RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 15 Mei 2014

Kumpulan Puisi Dion Syaif Saen - JUNJUNGAN KASIH IBUKU UNTUK TUHAN


Kidung
Kaum-kaum melepas buana
Dialam sepi dia meregang
Diatas angin mereka lupa berjalan
Kuduku mulai merinding
Sampaikanlah salam padanya
Dan sejenak singgah dari ujung mata angin dari barat. Biar kunyanyikan kutub buana yang hilang untuknya

Sufi meremah bathinku bagai daun kering, aku telah lama mati juga
Tanpa mereka mengenali dan menamai nisanku. Akulah kidung dari Timur

----------------------------------------------------

ARB, hendak kemana Engkau bawa ranah politikmu

Hatta Rajasa legowo bujuk rayuan prabowo.
Joko wi, masih mencari kawan abadi

Demokrat menunggu moment saja
Hanura agaknya berpura-pura

Nasdem tahu diri dan adem adem
PKS curi-curi kesempatan
PKB mulai uevoria
PDI-P mendekati potensi yang mau oposisi
Gerindra makin mengibarkan denderang, bagai popor senapan mesin,
Golkar terserabut dari akar
PAN terlalu bangga diusung

--------------
Sungaiku sayang hilir kemuara
Walau bebatuan merontah ingin terbawa, atau kaki kali yang diam

Sungai sendu tanpa arus
Bagan-bagan tempati ikan bebatuan
Yang berlindung dari hujatan
Ingin apa hendak air mengalir
Jika kemarau tak jelas

Sungaiku mengajariku lebih arif
Dari saat hujan membebaninya
Tumpah seketika
Robeklah tanggul
Berlari berkejaran kerikil berlumit keujung. Akulah sungai tiada bertepi

----------------




JUNJUNGAN KASIH IBUKU UNTUK TUHAN
Karya : dion syaif saen


kalung nirwana
kaca menjadi beling
gelas retak dua puluh rupiah bertaruh
kenangan yang berbunga-bunga
tat kala buaiyan kasih ibuku
meletakkan ragaku diatas pahanya

junjungan kasih
denting waktu, aku mulai terbiasa
kepada air matanya
saat dia menanak nasi

demi kristal dari kelopaknya
menjadi mutiara kasihnya
alangkah nista hidup
tanpa melihatnya tergurai senyum

antara hujan dan matahari
setelah tanah basah kering kembali
malaikat hadir menegur junjunganku
kenapa Ibu menangis?
mengapa masih kau terbiasa dengan mata sunyi
menambatkanku semulia malaikat kecil
untuk sebuah kehidupan yang serupa

kau bangun istana Cinta
engkau lahirkan dari kesederhanaan
dan aku melanjutkan kehidupan baru
yang dikahwatirkan banyak manusia
mana kala, saat fajar mulai nampak
kemana kemanusiaan akan hilang?

kau tidurkan aku dari ayunan
sarung Cerita dari nenekku dulu
ibumu yang juga sama denganmu
atau kau buai aku dalam sebuah nama
segerai matahari bergelayut diantara ranting dedaunan
kemuliaan yang mana aku tak pandai menegur bening matanya?

adalah air susumu
merintih saat aku mulai jengah
dan marah ingin minta lebih
kau perah
kau tak putus asa
kau bujuk aku
kau manjakan aku dengan nama yang indah
kau rayu aku
kau peluk dan kau lebur dalam sukmamu

aku mulai takut
dan menjaga malam-malam
yang mulai hening
sementara Ibuku tak sempat menikmati mimpinya

dan mulai merasakan kelenjar matamu
dari kantong menjadikannya sembab basah seketika
sementara subuh menjajal jarak fajar dan tersisanya tidurmu
dan kau bagi kasih, Cinta yang tak pernah pupus
saat matahari diufuk melewati bunga kemuning ditepi
hingga akhir hari dilukiskan
antara matahari dan awan disertai hujan
semua terbenam, semua larut
semua bisu, semua dianugeraghi satu-satu titipan
dan malam bergelayut didahimu yang tulus

-------------------------



Begitu dalam       
Bagai peniti menjajali kancingku terbuang,
Begitu munafik
Seperti gundah yang dililiti
Dipundi-pundi materialistik
Begitu kuat
Mencabutku ditengkukku
Yan lama tertimpah dalam langkah
Berayun, namun kujajaki juga
Dan begitu mudah aku meraih bulan
Dari pembual.
Begitu dalam
Tertanam sedikit darahnya tercecer


By : Dion Syaif Saen
Bantaeng, Sulawesi Selatan





APA KHABAR DUNIA ?

Disini menjemuhkan
Tak ada tanda-tanda yang lahir secara alami. Semua meniru-niru
Peradaban yang disumbal oleh jejak perlawanan kaum borjuis. Memaknai hidup selera sendiri.

Apa kabar saudara yang berteduh
Diantara bukit tak bercemara?
Disetiap hari yang merelakan satu kantong amarah terbuang percuma
Hilang kendali, tiada mengenali
Hanya ada sisa mimpi.
Apa kabar disana? Diantara tipu daya?

By : Dion Syaif Saen
Bantaeng, Sulawesi Selatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar