RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 20 Mei 2021

Cerpen - TULANG RUSUK PEREMPUAN TAK PERNAH BERTUKAR Karya : Siamir Marulafau


 

   DI sebuah institusi pendidikan Swasta, ada seorang teman Joni yang sangat akrab dengan aku di kala melanjutkan studiku di salah satu lembaga pendidikan di kota Medan. Nampaknya, teman Joni itu sangat ambisi dalam studi sehingga dia mendapat predikat yang sangat bagus dalam studinya.

Pada suatu hari,aku bertanya pada Nasrul,"Berapa lama kamu tinggal di kota ini?"

Nasrul menjawab,"Saya sudah lama tinggal di sini sekitar lebih kurang 5 tahun lamanya, dan aku tinggal di rumah nenek, dan sudah tiada lagi, meninggal setahun yang silam."

"Oh,begitu.Jadi, orang tuamu masih hidup?"

"Kedua orang tuaku masih hidup,Bapaku bekerja di sebuah instansi sedangkan Ibuku bekerja sebagai ibu rumah tangga. Aku punya dua orang saudara yang sedang kuliah di salah satu perguruan Swasta bernama Rizky Endang Sugiarti dan yang paling bungsu namanya Edi, sedang studi di SMU Negeri 2 Medan".

Memang keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Aku katakan pada Nasrul, "Berarti kedua orang tuamu berhasil membina kalian semua. Kita lihat pada masa sekarang agaknya banyak orang tua gagal dalam membina rumah tangga,dan aku pun selalu bertanya-tanya, mengapa demikian?"

Nasrul yang sedang memegang pulpen menulis puisi berkata,"Ada-ada saja pertanyaan kamu ini, Azmir, berhasilnya orang tua atau tidaknya dalam membina rumah tangga kan tergantung pada pribadi orang tua.Kalau memang orang tuanya tahu tuanya dan berpendidikan mendidik anak, iya jelas donk orang tua itu akan berhasil membina keluarganya, iya toh?"

"Betul sekali Nasrul, apa yang kamu katakan tepat dan aku pun berpikir demikian karena keberhasilan orang tua itu tergantung pada bagaimana mereka mengayomi dan mengarahkan anak-anak mereka ke jalan yang benar, karena apabila salah semua akan tertumpah pada mereka,iakan?"

Menjelang bulan Ramadhan, semua institusi diliburkan dan temanku, Nasrul juga hendak mau balik ke kampung halamannya yang agak jauh dari kota Medan. Selama berada di kampung Nasrul sangat taat beribadah dan semua orang kampung itu sangat senang kepadanya,dan apalagi Nasrul seorang Qori Nasional terbaik di tingkat Universitas di Indonesia. Iya jelas banyak perempuan yang senang kepadanya.

Sekitar pertengahan bulan Ramadan, aku menelpon Nasrul dan bertanya padanya,"Rul, kapan bailik ke Medan?"

Dia menjawab, "Aku ke Medan setelah lebaran bersama adiku Endang karena Endang mau melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Inggris UISU Medan, dan kemungkinan semester depan adiku ini sudah tamat dan diwisuda akhir tahun ini."

"Oh, begitu, Rul. Aku pikir kamu cepat balik ke Medan karena pada akhir bulan Ramdhan ini, ada acara haflah Al Quran diadakan di Mesjid Agung Medan, dan aku telah mendaftarkan kamu untuk ikut peserta pada kegiatan itu, tidak apa-apa kan,Rul?"

Mendengar cakapku ini, Nasrul juga senang dan mengatakan padaku, "iya...daftarkan sajalah, aku akan segera ke Medan, tak usah khawatir, demi teman"

Tepat tanggal 28 Juli 2013,Nasrul datang ke Medan bersama adik kandungnya dan segera menjumpaiku di tempat kosku yang lama tak begitu jauh dari kampusku. Dan alangkah terkejutnya aku di saat Nasrul mengetuk pintu kamarku datang bersama Endang dan seorang perempuan yang cantik, rupanya teman baik Endang. Erni salah seorang perempuan yang baik budi dan hatinya lembut selembut salju disamping ramah pada setiap orang. Sehingga banyak kaum lelaki yang menggaitnya tapi dia tak mau karena dia sangat senang pada abangnya si Endang. Pikirku, Nasrul punya adik perempuan lagi selain Endang tapi penglihatanku salah. Mereka sudah menjalin hubungan asmara sejak duduk di bangku SMU beberapa tahun yang silam. Nasrul juga sangat mencintainya, di mana mereka macam pinang dibelah dua dan tak bisa dipisahkan. Aku berkata dalam hatiku,"Mengapa ga kayak gini pacarku?" Aku murung sejenak karena mengingat nasib dunia sudah menjadi bubur dan sukar menjadi nasi kembali.

Tapi menjelang enam bulan kemudian, aku mendapat kabar baik dari keluarga Nasrul bahwa keluarga Erni sangat setuju bila pernikahan mereka di laksanakan pada bulan Desember tahun depan dan mereka pun tak lupa mengundangku untuk datang ke sana. Aku pun tak menolaknya karena dia juga sahabatku yang baik. Di saat pernikahan mereka aku juga bilang pada Nasrul bahwa kamu harus benar-benar serius berumah tangga sambil kuliah di S2 karena perempuan pada masa sekarang ini sangat berbeda karakternya dengan perempuan pada masa dahulu, iya kalau tak percaya omonganku ini, boleh bertanya pada orang tua.

Nampaknya, Nasrul juga tertarik dengan cakapku dan berkata padaku,"Betul kah itu? Apakah memang semua perempuan punya karakter seperti itu?"

Aku jawab,"Apa yang kukatakan benar,Rul. Karena kalau sudah menikah, istri itu sudah menjadi sebahagian tulang rusuk kita dan sukar untuk dipertukarkan. Jodoh itu adalah semuanya ditangan Illahi dan Allahlah yang menentukan siapa yang pantas jadi istri kita.Makanya pernikahan itu harus benar-benar dan tak boleh tak bertanggungjawab. Hematku, Nasrul...tidak perlu bimbang karena perempuan yang akan kau persunting itu berasal dari keluarga yang baik-baik, iya bukan? Mereka sangat ternama di kampung itu, kan? Ini semua aku dengar pada tetanggamu di waktu aku berkujung ke tempat kalian setahun yang lalu, masih ingat atau tidak?"

Nasrul sangat terkesima mendengar cakapku dan langsung menyalamiku,"Aku sangat salut dengan kamu, Azmir. Kamu adalah teman baikku, dan memang apa yang kamu katakan padaku semua benar dan juga hal seperti ini sangat terpikir olehku. Soalnya, aku harus menikahi Erni karena dia seorang anak yang baik di keluarganya dan pantas menjadi istriku, iakan?"

Itukan tergantung pada yang punya badan, kataku pada Nasrul, "Ingat, Rul perempuan itu berbeda-beda tingkah dan kelakuannya tapi yang paling penting adalah karakternya,bukan soal cantiknya. Memang calon istri kamu sangat cantik, cantiknya macam bintang film Boliwood, India. Aku pun salut melihat kamu, kok sampai bisa dapat kamu secantik itu, ya Rul? Apakah kamu punya ilmu pelet Apalagi Erni itu berasal dari keluarga yang kaya tapi kaya hati pada semua orang. Mengapa aku tahu ini semua, Rul? Aku kan seorang yang suka meneliti kasus,dan apalagi kamu temanku dan tak suka bila kamu menikah dengan perempuan yang tak beres. Maksudnya statusnya tak beres dan keluarganya juga keluarga yang tak terpandang di masyarakat. Itulah yang paling penting,Rul, status keluarga. Karena ingat apa yag selalu dibilang orang, kalau pohonnya bagus, maka buahnya juga akan bagus, iaya kan Rul? Betul atau tidak?"

Nampaknya, Nasrul juga sebagai teman tak bosan mendengar ocehanku walaupun kusampaikan dengan nada yang agak nyaring memekakan kuping tapi Nasrul senang menerimanya dan dia juga sangat berterimakasih atas saranku sebelum dia masuk di ambang pintu pernikahan tahun depan.

"Terimakasih, makasih ,,,,Azmir. Memang kamu teman baikku."

"Aku sudah tahu sifatmu, dan tak akan membiarkan seorang teman hanyut ke hamparan lautan yang tak berpilar.Maksudnya kamu tak suka bila teman hancur hanya disebabkan perempuan karena perkawinan itu seharus sekali saja dan itulah yang paling baik,aku pikir Azmir, iakan? Istri itu kan tulang rusuk kita yang hilang dan sebadan dengan kita, dan tidak bisa dipertukarkan."

Menjelang pertengahan bulan Desember tahun berikutnya, aku pun datang ke pesta perkawinan temanku, Nasrul di mana pergelaran adat istiadat Minang sangat menarik perhatianku karena sebelum mempelai laki-laki memasuki rumah perempuan yang dipersunting terlebih dahulu disambut dengan adat istiadat berupa tari piring yang sangat mengharukan hati. Aku pun sangat tertegun melihat situasi demikian, betapa indahnya tarian-tarian yang disuguhkan pada masa itu. Apalagi keluarga perempuan ini sangat terhormat dan terpandang di kampung itu sehingga pesta perkawinan temanku itu berlangsung dua hari dua malam dan aku betul-betul sangat senang melihat temanku, Nasrul bahagia. Bukan itu saja membuat hatiku senang sebagai teman Nasrul tapi sifat dan karakter keluarga mempelai perempuan sangat sopan dan ramah, menghargai pendapat orang lain dan sebagai buktinya, Endang Sugiarti juga berperan dalam membaca puisinya dengan penuh khidmah membuat bulu kudu semua orang naik ke langit yang ketujuh begitu indahnya bacaan puisi bermakna pada tema perkawinan ditulisnya beberapa bulan sebelum pernikahan Abangnya berlangsung. Aku juga salut melihat Endang pada masa itu, karena dia seorang penyair kenamaan di kota Medan.

