RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 20 Mei 2021

Cermin - SI HITAM Karya : Tati Kartini


 

   SENJA menjelang adzan maghrib tiba, dua anak si hitam tetiba keluar dari gudang kamarnya.

"Sssttt, ayo masuk lagi tugu mama kamu akan pulang sebentar lagi."ujarku sambil kembali memasukkan keduanya ke dalam kamarnya.

Terdengar adzan maghrib berkumandang aku siap di atas sajadah untuk melaksanakan perintah shalat maghrib. Sempat kulihat dari celah jendela kamarku kedua anak si hitam sudah ada di halaman, santai berdua seakan tengah menikmati kebebasan. Memang mereka baru berumur seminggu, ini hari pertama mereka bisa keluar rumah.

Dan hari pun mulai gelap. 'Sudahlah biar mereka bahagia sejenak, mereka terlihat senang, santai di halaman' begitu bisik hatiku.

Aku pun melaksanakan shalat dengan tenang. Ditengah doaku, tetiba ku dengar isakan perlahan di depan pintu kamarku yang menghadap ke halaman.
Kubuka pintu untuk memastikan. Aku terkejut melihat anakku sedang berjongkok sambil terisak.

"Ada apa nak? Innalillillahi wainnaillaihi rojiun, kenapa si hitam?."

"Keserempet mah, aku gak lihat ada si hitam." Anakku terus terisak sambil mengelus-elus kepala si hitam.

"Sudah nak, lebih baik istirahat dulu kamu masih capek. " Aku menenangkannya, dia bergeming.

Dia beranjak untuk menggali kuburnya saat itu juga, isakannya terus terdengar.
Si hitam memang kucing kesayangannya, induknya berwarna hitam legam namun dia kucing yang baik hati dan tidak nakal. Begitupun kedua anaknya, berwarna hitam legam persis seperti induknya. Kami semua menyayangi si hitam. Kedua anaknya di kubur kan tanpa setahu induknya, yang sedang pergi keluar. Entah bagaimana caranya nanti aku harus menjelaskan pada induknya, kalau kedua anaknya sudah meninggal.

'Maafkan aku ya hitam, tidak bisa membantu menjaga anakmu' Aku bergumam sendiri, air mataku pun bergulir.

~End

#Cermin (Cerita Mini)
SI HITAM
By : Tati Kartini
Jakarta, 23 Desember 2019

TATI KARTINI

Cermin - SI GANTENG Karya : Tati Kartini



   AKU punya tetangga benar-benar gak punya perasaan. Tiap hari teriakan di depan rumah.

"Cantiiikkkk!!!"

Sekali ini, saking senengnya aku cepat-cepat keluar sambil senyum di kulum.

"iya, ada apa bu?" kataku sambil tersenyum ramah.

"Maaf mengganggu. Saya lagi cari si cantik kucing saya yang berwarna indah kuning keemasan, warna yang langka lho." jawabnya, sumringah … kelihatan bangga.

"Oh … " Aku bergumam

'kirain aku yang di panggil' kataku dalam hati.

Tiba-tiba ….

"Tante cari kucing ini ya?" Anakku menunjukkan kucing yang sedang dipeluknya

"Oh, iya nak … Terima kasih." sambil mengambil kucingnya dari pelukkan Donni, anakku.

"Tunggu sebentar!" aku bicara agak keras

"Oh ya, ada apa lagi ya?"

"Maaf tapi kalung yang di leher kucing tolong dilepaskan dulu." kataku kepada pemilik kucing itu.

"Ok cantik, yuk lepaskan kalungnya, nanti kita beli yang lebih indah ya, kalung ini sudah ketinggalan modenya." bisiknya kepada kucing dan terus berlalu.

'Hadeuuuh, tetangga oh tetangga, dimanakah perasaanmu? itu kan kalungku' bisik hatiku.

"Yuuukk ... Donni masuk, besok lagi jangan maen dengan kucing itu ya."ujarku kepada Donni.

"Tapi Bund, aku mau kucing." Donni merengek manja.

"Iya, nanti kita beli kucing yang lebih cantik ya." Aku menghiburnya

"Tapi bun kalo beli yang lebih cantik nanti panggilannya apa dong?" Tanya Donni.

"Oh iya, kucing tante yang tadi namanya si cantik ya?, yaudah nanti kita beli kucing ganteng aja ya." Aku membujuk tak kehilangan akal.

'Sudah kalah cantik sama kucing masa masih harus kalah akal sama Donni, heee' Bisik hatiku sambil melenggang masuk kembali kedalam rumah seraya menggandeng Donni yang masih cemberut.

~End

#Cermin (Cerita Mini)
SI GANTENG
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 22 Desember 2019

TATI KARTINI

Cermin – True Story SELAMAT JALAN ANAKKU Karya : Tati Kartini


 

   SUDAH sejak semalam dadaku terasa sakit, menjelang pagi aku berjalan perlahan menuju pintu rumah anakku yang bersebelahan dengan rumahku.

Beberapa kali ku ketuk masih belum juga dibuka. Mungkin sedang shalat subuh kata hatiku. Di ketukkan terakhir barulah pintu terbuka, aku bersandar pada tembok dinding rumah, menahan sakit.

"Kenapa Mah?" anakku menyapa dengan wajah terkejut.

"Tolong antar ke dokter, dadaku sakit sekali."

*****

   Kenangan itu selalu datang di setiap kesendirianku. Tak ada lagi yang menyapaku, tak ada lagi tempat berbagi suka dan dukaku. Anakku telah pergi untuk selamanya, pergi mendahuluiku yang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Kini, muram adalah hari-hariku, aku merasakannya sendirian. Di rumah ini terlalu banyak kenangan, sehingga tak mampu lagi aku bertahan, tapi aku harus kemana? Disetiap hariku yang ada hanya tentang kamu, anakku. Kau yang selalu peduli kepadaku.

*****

   Beberapa hari sebelum kepergianmu, kau masih sempat mencarikan obat untukku.

"Mah, di jalan hampir saja aku terjatuh, kepalaku pusing sekali."

Terkejut aku mendengarnya.
"Kamu kenapa nak, sakit ya? Berobat yuk, ke dokter." jawabku.

"Tak usah Mah, biarlah nanti insya Allah sembuh, aku mau istirahat dulu sebentar."
Anakku menjawab, terlihat wajahnya sedikit pucat.

"Istirahatlah, nanti mamah temani."

"Aku tak apa-apa Mah, tenanglah." Anakku berkata meyakinkan dengan seulas senyuman tersungging di sudut bibirnya.

Anakku memang peramah, tak pernah memperlihat kan keluh kesah di wajahnya.
Senyuman abadi, yang kau bawa pergi untuk selamanya. Berbahagialah nak, tunggulah aku. Apalah arti hidupku tanpamu . Itulah senyuman terakhirmu yang kau beri untukku. Dengan menahan air mata ku bisikkan kata terakhirku.

"Pergilah nak aku ridho"

Ridhollah fi ridhol walidain. Terimalah anakku disisimu ya Rabb,masukkan ke dalam surgaMu. Aamiin Allahumma Aamiin.

End

Cermin (Cerita Mini)
TrueStory
SELAMAT JALAN ANAKKU
By : Tati Kartini
Jakarta, 25 Desember 2019

TATI KARTINI

Cerpen - NENEKKU SAYANG Karya : Tati Kartini


 

   NENEKKU cantik dan baik hati, bersyukur Allah swt memberi aku nenek yang luar biasa. Walau ayah ibuku sudah tiada, aku tidak kekurangan kasih sayang berkat memiliki nenek yang penyayang.

Aku tidak sendirian di rumah nenek ada tiga cucu nenek yang lain, putra putrinya paman dan bibiku. Menambah seru, heboh di dalam rumah hingga tak perlu bermain mencari kawan lain sepulang sekolah. Kami berempat sangat kompak berbagi tugas membantu nenek yang mulai tua dan lemah. Nenekku pendiam jarang berbicara tapi selalu tersenyum ramah kepada semua cucunya. Setiap hari libur sekolah kami berbagi tugas membersihkan rumah dan membantu memasak menyiapkan hidangan makan siang. Budi, Soleh dan Tia menyapu, mengepel lantai, membereskan rumah. Aku biasa membantu nenek memasak di dapur.

Satu hari menjelang tidur nenek memasuki kamar kami.

"Anak-anak besok pagi kalian bebas tugas beres-beres rumah, kita bangun pagi menyiapkan makan siang bersama, setelahnya kita berangkat ke sawah untuk melihat panen padi milik kita."

Serempak kami berteriak gembira

"Horee! Asiiik, besok kita akan makan di saung nenek."

"Cepat tidur anak-anak agar besok bisa bangun lebih pagi.Jangan lupa baca doa tidur, doakan juga ayah ibumu."

"Iya Nek, terimakasih nenek sangat baik." Serempak kami menjawab.

"Aku akan doakan Nenek juga, semoga Nenek selalu sehat dan panjang umur." ujarku.

"Amin!" Semua mengaminkan.

Malam itu kami tidur dengan rasa sangat bahagia, terbayang keindahan padi di sawah yang sedang menguning.

Masyaallah la quwwata illa billah. Kami bersyukur dan merasakan kebahagiaan yang sempurna walau tanpa ayah bunda.

*****

   Pagi-pagi sekali kami bergegas mandi, semua bersiap untuk melaksana kan shalat subuh berjemaah di mushola milik nenek yang terletak bersebelahan dengan rumah. Keluarga dekat semua berkumpul untuk shalat berjemaah.
Mereka adalah adik-adik nenek, nenekku anak sulung.

Selesai shalat subuh Nenek berpesan kepada adik-adiknya.

"Cepatlah kembali ke rumah masing-masing, jangan lupa pagi ini kita akan memanen padi di sawah, agar bisa bersama sama memotong padi."

