RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 20 Mei 2021

Cerpen - A Story Of My Life CINGKUAK OH CINGKUAK Karya : Retno Rengganis


 

"....KENANGAN masa lalu yang indah
Saat aku masih bersamamu
Kisah itu sungguh begitu indah
Kini hanya cerita yang lalu.

Bertahun-tahun sudah lamanya
Kita tak lagi pernah bertemu
Sungguh aku masih merindukanmu
Walau kini sudah ada pengganti..... "

( Lirik Silamsari _ Kenangan Masa Lalu ).


Masih terngiang di telingaku lagu mellow yang tenar di masanya waktu itu, kalimatnya begitu kontras dengan kesedihan. Ingatanku langsung pada seseorang, sosok romantis yang melankolis. Entahlah mengapa kesedihan menghapus senyuman, kepedihan yang utuh harus disatukan dengan suasana gembira ini?

Ah... luka lama dalam kenangan itu kembali menggelitik hati. Debarnya begitu kuat sehingga sesakku menyedak.
Perlahan-lahan kutarik napas sekedar mengurangi rasa nyeri yang berlebih. Seperti kau tau bahwa aku masih suka merasa benci dengan sosok yang bernama Sultan. Kuputar otak agar aku bisa mengalihkan rasa serta angan lukaku.

"Bagaimana perasaanmu Re, sudah agak baikan?" kata Dendy mencemaskanku. Ternyata dari tadi dia memperhatikan diriku serta mengkawatirkan diriku yang pucat seperti kapas. Dendy mengira aku takut naik bis dalam laju kencang, kanan kirinya jurang curam.

"Re, kamu baik-baik saja," Dendy akhirnya mengemukakan pertanyaan lagi.

Tak kujawab pertanyaannya dengan kata-kata, tapi menaikkan bahu sambil geleng kepala.
Kami diam, pikiran kami bermain imaji sendiri-sendiri.
Namun tangannya begitu kuat menggenggam jemariku, mungkin untuk membuatku makin nyaman. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Dendy memang baik bahkan teramat baik. Dia tau semuanya tentang kenanganku di pulau itu. Cerita cintaku dengan Sultan.

"Maukah kamu mendengarkan sesuatu dariku, Re?" Dendy bertanya lagi.

Aku menganggukkan kepala perlahan.
Dendy berdehem sebentar sambil mengusap lembut kepalaku.

"Artinya, kamu tentu harus berjanji untuk bisa melupakan kenangan pahitmu di kota ini dan membuka lembaran baru bersamaku, menatap mentari dengan senyummu,". Betapa tegas ucapannya.

Dendy memandangku, kudongakkan kepalaku sambil memandangnya, dan tatapan kami bertemu. Kutangkap sebuah sinar kecil melesat dari bola matanya, berlari begitu cepat menuju mataku tapi sebelum sinar itu masuk cepat-cepat kupalingkan perhatian keluar jendela, roda-roda bus tetap melaju kencang.

"Jika kamu sudah memutuskan berani datang ke kota ini dan bersedia mengikutiku, mau tidak mau kamu harus mengubur masa lalumu serta menepis bayang wajahnya, namanya, dari dasar hatimu," kata Dendy tegas

Oh... ingatanku kembali terusik dengan kata-kata tegas Dendy.
"Kamu sekarang milikku dan aku cemburu tauk," Sambil menyentil ujung hidungku mesra.

Dendy memang sosok romantis dan penyabar beda dengan Sultan yang keras tapi tegas. Namun keduanya sama-sama romantis.

"Sayang kita sudah sampai yuk turun,"

"Oh...," Desahku

Perlahan kuikuti Dendy. Jalan yang tidak asing bagiku. Lima tahun lalu jalan ini pernah juga kulewati bersama Sultan. Sebuah jalan di samping pantai Carocok. Satu-satunya jalan untuk menuju tempat penyeberangan ke pulau Cingkuak.
Tapi untuk kali ini kami tidak akan menuju kesana, melainkan kelereng bukit pantai Carocok. Tiba-tiba bening di sudut mataku jatuh. Dendy menarik lembut tanganku untuk terus mengikuti langkah kakinya, sambil menikmati pemandangan, pelan namun pasti kami menyusuri sepanjang jalan serta sebuah lorong yang begitu asri.
Tempat yang indah di lereng bukit itu, di sisinya adalah laut luas membentang dan di tengah laut banyak berjajar pulau-pulau kecil yang indah. Di antaranya adalah pulau Cingkuak.

"Udah sampai Re dan inilah rumah impian kita," kata Dendy

Wuuow... rumah impian yang begitu indah, minimalis ada kebun serta taman bunga, pokoknya gak bisa di bayangin indahnya.

"Kau suka sayang," betapa bahagianya Dendy memamerkan rumah impian kami. Sepertinya dia begitu tahu keinginanku. Dendy telah menepati janjinya untuk memberikan hadiah bulan madu sekaligus rumah idaman baru untuk tempat tinggal kami. Karena sejak kejadian itu aku malu hidup di Jakarta di lingkungan tempat kami bekerja dulu. Sehingga kami sepakat untuk pulang dan bekerja di negerinya Dendy.

"Den, tingkiyu ya," binarku berseri.

Kukecup manja pipinya, kupeluk kuat tubuhnya. Dendy membalas mengecup keningku. Ditariknya diriku masuk ke dalam rumah impian kami. Dan dia kembali memelukku, mengecupku, bibir kami saling memagut, indahnya. Dan di dalam sebuah kamar biru, kami luahkan rasa bahagia dengan asyik masyuk bercumbu melupakan pilu.
Rintik hujan tiba-tiba turun, kabut dari lereng bukit ikutan menyelimut dingin menyusup dan tentu menambah romantis suasana. Kami hanyut terbawa mimpi yang entah, tentu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Romantika cinta dalam satu jiwa menuju puncak asmara. Indahnya surga dunia tiada tara.

Sultan....
Itulah nama yang membuka katup cintaku. Bersama Sultan di pulau kecil tengah laut itu, aku telah mengenal yang namanya cinta dan kekasih.

Ingatanku kembali melayang pada masa itu, masa dimana diriku pertama kali menjadi kekasih Sultan. Sultan lelaki periang dan pandai sekali bergaul. Karena dia seorang seniman pula penulis. Pertama kenal dengannya dalam sebuah komunitas sastra di sanggar DELAMONTE. Kedekatan kami banyak yang tahu. Baik sahabat Sultan atau sahabatku. Apalagi kami juga satu kantor dalam pekerjaan kami sebagai wartawan ibu kota.

Pada suatu hari kami sama-sama mendapatkan tugas membuat event di sebuah pulau kecil di Cingkuak Pesisir Selatan Padang. Awalnya aku dan Sultan hanya seorang sahabat. Keceriaan kami bahkan banyak yang merasa iri. Sultan pandai sekali membuatku tertawa, bahkan sampai terpingkal-pingkal, tapi pada waktu yang lain, dia kadang terdiam seribu bahasa tanpa sebab. Pada waktu yang lain pula dia menunjukkan kecemburuannya yang teramat sangat pada temen-temenku saat aku bersama mereka. Sultan seakan tak memberi kesempatan padaku untuk interaktif dengan teman-temannya. Dia ingin diriku hanya hadir dan selalu bersamanya. Apalagi jika malam Minggu dia tidak pernah sekalipun melewatkannya pasti selalu hadir untukku. Pokoknya hari-hari tanpa ada waktu tidak bersamanya.

"Cingkuak oh Cingkuak" rintihku melirih. Kejadian waktu itu kembali menggelitik ingatanku.

"Re, aku cinta kamu, aku cinta kamu Re,"

"Aku tidak ingin kamu dekat dengan Rian, dengan Indra atau dengan Dendy aku cemburu paham!" bisiknya lirih ketelingaku supaya tidak di dengar teman-teman. Dengan tatapan tajam tak berkedip, Sultan memohon kepadaku. Dia begitu tidak sukanya melihat aku menemani teman-teman saat membuat perahu serta pernak pernik untuk kegiatan besok, yaitu acara sastra pertemuan para penyair se-nusantara yang akan berkumpul di pulau kecil nan indah yaitu Cingkuak.
Aku memang lebih suka melihat serta membantu teman-teman mempersiapkan pernak pernik dari pada nungguin Sultan mempersiapkan naskah, atau menyusun acara yang hanya berkutat di hadapan laptop.
Aku terdiam memandang wajahnya, wajah lelaki yang aku cintai.

"Ayo ikuti aku kita bicara," Sultan menarik tanganku dan aku menurut saja. Kami berjalan menyusuri pantai. Indah sekali. Debur ombaknya pelan menghempaskan buih, bening air lautnya membuatku terpesona karena banyak ikan-ikan kecil berenang. Nyiur melambaikan jelai daunnya dan berjajar rapi, bahkan banyak pohon yang merebahkan batangnya kepantai berayun-ayun begitu elok, kontras sekali dengan suasana hari ini, sepoi semilir asoi.

"Re, tatap mataku sedalam rasamu," mulai Sultan bicara.

"Tidakkah kau rasakan bila aku mencintaimu, bahkan aku seakan gila jika melihatmu bercanda dengan mereka, aku tidak rela Re, tidak!". Di genggamnya jemariku kuat-kuat.