Mendengar kataku itu, Nasrul jadi terharu pada apa yang aku katakan, dan kukatakan padanya bahwa aku bukan memuji sebenarnya tapi kenyataan. "Untuk apa kita bilang seperti itu kalau sesuatu yang kita katakan itu tak benar, iakan ,Rul?"

"Betul sekali, Azmir. Terimaksih atas atensi Saudara"

"Iya, apa yang kutakan benar, aku kan tak bercakap yang tidak-tidak, kenyataan,donk."

"Memang betul itu, Azmir,,,,,,,teringatnya? Kapan Azmir menamatkan studinya?"

"Aku kan tak kuliah lagi Nasrul"

"Mengapa? Kan lebih baik kalau kamu melanjutkan ke S3?"

"Aku pikir sudah, Rul sampai S2 saja karena usiaku termakan senja dan lagipula aku sangat sibuk mengajar setiap harinya dan tak punya waktu untuk itu, iakan?"

"Oh, begitu, itu kan tergantung pada kamu sih, Azmir. Tapi hematku kamu lebih baik kuliah S3 karena sangat penting untuk kemajuan pembelajaran di Universitas, iakan?"

"Betul! Betul! sekali. Sepakat tapi aku tak punya waktu lagi dan apalagi biayanya sangat mahal. Kalau memang ada program riset untuk S3 di Malaysia, iya aku akan ikut program itu tapi memang ada tapi biayanya sekarang, Rul."

"Biar kamu tahu Azmir,setelah calon istriku tamat di S2 jurusan linguistik di Universitas Kebangsaan Malaysia, aku akan menyarankan dia supaya melanjutkannya ke S3 dan begitu juga adikku Endang Sugiarti supaya dia harus menyambung kuliahnya ke S2 jurusan sastra Inggris di India. Aku yakin Endang dapat menyelesaikan studinya dalam waktu yang singkat karena dia seorang anak yang pintar dan pandai berbahasa Inggris dan apalagi seorang penyair, iyakan?"

"Aku setuju pendapatmu Nasrul karena Endang itu kan mantan mahasiswiku di Fakultas Sastra UISU beberapa tahun yang lalu dan dia juga pintar dan sangat gigih berjuang demi kesuksesan dalam pendidikan, iya toh? Nampaknya, sudah menunjukkan pukul 12.00 wib, seharusnya kita berhenti dulu karena kebetulan hari ini hari Jum'at dan aku sholat Jumat ke Mesjid Taqwa, apakah tak ikut kamu,Rul?

"Iya, jelas donk, mari kita sama-sama ke mesjid dan sholat bersama, ayuk!"

End


Cerpen :
TULANG RUSUK PEREMPUAN TAK PERNAH BERTUKAR
Oleh : Siamir Marulafau
sm/04042014

Cerpen - CERITA CINTA MAYA Karya : Ros Maya




   "BIASANYA aku lelap tidur
terbangun untuk fikirkan diri mu
mengenang mu yang kini telah jauh
biasanya aku tenang tidur
terbuai ku mengingat diri mu
mencinta mu
namun kau telah jauh
ku cuba lupakan diri mu
mengingat mu
hancurkan hati ku
dahulu seia sekata
namun kini semua telah berlalu
sayang ku ingatkan diri mu..."

Sudah berulang kali Azie memutarkan lagu itu. Setiap kali ia berkumandang, Azie akan ikut menyanyikannya dalam nada yang rendah. Dia cukup suka dengan lagu itu. Niat di hatinya kalau ada pertandingan lagu-lagu karaoke, dia akan bawa lagu itu untuk pertandingkan. Harapan Azie lagu itu akan membawa tuah kepadanya.

Azie menyanyi lagi. " ...bahawa ku tak bisa hidup tanpa mu.. " Namun dia terasa cukup sedih apabila sampai ke bahagian itu. Tanpa sedar kolam matanya digenangi air jernih. Dia terkenangkan seseorang yang cukup menyentuh raga rindunya. Tapi belum sempat air jernih itu mengalir ke pipi, Azie sudah mengesatnya dengan hujung jarinya. Dia tidak mahu anak perempuannya yang tidur sebilik dengan dia sejak lahir itu, akan melihat kesedihannya, kerna sejak akhir-akhir ini, semakin meningkat usia anaknya remaja, terlalu banyak soalan pelik-pelik yang dia tanya, yang kadang-kadang sukar dijawab oleh Azie.

Azie menoleh pada anaknya yang sedang baring di sebelahnya. Kelihatan Mata anaknya mula tertutup. Telinganya ada terpasang 'handfree'.

"Agaknya dia sedang menghafal lirik lagu Janji Manis Mu, kerna pada hujung minggu nanti dia ada pertandingan karaoke peringkat akhir." Begitu sangkahan Azie di dalam hatinya.

Azie tidak ingin menganggu anaknya. Dia cuba melenakan matanya, tapi fikirannya melayang jauh.

" Zie..Abang merasa sangat bersyukur kerna telah dapat bertemu dengan mu, walau telah melalui banyak rintangan. Abang telah dapat juga menatap wajah yang selalu marah-marah sayang ini." Nampak sangat kegembiraan di wajah Azri di saat menuturkan kata-katanya.

" Ya bang, Zie pun rasa terharu sangat di saat tiba-tiba melihat abang terpacak di pintu bengkel Zie mengajar tadi. Rasa macam Zie bermimpi. Itu yang Zie seperti terpingah-pingah tadi itu, sampai tak terjawab salam abang. Maafkan Zie ya." Azie tertunduk malu apabila bola mata Azri mula menatap seluruh wajahnya. Melalui sorot pandangan Mata Azri, Azie dapat merasakan ada segunung rindu yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Sesungguhnya jauh di sudut hati Azie juga mengakui, bahawa dia sangat merindui lelaki ini. Namun dari pergaduhan terakhir yang mereka lalui, membuat Azie berfikir, tidak mungkin lagi Azri akan menemuinya.

Lamunan Azie terhenti apabila dia terasa ada sesuatu yang mengenggam tangannya dan mula meramas jari jemarinya. Jiwanya menjadi lebih bergetar, apabila tiba-tiba genggaman tangan Azri membawa tangannya ke mulut, lalu menyentuhnya dengan satu ciuman yang cukup lembut. Dia terasa ingin merebahkan kepalanya ke dada yang bidang itu, untuk bermanja-manja semahunya. Namun kesedarannya sebagai wanita muslim, Azie beristigafar di dalam hati dan berdoa memohon diberi perlindungan dari Allah, agar dijauhkan dari perbuatan yang diharamkan olehNya.

Perlahan Azie menarik tangannya dari genggaman Azri. Dia keluar dari kereta Savvy merah itu, untuk menghirup udara malam Pantai Teluk Likas. Azie bersandar di dinding keretanya. Dia membawa matanya menatap keindahan lampu-lampu kapal nelayan di tengah lautan. Tapi tidak lama dia berdiri di situ, Azie terasa pinggangnya pula di paut mesra.

"Ya Allah..., sentuhan lelaki ini seperti ais di pergunungan kinabalu, yang menggetarkan bukan cuma jiwa ku, tapi tubuh ku juga. Adakah ini kerna sentuhan pertama, selepas tiga belas tahun suami aku meninggalkan aku?" Azie mengelabah sendiri dalam cuba menenangkan perasaanya.

"Kenapa sayang, sejuk ya? Agaknya udara laut ini membuat mu jadi sejuk." Azri seperti dapat merasakan getaran pada tubuh Azie.

"Ma! Mama!...Kenapa mengeletar ini? Mama kesejukankah?"

Suara anak Azie seperti menyedarkan dirinya. Azie membuka matanya yang bukan tidur. Dia merasa sangat malu pada anaknya. Rupanya dia telah berangan-angankan satu kesah yang tidak nyata.

Azie menatap wajah anaknya. Sambil tersenyum dia berkata, "Tidurlah anak mama. Esok sekolah. Mama mahu awal pergi kerja. Tidak mahu dapat hati Dan merah lagi." Azie cuba mengalihkan perhatian anaknya dari keadaan dirinya tadi.

Anaknya yang sudah duduk tadi itu tiba-tiba mencium pipi ibunya sambil mengucapkan, "Asalamualaikum ma dan selamat malam."

"Walaikumsalam sayang. Jangan lupa baca Al-Fatihah dan Ayat Kursi sebelum tidur itu." Kelihatan anggukan kecil dari anaknya, sebelum merebahkan kembali kepalanya ke bantal di sisi ibunya.

Azie mengiringkan tubuhnya ke kanan, ke dinding yang kosong dalam bilik itu. Azie merasa dia cukup sukar melelapkan mata sejak akhir-akhir ini. Ada perkara yang merungsingkan fikirannya. Kesah hubungan cintanya dengan Azri seperti tergantung tidak bertali.

Sebelum ini Azie meminta hubungan mereka diputuskan. Ini disebabkan dia merasa cukup kecewa dengan sikap Azri yang telah membuang dia dari menjadi rakan muka buku, sedangkan di tempat itulah mereka ditemukan. Bagi Azie apabila Azri sudah sanggup membuangnya seperti itu, bermakna cinta Azri kepadanya sudah tiada. Jadi buat apa lagi mereka berhubung.

Tapi berbeza dengan Azri. Dia membuang kononnya untuk mencari ketenangan, tapi bukan bermakna dia sudah tidak mencintai Azie. Tapi Azie tetap berdegil mahu memutuskan hubungan, kerna tanpa mereka bukan menjadi rakan muka buku lagi, tiada makna lagi perhubungan itu. Sehingga Azri merayu untuk menerimanya kembali, dengan cara menambah Azie menjadi rakan muka bukunya kembali, baru Azie menarik kembali kata putusnya.

