RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 01 September 2018

Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - DUKA YANG MENCENGKERAM



Duka Yang Mencengkeram

Lagi-lagi aku tafakur sendirian
Air mata,desah sesak nafas
Pada bulanku purnama
Menebarkan ingatan
:Padangbai-Lembar

Masihkah jejakku terukir di pasir dan laut
Yang tergerus goncangan liar bumi
Dan gunung-gunung ?

Di suatu petang
Di Lembar aku betangkan tangan
Menangkap uap garam yang hilir mudik
Pada senja dan bulan purnama
Dari kejauhan , diatas laut yang mengabut
Padangbai melambai-lambai
Kawanan lumba-lumba menyibak lautan
Menyebarkan percikan air menari-nari
:menancapkan kerinduan
Untuk selalu mengenangnya

Kini aku benar-benar tertegun
Pada purnama ku yang temaram
Percikan air laut selat Lombok
Pada angin menjelma sembab air mata
dan kenanganpun terhapus
bumi yang bergoncang-goncang
dan kenanganpun terkelupas
dari wajahku
menghitam
jadi tanah
:inilah duka kita
Duka yang mencengkeram

Temanggung 2018





Tak Putus Rinduku

Terlentang aku disini
Di altar gunung gemunung
Terbentang luas cakrawala
Tapi tak kujumpa jua
Altar seluas Arafah
Ruang tanpa batas
Dalam rentangan jiwa terlentang
Di pelukan bukit-bukit batu dan pasir
Menggenggam nikmat
Rindu menyapu
Air mata mengadu

Terlentang aku disini
Tak kuasa menepis rindu
-ah suaramu
Wirid semiliar butir pasir
Membuat aku terapung
Dalam tanya dan harap
Adakah aku ?
Dimanakah segenap kelu dan keluh kesahku ?


Rindu, menangislah
Dalam kesempurnaan munajat
Pada kelahiranku dan kehadiran yang semu
Dalam rindu
Dalam rindu
Menangisi jiwa yang mendaki dosa
Hanyut
Hanyut aku
Dalam petualangan waktu
Tak henti pada persinggahan
Rindu,kenapa tak bosan
Merayapi gelisah ?

Temanggung 2018





Sajak buat Putriku


Aku bertanya-tanya, sampai dimanakah cinta kami padamu ?
Stasiun kecil dan lambaian tangan mengapai-gapai
Kami berpijak pada bumi dan harapan tersedu
Kau terbawa angin mimpimu

Sembari menunggu waktu
Secahaya rindu menebar-nebar
Di langit kami tersunyi
:kau tergenggam bumi dan langitmu
Yang hanya kami pijak dan tengadahi
Kepak sayapmu
Sepanjang waktu
Seperti dawai tergesek-gesek
Di langit menebar pelangi

Aku terus bertanya-tanya sampai dimanakah cinta kami ?
Pijaklah bahu dan kepala kami
Sampai kami mengerti kau tidak di pulau terpencil

Temanggung 2018



Pidato Politik untuk Indonesia

Negriku
Tak lagi setegar burung garuda
Mencakar gunung gemunung
Kibaran merah putih
Lunglai diselangkangan para koruptor
Terinjak kaki para biadab negeri
Yang memecah-mecah anak negeri
Dengan pidato-pidato sakit jiwanya
Dengan tulisan-tulisan sampahnya
yang makin menghamili keangkaraan

Dan akupun marah
:Dengan kubusungkan dada
Kuteriakkan kata
‘’ Diamlah dan berhenti bicara
Atau seribu badik laknat bakal menusuk-nusuk dada kalian ?
Diamlah dan dengarkan
Sabda langit yang mulai lelehkan matahari
Dan ingin melumat rahang dan mulut kalian ‘’

Inilah negeriku
Indonesia tumpah darahku
Yang makin terjajah dalam kegelapan
Yang menyesatkan pada kebohongan-kebohongan
yang kalian bilang sebagai kebenaran
Dan karena kebebalan
tak lagi merasa getaran sebuah kutukan
: Kalian berhentilah bersenggama dengan bumi ini
kalau hanya ingin melahirkan
bayi-bayi biadab dan laknat seperti kalian

Temanggung 2018





Sajak
1

Nafas tak terpisah dari waktu, seorang perempuan bercerita:
tentang sajak lelaki terbuang
tentu aku tak tahu karena akulah sajak itu
seperti ketidaktahuanku tentang kapan sajak disusupkan
pada angin dan hujan, pada malam dan sepi atau pada kemarau yang dingin

Seperti daun berserak, sajak terbuang di selokan lalu hanyut dimusim berikutnya, tapi aku masih saja menuliskannya dan memungut setiap katanya, merangkai dan melemparkan keluasan cakrawala sunyi
Kadang berderak seperti patahnya reranting terhempas angin

2
Sajak adalah cinta
Bergemuruh, sunyi
Menyatukan rindu dan cemas
Cinta adalah sajak
Huruf-hurufnya darah dan luka
Senggama dan menjelmakan serpihan
Rasa
Jiwa

:Kehidupan sungguh memikat
Kehidupan sungguh mendebarkan
Hanya karena cinta
Membuatnya kita tak bersedih
-Seperti ketika kita memandangi
Bunga-bunga bermekaran
Pada kemarau yang dingin
Menikmati angin sabana kering
Yang tak pernah tidur
Dan ilalang yang terus bernyanyi-

Aku selalu bilang pada sajakku
: jangan bersedih wahai
bukankah musim kering
tak selalu membawa bencana?

Temanggung 2018




Di Senja Kita

Di senja kita
Bersama mulai habisnya waktu
Kita menimbangnya dalam kenangan gemilang
Masa remaja yang telah binasa
Dan masa depan kita
Yang hampir terlunaskan

Senja, dan padang rumput yang terbakar
Dipuncak gunung sana, membuat aku sering ketakutan
“Kau menyeret senandung rindumu
Dalam sepi, atau aku menggantungkan sunyi
Di langit yang bertebaran bintang
Tanpa kau, atau kau tanpa aku’’

Aku menghiburmu hanya dengan sajak
Tak berani aku menantang usia kita
Yang makin reot dan kusud
Tapi kita adalah jiwa, tak terpatahkan
Kenangan yang mestinya telah terbuang
Bolehlah kita tengok:
Disana tertata rapi episode demi episode
Kehidupan yang tertatih-tatih
Lalu menandai kebangkitan kita
Untuk tetap bertahan dalam amuk samodra
Dan angin gunung semerbak bunga
Berganti-ganti musim menghempaskannya

Setiap senja
Tak terasa , senyum kita adalah langit makin temaram
-ah tapi matahari masih bersinar terang
Dan dengan nafas kerentaan hidup kita
Kita masih ada, melautkan kehormatan kita sebagai manusia
Karena kita adalah senandung langit
Dalam ketegaran
Yang tak terkalahkan-

Temanggung 2018

Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - TUNGGU AKU DENGAN CINTAMU



# TUNGGU AKU DENGAN CINTAMU #

Rindang pepohonan,
Meneduhi perjalanan,
Aku melangkah perlahan,
Menelusuri bayang kenangan,
Mengecap kerinduan,
Yang tak hilang di ingatan.

Belaian sang bayu,
Hanyut kan ilusi,
Hasrat ku merayu,
Menyapa sebuah ilusi,
Menyeka seiring rasa ragu,
Yang menghantui di sanubari.

Ahh,,,
Biarlah ku cumbu kata setia,
Mungkin inilah cinta,
Relakan cemburu meraja,
Relakan jiwa tersiksa,
Demi untuk dapat hidup bersama,
selamanya dalam ikatan rumah tangga.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 26:08:2018




# JANGAN PECAH BELAH KERUKUNAN INDONESIA #


Kemarahanmu bagaikan auman seekor singa,
Singa yang telah lama bertapa,
Singa yang hidup dalam goa padang sabana,
Ternyata kau merintih dalam kancah dosa,
Umpama singa lapar dan haus di tengah padang sahara,
Hindari burung nazar yang siap memangsa.

Teriakanmu bagaikan lowongan sekelompok srigala,
Di tengah malam bulan purnama,
Seakan memberi kabar ancaman datangnya bahaya,
Ternyata itu hanya gonggongan di tengah kota,
Di antara sampah sisa sisa manusia,
Untuk dapat tidur nyenyak walau sehari saja.

Dapatkah kau memahami arti perjuangan,
Berjuang bekorbankan harta dan nyawa,
Demi sebuah arti ke kemerdekaan,
Demi kekuatan Pancasila dan Indonesia Tercinta,
Demi cita cita anak cucu untuk dapat meraih impian,
Di dalam satu negara yang aman makmur dan sejahtera.

Pikirkan jika para pejuang itu masih ada dan bicara,
Banggakah mereka dengan apa yang kamu bisa.
Demi anak cucumu juga Merah Putih dan Pancasila.
Demi adat budaya dan kerukunan ummat beragama.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 04:09:2018




# TERIMA KASIH ( DELIMA ) #


Hanya sebentar,
Terdengar hingar bingar,
Dari kabar yang tersiar,
Walau mungkin hanya sebentar.

Aku bersimpuh bangga,
Mereka merasa gembira,
Dan mereka bersuka ria,
Mendengar kabar bintang ibu kota.

Jadilah terbaik buat kami,
Aku abang mu,
Sahabat saudara mu itu kami,
Familie's kato kota kerang mu.

Kuatkan tekat,
Sekeras besi,
Bakar semangat,
Sepanas api,
Tapi ingat dan terus ingat,
Akan berkah karunia Illahi.

Buat Delima masih berbangga masih,
Sekapur sirih,
Seharum kembang selasih,
Kami ucapkanTerima kasih.
HORAS,,, KONCO KAMI.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 23:092018





# RINAI HUJAN MALAM #


Rinai hujan,
Basahi sunyi sepi,
Aku kehilangan rembulan,
Rembulan yang menerangi hati,
Menerangi kehampaan,
Yang menemani kesendirian ku ini.

Aku kian terpuruk di kegelapan,
Entah kemana sirnanya air mata,
Ratap ku hilang di irama curah hujan,
Tatapan ku terperangkap terpana,
Terperosok di angan angan,
Yang tak mungkin lagi menjadi nyata.

Namun biarlah rindu menyelimuti,
Memeluk hampa di malam sunyi sepi,
Tampa rembulan yang menerangi hati,
Bersama hujan yang terus membasahi,
Basahi setiap tetes air mata ku ini,
Hinga hari nanti datang menjemput mentari.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 17:09:2018

Minggu, 05 Agustus 2018

Kumpulan Puisi Tasya Aliza Putri - SEDIHKU



♧■■ SEDIHKU ■■♧
☆■■ KARYA :Tasya Aliza Putri ■■☆


Rapuh jari menusuk jiwa telaga malam
Air hujan membasahi jembatan berdaun
Dingin raga ini namun itulah pilu hati
Sendiri aku duduk disini embun pun menciumku
Langit malam turunkan rintik -rintik embun
Agar basah rinduku tujuh sinar berbalik kering
Rumput hijau tak berwarna lagi salahkah diri ini
Kunjungan lembah jalan bertiup angin debu
Rambut yang hitam bergumpal basah
Sepertinya ya ikut menangis atas diriku
Sepi mencekam tak ada pengobat luka

Seraut wajah manis molek indah menawan
Cantik angun bergaun bunga unggu
Kasih jemputlah aku dalam penamu
Tak kusangka hatinya berubah padaku

Purnama tiba namun gelap hati
Perih itu masih membekas diujung sedihku
Debu bertangga hitam luapan penugu syair
Dan bertaya pada jiwa masihkah dia sayang padaku

Kering sudah air mata menahan pilu dan derita
Peluk batin rintik hujan berembun putih
Gadisku patah sayapnya namun masih
Tetap bertahan untuk tegar berbalik sedihku

Percut 4_Agustus_2018
#gadisembun




GAUN AIR BERSELIMUT PILU


Detak ombak melambai pilu dermaga laut
Awan hitam menangis berubah putih
Bintang bersembuyi seperti berteduh
Panorama langit di malam ini sungguh perih
Bisik bibir laut bermandi pasir

Tubuhku lemas berselimut pasir laut
Basah tiada bergaun ombak laut biru
Jatungku berhenti sejenak mataku
Tertutup lembah pasir butiran laut

Lemas sekujur tubuh tak ada daya
Terhimpit kepiluan tangisan jari
Kembar laut tuangkan sejuta resah
Sukma ning tirta naluri berkunjung ke atas langit

Kasih aku tugu jemputmu melambai
Tirai telaga lembah ombak berawan
Wangi berbalut sehelai pasir terdampar
Muara tiada kembali sungguh kejam hatimu kasih

■■KARYA: TASYA ALIZA PUTRI ■■
Percut 2_Agustus _2018
#gadisembun
#untukmu_penjaga_hatik

Kumpulan Puisi Layla Dct - PILIH



PILIH


kita bahkan masih bisa memilih
Menjaga semua tulisan
Yang kan mewangi diatas pusara

Bila tiba masanya
Maut menjemput dalam dekap hangatnya
Lepaskan fana
Yang silaukan mata

Ini seperti pahit
Yang kan berbuah manis
Meski penebusnya adalah jarak
Kekang pada ambisi jurang

Seluma 5 Agustus 2018





RUMAH API


harus seperti itu?
Terbakar dalam rumah apimu??
Sedang aku bukan hujan
Dan tak jua padamu.

Seluma, 4 Agustus 2018




RINDU


Setepat engkau mengatakannya
Kau hapus semua jejakmu
Tanpa sisa
Selain kenang

Seperti naskah yang telah di jilid
Mungkin rasa membawamu
Tersesat di pulau angan
Tanpa harap kan berlayar pulang

Tempat kembali
Serupa semai yang akan tumbuh
Mengilhami tunas-tunas yang membawa rona ke senja
Dan senja ke baka

Karya : Layla Dct
Seluma, 27 Juli 2018

Jumat, 03 Agustus 2018

Kumpulan Puisi Nimas - SENANDUNG



Permintaan
(Nimas Sayu Dara)


Bias mentari mengusap wajahku perlahan
Membangunkan lelap dalam dingin embun semalam
Ingatanku terjaga tiba-tiba
Padamu Tuan, belahan jiwa

Butir embun menganak sungai
Sederas pilu ketika engkau tak lagi di sisiku
Sederas rindu yang tak mampu lagi aku pendam
Hingga nyeri tak sanggup aku sembunyikan

Wahai waktu ....
Kembalikan kekasihku
Ijinkan kami kembali bertemu
Untuk meretaskan simpul ragu yang membelenggu

Wahai jarak ....
Jangan selama ini meminjam dia dan membuat kami berjauhan
Sebab rasa rinduku kini bagai bumerang
Datang dan menyerang tanpa diundang

Lampung, 31 Juli 2018
#SayuDara





Senandung
(Nimas Sayu Dara)


Aku masih kidung yang senantiasa lantunkan tembang rindu, untukmu
Dengarlah senandungnya pada kedalaman hatimu

Bukankah masih tetap setia nada-nadanya menggema dalam cinta?

Aku masih serumpun ilalang, yang senantiasa bertahan dalam gersangnya semesta
Yang tak pernah letih memancang asa
Meski acapkali harus terkulai kering sebab embun yang tak juga turun

Aku masih telaga tempatmu melepas dahaga
Saat langkahmu payah penuh lelah dan luka
Senantiasa kujaga damaimu di sini
Meski setelahnya engkau berlalu pergi, tak lagi kembali

Akulah bait duka yang selalu kau lupa
Ketika pena kau tuang untuk menulis sajak romansa
Aku ....
Senandung yang masih setia mengalun
Meskipun pesta telah lama usai

Lampung, 30 Juli 2018
#SayuDara





Pejuang
(Nimas Sayu Dara)


Tetes keringat mengalir bersama genangan darah
Membasahi bumi pertiwi tercinta
Jerit tangis anak istri berkumandang
Pilu meneriakkan namamu

Beribu peluru dan mesiu
Menjamah seluruh nusantara
Darah menggenang di mana-mana
Demi membela negara tercinta, Indonesia

Merdeka!
Merdeka!
Tak perduli hidup atau mati!
Terus maju, pantang mundur
Demi Sang saka Merah Putih

Merdeka!
Telah 73 tahun kini kemerdekaan kami nikmati
Berkat perjuanganmu wahai pahlawan
Takkan hilang dalam ingatan
Atas pengorbanan jiwa dan raga, hidup dan matimu

Merdeka!
Seluruh penjuru berseru
Untukmu Indonesiaku!

Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara





Embun Juli
(Nimas Sayu Dara)


Ketika beningnya luruh
Ia begitu malu
Hanya mengintai lewat dahan dan ranting kering
Menyembunyikan kilaunya pada kelopak-kelopak kembang

Embun Juli
Mendendam rindunya pada rerumputan
Hingga dingin menggigilkan pagi
Membeku dalam sunyi

Embun Juli
Ilalang patah hati
Gemerisiknya kering kini
Rindunya urung terobati

Lampung, 27 Juli 2018
#SayuDara




Hingga Akhir Waktu
(Nimas Sayu Dara)


Lemah ragaku bersandar pada bahumu
Menahan ribuan sakit dan nyeri yang tak terperi

Jangan beranjak pergi ....
Aku mohon, tetaplah di sini
Memelukku dengan lantunan doa-doa suci

Tetaplah di sini menemani
Aku ingin melihat cantiknya mentari pagi, sampai senja berpendar di cakrawala
Bersamamu, kekasih
Hingga nanti, ketika satu-satu detak jantung dan denyut nadi berhenti
Aku .... Tetap ingin lelap dalam hangat pelukanmu

Lampung, 05 Agustus 2018
#SayuDara




Fajar Masih Saja Embun
(Nimas Sayu Dara)


Apa kabarmu fajar?
Beberapa purnama berlalu hambar
Segenap rasa hening tersandar
Melewati tiap inci pagi yang beranjak lamban

Apa kabarmu fajar?
Dalam gigil embun kemarau engkau berpijar
Berselimut kabut yang menebal
Apa kau lupa cara menebar hangat dan pendar
Hingga pagi begitu larut dalam dingin yang tak beraturan

Apa kabarmu fajar?
Yang kini tersesat pada pekat halimun dan rinai embun
Masihkah menitipkan kehangatan pada jingga senja?

Lampung, 12 Agustus 2018
#SayuDara
#Kemarau_Agustus_makin_berkabut
Share_pict_from Dara Utami

Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - MIMPIKU



Gigil Bunga-Bunga Rumput

Gigil bunga-bunga rumput pada pagi terbit
Di sela-sela bebatuan gunung
Menyisakan risik risau semalam
:Kupu-kupu terbang bergerombol
Menandai cahaya merekah
Kepaknya tak sesunyi
Hati yang tengah merindu

Bunga-bunga rumput , sepadang sabana bukit
Hembusan nafasnya,dalam kehangatan bergerak
Mendaki perbukitan sebagai jalan yang dipilih
Dan akupun terbang dengan sayap-sayap kertas
Bergerak….bergerak….terdampar
Ke puncak sunyi yang menganga

Temanggung 2018





Mimpiku
buat Gendukku
(akhirnya Kau ke Istana Negara)



Banyak sudah harapan terbuang
Impian berganti menjelang
Sunyiku belum juga mampu mengeja kata

Mimpiku kau bawa terbang jadi mimpimu
Menutup lukaku yang menganga
Kau terbang melayang diatas karpet merah
Dengan berjuta cahaya
Berkilat menebarkan sajak bersahut
Membawa jiwaku dalam keindahan melaut
:kenanglah aku wahai anakku
Dalam sayup dawai
Torehkan cintaku wahai anakku
Dalam alunan nada
Yang terbilang
Dalam makna yang menebar

Rindu mengajari kita tentang cinta yang sebenarnya
Perjuangan, pengorbanan dan kesungguhan
Rindu mengajari kita tentang ketabahan dan ketangguhan
Dan rindu memberikan sunyi
Dan sunyi meretas jalan kita
Menuju puncak tertinggi
Menyaksikan lautan menari-nari

Temanggung 1918




Aku Selalu Menunggu
(kepada anak-anak yang selalu datang)


Sedari pagi daun-daun berguguran
Mata anak-anak tersiksa, mengejar mimpi-mimpinya
: aku tak beranjak menepikan ketakberdayaan

Sedari pagi mereka selalu saja menyelipkan sajak
Pada angin yang tak pernah tidur
Mengejar bayang mimpi dalam usia terhenyak
:hidup seperti pisau menikam nikam

-Akupun berkata pada retakan kaca
:Simpanlah aku di dalamnya
Kalaupun pecah biar berkeping
Dan terkubur dalam kesakitan

Sedari pagi selalu datang kata
Dalam lafal hembusan angin lelah
Mereka Selalu datang
Bertubi-tubi
Sampai matahari bersembunyi dibalik gigir gunung
-Esok akan datang lagikah
Kata cemas dalam air mata tersembunyi ?

Aku selalu menunggu
Alif, ba’ kehidupan itu
Aku akan selalu termangu
Sedari pagi, sampai segala bunyi berakhir

Temanggung 2018.




Cinta dalam Sunyi
-Isteriku-

1.
Sepetak kenangan, cinta menggenang
Sejak semula kita menikam dada kita dengan setumpuk kerinduan
Dan Cinta yang tak pernah tidur
:Aku menatapmu setiap menjelang tidur
Dan kau melepas malam dengan sebuah ciuman

Kadang malamku seperti berkaca-kaca
Dalam pelukan
Terasa sunyi, dalam gigil yang seperti menghibur kita
‘’tak boleh musim merenggut mekarnya bunga dan rimbunnya dedaunan’’
Katamu

2.
Kau seperti mendengar mantra langit membias purnama
Seperti 35 tahun yang terbang
-Kita bersandar pada sebatang cemara, ketika musim gigil
merambati perbukitan, dengan lembut angin merapatkan pelukan
tak ada sepatah kata menyibak kabut yang tak pernah surut
menyelimuti pohon-pohon cemara dan puncak gunung-

Aku mendengar nafas mu berkata-kata diam
Karena resah angin menanti pergantian musim
-Cakarwala yang jauh, menanti kita selalu
Menanti kita selalu. Kita berdua, abai dalam waktu
: Jangan…jangan menjauh !-

Kekasihku, tinggallah dalam mantra
Cinta kita yang meratap dan merindu
Di seluas bimasakti
Seperti ketika Padang Arafah memeluk kita
ucapkan lafal-lafal penyempurna cinta
kita tak bisa menerka
hanya padang luas terbuka

Temanggung 2018




Terkenang Laut Merah
(1)


Sering terasa melepuh
Jiwa bersayap rapuh
Terbang tanpa henti
-Disini
Disini aku selalu mengenangmu
Dalam sepi
Waktu yang melaju-

Seperti Qois menanti Laila
Bicara pada air serta menghanyutkan dedaunan liar
Mengalirkan cintanya
Kerinduannyapun menyapa burung dan angin
-sampaikan cintaku pada Laila- katanya

Hari memang terasa gigil selalu
Musim dingin memaksa burung-burung tinggal disarang
Risaunya bukan karena terpisah jauh
Tapi karena berpelukan selalu
Takut angin berkhianat berubah jadi badai
Bertiup mendebarkan

Senja, merah matahari menyisir bukit-bukit datar
Sebelum tenggelam seperti bola api
Yang mengubah hutan jadi kuning kemerahan
-Laut merah !
Seperti senja di tepi laut merah
Matahari menyala pelan menyatukan diri
Dengan cakrawala batas laut
Seperti cinta kita
Berpelukan hangat
Disana
Di tepi laut merah-

Temanggung 2018

Kamis, 02 Agustus 2018

Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - BUKAN MENJADI PENDUSTA


# BUKAN MENJADI PENDUSTA #

Lihat di sana,
Tiada lagi bunga bunga,
Derita yang begitu menganiyaya,
Tapi itu sudah biasa,
Seumpama air mata,
Kering di tangisan tak bernyawa,
Ya,, palestina.

Di sini,
Terlihat langkah kecil berlari,
Menempuh imajinasi,
Mengejar mimpi mimpi,
Dan terpuruk dalam ambisi,
Setelah menghakimi diri sendiri.

Aku Cinta Indonesia,
Kerukunan berBhineka Tunggal Ika,
Kini telah menjadi ajang huru hara,
Mengotori tetesan darah mereka,
Mereka yang rela berkorban harta dan nyawa,
Demi kemerdekaan anak cucunya dan Pancasila,
Tapi mengapa kita harus lupa?.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 27:07:2018





# KEBAHAGIAN KU #


Bagai mana lagi,
Ku kan terus arungi,
Lelah meronta tak mau pergi,
Hari ini esok dan hari nanti,
Aku arung perjalanan takdir ini,
Yang hadir seperti mimpi mimpi,
Walau tiada jawaban yang harus ku nanti.

Aku melangkah terbelai lika liku,
Melangkah terbuai sang bayu,
Terhenti diantara debu debu,
Terserap keringat di baju,
riang menerjang sepasang sepatu,
Kala itu langit hampir kelabu.

Aku mencari kebahagian,
Kebahagiaan yang ku impikan,
Diantara kerlip lampu jalanan,
Diantara redup rindang pepohonan,
Di situ aku terus berjalan,
Bersama cerianya kebebasan.

By : LUmbang KAyung
Asahan 27:07:2018





# TEGURAN MU BANGUNKAN LELAP KU #


Tak dapat ku kabar kan,
Tentang pelangi,
Tentang rembulan,
Tentang mimpi mimpi,
Tentang perjalanan,
Yang ingin ajak aku untuk dapat berlari.

Teguran mu bangunkan tidur ku,
Ku buka helai daun jendela,
Aku terbelai hembusan Sang Bayu,
Gemersik nada alunan rimbunan Bambu,
Panggil ku kembali beraksara,
Tentang alam dia dan kamu sahabat ku.

Inilah goresan malam ku,
Sambut hangat rembulan dan mentari,
Arungi luasnya lautan biru,
Bangunkan ku dari sepi ku sendiri,
Itu karena kamu sahabat ku,
Sahabat yang panggilkan seberkas cahaya Asa.

Lumbang KAyung
Tanjung Balai asahan 06:08:201




# TERPERANGKAP ANGAN ANGAN #


Aku masih di sini,
Ku hempaskan mimpi mimpi,
Ku meniti pelangi,
Kan ku kejar panasnya mentari,
Untuk ku jadikan cahaya abadi,
Dalam syair nada cinta suci.

Tiada arti luasnya samudra,
Badai topan bukan rintangan,
Dengarkan gemuruh halilintar menyala,
Irama nyanyian ku membawa sebuah impian,
Dan berkumandang hingar bingar tawa bahagia,
Dalam dekap hangatnya pelukan.

Di sini cinta dan kekuatan,
Kokoh menghadapi rintangan,
Di sini kasih sayang selembut cahaya rembulan,
Menebarkan harum bunga bunga di taman,
Yang tak lekang di usik zaman,
Hingga terkubur di pusara kehormatan.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 06:08:2018




# AKU YANG KEHILANGAN ASA #


Seumpama pena,
Kau goreskan kata kata,
Seumpama gema,
Kau dendangkan nada irama,
Menggoda jiwa dan raga,
Merayu merasuk kedalam sukma.

Aku si air sungai mengalir kemuara,
Hanyut terbawa arus dilema,
Terbelai lembut hembusan angin asmara,
Lalu terasa asin di kala coba meminumnya,
Dan tak dapat untuk melepas haus dahaga,
Yang akan larut menuju lautan samudra.

Tiada guna berceloteh duka dan lara,
Dalam meretas dilema sandiwara cinta,
Terasa kan hampa linangan air mata,
Dalam merenungi kekecewaan yang sempurna,
Di jiwa yang kini menelan perih pahitnya derita,
Yang menyelimuti langkah hilangnya sebuah asa.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 14:08:2018

Kumpulan Puisi Bang Toyyib Sibarani - UNTUK CALON LEGISLATIFKU


" UNTUK CALON LEGISLATIFKU "

Untuk apa aku berjualan janji-janji.
Jika aku sekali hadir dan seterusnya tak nampak lagi.
Untuk apa ku hadirkan materi jika selembar saja yang kuberi tak cukup dalam sehari.

Pemilihku tidak butuh calon yang pandai berpuisi seperti aku. Dan
Tidak juga yang memiliki banyak istri dan bamyak materi.

Rakyat memilihku untuk memperjuangkan isi perutku lalu kemudian memperjuangkan pemilihku dan golongan atau partaiku.

Tak peduli seberapa bagus partaiku
Yang ku tunggu cair anggaran tanpa celah untuk masuk kepundi-pundiku.

Rakyatku butuh yang mengerti akan perbaikan. Butuh pembaharu dan pelayanan tanpa harus bertaruh.
Tak sedikit yang pemilihku yang tahu.
Bahwa aku seorang legislatif yang terpilih dan duduk diatas bangkai saudara sendiri.




Budaya Salah Menyalahkan


Wahai para ulama yang lupa dengan umatnya…!
Nasehat dan ilmumu merupakan cahaya
Yang menerangi dan membuat tenang orang yang berada dalam kegelapan
Tapi kenapa moral dan nilai yang kamu bawa itu sekarang lari tunggang langgang
Menjauh…dan menjauh, sehingga figure itu telah tiada.

Wahai para penguasa yang serakah…!
Kamu menjadi tulang punggung rakyat jelata
Kok malah enak-enakan ngumpulkan harta
Tidakkah kamu ingat,
Akan pikulan amanat yang amat berat .

Wahai para penegak hukum yang lembek…!
Tegakkanlah hukum di negara kita kuat-kuat
Genggamlah keputusan yang adil dan bijaksana
Jangan malah ikut-ikutan nimbrung dengan para penjahat
Dan menyalahgunakan amanat.

Wahai para ekonom dan pengusaha yang ber”ego” ria..!
Kenapa kamu tidak menguatkan rupiah kita…?
Kenapa kamu tidak membuka lapangan kerja…?
Sedangkan kamu melihat banyak anak negri kita yang pengangguran
Walaupun mereka telah menyelesaikan strata sarjana.

Wahai para pemuda-pemudi yang malas-malasan…!
Campur tanganmu dalam memajukan bangsa diperlukan
Otakmu…, tenagamu…, pikiranmu…masih segar
Tapi kenapa kamu terbuai dengan rayuan narkoba
Yang akhirnya menghancurkan “nilaimu” di masa depan.

Wahai para Ulama.., wahai para penguasa…, wahai para penegak hukum…, wahai para ekonom dan pengusaha…, wahai para pemuda-pemudi dan seluruh bangsa Indonesia…
Akankah kita saling menyalahkan orang lain selamanya
Sehingga kita mudah dipecah belah oleh para penjajah…?
Atau karena memang didikan kecil kita yang menyalahkan kodok kalo kita terjatuh?
Atau perasaan gensi yang lebih kuat sehingga kita tidak mau menyalahkan diri sendiri?
Malulah…., tahu dirilah…, introspeksi dirilah…
Singkaplah tabir budaya menyalahkan orang lain…!
Dan perbaikilah dari diri kita masing-masing
Sambunglah sendi-sendi yang telah tercerai berai…
Agar menjadi satu kesatuan yang kuat untuk bersama memperbaiki bangsa kita

Ya Rabbun ghafuurr….
Engkau Maha Mengetahui segalanya…
Kesalahan kita, kebobrokan kita, kelemahan kita dan kerusakan kita…

Maka berikanlah ampun Mu ya Rabb…
Dan berikanlah kepada kami ulama yang baik dan perbaikilah ulama kami.

Berikanlah kepada kami penguasa yang baik dan perbaikilah penguasa kami.

Berikanlah kepada kami penegak hukum yang baik dan perbaikilah penegak hukum kami.

Berikanlah kepada kami ekonom dan pengusaha yang baik dan perbaikilah ekonom dan pengusaha kami..

Berikanlah kepada kami pemuda-pemudi yang baik dan perbaikilah pemuda-pemudi kami.

Berikanlah kepada kami bangsa yang baik dan perbaikilah bangsa kami… Aamiin

#Pesan_Puisi_Bang_Toyyib_Sibarani
#selamatberaktiviras





"ORANG KECIL ORANG BESAR"


Di suatu malam yang sunyi
Di dalam rumahku yang gerah
Beberapa anakku yang lugu
Sedang kuberi wejangan yang lugu-lugu
Akuberkata:
“wahai Anak-anakku,
Kamu sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kamu nanti menjadi orang kecil!”
“Orang kecil itu, kecil peranannya
Kecil perolehannya,”

“Ya,” itulah dia
“Orang kecil sangat kecil bagiannya.
Anak yang paling kecil masih mendingan.....
Rengeknya didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan karena.....
Suaranya tak suara.”

Lalu Sang ibu juga ikut wanti-wanti...
“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ...... dia ditipu
Jika ia menipu ....... dikejar
Jika ia bekerja....... digangguin
Jika ia mengganggu..... dia dikerjain.”

“Ingatlah, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas ...... dia diperas
Jika ia diam ..... dia ditikam
Jika ia protes ....... dia dikentes
Jika ia usil ........dia dibedil.”

“Orang kecil jika ia hidup dipersoalkan
Jika dia mati tak dipersoalkan.”
“Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya pasti selalu besar.”

“Orang besar jujur maupun tak jujur tetap makmur....
Benar-tak benar tetap dibenarkan
Zhalim-tak zhalim tetap dibiarkan.”
“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”
“Orang kecil jujur..... dibilang tolol
Orang besar tolol....... dibilang jujur
Orang kecil berani ......dikata kurangajar
Orang besar kurangajar....... dikatakan berani.”
“Orang kecil mempertahankan haknya.....
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak orang kecil....
disebut pendekar.”
Kemudian anakku terus diam tak berkata-kata
Namun dalam diri mereka selalu bertanya-tanya:

“Anak Kecil bisa menjadi Besar
Tapi mungkinkah Orang Kecil
Menjadi Orang Besar ?”

“O r a n g k e c i l ? ? ?
O r a n g b e s a r ! ! ! ”

#Pesan_puisi_bang_toyyib_Sibarani
#buat_Tan_Ahmad





" Ohh....Wahai Pemimpinku "

Aku Merindukanmu, Ohh... Wahai Pemimpinku
Sepanjang kurun waktu kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa dan para Petinggi Politikus
Terus mempermainkan kelemahan
Tanpa kusadari Airmataku pun mengalir mengikuti panjang kurun waktu
Mencari-cari tangan dan lemah lembut gaya serta wibawamu.
Dari data-data tipis dan Terus kudengar suara sembrautan.
Ku dengar Derita mengiris terus berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kututup dan Berharap sesekali mendengarkannya.
Saat Merdu kau menghibur suaramu dengan janji-janji.

Aku merindukanmu, wahai pemimpinku.
Ribuan tangan gurita keserakahan menggerogoti keuangan negeri ini
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa dan memakan korban
Mengeruk bumi meretas berjuta harapan
Aku pun tak berdaya dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu, menjerit hingga kurangkai dalam sebuah puisi.
Ohh wahai Pemimpinku, Ohh wahai calon Presidenku
Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Ingin rasanya ku meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, Wahai Calon Presidenku
Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu serta pendukungmu
Ohh...wahai calon Pemimpinku selamat dan salam hangat dari rakyatmu kusampaikan kepadamu.
Rakyatmu ingin bertanya bagaimana melawan gelombang kebodohan, kemiskinan dan sulitnya lapangan pekerjaan serta rasa kecongkaan yang telah tergayakan.

Bagaimana mengatasinya, seperti asing ditanah negeri sendiri wahai Pemimpinku.

#Puisi_pesan_bang_toyiib_sibarani
#untuk_calon_presiden_RI_2019


Minggu, 22 Juli 2018

Kumpulan Puisi Youthma All Qausha Aruan - RENYUH


●●●●●
Renyuh


nyanyian KECIL HATI
perlahan......

Duhai Mimpi
jangan hanya kemaren engkau datang
agar
asa itu terasa meliputi

youthma all qausha aruan
KISARAN RASA ASAHAN





□□□□□
KITA

yang masih sama lapar
saling tendang diantrian yang tak ada hidangan
yang sama haus
saling gusur ditepian danau yang gersang tandus

caci maki
fitnah
juga
membagi hasut

saling hunjuk taring, kepal juga menghunus
padahal KITA sudah makin lunglai, lusuh dan bersisa endus

BANGGAnya KITA dengan CELAKA
CELAKANYA KITA bersebab BANGGA

DIAM KITA enggan takut
TAKUT KITA enggan diam
dan KITA RIBUT lalu DIAM DIAMAN
begitulah KITA

#coretanHAUSLAPARku
Youthma All Qausha Aruan
Kota Kisaran ASAHAN

Rabu, 11 Juli 2018

Kumpulan Puisi Dyah Ayu Paramitha Indudewi - WARNA MASA LALU


KEHILANGANMU
Karya:Dyah Ayu Paramitha Indudewi


Hamparan malini telah berguguran
Mahkota,jua kelopaknya jatuh bertebaran
Melambung tinggi
Di tiup bayu senja hari
Begitu pula aku
Tak tentu arah,kehilanganmu
Bagai butiran salju di terik kemarau
Jiwaku rapuh,kering tertinggal debu
Tanpa kata
Tiada terkata
Diam tanpa daya
Sendiri merintih luka

Indudewi#wilwatikta300618-02:09
Lembar Diary Seorang Putri





SESAK TERSENGAL
Karya:Dyah Ayu Paramitha Indudewi


Remah-remah rindu
Telah habis termakan waktu
Pandangan terasa hambar
Seperti kilap permata yang pudar
Tak dapat diri memungkiri
Terlalu indah cintamu terganti
Sejujurnya,mungkin tak terlupakan
Selamanya kenanganmu tersimpan
Di dasar samudera hatiku terdalam
Tiada lagi kerinduan
Yang dapat ungkapkan
Karena sesal ini
Seperti angin
Yang mengiringi setiap desah nafasku
Sesak..
Tersengal..

Indudewi#wilwatikta290618-04:29
Lembar Diary Seorang Putri





WARNA MASA LALU
Karya:Dyah Ayu Paramitha Indudewi


Aku melangkah pada kanvas remajaku
Sejauh kupandang cakrawala impian
Sejuk bayu menghantar kenanganmu
Kugenggam kuas-kuas masa silam
Yang penuh cerita
Senyum sipu masa berjumpa
Bahagia di lena asmara
Menitis air mata luka
Menggigit bibir saat terpisah
Jauh berlalu waktu kita
Sejak langkah telah berbeda arah
Mengguriskan warna-warni cerita
Baru kusadari jua
Sudah kulukis cinta dgn sejuta warna
Namun tiada pernah terlihat indah
Tanpamu
Ya tanpamu
Selain warnamu semua terlihat semu
Engkau yang jauh di mata
Hilang entah di mana
Aku rindu
Rindu

Indudewi#wilwatikta270618-19:00
Lembar diary seorang putri





PADA SIAPA
Karya:Dyah Ayu Paramitha Indudewi


Tak ada kurasa terpikirkan
Namun entah mengapa
Mata enggan terpejam
Sendiri di jendela tilam
Memandangi rembulan
Bagaikan sama berdua
Sepi sendiri antara gelayut malam
Resah gelisah rindu ini
Bergerak sampai di ujung jemari
Merajuk lembut mengusik hati
Menyelebungi diri
Menyelusup di setiap rasa
Menghantar keinginan untuk selalu berjumpa
Menebar seribu alasan agar tetap bersama
Mensilapkan mata
Sehinggakan hanya dirimu terindah
Engkau yang ku lamun dalam asmara
Adakah sama rasa
Engkau yang terindu di pelupuk mata
Bilakah gayung menyambut titisan tirta
Engkau yang menggenggam putih saroya
Pada siapakah jua kau selipkan akhirnya

Indudewi#wilwatikta240618-07:44
Lembar diary seorang putri




SEIRING USIA
Karya:Dyah Ayu Paramitha Indudewi


suling berdenging suaramu tergiang
berhembus di antara rumput ilalang
kerling-kerling matamu yang menggoda
membuat pipi bersemu merah
sungguh takkan terlupa

hari ini aku di sini
memandangi malini
tersenyum sendiri
karenamu..
kenanganmu..
begitu akut menyatu dalam nafasku

mahidhara kita kala senja
tiada berubah sekian lama
masih penuh bermekaran cempaka
jauh berbeda antara kita
setelah berlalu masa-masa belia
tersisa kenangan seiring usia

indudewi.wilwatikta.060818.22:32




TANPA UJUNG
Karya:Dyah Ayu Paramitha Indudewi

berputar tanpa henti
kembali dan kembali lagi
tak pernah aku terlepas
sedetikpun atau satu hela nafas
cinta padamu selalu mencengkam
mengikuti bagai bayangan
dan aku gagal melawan
aku tertawan kenangan
seperti rembulan di langit malam
ingin aku berjumpa mentari
apadaya takdir terpatri
berdua dalam jalan berselisih
tanpa ujung...
bersama...

Indudewi.wilwatikta090818.00:28





SENDIRI SEPI
Karya:Dyah Ayu Paramitha Indudewi


ukiran-ukiran keluh kesah cinta
telah kau simpan dalam tabut jiwa
kau tutup rapat dari raung udara
genggaman hangat penuh rasa
telah terlepas lewat setanggal kata
dan engkau berlalu pergi
tanpa menoleh lagi
aku terpaku di antara sinar mentari senja
menahan luka berlinangan air mata
begitu pedihnya berpisah
tiada terkata
aku bagai air keruh,tanpamu
mengalir dalam warna tiada ketentuan
sendirian...
kesepian...

Indudewi.wilwatikta080818.02-33

Kumpulan Puisi Bang Toyyib Sibarani - PEMIMPIN


NEGERI KITA

Dimanakah kini Sang Satria Piningit.
Yang mampu merobah sistem di Negeri ini.
Atau adakah orang-orang yang bersatu.
Satu Jiwa, Satu Rasa, Satu Penderitan
Dan Satu ide serta Gagasan.

Wahai Datuk Lautan dan Datuk Daratan.
Mungkinkah Datuk-datuk ini bersatu membuat kekuatan.
Atau hanya sebuah teori yang ditanamkan.
Untuk membuat suatu terobosan.
Tuk mencari Sosok Satria Piningit yang dapat diandalkan.

Entah lah...
Mungkin sebatas Wacana Yang di Dengungkan.

(Datuk Lautan dan Datuk Daratan#syamsul rizal&agustoni)





PEMIMPIN


Pemimpin, tidak suka memelihara dendam
Menjaga hubungan kerja tidak suram
Masalah dapat diredam
Daripada lisan menyakitkan lebih baik diam
Pemimpin, tidak bersumbu pendek
Yang membuat komunikasi jadi mandek
Bisanya cuma meledek
Bicara yang jelek-jelek
Pemimpin harus siap dikritik
Karena tidak selalu bertindak baik
Jangan bersikap licik
Dari kepribadiannya hikmah bisa dipetik
Pemimpin, bukan sosok arogan
Yang penuh kesombongan
Menampakkan kesewenang-wenangan
Dalam menggunakan kekuasaan
Pemimpin, sosok menginspirasi
Juga sosok memotivasi
Membangun sinergi
Dan suka mengapresiasi




" AKU INGIN JADI PEMIMPIN YANG ZHOLIM "


Aku ingin menjadi pemimpin yang zholim,
datangku terlambat adalah kebiasaanku,
berkata kasar itu juga kesukaanku,
bawahanku adalah budak dan suruhanku,

Aku ingin menjadi pemimpin yang zholim,
Kesenangan ku dengan proyek-proyek,
Aku tak peduli kalian bicara apa,
toh sebentar lagi juga kalian lupa,

Aku ingin menjadi pemimpin yang zholim,
siapa yang berani melaporkanku,
karena aku menguasai managemen konflik,
ahli adu domba dan hipnotis.

Aku ingin menjadi pemimpin yang zholim,
Dan aku tak peduli perasaanmu
Aku selalu benar meski aku salah
dan sebentar lagi kamu juga akan lupa.. Ingat itu...

#bangtoyyib_ingin_jadi_pemimpin
#Pileg_Pilpres_sudah_dekat


Kumpulan Puisi Masita Shanti - SYURGAKU



Eutanasia cinta

ia trdampar mengenaskan
brsama hati yg brlumuran darah
laksana ikan yg trjebak di daratan
sekarat menanti ajal
Air matanya kering,suaranya parau
Ia terus menanti keajaiban
dimana harapannya akan trjawab
tpi khidupan tak punya apa2 u/nya kecuali duka
Sharusnya ia sadar
ia tak perlu lagi bermimpi
tak perlu lagi brharap
krn ketika cintanya telah di eutanasia sharusnya seluruh penderitaan itu ikut mati





Eutanasia cinta part 2


Dia bersimpuh memohon kebahagiaan untuk kekasihnya
tak perduli dia sendiri menghabiskan sisa usianya untuk menangis...

Menyembunyikan dukanya bertahun-tahun...
Dibalik gelak canda dan senyum yg tak pernah sirnah...

Menyembunyikan hati yang penuh hujaman duri
dibalik rimbunnya bunga yang bermekaran...