"Baiklah kak, assalamu'alaikum."

Paman dan bibiku bersalaman mencium punggung tangan nenek, begitupun kami semua berebut mencium punggung tangan Nenek.

*****

   Sesampainya di sawah, kami hanya bermain, membuat terompet dari batang padi.

"Teeetttt, teeett." Riuh bunyi terompet bersahutan. Nenek memandangi kami, tersenyum bahagia.

"Anak-anak kalau kalian lapar boleh makan duluan, nanti Nenek bareng dengan paman dan bibi."

Tanpa menunggu lama kami berebutan mengambil piring.

"Eiiit, cuci tangan dulu!" Nenekku mengingatkan sambil tersenyum mengacungkan telunjuknya.

"Baiklah Nek, maafkan kami hampir lupa cuci tangan." Kami serempak menjawab, mulai bergantian mencuci tangan di pancuran pinggiran sawah.
Airnya sangat bening dan sejuk.
Alam di kaki bukit ini memang sangat indah, aku sangat mencintainya.

Pernah beberapa kali Nenekku mengajak berlibur ke Kota, walau sangat ramai dan banyak hiburan di kota tapi aku lebih mencintai desaku yang indah dan subur menghijau.

Tak berapa lama selesai kami mencuci tangan, semua saudara berkumpul untuk turut makan siang bersama. Semua terlihat puas dan bahagia, makan siang yang nikmat, pemandangan yang indah dan hasil panen padi melimpah. Alhamdulillah kami sangat bahagia memiliki Nenek yang cantik dan sholehah. Betapapun keriput terlihat banyak di wajahnya, bagi kami Nenekku wanita tercantik yang mengagumkan.

Nenekku kini tiada, Semoga Allah swt menempatkan di surga. Aamiin

End
Cerpen
NENEKKU SAYANG
Karya : Tati Kartini
Jakarta, 2 Januari 2020

TATI KARTINI



Cerpen – AMANAH Karya : Tsurayya Tanjung


 

   KEHILANGAN
seorang anak adalah kedukaan besar bagi sosok orang tua. Terutama, jika berpulang sang buah hati, terlalu dini. Kehendak Tuhan tidak mampu terelak, jika qodarnya telah sampai.

'Selamat jalan, Nak, ayah akan selalu mendoakanmu. Tunggulah ayah dan ibu di tempat terbaik.' Menatap istriku yang masih tergolek lemah, membuat hati ini remuk redam. Perih. Kehilangan putra kami untuk kedua kalinya, meluluh lantakkan Dena. Belum lagi hilang bekas luka, kembali cedera di tempat yang sama.

"Sayang ... bagaimana kondisimu?” tanyaku pada Dena, sambil membelai pucuk kepalanya. Berusaha menunjukkan sikap tenang sedemikian rupa di depan Dena, meski sesungguhnya hati pilu, Allah yang tahu seberapa besar dukaku.

"Ikhlaskan ... kanda tahu ini berat, tapi kita harus mampu, itu akan membuat jiwa putra kita tenang. Ayo pakai hijabmu, Sayang, tamu takziah sudah banyak yang datang! Atau, Dinda ingin di kamar saja?”

Dena bergeming, tidak bereaksi, entah dia mendengar ucapanku, atau tidak. Binar cahaya Dena redup, membuat hati ini semakin sakit melihatnya. Aku mengazzamkan diri harus mampu tegar untuk Dena, untuk kami.

"Mbok Nah, di rumah saja ya, temani nyonya! Tolong sediakan makan juga. Bujukin Dena untuk makan ya, Mbok. Saya khawatir maghnya kambuh nanti.”

"Ya, Tuan Danang, mbok juga ndak tenang jika meninggalkan nyonya sendiri di rumah saja. InsyaAllah saya akan coba bujuk nyonya makan, Tuan."

*****

   Tuntas sudah semua prosesi pemakaman. Bocah cilik kami, tiada dari pandangan kini. Tidak bisa aku gendong timang lagi. Dia tidak akan pernah tersentuh kini. Hanya kenangan yang terpatri di hati. Sengaja aku meminta Dena tinggal di rumah, tidak menghadiri proses pemakaman Elang putra kami. Tentu ini berat, tapi itu yang terbaik. Dena pun tidak menolak, hanya menjawab dengan anggukan, dalam kepasrahan. Tampak dia mulai memahami, bahwa meratap itu tidak diperbolehkan. Kajian-kajian ilmu yang Dena datangi selama dua tahun ini. Ternyata mampu membawa diri Dena pada kepribadian yang lebih baik. Sepeninggal putra pertama kami, tiga tahun yang lalu. Dena cukup intens mengisi aktivitas hariannya dengan menghandiri kajian majelis ilmu. Kiranya dengan memperdalam ilmu agama, membuat dia tampak lebih tegar. Menghadapi musibah kehilangan Elang kali ini, tampak lebih tenang, semoga jiwanya ikhlas, menghadapi ujian bertubi ini. Tapi aku tahu dibalik ketegarannya itu, luka lebam hati Dena belum mampu terurai. Adalah tanggung jawabku, untuk mengembangkan kembali senyum di bibir Dena.

Hari berganti minggu, minggu beranjak menulusuri bulan baru. Dua purnama sudah, kepergian Elang. Dena mulai jarang menangis, tapi aku belum mampu mengembangkan tawa di bibir Dena.

Kudekati Dena yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang.

“Assalamualaikum, Cantik, lagi apa nih? Bagaimana harimu?” Aku tepuk puncak kepalanya.

“Eh, Kanda sudah pulang? Maaf dinda tidak dengar, Kanda datang.” Meraih tanganku, “Kanda mau makan sekarang?”

“Nanti saja, Sayang, kanda mau mandi dulu,” ucapku sambil memberi senyum terbaik.

“Baiklah, Kanda, oh ya dinda ke dapur dulu sebentar ya, mau buat kopi.” Dena melangkah keluar kamar.

“Assiiik, biar on begadang ya, hehehe,” selorohku.

“Haaaah, memang ngapain ada acara kah hari ini, Kanda? Ah, dinda tahu, Kanda mau ajak keluar ya malam ini?” tanya Dena. Langkahnya terhenti di ambang pintu lalu menoleh kepadaku.

“Ada dech ... hehehe, gih sana buat kopi, jangan pakai garam ya, ups, hehehe.”

“Siaaap, maafkan dinda ya, Kanda, tempo hari dinda lalai, malah buat kopi asin hehehe,” ujarnya, sambil menepuk kening. Lucu.

“Tak apa, Sayang, buatanmu meski asin pun jadi terasa manis.”

“Akh, gombal ....” Wajah Dena tampak tersipu. Merah merona, manis sekali, pemandangan menakjubkan bagiku. Setelah berbulan-bulan kami tenggelam dalam rutinitas hidup yang suram. Ya, sudah terlampau lama aku membiarkan dia tenggelam dalam sepi. Bersyukur, dia sudah bisa tersenyum kini. Aku bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri.

*****

   Ada yang berbeda hari ini, selepas aku menunaikan salat subuh berjemaah pagi ini. Aku melihat Dena sudah berada di dapur, rutinitas yang diambil alih Mbok Nah selama ini, selepas berpulangnya Elang.

"Assalamualaikum, Cantik, wah tampaknya aku bakal dapat menu sarapan istimewa kali ini.” Sapaku, menghentikan konsentrasi Dena.

“Kanda, ah buat aku kaget saja. Hehehe, mulai hari ini dinda putuskan semua urusan memasak, dinda ambil alih kembali, seperti dulu –mengerlingkan mata. Sudah sana, Kanda siap-siap saja untuk ngantor.”

“Tampaknya istri kanda sedang happy nih, jadi malas ngantor akh, mending nemenin kamu di rumah, hehehe.”

Istriku tidak menjawab, hanya menggeleng-geleng kepala, sambil tersenyum. Ah, manisnya. Senyum yang lama hilang dan teramat kurindukan.

Selepas sarapan, aku dan Dena duduk-duduk di serambi belakang rumah. “Sayang, Alhamdulillah kanda bersyukur sekali, Dinda sudah mulai bisa menerima kepergian putra kita,” aku membuka percakapan.

Dena mendengkus halus, “Qodarullah ... maafkan dinda ya, menyusahkan, tidak mengurus keperluan, Kanda dengan baik selama enam bulan ke belakang ini,” ujar Dena

“InsyaAllah, dinda sudah ikhlas, mari kita jelang hari baru. Tidak ada satu pun musibah tanpa terselip hikmah di dalamnya. Allah ingin kita mencintai-Nya lebih besar dari apa pun dalam perjalanan hidup ini.” Lanjutnya.

“Lagi pula, bagaimana aku berhak menggugat kehendak Allah, sementara nyawaku pun berada di genggaman-Nya, Astaghfirullah ...,” jelas istriku panjang lebar.

“Alhamdulillah, Dinda, bisa memaknai musibah ini dengan sangat dewasa.” Kukecup puncak kepala dari hijab lebarnya.

“Iya, Kanda, lagi pula Murabbiku bilang, apa pun kesudahan perjalanan hidup manusia di dunia, adalah tentang penghambaan seorang makhluk kepada Rabbnya. Keluarga, harta, anak hanyalah alat bagi kita mengejar rida Allah.” Kulihat mata Dena berembun. Tapi berbinar cerah, tanpa beban.

Aku bersyukur dititipi amanah istri salihah seperti Dena, semoga ditepikan jodoh kami hingga ke Jannah kelak, Aamiin.

Tasbih, takbir aku untai, sesaat setelah Dena menunjukkan sebuah benda pipih bergaris dua merah. Alhamdulillah sukur kepada-Mu Rabb. Masih Kau percayai kami, mengemban amanah-Mu. Doaku, ijinkanlah kami menerima titipan calon anak ini, lebih lama. Sebagai bekal bagi kami mengejar Rida dan surga-Mu. Aamiin Yaa Mujibbasailiin. Tidak ada musibah yang tidak sanggup dipikul seorang hamba, melainkan Allah kuatkan punggung dan hatinya mengemban ujian.
Fabbi ayyi alaa irobbika ma tukadzzibaan.