"Sultan...," kataku lirih

"Iya, aku mencintaimu," Sultan memotong ucapanku.

"Apakah kamu tidak merasakannya selama ini Re?" ucapnya lagi. Aku tetap diam.

"Di pulau Cingkuak ini aku tegaskan, aku mencintai kamu, apa kamu menerimanya Re, untuk menjadi kekasih sahku?". Matanya meredup menghiba.

Degup jantungku makin berdebar kencang, ingin rasanya aku berteriak jika sebenarnya aku juga telah mencintainya, tapi aku malu sehingga yang aku perbuat selama ini cukup memendam dalam hati. Dan saat ini Sultan mengungkapkan isi hatinya, ya Allah apa yang harus aku lakukan kecuali hanya mengangguk sendu menerima cintanya.

"Yes, terimakasih Re," begitu girangnya Sultan sampai dia tak sadar berteriak kencang. Mulai deh konyolnya keluar, biasalah dia langsung bersyair.

Dan....!

"Wahai camar di atas karang, wahai gelombang yang menari riang, wahai jelai daun-daun nyiur, dengarkan aku, ini sumpahku di atas tungku batu, IZINKAN AKU MENCINTAI RE RE SELAMANYA, WALAU PERTENGKARAN TERTAKDIR DI ANTARA KAMI. DAN AKU TAK AKAN MENARIK SUMPAHKU DAN IKRARKU INI, SAMPAI TUAKU NANTI HINGGA AJAL MENJEMPUTKU,". Gelegar sekali ucapan Sultan dan membuatku merinding. Ternyata bukan hanya bersyair tetapi dia telah bersumpah. Oh my God!

"Sultan, apa-apaan sih kamu,". Belum selesai kuucap kata, Sultan telah memelukku kuat sekali, seakan tidak mau kehilangan diriku. Aku pasrah dalam dekapannya.

Dari jauh dibalik rumpun di bawah pohon flamboyan Dendy memperhatikan dengan rasa hancur. Satu-satu kelopak bunga flamboyan berguguran seperti luruhnya bening dari sudut mata Dendy, yang dengan tidak sengaja terluka. Sebab orang yang dia cintai diam-diam kini telah menjadi milik Sultan sahabat sekaligus rivalnya.
Sultan masih tetap memelukku, bahkan lebih kuat, mungkin dia merasa ada yang ingin merebut kekasih hatinya.

"Re, lihatlah debur ombak itu, begitu gemulainya dia memainkan kerikil pantai, diciptakannya buih putih, kau tau Re, semoga cintaku seputih buih itu,"

"Mulai menggombal kau ya, dasar penyair," sewotnya aku

"Loh, enggak percaya kamu,". Dia melotot, berhenti tepat dihadapanku.

"Aku serius Re,". Dan Sultan berhenti diam sejenak.

"Kok berhenti ada apa?" tanyaku sedikit merajuk ingin tau.

"Penasaran ya," ejeknya sambil jemarinya menyentil hidungku.

"Iiih... apaan sih,". Aku sewot di buatnya

Kemudian dia menarik tanganku mengajak duduk di batang kering yang rebah membujur ke pantai.

"Aku sudah bersumpah di pulau ini, dengar baik-baik dan kusimpan sumpahku dalam hati jika aku lupa ingatkan, karena kau tau Re, sesampainya di Jakarta nanti aku akan melamarmu," kata Sultan tegas.

"Whuooooottt....!". Kaget dan melongo aku.

"Sssttt... usah kaget begitu sayang,". Dengan memegang jemariku Sultan duduk di hadapanku. Akupun mencoba untuk mengerti.

"Aku akan segera meminangmu, kau mau?" katanya tegas dan inginkan segera jawabanku.

"Iya aku mau," jawabku.

Langsung dia memelukku kembali, kali ini pelukan sayang yang membuatku melayang. Tanpa menghiraukan apapun, dia menciumku mesra. Dendy jauh di sana, makin terpuruk dan terluka. Dia berlalu menekan nyeri. Sedangkan kami asik bercanda menyusuri pantai menarikan kidung jiwa yang lagi happy.
Ya Tuhan, mimpi apa aku, orang yang selama ini dekat denganku, dan yang aku cintai diam-diam, kini menjadi kekasihku dan sebentar lagi akan menjadi suamiku. Dia telah bersumpah di pulau keramat ini. Oh my God! Terus dan terus kejadian esok lusa itu menari-nari dalam lamunkanku.

"Hai, bengong aja, mau pulang gak atau ingin menjadi penghuni pulau ini sayang... ha ha ha," ledek Sultan bikin keki.

"Tan, iya kalik tapi harus bersamamu... ha ha ha," suara Rian ikut ngeledek.

Tanpa banyak bicara aku segera masuk speed boat. Acara sudah selesai dengan meriah, event yang diadakan di pulau Cingkuak seratus persen sukses. Betapa riangnya kami para petugas, panitia. Segala sesuatu dalam acara tersebut tidak mengecewakan. Kami kembali berkumpul di kantor sekretariat Pemuda Pecinta Sastra tepatnya di Taman Budaya Padang. Malam hari diisi rapat kecil pembubaran panitia. Dan esok harinya kami rombongan kembali pulang ke Jakarta.

Aku, Sultan, Rian dan Dendy satu sanggar. Sultan dan Dendy asli Padang, sedangkan aku dan Rian asli Jawa, bedanya Rian Jawa Tengah, aku Jawa Timur tepatnya Bojonegoro. Kami semua sahabat, bekerja dan bermain teater di satu naungan, kami bekerja menjadi wartawan di sebuah majalah ibu kota yang sangat terkenal.

*******

   Satu tahun kemudian...

"Re, beneran kamu mau menikah sama Sultan," kata Hawa sedikit cemas

"Iya, emang kenapa, tunggu undangannya ya cantik usah manyun begitu maaf undangan untukmu lupa aku bawa,". Kucolek dagunya sambil menggoda.

"Re, serius kamu," Hawa seperti tidak percaya.

"Kamu itu kenapa sih, iya serius dong,"

"Ayo! Ikut aku...,". Ditariknya tanganku kuat-kuat. Kuikuti langkah kaki Hawa. Duh kenapa dia bawa aku keruang kerja Sultan ada apa ini, semakin penasaran.

"Lihat itu...,". Tangan Hawa menunjuk kedalam ruangan yang bagiku tidak asing lagi. Ruang kerja Sultan, tapi siapa wanita yang di pangkuan Sultan. Deg pyiaar! Dadaku tiba-tiba sesak. Dari balik pintu ruang kerjanya yang mungkin lupa di kunci, kami telah di suguhi pemandangan yang menjjikan. Diantara percaya dan tidak, yang jelas dadaku sesak dan sakit sekali. Beningku jatuh perlahan.

"Ayo kembali keruangan kita,". Diseretnya tanganku oleh Hawa.

Sampai di ruangan kerjaku Hawa memelukku kuat-kuat. Dan kami sudah menangis pilu. Lagi-lagi sepasang mata elang yang redup itu memandang dari balik jendela dengan seribu cerita, yang tersimpan rapi di hatinya. Dendy! Ya Dendy memang tau perselingkuhan Sultan dengan Devi cewek cantik dan sedikit manja pada setiap pria. Devi kelahiran Bandung mojang Priangan.
Dendy tidak berani mengatakannya pada Re Re atas perselingkuhan Sultan dengan Devi. Dendy tidak ingin wanita yang selama ini diam-diam di cintai terluka.
Bahkan saat Sultan berkencan dengan Devipun di luar jam kantor, dia tahu.

"Re Re, semoga kamu kuat," katanya dalam hati begitu lirih nyaris tak terdengar. Kemudian berlalu dari kedua wanita yang dilanda pilu, Re Re dan Hawa.

"Aku harus bicara sama dia, sekarang juga," kataku

"Aku ikut!" Hawa mengikuti langkah kaki Re Re.

Brak!
Betapa kagetnya Sultan dan Devi, sebab tak pernah Re Re sekasar itu membuka pintu karena biasanya mengetuk dulu.

"Batalkan pernikahan kita," kataku tegas

Hawa, Sultan dan Devi kaget!
"Re Re, apa-apaan ini, ada apa denganmu,".Tangan Sultan meraih pundakku, namun segera kutepis.

"Masih belum kamu dengar, kita batalkan pernikahan," sambil kusodorkan HP, kuperlihatkan foto mesra mereka berdua, saat Sultan mencumbu Devi sambil memangkunya.

"Kamu lihat kan, ini alasanku membatalkan pernikahan!" senggukku makin pecah

"Tidak! Kata Sultan

"Tunggu penjelasanku Re," Sultan menghiba.

"Percuma, aku sudah tau semuanya!" kutepis tangan Sultan. Aku dan Hawa akan kembali ke ruangan, tapi Sultan menghadang langkah kami

"Tunggu Re, aku jelaskan," rengek Sultan

"Tidak perlu!" teriak Devi

Kami bertiga kaget.
"Aku hamil!" katanya lagi.

Kami bertiga semakin tertampar atas pernyataan Devi. Dan lagi-lagi Dendy tahu semua kejadian itu. Dia ikut kaget saat tidak sengaja dia lewat di luar ruangan itu.

Plakk! Sultan menampar Devi.
"Cukup!" teriakku

"Dengar Sultan, kita putus dan pernikahan batal," kataku lagi mempertegas.

