juli
(Nimas Sayu Dara)
Ketika beningnya luruh
Ia begitu malu
Hanya mengintai lewat dahan dan ranting kering
Menyembunyikan kilaunya pada kelopak-kelopak kembang
Embun Juli
Mendendam rindunya pada rerumputan
Hingga dingin menggigilkan pagi
Membeku dalam sunyi
Embun Juli
Ilalang patah hati
Gemerisiknya kering kini
Rindunya urung terobati
Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara
Hingga Akhir Waktu
(Nimas Sayu Dara)
Lemah ragaku bersandar pada bahumu
Menahan ribuan sakit dan nyeri yang tak terperi
Jangan beranjak pergi ....
Aku mohon, tetaplah di sini
Memelukku dengan lantunan doa-doa suci
Tetaplah di sini menemani
Aku ingin melihat cantiknya mentari pagi, sampai senja berpendar di cakrawala
Bersamamu, kekasih
Hingga nanti, ketika satu-satu detak jantung dan denyut nadi berhenti
Aku .... Tetap ingin lelap dalam hangat pelukanmu
Lampung, 05 Agustus 2018
#SayuDara
Fajar Masih Saja Embun
(Nimas Sayu Dara)
Apa kabarmu fajar?
Beberapa purnama berlalu hambar
Segenap rasa hening tersandar
Melewati tiap inci pagi yang beranjak lamban
Apa kabarmu fajar?
Dalam gigil embun kemarau engkau berpijar
Berselimut kabut yang menebal
Apa kau lupa cara menebar hangat dan pendar
Hingga pagi begitu larut dalam dingin yang tak beraturan
Apa kabarmu fajar?
Yang kini tersesat pada pekat halimun dan rinai embun
Masihkah menitipkan kehangatan pada jingga senja?
Lampung, 12 Agustus 2018
#SayuDara
#Kemarau_Agustus_makin_berkabut
Share_pict_from Dara Utami
Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - MIMPIKU
Gigil Bunga-Bunga Rumput
Gigil bunga-bunga rumput pada pagi terbit
Di sela-sela bebatuan gunung
Menyisakan risik risau semalam
:Kupu-kupu terbang bergerombol
Menandai cahaya merekah
Kepaknya tak sesunyi
Hati yang tengah merindu
Bunga-bunga rumput , sepadang sabana bukit
Hembusan nafasnya,dalam kehangatan bergerak
Mendaki perbukitan sebagai jalan yang dipilih
Dan akupun terbang dengan sayap-sayap kertas
Bergerak….bergerak….terdampar
Ke puncak sunyi yang menganga
Temanggung 2018
Mimpiku
buat Gendukku
(akhirnya Kau ke Istana Negara)
Banyak sudah harapan terbuang
Impian berganti menjelang
Sunyiku belum juga mampu mengeja kata
Mimpiku kau bawa terbang jadi mimpimu
Menutup lukaku yang menganga
Kau terbang melayang diatas karpet merah
Dengan berjuta cahaya
Berkilat menebarkan sajak bersahut
Membawa jiwaku dalam keindahan melaut
:kenanglah aku wahai anakku
Dalam sayup dawai
Torehkan cintaku wahai anakku
Dalam alunan nada
Yang terbilang
Dalam makna yang menebar
Rindu mengajari kita tentang cinta yang sebenarnya
Perjuangan, pengorbanan dan kesungguhan
Rindu mengajari kita tentang ketabahan dan ketangguhan
Dan rindu memberikan sunyi
Dan sunyi meretas jalan kita
Menuju puncak tertinggi
Menyaksikan lautan menari-nari
Temanggung 1918
Aku Selalu Menunggu
(kepada anak-anak yang selalu datang)
Sedari pagi daun-daun berguguran
Mata anak-anak tersiksa, mengejar mimpi-mimpinya
: aku tak beranjak menepikan ketakberdayaan
Sedari pagi mereka selalu saja menyelipkan sajak
Pada angin yang tak pernah tidur
Mengejar bayang mimpi dalam usia terhenyak
:hidup seperti pisau menikam nikam
-Akupun berkata pada retakan kaca
:Simpanlah aku di dalamnya
Kalaupun pecah biar berkeping
Dan terkubur dalam kesakitan
Sedari pagi selalu datang kata
Dalam lafal hembusan angin lelah
Mereka Selalu datang
Bertubi-tubi
Sampai matahari bersembunyi dibalik gigir gunung
-Esok akan datang lagikah
Kata cemas dalam air mata tersembunyi ?