Namun baru beberapa hari pertengkaran itu berakhir, datang lagi pertengkaran yang baru.Kali ini lebih teruk dari yang lepas-lepas. Azral telah datang dengan cereta fitnahnya. Dikhabarkannya pada Azri, konon Azie bercinta dengannya sudah 6 tahun. Azie merasa pelik, bagaimana Azral boleh mengatakan begitu, sedangkan selama ini Azie sentiasa cuba mencari jalan menghindar dari berhubung dengan Azral.

Konon lagi fitnah Azral, dia selalu telefon Azie. Kalau Azral tak telefon, Azie akan marah. Pada hal hakikatnya Azral yang selalu marah-marah bila setiap kali dia telefon, selalu tidak diangkat, atau budak-budak yang sambut mempermainkannya.

Paling teruk fitnahnya, Azie konon layan ramai lelaki dan memberi mereka harapan. Sampai ada katanya yang hubung dia memberitahu ada hubungan dengannya, tapi dia biarkan saja, kerna kononya Azie buat begitu sekadar main-main untuk mengisi masa terluang. Azie betul-betul rasa tercabar kemarahannya dengan fitnah Azral yang ini. Pada hal cereta ini diterbalikkannya.Dia yang berkelakuan begitu, tapi dikatakannya Azie.

Azie masih ingat lagi di saat hampir setahun Azie cuba mempelajari sikap Azral. Waktu itu Azie cuba belajar menyanginya apabila Azral merayu cinta kepadanya. Tapi apa yang dia dapat, Azral selalu memburu cinta wanita-wanita yang cantik dalam muka buku. Apabila ditegur oleh Azie, jawapannya cuma main-main. Bukan sayang betul-betul pada mereka. Sekadar mengisi masa lapang saja. Alasan Azral itu tidak dapat terima oleh Azie. Sehingga pada suatu ketika, Azie tidak mampu lagi bertahan dengan tingkah lakunya, apabila Azral sanggup membela rakan muka buka yang selalu bersenda-senda dengannya itu, pada hal rakannya itu sudah cukup menghina Azie. Malah Azie lagi yang dimarah dengan kata-kata yang cukup kesat. Sampai sekarang kata-kata itu tidak pernah luput dari ingatannya.

"Ini cuma mayalah. Hubungan kita pun cuma maya. Kita belum ada ikatan spa-apa. Awak tidak perlu cemburulah. Saya tidak suka dikongkong. Belum ada apa-apa ikatan pun. Kalau mahu pergi, pergilah!"


Cukup pedih hati Azie menerima ungkapan Azral itu. Bermula dari saat itu Azie berikrar di dalam hati hanya menganggap Azral kawan biasa saja. Bermula dari waktu itu juga, Azie tidak ambil kesah lagi hal Azral. Walaupun kadang-kadang ada juga Azral menelefon dia, tapi dia biarkan berdering begitu saja atau dia suruh anak buahnya yang jawab. Namun kadang-kadang ada juga masa dia mengangkat panggilan, di saat dia terlupa memandang panggilan dari siapa. Tapi bila sudah mendengar suara Azral, Azie akan mencari alasan untuk menyingkatkan perbualan.

Sudah jauh Azie hanyut oleh arus ingatannya. Tiba-tiba telefon berdering memecah keheningan malam. Apabila melihat nama Azral yang terpapar memanggil, dia segera mengangkatnya. Tapi Azie tidak bercakap. Dia bangun dari pembaringannya menuju ke pintu. Dia mahu ke ruang dapur untuk bercakap dengan Azmal. Dia tak mahu anaknya mendengar maki hamunnya. Dia ingin memarahi Azmal di atas perbuatannya yang memfitnah dirinya pada Azri.

"Asalamualaikum!" Belum sempat Azie mendengar salamnya dijawab, dia sudah mengajukan soalan dan kata-kata yang agak kesar kepada Azral.

" Siapa nama lelaki-lelaki yang ramai kau kata aku layan dalam muka buku itu? Mana meseg lelaki yang kau kata mengaku ada hubungan dengan aku yang ramai itu?"

Kedengaran Azral menjawab, "Entah mana sudah. Aku tak ingat nama-namanya."

"Kau memang pembohong. Kau sengaja mereka-reka cereta itu pada Azri supaya dia membenci aku. Mustahil kau boleh lupa semua nama itu, mesti ada salah satu yang boleh kau ingat. Ini sudah membuktikan yang kau berbohong. Jangan kau bersumpah-sumpah, nanti kau dimakan sumpah mu. Semua yang kau kata itu bukan sifat ku. Nampak sangat bohong mu. Sayangnya Azri mudah sangat mempercayai cereta dan sumpah mu."

Azie meluahkan perasaan geramnya pada Azral. Azie tidak menunggu lagi Azral menjawab kata-katanya, dia terus menekan punat 'off '.

Azie melihat ada meseg yang belum dibaca. Bila dia membacanya, maka terpaparlah ayat ini, "Dah banyak kali abg cl, tapi sayang tak angkat. Nanti abg akan hubungi sayang lagi."

Rasanya nak muntah Azie membaca meseg itu. Agaknya meseg yang dihantar oleh Azral tadi sebelum dia bercakap dengan Azral. Azie terfikir nak tukar nombor telefon agar tiada lagi gangguan dari Azral.

Azie kembali ke pembaringannya. Dia teringat waktu perkenalannya dengan Azri. Masa dia menjauhkan diri dari Azral, Azri muncul dalam hidupnya. Walaupun Azie sudah fobia dengan cinta maya, tapi entah kenapa dengan Azri, apa yang telah meruntun hatinya untuk menerima kasih sayangnya. Walau mereka selalu bergaduh di sepanjang usia perhubungan setahun lebih itu, namun ia seperti pengikat kasih sayang mereka. Dia pernah menyatakan akan membuat pasport perjalanan ke malaysia untuk menemui Azie dan dia sudah memperlihatkan kesiapan pasport itu. Pada waktu itu hati Azie berbunga bahagia. Tapi kini semuanya seperti tinggal kenangan. Fitnah dari Azmal seperti tertanam di hatinya. Walaupun sudah dijelaskan semuanya oleh Azie, tentang niat Azmal yang sengaja mahu menghancurkan hubungan mereka, tapi sehingga kini Azri membisukan diri dari sebarang kata darinya. Apa yang mampu dilakukan oleh Azie hanya berserah kepada takdir. Dia sudah redoh pada segala kejadian yang dilaluinya.

Dalam keasyikan Azie melayan perasaannya, tiba tiba matanya terpandang pada tudung yang tergantung di dinding biliknya. Tudung itu pemberian dari Azri Azie bangun mendakapnya erat. Tiba-tiba airmatanya menitis. Kali ini dia sudah membiarkannya mengalir. Hatinya cukup tersentuh. Dia ingin menyimpan tudung itu sebagai kenangan terindah di dalam hidupnya.

Dalam sendu yang menyeksakan, kadang kadang Azie bertanya pada dirinya, "Perlulah cinta maya ini berakhir? "

Namun jawab hati halusnya, "Biarlah waktu yang memutuskan."

T A M A T


Cerpen –
CERITA CINTA MAYA
Penulis : Ros Maya




Cerpen - PELAJARAN BERHARGA UNTUK PUTRA Karya : Pandu Eva


 

   SUDAH sering kali ibu melihat Putra, anaknya, rebutan mainan. Kalau sudah main bersama teman-teman, salah satu di antara mereka pasti ada saja yang menangis. Seperti hari ini, Dio teman main Putra, tiba-tiba pulang sambil menangis. Padahal sebelumnya Putralah yang mengajak Dio main ke rumah.

"Putra, kenapa Dio?" tanya ibu dengan lembut.

"Dio mau pinjam motor-motoran, Bu. Tapi ga aku kasih. Ini kan masih baru," ujar Putra polos, sambil memperlihatkan mainan barunya.

"Oh, terus kenapa kamu ga kasih mainan lainnya? Mobil-mobilan misalnya atau puzle itu," tanya ibu lagi, menunjuk beberapa mainan yang masih berserakan di lantai.

"Semua maenan Putra kan masih baru, Bu. Nanti kalo dipinjemin rusak dong," seru Putra dengan wajah cemberut.

"Loh, kalo semua maenan masih baru, terus Dio maen apa dong?"

Putra terdiam. Bahunya turun naik, tanda ia tak tahu. Sementara ibu hanya menggeleng melihat Putra begitu.

***

   Keesokan harinya, saat libur sekolah. Putra tampak asyik bermain bersama motor-motoran dan mainan baru lainnya, di rumah. Dua jam berlalu, ibu melihat Putra mulai bosan bermain. Lalu ia menghampiri Putra.

"Bosan ya? Maen di luar sana sama Dio dan teman-teman. Atau ajak Dio maen ke sini," seru ibu.

Putra tampak senang mendengar saran dari ibu. Lalu ia segera pergi ke rumah Dio dan teman-teman. Sepuluh menit kemudian, Putra kembali ke rumah seorang diri. Tak ada satu orang pun teman bersamanya. Putra tampak murung, bahkan hampir menangis.

Melihat Putra bersedih, ibu segera menghampiri sambil memegang buku cerita bergambar yang baru saja dibeli lewat jalur online.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya ibu, tangan kanannya sibuk membelai lembut rambut Putra.

"Dio dan teman-teman ga mau maen sama aku, Bu. Kata mereka aku pelit." Putra menangis sesegukan, bercerita kepada ibu.

Ibu hanya tersenyum, lalu membuka lembaran buku cerita yang ada di tangannya. Tangisan Putra terhenti melihat buku yang dipegang ibu. Gambar dan warnanya terlihat sangat bagus. Putra kelihatan tertarik.

"Wah, bukunya bagus banget. Ibu baru beli ya? Aku pinjem dong!"

Tangan Putra berusaha meraih buku cerita itu, tapi ibu segera menutup buku dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.

"Ibu, aku pinjam!" Berkali-kali Putra merengek meminta buku cerita dari ibunya, tapi tetap tak dikasih.

"Jangan, Sayang. Ini masih baru. Nanti kalo kamu pinjam, ibu takut robek bukunya," ujar ibu dengan mimik wajah meledek.