End

#Cerpen
AMANAH
Karya : Tsurayya Tanjung






Cerpen : ANAK YANG SALEH Karya : Siamir Marulafau


 

   " AKU muak menengok kau Ahmad",kata temanya.

"Kau bolak balik saja masuk Mesjid, Entah apa saja dikerjakan di sana?" Sabirin berkata.

"Jika aku ke Mesjid selalu, mau apa kau?" Aku tak mengganggu kau, lho. Bapak saya selalu menyuruh aku ke Mesjid. Itu kan urusan aku, Sabirin. Biar kau tahu, di Mesjid itu, kami salat dan berimam, dan kadang-kadang aku menjadi imam bila imamnya tak datang atau berhalangan. Dan tak seperti kau, suka melarang-larang orang ke Mesjid.Jika kau mati, apa yang kau bawa, Sabirin?" Ahmad bertanya.

Tak berapa lama kemudian, Ustad, datang dan kebetulan sudah menjelang magrib. Ustad Arman juga mengucap salam pada.

"Sabirin...Ayuk! Mari salat, waktunya mau azan?" kata Ustad.

Sabirin menjawab," Lain kali saja Ustad. Aku mau buru-buru ini. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah."

"Ahmad, tarik tangannya dan ajarkan Ia berwudhu, sudah azan pun tak mau salat, dan lihatlah Ahmad ini Sabirin. Aku sudah mengajarkan dia salat dan ilmu Al-Qu'ran dan Hadis sejak berumur 5 tahun sampai Ia menjadi salah seorang Ustad di daerah ini ",kata Ustad dengan suara yang lemah lembut.

"Ayuk! Sabirin ,ini kain sarung dan ambil wudhu di sana. Lekas sedikit, Ustad kita sudah bersiap jadi imam hari ini." Kata Ahmad.

Setelah mereka selesai salat, Ustad berkata pada Sabirin," Orang yang tak salat itu adalah sangat murka di sisi Allah Swt. Orang seperti itu bukan ciri anak yang saleh tetapi anak yang tak beriman. Kalau mengaku Islam,harus salat, dan tidak mau tidak.Lihat Saudaraku Bardan, Ia selalu salat di Mesjid. Ia sangat aktif mengurus organisasi dan tak melalaikan tugasnya mengabdi kepada Allah. Biar kau tahu,jika cucu Adam meninggal dunia, hanya ada 3 yang tertinggal, yaitu ilmu yang bermanfaat, harta jariah, dan anak yang saleh. Maka kehidupan yang sedikit di dunia ini harus dimanfaatkan supaya kita jangan mati konyol, dan harus membawa bekal di akhirat kelak. Salah satu amal yang baik di sisi Allah Swt adalah membangun Mesjid. Mesjid itu tempat ibadah dan tak salah jika kita selalu mendatanginya, dan bukan tempat untuk berbisnis. Marilah kita memakmurkan Mesjid. Jangan Mesjid dijadikan lahan untuk mencari nafkah. Apalagi jika uang pembangunan Mesjid diselewengkan tanpa tahu nazir Mesjid. Ini tindakan yang salah dan tidak diridhoi oleh Allah Swt." Kata Ustad dengan nada yang tegas.

End


Cerpen :
ANAK YANG SALEH
Karya : Siamir Marulafau
sm/110-03-2021
Assoc.Prof.Ustad. Siamir Marulafau


Cerpen – RETAK Karya : Tsurayya Tanjung




   "HUUU ...." Suara gemuruh para mahasiswa dan mahasiswi, riuh menyoraki Sari, di sekeliling lapangan basket outdoor kampus ini.

Pada ujung lorong bangunan kelas, seberang lapangan tempatku berdiri kini. Bisa terlihat jelas, bahwa Sari tengah dipermalukan secara terbuka oleh Heru. Heru menghempaskan kado ulang tahun yang Sari berikan padanya. Berupa bola basket, ke sebuah tong sampah yang tak jauh, letaknya dari pinggiran bangku lapangan. Aku tahu Sari takkan memberi hadiah barang murahan. Tentu itu bola basket dengan merk branded. Sebagai anak dari keluarga berada, dia mampu.

"Sari, mengapa kau sampai senekat ini, menunjukkan perasaanmu," gumamku. Menyesali kejadian memalukan yang baru saja kusaksikan dengan kedua mata ini. Yang juga dilihat oleh banyak pasang netra di sekitar kami.

Heru, mengapa dia tak punya hati. Sampai setega itu menunjukkan penolakannya pada Sari. Lalu seringai senyum jahat kemenangan Heru ditujukan ke arahku. Ya, kepadaku. Tak lama ekor mata Sari mengikuti arah pandang Heru ke arahku. Membuat sorot luka di manik mata Sari semakin kentara. Entahlah, hanya saja aku takut dia mengira aku yang meminta Heru mempermalukannya. Lalu hubungan kami akan semakin buruk.

"Kenapa?" tanyaku pada Heru.

"Apanya yang kenapa sih, Cantik." Seringai senyumnya semakin membuatku sebal saja.

"Kenapa kamu mempermalukan Sari, Her ... nggak harus kamu tolak dia dengan cara begitu kan? Gak musti kamu permalukan dia di lapangan tadi. Semua orang jadi tahu."

"Biar saja semua orang tahu, siapa itu Sari. Semua orang tahu kalau dia sahabatmu sejak dari SMU dulu. Juga semua orang pun tahu kalau aku adalah kekasihmu. Biar banyak orang menilai, sahabatmu itu tipikal seperti apa," jelas Heru.

"Jujur aku puas lihat si Sari nangis. Aku gak suka sama cara dia mengkhianati kamu, dengan berani menggoda aku. Aku, Heru Dewanto, kekasih Naina Larasati," ucap Heru lagi.

Heru mencoba mengemukakan pendapat dan isi hatinya. Tapi aku tidak setuju dengan caranya. Aku tidak suka Sari dipermalukan. Hubungan kami memang merenggang saat ini. Tapi jauh di lubuk hatiku. Masih menempatkan Sari sebagai teman terbaikku. Persahabatan yang terjalin selama lima tahun ke belakang ini. Terlalu berharga untuk hancur begitu saja.

"Lagian si Sari tuh, gila ya gak tahu malu, jelas-jelas kita pacaran. Masa blak-blakan ngedeketin aku. Aduh ngeri lah ama cewek model begitu."

"Kamu juga, Nay, cowoknya memperlihatkan kesetiaan malah dicecer. Kamu nggak lagi pening atau demam kan? Atau lagi PMS ya?" tanya Heru sambil menempelkan telapak tangannya di keningku. Manis sekali.

Jujur saja yang dilakukan Heru juga tidak serta merta salah. Jika kejadian pagi tadi, bukan Sari yang blak-blakan menunjukkan perhatiannya pada kekasihku. Mungkin sudah kudatangi Heru saat itu juga. Memberinya pelukan manis, agar siapa pun yang mencoba menarik perhatiannya, tahu diri bahwa Heru adalah milikku.

"Haah, sudahlah yuk, Nay aku antar pulang udah nggak ada kuliah lagi kan hari ini?" Heru menarik lenganku mengajak beranjak dari bangku taman kampus.

Sementara hati ini masih saja tertuju pada Sari, dia pasti merasa sangat dipermalukan. Ah, masih saja mempedulikannya. Meski dia dengan sengaja membuat jarak, sengaja membuat retak persahabatan diantara kami.

***

   Deru ban motor Heru, hembus semilir angin menerpa kulit wajahku. Angan menerbangkan pikiran ke kejadian dua minggu lalu. Masa paling gelap sepanjang persahabatanku dengan Sari dan Susan. Kami tiga sekawan sejak di bangku putih abu. Kala itu Sari tiba-tiba sudah menungguku di teras rumah. Dengan wajah kusut masai. Raut manisnya membias pias. Sempat terpikir kalau di memang sedang punya masalah. Tapi tak pernah kukira, jika masalah yang merundungnya, persoalan hati. Ini pun menjadi titik nadir bagi hubungan kami.

"Nay, boleh Sari minta waktu sebentar."

"Apaan sih, kaya orang asing aja. Lagian kok nunggu di sini sih. Biasanya juga capcus ke kamar aku, mainin laptop. Eh, Susan mana?"

"Susan masih di kampus, dia masih ada jam sampai jam empat sore katanya," jawab Sari.

"Ouh oke, yuk masuk ke kamar, sekalian deh kamu mandi gih, kusut amat sih tu muka. Asem. Hehehe."

"Nay, Sa-Sari, cuma mau nyerahin ini." Sari mengulurkan sepucuk surat padaku.

"Apaan sih, Sar, ada masalah?"

"Ntar, juga, Nay bakal ngerti semuanya. Sari pamit ya Nay." Tiba-tiba Sari memelukku, erat, mengelus punggungku.

Seketika aku mengendus ada yang tidak beres. "Maafin aku, Nayna Larasati. Kamu sahabat terbaikku. Gadis populer yang bersedia merangkul seorang Sar, Si gadis cupu."

Sari melerai pelukannya. Ada bening kaca di kedua netra cokelatnya. Kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan aku kebingungan di teras rumah. Menatap punggungnya hilang, bergeming sambil menatap sepucuk surat.

Dear, Nayna Cantik

Nay, sebelumnya aku mau minta maaf, karena setelah membaca surat ini. Kau akan kecewa bahkan membenciku barangkali. Tapi aku sudah tak mampu lagi menanggung beban hati. Rasanya capek, lelah.