Aku selalu menunggu
Alif, ba’ kehidupan itu
Aku akan selalu termangu
Sedari pagi, sampai segala bunyi berakhir
Temanggung 2018.
Cinta dalam Sunyi
-Isteriku-
1.
Sepetak kenangan, cinta menggenang
Sejak semula kita menikam dada kita dengan setumpuk kerinduan
Dan Cinta yang tak pernah tidur
:Aku menatapmu setiap menjelang tidur
Dan kau melepas malam dengan sebuah ciuman
Kadang malamku seperti berkaca-kaca
Dalam pelukan
Terasa sunyi, dalam gigil yang seperti menghibur kita
‘’tak boleh musim merenggut mekarnya bunga dan rimbunnya dedaunan’’
Katamu
2.
Kau seperti mendengar mantra langit membias purnama
Seperti 35 tahun yang terbang
-Kita bersandar pada sebatang cemara, ketika musim gigil
merambati perbukitan, dengan lembut angin merapatkan pelukan
tak ada sepatah kata menyibak kabut yang tak pernah surut
menyelimuti pohon-pohon cemara dan puncak gunung-
Aku mendengar nafas mu berkata-kata diam
Karena resah angin menanti pergantian musim
-Cakarwala yang jauh, menanti kita selalu
Menanti kita selalu. Kita berdua, abai dalam waktu
: Jangan…jangan menjauh !-
Kekasihku, tinggallah dalam mantra
Cinta kita yang meratap dan merindu
Di seluas bimasakti
Seperti ketika Padang Arafah memeluk kita
ucapkan lafal-lafal penyempurna cinta
kita tak bisa menerka
hanya padang luas terbuka
Temanggung 2018
Terkenang Laut Merah
(1)
Sering terasa melepuh
Jiwa bersayap rapuh
Terbang tanpa henti
-Disini
Disini aku selalu mengenangmu
Dalam sepi
Waktu yang melaju-
Seperti Qois menanti Laila
Bicara pada air serta menghanyutkan dedaunan liar
Mengalirkan cintanya
Kerinduannyapun menyapa burung dan angin
-sampaikan cintaku pada Laila- katanya
Hari memang terasa gigil selalu
Musim dingin memaksa burung-burung tinggal disarang
Risaunya bukan karena terpisah jauh
Tapi karena berpelukan selalu
Takut angin berkhianat berubah jadi badai
Bertiup mendebarkan
Senja, merah matahari menyisir bukit-bukit datar
Sebelum tenggelam seperti bola api
Yang mengubah hutan jadi kuning kemerahan
-Laut merah !
Seperti senja di tepi laut merah
Matahari menyala pelan menyatukan diri
Dengan cakrawala batas laut
Seperti cinta kita
Berpelukan hangat
Disana
Di tepi laut merah-
Temanggung 2018
Kamis, 02 Agustus 2018
Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - BUKAN MENJADI PENDUSTA
# BUKAN MENJADI PENDUSTA #
Lihat di sana,
Tiada lagi bunga bunga,
Derita yang begitu menganiyaya,
Tapi itu sudah biasa,
Seumpama air mata,
Kering di tangisan tak bernyawa,
Ya,, palestina.
Di sini,
Terlihat langkah kecil berlari,
Menempuh imajinasi,
Mengejar mimpi mimpi,
Dan terpuruk dalam ambisi,
Setelah menghakimi diri sendiri.
Aku Cinta Indonesia,
Kerukunan berBhineka Tunggal Ika,
Kini telah menjadi ajang huru hara,
Mengotori tetesan darah mereka,
Mereka yang rela berkorban harta dan nyawa,
Demi kemerdekaan anak cucunya dan Pancasila,
Tapi mengapa kita harus lupa?.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 27:07:2018
# KEBAHAGIAN KU #
Bagai mana lagi,
Ku kan terus arungi,
Lelah meronta tak mau pergi,
Hari ini esok dan hari nanti,
Aku arung perjalanan takdir ini,
Yang hadir seperti mimpi mimpi,
Walau tiada jawaban yang harus ku nanti.
Aku melangkah terbelai lika liku,
Melangkah terbuai sang bayu,
Terhenti diantara debu debu,
Terserap keringat di baju,
riang menerjang sepasang sepatu,
Kala itu langit hampir kelabu.
Aku mencari kebahagian,
Kebahagiaan yang ku impikan,
Diantara kerlip lampu jalanan,
Diantara redup rindang pepohonan,
Di situ aku terus berjalan,
Bersama cerianya kebebasan.
By : LUmbang KAyung
Asahan 27:07:2018
# TEGURAN MU BANGUNKAN LELAP KU #
Tak dapat ku kabar kan,
Tentang pelangi,
Tentang rembulan,
Tentang mimpi mimpi,
Tentang perjalanan,
Yang ingin ajak aku untuk dapat berlari.
Teguran mu bangunkan tidur ku,
Ku buka helai daun jendela,
Aku terbelai hembusan Sang Bayu,
Gemersik nada alunan rimbunan Bambu,
Panggil ku kembali beraksara,
Tentang alam dia dan kamu sahabat ku.
Inilah goresan malam ku,
Sambut hangat rembulan dan mentari,
Arungi luasnya lautan biru,
Bangunkan ku dari sepi ku sendiri,
Itu karena kamu sahabat ku,
Sahabat yang panggilkan seberkas cahaya Asa.
Lumbang KAyung
Tanjung Balai asahan 06:08:201
# TERPERANGKAP ANGAN ANGAN #
Aku masih di sini,
Ku hempaskan mimpi mimpi,
Ku meniti pelangi,
Kan ku kejar panasnya mentari,
Untuk ku jadikan cahaya abadi,
Dalam syair nada cinta suci.
Tiada arti luasnya samudra,
Badai topan bukan rintangan,
Dengarkan gemuruh halilintar menyala,
Irama nyanyian ku membawa sebuah impian,
Dan berkumandang hingar bingar tawa bahagia,
Dalam dekap hangatnya pelukan.
Di sini cinta dan kekuatan,
Kokoh menghadapi rintangan,
Di sini kasih sayang selembut cahaya rembulan,
Menebarkan harum bunga bunga di taman,
Yang tak lekang di usik zaman,
Hingga terkubur di pusara kehormatan.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 06:08:2018
# AKU YANG KEHILANGAN ASA #
Seumpama pena,
Kau goreskan kata kata,
Seumpama gema,
Kau dendangkan nada irama,
Menggoda jiwa dan raga,
Merayu merasuk kedalam sukma.
Aku si air sungai mengalir kemuara,
Hanyut terbawa arus dilema,
Terbelai lembut hembusan angin asmara,
Lalu terasa asin di kala coba meminumnya,
Dan tak dapat untuk melepas haus dahaga,
Yang akan larut menuju lautan samudra.
Tiada guna berceloteh duka dan lara,
Dalam meretas dilema sandiwara cinta,
Terasa kan hampa linangan air mata,
Dalam merenungi kekecewaan yang sempurna,
Di jiwa yang kini menelan perih pahitnya derita,
Yang menyelimuti langkah hilangnya sebuah asa.
LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 14:08:2018
Kumpulan Puisi Bang Toyyib Sibarani - UNTUK CALON LEGISLATIFKU
" UNTUK CALON LEGISLATIFKU "
Untuk apa aku berjualan janji-janji.
Jika aku sekali hadir dan seterusnya tak nampak lagi.
Untuk apa ku hadirkan materi jika selembar saja yang kuberi tak cukup dalam sehari.
Pemilihku tidak butuh calon yang pandai berpuisi seperti aku. Dan
Tidak juga yang memiliki banyak istri dan bamyak materi.
Rakyat memilihku untuk memperjuangkan isi perutku lalu kemudian memperjuangkan pemilihku dan golongan atau partaiku.
Tak peduli seberapa bagus partaiku
Yang ku tunggu cair anggaran tanpa celah untuk masuk kepundi-pundiku.
Rakyatku butuh yang mengerti akan perbaikan. Butuh pembaharu dan pelayanan tanpa harus bertaruh.
Tak sedikit yang pemilihku yang tahu.
Bahwa aku seorang legislatif yang terpilih dan duduk diatas bangkai saudara sendiri.
Budaya Salah Menyalahkan
Wahai para ulama yang lupa dengan umatnya…!
Nasehat dan ilmumu merupakan cahaya
Yang menerangi dan membuat tenang orang yang berada dalam kegelapan
Tapi kenapa moral dan nilai yang kamu bawa itu sekarang lari tunggang langgang
Menjauh…dan menjauh, sehingga figure itu telah tiada.
Wahai para penguasa yang serakah…!
Kamu menjadi tulang punggung rakyat jelata
Kok malah enak-enakan ngumpulkan harta
Tidakkah kamu ingat,
Akan pikulan amanat yang amat berat .
Wahai para penegak hukum yang lembek…!
Tegakkanlah hukum di negara kita kuat-kuat
Genggamlah keputusan yang adil dan bijaksana
Jangan malah ikut-ikutan nimbrung dengan para penjahat
Dan menyalahgunakan amanat.
Wahai para ekonom dan pengusaha yang ber”ego” ria..!
Kenapa kamu tidak menguatkan rupiah kita…?
Kenapa kamu tidak membuka lapangan kerja…?
Sedangkan kamu melihat banyak anak negri kita yang pengangguran
Walaupun mereka telah menyelesaikan strata sarjana.
Wahai para pemuda-pemudi yang malas-malasan…!
Campur tanganmu dalam memajukan bangsa diperlukan
Otakmu…, tenagamu…, pikiranmu…masih segar
Tapi kenapa kamu terbuai dengan rayuan narkoba
Yang akhirnya menghancurkan “nilaimu” di masa depan.
Wahai para Ulama.., wahai para penguasa…, wahai para penegak hukum…, wahai para ekonom dan pengusaha…, wahai para pemuda-pemudi dan seluruh bangsa Indonesia…
Akankah kita saling menyalahkan orang lain selamanya
Sehingga kita mudah dipecah belah oleh para penjajah…?
Atau karena memang didikan kecil kita yang menyalahkan kodok kalo kita terjatuh?
Atau perasaan gensi yang lebih kuat sehingga kita tidak mau menyalahkan diri sendiri?
Malulah…., tahu dirilah…, introspeksi dirilah…
Singkaplah tabir budaya menyalahkan orang lain…!
Dan perbaikilah dari diri kita masing-masing
Sambunglah sendi-sendi yang telah tercerai berai…
Agar menjadi satu kesatuan yang kuat untuk bersama memperbaiki bangsa kita
Ya Rabbun ghafuurr….
Engkau Maha Mengetahui segalanya…
Kesalahan kita, kebobrokan kita, kelemahan kita dan kerusakan kita…
Maka berikanlah ampun Mu ya Rabb…
Dan berikanlah kepada kami ulama yang baik dan perbaikilah ulama kami.
Berikanlah kepada kami penguasa yang baik dan perbaikilah penguasa kami.
Berikanlah kepada kami penegak hukum yang baik dan perbaikilah penegak hukum kami.
Berikanlah kepada kami ekonom dan pengusaha yang baik dan perbaikilah ekonom dan pengusaha kami..
Berikanlah kepada kami pemuda-pemudi yang baik dan perbaikilah pemuda-pemudi kami.