Membiarkan bibirnya dipenuhi nyanyian cinta...
Tapi dinafasnya sesak oleh alunan keresahan...

Eutanasia cinta...
Betapa indah untuk di dengar
tapi menyekat dada dengan kepedihan yang tak berkesudahan....

Masita shanti
Takalar-06-juli-2018







Syurgaku


Disini kuletakkan hatiku
pada rapuhnya jiwa seorang hamba
karena kuyakin...
Ada Dia yang Maha kuat

Disini kurangkai indah mimpiku
Pada papahnya jiwa seorang hamba
karena kuyakin ada Dia yang Maha kaya

Disini kusandarkan harapanku
pada awamnya seorang hamba
karena kuyakin ada Dia yang Maha tahu

Dan disini kuserahkan seluruh bakti cintaku
pada seorang hamba yg bukan siapa-siapa
karena Dia Tuhanku
memilihnya sebagai Syurgaku

DEAR Imamku terkasih
Masita shanti
Takalar-06-juli-2018




Telaga harapan

kusangka cinta yang mengalir
menelusuri tepian telaga hatimu
sejernih angan dan khayalanku
nyatanya keruh jua terpancar

gemericik rindu terus mengalun
memecah sunyi disepanjang arus
tiada sepercik pikirpun terlintas
ragumu surutkan kebersamaan

bersama kecewa dari masa lalu
kucoba singgah dalam hatimu
rasakan sejuknya telaga asmara
sangkaku dapat hapuskan lara

lalu kenapa...???
Hanya karena sebait fitnah
lalu engkau berpaling arah
tinggalkan jiwa merana...

Masita shanti
Takalar-19-Februari-2004

Kumpulan Puisi Nimas - SAJAK PAGI UNTUK KAMILA



Kutitipkan Cerita Pada Kata Ingin
Karya : Nimas Sayu Dara


Banyak kata yang ingin kurangkai menjadi cerita
Tapi ia hanya menjadi aksara
Yang tertimbun koma

Banyak hal dan harapan
Yang ingin kutulis pada lembar kehidupan
Tentangmu, Tuan
Tapi ia tersekat di ujung pena tanpa tinta

Cerita tinggal perihal tanpa ulasan
Hanya ingin yang tertinggal di palung hati
Hening, mengendap bersama butir mimpi dan sisa rindu kemarin

Lampung, 28 Juni 2018
#SyairSenja
#KidungSenja




Sajak Pagi Untuk Kamila
(Nimas Sayu Dara)


Ka ....
Pagi ini embun berguguran
Biasnya berkilau dalam cumbuan mentari
Hangat menyentuh sukma, Ka

Lihatlah beningnya
Seperti jernih kasih yang kau semai di pelataran hatinya
Meski kini hampir layu dan urung bersemi

Sudahi Ka
Jika cinta hanya menuai luka
Ikhaskan pergi andai nyeri menggurit hati
Usaikan dengan rela meski berurai air mata

Jangan risau, Ka
Jalan hidup masih panjang
Cerita cinta tak hanya ada bersamanya
Lihatlah embun itu
Meski matahari selalu memudarkan sejuknya
Ia tetap setia menyapa semesta

Lampung, 24 Juni 2018
#SyairSenja
#KidungSenja





Hujan Juni
(Nimas Sayu Dara)


Di rintik Juni yang bersembunyi
Kuncup urung bersemi
Kelopak enggan mekar kini
Helai daun melayang perlahan mencumbu rerumputan

Adakah rinai yang lebih nyeri dari rinai di bulan Juni?
Di sembunyikannnya tetes kepedihan pada tangkai dan dahan
Di leburkannya semua kerinduan pada genangan hanya pada pucuk dedaunan

Tak ada keluh dalam kecewanya
Karena kerinduan yang tak sampai pada semesta
Hanya halimun yang turun perlahan memeluk hening perbukitan
Luruh bersama embun dan setangkup asa semu di ujung rindu

Lampung, 24 Juni 2018
#SyairSenja
#KidungSenja




Rindu Lagi
(Nimas Sayu Dara)


Pada hitungan nafasku, selalu ada doa untukmu
Mengalir,
Menyatu pada pembuluh darahku
Menjalari tiap-tiap dinding hati
Hingga bayangmu bagai bumerang yang terus saja kembali pulang
Meski kadang aku mengusirnya jauh dari pikiran

Tiap waktu
Aku selalu mengamatimu
Senantiasa membaca goresan aksaramu di beranda
Kau tau mengapa?
Karena aku telah terpanah asmara

Lihat genangan darahnya
Ia adalah rindu yang tak kenal waktu
Terus mengetuk hati dan angan
Untuk mempersunting bayangmu dalam mimpi-mimpiku

Teruslah di situ
Menari anggun dengan Pena rindu
Aku, Akan jadi pembaca setia
Yang takkan berlalu sebelum engkau jatuh nyaman dalam pelukanku

Lampung, 24 Juli 2018
#SayuDara


-------------------------------




Selalu ada doa untukmu wahai insan yang kini jauh di mata
Biarlah kutitipkan hangat rinduku lewat sinar mentari pagi
Agar jiwamu tak menggigil karena sunyi
Dan kubisikkan kidung asmaraku lewat gemerisik dedaunan
Agar selalu kau dengar, melodinya tak pernah terhenti oleh waktu
Biarkan saja semesta cemburu ketika kutuliskan birunya rinduku ini pada cakrawala
Aku tak perduli
Yang kumau, jangan lagi beranjak pergi dari hati
Meskipun saat ini hanya kata yang bercerita
Semoga esok Sang pemilik semesta mengamanahkan kita untuk saling menjaga jiwa dan raga, selamanya
Pesanku, jaga diri baik" di sana, sampai tiba waktu mempertemukan kita dalam cinta

Lampung, 24 Juli 2018
#SayuDara




Ketika Luka
(Nimas Sayu Dara)


Perlahan, aku akan pergi
Bersama butiran embun yang mulai memudar diam-diam
Bukan karena bosan
Tapi aku telah lelah memperjuangkan

Pelan-pelan akan aku tinggalkan
Segenap rasa yang sempat kupertaruhkan dengan banyak tangisan
Dengan banyak cerita kerinduan yang memprihatinkan

Aku pergi
Bukan karena hati telah penuh kebencian
Tetapi jiwa yang tak kuasa lagi bersekutu dengan kepedihan

Selamat tinggal
Aku pergi tanpa tinggalkan pesan
Mungkin akan terasa sangat menyakitkan
Tapi percayalah
Semua akan baik-baik saja sampai saat kita bisa saling melupakan

Lampung, 24 Juli 2018
#SayuDara