"Kita sudah menyebar undangan Re, dengar pen...,"

"Diam!"

"Batal, kau dengar!". Aku dan Hawa berlalu, kutinggalkan mereka berdua, Sultan dan Devi dalam pertengkaran hebat. Aku benar-benar sudah tidak perduli lagi. Aku hancur, aku pilu, aku kecewa.

Sebulan telah berlalu, namun kemarahanku, kesedihanku campur aduk dengan masalahku di rumah, sampai kini masih saja membelenggu. Orang tuaku kelabakan setengah mati setelah tahu aku mengambil keputusan membatalkan pernikahan. Bagaimana orang tuaku tidak marah karena mereka tidak mau menanggung malu atas semua undangan yang sudah terlanjur disebarkan.

Dalam keadaan super kalut dua hari ini aku tidur di tempat kos Hawa.
"Re, aku keluar sebentar ya, beli kue," kata Hawa

"Iya, aku akan duduk di teras samping, carilah aku di sana jika kamu sudah kembali," jawabku.

Kuratapi lukaku yang semakin perih, cinta yang kuberikan pada Sultan telah dikhianati. Apa artinya sumpah yang dia ucapkan di pulau itu. Lalu bagaimana aku harus menyelesaikan masalahku. Undangan pernikahan sudah terlanjur dibagikan.

" Ya Tuhaann," tangisku kembali pilu.

"Re, Re Re jangan menangis aku rasakan deritamu,"

Suara itu aku kenal banget, kudongakkan kepalaku, dalam sembab mataku, aku melihat Dendy berdiri di hadapanku. Dan, di raihnya kedua tanganku, di bawanya diriku dalam pelukannya. Kami menangis.

"Aku mencintaimu Re, sangat mencintaimu, aku tau semuanya, aku tau," ucapnya lirih.

Tangisku makin menjadi dan semua lara ini aku tumpahkan ke dada Dendy.

"Aku yang akan menikahimu esok, aku yang akan menggantikan kedudukan Sultan Re," katanya lagi.

Kutepis pelukannya, dan kupandang Dendy dengan tajam. Sedikit marah dan tidak percaya atas ucapan Dendy.

"Aku yang menyuruhnya datang ke rumahku Re, dan dengarkan dulu penjelasanku,". Tiba-tiba Hawa muncul dan kemudian bicara panjang lebar. Aku tertegun, tangisku kembali meledak.

"Iya, aku sangat mencintaimu lama sekali, sebelum ada event itu, karena kebodohanku, aku tidak berani bilang kepadamu Re," Dendy mempertegas cerita Hawa.

"Ijinkan Dendy menyelesaikan masalahmu, dan berikan kesempatan Dendy menyayangimu atas cintanya Re," Hawa memelukku dengan hiba. Tangisku, rasaku, pikiranku entahlah, yang jelas saat ini aku merasa nyaman dalam pelukan Hawa.

Hari pernikahan semakin dekat, tinggal menghitung bulan. Aku harus tentukan keputusan, sebelum ayah menjodohkan diriku dengan anak sahabatnya yang belum aku kenal sama sekali. Bertambah panik, pikiranku kian setres. Semua tugas kerjaku terbengkalai, belum lagi menghadapi nyeri, setiap kali kulewati ruang kerja Sultan saat menuju ke kantin. Sejak kejadian pertengkaran itu, aku dengar Sultan telah meminta berhenti, keluar dari pekerjaannya. Dia pergi entah kemana. Tak ada yang tau keberadaannya. Sultan menghilang begitu saja. Dia juga tidak menikahi Devi yang sedang hamil dan entah anak siapa yang telah dia kandung. Benar-benar semua kehidupan kami berubah dalam waktu sekejap.

"Re, kita makan siang yuk," Ah... lagi-lagi lelaki bermata elang itu, selalu memperhatikan diriku. Dendy memang tidak pernah lelah membuatku tersenyum.

"Ayolah, aku temani kamu selagi Hawa tidak masuk kerja,". Di tariknya tanganku pelan tapi pasti dan mau tidak mau aku mengikutinya lagian rasa laparku juga sudah meremas-remas perut.

"Bik, soto dua dan es jeruk manis dua yang satu hangat ya Bik," kata Dendy.

"Iya Den," jawab Bik Onah pemilik kantin.

"Re, aku serius, aku mencintaimu dan aku tahu kamu tentu masih belum bisa melupakan kejadian itu tapi ijinkan aku selalu menemani di saat kamu sedih, kumohon ijinkan aku," digenggamnya jemariku

Dendy terlalu baik, pantaskah dia sebagai pengganti Sultan, dimana luka dan perasaanku masih nyeri dan benci. Tetapi pernikahan serta tawaran ayah bagaikan bumerang.

"Den, kita pulang bareng ya, antar aku pulang nanti," kataku

"Alhamdulillah ya Allah, iya Re aku akan mengantarkan kamu pulang," kata Dendy begitu senangnya.

"Ini Sotonya Den, Ning, silahkan di makan," kata Bik Onah.

Kota Jakarta begitu panas, macet dan uuff! Mobil Dendy begitu pelan jalannya, bahkan nyaris seperti tidak berjalan. Lamat-lamat lagu SENANDUNG DOAnya Nur Afni Octavia mengalun sendu di mobil Dendy. Kami hanya bisa diam menikmati.

"Assalamualaikum warahmatullahi wbr, aku udah pulang," kataku mengucapkan salam setiap kali masuk rumah.

"Silahkan duduk Den, mau minum apa," kataku mempersilahkan duduk tanpa menunggu jawaban dari Dendy, aku langsung pergi.

"Waalaikum salam," jauh dari dalam rumah ayah menjawab salamku.

Aku masuk menemui ayah dan akan bikin minum untuk Dendy.
"Yah ada tamu yang ingin bertemu dengan ayah," kataku

"Tamu, ingin bertemu denganku?"
Ayah berlalu keruang tamu. Aku nyengir kedapur bikin teh. Entahlah, mengapa sesak di dadaku terasa ringan. Aaahh... Semoga!

Aku melihat Dendy begitu akrap dengan ayah, aku melihat betapa bahagianya mereka berdua. Aneh! Seperti kayak sudah kenal begitu.

"Hemm... asyik banget nih, ngomongin aku ya yah, kenalin ini Dendy temen kerja," kataku memperkenalkan Dendy pada Ayah dan mama.

"Dendy om,"

"Dendy Tante,"

"Iya," kata ayahku datar, dan mama hanya tersenyum.

"Silahkan di minum nak Dendy," Mama mempersilahkan.

"Ayah, mama boleh Re bicara,". Sedikit bergetar kuberanikan diri bicara sama ayah dan mama.

"Iya boleh, mau bicara apa kamu," jawab ayah.

Mama dan Dendy merasa tegang.

"Ayah, aku mohon ayah jangan marah ya, ijinkan Dendy sebagai pengganti Sultan untuk menikah denganku," kataku terbata-bata. Air mataku jatuh membasah.

Ayah, Mama dan Dendy terkejut, mereka enggak nyangka aku akan berani bicara begini. Mama langsung memelukku dan menangis.

"Alhamdulillah, jadi aku tidak susah-susah memaksamu nikah dengan anak sahabat ayah... ha ha ha,". Meledaklah tawa ayah.

Aku terhenyak, kaget dan penuh tanya. Mama makin erat memelukku.

"Tenangkan hatimu nak," ucap mama penuh kasih.

"Sayang, Dendy itu anak sahabat ayah, Dendy sangat mencintaimu, dan Dendy ingin menikahimu, ayah Dendy sudah bicara panjang lebar makanya aku ingin jodohin dirimu dengan anak sahabat ayah sebagai pengganti pecundang itu," kata ayah dengan gelak tawa riang.

Ya Allah, cerita apalagi ini. Engkau memang tidak ingin hamba-Mu yang bernama Re Re, berlarut-larut dalam penderitaan panjang. Kami semua benar-benar bahagia saat ini. Walau masih ada nyeri namun sudah ada secercah harapan menerangi jiwa Re Re.

Hari yang ditentukan telah berjalan cepat seperti rencana. Pernikahanku yang seharusnya dengan Sultan kini beralih dengan Dendy. Semua sahabatku terutama Hawa dan Rian sangat berseri. Mereka ikut merasakan bahagia yang sangat, di dalam kebahagiaan keluargaku. Sungguh pernikahan yang unik. Ada luka, ada bahagia.

"Lagi memandang apa seh, dari tadi aku lihat asik banget,". Di peluknya pinggangku oleh Dendy

"Eh, Den kok udah pulang, baru jam berapa ini," kataku sedikit kaget

Diciumnya rambutku, sedikit geli.
"Enggak ada kerjaan terus aku pulang saja, kangen pingin berduaan sama kamu di rumah baru kita," jawab Dendy makin menenggelamkan wajahnya di tengkuk istri tercintanya.

"Diiihhh...," gemesku manja.