Mendengar perkataan ibu. Akhirnya Putra menangis. Melihatnya menangis, ibu tak tega, lalu menarik napas, menyuruh Putra duduk.

"Kamu tau kenapa Dio dan teman-teman ga mau maen sama kamu?" tanya ibu lembut.

Putra hanya mengangguk, menjawab pertanyaan ibu.

"Lalu gimana perasaan kamu waktu ibu ga kasih pinjam buku ini?" Ibu mengangkat buku cerita di hadapan Putra.

"Sedih, Bu," jawab Putra tertunduk.

"Nah, begitu juga perasaan teman-teman kamu, waktu kamu ga kasih pinjam maenan. Apalagi Dio sampai nangis. Pasti sedih banget itu," ujar ibu, berharap Putra yang telah berusia tujuh tahun akan mengerti maksudnya.

Seketika itu juga Putra paham maksud ibunya. Putra segera meminta maaf kepada ibu, berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Lalu ia mulai mengelap air mata dan ingus yang dari tadi keluar masuk karena menangis.

_End_


#CeritaAnak
PELAJARAN BERHARGA UNTUK PUTRA
Oleh : Pandu Eva.
Jakarta, 19 November 2019.



Cermin : GEGARE DERIAN – Tok Dalang


 

   MALAM jum'at jam dua suboh Dolah baru balek ke rumah. Dolah abes ngumpol dengan konco-konconye di pasar seruni ngentak buah durian. Sesampainye di rumah, Leha, bininye yang paling disayang udah bedengkor.

"Assalamualaikum" Dolah ngasi salam, tangannye mengetok pintu.

"O. Leha, Leha. Abang dah balek, bukakanlah pintu sayang" sambong Dolah mujok si Leha.

Dari dalam rumah tedengar suare langkah kaki Leha nuju pintu.

"Waalaikum salam" saot si Leha.

Krek. Pintu rumah pun dibuka si Leha.

"Dari mane bang! Jam segini baru balek?" Tanya si Leha nciom tangan Dolah.

"Rencane tadi tuh yasinan sebentar yak, balek dari yasinan singgah lok ngopi di warong Mak Timah. Abes ngopi langsung balek. Ee.Jumpe pulak same si Leman kawan abang dari Sepok Laot, Die ngajak makan derian di pasar seruni" kate Dolah pulak.

" Pantaslah tangan abang bau derian. Abang nih, makan derian bah tak ngajak." Kate Leha masamkan muke.

"Macam mane pulak na ngajak sayang. Ndak ke abang nih diajak si Leman" Dolah mulai bekelet.

"Bawakan ke adek ni sebutik. Baunye yak yang dibawanye balek" Leha mulai merajok.

"Janganlah merajok sayang, sukor maseh ade baunye, dari pade tadak same sekali hehe" Dolah mujok Leha. "Yok! Kite tidok, abang ngantok." Mereke pon masok kamar.

Dalam kamar. Dolah kepingen pulak na indehoi. Mungkin pengaroh makan derian. Pas pulak malam ini Leha makai baju tidok yang tipis nampak celane dalamnye.

"Sayang! Abang pengen" Dolah mulai merayu.

"Ee! Ngantok bang. Laen kali lah." Kate leha menolak.

Dolah tak putos asa " Ayolah sayang" katenye pulak.

"Ndak e abang nih! Makse pulak" jawab Leha mbalekkan badan mbelakangek Dolah.

"Ayok lah sayang! Abang pengan bah" Dolah maseh bekuat.

"Tunggu bentar!" Kate Leha.

Leha masokkan tangan ke celane dalamnye. Abes tuh tangannye disekapkannye ke idong Dolah. "Iniha!" Katenye pulak.

"Ape maksud sayang nih! Baunye disempalkan ke idong abang" Tanya Dolah naek spaning.

"Ciomlah baunye! Sukor maseh adek ciomkan baunye, dari pade tadak same sekali."

*****END*****
Cermin (Cerita Mini)
GEGARE DERIAN
Karya : Tok Dalang
#tempuyak










Cerpen : SENYUMMU BAHAGIA KAMI - Nengicha



   SENJA hampir tenggelam dalam kelam. Jingga mega hiasi cakrawala sebentar lagi akan sirna, ditelan gelapnya malam. Cukup lama aku menunggu mas Yoga, dan akhirnya sampai juga dia di tempat yang dia janjikan, di taman kompleks yang tidak jauh dari rumah.

"Kok terlambat sih, katanya jam 6 petang?" tanyaku.

"Iya, ada sesuatu di rumah, yuk langsung" dia pun menjawab sembari menggandeng tanganku menuju motornya.

Kita langsung melaju ke tempat biasa kita nongkrong, di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari komplek perumahan tempatku tinggal.

"Dinda makan apa?" Tanyanya.

"Nasi goreng aja sama teh hangat" jawabku.

Selama perjalanan tadi perutku terasa mual, sepertinya masuk angin.

"Dinda" adalah panggilan mas Yoga ke aku.

Malam itu kita makan sambari melepas rindu, dengan bercanda tawa dan ngobrol apa saja yang ada. Sungguh, hati teramat merindukan saat-saat seperti itu.

Cukup lama kita tidak jalan bareng. Maklum, hubungan kita agak rumit. Belum ada restu dari Ayahku. Ayahku adalah orang tuaku satu-satunya, karena Ibu meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit. Dan saat ini pun Ayahku sedang sakit. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya lama-lama. Ayahku tidak suka sama mas Yoga, dan aku sendiri tidak tahu alasannya.

Meski udara malam terlalu dingin terasa. Namun betapa bahagianya saat itu kurasa. Kerinduan yang lama tak tersampaikan, kini tercurah sudah, cukup dalam seduhan canda tawa riang bersama dengan satu rindu. Bersama dia sang pujaan hatiku. Tawa lepas semburat bersahutan.

Hampir tiga jam, namun waktu tak terasa telah melaju dengan cepatnya.

"Risty!" dari kejauhan terdengar suara Nina memanggil aku.

Aku melambai untuk mengajaknya bergabung di meja kita.

"Hi, berdua saja?" tanya Nina.

"Iya, seperti yang kamu lihat" jawabku.

Nina adalah karibku. Dia tempat aku mencurah segala rasa dalam jiwa.

Tangis dan tawa sering aku curah kepadanya.

"Nina mau makan apa?" tanya mas Yoga.

"Gak usah aku udah makan, minum aja jus apel"

"Bentar tak pesenin dulu" sahut mas Yoga.

"Ris, apa kabar kamu dan Yoga?" tanya Nina.

"Kalau hubungan kita, baik baik aja. Tapi Ayahku yang masih... Begitu lah" jawabku.

"Kamu udah coba deketin, kenapa sebab Ayah kamu gk bisa nerima?" tanya Nina lagi.

"Belum sih, mungkin besok aku akan usaha"

"Iya, kamu sendiri yang harus bisa yakinin Ayah kamu" ungkap Nina.

"Jus apelnya Nin" mas Yoga datang dengan segelas jus apel di tangannya.

"Lho, kamu tunguin?"

"Kenapa gak dianter pelayan aja? Tanya Nina sama mas Yoga.

"Iya, gak apa-apa, biar cepet aja, cafenya lagi rame soalnya" jawab mas Yoga.

Setelah beberapa saat kita ngobrol bertiga, akhirnya mas Yoga ngajak kita pulang.

"Pulang yuk, ntar Dinda dicari Ayah lho" ungkap mas Yoga padaku.

"Iya deh, pulang yuk Nin !"

"Hayuk, aku juga tadi mau pulang, tapi ngeliat kalian di sini jadi pingin mampir" jawab Nina.

Kita bergegas pulang, Nina pulang dengan motornya sendiri. Dan aku tetap bersama mas Yoga. Seperti biasa, aku dianter hanya sampai gang komplek perumahan. Karena kita gak mau ada masalah yang berlanjut karena Ayah melihat kita bersama.

**

   Betapa cerah pagi itu. Hangat mentari mampu hangatkan ragaku yang sedang pilu saat itu. Seperti biasa Ayah berjemur di belakang rumah. Menghangatkan badannya, sambil menikmati secangkir teh panas yang belum lagi aku buatkan. Dahulu Ayah suka kopi, tapi semenjak lambungnya bermasalah, Ayah menjauhi minuman hitam tersebut.

"Ayah, teh panas dan semangkuk bubur dah sampai" sapaku dengan senyum ceria.

"Buburnya nanti saja, tehnya saja bawa sini" sambung Ayah.

"Buburnya sekarang juga Yah, biar Risty suapin"

"Baiklah, kamu gak ada kuliah?" tanya Ayah.

"Enggak Yah, maka dari itu jadwal Risty seharian ini hanya menemani Ayah" sembari kulepas senyum untuk ayah. Dan Ayah pun tersenyum membalasku.

Setelah semangkuk bubur dan secangkir teh panas ternikmati, aku memulai percakapan.

"Yah, Risty boleh tanya?"

"Tanya apa? Sepertinya serius?" Balas Ayah.

"Eeemm, tentang mas Yoga, kenapa Ayah tidak suka sama mas Yoga? Alasannya apa Yah?" tanyaku.

"Emang Ayah pernah bilang gak suka sama Yoga?" Sambung tanya Ayah.

"Terus kenapa Ayah nolak lamaran dia? Bahkan melarang aku deket sama dia? Sahutku.

"Risty, kamu adalah anak semata wayang Ayah, Ayah ingin kamu bahagia, Ayah ingin kamu hidup berkecukupan, dan lebih baik lagi dari sekarang" ungkap Ayah.

"Maksud Ayah?" tanyaku.

"Tempo hari pak Bowo sempet melamar kamu untuk anaknya yang jadi pengusaha di Riau, tapi belum Ayah terima, dan sekarang Ayah berniat mau menerima lamaran itu" jawab Ayah.

"Ayah!, tidakkah Ayah sayang sama Risty?" tanyaku.

"Justru Ayah sayang Risty, Ayah ingin Risty hidup berkecukupan" sahut Ayah.

"Terus Ayah gak mikirin perasaan Risty?" sambungku.

"Masalah perasaan, dijalani dulu, pasti perasaan itu akan muncul dengan sendirinya" jawab Ayah.

"Ayah!" sahutku dengan nada agak tinggi, dan air mata yang tak kuasa lagi aku bendung.

Aku pergi meninggalkan Ayah dengan mengemas alat-alat makan Ayah menuju dapur. Dengan derai air mata yang tidak tertahan, aku masuk kamarku.

Pagi cerahku kini meredup. Dengan tirai sendu yang teramat kalut. Hati teramat gundah, pun pikiran yang teramat buncah. Air mata yang tiada deras lagi, namun masih saja berjatuhan dengan sendiri. Setelah beberapa jam aku ada di dalam kamar. Mungkin Ayah telah selesai berjemur.

"Risty ...!" terdengar suara Ayah dari luar.

Aku bergegas keluar sembari bersihkan air mataku. Dan aku jumpai Ayah duduk di kursi meja makan, tepat di depan kamarku.

"Iya Ayah"

Ayah memegang tanganku saat aku telah dekat dengannya.

"Kamu menangis?, kenapa kamu menangis?" Tanya Ayah.

"Nggak apa-apa Ayah" jawabku.

"Kalau kamu gak suka, kamu bilang, dan Ayah akan menolak lamaran pak Bowo, bukan apa-apa yang Ayah inginkan, cuma kebahagiaanmu saja. Seorang anak Ayah semata wayang, yang amat Ayah sayang" ungkap Ayah yang tidak sanggup aku mendengarnya. Tidak kuasa air mata kembali bercucur, aku memeluk Ayah dengan sangat erat. Seorang Ayahku yang amat aku cintai, yang bertubuh lemah karena telah sakit-sakitan.

"Risty sangat sayang Ayah, dan Risty gak akan nolak apapun perintah Ayah, apa pun akan Risty lakukan untuk membahagiakan Ayah" ungkapku dengan derai air mata yang tak tertahan.

"Dan Ayah cuma ingin melihatmu bahagia, bukan yang lain" jawab Ayah.

"Yah sudah, nanti malam suruh Yoga temui Ayah" ungkap Ayah sambil melepasku yang sedang dalam pelukannya.

Air mata ini masih terus saja mengalir, rasa haru, rasa bahagia, dan rasa sayang pada Ayah teramat hebat, yang membuat air mata ini tidak bisa aku hentikan.

**

   Senja itu memancarkan jingganya dengan penuh keindahan. Mewarnai wajah langit dengan penuh keceriaan. Tiada dapat terlukis sebuah kebahagiaan yang sedang Tuhan anugerahkan kepadaku. Sore itu aku telpon mas Yoga, dan aku menceritakan semua kejadian tadi siang. Betapa bahagia mas Yoga saat itu. Terdengar pada setiap kata-kata yang dia ungkap dalam telpon. Baru saja aku pulang dari mushollah untuk menunaikan sholat maghrib, dan meletakkan mukenah di kamar, terdengar suara motor mas Yoga berhenti di luar. Betapa bahagiaku tidak bisa dilukis dengan kata saat itu.

"Assalamualaikum" terdengar suara mas Yoga.

"Waalaikum salam" jawabku sembari bukakan pintu dengan rasa bahagia yang tak terkira.

"Masuk mas, Ayah masih di mushollah" sambutku.

Dan aku kebelakang untuk membikin teh.

Tidak lama kemudian Ayah pulang dari mushollah.

"Assalamualaikum" terdengar dari dapur suara Ayah yang baru pulang.

"Waalaikum salam Ayah" jawab mas Yoga sembari menyambut dengan uluran tangan, yang hendak cium tangan Ayah. Dan mereka duduk di sofa dengan posisi berhadapan.

Dan Ayah pun memulai percakapan.

"Kamu sudah lama?" tanya Ayah.

"Tidak Ayah, baru saja sampai" jawab mas Yoga.

"Kamu sayang sama Risty?" tanya Ayah

"Sangat Yah, aku sangat mencintai Risty" jawab mas Yoga.

"Ayah akan merestui kalian, tapi dengan satu syarat" sambung Ayah.

"Syarat apa Yah?" tanya mas Yoga.

"Kamu harus berjanji untuk bisa bahagiakan Risty, entah dengan cara apapun itu" ungkap Ayah.

"Iya Yah, aku janji" sambung mas Yoga dengan binar mata penuh kebahagiaan.

"Ayah sangat sayang Risty, dan keinginan Ayah, hanyalah melihat Risty bahagia" ungkap Ayah.

"Iya Yah, aku janji akan bahagiakan Risty" jawab mas Yoga kembali.

"Ya sudah, minggu depan ajak orang tuamu ke sini, untuk melamar Risty" lanjut Ayah.

"Iya Yah, siap." jawab mas Yoga dengan senyum paling bahagia.

"Ya sudah, Ayah ke kamar, jangan malam-malam pulangnya, satu jam saja, terus pulang" perintah Ayah sambil beranjak dari tempat duduknya.

Malam itu sebuah kebahagiaan yang tak terhingga untuk kita berdua. Dan malam itu sebuah kebahagiaanku telah dimulai. Kebahagiaan yang nyata. Bersama mas Yoga dan Ayah. Dua orang yang teramat aku cinta. Dan semoga kebahagiaan ini akan abadi hingga akhir nanti.

*****TAMAT*****


Cerpen :
SENYUMMU BAHAGIA KAMI
#Nengicha
MK. Juli 2019




Cermin : SEPATU BUTUT - Pandu Eva


 

   SEORANG anak perempuan berlalu pergi sendirian. Tampaknya ia sengaja berjalan berjauhan dari sekelompok anak seusianya, yang juga sedang menuju arah pulang.

Jika diperhatikan, memang ia berbeda dari anak-anak tersebut. Seragam sekolah, tas, dan sepatunya keliatan lebih usang dari pada yang lain. Resleting tas sudah tak berfungsi, tertutup menggunakan peniti. Tali sepatunya pun sudah tak ada, diganti dengan tali plastik (rafia). Belum lagi bagian bawah sepatu sudah tak menempel sebagaimana mestinya. Sesekali Rizka melihat ke arah teman-temannya. Membandingkan semua benda yang melekat di tubuh mereka. Jika sudah begitu, ada perasaan sedih di hatinya.

***

   "Kamu, sudah pulang, Nak?" tanya Supardi kepada Rizka. "Pulang lebih awal?"

"Iya, Ayah. Guru-guru rapat," jawabnya.

Rizka membuka sepatu. Supardi memperhatikan bagian bawah sepatu putrinya. Ia menghampiri, diambilnya sepatu itu.
"Nanti, Ayah lem lagi ya?"

Rizka mengangguk, dan berlalu masuk ke dalam rumah. Sudah kesekian kali sepatunya dilem oleh Ayahnya. "Sudah biasa!" Rizka menarik napas.

***

   Supardi menaruh sepatu putrinya di dekat kompor, berharap lekas kering lemnya, terkena hawa panas. Karena sepatu itu tak mungkin ia jemur. Matahari telah selesai tugasnya, disembunyikan sinarnya. Berganti dengan sinar bulan.

"Sudah makan, Nak?" tanya Supardi, "maaf, di dapur cuma ada nasi dan tahu saja. Ayah cuma sanggup beli tahu. Pak Budi belum memberi upah mingguan. Besok dia baru pulang dari luar kota."

"Iya, Ayah. Aku sudah makan."

"Sepatumu, sudah Ayah lem, ya. Besok bisa kamu pakai."

Rizka mengangguk. Matanya sudah tak dapat diajak kompromi, rasa kantuk yang menyerang, tak sanggup lagi menahan kelopak matanya. Ia pun tertidur.

***

   Selesai mengerjakan tugas rumah, Rizka bersiap-siap berangkat sekolah. Diambilnya sepatu yang telah dilem oleh Ayahnya. Diamati dengan seksama, lumayanlah, lebih rapi dari kemarin. Minimal sudah tak berlubang lagi, gumamnya. Namun, nahas. Saat dipakai, lemnya terbuka kembali. Tampaknya sudah tak bisa diperbaiki. Karena sudah beberapa kali dilem. Rizka menarik napas.

Supardi melihat raut kesedihan, di wajah putrinya.

"Nanti, Ayah belikan yang baru, ya."

"Iya, Ayah." Rizka tersenyum, diciumnya punggung tangan Supardi. Tak ingin Ayahnya ikut bersedih.

***

   Rizka terkejut. Saat melihat sepatu dikamarnya. Diamati lekat-lekat. Warna hitamnya pekat. Talinya putih bersih tanpa noda. Alas bawahnya pun tanpa cela. Masih baru! Batinnya berkata, tapi Ayahnya tidak mengatakan apa-apa, sejak ia pulang sekolah tadi.

Ia, tergopoh-gopoh mencari Ayahnya. Tak dapat membendung rasa bahagia.

"Kamu kenapa, Nak? Ngos-ngosan begitu."

Rizka memeluk Ayahnya. Diangkat sepasang sepatu baru kehadapan Supardi.

Supardi tersenyum. Dielus kepala putrinya.

"Ayo! Makan bareng Ayah," ajaknya.

Mata Rizka seketika membulat. Tak percaya dengan apa yang ia lihat di meja. Lauk-pauk yang hampir tak pernah ia makan. Ayam goreng, ikan bakar dan sambal kecap.

"Waaawwww. Ayah, pasti sudah diberi upah oleh Pak Budi ya?"

Supardi tak menjawab. Ia dan putrinya makan dengan lahap. Malam ini mereka sangat bahagia.

***

   Malam semakin larut. Supardi terlihat melipat pakaian mendiang istrinya. Semua barang-barang istrinya ia kembalikan ke dalam karung. Gambaran kegiatan siang tadi, terlintas kembali. Di sebuah pasar, seorang banci bernyanyi. Dari satu warung ke warung lain, menyusul bernyanyi dari pintu ke pintu.

Gerombolan bocah pasar mengolok-olok. "Ada banci ... ada banci ...." Sambil tepuk tangan. Tak ada amarah sedikit pun menanggapi bocah-bocah nakal itu.

Di benaknya hanya ada,Ia harus mendapatkan uang, untuk mengganti sepatu butut putrinya dengan sepatu baru. Karena hari ini, Pak Budi belum pulang dari luar kota, dan upah mingguannya. Belum terbayar. Dan ia sudah terlanjur berjanji pada Rizka.

***END***


Cermin (Cerita Mini)
SEPATU BUTUT
Oleh: Pandu Eva.
Jakarta, 17 February 2019



Cermin : HIJRAHNYA PENCURI - Pandu Eva


 

HUJAN, membuat suasana malam menjadi sepi. Tak ada satu orang pun berlalu-lalang, hanya terdengar suara beberapa binatang malam. Maklum daerah perkampungan.

Keadaan membuatku mudah beraksi. Rumah Bu Hajah Odah, janda baru empat hari ditinggal suaminya, terlihat lengang. Mungkin beliau, sudah terlelap bersama ketiga putranya. Aku mengendap-endap, seraya berjinjit. Mulai celingukan, berjaga-jaga, khawatir ada yang melihat aksiku. Sebelum beraksi, aku mengenakan lebih dulu seragam tugas. Pakaian serba hitam dengan topeng hitam pula.

Langkah pertama mencongkel pintu berhasil, menyusul dengan berjalan ke arah kamar. Kondisi rumah mendukung sekali aksiku. Hanya ada ruang tamu, satu kamar, dan dapur. Sangat sederhana. Di kamar aku melihat Hajah Odah terlelap bersama ketiga putranya yang masih kecil. Lalu menelusuri lemari, perlahan tanpa menimbulkan suara.

'Di mana dia menyimpan uang selawat dari para warga?'

Lalu mataku menangkap benda bulat yang ditutup dengan serbet. Dengan mengendap aku menghampiri dan membukanya. Ternyata di tempat ini Hajah Odah menyimpan uang selawat. Kondisinya masih di dalam amplop. Tanpa berpikir lama, aku meraup semua amplop tanpa sisa. Ditaruh dalam kantong celana, yang terdapat beberapa di kanan dan kiri. Setelah berhasil, aku pun pergi.

***

   Setelah beberapa kali mengetuk pintu. Marni, istriku membukakan pintu rumah.

"Sudah pulang, Mas?" tanya Marni.

"Iya, cape banget," ujarku seraya memijat tengkuk leher.

Lalu aku mulai merogoh kantong celana, mengeluarkan beberapa lembar uang cukup banyak. Uang selawat yang kucuri. Setelah sebelumnya dikeluarkan semua dari amlop. Di jalan.

"Ini, simpen!"

"Wah. Dapat rezeki ya, Mas? Alhamdulillah ya Allah, uang ini bisa kita pakai buat biaya lahiran," seru Marni bahagia. Diciumnya uang itu berulang kali, seraya mengucap hamdalah.

Istriku memang sedang hamil tiga puluh empat minggu. Sebentar lagi anak pertama kami mengecap dunia luar. Mencuri menjadi pekerjaan sampingan, selain menjadi kuli panggul di pasar. Terkadang aku mencopet juga. Lumayan buat tambahan. Namun, Marni tidak pernah tahu.

Keesokan paginya Marni bercerita.

"Kasian deh, Mas. Bu Hajah Odah rumahnya kemalingan semalam. Semua uang selawat raib. Padahal sengaja dia ga mengadakan pengajian. Karena uang itu buat makan sehari-hari."

"Trus?" tanyaku cuek.

"Iya, kan sekarang ga ada yang cari nafkah," ujar Marni dengan nada prihatin.

"Loh, masa ga punya uang bisa naek haji," celetukku.

"Loh. Mereka naek haji dibayarin keluarga besar Bu Hajah Odah, Mas."

"Ya, kalo gitu, minta makan aja sama keluarganya besok." Aku mengatakan dengan santai, seraya menikmati gorengan yang sedari tadi ada di hadapanku.

Terlihat Marni menghela napas, "Bu Hajah tipe orang ga mau merepotkan orang lain," sambungnya.

***

   Memasuki minggu ke tiga puluh lima usia kehamilan Marni. Tiba-tiba ia mengeluh sakit di bagian perut. Dengan sigap, aku membawanya ke bidan. Ternyata, sudah waktunya Marni melahirkan. Dari luar ruang bersalin, aku mendengar Marni teriak menahan sakit. Tak ketinggalan suara bidan dan asistennya ikut membantu proses melahirkan. Namun, tak berapa lama, suara rintihan dan teriakan Marni sirna. Tangisan bayi pun tak terdengar.

Setelah beberapa menit. Bu Bidan keluar ruangan.

"Maaf, Pak Santo. Ibu Marni dan bayi tidak tertolong. Terlalu banyak pendarahan, dan bayi saat keluar sudah tak bernapas. Di leher sang bayi ada lilitan tali pusat." Bidan menjelaskan detail.

Kakiku mendadak tak bertenaga. Kepala sakit, pandangan mulai buram. Dalam kesedihan dan kesakitan, aku mendengar ceramah seorang ustad, yang sedang didengarkan oleh salah satu perawat. Menggunakan ponsel.

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka Neraka lebih pantas baginya.”( HR. Ath-Thabrani).

"Oleh karena itu kaum muslimin, para kepala keluarga, berusahalah memperoleh rezeki yang halal dengan cara yang halal pula."

Penggalan ceramah itu membuat bulu kudukku meremang, ada rasa sedih terpatri di hati. Teringat pekerjaan sampingan yang kujalani. Mencuri dan mencopet.

'Apa kepergian Marni dan anakku, adalah teguran dari-Nya?'

***

   Aku tak dapat membendung cairan bening yang telah memenuhi kelopak mata. Jatuh deras bersamaan helaan napas tak beraturan. Melihat istri dan anakku dimakamkan.

Setelah proses pemakaman selesai, aku melangkah menuju masjid yang berada tak jauh dari tempat pemakaman. Mengambil wudhu, menjalankan sholat tobat, sambil menanti masuk waktu Zhuhur.

Menangis, memohon ampun pada zat yang Maha Pengampun.

Setelah puas mengeluarkan isi hati pada pemilik semesta, aku bergegas pergi. Saat tengah berada di depan masjid, aku melihat Bu Hajah Odah dan ketiga putranya yang masih kecil sedang berjalan, menjajakan kerupuk, menawarkan kepada orang-orang yang berlalu-lalang.

'Maafkan saya, Bu Hajah. InsyaAllah saya janji akan mengganti uang Ibu dengan jalan halal."

_End_



Cermin (Cerita Mini)
Hijrahnya Pencuri
Oleh : Pandu Eva



Cermin : BUKAN MENOLAK REZEKI - Pandu Eva


 
   REZEKI tak selamanya berupa materi, orang baik yang kerap ada di sekeliling kita pun adalah rezeki. Namun, kita tetap harus mengerti, untuk selalu membalas budi, bersyukur dan mendoakannya.

"Epoy, nanti gue transfer elo 500 ribu ya. Tolong kasihin temen gue. Dia lagi ngawinin anaknya. Jangan lupa amplopin yak," ujar Mba Yati dari seberang telepon.

"Iya, Mba!" jawabku.

"Nanti gue kirim sejuta ya. 500 lagi buat elo."

"Hah! Ga usah, Mba. Serius! Bukan nolak rezeki. Tapi Mba udah terlalu banyak kasih uang ke aku. Nanti aja kalo butuh. Bisa minta atau pinjem. Ya, mudah-mudahan aku ga ngerepotin Mba lagi," tolakku pada Mba Yati.

Mba Yati bukan kakak kandungku, tapi kebaikannya sudah seperti saudara sekandung. Bukan tanpa alasan aku menolak pemberiannya. Bukan pula karena sudah berlebihan. Apalagi menolak rezeki. Sekali lagi bukan!

Namun, rasa tak enak hati. Ini nyata, bahwa ada orang sebaik beliau di sisiku. Kalau mau dihitung, entah sudah berapa banyak beliau memberiku secara cuma-cuma. Dari jumlah besar hingga kecil.

Bahkan aku pernah diberinya modal dagang sebesar 3,1 juta. Belum lagi saat aku melahirkan, ia kirim sejuta. Tiap lebaran tak pernah lupa beri THR 500 ribu. Aku bersyukur sekaligus tak enak hati. Setelah beliau beri modal sebanyak itu, aku hanya bisa menekankan padanya ....

"Mba, mulai tahun depan. Aku mohon ga usah kasih THR 500 ribu lagi. Anggap aja itu modal 3,1 juta. THR yang Mba kasih di muka,'' tegasku padanya.

"Ya, gak gitu dong. Doain aja gue banyak rezeki. Biar tetep bisa kasih elo THR tiap tahun."

"Bukan gitu! Nanti keenakan aku. Ga lah, Mba. Makasih banyak. Semoga Mba banyak rezeki, dan dikaruniai anak-anak sholeh sholehah."

"Aamiin," ucap Mba Yati.

**

   Mba Yati memang orang berada. Punya usaha apotik. Suaminya seorang apoteker di rumah sakit. Duit bagi beliau tak masalah. Namun, tetap saja aku merasa tak enak hati terlalu sering menerima pemberiannya.

Aku tahu bagaimana perjuangan beliau untuk menjadi seperti sekarang. Dari anaknya berusia tiga tahun, sudah ditinggal kerja. Anaknya di rumah sendiri. Beruntungnya beliau dikaruniai anak-anak yang pintar dan mandiri.