Berikanlah kepada kami bangsa yang baik dan perbaikilah bangsa kami… Aamiin
#Pesan_Puisi_Bang_Toyyib_Sibarani
#selamatberaktiviras
"ORANG KECIL ORANG BESAR"
Di suatu malam yang sunyi
Di dalam rumahku yang gerah
Beberapa anakku yang lugu
Sedang kuberi wejangan yang lugu-lugu
Akuberkata:
“wahai Anak-anakku,
Kamu sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kamu nanti menjadi orang kecil!”
“Orang kecil itu, kecil peranannya
Kecil perolehannya,”
“Ya,” itulah dia
“Orang kecil sangat kecil bagiannya.
Anak yang paling kecil masih mendingan.....
Rengeknya didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan karena.....
Suaranya tak suara.”
Lalu Sang ibu juga ikut wanti-wanti...
“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ...... dia ditipu
Jika ia menipu ....... dikejar
Jika ia bekerja....... digangguin
Jika ia mengganggu..... dia dikerjain.”
“Ingatlah, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas ...... dia diperas
Jika ia diam ..... dia ditikam
Jika ia protes ....... dia dikentes
Jika ia usil ........dia dibedil.”
“Orang kecil jika ia hidup dipersoalkan
Jika dia mati tak dipersoalkan.”
“Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya pasti selalu besar.”
“Orang besar jujur maupun tak jujur tetap makmur....
Benar-tak benar tetap dibenarkan
Zhalim-tak zhalim tetap dibiarkan.”
“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”
“Orang kecil jujur..... dibilang tolol
Orang besar tolol....... dibilang jujur
Orang kecil berani ......dikata kurangajar
Orang besar kurangajar....... dikatakan berani.”
“Orang kecil mempertahankan haknya.....
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak orang kecil....
disebut pendekar.”
Kemudian anakku terus diam tak berkata-kata
Namun dalam diri mereka selalu bertanya-tanya:
“Anak Kecil bisa menjadi Besar
Tapi mungkinkah Orang Kecil
Menjadi Orang Besar ?”
“O r a n g k e c i l ? ? ?
O r a n g b e s a r ! ! ! ”
#Pesan_puisi_bang_toyyib_Sibarani
#buat_Tan_Ahmad
" Ohh....Wahai Pemimpinku "
Aku Merindukanmu, Ohh... Wahai Pemimpinku
Sepanjang kurun waktu kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa dan para Petinggi Politikus
Terus mempermainkan kelemahan
Tanpa kusadari Airmataku pun mengalir mengikuti panjang kurun waktu
Mencari-cari tangan dan lemah lembut gaya serta wibawamu.
Dari data-data tipis dan Terus kudengar suara sembrautan.
Ku dengar Derita mengiris terus berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kututup dan Berharap sesekali mendengarkannya.
Saat Merdu kau menghibur suaramu dengan janji-janji.
Aku merindukanmu, wahai pemimpinku.
Ribuan tangan gurita keserakahan menggerogoti keuangan negeri ini
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa dan memakan korban
Mengeruk bumi meretas berjuta harapan
Aku pun tak berdaya dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu, menjerit hingga kurangkai dalam sebuah puisi.
Ohh wahai Pemimpinku, Ohh wahai calon Presidenku
Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Ingin rasanya ku meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, Wahai Calon Presidenku
Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu serta pendukungmu
Ohh...wahai calon Pemimpinku selamat dan salam hangat dari rakyatmu kusampaikan kepadamu.
Rakyatmu ingin bertanya bagaimana melawan gelombang kebodohan, kemiskinan dan sulitnya lapangan pekerjaan serta rasa kecongkaan yang telah tergayakan.
Bagaimana mengatasinya, seperti asing ditanah negeri sendiri wahai Pemimpinku.
#Puisi_pesan_bang_toyiib_sibarani
#untuk_calon_presiden_RI_2019
Langganan:
Postingan (Atom)