Tanpa banyak bicara Dendy langsung menggendong ReRe masuk ke dalam rumah. Dan entahlah apa yang terjadi. Tentu sepasang merpati itu yang tahu. Mungkin mereka lagi asik mencetak anak-anak cinta di bukit surga.
Pulau cingkuak dalam kenangan Re Re, kini telah menjadi lukisan usang.
Dan jauh di bukit Cingkuak, lelaki tampan mengayam cinta pada lembar catatan dalam bentuk puisi dan sajak. Tak ada yang tau bila dia sang penyair itu Sultan Sastra. Dia memilih sepi dan sunyi sebagai istana penyesalannya. Dia tenggelamkan dirinya pada biduk prahara hati. Biarlah nama imaginya koncar seantero jagat raya. Karena dia menginginkan satu saja. Rere kekasihnya bisa membaca suara-suara jerit hatinya, lewat tulisan karyanya yang sudah banyak beredar di toko-toko buku . Cingkuak telah mengubur dirinya bersama sumpah dan kenangan itu.

Dan Re Re telah hidup bahagia bersama Dendy, setiap saat mereka memandang bukit Cingkuak, jauh di sana, pulau CINGKUAK di hiasi pelangi.

&&&&&&&&THE AND &&&&&&&

Cerpen
A Story Of My Life
CINGKUAK OH CINGKUAK
Karya : Retno Rengganis.
Cepu 1 Maret 2021.
( Dok 7-3-2019 ).


Catatan : Nama pemeran serta nama kota atau pulau hanya ilusi pengarang. Jika ada persamaan semata hanya cerita imagi.

Biodata :
RETNO RENGGANIS.


Wanita tomboy ini lahir di kota Blora 21 Desember 1968, lima bersaudara. Aktif sebagai aktivis, juga pengurus persilatan Merpati Putih Cabang Cepu. Suka menulis puisi sejak muda, karyanya termuat dalam antalogi : GUGUS WAKTU, ALIF LAM, 13 WANITA MENANAK SAJAK, MELIPAT KATA BERIBU MAKNA, OMBAK-OMBAK TEPI, RUMAH SERIBU JENDELA, 45 WANITA DALAM PUISI, SERIBU SISI NH DINI, dll. Aktif di sastra maya, menjadi Admin, pula.
















Cerpen - DIK, MASIHKAH KAU MENCINTAIKU Karya : Romy Sastra


 

   SINOPSIS cinta terjalin berlabuh di depan penghulu, kebahagiaan berumah-tangga adalah impian setiap insan yang mendambakannya. Dua tahun sudah membingkai noktah mengharungi samudra kehidupan, tiba-tiba perahu retak sebelum layaran melaju jauh sebagai ujian, serasa sakit bak menelan pil pahit, hidup segan mati tak mau.

Laraswati nama seorang istri dari suami bernama Firman.

Awal perkenalan Laras dengan Firman terjadi di sudut kota Jakarta. Laraswati wanita Jawa asal Yogyakarta, Firman lelaki berdarah Manado, mereka sama-sama merantau bertemu di kota Jakarta. Singkat cerita, cinta mereka terjalin, madu asmara tak terbendung tumpah bersama derai air mata, Laras cantik yang baru beranjak dewasa, sudah tergoda dengan glamournya kota, tergerus pada godaan rayuan lelaki Firman. Firman adalah lelaki sudah cukup usia untuk menikah, dia memang menunda niat untuk menikah pada usia muda. Alasannya memang masuk akal, belum mapan berumah tangga. Firman lelaki gagal dengan doktrin kematangan hidup, sehari-harinya ia penjudi, suka wanita-wanita malam. Kala malam tiba, Firman berfantasi asyik dengan segelas wisky di night club ke night club yang lain pada malam yang lainnya bersama kawan-kawan. Pekerjaan tak menentu, asal dapat duit buat dugem ia sudah senang.

****
   Cinta mereka tak terbendung, Laras tiba-tiba sakit, sering mengeluh sakit perut dan muntah-muntah kecil, membuat Firman iba.

"Dik laras...?" sahut Firman.

"Kita periksa kesehatanmu ke dokter yuk?!". Dengan memelas, Laras menyanggupi ajakkan Firman kekasihnya.

"Ayolah bang, aku dah gak tahan, kepalaku pusing perutku mual-mual saja ini, rasanya badanku lemas banget, pemandanganku juga terasa gelap." ajak Laras tentang keluhannya pada Firman.

Laras akhirnya dibawa ke klinik terdekat berobat, hasil konsultasi dengan dokter jaga, laras dinyatakan hamil dua bulan oleh dokter, spontan saja Laras terkejut.

"Dik, setelah pemeriksaan saya dan tes kehamilan, kamu positif hamil sudah dua bulan jalan." Dokter memberikan keterangannya.

"Aa... apa dok? Aku hamil?" Laras kaget tiba-tiba.

"Iya dik, kamu hamil sudah dua bulan jalan." jawab dokter kembali meyakinkan Laras.

Firman pun tak kalah kagetnya, dengan tepuk jidat, "alamak...."

Lepas dari klinik, Firman dan Laras pulang ke kostnya Laras. Laras dengan tatapan meyakinkan pada Firman bertanya;

"Abang... gimana ini kelanjutannya dengan perutku ini, Bang?"

Firman tak lantas menjawab pertanyaan Laras kekasihnya itu. Firman hanya diam tertunduk di sudut ruang dengan seribu onak di kepalanya. Sedangkan jawaban dari Firman tak kunjung didapatkan Laras.

Laras spontan menangis pilu, memikul tanya karena ia sudah berbadan dua. Tiba-tiba Firman bangkit memeluk Laras dengan belaian kasih sayang.

"Dik... sabar ya, kita menikah segera di Jakarta ini. Abang akan cari duit dulu, dan setelah itu, kita menikah ke pak ustadz kenalan abang. sewaktu dulu, abang pernah hantarkan kawan menikah sama pak ustadz itu, ia tidak jauh dari kost kita ini." Firman membujuk Laras dalam pelukan.

"Abang... laras bertanya ni, aku sendiri di Jakarta ini bang, yang ada hanya abang seorang yang kuharapkan, orang tuaku jauh di Yogyakarta, apa tak sebaiknya kita kasih tahu orang tuaku dulu?" pinta Laras.

"Gak usah dik" jawab Firman,

"Lagian ini mendadak, dan abang pun gak punya duit banyak untuk membiayai keluarga ikut campur tentang pernikahan kita nanti." Firman menyerah dengan kondisinya pada Laras.

****
   Tiba masanya, jadilah mereka menikah di bawah tangan dengan pak ustadz. Singkat cerita, Laras melahirkan anak pertamanya seorang bayi yang cantik.

Hari berlalu, bulan dan tahun berganti. Firman si suami yang dulu sangat mencintai Laras. Ia kini Firman berubah sikapnya menjadi kasar, suka main tangan dan pemabuk, serta pemalas. Firman kembali ke dunia masa remajanya dulu yang liar membuat Laras semakin terhimpit lara dan derita, hingga perkawinannya dengan Firman tak sanggup ia jalani lagi. Anak mereka sudah berusia satu tahun, baru bisa berdiri jatuh bangun, dan Firman sangat menyayangi putri cantiknya itu.

Pada suatu ketika, terjadi pertengkaran hebat di antara mereka berdua. Muka dan mata Laras membiru kena hantaman Firman, KDRT sudah seringkali dilakukan Firman terhadap Laras istrinya.

****
   Laras dengan penuh penyesalan bertanya dalam hati. Ya Allah kenapa derita ini menimpaku? Hingga akhirnya Laras memutuskan untuk kabur dari kostnya, kebetulan siang itu suaminya tak ada di rumah. Laras membungkus pakaian, Laras dan putri cantiknya, membawa duit seadanya menuju stasiun kereta api Senen menuju kota kelahirannya Yogyakarta. Laras memesan tiket ke kasir jaga, dan dia dapatkan tiket kereta api ke Yogya jam 16,30, tiba Jam 5,00 WIB pagi di stasiun Lempuyangan kota Yogyakarta yang tertera di tiket itu.

Tidak menunggu berapa lama kereta malam pun tiba di stasiun Senen, Laras berdua dengan putri kecil nan cantik, menjinjing tas kecil naik ke kereta api malam dengan deraian air mata meninggalkan kota Jakarta. Kota yang menyimpan seribu satu kenangan manis dan pahit selama ia merantau di kota ini. Menempuh malam dalam lara dan luka yang berkecamuk di hati Laras bersama anak di pangkuan terpisah dari ayahnya. Hingga waktunya pagi menyapa sampailah kereta ke destinasi di stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

Kembali cerita pada Firman,
Firman yang telah kehilangan anak istri kalang kabut, dan bertanya pada tetangga, semua tetangga menjawab tak tahu. Hari-hari sepi di kamar dilalui Firman dengan setumpuk penyesalan. Bertanya dalam hati, ingin ia kembali ke kota asalnya. Sedangkan Manado jauh, uang pun tak punya, kawan malam dan night club telah ia tinggalkan semua. Firman kini berubah dan tersadar dalam sepi, tiba-tiba hidayah masuk ke sanubarinya. Firman yang penuh penyesalan dengan segala perbuatannya selama ini yang ia perbuat kepada istri tersayangnya Laraswati.

Berbulan sudah Firman dilanda rindu akan anak dan istri. Pada suatu malam tiba-tiba, suara handphone berdering di samping tidurnya Firman. Dengan suara perlahan, serasa sayup-sayup jauh suara itu memanggil.

''Assalamualaikum abang Firman? Apakah ini abang Firman, ya?" Spontan saja Firman kaget dadanya berdebar-debar serasa ia kenal dengan suara itu.

"Ii... ii... iyaa, aku Firman, siapa ini ya?" tanya Firman.

"Aku Laras abang, aku sekarang ada di kampung, di Yogyakarta," kata Laras lewat suara handphonenya.

"Ooo... Laras, Laras sayang, gimana keadaan putri kita? Apa putri kita sehat-sehat saja, kan?" tanya Firman dengan rasa penasaran.

"Alhamdulillah abang, kami sehat saja di kampung." jawab Laras kembali.

Laras wanita yang santun dan cantik, pandai menyesuaikan suasana dalam percakapan lewat udara dengan suaminya, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Padahal dalam hatinya, hidup Laras begitu pilu dirasakan bersama Firman selama ini, dan nekat ia kabur dari Jakarta ke kota kelahirannya Yogyakarta.

Laras dengan penuh keyakinan mengatakan niatnya ingin jadi TKW lewat suara handphone

"Abang... Laras mau jadi TKW ke Hongkong, putri kita kutitipkan sama mbahnya di kampung. Laras mungkin bulan depan sudah berada di Hongkong abang." Laras berpesan.

Handphone segera dimatikan sama Laras

Lalu, Firman segera balik menghubungi Laras dengan rasa penasaran dan rindu. Handphone itu tak kunjung diangkat sama Laras. Sudah tiga kali Firman menghubungi Laras tak juga ada tanggapan. Di nada handphone ke empat kalinya, barulah Laras menjawab panggilan Firman karena tak tega.

"Laras... dengarkan abang dulu! Izinkan abang berbicara sekejap!"

"Ya... apa abang, berbicaralah!"

"Kenapa kau tinggalkan abang dik? Abang sepi di kamar ini, di Jakarta ini." tanya Firman.

"Loh, bukankah abang yang selalu tinggalkan Laras di Jakarta. Sudah puaskah abang dengan pergaulannya di sana, dan kurang puaskah abang menzalimiku hingga wajahku membiru, sampai kini masih ada bekasnya abang?! Bekas luka di hatiku masih sakit, Bang." bentak Laras sedikit meninggi.

"Dik Laras... maafkan abang dik! Abang mengaku salah selama ini, dan abang akan mengubah sifat abang menjadi suami yang baik, abang janji Laras."

Dalam suasana suara handphone tengah malam di daun telinga. Perdebatan emosi, dendam, rindu bercampur menjadi satu.

"Mmm... cukup sudah abang sandiwara gombalmu merayuku," hardik Laras tidak percaya kata-kata Firman suaminya.

"Aku tak banyak waktu menelponmu abang, hari sudah larut malam, putri tidur, nanti dia terbangun."

"Laras hanya mohon pamit sama abang, dalam jedah lima tahun ke depan, Laras jadi TKW ke Hongkong."

"Jangan Laras... jangan!!!" pinta Firman dengan suara serak-serak basah menyimpan duka dan kecewa dalam konflik mahligai rumah tangga. Spontan saja, mengalir air mata mereka masing-masing di ujung handphone.

"Laras... dengarkan suara abang ini! Abang sudah berubah dik, abang kini sudah insaf, abang ingin hidup bersamamu dan hidup bersama anak kita. Coba pikirkan dik, abang di Jakarta pun sebatang kara, mau pulang ke Manado tak mungkin. Abang ingin ke Yogyakarta hidup damai bersamamu dik Laras."

"Jaa... jangan abang! Aku sudah memesan tiket pesawat untuk berangkat bersama bu-deku bulan depan, pasport pun sudah ada.

Carilah penggantiku abang!" sergah Laras.

"Tidak dik Laras! Abang akan ke Yogya esok pagi, menemuimu dan anak kita."

"Jangan abang... sekali lagi jangan abang pulang ke Yogya!"

"Dik Laras sayangku, abang bertanya pada hati kecilmu dik. Masihkah kau mencintaiku? Sekiranya masih ada rasa cintamu untukku, urungkan niatmu pergi ke Hongkong!"

Dengan linangan air mata mereka berdua, bercakap-cakap dalam kesunyian malam, hati Laras akhirnya luluh menerima Firman kembali.

Dengan nada suara sesungukkan Laras dan Firman saling maaf memaafkan. Akhirnya Firman esok pagi langsung berangkat ke Yogyakarta menemui anak dan istri tercinta.
Laras pun mengurungkan niatnya jadi TKW ke Hongkong, dia batalkan semua rencana untuk mengubah nasib dalam perantauan lima tahun ke depan.

Sampailah Firman di kampung di Yogyakarta, mereka berdua saling berangkulan, dan Firman kini hidup bahagia bersama Laras dengan keluarga kecilnya di salah satu sudut kota Yogyakarta. Yogyakarta kota budaya nan ramah, dan kota pendidikan.

-----END-----

Cerpen
DIK, MASIHKAH KAU MENCINTAIKU
Karya : Romy Sastra
Jakarta, 16 Februari 2020














Cerpen - ANAK DURHAKA Oleh: Siamir Marulafau


 

   "MENGAPA
kau mengomel saja Irfan?"

"Aku sungguh bosan melihat tingkah lakumu ini", kata Udin.

"Jika kau tak senang tinggal di rumah ini, iya keluar saja"

Udin pun berterus terang dan tak mau basa basi karena dia salah seorang anak Pak Budiman di desa ini. Udin selalu menasehati adiknya yang bungsu ini. Bapak mereka ini sudah sakit- sakitan, dan tak bekerja lagi. Sekitar 2 tahun yang lalu, dia tak lagi bekerja di kantor Dinas Pajak dan kemungkinan Ia sudah pensiun.
Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu. Rupanya seorang Ibu yang sudah berusia lanjut. Dalam pikiranku Ibu ini sekitar 58 tahun. Dia baru saja pulang belanja dari pajak. Ibu Aminah ini memang ramah tapi gayanya kayak orang kaya. Sementara suaminya sakit lumpuh, dan tak bisa jalan.
Aku pikir, berat juga Pak Budiman ini mengurus rumah tangga yang punya anak tiga. Setelah berkunjung ke rumah mereka itu selama satu jam, saya beralih mampir ke rumah tetangga mereka sebelah. Cerita ke cerita, terdengar juga bahwa adik perempuan Udin sedang belajar di salah satu Universitas di Jakarta. Gadis yang manis ini sering dipanggil Yunita. Entah mengapa pula aku kebetulan pergi ke Jakarta dan bertemu dengan Yunita.

"Maaf, iya. Jika tak salah kau bernama Yunita, adiknya Udin?", kata saya.

"Lantas, Ia mengatakan dari mana anda tahu namaku, Bang?"

"Memang, aku Yunita. Apa yang bisa aku bantu, Bang?"

Dengan perasaan gugup dengan hati terpesona,aku terus terang bahwa aku ini adalah teman Udin. Kami sudah berteman sekitar dua tahun dari sekarang.

"Yunita, aku sudah berkunjung ke rumah kalian sekitar tiga minggu yang lalu, dan Udin marah-marah sama abangmu, Irfan. Irfan itu nampaknya selalu tak perduli dengan omongan orang tua, iya Yun. Pada waktu itu aku melihat dan mendengar Irfan membentak Bapak kalian karena Ia ingin dibelikan sebuah telefon genggam merek Oppo dan Bapakmu bilang, iya sabar dulu, Irfan. Bapak belum ada uang. Kemudian, Ibumu yang baru pulang belanja saja pun dibentaknya dengan kalimat yang tak enak didengar."

"Oh, memang Irfan itu keterlaluan, Bang , aku saja pun tak menerima jika tingkah lakunya seperti demikian, dan memang Ia anak bandel dan selalu melawan pada orang tua", kata Yunita.

" Waduh, tahu kamu,Yun. Tak boleh lho membentak orang tua. Orang tua kita itu harus dihormati. Mereka itulah yang melahirkan kita, dan kita bisa durhaka dan tak masuk surga."

" Aku ,iya Yun tak pernah melawan sama orang tua, aku takut durhaka. Siapa pun yang durhaka pada orang tua tak akan disenangi oleh Allah Swt.",Kataku pada Yunita.

"Iya,betul Bang, dan aku pun tak pernah melawan pada orang tua,dan entah mengapa Irfan ini selalu berbuat demikian pada orang tua. Dia tak kasihan melihat orang tua kami yang dalam keadaan sakit-sakit begitu".

"Yun, sudah berapa lama Bpk kalian sakit kayak gitu?", kataku pada Yunita.

"Sakitnya sudah hampir dua tahun, Bang. Sebaik Bapak kami pensiun , langsung Ia lumpuh, dan mungkin karena dia sudah tak kerja lagi di kantor Pajak,Bang."

"Oh,kasihan, Bapak,Yun. Aku pun tak sampai hati melihat keadaan Bapak kalian sewaktu berkunjung di rumah kalian."

"Memang betul, Yun. Jika kita bekerja di kantor Pajak, dan apalagi posisi kita di bagian keuangan, iya pendapatan itu lumayan, Yun. Aku pun bekerja di kantor Pajak sekarang tapi bukan di bagian keuangan"

"Mendengar cakap Nasrul ini, Yunita pun termenung sejenak."

"Nasrul pun tidak mau diam, dan menyapa Yunita lagi dengan suara yang lemah lembut".

"Yun, mengapa kau termenung?", kataku.

"Bang, aku ingin menyelesaikan kuliahku secepatnya, dan kepingin seperti Abang".

"Sudahlah, cepat-cepatlah selesaikan kuliahnya, dan akan bisa dibantu kemudian."

-----END-----

Cerpen
ANAK DURHAKA
Oleh: Siamir Marulafau

Cermin - HANYA DIRIMU Karya :Tati Kartini


 

   SEJAK tadi malam aku merasakan ngantuk yang sangat

"Yaudah ga apa, kamu tidur gih.Nanti jam tiga kita bangun, shalat tahajud." ucap Dika di ujung telpon.

"Kamu ngantuk juga ya? Cape di kantor?" jawabku

"Gak, aku mau nonton tv dulu sebentar, boleh ya?" Kulirik jam menunjukkan pukul 21.30.

"Ok, sebentar aja ya sayang, jangan begadang jaga kesehatan, ya" Aku menjawabnya dengan mata tertutup, ngantuk.

Begitulah hari-hariku bersama Dika calon suamiku. Tak biasa mengumbar rasa, walau cinta ini begitu dalamnya. Kami selalu menjaga etika aturan agama, takut dosa.

Pernah di satu hari.

"Sayang, apa gak lebih baik kita cepat nikah saja?" ujarku

"Maunya sih begitu, tapi kan kuliahku baru selesai tahun depan Yang." Dia berkata ragu antara takut dan mau.

Takut dosa mau enak heee,,, Istiqomah memang tak mudah, betapapun susah hati takan berubah. Aku telah memilihmu karena Allah. Kan tetap menunggumu sampai akhir waktuku, untuk hidup berbahagia bersamamu. Takkan ada pria selain mu di hatiku, sayangku. Percayalah ….

~End

#Cermin (Cerita Mini)
Hanya Dirimu
By : Tati Kartini
Jakarta, 29 Desember 2019

TATI KARTINI




Cermin - MUSIM MANGGA Karya : Tati Kartini/Ide Cerita : Kean Bozzo


 

   SUATU hari menjelang libur akhir tahun.

"Sayang, mumpung libur kita jalan-jalan yuuk. " ucap suamiku, sambil merengkuhku mesra.

"Kita mau jalan kemana sayang?" aku bertanya dengan manja, sambil menikmati hangat pelukkannya.

Hmmm ... Musim hujan. Alhamdulillah, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Allah mengirimmu jadi selimut halalku.

"Hayuuk sayangku, cepatlah berkemas, besok kita berangkat pagi-pagi."

*****

Keesokan hari setelah shalat shubuh.

"Sudah siap sayang?" dengan tiba-tiba suamiku masuk ke kamar.

"Ups … stop." aku menempelkan telunjuk ke bibirku.

"kenapa, gak boleh?"

"Bahaya, bisa-bisa kita gak jadi pergi." Kudorong perlahan tubuhnya hingga terjerembab ke atas tempat tidur.

"Ok sudah siap, yuuuk kita berangkat." kataku seraya mengulurkan tangan membantu dia bangun.

"Oke …." Suamiku menjawab sumringah.

Dia memang luar biasa selalu saja membuatku kagum tiada habisnya.

*****

Sampailah kami di sebuah dusun, di daerah Majalengka. Sepanjang jalan kecil yang dilewati, banyak sekali ibu-ibu yang sedang berkumpul. Kami berusaha sopan memberikan salam dan mohon izin melewati mereka.

"Assalamu'alaikum, permisi saya numpang lewat."

Mereka serempak menjawab, " Mangga … "

Beberapa kali permisi melewati kerumunan penduduk, mendapat jawaban yang sama. "Mangga … "

Akhirnya aku mulai ngehalu, ngebayangin pasti ini lagi musim mangga.

"Yank … cepetan, aku pengen."

Dan dijawab sumringah oleh suamiku, "Sabar lah, tadi kenapa aku malah kamu dorong."

"Eiiitt, apaan ni?" kujawab seraya mencubit pinggangnya.

"Aduh!, kamu kenapa, mau apa?"

"Aku gak tahan ni jadi pengen mangga, mangga disini terkenal manisnya." aku berkata sambil mengelus perutku yang mulai terlihat menonjol.

"Hmmm iya, tahu … pasti kamu mau bilang anakku yang minta kan?"

Aku hanya tersenyum menggelayut manja. Alhamdulillah ya Allah, kau kirim dia untukku. Suami yang saleh dan baik hati.

~End

#Cermin (Cerita Mini)
MUSIM MANGGA
Karya : Tati Kartini
Ide Cerita : Kean Bozzo
Jakarta, 25 Desember 2019

TATI KARTINI


Cermin - SI HITAM Karya : Tati Kartini


 

   SENJA menjelang adzan maghrib tiba, dua anak si hitam tetiba keluar dari gudang kamarnya.

"Sssttt, ayo masuk lagi tugu mama kamu akan pulang sebentar lagi."ujarku sambil kembali memasukkan keduanya ke dalam kamarnya.

Terdengar adzan maghrib berkumandang aku siap di atas sajadah untuk melaksanakan perintah shalat maghrib. Sempat kulihat dari celah jendela kamarku kedua anak si hitam sudah ada di halaman, santai berdua seakan tengah menikmati kebebasan. Memang mereka baru berumur seminggu, ini hari pertama mereka bisa keluar rumah.

Dan hari pun mulai gelap. 'Sudahlah biar mereka bahagia sejenak, mereka terlihat senang, santai di halaman' begitu bisik hatiku.

Aku pun melaksanakan shalat dengan tenang. Ditengah doaku, tetiba ku dengar isakan perlahan di depan pintu kamarku yang menghadap ke halaman.
Kubuka pintu untuk memastikan. Aku terkejut melihat anakku sedang berjongkok sambil terisak.

"Ada apa nak? Innalillillahi wainnaillaihi rojiun, kenapa si hitam?."

"Keserempet mah, aku gak lihat ada si hitam." Anakku terus terisak sambil mengelus-elus kepala si hitam.

"Sudah nak, lebih baik istirahat dulu kamu masih capek. " Aku menenangkannya, dia bergeming.

Dia beranjak untuk menggali kuburnya saat itu juga, isakannya terus terdengar.
Si hitam memang kucing kesayangannya, induknya berwarna hitam legam namun dia kucing yang baik hati dan tidak nakal. Begitupun kedua anaknya, berwarna hitam legam persis seperti induknya. Kami semua menyayangi si hitam. Kedua anaknya di kubur kan tanpa setahu induknya, yang sedang pergi keluar. Entah bagaimana caranya nanti aku harus menjelaskan pada induknya, kalau kedua anaknya sudah meninggal.

'Maafkan aku ya hitam, tidak bisa membantu menjaga anakmu' Aku bergumam sendiri, air mataku pun bergulir.

~End

#Cermin (Cerita Mini)
SI HITAM
By : Tati Kartini
Jakarta, 23 Desember 2019

TATI KARTINI

Cermin - SI GANTENG Karya : Tati Kartini



   AKU punya tetangga benar-benar gak punya perasaan. Tiap hari teriakan di depan rumah.

"Cantiiikkkk!!!"

Sekali ini, saking senengnya aku cepat-cepat keluar sambil senyum di kulum.

"iya, ada apa bu?" kataku sambil tersenyum ramah.

"Maaf mengganggu. Saya lagi cari si cantik kucing saya yang berwarna indah kuning keemasan, warna yang langka lho." jawabnya, sumringah … kelihatan bangga.

"Oh … " Aku bergumam

'kirain aku yang di panggil' kataku dalam hati.

Tiba-tiba ….

"Tante cari kucing ini ya?" Anakku menunjukkan kucing yang sedang dipeluknya

"Oh, iya nak … Terima kasih." sambil mengambil kucingnya dari pelukkan Donni, anakku.

"Tunggu sebentar!" aku bicara agak keras

"Oh ya, ada apa lagi ya?"

"Maaf tapi kalung yang di leher kucing tolong dilepaskan dulu." kataku kepada pemilik kucing itu.

"Ok cantik, yuk lepaskan kalungnya, nanti kita beli yang lebih indah ya, kalung ini sudah ketinggalan modenya." bisiknya kepada kucing dan terus berlalu.

'Hadeuuuh, tetangga oh tetangga, dimanakah perasaanmu? itu kan kalungku' bisik hatiku.

"Yuuukk ... Donni masuk, besok lagi jangan maen dengan kucing itu ya."ujarku kepada Donni.

"Tapi Bund, aku mau kucing." Donni merengek manja.

"Iya, nanti kita beli kucing yang lebih cantik ya." Aku menghiburnya

"Tapi bun kalo beli yang lebih cantik nanti panggilannya apa dong?" Tanya Donni.

"Oh iya, kucing tante yang tadi namanya si cantik ya?, yaudah nanti kita beli kucing ganteng aja ya." Aku membujuk tak kehilangan akal.

'Sudah kalah cantik sama kucing masa masih harus kalah akal sama Donni, heee' Bisik hatiku sambil melenggang masuk kembali kedalam rumah seraya menggandeng Donni yang masih cemberut.

~End

#Cermin (Cerita Mini)
SI GANTENG
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 22 Desember 2019

TATI KARTINI

Cermin – True Story SELAMAT JALAN ANAKKU Karya : Tati Kartini


 

   SUDAH sejak semalam dadaku terasa sakit, menjelang pagi aku berjalan perlahan menuju pintu rumah anakku yang bersebelahan dengan rumahku.

Beberapa kali ku ketuk masih belum juga dibuka. Mungkin sedang shalat subuh kata hatiku. Di ketukkan terakhir barulah pintu terbuka, aku bersandar pada tembok dinding rumah, menahan sakit.

"Kenapa Mah?" anakku menyapa dengan wajah terkejut.

"Tolong antar ke dokter, dadaku sakit sekali."

*****

   Kenangan itu selalu datang di setiap kesendirianku. Tak ada lagi yang menyapaku, tak ada lagi tempat berbagi suka dan dukaku. Anakku telah pergi untuk selamanya, pergi mendahuluiku yang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Kini, muram adalah hari-hariku, aku merasakannya sendirian. Di rumah ini terlalu banyak kenangan, sehingga tak mampu lagi aku bertahan, tapi aku harus kemana? Disetiap hariku yang ada hanya tentang kamu, anakku. Kau yang selalu peduli kepadaku.

*****

   Beberapa hari sebelum kepergianmu, kau masih sempat mencarikan obat untukku.

"Mah, di jalan hampir saja aku terjatuh, kepalaku pusing sekali."

Terkejut aku mendengarnya.
"Kamu kenapa nak, sakit ya? Berobat yuk, ke dokter." jawabku.

"Tak usah Mah, biarlah nanti insya Allah sembuh, aku mau istirahat dulu sebentar."
Anakku menjawab, terlihat wajahnya sedikit pucat.

"Istirahatlah, nanti mamah temani."

"Aku tak apa-apa Mah, tenanglah." Anakku berkata meyakinkan dengan seulas senyuman tersungging di sudut bibirnya.

Anakku memang peramah, tak pernah memperlihat kan keluh kesah di wajahnya.
Senyuman abadi, yang kau bawa pergi untuk selamanya. Berbahagialah nak, tunggulah aku. Apalah arti hidupku tanpamu . Itulah senyuman terakhirmu yang kau beri untukku. Dengan menahan air mata ku bisikkan kata terakhirku.

"Pergilah nak aku ridho"

Ridhollah fi ridhol walidain. Terimalah anakku disisimu ya Rabb,masukkan ke dalam surgaMu. Aamiin Allahumma Aamiin.

End

Cermin (Cerita Mini)
TrueStory
SELAMAT JALAN ANAKKU
By : Tati Kartini
Jakarta, 25 Desember 2019

TATI KARTINI

Cerpen - NENEKKU SAYANG Karya : Tati Kartini


 

   NENEKKU cantik dan baik hati, bersyukur Allah swt memberi aku nenek yang luar biasa. Walau ayah ibuku sudah tiada, aku tidak kekurangan kasih sayang berkat memiliki nenek yang penyayang.

Aku tidak sendirian di rumah nenek ada tiga cucu nenek yang lain, putra putrinya paman dan bibiku. Menambah seru, heboh di dalam rumah hingga tak perlu bermain mencari kawan lain sepulang sekolah. Kami berempat sangat kompak berbagi tugas membantu nenek yang mulai tua dan lemah. Nenekku pendiam jarang berbicara tapi selalu tersenyum ramah kepada semua cucunya. Setiap hari libur sekolah kami berbagi tugas membersihkan rumah dan membantu memasak menyiapkan hidangan makan siang. Budi, Soleh dan Tia menyapu, mengepel lantai, membereskan rumah. Aku biasa membantu nenek memasak di dapur.

Satu hari menjelang tidur nenek memasuki kamar kami.

"Anak-anak besok pagi kalian bebas tugas beres-beres rumah, kita bangun pagi menyiapkan makan siang bersama, setelahnya kita berangkat ke sawah untuk melihat panen padi milik kita."

Serempak kami berteriak gembira

"Horee! Asiiik, besok kita akan makan di saung nenek."

"Cepat tidur anak-anak agar besok bisa bangun lebih pagi.Jangan lupa baca doa tidur, doakan juga ayah ibumu."

"Iya Nek, terimakasih nenek sangat baik." Serempak kami menjawab.

"Aku akan doakan Nenek juga, semoga Nenek selalu sehat dan panjang umur." ujarku.

"Amin!" Semua mengaminkan.

Malam itu kami tidur dengan rasa sangat bahagia, terbayang keindahan padi di sawah yang sedang menguning.

Masyaallah la quwwata illa billah. Kami bersyukur dan merasakan kebahagiaan yang sempurna walau tanpa ayah bunda.

*****

   Pagi-pagi sekali kami bergegas mandi, semua bersiap untuk melaksana kan shalat subuh berjemaah di mushola milik nenek yang terletak bersebelahan dengan rumah. Keluarga dekat semua berkumpul untuk shalat berjemaah.
Mereka adalah adik-adik nenek, nenekku anak sulung.

Selesai shalat subuh Nenek berpesan kepada adik-adiknya.

"Cepatlah kembali ke rumah masing-masing, jangan lupa pagi ini kita akan memanen padi di sawah, agar bisa bersama sama memotong padi."

"Baiklah kak, assalamu'alaikum."

Paman dan bibiku bersalaman mencium punggung tangan nenek, begitupun kami semua berebut mencium punggung tangan Nenek.

*****

   Sesampainya di sawah, kami hanya bermain, membuat terompet dari batang padi.

"Teeetttt, teeett." Riuh bunyi terompet bersahutan. Nenek memandangi kami, tersenyum bahagia.

"Anak-anak kalau kalian lapar boleh makan duluan, nanti Nenek bareng dengan paman dan bibi."

Tanpa menunggu lama kami berebutan mengambil piring.

"Eiiit, cuci tangan dulu!" Nenekku mengingatkan sambil tersenyum mengacungkan telunjuknya.

"Baiklah Nek, maafkan kami hampir lupa cuci tangan." Kami serempak menjawab, mulai bergantian mencuci tangan di pancuran pinggiran sawah.
Airnya sangat bening dan sejuk.
Alam di kaki bukit ini memang sangat indah, aku sangat mencintainya.

Pernah beberapa kali Nenekku mengajak berlibur ke Kota, walau sangat ramai dan banyak hiburan di kota tapi aku lebih mencintai desaku yang indah dan subur menghijau.

Tak berapa lama selesai kami mencuci tangan, semua saudara berkumpul untuk turut makan siang bersama. Semua terlihat puas dan bahagia, makan siang yang nikmat, pemandangan yang indah dan hasil panen padi melimpah. Alhamdulillah kami sangat bahagia memiliki Nenek yang cantik dan sholehah. Betapapun keriput terlihat banyak di wajahnya, bagi kami Nenekku wanita tercantik yang mengagumkan.

Nenekku kini tiada, Semoga Allah swt menempatkan di surga. Aamiin

End
Cerpen
NENEKKU SAYANG
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 2 Januari 2020

TATI KARTINI



Cerpen – AMANAH Karya : Tsurayya Tanjung


 

   KEHILANGAN
seorang anak adalah kedukaan besar bagi sosok orang tua. Terutama, jika berpulang sang buah hati, terlalu dini. Kehendak Tuhan tidak mampu terelak, jika qodarnya telah sampai.

'Selamat jalan, Nak, ayah akan selalu mendoakanmu. Tunggulah ayah dan ibu di tempat terbaik.' Menatap istriku yang masih tergolek lemah, membuat hati ini remuk redam. Perih. Kehilangan putra kami untuk kedua kalinya, meluluh lantakkan Dena. Belum lagi hilang bekas luka, kembali cedera di tempat yang sama.

"Sayang ... bagaimana kondisimu?” tanyaku pada Dena, sambil membelai pucuk kepalanya. Berusaha menunjukkan sikap tenang sedemikian rupa di depan Dena, meski sesungguhnya hati pilu, Allah yang tahu seberapa besar dukaku.

"Ikhlaskan ... kanda tahu ini berat, tapi kita harus mampu, itu akan membuat jiwa putra kita tenang. Ayo pakai hijabmu, Sayang, tamu takziah sudah banyak yang datang! Atau, Dinda ingin di kamar saja?”

Dena bergeming, tidak bereaksi, entah dia mendengar ucapanku, atau tidak. Binar cahaya Dena redup, membuat hati ini semakin sakit melihatnya. Aku mengazzamkan diri harus mampu tegar untuk Dena, untuk kami.

"Mbok Nah, di rumah saja ya, temani nyonya! Tolong sediakan makan juga. Bujukin Dena untuk makan ya, Mbok. Saya khawatir maghnya kambuh nanti.”

"Ya, Tuan Danang, mbok juga ndak tenang jika meninggalkan nyonya sendiri di rumah saja. InsyaAllah saya akan coba bujuk nyonya makan, Tuan."