Kedua anaknya, mendapat beasiswa. Kerap menjadi juara dalam lomba ilmu pengetahuan. Di balik kesuksesan beliau, ada tahajud tiap malam, sedekah tak sedikit. Aku termasuk tahu awal mulanya beliau merintis. Oleh sebab itu, tak sampai hati aku menerima pemberian beliau terus-menerus. Tak mau aji mumpung.

'Lalu apa yang bisa kuberikan untuk membalas kebaikannya? Entah.'

Mungkin hanya bisa membantu tenaga dan doa saja. Jika beliau butuh apa-apa. Misal menjaga ibunya yang kebetulan tinggal bersebelahan denganku. Meski ada juga keluarga Mba Yati yang ikut menjaga ibunya.

Dari beliau aku belajar, bahwa usaha tak pernah membohongi hasil. Di balik kesuksesannya ada kerja keras yang luar biasa. Juga kepeduliannya terhadap orang tua, patut dicontoh. Saat beliau susah dulu, hingga sekarang sukses. Tak pernah alpa mencukupi kebutuhan orang tua.

Semoga kelak aku bisa seperti beliau. Semoga Allah senantiasa memberi ridho dan berkah pada Mba Yati dan keluarganya.

Aamiin.

_End_


Cermin (Cerita Mini)
BUKAN MENOLAK REZEKI
Oleh : Pandu Eva




Cermin : DILEMA - Tati Kartini




   SEBAGAI seorang wanita yang sudah cukup lama hidup sendiri, tak munafik aku merasa bahagia, ketika tiba-tiba datang seorang pria yang pernah berhubungan dekat di waktu lalu. Dia pria mantanku dulu yang pernah berkhianat, meninggalkan aku karena tertarik kepada teman wanitanya.

Kuakui aku sangat mencintainya, dialah pria pertama yang bisa membuat aku jatuh cinta setelah sekian lama aku hidup sendiri. Rasa sakit yang pernah ditorehkannya seakan lenyap begitu saja, ketika dia kembali dengan ucapan penyesalannya.

"maafkan aku sayangku, aku menyesal telah meninggalkanmu, kini aku sadar kamu lah wanita terbaik yang selama ini ku rindu, percayalah aku takkan pernah meninggalkanmu lagi."ucapnya.

Dengan kerinduan dan rasa bahagia aku larut dalam setiap katanya yang semanis madu, dia memang pandai mengambil hatiku.
Membujuk ku dan merayu.

"Baiklah, aku terima kamu kembali, aku pun masih mencintaimu, kalau boleh tau kapan kamu mau melamarku?"

Langsung saja aku ajukan pertanyaan itu mengingat hubungan yang sudah cukup lama. Walaupun dia sempat berselingkuh tapi status kami tak pernah benar-benar putus. Hubungan kami sudah berjalan hampir 2 tahun karena itulah kuberanikan untuk menanyakan padanya kepastian kelanjutan hubungan ini.

"Sabarlah, kamu kan tahu kuliah aku masih setahun lagi."

Selalu saja itu jawabnya, tak pernah memberikan kepastian tepatnya dalam hitungan tahun atau bulan padahal meskipun kuliahnya belum selesai dia sudah bekerja dengan penghasilan yang cukup untuk bekal berumah tangga, usia pun bukan lagi remaja. Bahkan kuliahnya pun bukan kali pertama, ini adalah kuliah lanjutan, tambahan dari keilmuan dengan jurusan berbeda.

Jujur aku sangat kecewa dengan jawabannya, yang tak pernah berubah. Aku merasa tengah menjalani kemaksiatan karena di dalam agamaku tidak diperbolehkan berpacaran. Itu sebabnya jadi dilema di dalam hatiku, aku takut akan murka Nya.

Sejujurnya aku tak sanggup mengambil keputusan, walau pernah juga aku mencoba untuk mengakhiri. Rasanya tak sanggup menahan rasa di hati ini, aku tak punya pilihan selain dia. Rasa cintaku padanya yang teramat besar membuat aku mau menerimanya kembali.

Dia bukanlah orang yang tak paham tentang agama, bahkan ilmu agamanya lebih dari yang aku tahu. Sungguh aku tak bisa memahami mengapa dia selalu mengulur waktu untuk menghalalkan aku.

Tak ada lagi cara yang bisa kutempuh selain melangitkan doa-doa.

"Ya Robb, hanya Engkau yang bisa membolak balik kan hati, tetapkanlah hati kami di dalam kebenaran, sesungguhnya hati kami ada di antara dua jari-jariMu, Engkau lah yang maha berkuasa atas segala sesuatu.Duhai, Dzat yang maha belas kasih kepada hamba-hambaMu. terima lah doa ku, kabulkan lah permohonanku."

Aku pasrahkan semua kepada Nya, aku tak sanggup mengatasi masalah ini.
Hanya bermuhasabah dan berserah diri yang aku jalani dari hari ke hari, berharap belas kasih illahi Robbi, mohon ampun atas rasa cinta yang nyaris tak mampu ku bendung. Semoga doa dan harapan yang selalu kupanjatkan menjadi jalan kebaikan bagi hubungan antara aku dengannya.

Aku pasrah atas takdirNya, bukankah jauh sebelum aku dicipta sudah tertulis semua takdirku di Lauh Mahfudz? Juga tentang pertemuan aku dengan Adi yang aku harap akan menjadi suamiku.

Semoga Allah swt, melindungi hubungan kami agar tetap berada di dalam koridor syar'i. Seberapapun beratnya menahan rasa cinta ini, aku berusaha untuk istiqomah di dalam rambu-rambu yang diajarkan di dalam agamaku.

Aku tak ingin aqidah tercemari dengan dosa walau jatuh cinta bukanlah kehendakku. Bertemu dan jatuh cinta padanya pastilah bagian dari takdir Nya sebagai ujian keimanan. Disitu aku diuji mana yang lebih aku cintai. Allah kah atau Adi kekasihku.

Aku teringat kisah nabi Yusuf allaihi salam. Ketika Julaikha mengejar cintanya, nabi Yusuf meninggalkannya tapi ketika Julaikha mengejar cinta Allah, Allah mengirim nabi Yusuf kepadanya.