Nay, jujur saja, jika Sari selama ini memendam rasa sama Heru. Maaf, aku tahu dia pacarmu, Nay, tapi Sari gak sanggup lagi menyimpan rahasia hati ini. Sari sudah suka sama Heru, jauh sebelum kamu dan dia jadian dua tahun yang lalu. Aku kira, aku akan sanggup membendung rasa. Tapi nyatanya rasa ini semakin besar dan menyiksa. Nay, aku cinta sama Heru. Kekasih sahabatku sendiri. Maaf Nay, maaf.
Kau boleh benci aku Nay. Aku sadar setelah ini hubugan kita tak akan pernah lagi sama sebagai sahabat. Tapi sebagai sahabatmu, untuk terakhirnya aku minta satu hal padamu. Mulai sekarang Sari akan menunjukkan rasa pada Heru secara terbuka. Aku akan mendekati dia, maaf beribu kali maaf. Tapi bukankah Sari juga berhak bahagia, Nay? Aku berhak mengejar kebahagiaanku sendiri, bukan?
Maafin Sari .

Sari, ya Tuhan, mengapa begini. Aku kecewa, sedih, marah dan rindu pada sahabatku itu bersamaan. Isi suratnya sama sekali diluar dugaan. Aku kira dia kembali bermasalah dengan ayah atau ibunya. Tapi ternyata. Sakit. Rasanya lebih tersayat, bahkan dibandingkan saat Heru mengkhianati hubungan kami setahun lalu. Hingga akhirnya kita sempat mengalami fase putus nyambung. Sungguh ini rasa kehilangan yang lebih besar. Rasa kesepian mendera kalbu. Ada rasa aneh menjalar begitu saja. Seolah menghantarkan ragaku pada suatu dimensi berbeda. Dimana aku bisa melihat slide potongan kejadian masa silam, menyaksikan riuh candaku bersama Sari dan Susan. Seolah aku tengah menonton layar tiga dimensi. Ragaku terjebak berada di sana sesaat. Hampa.

***

   Suara pintu kamarku tak lama berderit, aku enggan mencari tahu siapa yang memasuki kamarku. Hanya ingin berdiam diri di balik selimutku, bersembunyi. Berharap aku tertidur, lalu terbangun, dan menemukan kejadian ini hanyalah mimpi. Andai ....

"Nay, kok masih sore 'dah tidur aja sih?" Suara Susan tiba-tiba terdengar begitu dekat. Rupanya dia yang masuk.

"Nay, ayo bangun, ada premier film baru nih, aku punya gratisan lima tiket. Tar kita berangkat bareng. Kamu sama Heru, Aku ma gebetanku Doni, satu lagi buat Sari." Susan menyingkap selimut, yang menutupi tubuhku, dengan ekspresi ceria seperti biasa.

Aku mendongak dengan mata sembab. Lalu mengulurkan sepucuk surat kepada Susan.

***

   "Yaa Allah, Sari. Aku emang udah ngerasa, dia tuh sering perhatiin si Heru, kalau kita lagi jalan bareng. Tapi kagak nyangka aja gitu loh." Susan duduk di kasur sambil menghempaskan tubuhnya.

"Udah deh Nay, jangan lebay napa. Sari itu gak selevel sama kamu," ucap Susan. Sambil membenahi rambut lurusku yang acak-acakan.

"Baik dari fisik, popularitas maupun kecerdasan. Dia itu gak ada apa-apanya, dibanding kamu. Cantik, bangir, mata bulet kaya jengkol begini," seloroh Susan berusaha menyemangatiku.

" Heru mana tertarik sama gadis dekil kaya dia," ucapnya lagi.

Susan berusaha menghiburku. Bahkan sampai terkesan menjatuhkan Sari. Tapi bukan itu yang aku butuhkan. Sebab aku pun tahu, jauh di lubuk hatinya, dia pun bersedih. Atas retaknya persahabatan ini. Serupa denganku, matanya tak bisa menipu, kalau persahabatan ini berarti. Sangat berarti.

***

   "Nay, udah sampai nih, ayo turun." Heru menggosok telapak tanganku yang masih melingkar di pinggangnya.

"Ketiduran kah, Nay?"

"Eh udah sampai ya, maaf aku nggak ngeuh."

"Ya udah istirahat sana. Maafin aku, atas kejadian hari ini, ya, Sayang."

"Aku tahu diri, bukan orang baik, cumen lagi belajar bener. Terutama buat kamu, Nay. Mungkin aku terlalu possesif terkadang, atau juga kekanakkan. Aku cuma gak mau, mata bulat indahmu ini meredup karena sedih."

Heru mengusap kedua kelopak mataku, lembut. Lalu mengacak belahan rambut lurusku. Manis sekali. Sama seperti sosoknya yang manis. Salah satu cowok terpopuler di kampus kami. Digilai banyak cewek, karena figurnya yang gagah, kulit kuning wajah khas pemuda keturunan jawa yang menawan.

"Hei, ngelamun, segitu terpananya ama aku, ampe takjub begitu ngeliatinnya. Cinta mati ya? Hahahaha ...," canda Heru membuyarkan monolog jiwa.

"Cowok aku emang ganteng banget sih, ampe dikejar-kejar banyak cewek. Ampe akhirnya kamu juga sempat berpaling. Sampe sahabatku juga rela berpaling dari aku demi ngejar kamu. Iya kan?"

Hening, sesaat kami terdiam.

"Maafin aku, Nay, atas kejadian yang dulu. Sungguh aku sayang banget sama kamu. Tapi aku kan sudah berjanji bakal setia dan jagain kamu. Bahkan ketika yang sakitin kamu itu, orang terdekatmu, Nay."

Lagi, kami terdiam, tenggelam dengan pemikiran kami sendiri-sendiri. Ini hari yang berat bagi kami, terutama bagiku. Ada rasa rekah di jiwa, menjadi bongkahan pilu di sudut kalbu. Perasaan kehilangan yang sungguh hebat. Aku berhasil meraih cintaku, tapi kehilangan persahabatanku bersama Sari.

"Nay, aku cabut ya, besok aku jemput, kita ke kampus bareng."

Aku hanya mengantar dia pergi dengan seulas senyum. Rasanya tubuh ini penat sekali. Berjalan gontai, melewati ruang tamu tanpa memperhatikan sekitar.

Tiba-tiba aku mendengar suara Sari, memanggilku. Kiranya dia ada di ruang tamu. Entah sejak kapan, dia menghampiri, tiba-tiba merengkuhku dengan isak tangis tertahan.

"Nay, maafin Sari. Maaf Sari merusak segalanya. Ternyata keputusan Sari mengejar cinta itu keliru. Kini Sari kehilangan segalanya, kehilangan kamu terutama. Mendapatkan perhatian Heru pun tidak. Justru dia muak. Lalu harga diriku ... hks hks, imageku hancur sudah di kampus."

Aku terdiam. Tak mampu bersuara. Sungguh aku pun tidak suka atas semua yang terjadi, semoga bisa dia tarik hikmah atas kesemuanya ini.
Lalu Sari melepaskan rengkuhannya, dari tubuhku yang bereaksi diam. Bergeming reaksi tubuh, ekspresi dari suasana hati yang kacau.

Sari mengacak rambutku, dan berucap. "Sari sayang kamu, Nay. Selamanya kamu bakal ngisi singgasana tertinggi di hati Sari, sebagai sahabat terbaik Sari."

Lalu dia beranjak dari hadapanku, sementara aku masih terdiam, terpaku, kesadaran seolah terenggut. Hingga, deru suara mobil Sari menyadarkan, kalau dia sudah meninggalkan rumah ini.

***

   Setelahnya Sari menghilang. Dia tak pernah lagi muncul di kampus. Beberapa orang mengatakan Sari pindah kota, ada juga yang bilang pindah kampus. Ada secarik sesal dihatiku. Sari juga tidak pernah lagi muncul di depan teras rumahku. Sementara saat kali terakhir kami bertemu, belum terucap kata pengampunan dari lisanku. Meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar marah. Menyadari bahwa retaknya persahabatan ini, berawal atas saranku sendiri. Agar Sari mau mengejar cinta rahasianya. Hanya saja tidak pernah aku kira, jika dia mencintai kekasih sahabatnya sendiri. Kekasihku.

TAMAT


#Cerpen
RETAK
Karya : Tsurayya Tanjung




Cerpen: KESENGSARAAN MEMBAWA NIKMAT Karya : Siamir Marulafau


 

   DI saat mentari menyinari bumi,awan menyongsong langit biru sepertinya kesibukan para petani di ladang Padang panjang, sebuah desa terkenal dengan adat kampungnya.Bak kata pepatah mengatakan 'Manusia hidup tanpa adat berarti biadab'.Ungkapan inilah membuat salah seorang teman sejawatku bernama Dodi datang ke kampung halamanku sekitar dua tahun yang lalu merasa terheran-heran dan tertegun melihat situasi kampungku.Aku pun sempat mengulurkan waktuku bercerita kepadanya tentang kampung halamanku.

"Eddy, aku heran sekalilah semenjak kita tinggal beberapa hari di kampung ini,kelihatannya orang-orang di desa ini sangat sopan-sopan dan ramah,ya Ed." kata temanku itu.

Lantas aku juga tak tinggal diam dan memberikan respon kepadanya bahwa memang begitulah Dodi,aku pun merasa terkesima melihat situasi di sini walaupun kampung ini kampungku sendiri.Tapi yang paling seru lagi, ya kebetulan yang aku kenal di sini seorang anak juragam yang kaya di kampung ini bernama Eni Laia,dia cantik dan baik hati.Dia juga seorang guru di kampung ini dan mengajar di SMP Negeri XI.

"Wah,Edy. Kalau begitu kamu punya teman di kampung ini?"

"Secara kebetulan saja itu dan memang aku sangat mengenal keluaga
perempuan itu".

Kadang-kadang bila aku ke rumah mereka, orang tuanya sangat senang padaku dan begitu juga adik-adiknya.Setahuku mereka ramah dan tidak sombong walaupun mereka kaya di kampung ini.Kata ayahku,mereka dulunya orang miskin tetapi mereka bekerja keras di ladang dengan tekun sehingga hasil ladang mereka sangat menguntungkan dan dari hasil ladang itulah orang tuanya membuat modal untuk berdagang dan lama-lama mereka menjadi kaya di daerah ini.Kemudian setelah orang tuanya naik daun, Eni Laia juga tak tinggal diam dan dia melanjutkan studinya di FKIP Padang.Beberapa tahun kemudian dia lulus dari perguruan itu dan diangkat menjadi salah seorang tenaga pengajar SMP di kampung ini.

"Oh,gitu ceritanya Eddy,menarik juga deh,".

"Iya,Dodi.Kalau mau ingin kenalan,ya, biar kuperkenalkan kamu sama keluaga mereka.Nanti kan kamu tahu bagaimana situasi dan keadaan keluarga itu"

" Hemat saya, kamu kan juga mencari jodoh, iakan?" kataku sama Dodi.

Tapi dodi berkata "Ada-ada saja kamu Eddy. Kalau begitu,tak mengapalah dan aku hanya bercanda saja."

"Oh, teringatnya,Eddy, kamu katakan bahwa orang tuanya seorang juragam dan mengapa mereka cepat sekali kaya raya di kampung ini.Kamu bilang keluarga itu adalah petani dulunya tapi kok begitu jadinya?"

"Jangan heran Dodi,nasib manusia ini kan berubah-ubah dan tidak sama, iakan?Tapi yang paling penting diingat bahwa manusia itu,siapa pun dia harus berusaha dan tidak mungkin Tuhan datang ke muka bumi ini langsung mengubah nasib seseorang jikalau dia tidak mengubahnya sendiri, iakan? Karena usaha itu sangat penting dalam diri manusia.Tanpa berusaha berarti hamba Allah ini akan terpojok dan jatuh miskin. Itulah perinsip yang selalu di pakai oleh Pak Ahmad, Bapaknya Eni Laia setahuku karena perinsip demikian selalu diberitahukan padaku dan aku juga, Dodi selalu menyimpan kata-kata itu.Aku pikir itu kan paling bagus bila kita terpkan dalam hidup kita sehari-hari."

"Apa pun yang kau katakan,Eddy adalah benar dan aku pun setuju.Itu pulalah petuah orang tua yang harus kita tanamkan dalam diri kita supaya kelak sukses dalam hidup".

"Betul sekali Dodi dan biar kamu tahu bahwa sejak kecil aku tinggal di kampung ini, aku selalu bermain ke rumah mereka dan aku tahu athu semua keadaan keluarga mereka. Dulunya, memang mereka sangat miskin tapi sekarang jangan tanya dan itulah orang-orang yang gigih. Meskipun mereka sengsara dulunya tapi membawa nikmat dan bahagia selanjutnya karena mereka sangat tekun bekerja dan gigih dalam mengerjakan apa pun yang halal di mata Allah dan bukan yang haram-haram.Kita lihat pada zaman sekarang, banyak orang kaya tapi kekayaan mereka diperoleh dengan jalan yang tidak halal dan ada juga sebahagian mereka yang kaya memperoleh kekayaan mereka dengan hasil korupsi dan apa jadinya?"

"Sepakat Eddy,benar sekali dan kisah hidup Pak Ahmad Laia itu yang kamu ceritakan bisa dijadikan panutan oleh semua orang supaya mereka tahu tentang perjuangan hidup ini dan ini baru dikatakan kaya bersih, yaitu bersih dari KKN dan hasilnya pun selalu diridoi oleh Allah SWT".

"Memang payah mendapatkan prinsip hidup Pak Ahmad ini,Dodi. Aku pun salut melihat Bapak itu.Dia sekarang menjelang usia 50 tahun dan Erni kurang lebih 30 tahun usianya, dia masih muda.Dia punya adik laki-laki bernama Hafiz Laia berumur 22 tahun dan sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di Padang. Orangnya juga ganteng dan sangat ramah pada setiap orang. Aku sangat senang padanya dan kadang juga aku mengajaknya main-main di ladang untuk bercocok tanam dan sambil makan ubi bakar. Pada sore harinya, kami pulang ke rumah dan jika malam minggu, kami duduk di teras rumah mereka dan sambil main gitar dan dari situlah aku makin kenal dengan kakaknya Eni Laia,orang ramah dan tak pernah menyakiti perasaan orang lain. Pokoknya, dia selalu bergaul dengan teman-temannya. Aku juga mengenal nama di face book dan selalu memberikan komentar pada beberpa puisi yang ditulis oleh seorang penyair menuliskan puisi Penyair Dalam Lingkaran Cinta."

"Oh, mantap sekali,Eddy, aku jadi pepingin kenal dengan dia"

"Ok, Dodi, kalau tak sekarang,kapan-kapan kamu datang kemari lagi akan kuperkenalkan kamu pada keluarga mereka."

"Betul,juga ya,Eddy.Tak apalah, aku akan libur pada bulan Juni tahun depan dan aku akan kontak kamu untuk balik ke sini lagi, ya Eddy. Terserah kamu, kalau aku kapan saja ada waktu dan kuajak kamu pergi di sini lagi. Ok,Eddy,tapi teringatnya, kita akan balik ke kota besok, kan? Kita naik apa sampai ke kota karena kami kuliah pada hari Senin dan alangkah baiknya kita sudah sampai sebelum hari Senin.

"Tak usah khawatir Dodi, kita kan diantar oleh Pak Ahmad. Dia punya supir pribadi namanya Agus, dan aku sudah kontak mereka sebelumnya."

"Wah, bagus sekali,Eddy.Aku pikir kita naik becak, padahal kamu sudah mengatur segalanya. Memang kamu seorang teman yang baik dan aku benar-benar salut pada kamu.Bagaimna pun, aku tak akan melupakan budi baikmu,tapi bila kita sudah sampai ke kota,Eddy. Kita lebih baik singgah ke Swalayan untuk membeli oleh-oleh buat Pak Ahmad sekalipun bukan Tuan Ahmad yang mengantarkan kita tapi kan bisa dititipkan sama supirnya,kan?"


"Ok, terserah kamu,Dodi.Kalau memang begitu prinsipmu, ya aku hanya turut saja.Aku pikir prinsip itu sangat bagus apalagi kita diantar sampai ke kota dan wajar bila kamu membeli oleh-oleh buat mereka,, terutama buat Eni Laia, iakan?"

"Eddy, jangan kamu sepelekan aku,yaEddy, aku bisa marah".

"Lo!,yang kubilang ini kan benar, iakan?"

"Iya, tapi entahlah,Eddy. mengapa hatiku sudah mulai tersentuh pada Eni Laia. Meskipun aku belum bertemu muka hanya melalui face book saja. Makanya, aku pun menuliskan puisi buat dia bertajuk Kaulah Marwarku. Bagaimana ini,Eddy?"

"Wah, baru terbongkar ceritanya, ya Dodi. Kamu bilang tak mau tapi nyatanya kamu sudah mulai jatuh cinta kepadanya." Tapi namun demikian tak usah khwatirlah aku akan bereskan semua karena dia kan kenal padaku dan aku akan katakan kepadanya bahwa ada seorang temanku ingin berkenalan dengan anda, namanya Dodi, seorang penyair masa kini.Pokoknya, kita akan ke mari lagi pada bulan Juni sesuai dengan apa yang kamu janjikan padaku,iakan?"

"Ok, kalau begitu Eddy.Aku setuju dan segalanya bisa diatur kemudian dan yang paling penting kita harus kembali ke kota karena perkuliahan sudah mulai hari Senin. Berhubung sudah larut malam, kita lebih baik beristirahat karena besok pagi kita sudah meninggalkan kampung ini. Selamat malam."

End


#Cerpen
KESENGSARAAN MEMBAWA NIKMAT
Karya : Siamir Marulafau
sm/29112013

Cerpen - SURGA DI TELAPAK KAKI IBU Karya : Siamir Marulafau




   "MEMANG nasi sudah jadi bubur", kata seorang petualang di saat aku menjumpainya di persimpangan jalan dan kebetulan di sana ada sebuah warung kopi beristirahat sejenak.Anak zaman sekarang nampak-nampaknya sudah sangat jauh berbeda bila dibanding dengan anak zaman dahulu, mengapa kita sampai berkata demikian? Karena perkembangan zaman ke zaman semakin canggih dan kehidupan manusia serba tak teratur.Manusia kebanyakan merasa egois dan tak perduli dengan orang lain bahkan seorang anak pun tak perduli dengan orang tuanya.Bayangkanlah itu, kita sangat prihatin dan untuk ini memang kesabaran dalam mendidik anaklah yang lebih utama.

"Tuturanmu, benar,Mir tapi kita tidak boleh putus asa dalam mendidik anak-anak pada zaman sekarang ini karena sangat berbeda dengan zaman orang tua kita pada masa yang lalu."

"Iya, setuju apa yang kamu katakan, tapi makan hati kita sebagai orang tua
terhadap anak-anak kita sekarang. Tapi harus tahu kamu Joni bahwa kerap kali anak-anak melawan sama orang tua mereka sekarang dan tak jauh-jauh anak tetanggaku yang namanya Eko Saputra selalu melawan pada orang tuanya dan terlebih-lebih pada Ibunya.Kadang aku dengar sering ada pertengkaran di rumah mereka.Aku tak habis pikir bagaimana Pak.Agus itu mendidik anak-anaknya padahal dia seorang guru SMP di kampungku.Anaknya sangat bandel dan tidak mau dinasehati,entah apa yang membuat anak itu hilang kendali."

"Mir, tak usah heran kamu,anak zaman sekarang adalah anak main"

"Ada-ada saja kamu ini, Joni.Itu kan tergatung pada yang mendidiknya"

"Iya, tapi anaknya kan tetap bandel juga.Jadi mau apa itu jadinya anak nanti?"

" Tak tahu apa lagi yang kutakan, Joni.Pokoknya, pendidikanlah sebagai solusi satu-satunya mengubah watak dan perilaku anak itu.Tapi yang paling membuat aku kecewa sebagai tetangga,ya aku sempat dengar Eko,anaknya Pak.Agus itu sempat memaki Ibunya sewaktu Bapaknya tak berada di rumah dan entah apa masalahnya fan aku pun tak tahu.Aku pada waktu itu terus mendatangi mereka dan kutariklah tangan Eko kemudian kubawa ke rumahku dan kunasehati.Aku pun sangat geram melihatnya.Kalau tak pikir-pikir anak tetanggaku, aku sudah kutampar pipinya tapi aku juga menahan emosiku.Aku katakan padanya, Eko Saputra, sadarkah kamu apa yang kamu katakan pada Ibumu, itu sudah luar bisa dan kamu akan menjadi anak yang durhaka karena kamu melawan sama orang tua."

"Setelah kunasehati dia, ternyata dia juga nampaknya berubah seketika. Tapi ya namanya anak dalam masa pancaroba masih belum mantap pikirannya untuk mengubah segalanya. Yang paling jengkel dan membuat aku marah sewaktu dia berkelahi dengan salah seorang anak tetangga kami karena dia melempar kepala Udin dengan batu sehingga kepala anak itu berdarah dan tentu saja orang tuanya keberatan.Lantas Ekonya bakal di adukan ke polisis tapi untung kami mencari jalan tengah supaya Eko jangan sampai dibawa ke kantor polisi.Orang tuanya terpaksa mebayar denda sebesar Rp 2.000.000,-(dua juta rupiah) untuk pengobatan anak itu.Ibu Eko sangat marah kepada anaknya dan Eko pun melawan juga sama Ibunya membuat Ibunya sedih dan menangis seketika.Tiga jam kemudian, kupanggilah Eko,anak tetanggaku.Walaupun aku bukan orang tuanya tapi karena anak tetangga,aku juga tak sampai hati membiarkan dia begitu karena Bapaknya sangat baik kepadaku sebagai sahabat dan teman bermain golf di Helvetia.Apa kukatakan pada Eko,"Eko, sudah beberpa kali kau melawan sama Ibumu, ya Ko,itu kan tak baik dan kamu akan durhaka.Kamu harus tahu bahwa surga anak itu di telapak kaki Ibu."Kalau kamu tak percaya, tanyalah pada Udstaz Rahim Gea. Dia selalu memberikan ceramah tentang anak-anak yang durhaka kepada orang tua."Eko,pada zaman dulu ada seorang anak yang durhaka karena selalu melawan orang tua, dan langsung Orang tuanya berdoa kepada Tuhan dan akibatnya anaknya itu menjadi batu dan salah satu diantarnya adalah Maling Kundang".

"jadi, setelah dinasehati, bagaimana Ekonya, pak.Amir?"

"Menangis,dia janji tak akan mengulanginya lagi."Tapi namanya,anak masih ingusan, ya kita selalu memberikan perhatian kepadanya dan apalagi orang tuanya, iakan,Joni?"
|
"Betul. sepakat. Tapi maklum sajalah anak-anak zaman sekarang."

"Tahu kamu Mir, anak-anak tetanggaku pun nakal-nakal dan suka mencuri jambu dan keluyuran pada malam hari. Orang tua mereka juga susah dengan prilaku anak-anak mereka karena anak-anak ini semua tak bisa dibilangi dan mau mencari kemenangan mereka sendiri."

"Itulah model anak zaman sekarang,Joni. Aku sempat dengar Eko ini juga suka main balap liar dan ngebut-ngebut bila naik Honda.Dia kan pernah di opname di RS Umum karena jatuh dari kereta,dan orang tuanya juga yang susah, kan?"

"Wah, kalau anak-anakku,pak.Amir kan tak bubiarkan ngebut-ngebut karena itu sangat berbahaya. Kalau sempat nabrak anak orang, baimana jadinya? Kita kan report maka kita selalu waspada dan betul-betul cermat dalam mendidik anak supaya mereka terarah.Bila begitu, masa depan mereka akan cerah dan jangan sempat seperti anak tetanggaku pada dua tahun yang silam meninggal akibat kecelakaan."

"Oh!, menyedihkan sekali Joni,baiklah sudah hampir pukul 2.30, kita berpisah dulu karena ada urusan yang penting dikerjakan.Selamat sore."

End

#Cerpen :
SURGA DI TELAPAK KAKI IBU
Oleh : Siamir Marulafau
sm/03122013

Cerpen : AMBISI SEORANG JANDA Karya : Siamir Marulafau



   HELENA nama asli berdarah Indonesia dengan paras cantik menawan,baik budi dan tak pernah arogan walaupun dia dilahirkan dari keluarga yang serba ada.Dikatakan, Helena bukanlah anak gadis yang serba kekurangan dalam keluarganya dia seorang mahasiswi pada jurusan Enomusikologi di salah satu perguruan tinggi di kota saya.Aku tak habis pikir menceritakan kisah hidupnya dengan seorang dosen di perguruan tinggi negeri yang ada di kota Medan pada salah seorang teman saya bernama Eddy Murya.


Pada pagi hari yang kabut di mana sinar mentari redup,cahaya tak benderang berderinglah selularku yang kebetulan aku letakkan di atas meja tulisku dan terpaksa aku harus mengangkatnya dan begitu aku terkejut dengan panggilan temanku Eddy Murya.Kami selalu bercakap-cakap dan kadang curhat pada setiap malam minggunya.Tapi, entah mengapa pagi itu,Eddy mengajakku ke pantai cermin untuk menyantap ikan bakar dan kebetulan pada waktu hari Minggu sekitar jam 9.30 pagi.Aku pun tak bisa menolaknya."Yuk,pigi yuk,ke pantai".Dia serius mengajakku dan aku pun bergegas mengambil mobilku dan datang ke rumanya untuk menjemputnya.

Setelah tiba kami di pantai cermin dan menikmati ikan bakar, cerita demi cerita terseliplah dalam benakku apa yang pernah aku dengar kisah cinta antara dua pasang makhluk Tuhan di muka bumi ini dan memang kisah yang sangat menyedihkan dan menyayat hati karena ternyata Helena adalah juga teman saya di waktu SMU di kota Medan. Mendengar cakapku ini, Eddy rupanya mulai tertarik dengan apa yang kuomongkan sambil menyelam minum air dengan pandangan ke hamparan lautan pantai cermin Deli Serdang Sumatera Utara.Sambil makan-makan,aku pun mulai buka cerita pada temanku,Eddy dan dia pun cukup serius mendengarkannya.Dengan catatan bahwa kuceritakan ini bukanlah karena aku seorang yang ahli cakap dan bercerita, bukan, bukan sama sekali tapi karena rasa prihatin mendengar kisah pasangan hamba Allah yang sangat mengharukan hati.

Setelah makan siang bersama dengan suara yang nyaring,Eddy bertanya,"Apa sebenarnya tentang Helena yang kamu singgung tadi ketika kita sedang di perjalanan menuju ke mari,Jul?"Oh,ceritanya aneh tapi nyata pada masa sekarang ini,biasa namanya cerita.Aku sangat prihatinlah Eddy, rupanya teman sekolahku dulu namanya Helena yang menikah dengan seorang dosen pada jurusan sastra Inggris, yaitu Bapak Syaifuddin namanya. Mereka sangat bahagia dan dikaruniai 2 orang anak.Anak-anak mereka cantik-cantik.Nampaknya,Ibu Helena semakin cantik juga selama mempersuamikan Pak,Syaifuddin, ya namanya istri seorang dosen dan tentu saja kantongnya berisi apalagi PNS.

"Oh, iya jelas donk,Eddy.Kalau kita ini, apalah,sudah cukup dikatakan pas-pasan Senin Kamis, iakan?"

"Betul, makanya kita pun harus giat belajar supaya kita kayak Pak.Syaifuddin."

"Tapi Eddy, yang membuat aku sedih adalah peritiwa kecelakaan maut di jalan Tol Balmahera sekitar dua tahun setelah aku tamat di USU.Kecelakaan itu membawa ketidakberuntungan bagi Ibu Helena karena suaminya menghembuskan napas terakhir yang sangat memilukan hati dan aku pun pada masa itu sangat sedih sehingga air mataku tak terbendung mengingat bagaimana nasib Ibu Helena dan kedua anak-anak mereka yang masih kecil-kecil."

"Jadi, bagaimana selanjut,Jul"? Eddy bertanya padaku

"Itulah, setahun kemudian Ibu Helena menikah lagi dengan seorang duda yang
bekerja sebagai pedagang dan sangat kaya di kota Medan,iya namanya saja pedagang serba cukup malah lebih dari itu pun dia bisa beli,Eddy."

"Oh, begitu dan bagaimana dengan anak-anak mereka?"

"Ala, kalau sudah kepingin meranjang, apapun yang terjadi karena bunganya lagi bersemi di taman firdaus. Ya, anaknya terpaksa dititipkan kepada neneknya yang kebetulan Ibunya, Bu Helena masih hidup tapi usianya sudah tua dan dia lah yang merawat anak-anak itu.Tapi yang membuat aku sedih sekali,Eddy, yaitu Ibu Helena tega betul dia meninggalkan anak-anaknya.Aku tak habis pikir, kok senang bangat dia sama Pak.Ahmad, pedagang itu,ya.Pak .Ahmad itu sangat kejam dan sering memukulnya karena selalu mereka bertengkar gara-gara pak.Ahmad main-main perempuan dan selingkuh pada anak gadis orang.Jadi, Ibu Helena pun tak merasa bahagia."