*****

   Tuntas sudah semua prosesi pemakaman. Bocah cilik kami, tiada dari pandangan kini. Tidak bisa aku gendong timang lagi. Dia tidak akan pernah tersentuh kini. Hanya kenangan yang terpatri di hati. Sengaja aku meminta Dena tinggal di rumah, tidak menghadiri proses pemakaman Elang putra kami. Tentu ini berat, tapi itu yang terbaik. Dena pun tidak menolak, hanya menjawab dengan anggukan, dalam kepasrahan. Tampak dia mulai memahami, bahwa meratap itu tidak diperbolehkan. Kajian-kajian ilmu yang Dena datangi selama dua tahun ini. Ternyata mampu membawa diri Dena pada kepribadian yang lebih baik. Sepeninggal putra pertama kami, tiga tahun yang lalu. Dena cukup intens mengisi aktivitas hariannya dengan menghandiri kajian majelis ilmu. Kiranya dengan memperdalam ilmu agama, membuat dia tampak lebih tegar. Menghadapi musibah kehilangan Elang kali ini, tampak lebih tenang, semoga jiwanya ikhlas, menghadapi ujian bertubi ini. Tapi aku tahu dibalik ketegarannya itu, luka lebam hati Dena belum mampu terurai. Adalah tanggung jawabku, untuk mengembangkan kembali senyum di bibir Dena.

Hari berganti minggu, minggu beranjak menulusuri bulan baru. Dua purnama sudah, kepergian Elang. Dena mulai jarang menangis, tapi aku belum mampu mengembangkan tawa di bibir Dena.

Kudekati Dena yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang.

“Assalamualaikum, Cantik, lagi apa nih? Bagaimana harimu?” Aku tepuk puncak kepalanya.

“Eh, Kanda sudah pulang? Maaf dinda tidak dengar, Kanda datang.” Meraih tanganku, “Kanda mau makan sekarang?”

“Nanti saja, Sayang, kanda mau mandi dulu,” ucapku sambil memberi senyum terbaik.

“Baiklah, Kanda, oh ya dinda ke dapur dulu sebentar ya, mau buat kopi.” Dena melangkah keluar kamar.

“Assiiik, biar on begadang ya, hehehe,” selorohku.

“Haaaah, memang ngapain ada acara kah hari ini, Kanda? Ah, dinda tahu, Kanda mau ajak keluar ya malam ini?” tanya Dena. Langkahnya terhenti di ambang pintu lalu menoleh kepadaku.

“Ada dech ... hehehe, gih sana buat kopi, jangan pakai garam ya, ups, hehehe.”

“Siaaap, maafkan dinda ya, Kanda, tempo hari dinda lalai, malah buat kopi asin hehehe,” ujarnya, sambil menepuk kening. Lucu.

“Tak apa, Sayang, buatanmu meski asin pun jadi terasa manis.”

“Akh, gombal ....” Wajah Dena tampak tersipu. Merah merona, manis sekali, pemandangan menakjubkan bagiku. Setelah berbulan-bulan kami tenggelam dalam rutinitas hidup yang suram. Ya, sudah terlampau lama aku membiarkan dia tenggelam dalam sepi. Bersyukur, dia sudah bisa tersenyum kini. Aku bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri.

*****

   Ada yang berbeda hari ini, selepas aku menunaikan salat subuh berjemaah pagi ini. Aku melihat Dena sudah berada di dapur, rutinitas yang diambil alih Mbok Nah selama ini, selepas berpulangnya Elang.

"Assalamualaikum, Cantik, wah tampaknya aku bakal dapat menu sarapan istimewa kali ini.” Sapaku, menghentikan konsentrasi Dena.

“Kanda, ah buat aku kaget saja. Hehehe, mulai hari ini dinda putuskan semua urusan memasak, dinda ambil alih kembali, seperti dulu –mengerlingkan mata. Sudah sana, Kanda siap-siap saja untuk ngantor.”

“Tampaknya istri kanda sedang happy nih, jadi malas ngantor akh, mending nemenin kamu di rumah, hehehe.”

Istriku tidak menjawab, hanya menggeleng-geleng kepala, sambil tersenyum. Ah, manisnya. Senyum yang lama hilang dan teramat kurindukan.

Selepas sarapan, aku dan Dena duduk-duduk di serambi belakang rumah. “Sayang, Alhamdulillah kanda bersyukur sekali, Dinda sudah mulai bisa menerima kepergian putra kita,” aku membuka percakapan.

Dena mendengkus halus, “Qodarullah ... maafkan dinda ya, menyusahkan, tidak mengurus keperluan, Kanda dengan baik selama enam bulan ke belakang ini,” ujar Dena

“InsyaAllah, dinda sudah ikhlas, mari kita jelang hari baru. Tidak ada satu pun musibah tanpa terselip hikmah di dalamnya. Allah ingin kita mencintai-Nya lebih besar dari apa pun dalam perjalanan hidup ini.” Lanjutnya.

“Lagi pula, bagaimana aku berhak menggugat kehendak Allah, sementara nyawaku pun berada di genggaman-Nya, Astaghfirullah ...,” jelas istriku panjang lebar.

“Alhamdulillah, Dinda, bisa memaknai musibah ini dengan sangat dewasa.” Kukecup puncak kepala dari hijab lebarnya.

“Iya, Kanda, lagi pula Murabbiku bilang, apa pun kesudahan perjalanan hidup manusia di dunia, adalah tentang penghambaan seorang makhluk kepada Rabbnya. Keluarga, harta, anak hanyalah alat bagi kita mengejar rida Allah.” Kulihat mata Dena berembun. Tapi berbinar cerah, tanpa beban.

Aku bersyukur dititipi amanah istri salihah seperti Dena, semoga ditepikan jodoh kami hingga ke Jannah kelak, Aamiin.

Tasbih, takbir aku untai, sesaat setelah Dena menunjukkan sebuah benda pipih bergaris dua merah. Alhamdulillah sukur kepada-Mu Rabb. Masih Kau percayai kami, mengemban amanah-Mu. Doaku, ijinkanlah kami menerima titipan calon anak ini, lebih lama. Sebagai bekal bagi kami mengejar Rida dan surga-Mu. Aamiin Yaa Mujibbasailiin. Tidak ada musibah yang tidak sanggup dipikul seorang hamba, melainkan Allah kuatkan punggung dan hatinya mengemban ujian.
Fabbi ayyi alaa irobbika ma tukadzzibaan.

End

#Cerpen
AMANAH
Karya : Tsurayya Tanjung






Cerpen : ANAK YANG SALEH Karya : Siamir Marulafau


 

   " AKU muak menengok kau Ahmad",kata temanya.

"Kau bolak balik saja masuk Mesjid, Entah apa saja dikerjakan di sana?" Sabirin berkata.

"Jika aku ke Mesjid selalu, mau apa kau?" Aku tak mengganggu kau, lho. Bapak saya selalu menyuruh aku ke Mesjid. Itu kan urusan aku, Sabirin. Biar kau tahu, di Mesjid itu, kami salat dan berimam, dan kadang-kadang aku menjadi imam bila imamnya tak datang atau berhalangan. Dan tak seperti kau, suka melarang-larang orang ke Mesjid.Jika kau mati, apa yang kau bawa, Sabirin?" Ahmad bertanya.

Tak berapa lama kemudian, Ustad, datang dan kebetulan sudah menjelang magrib. Ustad Arman juga mengucap salam pada.

"Sabirin...Ayuk! Mari salat, waktunya mau azan?" kata Ustad.

Sabirin menjawab," Lain kali saja Ustad. Aku mau buru-buru ini. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah."

"Ahmad, tarik tangannya dan ajarkan Ia berwudhu, sudah azan pun tak mau salat, dan lihatlah Ahmad ini Sabirin. Aku sudah mengajarkan dia salat dan ilmu Al-Qu'ran dan Hadis sejak berumur 5 tahun sampai Ia menjadi salah seorang Ustad di daerah ini ",kata Ustad dengan suara yang lemah lembut.

"Ayuk! Sabirin ,ini kain sarung dan ambil wudhu di sana. Lekas sedikit, Ustad kita sudah bersiap jadi imam hari ini." Kata Ahmad.

Setelah mereka selesai salat, Ustad berkata pada Sabirin," Orang yang tak salat itu adalah sangat murka di sisi Allah Swt. Orang seperti itu bukan ciri anak yang saleh tetapi anak yang tak beriman. Kalau mengaku Islam,harus salat, dan tidak mau tidak.Lihat Saudaraku Bardan, Ia selalu salat di Mesjid. Ia sangat aktif mengurus organisasi dan tak melalaikan tugasnya mengabdi kepada Allah. Biar kau tahu,jika cucu Adam meninggal dunia, hanya ada 3 yang tertinggal, yaitu ilmu yang bermanfaat, harta jariah, dan anak yang saleh. Maka kehidupan yang sedikit di dunia ini harus dimanfaatkan supaya kita jangan mati konyol, dan harus membawa bekal di akhirat kelak. Salah satu amal yang baik di sisi Allah Swt adalah membangun Mesjid. Mesjid itu tempat ibadah dan tak salah jika kita selalu mendatanginya, dan bukan tempat untuk berbisnis. Marilah kita memakmurkan Mesjid. Jangan Mesjid dijadikan lahan untuk mencari nafkah. Apalagi jika uang pembangunan Mesjid diselewengkan tanpa tahu nazir Mesjid. Ini tindakan yang salah dan tidak diridhoi oleh Allah Swt." Kata Ustad dengan nada yang tegas.

End


Cerpen :
ANAK YANG SALEH
Karya : Siamir Marulafau
sm/110-03-2021
Assoc.Prof.Ustad. Siamir Marulafau