Mampukah aku melakukannya? Ya Allah, tolong lah … hanya pada Mu aku bermohon. Engkau yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi diriku dan dirinya.

~~~End


Cermin (Cerita Mini)
DILEMA
karya : Tati Kartini
Jakarta, 8 Maret 2020

TATI KARTINI








Cermin : CANTIK MANJA TAPI DURHAKA - Tati Kartini




   NING anak Kepala Desa cantik ceria dan manja begitu banyak yg kagum padanya. Ning luar biasa beda dengan diriku yg sederhana, dia menjadi idola di mana mana. Aku sangat mengaguminya.

Suatu hari setelah berpisah sekian lama.
" Hai ...kamu Tina ya? " aku terkejut tak percaya.

" Alhamdulillah ...kamu Nining ya".

Berlinang air mata bahagia bertemu sahabat lama yg menjadi idola.
Kamipun berpelukan erat.

" Hayu Tin mampir ke rumah ku lama kita tak jumpa aku kangen kamu, ingin cerita seperti dulu. Yuuukkk ...rumah ku cuma beberapa meter dari sini,kita cukup berjalan kaki."

Tak berapa lama sampailah di sebuah rumah dengan pekarangan yang luas tertata indah. Nampak pohon buah-buahan dan pohon bunga yang berwarna warni.
Juga sebuah kolam lengkap dengan air mancur dan ikannya.

Sesampai di dalam rumahnya. Aku masih tetap seperti dulu mengagumi semua yg jadi miliknya,kemewahan yg masih saja berpihak padanya. Rumah indah dengan perabotan yang serba mewah.

" Rumahmu indah Ning ...kau memang beruntung lahir dari keluarga terhormat dan kaya raya " aku memujinya.
Sambil mataku terus menatap berkeliling, memandang setiap inci dari rumah yang sangat megah.

" Ning ...." tiba tiba dari sebuah kamar terdengar suara yg sangat lemah ...

" Siapa itu Ning?" Tanyaku,tanpa di jawabnya,dia berjalan menuju ke arah suara itu.

" Ada apa lagi mak! Aku lagi ada tamu,bisa gak diam dulu, Mak jangan rewel,itu pempers baru ganti mahal Mak ...jangan pengen ganti terus ..." Terdengar suara Ning dengan bentakan keras.

Astghfirulloh, sakit hati ini mendengar kata-kata sahabatku,begitu teganya dia kepada ibunya yg dulu sangat memanjakanya. Seketika itu juga semua kekagumanku sirna.

'Oh,Ning,kamu cantik kaya tapi ternyata kau durhaka.' aku bergumam sendiri ....

-END-

Cermin (Cerita Mini)
CANTIK MANJA TAPI DURHAKA
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 1desember 2019

TATI KARTINI








Cermin : SI GADIS KECIL BERGIGI HITAM - Tati Kartini




   SEPERTI biasa di pagi hari aku membuka jendela. Segar rasanya mengendus udara pagi. Tercium harum bunga melati yang menjalar di tepi pagar, di halaman rumahku. Terkejut kulihat gagang sapu bergerak sendiri. Hampir mengenai wajahku yang tengah terpaku memandangi melati.

Hap! reflek tanganku menangkap gagang sapu yang melaju, lalu kutarik sedikit kuat.

Terdengar teriakan si gadis kecil bergigi hitam, "Aduh! Ampun Nek, jangan di tarik sapunya"

"Awas ya sekali lagi ganggu nenek ga nenek belikan lagi coklat ya."

"Ampun nek, aku mau coklat, hayu Nek cepetan kita beli ke apamayat."

"Apa? Kemana?" Ujarku

"Ke apamayat Nek”

“Ke Rumah Mayat?, ih … gak mau ah serem.Nenek takut neng." Aku pura-pura tak paham maksudnya.

"Itu Nek, toko yang di belakang rumah." Rengeknya, manja.

"Oh … Toko Maret." Ucapku menjelaskan maksudnya.

"Iya nek, aku mau dua coklatnya ya."

"Iya sayang sebentar ya nenek pake kerudung dulu, kamu juga ya cantik, pakailah jilbabnya." Kataku mengingatkannya.

"Memang nya kenapa kalau gak pake jilbab nek?" Gadis kecilku bertanya sambil bergelayut manja.

"Sayang, kamu kan suka coklat, kalau beli coklat yang sudah terbuka tak ada bungkusnya lagi, kamu mau gak sayang?"

Spontan gadis kecilku menjawab, "Ih nenek jorok, aku gak mau yang terbuka jijik."

"Nah begitu pula kamu nak, kalau tidak tertutup nanti ada lalat nempel di rambutmu, ih… jijik." Kujelaskan semampunya, agar cucu bisa mengerti.

" Iya nek, jijik ya nanti lalatnya bertelur di rambut aku." Jawabnya.

"pinter cucu nenek." Kupeluk dan kuciumi wajahnya sambil merapihkan jilbabnya.

"Yuuk berangkat, sekarang kamu kelihatan sangat cantik dengan jilbabmu." Aku memujinya, cucuku tersenyum.

Senyuman terindah di dunia, dengan gigi hitamnya yang berkilau indah, sangat indah.
Karunia Allah yang tak terhingga, tiada tara. Alhamdulillah terimakasih ya Allah kau kirim dia untukku Si Gadis Kecil bergigi Hitam yang cantik luar biasa, kesayanganku, penyemangat hidup.

~End

Cermin (Cerita Mini)
SI GADIS KECIL BERGIGI HITAM
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 4 Desember 2019

TATI KARTINI

Cerpen : MUSYRIK - Tati Kartini


 

   SENJA hampir tenggelam ditelan gelap malam ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara parau dari belakang Heru.

"Nak, hari mulai gelap sebaiknya kamu segera pulang."

Setengah terkejut Heru menjawab, "Oh,bapak saya sampai terkejut, bapak siapa?tiba-tiba saja ada di dekat saya."

Dengan wajah ramah bapak tua itu pun menjawab pertanyaan Heru, "Bapak memang juru kunci di danau ini nak."

"Juru kunci? Biasanya penjaganya satpam pak."

Pak tua pun menjawab dengan lebih rinci.
"Satpam memang ada untuk menjaga pengunjung yang rekreasi menikmati keindahan danau ini, tapi coba kamu perhatikan pepohonan yang rimbun di tengah danau sana."
Ujar pak tua sambil menunjuk ke tengah danau.

"Kenapa dengan pepohonan itu pak?." Heru pun bertanya penasaran.

"itu adalah pulau kecil tempat dimakamkannya seorang anak mahkota kerajaan yang dikenal dengan nama Pangeran Boros Ngora atau Prabu Hariang Kancana.Hingga kini masih dikeramatkan, banyak pengunjung yang berziarah, bapaklah yang menjadi juru kunci di makam itu."

Heru manggut-manggut mendengar semua penjelasan pak tua.

"Setiap manusia punya bermacam-macam keinginan, mereka bukan hanya berdoa tapi juga mereka mencari jalan pintas agar supaya keinginannya lekas tercapai." Jawab pak tua menambah penjelasanya.

"Apakah setelah selesai berdoa disini, mereka bisa mencapai semua yang diinginkannya?
Tanya Heru semakin bertambah penasaran.

"Sangat mungkin karena mereka begitu percaya dengan doanya."

Heru berkomentar ter heran-heran, "Mohon maaf pak, bukankah cara seperti itu bisa dikatakan musyrik?"

Pak tua terkejut dengan pertanyaan Heru, "Apa maksudmu nak."

Berganti kini Heru yang memberikan penjelasan, "Maaf pak sekadar menyampai kan apa yang saya dapat dari guru saya, menurut beliau kalau kita berdoa selain kepada Allah itu di larang."

Pak tua menyimak, mendengarkan Heru menceritakan apa yang dipelajarinya selama belajar di sebuah pesantren.

"Teruslah ceritakan, apa yang kamu pelajari nak.Bapak ingin mendengarnya, selama ini bapak hanya tahu tentang doa yang dibacakan di makam keramat ini."

"Baik pak, dengan senang hati berbagi ilmu yang dimiliki adalah merupakan kewajiban, begitu menurut guru saya.Waktu maghrib hampir tiba sebaiknya kita ke mushola terdekat untuk melaksanakan sholat maghrib di sana, tak baik menunda-nunda shalat, nanti setelah selesai shalat maghrib bisa kita lanjutkan ceritanya."

Dengan petunjuk jalan dari pak tua sampailah mereka di sebuah mushola.
Mereka berwudhu di tempat yang sudah disediakan.

*****

   Selesai shalat maghrib berjamaah, Heru dan pak tua saling bersalaman.

"Maafkan saya pak, dari tadi asyik berbincang saya sampai lupa belum mengenalkan diri, nama saya Heru Subagja pak panggil saja saya heru." Ucap Heru sambil bersalaman,mencium punggung tangan pak tua.

"Oh kita belum berkenalan ya, bapak biasa dipanggil pak kuncen nak, karena pekerjaan bapak sebagai juru kunci, padahal bapak juga punya nama yang bagus, nama bapak Agus Hidayat tapi nama panggilan 'Abah kuncen' lebih dikenal di daerah sekitar danau ini."

"Baiklah,saya juga lebih senang memanggil abah saja, biar lebih akrab terasa seperti kepada orang tua sendiri."

"Oh iya, baguslah kalau begitu." timpal si pak tua terlihat senang mendengar ucapan Heru.

"Abah disana sepertinya ada warung, bagaimana kalau kita teruskan ngobrolnya di warung saja sambil memesan minuman yang hangat, udara sudah mulai terasa dingin."

"Betul, itu memang warung kopi, berjualannya sampai pagi, ada makanan kecilnya juga."

Sambil terus berjalan mereka tak henti bicara sampai tiba di sebuah warung sederhana yang hanya berjarak beberapa meter dari mushola.

"Aduh abah, kamana wae bah nembe katingali."(1)

Mang Ewo si pemilik warung menyapa si pak tua dengan akrab memakai bahasa dan logat sundanya.

"Kamari abah teh udur saminggu Wo, sok lah pang damelkeun abah kopi dua gelas, ieu abah mawa semah."(2)

"Udah abah bahasa Indonesia saja, maaf abah saya kurang paham bahasa sunda."
Heru menyela.

"Oh iya sampai abah lupa belum di kenalkan ini mang Ewo pemilik warung kopi, satu-satunya yang dekat dengan mushola."

Heru mengulurkan tangan menyalami mang Ewo, "Kenalkan nama saya Heru mang."

Sambil menyeruput kopi yang sudah terhidang di meja, Heru kembali berkata.
"Mang Ewo buka warung sampai pagi?"

"Iya den(3), menjelang tengah malam nanti pengunjung yang akan berziarah mulai berdatangan, biasanya mereka pesan minuman untuk menghangatkan badan.Udara disini memang sangat dingin sebentar lagi kabut akan turun."

"Oh, begitu mang? Alhamdulillah saya bawa jaket." Sahut Heru sambil menutup kepalanya dengan topi yang melekat pada jaketnya.

"Nak heru kamu mau ikut ke makam keramat? Sebentar lagi tamu yang berziarah akan berdatangan mencari abah untuk mengantar ke pulau."

"Saya menunggu disini saja bah menemani mang Ewo, boleh ya mang?" Heru menolak ajakan abah sambil melirik mang Ewo.

"Tentu boleh den, silahkan kalau cape bisa tidur-tiduran di bangku itu." Ucap mang Ewo sambil menunjuk dipan yang dialasi tikar pandan.

Diliriknya pak tua yang terlihat mulai mengantuk, "Abah kalau ngantuk silahkan tidur, saya akan berbincang-bincang dulu dengan mang Ewo."

Abah menjawab ucapan Heru dengan mata yang sudah sedikit terpejam, sambil bersandar pada tiang.

"Baik nak abah tidur dulu sebentar ya, ngobrol saja dengan mang Ewo."

*****

"Mang Ewo pasti paham juga ya dengan tradisi yang ada sangkut pautnya dengan mitos Kerajaan Panjalu." Tanya Heru kepada Mang Ewo yang sedang menyiapkan bahan gorengan untuk pagi harinya.

"Mang Ewo hanya mengetahui sedikit dari tradisi disini, selain orang banyak yang datang berziarah, ada juga acara memandikan keris pusaka setiap bulan maulid."

Mang Ewo menceritakan adat masyarakat awam yang masih kukuh dengan tradisi, makam pun terkadang dijadikan tempat meminta.

"Padahal yang mengabulkan segala doa hanya Allah SWT saja ya mang."ujar Heru menyela.

" Pada kenyataanya orang yang kurang paham ilmu agama, menjadikan semua ritual itu sebagai cara untuk memperoleh keinginan dengan cara cara gaib,semacam ilmu hitam begitu." Ucap Mang Ewo, mengayatakan pendapatnya

"Terimakasih mang untuk semua penjelasannya, saya pamit untuk beristirahat di mushola saja supaya nanti malam bisa shalat sunnah dan membaca Al Qur'an, tolong sampaikan salam saya untuk abah, apabila abah kuncen sudah bangun."

"oh, iya den nanti saya sampaikan, terimakasih sudah mengunjungi warung mang ewo."

"Iya mang, sama-sama assalamu'alaikum." Ucapku sambil berdiri beranjak pergi menuju ke mushola, untuk beristirahat sebelum kembali ke jakarta setelah shalat subuh berjamaah besok pagi.

*****End

Note:
(1).Kemana saja abah baru kelihatan
(2).kan kemarin saya sakit seminggu wo, tolong buatkan kopi dua gelas, abah bawa tamu ni.
(3). ' den' Panggilan untuk orang yang dihormati.


Cerpen
MUSYRIK
oleh : Tati Kartini
Jakarta, 6 Desember 2019.

TATI KARTINI