"Sialan, keparat, itu orang sudah tua pun masih selingkuh dan suka main perempuan.Siapa yang tak geram."

"Eddy memang betul katamu, tapi namanya orang kaya, banyak uang dan apa saja bisa di buat.

"Jadi,bagaimana dengan anak-anak yang dua itu, Eddy?"

"Wah,itulah yang menyedihkan sekali karena setahun setelah diitipkan anak-anak itu pada nenek mereka,nenekpun meninggal dunia dan untung ada seorang yang dermawan dan kebetulan tak punya anak tapi mereka sangat kaya. Mereka membawa kedua anak-anak ini ke rumah karena keduanya sedang mengemis di pinggir jalan.Pak.Karim dan istrinya ini tak sampai hati melihat anak-anak ini. Beberapa tahun kemudian anak-anak ini disekolahkan oleh Pak Karim sehingga anak-anak ini berhasil menanamatkan studi mereka di salah satu perguruan tinggi Negeri di kota Medan.Ternyata anak yang sulung bernama Irsan menamatkan studinya pada jurusam Ekonomi Manajemen dan bekerja di salah satu perusahaan besar sebagai asisten Manager Keuangan, menikah dengan seorang gadis cantik belia dengan satu orang anak.Sedangkan adiknya Irsan, Siti Hajar menamatkan studinya pada jurusan Keperawatan Masyarakat dan menikah dengan seorang dokter ahli bedah dan mereka sangat bahagia.Aku pun senang atas perhatian Pak Karim pada kedua anak-anak itu sampai berhasil. hmmm....Jul, bagiamana dengan Ibu mereka yang menikah dengan saudagar itu?"

"Aku bilang,memang dasar ambisi,iya siapa yang tak prihatin sebelum anak-anak ini berumah tangga Ibu Helena bercerai dengan pak.Ahmad dan dia pun kawin dengan seorang gadis Ambon yang agak lumayan cantiknya."

"Ibu Helena, gimana ?"

"Iya, dia tinggal menjanda lagi, dan hidupnya luntang lantung ke sana sini. Dia sering-sering ke rumah kami dan tetanggaku untuk meminta sesuap nasi. Kalau tidak, siapa yang memberikan dia makan?"

"Tapi dia punya anak-anak,Jul. Mengapa dia tak tinggal di rumah anaknya
yang sulung itu?"

"Eddy, mungkin dia malu dengan pak.Karim meskipun anak kandungnya itu tapi dari sisi kemanusiaan, ya apa boleh buat, "siapa yang menanam, dia lah yang memetik" bak kata pepatah mengatakan, iakan Eddy?"

"Betul, tapi kasihan donk sama janda tua itu,tapi aku rasa anaknya,Irsan juga tak sampai hati melihat ibunya dengan keadaan seperti itu."

"Oh,ialah, masa dibiarkan begitu saja, ya namanya anak dengan ibu kandung
tak bisa dipisahkan bagaikan air tak dapat dibelah dan biarpun kita belah-belah tapi selalu bersatu, iakan Eddy?"

"Iya, jelas donk. Itu makanya kalau status janda di kampung kami agak berat bagi mereka menikah lagi bila almarhum suami mereka meninggalkan anak kepada
mereka dan banyak mereka tak mau menikah lagi.Tapi ini tergantung juga pada pribadi janda-janda itu karena semua orang tak sama prinsipnya, Jul."

"Betul,Eddy. Memang semua apa yang kita lakukan akan ada resikonya, iakan?Tapi sudahlah memang nasi sukar menjadi bubur kembali begitulah nasib Ibu Helena yang agaknya sulit bergabung dengan anak-anaknya."

End

#Cerpen
AMBISI SEORANG JANDA
Oleh : Siamir Marulafau
sm/03122013


Cerpen : CINTAKU DI PERSIMPANGAN Karya : Siamir Marulafau


 

   'CINTA memang buta ',kata salah seorang pujangga Inggeris, tapi walaupun demikian cinta itu juga kadang membawa nikmat dan kadang juga membawa sengsara.Istilah ini tak asing lagi dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan masyarakat awam, masyarakat elit, toh cinta itu berbeda ragam dan tergantung pada yang mencintai dan yang dicintai."Cinta itu sebenarnya adalah sesuatu yang mengalir dalam lubuk perasaan yang sangat mendalam" kata seorang teman saya bernama Edison, yang kebetulan baru saja menamatkan studinya pada salah satu perguruan tinggi di USA.Dia selalu membaca banyak buku yang berhubungan ilmu Humaniora dan politik walaupun dia bukan pada jurusan sastra dan politik.Begitu sibuknya dia mempelajari ilmu Psikologi, dia menyempatkan watunya membaca buku-buku yang berhungan dengan kisah cinta dalam berbagai novel.Tapi setelah dia pulang dari USA, kami jumpa di persimpangan dan mengajakku makan di sebuah restauran terdekat di kampus saya dan aku sangat kaget jumpa dengan dia seakan-akan rasa kerinduan itu bercahaya lagi sepertinya mentari menyinari bumi, terang benderang dan betapa gembiranya aku karena kami sudah sekian tahun tak jumpa-jumpa.Dia adalah teman akrabku di waktu aku duduk di bangku kelas III SMU Khalsa beberpa tahun yang silam, dan tahu-tahu dia sudah menjadi magister di bidang ilmu Psikologi.

Setelah kami masuk di sebuah restauran pada siang hari itu, Edison bertanya padaku,"Nasrul, berapa lama kamu belajar ilmu sastra?"

Aku jawab sambil minum segelas teh. "Aku menyelesaikan studiku di bidang ilmu sastra selama 4 tahun"

"Lantas, sastra apa saja yang kamu pelajari,Rul?"

"Sastra Inggris.Itu pun hanya sampai pada level strata satu(S1)"

"Wah,hebat betul kamu,Nasrul. Aku banyak membaca karya-karya kamu di majalah Times Newyork,dan kamu banyak menceritakan tentang kisah cinta remaja pada masa sekarang.Aku juga senang membacanya,Rul.Biar anda tahu aku bercerita padamu bahwa semenjak aku berada di USA, aku melihat teman karibku juga bernama John dan Margareth.Mereka adalah sangat bersahabat pada mulanya, tapi lambat laun menjadi intim.Mereka saling mencintai.Kisah cinta mereka nyata betul aku saksikan karena mereka adalah sangat akrab denganku."

"Oh, menarik sekali Son,apa kira-kira kisahnya itu?"

"Pokoknya, serulah.Karena temanku itu hampir bunuh diri, dan teman perempuannya gila dan terpaksa di bawa ke rumah sakit gila dan sampai sekarang belum juga sembu-sembuh."

"wah! Seru bangat ya, Edison. Kalau begitu apa sih, ceritanya?"

Mendengar ini, Nasrul juga penasaran karena dia ingin mengetahui mengapa sampai perempuannya gila. Ini kisah cinta yang luar biasa sepertinya kisah cinta yang tak dapat dilupakan dan dipisahkan ibarat kulit dengan daging.

"Edison, jangan buat aku penasaran. Kita kan sambil makan dan alangkah baiknya bila kamu ceritakan padaku tentang itu semua."

"Ceritanya amat menyedihkan Rul karena John dan Margareth ini adalah sama-sama berasal dari daerah yang sama ,yakni dari daerah Mississipi,dan orang tua Margareth sangat miskin sedangkan orang tua John sangat kaya.Tapi walaupun Margareth ini miskin orang tuanya namun dia tidak patah semangat.Dia tetap berjuang dan bekerja di sebuah bar di kota New York selama beberapa tahun. Selama dia bekerja di sana, dia banyak membuahi hasil sehingga dia banyak menyimpan dolar di bank untuk biaya perkuliahannya pada masa akan datang.Dia ingin melanjutkan studinya di Universitas Washington dalam bidang ilmu Psikologi.Cerita demi cerita,ya maklum saja ya Rul,namanya orang kerja di Bar, tentu banyaklah pergaulan, dan dia kenal seorang yang kaya raya dan sangat menolongnya terutama dalam masalah keluarga.Mungkin karena Margareth cerita kepada Tuan Davison tentang keluarganya dan Margareth bisa terbantu sedikit.Tapi namanya bantuan mengalir terus menerus sementara Tuan Davidson sudah mulai menaruh perhatian pada Margareth meskipun tak ada rasa cinta dalam perasaan Margareth tapi Karena Tuan Davidson sangat pandai merayu cewek cantik belia ini, akhirnya hati Margareth luluh bagaikan deburan ombak menerpa pantai menyambut cinta Davidson meskipun Davidson sudah punya putra tunggal semata wayang bernama Jhon.Ya, namanya budaya Timur dengan Barat agaknya jauh berbeda, Nasrul, dan tidak salah bila Margareth tercicipi oleh Tuan Davidson.Sungguh malang nasib temanku,Jhon mencitai Margareth pada awal musim semi mereka pergi di sebuah taman tak begitu jauh dari kampus kami,dan di situlah mereka mengadu nasib sehidup semati.Margareth sangat simpatik bersahabat dengan Jhon dan akhirnya mereka menjadi teman yang intim tak dapat dipisahkan.

Aku pun terheran-heran dan terus berkata pada Edison,"Jadi kalau begitu bagaimana kelanjutan ceritanya. Aku sungguh tertarik mendengar kisah demikian,Son."

"Ya, tenang sajalah,silahkan habiskan dulu kopinya, kan masih banyak lagi, iakan?"

Setelah menyirup kopi Edison kembali bercerita, "Tapi, biar kamu tahu ya Nasrul, yang paling seru lagi ketika kami hampir tamat di perguruan itu.Maksudku di Universitas Washington,Jhon bercerita padaku bahwa pada akhir bulan Desember tahun depan, dia akan melanjutkan pernikahannya dengan gadis yang dicintainya,yaitu Margareth. Untuk itu, dia harus memperkenalkan Margreth kepada kedua orang tuanya, terlebih lebih kepada Bapaknya, yaitu Tuan Davidson. Niatnya itu terkabul bahwa dia harus melamar Margareth karena kedua orang tua Margareth setuju bila John ini teman hidup Margareth karena John adalah seorang yang baik budi, jujur, ganteng dan sangat ramah kepada semua orang.Tapi apa yang terjadi,Rul? Bak kata pepatah mengatakan, mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.Tahu-tahu suasana pada malam peminangan gadis belia ini menjadi malam yang sangat malang bagi temanku Jhon karena calon istrinya melarikan diri dengan tiba-tiba di saat John memperkenalkan calon istrinya kepada Bapaknya,dan Margareth sangat malu setelah bertatap pandang dengan Tuan Davidson. Apa mau dikata, John sebelumnya tak tahu bahwa ada hubungan batin antara Margareth dengan orang tuanya sendiri.Dalam perasaan Margareth,kan tidak mungkin Davidson menjadi mertuanya sementara hubungan mereka masih terjalin intim bagaikan makan buah simalakaman, maju kena mundur kena, iakan Nasrul".

"Wah!Seru bangat itu cinta,Edison. Jadi, bagaimana selanjutnya? Apakah mereka tetap juga menikah?"

"Tentu saja tidak, donk, mana mungkin mereka bersatu lagi?"

" Kasihan juga ya, sama teman kamu itu, Jhon"

"Biar kamu tahu, Nasrul.Temanku,Jhon itu sudah hampir bunuh diri dengan membeli racun tikus dan untung juga pada malam itu kuselamatkan dia.Kalau tidak, ya habislah dia.Aku juga turut prihatin, kok mereka nampaknya kurang saling terbuka antara satu dengan lainnya.Maksudku,mengapa Margareth tidak menceritakan pada John masalah hubungannya dengan Tuan Davidson pada awalnya, kan Jhon ini tak akan korban dan begitu juga Margareth.Tapi yang paling seru lagi, Rul.Tiga bulan kemudian, aku dengar khabar dari salah seorang teman perempuan Margareth bernama Sylvia mengatakan Margareth telah diopname di rumah sakit gila karena urat syarafnya terganggu.Ini juga menunjukkan bahwa dia sangat mencintai Jhon, tapi apa boleh buat. Maksud hati nak meluk gunung apa daya tangan tak sampai, iya kan Nasrul?"

"Betul sekali, Edison. Kasihaan juga pada kedua temanmu, itu ya,dan itulah kalau asmara sudah bergelora sehingga dunia kabur dan kadang tersenyum dan kadang menangis seolah-olah cintanya hanya jumpa dipersimpangan dan sangat sakit bila hal ini terjadi dalam diri kita".

"Sepakat, cinta itu buta"

"Benar,Rul. Makanya aku juga sangat berhati-hati kalau bercinta. Soalnya kalau ini terjadi dalam diriku,apa yang harus kubuat?"Aku, kemungkinan akan juga bisa bunuh diri tapi walaupun demikian kita juga orang yang taat beragama, Rul.Dalam agama Islam, seperti kamu ini Rul kan sangat pantang dan dosa besar dalam ajaran Islam,iakan? Kami juga dalam agama Nasrani sangat terlarang bunuh diri apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru, kita umat kristen harus taat beribadah kepada Tuhan dan banyak mengenang dosa-dosa masa lalu dan meminta ampun pada Tuhan penyelamat supaya masuk surga Bapak."

"Betul sekali apa yang ada katakan,Edison. Kami dalam ajaran Islam sangat tercela bunuh diri dan itu tidak akan diampuni oleh Tuhan karena bunuh diri itu adalah salah satu dosa yang paling besar dalam ajaran Islam......Ok, Edison, nampaknya sudah menunjukkan pukul 3.30 dan aku harus balik lagi ke kampus karena ada urusan yang penting.Selamat Tinggal."

End


#Cerpen
CINTAKU DI PERSIMPANGAN
Karya : Siamir Marulafau
sm/02122013

Cerpen - MENGAPA BAPAKKU GAGAL? Karya : Siamir Marulafau


 

   DI saat langit mendung, aku dan temanku Syukur singgah di sebuah kantin terdekat dan tak berapa jauh dari kampus kami di Jln. Uinversitas,19. Aku berkata sama Syukur " Kita lebih baik berhenti sebentar sambil ngopi,kur. Hujan sudah mau turun dan aku takut tak bisa kita sampai ke kampus karena tak ada payung."

"Oh,betul juga" Kata sukur

"Tengoklah,langitnya sudah mendung. Sebentar lagi hujan deras. Jadi kalau begitu, kita lebih baik berteduh di kantin itu sambil ngopi dan kebetulan sekali Kur, ada yang mau kutanya sama kamu".

Syukur jadi terheran-heran dan merasa kaget dengan omonganku itu dan seolah-olah dia ketakutan,dan dia kelihatannya gugup dan tak bisa ngomong lagi. Aku pun jadi tak enak karena aku seolah-olah memaksa dia ngomong. Tapi namun demikian, aku juga membujuk dia supaya semangatnya pulih kembali, betul pula itu dalam pikirku.

Setelah kami masuk ke kantin itu dan memesan dua gelas kopi panas dan mulailah aku cerita pada Syukur dan sambil menanyakan dia apa yang ada dalam benakku. Syukur rupanya sangat tanggap dengan niatku bertanya kepadanya bahwa dia tak bisa ngelak dan aku bilang, "Apakah benar ayahmu bekerja di kantor Depatemen Keuangan,Kur?"

"Oh, ya, memang Bapakku kerja di sana tapi kemungkinan akan pensiun pada akhir tahun ini.Kami tidak tahu apa yang kami buat bila Bapak kami pensiun nanti".

"Kur, kita harus percaya hawa Tuhan itu maha besar adil dan penyayang.Tuhan tak akan membuat hambanya sengsara terus menerus dan Tuhan maha penyayang, iakan?"

"Betul, Din. Tapi aku kan belum menyelesaikan studiku sementara Bapakku pensiun."

"Alah, gampang semua itu kau kan bisa kerja sambil kuliah."

"Terus terang ya, Din. Selama ini Bapakku kerja di kantor Departemen Keuangan, tapi bapakku tak pernah menyeleweng. Maksudnya, mengkorupsi uang negara. Dan baru-baru ini Bapakku dicalonkan menjadi Caleg 2014-2019. Dia memang saja mau tapi tak mau berusaha untuk menduduki jabatan Calon Legislatif. Bapakku jujur benar dan tidak mau neko-neko, dan katanya pada kami, Walaupun aku sudah dicalonkan menjadi Caleg 2014-2019 tapi aku tak ambisi.Kalau memang menang ya, menanglah,kalau tidak menang, ya sudah. Aku tidak mau bersifat money politic karena kalau sudah kayak begitu,kita tak bakal tentram untuk bekerja dan apalagi dinasnya bekerja dibahagian legislatif....Pikirku, ya betul juga bapakku,tapi namun demikian sebagai anak Sulung,aku juga memihak pada prinsip Bapakku karena dia sangat jujur dan tidak mau menyuap dan memakan suap karena itu sangat pantang dalam ajaran islam".

"Oh, jujur sekali Bapakmu,Kur. Sulit sekali mendapatkan orang seperti itu sekarang. Bisa dikatakan 1000 satu dan itu pun kalau ada orang macam kayak gitu."

"Bapakku sederhana dan tidak suka macam-macam. Kemungkinan Bapakku bekerja di kantor Keuangan selama lebih kurang 20 tahun lamanya dan tidak pernah terlibat dalam masalah keuangan baik di dalam pekerjaanya maupun di luar tugasnya. Makanya Bapakku sangat dipercayai oleh atasannya.”

"Kur,ingat bahwa orang jujur selalu terbujur dan sampai-sampai dia pun."

"Din, setiap orang berbeda prinsipnya dan memiliki karakter yang berbeda-beda pula, betul atau tidak?"

"Ya, benar.Tapi alangkah baiknya, Bapakmu memberikan kesempatan padamu untuk bekerja di kantor itu. Maksudku ya, kalau Bapakmu sudah pensiun, jadi kamulah penggantinya."

"Wah!, Tidak mungkin,Din.Itu namanya KKN,mentang-mentang Bapakku sebagai kepala tata usaha di kantor itu,aku harus diangkat menjadi salah seorang staf. Itu kan tidak mungkin. Kita harus melamar dan memenuhi beberapa persyaratan-persyaratan menjadi PNS sebagaimana lazimnya, iakan?"

"Betul, aku sepakat kalau begitu. Masuk menjadi pegawai PNS bukanlah suatu hal yang gampang. Tapi entah bagaimana pula ya, kok yang lainnya gampang masuk dan bekerja sebagai PNS."

"Jangan kamu merasa yang tidak-tidak dan salah paham,Din. Mengenai masuknya seseorang untuk menjadi pegawai PNS telah kupelajari semua karena sedikitnya Bapakku bercerita kepadaku tentang itu semua."

"Baguslah kalau begitu, Kur. Berarti kamu sudah mengerti semua. Tapi aku tak mengerti semua itu karena Bapakku,Kur. Adalah seorang petani dan bukan bekerja sebagai PNS,sedangkan Ibuku tak bekerja dan hanya sebagai Ibu rumah tangga. Kur, sampai sini ajalah dulu kita berbincang kebetulan kami masuk jam 9.30. Bapak dosen yang mengajar mata kuliah Kritik Sastra datang dan salah seorang temanku memanggil melalui selulerku. Selamat tinggal ya, sampai jumpa lagi."

End

Cerpen:
MENGAPA BAPAKKU GAGAL?
Oleh : Siamir Marulafau
sm/28112013